Diterjang Banjir Bandang, Puluhan Perahu di Sungai Alasdowo Pati Terbalik

Sejumlah nelayan mencoba mengevakuasi perahu yang karam di Sungai Alasdowo, Jumat (7/4/2017), akibat diterjang banjir bandang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 70 perahu yang bersandar di sungai Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti, Pati, terbalik akibat diterjang banjir bandang, Kamis (7/4/2017) dini hari.

Dari informasi yang dihimpun, hujan yang terjadi selama beberapa jam membuat Sungai Alasdowo diterjang banjir bandang. Akibatnya, beberapa perahu jenis wawu tersebut mengalami kerusakan pecah, terbalik, hingga tenggelam.

Ketua Kelompok Nelayan Pantai Alasdowo, Samian menuturkan, perahu yang bersandar di tepi sungai tersebut merupakan jenis perahu berkapasitas dua gross tonage (GT) dengan panjang tujuh meter dan lebar 2,5 meter. Puluhan perahu tersebut disandarkan di tepi sungai menggunakan tali tambang yang diikatkan pada pohon.

“Sekitar pukul 01.00 WIB, hujan lebat terjadi dalam waktu beberapa jam. Setelah itu, muncul banjir bandang dari arah barat, menerjang perahu-perahu yang disandarkan di tepi sungai,” ucap Samian.

Akibat banjir bandang tersebut, puluhan perahu saling berbenturan hingga menyebabkan kerusakan hingga terbalik. Bahkan, sebagian perahu hanyut terbawa arus banjir lantaran ikatan tali pada perahu lepas.

“Kami sempat melakukan evakuasi bersama warga, anggota polisi, TNI dan relawan. Ada lima perahu yang belum ditemukan, sedangkan perahu berukuran besar kondisinya masih terbalik sehingga butuh alat berat untuk melakukan langkah evakuasi lebih lanjut,” tuturnya.

Sebanyak 70 perahu yang diterjang banjir bandang tersebut merupakan milik 65 orang nelayan. Tidak ada korban jiwa dalam tragedi tersebut, sementara kerugian material masih belum bisa diperkirakan.

Editor : Kholistiono

Rumah Warga Rusak Akibat Banjir Bandang yang Melanda Kawasan Jaken Pati

Kondisi rumah Murap, warga Sriwedari, Jaken yang terkena banjir bandang, Sabtu (18/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan lebat yang melanda kawasan Kecamatan Jaken, Pati, Sabtu (18/3/2017), mengakibatkan sungai di Desa Sriwedari, Jaken, meluap.

Akibat banjir bandang tersebut, rumah warga setempat, Murap (72), mengalami kerusakan pada bagian dapur. Rumahnya yang berdekatan dengan sungai ikut terkena banjir bandang.

“Rumah warga kami ada yang rusak di bagian dapur, karena tergerus arus sungai yang deras. Bagian pondasi rumah mengalami sedikit longsor. Kerusakan ini akibat pergerakan tanah yang mengalami pergeseran karena derasnya arus sungai yang meluap,” kata Supat, Kepala Desa Sriwedari.

Saat ini, kondisi rumah masih berdiri dengan baik. Namun, ia khawatir bila ada banjir bandang susulan akan menyebabkan rumah Murap kembali terpapar banjir dan roboh.

Karena itu, masyarakat berbondong-bondong melakukan antisipasi dengan memperbaiki bagian dapur. “Kami naikkan tanah dengan menimbun sekitar sungai dengan alat berat. Tanah daerah aliran sungai (DAS) diperkuat supaya tanah tidak bergerak saat diterjang banjir bandang di sungai,” tuturnya.

Dia berharap, antisipasi penguatan tanah di sekitar rumah warga yang dekat sungai diharapkan bisa mengurangi dampak bencana. “Tadi, hujan berlangsung selama sejam dan tibat-tiba muncul air deras dari sungai. Kami berharap, warga di sekitar sungai bisa segera melaporkan dan koordinasi untuk menanggulangi risiko bencana akibat banjir bandang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

3 Kecamatan di Pati Diterjang Banjir Bandang, Jalan Jakenan-Winong Lumpuh

Kawasan jalan Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan yang lumpuh karena terkena banjir bandang, Sabtu (4/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah daerah di tiga kecamatan di Kabupaten Pati diterjang banjir bandang, Sabtu (4/3/2017). Ketiga kecamatan yang diterjang banjir, antara lain Kecamatan Jakenan, Winong, dan Pucakwangi.

Dari informasi yang dihimpun, banjir bandang melanda sejak pagi dengan volume debit air yang semakin tinggi memasuki pukul 13.00 WIB. Banjir kiriman diduga berasal dari kawasan Pegunungan Kendeng.

Sontak, akses Jakenan-Winong dan sejumlah jalan di sekitarnya lumpuh. “Tadi pagi saya ngantor di Kecamatan Jakenan. Setelah pukul 09.00 WIB, banjir semakin tinggi sehingga mobil saya taruh di kawasan Glonggong. Saya langsung naik sepeda motor roda tiga,” ungkap Camat Jakenan Aris Soesetyo.

Akibat banjir bandang tersebut, tanggul sungai Desa Glonggong di kawasan SMPN 2 Jakenan jebol. Sejumlah pihak sudah mengirimkan puluhan sak berisi pasir. Namun, derasnya arus tidak memungkinkan untuk membendung tanggul yang jebol sepanjang lima meter.

“Tanggul di sekitar SMPN 2 Jakenan jebol. Arusnya sangat deras, sehingga upaya untuk membuat bendungan sementara menggunakan sak berisi pasir akan dijadwalkan Minggu (5/3/2017) besok,” imbuh Aris.

Di wilayah Kecamatan Winong, sejumlah daerah yang terkena banjir bandang, di antaranya Botok, Ketanji, Wirun, Pekalongan, dan lainnya. Di sejumlah titik, banjir mencapai setinggi paha orang dewasa.

“Banjir bandang biasanya sebentar dan langsung surut, ini kok awet. Di Pekalongan dan Ketanji sudah sejak pagi, sedangkan Wirun baru siang ini. Ini banjir kiriman dari wilayah selatan,” ucap Husna, warga Wirun, Winong.

Editor : Kholistiono

Warga Pati Diimbau Tidak Buang Sampah di Sungai

Petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati membersihkan sampah di kawasan Sungai Simo, Rabu (1/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Pati diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan di sungai. Pasalnya, kondisi geografis di Pati yang memungkinkan terjadinya banjir langganan setiap tahun akan diperparah dengan adanya aktivitas buang sampah di sungai.

Hal itu diungkapkan Kasubbag Tata Usaha UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati Eka Sulistiana. “Sungai itu buat aliran air, jangan disalahfungsikan sebagai tempat pembuangan sampah. Butuh kesadaran dari masyarakat agar banjir di Pati bisa diminimalisasi,” kata Eka, Rabu (1/3/2017).

Menurutnya, sampah menjadi persoalan yang sangat serius di Kabupaten Pati. Dari hasil bersih-bersih yang dilakukan, sedikitnya ada 10 truk sampah yang diambil di sepanjang Sungai Simo, Desa Sinoman dan Widorokandang.

“Faktanya, banyak sampah yang kami angkut dari hasil bersih-bersih sampah. Kebanyakan dari ranting bambu dan pelepah pisang. Sampah itu mesti dari masyarakat yang menebang pisang dan dibuang ke sungai,” ucap Eka.

Setiap tahun, lumpur yang dibawa banjir mengendap dan menyebabkan pendangkalan sungai. Kondisi tersebut akan semakin parah bila masyarakat masih punya kebiasaan membuang sampah di sungai, sehingga menjadi penyebab utama banjir.

“Yang kena imbasnya pasti masyarakat luas. Perbuatan satu-dua orang, tapi yang kena masyarakat banyak. Ini kan tidak baik. Kami berharap, warga sadar dan membiasakan untuk tidak membuang sampah di sungai,” imbau Eka.

Editor : Kholistiono

Antisipasi Banjir Susulan, Tumpukan Sampah di Sungai Simo Pati Dibersihkan

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) melakukan bersih-bersih sampah di kawasan sungai Simo, Pati, Rabu (1/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Banyaknya sampah yang menumpuk di sepanjang kawasan Sungai Simo dari Desa Widorokandang hingga Desa Sinoman, Kecamatan Pati membuat aliran air tersumbat. Hal itu yang membuat Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) melakukan bersih-bersih sampah di kawasan sungai tersebut, Rabu (1/3/2017).

Kasubbag Tata Usaha UPT Dinas PUTR Pati Eka Sulistiana menuturkan, pembersihkan sampah yang menumpuk akibat luapan banjir beberapa waktu lalu tersebut untuk mengantisipasi adanya banjir susulan, karena aliran air tersumbat sampah. Sebab, sampai saat ini, hujan masih beberapa kali terjadi.

“Meski kemarau sudah mulai tiba, tetapi curah hujan terbilang masih tinggi. Bila tidak segera dibersihkan, air yang mengalir di sungai bisa tersumbat sehingga akan menyebabkan banjir susulan. Ini yang kita antisipasi,” kata Eka.

Sampah yang dibersihkan sebagian besar adalah pelepah pisang, ranting-ranting bambu, sampah plastik dan berbagai sampah organik lainnya. Sampah-sampah tersebut menumpuk, ada yang mengendap dan beberapa mengambang, serta menyumbat aliran air.

Tumpukan sampah juga menyumbat di sejumlah jembatan. Pasalnya, tinggi jembatan di wilayah tersebut sebagian besar lebih rendah ketimbang badan jalan sehingga banyak sampah yang mudah tersangkut di bawah jembatan. Karena itu, pihaknya sudah melayangkan surat kepada pemilik jembatan untuk meninggikan jembatannya.

“Kami juga sudah melayangkan surat kepada pemilik jembatan agar jembatan yang lebih rendah dari badan jalan ditinggikan. Hal itu diharapkan agar sampah tidak menyumbat sungai yang berpotensi menyebabkan banjir,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Anggota DPR RI Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Banjir di Pati

Anggota DPR RI Djoko Udjianto (kanan) bersama kader Partai Demokrat mengirim bantuan logistik di Desa Banjarsari, Gabus, Pati, Senin (20/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Djoko Udjianto menyalurkan bantuan logistik untuk korban banjir di tiga kecamatan di Kabupaten Pati yang terdampak banjir, Senin (20/2/2017).

Didampingi Ketua DPC Partai Demokrat Pati Joni Kurnianto, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi Jawa Tengah Kartina, dan jajaran Pengurus DPC Demokrat Pati, ratusan logistik disalurkan ke Desa Sinoman dan Mustokoharjo, Kecamatan Pati, Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus dan Desa Srikaton, Kecamatan Kayen.

Keempat desa tersebut dianggap darurat, karena masih terkena dampak banjir sampai sekarang. “Kami ikut prihatin, karena di Pati ini berulang-ulang terjadi banjir setiap tahunnya. Karena itu, bantuan logistik ini diharapkan bisa meringankan beban masyarakat terdampak banjir,” ucap Djoko.

Menurutnya, penyebab banjir di Pati yang berulang berasal dari pendangkalan Sungai Silugangga. Saat itu, pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan bantuan eskavator untuk membersihkan pendangkalan sungai, pelabuhan perikanan dan berbagai hal yang menyebabkan pendangkalan sungai.

Namun, upaya itu saja dianggap tidak cukup tanpa ada tata kelola daerah aliran sungai (DAS) yang baik dan benar. Karenanya, butuh gerakan moral untuk memperbaiki DAS yang baik di kawasan tersebut agar banjir tidak kembali berulang setiap tahunnya.

“Ke depan, kami akan usulkan kembali kepada Menteri PU maupun Menteri Kelautan. Nanti akan kami bicarakan secara khusus mengenai penanganan Sungai Silugangga. Bila tidak segera diatasi akan membuat banjir di daerah sekitarnya setiap musim penghujan,” tandas Djoko.

Editor : Kholistiono

Ribuan Nasi Bungkus Kembali Dibagikan untuk Korban Banjir di Pati

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Jawa Tengah Kartina Sukawati naik perahu menuju perkampungan Karangrowo, Jakenan untuk membagikan nasi bungkus, Jumat (17/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Banjir yang menggenang sejumlah daerah di Kabupaten Pati masih terjadi hingga Jumat (17/2/2017). Berbagai bantuan muncul dari berbagai pihak, menyusul genangan air akibat banjir belum surut.

Salah satunya, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Jawa Tengah Kartina Sukawati. Anggota DPRD Jateng yang tinggal di kawasan Gembleb, Pati ini turun ke Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan untuk meninjau banjir.

Di sela-sela peninjauan banjir, perempuan yang akrab disapa Bu Ina ini membagikan ribuan nasi bungkus kepada korban banjir. Meski bantuan tersebut diakui tidak seberapa, tetapi dia berharap bisa meringankan beban korban terdampak banjir.

“Beberapa warga memang tidak bisa memasak, karena rumahnya kemasukan air. Sampai sekarang, banjir masih belum juga surut meski curah hujan mulai berkurang. Kami berharap, nasi bungkus ini memberikan manfaat kepada korban banjir,” ucap Kartina.

Sebelum bertolak ke perkampungan, Ina dan rombongan harus menggunakan perahu karena genangan air cukup tinggi. Mereka diantar sejumlah relawan dan penduduk setempat, sebelum membagikan nasi bungkus ke posko pengungsian.

Editor : Kholistiono

Demokrat Berikan Santunan Sembako untuk Korban Banjir di Pati dan Juwana

Pengurus DPC Partai Demokrat menyerahkan bantuan sembako kepada warga Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana, Pati, Selasa (14/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Pati memberikan lebih dari seratus sembako kepada korban banjir di Desa Purworejo, Kecamatan Pati, Desa Doropayung, Desa Bumirejo, dan Desa Kedungpancing, Kecamatan Juwana, Selasa (14/2/2017).

Empat desa tersebut terendam banjir sejak dua minggu yang lalu dan belum surut hingga sekarang. Hal itu yang mengetuk hati para kader DPC Partai Demokrat untuk iuran dan menyalurkan sembako ke sejumlah masyarakat terdampak banjir.

“Sangat mendadak sekali, saya lihat masih ada sejumlah daerah yang terendam banjir sangat lama. Sampai-sampai, mereka tidak bekerja sehingga butuh bantuan. Saat itu juga, kami sepakat iuran untuk memberikan bantuan sembako untuk ikut membantu kebutuhan sehari-hari,” ujar Ketua DPC Partai Demokrat Pati Joni Kurnianto.

Partai Demokrat sebetulnya memiliki relawan tanggap bencana. Namun, sebagian besar tim tanggap bencana yang merupakan Ketua Ranting Partai Demokrat Pati tengah sibuk mempersiapkan pencoblosan Pilkada Pati yang akan berlangsung Rabu (15/2/2017).

Hal itu yang membuat Joni terjun ke lapangan bersama sejumlah pengurus DPC Partai Demokrat. “Kami sebetulnya punya tim tanggap bencana. Berhubung lagi sibuk mempersiapkan pilkada besok, kami akhirnya bergerak cepat. Sebab, informasi dari lapangan yang saya terima, banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan mengingat banjir masih merendam dan belum surut,” kata Joni.

Hartini, salah seorang warga Desa Bumirejo menuturkan, rumahnya terendam banjir sejak dua minggu yang lalu. Aktivitas warga sempat lumpuh, karena rata-rata banjir merendam rumah setinggi 80 cm.

“Terendam sejak dua minggu yang lalu. Hari ini sudah surut sekitar 15 cm, tinggal selutut orang dewasa. Kemarin-kemarin, air sempat masuk rumah setinggi pusar orang dewasa,” ungkap Hartini.

Karena itu, dia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mengirimkan bantuan untuk warga. Bantuan sembako yang diterima akan digunakan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Dia berharap, air segera surut sehingga bisa beraktivitas dan kerja seperti biasanya.

Editor : Kholistiono

TNI Bagikan Ribuan Nasi Bungkus kepada Korban Banjir di Pati

Anggota TNI AD dan relawan mendistribusikan ribuan nasi bungkus kepada korban banjir di tiga kecamatan di Pati, Selasa (14/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota TNI dari Kodim 0718/Pati membagikan 1.600 nasi bungkus kepada korban banjir di Kecamatan Juwana, Gabus, dan Sukolilo, Pati, Selasa (14/2/2017). Pembagian nasi bungkus gelombang kedua tersebut dilakukan lima orang anggota TNI AD, enam orang FKPPI, enam orang BPBD, dan dua orang relawan.

Warga terdampak banjir di Kecamatan Juwana mendapatkan 500 bungkus nasi, Kecamatan Gabus mendapatkan 400 nasi bungkus, dan Kecamatan Sukolilo mendapatkan 700 nasi bungkus. Prosentase pembagian nasi bungkus tersebut disesuaikan dengan jumlah warga yang terkena banjir.

Letda Inf Wanto yang memimpin pembagian nasi bungkus mengatakan, warga terdampak banjir banyak yang tidak masak akibat rumahnya terendam banjir. Terhitung, sudah empat hari beberapa warga tidak masak lantaran genangan air yang masuk ke dalam rumah belum juga surut.

Banjir di Pati Sebabkan Perekonomian Lumpuh Sementara

“Bantuan nasi bungkus ini diharapkan bisa meringankan beban masyarakat terdampak banjir. Meski masih belum bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi pembagian nasi bungkus setidaknya bisa membantu warga yang kesulitan memasak selama banjir,” ucap Letda Inf Wanto.
Distribusi nasi bungkus sendiri menggunakan perahu, lantaran genangan air di kawasan pemukiman warga cukup tinggi. Sasaran utama pembagian nasi bungkus diberikan kepada warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian.

“Kami memanfaatkan perahu kayu milik warga untuk mengantarkan nasi bungkus. Kami juga sudah membawa perahu karet yang juga digunakan untuk membagikan nasi bungkus dan mengakses sejumlah titik yang dibutuhkan warga secara darurat,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

 

Banjir di Pati Sebabkan Perekonomian Lumpuh Sementara

Banjir yang merendam Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana sejak dua minggu yang lalu belum surut hingga Selasa (14/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 45 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Pati terendam banjir hingga Selasa (14/2/2017). Tercatat, ada 3.049 rumah yang terkena banjir, 4.228 kepala keluarga (KK), dan 13.361 jiwa.

Alianto, salah seorang warga terdampak banjir asal Desa Kedungpancing mengatakan, luapan air memasuki sejumlah rumah warga sejak dua minggu yang lalu. Akibat banjir tersebut, beberapa warga sempat menganggur yang menyebabkan perekonomian lumpuh sementara.

“Perputaran ekonomi sempat lumpuh, karena warga sibuk mengurusi banjir. Kami juga kehabisan stok air bersih, sehingga terpaksa mencuci menggunakan air banjir. Saat memasak, kami menggunakan meja yang lebih tinggi dari ketinggian banjir,” ujarnya.

Sementara itu, Supriyanto, warga Desa Doropayung, Juwana mengungkapkan, desanya sudah menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Selain berdekatan dengan Sungai Silugangga yang meluap setiap musim hujan, drainase dan resapan air sangat minim.

Karena itu, warga yang rumahnya terdampak banjir mengungsi di rumah saudara dan beberapa di antaranya mengungsi di posko pengungsian. “Ada yang mengungsi di rumah saudara, ada juga yang di tempat pengungsian. Sebab, ada beberapa rumah warga yang tempat tidurnya tenggelam karena ketinggian air,” lanjutnya.

Hal yang sama diutarakan Hartini, warga Desa Bumirejo, Juwana. Sejumlah perlengkapan rumah tangga, seperti televisi, kulkas dan mesin cuci tidak bisa digunakan untuk sementara. Namun, listrik untuk penerangan masih berjalan.

“Sebagian besar warga di sini adalah nelayan. Yang nelayan ya berangkat kerja. Yang biasanya di rumah atau kerja serabutan terpaksa berhenti kerja hingga air yang merendam rumah warga surut,” tandas Hartini.

Editor : Kholistiono

Warga Desa Gebang Pati Tewas Terseret Arus di Sungai Silugangga

Anggota TNI membawa jenazah korban yang hanyut di Sungai Silugangga, Senin (13/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Desa Gebang, Kecamatan Gabus, Pati, Partono (46) terpeleset dan tercebur ke Sungai Silugangga, Senin (13/2/2017) sekitar pukul 10.00 WIB.

Dari informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi saat Partono tengah beristirahat untuk makan, usai bekerja memanen padi dengan alat dos. Nahas, korban terpeleset dan terjatuh ke sungai.

Mendapatkan informasi tersebut, petugas dan relawan melakukan pencarian. Korban akhirnya ditemukan meninggal dunia, sebelas meter dari lokasi kejadian sekitar pukul 12.30 WIB.

“Volume air di Sungai Silugangga memang cukup tinggi, menyusul hujan yang terjadi kemarin. Korban tercebur di kedalaman lima meter dan terseret hingga sebelas meter. Arusnya  juga cukup deras,” ujar Ketua RAPI Pati, Gunawan.

Usai dilakukan visum, jenazah korban dibawa mobil Polsek Gabus untuk dibawa ke rumah duka. Dari hasil visum, korban meninggal dunia akibat kekurangan oksigen dan menelan banyak air.

Kapolsek Gabus AKP Darsono mengimbau kepada warga untuk berhati-hati saat beraktivitas di bantaran Sungai Silugangga. Pasalnya, kondisi arus sungai yang deras bisa menyeret badan kendati bisa berenang. Karena itu, butuh kehati-hatian saat berada di bantaran sungai agar tidak terpeleset dan tercebur sungai.

Editor : Kholistiono

Ratusan Warga Pati Mengungsi Akibat Banjir

Sejumlah warga Desa Kasihan, Kecamatan Sukolilo mengungsi di tempat pengungsian beberapa hari yang lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Banjir yang melanda sejumlah daerah di Kabupaten Pati membuat ratusan warga mengungsi. Hingga Senin (13/2/2017) pukul 08.00 WIB, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Pati mencatat, ada 322 warga yang sudah mengungsi akibat banjir.

Di Juwana, 12 desa yang terkena banjir, antara lain Bumirejo, Doropayung, Kudukeras, Kedungpancing, Jepuro, Gadingrejo, Bendar, Margomulyo, Pekuwon, Mintomulyo, Sejomulyo dan Tluwah. Enam desa yang terdampak banjir di Kecamatan Jakenan, di antaranya Kedungmulyo, Bungasrejo, Karangrowo, Kalimulyo, Tondomulyo, dan Ngastorejo.

Sebelas desa di Gabus yang terendam banjir adalah Penanggungan, Mintobasuki, Banjarsari, Soko, Bogotanjung, Koripandriyo, Pantirejo, Kosekan, Sunggingwarno, Babalan, dan Gempolsari. Tujuh desa di Kecamatan Pati yang terkena banjir, yakni Mustokoharjo, Sugiharjo, Purworejo, Gilis, Sinoman, Gajahmati, dan Widorokandang.

“Di Sukolilo, ada enam desa yang terdampak banjir, yaitu Prawoto, Wotan, Baturejo, Poncomulyo, Gadudero, dan Kasihan. Di Kayen yang terdampak, Desa Srikaton dan Pasuruan, sedangkan Kecamatan Margorejo yang terkena banjir adalah Desa Bumirejo,” kata Sunarto dari Pusdalops BPBD Pati.

Pati Siaga Banjir, 4 Posko Didirikan

Selain merendam pemukiman, banjir di Pati selama 2017 juga sempat merendam 2.584 hektare sawah. Dari 2.584 hektare sawah yang terendam, 1.788 hektare di antaranya merendam padi siap panen, 295 hektare padi muda, 32 hektare tanaman palawija, dan 78 hektare tanaman tebu.
Seperti diketahui sebelumnya, hujan deras dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sejumlah daerah terendam banjir. Tak hanya merendam 3.049 rumah, banjir juga merendam 1.589 kandang ternak warga.

Editor : Kholistiono

Pati Siaga Banjir, 4 Posko Didirikan

Sejumlah relawan tengah mendirikan tenda pengungsian di Desa Doropayung, Juwana, Senin (13/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati ditetapkan siaga banjir, setelah bencana banjir melanda sejumlah kawasan hingga menyebabkan beberapa warga mengungsi dan mendirikan tenda pengungsian. Empat posko siaga banjir didirikan, Senin (13/2/2017).

Ketua Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) Pati Gunawan mengatakan, empat posko didirikan di Desa Kasihan, Sukolilo, Kantor Kecamatan Juwana, Desa Mustokoharjo dan Widorokandang, Kecamatan Pati. “Posko Kasihan untuk mengkover wilayah Kayen dan Sukolilo, Mustokoharjo untuk mengkover Pati dan Gabus, Widorokandang untuk mengkover Pati dan Jakenan, serta Kantor Kecamatan Juwana untuk mengkover wilayah Juwana,” ujar Gunawan.

Masing-masing posko dijaga petugas yang berasal dari polisi, anggota TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, relawan bencana RAPI, Tagana, Palupi, PMI, Banser, dan sebagainya. Satu posko didesain untuk bisa menampung hingga 40 relawan.

Dengan berdirinya posko bencana, ia berharap agar relawan bisa siap siaga dalam membantu masyarakat yang saat ini berada dalam bencana banjir. Selain itu, keberadaan posko akan memudahkan untuk melakukan kontrol kepada masyarakat bila sewaktu-waktu ada bencana.

“Posko bencana akan memudahkan koordinasi, apalagi Kodim 0718/Pati dan Polres Pati sangat mendukung dengan adanya sumber daya manusia (SDM) dan peralatan yang mumpuni. Kami berharap, tidak ada lagi banjir sehingga tidak ada warga yang mengungsi,” harapnya.

Tercatat, selama 2017, 3.049 rumah di Pati terendam banjir, 4.228 kepala keluarga (KK), 13.361 jiwa terkena dampak banjir, dan 322 jiwa yang mengungsi. “Sejumlah kecamatan yang terkena banjir, antara lain Juwana, Jakenan, Gabus, Sukolilo, Kayen, dan Margorejo,” imbuh Kepala BPBD Pati Sanusi Siswoyo.

Editor : Kholistiono

Puluhan Rumah dan Lahan Pertanian di Desa Kasihan Pati Terendam Banjir

 Sejumlah kendaraan melintas di jalan perkampungan Desa Kasihan yang terendam banjir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah kendaraan melintas di jalan perkampungan Desa Kasihan yang terendam banjir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan rumah di Desa Kasihan, Kecamatan Sukolilo, Pati terendam banjir, Selasa (7/2/2017). Genangan air setinggi 30 cm tersebut merupakan sisa dari banjir setinggi 50 cm yang melanda kawasan tersebut pada Senin (6/2/2017).

Akibat banjir tersebut, jalur alternatif Pati-Kudus sempat tergenang air sehingga akses transportasi tersendat. Dari pantauan di lapangan, aktivitas warga terganggu karena rumahnya yang digenangi air.

Apalagi, hujan kembali mengguyur kawasan tersebut dan sebagian besar wilayah Kabupaten Pati, Selasa (7/2/2017) hingga sekitar pukul 15.00 WIB. Sontak, genangan air belum juga surut sehingga warga tidak bisa beraktivitas.

Karis, penduduk setempat mengatakan, banjir di Desa Kasihan sempat masuk ke rumah hingga ketinggian 30 cm. “Ini banjir langganan setiap tahunnya saat hujan deras mengguyur. Terlebih, daerah ini mendapatkan limpahan air dari Pegunungan Kendeng,” ujar Karis.

Bahkan, banjir kiriman dari Pegunungan Kendeng yang datang secara tiba-tiba acapkali membuat warga belum sempat mengamankan barang-barang dalam rumah, seperti televisi. Hal itu yang membuat sejumlah warga harus kehilangan barang-barang elektronik saat banjir melanda.

Tak hanya menggenangi pemukiman dan jalan raya, banjir juga merendam areal persawahan penduduk seluas 20 hektare. Para petani yang rata-rata menanam padi dan masih berusia dua bulan dipastikan mengalami kerugian.

Editor : Kholistiono

Ratusan Rumah di Sunggingwarno Pati Terendam Banjir

 Kondisi banjir di Desa Sunggingwarno, Gabus, Pati, Jumat (6/1/2017) siang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi banjir di Desa Sunggingwarno, Gabus, Pati, Jumat (6/1/2017) siang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan rumah di Desa Sunggingwarno, Kecamatan Gabus, Pati terendam banjir, Jumat (6/1/2017). Banjir disebabkan hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut.

Di jalan utama desa tersebut, air banjir menggenang setinggi betis orang dewasa atau 30-40 cm. Banjir sendiri sudah mulai masuk ke pemukiman warga sekitar pukul 04.00 WIB pagi.

Sementara itu, tanggul darurat yang dipasang warga pada bagian sungai tidak mampu menampung debit air sungai. Akibatnya, luapan air sungai yang masuk ke pemukiman warga tidak kunjung surut hingga Jumat siang.

Tambah (52), warga setempat menuturkan, banjir mulai masuk pada saat dia sedang melaksanakan Salat Subuh. Tambah langsung berupaya mengamankan barang-barang berharga untuk mengantisipasi kemungkinan debit air bertambah tinggi.

“Ini mulai bersih-bersih lumpur dan sampah yang terbawa arus banjir. Kalau bersih-bersihnya menunggu air surut, malah susah dibersihkan,” ujar Tambah.

Dia menambahkan, desanya memang menjadi langganan banjir setiap tahun. Tahun ini saja, banjir yang melanda desa tersebut sudah tiga kali terjadi. Biasanya, air akan surut satu hingga dua hari berikutnya pascabanjir. Itu pun bila tidak ada banjir susulan.

Banjir juga menggenangi SD Sunggingwarno 02 Gabus, sehingga siswa dipulangkan lebih awal. Kendati banjir hanya sedikit yang masuk kelas, tetapi halaman sekolah dipenuhi banjir sehingga aktivitas belajar terganggu.

Editor : Kholistiono

Jalan Kedungwinong Pati Dilanda Banjir

Sejumlah pengendara tampak melewati Jalan Kedungwinong, Sukolilo yang dilanda banjir akibat hujan deras yang mengguyur selama dua jam, Selasa (3/1/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengendara tampak melewati Jalan Kedungwinong, Sukolilo yang dilanda banjir akibat hujan deras yang mengguyur selama dua jam, Selasa (3/1/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan deras yang melanda kawasan Kecamatan Sukolilo dan sekitarnya membuat jalan utama Desa Kedungwinong, Kecamatan Sukolilo dilanda banjir, Selasa (3/1/2017).

Banjir setinggi 30 cm tersebut membuat arus lalu lintas sempat tersendat. Beberapa pengendara yang lewat tampak berhati-hati, karena medan jalan yang menanjak disertai arus banjir yang sangat deras.

Jalan tersebut biasa dilalui pengendara, karena menghubungkan Desa Sukolilo, Desa Baleadi, Desa Prawoto, dan menjadi jalan alternatif menuju Kabupaten Kudus. Selain hujan yang deras, banjir disebabkan air di sungai sekitar jalan yang meluap.

“Saya mau pulang ke Cengkalsewu, sehabis dari Kudus. Memang sudah tidak hujan, tetapi jalan di Kedungwinong dilanda banjir sekitar 30 cm. Namun, arus cukup lancar dan tidak berbahaya,” ujar Siswanto, warga Desa Cengkalsewu.

Sejumlah penduduk setempat sempat berhamburan keluar untuk memantau kondisi jalan yang tergenang banjir. Kekhawatiran sempat dirasakan pengendara yang lewat, lantaran kondisi jalannya yang menanjak disertai banjir.

Editor : Kholistiono

Antisipasi Dampak Banjir di Pati, Puluhan Polisi Diterjunkan

Sejumlah polisi membantu mendorong mobil sedan yang mogok akibat terendam banjir saat melintas di Jalan Kayen-Sukolilo, Pati, Jumat (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah polisi membantu mendorong mobil sedan yang mogok akibat terendam banjir saat melintas di Jalan Kayen-Sukolilo, Pati, Jumat (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Satu peleton pasukan pengendali massa (dalmas) yang terdiri dari 30 personel dan satu unit patroli Turjawali diterjunkan di kawasan Jalan Kayen-Sukolilo, Pati, Jumat (30/12/2016). Mereka diterjunkan untuk mengantisipasi adanya dampak banjir akibat meluapnya air di Sungai Jeratun Seluna.

“Kami mendapatkan informasi banjir dari masyarakat, sehingga kami langsung menerjunkan satu peleton dalmas, pagi sekitar pukul 06.30 WIB. Pada saat kami turun di lokasi, kedalaman banjir mulai dari 10 cm hingga 50 cm,” ujar Kasat Sabhara Polres Pati AKP Amlis Chaniago.

Selama memantau lokasi, ada sejumlah mobil dan sepeda motor yang mogok karena mesinnya kemasukan air. Beberapa polisi yang bertugas langsung mendorong mobil yang mogok hingga posisi mobil tidak terendam banjir.

Mereka diterjunkan untuk mengambil langkah, membantu kesulitan masyarakat selama banjir merendam akses jalan utama Pati-Sukolilo tersebut. Selain itu, komunikasi dengan masyarakat diharapkan bisa mengantisipasi bila terjadi hal yang tidak diinginkan akibat dampak banjir.

Selain polisi, sejumlah relawan yang tergabung dari berbagai organisasi ikut terjun memantau perkembangan situasi. Tak hanya di Desa Kayen, sejumlah jalan di berbagai daerah juga terendam banjir. Salah satunya, Sukolilo, Winong, Gabus, Pucakwangi, hingga Jakenan.

Editor : Kholistiono

Sungai Sompok Meluap, Jalan Kayen-Sukolilo Pati Terendam Banjir

 Sejumlah relawan bencana berada di pertigaan jalan RSUD Kayen yang terendam banjir, Jumat (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah relawan bencana berada di pertigaan jalan RSUD Kayen yang terendam banjir, Jumat (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan Pati selatan membuat debit air di Sungai Sompok meluap, Jumat (30/12/2016) pagi. Akibatnya, Jalan Kayen-Sukolilo Pati terendam banjir hingga ketinggian 50 cm.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom dari relawan bencana dan kepolisian, ada empat titik jalan yang terendam banjir. Salah satunya, jalan depan RSUD Kayen dengan ketinggian sekitar 20 cm, jalan pertigaan Jaswadi, Desa Kayen ketinggian air 20 cm, jalan pertigaan Kojing setinggi 10 cm, jalur Sompok Desa Kayen mencapai 30 cm, dan beberapa titik dengan ketinggian 50 cm.

Kasat Sabhara Polres Pati AKP Amlis Chaniago saat meninjau langsung lokasi bersama satu peleton Sat Sabhara, mengatakan, ketinggian air terus bertambah pada sekitar pukul 07.00 WIB. Namun, jalan yang terendam banjir masih memungkinkan untuk dilalui kendaraan.

“Ketinggian air di sepanjang Jalan Kayen-Sukolilo memang cukup tinggi. Namun, air banjir kiriman dari Sungai Sompok belum sampai masuk ke pemukiman. Situasi cukup aman dan tidak ada korban jiwa,” ujar AKP Amlis.

Di tengah cuaca ekstrem dengan kemungkinan hujan berintensitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir, dia mengimbau kepada masyarakat Pati, terutama daerah rawan banjir untuk selalu waspada. Sikap hati-hati dan waspada penting dilakukan untuk menghindari adanya korban pada saat banjir melanda.

Editor : Kholistiono

Tanggul Jebol, Ratusan Rumah di Ketitang Wetan Pati Dikepung Banjir

Sejumlah anak tengah bermain saat banjir melanda Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Pati, Selasa (15/11/2016) hingga Rabu (16/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah anak tengah bermain saat banjir melanda Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Pati, Selasa (15/11/2016) hingga Rabu (16/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanggul sungai Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Pati, jebol akibat debit air terlalu tinggi, setelah beberapa jam diguyur hujan lebat, Rabu (16/11/2016). Akibatnya, ratusan rumah di desa setempat dikepung banjir dan terendam air setinggi 20 hingga 30 cm.

Bahkan, sejumlah titik di desa tersebut ada yang terendam hingga 80 cm hingga menyebabkan aktivitas warga terganggu. Untuk sementara waktu, warga harus berjaga-jaga untuk menghindari banjir susulan.

Suwardi, salah satu warga mengatakan, banjir menyebabkan air merangsek masuk ke pemukiman sejak Rabu (16/11/2016) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Warga yang terlelap tidur, terbangun untuk menyelamatkan barang-barang berharganya.

“Banjir datang tiba-tiba. Saat itu, saya masih terlelap karena dari sore listrik padam. Mendengar tetangga teriak banjir, saya langsung bangun. Air sudah masuk ke dalam rumah, segera saya menyelamatkan barang berharga,” kata Suwardi.

Sudah tiga tahun ini, lanjut Suwardi, tanggul sungai tersebut jebol. Selama itu pula, warga berkali-kali meminta bantuan kepada pemerintah daerah. Namun, sampai sekarang bantuan untuk memperbaiki tanggul masih belum terealisasi.

“Kami sudah tiga tahun mengalami kebanjiran akibat tanggul sungai jebol. Setiap tanggul sungai jebol, kami bergotong royong untuk memperbaiki talut dengan tanggul darurat. Kami juga sudah mengajukan permohonan kepada pemerintah, tapi sampai saat ini belum mendapatkan bantuan,” tuturnya.

Diperkirakan, ketinggian air banjir di perkampungan akan terus bertambah. Sebab, intensitas air hujan di wilayah Pati masih cukup tinggi. “Kami berharap pemerintah daerah mau membantu menangani permasalahan tahunan yang kami hadapi. Dengan memperbaiki tanggul dan normalisasi sungai, banjir tahunan setiap musim hujan tidak akan terjadi di sini,” harap Suwardi.

Editor : Kholistiono

Plt Bupati Pati Budiyono Angkat Keranda Jenazah Korban Terseret Arus Sungai

Plt Bupati Pati Budiyono (kanan) bersama dengan anggota TNI AD ikut mengangkat keranda jenazah Munasih, warga Pegandan, Margorejo yang meninggal dunia terseret arus sungai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Plt Bupati Pati Budiyono (kanan) bersama dengan anggota TNI AD ikut mengangkat keranda jenazah Munasih, warga Pegandan, Margorejo yang meninggal dunia terseret arus sungai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada pemandangan yang tidak biasa di rumah duka korban terseret arus sungai di Desa Pegandan, Kecamatan Margorejo, Pati, Rabu (16/11/2016). Plt Bupati Pati Budiyono ikut mengangkat keranda jenazah Munasih (60), seorang nenek yang meninggal dunia karena terseret arus sungai lantaran banjir.

Sontak, hal itu mendapatkan perhatian warga. Pasalnya, orang yang mengangkat jenazah biasanya keluarga dekat. Namun, peran itu diambil Budiyono. Bahkan, dia mengangkat keranda pada bagian depan bersama dengan salah satu anggota TNI AD.

“Sangat jarang ada pemimpin seperti itu. Jelas terharu melihatnya. Angkat keranda biasanya dilakukan kerabat dekat. Mungkin Pak Budiyono ikut prihatin dan bela sungkawa yang begitu dalam akibat banjir, hingga ikut mengangkat keranda,” ungkap Muharror, salah satu warga Pati.

Sebelumnya, Munasih ditemukan meninggal dunia di wilayah sungai Desa Ngawen, Kecamatan Margorejo, karena terseret arus sungai dari Sungai Desa Pegandan, Margorejo. Proses pencarian jenazah korban pun berlangsung lama. Tim SAR dari berbagai instansi diterjunkan, seperti personel Koramil Margorejo, Polsek Margorejo, BPBD Pati, Tagana, RAPI, Siaga DIM, dan penduduk setempat.

“Korban dilaporkan terseret arus sungai pada Selasa (15/11/2016) sore. Setelah disisir, jasad korban ditemukan pada Rabu (16/11/2016). Jenazah ditemukan 5 km dari lokasi kejadian. Setelah kami temukan, jenazah kami serahkan dokter puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan,” kata Danramil Margorejo Kapten Inf Djumali.

Hasil pemeriksaan, dr Umi Fitriyati menuturkan, korban mengalami luka-luka robek sepanjang 2×2 cm pada bagian pelipis, lebam pada dahi kiri, lecet dada kiri, lecet pantat kanan dan lutut kiri. “Luka terjadi, karena benturan dengan benda-benda keras saat jasad terbawa arus,” tandas dr Umi.

Editor : Kholistiono

Banjir di Pegandan Pati, 1 Orang Tewas Terseret Arus Sungai

Sejumlah relawan berhasil menemukan jasad korban di sungai Desa Ngawen, Margorejo, Rabu (16/11/2016) pukul 09.30 WIB, usai dilaporkan hilang pada Selasa (15/11/2016) sore. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah relawan berhasil menemukan jasad korban di sungai Desa Ngawen, Margorejo, Rabu (16/11/2016) pukul 09.30 WIB, usai dilaporkan hilang pada Selasa (15/11/2016) sore. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan lebat disertai angin kencang melanda sebagian besar wilayah di Kabupaten Pati, Selasa (15/11/2016). Di Desa Pegandan, Kecamatan Margorejo, Pati, satu orang nenek bernama Munasih (60) dilaporkan hilang karena terseret arus sungai.

Edy Sutarmin, salah satu saksi mengatakan, saat itu korban pulang bekerja dari ladang setelah hujan reda. Korban pulang melalui anak sungai dengan arus air yang meluap. Korban sudah diperingatkan untuk tidak menyeberang, sebelum air surut.

Namun, korban nekat menyeberang hingga akhirnya terseret arus air yang deras. “Saya langsung lapor kejadian itu kepada warga dan kepala desa, kemudian menyebar ke babinsa hingga Muspika,” ucap Edy.

Pada Rabu (16/11/2016), Danramil Margorejo Kapten Inf Djumali bersama Kapolsek Margorejo AKP Eko Pujiyono, Anggota Relawan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati dan Tagana melakukan penyisiran anak sungai Langkir. “Kami sisir hingga sepanjang 1,5 km tapi belum berhasil,” kata Kapten Inf Djumali.

Setelah disisir selama dua jam sejak pukul 07.30 WIB, jasad korban akhirnya ditemukan pada pukul 09.30 WIB di sebuah sungai Desa Ngawen, Margorejo. Pemakaman dijadwalkan langsung dilakukan, setelah jasad korban ditemukan.

Editor : Kholistiono

Pati Dikepung Banjir, Rumah Roboh dan Pohon Bertumbangan

Kondisi banjir di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Selasa (15/11/2016). (Istimewa)

Kondisi banjir di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Selasa (15/11/2016). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati dikepung bencana banjir, setelah empat jam diguyur hujan lebat disertai angin kencang, Selasa (15/11/2016). Sejumlah daerah terendam banjir, beberapa pohon bertumbangan, hingga satu rumah di Desa Bumiayu, Kecamatan Wedarijaksa, roboh.

Dua orang warga Desa Bumiayu RT 1 RW 3, Kecamatan Wedarijaksa dilarikan ke RSUD Soewondo akibat tertimpa reruntuhan rumah semipermanen yang terbuat dari papan dan bambu.Dua orang yang tertimpa reruntuhan rumah, antara lain Malikah (56) dan anaknya, Jumiati (36). Sementara itu, kepala keluarga bernama Rabun (70) dinyatakan selamat dalam tragedi tersebut.

“Korban dilarikan ke RSUD Soewondo, karena diduga mengalami patah tulang kaki saat rumah runtuh. Beruntung, keduanya masih selamat, sadar dan opname di rumah sakit,” ujar relawan Tagana, Paulus Purwanto.

Dalam rumah tersebut juga terdapat tiga ekor kambing. Satu ekor mengalami luka, satu selamat dan satu ekor kambing mati. “Waktu rumah roboh karena diterjang angin ribut, penghuni rumah ada di dalam. Beruntung, hanya dua yang terkena reruntuhan dan kondisinya selamat,” umbuh Paulus.

Relawan Tagana, Paulus Purwanto (kanan) usai meninjau rumah yang runtuh di Desa Bumiayu, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, Selasa (15/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Relawan Tagana, Paulus Purwanto (kanan) usai meninjau rumah yang runtuh di Desa Bumiayu, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, Selasa (15/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dari informasi yang dihimpun, selain satu rumah roboh diterjang angin ribut, sejumlah wilayah terendam banjir. Sungai Kalidoro dengan debit penuh meluber ke pemukiman.

Kawasan Pati Kota, sejumlah jalan yang terendam banjir, di antaranya Jalan Supriyadi Pati dengan setinggi lutut, Kelurahan Pati Wetan direndam banjir setinggi lutut, Perumahan Sukoharjo dan Perumahan Rendole, Margoyoso, Desa Payang, Desa Cebolek, Bulumanis, Jalan Raya Pati-Purwodadi, Kecamatan Gabus, dan berbagai wilayah lainnya.

Pohon di Mapolres Pati tumbang hingga menimpa mobil. Satu pohon di depan Gereja Isa Almasih, kawasan Alun-alun Pati juga tumbang disapu angin hingga menghalangi jalan dan menyebabkan kemacetan selama satu jam.

“Pati benar-benar dikepung banjir, setelah intensitas hujan yang tinggi mengguyur Pati sekitar empat jam. Beberapa pohon bertumbangan karena diterpa angin kencang. Di Kalidoro sendiri, air masuk ke dalam rumah hingga setinggi lutut,” ucap Dani, warga Kalidoro, Pati.

Editor : Kholistiono

Air Sungai Meluap, Sejumlah Rumah di Kecamatan Gabus Pati Terendam Air

Salah seorang warga tengah membersihkan rumah yang terendam luapan air sungai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Salah seorang warga tengah membersihkan rumah yang terendam luapan air sungai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan deras yang mengguyur wilayah Pati beberapa jam, Jumat (12/11/2016) malam, membuat sejumlah daerah di Kecamatan Gabus terendam air. Hal itu diakibatkan adanya luapan air sungai yang masuk ke pemukiman.

Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom dari Tim Relawan Kabupaten Pati, Sabtu (12/11/2016) pagi, sejumlah daerah yang terkena dampak luapan air sungai, antara lain Desa Penanggungan, Jogan Tambahmulyo, dan Desa Tanjunganom.

Anggota Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Dion menuturkan, kondisi bendungan Jogan Tambahmulyo Gabus meluap pada Sabtu (12/11/2016) dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB.

Warga yang khawatir, bersama dengan sejumlah relawan bersama-sama membuat tanggul buatan darurat dari batang pisang. Namun, tanggul darurat tersebut masih bocor.

“Kami sempat membuat tanggul darurat dari batang pisang untuk membendung luapan air dari sungai agar tidak meluber ke pemukiman warga. Hanya saja, masih ada kebocoran pada tanggul batang pisang yang kita buat. Tapi, setidaknya tanggul batang pisang bisa menghambat air agar tidak terlalu menggelontor ke pemukiman,” kata Dion.

Di Desa Penanggungan, air sungai yang meluap membuat jalan raya Pati-Gabus tergenang air hingga masuk dan menggenangi sejumlah rumah warga. “Dari hasil pemantauan kami bersama RAPI dan PMI, dalam kondisi darurat semacam ini, kita membutuhkan zak untuk membendung debit air yang meluap secara mendadak pada titik-titik tertentu,” imbuh Dion.

Hingga Sabtu (12/11/2016) pagi, satu rumah di Desa Sunggingwarno, Gabus masih terendam banjir. Salah seorang warga mengevakuasi ternak kambing dari kandangnya untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang menimpa kandang ternak.

Baca juga : Hujan Deras, Tanggul Sungai Tanjunganom Pati Jebol

Editor : Kholistiono

Hujan Deras, Tanggul Sungai Tanjunganom Pati Jebol

Anggota TNI dan warga mencoba membenahi tanggul Dukuh Paras yang jebol akibat luapan air Sungai Paras, Jumat (11/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota TNI dan warga mencoba membenahi tanggul Dukuh Paras yang jebol akibat luapan air Sungai Paras, Jumat (11/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan lebat yang terjadi di wilayah Pati membuat Sungai Paras, Desa Tanjunganom, Kecamatan Gabus, Pati, meluap, Jumat (11/11/2016) malam. Akibatnya, tanggul sungai setempat jebol hingga sekitar lima meter.

Tanggul sungai yang jebol tersebut menyebabkan air masuk ke wilayah pemukiman warga hingga belasan pekarangan rumah warga terendam air setinggi sekitar 10 cm. Beberapa rumah di antaranya tergenang air.

“Ada dua rukun tetangga (RT) yang terkena dampak genangan air akibat Sungai Paras jebol, RT 3 RW 3 dan RT 4 RW 4, Dukuh Paras. Genangan air yang masuk pemukiman mencapai sekitar 10 cm,” kata Pasi Intel Kodim 0718/Pati Kapten Inf Yahudi, Sabtu (12/11/2016) pagi.

Adapun warga setempat masih tinggal di rumah masing-masing, karena genangan air tidak terlalu tinggi. Namun, sebagian dari mereka tetap berjaga-jaga untuk mengantisipasi bila ada kemungkinan luapan sungai yang membuat genangan air lebih tinggi.

“Babinsa dan anggota Koramil sudah mendatangi lokasi untuk berkoordinasi dengan kepala desa, kepala dusun, dan ketua RT untuk mengecek lokasi tanggul yang jebol. Hari ini, anggota Koramil bersama dengan Polsek akan melaksanakan kerja bakti bersama-sama dengan warga untuk memperbaiki tanggul yang jebol,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

Dandim Pertanyakan Limbah Industri di Pati yang Dibuang ke Sungai

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma (kiri) dalam sebuah rapat bersama BMKG dan Dinas PSDA Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma (kiri) dalam sebuah rapat bersama BMKG dan Dinas PSDA Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Tengah mengimbau kepada warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, sekaligus membersihkan sungai. Hal itu untuk mengantisipasi adanya luapan air dari sungai besar yang melintas di wilayah pantura.

Kepala Dinas PSDA Jawa Tengah Prasetyo Budie Yuwono mengatakan, aliran air dari Bendungan Wilalung akan dilalui Kudus, Pati, Grobogan dan Demak. Bila bendungan tersebut tidak muat, maka empat pintu akan dibuka. “Kami berharap agar masyarakat punya kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan,” kata Budie.

Menanggapi masalah tersebut, Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma meminta kepada PSDA dan BMKG bisa ikut bersama-sama melihat kondisi di lapangan, terutama di Kabupaten Pati. Dengan begitu, mereka bisa mengimbau kepada industri pabrik besar di Pati untuk tidak membuang limbah ke sungai.

“Kami minta kesediaan PSDA dan BMKG supaya mau lihat kondisi di lapangan. Setelah melihat langsung, kami berharap adanya imbuan agar limbah dari industri pabrik tidak dibuang di sungai. Apakah mereka sudah sesuai dengan prosedur AMDAL, kesehatan atau tidak, terutama pencemaran dan perusakan alam,” tutur Andri.

Terkait dengan standar operasional prosedur (SOP) dan pengendalian pintu bangunan pengendali banjir untuk mengantisipasi banjir antarwilayah, Dandim meminta agar pemerintah ikut terlibat aktif di lapangan supaya tidak terjadi saling lempar tanggung jawab. “Kita perlu mencermati bersama dan langsung turun di lokasi supaya masyarakat bisa melihat kinerja kita,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono