Sekda Kudus Dukung LPBI NU Deteksi Dini Bencana Banjir

Sekda Kudus Noor Yasin saat memberikan materi tentang deteksi bencana banjir. (LPBI NU Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Lembaga Penangulangan Bencana dan Perubahan iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) mengadakan workshop penyusunan sistem peringatan dini bencana banjir di Kabupaten Kudus. 

Kegiatan tersebut dihadiri beberapa organisasi perangkat daerah. Di antarnya BPBD Kudus, Diskominfo,  Dinas Sosial,  Dinas Kesehatan,  Dinas Kesbagpol, PSDA, PMI, ORARI,  RAPI, pramuka, dan 2 desa yang menjadi pailot projek Desa Sambung dan Desa Karangrowo.

Gufron, Ketua LPBI NU Kudus mengatakan, kegiatan tersebut untuk membangun sinergitas antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam penyusunan sistem peringatan dini. Dengan begitu, bencana banjir bisa diantisipasi.

”Ini untuk kepentingan Kudus. Karena itu, semuanya harus bersinergi,” katanya.

Sementara itu, Sekertaris Daerah (Sekda) Kudus memberikan apresiasi kepada LPBI NU yang menginisiasi kegiatan deteksi dini bencana banjir dengan kemasan workshop penyusunan sistem peringatan dini banjir tingkat kabupaten.

Letak Geografis kudus, lanjutnya, yang sering kali terkena bencana banjir saat musim penghujan. Hal itu menjadi perhatian untuk deteksi dini banjir. Apalagi saat ini gencar-gencarnya pembangunan insfrastruktur jalan di berbagai wilayah, menjadikan beberapa titik menjadi banjir seperti kejadian banjir tahun 2014.

”Maka dari itu dengan adanya kegiatan deteksi dini, kita bisa mengurangi resiko bencana banjir,” terangnya. 

Ia mencontohkan, pemerintah sudah melakukan relokasi warga Desa Menawan yang rawan longsor, tepatnya Dukuh Kambangan menuju ke tempat yang aman. Saat ini, prosesnya juga  tinggal menyelesaikan kelengkapan administrasi.

” Berkaca dari itu, kami harap kegiatan deteksi dini bisa membuat masyarakat melek dan menjaga lingkungan agar tidak terkena bencana, baik longsor,  banjir dan kebakaran,” harapnya.

Editor: Supriyadi

Butuh Anggaran Rp 15 Miliar untuk Atasi Permasalahan Banjir di Jati Wetan Kudus

Bupati Kudus Musthofa bersama sejumlah pejabat meninjau polder Tanggulangin saat banjir beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, kerap menjadi sasaran banjir ketika musim hujan. Berulang kali, pemukiman warga yang berada di wilayah desa tersebut terkena banjir.

Sam’ani Intakoris, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kudus mengatakan, sebenarnya persoalan banjir di wilayah Jati Wetan dapat diatasi. Namun demikian, hal tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, yakni sekitar Rp 15 miliar.

“Desa Jati Wetan ini kan daerah tampungan atau tempat parkir air, khususnya kawasan Dukuh Barisan, Gendok dan Tanggulangin. Sehingga, jika hujan turun dengan intensitas tinggi pasti akan tergenang air. Untuk mengatasi banjir ini, minimal dibutuhkan anggaran Rp 15 miliar. Dana sebesar itu untuk membangun long storage, mulai bawah sisi timur Jembatan Tanggulangin hingga Sungai Bakinah,” katanya

Menurutnya, long storage ini merupakan suatu usaha untuk pemanfaatan sumber daya air yang berasal dari curah hujan, debit air minimum, debit air normal dan debit air maksimum pada Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan cara membuat suatu konstruksi bangunan penampungan air memanjang agar dapat di manfaatkan oleh masyarakat.

Selain itu, kata dia, pembuatan kolam retensi (penampungan) di barat Hutan Tanggulangin juga sangat dibutuhkan. Dan juga adanya normalisasi saluran, pembuatan pintu air di Sungai Bakinah, serta pengadaan tiga pompa polder di kawasan Tanggulangin.

Sebagaimana diketahui, pompa polder, sekarang hanya ada satu unit saja. Meski mampu menbuang air dalam skala besar, namun tetap terbatas, lantaran volume air yang banyak. Untuk itulah penambahan polder juga sangat dibutuhkan.

“Jika memang ada anggaran sebanyak Rp 15 miliar, maka upaya penanganan banjir akan teratasi. Karena ada penampungan air dan juga pembuangan dalam jumlah yang cukup banyak,” ungkapnya.

Sebenarnya, kata dia, usulan normalisasi sungai sudah diusulkan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana di Semarang. Namun, hingga kini belum ada respon terkait usulan dari Pemkab Kudus. Karena bagaimanapun yang berwenang menangani adalah provinsi.

Editor : Kholistiono

Komunitas Otomotif Pecinta Avanza-Xenia Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Kudus

Komunitas Otomotif Pecinta Avanza-Xenia menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, Minggu (19/2/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom,Kudus – Beberapa komunitas otomotif pecinta Avanza-Xenia menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Kudus, tepatnya di wilayah Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, pada Minggu (19/2/2017).   

Beberapa komunitas otomotif tersebut, di antaranya Xenia Mania Club Indonesia(XMAN) Chapter Muria Raya, Toyota Mania(TM KUPAT), dan Avanza Xenia Solution Kudus Kota Kretek (AXS Kudus Kota Kretek), AXS PlatK,AXS Bekasi,AXS Semarang Raya, TM Nasional dan XMAN pusat.

Eko Heri, Ketua XMAN Chapter Muria Raya mengatakan, yang bantuan disalurkan untuk korban banjir tersebut, merupakan hasil dari penggalangan dana dari masing-masing anggota komunitas, yang dikoordininir oleh masing-masing ketua.

“Kita bersyukur, temen-temen komunitas yang ikut berpartisipasi untuk kegiatan sosial ini cukup banyak. Penggalangan dana dilakukan oleh masing-masing komunitas tersebut, selanjutnya digabung jadi satu dan dibelanjakan kebutuhan bagi korban bencana banjir,” ungkapnya.

Menurutnya, beberapa bantuan yang diberikan untuk korban banjir di antaranya, alat tulis, susu, sembako, mie instan, pampers balita dan dewasa, pembalut wanita, dan beberapa lainnya.

Bantuan tersebut, diserahkan langsung kepada korban banjir yang didampingi oleh Muspika Kabupaten Kudus.”Dari data yang kami miliki, korban banjir di Desa Jati sebanyak 126 Kepala Keluarga (KK) dan 357 jiwa. Korban banjir berasal dari Dukuh Barisan,Dukuh Gendok,Dukuh Tanggulangin, dan Gang Sengkuyung.Semoga dengan sedikit uluran tangan kami dapat sedikit meringankan beban seluruh korban banjir,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ternak jadi Alasan Warga Karangturi Kudus Enggan untuk Mengungsi

Tampak seorang bocah sedang berenang di kawasan Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kudus, yang sedang banjir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang melanda wilayah Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, berdampak terhadap terganggunya aktivitas warga. Selain menggenangi jalan, sebagian juga sudah ada menggenangi rumah warga. Namun demikian, warga masih menolak untuk dievakuasi dan memilih untuk bertahan di rumah sambil menunggu air surut.

Kustam (51) warga setempat mengungkapkan, kalau dirinya masih ingin bertahan di rumah. Hal itu karena masih ada tanggungan, yaitu ternak miliknya yang harus dipelihara olehnya.  Sementara jika mengungsi, maka dia tak tahu kondisi ternaknya nanti.

“Ada kerbau di rumah, jadi harus mengamankan peliharaan saya juga kalau mau mengungsi. Terlebih kalau mengungsi, saya khawatir dengan hewan peliharaan saya itu,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Namun, ternak bukanlah satu-satunya alasan warga untuk bertahan. Karena, warga beranggapan kalau lokasinya tempat tingggalnya masih aman, sehingga masih menempati rumahnya. Katanya, di kawasan tempat tinggalnya, baru beberapa rumah yang tergenang air. Itupun, air tak terlalu tinggi, sehingga masih bisa ditempati.

“Kalau rumah saya, airnya baru sampai batas teras rumah saja. Namun tetangga saya, airnya sudah ada yang masuk rumah, bahkan kedalaman cukup lumayan,” ujar dia.

Dikatakan, kalau saat ini, kendaraan tak bisa memasuki Dukuh Karangturi. Sebab, air semakin dalam, sehingga dapat dipastikan kendaraan bakalan mati jika nekat untuk menerobos air. Untuk itulah warga memilih memakai sepeda atau jalan kaki untuk merumput.

“Kalau sebenarnya, saya ikut anak-anak saya dan keluarga. Jika mereka meminta mengungsi ya ikut saja. Tapi biasanya kalau mengungsi saat banjir sudah mencapai sepinggang orang dewasa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Banjir di Setrokalangan Kudus jadi Ajang Piknik Warga

Nampak salah satu anak sedang berenang di kawasan Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus yang terendam banjir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang terjadi di kawasan Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan,Kecamatan Kaliwungu, Kudus, justru dijadikan sebagian warga untuk piknik. Hal itu nampak dari sejumlah warga yang menikmati banjir dengan caranya sendiri.

Seperti halnya keluarga Khamso, warga Kaliwungu. Dia mengajak anak dan keponakannya guna melihat kondisi banjir di kawasan ini. Anaknya yang sangat suka bermain-main air sengaja diajak untuk menikmati momen banjir ini.

“Tadi pagi sampai sini. Airnya juga bening, sehingga tak masalah jika dibuat main oleh anak dan keponakan saya. Mereka juga terlihat senang,” katanya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (11/2/2017).

Anaknya dan keponakannya nampak asyik bermain air. Bahkan seringkali mereka  agak ke tengah lokasi banjir, guna berenang dengan berbagai gaya yang dikuasainya. Sementara, ayahnya hanya memantau dari kejauhan saja.

Seorang Warga Korban Banjir di Jati Wetan Kudus Dilarikan ke Rumah Sakit

Aksi kedua bocah yang masih SD itu menjadi perhatian para warga yang berada di tempat tersebut. Sebab, di antara puluhan warga, hanya mereka berdua yang berenang dengan asyiknya tanpa menghiraukan sekitar.

“Saya tetap memantaunya. Jika terlalu dalam atau terlalu jauh, maka saya akan mencegahnya atau memintanya untuk menepi. Sebab tidak tahu juga kedalamannya seberapa,” ungkapnya. 

Berdasarkan pantauan, selain keluarga tersebut, juga banyak pemuda yang datang ke sana. Mereka datang hanya sekadar melihat-lihat banjir, dan beberapa lainnya mencuci kendaraan mereka.

Editor : Kholistiono

Seorang Warga Korban Banjir di Jati Wetan Kudus Dilarikan ke Rumah Sakit

Petugas melakukan evakuasi terhadap salah seorang warga yang sakit dan rumahnya tergenang banjir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang warga korban banjir di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, dilarikan ke rumah sakit.Korban banjir dibawa ke rumah sakit Sabtu (11/2/2017) pagi oleh petugas BPBD yang bersiaga di daerah banjir di kawasan Desa Jati Wetan.

Zunia Anzayanti, Petugas jaga Puskemas Jati menyebutkan, warga tersebut diketahui bernama Fauzi, asal Dukuh Gendok RT 2 RW 1 Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati. Dia dibawa ke Rumah Sakit Mardi Rahayu pagi tadi oleh petugas.

“Tadi pagi sekitar jam 08.00 WIB. Pak Fauzi dibawa ke rumah sakit karena penyakit gula yang diderita kambuh saat banjir ini. Usia bapak tersebut sekitar 50 tahun dan memang secepatnya harus mendapatkan pertolongan medis,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Korban merupakan satu dari ratusan warga yang hendak diungsikan. Tercatat, ketinggian air di kawasan tersebut mencapai satu meter lebih. Sehingga membuat warga tak kuat bertahan dalam waktu yang lama.

“Hingga hari ini baru satu orang yang terpaksa dibawa ke rumah sakit. Beberapa warga lain yang sakit masih dalam perawatan di posko atau Balai Desa Jati Wetan,” ungkapnya.

Disinggung mengenai kondisi warga lain yang belum mengungsi, dia mengatakan, mereka mengalami gangguan kesehatan yang umumnya gatal-gatal. Hal itu dikatakan, lantaran ada tim dari puskesmas yang berkeliling ke rumah warga yang terkena dampak banjir guna mengecek kesehatan.

“Termasuk saat ini tim juga masih menyusuri gang-gang yang tergenang air. Selain mengimbau agar warga mencari tempat aman, kami juga mengecek kesehatannya. Sebab, sudah beberapa hari ini rumah mereka tergenang air,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Air Tak Juga Surut, Warga Nyerah untuk Bertahan di Rumah dan Pilih Mengungsi

Situasi posko pengungsian yang dipusatkan di Balai Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, Sabtu (11/2/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Air yang menggenangi pemukiman warga di sebagian wilayah di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, hingga kini tak ada tanda-tanda surut. Bahkan, genangan air semakin meninggi.

Hal tersebut membuat ratusan warga menyerah untuk tetap bertahan di rumah dan lebih memilih untuk mengungsi. Sebab, rumah mereka sudah tak aman lagi ditempati karena air tak kunjung surut.

Seperti halnya Aminah (21) warga Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan. Dia bersama dengan keluarga memilih mengungsi karena banjir yang makin tinggi. Rumah yang tak lagi aman, membuat mereka khawatir jika semakin parah.

“Saya datang bersama keluarga Jum’at (10/2/2017) sore kemarin. Kami memilih mengungsi karena banjir makin tinggi. Jadi sudah tak bisa apa-apa lagi di rumah,” katanya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (11/2/2017).

Dikatakan, saat memilih mengungsi kemarin, ketinggian air sudah sampai perut orang dewasa. Tingginya air tersebut diukur dari dalam rumah, sehingga selain mengungsi dia tak punya pilihan lain.

Ratusan Warga di Desa Jati Wetan Kudus Mengungsi Akibat Banjir

 

Padahal, pagi harinya kedalaman air hanya sampai pada paha orang dewasa. Namun secara drastis air kembali tinggi, yang membuat keluarganya memilih untuk mengungsi ke Balai Desa Jati Wetan. “Rumah sudah tak bisa ditempati. Barang berharga juga kami bawa, karena air makin tinggi. Bahkan informasi tadi, air kini juga semakin tinggi lagi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dirinya bersama keluarga datang ke pengungsian dengan berjalan kaki. Sebab, waktu itu belum ada petugas yang siaga mengantarkan pengungsi menuju ke posko.

Editor : Kholistiono

Ratusan Warga di Desa Jati Wetan Kudus Mengungsi Akibat Banjir

Balai Desa Jati Wetan yang dijadikan posko pengungsian warga yang terkena banjir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan warga dari berbagai dukuh  di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, berbondong-bondong mengungsi ke tempat pengungsian di balai desa setempat. Ratuwan warga datang secara bergelombang dengan mendatangi sendiri posko pengungsian dan sebagian dijemput menggunakan kendaraan.

Martono, Kadus II Desa Jati Wetan mengatakan, warga yang mengungsi mulai berangsur datang semenjak Jumat (10/2/2017). Warga semakin banyak mulai Sabtu (11/2/2017) pagi dengan bergerombol datang ke balai desa.

“Total pengungsi yang sudah datang mencapai 126 orang. Jumlah tersebut mencakup beberapa dukuh yang terdapat di Desa Jati Wetan, yang meliputi Dukuh Tanggulangin, Barisan dan Gendok,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, hingga kini masih ada tim yang melakukan evakuasi warga yang rumahnya kenjiran.Tim tersebut siaga, manakala masih ada keluarga yang bertahan dan berkeinginan untuk mengungsi ke tempat pengungsian.

Dia menambahkan, di lokasi tempat pengungsian disiagakan beberapa petugas. Mulai dari tim keamanan yang berasal dari Polsek Jati, pihak pemerintah desa yang membagi jadwal stand by serta dari Puskesmas Jati yang juga siaga di sana.

Rata-rata, ratusan pengungsi mulai datang karena rumah tak bisa lagi ditempati. Lokasi rumah yang tak lagi aman, membuat warga datang mencari perlindungan di tempat pengungsian banjir. “Kami masih siaga, manakala ada warga yang datang ke sini lagi. Sebab, hingga siang ini masih banyak juga warga yang bertahan di rumahnya,” ungkanya.

Editor : Kholistiono

Siswa yang Sekolahnya Terendam Banjir Bisa Belajar Sementara di Sekolah Lain

Salah satu SD di Kudus yang terendam air. Untuk sementara, siswa yang sekolahnya terkena banjir, bisa belajar di sekolah lain. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sedikitnya delapan sekolah tingkat dasar di Kudus terkena dampak banjir pada awal tahun 2017 ini. Delapan SD tersebut, tersebar di tiga kecamatan di Kudus.

Kabid Dikmen pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, berdasarkan data yang diterima Jumat (10/2/2017), sudah ada delapan SD yang terendam. Rinciannya, satu SD di Setrokalangan,Kecamatan Kaliwungu, tiga SD di Jati Wetan, Kecamatan Jati dan empat SD di Desa Golantepos,Kecamatan Mejobo.

“Saya kemarin (9/2/2017) sudah melakukan pengecekan ke beberapa sekolah. Hasilnya memang ada yang sudah terendam air seperti di Setrokalangan dan Jati Wetan. Dan hari ini, ada delapan sekolah berdasarkan data yang saya terima,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, meski dalam keadaan banjir seperti ini, bukan berarti siswa harus diliburkan. Para siswa tidak boleh kehilangan hak untuk mendapatkan ilmu atau pembelajarannya. Sehingga, sekolah tetap masuk seperti biasanya.

Meski demikian, dia juga menyadari kalau akses menuju sekolah juga ada yang kesulitan karena banjir. Selain itu juga, ada beberapa ruang kelas yang tergenang air, sehingga mengakibatkan terganggunya kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Untuk itu, dia meminta siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran di sekolah lain yang diinginkan. Khususnya sekolah terdekat, yang ada di sekelilingnya, baik dari rumahnya atau lokasi para siswa mengungsi sementara bersama keluarga.

“Biasanya mereka lebih memilih mengungsi ke sanak saudara, dan di sana juga pasti ada sekolah. Selain itu, mereka dapat pindah di sekolah sementara di satu desa atau luar desa terdekat. Hal itu supaya tidak mengganggu aktivitas belajarnya,” ungkapnya.

Dalam keadaan semacam ini, kata dia, administrasi dapat disusul belakang. Sehingga siswa yang pindah sekolah untuk belajar tidak dilengkapi dengan surat dari Disdikpora.

Editor : Kholistiono

Sekolah Terendam Banjir, Puluhan Siswa SDN 3 Jati Wetan Kudus Tak Sekolah

SDN 3 Jati Wetan yang kondisinya terendam air dalam tiga hari teakhir ini. Akibatnya, puluhan siswa tak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Akibat akses jalan menuju sekolah terendam banjir, puluhan siswa di SDN 2 Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, tidak bisa melaksanakan aktivitas belajar di sekolah seperti biasanya. Informasi yang didapat, banjir tersebut terjadi setelah hujan yang mengguyur Kudus dalam beberapa hari terakhir, sehingga air merendam badan jalan. Bukan hanya itu saja, bangunan sekolah juga terendam air.

Sulastri, salah satu guru SDN 3 Jati Wetan mengatakan, banjir yang menggenangi sekolah sudah terjadi sejak tiga hari lalu. Banjir bukannya menyusut, namun genangan air saat ini malah semakin tinggi. Akibatnya, tiga ruang kelas tak bisa digunakan karena terendam air banjir. “Kalau kedalaman air, kira-kira sampai 60 cm. Jadi cukup dalam untuk dilalui dengan berjalan kaki,” katanya Jumat (10/2/2017).

Menurutnya, pihak sekolah masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Namun, karena situasi banjir, banyak siswa yang memilih untuk absen atau tak berangkat sekolah.

Hanya, terdapat satu kelas yang masuk, yaitu kelas VI, yang berjumlah sebanyak 19 siswa. Mereka semua masih masuk sekolah dengan keinginan untuk tetap belajar mempersiapkan ujian nasional yang bakal berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

“Kalau kelas VI masuk semua. Hal itu untuk persiapan UN. Siswa juga bersemangat dalam mengikuti pembelajaran meskipun keadaan banjir seperti ini. Secara keseluruhan, untuk siswa di SDN 3 Jati Wetan ini ada 96 siswa, mulai dari kelas I hingga kelas VI,” ujarnya.

Terkait rencana ke depan pihaknya belum mengetahui secara pasti. Pihaknya saat ini masih melakukan koordinasi dengan pihak UPT dan Dinas Pendidikan. Sehingga, langkah yang ditempuh nanti juga menunggu petunjuk dari pihak dinas. 

Editor : Kholistiono

Ratusan Sawah di Undaan Kudus Terendam Banjir

Warga melintasi jalan sawah yang tergenang banjir di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintasi jalan sawah yang tergenang banjir di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan hektare (Ha) sawah di tiga desa di Undaan, Kudus, terendam banjir. Ketinggian air yang merendam sawah sekitar 1 meter.

Ketiga desa adalah Desa Wonosoco, Berugenjang dan Desa Lambangan. Ketiga desa tersebut lokasinya, berdekatan.

Kades Wonosoco Setya Budi mengatakan, banjir merendam sekitar 250 Ha sawah di desanya. “Petani di sini kebetulan masih belum tanam. Hanya, dengan adanya banjir ini membuat tanam pertama harus mundur lantaran genangan yang banyak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jika melihat kondisi butuh waktu  hingga lima hari sampai banjir surut. Namun kondisi tersebut dapat berlaku jika tidak ada hujan lagi di kawasan Undaan dan sekitarnya.

Dia menyebutkan kalau banjir tersebut selain dipicu hujan deras di Undaan, juga kiriman dari Pati dan Grobogan. Luapan sungai londo, tumpah hingga menggenangi persawahan.

Sementara, Kiswo, Kades Berugenjang mengatakan kalau lahan pertanian di desanya yang tergenang mencapai 100 Ha. Dengan jumlah lahan pertanian  230 Ha.

“Di sini juga masih belum tanam, jadi nanti musim.tanam akan mundur akibat genangan air,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Baruklinting dari Karangturi Ini Bendung Sungai Agar Desa Tak Kebanjiran

banjir menggenangi jalan menuju ke dukuh karangturi, desa setrokalangan, kaliwungu kudus pada Bulan Pebruari 2016 silam. (Istimewa)

banjir menggenangi jalan menuju ke dukuh karangturi, desa setrokalangan, kaliwungu kudus pada Bulan Pebruari 2016 silam. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski akses jalan menuju Dukuh Karangturi Setrokalangan, kecamatan kaliwungu pada bulan Pebruari 2016 kemarin terendam banjir se lutut orang dewasa.

Namun dukuh karangturi yang berpenduduk sekitar 1.200 jiwa tersebut tidak terendam air sedikitpun. Sehingga warga setempat hanya bisa melakukan aktivitas keseharainnya tidak jauh dari pemukiman rumahnya.

Salah satu warga Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan yang bernama Sunari (57) mengatakan, memang bulan Pebruari 2016 kemarin akses jalan menuju dukuh karangturi terendam banjir.”Namun didalam Pedukuhan sendiri tidak apa apa bahkan aktivitas warga biasa biasa saja,” paparnya.

Dia melanjutkan, dukuh ini tidak terendam air itu lantaran ada yang menyebut daerah ini dilindungi ular. Namun ular itu tidak terlihat secara kasat mata.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, ada seorang warga yang melihat sesosok ular yang panjangnya hingga 7 meter membujur ke timur hingga kebarat.

“Pas saya mau ke jalan raya Lingkar Kudus Jepara pada Jumat sore (12/2/2016) disaat menjelang magrib, sempat melihat sesosok ular sekitar 7 meter panjangnya. Namun barang itu tidak mengganggu. Nah anehnya, ular itu malah melintang di sebelah utara jembatan menuju dukuh karangturi ini. Mungkin ular itu membendung jembatan atau tanggul. Sehingga genangan banjir tidak masuk ke pemukiman warga,” ujarnya.

Hal serupa diiyakan oleh seorang warga Garung Kidul yang bernama Suwandi (61). Dia mengatakan, disaat akan menjenguk keluarganya di Dukuh karangturi tersebut, dirinya sempat melihat pusaran air di tengah perjalanan.

“Pas saya akan ke Karangturi menjenguk saudara bernama Manto pada Jumat malam (12/2/2016) seusai Isyak, ditengah perjalanan saya melihat pusaran air. Nah disitu saya kaget. Apakah itu memang pusaran air banjir secara alami atau memang ada sesuatu?. Setelah itu saya cuma berdiam dan tidak berani lari. Sebab disaat itu genangan air itu se paha orang dewasa. Semisal lari, saya juga tidak kuat. Sebab berat bila berlari didalam air,” imbuhnya.

Editor : Merie

Intensitas Hujan Tinggi, Mejobo Kudus Siaga Banjir

Salah satu kawasan di Kecamatan Mejobo yang tergenang banjir (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu kawasan di Kecamatan Mejobo yang tergenang banjir (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain di Kecamatan Jati, wilayah lain di Kudus yang kerap menjadi langganan banjir adalah Kecamatan Mejobo. Sama halnya di Kecamatan Jati, Mejobo kini juga bersiaga dengan datangnya banjir.

Plt Camat Mejobo Andreas Adi Wahyu mengungkapkan, setiap musim hujan tiba, daerah di Kecamatan Mejobo sering menjadi langganan banjir. Untuk itulah, warga saat ini sudah siaga banjir, karena intensitas hujan akhir-akhir ini cukup tinggi.

“Kami dari pihak kecamatan selalu melakukan patroli serta pemantauan terhadap wilayah kami. Tujuannya, untuk mengetahui secara langsung apa yang terjadi di dalam wilayah Kecamatan Mejobo,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pemantauan yang dilakukan pihak kecamatan, bukan hanya dilakoni saat hari aktif saja katanya, namun, saat harus libur atau hari Minggu, mereka tetap melakukan pemantauan. Karena, menurutnya banjir datang tidak mengenal waktu.

Wilayah Mejobo, kata dia,selain struktur tanah yang memang rendah, hal lain yang mengakibatkan banjir adalah kurang lancarnya aliran air.

“Di sini seringkali terkena banjir. Bahkan hampir tiap musim hujan, hampir dapat dipastikan sudah menjadi langganan. Untuk itulah, kewaspadaan terhadap banjir juga harus ditingkatkan,” ujarnya.

Menurutnya, banjir yang datang bukan disebabkan dari wilayahnya, melainkan kiriman dari lokasi atas. Seperti halnya, jika kawasan atas hujan deras, seperti Dawe maka pihaknya harus lebih waspada.
Mengenai solusi, sendiri, katanya pihaknya sudah berupaya. Namun, hal itu membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang tidak sebentar. Solusi yang dimaksudadalah dengan normalisasi sungai mulai dari atas hingga bawah.

Editor : Kholistiono

Rawan Banjir, Camat Jati Kudus Siaga

Salah satu ruas yang terendam banjir di Kecamatan Jati, Kudus, Senin (21/3/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu ruas yang terendam banjir di Kecamatan Jati, Kudus, Senin (21/3/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Curah hujan yang masih tinggi, berakibat terjadi bencana banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Kudus. Salah satunya di Kecamatan Jati.

Camat Jati Harso Widodo mengatakan akibat intensitas hujan yang masih tinggi, dia meminta warganya waspada terhadap banjir. Meski saat ini banjir cenderung amat, tapi wilayah Jati kerap terendam.

“Barang berharga harus diamankan dulu, jika memang nantinya banjir sampai ke permukiman.  Harus mengungsi dulu bila banjirnya besar. Bila air banjir susut, barulah warga bisa kembali ke rumah mereka,” kata Harso, kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, hingga kini sebagain wilayah dalam kondisi  aman. Sebab Sungai Lusi yang dekat dengan permukiman, masih menunjukkan kondisi yang tidak mengkhawatirkan. Hanya, air kiriman dari utara yang harus diwaspadai.

Bila sudah demikian, biasanya permukiman di Desa Jati Wetan menjadi korban. Dengan jumlah rumah yang terendam, biasanya mencapai ratusan.

”Kami minta warga lebih aktif lagi, sebab mereka yang tahu langsung kondisi di sini. Saya tidak bisa menunggu 24 jam. Jadi mereka yang lebih aktif dengan lapor ke desa, kecamatan, bahka dinas,” imbuhnya.

Dia berharap dinas terkait dapat segera membenahi drainase di wilayahnya.  Biar saat banjir terjadi, wilayahnya aman.  “Seperti hanya kemarin, baru hujan dua jam saja sudah penuh dengan air. Untungnya Sungai Lusi masih bisa menampung air,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

Banjir di Wilayah Kota, Warga Kudus Harap Saluran Air Cepat Diselesaikan

Kondisi jalan yang tergenang air usai hujan siang tadi di kawasan Kecamatan Kota Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi jalan yang tergenang air usai hujan siang tadi di kawasan Kecamatan Kota Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu warga Mlati Lor, Kecamatan Kota, Ahsin (45) mengatakan, pembangunan saluran air ini harus dipercepat. Supaya disaat ada hujan seperti saat ini, Senin (21/3/2016) bisa langsung mengalir airnya.

”Musim hujan saat ini memang tidak bisa diprediksi. Setidaknya pembangunan saluran ini bisa dipercepat agar bisa langsung berfungsi. Kalau bisa diperdalam lagi kedalamannya,” tuturnya.

Dia menuturkan, pihak pemerintah kini memang tengah melakukan pengerjaan saluran air yang berada di Jalan Pramuka, yakni di Mlati Norowito. Pihaknyanya pun berharap kedepannya saluran tersebut dapat mengalirkan air hujan dengan baik dan tidak meluber hingga menggenangi jalan warga.

Hal serupa diiyakan warga Mlati Kidul, Subiyanto (55) dia mengungkapkan, sebagai warga juga harus bersabar, karena pembangunan saluran air tersebut baru dimulai. ”Mudah-mudahan saluran ini bisa bermanfaat, dan dapat dibangun dengan baik,” tuturnya.

Ia pun mengaku heran, kini jalanan di Kudus terutama di kawasan perkotaan sering banjir tiap kali hujan. ”Beda kalau banjirnya berada di tepi sungai itu bisa dimaklumi. Tapi inikan di kota. Saya tadi juga baru melintasi alun-alun, ada genangan airnya cukup tinggi,” tegasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Banjir juga Landa Mlati Norowito Kudus

Warga berada di salah satu ruas jalan di Mlati Norowito, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga berada di salah satu ruas jalan di Mlati Norowito, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan lebat yang menguyur Kudus, Senin (21/3/2016), sekitar dua jam lamanya, membuat sejumlah wilayah, banjir.

Peristiwa banjir, meski singkat, namun cukup menghambat aktivitas warga. Ya, banjir tersebut juga terjadi di wilayah pusat kota. Misalnya saja di Desa Mlati Norowito, Kota. Di wilayah itu, banjir menggenangi permukiman.

“Hujan tadi terjadi sekitar pukul 12.30 WIB hingga 14.30 WIB, dan wilayah Mlati Norowito, khususnya gang 3 ini terendam air. Baik itu yang berada di jalan kampung, atau juga pelataran warga,” kata Kastubi, salah satu warga Mlati Norowito.

Dari pantauan MuriaNewsCom, genangan air tersebut berada di sebagian wilayah Mlati Norowito, Jalan Menur, perempatan Bejagan, Mlati Kidul, dan Mlati Lor.

“Untuk ketingian sendiri dari sebetis orang dewasa hingga sepaha orang dewasa. Selain itu, penyebab dari genangan air ini kemungkinan disebabkan saluran air dan sungai kecil yang berada di tengah permukiman, dipenuhi sampah,” ujarnya.

Dia menambahkan, selain sampah, saluran air juga semakin dangkal. Sehingga setiap kali hujan lebat dalam waktu yang lama, maka wilayah itu akan terendam banjir.

Editor : Akrom Hazami

Banjir, Kecamatan Jati Kudus Butuh Perbaikan Drainase Segera

Banjir yang terjadi siang tadi Senin (21/3/2016) usai hujan lebat di Kecamatan Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Banjir yang terjadi siang tadi Senin (21/3/2016) usai hujan lebat di Kecamatan Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Beberapa daerah di Kecamatan Jati, selalu menjadi langganan banjir ketika hujan tiba. Seperti halnya hujan deras siang tadi Senin (21/3/2016), sampai mengakibatkan banjir di daerah sekitar Kecamatan Jati.

Camat Jati Harso Widodo mengatakan, banjir yang menerjang daerahnya, memang disebabkan dari cuaca hujan yang tinggi. Namun, selain itu, banjir dapat terjadi lantaran tidak siapnya saluran air yang ada di sana.

”Banjir yang ada di sini setinggi 40 cm. Bahkan beberapa sampai masuk pemukiman warga dengan arus yang cukup tinggi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, banjir yang menimpa Jati berada di Desa Jati Wetan dan Tanjung Karang. Hal itu disebabkan oleh saluran gorong-gorong proliman yang tidak normal. Akibatnya, aliran airnya tidak bisa lancar sehingga airnya membeludak hingga pemukiman warga.

”Sebenarnya kalau arus nya di proliman lancar, tidak akan terjadi bencana seperti itu. Namun karena tidak begitu lancar, karena sampah dan lainnya, maka banjir terjadi. Makanya di sini butuh sekali normalisasi dan penanganan segera,” imbuhnya.

Terkait hal tersebut, pihak kecamatan sudah beberapa kali mengusulkan adanya normalisasi. Usulan dilakukan tiap tahun. Yaitu, pada 2014 dan 2015 kemarin. Dia berharap dapat segera direspon untuk kemudian dibenahi agar masyarakat tidak lagi was was dengan banjir.

”Kalau normalisasi yang dibutuhkan itu, mulai dari pembongkaran, kemudian dikeruk untuk di dalamkan, kemudian juga dilebarkan. Sekian itu, arus menuju sungai juga harus ditinggikan untuk menampung lebih banyak air,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Hujan Deras, Kudus Banjir

Warga menerjang banjir yang terjadi salah satu sudut di Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga menerjang banjir yang terjadi salah satu sudut di Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan deras yang mengguyur Kudus, Senin (21/3/2016) siang, membuat beberapa titik mengalami banjir. Karena hujan yang sangat deras, bahkan genangan mencapai lutut orang dewasa.

Seperti halnya banjir yang terdapat di Kecamatan Kota, genangan air hingga ketinggian lutut orang dewasa atau mencapai 40 cm. Akibat genangan yang muncul, banyak kendaraan yang melintas, jadi mogok. Tidak sedikit pengendara yang sampai menuntun sepeda motornya.

Dea, warga Desa Melati Norowito, Kecamatan Kota mengatakan, hujan deras tadi langsung membuat air meluap. Bahkan tingginnya air banjir, sampai memasuki beberapa rumah warga.

“Beberapa rumah di sini sampai kemasukan air. Sehingga beberapa ruas jalan dipastikan tidak dapat dilalui karena debit air yang sangat tinggi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sementara, Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan mengungkapkan banjir yang terjadi hampir merata di daerah perkotaan. Bukan hanya Kecamatan Kota saja, namum Mejobo juga mengalami hal yang sama.

“Dari Laporan yang kami terima, beberapa ruas memang tergenang air. Seperti Jalan Pramuka yang memang jadi langganan. Namun Mejobo juga ada yang tergenang tepatnya di depan SMP 1 Kudus,” ujarnya.

Bergas menilai, banjir yang terjadi di Kudus ini disebabkan curah hujan yang sangat tinggi dengan durasi yang cukup lama. Sehingga saluran air atau got tidak mampu menampung banyaknya air.
Selain itu juga, dimungkinkan saluran pembuangan air banyak yang mampet. Sehingga membutuhkan normalisasi yang dapat membuat aliran airnya lancar kembali.

Berdasarkan pantauan, daerah yang banjir juga terjadi di Simpang Tujuh. Selain itu, jalur depan Polytron masuk Desa Balkan Krapyak, juga dipenuhi dengan aliran air.

Editor : Akrom Hazami

Meski Sempat Terendam Banjir, Tanaman di Area Persawahan di Kudus Masih Bisa Dipanen

Pemberian beasiswa dari Mata Air Jepara kepada siswa berprestasi belum lama ini. (Istimewa)

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski beberapa waktu lalu area persawahan sempat terendam air. Namun kondisi tersebut dipastikan tidak mengganggu pertanian. Sebab kondisi tanaman masih hidup sehingga tetap dapat dipanen.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Kudus, Budi Santoso. Menurutnya, hingga kini sawah di Kudus masih aman termasuk juga tanaman yang ada di dalamnya.

”Masih aman, bahkan sekarang sudah tidak ada banjir lagi. Sehingga tinggal persiapan untuk panen,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, beberapa titik memang sempat menjadi genangan air akibat banjir. Namun kondisi tersebut tidak lama, sehingga padi masih dapat dipanen.

Seperti halnya daerah Kaliwungu, Undaan dan sebagian kawasan Mejobo. Banjir juga sempat menenggelamkan sebagian tanaman padi yang ada di sana. ”Tapi air tidak lama menggenangi area persawahan, jadi tidak terlalu mengganggu tanaman. Dan kini kondisinya juga semakin membaik,” ujarnya.

Tak hanya tanaman padi, namun juga tebu juga sempat terendam air. Namun dengan air yang cepat hilang, maka tebu dapat diselamatkan dari ancaman gagal panen. ”Kalau tebu malah lebih tinggi dari padi. Jadi kemungkinan hidup juga lebih besar,” ungkapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

BPBD Bakal Libatkan STIKES Cendekia Utama Kudus untuk Penanganan Bencana

Mahasiswa STIKES Cendekia Utama Kudus mengikuti latihan penanganan bencana (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Mahasiswa STIKES Cendekia Utama Kudus mengikuti latihan penanganan bencana (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Kudus Atok memberikan apresiasi latihan tanggap bencana yang dilakukan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Cendekia Utama Kudus.

Dengan adanya pelatihan seperti itu, katanya, mahasiswa nantinya dapat berperan serta dalam menyikapi bencana yang terjadi. Sehingga, potensi kerugian di masyarakat dapat diminimalisasi.

“Latihan seperti ini tentunya sangat bagus, diharapkan nantinya dapat membantu secara langsung kepada masyarakat. Selain itu, cara menanggulangi bencana yang cepat dan tepat tentunya bisa didapat dari latihan seperti ini,” ungkapnya.

Pada latihan yang digelar hari ini dengan menggandeng BPBD Kudus, setidaknya ada tiga poin penting materi yang diberikan kepada mahasiswa. Di antaranya, pengenalan fasilitasdan area wilayah air, kegunaan fasiltasdan pendalaman materi.

“Dalam latihan ini juga ada simulasi penanganan bencana khususnya banjr. Kemudian ada juga pertolongan pertama  kepada korban,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Puluhan Mahasiswa STIKES Cenut Kudus Dilatih Tanggap Bencana

Puluhan Mahasiswa STIKES Cenut Kudus Dilatih Tanggap Bencana

Mahasiswa STIKES Cendikia Utama Kudus sedang mengikuti latihan tanggap bencana (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Mahasiswa STIKES Cendikia Utama Kudus sedang mengikuti latihan tanggap bencana (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sedikitnya 56 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Cendikia Utama Kudus dilatih tanggap bencana. Pelatihan ini dilakukan di  Embung Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kamis (18/2/2016).

Dosen STIKES Cendekia Utama Kudus Wahyu Yusiantomengatakan,latihan tersebut merupakan  bagian dari materi  kuliah Manajemen Bencana.”Untuk latihan ini, kita bekerjasama denganBPBD Kudus. Dalam latihan ini, juga ada penilaian untuk mahasiswa,” katanya.

ntuk itu, dirinya meminta kepada mahasiswa untuk serius mengikuti latihan tersebut. Apalagi, bagi mahasiswa semester VII jurusan Keperawatan, praktik tersebut tersebut diwajibkan bagi mahasiswa untuk mengikutinya.

“Bagi semester VII jurusan Keperawatan, mahasiswa  harus maksimal dalammengikuti praktik ini. Sebab, nantinya ketika sudah lulus,ilmu tersebut bisa diaplikasikan di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Ancaman Banjir Susulan Kudus Bikin Waswas

Warga Dukuh Karangturi, Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus masih terjebak banjir, Minggu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga Dukuh Karangturi, Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus masih terjebak banjir, Minggu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Surutnya banjir yang berada di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kaliwungu, Kudus pada Minggu (14/2/2016) memang membuat aktivitas warga normal kembali. Namun rata rata warga masih merasa waswas terhadap musim hujan yang masih tinggi.

Salah seorang warga Setrokalangan RT 1 RW 1, Udin berharap banjir cepat surut dan lekas kembali normal.”Meskipun jalan sudah surut, namun halaman warga juga ada yang masih tergenang air,” katanya.

Selain itu, dengan sedikit surutnya banjir tersebut, kini warga bisa beraktivitas dengan tenang. Baik itu bekerja atau bersekolah.

“Kemarin selama 4 hari saya itu kelimpungan atau mondar mandir di rumah saja. Sebab khawatir, bila saya tingal kerja, takutnya air tambah tinggi. Saya beraktivitas di rumah atau sekitar rumah saja,” ujarnya.

Dia menambahkan, beberapa sawah warga dan jalan masih ada yang tergenang banjir. Hal itu masih dirasa warga amat mengganggu.

Suyadi, warga Dukuh Karangturi, Setrokalangan lainnya, mengatakan meskipun wilayah RW 3 tidak banjir, namun akses jalan tertutup air.”Sehingga kita juga agak kseulitan untuk keluar wilayah. Terutama ke daerah lain,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga :
Gara-gara Banjir, Aktivitas Warga Karangturi Kudus Belum Maksimal

5 Rumah di Banget Kaliwungu Kudus Masih Terendam Banjir

Banjir Surut, Karangturi Kudus Jadi Jujukan Pemancing Mania

Warga memancing di salah satu sudut di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga memancing di salah satu sudut di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Surutnya banjir yang berada di wilayah Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan,Kecamatan Kaliwungu, Minggu (14/2/2016) memang menjadi keuntungan tersendiri bagi warga sekitar.Khususnya bagi mereka yang mempunyai hobi memancing.

Aflah (45) warga Karangampel, Kaliwungu, salah satunya. Dia sengaja mengajak anak-anaknya untuk memancing di sekitar Dukuh Karangturi tersebut.

“Berhubung ini surut, maka biasanya ikannya juga banyak. Sebab di saat banjir ikan yang berada di sungai itu ikut luapan air,” katanya.

Dia mengajak anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP dan anak laki lakinya yang masih berusia sekitar 6 tahun. “Memancing ini juga termasuk refreshing. Toh anak putri saya Viona ini libur sekolah. Meskipun cewek, dia juga sudah punya hobi mancing sejak kecil,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, banjir yang menggenangi akses jalan Karangturi memang sudah surut total. Hal itu mengundang minat bagi pemancing. Baik warga sekitar atau mereka dari luar desa.

Hal serupa juga disampaikan warga RT 1 RW 3 Dukuh Karangturi, Setrokalangan, Lilin. Dia mengatakan tempat ini memang menjadi langganan pemancing saat banjir surut.

“Untuk jenis ikannya bermacam macam. Seperti halnya gabus, lele dan sejenisnya,” kata Lilin.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga :

Banjir Karangturi Kudus, Warga Ini Malah dapat ‘Berkah’

Gadis Cantik Ini Foto Selfie saat Banjir Kudus

Banjir Karangturi Kudus, Warga Ini Malah dapat ‘Berkah’

Wasiah mengolah tanaman kangkungnya di Kudus. (MuriaNewsCom/ Edy Sutriyono)

Wasiah mengolah tanaman kangkungnya di Kudus. (MuriaNewsCom/ Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski banjir masih menggenangi akses jalan perdukuhan Karangturi, Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tapi salah satu warga setempat Wasiah malah dapat berkah. Yaitu dapat mengantongi pemasukan ratusan ribu rupiah.

Ya, pemasukan tersebut didapatnya dari hasil panen kangkung bangkok yang sudah ditanamnya semenjak satu bulan yang lalu. “Syukurlah, permukiman Karangturi ini tidak terendam air. Sehingga saya bisa memanen kangkung ini. Meskipun kangkung ini tahan air, akan tetapi bila terkena banjir, maka rasanya akan berubah saat disamak,” kata Wasiah.

Tanaman kangkung yang sudah ditanamnya di area persawahan kini sudah ditunggu tengkulak untuk dibeli seharga Rp 650 ribu.”Ya nanti ada tengkulak yang akan mengambil. Kalau dijual eceran sih seharga Rp 1.500 per ikat. Namun bila ditebas, maka akan bisa laku Rp 500 ribu hingga Rp 650 ribu,” ujarnya.

Dia menilai, panen kangkung di saat musim banjir ini merupakan berkah tersendiri. Yakni bisa mencukupi kebutuhannya saat sandang pangan sulit didapat. “Setidaknya bisa dibuat membeli sembako dan kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Selain itu, kangkung yang ditanamnya juga bukan jenis sembarangan. Yakni kangkung berjenis bangkok. Yang memang bibitnya dibeli secara khusus di toko pertanian.

“Untuk kangkung ini kita beli bibitnya di toko pertanian seharga Rp 50 ribu per kg. Sedangkan untuk perawatannya sendiri juga cukup mudah. Yakni tinggal diberi pupuk 2 kali dalam satu bulan. Yakni minggu pertama dan ketiga. Setelah minggu ke empat atau satu bulan maka kangkung ini bisa dipanen,” tuturnya.

Editor : Akrom Hazami