Jalan Tergenang, Jalur Purwodadi-Pati Sempat Tersendat

Jalan di Pertigaan Ketapang Grobogan tergenang air setelah hujan deras mengguyur sejak siang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jalan di Pertigaan Ketapang Grobogan tergenang air setelah hujan deras mengguyur sejak siang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bagi pengendara dari Purwodadi yang mau menuju Pati dan Kudus sebaiknya berhati-hati. Pasalnya, mulai sekitar pukul 19.00 WIB tadi, arus lalu lintas jalur tersebut tersendat karena kondisi jalan raya tergenang air.

Informasi yang didapat menyebutkan, jalan yang tergenang berada disekitar di Pertigaan Ketapang. Mulai depan Kantor Kecamatan Grobogan keselatan hingga bekas TPK Demangan. 

Air yang menggenagi jalan kedalamannya cukup tinggi. Bagian paling dalam tinggi genangan mencapai lutut orang dewasa. “Lumayan tinggi airnya. Motor saya hampir mlepek tadi,” kata Agus Winarno dan Parjianto, dua anggota Ubaloka Pramuka Kwarcab Grobogan yang kebetulan melintas di situ.

Dari keterangan warga, tergenangnya jalan itu sering terjadi. Tepatnya, saat hujan deras mengguyur dalam waktu lama. “Kalau hujan deras, air dari saluran drainase disebelah timur jalan penuh dan meluber ke jalan. Kalau hujan berhenti, sekitar satu atau dua jam kemudian, air di jalan itu sudah hilang,” kata Masruri, warga setempat.

Editor : Kholistiono

Elevasi Sungai Lusi Mendekati Puncak, Warga Kota Purwodadi Siaga Banjir

Kondisi Sungai Lusi terlihat penuh akibat naiknya debit air dalam beberapa hari terakhir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kondisi Sungai Lusi terlihat penuh akibat naiknya debit air dalam beberapa hari terakhir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Kewaspadaan terhadap ancaman banjir saat ini harus lebih ditingkatkan. Khususnya bagi mereka yang tinggal di sepanjang aliran dua sungai besar di Kota Purwodadi. Yakni, Sungai Lusi dan Glugu. Kondisi ini dipicu naiknya elevasi sungai itu seiring turunnya hujan deras di daerah hulu dalam beberapa hari terakhir.

Dari pantauan di lapangan, kondisi Sungai Lusi di utara Kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya. Elevasi air sudah hampir sejajar dengan tanggul sungai. Di beberapa titik, air sungai sudah merembes ke arah pemukiman. Namun, rembesan ini volumenya masih kecil dan belum membahayakan.“Sejak tadi malam, kita sudah diminta waspada. Soalnya, air Sungai Lusi terus naik,” kata Agus Winarno, warga Kampung Jajar, Purwodadi.

Dampak naiknya debit Sungai Lusi, juga mulai berimbas di kawasan perkotaan. Di mana, ruas jalan KS Tubun, tepatnya depan Kantor Kejaksaan Negeri tergenang air setinggi 15 cm.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Grobogan Agus Sulaksono menegaskan, saat ini, pihaknya memang menetapkan status siaga untuk kawasan kota. Sebab, pantauan terakhir Senin (14/11/2016) siang, elevasi Sungai Lusi berkisar 9,4 meter.

Ruas jalan KS Tubun, tepatnya depan Kantor Kejaksaan Negeri tergenang air setinggi 15 cm akibat naiknya debit Sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ruas jalan KS Tubun, tepatnya depan Kantor Kejaksaan Negeri tergenang air setinggi 15 cm akibat naiknya debit Sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

“Ketinggian air ini cukup rawan karena batas maksimal elevasi sungai Lusi berkisar 10 meter. Meski demikian, masyarakat kita minta tidak perlu panik karena kami sudah melakukan monitoring terus dan menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan. Selalu waspada tetapi tetap tenang,” katanya.

Menurutnya, ketika elevasi sudah masuk 9 meter, sebagian kawasan biasanya sudah mulai ada yang kebanjiran akibat melimpasnya air sungai. Agus menyatakan, naiknya elevasi sungai, khususnya Sungai Lusi itu memang sudah diantisipasi jauh hari sebelumnya. Di mana, anggota penanganan bencana sudah diminta siaga serta memonitor elevasi sungai secara rutin. Selain itu, anggota juga sudah menyiapkan peralatan penanganan banjir jika sewaktu-waktu diperlukan.

Dijelaskan, dari pengalaman banjir dua kali pada akhir tahun 2007 lalu memang bisa dipantau dari tingginya elevasi Sungai Lusi. Di mana, jika elevasi sungai ini tinggi maka aliran air dari Sungai Glugu maupun anakan Sungai Lusi dari arah pegunungan akan tertahan. Akhirnya, air sungai yang tidak bisa masuk ke Sungai Lusi ini akan meluber ke perkampungan penduduk.

Editor : Kholistiono

Banjir di Kecamatan Gubug Grobogan Mereda, Perbaikan Tanggul Kembali Dilakukan

Sejumlah warga sedang mengisi karung dengan tanah guna menutup tanggul jebol di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Sabtu (12/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah warga sedang mengisi karung dengan tanah guna menutup tanggul jebol di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Sabtu (12/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Tanggul jebol di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Grobogan yang menyebabkan banjir selama tiga hari, akhirnya mulai ditangani. Hal itu seiring menurunnya debit air Sungai Tuntang, sehingga perbaikan tanggul sudah memungkinkan untuk dikerjakan.“Elevasi Tuntang sudah turun drastis. Sejak Jumat kemarin, proses perbaikan tanggul sudah dimulai,” kata Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Grobogan Subiyono.

Menurutnya, penutupan tanggul dilakukan dengan menata karung yang diisi tanah. Proses ini bisa dilakukan lebih cepat lantaran ada kendaraan berat jenis backhoe yang ada di situ. Adanya backhoe dimanfaatkan untuk menyediakan tanah buat dimasukkan kedalam karung.

“Kendaraan berat itu milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana. Alat berat ini sejak beberapa pekan sudah ada di situ untuk memperbaiki tanggul di Ngroto yang sempat jebol bulan Oktober lalu. Proses perbaikan belum selesai, tanggul tersebut kembali jebol akibat meluapnya Sungai Tuntang 9 November lalu,” jelasnya.

Proses penutupan tanggul jebol itu diperkirakan memakan waktu beberapa hari. Sebab, jebolnya tanggul panjangnya mencapai 20 meter dengan kedalaman 5 meteran. Sementara itu, beberapa wilayah yang sebelumnya sempat tergenang air sudah mulai normal. Seperti di Desa Penadaran yang sempat dilanda banjir bandang.“Sudah tidak ada air di tempat kami. Saat kejadian, ada 500 rumah yang terendam dan 6 rumah roboh,” kata Kades Penadaran Siswanto.

Komentar senada juga disampaikan Kades Rowosari Markin. Menurutnya, jika kondisi di Desa Ngroto sudah normal maka banjir yang melanda desanya akan segera hilang. “Banjir di Rowosari ini merupakan kiriman dari Ngroto. Kalau sana normal maka di sini juga tidak akan dapat kiriman air lagi. Genangan air masih ada sedikit di beberapa ruas jalan kampung. Saat bencana, ada puluhan rumah yang tergenang hampir 1 meter tingginya,” cetusnya.

Editor : Kholistiono

Puluhan Warga Desa Kemiri Grobogan Berkumpul di Tanggul Sungai Tuntang,Ternyata Ini Tujuannya

Puluhan warga Desa Kemiri berkumpul di tanggul Sungai Tuntang untuk menggelar doa bersama agar terhindar dari musibah banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan warga Desa Kemiri berkumpul di tanggul Sungai Tuntang untuk menggelar doa bersama agar terhindar dari musibah banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Puluhan warga Desa Kemiri, Kecamatan Gubug berbondong-bondong mendatangi tanggul Sungai Tuntang, Kamis (10/11/2016). Warga yang datang kesitu berasal dari berbagai lapisan. Mulai anak-anak sampai orang tua, baik pria maupun wanita.

Kedatangan warga bukan untuk bergotong-royong menutup atau memperkuat tanggul. Tetapi, tujuannya untuk memanjatkan doa bersama agar Desa Kemiri terhindar dari bencana banjir.

“Berbagai komponen masyarakat Desa Kemiri memang menggelar kegiatan doa bersama. Sengaja lokasinya ditempatkan disitu karena sekalian mengecek kondisi tanggul sungai. Jajaran Muspika Gubug juga ikut hadir dalam acara tadi,” kata Kapolsek Gubug AKP Dedy Setya.

Melalui doa bersama tersebut, warga Kemiri berharap agar desanya tidak terkena bencana banjir lagi seperti satu bulan lalu. Saat banjir 9 Oktober lalu, Desa Kemiri jadi salah satu wilayah yang terkena bencana.

Saat itu, lebih 500 rumah tergenang air hingga 1 meter selama dua hari. Selain itu, tiga rumah warga hanyut, ratusan hektar sawah terendam air. Banjir yang menerjang Desa Kemiri waktu itu disebabkan tanggul jebol sepanjang 20 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter. “Tempat yang dipakai kegiatan doa bersama ini adalah lokasi tanggul jebol bulan lalu,” sambung Dedy.

Menurutnya, dalam musibah banjir yang terjadi sejak kemarin hingga hari ini, kondisi Desa Kemiri relatif aman. Di mana, tidak ada limpasan air Sungai Tuntang yang masuk ke perkampungan penduduk.

“Penyebab utama banjir disini adalah tanggul jebol. Kalau tanggulnya masih kuat maka ancaman banjir kecil. Kita harapkan, tanggul ini tetap kuat menahan debit air,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

6 Rumah Warga Hanyut Akibat Meluapnya Sungai Tuntang di Grobogan

 Kondisi perkampungan di Desa Ngroto masih terlihat genangan air di jalan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Kondisi perkampungan di Desa Ngroto masih terlihat genangan air di jalan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Dampak meluapnya Sungai Tuntang sejak Rabu(9/11/2016) ternyata sempat menghanyutkan rumah penduduk. Total rumah yang terseret limpasan air ini ada enam unit. Semuanya milik warga Dusun Kedung Kakap, Desa Penadaran, Kecamatan Gubug.

Kepastian adanya rumah hanyut ini disampaikan Camat Gubug Teguh Harjokusumo saat dikonfirmasi kondisi terkini seiring meluapnya Sungai Tuntang tersebut.“Benar, ada laporan enam unit rumah penduduk yang terseret arus air. Korban rumah hanyut ini ada Dusun Kedung Kakap, Desa Penadaran,” kata Teguh.

Rumah yang hanyut itu posisinya berada di lereng tanggul yang jadi limpasan air. Diperkirakan, rumah itu hanyut saat elevasi Tuntang mencapai batas maksimal sekitar pukul 19.00 WIB.

Untuk jumlah rumah yang sempat terendam air, kata Teguh cukup banyak. Data sementara, rumah yang kemasukan air lebih dari angka 1.000. Namun, air yang masuk rumah dengan ketinggian 5-30 cm itu tidak berlangsung lama.

Dari laporan terakhir, jumlah desa yang terdampak bencana akibat meluapnya Sungai Tuntang ada 5 desa. Yakni, Desa Ngroto, Rowosari, Penadaran, Kuwaron dan Papanrejo.

Secara keseluruhan, situasi sudah mulai normal lantaran elevasi Tuntang terus menurun sejak Selasa siang tadi. Meski demikian, air yang masuk ke areal perkampungan belum sepenuhnya surut.

“Aktivitas masyarakat sudah normal meski beberapa jalan kampung masih terlihat ada genangan air. Meski demikian, masyarakat kami minta untuk selalu waspada karena cuaca masih gerimis,” jelas mantan Lurah Danyang, Kecamatan Purwodadi itu.

Disinggung soal penanganan tanggul jebol di Desa Ngroto, Teguh menyatakan, belum bisa dilakukan. Soalnya, kondisi arus yang keluar dari jebolan tanggul masih cukup deras. Hal ini menyebabkan penanganan secara darurat masih sulit dikerjakan.

“Tanggulnya belum memungkinkan untuk kita tangani. Namun, alat berat masih ada di sana karena sebelumnya digunakan mengerjakan perbaikan tanggul tersebut. Perbaikan tanggulnya belum selesai, malah sudah jebol lagi,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Dampak Meluapnya Sungai Tuntang, Jembatan Antardesa di Kedungjati Grobogan Roboh

Jembatan di atas anakan Sungai Tuntang yang menghubungkan Desa Kalimaro dan Kedungjati roboh akibat gerusan air, Kamis (10/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jembatan di atas anakan Sungai Tuntang yang menghubungkan Desa Kalimaro dan Kedungjati roboh akibat gerusan air, Kamis (10/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sebuah jembatan yang menjadi penghubung antardesa di Kecamatan Kedungjati roboh, Kamis (10/11/2016). Robohnya jembatan ini menyebabkan akses menuju Desa Kalimaro dan Kedungjati terganggu.”Jembatan roboh sekitar jam 09.00 WIB. Saat kejadian, kebetulan tidak ada orang maupun kendaraan yang melintas,” kata Kapolsek Kedungjati AKP Untung Hariyadi.

Jembatan yang roboh memiliki panjang 5 meter dan lebarnya 3 meter. Jembatan tersebut berada di atas anakan sungai Tuntang. Diduga kuat, robohnya jembatan ini akibat dampak meluapnya sungai Tuntang sejak Rabu Kemarin. Meluapnya sungai menyebabkan tanah di bawah pondasi longsor sedikit demi sedikit hingga akhirnya merobohkan jembatan.

Robohnya jembatan itu menjadikan aktivitas warga kedua desa terganggu. Soalnya, mereka harus memutar arah dengan jarak yang lebih jauh akibat musibah tersebut.”Untuk sementara warga harus mutar lewat jalur yang lainnya. Nanti, direncanakan ada pembuatan jembatan darurat,” imbuh Untung.

Sementara itu, aktivitas  warga Desa Randurejo, Kecamatan Pulokulon juga terganggu lantaran tingginya air Kali Klampis yang melitasi wilayah tersebut. Pasalnya, naiknya air ini menyebabkan jembatan didesa tersebut terendam.

Jembatan ini menjadi akses penting warga Randurejo yang tinggal di selatan kali. Di samping itu, jembatan ini juga menjadi akses utama warga setempat menuju wilayah Sragen. Sekedar diketahui, Desa Randurejo ini memang berbatasan dengan wilayah Sragen.”Jembatan ini posisinya memang cukup rendah. Jadi, kalau kalinya meluap pasti jembatannya klelep (terendam),” kata Kades Randurejo Daniel Martiknyo.

Dia menyatakan, jembatan tersebut memang sudah waktunya diganti dengan konstruksi yang lebih tinggi dari posisi sungai. “Selain jalan, saya berharap pada tahun anggaran 2017 ada alokasi perbaikan jembatan itu,” katanya.

Editor : Kholistiono

Foto-foto Banjir yang Kembali Terjang Wilayah Gubug Grobogan

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bencana banjir kembali melanda wilayah Kecamatan Gubug, Rabu (9/11/2016) malam. Makin bertambahnya elevasi Sungai Tuntang sejak sore akibat hujan deras, menyebabkan sebagian air melimpas melewati tanggul yang posisinya agak rendah. Limpasan air ini mengakibatkan sejumlah desa di bantaran Sungai Tuntang sempat kebanjiran. Antara lain, Desa Ngroto dan Penadaran. Selain menggenangi sawah dan jalan, air limpasan juga sempat memasuki puluhan rumah penduduk setinggi 5-20 cm. Tingginya elevasi Sungai Tuntang juga menyebabkan ruas tanggul di Desa Ngroto jebol sepanjang 20 meter. Tanggul ini, persis sebulan lalu sudah pernah jebol dan menyebabkan banjir besar. Berikut ini foto-foto banjir yang kembali landa sebagian wilayah di Kecamatan Gubug malam tadi :    

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Editor : Kholistiono

Elevasi Sungai Tuntang Naik Tajam, Warga di Kecamatan Gubug Siaga Banjir

Petugas BPBD Grobogan juga sedang mempersiapkan peralatan untuk mengantisipasi banjir di Kecamatan Gubug. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas BPBD Grobogan juga sedang mempersiapkan peralatan untuk mengantisipasi banjir di Kecamatan Gubug. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Baru sebulan berlalu, warga di wilayah Kecamatan Gubug kembali terancam bencana banjir. Hal ini menyusul naiknya elevasi Sungai Tuntang akibat hujan yang mengguyur sejak Rabu (9/11/2016).

Akibat naiknya cepat, sebagian air sungai ini sudah melimpah keluar melewati tanggul yang posisinya agak rendah. Menjelang petang, limpasan air yang sudah mulai mendekati areal perkampungan di beberapa desa. Antara lain, Desa Penadaran, dan Ngroto.

“Hujan hari ini intensitasnya tinggi sekali karena berlangsung sejak pukul 13.00 WIB sampai menjelang petang belum berhenti. Kondisi ini menjadikan elevasi Sungai Tuntang naik tajam dan sebagian air sudah limpas. Kami sudah menetapkan status siaga I untuk wilayah Gubug,” kata Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono.

Informasi yang didapat menyebutkan, jika sudah ada ruas tanggul jebol di Desa Ngroto. Namun, kabar ini dibantah oleh Agus Sulaksono. “Belum ada laporan soal tanggul jebol. Kalau kemarin memang ada ruas yang jebol sedikit dan sudah kita tutup. Kita harapkan, tanggul itu masih kuat menahan arus air,” cetusnya.

Terkait dengan kondisi tersebut, pihaknya sudah mengerahkan tim untuk stand by dan siaga di wilayah Gubug. Kemudian, berbagai peralatan penanganan bencana juga sudah disiapkan.

“Semua tim penanggulangan bencana sudah kita siagakan semuanya. Kami juga berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya. Para relawan juga menyatakan kesiapannya untuk turun jika sewaktu-waktu diperlukan,” katanya.

Seperti diketahui, pada 9 Oktober lalu, bencana banjir sempat melanda wilayah Gubug, Tegowanu dan Godong. Dalam musibah ini, ada ribuan rumah terendam banjir, dan ratusan hektar sawah tergenang. Bencana yang terjadi saat itu disebabkan adanya beberapa titik tanggul Sungai Tuntang jebol.

Editor : Kholistiono

BPBD Grobogan Bakal Libatkan Aparat Pemdes untuk Lakukan Monitoring Tanggul

Penanganan tanggul Sungai Tuntang yang jebol dilakukan secara darurat dengan memakai karung yang diisi tanah (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Penanganan tanggul Sungai Tuntang yang jebol dilakukan secara darurat dengan memakai karung yang diisi tanah (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, pihaknya secepatnya akan melakukan langkah monitoring kondisi tanggul di sejumlah sungai besar dengan melibatkan aparat pemerintahan desa sekitar kawasan sungai. Hal itu dilakukan karena penyebab banjir selama ini adalah jebolnya tanggul ketika elevasi sungai tersebut melebihi ambang batas.

Selain itu, kondisi tekstur tanah di Grobogan yang relatif labil menyebabkan kondisi tanggul yang sebelumnya kering bisa longsor setelah terguyur hujan deras.

Ditambahkan, berdasarkan hasil pendataan, sedikitnya ada sembilan kecamatan yang masuk wilayah rawan bencana  banjir. Yaitu Kecamatan Purwodadi, Ngaringan, Klambu, Brati, Grobogan, Gubug, Tegowanu, Kedungjati dan Godong. Kesembilan kecamatan tersebut rentan banjir karena dilewati sungai besar.

Hasil monitoring itu nantinya akan dikoordinasikan dengan pihak BBWS. Sebab, kewenangan penanganan sungai lintas kabupaten tersebut ada pada BBWS.

Editor : Kholistiono

Cegah Banjir Lagi, Perbaikan Tanggul Jebol Sungai Tuntang Dibikin Permanen

Titik tanggul Sungai Tuntang yang jebol dan jadi penyebab banjir beberapa hari lalu akan diperbaiki secara permanen menggunakan batu dan semen (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Titik tanggul Sungai Tuntang yang jebol dan jadi penyebab banjir beberapa hari lalu akan diperbaiki secara permanen menggunakan batu dan semen (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Beberapa titik tanggul Sungai Tuntang di wilayah Kecamatan Gubug yang jebol dan sempat ditutup, namun akhirnya jebol kembali, kini terus diperbaiki. Kali ini, perbaikannya tidak bersifat darurat tetapi dibikin permanen.

Hal itu dilakukan supaya kondisi tanggul bisa makin kuat dan bisa mencegah terjadinya banjir lagi di kemudian hari. Saat ini, material untuk perbaikan tanggul masih terus didatangkan ke lokasi tanggul jebol beserta alat berat.

“Empat titik tanggul Sungai Tuntang yang jebol dan jadi penyebab banjir beberapa hari lalu akan dibuat secara permanen. Perbaikan tanggul menggunakan batu dan semen sehingga lebih kuat. Sebelumnya, penanganan tanggul jebol dilakukan secara darurat dengan memakai karung yang diisi tanah dan kemudian di atas tumpukan karung ditimbun lagi pakai tanah,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Ni Made Sumiarsih pada wartawan, saat meninjau lokasi tanggul di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Kamis (20/10/2016).

Dijelaskan, saat bencana banjir lalu ada empat titik tanggul yang jebol. Masing-masing ada dua titik di Desa Ngroto, satu titik di Desa Papanrejo dan di Desa Kemiri. Setiap tanggul ini panjang jebolannya sekitar 30 meter.

Pengerjaan tanggul tersebut ditarget selesai selama sebulan. Adapun besarnya dana yang dikeluarkan dalam penanggulan tersebut sekitar Rp 190 juta. “Semua tanggul jebol sudah kami tangani. Kami sudah mulai bergerak untuk memperbaiki tanggul sehari banjir datang sampai saat ini,” katanya.

Sejumlah warga ketika dimintai komentarnya mengaku senang dengan perbaikan tanggul secara permanen tersebut. Soalnya, kondisi tanggul bakal semakin kuat dan membuat mereka merasa lebih tenang.

“Harapan kami, tanggul itu memang diperbaiki permanen biar kuat. Kalau bisa, tidak hanya tanggul yang jebol kemarin saja. Tetapi kalau bisa seluruhnya meski dilakukan bertahap,” kata Ahmadi, warga setempat.

Editor : Kholistiono

Belum Rampung Diperbaiki, Tanggul Sungai Renggong Jebol Lagi

Ruas tanggul di Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu kembali jebol setelah debit air Sungai Renggong naik (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ruas tanggul di Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu kembali jebol setelah debit air Sungai Renggong naik (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Ruas tanggul sungai Renggong di Kecamatan Tegowanu kembali jebol, Rabu (19/10/2016). Akibat jebolnya tanggung ini, air sungai masuk ke areal persawahan.

Bahkan, dikabarkan ada sekitar 10 rumah warga Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu yang sempat kemasukan air setinggi mata kaki. Rumah ini berada dekat dengan lokasi tanggul jebol.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, jebolnya tanggul itu diketahui selepas subuh. Di mana, warga melihat ada banyak genangan air di areal sawah. Setelah dicek, sumber air itu berasal dari tanggul yang jebol sepanjang 10 meter.

Jebolnya tanggul tersebut disebabkan naiknya elevasi Sungai Renggong. Ketinggian air sungai bertambah setelah hujan mengguyur beberapa waktu sebelumnya.

“Semalam, wilayah sini memang hujan deras. Kemungkinan daerah hulu juga turun hujan sehingga air sungai bertambah. Namun, ketinggian air ini tidak seperti saat banjir 10 hari lalu,” kata Awang, warga setempat.

Tanggul tersebut sebelumnya sudah sempat jebol saat sungai Renggong meluap 9 Oktober lalu. Akibat tanggul jebol ini, bencana banjir sempat menerjang Desa Sukorejo, dan Tanggirejo selama tiga hari. Dalam peristiwa ini, ada sekitar 1.000 rumah warga yang terendam air.

Luberan air dari tanggul jebol sempat pula menggenangi halaman SDN 01 Sukorejo setinggi mata kaki. Namun, air tidak sampai masuk ke dalam ruangan kantor maupun kelas.

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrikan ketika dimintai komentarnya menyatakan, tanggul tersebut sebenarnya masih dalam proses perbaikan setelah sempat jebol beberapa hari lalu. Namun, belum rampung 100 persen, debit air naik dan menyebabkan tanggul itu jebol lagi.“Tanggul yang jebol ini sama dengan kemarin titiknya. Ini, kita upayakan untuk menutup lagi,” katanya.

Menurut Masrikan, meski air sungai sempat meluber namun kondisinya tidak separah sebelumnya. Soalnya, volume air sungai tidak sampai melebihi batas ketinggian maksimal.

“Elevasi sungai memang naik setelah ada hujan deras tetapi tidak sampai maksimal. Saat ini, kondisi air sungai sudah cenderung turun,” katanya.

Editor : Kholistiono

Jalan Tergenang, Sempat Dikira Ada Banjir Lagi di Gubug Grobogan, Ternyata Ini Biangnya

Jalan raya Purwodadi-Semarang, tepatnya di Kecamatan Gubug tadi malam sempat tergenang air usai hujan turun, sehingga menyebabkan arus lalu lintas sempat tersendat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jalan raya Purwodadi-Semarang, tepatnya di Kecamatan Gubug tadi malam sempat tergenang air usai hujan turun, sehingga menyebabkan arus lalu lintas sempat tersendat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sejumlah pengendara yang melintasi jalan raya Purwodadi-Semarang Selasa malam hingga Rabu dini hari tadi sempat mengira ada banjir lagi di wilayah Kecamatan Gubug. Hal ini disebabkan tergenangnya jalan raya dari Gubug menuju Tegowanu sepanjang hampir 1 km.

Akibat genangan air ini, arus lalu lintas sempat tersendat karena kendaraan harus berjalan pelan. Munculnya genangan air dengan ketinggian 10-30 cm itu juga menyebabkan banyak kendaraan mogok karena knalpotnya kemasukan air. Kendaraan yang mogok kebanyakan adalah sepeda motor.

Adanya genangan air ini menyebabkan sejumlah pengendara dari kedua arah memilih balik kanan. Soalnya, mereka mengira di situ ada banjir lagi seperti yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

“Tadi malam genangan airnya cukup tinggi. Karena khawatir ada banjir, saya gak jadi ke Semarang dan pilih balik lagi ke Purwodadi,” kata Fahmi, warga Kelurahan Danyang yang malam itu hendak main ke Semarang.

Informasi yang didapat menyebutkan, air yang menggenangi jalan utama menuju Semarang itu mulai datang sekitar pukul 22.00 WIB. Genangan air itu muncul setelah turun hujan deras di wilayah Gubug menjelang magrib hingga sekitar pukul 20.30 WIB.Tidak lama setelah hujan reda, jalan raya mulai digenangi air. Genangan air ini akhirnya menghilang selepas dini hari.

Camat Gubug Teguh Harjokusumo ketika dikonfirmasi membenarkan jika jalan A Yani menuju arah Semarang tergenang air. Namun, itu bukan banjir tetapi memang seringkali terjadi. Tepatnya, setelah hujan deras mengguyur wilayah situ.
“Genangan air itu disebabkan saluran drainase di situ ada yang mampet sehingga air tidak bisa lancar. Kami sudah mengusulkan pada instansi terkait agar drainase disitu dibenahi. Soalnya tiap hujan deras pasti jalan raya tergenang,” katanya.

Editor : Kholistiono

Perbaikan Tanggul Jebol di Papanrejo Gubug Bakal Ditangani Pertamina Gas

 

Proses perbaikan tanggul jebol di Papanrejo yang ditengarai akibat pemasangan pipa gas masih terus dilakukan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Proses perbaikan tanggul jebol di Papanrejo yang ditengarai akibat pemasangan pipa gas masih terus dilakukan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – PT Pertamina Gas (Pertagas) akan ikut menangani tanggul jebol yang jadi biang banjir di Desa Papanrejo, Kecamatan Gubug pekan lalu. Hal itu dilakukan karena salah satu penyebab jebolnya tanggul ditengarai akibat adanya pemasangan pipa distribusi gas yang dilakukan di sepanjang tanggul sungai.

Camat Gubug Teguh Harjokusumo ketika dimintai komentarnya membenarkan jika pihak Pertagas akan bertanggungjawab dalam perbaikan tanggul jebol di Desa Papanrejo tersebut. Kepastian itu sudah diambil dalam rapat di Desa Papanrejo beberapa hari lalu.

“Kita sudah mengadakan pertemuan membahas penanganan tanggul jebol di Papanrejo. Pertemuan ini dihadiri beberapa pihak. Seperti dari kontraktor pemasangan pipa, Kades Papanrejo, kecamatan Gubug, Balai PSDA Jragung Tuntang, BBWS Pemali Juana dan Dinas PSDA Pemprov Jateng,” katanya.

Untuk mencegah jebolnya tanggul lagi, pipa yang sebelumnya terpasang sudah dipotong. Saat ini, penanganan tanggul jebol sepanjang 20 meter itu masih dilakukan dan diharapkan bisa selesai dalam beberapa hari mendatang.

“Selain menangani tanggul jebol dari Pertagas juga menjanjikan memberikan bantuan kemanusiaan atas terjadinya musibah banjir di Papanrejo,” sambungnya.

Staf Bidang Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Sochis kepada wartawan mengatakan, sesuai kesepakatan bersama, pipa distribusi gas tersebut tidak boleh ditempatkan lagi di atas sempadan sungai dan saluran irigasi. Tetapi, penyambungannya bakal dibenamkan ke dalam sungai.

Mengenai proses penyambungan di bawah sungai, masih menunggu izin dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kemudian, desain penyambungan harus disepakati dahulu dengan pihak BBWS.“Ini kesepakatan bersama dengan Pertagas yang diwakili pihak kontraktornya. Pipa itu nanti akan disambung di bawah sungai,” katanya.

Sementara itu, Comercial Gas PT Pertagas Niaga Dian Eka Puspita Sari menyatakan, soal pemasangan pipa yang dianggap jadi penyebab tanggul jebol di Desa Papanrejo itu sudah ditindaklanjuti. Masalah tersebut akan diselesaikan Pertagas melalui PT Wijaya Karya selaku kontraktor pemasangan pipa distribusi gas dari Gresik hingga Semarang.

Editor : Kholistiono

Aman, Bantuan Beras untuk Korban Banjir di Grobogan Masih Mencukupi

Stok beras dan bahan makanan lainnya yang ada di Posko Tanggap Darurat Kecamatan Gubug siap didistribusikan untuk korban banjir (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Stok beras dan bahan makanan lainnya yang ada di Posko Tanggap Darurat Kecamatan Gubug siap didistribusikan untuk korban banjir (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Persediaan beras untuk bantuan korban bencana di Grobogan masih mencukupi. Hal itu disampaikan Kepala Dinsosnakertrans Grobogan Andung Sutiyoso pada wartawan, Jumat (14/10/2016).

Menurut Andung, untuk bantuan bencana tahun 2016, pihaknya memiliki stok cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 100 ton. Dari jumlah ini, sudah disalurkan 12 ton saat terjadi bencana banjir di Tegowanu awal tahun lalu.

Kemudian, untuk bencana banjir di Kecamatan Gubug, Tegowanu dan Godong yang terjadi beberapa hari lalu, sudah disalurkan beras sebanyak 36 ton. Dengan demikian masih ada sisa 52 ton yang tersimpan di gudang Bulog.

“Penyaluran beras 36 ton di Gubug itu posisi per tanggal 13 Oktober kemarin. Hari ini, masih kita salurkan lagi sesuai kebutuhan yang diperlukan untuk penanganan banjir. Stok beras CBP yang di Bulog bisa kita ambil setiap saat,” kata Andung didampingi Sekretarisnya Sartono.

Dijelaskan, jumlah warga yang terdampak banjir di tiga kecamatan itu mencapai 6.401 keluarga atau 25.604 jiwa. Asumsinya, satu keluarga terdiri dari empat orang. Warga terdampak banjir ini tersebar di 16 desa.

Selain beras, korban banjir tersebut juga dapa bantuan berupa mie instan, sarden, selimut dan terpal. Kemudian, bantuan nasi bungkus juga masih dilakukan, untuk warga yang rumahnya belum memungkinkan untuk dipakai memasak karena rusak atau hilangnya prabotan akibat banjir.“Sampai saat ini, dapur umum masih kita siapkan di Posko Tanggap Darurat yang ditempatkan di Kantor Kecamatan Gubug.

Sementara itu, selain dari pemerintah, bantuan korban banjir juga mengalir dari berbagai pihak. Seperti dari perusahaan swasta, sekolah, lembaga, perbankan, ormas, parpol maupun perorangan.

Bantuan yang diberikan ini bentuknya beragam. Ada yang berupa bahan makanan, pakaian dan uang tunai. Sebagian bantuan ini diserahkan lewat Posko Tanggap Darurat dan ada yang langsung didistribusikan kepada korban bencana.

 Editor : Kholistiono

Pascabanjir, Warga di Grobogan Mulai Bersihkan Rumah dan Kumpulkan Barang yang Tersisa

Warga di Desa Kuwaron,Kecamatan Gubug, kumpulkan barang-barang yang masih tersisa dan masih bisa dimanfaatkan usai banjir surut, Kamis (13/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga di Desa Kuwaron,Kecamatan Gubug, kumpulkan barang-barang yang masih tersisa dan masih bisa dimanfaatkan usai banjir surut, Kamis (13/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Setelah air surut, penderitaan warga yang jadi korban banjir belum berakhir. Sebab, banyak warga yang kehilangan harta bendanya ketika banjir menerjang wilayah perkampungannya.

Bahkan, ada pula yang harus kehilangan tempat tinggal lantaran rumahnya tersapu arus air. Selain itu, ada juga yang rumahnya roboh, tetapi tidak sempat hanyut diterjang air.

Dari pantauan di lapangan, selain ikut membantu gotong-royong menutup tanggul jebol yang jadi biang banjir, sebagian warga yang terkena bencana mulai membersihkan rumahnya. Upaya pembersihan rumah yang terkena banjir tidak bisa dilakukan dengan mudah.

Soalnya, banyak lumpur tebal yang ada di dalam dan teras rumah penduduk. Genangan lumpur juga menutup jalan, serta saluran air di depan rumah warga. Sejumlah anggota TNI, Polri, pramuka dan relawan tampak membantu warga yang sedang membersihkan rumahnya.

Sebagian warga terlihat mengais barang-barang berharga yang tersisa dan masih bisa dimanfaatkan. Seperti peralatan makan, meja kursi, pakaian dan kasur. Sebagian barang tersisa tersebut berada cukup jauh dari rumah lantaran hanyut.

“Barang-barang ini kondisinya memang sudah rusak, tetapi untuk sementara masih bisa dipakai dulu. Untuk barang lainnya banyak yang hilang karena tidak sempat dibawa ketika mengungsi,” kata Handoko, warga Desa Kuwaron, Gubug.

Data yang didapat, banjir yang menerjang tiga wilayah Kecamatan di Grobogan sejak Minggu (9/10/2016) mengakibatkan enam rumah penduduk hanyut diterjang derasnya air. Rinciannya, tiga rumah hanyut ada di Desa Kemiri dan tiga lainnya di Desa Kuwaron. Kedua desa ini berada di wilayah Kecamatan Gubug.

Selain rumah hanyut, ada ribuan rumah yang kemasukan air. Rinciannya, di Desa Rowosari 300 rumah, Kemiri (450) Papanrejo (300), Ngroto (600), dan Kuwaron (1.200). Desa-desa ini berada di wilayah Kecamatan Gubug.

Kemudian, di Desa Ketanggirejo, Gebangan dan Sukorejo di Kecamatan Tegowanu, sedikitnya ada 800 rumah terendam air. Sedangkan di Desa Tinanding, Kecamatan Godong ada 400 rumah yang terendam.

Di samping rumah, ada ribuan hektar lahan pertanian yang kebanjiran Kemudian, ribuan ternak milik warga, khususnya unggas yang hilang disapu banjir.

Editor : Kholistiono 

Alat Berat Diterjunkan ke Lokasi Banjir di Kecamatan Gubug untuk Menutup Tanggul Jebol

Dua alat berat diterjunkan untuk menutup tanggul Sungai Tuntang yang jebol karena banjir. Penutupan tanggul ini juga dibantu masyarakat dan beberapa instansi, Kamis (13/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dua alat berat diterjunkan untuk menutup tanggul Sungai Tuntang yang jebol karena banjir. Penutupan tanggul ini juga dibantu masyarakat dan beberapa instansi, Kamis (13/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya penutupan tanggul Sungai Tuntang yang jebol, terus dilakukan ratusan warga di Kecamatan Gubug. Dibandingkan sehari sebelumnya, penutupan tanggul jebol hari ini, Kamis (13/10/2016) bisa dilakukan lebih lancar.

Hal ini disebabkan kondisi cuaca cukup cerah sejak pagi hingga siang. Pada penutupan tanggul kemarin, sempat terhambat turunnya gerimis di wilayah Gubug. Selain cuaca, lancarnya penutupan tanggul juga disebabkan adanya dukungan dua alat berat jenis backhoe. Sejak pagi hingga siang tadi, dua alat berat ini difokuskan menutup tanggul jebol di Desa Kemiri.

“Dua alat berat memang difokuskan menutup tanggul di Desa Kemiri dulu. Kita targetkan, hari ini, tanggul jebol di situ sudah bisa tertutup,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrikan.

Aktivitas penutupan tanggul jebol lainnya di Desa Ngroto juga masih terus dilakukan secara manual sejak pagi . Dalam proses penutupan tanggul ini, ada ratusan orang yang terlibat. Ada personel dari BPBD, TNI, Polri, Pramuka, serta relawan.

Selain itu, warga setempat, baik para pria maupun wanita ikut berpartisipasi dalam penutupan tanggul tersebut. Mereka ikut mencari tanah dan memasukkan ke dalam karung yang sudah disediakan.

Karung berisi tanah itu selanjutnya dibawa ke pinggir sungai untuk menutup tanggul jebol. Jarak lokasi tanggul jebol dengan tempat pengisian karung berkisar 200 meter.

“Saya berharap tanggul jebol disini bisa segera tertutup biar tidak ada banjir lagi. Makanya, saya dan ibu-ibu lainnya ikut membantu penutupan tanggul sebisanya,” kata Sutijah, warga setempat.

Setelah tanggul di Desa Kemiri teratasi, dua alat berat yang ada di situ rencananya akan digeser ke Desa Ngroto. Namun, sambil menunggu kedatangan alat berat tersebut, ratusan orang sudah mengawali penutupan tanggul secara manual.

“Medan tanggul jebol di Ngroto ini masih cukup berat karena kondisi tanah masih lembek. Jadi, masih menyulitkan mengoperasikan alat berat kalau ditempatkan di sini,” imbuh Masrikan.

Untuk tanggul di Desa Papanrejo, juga masih dalam persiapan untuk ditutup. Nantinya, penutupan juga akan dilakukan secara manual lebih dulu. Setelah kondisinya memungkinkan alat berat baru akan didorong ke sana.

Seperti diketahui, banjir yang melanda wilayah Gubug dan merambah ke Godong itu disebabkan adanya tiga titik tanggul sungai Tuntang yang jebol. Pertama di Desa Ngroto pada Senin (10/10/2016) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB.

Kemudian, pada pukul 02.30 WIB ada tanggul jebol di Desa Papanrejo. Terakhir, pukul 08.00 WIB, ada ruas tanggul di Desa Kemiri yang gantian jebol. Ketiga ruas tanggul ini panjang jebolannya sampai 20 meter dengan lebar 4 meter dan tinggi 4 meter.

Editor : Kholistiono

Foto-foto Kondisi Memprihatikan di Grobogan Setelah Dilanda Banjir

Kondisi salah satu rumah warga di Kecamatan Gubug rusak akibat diterjang banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kondisi salah satu rumah warga di Kecamatan Gubug rusak akibat diterjang banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Banjir yang melanda sebagian wilayah Grobogan, yakni di Kecamatan Tegowanu dan Gubug serta merambah ke Godong sejak MInggu (9/10/2016) lalu, terhitung cukup parah. Beberapa perkampungan di kecamatan tersebut tergenang banjir, bahkan tercatat ada 6 rumah milik warga yang hanyut diterjang banjir.

Selain perkampungan, bencana banjir yang menerjang wilayah Grobogan bagian barat tersebut, juga menggenangi areal persawahan. Data yang didapat menyebutkan, luas areal sawah yang tergenang air mencapai 2.195 hektare.

Editor : Kholistiono

Berikut ini, foto-foto kondisi di beberapa wilayah di Kecamatan Gubug pascaditerjang banjir :

 

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

(Foto/MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

Ratusan Orang di Grobogan Berjibaku Tutup Tanggul Jebol

Ratusan orang dari berbagai instansi beserta warga berupaya keras untuk menutup tanggul jebol di Sungai Tuntang, Rabu (12/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ratusan orang dari berbagai instansi beserta warga berupaya keras untuk menutup tanggul jebol di Sungai Tuntang, Rabu (12/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya penutupan beberapa titik tanggul jebol yang menjadi biang banjir wilayah Kecamatan Gubug, Tegowanu, dan Godong mulai dikerjakan, Rabu (12/10/2016). Hal ini dilakukan seiring sudah menyusutnya debit air Sungai Tuntang.Dalam proses penutupan tanggul ini ada ratusan orang yang terlibat. Ada personel dari BPBD, TNI, Polri, Pramuka, serta relawan.

Selain itu, warga setempat, baik para pria maupun wanita ikut berpartisipasi dalam penutupan tanggul tersebut. Mereka ikut mencari tanah dan memasukkan ke dalam karung yang sudah disediakan. Karung berisi tanah itu selanjutnya dipakai untuk menutup tanggul jebol.

Dalam upaya penutupan tanggul jebol ini sempat muncul sedikit kekhawatiran warga. Soalnya, cuaca di langit mendung sejak pagi hingga siang. “Kami berharap cuaca hanya mendung saja. Semoga tidak turun hujan dulu selama penutupan tanggul,” kata Parjiyanto, warga Desa Ngroto, Kecamatan Gubug.

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrikan mengatakan, upaya penutupan tanggul dilakukan di tiga titik utama di wilayah Kecamatan Gubug. Yakni, di Desa Papanrejo, Ngroto dan Kemiri.

Untuk penutupan tanggul di Desa Papanrejo dan Ngroto dilakukan secara manual dengan melibatkan ratusan personil. Sementara penutupan tanggul di Kemiri bisa didukung alat berat.

“Alat berat sudah disiagakan untuk membantu menutup tanggul. Namun, tidak semua alat berat bisa masuk ke lokasi tanggul jebol karena medannya belum memungkinkan,” katanya.

Menurutnya, hingga siang tadi, proses penutupan tanggul baru berkisar 30 persen. Upaya penutupan tanggul tidak bisa dilakukan dengan mudah lantaran jebolannya cukup luas dan dalam.

“Kita masih bekerja keras supaya penutupan tanggul ini bisa selesai hari ini. Mudah-mudahan tidak turun hujan sehingga proses penutupan bisa lebih mudah,” imbuhnya.

Seperti diketahui, banjir yang melanda wilayah Gubug dan merambah ke Godong itu disebabkan adanya tiga titik tanggul sungai Tuntang yang jebol. Pertama di Desa Ngroto pada Senin (10/10/2016) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB.

Kemudian, pada pukul 02.30 WIB ada tanggul jebol di Desa Papanrejo. Terakhir, pukul 08.00 WIB, ada ruas tanggul di Desa Kemiri yang gentian jebol. Ketiga ruas tanggul ini panjang jebolannya sampai 20 meter dengan lebar 4 meter dan tinggi 4 meter.

Disinggung kondisi banjir di Tegowanu, Masrikan menegaskan, dari pantauan terakhir, hanya tersisa beberapa rumah saja yang kemasukan air. Secara umum, kondisi perkampungan sudah tidak tergenang lagi seperti tiga hari terakhir.

“Air yang di perkampungan di wilayah Tegowanu sudah bergeser ke sawah. Kami juga sedang berupaya untuk melakukan penutupan tanggul jebol di Desa Tanggirejo,” katanya.

Editor : Kholistiono

Lebih 2 Ribu Hektare Sawah di Grobogan Terendam Banjir

Areal sawah di Desa Tinanding, Kecamatan Godong tergenang air akibat meluapnya Sungai Tuntang (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Areal sawah di Desa Tinanding, Kecamatan Godong tergenang air akibat meluapnya Sungai Tuntang (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Selain perkampungan, bencana banjir yang menerjang wilayah Grobogan bagian barat sejak Minggu (09/10/2016) lalu, juga menggenangi areal persawahan. Data yang didapat menyebutkan, luas areal sawah yang tergenang air mencapai 2.195 hektare.

“Angka 2.195 hektar ini baru data sementara karena pendataan masih terus kita lakukan. Untuk besarnya kerugian belum bisa kita rinci,” kata Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto.

Dijelaskan, dari 2.195 hektare lahan sawah yang tergenang air tersebut, sebanyak 2.103 hektar tidak ada tanamannya karena baru saja selesai panen.  Rinciannya, 982 hektare sawah di Kecamatan Gubug, Kecamatan Godong (160 hektare) dan Kecamatan Tegowanu (961 hektare).“Lahan sawah yang ini semuanya masih bero (belum ada tanaman). Petani baru saja panen dan sedang persiapan musim tanam berikutnya,” jelas Edhie.

Masih dikatakan Edhie, untuk areal sawah tergenang yang sudah ada persemaian padinya luasnya berkisar 74 hektare. Areal ini berada di Kecamatan Tegowanu.Masing-masing di Desa Medani (2 hektare), Sukorejo (23 hektare) dan Mangunsari (12 hektare). Umur persemaian padi yang tergenang berkisar 7-10 hari.

Kemudian, ada lahan sawah tergenang seluas 8 hektare di Desa Gebangan, Kecamatan Tegowanu yang sudah ada tanaman padinya. Umur tanaman yang tergenang berkisar 15-20 hari.

Selanjutnya, ada juga areal tanaman bawang merah di Desa Tanggirejo, Kecamaan Tegowanu yang kebanjiran. Luasnya mencapai 10 hektare dengan umur tanaman berkisar 15-20 hari. “Untuk tanaman bawang merah ini sudah bisa dipastikan mengalami puso,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Habis Dilantik, Pengurus KNPI Grobogan Langsung Galang Bantuan untuk Korban Banjir

Pengurus KNPI Grobogan ikut menyumbang dana kemanusiaan bagi korban banjir usai acara pelantikan, Selasa (11/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pengurus KNPI Grobogan ikut menyumbang dana kemanusiaan bagi korban banjir usai acara pelantikan, Selasa (11/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Acara pelantikan pengurus KNPI Grobogan yang dilangsungkan di.Pendapa Kabupaten, Selasa (11/10/2016) diwarnai aksi penggalangan dana untuk korban banjir di Tegowanu, Gubug, dan Godong. Acara penggalangan dana secara spontan itu dilakukan setelah proses pelantikan berakhir.

“Ide penggalangan dana ini muncul tiba-tiba dan langsung kita realisasikan. Dari penggalangan dana ini, bisa terkumpul dana Rp. 3.527.000. Setelah acara pelantikan selesai, donasi ini akan langsung kita salurkan ke lokasi bencana,” kata Ketua KNPI Grobogan Kukuh Prasetyo Rusady.

Selain pengurus KNPI, Bupati Grobogan Sri Sumarni yang menghadiri acara pelantikan juga ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana tersebut beserta sejumlah pejabat dan perwakilan FKPD.

Acara pelantikan pengurus tersebut dilakukan Ketua KNPI Jawa Tengah Bintang Yuda Daneswara.
Sementara itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menyampaikan sambutan menegaskan, meski masih muda, namun sosok Kukuh dinilai punya banyak pengalaman. Oleh sebab itu, dia menilai jika ketua baru akan bisa menjalankan roda organisasi dengan baik.

“Saya percaya, Mas Kukuh ini bisa mengemban tugasnya dengan baik. Kami sudah pasti akan terus memberikan dukungan dan berbagi pengalaman untuk memajukan KNPI Grobogan,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Dapur Umum Tetap Disiagakan untuk Bantu Korban Banjir di Grobogan

Para petugas dapur umum di Kantor Kecamatan Gubug sedang mempersiapkan makanan untuk korban banjir (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para petugas dapur umum di Kantor Kecamatan Gubug sedang mempersiapkan makanan untuk korban banjir (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan –  Aktivitas di dapur umum yang ada di beberapa titik di dua kecamatan di Grobogan, yakni di Kecamatan Gubug dan Tegowanu masih cukup tinggi. Puluhan petugas dari berbagai instansi masih sibuk mempersiapkan nasi bungkus untuk didistribusikan ke lokasi bencana.

“Sampai saat ini, masyarakat korban banjir masih butuh suplai makanan. Jadi, keberadaan dapur umum masih tetap disiagakan,” ujar Kabid Sosial Dinsosnakertrans Grobogan Kurniawan.

Menurutnya, selain membagi makanan matang lewat dapur umum, pihaknya juga menyalurkan bantuan bahan makanan pada korban banjir. Seperti, beras, mie instan, roti, dan sarden.

Di samping itu, ada pula bantuan selimut bagi korban banjir, terutama buat yang terpaksa tinggal di pengungsian. “Sebagian bantuan kita drop di kantor kecamatan. Ada juga yang langsung kita distribusikan ke lokasi bencana. Untuk distribusi ini kita dibantu petugas dari beberapa instansi serta para relawan,” katanya.

Editor : Kholistiono

Ada 2 Desa Lagi di Kecamatan Tegowanu yang Dilanda Banjir

Kondisi terkini Desa Gebangan, Kecamatan Tegowanu yang dilanda banjir akibat naiknya debit Sungai Renggong. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kondisi terkini Desa Gebangan, Kecamatan Tegowanu yang dilanda banjir akibat naiknya debit Sungai Renggong. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Berbeda dengan wilayah Kecamatan Gubug dan Godong yang sudah mulai surut, bencana banjir di Kecamatan Tegowanu justru malah bertambah. Kondisi terbaru hari ini, Selasa (11/10/2016), ada dua desa lagi yang terkena banjir. Yakni, Desa Gebangan dan Mangunsari.

Sebelumnya, hanya dua desa di Tegowanu yang terkena bencana banjir. Yakni, Desa Ketanggirejo dan Sukorejo. “Ya, hari ini, Desa Gebangan dan Mangunsari mulai dilanda banjir. Di sini ada sekitar 300 rumah yang kemasukan air. Ketinggian air yang masuk rumah berkisar 10-50 cm,” kata Camat Tegowanu Kasan Anwar.

Desa Gebangan dan Mangunsari posisinya ada di sebelah utara Desa Ketanggirejo. Banjir di dua desa itu kemungkinan disebabkan limpahan air dari desa di selatannya yang sudah dua hari kebanjiran.

Di samping itu, bertambahnya debit air sungai Renggong juga dinilai jadi pemicu belum bisa surutnya banjir di daerah Tegowanu. Naiknya debit sungai ini diperkirakan adanya curah hujan di daerah hulu, yakni di kawasan Ungaran.

Editor : Kholistiono

Banjir di Kecamatan Gubug Mulai Surut, Begini Penampakan Lokasi Bencana

Banjir yang terjadi di salah satu kawasan Kecamatan Gubug menyisakan lumpur di area pemukiman warga dan juga di dalam rumah, Selasa (11/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Banjir yang terjadi di salah satu kawasan Kecamatan Gubug menyisakan lumpur di area pemukiman warga dan juga di dalam rumah, Selasa (11/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Setelah hampir dua hari menggenangi sebagian wilayah di Kabupaten Grobogan, banjir di Kecamatan Godong dan Gubug mulai menyusut. Genangan air di rumah-rumah penduduk mulai menghilang.

Saat ini, sebagian warga mulai membereskan kondisi rumahnya yang rusak akibat terjangan banjir. Puluhan petugas dari TNI, Polri, BPBD, pramuka dan instansi lainnya serta relawan ikut membantu warga yang rumahnya rusak.

Kondisi perkampungan yang sebelumnya dilanda banjir terlihat mengenaskan setelah air menghilang. Seperti yang terlihat di Desa Kemiri. Genangan lumpur terlihat memenuhi jalan dan di dalam rumah penduduk.

Beberapa rumah penduduk, khususnya yang ada di pinggiran Sungai Tuntang banyak yang rusak. Ada yang didindingnya jebol dan hilang terbawa arus air ketika banjir menerjang perkampungan.

“Sebagian besar desa di Kecamatan Gubug dan Godong yang sempat terkena banjir sudah berkurang airnya. Jumlah rumah yang masih kemasukan air sudah jauh berkurang,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrikan.

Surutnya air membuat tanggul jebol yang jadi biang banjir di Desa Kemiri sudah terlihat jelas. Namun, hingga siang ini, belum ada tanda-tanda perbaikan. “Upaya penutupan tanggul sedang kita siapkan meski sifatnya darurat. Hal ini guna mencegah terjadinya banjir lagi ketika air sungai kembali meluap. Kita akan prioritaskan penanganan tanggul jebol ini,” imbuh Masrikan.

Sementara itu, meski bencana banjir mulai surut, namun aparat kepolisian dan TNI masih banyak yang disiagakan di lokasi bencana. Selain membantu warga di lokasi, aparat keamanan juga ikut bertugas menyiapkan makanan di dapur umum yang disiapkan di beberapa titik.

“Anggota masih banyak yang kita terjunkan ke lokasi untuk memantau situasi keamanan. Selain itu, anggota juga siap mendukung tugas BPBD yang jadi leading sektor penanganan bencana,” kata Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning.

Editor : Kholistiono

Lebih 25 Sekolah di Grobogan Kebanjiran, Ribuan Siswa Diliburkan

Salah satu Gedung SD di Desa Tinanding, Kecamatan Godong yang terendam banjir. Akibatnya, siswanya juga diliburkan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu Gedung SD di Desa Tinanding, Kecamatan Godong yang terendam banjir. Akibatnya, siswanya juga diliburkan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bencana banjir yang menerjang sebagian wilayah Grobogan sejak Minggu (09/10/2016) juga berdampak bagi dunia pendidikan. Akibat banjir tersebut, ribuan siswa terpaksa diliburkan. Sebab, gedung sekolah tidak bisa digunakan lantaran kebanjiran.

“Sejak kemarin sampai hari ini, ada sekolahan yang tidak bisa digunakan lantaran kena banjir. Untuk itu, semua siswa terpaksa diliburkan dan diminta belajar di rumah,” kata Kabid SMP, SMA, SMK Dinas Pendidikan Grobogan Mus Hadi Purwanto ketika dikonfirmasi wartawan.

Menurutnya, sekolah yang diliburkan itu berasal dari berbagai tingkatan. Mulai SD, SMP dan SMA. Selain di lingkup dinas pendidikan, sekolah di bawah naungan Kemenag juga ada yang diliburkan.

“Jumlah sekolah yang diliburkan karena banjir masih dalam pendataan. Yang pasti, angkanya lebih dari 25 sekolah. Paling banyak di tingkatan SD,” katanya.

Mus Hadi menjelaskan, beberapa sekolah ada yang diliburkan meski gedungnya tidak terkena banjir. Namun, akses masuk menuju ke sekolah tidak bisa dilalalui lantaran jalan menuju ke situ tergenang air.

“Untuk masalah diliburkannya sekolah kita sesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kalau memang tidak memungkinkan untuk dilakukan kegiatan belajar mengajar, maka jangan dipaksakan. Hal ini bisa dimaklumi lantaran kejadian bencana alam,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Banjir Genangi Jalan Raya, Arus Lalu Lintas di Jalur Purwodadi-Semarang Tersendat

 Arus lalu lintas di Jalan Purwodadi-Semarang sempat tersendat karena air banjir meluber hingga ke jalan raya, Senin (11/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Arus lalu lintas di Jalan Purwodadi-Semarang sempat tersendat karena air banjir meluber hingga ke jalan raya, Senin (11/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bencana banjir yang melanda wilayah Grobogan belum menampakkan tanda-tanda surut. Bahkan Selasa (11/10/2016) pagi ini, dampak banjir menyebabkan arus lalu lintas di jalur jalur Purwodadi-Semarang tersendat. Hal ini terjadi lantaran air dari Kali Buangan I (KB1) meluber ke jalan raya.

Jalan raya yang tergenang air panjangnya sekitar 1 km. Yakni, mulai sekitar jembatan timbang Gubug menuju ke arah barat hingga wilayah Kecamatan Tegowanu. Ketinggian air di jalan raya berkisar 10-15 cm.

Akibat adanya genangan air ini, sempat menimbulkan kemacetan cukup panjang. Sebab, kendaraan dari kedua arah berjalan pelan ketika melewati jalan raya yang tergenang air.

“Kondisi jalan raya sekarang ini sudah relatif lancar. Soalnya, sudah ada petugas kepolisian yang siaga di situ untuk mengatur arus kendaraan,” kata Camat Tegowanu Kasan Anwar.

Tersendatnya arus lalu lintas di perbatasan Gubug dan Tegowanu menyebabkan banyak pengguna jalan memilih melewati jalur alternatif melalui wilayah Demak. Baik pengendara dari Purwodadi yang mau ke Semarang atau sebaliknya.

“Pagi tadi saya dapat kabar dari teman kalau jalur Purwodadi-Semarang banjir. Makanya, saya milih lewat Demak saja yang kondisinya lancar dan masih aman dari banjir,” kata Indra Hartanto, salah seorang mahasiswa yang pagi tadi pulang kampung ke Purwodadi.

Editor : Kholistiono