Mau Tanam Padi, Warga Banjarejo Malah Temukan Serpihan Emas Benda Kuno Dinasti Ming

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik memperlihatkan benda kuno peninggalan Dinasti Ming yang baru ditemukan warganya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik memperlihatkan benda kuno peninggalan Dinasti Ming yang baru ditemukan warganya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggapan banyaknya benda bersejarah yang terpendam di bumi Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, tampaknya bukan omong kosong.

Bukti terbaru, terkait ditemukannya beragam benda kuno di areal sawah yang berlokasi di Dusun Medang, Minggu (21/2/2016).

“Benda-benda kuno ini memang sudah ditemukan Minggu kemarin. Tetapi baru sempat diperlihatkan saya hari ini, Selasa (23/2/2016),” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Dijelaskan, benda yang ditemukan kali ini berupa perabot makan dan minum. Terdiri dari 5 buah piring berukuran cukup besar, dengan diameter 40 cm. Kemudian, ada 1 buah guci kecil, dan 1 buah mangkok.

Sayangnya, sebagian benda yang ditemukan itu kondisinya pecah karena terkena benturan saat hendak diangkat dari dalam tanah. Diperkirakan, benda kuno itu merupakan barang peninggalan Dinasti Ming yang berkuasa dari abad XIII hingga XVI.

Benda-benda kuno itu ditemukan oleh Bukhori, warga yang tinggal di Dusun Medang. Penemuan benda kuno itu berlangsung ketika Bukhori tengah mempersiapkan sawahnya untuk ditanami padi dalam waktu dekat.

“Saat mencangkul, sempat terkena piring keramik yang berukuran besar hingga pecah. Kemudian, di sekitar situ digali lebih hati-hati hingga menemukan benda kuno lainnya,” jelas Taufik.

Selain benda kuno dari bahan keramik, ada pula serpihan benda yang ditemukan di situ. Diyakini, benda itu merupakan serpihan perhiasan yang sering ditemukan di kawasan Banjarejo.

“Selain dalam bentuk utuh, serpihan perhiasan yang ditemukan, bentuknya memang seperti ini. Kebanyakan, serpihan seperti ini terdapat kandungan emas,” ungkap Taufik.

Editor : Akrom Hazami

Baca Juga :
Kades Banjarejo Mulai Kumpulkan Benda Kuno Temuan Warga  

Piring Kuno Dinasti Ming Bergambar Naga Biru Ditemukan Petani saat Mencangkul di Sawah Banjarejo Grobogan

 

Peradaban Ini Pernah Ada di Banjarejo Grobogan, Apa Saja?

Penggalian tanah dilakukan secara manual untuk mengambil fosil berbentuk gading gajah di pekarangan milik Kurdi, warga Dusun Peting, RT 03 RW 5, pada Selasa sore (17/11/2015). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dokumen MuriaNewsCom

 

GROBOGAN – Sugeng, peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta mengatakan, dari hasil penelitian yang sempat dilakukan beberapa kali terhadap barang yang ditemukan, peradaban di Banjarejo waktu dulu cukup beragam.Makanya, situs yang disebut dengan Situs Medang ini layak jadi unggulan dan prioritas penelitian. Rencananya, pada tahun 2016, serangkaian kegiatan penelitian juga akan dilakukan disana.

Sugeng menjelaskan, setidaknya ada empat era peradaban yang muncul di wilayah Banjarejo berdasarkan dari benda-benda yang sudah sempat ditemukan warga.Yakni, era purba yang dibuktikan dengan adanya penemuan fosil hewan purba. Salah satunya, kepala kerbau berukuran besar yang diperkirakan berusia 500 ribu tahun.

Kemudian, peradaban kuno era megalitikum juga terdapat di Situs Medang. Hal ini ditandai dengan penemuan peralatan dari batu, seperti lesung, pipisan, gandik, dan yoni.

Peradaban pada era Hindu-Budha juga diperkirakan sempat ada di situ. Indikasinya, adanya penemuan peti mati dari kayu, uang kepeng Cina, aneka perhiasan emas, dan guci dari keramik.
Satu era lagi diperkirakan juga ada di Banjarejo. Yakni, akhir era Hindu-Budha dan awal masuknya Islam. Salah satu indikasinya adalah penemuan bangunan kuno yang tertata dari batu bata. Dimana, ada penggunaan spesi dari tanah liat sebagai bahan perekat batu bata, yang merupakan salah satu ciri bangunan pada era awal masuknya Islam.

“Peradaban yang ada di Situs Medang itu memang komplit. Di daerah situs lain, biasanya hanya terdapat satu atau dua era saja yang ditemukan. Melihat kondisi ini, kemungkinan daerah sini dulunya tanahnya sangat subur,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Penelitian ‘Situs Dewata Cengkar’ Bakal Lebih Gencar Tahun Depan

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Banyaknya penemuan benda purbakala maupun cagar budaya di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, ternyata membawa dampak positif. Dimana, sejumlah kegiatan penelitian dipastikan akan dilakukan di desa yang berjarak sekitar 50 km dari kota Purwodadi itu.

“Tahun 2016, kami akan mengadakan kegiatan penelitian di kawasan Banjarejo. Anggaran untuk penelitian dan konservasi disana sudah dialokasikan oleh pemerintah. Kemungkinan, penelitian kita lakukan pada akhir Januari atau pertengahan Februari mendatang,” Kata Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi.

Salah satu tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi benda purbakala yang ada di kawasan tersebut. Dari kunjungan yang sudah dilakukan oleh tim BPSMP, potensi benda purbakala disekitar situ dinilai cukup besar.

Yakni, dengan sudah ditemukannya beragam jenis fosil di lokasi yang berbeda-beda tetapi jaraknya tidak terlalu berjauhan. Meski demikian, untuk lebih memastikan potensi tersebut harus dilakukan beragam kajian yang didapat dari hasil penelitian.

Selain dari BPSMP Sangiran, kegiatan penelitian rencananya juga bakal dilakukan tim dari Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta. Jika BPSMP akan fokus masalah fosil maka Balar akan konsentrasi pada penemuan benda cagar budaya yang juga banyak ditemukan warga Banjarejo.

“Situs di daerah Banjarejo ini layak dijadikan unggulan karena tidak terdapat di daerah lainnya,” ungkap peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Heboh, Penampakan Terjepret Kamera di Dekat Penemuan Bangunan Kuno

Suasana mencekam di lokasi penemuan benda cagar budaya. (MuriaNewsCom/Dani Agus).

Suasana mencekam di lokasi penemuan benda cagar budaya. (MuriaNewsCom/Dani Agus).

 

GROBOGAN – Kabar menghebohkan kembali datang dari kawasan Situs Medang di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Ini terkait dengan adanya gambar penampakan yang berhasil diabadikan kamera pengunjung bangunan kuno dari tatanan batu bata di areal sawah yang ada di Dusun Nganggil.

“Setelah hampir dua bulan heboh penemuan benda purbakala dan cagar budaya kali ini gantian ada foto penampakan yang jadi perbincangan. Saya juga sudah mendapatkan gambar yang diambil dari kamera HP itu,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, pengambil foto penampakan di areal persawahan itu seorang perempuan dari Kecamatan Gubug yang Minggu (22/11) siang berkunjung ke Desa Banjarejo untuk melihat penemuan bangunan kuno dan benda-benda lain yang ada di rumahnya. Saat singgah, dia yang datang bersama rombongan memperlihatkan foto yang sempat diambilnya.

Dalam foto yang diambil dari jarak cukup jauh tersebut memang sempat ada sesuatu benda yang muncul di atas salah satu pohon peneduh di areal sawah tersebut. Saat gambarnya diperbesar memang benda yang dikatakan penampakan itu agak kelihatan meski tidak begitu tajam. Lokasi pengambilan gambar itu diambil disebelah timur lahan yang selama ini disebut-sebut warga setempat sebagai Kraton Kerajaan Medang Kamulan.

“Kalau ngambilnya pakai kamera yang bagus barangkali hasilnya bisa lebih jelas. Meski sempat minta transfer gambar penampakan, sayangnya saya tadi lupa minta nomor HP dan alamat perempuan tadi. Soalnya, tadi
kebetulan pas banyak pengunjung di rumah,” sambungnya.

Mengenai penampakan itu berwujud apa, Taufik tidak bisa memastikan. Sejumlah orang yang sempat melihat foto itu menyatakan jika sesuatu di atas pohon peneduh itu bentuknya mirip gambar tengkorak. Namun, ada yang menyatakan jika penampakan itu seperti asap tebal atau mirp dengan pecahan semburan lumpur di Obyek Wisata Bledug Kuwu. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Ini Cerita Mistis Dibalik Penemuan Arca Kepala ‘Dewata Cengkar’

Arca yang ditemukan oleh warga Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Arca yang ditemukan oleh warga Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Ada cerita menarik dibalik penemuan arca yang diyakini rupa dari Prabu Dewata Cengkar. Penguasa Kerajaan Medang Kamulan masa lampau yang diyakini lokasinya berada di Desa Banjarejo tersebut.

Dimana, beberapa hari sebelumnya, orang yang menemukan itu berada di sawah hingga menjelang senja. Saat istirahat melepas lelah di pematang sebelum pulang, orang tersebut samar-samar melihat ada sosok orang menari yang tiba-tiba muncul disitu dan terlihat dari kejauhan. Saat mau diperhatikan lebih jelas, sosok yang dilihat dari jarak sekitar 200 meter itu tiba-tiba menghilang ke dalam tanah.

“Karena cuaca sudah agak gelap, warga tersebut memutuskan pulang dan menceritakan kejadian itu pada beberapa orang. Keesokan harinya, tempat lenyapnya orang menari itu kemudian digali sekitar dua meter dan akhirnya ketemu arca ini,” kata Ahmad Taufik, Kepala Desa Banjarejo.

Dirinya juga menyatakan, jika arca itu ditemukan warganya sekitar dua hari lalu. Lokasi penemuannya sekitar 300 meter di sebelah selatan bangunan kuno dari tatatan batu bata di Dusun Nganggil. Lokasi penemuan arca itu di areal persawahan yang sudah masuk wilayah Dusun Medang Kamulan.

“Minggu depan, rencananya akan ada tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang mau melakukan sosialisasi di Banjarejo. Kemungkinan, mereka nanti tahu banyak mengenai sosok arca ini,” terangnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Beginikah Wajah Raja Pemakan Manusia Prabu Dewata Cengkar?

Kades Banjarejo menunjukkan arca yang ditemukan di kawasan bangunan tua yang ada di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo menunjukkan arca yang ditemukan di kawasan bangunan tua yang ada di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penemuan benda-benda kuno peninggalan masa lalu di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus masih saja berlanjut. Yang terbaru, adalah penemuan arca berbentuk kepala yang wajahnya terlihat cukup menyeramkan.

Melihat bentuknya, ada yang meyakini jika itu merupakan rupa dari Prabu Dewata Cengkar. Penguasa Kerajaan Medang Kamulan masa lampau yang diyakini lokasinya berada di Desa Banjarejo tersebut.

”Terus terang saya belum tahu arca kepala ini perwujudan siapa. Memang banyak yang mengatakan ini Dewata Cengkar. Tetapi ada yang mengatakan ini perwujudan dewa yang diagungkan pada zaman itu,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Selain itu, ada juga yang menyebut arca itu adalah perwujudan Mahapatih Majapahit Gajah Mada. Namun, kemungkinan ini dinilai sangat jauh. Soalnya, wujud dalam arca itu memiliki dua taring di gigi atasnya layaknya seorang raksasa. Sedangkan dalam berbagai cerita dan literatur sejarah, sosok Gajah Mada bentuknya seperti manusia biasa.

Arca yang dibuat dari tanah liat tersebut ukurannya sangat kecil. Tinggi dari pangkal leher hingga ujung kepala sekitar 11 cm saja. Sementara, bagian paling lebar hanya berkisar 9 cm. Sosok dalam arca itu memiliki rambut panjang yang dikepang dan digelungkan.

Sayangnya, kondisi arca itu sudah retak karena terkena cangkul saat ditemukan. Beberapa bagian wajah juga tidak utuh karena sangat lama terpendam dalam tanah.

Meski demikian, ditemukannya arca itu setidaknya bisa sedikit menyingkap tabir keberadaan sebuah kehidupan dan peradaban pada masa lampau di desa tersebut. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Lokasi Penemuan Bangunan Kuno di Banjarejo Sudah Lama Diyakini Pusat Kerajaan Medang Kamulan

Warga ramai mengunjungi lokasi yang disebut-sebut sebagai Kraton Kerajaan Medang Kamulan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga ramai mengunjungi lokasi yang disebut-sebut sebagai Kraton Kerajaan Medang Kamulan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik ketika dimintai tanggapan terkait pernyataan supranatural yang menyatakan jika istana Kerajaan Medang Kamulan berada di sebelah barat penemuan bangunan kuno, menegaskan jika lokasi penemuan bangunan itu sudah disebut sebagai keraton sejak dulu.

Menurutnya, dari cerita sesepuh desa, lokasi itu disebut keraton, karena diyakini sebagai pusat Kerajaan Medang Kamulan.

“Cerita yang berkembang secara turun temurun memang seperti itu. Soal kebenarannya masih perlu dibuktikan lagi. Tetapi, kalau melihat kondisi riil, bisa jadi hal itu benar karena posisi pusat kerajaan zaman dulu kebanyakan ditempatkan dekat dengan sungai yang waktu itu berfungsi sebagai jalur transportasi,” katanya.

Sebelumnya, Joko Sutrisno, salah seorang pengunjung bangunan kuno dari Pati yang mengaku sebagai ahli supranatural mengatakan jika sebelah barat bangunan kuno ada energi yang cukup besar.

“Dari penerawangan yang saya lakukan, ada semacam energi cukup besar di sebelah barat bangunan kuno ini. Kalau di sebelah timur juga ada energinya tetapi getarannya jauh lebih kecil. Jadi, saya yakin kalau di sisi barat sana ada bangunan besar tetapi untuk lokasi persisnya saya belum berani menentukan titiknya,” katanya.

Ia menyatakan, untuk bisa memunculkan bangunan besar itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, bangunan itu terpendam lebih dalam dibandingkan pondasi kuno dari batu bata yang sudah ditemukan sebelumnya di areal persawahan. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Ini Penerawangan Supranatural Terkait Keberadaan Istana ‘Kerajaan Dewata Cengkar’

Lokasi yang disebut-sebut sebagai Kraton Kerajaan Medang Kamulan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Lokasi yang disebut-sebut sebagai Kraton Kerajaan Medang Kamulan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penemuan bangunan kuno mirip pondasi dari tatanan batu bata di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus terus mengundang penasaran banyak orang. Selain untuk melihat langsung lokasi penemuan, banyak juga di antara pengunjung yang meyakini jika bangunan utama atau istana kerajaan berada di sebelah barat pondasi kuno tersebut.

“Dari penerawangan yang saya lakukan, ada semacam energi cukup besar di sebelah barat bangunan kuno ini. Kalau di sebelah timur juga ada energinya tetapi getarannya jauh lebih kecil. Jadi, saya yakin kalau di sisi barat sana ada bangunan besar tetapi untuk lokasi persisnya saya belum berani menentukan titiknya,” ungkap Joko Sutrisno, salah seorang pengunjung bangunan kuno dari Pati yang mengaku sebagai ahli supranatural itu.

Ia menyatakan, untuk bisa memunculkan bangunan besar itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, bangunan itu terpendam lebih dalam dibandingkan pondasi kuno dari batu bata yang sudah ditemukan sebelumnya di areal persawahan.

Jika ingin menemukan lokasi itu, katanya, butuh peralatan pendukung untuk mengebor tanah guna menelisik keberadaan lokasi bangunan yang lebih besar dengan tepat.

Hadiwijoyo, supranatural lainnya juga sependapat jika ada bangunan besar di sebelah barat pondasi kuno tersebut. Secara fakta, hal itu bisa diperkuat dengan adanya penemuan aneka perhiasan emas dalam beberapa tahun terakhir. Di mana, sebagian besar perhiasan itu ditemukan di sebelah barat bangunan kuno. Tetapi, lokasi penemuan itu tersebar di beberapa titik.

“Dari keterangan warga, perhiasan emas itu banyak ditemukan di sebelah barat. Sementara di sebelah timur lebih banyak ditemukan benda kuno dari batu. Jadi dari sini bisa saya simpulkan kalau lokasi sebelah barat mungkin tempat pemukiman besar,” kata pria berambut dan berjenggot panjang itu.

Kemungkinan adanya bangunan besar atau induk disisi barat memang juga mendapat pembenaran dari sebagian warga Banjarejo. Hal itu dikuatkan pula dengan adanya satu lokasi di sebelah timur Dusun Medang Kamulan yang disebut ‘Kraton’ oleh warga setempat.

Lokasi yang disebut kraton itu berada di sebelah selatan sungai dan sebelah timur dan selatannya sudah masuk areal sawah. Luasnya sekitar 500 meter persegi. Di lahan ini banyak terdapat belasan pohon. Saat ini, lokasi kraton dipakai untuk lahan parkir kendaraan pengunjung yang mau melihat bangunan kuno dari arah Dusun Medang Kamulan. Posisi kraton ini berada di sebelah barat bangunan kuno mirip pondasi itu. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Tiap Hari, Bangunan Kuno di Banjarejo Ramai Dikunjungi Warga

Bangunan kuno yang ditemukan di Bajarejo. Bangunan kuno ini, setiap harinya ramai dikunjungi warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bangunan kuno yang ditemukan di Bajarejo. Bangunan kuno ini, setiap harinya ramai dikunjungi warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Setiap hari, sedikitnya ada 100 orang yang melihat bangunan kuno yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, yang diperkirakan dari abad ke-15 itu. Bahkan, pada hari Minggu pengunjungnya bisa mencapai 1.000 orang.

”Selain warga sekitar, pengunjung juga datang dari luar kota dan ada yang datang dari Kalimantan,” ujar Ahmad Taufik, Kepala Desa Banjarejo.

Beberapa hari lalu, Ketua tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang melakukan kunjungan ke lokasi memberikan beberapa rekomendasi. Diantaranya, mengamankan dan melindungi struktur bata yang ditemukan di areal sawah di wilayah Dusun Nganggil. Caranya, dengan menutup bangunan dengan paranet atau karung plastik yang berpori dan kemudian diurug tipis dengan tanah.

“Hal ini perlu dilakukan karena lubang galian warga yang menampakkan struktur bata menciptakan lubang panjang dan dipastikan akan tergenang air saat hujan. Rendaman air hujan dikhawatirkan akan merusak bata dan konstruksinya. Selain itu ekspose sinar matahari juga dapat mempercepat proses kerapuhan batu bata,” ujar Ketua tim dari Balai Arkeologi tersebut. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Lokasi Penemuan Bangunan ‘Kerajaan Dewata Cengkar’ Bakal Ditutup

Bangunan kuno yang ditemukan di Bajarejo. Bangunan kuno ini, rencananya bakal diurug kembali (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bangunan kuno yang ditemukan di Bajarejo. Bangunan kuno ini, rencananya bakal diurug kembali (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Lokasi ditemukannya bangunan mirip pondasi yang tertata dari batu bata rencananya akan diurug lagi dalam waktu dekat. Hal itu ditegaskan Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus Ahmad Taufik.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bakal diurugnya lagi lokasi penggalian yang muncul bangunan kuno tersebut. Antara lain, sudah beberapa kali sempat turun hujan di lokasi bangunan kuno yang berada di persawahan.

Jika lokasi penggalian itu tidak ditutup, maka air hujan dikhawatirkan akan menggenangi pondasi bangunan kuno. Kondisi ini, bisa menyebabkan kerusakan pada bangunan yang diperkirakan ada hubungannya dengan Kerajaan Medang Kamulan tersebut.

”Meski sudah turun beberapa kali, namun curah hujan belum begitu deras. Oleh sebab itu, guna mencegah kerusakan pada bangunan kuno, maka lokasi penggalian akan segera kita tutup,” jelas Taufik.

Mengenai kapan penutupan dilakukan, Taufik belum bisa memutuskan waktunya. Sebab, pihaknya masih menunggu perkembangan cuaca terlebih dahulu. Jika kondisinya sudah mengkhawatirkan, maka penutupan lokasi penemuan bangunan segera dikerjakan.

Ia menjelaskan, sebenarnya pada pekan lalu, penutupan lokasi akan dilakukan guna menindaklanjuti rekomendasi dari tim Balai Arkeologi Yogyakarta. Namun upaya itu belum jadi dilakukanhingga saat ini. Pasalnya, setiap hari di lokasi penemuan bangunan mirip pondasi itu masih ramai pengunjung.

“Sebenarnya, saya ingin menindaklanjuti rekomendasi dari Balai Arkeologi. Namun, mengingat masih banyak pengunjung maka rencana penutupan lokasi saya tunda dulu. Sebab, kasihan kalau ada orang jauh-jauh datang tetapi tidak bisa menyaksikan bangunan kuno,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Ganjar Penasaran dengan Bangunan Kerajaan Medang Kamulan di Grobogan

Pondasi bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus masih saja ramai pengunjung dari luar daerah Grobogan yang penasaran ingin melihat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pondasi bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus masih saja ramai pengunjung dari luar daerah Grobogan yang penasaran ingin melihat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa cukup penasaran dengan penemuan bangunan kuno dari tatanan batu bata di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Bahkan, dia mengagendakan untuk melihat langsung ke lokasi penemuan bangunan yang diyakini warga setempat sebagai bagian dari bekas Kerajaan Medang Kamulan itu.

”Saya sudah menyimak penemuan bangunan kuno yang kabarnya ada hubungannya dengan Kerajaan Medang Kamulan itu. Nanti, saya mau agendakan untuk datang ke sana,” ungkap Ganjar saat singgah di rumah Ketua DPC PDIP Grobogan Sri Sumarni malam tadi, usai melangsungkan kunjungan kerja di Blora.

Terkait dengan penemuan tersebut, Ganjar sudah meminta Disbudpar Jateng untuk terus memantau dan berkordinasi. Selain itu, Balai Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya juga sudah diminta untuk datang ke lokasi penemuan bangunan kuno tersebut.

Dalam kesempatan itu Ganjar akan meminta pada Pemkab Grobogan untuk ikut aktif mengamankan penemuan benda-benda bersejarah di Desa Banjarejo. Sebab, selama ini sudah banyak benda kuno yang ditemukan warga.

”Beberapa waktu lalu, ada penemuan kepala kerbau purba di sana. Bahkan, Kepala Desa Banjarejo sempat memperlihatkan temuan ini pada saya di kantor,” ujarnya

Menanggapi usulan perlu didirikannya museum di desa tersebut, Ganjar menyatakan hal itu merupakan ide yang bagus. Meski demikian, untuk saat ini, belum perlu mendirikan sebuah museum.

”Kalau sekadar tempat penampungan barangkali bisa dilakukan dulu. Tempat ini nantinya digunakan untuk menampung benda kuno yang ditemukan warga, supaya tidak tercecer. Untuk membuat tempat penampungan ini bisa diambil alih pemkab atau pihak desa,” pungkas Ganjar sebelum melanjutkan perjalanan menuju Solo untuk menghadiri acara dengan Presiden Joko Widodo, hari ini. (DANI AGUS/TITIS W)

Ayo! Dukung Desa Banjarejo Jadi Desa Cagar Budaya

Pegiat lintas sektoral di Grobogan membubuhkan tanda tangan dukung Desa Banjarejo jadi Desa Cagar Budaya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pegiat lintas sektoral di Grobogan membubuhkan tanda tangan dukung Desa Banjarejo jadi Desa Cagar Budaya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Paparan yang disampaikan Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus Ahmad Taufik ternyata tidak hanya dinilai menarik saja. Setelah menyampaikan ulasan secara gamblang tentang kondisi yang ada, sebanyak 35orang pegiat lintas sektoral yang ada di Grobogan langsung menyatakan dukungan agar Desa Banjarejo yang diyakini jadi tempat berdirinya Kerajaan Medang Kamulan dijadikan desa cagar budaya. Setelah itu, bentuk dukungan itu kemudian dituangkan dalam penandatanganan pernyataan bersama.

”Dari penelusuran sejarah, di Desa Banjarejo memang diyakini dulunya jadi lokasi Kerajaan Medang Kamulan yang dipimpin Raja Dewata Cengkar. Dalam cerita legenda, Raja raksasa pemakan manusia ini kemudian dikalahkan oleh Aji Saka,” ungkap Ketua komunitas Grobogan Corner (GC) Badiatul Muchlisin Asti yang ikut hadir dalam kesempatan diskusi tersebut.

Dijelaskan, pegiat yang hadir dan memberikan dukungan itu berasal dari berbagai lintas sektoral. Antara lain, dari asosiasi usaha kecil dan menengah, LSM, pecinta seni budaya, komunitas, pengusaha, dan tokoh masyarakat.

Asti berharap pemerintah daerah menjadikan penemuan bangunan kuno di Banjarejo sebagai momentum untuk pengembangan pariwisata. Sebab, di desa tersebut merupakan basis sejarah. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya benda-benda peninggalan bersejarah. Sepert, perhiasan jaman kerajaan, ribuan koin kuno, arca kepala budha, guci, batu bata kuno, dan yang terbaru fosil menyerupai kepala kerbau.

”Benda-benda yang berhasil ditemukan disana tentu punya nilai historis yang tinggi. Sayangnya, sebagian besar benda bersejarah yang ditemukan itu akhirnya dijual warga,” cetus Asti yang beberapa waktu lalu sudah menyusuri jejak sejarah di Desa Banjarejo bersama anggota GC.

Dia mengusulkan, bila perlu pemerintah diminta mendirikan museum khusus di Desa Banjarejo. Museum ini nantinya bisa menampung benda-benda bersejarah yang ditemukan di tempat tersebut. Dengan adanya museum ini nantinya bisa mendatangkan wisatawan ke desa tersebut. (DANI AGUS/TITIS W)

Gara-gara Benda Kuno, Kades Banjarejo Jadi Terkenal

Kepala Desa Banjarejo Achmad Taufiq saat menceritakan penemuan benda-benda purbakala di desanya pada peserta diskusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Desa Banjarejo Achmad Taufiq saat menceritakan penemuan benda-benda purbakala di desanya pada peserta diskusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penemuan bangunan kuno serta benda-benda peninggalan sejarah lainnya di Desa Banjarejo mendatangkan berkah tersendiri bagi Kepala Desa Ahmad Taufik. Dimana, saat ini dia mulai diundang jadi pembicara untuk menyampaikan kondisi desanya yang dalam beberapa pekan terakhir sering diekspos berbagai media massa.

”Sejak ramai diberitakan media, antusias orang untuk datang ke Desa Banjarejo memang luar biasa. Saya sendiri tidak menyangka jika penemuan bangunan kuno dari tatanan batu bata dan benda-benda lainnya, ternyata bisa mengundang daya tarik tersendiri. Setiap hari, tidak kurang dari 500 orang yang datang kesana,” ungkap Taufik usai menjadi pembicara dihadapan puluhan pegiat lintas sektoral dan Disporabudpar Grobogan yang dilangsungkan di Cafe Omah Kopi Purwodadi, siang tadi.

Taufik mengaku, baru sekali ini dia tampil dalam acara formal untuk menyampaikan perihal potensi sejarah yang muncul di desanya. Meski begitu, dia bisa memaparkan presentasi dengan cukup bagus dan menarik perhatian. Buktinya, selama paparan materi, peserta diskusi itu terlihat menyimak dengan serius.

Dalam kesempatan itu, Taufik menyatakan, dia sudah membuat upaya untuk menguatkan adanya bekas kerajaan Medang Kamulan di desanya. Caranya, dengan mengumpulkan benda-benda kuno yang sempat ditemukan warga beberapa waktu lalu.

”Selama 10 tahun terakhir, ada banyak benda kuno yang berhasil ditemukan warga. Sayangnya, sebagian besar benda bersejarah itu sudah dijual. Untuk itu, agar tidak hilang semua, benda kuno yang masih disimpan warga saya kumpulkan sebisanya,” kata Taufik.

Ia menjelaskan, sejauh ini upaya yang dilakukan membuahkan hasil. Sejumlah warga dengan sukarela bersedia menyerahkan benda kuno yang masih disimpan. Antara lain, puluhan koin dari tembaga yang ada tulisan huruf Tiongkok. Selain itu, ada pula peralatan dapur dari batu dan fosil binatang purba yang dikumpulkan.

Bahkan, foto barang temuan yang sempat didapat warga juga didokumentasikan, meski barangnya sudah tidak ada lagi. Dengan adanya foto itu setidaknya bisa jadi bahan referensi oleh pihak yang berkepentingan. (DANI AGUS/TITIS W)

Pemerintah Diminta Turun Tangan untuk Ungkap Misteri Bangunan Prabu Dewata Cengkar

Bangunan kuno yang dipercaya sebagai bangunan Kerajaan Prabu Dewata Cengkar (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bangunan kuno yang dipercaya sebagai bangunan Kerajaan Prabu Dewata Cengkar (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik mengatakan, ujung bangunan kuno yang ditemukan di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, yang berada di sisi utara sudah kelihatan. Yakni, di areal sawah milik Sutiyono yang berada paling bawah dan berdekatan dengan pinggiran Sungai Nganggil. Di areal ini terlihat bangunan kuno sepanjang 8 meter.

Hal ini, menyusul penggalian yang dilakukan warga beberapa hari ini. Sementara di lahan sawah diatasnya milik Teguh Hariyadi panjang bangunan yang sudah digali ada sekitar 20 meter.

Penggalian tanah di lokasi bangunan kuno yang sudah terlihat sejak (12/10/2015) lalu ini berkisar 50 cm hingga 1,5 meter. Untuk melihat bangunan kuno di lahan yang ada disi selatan butuh penggalian lebih dalam. Sebab, areal sawah disitu bentuknya teras siring. Dimana, sisi selatan lahannya lebih tinggi sehingga harus menggali lebih dalam untuk bisa menemukan bangunan kuno tersebut.

”Terus terang, dana untuk penggalian ini sudah nipis, mas. Kami berharap pemerintah secepatnya turun tangan agar misteri yang ada disini bisa terungkap,” imbuh Taufik. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Warga Ngos-ngosan Temukan Ujung Bangunan ‘Kerajaan Medang Kamulan’

Warga melakukan penggalian bangunan kuno yang dipercaya merupakan bekas Kerajaan Medang Kamulan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga melakukan penggalian bangunan kuno yang dipercaya merupakan bekas Kerajaan Medang Kamulan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Bangunan kuno dari tatanan batu bata yang ditemukan di areal sawah di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus ternyata masih cukup panjang ukurannya. Hal itu diketahui dari percobaan penggalian yang dilakukan Kades Banjarejo Ahmad Taufik belum lama ini.

“Bangunan mirip pondasi ini panjang sekali kayaknya. Sampai saat ini, saya belum menemukan ujung bangunan di sisi selatan,” kata Taufik.

Ia menjelaskan, selama empat hari terakhir, dia meminta beberapa orang warga untuk menggali di beberapa titik. Yakni, di sebelah selatan sumur gali yang ada di areal sawah milik Suwaji. Jarak antar titik penggalian sekitar 40 meter.

Hingga titik terakhir, atau sekitar 200 meter dari sumur, pondasi batu bata itu masih terlihat. Kedalaman penggalian itu berkisar tiga sampai empat meter. Adapun tiap titik penggalian ukurannya sekitar satu meter persegi saja. Atau hampir sama dengan ukuran sumur gali yang ada disitu.

”Jadi tanahnya tidak kita gali semuanya seperti yang kita lakukan pada penemuan sebelumnya. Soalnya, biayanya cukup besar kalau untuk menggali keseluruhan. Makanya, saya ambil sampel beberapa titik saja untuk mengetahui sampai dimana ujung bangunan kuno itu,” cetusnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Pengurukan Lokasi Bangunan Kuno Banjarejo Grobogan Ditunda, Ada Apa?

 

Warga melihat lokasi penemuan bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga melihat lokasi penemuan bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Rekomendasi dari tim Balai Arkeologi Yogyakarta agar lokasi ditemukannya bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ditutup dulu hingga saat ini belum dilakukan.

Karena, setiap hari di lokasi penemuan bangunan mirip pondasi itu masih ramai pengunjung.
“Sebenarnya, saya ingin menindaklanjuti rekomendasi dari Balai Arkeologi. Namun, mengingat masih banyak pengunjung maka rencana penutupan lokasi saya tunda dulu. Sebab, kasihan kalau ada orang jauh-jauh datang tetapi tidak bisa menyaksikan bangunan kuno,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, setiap hari sedikitnya ada 100 orang yang melihat bangunan yang diperkirakan dari abad ke-15 itu. Bahkan, pada hari Minggu pengunjungnya bisa mencapai 1.000 orang. Selain warga sekitar, pengunjung juga datang dari luar kota dan ada yang datang dari Kalimantan.

Mengingat banyaknya pengunjung, Taufik kemudian meminta warga untuk membuat jalur khusus dari pinggiran Dusun Medang Kamulan. Dengan jalur di tengah sawah itu kendaraan bisa masuk mendekati lokasi bangunan kuno. Dari situ, pengunjung tinggal berjalan kaki sekitar 100 meter saja untuk sampai tempat yang dituju.

“Kondisi saat ini memang memungkinkan untuk bikin jalur di tengah sawah. Soalnya, tanah sawah kondisinya sangat keras lantaran tidak pernah tersiram hujan dan kebetulan juga tidak ada tanamannya sama sekali,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat diperkirakan sudah mulai masuk musim hujan. Jika hal ini sudah terjadi maka penutupan lokasi akan dilakukan. Sebab, jika dibiarkan terbuka maka bangunan kuno itu dikhawatirkan bisa rusak tergerus air hujan.

Beberapa hari lalu, Ketua tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang melakukan kunjungan ke lokasi memberikan beberapa rekomendasi. Di antaranya, mengamankan dan melindungi struktur bata yang ditemukan di areal sawah di wilayah Dusun Nganggil. Caranya. dengan menutup bangunan dengan paranet atau karung plastik yang berpori dan kemudian diuruk tipis dengan tanah.

“Hal ini perlu dilakukan karena lubang galian warga yang menampakkan struktur bata menciptakan lubang panjang dan dipastikan akan tergenang air saat hujan. Rendaman air hujan dikhawatirkan akan merusak bata dan konstruksinya. Selain itu ekspose sinar matahari juga dapat mempercepat proses kerapuhan bata,” ujar Ketua tim dari Balai Sugeng. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Situs Medang Grobogan jadi Prioritas Pengembangan Kebudayaan

Tim Balai Arkeologi lakukan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Balai Arkeologi lakukan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Selain melakukan penelitian terkait penemuan benda kuno dari tatanan batu bata di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, selama dua hari, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta juga menyampaikan beberapa rekomendasi.

Salah satunya, Pemkab Grobogan diminta agar menempatkan Situs Medang sebagai prioritas dalam program pengembangan kebudayaan. Khususnya dalam pengembangan aset data arkeologi maupun aset cagar budaya yang nantinya akan bermanfaat secara akademik, ideologik, maupun ekonomik.

Dalam hal ini, skala prioritas yang bisa dilakukan adalah mengamankan dan melindungi struktur bata yang ditemukan di areal sawah di wilayah Dusun Nganggil. Caranya. dengan menutup bangunan dengan paranet atau karung plastik yang berpori dan kemudian diuruk tipis dengan tanah.

“Hal ini perlu dilakukan karena lubang galian warga yang menampakkan struktur bata menciptakan lubang panjang dan dipastikan akan tergenang air saat hujan. Rendaman air hujan dikhawatirkan akan merusak bata dan konstruksinya. Selain itu ekspos sinar matahari juga dapat mempercepat proses kerapuhan bata,” ujar Ketua tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto.

Selanjutnya, Pemkab Grobogan diharapkan bisa menjajaki kemungkinan pembebasan tanah sawah secara bertahap. Yakni, tanah persawahan yang jadi bagian dari Situs Medang.

Kemudian, Pemkab Grobogan juga diharapkan menyusun program penelitian yang terpadu dengan program penelitian dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Selain itu,
Penyusunan program pelestarian yang terpadu dengan program pelestarian BPCB Jawa Tengah juga perlu dilakukan.

“Penyusunan rancangan penelitian pendahuluan ini perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran komprehensif potensi akademik situs Medang sebagai dasar penyusunan program penelitian jangka menengah maupun jangka panjang secara berjenjang.
Melalui penelitian nanti akan ditemukan permasalahan akademik, seperti karakter situs, kronologi, lingkungan geologi kuno, jaringan transportasi kuno, serta aspek-aspek kajian lainnya secara simultan,” cetus Sugeng. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

4 Peradaban Kuno Dunia Pernah Tinggal di Desa Banjarejo Grobogan

Tim Balai Arkeologi lakukan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Balai Arkeologi lakukan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Usulan banyak pihak agar Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, jadi Desa Cagar Budaya tampaknya tidak berlebihan.

Karena, di wilayah tersebut banyak sekali ditemukan benda-benda kuno bersejarah, sepuluh tahun terakhir.

Selain itu, di wilayah Banjarejo ada banyak era peradaban kuno yang ada di situ. Oleh sebab itu, situs di daerah tersebut layak dijadikan unggulan karena itu tidak terdapat di daerah lainnya.

“Dari hasil penelitian, pengamatan dan penemuan warga, peradaban di Desa Banjarejo cukup beragam. Makanya, situs yang kami sebut dengan Situs Medang ini layak jadi unggulan dan prioritas penelitian,” ungkap peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang sejak kemarin hingga Senin (26/10) siang melakukan penelitian bersama dua rekannya di lokasi penemuan bangunan kuno dari batu bata di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo.

Setidaknya ada empat era peradaban yang muncul di wilayah Banjarejo berdasarkan dari benda-benda yang sudah sempat ditemukan warga.

Pertama, era purba yang dibuktikan dengan adanya penemuan fosil hewan purba. Salah satunya, kepala kerbau berukuran besar yang diperkirakan berusia 5.000 tahun.

Kedua, peradaban kuno era Megalitikum juga terdapat di Situs Medang. Hal ini ditandai dengan penemuan peralatan dari batu, seperti lesung, pipisan, gandik, dan yoni.

Ketiga, peradaban pada era Hindu-Budha juga diperkirakan sempat ada di situ. Indikasinya, adanya penemuan peti mati dari kayu, uang kepeng Cina, aneka perhiasan emas, dan guci dari keramik.

Keempat, akhir era Hindu-Budha dan awal masuknya Islam. Salah satu indikasinya adalah penemuan bangunan kuno yang tertata dari batu bata.

Di mana, ada penggunaan spesi dari tanah liat sebagai bahan perekat batu bata merupakan salah satu ciri bangunan pada era awal masuknya Islam.

“Peradaban yang ada di Situs Medang itu memang komplit. Di daerah situs lain, biasanya hanya terdapat satu atau dua era saja yang ditemukan. Melihat kondisi ini, kemungkinan daerah sini dulunya tanahnya sangat subur,” katanya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Ini Pernyataan Awal Tim dari Balai Arkeologi Terkait Temuan Bangunan di Areal Persawahan Banjarejo

Petugas dari Balai Arkeologi Yogyakarta saat melakukan penelitian terhadap bangunan kuno yang ditemukan di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas dari Balai Arkeologi Yogyakarta saat melakukan penelitian terhadap bangunan kuno yang ditemukan di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kepastian bangunan mirip pondasi yang tertata dari batu bata yang ditemukan di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akhirnya terjawab. Dimana, bangunan tersebut bisa dipastikan merupakan peninggalan zaman kuno. Hal itu disampaikan salah satu peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta Sugeng Riyanto setelah melihat langsung di lokasi siang tadi.

”Benda yang ditemukan disini memang masuk peninggalan kuno dan sangat bersejarah. Melihat bentuknya, bangunan ini seperti pagar batas wilayah tertentu. Ini, seperti bangunan pada masa transisi antara era Hindu dan awal masuknya Islam di tanah air,” ungkapnya.

Meski demikian, Sugeng belum bisa memberikan keterangan lebih jauh soal bangunan dari tumpukan batu bata tersebut. Soalnya, untuk menentukan lebih pasti mengenai usia bangunan butuh uji laborat terlebih dahulu.

Saat berada di lokasi, berbagai aktivitas dilakukan tim peneliti. Selain mengumpulkan keterangan dari beberapa warga, mereka juga mencermati dan menganalisa serta mengukur batu bata yang ditata seperti sebuah bangunan tersebut. Kemudian, tim juga mengambil gambar penemuan dari berbagai sudut pandang. Selain itu, tim juga mengukur panjang, lebar, tinggi dan kedalaman bangunan dari permukaan tanah.

Tidak hanya itu, beberapa pecahan batu bata juga diambil. Satu lagi, spesi atau lapisan tanah tipis yang dipakai untuk perekat struktur batu bata juga diambil untuk diuji laborat.

“Hari ini kita kumpulkan data lapangan dulu untuk kita analisis. Besok rencananya akan kita sampaikan laporan awal dari kunjungan lapangan hari ini,” sambung Sugeng.

Datangnya tim peneliti itu mendapat sambutan hangat masyarakat. Terbukti, ada ratusan orang yang datang kesitu, begitu mendengar kabar ada tim peneliti datang ke lokasi. Mereka ini sangat antusias melihat aktivitas penelitian yang dilakukan hingga matahari terbenam.

“Saya sengaja datang kesini karena pingin tahu apakah bangunan ini termasuk benda bersejarah atau bukan. Saya, dari desa sebelah dan sengaja kesini ramai-ramai,” kata Yanti, salah satu warga yang menyaksikan aktivitas penelitian itu. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Akhirnya, yang Ditunggu-tunggu Datang Juga di Desa Banjarejo

Petugas dari Balai Arkeologi Yogyakarta saat melakukan pengecekan terhadap temuan bangunan kuno di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas dari Balai Arkeologi Yogyakarta saat melakukan pengecekan terhadap temuan bangunan kuno di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang diharapkan kehadirannya untuk menguak misteri penemuan bangunan kuno di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akhirnya datang. Sekitar pukul 15.00 WIB tadi, tiga orang dari Balai Arkeologi sampai di lokasi penemuan bangunan yang tertata dari tumpukan batu bata tersebut.

Ketiga petugas tersebut adalah, dua peneliti Sugeng Riyanto dan Hery Priswanto serta satu orang staf Fery Bagus Jaka. Ikut mendampingi tim dari Balar, Plt Kadisporabupar Grobogan Wiku Handoyo dan tiga orang stafnya.

”Rencananya, tim dari Balar ini memang akan datang ke Grobogan, Senin (26/10/2015) besok. Tetapi, rencananya mendadak diajukan hari ini. Soalnya, jadwal tim dari Balar kebetulan juga cukup padat. Tim ini akan berada di Grobogan sampai besok siang,” kata Wiku.

Sebelum menuju lokasi bangunan kuno, rombongan sempat mampir di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk melihat koleksi benda kuno yang ada disitu. Namun, saat itu, rumah dalam keadaan kosong, lantaran Taufik dan perangkat desa setempat tengah ada acara ziarah ke luar kota.

Meski tidak bisa menemui rombongan dari Balar dan Disporabudpar, namun Taufik mengaku cukup lega. Sebab, kedatangan mereka sudah dinantikan cukup lama. Yakni, sejak bangunan kuno itu ditemukan (12/10/2015) lalu.

”Mohon maaf saya tidak bisa menemani karena lagi di luar kota. Saya kira, datangnya Senin besok,” kata Taufik melalui SMS. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

BPCB Jateng Akan Tinjau Temuan Bangunan Kuno di Grobogan

 

Tampak warga berada di lokasi penemuan bangunan kuno di Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tampak warga berada di lokasi penemuan bangunan kuno di Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Keinginan Kades Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Ahmad Taufik agar segera ada tim dari dinas terkait yang berkunjung ke desanya untuk melihat penemuan bangunan kuno akhirnya dapat kepastian.

Pada Senin (25/10) lusa, tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah diagendakan bakal berkunjung ke Desa Banjarejo.

“Saya sudah konfirmasi ke sana dan dapat kepastian kalau Senin lusa, mereka bakal datang ke Grobogan untuk melihat lokasi penemuan bangunan kuno di Banjarejo. Kemungkinan, saya dan beberapa staf akan ikut mendampingi kunjungan ke lokasi,” ungkap Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo.

Disporabudpar sebelumnya sudah mengirimkan pemberitahuan soal ditemukannya bangunan kuno mirip pondasi yang tertata dari tumpukan batu bata berukuran jumbo tersebut. Selain secara lisan melalui telepon, pemberitahuan itu juga Dikirimkan ke Badan Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah melalui surat resmi. Foto-foto terkait penemuan bangunan kuno juga sudah disertakan dalam pemberitahuan tersebut.

“Informasi soal penemuan bangunan kuno itu sudah diterima Badan Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Barangkali karena banyak agenda lain yang dikerjakan, mereka belum bisa cepat datang ke sini,” kata Wiku yang juga menjabat sebagai staf ahli bupati itu.

Ditambahkan, saat ini memang ada satu hal yang ditunggu pihak Desa Banjarejo. Yakni, kepastian bangunan kuno yang ditemukan (12/10) itu termasuk benda bersejarah atau bukan. Jika bangunan itu dinyatakan benda bersejarah dan perlu dilindungi maka bisa diambil langkah lebih lanjut. Sebaliknya, jika memang bukan merupakan benda bersejarah maka tidak masalah jika ditutup lagi. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Disporabudpar Grobogan Diminta Mengambil Langkah Cepat untuk Mengirim Sampel Batu Bata Kuno ke BPCB

Batu bata kuno yang ditemukan di area persawahan milik warga di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Batu bata kuno yang ditemukan di area persawahan milik warga di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kabar bakal ditutupnya areal penggalian bangunan mirip pondasi kuno yang tertata dari batu bata di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus mendapat perhatian dari Bupati Grobogan Bambang Pudjiono. Meski bisa memaklumi alasan untuk menutup lagi areal penggalian, namun Bambang meminta agar Kades Banjarejo bersabar dulu.

Sebab, dia sudah meminta Disporabudpar agar mengambil langkah cepat. Salah satunya mengirimkan surat pemberitahuan ke Badan Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

”Surat ini sudah dikirimkan pada kedua instansi tersebut. Kemungkinan dalam waktu dekat akan ada petugas dari sana yang datang ke lokasi penemuan bangunan kuno itu. Jadi, lokasi penemuan bangunan itu jangan ditutup dulu,” tegas Bambang.

Disamping melayangkan surat, untuk mempercepat dapat kepastian, Disporabudpar diminta mengirimkan sampel pecahan batu bata bangunan kuno ke dua instansi yang berkompeten dengan masalah tersebut. Dengan cara ini, maka kepastian untuk mendapatkan jawaban apakah bangunan mirip pondasi itu termasuk benda cagar budaya atau tidak.

“Sambil menunggu datangnya tim dari Badan Arkeologi maupun BPCB maka langkah pro aktif bisa dilakukan. Yakni, dengan mengirimkan sampel pecahan batu batanya kesana untuk diteliti dan hasilnya bisa segera diperoleh,” katanya.

Dia menambahkan, satu hal yang butuh jawaban adalah kepastian bangunan kuno yang ditemukan (12/10/2015) itu termasuk benda bersejarah atau bukan. Jika bangunan itu dinyatakan benda bersejarah dan perlu dilindungi, maka bisa diambil langkah lebih lanjut. Sebaliknya, jika memang bukan merupakan benda bersejarah maka tidak masalah jika ditutup lagi. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Kades Banjarejo Ancam Urug Tempat Penemuan Pondasi ‘Kerajaan Medang Kamulan’

Bangunan kuno yang ditemukan di area persawahan milik warga di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bangunan kuno yang ditemukan di area persawahan milik warga di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Lahan sawah tempat ditemukannya bangunan mirip pondasi yang tertata dari batu bata, rencananya akan diurug lagi dalam waktu dekat. Hal itu ditegaskan Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus Ahmad Taufik.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bakal diurugnya lagi lokasi penggalian yang terdapat bangunan kuno tersebut. Antara lain, tidak kunjung ada tindakan lebih lanjut dari dinas terkait dengan penemuan bangunan yang diyakini punya hubungan dengan bekas Kerajaan Medang Kamulan tersebut.

Padahal, bangunan itu sudah ditemukan sejak (12/10/2015 ) lalu. Disamping itu, laporan pada dinas terkait sudah disampaikan. Kemudian, sampel pecahan batu bata dari pondasi itu juga sudah dikirimkan ke Disporabudpar Grobogan.

Alasan lainnya, dalam waktu dekat akan memasuki musim tanam. Dimana, pemilik lahan sawah yang ada bangunan kunonya akan bersiap menyongsong musim tanam. Jika lahan masih dibiarkan seperti ini maka pemilik sawah sudah pasti akan terganggu dalam mempersiapkan musim tanam.

”Belum lagi kalau sebentar lagi ada hujan turun. Maka bangunan kuno itu pasti akan tertutup dengan sendirinya karena tanah yang sudah digali akan longsor ke bawah lantaran terkena air hujan,” tegasnya.

Terkait dengan kondisi itu, pihaknya meminta agar dinas terkait segera turun melihat lokasi untuk memastikan bangunan yang ditemukan termasuk benda bersejarah atau bukan. Dengan adanya kepastian ini, nantinya akan bisa diambil langkah lebih lanjut.

Ia menyatakan, jika bangunan itu dinyatakan benda bersejarah dan perlu dilindungi maka bisa diambil langkah cepat. Misalnya, menyewa lahan sawah itu selama beberapa bulan atau satu periode tanam untuk penelitian maupun penggalian lebih lanjut. Dengan demikian, pemilik sawah akan tenang karena ada kejelasan.

”Lahan sawah yang ada bangunan kuno itu kebetulan milik perorangan. Kalau lahan sawah itu milik banda desa, barangkali lebih mudah penanganannya,” imbuhnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Ribuan Orang Kunjungi Penemuan Bangunan Kuno di Banjarejo

Pengunjung dari luar kota diantar warga sekitar untuk melihat penemuan bangunan kuno mirip pondasi dari tatanan batu bata  yang ditemukan di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pengunjung dari luar kota diantar warga sekitar untuk melihat penemuan bangunan kuno mirip pondasi dari tatanan batu bata yang ditemukan di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Bangunan kuno mirip pondasi dari tatanan batu bata yang ditemukan di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, ternyata mengundang daya tarik banyak orang. Buktinya, sejak ditemukan Senin (12/10/2015) lalu sudah ribuan orang yang berkunjung ke desa kaya penemuan benda kuno dan hewan purba itu.

”Sepekan terakhir, Desa Banjarejo seperti tempat wisata terkenal saja. Soalnya, tiap hari ada ratusan orang yang ingin melihat bangunan kuno, dari pagi hingga menjelang petang. Depan rumah saya tidak pernah sepi dari kendaraan pengunjung,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, jumlah pengunjung paling banyak terjadi Minggu (18/10/2015) lalu. Dimana, sejak pagi hingga petang lebih 500 orang yang datang. Selain warga sekitar Banjarejo, ada pula warga dari luar kecamatan dan kota sekitar yang datang, untuk melihat bangunan yang diyakini ada hubungannya dengan bekas Kerajaan Medang Kamulan.

”Selain itu, ada pula orang dari Kalimantan yang menyempatkan diri datang ke Banjarejo melihat bangunan kuno di tengah sawah tersebut. Ternyata, mereka tahu berita penemuan bangunan kuno dari facebook,” sambungnya.

Banyaknya pengunjung yang datang, di sisi lain membawa berkah bagi warga setempat. Sebab, kehadiran pengunjung tersebut menjadi sumber rezeki buat pedagang di Dusun Nganggil.

Selain itu, ada pula warganya yang mendapat jasa mengantar ke lokasi bagi pengunjung yang datang menggunakan mobil. Karena untuk menuju lokasi hanya bisa dilakukan dengan naik motor atau jalan kaki sejauh hampir dua kilometer dari pinggir Dusun Nganggil. (DANI AGUS/TITIS W)

Terkait Penemuan Bangunan Kuno, Pemkab Diminta Segera Respon Cepat

Ketua Komunitas Grobogan Corner (GC) Badiatul Muchlisin Asti saat meninjau lokasi bangunan kuno. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ketua Komunitas Grobogan Corner (GC) Badiatul Muchlisin Asti saat meninjau lokasi bangunan kuno. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Pemkab Grobogan diimbau untuk segera mengambil langkah terkait ditemukannya bangunan kuno mirip pondasi di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Sebab, bangunan itu sudah bisa dipastikan peninggalan zaman dulu lantaran bentuk batu bata dalam bangunan itu tidak lazim. Bahkan, bisa jadi bangunan itu terkait dengan keyakinan warga seputar adanya kerajaan Medang Kamulan di situ.

”Dari penelusuran yang sempat kita lakukan beberapa bulan lalu, lokasi yang diyakini jadi tempat berdirinya kerajaan Medang Kamulan tidak jauh dari tempat ditemukannya bangunan kuno itu. Kira-kira sekitar 500 meter di selatan bangunan kuno dan berada di tengah areal sawah,” terang Ketua Komunitas Grobogan Corner (GC) Badiatul Muchlisin Asti.

Menurutnya, penemuan bangunan kuno itu harus segera disikapi segera dan serius oleh Pemkab Grobogan. Sebab, ini jadi momentum membangkitkan kembali legenda besar yang nyaris tenggelam akibat ketidakpedulian. Bila momentum ini diabaikan, maka Kabupaten Grobogan akan kehilangan aset sejarah yang sangat berharga.

Ia menambahkan, beberapa waktu sebelumnya, sudah banyak indikasi yang menguatkan adanya sebuah peradaban kuno yang pernah ada di Desa Banjarejo. Yakni, dengan ditemukannya benda-benda kuno oleh warga setempat. Seperti, koin bertuliskan aksara tiongkok, guci, lesung, peti mati, aneka perhiasan, dan fosil kepala kerbau berukuran raksasa.

”Karena kurangnya kepedulian pemkab, benda-benda kuno yang ditemukan itu sudah banyak yang dijual pada pihak lain. Nah, hal ini jangan sampai terulang lagi. Jadikan momen penemuan bangunan kuno untuk menyingkap misteri yang ada di Banjarejo,” tegas Asti.

Sementara itu, Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro menyatakan sudah mendapat informasi adanya penemuan bangunan kuno di Banjarejo tersebut. Dia sudah meminta dinas terkait untuk turun ke lapangan dan berkoordinasi dengan instansi lain yang berwenang menangani masalah itu.

”Pihak Badan Arkeologi dan Pelestarian Cagar Budaya segera kita hubungi untuk memastikan bangunan apa yang ada di Banjarejo. Yang pasti, masalah ini segera kita tindak lanjuti,” katanya. (DANI AGUS/TITIS W)