Petilasan Angling Darma di Baleadi Pati jadi Daya Tarik Wisata Religi

Seorang pengunjung tengah berziarah di tempat yang diduga makam Angling Darma di Desa Baleadi, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang pengunjung tengah berziarah di tempat yang diduga makam Angling Darma di Desa Baleadi, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petilasan Angling Darma di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Pati disebut menjadi daya tarik wisata religi di Pati bagian selatan. Hanya saja, pengeloaan petilasannya masih sangat minim.

“Itu bisa menjadi daya tarik wisata religi desa. Banyak pengunjung yang datang dari luar kota, kebanyakan datang dari Kediri dan sebagian besar dari Jawa Timur. Sayangnya, pihak desa tidak pernah menyentuh makam itu,” ujar Bambang Riyanto, penduduk setempat, Sabtu (7/1/2017).

Padahal, sebagian masyarakat setempat yakin bila tempat itu merupakan makam atau tempat peristirahatan terakhir Angling Darma. Masyarakat juga yakin bila Kerajaan Malawapati pernah ada di kawasan tersebut, meski bukti-bukti sejarah seperti prasasti atau peninggalannya tidak ditemukan.

Dari cerita tutur yang berkembang, kemegahan Malawapati yang pernah eksis di kawasan tersebut lenyap karena disabda jin. Uniknya, tidak jauh dari petilasan tersebut, diduga ada petilasan Batik Madrim, patih kepercayaan Angling Darma. Lokasinya berada di Masjid Desa Kedungwinong, Sukolilo.

“Kalau bisa dikelola dengan baik, petilasan itu bisa menjadi aset masyarakat sebagai destinasi wisata religi. Namun, juru kunci petilasan Angling Darma mengelola secara pribadi, tanpa melibatkan pemerintah desa sehingga wajar bila pemdes membiarkannya,” imbuh Bambang.

Di satu pihak, juru kunci, Suroso juga mengaku tidak pernah ada campur tangan pemdes untuk merenovasi atau memberikan fasilitas kepada pengunjung. Karena itu, dia berharap agar ada seseorang yang memberikan bantuan untuk mengelola petilasan Angling Darma.

Di sisi lain, pemdes disebut enggan ikut campur memberikan bantuan pengelolaan, lantaran dana yang masuk dari pengunjung dikelola secara pribadi. Padahal, petilasan Sang Raja Malawapati tersebut menyimpan aset wisata religi yang potensial.

Editor : Kholistiono

Mbah Bungkuk Mengaku Pernah Ditemui Angling Darma

 Mbah Bungkuk, juru kunci Makam Angling Darma, usai mengunci pintu lokasi makam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Mbah Bungkuk, juru kunci Makam Angling Darma, usai mengunci pintu lokasi makam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Juru kunci makam Angling Darma, Suroso atau yang akrab dikenal warga “Mbah Bungkuk” mengaku pernah ditemui Prabu Angling Darma dalam mimpinya. Dia mendapatkan pitutur untuk menjaga kesehatan dan merawat anak cucunya dengan baik.

Mbah Bungkuk sendiri meneruskan ayahnya, merawat Makam Angling Darma yang berada di pinggir jalan Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Pati. Bahkan, Batik Madrim juga diakui sering datang ke tempat tersebut.

“Kadang ketemu di mimpi, dipanggili. Cuma pitutur soal anak cucu. Arwah Batik Madrim juga seringkali di sini bersama Sang Prabu Angling Darma,” kata Mbah Bungkuk saat berbincang dengan MuriaNewsCom.

Makam tersebut paling banyak dikunjung pada Kamis malam. Mereka datang untuk berziarah, berharap bisa mendapatkan “berkah” dari Sang Prabu. Bila hajat terkabul, tak jarang yang kemudian menggelar hajatan di sana.

Meski tempat tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Sang Prabu, tetapi tidak semua orang berpendapat sama. Ada yang mengatakan, tempat itu hanya sebatas petilasan. Alasannya sederhana, tidak ada yang tahu makam Angling Darma.

Kardi, misalnya. Warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi makam, yakin bila itu sebatas petilasan. “Tidak ada yang tahu makamnya di mana. Sebab, di mana-mana juga banyak yang mengklaim makam Angling Darma. Kalau saya ditanya, saya pasti jawab itu petilasan,” tuturnya.

Hanya saja, dia mengakui bila makam tersebut banyak dikunjungi warga yang sebagian besar dari Jawa Timur. Warga diharapkan tidak sekadar mempercayai mitos belaka, tetapi juga mesti meneladani kisah-kisah perjuangan dan kepemimpinannya yang bijaksana.

Editor : Kholistiono

Ini Sejumlah Tempat di Pati yang Diduga Pernah Disinggahi Angling Darma

Seorang siswi SDN Slungkep 02 Kayen tengah berada di Makam Sibatang, tempat yang diduga pernah menjadi persinggahan Angling Darma di Desa Jimbaran, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang siswi SDN Slungkep 02 Kayen tengah berada di Makam Sibatang, tempat yang diduga pernah menjadi persinggahan Angling Darma di Desa Jimbaran, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada berbagai tempat di Pati yang diduga pernah menjadi tempat persinggahan Angling Darma, raja agung yang selalu menjadi bahan perbincangan meski kisahnya tak pernah diakui sebagai sebuah fakta sejarah.

Warga Pati yakin, Angling Darma pernah eksis di kawasan yang sekarang berada di Pati selatan, seperti Sukolilo dan Kayen. Di Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, ada sebuah tempat yang diduga menjadi tempat peristirahatan terakhir Sang Prabu.

Juru kunci setempat, Suroso, membenarkannya. Menurutnya, Prabu Angling Darma menghabiskan sisa hidupnya di Kerajaan Malawapati yang kemudian menjadi nama sebuah dukuh di Desa Baleadi, yakni Mlawat. Tempat peristirahatan terakhir itulah yang kemudian dibangun menjadi semacam makam dan diziarahi banyak orang dari berbagai daerah.

Ditanya soal keberadaan makam di Kabupaten Bojonegoro, Suroso mengaku itu hanya tempat persinggahan Sang Prabu ketika menjadi belibis putih. Di sana, dia mengawini putri Bojonegoro dan melahirkan putra bernama Angling Kusuma. Setelah itu, Sang Prabu kembali pulang ke Malawapati hingga akhir hayat.

Dengan analisa tersebut, Suroso yakin bila tempat peristirahatan terakhir Sang Prabu ada di Dukuh Mlawat. Belum lagi, ada juga sebuah tempat di Desa Kedungwinong yang diduga sebagai makam Batik Madrim, patih Sang Prabu. Jaraknya dari Dukuh Mlawat, tidak lebih dari empat kilometer.

Keyakinan itu diamini pemerhati sejarah Pati, Krisno. Bahkan, dia menghubungkan antara Malawapati dengan pengembaraan Sang Prabu sampai di Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen. Dalam pengembaraannya, Sang Prabu bertemu dengan tiga orang cantik bernama Widata, Widati dan Widaningsih.

Ketiganya punya kebiasaan aneh, yakni makan daging manusia. Di sebuah tempat yang sekarang menjadi Makam Sibatang, Jimbaran, Sang Prabu menjelma sebagai seekor burung gagak untuk melihat kebiasaan tiga wanita cantik yang sebetulnya siluman.

Sang Prabu akhirnya dikutuk ketiga wanita siluman tersebut menjadi seekor belibis, mengembara hingga di sebuah kerajaan yang sekarang Bojonegoro. Sementara itu, Gua Pancur yang saat ini menjadi kawasan wisata diyakini sebagai tempat mandi tiga wanita bernama Widata, Widati dan Widaningsih tersebut.

Meski mereka belum menemukan bukti sejarah yang menunjukkan tempat itu pernah disinggahi Sang Prabu, tetapi mereka yakin nama-nama tempat itu bisa menjadi rujukan. Sebab, setiap orang punya pendapat yang berbeda.

Arum, misalnya. Warga Desa Sukolilo ini menegaskan bila yang berada di Baleadi bukanlah makam, tetapi petilasan. Lepas dari istilah makam atau tidak, setidaknya warga Pati di bagian selatan yakin bahwa daerahnya pernah menjadi saksi bisu kebesaran peradaban yang dibangun Sang Raja, Prabu Angling Darma.

Editor : Kholistiono

Jejak Prabu Angling Darma di Kabupaten Pati

Seorang pengunjung tengah berdoa di sebuah tempat di Desa Baleadi, Sukolilo yang diyakini sebagai makam Prabu Angling Darma. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang pengunjung tengah berdoa di sebuah tempat di Desa Baleadi, Sukolilo yang diyakini sebagai makam Prabu Angling Darma. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nama Angling Darma terus bersinar dari zaman ke zaman, meski bukti-bukti sejarah tidak mampu menunjukkannya. Nama besarnya sebagai raja agung yang menguasai jagad manusia dan gaib selalu melekat dalam ingatan generasi manusia Jawa.

Jejak Prabu Angling Darma ada di mana-mana. Salah satunya di Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Prabu Angling Darma. Banyak orang dari luar kota yang datang ke tempat tersebut untuk berziarah.

Maksun (24), misalnya. Pemuda asal Desa Kalikondang, Kecamatan Demak ini mengaku selalu datang ke tempat peristirahatan Prabu Angling Darma setiap dua minggu sekali. Hanya saja, saat ini sudah mulai jarang ke sana, lantaran kesibukan kerja.

“Dulu, saya berkunjung ke sana setiap dua minggu sekali. Tidak ada apa-apa, hanya ada bisikan gaib saja. Tapi, sekarang ini saya jarang ke sana karena sibuk kerja. Dari Demak cukup dekat, karena bisa dilalui lewat Kudus,” ujar Maksun, Senin (2/1/2017).

Di mata Maksun, Angling Darma adalah sosok raja yang bijaksana, pemimpin ideal yang bisa menjadi panutan pemimpin masa kini. Selama ini, dia mengetahui kepribadian dan kisah Sang Prabu dari cerita tutur dan legenda yang berkembang di masyarakat.

Secara terpisah, juru kunci Makam Prabu Angling Darma, Suroso mengatakan, momen yang tepat untuk berkunjung ke sana pada Selasa Kliwon. Pada hari itu, warga dari kota-kota besar hingga luar Jawa berdatangan untuk berziarah.

“Pengunjungnya justru rata-rata dari luar kota, hingga luar Jawa. Ada yang datang dari Bali, Jakarta, Madura, Sumatera, sampai Kalimantan. Puncaknya ketika pada Selasa Kliwon. Kami sendiri yakin bila tempat peristirahatan terakhir Sang Prabu ada di sini,” tandas Suroso.

Editor : Kholistiono