Begini Kisah Sedih Para Kusir Wisata Menara Kudus

Kusir saat menunggu penumpang peziarah makam Sunan Kudus, di Terminal Bakal Krapyak, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kusir saat menunggu penumpang peziarah makam Sunan Kudus, di Terminal Bakal Krapyak, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah kusir wisata Menara Kudus, merasa jika nasibnya sebagai penarik dokar tidak diperhatikan oleh pemerintah daerah. Terutama mereka yang beroperasi di Terminal Bakalan Krapayak Kudus. Sebab kebijakan pemerintah setempat di antaranya adalah melarang keberadaan dokar beroperasi di Terminal Bakalan Krapyak.

Mahot, seorang kusir menuturkan jumlah dokar di Terminal Bakalan Krapyak sekitar 10 unit. Mereka merupakan dokar yang aktif beroperasi setiap hari. “Kami hanya berjumlah 10 orang anggota, jadi tolong perhatikan nasib kami juga. Kami juga masih ingin kerja dengan menarik dokar di kawasan Menara,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (5/12/2016).

Pihaknya beserta rekan kusir lain ingin beraktivitas seperti biasa. Meskipun hasilnya tidak terlalu besar namun dengan aktivitas yang rutin, dapat membantu ekonomi keluarga. Untuk satu penumpang, kata dia, ongkos yang dikeluarkan sejumlah Rp 5 ribu. Meski demikian, tidak tiap hari ada penumpang dan seringkali harus pulang dengan tangan kosong.  

Asmadi, kusir lainnya menuturkan, pihaknya akan melancarkan beberapa aksi protes soal kebijakan pemerintah tersebut. “Kami sebenarnya cinta damai, kami cuma ingin kerja seperi biasanya saja. Jadi jika kerjaan kami dihilangkan maka kami akan demo,” ungkapnya.

Kepala Dishubkominfo Didik Sugiharto mengatakan, dokar dilarang beroperasi. Jika para kusir ingin bekerja, pihaknya mempersilakan mereka untuk membeli motor, guna menjadi tukang ojek. “Bagaimana pun juga, keamanan dan kenyamanan harus menjadi prioritas. Apalagi malam hari yang membutuhkan penerangan tambahan. Kami tidak mau tahu,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Paguyuban Becak Krapyak : Beri Rp 20 Juta Per Jiwa Jika Ingin Usir Kami dari Sini

Sejumlah penarik becak yang biasa beroperasi di Menara Kudus menunggu penumpang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah penarik becak yang biasa beroperasi di Menara Kudus menunggu penumpang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Becak menjadi hal yang tidak diuntungkan dalam hal rencana penggusuran angkutan wisata Menara Kudus. Karena penarik becak rencananya akan dilarang beroperasi.

Muhaemin, Wakil Ketua Paguyuban Becak Bakalan Krapyak mengatakan,  pihaknya menolak keras kebijakan tersebut. Hal itu disebabkan mereka sudah lama menggantungkan nasib sebagai pengayuh becak.

“Mau bayar kami berapa dengan mengusir kami, kami ada 100 lebih tukang ojek, jika kami pergi dari sini boleh diganti dengan Rp 20 juta per becak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia mengatakan kalau penghasilan sebagai becak memang tidaklah banyak. Rata-rata hanya mampu mengisi sekitar Rp 20 hingga Rp 30 ribu per hari. Jumlah itu dianggap lebih baik dibandingkan dengan dikasih uang beberapa juta lalu digusur.

Ia berharap pemerintah mampu memikirkan hal itu lagi. Sebab selama ini, kata dia, anggota paguyuban sudah mau ditata dengan baik. Sehingga tak ada alasan untuk meniadakan becak dari angkutan wisata.

“Kami mau makan apa jika diusir dari sini. Apa pemerintah tidak kasihan kepada kami sebagai warga kecil di Kudus ini?,” ungkapnya.

Tentang tindakan yang akan dilakukan, jelas paguyuban becak akan menolak kebijakan itu. Namun bentuk upaya yang akan dilakukan, hingga kini  masih belum ditemukan. Sebab pembahasan dari paguyuban becak juga belum dilakukan.

Selain itu, pihaknya tidak ingin anarkis dalam bertindak. Jika masih bisa dibicarakan dengan baik maka pihaknya menginginkan berbicara dengan cara yang baik.

Editor : Akrom Hazami

Rencana Penggantian Angkutan Wisata Menara Belum Final

Penarik becak dan sebuah dokar berada di kawasan terminal Bakalan Krapyak Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penarik becak dan sebuah dokar berada di kawasan terminal Bakalan Krapyak Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana penggantian moda transportasi umum di wisata Menara Kudus masih terus dimatangkan. Pemkab Kudus melalui Dishubkominfo masih mempersiapkan skema lalu lintas, khususnya kawasan Menara.

Sebagaimana diketahui, pos pemberhentian peziarah yang dulu di bawah pohon beringin besar, kini sudah menjadi sebuah taman. Dengan demikian, Dishubkominfo dipaksa mencari lokasi lain yang dapat dengan mudah menampung mobil tersebut.

“Lokasi paling mudah ya itu, di jalan masuk peziarah atau lapak PKL Menara. Sama seperti tukang ojek dan juga becak yang kini menurunkan dan mengangkut penumpang,” kata Kabid LLAJ Dishubkominfo Kudus, Putut Sri Kuncoro, kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/11/2016).

Menurut dia, kondisi tersebut akan mengurangi badan jalan. Terlebih dengan jumlah kendaraan yang lebih dari satu. Hanya itu semua dianggap bisa untuk disiasati dengan cara menambah rambu lalu lintas

Selain itu, hal lainnya juga bisa ditambah dengan penyiagaan petugas yang khusus berjaga di kawasan Menara Kudus. Petugas tersebut juga dimaksudkan untuk mengatur angkutan umum yang datang. “Di sana juga dapat dijadikan sebagai tempat menunggu penumpang. Yang mana, peziarah yang hendak balik ke terminal bisa langsung menuju lokasi di mana mereka datang,” ungkapnya.

Soal arus lalu lintas dari terminal Krapyak dan juga halte, kata dia, tidak terlalu bermasalah. Sebaliknya, kebijakan itu justru membuat kawasan jalan semakin terkontrol dan lancar . Hal itu dapat diatur dengan memperbanyak rambu lalu lintas. Aturan demikian dianggap efektif untuk diterapkan guna mengatur pengguna jalan di kawasan yang kerap padat tersebut.

“Sebenarnya ini belum final, sebab persiapan masih dilakukan. Dan jika nanti jadi dan, masih membutuhkan waktu lagi untuk menyiapkan rambu dan juga memasangnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami