Angin Puting Beliung Hantam 17 Rumah di Prawoto Pati dan Robohkan Sejumlah Pohon

Petugas melakukan evakuasi dan pemotongan pohon tumbang yang menimpa rumah warga, Senin (13/3/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Angin puting beliung menghantam sedikitnya 17 rumah di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati, Senin (13/3/2017) sore.

Tidak ada korban jiwa maupun ternak dalam bencana angin puting beliung tersebut. Namun, tingkat kerusakan parah dan ringan di sejumlah rumah mengakibatkan kerugian material diperkirakan mencapai Rp 50 juta.

Informasi yang dihimpun dari kepolisian menyebutkan, 17 korban yang rumahnya rusak akibat angin puting beliung, antara lain Madeka, Suli, Sri Winarsih, Madkan, Makam, Dalyono, Hyro Fachrus, Kusnanto, Eni, Sulhadi, Makam Sunan Prawoto, Purwono, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Suwarno, dan Siti Aminah.

Dari sejumlah bangunan yang rusak, rumah milik Madeka mengalami rusak berat karena tertimpa pohon randu. Makam Sunan Prawoto, rumah Nor Rochmat, dan rumah Madkan juga rusak. “Anginnya cukup kencang yang mengakibatkan pohon tumbang dan genteng rumah pecah, karena berjatuhan,” ujar Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Sejak bencana tersebut hingga sekarang, Selasa (14/3/2017), masyarakat setempat, pemerintah desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, Koramil dan Polsek Sukolilo dibantuk relawan melakukan evakuasi, termasuk penebangan pohon yang tumbang menimpa rumah warga. “PLN sudah mengamankan jalur utama listrik untuk keselamatan warga,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Puluhan Rumah di Desa Bonang Rembang Rusak Diterjang Puting Beliung

Relawan, TNI, Polri dan masyarakat bergotong royong untuk memperbaiki rumah warga yang terkena angina puting beliung. (Humas Setda Rembang)

Relawan, TNI, Polri dan masyarakat bergotong royong untuk memperbaiki rumah warga yang terkena angina puting beliung. (Humas Setda Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Angin putting beliung menerjang kawasan pesisir pantai utara Rembang, tepatnya di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Rembang, pada Kamis (12/1/2017) sore sekitar pukul 17.00 WIB.

Informasi yang dihimpun, musibah puting beliung yang menerjang Desa Bonang RT 4 RW 2 tersebut, diawali munculnya awan pekat dan turunnya hujan pada sore kemarin di wilayah Pantura Rembang, yang kemudian disusul adanya angin kencang, sehingga memporak-porandakan beberapa rumah warga dan menumbangkan pohon.

Akibat peristiwa tersebut, tercatat ada dua rumah warga yang mengalami rusak parah dan 18 rumah rusak ringan dan dua pohon tumbang.

Rumah yang mengalami rusak berat teridentifikasi milik Aminah, yang  ditaksir mengalami kerugian sekitar Rp 15 juta. Kemudian rumah Fatimah dengan ditaksir kerugian Rp 10 juta dan untuk 18 rumah yg rusak ringan dengan taksiran kerugian diperkirakan Rp 18 juta. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Informasi terkini yang didapatkan dari laman sosial media Facebook milik Humas Setda Rembang, saat ini, Jum’at (13/01/2017) BPBD Rembang bersama Muspika Lasem, Polri, TNI, masyarakat dan para relawan Ubaloka, KRI, Banser, PMI  mengadakan kerja bakti di lokasi bencana.

Editor : Kholistiono

2 Desa di Pati Diterjang Angin Ribut, 82 Rumah Rusak Ringan dan 15 Rumah Rusak Berat

Warga tampak menyulami genteng yang rusak akibat diterjang angin ribut. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga tampak menyulami genteng yang rusak akibat diterjang angin ribut. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Dua desa di Kabupaten Pati, yakni Desa Karaban, Kecamatan Gabus dan Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen diterjang angin ribut, Jumat (18/3/2016) sore.

Akibat bencana tersebut, 82 rumah rusak ringan dan 15 rusak berat. Tak hanya itu, bencana tersebut juga memakan korban satu orang hingga mengalami luka-luka.

“Dari pendataan yang kami lakukan bersama pihak kepolisian dan TNI, sedikitnya 82 rumah mengalami rusak ringan. Kerusakan berat menimpa 15 rumah yang sebagian besar bangunannya masih semipermanen,” kata Ketua Relawan Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) Kabupaten Pati Gunawan kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, total kerugian akibat bencana tersebut belum bisa diprediksi karena masih dilakukan kalkulasi. “Kerugian yang pasti belum bisa dikalkulasi. Tapi, melihat kondisinya yang demikian, itu bisa mencapai ratusan juta rupiah dari dua desa yang terkena bencana,” ungkapnya.

Sementara itu, Kliwon (60), warga Desa Karaban yang gudang kapuknya roboh, mengaku mengalami kerugian mencapai Rp 15 juta. “Anginnya begitu kencang. Gudang penyimpanan kapuk saya roboh. Kerugiannya sekitar Rp 15 juta,” tuturnya pasrah.

Warga dibantu bersama aparat kepolisian dan TNI tampak membantu membenahi rumah warga yang rusak akibat diterjang angin ribut. Beberapa genteng yang jatuh disulam dengan genteng yang baru.
“Anginnya memang kencang sampai warga ketakutan. Genteng beterbangan dan jatuh. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam bencana yang cukup menakutkan warga itu,” papar Serda Suratman saat membantu warga menyulam genteng.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Puting Beliung Hajar 38 Rumah di Desa Karaban Pati

Warga Cemas Jika Gumpalan Awan Hitam di Gabus Pati Jadi Puting Beliung

Kondisi Jalan Pati-Gabus dengan awan hitam menggumpal yang sempat dikhawatirkan menjadi badai tornado. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi Jalan Pati-Gabus dengan awan hitam menggumpal yang sempat dikhawatirkan menjadi badai tornado. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Gumpalan awan hitam yang mengepul padat secara tegak lurus sempat terjadi di kawasan Jalan Pati-Gabus, Senin (23/1/2016). Bahkan, awan tersebut sempat dikhawatirkan membentuk pusaran angin hingga membentuk badai tornado atau angin puting beliung.

Eni Prasetya, salah satu warga Pati yang kebetulan melintasi kawasan tersebut mengatakan, kondisi itu sesuai dengan perkiraan cuaca dari BMKG di mana hampir semua pulau di Indonesia selama tiga hari ke depan terkena hujan lebat akibat badai siklon tropis di Samudra Hindia.

“Dalam imbauan yang tersebar secara viral di berbagai media sosial itu, saya membaca imbauan agar berhati-hati dengan kondisi angin yang cenderung berputar karena imbas dari badai siklon di laut selatan,” tutur Eni kepada MuriaNewsCom, Senin (25/1/2016).

Karena itu, Eni sempat mengira gumpalan awan hitam yang mengepul secara tegak lurus di Jalan Pati-Gabus itu merupakan imbas dari badai siklon di Samudera Hindia. Beruntung, kepulan awan hitam dengan posisi tegak lurus tersebut berangsung-angsur memudar sehingga angin puting beliung tak terjadi.

“Saya sempat ketakutan. Di tempat saya berhenti, angin yang menerjang begitu kencang. Sudah begitu, awan hitam yang sempat mengepul pekat di depan mata saya begitu mengerikan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Angin Puting Beliung Landa Kawasan Ngablak Pati

Ilustrasi Pohon

Ilustrasi Pohon

 

PATI – Setelah melanda kawasan Pati bagian selatan, kini angin puting beliung melanda Pati bagian utara, yakni daerah Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Pati, Rabu (30/12/2015).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Sanusi membenarkan insiden tersebut. “Informasi yang kami terima dari relawan, memang ada angin puting beliung di sana,” kata Sanusi saat dikonfirmasi MuriaNewsCom.

Selain itu, sebuah kendaraan dikabarkan tertimpa pohon yang tumbang akibat puting beliung. Namun, Sanusi belum bisa memberikan keterangan terkait kendaraan yang tertimpa pohon tersebut.

“Entah mobil atau motor, informasi yang kami terima dari relawan begitu. Ini kami sedang menuju utara untuk melakukan pengecekan informasi lebih lanjut,” imbuhnya.

Tak hanya itu, banjir bandang juga melanda kawasan Pasar Ngablak siang tadi. Akibatnya, akses jalan Pati-Jepara sempat tersendat sekitar satu jam.
Salah satu warga Desa Gesengan, Yuni juga menyampaikan, jika siang tadi kawasan Desa Ngablak terjadi banjir dan puting beliung. “Pas saya lewat siang tadi memang ada banjir di beberapa lokasi di Ngablak. Bahkan, ada beberapa pohon tumbang,” ujarnya.(LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ini Kisah Mengharukan Relawan di Pati yang Selalu Siaga Hadapi Bencana

Sejumlah relawan RAPI Pati tengah membantu mengevakuasi rumah yang roboh akibat diterjang angin puting beliung di Kecamatan Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah relawan RAPI Pati tengah membantu mengevakuasi rumah yang roboh akibat diterjang angin puting beliung di Kecamatan Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ada kisah menarik dari cerita relawan yang tergabung dalam Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) Pati yang belakangan ini gencar membantu korban bencana di sejumlah daerah di Kabupaten Pati.

Tak hanya siap siaga membantu mengevakuasi korban saat terjadi bencana, tetapi jiwa dan raganya dipertaruhkan saat membantu melakukan evakuasi. ”Kalau ada bencana pada malam hari, kami langsung berkoordinasi untuk merapatkan barisan dan turun di lapangan,” ujar Ketua RAPI Pati Gunawan kepada MuriaNewsCom, Rabu (9/12/2015) saat kerja bakti di Kecamatan Sukolilo karena terkena bencana banjir bandang.

Bahkan, lanjutnya, sumber biaya yang digunakan untuk membantu korban bencana berasal dari swadaya tanpa ada support dana dari manapun. ”Namanya juga relawan. Harus rela tanpa ada pamrih. Bahkan, biaya itu dari swadaya sendiri,” imbuhnya.

Dalam menjalankan tugasnya, mereka biasanya menumpang kendaraan dari dinas atau instansi terkait. Jika tidak ada kendaraan, Gunawan mengaku biasanya berupaya bagaimana caranya agar ada kendaraan yang bisa dijadikan tumpangan untuk menuju lokasi bencana.

”Untuk transport, kami biasanya nebeng dari instansi. Kalau nggak ada yang ditebengi, ya piye carane (bagaimana caranya) biar bisa menuju lokasi untuk membantu korban bencana,” tuturnya.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah relawan RAPI Pati yang dibiayani dari dana pribadi tersebut harus berulang kali menuju lokasi bencana, mulai dari bencana angin puting beliung di Kecamatan Gabus, Jaken, Jakenan, hingga Sukolilo. Mereka bekerja tanpa pamrih dengan satu misi, yaitu kemanusiaan. (LISMANTO/TITIS W)

115 Rumah Porak Poranda Diterjang Puting Beliung di Sukolilo Pati

Sejumlah warga tengah memperbaiki genteng rumah yang berjatuhan diterjang angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga tengah memperbaiki genteng rumah yang berjatuhan diterjang angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Angin puting beliung yang melanda Desa Pakem, Kecamatan Sukolilo, Pati mengakibatkan sekitar 115 rumah rusak ringan dengan genteng yang berjatuhan. Sementara itu, dua rumah diketahui roboh dan luluh lantak.

Kepala Dusun Ngandong, Desa Pakem, Marjan kepada MuriaNewsCom, Rabu (9/12/2015) mengatakan, angin yang tidak tahu asal muasalnya tersebut tiba-tiba saja bergerak dari arah utara menuju selatan.

”Angin yang berputar-putar itu bergerak dari utara menuju selatan. Langsung saja rumah yang berada di jalur angin dihajar. Banyak rumah yang rusak seperti genteng berjatuhan. Ada sekitar 115 an rumah,” tuturnya.

Parahnya, kata dia, rumah milik Kasmirah dan Watinah harus roboh dan rata dengan tanah karena angin puting beliung tepat menghantam kedua rumah tersebut.

”Kerusakan parah terjadi di rumah Kasmirah dan Watinah. Soalnya, angin menerjang tepat di dua rumah tersebut. Ratusan rumah lainnya hanya terpapar. Itupun genteng banyak berjatuhan,” imbuhnya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan, sedikitnya tiga orang mengalami luka dari insiden tersebut. Kasmirah yang merupakan pemilik rumah dibawa lari ke Puskesmas Klambu, Grobogan.

Selain itu, anak Kasmirah juga sempat mengalami luka ringan. Tak hanya itu, satu orang yang diketahui warga Desa Taruman, Kecamatan Purwodadi, Grobogan juga tertimpa pohon saat melintas di Dukuh Ngandong hingga dilarikan ke Puskesmas setempat. (LISMANTO/TITIS W)

Ini Kronologi Puting Beliung yang Menghantam Ratusan Rumah di Pati

Sejumlah warga memungut sisa puing-puing rumah akibat dihantam angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga memungut sisa puing-puing rumah akibat dihantam angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratusan rumah di Desa Boto dan Trikoyo, Kecamatan Jaken, Pati mengalami kerusakan usai dihantam angin puting beliung yang disertai hujan deras, Minggu (29/11/2015) sore sekitar pukul 17.30 WIB.

Sebelum puting beliung muncul, awan hitam pekat nampak di langit. Tak lama, hujan deras disertai angin ribut datang. Suasana mencekam pun sempat dirasakan warga.

”Sebelum hujan, awan pekat tampak menggumpal di langit. Seketika, hujan deras yang tidak biasa mengguyur desa kami. Itu saja kami sudah khawatir. Ternyata benar, angin ribut datang dari arah sawah menuju perkampungan,” ujar Sekretaris Desa Trikoyo Satori kepada MuriaNewsCom, Senin (30/11/2015).

Setelah menghantam dua rumah dengan keras, kata dia, puting beliung itu masih bergerak menyusuri perkampungan hingga Desa Boto. Akibatnya, ratusan rumah mengalami kerusakan ringan seperti genteng yang berjatuhan.

”Setelah meluluhlantakkan dua rumah di Desa Trikoyo hingga rata dengan tanah, angin ribut itu juga menghantam ratusan rumah tetapi dengan kekuatan seperti saat menghantam dua rumah tadi. Genteng berjatuhan hingga tempat parkiran di sekolah setempat,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Angin Kencang Hancurkan Permukiman di Grobogan, Begini Kepedulian TNI

Anggota Koramil Pulokulon bersama warga membantu korban bencana alam di Desa Karangsari, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota Koramil Pulokulon bersama warga membantu korban bencana alam di Desa Karangsari, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Belasan anggota Koramil 16 Pulokulon, Senin (30/11/2015) menggelar bakti sosial membantu memperbaiki rumah warga Desa Karangsari yang roboh diterjang angin kencang malam sebelumnya. Acara bakti sosial ini dipimpin langsung Danramil Pulokulon Kapten Sugiono.

Pada Minggu malamnya, hembusan angin kencang melanda tiga dusun yang ada di desa tersebut. Yakni, Dusun Bogoraji, Wadak dan Jambon Dalam peristiwa ini, ada puluhan rumah yang rusak dan satu rumah roboh.

“Dalam kegiatan ini, kami kerahkan seluruh kekuatan koramil untuk membantu korban bencana. Ini merupakan tugas kami sebagai aparat kewilayahan untuk meringankan beban penderitaan para korban bencana. Di sisi lain, kegiatan bakti sosial ini merupakan tugas TNI dengan wujud nyata membantu masyarakat,” kata Sugiono.

Sementara itu, salah satu korban bencana angin puting beliung Purwadi merasa gembira dengan adanya bantuan dari anggota TNI tersebut. Dengan dukungan dari TNI dan pihak lainnya, beban yang diderita korban bencana menjadi sedikit ringan.

Di tempat terpisah, Bupati Grobogan Bambang Pudjiono meminta warganya supaya bersikap waspada terhadap kemungkinan munculnya bencana alam. Baik berupa banjir, tanah longsor atau angin topan.

Bambang menyatakan, berdasarkan peta geografis, Kabupaten Grobogan memang cukup rentan bencana. Sebab, letaknya berada di daerah cekungan perbukitan (lembah). Yakni, perbukitan Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan.

Di samping meminta warga untuk waspada, bupati meminta kepada pihak BPBD untuk lebih sigap dalam penanganan bencana. Upaya pemantauan kondisi lapangan perlu terus dilakukan setiap saat. Harapannya, jika terjadi bencana bisa meminimalisasi korban, baik jiwa maupun harta benda.

“Datangnya bencana alam ini tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Untuk itu, sikap waspada selalu kita lakukan agar bisa mempercepat upaya penanganan,” katanya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Ini Pemetaan Wilayah Rawan Bencana di Rembang

Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Memasuki musim hujan, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang memprediksi empat bencana yang berpotensi terjadi di Rembang. Keempatnya adalah tanah longsor, banjir, angin puting beliung, dan ancaman petir.

Kepala BPBD Kabupaten Rembang, Suharso menyebut potensi tanah longsong di Rembang hampir menyeluruh. ”Ada 52 desa yang rawan tanah longsor. Desa-desa itu tersebar di 13 Kecamatan,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (17/11/2015).

Sementara untuk daerah rawan banjir, kata Suharso, meliputi empat kecamatan, yakni Lasem, Sulang, Pamotan, dan Kaliori. ”Angin puting beliung dipetakan di wilayah Sumber, Kaliori, Pamotan, Lasem, dan sebagian wilayah Sulang. Sedangkan daerah rawan petir, yakni Kaliori dan Rembang kota,” bebernya.

Untuk mengantisipasi bencana yang tidak diinginkan itu, Suharso mengimbau agar masyarakat selalu waspada. ”Bagi yang rumahnya di daerah lereng, kalau ada tanah berlubang harap segera ditutup, untuk mengantisipasi potensi longsor. Sedangkan masyarakat yang tinggal di daerah irigasi atau dekat sungai, mohon segera membersihkan sampah. Agar ketika hujan datang, aliran air berjalan lancar,” imbaunya. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Waspada, 5 Kecamatan di Rembang Ini Dipetakan Rawan Puting Beliung

Puting Beliung

REMBANG – Peralihan musim memasuki musim hujan, rawan berbagai bencana, salah satunya angin puting beliung. Sedikitnya ada lima kecamatan di Rembang, yang harus mewaspadai ancaman angin puting beliung.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Suharso mengatakan lima kecamatan di Rembang dipetakan rawan bencana puting beliung. ”Kelima wilayah tersebut yaitu Kecamatan Sumber, Kecamatan Kaliori, Kecamatan Pamotan, Kecamatan Lasem, dan Kecamatan Sulang,” ungkapnya ketika dihubungi MuriaNews, Senin (16/11/2015).

Suharso meminta masyarakat untuk mencermati perubahan cuaca. Kalau pagi hari tampak cerah, namun tiba-tiba menjadi mendung pada siang hari, maka berpotensi bencana puting beliung dan ancaman petir.

”Masyarakat yang sedang beraktivitas di ruang terbuka dan langsung berhadapan angin, harap waspada dengan kondisi seperti itu. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera menyelamatkan diri,” himbau Suharso.

Selain meminta masyarakat untuk mewaspadai cuaca, Suharso juga mengajak masyarakat untuk memperhatikan lingkungan di sekitar. ”Bagi masyarakat yang ada pohon di sekitar rumahnya, harap segera di potong jika sudah rapuh,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Ini Daerah di Kudus yang Rawan Diserang Angin Kencang

Puting Beliung

 

KUDUS – Memasuki musim hujan, biasanya ditandai dengan musim pancaroba. Dalam musim tersebut, biasanya ditandai dengan adanya hujan yang disertai angin kencang yang berpotensi bencana.

Kejadian tersebut terjadi beberapa waktu yang lalu, seperti misalnya di Kecamatan Undaan. Akibat puting beliung yang menerpa daerah tersebut, beberapa atap rumah terbang terbawa angin.

Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan, mengatakan, hujan angin yang terjadi pada setiap pancaroba sudah tiba. Beberapa daerah sudah menjadi korban sepeti halnya di Undaan.

“Ada beberapa desa degan jumlah puluhan rumah. Seperti di Desa Kutuk, Larikrejo, Undaan Lor dan daerah lainnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Hal itu dapat terulang dengan skala ringan sampai sedang. Hujan yang deras disertai angin masih akan terjadi selama beberapa hari ke depan.

“Perkiraan musim hujan jatuh pada pekan akhir bulan ini. Jadi akan ada panca roba atau hujan yang disertai angin kencang. Untuk itu masyarakat harus tetap waspada,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Mahasiswa Gagas Rumah Antiputing Beliung untuk Warga Gempolsari Pati

Sejumlah arsitek UPGRIS membantu membangun rumah antiputing beliung milik Sugiyanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah arsitek UPGRIS membantu membangun rumah antiputing beliung milik Sugiyanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sugiyanto dan keluarganya, warga Desa Gempolsari, Kecamatan Gabus terpaksa hidup di tenda yang dibuat dengan terpal selama tiga pekan sejak rumahnya dihantam angin puting beliung hingga rata dengan tanah.

Beruntung, sejumlah mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang kebetulan sedang melaksanakan kegiatan KKN-PPM di desa tersebut melapor ke pihak kampus. Sontak, mahasiswa bersama pihak kampus punya gagasan untuk membantu Sugiyanto dengan membuat rumah tahan antiputing beliung.

Gagasan itu direalisasikan pada Senin (12/10/2015) yang ditargetkan selesai dalam waktu satu bulan. Pembangunan itu mendapatkan dana dari UPGRIS sebesar Rp 15 juta, Pemkab Pati Rp 5 juta dan salah satu bank lokal Rp 2 juta.

“Saya merantau di Palembang dan langsung pulang setelah ada kabar rumah saya dihantam angin. Saya dan keluarga akhirnya membuat tenda untuk hidup sementara. Kami memang berharap agar ada bantuan,” ujar Sugiyanto kepada MuriaNewsCom.

Dengan rumah antiputing beliung, ia berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali. “Ini nantinya juga menjadi percontohan bagi tetangga yang ingin membangun rumah tahan puting beliung. Bukan bermaksud melawan alam, tetapi sebagai antisipasi terhadap kemungkinan buruk,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Angin Puting Beliung Ngamuk, Satu Rumah di Gempolsari Pati Luluh Lantak

puting-beliung

Sejumlah warga Gempolsari tengah mengevakuasi rumah Sugianto yang rata dengan tanah setelah diterjang angin puting beliung. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Nasib nahas menimpa Sugianto (45), warga Desa Gempolsari RT 5 RW 3, Kecamatan Gabus, Pati. Rumahnya hancur luluh lantak, setelah angin puting beliung “mengamuk” dan memporak-porandakan seluruh bagian rumah.

Kejadian itu berlangsung pada Selasa (22/9/2015) sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, Suyati (35), istri Sugianto hendak keluar untuk menjemput anaknya. Tiba-tiba saja, ada suara gemuruh angin kencang.

“Saya mau menjemput anak di sekolah. Waktu hendak mengeluarkan rumah, tiba-tiba saja ada suara gemuruh dan seketika rumah bagian belakang saya ambruk menjalar hingga ke depan,” ujarnya saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Kali ini, keberuntungan memihak pemilik rumah. Kendati rumahnya luluh lantak dihajar amukan angin puting beliung, ia masih sempat menyelamatkan diri. “Alhamdulillah, Tuhan masih menolong saya. Kayu rumah yang runtuh tidak menimpa saya,” pungkasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)