Dianggap Pengganggu, Satpol PP Kudus Gencar Razia Anak Jalanan

anak jalanan e

Sejumlah anak jalanan saat dirazia Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan razia yang ditujukan kepada anak jalanan, belakangan di tingkatkan. Hal itu terkait dengan adanya laporan dan keluhan masyarakat keberadaan anak jalanan di Kudus.

Supriyadi, petugas Satpol PP mengatakan kegiatan patroli dilakukan tiap hari. Bahkan bukan hanya siang hari, melainkan pada malam hari juga dilakukan patroli.

“Keberadaan anak.jalanan belakangan sangat banyak, sehingga banyak yang merasa terganggu keberadaannya. Sehingga, sudah menjadi tugas kami untuk menindaknya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, para anak jalanan dianggap menunggu karena suka berbuat seenaknya. Mereka juga bergerombol dan terlihat seperti “preman”. Itulah yang membuat masyarakat takut, terlebih dengan dandanan yang terkesan sangar.

Banyaknya anak jalanan terlihat dari banyaknya yang ditangkap. Selama bulan ini, lebih dari 10 anak jalanan yang sudah diamankan. Semuanya sudah diberikan pembinaan dan dibuatkan perjanjian untuk tidak mengulanginya lagi.

Kasi Tibum Tranmas Satpol PP Kudus Sukrin S mengungkapkan, hampir tiap pekan selalu mendapatkan anak jalanan dalam razia yang dilakukan. Semuanya, langsung diberikan pembinaan dan untuk diberikan kepada Dinsos untuk pembinaan lanjutan.

“Rata-rata orang Kudus, meskipun terdapat yang luar kota namun mereka bergerombol,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Cerita Miris Anak Jalanan Putri di Kudus Ini

miris (e)

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Anak jalanan yang ditangkap Satpol PP Kudus belakangan, bukan hanya pria, namun juga terdapat anak jalanan berjenis kelamin perempuan, yang juga ditertibkan.

Ironisnya, anak jalanan perempuan ada yang mengaku sudah tidak perawan lagi. Padahal masih di bawah umur. Parahnya lagi, anak jalanan tersebut mengaku melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sesama anak jalanan.

Supriyadi, petugas Satpol PP Kudus menerangkan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan ditemukan hal demikian. Kebanyakan mereka yang sudah tidak perawan melakukan hubungan badan dengan paksaan, atau tidak sadarkan diri.

“Ada yang diberikan minuman dulu, ada pula yang dipaksa temannya hingga akhirnya suka sama suka,” katanya kepada MuriaNewsCom

Seperti misalnya Kembang (bukan nama sebenarnya), juga mengalami hal semacam itu. Dia yang baru berusia 14 tahun harus merelakan keperawanan oleh teman sesama anak jalanan lantaran mabuk.

Dia merupakan warga Kudus, Kecamatan Kota. Dihadapan petugas, kata Supriyadi, Kembang menangis dan menyesal telah berbuat hingga sejauh itu.

“Bahkan ada yang sampai perut nya sudah besar, kami memberikan pengarahan kalau hal itu salah. Bahkan bisa berdampak fatal di kemudian hari,” ujarnya.

Dia berharap hal itu tidak akan terulang sehingga tidak ada yang dirugikan atau penyesalan di kemudian hari.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Aksi Kejar-kejaran Warnai Penangkapan 3 Anak Jalanan di Kudus

Tiga anak jalanan yang berhasil diamankan dengan susah payah dimintai keterangan oleh petugas Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Tiga anak jalanan yang berhasil diamankan dengan susah payah dimintai keterangan oleh petugas Satpol PP Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tiga anak jalanan yang diamankan Satpol PP Kudus pagi tadi, sebelumnya tidak langsung tertangkap. Petugas pun harus melakukan kejar kejaran terlebih dahulu hingga menjadi pusat perhatian warga sebelum diamankan.

“Para anak jalanan tersebut lari dan masuk ke perkampungan hingga dekat dengan sekolah. Hal itu membuat siswa dan guru sampai keluar untuk menyaksikan hal tersebut,” kata Kasi Tibum Tranmas pada Satpol PP Kudus Sukrin S kepada MuriaNewsCom

Ketiga anak jalanan tersebut tertangkapnya tempat yang berbeda. Mereka berlarian untuk menyebabkan diri, meski pada akhirnya masih tertangkap petugas.

Seperti halnya MAC (17) asal Puri, dia lari hingga masuk rumah warga dan bersembunyi di belakang pintu. Namun petugas yang mengetahuinya langsung membawanya ke kantor untuk diberikan pembinaan.

Sedangkan AS (16) perempuan asal Grobogan lebih malah lebih parah lagi. Saking takutnya dengan petugas, dia lari terbirit birit hingga masuk kamar warga. Beruntung penilik rumah tidak meneriakinya maling sehingga petugas dapat mengamankannya.

”Kalau yang paling kecil DIR (14) juga tak kalah lucu. Dia bersembunyi dibalik pot bunga yang banyak bunga. Petugas mendapatkannya lantaran jambul rambut yang berwarna merah kelihatan,” imbuhnya

Sebenarnya, anak jalanan yang berhamburan sejumlah lima anak. Namun, yang tertancap hanya tiga dan dua lainnya berhasil mengamankan diri.

”Operasi itu kami lakukan Dalam rangka menyelenggarakan tibum dan tranmas sesuai amanat pasal 225 ayat (1) UU nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, telah melakukan patroli rurin. Selain itu, juga sesuai amanat pasal 255 ayat (1) UU nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Kena Razia Satpol PP, 3 Anak Jalanan di Kudus Dihukum Jalan Sambil Jongkok 

Video – Kena Razia Satpol PP, 3 Anak Jalanan di Kudus Dihukum Jalan Sambil Jongkok

 

MuriaNewsCom, Kudus – Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) kembali mengamankan tiga anak jalanan saat melakukan giat operasi PGOT, Jumat (13/5/2016), pagi tadi. Ketiga anak jalanan yang tertangkap, dihukum petugas dengan cara disuruh jalan sambil jongkok.

Supriyadi, petugas Satpol PP yang melakukan razia mengatakan, ketiga anak jalanan diberikan hukuman bukanlah tanpa sebab. Hal itu dilakukan untuk memberikan efek jera agar anak jalanan kapok.

”Memang kami berikan hukuman agar dapat berubah. Jadi supaya mereka kapok sehingga tidak lagi menjadi anak jalanan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ia menyebutkan, ketiga anak jalanan ditangkap di jalan Ahmad Yani, sekitar pabrik Djarum. Ketiga anak jalanan yang ditangkap itu, terdiri dari dua anak laki laki dan satu perempuan.

Ketiga anak jalanan tersebut, adalah MAC (17) warga Puri, Kabupaten Pati. AS (16) perempuan asal Grobogan, dan DIR (14) asal Grobogan. Mereka mengaku menjadi anak jalanan dengan tujuan mau ke Jepara.

“Jadi saat patroli rutin pagi tadi, malah menjumpai mereka, akhirnya kami menangkap mereka karena meresahkan masyarkat. Laporan terkait urat juga sering muncul,” imbuhnya.

Sementara itu, DIR anak jalanan paling kecil mengaku memilih menjadi anak jalanan setelah dibujuk AS. ”Saya dibujuk AS, katanya dengan menjadi anak jalanan bisa mudah kemana saja,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Puluhan Anak Jalanan dan Janda di Kudus Diberi Ketrampilan

Puluhan anak jalanan diberi pengarahan sebelum mengikuti kursus ketrampilan yang digelar Dinsosnakertrans, Rabu (11/5/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Puluhan anak jalanan diberi pengarahan sebelum mengikuti kursus ketrampilan yang digelar Dinsosnakertrans, Rabu (11/5/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan anak jalanan dan janda di Kabupaten Kudus diberi  ketrampilan khusus oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kudus, Rabu (11/5/2016). Hal itu dilakukan sebagai bentuk pembinaan untuk mengurangi banyaknya anak jalanan yang mengadu nasib di jalan.

Kabid Sosial S Trimo mengatakan, para anak jalanan dan janda di Kudus dibekali keterampilan yang berbeda. Untuk anak jalanan, ketrampilan yang diberikan adalah keterampilan menjahit. Sedangkan untuk para janda, keterampilan yang diberikan adalah tata boga

”Kami bekerjasama dengan LPK di Kudus. Jadi materi yang diberikan sudah teruji, meski baru tingkatan dasar karena sebelum nya belum pernah,” katanya kepada MuriaNewsCom

Pelaksanaan pelatihan, dimulai hari ini dengan pembukaan yang dilakukan oleh Dinsos Jateng di yayasan Al Fatah Kota. Lamanya waktu pelatihan juga berbeda, untuk pelatihan menjahit, diberikan waktu pelatihan selama 10 hari. Sedangkan, untuk pelatihan bagi para janda diberikan selama tujuh hari.

Lamanya waktu pelatihan tersebut, dianggap ideal untuk melaksanakan pelatihan. Terlebih, pelatih juga bidang handal didalam bidangnya yang bergelut di LPK. Sehingga para peserta langsung praktik.

”Kalau anak jalanan ada 45 orang.  Sedangkan Janda atau ekonomi lemah yang didominasi janda sejumlah 50 orang,” ungkapnya.

Diberikannya latihan bukanlah tanpa alasan. Melainkan dapat membantu ekonomi keluarga. Khususnya para janda yang ditinggal meninggal suaminya dan menjadi tulang punggung keluarga.

Editor: Supriyadi