Diduga Tampar PNS, 2 Pasal Menanti Mantan Anggota DPRD Pati

Kapolsek Gembong AKP Sugino saat memberikan keterangan terkait dengan dugaan penganiayaan yang dilakukan mantan anggota DPRD Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Gembong AKP Sugino saat memberikan keterangan terkait dengan dugaan penganiayaan yang dilakukan mantan anggota DPRD Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Proses pemberhentian operasi swalayan Alfamart di Desa Gembong RT 3 RW 9 lantaran hanya mengantongi izin toko kelontong, Sabtu (28/5/2016) berujung pada pelaporan kepada polisi. Pasalnya, mantan anggota DPRD Pati berinisial Kh diduga melakukan pemukulan pada Kasitramtib Kecamatan Gembong, Isworo usai bertugas menutup sementara Alfamart.

Isworo menuturkan, penganiayaan itu menimpa dirinya di depan umum, mulai dari Camat Gembong dan aparat keamanan seperti polisi dan TNI. Insiden itu cukup disayangkan, karena seorang tokoh yang pernah menjabat sebagai wakil rakyat berbuat kekerasan di depan aparat keamanan.

“Kami sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sudah disumpah untuk tidak membeda-bedakan masyarakat. Kalau izinnya toko kelontong, ya harus toko kelontong. Jangan kemudian berbelit-belit, permohonan izin kelontong tapi realitasnya Alfamart. Sebagai keamanan, saya memastikan camat saya aman saat penertiban Alfamart berlangsung,” ungkap Isworo, Selasa (31/5/2016).

Sementara itu, Kapolsek Gembong AKP Sugino mengaku sudah menerima laporan Isworo. Bila alat bukti memenuhi, Kh bisa dikenakan Pasal 352 KUHP karena melakukan penganiayaan.

Selain itu, Kh juga bisa terancam pasal 212 KUHP karena menghalang-halangi PNS yang sedang bertugas. “Kemungkinan ada dua pasal yang mengancam pelaku, yaitu penganiayaan atau menghalang-halangi PNS,” tutur Sugino.

Saat ini, para saksi dinyatakan sudah kuat terkait dengan dugaan penganiayaan yang dilakukan Kh. Kendati begitu, pihaknya masih menunggu hasil visum dari dokter Puskesmas.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Alfamart di Dekat Pasar Tradisional  Gembong Pati Ditolak Pedagang 

Seorang warga naik sepeda motor, usai belanja di toko modern Alfamart yang ditutup sementara karena tidak kantongi izin toko modern. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang warga naik sepeda motor, usai belanja di toko modern Alfamart yang ditutup sementara karena tidak kantongi izin toko modern. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Seguyub Rukun Pegadang Pasar Gembong Pati (Serupa Sagemati) menolak adanya toko modern Alfamart yang berdiri di dekat pasar tradisional. Hal itu dikhawatirkan akan mengancam keberlangsungan pedagang tradisional.

“Jelas keberatan, karena dekat dengan pasar. Apalagi izinnya kelontong, tiba-tiba malah Alfamart. Paguyuban merasa keberatan, karena dekat pasar sehingga dampaknya besar bagi pedagang,” ujar Ketua Serupa Sagemati, Sahri, Senin (30/5/2016).

Ada tiga tuntutan yang dilayangkan Serupa Sagemati, yaitu toko dilarang menggunakan cat ciri khas Alfamart, struk belanja Alfamart, dan plastik pembungkus Alfamart. Tuntutan itu tertuang dalam Surat Penolakan Toko Swalayan Alfamart yang diberikan kepada Camat Gembong.

“Surat itu kami buat dengan penuh kesadaran tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Karena itu, kami tolak keberadaan Alfamart yang berada di Desa Gembong RT 3 RW IX yang izin usahanya bukan Alfamart,” imbuh Sahri.

Hal itu diamini Camat Gembong Edwin Riyono Chris Indianto. Ia mengaku didesak warga untuk menutup sementara toko modern yang berada di dekat pasar tradisional tersebut.

“Kami tidak melarang toko modern berdiri di situ, asalkan memenuhi syarat sebagai toko modern. Tapi nyatanya, pemilik toko menipu kami dengan izin toko kelontong. Realitasnya, pemilik buka toko modern dengan branding Alfamart,” kata Edwin.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Alfamart di Gembong Pati Ternyata Izinnya Toko Kelontong

Jpeg

Alfamart di dekat pasar tradisional Gembong masih beroperasi dengan logo Alfamart ditutup kain putih, lantaran tidak mengantongi izin toko modern. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Minimarket Alfamart yang berada di dekat Pasar Gembong ditutup paksa, lantaran pengajuan izin awalnya adalah toko kelontong. Logo Alfamart pun ditutup kain putih hingga pemilik Alfamart mengantongi izin toko modern.

Camat Gembong Edwin Riyono Chris Indianto kepada MuriaNewsCom, Senin (30/5/2016) mengatakan, Suwarti sebagai pemilik Alfamart awalnya mengajukan izin akan mendirikan toko kelontong yang berada sekitar 20 meter dari pasar tradisional Gembong. Namun, toko yang semula izinya toko kelontong ternyata Alfamart.

Sontak, sikap tersebut membuat pemerintah kecamatan geram dan meminta kepada pemilik untuk memperbaiki izin. “Pengajuan izin awalnya toko kelontong, sehingga tidak masalah karena berdekatan dengan pasar tradisional. Tidak tahunya, tiba-tiba yang berdiri adalah Alfamart,” tutur Edwin.

Ia menambahkan, pemerintah kecamatan melarang Alfamart tersebut beroperasi sepanjang pemiliknya belum mengajukan izin usaha toko modern (IUTM) sesuai dengan Perbup Nomor 60 Tahun 2012 tentang Penataan Minimarket. Akibatnya, operasional Alfamart di Gembong tidak diperbolehkan menggunakan plastik, struk, dan semua barang Alfamart.

Namun, per Senin (30/5/2016), toko tersebut masih nekat buka dengan sistem operasi komputer Alfamart. Sejumlah konsumen beberapa kali terlihat belanja di toko tersebut yang saat ini sudah tidak menggunakan brand Alfamart pada bagian depan.

Sementara itu, pemilik Alfamart tidak ada di tempat saat dicoba dikonfirmasi MuriaNewsCom. Karyawan pun enggan memberikan nomor telepon pemilik. “Tadi pagi di sini, tapi dia baru saja pergi,” paparnya singkat.

Editor : Akrom Hazami