Pameran Batu Akik di Purwodadi Diserbu Pengunjung

Suasana pameran batu akik di Gedung Wisuda Budaya Purwodadi yang mulai diserbu pengunjung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Suasana pameran batu akik di Gedung Wisuda Budaya Purwodadi yang mulai diserbu pengunjung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Pameran batu akik yang mulai dilangsungkan di Gedung Wisuda Budaya Purwodadi hari ini, ternyata diminati banyak orang. Hal ini, bisa dilihat dengan banyaknya pengunjung pameran batu akik yang digelar hingga Rabu (21/10/2015) mendatang. Dari catatan panitia, jumlah pengunjung pameran hari pertama berkisar 500 orang.

”Pengunjung hari pertama ini memang sudah cukup menggembirakan. Dari sini bisa kita lihat kalau penggemar batu akik di Purwodadi ternyata cukup besar,” kata Ketua Panitia Pameran Akik Sutrisno.

Menurutnya, ada 50 stan peserta dalam pameran tersebut. Selain dari Purwodadi, peserta pameran juga datang dari luar kota. Seperti Solo, Pati, Kudus, Wonogiri, Semarang, Blora, dan Pacitan. Hadirnya peserta pameran dari luar kota itu membuat pengunjung makin leluasa memilih motif batu akik yang diinginkan.

Acara pameran dilakukan dalam rangkaian peringatan HUT Ke-70 Tentara Nasional Indonesia. Pameran tersebut dibuka secara resmi oleh Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning sekitar pukul 11.00 WIB.

Selain pameran, dalam ajang itu juga dibuka kontes batu akik dengan beberapa kategori lomba. Yakni, batu akik motif atau gambar serta kategori nonmotif. Ada puluhan peserta yang ambil bagian dalam kontes berhadiah piala dari batu ini.

Sutrisno menambahkan, adanya pameran ini diharapkan bisa menjadi ajang silaturahim para pecinta batu akik di Grobogan. Selain itu, ajang ini juga digunakan pecinta batu untuk mengetes koleksinya melalui laborat yang disediakan dalam pameran. (DANI AGUS/TITIS W)

Gara-gara Akik, Cucu Aniaya Kakek Sampai Terluka Parah

jelang persidangan putusan kasus cucu aniaya kakek gara-gara akik di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

jelang persidangan putusan kasus cucu aniaya kakek gara-gara akik di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pamor akik ternyata tak selalu membawa keuntungan. Justru di Jepara ini, hanya gara-gara akik, seorang pemuda tega menganiaya kakeknya sendiri hingga terluka parah.

Dia adalah Rifan suudi (24), warga desa Beringin Rt 5, Rw 3, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Rifan tega menganiaya kakeknya sendiri bernama Kaskmuni (75).

Penganiayaan tersebut dilakukan pada minggu 14 Juni 2015 lalu, sekitar pukul 16.30 WIB di kediaman korban. Kasus tersebut telah dilaporkan ibu kandung pelaku sendiri ke pihak kepolisian.

Saat ini kasus tersebut sudah melalui beberapa persidangan, dan hari ini dijadwalkan sidang putusan terhadap terdakwa.

Jaksa Penuntut Umum pada kasus ini, Basuki Eko Y mengatakan, pelaku atau terdakwa memang melakukan kekerasan kepada kakeknya sendiri lantaran tak diberi akik oleh kakeknya.

“Kronologinya, korban duduk di rumah, kemudian datang terdakwa. Terdakwa merebut akik milik korban dengan mengancam milih mati atau milih hidup dengan menyerahkan akik. Namun korban menolak kemudian terjadi tarik menarik dan pemukulan dengan tangan kosong dan dengan pecahan genteng hingga korban terluka berat,” kata Basuki.

Sampai saat ini, proses persidangan baru akan dimulai. Terdakwa dituntut sekitar enam bulan penjara dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga, yakni pasal 44 ayat 1 UU nomor 23 tahun 2014. Sesuai jadwal, persidangan ini akan dipimpin hakim Kun Triharyanto. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Mau Tau Harga Akik Khas Jepara? Ini Dia…

Beberapa jenis akik yang dibuat Bagong menjadi cincin akik siap pakai yang berharga bervariasi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Beberapa jenis akik yang dibuat Bagong menjadi cincin akik siap pakai yang berharga bervariasi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Batu mulia alias akik khas kota ukir Jepara ditemukan oleh salah seorang warga Desa Krapyak Kecamatan Tahunan Jepara, Joko Pramono alias Bagong beberapa waktu lalu. Setelah kabar tersebut beredar, tak sedikit yang penasaran dengan harga akik yang masih cukup langka itu.

Bagong membeberkan, harga yang dipatok untuk batu mulia khas Jepara itu bervariasi, mulai dari harga yang murah hingga harga yang termahal, bahkan ada yang tak ternilai harganya.

”Harganya macem-macem, ada yang Rp 50 ribu dan ada yang jutaan,” kata Bagong kepada MuriaNewsCom.

Menurut Bagong, harga batu yang dia temukan di kawasan pegunungan Clering Kecamatan Donorojo itu berdasarkan beberapa hal. Di antaranya, berdasarkan motif dari batu itu sendiri, ukuran batu, dan nilai sejarah atau pengalaman yang dia dapat ketika menemukan batu tersebut.

”Misalkan untuk batu khas Jepara motif lapis. Bongkahan batu se-kilogramnya antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribuan. Sedangkan yang jenis giok, bongkahan kecil bisa mencapai Rp200 ribuan,” ungkap Bagong.

Lebih lanjut Bagong mengemukakan, untuk bongkahan yang sangat besar dihargai jutaan rupiah. Sedangkan untuk harga batu yang sudah berbentuk cincin dan siap pakai, dirinya juga mematok harga yang cukup variatif.

”Kalau sudah jadi cincin akik, selain mempertimbangkan motif, ukuran dan lainnya, saya juga pertimbangkan tingkat kesulitan pembuatannya,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika sudah menjadi cincin, ada tambahan harga untuk emban, dan jasa pembuatannya. Untuk emban yang jenis titanium dihargai Rp 35 ribu, dan untuk jasa sendiri sekitar Rp 25 ribuan.

”Jadi, kalau sudah bentuk cincin akik, harga batu ditambah harga emban dan jasa pembuatannya,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)