Air Sungai Menghitam, Maryanto Pilih Buang Limbah Tahu Tempe ke Sawah

Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, mengangkut limbah mereka ke sawah, menggunakan tong plastic. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, kini memilih membuang limbah mereka ke sawah, daripada dialirkan ke alur Sungai Pecangaan yang juga melintasi Sungai Gede Karangrandu.

Selain menghindari dampak cemaran limbah, hal itu juga dilakukan untuk menhindari adanya potensi konflik dengan warga yang berada di sekitar bantaran sungai.

“Saat ini limbah saya bawa ke sawah milik ayah saya, kemudian di buang kesana. Baru beberapa hari ini. Saya angkut menggunakan tong plastik berukuran besar, lalu dinaikan menggunakan truk atau pikap,” kata Ahmad Maryanto, seorang perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan, Senin (28/8/2017). 

Ia mengatakan, langkah yang ditempuhnya saat ini merupakan inisiatif pribadi. Hal itu karena beberapa warga yang tinggal di sekitar bantaran sudah mengeluhkan bau yang ditimbulkan. 

Maryanto mengatakan, pembuangan limbah tahu-tempe di aliran sungai sudah dilakukan beberapa tahun terakhir.

Hal itu sebenarnya tak menjadi masalah kala saat musim hujan, karena air hujan melarutkan limbah. Namun di kala kemarau seperti, debit air yang menurun dan panas yang menerpa menjadikan sisa produksi tahu tempe tak bisa mengalir lancar. Akibatnya, bau pun meruap. 

Dirinya mengatakan, kapasitas produksi tahu tempe perhari mencapai 2 ton. Adapun limbah yang dihasilkan mencapai 15 tong besar. 

“Kalau kemarin diangkut pakai truk 15 ton bisa sekali angkut. Namun karena truknya saat ini sedang di bengkel, maka dari itu saya gunakan pikap, ya sekali angkut paling-paling tujuh tong harus bolak-balik,” terang dia.

Ditanya mengenai efek limbah yang dibuang ke sawah Maryanto meyakinkan bahwa limbah organik tersebut tak berpengaruh pada ekosistem sawah. Hal itu karena, limbah tahu tempe termasuk organik.

“Bahkan Pak Kades Pecangaan Wetan meminta supaya dibuang ke lahan sawah miliknya. Namun untuk saat ini saya buang ke sawah milik ayah saya dulu,” urainya. 

Terakhir ia mengharapkan agar pemerintah dapat membantu perajin tahu dan tempe dalam mengatasi limbah.

“Harapannya dikasih mobil tanki atau tankinya saja juga tidak apa-apa, setelah itu limbahnya tidak lagi dibuang ke sungai, tapi di tempat lain,” pinta Maryanto.

Editor : Ali Muntoha

Warga di Sekitar Sungai yang Airnya Menghitam Diberi Bantuan Air Bersih

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara langsung mengambil tindakan, merespon kondisi Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. Bupati Jepara Ahmad Marzuqi lantas mengintruksikan untuk memperlancar aliran sungai dan melakukan droping air bersih, untuk kebutuhan warga. 

“Langkah jangka pendek, kami perintahkan agar bendungan di bendung Karangrandu agar dibuka. Sementara untuk mengatasi kebutuhan air bersih kami menyediakan air yang nantinya akan disuplai dari BPBD dan PDAM Jepara, banyaknya nanti menyesuaikan kebutuhan dari warga,” katanya, saat inspeksi penyebab menghitamnya Sungai Gede Karangrandu, Sabtu (19/8/2017) siang. 

Ia mengatakan, langkah tersebut untuk mengatasi keluhan warga Desa Karangrandu yang airnya menjadi hitam dan berbau, sebulan belakangan.

Terkait anggaran untuk droping air, pihaknya akan menggunakan dana yang telah diposkan untuk penanggulanan krisis air yang ada di BPBD Jepara. 

Direktur PDAM Jepara Prabowo mengatakan, pihaknya siap untuk melaksanakan droping air kepada warga Karangrandu. “Kami siap untuk droping air kepada warga, sudah disiapkan tangkinya, tinggal nanti kalau ada calling (perintah) kita langsung berangkat,” tuturnya. 

Editor : Ali Muntoha