Jepara Raih Adipura 13 Kali Berturut-turut

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menerima Anugerah Adipura Kencana. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara kembali meraih Piala Adipura untuk ke-13 kali berturut-turut. Sebagai bentuk syukur, piala di bidang kebersihan lingkungan kabupaten itu diarak dari Welahan hingga Kompleks Pendapa Kabupaten Jepara, Kamis (3/8/2017). 

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengucap syukur dan berbangga atas capaian yang diraih. Namun demikian, pihaknya masih menyimpan harapan untuk menyabet piala Adipura Kencana, sebagai bentuk penghargaan tertinggi di bidang kebersihan lingkungan.

“Kami tetap mengapresiasi diperolehnya Piala Adipura biasa ini dan tentu saja di syukuri. Lebih lanjut kami mengucapkan banyak terima kasih atas kerja keras dinas terkait petugas kebersihan hingga tingkat kelurahan sampai RT dan RW juga seluruh warga Jepara,” ungkap Marzuqi.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jepara Pratikno mengatakan agar perolehan tersebut tak membuat Pemkab Jepara terlena. Ia mengungkapkan, piala itu bukanlah alat ukur kemajuan suatu daerah. 

Namun demikian, kami tetap mengapresiasi capaian Pemkab Jepara yang memeroleh Adipura. Sebab tidak mudah dari sisi penilaian yang ketat. Sehingga kita harus bekerja keras untuk meningkatkan prestasi,” tutup Pratikno

Editor : Akrom Hazami

 

KUDUS HEBAT, Kini Berhasil Raih Penghargaan Adipura Kencana 

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memberikan penghargaan Adipura Kencana kepada Bupati Kudus Musthofa di Jakarta. (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus berhasil meraih penghargaan Adipura Kencana. Penghargaan bergengsi tersebut diterima Bupati Kudus Musthofa di Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Jakarta, Rabu (3/8/2017).

Dengan penyerahannya langsung dilakukan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Diketahui, penghargaan ini merupakan Adipura tertinggi. Di Jawa Tengah, hanya Kudus yang berhasil meraihnya.

Informasi yang dihimpun bahwa kabupaten atau kota yang masuk dalam nominasi peraih Anugerah Adipura Kencana ini diharapkan tidak hanya bisa menyelesaikan berbagai isu lingkungan hidup sekarang. Seperti pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran dan ruang terbuka hijau (RTH).

Diharapkan pula, kota dan kabupaten peraih nominasi berinovasi di bidang pengelolaan sampah dan RTH. Tidak hanya itu, diharapakan mampu pula membuat sistem pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energi baru terbarukan, penurunan ketimpangan ekonomi, dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Kudus meraih penghargaan bergengsi juga tak lepas dari raihan sebelumnya seperti pernah meraih Anugerah Adipura sebelumnya minimal tiga kali berturut-turut.

Bupati Kudus Musthofa tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Dia merasa bangga dengan apa yang diraih kabupaten yang dipimpinnya itu. Penghargaan bukanlah keberhasilan kepala daerah, melainkan hasil kinerja bersama. “Terima kasih seluruh jajaran OPD kami bersama partisipasi seluruh masyarakat,” kata Musthofa.

Dalam sambutannya Presiden RI Jokowi mengingatkan pentingnya menjaga hutan dan lingkungan. Selain memperoleh lingkungan yang sehat, tentu ada manfaat secara ekonomi yang bisa didapat.

“Kalau hutan di negara lain bisa memakmurkan. Tentunya di negara kita seharusnya juga bisa,” kata Jokowi.(nap)

Editor : Akrom Hazami

Gara-gara TPA, Dinas LH Was-was Rembang Tak Bisa Raih Adipura

Beberapa petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rembang sedang memantau pengerukan air resapan sampah di TPA Landoh. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan poin penilaian Adipura (Edy Sutriyono/MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rembang masih was-was jika pada 2017 ini, Rembang tak bisa meraih piala Adipura. Hal ini terkait dengan keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Landoh, Kecamatan Sulang.

Dari hasil pemantauan pertama (P1) oleh tim penilai Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan akademisi pada Oktober 2016 silam, TPA Landoh mendapatkan poin 71.04. Hal itu dinilai masih kurang maksimal.

“Sebenarnya poin akumulatif yang ditentukan oleh kementerian supaya dapat penghargaan Adipura itu sekitar 73 poin. Dari hasil P1 TPA Landoh dapat 71,04 poin, kemudian pemantauan di pusat kota, baik jalan protokol, ruang terbuka hijau dan sejenisnya dapat 75.45 poin,” ujar Andreas Edy G, Kabid Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbaya Beracun dan Peningkatan Kapasitas pada DLH Rembang.

Dengan kondisi ini, nantinya, saat verifikasi dari tim akan ditingkatkan lagi kebersihannya. Meski masih was-was, pihaknya masih optimis jika nantinya Rembang bisa masuk nominasi penyabet penghargaan Adipura dan masuk urutan 6 se-Jawa Tengah dengan kriteria kota kecil.

Dia menambahkan, untuk penilaian Adipura, tahun ini dengan sebelumnya itu sangat berbeda. Yakni, bila di tahun sebelumnya ada pemantauan pertama dan kedua, tahun ini hanya ada pemantauan pertama saja.

“Setelah itu, hasil pemantauan pertama tadi dijadikan bahan verifikasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Nah, setelah mendapatkan nominasi, maka pihak Pemkab Rembang akan dipanggil kementerian untuk memaparkan poin-poin yang sudah dinilai tersebut,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Mimpi Kudus Raih Adipura Paripurna Terhambat Pasar Kotor dan Sampah Sungai

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus, Sumiyatun bersama sejumlah anak-anak sedang menikmati taman di TPA Tanjungrejo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus memang mulai mengincar Adipura Paripurna. Anugerah Adipura tertinggi. Rupanya hal itu tak mudah, karena ada beberapa hambatan.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup, Sumiyatun menuturkan ada beberapa hambatan. Seperti sulitnya menjaga kebersihan pasar. Salah satunya Pasar Bitingan.

“Di sana (Pasar Bitingan) adalah tempat bongkar muat barang. Untuk itu kebersihan cukup susah, dan itu menjadi wewenang pihak dinas yang terkait. Tapi kordinasi juga kami lakukan,” kata Sumiyatun di Kudus, Jumat (24/2/2017).

Selain itu, ada juga masalah kebersihan sungai. Hingga saat ini, masih ada warga yang rajin membuang sampah di sungai. Padahal dampaknya adalah bencana banjir, dan lingkungan jadi kumuh.

Kawasan pinggiran kota juga kurang dipedulikan. Sampai sekarang, wilayah yang kerap diperhatikan hanya wilayah pusat kota. Untuk mengatasi hal itu semua, pihaknya menangani dengan cara yang tidak biasa.

“Kami buat lomba desa. Lomba ini dilakukan untuk menciptakan kebersihan dan keindahan di tingkat desa. Dan itu juga sudah berjalan,” ungkap dia.

Sementara itu, di antara lokasi penilaian adalah TPA. Loaksi itu menjadi tempat yang paling banyak mendapatkan nilai. Dari sekian aspek, khusus TPA menduduki penilaian hingga 11 persen. Untuk itu, penataan terus dilakukan di kawasan TPA.

Editor : Akrom Hazami

Kudus Berburu Adipura Paripurna

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus, Sumiyatun saat meninjau taman di TPA Tanjungrejo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus mulai berburu dengan mengincar penghargaan Adipura kembali, tahun ini. Berbeda dengan incaran sebelumnya, penghargaan Adipura kali ini, pemkab bertekad raih penghargaan paling tinggi, Adipura Paripurna.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus, Sumiyatun mengatakan, pihaknya berharap bisa meraih Adipura Paripurna. “Kami semangat agar bisa mendapatkan Adipura Paripurna ini,” katanya di Kudus, Jumat (24/2/2017).

Dalam aturan menyebutkan kalau penghargaan Adipura Paripurna baru didapatkan sebuah daerah setelah tiga kali berturut-turut mendapatkan penghargaan Adipura Kencana. Syarat lain adalah dengan naiknya nilai saat penilaian kali keempat.

Hanya dalam aturan juga menyebutkan kalau tanpa melalui tiga kali berturut-turut juga bisa meraih Adipura Paripurna. Syaratnya, adalah mendapatkan nilai yang bagus dan di atas rata-rata sehingga mampu setara dengan Adipura Paripurna. “Kami targetkan nilai 80, jika tercapai nantinya kemungkinan besar mendapatkan Adipura Paripurna akan terpenuhi,” ungkapnya.

Ditambahkan, keuntungan pada Kudus juga dalam hal penilaiannya. Biasanya, penilaian dilakukan selama dua kali sebelum diverivikasi oleh tim. Namun, untuk Kudus setelah penilaian pertama September lalu, tahapan berikutnya diverifikasi. Itu menjadi keuntungan karena tanpa melalui penilaian kedua. 

“Maret nanti bakal verivikasi, dan yang memaparkan di kementerian nantinya adalah beliau bapak Bupati Musthofa secara langsung,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Anggota DPRD Grobogan Dukung Penanganan Sampah Berkonsep Ramah Lingkungan

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Upaya penanganan sampah dengan konsep ramah lingkungan yang dilakukan instansi terkait mendapat dukungan dari wakil rakyat setempat. Salah satunya, datang dari Wakil Ketua DPRD Grobogan HM Nurwibowo.

“Penanganan sampah sudah jadi persoalan serius yang mesti ditangani. Tentunya, upaya yang dilakukan oleh dinas terkait akan kita dukung sepenuhnya sepanjang untuk kebaikan masyarakat,” katanya.

Dia menyadari, untuk menangani sampah dengan konsep ramah lingkungan memang butuh biaya tidak sedikit. Nantinya, dari anggota DPRD akan berupaya mendukung alokasi dana yang dibutuhkan supaya penanganan sampah bisa lebih maksimal. Tidak hanya sampah di kawasan kota saja tetapi juga di level kecamatan lainnya yang juga butuh perhatian serius. Meski memberikan dukungan, namun Nurwibowo memberikan catatan khusus dalam penanganan sampah tersebut. Hal itu semata-mata tidak dilakukan hanya demi mendapatkan piala Adipura saja. Tetapi memang untuk mengatasi persoalan sampah secara lebih luas guna menciptakan lingkungan yang sehat, rapi dan indah.

“Ada penilaian Adipura atau tidak, penanganan sampah tentu harus dilakukan sungguh-sungguh. Kalau penanganan kebersihan yang dilakukan bagus termasuk masalah sampah maka kesempatan dapat piala Adipura pasti lebih mudah. Jadi, kalau penanganan sampah tujuannya hanya untuk dapat piala Adipura malah kurang pas jadinya,” tegus politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.

Dukungan terharap penanganan sampah berkonsep ramah lingkungan juga dilontarkan Ketua Komisi B Budi Susilo. Budi menegaskan, dalam penanganan sampah, sebaiknya juga melibatkan partisipasi berbagai komponen masyarakat. “Persoalan sampah ini merupakan masalah kita bersama. Jadi, salah satu komponen penting untuk menangani sampah adalah menggugah kesadaran warga akan pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih. Baik berkaitan dengan penilaian Adipura maupun tidak,” tegasnya.

Budi menilai, penanganan sampah yang dilakukan sejauh ini memang masih perlu ditingkatkan lagi. Tidak hanya di kawasan kota tetapi juga sampah yang dibuang sembarangan di pinggir jalan raya. Seperti di Kecamatan Godong dan Gubug. Terkait dengan Piala Adipurna, sejauh ini, Grobogan sudah berhasil meraih simbol kebersihan itu sebanyak empat kali. Yakni, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Empat kali keberhasilan meraih juara itu tidak didapat dengan mudah tetapi butuh keseriusan serta persiapan yang lama.

“Untuk meraih Adipura tidak bisa dilakukan dengan instan. Jika digarap dengan sungguh-sungguh maka kesempatan mendapatkan Adipura pasti datang. Kami tentu akan mendukung upaya penanganan sampah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Selain Penataan TPA, Ini Kunci Utama Raih Adipura

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dalam beberapa tahun terakhir, kegagalan meraih Piala Adipura memang terganjal pada faktor tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.Belum dilakukannya pengelolaan sampah ramah di lingkungan di TPA, membuat skor penilaian Adipura selalu menurun. Padahal, sektor TPA ini dapat angka tinggi dalam penilaian Adipura.

 “Sekarang, kawasan TPA sudah ditata dan kesempatan untuk meraih piala Adipura kembali terbuka. Kita harapkan, pada tahun 2017, piala Adipura bisa kita raih lagi,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Untuk bisa meraih Adipura tidak sekadar konsentrasi pada TPA.  Tetapi diperlukan konsep yang jelas, terpadu dan berkesinambungan. Selain itu, ada hal lain yang lebih utama untuk dikerjakan. Yakni menggandeng semua komponen masyarakat untuk menyukseskan penilaian Adipura. Caranya, dengan meminta partisipasi masyarakat untuk menata lingkungan masing-masing agar bersih, rapi, asri serta penanganan sampahnya dilakukan dengan baik.

“Dalam penilaian Adipura faktor yang dinilai cukup banyak. Kalau bisa melibatkan semua komponen masyarakat untuk berpartisipasi maka kesempatan meraih Adipura bisa lebih terbuka. Jadi, salah satu komponen penting adalah menggugah kesadaran warga akan pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih. Baik berkaitan dengan penilaian Adipura maupun tidak,” tegas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Sejauh ini, Grobogan sudah berhasil meraih piala Adipura sebanyak empat kali. Yakni, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Empat kali keberhasilan meraih juara itu tidak didapat dengan mudah tetapi butuh keseriusan serta persiapan yang lama. “Untuk meraih Adipura tidak bisa dilakukan dengan instan. Jika digarap dengan sungguh-sungguh maka kesempatan mendapatkan Adipura pasti datang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Ahmadi Widodo menegaskan, sejauh ini, partisipasi masyarakat, khususnya di kawasan kota untuk mendukung piala Adipura dinilai sudah cukup menggembirakan. Empat kali keberhasilan meraih Adipura merupakan salah satu bukti adanya partisipasi dari berbagai elemen masyarakat. Selain menata menciptakan lingkungan, sejumlah perkampungan juga mulai mendirikan Bank Sampah. Adanya bank sampah ini menjadikan warga memilah sampah terlebih dahulu. Kemudian, sampah yang sudah dipilih ditabung di bank sampah dan sisanya baru dibuang.

“Secara umum, konsep bank sampah itu cukup simpel. Yakni, masyarakat menyetorkan sampah yang sudah dipilah di rumah ke bank sampah. Mereka ini tidak mendapatkan uang tunai ketika menyetorkan sampah tetapi uang itu masuk dalam rekening tabungan bank sampah. Selain dapat penghasilan, melalui bank sampah ini bisa mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA,” jelasnya.

Sejauh ini, sudah ada beberapa kampung yang punya Bank Sampah. Selain itu, ada pula Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di berbagai tempat. Anggota KSM ini juga melakukan pemilihan sampah yang masih bisa punya nilai ekonomi. Di samping itu, berbagai pelatihan kerajinan dari bahan bekas juga sudah seringkali diberikan pada berbagai komponen masyarakat. Termasuk pada kalangan pelajar.

Editor : Akrom Hazami

 

Penanganan TPA Model Open Dumping jadi Penyebab Utama 

Pekerja memilah sampah di TPA sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pekerja memilah sampah di TPA sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom , Grobogan – Upaya meraih penghargaan bidang kebersihan berupa Piala Adipura memang sudah pernah diraih Pemkab Grobogan. Tidak hanya sekali tetapi empat kali. Masing-masing, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Keberhasilan meraih prestasi itu bahkan sudah diabadikan dalam bentuk tugu Adipura di jalan A Yani Purwodadi, tepatnya di perempatan Nglejok, Kelurahan Kuripan.

Dalam penilaian tahun 2014, 2015, dan 2016, piala Adipura gagal diraih lagi. Pada penilaian yang dilakukan tiga tahun tersebut, Kota Purwodadi yang jadi ibukota Kabupaten Grobogan hanya menempati urutan papan tengah dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Salah satu penyebabnya adalah rendahnya poin penilian pada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi. Pasalnya, pengelolaan TPA masih dilakukan secara konvensional dan belum memenuhi persyaratan ramah lingkungan lantaran pengelolaannya masih memakai metode open dumping. Padahal, soal TPA ini skor nilainya paling tinggi dalam penilaian Adipura tersebut.

“Selama TPA masih dikelola dengan model open dumping yang dinilai belum ramah lingkungan maka kesempatan meraih Adipura cukup berat. Soalnya, masalah TPA  sekarang ini jadi salah satu perhatian utama, tidak seperti penilaian beberapa tahun lalu,” jelas Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Ahmadi Widodo.

Selain TPA, memang masih banyak indikator penilaian Adipurna tersebut. Seperti, keberadaan bank sampah dan ruang terbuka hijau. Kemudian masalah kebersihan di tempat umum, kantor pemerintahan, dan perkampungan serta partisipasi masyarakat juga jadi bagian dari penilaian.

“Partisipasi masyarakat untuk mendukung Adipura selama ini sudah sangat bagus. Yakni, dengan menata lingkungan masing-masing agar bersih, rapi, asri serta penanganan sampahnya dilakukan dengan baik,” katanya.

Kasi Penanganan Sampah Noer Rochman menegaskan, salah satu poin yang belum maksimal dalam penilaian Adipura tiga tahun terakhir adalah keberadaan TPA yang dikelola dengan open dumping.  Dijelaskan, open dumping yaitu metode penimbunan secara terbuka dan sering disebut metode konvensional. Pada tahap ini sampah dikumpulkan dan ditimbun bagitu saja dalam lubang yang sudah dibuat pada suatu lahan tertentu.

Cara ini cukup sederhana yaitu dengan membuang sampah pada suatu legokan atau cekungan tanpa mengunakan tanah sebagai penutup sampah. Model ini sudah tidak direkomendasi lagi oleh pemerintah karena tidak memenuhi syarat teknis suatu TPA Sampah.

Sebab, open dumping cukup potensial dalam mencemari lingkungan, baik itu dari pencemaran air tanah oleh Leachate (air sampah yang dapat menyerap ke dalam tanah), lalat, serta bau atau polusi.

“Pengelolaan TPA kita selama ini memang seperti itu modelnya. Jadi, satu kaveling kita pakai untuk menimbun sampah selama beberapa tahun. Setelah penuh, penimbunan sampah pindah ke kaveling yang kosong. Jadi model ini praktis tidak ada perlakuan lebih pada sampah,” katanya. 

Editor : Akrom Hazami

Jepara Terima Adipura ke-12 Berturut-turut, Petugas Kebersihan Diberi Bonus Rp 225 ribu

adipura

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi memberikan penghargaan kepada petugas kebersihan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara kembali meraih penghargaan sebagai kota bersih, dengan menerima piala Adipura Kirana. Piala Adipura tersebut merupakan piala ke-12 yang diterima oleh Kota Ukir secara berturut-turut setiap tahunnya.

Berkat penghargaan itu, petugas kebersihan mendapatkan bonus uang sebesar Rp 225 ribu.

Bonus tersebut diberikan secara simbolis setelah acara arak-arakan piala Adipura tersebut. Diketahui, arak-arakan dilakukan dari perbatasan kota Jepara yakni dari Welahan menuju ke Pendapa Kabupaten Jepara.

“Ini merupakan penghargaan dari pemerintah pusat sebagai kota bersih. Penghargaan ini diperoleh berkat kerja keras dari para pahlawan kebersihan. Untuk diberikan cinderamata kepada petugas kebersihan sebesar Rp 225 ribu,” ujar Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, Senin (25/7/2016).

Menurutnya,  cinderamata tersebut memang jumlahnya tidak seberapa, namun itu diberikan sebagai penghargaan kepada para pahlawan kebersihan yang selalu bekerja keras membersihkan sudut-sudut kota di Jepara.

“Ini jangan diterjemahkan macam-macam karena setiap kali mendapatkan Adipura, petugas kebersihan mendapatkan cinderamata dengan nominal yang memang tidak seberapa, tetapi nilainya besar karena sebuah penghargaan,” terangnya.

Hal itu juga disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara Aris Isnandar. Menurutnya, petugas kebersihan adalah pahlawan dalam meraih penghargaan sebagi kota bersih tersebut. Untuk itu sudah semestinya mendapatkan bonus atau penghargaan secara khusus kepada mereka.

“Kalau bisa dikasih yang banyak. Tetapi saya yakin pemkab pasti mempedulikan penghargaan kepada para petugas kebersihan ini,” terang Aris.

Dia menambahkan, dengan mendapatkan Adipura Kirana tahun ini diharapkan tahun yang akan datang lebih meningkat lagi, yakni Adipura Paripurna yang menggantikan Adipura Kencara tahun-tahun sebelumnya. Melalui penghargaan tersebut, dapat diartikan bahwa Pemkab Jepara peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Inilah 66 Titik Pantau di Kudus yang Akan Dinilai Tim Penilai Adipura 2016

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Kantor lingkungan Hidup (KLH) Kudus Heru Subiyantoko memaparkan, untuk ke 66 titik pantau di Kudus yang akan dinilai oleh tim penilai Adipura itu nantinya mempunyai bobot nilai tersendiri.

Ke 66 titik pantau tersebut ialah:
1. Tempat pembuangan ahir (TPA) Tanjungrejo jekulo bobot nilai 11 poin,
2. Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Rendeng bobot nilai 10 poin
3. Tempat pengelolan sampah terpadu (TPST) Depo Purwosari, Kota bobot nilai 10 poin
4. Bank Sampah Muria Berseri Gondangmanis, Kecamatan Bae bobot nilai 7 poin
5. Bank Sampah Karya Santosa, Tumpangkrasak, Kecamatan Jati bobot nilai 7 poin
6. Bank sampah Sekar melati, Mlati Norowito, kecamatan kota bobot nilai 7 poin
7. Pasar Bitingan Kudus bobot nilai 8 poin
8. Pasar Kliwon Kudus bobot nilai 8 poin
9. Pasar Jember Kudus boot nilai 8 poin
10. Perumahan Muria Indah, Gondangmanis, Kecamatan Bae bobot nilai 6 poin
11. Pertumahan Kudus Permai, Garung Lor, Kecamatan kaliwungu bobot nilai 6 poin
12. Perumahan Graha Kencana, Dersalam, Kecamatan Bae bobot nilai 6 poin
13. SMP 1 Jati bobot nilai 6 poin
14. SMP 2 Jati, Bobot nilai 6 poin
15. SMK N 1 Kudus bobot nilai 6 poin
16. SMA 2 Kudus bobot nilai 6 poin
17. SMP 1 Kudus bobot nilai 6 poin
18. SMP 3 Kudus bobot nilai 6 poin
19. SMP 5 Kudus bobot nilai 6 poin
20. SMA 1 Bae bobot nilai 6 poin
21. SMP 1 Bae bobot nilai 6 poin
22. SMP 1 Mejobo bobot nilai 6 poin
23. SMA 1 Kudus bobot nilai 6 poin
24. Taman Alun alun bobot nilai 6 poin
25. Taman Adipura bobot nilai 6 poin
26. Taman Depan DPRD Kudus bobot nilai 6 poin
27. Taman Gondangmanis, Kecamatan Bae bobot nilai 6 poin
28. Taman Menara bobot nilai 5 poin
29. Taman Tugu Identitas bobot nilai 6 poin
30. Taman Krida wisata dan komplek GOR Kudus bobot niali 6 poin
31. Hutan Kota DPRD bobot nilai 5 poin
32. Hutan Kota Rendeng bobot nilai 5 poin
33. Terminal induk Jati bobot nilai 5 poin
34. Jalan R. Agil Kusumadya bobot nilai 5 poin
35. Jalan Jendral Sudirman bobot nilai 5 poin
36. Jalan A. Yani bobot nilai 5 poin
37. Jalan dr. Loekmono Hadi bobot nilai 5 poin
38. Jalan Ramelan bobot nilai 5 poin
39. Jalan pemuda bobot nilai 5 poin
40. Jalan Sunan Muria bobot nilai 5 poin
41. Jalan Hos Cokroaminoto bobot nilai 5 poin
42. Jalan Sosrokartono bobot nilai 5 poin
43. Jalan Tanjung bobot nilai bobot nilai 5 poin
44. Jalan Pramuka bobot nilai 5 poin
45. Jalan Tit Sudono bobot nilai 5 poin
46. Jalan Budi Utomo Bobot nilai 5 poin
47. Jalan Mejobo bobot nilai 5 poin
48. Jalan Subhan ZE bobot nilai 5 poin
49. Seluruh jalan arteri utama dan jalan kolektor wilayah perkotaan bobot nilai 5 poin
50. Salter R. Agil Kusumadya bobot nilai 5 poin
51. Salter Sosrokartono bobot nilai 5 poin
52. Salter Jalan Mejobo bobot nilai 5 poin
53. Salter Jalan pramuka bobot nilai 5 poin
54. Sungai Gelis (Ploso, Kedung paso, Sunan Kudus) bobot nilai 5 poin
55. RSU. dr. Loekmono Hadi bobot nilai 5 poin
56. Pertokoan Taman bujana bobot nilai 4 poin
57. Pertokoan matahari/pasar bitingtan bobot nilai 4 poin
58. Pertokoan Ahmad Yani bobot nilai 4 poin
59. Kantor Ispektoran bobot nilai 4 poin
60. Kantor Bupati bobot nilai 4 poin
61. Kantor Disdikpora bobot 4 poin
62. Kantor Perinkop dan UMKM bobot nilai 4 poin
63. Kantor dinas perdagangan dan pengelolaan pasar bobot nilai 4 poin
64. Kantor dinas perhubungan dan komunikasi bobot nilai 4 poin
65. Kantor Dinas Cipkataru bobot nilai 4 poin dan
66. Kantor lingkungan hidup bobot nilai 4 poin.

Dari ke 66 titik itu kini mulai dipantau oleh tim penilai. Sehingga titik pantau itu bisa dipantau juga baik itu kebersihan, kenyamanan oleh dinas terkait dan warga setempat. ”Sehingga disaat pengumumannya sekitar tangal 5 Juni 2016 mendatang, Kudus bisa meraih Adipura lagi,” imbuh Heru.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kepala KLH Optimistis Kudus Raih Adipura Lagi Tahun Ini

Ilustrasi, penyerahan piala Adipura 2015, yang diserahkan Sekda Kudus Noor Yasin kepada Camat Undaan Catur Widiyatno untuk di arak keliling Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ilustrasi, penyerahan piala Adipura 2015, yang diserahkan Sekda Kudus Noor Yasin kepada Camat Undaan Catur Widiyatno untuk di arak keliling Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Peroleh piala Adipura kategori Kota sedang di tahun 2015 lalu, membuat Kabupaten Kudus optimistis bisa meraih lagi penghargaan tersebut di tahun ini.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kudus Heru Subiyantoko merasa optimistis Kabupaten Kudus dapat meraih Piala Adipura di tahun 2016.

”Saya optimistis Kudus bisa meraih itu. Kita juga berkoordinasi dengan dinas terkait untuk bekerja sama menghadapi penilaian Adipura ini. Dan saat ini tim penilai Adipura mulai terjun di Kudus,” kata Heru.

Sementara itu, dirinya juga akan terus terjun ke lapangan untuk memantau wilayah yang menjadi titik pantau atau tempat penilaian yang dilakukan oleh tim penilai Adipura. ”Kita terus berkoordinasi dengan dinas terkait dan wilayah yang dijadikan sebagai titik pantau,” ujarnya.

Dari informasi yang dihinpun MuriaNewsCom, titik pantau Adipura di Kudus berjumlah 66 titik. Baik itu mulai dari jalur lalu lintas hingga tempat pendidikan.

”Titik pantau ada sekitar 66 tempat. Sehingga warga setempat, LH dan dinas terkait bisa kerja sama, berkoordinasi untuk sama-sama meraih Adipura dengan terjun ke lapangan untuk mamantau langsung,” tuturnya.

Dia menambahkan, yang penting harus optimistis dan bisa bekerja sama untuk meraih piala Adipura kembali. Sehingga Kudus bisa lebih baik lagi dalam kebersihan dan keindahan lingkungannya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Wabup Grobogan Sebut untuk Meraih Adipura Ini Kunci Utamanya

Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro saat memimpin rapat persiapan penilaian Adipura bersama dinas terkait. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro saat memimpin rapat persiapan penilaian Adipura bersama dinas terkait. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk bisa meraih Adipura, diperlukan konsep yang jelas, terpadu dan berkesinambungan. Namun, ada hal lain yang lebih utama, yakni menggandeng semua komponen masyarakat untuk menyukseskan penilaian Adipura. Caranya, dengan menata lingkungan masing-masing agar bersih, rapi, asri serta penanganan sampahnya dilakukan dengan baik.

“Kalau bisa melibatkan semua komponen masyarakat untuk berpartisipasi, maka kesempatan meraih Adipura bisa lebih terbuka. Jadi, salah satu komponen penting adalah menggugah kesadaran warga akan pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih. Baik berkaitan dengan penilaian Adipura maupun tidak,” tegas Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro saat memimpin rapat persiapan penilaian Adipura yang akan dimulai bulan Maret mendatang.

Menurut Icek, sejauh ini, Grobogan sudah berhasil meraih piala Adipura sebanyak empat kali. Yakni, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Empat kali keberhasilan meraih juara itu tidak didapat dengan mudah, tetapi butuh keseriusan serta persiapan yang lama.

“Untuk meraih Adipura tidak bisa dilakukan dengan instan. Jika digarap dengan sungguh-sungguh, maka kesempatan mendapatkan Adipura pasti datang,” katanya.

Dalam dua tahun terakhir, piala Adipura gagal diraih kembali. Hal ini, salah satu penyebabnya adalah rendahnya poin penilaian pada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Pasalnya, pengelolaan TPA masih dilakukan secara konvensional dan belum memenuhi persyaratan ramah lingkungan.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Sst..sst Adipura jadi Mimpi Grobogan

Blora Ingin Adipura, tapi Sampahnya Wow!

Tugu Adipura di jalan Ahmad Yani Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Tugu Adipura di jalan Ahmad Yani Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Mimpi Blora untuk meraih Adipura sangat serius. Meski mereka akui jika masih banyak kendala yang dihadapi.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Blora Wahyu Agustini mengungkapkan, sampai saat ini sampah menjadi masalah utama di berbagai daerah di Indonesia meraih Adipura.

“Di Blora sendiri sampah masih menjadi masalah, seperti yang kita lihat di TPA yang saat ini sudah controlled landfill namun masih terkesan open dumping. TPA juga masih banyak sampah yang tercecer,” kata Wahyu.

Sistem open dumping, yakni pembuangan sampah di lahan tanah lapang tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Sedangkan controlled landfill adalah perbaikan atau peningkatan dari sistem open dumping. Perbaikan atau peningkatan ini meliputi adanya kegiatan penutupan sampah dengan lapisan tanah, fasilitas drainase serta fasilitas pengumpulan dan pengolahan.

Selain itu, lanjut Wahyu, bahwa kontainer tempat pembuangan sampah di pasar masih banyak yang bolong dan kurang bersih.  Untuk masalah sampah di permukiman di Blora juga masih belum ada pemilahan sampah. Sebab semua masih tercampur.

Pasar di Blora pun ikut menyumbang permasalahan sampah. Dia mengakui jika tempat pembuangan sampah di pasar masih belum memadai.  Bahkan drainase yang ada di pasar masih belum berfungsi. Termasuk masalah pertokoan yang ada di Blora.

Wahyu menegaskan bahwa masih belum adanya budaya membuang sampah pada tempatnya. “Seperti kita lihat di pertokoan Jalan Gatot Subroto depan pasar induk Blora dan Jalan Mr Iskandar serta Jalan Pemuda,” jelas Wahyu.

Perkantoran yang ada di Blora pun masih menjadi penyumbang masalah sampah. Hal itu tak lepas dari pemanfaatan pemilah sampah di perkantoran yang masih terkesan mangkrak dan kurang optimal.

“Tong sampah yang kami berikan bahkan ada yang hilang. Hal itu juga terjadi di sekolah, fasilitas transportasi dan rumah sakit yang ada di Blora. Sungai Bangkle, Sungai Grojokan dan Sungai Kajangan,” tambahnya.

Permasalahan tersebut membuat Pemkab Blora serius, dengan mengajak semua pihak untuk saling memikirkan dan mencari solusi.

Editor : Akrom Hazami

 Baca terkait :

Sst..sst Adipura jadi Mimpi Grobogan

Ini Strategi BLH Rembang untuk Raih Adipura

Sst..sst Adipura jadi Mimpi Grobogan

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi , Grobogan, dalam waktu dekat akan dilakukan penataan biar ramah lingkungan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi , Grobogan, dalam waktu dekat akan dilakukan penataan biar ramah lingkungan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kesempatan Pemkab Grobogan untuk meraih kembali Piala Adipura tahun ini cukup terbuka. Hal ini seiring bakal adanya penataan kembali Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.

Selama beberapa tahun terakhir, kegagalan dalam meraih Adipura penyebab utamanya adalah keberadaan TPA yang cara pengolahannya dinilai belum memenuhi persyaratan ramah lingkungan.

“Memang kita akui, salah satu poin yang belum maksimal dalam penilaian Adipura adalah keberadaan TPA. Tahun ini, akan ada kegiatan penataan TPA yang dananya dibantu dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” kata Kepala Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan (DCKTK) Grobogan M Chanif.

Dijelaskan, pengelolaan sampah selama ini masih memakai model open dumping yang belum ramah lingkungan. Nantinya, cara penanganan sampah akan memakai model controlled landfill.

Yakni sistem penanganan sampah yang lebih berkembang dibanding open dumping. Sebab, pada metode ini, sampah yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat barat menjadi sebuah sel.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi bau, lalat, dan keluarnya gas metan. Selain itu, dibuat juga saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan, saluran pengumpul air lindi (leachate) dan instalasi pengolahannya, pos pengendalian operasional, dan fasilitas pengendalian gas metan.

“Alokasi dana penataan TPA dari Kementerian PUPR ini nanti kisarannya sekitar Rp 20 miliar. Jadi, untuk DED, lelang dan lainnya semuanya dari pusat. Kita nantinya akan memberikan pendampingan biaya operasional yang sedikit lebih mahal dibandingkan motode sebelumnya,” jelasnya.

Chanif menambahkan, sebelum penataan, pihaknya sudah melakukan persiapan terlebih dahulu. Yakni, menambah perluasan lahan TPA secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.

Saat ini, luas areal TPA ini bisa mencapai 8,6 hektare dan rencananya akan diperluas hingga 10 hektare. Perluasan TPA itu dilakukan lantaran lahan yang bisa dipakai menampung sampah sebelumnya tinggal beberapa persen saja. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Ini Strategi BLH Rembang untuk Raih Adipura

adipura

 

REMBANG – Kegagalan Kabupaten Rembang dalam meraih penghargaan Adipura pada tahun lalu diharapkan agar tidak terulang kembali.

Untuk itu, demi mendapatkan penghargaan bergengsi dalam kategori kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaaan itu, pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Rembang optimis mampu meraih Adipura pada tahun 2016 ini.

Kepala BLH Kabupaten Rembang Purwadi Samsi optimis dapat meraih kembali Adipura yang baru tiga kali didapatkan oleh daerah yang berada diujung timur Jawa Tengah ini. Menurutnya, salah satu persiapan yang dilakukan BLH, yakni pengadaan becak sampah dan tong sampah.

“Kemarin sudah tidak berhasil. Pada 2016 ini, dengan kesiapan kita termasuk membeli becak dan tong sampah, mudah-mudahan Adipura akan kembali kita raih,” ujarnya ketika berbincang dengan MuriaNewsCom di Gedung Setda Rembang, Jumat (15/1/2016).

Rencananya, 30 unit becak sampah dan 100 tong sampah akan didistribusikan dan ditempatkan di titik-titik strategis yang menjadi titik pantau. Titik pantau yang menjadi penilaian, yakni kantor-kantor SKPD, sekolahan, dan beberapa desa yang berada di wilayah Kota Rembang.

Menurut Purwadi, untuk meraih penghargaan Adipura bukanlah sesuatu yang sulit asalkan masyarakat Rembang dan SKPD di wilayah setempat dapat bersinergi menjaga kebersihan dan keindahan kota. “Karena sebetulnya meraih Adipura itu mudah, asal dibantu dengan masyarakat dan SKPD,” tandasnya.

Pihaknya mengajak kepada pemerintah kecamatan dan pemerintah desa untuk mengimbau masyarakatnya terkait pengelolaan sampah dan kebersihan. “Dari kecamatan, desa, hingga ke RT atau RW, kami harapkan mengimbau kepada masyarakat agar pengelolaan sampah perlu ditangani dengan serius, terutama pemilahan sampah organik dan non organik,” tambahnya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Pemkab Rembang Fokus Tingkatkan Kualitas Air untuk Bisa Raih Adipura

Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Tahun 2015 ini, Rembang kembali gagal meraih penghargaan bergengsi Adipura. Namun, pada tahun depan Rembang menargetkan dapat meraih Adipura.

Untuk bisa mencapai hal itu, Pemerintah Kabupaten Rembang akan memprioritaskan terkait peningkatan kualitas air.

Hal tersebut disampaikan Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi Priyanggodo. “Nanti kita akan melakukan peningkatan kualitas air. Itu juga menjadi salah satu penilaian yang penting. Karenaselain kebersihan lingkungan, kualitas air di Rembang juga ada penilaiannya secara bertahap,” jelasnya kepada MuriaNewsCom, Senin (28/12/2015).

Menurutnya, sejauh ini kualitas air di Rembang sudah baik, namun tetap perlu ditingkatkan. Bahkan, hal itu menjadi salah satu prioritas program pada tahun 2016 nanti. “Ya, nanti untuk tahun depan kita fokus kepada peningkatan kualitas air,” tambahnya.

Selain fokus dalam peningkatan kualitas air di Rembang, pihaknya juga akan melakukan terobosan dengan bekerjasama secara intensif dengan SKPD terkait, terutama Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Hal ini terkait penanganan persoalan kebersihan dan pengolahan di tempat pembuangan akhir (TPA).
“Karena secara fisik, 95 persen kita bergantung sama DPU, baik dari kebersihan jalan dan TPA. Untuk TPA memang perlu penanganan lebih lanjut,” ungkapnya.

Harapannya, dengan berbagai langkah yang direncanakan itu, Rembang kembali meraih Adipura. Jika merunut pengalaman sebelumnya, lanjut Budi, Rembang meraih Adipura sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 1998, 2010 dan tahun 2012. “Harapannya pada tahun depan kita bisa mendapat Adipura lagi. Kita baru tiga kali mendapatkannya, semoga tahun depan bertambah,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Ini Alasan Pati Tidak Meraih Adipura Kencana

Ketua DPRD Pati Ali Badrudin bersama Bupati Pati Haryanto foto bersama dengan Piala Adipura. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua DPRD Pati Ali Badrudin bersama Bupati Pati Haryanto foto bersama dengan Piala Adipura. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kendati berhasil meraih penghargaan Adipura untuk ke-9 kali, tetapi Pati tahun ini tidak mendapatkan anugerah Adipura Kencana seperti tahun lalu. Hal ini menuai sejumlah pertanyaan dari berbagai pihak, terutama warga Pati.

Bupati Pati Haryanto kepada MuriaNewsCom, Sabtu (28/11/2015) mengatakan, tahun ini ada perubahan kategori anugerah Adipura Kencana. Karena itu, semua kota kecil di seluruh Indonesia tidak mendapatkan penghargaan tersebut.

“Tahun ini, hanya kota metropolitan saja yang diberikan anugerah Adipura Kencana, yaitu Surabaya, Balikpapan, dan Kendari. Sementara itu, daerah dengan kategori kota kecil tidak bisa menerima Anugerah Adipura Kencana,” tuturnya.

Meski begitu, pihaknya bersyukur atas anugerah Adipura yang diberikan kepada Kota Pati. Dari 538 kota/kabupaten di seluruh Indonesia, hanya ada 68 kota/kabupaten yang mendapatkan penghargaan tahun ini.

“Kami ucapkan terima kasih kepada jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kabupaten Pati dan masyarakat yang sudah mewujudkan Pati sebagai kota hijau yang peduli pada lingkungan. Dari 68 kota/kabupaten yang mendapatkan penghargaan Adipura di seluruh Indonesia, Kota Pati masuk di dalamnya,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Dapat Adipura, Kudus Bertekad Ingin Raih Lagi Tahun Depan

adipura-e

Kabag Humas Putut Winarno (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kudus tahun ini memang mendapatkan Piala Adipura, setelah tahun sebelumnya gagal mendapatkannya. Untuk itu, pada tahun berikutnya diupayakan  mendapatkan kembali penghargaan Adipura tersebut.

Hal itu disampaikan Kabag Humas Putut Winarno. Menurutnya, harapan mendapatkan Adipura seperti tahun ini bisa terwujud pula di tahun berikutnya.

“Bahkan diupayakan dapat lebih baik lagi dari tahun ini. Jadi secara grafik mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik lagi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Untuk itu, beberapa upaya jelas dilaksanakan oleh Kudus.Seperti halnya menambah jumlah taman untuk ruang hijau. Cara tersebut dapat mendongkrak nilai Adipura, juga membuat masyarakat menjadi nyaman dengan adanya taman.

Hal lain yaitu lebih meningkatkan kebersihan, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Dengan lingkungan yang bersih dan bebas sampah, bukan hal yang mustahil untuk mendapatkannya penghargaan kembali.

“Untuk mewujudkan kebersihan secara menyeluruh, serta taman yang lebih luas, akan sulit dilakukan hanya dari pemeritah saja. Untuk itulah peran masyarakat sangat penting dalam hal tersebut. Sebab Adipura merupakan simbol dari kegiatan gotong-royong,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

ADIPURA KUDUS : Diarak, Warga Undaan Bangganya Setengah Mati

Penyerahan Piala Adipura oleh Sekda Kudus Noor Yasin ke Camat Undaan Catur Widiyatno (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Penyerahan Piala Adipura oleh Sekda Kudus Noor Yasin ke Camat Undaan Catur Widiyatno (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Warga Kecamatan Undaan, Kudus, dengan gegap gempita menyambut Piala Adipura yang diraih Kabupaten Kudus , 2015. Sebab arak-arakan piala tersebut dimulai dari wilayah Kecamatan Undaan. Yang mana, wilayah tersebut merupakan kecamatan yang berada di paling selatan daerah Kudus.

Camat Undaan Catur Widiyatno mengatakan, warganya sangat gembira dengan apa yang diraih kabupaten. Arak arakan yang dimulai dari lapangan Desa Klairejo, Kecamatan Undaan, ini juga diikuti oleh pejabat Kecamatan Undaan, SKPD Kabupaten Kudus, kepala desa serta sebagian besar warga Undaan. “Disambut juga oleh siswa-siswi seluruh Kecamatan Undaan,” kata Catur.

Penyerahan secara estafet piala ini, nantinya diserahkan oleh dinas Cipkataru dan LH kepada Sekda Kudus Noor Yasin. “Setelah itu diserahkan ke saya selaku Camat Undaan,” paparnya.

Selain itu, lanjut Catur, piala tersebut diarak menuju Kecamatan Jati dan diserahkan ke pihak Kecamatan Jati dan seterusnya hingga ke Pendapa Kudus. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Bupati Kudus : Adipura Merupakan Simbol Kebersamaan Dalam Menjaga Kebersihan

Bupati Kudus H Musthofa saat mengecek langsung kondisi dan situasi yang ada di wilayahnya, untuk memastikan bahwa semua bisa tertata rapi dan bagus. (ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa saat mengecek langsung kondisi dan situasi yang ada di wilayahnya, untuk memastikan bahwa semua bisa tertata rapi dan bagus. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Bupati Kudus H Musthofa, menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar -besarnya atas dukungan, dan kerjasama dari semua elemen. Baik itu pemerintah dan masyarakat Kabupaten Kudus. Hal ini, menyusul keberhasilan Kabupaten Kudus meraih Piala Adipura tahun 2015 ini.

”Sehingga Kabupaten Kudus menjadi bersih dan berhasil meraih Piala Adipura kembali. Selain itu saya juga menyampaikan bahwa Adipura tidak hanya penghargaan di bidang kebersihan, akan tetapi simbol dari kerjasama, kebersamaan, dan kegotong-royongan warga Kudus dalam menjaga kebersihan, keindahan dan kenyamanan di Kudus. Sehingga pemerintah pusat meraih Adipura ditahun ini dengan kategori kota sedang,” tuturnya.

Piala Adipura, rencananya bakal diarak keliling kota. Rencananya, arak-arakan itu akan digelar Selasa (24/11/2015), mulai pagi hari.Piala Adipura tersebut akan dikirab keliling wilayah Kabupaten Kudus. Dimulai dari wilayah Kecamatan Undaan, Kecamatan Jati, Kecamatan Mejobo, Kecamatan Jekulo, Kecamatan Bae, Kecamatan Dawe, Kecamatan Gebog, Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Kota, dan berakhir di Pendapa Kabupaten Kudus.(MERIE/KHOLISTIONO)

Piala Adipura untuk Kudus Bakal Diarak Keliling Kota

Bupati Kudus H Musthofa saat mengecek langsung kondisi dan situasi yang ada di wilayahnya, untuk memastikan bahwa semua bisa tertata rapi dan bagus. (ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa saat mengecek langsung kondisi dan situasi yang ada di wilayahnya, untuk memastikan bahwa semua bisa tertata rapi dan bagus. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Keberhasilan Kabupaten Kudus meraih Piala Adipura tahun 2015 ini, memang patut disyukuri. Karena itu, rencananya piala tersebut bakal diarak keliling kota. Rencananya, arak-arakan itu akan digelar Selasa (24/11/2015), mulai pagi hari.

Berdasarkan keterangan dari Bagian Humas Setda Kudus, Piala Adipura tersebut akan dikirab keliling wilayah Kabupaten Kudus. Dimulai dari wilayah Kecamatan Undaan, Kecamatan Jati, Kecamatan Mejobo, Kecamatan Jekulo, Kecamatan Bae, Kecamatan Dawe, Kecamatan Gebog, Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Kota, dan berakhir di Pendapa Kabupaten Kudus.

Kirab itu dilakukan, menurut Kabag Humas Setda Kudus Putut Winarno, karena pemkab merasa bangga telah berhasil meraih piala itu. ”Ini kan, hasil kerja sama dengan masyarakat Kudus sepenuhnya. Jadi, kita ingin supaya masyarakat bisa melihat langsung piala kebanggaan ini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Adipura merupakan sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Ini adalah program yang diselenggarakan Kementreian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI.

Penilaiannya meliputi berbagai aspek terkait lingkungan hidup seperti pengendalian pencemaran air dan udara, pengelolaan tanah, perubahan iklim, sosial, ekonomi serta keanekaragaman hayati. Bagi kota-kota di Indonesia, menerima penghargaan Adipura, apalagi Adipura Kencana, menjadi prestise tersendiri. (MERIE/KHOLISTIONO)

Hore…, Kabupaten Kudus Raih Adipura 2015

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kabar gembira datang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus. Tahun ini, Kabupaten Kudus resmi mendapatkan Piala Adipura.

Kepastian didapatkannya Piala Adipura ini, setelah datang undangan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Bupati H Musthofa, untuk menerima piala tersebut.

Undangan penyerahan Piala Adipura itu, dilakukan di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Senin (23/11/2015) nanti malam. Bupati Kudus H Musthofa sendiri yang akan menerima piala tersebut.

Sebelumnya memang beredar kabar bahwa Kabupaten Kudus akhirnya meraih Piala Adipura tahun ini. Namun sejumlah pihak yang dikonfirmasi, belum bersedia memberikan tanggapannya.

Barulah kemudian Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kudus Putut Winarno yang dikonfirmasi kemudian, bersedia memberikan pernyataan bahwa Kudus memang berhasil mendapatkan Piala Adipura tahun ini.

”Ya, memang benar bahwa tahun ini Kabupaten Kudus berhasil mendapatkan Piala Adipura. Dan Bapak Bupati Musthofa akan menerima langsung piala itu dari Presiden Jokowi malam ini,” tuturnya kepada MuriaNewsCom. Senin (23/11/2015).

Dari informasi lain yang berhasil dikumpulkan MuriaNewsCom, ada beberapa kota atau kabupaten lain di Jawa Tengah yang juga menerima piala ini. Untuk wilayah yang berdekatan dari Kudus, penerimanya adalah Kabupaten Jepara dan Pati.

Sedangkan wilayah lain di Jawa Tengah yang menerimanya adalah Kota Magelang, Kota Semarang, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Batang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Purwokerto.

Keberhasilan Kabupaten Kudus menerima Piala Adipura ini, memang sebuah keberhasilan tersendiri. Pasalnya, tahun 2014 lalu, Kudus gagal menerima piala ini, karena nilai yang kurang. (MERIE/KHOLISTIONO)

Pengumuman Adipura Tak Ada Kejelasan

adipura

 

KUDUS – Pengumuman hasil penilaian Adipura 2015, hingga kini masih belum ada kabar. Tidak adanya kepastian pengumuman tersebut, seolah pengumuman Adipura menjadi hilang.

Hal tersebut diutarakan Ketua Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kudus Mundir kepada MuriaNewsCom. Menurutnya, hingga kini pihaknya tidak tahu kepastian soal adipura tersebut.

“Kami tidak tahu kapan diumumkan, karena hingga saat ini memang belum ada jadwal pengumuman Adipura dari pusat. Jadi ya kami tidak tahu mengenai hal tersebut,” katanya.

Menurutnya, pihaknya hanya menunggu pengumuman saja. Bahkan, pihaknya  tidak tahu bagaimana menanyakan atau mencari kabar tentang piala Adipura tersebut.

“Kami hanya bisa menunggu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada pengumuman tentang Adipura dan mendapat hasil yang baik,” katanya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)