Cak Nun : Indonesia Belum Aman

Cak Nun bersalaman dengan Ketua Yayasan Qudsiyah Nadjib Hasan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Cak Nun bersalaman dengan Ketua Yayasan Qudsiyah Nadjib Hasan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kehadiran budayawan Emha Ainun Najib atau biasa dipanggil Cak Nun, mampu menyedot ribuan penonton. Dalam kegiatan satu abad madrasah Qudsiyah, Cak Nun mengatakan kalau Indonesia belum aman.

“Keadaan Indonesia ini belum aman, masih banyak yang perlu diamankan,” katanya saat pengajian semalam di jalan KHR Asnawi Kudus.

Menurutnya, satu dari sekian kriteria aman adalah keamanan barang dan ekonomi. Hal itu, bukan hanya untuk diri dan keluarga, namun untuk sebuah negara. Dan faktanya, barang milik negara seperti emas dikuras oleh asing. Hal itulah yang masuk membuat Indonesia tidak aman.

Bahkan, Cak Nun mengibaratkan, kalau Indonesia bukan hanya perlu dijahit. Melainkan butuh diganti dengan yang baru.

“Kalau dalam syair lagu Lir Ilir ada Dondomono, maka Indonesia sudah jebol jadi harus diganti,” ungkapnya.

Dia mengatakan, kalau seorang melihat yang tidak beres dengan Indonesia. Maka tugas pertama adalah berjanji dengan dirinya untuk tidak berbuat itu. Dengan demikian Indonesia bisa menjadi baik.

“Mudah mudahan ini dari Kudus, yang akan menyebar se Indonesia. Apalagi ditambah dengan Salawat Aswaniyah ini,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Beduk “Menara” Diarak Keliling Kudus

Jpeg

Pantia melakukan persiapaan pengarakan beduk Menara Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sekitar 100 orang ikut serta mengarak beduk Menara Kudus keliling kota, Selasa (31/5/2016). Acara tersebut untuk memperingati 100 tahun hari jadi Madrasah Qudsiyyah Kudus dan menyambut Ramadan yang akan datang.

Sekretaris panitia 100 tahun Qudsiyyah Abdul Jalil mengatakan, kegiatan ini untuk membangkitkan kembali nilai budaya yang ada di Kudus.”Sebab tradisi membunyikan beduk atau biasa disebut dandang saat ini sudah jauh dari nilai religi maupun budaya,” paparnya.

Dia menilai, tradisi membunyikan beduk dengan suara dang, dang, dang sebelum puasa ini memang sudah jauh dari nilai budaya. Bahkan dandangan pada saat sekarang lebih diutamakan dengan nilai nilai ekonominya dibanding dengan nilai budaya maupun keagamaannya.

Oleh sebab itu, sekitar 100 orang yang mayoritas dari alumni Qudsiyyah tersebut ingin membangkitkan nilai budaya beduk dandang dengan cara berkeliling membawa dan membunyikan beduk menara yang asli yang diletakkan di atas mobil.

“Untuk rute kali ini yakni mulai dari jalan R. Agil Kusumadya (Hotel Griptha) menuju PLN Jati, setelah itu menuju ke timur masjid Wali Loram Kulon. Setelah di situ nanti melanjutkan perjalanan ke timur (Loram Wetan) hingga menuju GOR. Dan yang terakhir yakni GOR menuju barat ke jalan Tit Sudono hingga menyeberang jalan A Yani, menyeberang Jalan dr Loekmono Hadi munuju barat dan perempatan Majapahit hingga ke Menara Kudus,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, parade beduk tersebut sambil diiringi dengan miniatur menara, 20 andong dan kesenian terbang papat.

Editor : Akrom Hazami