Lestarikan Budaya, HUT PWRI Jepara Gelar Lomba Mocopat

PWRI

Salah satu peserta memeriahkan kegiatan PWRI di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – HUT Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) diwarnai dengan adanya lomba  Mocopat antar Ranting PWRI se-Jepara.

Di samping itu pada puncak acara peringatan di pendapa kabupaten juga ditampilkan pementasan tari gambyong, Selasa (26/7/2016). Semuanya diikuti dan dilakukan oleh para anggota maupun pengurus PWRI sendiri, yang notabenenya sudah lanjut usia.

Lomba dan perhelatan Peringatan HUT PWRI ke – 54 tahun 2016 diharapkan mampu menggugah semangat generasi muda. Khususnya untuk melestarikan dan mencintai budaya bangsa.

Tampil sebagai pemenang lomba mocopat pria, juara  Sutoto dari Ranting PWRI Bangsri, peringkat II Wagiyo dari Ranting Donorojo dan peringkat III Sumardjo dari Ranting Kedung.

Sementara untuk wanita, juara Nur Djajidah dari Ranting Donorojo, peringkat II Dalmijati Ranting Mayong dan perinkatg III Kartinah Ranting Bangsri. Para pemenang selanjutnya mendapatkan hadiah yang diserahkan Bupati Jepara yang diwakili Asisten II Sekda, Edi Sujatmiko bersama perwakilan segenap Forkopinda.

Ketua Panitia Suroto mengatakan, pihaknya sengaja menggelar kegiatan budaya. Dengan tujuan utamanya adalah untuk memberikan contoh langsung kepada generasi penerus bangsa. Sekaligus juga sebagai sarana dan upaya dalam memberikan pendidikan karakter.

“Di samping kegiatan pelestarian budaya bangsa, panitia juga menyelenggarakan serangkaian kegiatan lain. Diawali  upacara pencanganan kegiatan dan jalan sehat yang diikuti 200 peserta, pada tanggal 5 Juni 2016. Tasyakuran  tanggal 23 Juli dan diakhiri dengan resepsi dan halal bihalal yang di gelar di pendapa kabupaten,” ujar Suroto.

Ketua PWRI Kabupaten Jepara,  Haryo Subadi berharap agar masing-masing dapat saling memberikan kontribusi positif dan partisipasi aktif. Mengingat PWRI adalah tempatnya para mantan PNS/BUMN/BUMD serta TNI-Polri. Para PNS aktif ke depan juga akan menjadi anggota PWRI.

“Sehingga bekal petunjuk dan bimbingan dari PWRI sangat diharapkan dalam membangun kemajuan Jepara kedepan,” ungkapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Belasan PNS di Rembang Ini Rangkap Tugas sebagai Pekerja Sosial

 Salah satu lansia di Unit Pelayanan Sosial Lansia Margo Mukti dipakaikan baju oleh pegawai setempat (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Salah satu lansia di Unit Pelayanan Sosial Lansia Margo Mukti dipakaikan baju oleh pegawai setempat (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia atau Panti Wreda “Margo Mukti” Rembang, kini tak memiliki pekerja sosial. Sehingga, untuk merawat puluhan lansia yang ada di tempat tersebut, belasan PNS merangkap tugasnya sebagai pekerja sosial.

Plt. Kepala Unit Pelayanan Sosial Lansia Margo Mukti Sukiman mengatakan, sejauh ini ada sebanyak 11 PNS yang berdinas di tempat tersebut merangkap tugas sebagai pekerja sosial. “Saat ini kita belum memilki pekerja sosial, dan yang kami lakukan untuk merawat dan melayani lansia yang ditampung di tempat ini adalah memaksimalkan PNS sebagai pekerja sosial,” ujarnya.

Dirinya menyatakan, untuk perekrutan pekerja sosial untuk lansia itu kewenangan Dinas Sosial Provinsi Jateng. “Kita pernah mengusulkan pekerja sosial itu ke Dinas Sosial Provinsi Jateng, sebab, kita di bawah struktur Dinsos Jateng. Ya mudah-mudahan ada pekerja sosial yang direkrut,” ungkapnya.

Ia katakan, untuk saat ini penghuni Unit Pelayanan Sosial Lansia Margo Mukti yang berada di Jalan Jendral Sudirman Rembang tersebut berjumlah 70 orang. “Lansia yang ada di sini ada 70 orang, yang terdiri dari laki- laki sebanyak 24 orang dan perempuan ada 46 orang,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Ya Ampun…Taman Kota Pati jadi Tempat Mesum

f-Mesum (e)

Pengirim : Dhana/Pati

Taman Kota Pati yang sejatinya diperuntukkan untuk fasilitas publik, justru disalahgunakan oleh beberapa muda-mudi. Nampak, dalam beberapa kesempatan, mereka yang sedang dimabuk asmara tanpa malu-malu melakukan adegan tak senonoh, meskipun dilihat banyak orang. Belum lagi, di situ banyak anak-anak. (Pengirim : Dhana/Pati)

Tak Disangka! Penyebab Istri di Pati Minta Cerai Suami Sungguh Mengejutkan

 Panitera Pengadilan Agama Pati, Heryantabudi Utama. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Panitera Pengadilan Agama Pati, Heryantabudi Utama. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Banyaknya istri di Pati yang mengajukan cerai gugat ke Pengadilan Agama Pati disebabkan banyak hal. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ternyata menjadi alasan yang tidak banyak terjadi.

Justru, faktor yang paling banyak melatarbelakangi pihak istri minta cerai karena faktor perbedaan pendapatan ekonomi. Penghasilan istri yang lebih besar ketimbang suami diakui menjadi faktor yang paling banyak dalam pengajuan cerai gugat dari istri.

“Alasan ekonomi memang menjadi faktor yang paling dominan. Misalnya, suami dianggap sudah tidak bisa memberikan nafkah lagi kepada istri. Selain itu, ada pula yang mengajukan cerai gugat karena pendapatan istri lebih besar ketimbang suami,” ujar Heryantabudi Utama, Panitera Pengadilan Agama Pati, Sabtu (23/7/2016).

Sementara itu, kasus yang berlatarbelakang asmara seperti cemburu dan perselingkuhan dikatakan cukup minim. “Kasus perselingkuhan juga ada. Namun, kuantitasnya tidak banyak seperti masalah faktor pendapatan ekonomi,” tuturnya.

Istri yang mengajukan cerai gugat sebagian besar juga didominasi dari kalangan berusia 30 hingga 40 tahun. Usia itu dianggap paling rentan bagi pasangan rumah tangga untuk mengajukan cerai.

“Sangat jarang sekali pasangan rumah tangga di atas 40 tahun dan di bawah 30 tahun yang mengajukan cerai, meskipun ada beberapa. Namun, sebagian besar didominasi dari pasangan berusia 30 sampai 40 tahun,” imbuh Heryantabudi.

Baca juga : Duh…Ribuan Istri di Pati Pilih Menjanda

Editor : Kholistiono

 

Tidak Perlu Antre Buat E-KTP di Jepara, Asal…

e ktp 2

 

MuriaNewsCom, Jepara –  Kini, bagi pemohon e-KTP di Jepara tidak perlu antre. Asalkan, keperluan pembuatan e-KTP sangat urgen.

Antrean untuk mendapatkan e-KTP memang cukup banyak. Bahkan, ketersediaan blangko yang minim membuat semakin lama antrean untuk mendapatkan kartu identitas kependudukan tersebut.

Namun, tak perlu khawatir bagi yang sangat membutuhkan dalam waktu dekat karena akan mendapatkan prioritas untuk mendapatkan lebih dahulu.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcpil) Jepara, Sri Alim Yuliatun. Menurutnya, karena keterbatasan blangko tidak semua masyarakat bisa langsung mendapatkan E-KTP.

KTP tersebut akan dicetak sesuai dengan urutan antrean yang terdaftar. Meski demikian, tetap ada prioritas.

“Bagi masyarakat yang membutuhkan e-KTP secara mendesak kami utamakan. Seperti butuh untuk mengurus masalah kesehatan mengurus keperluan lain yang memang sangat mendesak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengemukakan, pihaknya baru-baru ini mendapatkan tambahan blangko sebanyak 1.824 keping. Namun, jumlah tersebut sangatlah kurang lantaran setiap harinya, pihaknya menerima layanan yang membutuhkan sekitar 300 hingga 400 keping blangko.

“Jadi ya memang masih kurang untuk stok beberapa hari ke depan berikutnya.  Baik untuk pelayanan yang di kantor Disdukcapil maupun pelayanan keliling,” terangnya.

Dia menambahkan, keterbatasan blangko e-KTP  ini karena stok di pusat juga terbatas. Sehingga, meski kebutuhan di Jepara cukup banyak pihaknya tidak bisa meminta lebih.

”Semuanya pusat yang mengatur kami hanya mengajukan dan yang menetukan kuota blanko dari pusat. Dalam prose pengajuan harus berbasis laporan. Saat kami mengajukan pekan lalu stok blanko yang tersedia hanya tingga 97 keping,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pelayanan E-KTP di Jepara Ditambah

ktp

 

MuriaNewsCom, Jepara – Percepatan pelayanan perekaman E-Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) harus dilakukan. Itu menyusul respons Surat Edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) 12 Mei 2016.

Yang mana, warga yang sudah berusia 17 tahun atau sudah menikah per 1 Mei harus melakukan perekaman paling lambat 30 September 2016.

Untuk itu, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Jepara menambah titik pelayanan. Selain pelayanan dilakukan di kantor dinas, pelayanan juga dilakukan melalui percetakan keliling. Tahun ini pelayanan bakal ditambah di 65 titik.

Kepala Disdukcapil Jepara Sri Alim Yuliatun melalui Kepala Bidang Kependudukan Bangun Supriyanto mengatakan, tahun ini pihaknya bakal menambah pengoperasian pencetakan e-KTP di 65 titik. Meliputi 15 titik di sekolah dan 50 titik di lokasi-lokasi strategis seperti balai desa.  Pelayanan itu sudah dimulai mulai awal Agustus mendatang.

“Surat Edaran mengenai itu berlaku untuk skala nasional. Sehingga, di Jepara juga harus melakukan percepatan, dengan cara menambah jumlah titik pelayanan,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, program pencetakan dan perekaman e-KTP keliling di Disdukcapil Jepara sudah lama berjalan. Program tersebut akan dimaksimalkan karena merupakan cara paling efektif agar masyarakat Jepara bisa segera mengantongi e-KTP. Termasuk melalui penambahan titik pelayanan.
”Selama ini pencetakan e-KTP telah menyasar sejumlah tempat yang potensial. Seperti di desa-desa yang warganya baru sedikit melakukan perekaman dan di sekolah-sekolah.

Selama 2016 hingga akhir Juni kemarin program pencetakan e-KTP sudah mencapai 2.512 dari pemohon,” terangnya.

Dia menambahkan, karena keterbatasan blanko, tidak semua masyarakat bisa langsung mendapatkan e-KTP. KTP akan dicetak sesuai dengan urutan antrean yang terdaftar. ”Meski demikian kami tetap ada prioritas. Bagi masyarakat yang membutuhkan e-KTP secara mendesak kami utamakan. Seperti butuh untuk mengurus masalah kesehatan mengurus keperluan lain yang memang sangat mendesak,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Hore, Buat E-KTP di Kudus Sekarang Lebih Gampang

ektp pagi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pembuatan E-KTP di Kudus kerap kali dipusingkan dengan birokrasi pengantar dari pemerintah desa. Namun mulai sekarang, aturan tersebut sudah tidak lagi digunakan. Untuk membuat KTP, cukup datang ke Disdukcapil.

Hal itu disampaikan Kepala Disdukcapil Kudus Hendro Martono melalui Sekretaris Dinas Jumadi. Menurutnya dalam membuat KTP kini ada aturan terbaru. Pemohon cukup datang ke kantor dengan membaca bukti identitas diri yang ada.

“Jika KTP rusak dan ingin membuat baru, maka bisa dengan cara datang membawa KTP lama. Sedangkan untuk yang ingin membuat baru dapat datang membawa KK saja,” katanya.

Aturan tersebut baru diterimanya dari pemerintah pusat 18 Juli lalu. Meski baru didapat, namun Disdukcapil langsung menerapkannya. Sebab, aturan itu dianggap mempermudah pelayanan ke masyarakat.

Aturan itu, hanya dapat digunakan untuk pembuatan KTP saja. Sedangkan pembuatan KK dan akta kelahiran masih membutuhkan pengantar desa. Sebab data KK dan akta kelahiran membutuhkan data dari desa.

“Mudah-mudahan dengan aturan ini dapat menjadi lebih baik. Masyarakat tidak usah bingung, sebab cukup dengan KK bisa dapat KTP,” ungkapnya.

Mengenai blanko yang kosong,dia mengatakan sudah datang. Namun proses cetak disesuaikan dengan urutan daftar rekam. Sehingga bagi yang baru membuat juga mendapatkan KTP harus menunggu.

“Harus urut, sebab sebelumnya saat blanko kosong banyak yang sudah rekam. Jadi itu yang dicetak terlebih dahulu,” imbuhnya.

Dia berharap agar blanko tidak lagi kosong. Sebab bukan hanya pihak dinas yang sulit akan hal itu, melainkan pula masyarakat yang hendak membuat KTP.

Editor : Akrom Hazami

 

Kesejahteraan Perawat dan Keselamatan Pasien jadi Perhatian

raker

Anggota Raker membahas kesejahteraan perawat. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kesejahteraan perawat dan jaminan keselamatan pasien masih menjadi isu yang menarik di kalangan dunia kesehatan di Indonesia. Dua masalah tersebut pula yang menjadi sorotan utama pada rapat kerja (Raker) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah, yang digelar di Jepara pada Jumat (22/7/2016).

Ketua DPW PPNI Jawa Tengah, Edy Wuryanto mengatakan, dua isu tersebut memang menjadi sorotan khusus pada Raker kali ini. Dia menilai, untuk kesejahteraan perawat saat ini masih banyak yang belum seimbang, antara kemajuan infrastuktur dengan gaji perawat.

“Kesejahteraan perawat masih banyak yang belum baik, terutama di sektor pelayanan kesehatan swasta. Dari sisi infrastruktur bangunan terus dilakukan, tetapi untuk gaji perawat masih rendah bahkan tidak memenuhi UMR. Itu yang saya maksud tidak imbang,” ujar Edy kepada MuriaNewsCom di gedung wanita Jepara, Jumat (22/7/2016).

Menurutnya, untuk gaji perawat secara umum di Indonesia masih memprihatinkan. Dibanding dengan Negara lain di ASEAN, gaji perawat di Indonesia paling rendah. Dengan Negara Thailand misalnya, gaji perawat tiga kali lipat dibanding di Indonesia, padahal biaya hidup di Thailand sama dengan di Indonesia.

“Untuk itu, standar gaji untuk Jawa Tengah kami petakan antara Rp 3-4 juta setiap bulannya. Kami mendorong agar semua rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya dapat memenuhi standar gaji para perawat,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk masalah jaminan keselamatan pasien. Pihaknya menyoroti bahwa perawat memang berkewajiban memberikan pelayanan yang terbaik. Untuk itu, pihaknya mendorong adanya legalitas yakni izin dari instansi pemerintah terkait, dalam hal ini Dinas Kesehatan di kabupaten masing-masing ketika membuka praktik mandiri.

“Itu demi kepastian dan jaminan keselamatan pasien ketika pelayan kesehatan membuka praktik mandiri. Harus ada legalitasnya dari instansi pemerintah terkait,” katanya.

Sementara itu, acara raker tersebut diikuti oleh sekitar 250 peserta dari sejumlah unsur di bidang kesehatan. Selain raker juga digelar seminar yang diikuti oleh 800 peserta dari beberapa unsur, baik pelaku pelayanan kesehatan maupun pendidikan kesehatan.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Sosialisasi Pemutaran Film Cukai Jadi Ajang Peningkatan Ekonomi Kerakyatan

Warga Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kudus, melihat sosialisasi pemutaran film cukai di lapangan desa setempat, pada Kamis (21/6/2016) malam. Mereka antusias menyaksikan film tersebut sebagai bagian dari pemahaman mengenai dana cukai. (MuriaNewsCom)

Warga Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kudus, melihat sosialisasi pemutaran film cukai di lapangan desa setempat, pada Kamis (21/6/2016) malam. Mereka antusias menyaksikan film tersebut sebagai bagian dari pemahaman mengenai dana cukai. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ada dampak lain yang dirasakan warga Kabupaten Kudus, saat pemutaran film sosialisasi aturan penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima wilayah ini.

Pasalnya, dalam setiap pemutaran film cukai di masing-masing desa, banyak pedagang kaki lima (PKL) yang kemudian menggelar dagangannya di lokasi pemutaran film. Mereka turut memeriahkan kegiatan yang digelar Bagian Humas Setda Kudus tersebut.

Sebagaimana yang terlihat di Lapangan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kudus, pada Kamis (21/7/2016) malam. Banyak PKL yang memanfaatkan momen itu, untuk menjual aneka dagangannya. Sehingga suasana menjadi meriah. Warga yang datang, juga banyak yang memanfaatkan momen itu, sambil melihat pemutaran film. “Fenomena ini tentu saja merupakan satu hal yang bagus. Tujuan sosialisasi kita tercapai, juga warga mendapatkan manfaat yang baik dari kegiatan ini,” kata Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kudus Putut Winarno.

Menurut Winarno, kehadiran PKL di lokasi acara, membuktikan jika sosialisasi tersebut diterima dengan baik oleh warga. “Sehingga apa yang kemudian kita inginkan dengan sosialisasi itu, bisa berjalan dengan baik. Sedangkan warga lainnya juga bisa mendapatkan sesuatu yang lain dari kegiatan itu,” terangnya.

Sebagaimana diketahui, sosialisasi pemutaran film atau video iklan cukai ini, adalah bagian dari memahamkan warga Kudus akan dana cukai itu sendiri. Bagaimana penerimaannya, digunakan untuk apa saja, dan bagaimana manfaatnya untuk warga Kudus itu sendiri.

Kegiatan di Desa Tergo, adalah satu dari sekian banyak desa yang disambangi untuk sosialisasi ini. Roadshow ke desa-desa memang menjadi prioritas dalam sosialisasi film cukai ini.

“Karena bagi kami, warga di seluruh wilayah Kudus harus paham akan aturan cukai ini. Termasuk warga di masing-masing desa. Jadilah kami anggap sosialisasi ke desa-desa ini penting. Sehingga sosialisasi akan bisa meluas ke setiap wilayah di Kudus,” terang Winarno.

Setelah Desa Tergo, sosialisasi akan dilaksanakan di Desa Gribig (Kecamatan Gebog) pada 23 Juli 2016, kemudian Desa Besito (Kecamatan Gebog) pada 27 Juli 2016, Desa Kirig (Kecamatan Mejobo) pada 30 Juli 2016, dan Desa Pladen (Kecamatan Jekulo) pada 6 Agustus 2016 mendatang.

“Ada beberapa desa lagi yang akan kita sambangi, namun jadwalnya baru kita tentukan. Yang jelas, kita akan datangi desa-desa yang ada di Kudus, supaya sosialisasi bisa maksimal,” imbuhnya. (HMS/CUK/SOS)

Editor: Merie

 

 

Aksi Dandim Pati Blusukan Tandur Padi Kejutkan Petani

 Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma (berbaju loreng di belakang) ikut tandur bareng petani di Desa Dadirejo, Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma (berbaju loreng di belakang) ikut tandur bareng petani di Desa Dadirejo, Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komandan Kodim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma dalam beberapa kesempatan terlibat aktif bersama petani untuk menanam padi. Salah satunya di Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo.

Masih mengenakan pakaian doreng khas prajurit TNI, Andri tak segan mencopot sepatu untuk turun di sawah. Sontak, sejumlah anggotanya kemudian ikut turun di sawah membantu petani menanam bibit padi.

Selain ikut tandur, Andri juga sempat ikut mencabuti bibit padi dari persemaian, sebelum ditanam di satu petak sawah. Orang Pati menyebut aktivitas itu dengan istilah “ndaut”.

“Prajurit TNI saat ini memang punya peran multifungsi untuk menyatu dan manunggal dengan masyarakat. Tidak hanya bertugas untuk keamanan wilayah teritorial saja, tetapi juga memiliki tugas untuk membantu ketahanan pangan nasional,” ujar Andri, Jumat (22/7/2016).

Tak hanya ikut tandur, Andri juga mengecek rumah burung hantu di areal persawahan setempat. Keberadaan rumah burung hantu dianggap penting, karena predator itu menjadi musuh alami bagi hama tikus.

Ketua Gapoktan Desa Dadirejo, Abdul Rahman mengaku terkejut dengan aksi yang dilakukan Dandim. Sebab, kunjungan Dandim awalnya untuk meninjau keadaan rumah burung hantu, sekaligus memantau perkembangan pertanian di sawah.

Namun, Dandim tiba-tiba saja mencopot sepatu, terjun ke sawah dan membantu petani menanam padi. “Aksi Dandim langsung disusul anggota Koramil 12 Margorejo. Kami ucapkan terima kasih, karena petani sudah diperhatikan,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Ratusan Guru SLB se-Eks Karesidenan Pati Ikuti Halalbihalal

 Ketua Panitia Halalbihalal Mohtar Edy Sucipto (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Ketua Panitia Halalbihalal Mohtar Edy Sucipto (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sedikitnya ada 350 guru dari Sekolah Luar Biasa (SLB) se-eks Karesidenan Pati mengikuti acara pembinaan dan halalbihalal yang digelar di Museum Kartini Rembang pada Kamis (21/7/2016).

Ketua Panitia Mohtar Edy Sucipto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk memberikan wadah silaturrahmi antarguru SLB, khususnya yang ada di eks Karesidenan Pati. Sehingga, nantinya ada kebersamaan untuk bersama-sama memajukan dunia pendidikan.

“Selain halalbihalal, kita juga lakukan pembinaan. Diharapkan dengan acara seperti ini, bisa mewujudkan kebersamaan dan semangat untuk memajukan pendidikan, khususnya dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Ia katakan, kegiatan seperti ini sudah dilakukan beberapa kali, dan tempatnya untuk tiap tahunnya berbeda. Tahun ini, Kabupaten Rembang menjadi tuan rumah dan untuk tahun 2015 lalu, Kabupaten Pati yang menjadi tuan rumah.

Dirinya berharap, kegiatan seperti ini dapat berjalan terus nantinya. Sebab, melalui kegiatan ini, guru-guru yang mengajar di SLB dapat saling bertukar pikiran atau informasi mengenai inovasi dalam proses pembelajaran.

Editor : Kholistiono

Demam Pokemon Go Landa Warga Rembang

Dimas bersama temannya  sedang memainkan game Pokemon Go (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Dimas bersama temannya sedang memainkan game Pokemon Go (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Demam permainan Pokemon Go mulai ‘menjangkiti’ masyarakat Rembang. Tidak hanya remaja atau orang dewasa, namun demam ini juga melanda anak-anak. Rasa penasaran, tampaknya menjadi alasan permainan ini cepat menyebar.

Ibarat virus penyakit, cara mendownload Pokemon Go, dan pembahasan lain soal permainan ini, tak jarang muncul di grup-grup media sosial atau dari mulut ke mulut. “Penasaran aja. Banyak kawan yang sudah main. Ternyata memang seru,” kata Dimas Adi Kusmayadi (11).

Bocah yang masih duduk di kelas VI SD ini mengaku memang belum lama ini memainkan game Pokemon Go. Hal ini setelah dirinya mendapatkan informasi dari teman-temannya mengenai game Pokemon Go. Apalagi, katanya, untuk mengunduh aplikasi ini cukup mudah.

“Setelah terdownload, maka tinggal menginstal saja. Selain itu, permainannya juga simpel. Yakni hanya jalan- jalan sesuka hati. Dan misalkan suatu saat di layar handphone muncul Pokemon, maka Pokemon tersebut harus diserang atau ditangkap dengan bola putih,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, Dimas bersama beberapa temannya cukup asyik menikmati game tersebut. Bahkan, terkadang mereka menaiki sepeda sambil menggenggam handphone di tangan kanannya. “Untuk sekali penangkapan Pokemon dengan bola putih tersebut, nantinya akan mendapat poin 100,” ujarnya.

Selain itu, untuk menanti kemunculan Pokemon di layar handphone, katanya, rata-rata anak tersebut menunggu waktu yang bervariasi. Dari 3 menit hingga 10 menit. “Pokemon muncul di layar itu sekitar 3 menitan dari Pokemon sebelumnya. Bila Pokemon sebelumnya sudah ditangkap dengam bola putih, maka selang 3 hingga 10 menit akan muncul lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai respon orang tua, dirinya mengungkapkan bahwa ayah dan ibunya tidak melarang. Namun orang tuanya berpesan supaya berhati-hati saja. “Ayah dan ibu sih tidak melarang. Namun mereka menyuruh kita berhati-hati saja. Sebab kemarin juga ada berita bahwa gara-gara Pokemon ini ada yang ketabrak kendaraam di jalan, lantaran terlalu asyik melihat layar handphone,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

Kasus Pelecehan Seksual di Bawah Umur di Jepara Diinvestigasi

Komisioner KPAI

Komisioner KPAI melakukan pengecekan dan investigasi mengenai penanganan kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turun gunung dari kantor pusat Jakarta ke Kabupaten Jepara, Rabu (20/7/2016). Mereka melakukan pengecekan dan investigasi mengenai penanganan kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Salah satu kasus yang dicek penanganannya adalah  kasus pelecehan seksual dengan korban HI (14), warga Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara. Kasus yang terjadi pada November 2015 silam, sampai saat ini belum ada penyelesaian, sehingga dirasa perlu melakukan pengecekan dan investigasi.

“Kami menerima laporan dari masyarakat mengenai kasus yang terjadi pada November 2015 lalu, yang berisi belum adanya penyelesaian penanganan kasus. Kami menerima laporan sekitar awal Mei 2016 lalu, kemudian kami tindaklanjuti,” ujar Komisioner KPAI Bidang Traficking dan Eksploitasi Anak Budiharjo kepada MuriaNewsCom, Rabu (20/7/2016).

Lantaran kasus pelecehan seksual tersebut sudah ditangani kepolisian, usai menerima laporan warga hanya melakukan pemantauan. Juga menanyakan kelanjutan kasus tersebut kepada Polres Jepara, namun jawaban tertulis yang ia terima masih dinilai normatif, yakni proses hukum masih berjalan dan pelaku masih dalam proses pencarian.

“Untuk itu kami turun langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Kami harapkan kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur dapat menjadi skala prioritas penanganannya, karena itu penting menyangkut masa depan korban,” imbuhnya.

Sementara itu, Ali, orang tua MI, mengaku terpaksa melaporkan kasus yang menimpa anaknya kepada KPAI lantaran proses hukum di Polres Jepara dinilai lamban.  “Masa dari November sampai sekarang belum ada perkembangan yang berarti,” kata Ali.

Seperti diberitakan MuriaNewsCom pada 12 Januari 2016 lalu, nasib tragis menimpa seorang anak perempuan berusia 14 tahun, berinisial HI, warga Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Dia diperkosa oleh dua orang lelaki tak bertanggung jawab di kebun yang berada di kawasan Sreni, Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari.

Berdasarkan keterangan ayah korban, yakni Ali Yudi, anak kandungnya tersebut diperkosa oleh dua lelaki. Hal itu diketahui setelah dirinya mendapatkan informasi dari guru sekolah yang dilapori oleh anaknya terkait kasus tersebut.

Editor : Akrom Hazami

 

 

WNA di Jepara Kini Dipantau Langsung

wna

Peresmian Sekretariat Tim Pengawasan Orang Asing Kabupaten Jepara yang beralamatkan di Rumah Jagongan Jalan Patimura, Jepara, Selasa (19/07/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Jumlah Warga Negara Asing (WNA) yang ada di Kabupaten Jepara terbilang cukup banyak. Namun, selama ini di Kota Ukir belum ada kantor maupun tim khusus yang melakukan pengawasan para WNA.

Baru kali ini, Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah melalui Kantor Imigrasi Kelas II Pati, membentuk Kesekretariatan dan Tim Pengawasan Orang Asing (PORA).

Peresmian Sekretariat Tim Pengawasan Orang Asing Kabupaten Jepara yang beralamatkan di Rumah Jagongan Jalan Patimura, Jepara, Selasa (19/07/2016).

Peresmian tersebut dihadiri Kepala Divisi Kantor Wilayah Kementerian dan HAM RI Jawa Tengah M Diah, didampingi Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Pati Iwan Rustiawan, Forkopimda Kabupaten Jepara bersama SKPD terkait.

Di sekertariat ini akan menyediakan data-data terkait orang asing yg masuk ke Kabupaten Jepara seperti data perlintasan WNA, peta konsentrasi keberadaan WNA, data penegakkan hukum keimigrasian, dan yang lain sebagainya. Data-data tersebut akan mampu dimafaatkan oleh instansi terkait buat melaksanakan tugas.

Tim tersebut hal ini dimaksudkan guna untuk menyelesaikan masalah dan sekaligus pengawasan orang asing serta mengantisipasi tindak pidana dengan jaringan internasional. Dengan tujuan menegakkan peraturan dan perundangan yang berlaku demi menjaga tegaknya kedaulatan Negara atas keberadaan dan kegiatan orang asing yang berpotensi merugikan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di Kabupaten Jepara.

“Dengan tim ini, mampu dipantau misalnya data antara kedatangan dan kepergian orang asing khususnya di Jawa Tengah. Jika ada selisih, maka dapat ditelusuri karena rentan adanya pelanggaran keimigrasian bahkan tindak pidana. Diharapkan dengan adanya ruang sekretariat ini, akan semakin mempermudah tim Pora dalam berkomunikasi dan berkonsolidasi serta bersinergi,” kata M Diah, Kadiv Kanwil Kemenkumham RI Jateng melalui rilis yang diterima MuriaNewsCom, Rabu (20/7/2016)

Tak hanya itu, sambungnya, pembentukan sekretariat ini mengingat Terlebih lagi saat ini telah diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan keluarnya Perpres Nomor 21 tahun 2016, tanggal 2 Maret 2016, yang menetapkan bebas visa kunjungan ke Indonesia kepada 169 negara, sehingga makin banyak orang asing datang ke negeri sehingga dipastikan jumlah orang asing yang datang ke Indonesia akan semakin bertambah dan di Kabupaten Jepara sendiri pada khususnya. “Dari kedatangan orang asing itu tentunya memiliki dampak positif dan negatif,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Jepara yang diwakilkan Staf Ahli Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Mustofa Kamal, menyambut baik peresmian tim PORA Kabupaten Jepara. Dia berharap dengan terbentuknya tim, pengawasan orang asing bisa lebih efektif.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pemohon E-KTP Ditolak di Kudus

ektp

 
MuriaNewsCom, Kudus – Banyaknya pemohon E-KTP membuat Disdukcapil Kudus menolaknya. Disdukcapil sebelumnya akan memilih dulu peruntukkan KTP pemohon. Jika mendesak, maka akan didahulukan.

Pengalaman tersebut dialami Bahtiar, warga Kecamatan Kota. Dia mengungkapkan kalau Selasa (19/7/2016) dirinya menjadi salah satu warga yang ditolak petugas. Karenanya, dia diminta datang lain kali.

“Kemarin saya datangnya siang. Setelah menunggu agak lama akhirnya dapat masuk, namun petugas meminta untuk datang hari ini saja dengan lebih pagi,” keluhnya.

Mendapatkan perlakuan semacam itu, dia sangat kecewa dan kembali pulang. Dan Rabu (20/7/2016) , dia kembali lebih pagi lagi biar mendapatkan KTP.

Meski sudah datang lebih awal, dia juga tidak kunjung mendapatkan pelayanan. Padahal sudah hampir dua jam lamanya menunggu.

Hendro Wardoyo, warga Jati, juga harus antre lebih dari satu jam untuk masuk daftar rekam. Hanya, setelah dia direkam, dia hanya membawa selembar surat keterangan saja.

“Katanya suruh menunggu, dan hingga kini masih menunggu kabar jadinya KTP. Sebab belum ada kepastian kapan jadi,” ungkapnya.

Kepala Disdukcapil Kudus Hendro Martono melalui Sekretaris Dinas Jumadi mengatakan, kalau prioritas dalam pelayanan jelas ada. Khususnya jika siang hari, maka petugas akan bertanya fungsi KTP atau surat keterangan. Barulah jika mendadak butuh akan diberikan, dan jika tidak pada esok hari diminta datang kembali.

“Banyak yang meminta KTP, jadi kalau memang tidak butuh mendesak ya besok bisa datang lagi. Itupun kalau datangnya sudah sore,” jawabnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Blangko E-KTP Habis, Petugas Disdukcapil Kudus Ambil Sendiri ke Jakarta

ktp 1

Warga mengantre untuk mendapatkan KTP di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Blangko E KTP Kudus kembali habis,  Rabu (20/7/2016). Untuk mengambil blangko yang dipesan ke pemerintah pusat, Disdukcapil mengirimkan petugas untuk mengambilnya ke Jakarta dengan naik bus.

Kepala Disdukcapil Kudus Hendro Martono melalui Sekretaris Jumadi mengatakan, blangko habis semenjak Rabu pagi.

“Paling besok pagi sudah tiba, jadi blangko sudah dapat digunakan kembali. Namun blangko yang didapat jumlahnya terbatas, hanya 900 an saja,” katanya.

Jumlah yang terbatas diperkirakan habis kurang dari sepekan. Hal itu diasumsikan, tiap hari rata rata yang membuat KTP, baik itu membuat baru atau perpanjangan sekitar 300. Sehingga, jika hanya mendapatkan jatah 900 maka akan habis dalam waktu tiga hari saja.

Jumlah 900 tersebut, kata Jumadi adalah jumlah yang diberikan oleh pemerintah pusat. Sebab, stok yang menipis, sehingga dibagi dengan daerah yang mengalami hal serupa.

“Se Jateng habis semua. Jadi harus dibagi biar rata. Kecuali nanti kalau sudah ada cetak baru, dan stok yang banyak, maka bakal dikasih sesuai dengan permintaan,” ungkapnya.

Lantaran blangko habis, maka pemohon tidak dapat KTP. Melainkan hanya mendapatkan surat keterangan sementara, yang fungsinya sama degan KTP. Barulah ketika blangko tiba, maka akan dilakukan cetak untuk kemudian diambil oleh pemilik.

“Untuk rekam data masih berjalan, termasuk juga mobil keliling yang memberikan fasiltas pembuatan KTP tingkat kecamatan dan desa,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Guru di Rembang ini Sulap Rumah Kontrakannya jadi Rumah Baca

 Beberapa pelajar sedang mengunjungi rumah baca untuk membaca dan meminjam buku (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Beberapa pelajar sedang mengunjungi rumah baca untuk membaca dan meminjam buku (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Suhadi (34), seorang guru yang mengajar di SMA Pamotan rela mengubah rumah kontrakannya yang berada di Dukuh Palan RT 2 RW 1 Desa/Kecamatan Pamotan menjadi rumah baca. Rumah yang mempunyai dua kamar, satu ruang tamu dan satu ruang dapur tersebut diisi ribuan buku bacaan serta perlengkapan komputer.

Suhadi menceritakan, rumah baca tersebut sudah didirikan sejak 2013 lalu. Hal itu, katanya, dilatarbelakangi keprihatinan dirinya yang melihat di daerah tempatnya mengontrak masih cukup minim ruang publik untuk masyarakat, khususnya remaja dan anak-anak. Kemudian, terpikir olehnya untuk membuat rumah baca.

“Sebenarnya saya mengontrak rumah ini sudah sejak 2009 lalu. Ketika saya tinggal di sini, saya mengamati daerah Pamotan ini jarang sekali ruang publik untuk pemuda. Maka saya mendirikan rumah baca tersebut,” kata Suhadi.

Ia katakan, hingga saat ini koleksi buku yang dimiliki rumah baca yang didirikannya tersebut, sudah ada sekitar 1.500 buku, yang terdiri dari buku pelajaran dan umum. Baik itu untuk anak-anak, remaja hingga dewasa. “Ribuan buku ini, juga sebagian berasal dari sumbangan donator yang memang peduli dengan pendidikan dan kemajuan daerah,” katanya.

Kemudian, untuk pengelolaan rumah baca, katanya, saat ini secara formal terdapat 11 orang pengurus, yang terdiri dari pemuda dari daerah sekitar. Sedangkan untuk relawannya sendiri, sudah ada puluhan, baik yang berasal dari warga sekitar maupun luar daerah Rembang.0

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk pengunjung yang datang ke rumah baca, untuk setiap harinya ada sekitar 20 orang. “Dan itupun tanpa dipungut biaya. Untuk peminjaman buku maksimal selama satu minggu bahkan dua minggu,” imbuhnya.

Selain itu, rumah baca yang didirikan oleh pemuda yang berasal dari Desa Pekalongan, Winong, Pati ini juga selalu memberikan kegiatan positif lainnya. “Kita juga mengadak kegiatan yang lainnya. Seperti halnya santunan fakir miskin, pentas seni Islami di saat bulan Ramdaan, pentas seni musik keroncong, bahkan sedeqah Alquran di musala atau masjid,” paparnya.

Editor : Kholistiono

 

Santri Ini Buru Rupiah dari FB dan WA

jual online
MuriaNewsCom, Kudus – Media sosial ternyata ampuh menjadi alat memasarkan produk. Seperti halnya produk milik Muhammad Husni Mu’afa, yang berjualan media pembelajaran Islami.

Salah satu pedagang kitab kuning dan sejenisnya di kompleks Menara Kudus itu mengatakan, dia amat memanfaatkan Facebook (FB). Khususnya untuk memasarkan produk dagangannya. Selain itu, dia juga memanfaatkan aplikasi WA untuk berkomunikasi dengan para pembeli atau sekadar tanya.

“Sementara baru itu, rencana ke depan bisa ditambah dengan media sosial yang lainnya. Jadi bisa semakin banyak yang tahu,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, saat paling ramai pembeli adalah Ramadan kemarin. Dalam sehari, sedikitnya 20 buah media pembelajaran ludes terbeli. Padahal, jenis tersebut adalah jenis baru.

“Kami sifatnya online. Jadi kami bisa antar kemana saja. Kalau yang datang ke sini lumayan jarang, karena memang di Kudus saingan bisnis semacam ini banyak,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Gara-gara Parijoto, Warga Kudus Dapat Penghargaan Presiden

parijoto

Muhamad Sokib Garno Sunarno bersama Bupati Kudus Mushofa yang memegang tanaman parijoto. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom,Kudus – Warga Kudus menorehkan prestasi yang membanggakan dengan mendapatkan penghargaan tingkat nasional. Rencananya, penghargaan tersebut bakal diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Penghargaan tersebut, akan diterima oleh Ketua Paguyuban Masyarakaat Pelindung Hutan (PMPH) Pegunungan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Muhamad Sokib Garno Sunarno. Hanya gara gara Parijoto, dia bakal  menerima penghargaan Kalpataru 2016.

“Untuk kategori adalah Pembina Hutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Rencananya, piagam penghargaan Bidang Lingkungan Hidup tersebut di Siak, Riau, Jumat (22/7/2016) mendatang,” katanya.

Rencananya, pemberian penghargaan akan bertepatan dengan Environment World Day (EWD) atau Hari Lingkungan Hidup Dunia. Penghargaan diraih lantaran dia dianggap berhasil membina masyarakat di lereng Pegunungan Muria untuk melestarikan hutan serta menjaga kearifan lokal setempat.

Seperti diketahui, Kalpataru adalah penghargaan diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasa melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Penerima penghargaan Kalpataru dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu perintis lingkungan, pengabdi lingkungan, penyelamat lingkungan, dan pembina lingkungan.

Menurutnya, kearifan lokal yang dijaga adalah Tanaman Parijoto yang merupakan peninggalan Sunan Muria. Dia tidak menyangka dapat penghargaan sebesar itu, terlebih langsung dari Presiden.

“Saya tidak berharap lebih, sebab dari awal saya mengabdi untuk hutan Muria memang dari sanubari hati saya yang terdalam, ikhlas dan tulus. Tapi syukur malah dapat lebih semacam ini,” ungkapnya.

Menurut pria yang juga menjadi juru kunci Makam Sunan Muria itu, penghargaan tertinggi di Bidang Lingkungan Hidup ini merupakan pertama kali ia terima sejak 1998 mengelola dan menyelamatkan hutan Pegunungan Muria.

Bupati Kudus Musthofa mengaku senang dengan adanya penghargaan ini. Peran pemerintah  adalah pelestarian lingkungan pegunungan Muria. Dengan mengerahkan relawan di hutan diketahui pak sokib dan lainnya.

“Kami juga minta dinas pertanian dan kantor lingkungan hidup berkoordinasi memberikan suplemen untuk kebutuhan disini,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Ratusan Orang Ramaikan Ulang Tahun Semarang Fortuner Community

fortuner

Anggota Semarang Fortuner Community (SFC) berfoto bersama.

 

MuriaNewsCom, Semarang – PR Sukun menggelar acara ulang tahun Semarang Fortuner Community (SFC) Sabtu (16/7/2016). Kegiatan berlangsung meriah. Sebanyak 225 orang hadir memeriahkan acara ulang tahun yang keenam.

Salah satu HUT SFC Adam Gumelar mengatakan, ke-225 orang yang hadir tersebut tak hanya berasal dari anggota SFC, melainkan beberapa tamu undangan. Salah satunya berasal dari komunitas SUV, Komunitas Fortuner Jatim, Yogyakarta, dan Surakarta.

”Selain itu, kami juga mengundang beberapa tamu undangan. Salah satunya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo,” ujarnya.

Para tamu undangan, lanjutnya, disambut dengan ramah tamah yang dilanjutkan bhakti sosial (Baksos) ke tiga panti asuhan. Hanya, ketiga panti yang dipilih, masing-masing memiliki kepercayaan yang berbeda (lintas agama).

”Ketiganya panti memang memiliki keyakinan yang berbeda. Ada yang beragama islam, Kristen, dan protestan. Dengan begini, kami ingin menunjukkan jika tak ada perbedaan agama di dalam tubuh SFC. Semuanya saudara,” tegasnya.

Disinggung terkait doa yang dipanjatkan memasuki usia yang sudah enam tahun, Adam berharap semoga SFC semakin solid dan menjadi lebih baik. Hal ini supaya SFC bisa mengembangkan sayap sesuai dengan visi misi yang ada.

”Saya pribadi juga berharap semua anggota tetap solid. Bukan hanya sebagai anggota komunitas tapi saudara,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

POC Gelar Sunatan Massal

sunatan masal

Sejumlah anak yang mengikuti Sunatan Massal.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bhakti sosial Pajero Owner Community (POC) menggelar sunatan massal bersama PR Sukun di Batang, Kamis (14/7/2016). Acara tersebut sekaligus sebagai acara halal bi halal untuk merekatkan POC dengan masyarakat.

Dari pantauan di lapangan, sunatan massal tersebut dilakukan secara gratis. Para peserta yang notabene dari keluarga kurang mampu tersebut, melakukan khitan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.

Selain itu, khitan juga dilakukan dengan tenaga medis profesional. Belasan dokter dan tenaga medis juga didatangkan untuk menyukseskan acara tersebut.

”Sunatan massal ini juga digelar bareng bersama Polres Batang dengan take line Peduli anak bangsa. Sejauh ini semua kegiatan berjalan lancar,” kata salah satu panitia Bhakti Sosial, Aldi.

Sebelum sunatan massal dimulai, para peserta sebelumnya juga mengikuti doa bersama yang dipimpin ulama setempat. Hal tersebut dilakukan untuk kelancaran acara.

”Sebelumnya kami mulai dengan doa. Tujuannya supaya acara bisa berjalan lancar tanpa kendala,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Bingung Cari Kerja? Ribuan Lowongan Kerja Menanti di Job Fair Dinsosnakertrans Grobogan

f-lowongan pekerjaan

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada kabar gembira bagi Anda yang masih bingung mencari pekerjaan. Sebab, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Grobogan rencananya bakal menggelar acara job fair atau pameran bursa kerja di Gedung Wisuda Budaya Purwodadi.

Rencananya, acara bursa kerja bakal dilangsungkan selama dua hari. Yakni, 20-21 Juli besok.“Pembukaan job fair ini rencananya kita lakukan Rabu (20/7/2016) mulai pukul 08.00 WIB. Jika tidak ada halangan, acara bakal dibuka Ibu Bupati,” kata Kepala Dinsosnakertrans Grobogan Andung Sutiyoso.

Acara pameran bursa kerja selama dua hari itu akan diikuti sedikitnya 30 perusahaan. Selain dari wilayah Grobogan, beberapa perusahaan dari kabupaten tetangga juga sudah mamastikan untuk berpartisipasi dalam acara itu. Seperti, dari Semarang, Jepara, Demak, dan Solo.

“Dalam acara ini cukup banyak tenaga kerja yang bisa terserap, jumlahnya bisa ribuan. Oleh sebab itu, bagi yang ingin mendapatkan pekerjaan, besok silahkan langsung datang ke lokasi job fair,” ungkapnya.

Menurut Andung, jumlah pengangguran di wilayahnya dinilai masih cukup tinggi, lantaran kurangnya penyerapan tenaga kerja. Sejauh ini, angka penyerapan tenaga kerja ini berkisar 60 persen.

Untuk bisa memenuhi target tersebut, pihaknya berupaya meningkatkan angka penyerapan tenaga kerja. Salah satunya, dengan menggelar job fair yang sudah dilakukan pertama kali tahun 2015 lalu. Diharapkan melalui kegiatan ini ada kenaikan angka penyerapan tenaga kerja dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Editor : Kholistiono

PMI Rembang Targetkan 12 Ribu Warga Sadar Donor Darah

Warga sedang mendonorkan darah beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom)

Warga sedang mendonorkan darah beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Rembang terus gencar mensosialisasikan sadar donor darah terhadap warga.  Sosialisasi tersebut dilakukan di berbagai instansi pemerintah maupun swasta.

Bagian Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Rembang Ervin mengatakan, dengan adanya sosialisasi tersebut, diharapkan dapat menambah jumlah pendonor darah sukarela. “Untuk tahun 2015 lalu, setiap bulannya kita hanya mendapatkan sekitar 900-an pendonor. Tahun ini, kita harapkan bisa mencapai seribu pendonor setiap bulannya bahkan bisa lebih,” katanya.

Menurutnya, secara keseluruhan, untuk tahun 2015, pihaknya mendapatkan lebih dari 10 ribu pendonor. Sedangkan di tahun 2016 ini, selama Januari hingga Juni 2016, pihaknya sudah mendapatkan sekitar 7.200 pendonor. Selain itu jenis darah yang didonorkan juga relatif seimbang jumlahnya. Baik itu A, B, maupun O.

Ia juga katakan, untuk darah yang paling banyak dibutuhkan selama ini yakni golongan darah A dan B. “Biasanya golongan darah A dan B ini dibutuhkan orang yang usai melahirkan, operasi, penyakit dalam dan sebagainya,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

 

Keluarga Korban Meninggal dalam Kecelakaan Maut di Alas Roban Dapat Santunan

Camat Karangrayung Hardimin menyerahkan santunan pada salah satu keluarga korban kecelakaan maut di Alas Roban (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Camat Karangrayung Hardimin menyerahkan santunan pada salah satu keluarga korban kecelakaan maut di Alas Roban (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Keluarga dari korban yang meninggal dunia dalam kecelakaan antara bus Kramat Djati vs truk tangki di Alas Roban, Senin (18/7/2016) mendapat santunan kecelakaan dari Jasa Raharja. Penyerahan santunan pada ahli waris atau keluarga korban dilangsungkan di Balai Desa Sendangharjo, Kecamatan Karangrayung.

Acara penyerahan santunan dihadiri Asisten I Pemkab Grobogan Pudji Raharjo didampingi petugas dari Jasa Raharja. Terlihat pula, Camat Karangrayung Hardimin beserta jajaran muspika setempat.

Dalam peristiwa kecelakaan yang terjadi Sabtu (16/7/2016) malam, total ada enam korban jiwa. Sementara puluhan orang lain dikabakan mengalami luka-luka.Keenam korban jiwa masing-masing, Sudilah, warga Desa Sendangharjo, Kecamatan Karangrayung serta Kasmin, warga Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung. Kemudian, Moh Ali Mustofa, warga Desa Kayen, Kecamatan Juwangi, Boyolali dan Eny Novitasari, warga Desa Sumurgede, Kecamatan Godong.

Dua orang korban lagi adalah Siamri, warga Desa Sumberejosari, Kecamatan Karangrayung dan Wati Riyanti, warga Desa Pasir Jaya, Tangerang. “Dari enam korban tersebut, baru diserahkan santunan untuk empat orang. Yakni, korban Sudilah, Kasmin, Moh Ali Mustofa, dan Eny Novitasari. Masing-masing dapat santunan Rp 25 juta,” terang Camat Karangrayung Hardimin.

Dua korban lainnya, yakni Siamri dan Wati Riyanti belum diberikan santunan. Sebab, keluarga korban masih berada di luar kota, lantaran kedua korban tersebut dimakamkan di luar Grobogan.

Menurut Hardimin, korban Siamri yang beralamat di Desa Sendangharjo asalnya dari Purwokerto dan beristrikan orang desa tersebut. Sedangkan, korban Wati Riyanti yang beralamat di Tangerang, asalnya dari Karangrayung, tetapi tinggal ikut suaminya di sana.

“Informasi yang saya dapat, korban Siamri dimakamkan di Purwokerto dan Wati Riyanti di Tangerang. Santunan untuk dua korban ini rencananya akan diberikan tersendiri waktunya,” imbuhnya.

Baca juga : Pemkab Grobogan Kirim 7 Ambulans untuk Jemput Korban Kecelakaan di Batang

 

Editor : Kholistiono

 

Tim UGM Bakal Latih Anggota LMDH di Grobogan Penerapan Teknologi Tepat Guna

Tim dari UGM saat melangsungkan sosialisasi kegiatan pengabdian masyarakat pada anggota LMDH (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim dari UGM saat melangsungkan sosialisasi kegiatan pengabdian masyarakat pada anggota LMDH (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Dalam rangka mendukung implementasi program Inegrated Farming System (IFS) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016, tim dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta bakal melaksanakan kegiatan pengabdian pada masyarakat.

Adapun sasarannya, kali ini adalah memberikan pelatihan teknologi tepat guna (TTG) pada dua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di wilayah Perhutani KPH Purwodadi. Yakni, LMDH Mojo Lestari Desa Mojorebo, Kecamatan wirosari dan LMDH Batur Wana Makmur Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo. Tim dari UGM tersebut tediri dari sejumlah dosen dari beberapa fakultas. Antara lain fakultas kehutanan, teknologi pertanian, pertanian dan kedokteran hewan.

Adapun jenis penerapan teknologi yang diberikan ada beberapa macam. Seperti, pembuatan bibit jati unggul dan kebun pangkas, pelatihan pembuatan pupuk hayati, pemeriksaan kesehatan hewan dan reproduksi serta melakukan riset mengenai kelayakan lingkungan kandang ternak, dilanjutkan dengan pelatihan pemanfaatan limbah ternak.

“Tim dari UGM rencananya juga akan memberikan bantuan alat pengering atau oven jagung kapasitas 500 kg. Bantuan peralatan pascapanen ini rencananya akan diserahkan dalam waktu dekat,” kata Administratur KPH Purwodadi Damanhuri pada wartawan, Senin (18/7/2016).

Menurut Damanhuri, pihaknya sangat mendukung program penerapan TTG yang dilakukan tim UGM buat LMDH. Sebab, kegiatan itu dinilai sangat positif dan manfaatnya akan sangat dirasakan masyarakat, khususnya para anggota LMDH.

“Kami berterima kasih sekali pada tim UGM yang bersedia melaksanakan kegiatan di wilayah Perhutani KPH Purwodadi. Kami, akan mendukung dan membantu semaksimal mungkin supaya program ini bisa berjalan lancar,” katanya.

 

Editor : Kholistiono