Kodim 0733 Semarang Ajak Warga Gunungpati Iku Perangi Masalah Sosial

Warga Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati Semarang diajak memahami mengenai fungsi dan tugas lembaga masyarakat di lingkungan desanya.
(Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Sosialisasi kepada masyarakat tentang tugas pokok dan fungsi atau tupoksi lembaga masyarakat di lingkungan desa menjadi salah satu program yang diusung dalam pelaksanaan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) Kodim 0733 Semarang. Seperti yang dilaksanakan Selasa (25/7) di TMMD Kelurahan Kalisegoro, setidaknya 50 warga mengikuti sosialisasi pengenalan kelembagaan masyarakat yang menitik beratkan pada peran-perannya.

Dijelaskan Kabag Tata Pemerintahan Pemkot Semarang Djaka Sukawijana, ada beberapa lembaga masyarakat seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LPMD/LPMK), Lembaga
Ketahanan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LKMDILKMK) atau sebutan nama lain mempunyai tugas menyusun rencana pembangunan secara partisipatif, menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat, melaksanakan dan mengendalikan pembangunan.

“Ada pula Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW), Tim penggerak PKK yang bermita dalam mengembangkan dan memberdayakan keluarga,”ujarnya.

Selain itu, juga ada karang taruna yang mempunyai tugas menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda. Baik yang bersifat preventif, rehabilitatif, maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.

Dengan pemahaman ini, masyarakat diminta untuk lebih paham dan mengerti fungsi-fungsi dari kelembagaan masyarakat yang ada disetiap ke lurahan. “Penekanan pada gejala sosial anak-anak remaja, biasanya kami (Pemkot Semarang) sering menggandeng karang taruna dalam pendekatannya,”imbuh Djaka.

Kaur Komsos Kapten Infantri Bahrudin berharap, agar masyarakat dapat lebih mengetahui peran dari masing-masing kelembagaan masyarakat. ”Dengan mengetahui pera dari masing-masing kelembagaan masyarakat, maka warga bisa ikut serta mengontrol dan ikut serta dalam pembangunan,” ujarnya. (NAP)

Ini Kendala yang Menghambat Proses Kesembuhan Kiki

 Kiki, bocah yang alami kelumpuhan mendadak saat mendapatkan kunjungan dari beberapa polwan (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Kiki, bocah yang alami kelumpuhan mendadak saat mendapatkan kunjungan dari beberapa polwan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejak kisahnya diekspos media, banyak pihak yang berdatangan untuk mengulurkan bantuan pada Rahma Fariski (9), warga Dusun Bendo, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan. Tidak sedikit pula yang bersedia membantu mengobatkan Kiki supaya kelumpuhan mendadaknya bisa segera sembuh.

Namun, ada satu kendala yang dihadapi untuk mengobatkan siswa kelas V SDN 01 Getasrejo tersebut. Yakni, Kiki selalu menolak ketika hendak diajak berobat ke rumah sakit.

“Hal inilah yang paling sulit alam proses pengobatan. Anaknya, pasti menangis dan langsung menolak kalau diajak periksa ke rumah sakit. Sampai saat ini, kami masih membujuknya pelan-pelan supaya mau diobati,” ungkap Suharti, ibu kandung Kiki.

Beberapa anggota polwan yang berkunjung ke rumah Kiki juga sempat membujuknya agar mau berobat. Namun, begitu mendengar kata rumah sakit, Kiki langsung menangis.

Seperti diketahui, musibah yang menimpa Kiki itu berawal saat ia bermain di rumah saudaranya, hari Minggu, 8 Mei lalu. Saat itu, Kiki yang bermain balon dengan mengenakan sandal hak tinggi, tiba-tiba terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan.“Ketika itu, anak saya tidak merasakan keluhan apa-apa. Jadi kami tidak merasa khawatir,” cerita Basrun, ayah kandung Kiki.

Namun, selang empat hari setelah peristiwa itu, Kiki tiba-tiba merasa nyeri di bagian punggungnya ketika masih mengikuti pelajaran di sekolah. Lantara tidak kuat menahan sakit, Kiki sempat menangis hingga akhirnya diantarkan pulang oleh gurunya.

Sesampai di rumah, Kiki merasakan mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Kedua orang tuanya kemudian langsung membawanya ke RSUD dr. Raden Soedjati Purwodadi. Kiki pun langsung diperiksa dan dilakukan rontgen pada bagian yang sakit. Namun, hasil foto tersebut tidak bisa menunjukan gejala yang menjadi penyebab kelumpuhan.

Oleh pihak rumah sakit, Kiki disarankan dirujuk ke rumah sakit yang punya peralatan medis lebih lengkap. Kedua orang tua Kiki diberi pilihan rumah sakit di Solo dan Semarang.

Akibat mengalami kelumpuhan tersebut, hampir seluruh aktivitas keseharian Kiki hanya dilakukan dengan tiduran dan duduk. Saat duduk, dia harus dijaga dengan pengaman di samping kanan-kirinya agar tidak terjatuh.Meski mengalami kelumpuhan, Kiki sampai saat ini tetap sekolah. Setiap hari, Kiki diantarkan ke sekolah oleh ibunya Suharti yang mendorongnya di kursi roda.

Kursi roda ini merupakan hasil sumbangan berbagai pihak yang digalang oleh Komunitas Wisata Grobogan. Dengan kursi roda inilah Suharti mengantarkan anak keduanya ke sekolahan yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya.

Baca juga :Melihat Keceriaan Bocah Penyandang Kelumpuhan saat Dikunjungi Polwan

Editor : Kholistiono

 

Melihat Keceriaan Bocah Penyandang Kelumpuhan saat Dikunjungi Polwan

 

Kiki tampak ceria ketika dikunjungi Kasat Lantas AKP Nur Cahyo dan para Polwan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kiki tampak ceria ketika dikunjungi Kasat Lantas AKP Nur Cahyo dan para Polwan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Raut ceria terpancar dari wajah Rahma Fariski (9), warga Dusun Bendo, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan. Hal ini terlihat saat bocah yang akrab disapa Kiki itu dikunjungi empat anggota Polwan Polres Grobogan, Kamis (4/8/2016). Keceriaan itu barangkali cukup wajar. Sebab, selama ini, cita-cita bocah yang mengalami kelumpuhan mendadak tersebut adalah menjadi seorang Polwan.

Kiki yang ditemani beberapa teman bermainnya bahkan ikut bernyanyi bersama polwan yang datang ke rumahnya. Kedua orang tuanya, Basrun dan Suharti juga terlihat haru melihat kunjungan yang dilakukan anggota Satlantas tersebut.Ikut hadir pula Kasat Lantas AKP Nur Cahyo dan Kaurbinops Iptu Afandi. Sejumlah anggota satlantas ikut pula dalam kesempatan tersebut.

Menurut Nur Cahyo, kunjungan itu dilakukan untuk memberikan motivasi pada Kiki dan keluarganya. Terlebih, dari pemberitaan media disebutkan kalau punya cita-cita jadi seorang polwan.

”Makanya, kami sengaja mengajak anggota polwan untuk ikut kesini biar anak ini merasa senang dan termotivasi biar bisa sembuh. Kami ikut prihatin dengan kondisinya saat ini. Semoga Kiki lekas diberikan kesembuhan agar bisa beraktifitas seperti teman lainnya,” ungkap Nur Cahyo.

Dalam kesempatan itu, Nur Cahyo juga sempat menyerahkan sebuah kendaraan milik Basrun yang sejak beberapa hari lalu sempat ditahan di Polres Grobogan. Hal ini lantaran Basrun terjaring operasi saat ada razia di bundaran Getasrejo.

Saat terjaring razia, Basrun terkena tindakan tilang. Sebab, dia tidak punya SIM dan kendaannya juga tidak dilengkapi spion dan kelengkapan lainnya. “Masalah tilangnya sudah kita selesaikan dan hari ini kendaraan bapak kita antarkan sekalian ke sini. Tolong, nanti dilengkapi kelengkapan kendaraannya,” lanjut Cahyo.

Saat ada razia, Basrun ketika itu hendak membelikan obat buat anaknya. Sampai beberapa hari lamanya, tilang kendaraan itu belum diurus karena dia belum memiliki uang.“Terima kasih atas perhatian dan bantuannya. Semoga dengan adanya kunjungan ini, anak saya makin bersemangat,” kata Basrun.

Editor : Kholistiono

 

Kasus Kekerasan Anak Tinggi di Jepara

bupati

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat menghadiri acara peringatan Hari Anak. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ternyata dari tahun ke tahun angka kasus kekerasan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga di Kabupaten Jepara masih tinggi. Tercatat pada tahun 2015 lalu, terjadi 48 kasus kekerasan terhadap anak-anak, 40 kasus KDRT dan Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) 12 kasus.

Sementara pada tahun 2016 hingga bulan Mei 2016, terjadi 27 kasus yang melibatkan anak-anak,10 kasus KDRT dan ABH 2 kasus.

Selain itu pada tahun 2015 juga terjadi 156 kasus  pernikahan dini dan tahun 2016 hingga bulan Juni tercatat 80 kasus yang tercatat di Pengadilan Agama. Penegasan tersebut disampaikan  Kepala BPPKB Kabupaten Jepara, Inah Nuroniah.

Menurutnya, permasalahan ini perlu mendapatkan penanganan bersama. Di antarnya melalui penyelenggaraan peringatan hari keluarga dan hari anak. Momentum ini  sangat penting dan strategis, mengingat peran keluarga merupakan lingkungan hidup primer dan fundamental terbentuknya kepribadian yang mewarnai kehidupan manusia.

“Keluarga juga perantara sosial pertama dan utama yang mengemban fungsi strategis (10 fungsi keluarga). Dengan demikian akan terwujud keluarga kecil yang berketahanan dan sejahtera.,” kata Nuroniah, Kamis (4/8/2016).

Sementara itu, pentingnya peringatan hari anak juga disampaikan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi pada peringatan Hari Anak Nasional Ke- 32 dan Hari keluarga Nasional ke – 23 Tahun 2016 tingkat Kabupaten di Gedung Wanita, Rabu (3/8/2016).

Menurut dia, peringatan hari anak pada dasarnya mengingatkan  kepada kita agar mampu mengasuh anak sebaik-baiknya.

“Anak adalah perantara kebahagiaan kita semua. Hingga ada istilah Jawa, “Mikul Duwur Mendhem Jero”. Artinya sebagai anak harus dapat menjunjung tinggi harkat dan martabat keluarga serta mengubur dalam-dalam-dalam kejelekan dan dosa kedua orang tua,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengajak semua pihak bergandeng tangan, berkomitmen bersama akhiri kekerasan dalam rumah tangga. Anak nakal jangan dihajar, tetapi yang terbaik anak harus disayangi jasmani dan rohani. Karena kelak anak-anak yang salah arah tersebut akan menghalangi jalan kedua orang tuanya masuk ke surga.

“Selanjutnya keluarga sebagai organisasi terkecil dan terikat orgasnisasi lain, harus kita wujudkan menjadi keluarga kecil yang bahagia, berketahanan dan sejahtera. Jika semua keluarga bisa “Sakinah Mawadah Warohmah”, maka kehidupan kamasyarakatan mulai dari RT, RW hingga Negara akan hebat dan kuat.

Cara mewujudkan nya adalah saling  menyayangi dan menghormati, antara Kepala Keluarga dan segenap anggota keluarga,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Gandeng KPAD, LPAR Blusukan Hingga Pelosok Desa

  LPAR mengadakan rapat koordinasi mengenai perlindungan anak yang ada di Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


LPAR mengadakan rapat koordinasi mengenai perlindungan anak yang ada di Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya perlindungan terhadap anak dari tindak kekerasan dan pelecehan seksual, Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) menggandeng Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD).

Koordinator Jaringan dan Advokasi LPAR Didik Dimyati mengatakan, antara LPAR dan KPAD memiliki misi yang sama, yakni memberikan perlindungan terhadap anak dan membantu pemerintah dalam mewujudkan Rembang sebagai kabupaten layak anak.

“LPAR selalu melakukan koordinasi dengan KPAD untuk bisa sama-sama dalam memberikan edukasi terhadap warga Rembang. Apalagi, KPAD ini kan memang organisasi yang ada di masing-masing desa, sehingga, mereka tahu bagaimana kultur masyarakat setempat. Karena, kita memang blusukan sampai ke desa-desa dalam memberikan edukasi terkait perlindungan anak ini,” katanya.

Ia katakan, dari 287 desa dan 7 kelurahan yang ada di Rembang, baru ada 66 desa dan 7 kelurahan yang sudah mempunyai KPAD. “Pembentukan KPAD itu bukan wilayah kita. Sebab KPAD itu di bawah instansi pemerintah desa dan kelurahan. Dalam hal ini, KPAD juga dibina oleh BPMPKB,” ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk sementara ini, porsinya LPAR hanya sebagai media untuk mendidik warga Rembang supaya bisa melindungi anak anak.”Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga kita saling berkoordinasi dengan pihak terkait. Sehingga pendidikan perlindungan anak bisa selalu disalurkan ke warga Rembang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Warga Kutuk, Yuk Nonton Film Cukai yang Asyik Ini

 Ramainya kegiatan pemutaran film sosialisasi cukai yang digelar Bagian Humas Setda Kudus di beberapa desa yang ada di wilayah ini (MuriaNewsCom)


Ramainya kegiatan pemutaran film sosialisasi cukai yang digelar Bagian Humas Setda Kudus di beberapa desa yang ada di wilayah ini (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Mau tontonan yang menghibur sekaligus memberikan edukasi tersendiri? Nah, bagi warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, datang saja ke lapangan desa setempat, pada Kamis (4/8/2016) mulai pukul 19.00 WIB.

Di sana, warga bisa menyaksikan sendiri berbagai macam film yang menyenangkan, menghibur, sekaligus memberikan pembelajaran bagi warga, akan pentingnya Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Kabupaten Kudus selama ini.

Kegiatan ini adalah kegiatan yang digelar Bagian Humas Setda Kudus, sebagai bagian sosialisasi mengenai aturan cukai. Dengan cara memutarkan film soal itu, di desa-desa yanga da di Kudus ini. ”Kita akan datang ke Desa Kutuk, untuk keperluan serupa. Sehingga warga bisa memanfaatkan kesempatan ini,” kata Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kudus Putut ”Win” Winarno.

Pemutaran film iklan cukai di Kutuk ini, sama dengan kegiatan sebelumnya yang sudah digelar di berbagai desa di Kudus ini. Kegiatan yang digelar ini, dengan berlandaskan Peratuan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK 07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

”Warga Desa Kutuk bisa melihat sendiri bagaimana dana cukai itu digunakan. Yakni demi kesejahteraan warga itu sendiri. Bagaimana bisa memanfaatkan dana ini dengan baik, bisa disaksikan lewat pemutaran film ini,” terangnya.

Winarno menganggap penting jika warga Desa Kutuk, menyaksikan film ini. Karena mereka adalah bagian yang berhak untuk memanfaatkan dana cukai, demi peningkatan kesejahteraan mereka.

”Itu sebabnya, kita putarkan film berbagai penggunaan dana cukai. Biar warga bisa paham, bahwa mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam penggunaan dana cukai yang diterima Pemkab Kudus. Yakni digunakan untuk peningkatan kesejahteraan mereka,” paparnya.

Bagian Humas Setda Kudus menjadi salah satu pilar untuk melakukan sosialisasi mengenai aturan pemakaian dana cukai ini. Dan yang terbaru adalah sosialisasi dengan menggunakan metode pemutaran film soal cukai, yang digelar di desa-desa.

Ada banyak tema yang diperlihatkan dalam film-film garapan Bagian Humas tersebut. Namun intinya adalah bagaimana dana cukai tersebut, bisa digunakan warga untuk meningkatkan pendapatan atau kesejahteraan mereka.

Dengan sosialisasi melalui film ini, Winarno mengatakan, pihaknya ingin mengajak masyarakat luas, supaya bisa memahami aturan soal cukai ini. Termasuk bahwa dana cukai itu digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan warga, melalui berbagai kegiatan.

”Bahkan, dana cukai itu dibuat untuk memperbaiki jalan-jalan di Kudus, yang tentunya akan membuat aktivitas atau kegiatan warga menjadi lancar. Jika infrastruktur sudah mendukung, maka aktivitas perekonomian juga akan meningkat. Dan akan mengangkat kesejahteraan masyarakat,” papar Winarno.

Setelah Desa Kutuk, kegiatan pemutaran film ini akan digelar juga di Desa Pladen (Jekulo) pada 6 Agustus 2016, Desa Payaman (Mejobo) pada 10 Agustus 2016, Desa Hadipolo (Jekulo) pada 13 Agustus 2016, dan Desa Honggosoco (Jekulo) yang belum ditentukan tanggalnya. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

Sejumlah Pemuda di Rembang Rela Tak Dibayar Demi Selamatkan Anak-anak dari Tindak Kekerasan

 Anggota Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) sedang menggelar rapat koordinasi di Kantor LPAR di Kelurahan Leteh (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Anggota Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) sedang menggelar rapat koordinasi di Kantor LPAR di Kelurahan Leteh (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Meskipun Rembang sudah menyandang gelar sebagai kabupaten layak anak sejak tahun 2011, namun kekerasan terhadap anak masih rentan terjadi. Apalagi jika isu tersebut dianggap tanggungjawab pihak tertentu. Padahal, perlindungan anak merupakan tanggungjawab bersama.

Terkait hal itu, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) menginginkan adanya keselamatan anak-anak dari adanya tindak kekerasan ataupun pelecehan seksual, dan hal lainnya.

Divisi Penguatan Organisasi LPAR Syafi’ul Anam mengatakan, dalam hal ini, anggota yang tergabung dalam LPAR berupaya agar tidak muncul adanya kekerasan-kekerasan ataupun pelecehan terhadap anak di Kabupaten Rembang.

“Caranya dengan memberikan edukasi terhadap anak-anak maupun masyarakat umum. Seperti halnya melarang saling membuli, saling mencemooh atau lainnya. Sebab, hal-hal seperti itu bisa memicu adanya kekerasan,” ujarnya.

Bahkan menurutnya, dalam pergerakannya atau menjalankan kegiatan dalam upaya memberikan perlindungan terhadap anak tersebut, pihaknya rela untuk tak dibayar. “Ini memang sukarela, dan keberadaan kami juga diharapkan bisa memberikan support terhadap pemerintah dalam hal mewujudkan kota layak anak secara maksimal,” katanya.

Dia menambahkan, meskipum lembaga ini tidak ada anggaran dari instansi atau pemerintah, namun anggota LPAR akan selalu ikut membantu pemda dalam penyelengaraan perlindungan anak.”Terlebih, Pemda Rembang juga menginginkan kategori kabupaten layak anak bisa terus terwujud,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Dibuat di India, Puluhan Disabilitas Tunggu 3 Bulan Lagi untuk Bisa Gunakan Kaki dan Tangan Palsu

Para penyandang disabilitas yang akan mendapatkan bantuan tangan dan kaki palsu menjalani proses pengukuran (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para penyandang disabilitas yang akan mendapatkan bantuan tangan dan kaki palsu menjalani proses pengukuran (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemberian bantuan kaki dan tangan palsu pada penyandang disabilitas dalam waktu dekat kembali akan dilakukan. Hal ini seiring adanya pengukuran yang dilakukan pada puluhan penyandang disabilitas lainnya.

Proses pengukuran di pendapa ini dilangsungkan usai acara penyerahan bantuan kaki dan tangan palsu pada penyandang disabilitas yang dilakukan Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Grobogan Andung Sutiyoso menyatakan, jumlah penyandang disabilitas yang menjalani proses pengukuran ini sekitar 60 orang. Mereka ini berasal dari beberapa kecamatan yang datanya didapat dari kepala desa.

Menurut Andung, para calon menerima bantuan kaki dan tangan palsu memang terlebih dahulu harus menjalani proses pengukuran. Setelah itu, baru dilakukan pemesanan barang yang disesuaikan dengan ukuran kaki atau tangan calon penerima bantuan tersebut.

“Proses pengukuran kaki dan tangan ini harus dilakukan dulu. Perlu diketahui, pembuatan kaki dan tangan palsu tersebut dilakukan di India. Oleh sebab itu, penyandang disabilitas baru akan menerima dan bisa menggunakan bantuan itu sekitar 3 bulan ke depan,” imbuhnya.

Penyaluran bantuan pada penyandang disabilitas ini merupakan kerjasama antara Dinsosnakertrans dengan Paguyuban Rantau Grobogan (PRG) Korcab Semarang dan Masyarakat Peduli Penyandang Disabilitas (MPPD) Bantul, Yogyakarta.

Andung menambahkan, bulan lalu, pihaknya juga sudah menyerahkan peralatan bantu jalan pada penyandang disabilitas. Masing-masing, 8 unit kursi roda, 2 walker, 2 kruk dan 1 tongkat netra. Bantuan peralatan tersebut diterima beberapa hari lalu dari Yayasan Sosial Berani Bangsa Jakarta.

Editor : Kholistiono

 

Bupati Grobogan Minta Ada Pelatihan untuk Penyandang Disabilitas

 

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menyerahkan bantuan kaki dan tangan palsu pada penyandang disabilitas yang dilangsungkan di Pendapa Kabupaten (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menyerahkan bantuan kaki dan tangan palsu pada penyandang disabilitas yang dilangsungkan di Pendapa Kabupaten (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain memberikan bantuan peralatan, Dinsosnakertrans Grobogan diminta mulai menyiapkan rencana buat memberikan pelatihan pada para penyandang disabilitas.

Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menyerahkan bantuan kaki dan tangan palsu pada 11 penyandang disabilitas yang dilangsungkan di Pendapa Kabupaten Grobogan, Selasa (2/8/2016).

Menurut Sri, dengan pelatihan tersebut diharapkan para penyandang disabilitas bisa punya keahlian. Dengan demikian, nantinya mereka bisa punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha sendiri.

“Perhatian pada penyandang disabilitas ini perlu kita tingkatkan. Salah satunya, memberikan mereka serangkaian pelatihan yang disesuikan dengan kondisi. Kita minta pihak Dinsosnakertrans agar memperhatikan masalah ini,” tegasnya.

Selain memberikan pelatihan, Sri juga meminta agar dinas terkait membuat pendataan jumlah penyandang disabilitas yang ada di wilayahnya. Hal itu diperlukan agar pemkab bisa membuatkan program, khususnya bantuan peralatan pada penyandang disabilitas tersebut.

“Kami berharap dinas terkait dibantu camat dan kades bisa membuat database penyandang disabilitas se-kabupaten. Kalau punya data yang lengkap akan memudahkan dan membantu ketika membikinkan program untuk mereka,” sambungnya.

Menanggapi perintah bupati, Kepala Dinsosnakertrans Grobogan Andung Sutiyoso menyatakan siap melaksanakan. Nantinya, para penyandang disabilitas bisa disertakan dalam pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK).

“Kita punya BLK yang selama ini sudah digunakan untuk melangsungkan pelatihan bagi banyak pihak. Nanti, pelatihan buat penyandang disabilitas bisa diikutkan di situ. Sedangkan soal pendataan jumlah penyandang disabilitas sudah mulai kita lakukan,” katanya.

Editor : Kholistiono

PNS Blora Dipotong Gajinya untuk Bantu Warga Miskin

halal

Wabup Blora Arief Rohman memberikan bantuan kepada warga kurang mampu di Soko, Jepon, Blora. (Dok Humas Pemkab Blora)

 

MuriaNewsCom, Blora – Bupati Blora Djoko Nugroho didampingi Wakil Bupati Blora Arief Rohman menghadiri Halal bihalal Keluarga Besar Setda Kabupaten Blora.

Kegiatan dilakukan beserta Dharma Wanita Persatuan Setda Kabupaten Blora dan Keluarga Besar Korpri Kabupaten Blora di Pesanggrahan Wringin Seto Sayuran, Desa Soko, Kecamatan Jepon, Selasa, (2/8/2016).

Acara ini dihadiri oleh keluarga besar Korpri dan Dharma Wanita Persatuan Setda Kabupaten Blora, serta Keluarga Pesanggrahan Wringin Seto Sayuran, Desa Soko. Juga hadir kiai Sofi’i dari Ngaringan yang memberikan tausiah.

Dalam sambutannya Djoko menyampaikan bahwa halal bihalal adalah suatu tradisi yang dapat mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat. Dengan adanya kegiatan ini diharap dapat meningkatkan kinerja antar instansi di Kabupaten Blora.

Sedangkan untuk tujuan dari pemilihan Pesanggrahan Wringin Seto Sayuran, Desa Soko sebagai tempat pelaksanaan adalah untuk memperkenalkan destinasi wisata baru di Kabupaten Blora dan patut untuk dikunjungi.

“Nantinya pesanggrahan ini akan dibuka untuk umum. Khusus di hari Sabtu dan Minggu, tetapi hanya boleh untuk keluarga ataupun instansi. Untuk yang ingin berpacaran dilarang datang kesini,” ujarnya.

Dalam acara,juga dilakukan penyerahan Bazda kepada 20 warga kurang mampu Desa Soko, Kecamatan Jepon. Bazda merupakan hasil pemotongan gaji dari Pegawai Negeri Sipil, yang nantinya diharapkan dapat membantu memberantas kemiskinan di Kabupaten Blora.

Selain itu, bupati berpesan kepada warga Desa Soko untuk menjaga kebersihan serta keasrian lingkungan sekitar. Bupati melepaskan 250 burung sebagai cara untuk melestarikan lingkungan.

Dalam acara, Ketua Pesanggrahan Wringin Seto Sayuran menyampaikan mengenai sejarah terbentukknya Pesanggrahan. Sedangkan kiai Sofi’i menyampaikan bahwa sebagai manusia harus saling menjaga silaturahmi antarsesama umat beragama.

Editor : Akrom Hazami


Lowongan Wartawan PT Muria Indomedia untuk Wilayah Blora

lowongan 2

 

MuriaNewsCom, Blora – Anda mempunyai kemampuan menulis jurnalistik dan fotografi? jika Anda memiliki kemampuan tersebut,  PT Muria Indomedia yang menaungi Murianews.com dan Koranmuria.com membuka lowongan pekerjaan.

Adapun lowongan yang disediakan untuk posisi reporter/wartawan/jurnalis, untuk ditempatkan di Kabupaten Kudus.

Untuk bisa menempati posisi yang ditawarkan, Anda harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut:

Pria/wanita Usia maksimal 25 tahun

Sehat jasmani dan rohani

Pendidikan terakhir S1 (Mahasiswa semester akhir diperbolehkan dengan syarat melampirkan transkip nilai)

Punya pengalaman di bidang tulis menulis

Punya kemauan kuat jadi wartawan

Punya kendaraan dan SIM C

Siap ditempatkan di Blora

Mampu bekerja dalam tim

Mempunyai Gadget Android dengan koneksi internet

Siap bekerja keras dan kerja dengan target

Jika Anda mempunyai kualifikasi di atas, silakan kirimkan lamaran dan CV. Baik ke alamat redaksi atau juga ke alamat email ke kantor redaksi PT Muria Indomedia.

Alamat: United Futsal Stadium Lantai 2, Ring Road Utara Singocandi, Kudus Jawa Tengah, Kode Pos: 59314. Nomor telepon: 0291-4248700.

Alamat email: red.murianews@gmail.com.

Lamaran berlaku hingga Rabu (31/8/2016).

Editor : Akrom Hazami

 

Lowongan Wartawan PT Muria Indomedia untuk Wilayah Kudus

lowongan 2

 

MuriaNewsCom, Kudus – Anda mempunyai kemampuan menulis jurnalistik dan fotografi? jika Anda memiliki kemampuan tersebut,  PT Muria Indomedia yang menaungi Murianews.com dan Koranmuria.com membuka lowongan pekerjaan.

Adapun lowongan yang disediakan untuk posisi reporter/wartawan/jurnalis, untuk ditempatkan di Kabupaten Kudus.

Untuk bisa menempati posisi yang ditawarkan, Anda harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut:

Pria/wanita Usia maksimal 25 tahun

Sehat jasmani dan rohani

Pendidikan terakhir S1 (Mahasiswa semester akhir diperbolehkan dengan syarat melampirkan transkip nilai)

Punya pengalaman di bidang tulis menulis

Punya kemauan kuat jadi wartawan

Punya kendaraan dan SIM C

Siap ditempatkan di Kudus

Mampu bekerja dalam tim

Mempunyai Gadget Android dengan koneksi internet

Siap bekerja keras dan kerja dengan target

Jika Anda mempunyai kualifikasi di atas, silakan kirimkan lamaran dan CV. Baik ke alamat redaksi atau juga ke alamat email ke kantor redaksi PT Muria Indomedia.

Alamat: United Futsal Stadium Lantai 2, Ring Road Utara Singocandi, Kudus Jawa Tengah, Kode Pos: 59314. Nomor telepon: 0291-4248700.

Alamat email: red.murianews@gmail.com.

Lamaran berlaku hingga Rabu (31/8/2016).

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Menderita Kanker Tulang, Siswa Ini Tuai Keprihatinan dari Pengguna Medsos

 

Mukhromin, siswa SMP asal Desa Dudakawu yang menderita penyakit kanker tulang , yang kini hanya bisa terbaring (facebook)

Mukhromin, siswa SMP asal Desa Dudakawu yang menderita penyakit kanker tulang , yang kini hanya bisa terbaring (facebook)

MuriaNewsCom, Jepara – Mukhromin (15) siswa SMPN 4 Kembang, Jepara, kondisinya kini sangat memprihatinkan akibat penyakit kanker tulang (osteosarcoma) yang dideritanya. Selama sebulan terakhir ini, remaja tersebut hanya bisa tergolek lemah di tempat tidurnya.

Akibat kondisi yang memprihatinkan, remaja yang tinggal RT 02 RW 02 Desa Dudakawu, Kembang, Jepara ini sontak tuai simpati dari pengguna medsos. Salah satunya, adalah Hari Setiawan.

Di akun facebook Hari Setiawan ditulis mengenai kondisi yang dialami Mukhromin. Dirinya juga mengajak siapa saja yang memiliki kepedulian untuk ikut serta meringankan beban yang dialami remaja yang masih duduk di bangku SMP tersebut.

Hal yang sama juga tertulis di akun facebook Dian Prasetyo. “Marilah kita membantu saudara kita yg satu ini dengan ikhlas. Sudilah kiranya saudar-saudaraku sekalian mau memberikan sumbangan berapapun bagi saudara kita ini utk nantinya digunakan berobat,” tulisnya.

Editor : Kholistiono

“Ini Bukan Hari Baik untuk Bongkar Lapak PKL”

Salah seorang PKL, Wawan, saat berada di lokasi pembongkaran lapak di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah seorang PKL, Wawan, saat berada di lokasi pembongkaran lapak di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Wawan Setiawan (50), seorang PKL di Kudus ini menolak lapaknya dibongkar Satpol PP secara paksa.

Dia meminta waktu untuk membongkar lapaknya sendiri. Hal itu, dilakukan lantaran dirinya mencari hari yang baik menurut perhitungannya.

“Saya ini orang Jawa, jadi harus cari hari baik serta hitungan yang baik pula. Tidak bisa sembarangan, kalau tidak laku, gara-gara hari pindah jelek, gimana,” tanyanya saat lapaknya hendak dibongkar Satpol PP.

Dia yang telah lama membuka lapak di jalan R Agil Kusumadya bersedia pindah meskipun terpaksa. Itu dilakukan karena telah ada tempat baru yang disediakan.

Tempat baru yang dimaksud, adalah sama di jalan R Agil. “Sebenarnya kalau keberatan ya keberatan, sebab sudah 27 tahun di sini. Tapi bagaimana lagi, maksimal seminggu harus sudah pindah ini,” ungkapnya.

M Sunaryo, pedagang warung juga mengungkapkan kekesalannya. Namun lantaran sudah menjadi kebijakan pemerintah, dia hanya bisa menerima.

“Lokasi baru kecil, hanya sekitar tiga meter. Padahal saya jualan makanan. Tapi bagaimana lagi, tidak bisa apa-apa,” keluhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

PKL Nantang Satpol PP Kudus, 2 Lapaknya Pun Dibongkar Paksa

Sejumlah petugas Satpol PP membongkar lapak PKL di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah petugas Satpol PP membongkar lapak PKL di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah petugas gabungan dari Satpol PP, Dishubkominfo dan Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus membongkar dua lapak PKL Senin (1/8/2016).

Kedua lapak tersebut, diketahui jika pemiliknya nantang. Yakni tidak mengindahkan peringatan yang sebelumnya telah disampaikan.

PKL yang dibongkar adalah PKL di jalan R Agil Kusumadya atau di dekat dengan DPRD Kudus ke selatan, dan di jalan Museum kretek. Di masing-masing tempat ada satu buah lapak yang dibongkar paksa.

Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengungkapkan, PKL tersebut berjualan di kawasan yang dilarangt.  Sebelumnya, pedagang sudah mendapat  peringatan. Tapi pemilik lapak belum juga membongkar.

“Keduanya terpaksa kami tertibkan lantaran pemilik tidak datang untuk membongkar. Untuk itulah kami terpaksa membongkarnya,” katanya.

Menurutnya, khusus untuk lapak yang terdapat di jalan Museum kretek, hasil bongkaran diminta pemilik. Sebab ketika usai bongkar, pemilik datang ke lokasi.

Sementara untuk di jalan R Agil, pemilik tak datang sampai pembongkaran lapak dilakukan. Bahkan hingga lapak berupa kayu dan atap dibawa ke kantor Satpol, tidak juga pemilik datang.

“Besar kemungkinan pemilik sudah meninggalkan lapak itu. Jadi tidak ada yang datang,” ungkapnya.

Dia menambahkan, sebenarnya ada lapak lainnya yang juga harus dibongkar. Namun para pemilik meminta negosiasi agar lapak dibongkar sendiri.

“Ada tiga lapak lain yang harusnya dibongkar namun tadi sudah tanda tangan perjanjian. Rencana maksimal 8 Agustus mendatang harus sudah bersih,” ungkapnya.

Dia menambahkan, patroli rutin akan terus digalakkan untuk menciptakan kondisi yang tertib dari PKL. Tidak hanya untuk patroli pada pagi dan siang hari saja yang dilakukan, melainkan pula pada malam hari.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Rahasia Eko dan Istri dalam Mendidik Ketiga Anaknya yang Kini Semuanya jadi Perwira AL

Eko Hery SS bersama istri dan ketiga putranya yang jadi perwira TNI AL (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Eko Hery SS bersama istri dan ketiga putranya yang jadi perwira TNI AL (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pasangan Eko Hery Septi Sasmoyo dan Supartini, sukses mengantarkan anak-anaknya yang kini semuanya telah menjadi Perwira Angkatan Laut. Pensiunan PNS Pemkab Grobogan yang tingga di komplek Perumahan RSS Sambak Indah, Kelurahan Purwodadi, ini mengaku bangga bisa melihat anak-anaknya kini bisa menjadi anggota TNI.

Disinggung kiat suksesnya dalam mendidik putranya, Eko menyatakan tidak punya resep khusus. Apa yang dilakukan dalam membimbing putranya sama seperti yang diterapkan kebanyakan orang tua.

Hanya saja, Eko dan istrinya memang selalu menaruh perhatian serius terhadap perkembangan putranya. Terutama, dalam masalah pergaulan dan pendidikan. “Soal pergaulan dan pendidikan ini memang saya prioritaskan perhatiannya. Sebab, kedua hal ini nantinya jadi bekal penting mereka meraih masa depan,” terang Eko.

Di samping itu, perilaku disiplin, jujur, sopan juga ditekankan pada anaknya semenjak kecil. Mereka bertiga juga dilatih mandiri, hidup sederhana dan berhemat. Kemudian, ada satu hal lagi yang dilakukannya sebagai orang tua. Yakni, senantiasa mendoakan anak-anaknya agar selalu diberikan kesehatan serta kemudahan dalam meraih cita-cita dan menjalani kehidupan.

“Saya juga bersyukur, anak-anak ini selalu nurut nasehat dan bisa menerima keadaan orang tua. Anak-anak juga saya tekankan untuk selalu punya motivasi dan tidak mudah putus asa ketika mengalami suatu kegagalan,” sambungnya.

Baca juga :Kisah Pasangan Eko dan Supartini yang Sukses Antarkan 3 Anaknya jadi Perwira AL

 Editor : Kholistiono

Kisah Pasangan Eko dan Supartini yang Sukses Antarkan 3 Anaknya jadi Perwira AL

Eko Hery SS bersama istri dan ketiga putranya yang jadi perwira TNI AL (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Eko Hery SS bersama istri dan ketiga putranya yang jadi perwira TNI AL (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyak orang tua yang salah satu anaknya bisa menempuh pendidikan militer, seperti Akademi Angkatan Laut (AAL). Tetapi, jika ada tiga anaknya yang semuanya bisa masuk AAL tentu tidak banyak jumlahnya.

Salah satu orang tua yang bisa memiliki prestasi ini adalah pasangan Eko Hery Septi Sasmoyo dan Supartini. Ketiga anaknya berhasil masuk AAL dan sukses menyelesaikan pendidikan dengan baik. Saat ini, ketiganya sudah jadi perwira TNI AL.

“Terus terang, saya juga tidak menyangka jika ketiganya sama-sama bisa diterima masuk AAL. Ini merupakan kehendak Tuhan dan saya selalu mensyukuri nikmat yang diberikan ini,” kata Eko Hery saat disambangi di rumahnya yang berada di komplek Perumahan RSS Sambak Indah, Kelurahan Purwodadi.

Putra pertamanya Niko Yoga Wicaksana masuk AAL tahun 2002 dan lulus tahun 2005. Saat ini, Niko sudah jadi perwira dengan pangkat Kapten dan bertugas sebagai pasukan khusus penyelam TNI AL.

Putra keduanya Tegar Mundhi Nugroho masuk AAL tahun 2007 dan berhasil lulus tahun 2011. Sekarang, Tegar bertugas sebagai pelaut TNI AL dengan pangkat Lettu. Putra ketiganya, Aditya Bagus Umboro menyusul masuk AAL tahun 2009 dan lulus tahun 2013. Bagus saat ini sudah jadi perwira dengan pangkat Letda dan bertugas di bagian suplai logistik TNI AL.

Dari ketiga orang ini, hanya Niko yang berhasil diterima masuk AAL pada kesempatan pertama mengikuti seleksi. Sedangkan Tegar, sempat dua kali gagal diterima saat mengikuti seleksi AAL tahun 2005 dan 2006.

Selama dua tahun itu, Tegar bahkan sudah sempat kuliah di Undip jurusan kelautan. Baru pada kesempatan ketiga, Tegar berhasil lolos mengikuti jejak kakaknya. Sementara Bagus juga sempat mengalami kegagalan sekali ketika mengikuti seleksi tahun 2008. Setahun kemudian, Bagus kembali ikut seleksi dan akhirnya diterima.

Keberhasilan putra bungsunya masuk AAL tahun 2009 seolah jadi kado istimewa bagi Eko Hery. Sebab, setahun berikutnya, yakni 2010, Eko masuk masa pensiun sebagai PNS. Terakhir jadi PNS, Eko bertugas sebagai staf di Bagian Perekonomian Pemkab Grobogan.

“Setelah Niko berhasil masuk AAL, dia banyak cerita pengalamanya selama menempuh pendidikan pada adik-adiknya. Dari sinilah, adik-adiknya merasa tertarik dan kemudian muncul keinginan untuk mengikuti jejak kakaknya,” tutur Eko.

Editor : Kholistiono

 

2 Karung Bendera Merah Putih Dijual di Jepara

bendera

Pedagang bendera merah putih memajang dagangannya di salah satu sudut di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ketika kita datang ke Kota Jepara saat ini, kita akan melihat banyak bendera merah putih berkibar di beberapa titik di pinggir jalan. Ya, pemandangan yang tak seperti biasanya itu terjadi di Kabupaten Jepara, mungkin juga di tempat lain.

Mereka adalah pedagang bendera dadakan menjelang masuk ke bulan Agustus lebih tepatnya 17 Agustus, sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Pedagang tersebut, justru kebanyakan berasal dari luar kota. Seperti pedagang yang melapakkan dagangannya di jalan Sutomo, Ahmad Nurjam. Ia jauh-jauh datang dari Garut, Jawa Barat hanya untuk menjual bendera merah putih. Itu dilakukan, bersama teman-temannya namun lokasi jualannya berbeda-beda.

“Saya datang ke Jepara tidak sendirian. Ada tujuh teman lainnya yang jualan bendera di tempat berbeda. Rata-rata bawa dua karung berisi bendera merah putih dengan berbagai bentuk. Satu karung ada 100 bendera lebih,” ujar Nurjam kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/7/2016).

Dia juga membeberkan, bendera yang dibawa bentuknya macam-macam. Ada yang panjang, pendek dan variasi. Harganya pun juga bermaca-macam, mulai dari harga Rp 5 ribu sampai Rp 55 ribu. Bergantung ukuran dan bentukknya.

Hal senada juga dikatakan pedagang bendera musiman lainnya, Setiawan. Menurutnya, agar bendera dan aneka hiasan khas peringatan kemerdekaan diminati masyarakat, dia menjual bentuk-bentuk hiasan bendera yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

“Umbul-umbul yang model baru ada kombinasi warna dan tambahan motif batik. Kalau tahun lalu kan hanya warna merah putih berbentuk segitiga,” kata Setiawan.

Sementara itu, salah satu pembeli, Munawarah mengaku, sengaja membeli bendera dan umbul-umbul lebih awal untuk persiapan peringatan 17 Agustus. Biasanya, , semakin mendekati hari kemerdekaan, harga bendera dan umbul-umbul juga semakin mahal.

“Ini beli lebih awal untuk persiapan perayaan HUT RI di kampung. Kebetulan saya ditugasi untuk mencari bendera sebanyak-banyaknya,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Mengharukan! Bocah Ini Harus Rela Pendam Cita-citanya jadi Polwan Karena Alami Kelumpuhan

Setiap hari, Suharti  harus mengantar dan menjemput Kiki dari sekolah dengan mendorongnya menggunakan kursi roda (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Setiap hari, Suharti harus mengantar dan menjemput Kiki dari sekolah dengan mendorongnya menggunakan kursi roda (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk sementara, Rahma Fariski (9), warga Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan harus memendam cita-citanya menjadi seorang polwan. Hal ini setelah siswa kelas V SDN 01 Getasrejo itu mendadak terserang kelumpuhan.

Musibah yang menimpa Kiki (nama panggilannya) itu berawal saat ia bermain di rumah saudaranya, hari Minggu, 8 Mei lalu. Saat itu, Kiki yang bermain balon dengan mengenakan sandal hak tinggi tiba-tiba terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan. “Ketika itu, anak saya tidak merasakan keluhan apa-apa. Jadi kami tidak merasa khawatir,” cerita Basrun, ayah kandung Kiki.

Namun, selang empat hari setelah peristiwa itu, Kiki tiba-tiba merasa nyeri di bagian punggungnya ketika masih mengikuti pelajaran di sekolah. Lantaran tidak kuat menahan sakit, Kiki sempat menangis hingga akhirnya diantarkan pulang oleh gurunya.

Sesampai di rumah, Kiki merasakan mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Kedua orang tuanya kemudian langsung membawanya ke RSUD dr. Raden Soedjati Purwodadi. Kiki pun langsung diperiksa dan dilakukan rontgen pada bagian yang sakit. Namun, hasil foto tersebut tidak bisa menunjukan gejala yang menjadi penyebab kelumpuhan.

Oleh pihak rumah sakit, Kiki disarankan dirujuk ke rumah sakit yang punya peralatan medis lebih lengkap. Kedua orang tua Kiki diberi pilihan rumah sakit di Solo dan Semarang. Namun, karena terbentur biaya, saran dari pihak RSUD itu belum dilakukan.

”Kalau biaya pengobatan, mungkin bisa diatasi, karena kami sudah punya BPJS. Kami bingung, untuk bisa dibawa ke sana. Seperti biaya transportasi dan lainnya. Kami berharap bantuan dari pemerintah, agar Kiki ini bisa sembuh dan mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang polwan,” lanjut Basrun yang bekerja sebagai buruh bangunan serabutan itu.

Akibat mengalami kelumpuhan tersebut, hampir seluruh aktivitas keseharian Kiki hanya dilakukan dengan tiduran dan duduk. Saat duduk, dia harus dijaga dengan pengaman di samping kanan-kirinya agar tidak terjatuh.

Meski mengalami kelumpuhan, Kiki sampai saat ini tetap sekolah. Setiap hari, Kiki diantarkan ke sekolah oleh ibunya Suharti yang mendorongnya di kursi roda.

Kursi roda ini merupakan hasil sumbangan berbagai pihak yang digalang oleh Komunitas Wisata Grobogan. Dengan kursi roda inilah Suharti mengantarkan anak keduanya ke sekolahan yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya.

Sementara itu, menurut guru kelasnya Aji Putra, Kiki merupakan siswa yang cukup pintar. Selama ini, dia mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Namun, Kiki memang sifatnya pendiam.

”Kami ikut prihatin dengan kondisinya saat ini. Semoga Kiki lekas diberikan kesembuhan agar bisa beraktifitas seperti teman lainnya. Selama ini, Kiki nilainya bagus-bagus,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

165 Penyuluh Agama Islam di Jepara Diberi Pembinaan

Suasana kegiatan Penyuluh Agama Islam Non PNS di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Suasana kegiatan Penyuluh Agama Islam Non PNS di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 165 Penyuluh Agama Islam Non PNS di Kabupaten Jepara diberi pembinaan.

Pembinaan itu dilakukan untuk memberikan pemahaman yang utuh berkait dengan kondusivitas daerah dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkait dengan bidang keagamaan.

Hal itu tidak lepas dari pentingnya peran dan posisi strategis para penyuluh di lingkungan masyarakat.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Jepara, Lukito Sudi Asmara, mengatakan, kegiatan pembinaan terhadap 165 orang yang berasal dari kecamatan se-Kabupaten Jepara  untuk memantapkan peran dan fungsinya.

Terlebih, peran dan fungsi penyuluh juga sebagai corong umat, sehingga termotivasi untuk melaksanakan tugas dengan penuh ketekunan dan pengabdian dengan menghasilkan penyuluh yang professional.

“Ini sebagai upaya untuk mendakwahkan Islam, menyampaikan penerangan agama dan mendidik masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai ajaran agama dan sebagai upaya untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat umum,” terang Lukito, Kamis (28/7/2016) di ruang rapat 1 Setda Jepara.

Menurutnya, penyuluh agama diharapkan memiliki tanggung jawab moral dan situasi untuk melakukan kegiatan pembelaan terhadap umat atau masyarakat dari berbagai ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang merugikan aqidah, mengganggu ibadah dan merusak akhlak.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, mengatakan, pemerintah sangat membutuhkan penyuluh untuk dapat melakukan pembinaan kepada masyarakat sebagai perpanjangan informasi Kementerian Agama di kecamatan.

Dikatakan, karena perannya sebagai perpanjangan informasi maka fungsi penyuluh sangat strategis di masyarakat untuk memberikan pemahaman dan penyuluhan agama termasuk juga sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk untuk menjaga nilai-nilai akhlak manusia di tengah-tengah perkembangan masyarakat yang dinamis.

“Selain itu juga untuk mewaspadai situasi yang terjadi di masyarakat dengan munculnya  gerakan-gerakan atau aliran yang menyesatkan. Untuk itu perlu diberikan beberapa arahan dan pembinaan kepada para penyuluh Agama Islam di tingkat kecamatan sehingga terwujudnya masyarakat yang religius dan taat beragama di Kabupaten Jepara ini,” terangnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Jadi Tukang Sapu Jalan Dadakan, Polisi di Grobogan Ini Banjir Pujian

 Anggota Satlantas Polres Grobogan Aiptu Tukijo dibantu petugas Dishubkominfo membersihkan pecahan kaca yang berceceran di jalan raya (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Anggota Satlantas Polres Grobogan Aiptu Tukijo dibantu petugas Dishubkominfo membersihkan pecahan kaca yang berceceran di jalan raya (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemandangan agak unik terjadi di Jalan Purwodadi-Solo km 5, tepatnya di depan Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dinhubkominfo) Grobogan. Hal ini terkait adanya seorang anggta Satlantas yang terlihat sedang menyapu jalan untuk membersihkan pecahan kaca yang berceceran di situ.

Polantas yang mendadak jadi tukang sapu ini adalah Aiptu Tukijo. Dia merupakan salah satu polisi senior di Satlantas Polres Grobogan. Ceritanya, saat itu Tukijo tengah mendapat tugas untuk mengamankan arus lalu lintas di sekitar situ. Sesampai di depan Kantor Dinhubkominfo Grobogan, Tukijo melihat banyak pecahan kaca di sisi jalan sebelah barat.

Seketika diapun segera berhenti dan kemudian meminjam sapu lidi milik warga sekitar situ. Selanjutnya, dengan menggunakan sapu tersebut pecahan kaca itupun dikumpulkan.

Salah seorang pegawai Dinhubkominfo yang melihat ada polantas bersih-bersih, kemudian ikut membantu. Sekitar 15 menit, pecahan kaca sudah berhasil dibersihkan.“Pecahan kaca yang tercecer di jalan ini sangat membahayakan pengendara. Terutama bagi pengguna sepeda motor. Makanya, saya langsung berinisiatif untuk membersihkan pecahan kaca yang berceceran di situ,” kata polisi yang bertugas dibagian pelayanan SIM itu.

Aksi bersih-bersih yang dilakukan Polantas ini tak ayal mengundang perhatian warga. Beberapa di antaranya bahkan sempat mengabadikan momen langka itu melalui kamera handphone. “Salut atas tindakan Pak Polisi tadi. Semula saya kira ada kecelakaan di situ. Ternyata, polisinya lagi membersihkan pecahan kaca,” kata Triyono, warga yang kebetulan melintas di situ.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Nur Cahyo mengatakan, pihaknya selama ini memang menggiatkan patroli rutin. Terutama, mulai momen menjelang dan sesudah Lebaran karena banyak kendaraan yang melintasi wilayah Grobogan.

”Ketika melakukan tugas patroli, kami tekankan pada anggota agar membantu masyarakat di jalur yang dilintasi. Termasuk membantu untuk mengamankan hal-hal yang sekiranya membahayakan pengguna jalan,” katanya.

 Editor : Kholistiono

 

Ratusan Kader Muhammadiyah Gebog Ramaikan Musyab

muhammadiyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan Musyab Gebog 2016 berlangsung ramai. Hal itu dipastikan, lantaran kegiatan bakal dihadiri ratusan kadernya.

Panitia penyelenggara Karmidi mengatakan, kegiatan diadakan pada Kamis (28/7/2016), sekitar pukul 19.30 WIB. Kegiatan awal adalah pengajian, yang akan diisi oleh Ketua Muhammadiyah Jateng

“Persiapan sudah dilakukan, tinggal menunggu pelaksanaan yang berlangsung besok malam. Mudah mudahan pengajian besok berjalan lancar, sehingga mampu membawa Muhammadiyah lebih baik lagi,” katanya.

Menurutnya, lokasi pengajian berada di Masjid Taqwa, turut Desa Besito, Gebog. Sedikitnya 600 peserta pengajian bakal hadir, mengingat undangan yang sudah tersebar di Bae dan Dawe.

Pihaknya mengajak masyarkat sekitar untuk ikut datang dalam pengajian. Sebab pengajian yang dilakukan bersifat umum, sehingga siapapun bisa datang.

Editor : Akrom Hazami

 

 

PMI Jepara Targetkan Dana Rp 1,8 Miliar

Kegiatan PMI Jepara yang diadakan di pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kegiatan PMI Jepara yang diadakan di pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Gerakan Bulan Dana Palang Merah Indonesia (PMI) di Kabupaten Jepara Tahun 2016 menargetkan sebesar Rp 1,8 miliar. Hal itu seperti yang terungkap pada pembukaan bulan dana PMI Jepara, Rabu (27/7/2016), di pendapa Kabupaten Jepara.

Sekretaris panitia bulan dana PMI Kabupaten Jepara Lukito Sudi Asmara, mengatakan, target bulan dana tahun ini mengalami kenaikan atau perubahan target dari tahun sebelumnya.

Pada tahun 2015 Jumlah bulan dana yang diterima lewat kupon sejumlah Rp 961.124.000, sedangkan permohonan pada tahun 2016 kali ini sejumlah Rp 1.446.500.000.

“Begitu pula permohonan Bulan Dana PMI Kabupaten Jepara lewat list juga naik dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 pendapatan lewat list sejumlah Rp 244.125.000. Sedangkan permohonan Bulan Dana tahun 2016 naik menjadi Rp 353.500.000,” ujar Lukito.

Menurutnya, agar target tersebut dalam kurun waktu maksimal 3 bulan terhitung sejak tanggal 27 Juli 2016 sampai akhir Oktober 2016 bisa tercapai. Pihaknya mengharapkan partisipasi aktif dari seluruh komponen lapisan masyarakat.

Sasaran pendistribusian kupon Bulan Dana PMI dan kelengkapannya yakni pertama kupon nominal Rp 1.000 sebanyak 11.500 lembar, kupon nominal Rp 2.000 sebanyak 538.000 lembar, kupon nominal Rp 3.000 sebanyak 92.600 lembar, kupon nominal Rp 5.000 sebanyak 4.100 lembar dan untuk kupon nominal Rp10.000 sebanyak 6.000 lembar, pendapatan total dari hasil kupon sebesar Rp 1.446.500.000, serta pendapatan dari list sebesar Rp 353.500.000.

“Hasil dari target di tahun 2016 tersebut akan dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan Tugas Pokok PMI yaitu 80% untuk biaya kegiatan kemanusiaan diantaranya pembinaan dan pengembangan organisasi PMI, membantu para penderita akibat bencana, pelayanan kesehatan dan sosial, memperluas prinsip-prinsip dasar gerakan Palang Merah Internasional dan pembinaan generasi muda,” terangnya.

Sedangkan 10 persen lainnya, kata Lukito, untuk biaya kegiatan kemanusiaan yang pengelolaannya diserahkan kepada PMI Provinsi Jawa Tengah sebagai sumbangan wajib Bulan Dana dan 10 persen sisanya untuk biaya operasional usaha pengumpulan sumbangan.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan dan ESDM Setda Jepara Bambang Slamet Raharjo mengatakan, kegiatan Bulan Dana PMI merupakan satu cara untuk mendukung jalannya roda tugas kemanusiaan Palang Merah Indonesia.

“Jajaran pemerintah daerah, BUMN, BUMD, perbankan dan seluruh masyarakat Kabupaten Jepara, diharapkan mendukung, berpartisipasi aktif dan mensukseskan Bulan dana PMI Kabupaten Jepara Tahun 2016 ini,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Konsentrasi Asuh Anak Kurang Mampu, Ini yang Dilakukan Balai Pelayanan Sosial Anak Asuh Harapan Bangsa

 Plt Kepala Balai Pelayanan Sosial Anak Asuh Harapan Bangsa Rembang Sukiman (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Plt Kepala Balai Pelayanan Sosial Anak Asuh Harapan Bangsa Rembang Sukiman (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Balai Pelayanan Sosial Anak Asuh “Harapan Bangsa” Rembang memiliki konsentrasi untuk mengasuk anak-anak kurang mampu. Setidaknya, saat ini balai tersebut memiliki anak asuh sebanyak 70 orang.

“Dari 70 orang tersebut, di antaranya sebanyak 2 orang menempuh pendidikan SD, tingkatan SMP/MTs ada 15 orang, dan tingkatan SLTA ada 53 orang. Semua anak tersebut, kini bersekolah semua,” ungkap Plt Kepala Balai Pelayanan Sosial Anak Asuh Harapan Bangsa Rembang Sukiman.

Ia katakan, untuk penerimaan anak-anak di Balai Pelayanan Sosial Anak Asuh Harapan Bangsa, melalui tahap seleksi agar programnya benar-benar tepat sasaran bagi yang membutuhkan. Menjelang tahun ajaran baru, biasanya pihaknya mengadakan penyuluhan dan sosialisasi untuk memberi informasi kepada masyarakat tentang program-programnya.

Dalam hal ini, pihaknya juga menggandeng Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Rembang, untuk memudahkan pendataan anak miskin yang mau diasuh oleh balai ini. “Hal ini memang perlu dilakukan untuk melakukan pendataan secara detail mengenai latar belakang keluarga anak yang bakal diasuh tersebut,” katanya.

Menurutnya, dari anak asuhnya tersebut, beberapa anak yang sudah lulus sekolah, yakni tingkat SMA, sebagian sudah bekerja  sebagai wiraswasta, perbengkelan ataupun instansi pemerintahan.

Editor : Kholistiono

Kisah Pilu Mbah Tasiem yang Sebatangkara dan Terpaksa Menghuni Panti Jompo

 Tasiem (73) lansia dari Grobogan yang kini dirawat di Unit Pelayanan Sosial Lansia Margo Mukti Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Tasiem (73) lansia dari Grobogan yang kini dirawat di Unit Pelayanan Sosial Lansia Margo Mukti Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Tasiem (73) wanita lanjut usia dari Grobogan tak pernah berkeinginan untuk menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Namun, ternyata nasib berkata lain, yang akhirnya mengantarkan dirinya untuk menjadi penghuni panti jompo sejak setahun terakhir.

Mbah Tasiem bercerita, sekitar 5 tahun silam dirinya pernah bekerja di wilayah Purwodadi untuk mengurus orang jompo. Namun setelah orang yang dirawatnya itu meninggal dunia, dirinya langsung ke Dinas Sosial Grobogan untuk bisa tinggal di panti jompo.

“Saya itu tidak punya keluarga lagi di Purwodadi. Sebab orang yang saya rawat dulu juga sudah meninggal. Mau tidak mau, saya ke Dinas Sosial saja, supaya bisa direkomendasikan untuk tinggal di panti jompo,” ujarnya.

Ia katakan, sejak di tinggal di Unit Pelayanan Sosial Lansia Rembang Mergo Mukti, kehidupannya cukup baik. Karena, di panti jompo tersebut, dirinya dirawat. “Meskipun di sini banyak lansia dari daerah lain yang belum saya kenal, namun kami bisa hidup secara kekeluargaan, hidup rukun dan damai,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono