Ini Duta Wisata 2017 Kudus, Pati, Rembang, Blora dan Rembang

Duta Wisata Duta Wisata Kudus adalah Alan Ragil Maulana merupakan pelajar SMA Negeri 1 Kudus, dan Hima Choirun Nisa mahasiswa Unnes Semarang. (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Duta Wisata merupakan sosok yang diharapkan dapat menjadi bagian dalam menggali, memperkenalkan seni, budaya dan pariwisata daerah. Pemilihan duta wisata dilakukan dengan serangkaian tahap dan seleksi. Mereka bersaing menjadi yang terbaik untuk mengemban tugas sebagai Duta Wisata bagi daerahnya masing-masing.

Di wilayah eks Karesidenan Pati, Kabupaten Kudus, Pati, Rembang, dan Blora sudah memiliki Duta Wisata 2017. Sedangkan, Kabupaten Jepara baru akan melakukan pemilihan pada 8 September 2017. Adapun malam grand final Duta Wisata 2017 untuk Kabupaten Grobogan direncanakan berlangsung pada 9 September 2017.

Masa pendaftaran peserta Duta Wisata Grobogan sudah ditutup 25 Agustus lalu. Sampai hari terakhir, total ada 30 pendaftar. Rinciannya, 20 pendaftar adalah wanita dan 10 pria. Para pendaftar ini sebagian besar merupakan pelajar SMA dari beberapa sekolah di Grobogan.

Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat mengatakan, tahun ini, jumlah pendaftar pria memang lebih sedikit. Yakni, hanya 10 orang saja. Kalau pendaftar wanita jumlahnya dua kalinya.

“Jumlah pendaftar tahun ini juga lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 50 orang. Hal ini terjadi karena pihak panitia memang membatasi jumlah peserta maksimal hanya 30 orang saja. Pembatasan itu dilakukan supaya pelaksanaannya bisa cepat waktunya serta lebih efektif dan efisien,” kata Jamiat.

 

Adapun untuk Duta Wisata Kudus adalah Alan Ragil Maulana merupakan pelajar SMA Negeri 1 Kudus, dan Hima Choirun Nisa mahasiswa Unnes Semarang. Di Kabupaten Pati, Duta Wisata yang terpilih pada tahun ini adalah Farizki Bagus Kurniawan, dan Gunita Wahyu Sektyanti.

Di Kabupaten Blora, Duta Wisatanya adalah Frillian Gerry Hutama yang merupakan pelajar SMA Negeri 1 Blora,  dan Septiya Risqi Umami pelajar dari SMA Negeri 1 Blora. Di Kabupaten Rembang, Duta Wisatanya merupakan siswa SMA Negeri 1 Rembang Eza Faisal Meileno Rizqi, dan Intan Sugiarti merupakan mahasiswa kebidanan.

Editor : Akrom Hazami

Terharu, 5 Polisi Rembang Ini Ternyata Baiknya Minta Ampun

Anggota Sat Sabhara Polres Rembang saat mengantar Rahmadi Ilahi (kiri) yang kehilangan barang dan dompet ke petugas Dishub, Kamis (10/8/2017) lalu. (Tribratanews Rembang)

MuriaNewsCom, Rembang – Rasa kemanusiaan selalu muncul tak terduga. Di mana saja dan dilakukan siapa saja. Seperti halnya yang dilakukan lima anggota Sat Sabhara Polres Rembang yang akan membuat hati Anda terenyuh.

Kelima anggota tersebut adalah Ipda Joko Hery bersama Aiptu Paliman saptono, Brigadir Alfian, Brigadir Solikin, Brigadir Iswanto dan Briptu Ridho Kasbullah.

Dikutip dari Tribratanews Rembang, awal mula kejadian luar biasa tersebut berawal saat  kelima anggota Sat Sbhara Polres Rembang itu sedang melaksanakan kegiatan Patroli, Kamis ( 10 /8/2017 ) sekitar pukul 10.00 WIB.

Saat di depan Samsat Rembang, kelimanya anggota Sat Sabhara Polres Rembang melihat pemuda yang sedang kebingungan. Melihat hal tersebut anggota Sat Sabhara menghampiri dan menanyakan permasalahannya.

Ternyata pemuda yang diketahui bernama Rahmadi Ilahi, warga Kelurahan Ogan Jaya, RT 01/ RW 4 Kecamatan Sungai Utara, Kabupaten Lampung baru saja kehilangan barang barang dan dompet berisi uang ketika naik bus PO Haryanto tujuan lampung.

Melihat hal itu, kelima anggota Sat Sabhata Polres Rembang tersebut mengajak makan Rahmadi Ilahi dan mengantarkan ke terminal Rembang untuk koordinasi dengan petugas Dishub.

Tak berhenti sampai disitu, mereka juga mencarikan tumpangan bis estafet menuju Bandar Lampung dan memberikan uang saku kepada pemuda tersebut untuk bekal perjalanan

”Terima kasih pak polisi, setelah dibantu dapat melanjutkan perjalanan kembali , semoga Tuhan YME membalas kebaikan bapak-bapak” ujar Rahmadi Ilahi.

Anggota Sat Sabhara Polres Rembang membalas terimakasih dan berpesan agar berhati-hati dalam perjalanan.

Editor: Supriyadi

Hamil, Calhaj Asal Lasem Gagal Berangkat

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Dari 794 calon haji, satu orang calon jemah haji (Calhaj) asal Kabupaten Rembang gagal berangkat ke Tanah Suci tahun 2017 ini. Calhaj tersebut bernama Umma Farida, warga RT 13 RW 8 Desa Jolotundo, Kecamatan Lasem, Rembang.

Kasi Haji dan Umrah pada Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Rembang Salehudin mengatakan, Umma Farida gagal berangkat pergi berhaji lantaran sedang hamil usia enam pekan. Hal itu diketahui oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang belum lama ini, saat yang bersangkutan menjalani tahapan suntik meningitis.

“Saat itu, ada laporan dari Dinas Kesehatan bahwa pihak Kemenag harus mengundurkan satu orang calon jemaah karena hamil usia enam minggu. Informasinya itu dari Dinkes saat yang bersangkutan saat suntik meningitis belum lama ini,” ungkap Salehudin.

Rencananya, calhaj yang gagal berangkat tahun ini akan dialihkan pada pemberangkatan tahun depan. Itupun jika calhaj tersebut sudah dalam kondisi yang memungkinkan untuk berangkat.

“Kalau tahun depan yang bersangkutan sudah siap berangkat, akan kami ikutkan pada periode pemberangkatan tahun depan. Seandainya hamil lagi, nanti akan diundur lagi,” imbuhnya.

Selain Umma, juga terdapat calon jemaah haji asal Sedan yang nyaris gagal berangkat. Yang bersangkutan mengalami insiden yang menyebabkan kakinya patah sehingga mengharuskan menggunakan kursi roda.

“Setelah kami konsultasi dengan pihak Dinkes, calhaj tersebut ternyata masih bisa ikut berangkat tahun ini dengan menggunakan kursi roda. Konsekuensinya harus ikut mengajak suaminya agar bisa mendampingi selama beribadah haji,” ujarnya.

Total calon jemah haji asal Kabupaten Rembang pada tahun 2017 ini berjumlah 794 jamaah. Berkurang satu orang menjadi 793 jamaah. Dibagi menjadi tiga kelompok terbang (kloter), yaitu kloter 40, kloter 92 dan kloter 93.

Kloter 40 rencananya akan diberangkatkan dari Rembang pada tanggal 8 Agustus 2017 mendatang. Sedangkan kloter 92 dan 93 akan berangkat di hari yang sama, selisih tiga jam, pada tanggal 24 Agustus 2017.

“Seluruh persiapan sudah kami laksanakan, rencananya pada hari Senin besok kami akan kirim surat kepada seluruh calon jamaah haji untuk pemberitahuan tanggal pemberangkatan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Garam Mahal, Usaha Ikan Asin di Rembang Lesu

Salah satu usaha ikan asin yang berada di Kecamatan Kaliori, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Mahal dan langkanya garam di Rembang berimbas terhadap produksi ikan asin. Dengan melonjaknya harga garam, membuat biaya produksi ikan asin membengkak hingga empat kali lipat, bahkan lebih.

Suyono, salah satu pengusaha ikan asin asal Kecamatan Kaliori mengatakan, produksi ikan asin kini harus mengeluarkan biaya yang mahal. Sebab, jika sebelumnya hanya berkisar Rp 500 guna alokasi garam per satu kilogram ikan asin, namun saat ini harus merogoh kocek sekitar Rp 2 ribu untuk per kilogram ikan asin.

Dengan kondisi tersebut, harga harga ikan asin kini juga terpaksa harus mengalami kenaikan. Misalnya, harga ikan asin jenis layang dari harga semula hanya berkisar Rp 20 ribu, kini naik menjadi Rp 25 – Rp 27 ribu per kilogram.

“Ketimbang garamnya dikurangi, maka nantinya akan bisa membuat kualitas ikan asin turun. Jalan satu satunya ya harga kita naikkan. Terlebih saat ini juga semua orang sudah pada tahu, bahwa garam juga naik,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selain menaikan harga, produksi jumlah ikan asin juga dikurangi.”Kalau sebelumnya bisa memproduksi sehari sekitar 2 kuintal. Namun saat ini hanya mengandalkan pesanan sajalah. Kita juga tak mau risiko,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

ASN Rembang Santuni Ribuan Anak Yatim

Bupati dan Wakil Bupati Rembang menggendong anak seusai memberikan santuanan kepada anak yatim di Alun-alun Rembang, Kamis (27/7/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Sebanyak 2.080 anak yatim mendapatkan santunan yang berasal dari penggalangan dana dari Aparatur Sipil Negara (ASN) Rembang. Santunan tersebut diberikan di Alun-alun Rembang, Kamis (27/7/2017).

Dalam acara santuanan tersebut, Bupati Rembang Abdul Hafidz didampingi Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto menyerahkan secara simbolis kepada 14 anak yatim.

Bupati dalam kesempatan itu mengungkapkan, bahwa santunan tersebut berasal dari ASN di lingkungan Pemkab Rembang. Dengan santunan tersebut, bupati mendoakan agar berkah bagi Kabupaten Rembang.

“Ini semua dari pegawai negeri , semoga semuanya menjadi berkah dan Rembang menjadi wilayah Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghofur atau negeri yang subur dan makmur, adil dan aman,” ungkapnya.

Total jumlah dana yang terkumpul sebanyak Rp 416 juta. Tiap anak mendapatkan Rp 200 ribu.

Muhammad Sidik, Kepala TPQ  At – Taqwa Desa Jukung, Kecamatan Bulu, sangat mengapresiasi, karena ASN telah peduli dengan anak- anak yatim. Harapannya, setiap tahun kegiatan semacam itu bisa terus ada.

“Saya secara pribadi dan mewakili TPQ mengucapkan terima kasih kepada PNS yang telah mempedulikan anak- anak yatim piatu. Harapannya bisa rutin,” tandasnya. 

Editor : Kholistiono

Ratusan Kapal Cantrang di Rembang Kini Mulai Melaut

Ratusan kapal yang beberapa waktu lalu bersandar di pelabuhan Rembang. Kini ratusan kapal cantrang sudah mulai melaut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Sebanyak 171 kapal motor pencari ikan berjaring cantrang di Rembang kembali melaut. Hal itu dilakukan seiring perpanjangan lagi relaksasi larangan cantrang menjadi hingga akhir 2017.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung Kabupaten Rembang Sukoco mengatakan, di wilayah Rembang saat ini suasana nelayan sudah kembali kondusif setelah larangan penggunaan cantrang diulur masa berlaku efektifnya selama enam bulan lagi hingga akhir 2017 mendatang.

“Kini sudah banyak nelayan cantrang kembali melakukan aktivitas melaut. Sementara itu, pemeritah juga sudah memperbolehkan nelayan menggunakan alat tangkap jenis cantrang, namun hanya sampai pada akhir 2017,” ujarnya.

Kemudian ia juga memastikan, 171 kapal yang kembali melaut itu sudah mengantongi surat izin penangkapan ikan atau SIPI.

“Kami juga sudah verifikasi jumlah kapal cantrang di Rembang, yang jumlahnya kini 280 kapal. Secara riil, dari 280 kapal cantrang itu, bobot matinya berkisar antara 10-80 gross ton,” katanya.

Kepala TPI “Cantrang” Tasikagung Tukimin mengatakan, pihaknya terakhir kali melelang ikan pada 1 Juli 2017. Sejak saat itu, tidak pernah ada aktivitas pelelangan ikan di TPI cantrang, sehingga raman nol rupiah.

“Kalau raman, sejak Januari sampai Juni 2017 hanya Rp 20,6 miliar. Terakhir ada lelang, tanggal 1 Juli 2017. Kalau ini nelayan cantrang sudah melaut lagi, kami jadi bisa berharap mencatat lagi raman pada bulan Agustus nanti,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Hindari Perilaku Bullying, Orang Tua Harus Perhatikan Pola Pengasuhan Anak

Ribuan anak anak mengikuti jalan sehat di Alun-alun Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Ribuan anak mengikuti kegiatan peringatan Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional tingkat Kabupaten Rembang di alun- alun, Jumat (28/7/2017). Setelah apel dengan amanat Bupati Rembang Abdul Hafidz, kegiatan dilanjutkan dengan jalan sehat.

Kedua peringatan tersebut mengambil tema “Dengan Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional Kita Bangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga yang Berketahanan”.

Harapannya, yakni supaya dapat membuka nurani keluarga dan masyarakat Indonesia untuk lebih memberikan perhatian terhadap peran dan fungsi masing- masing anggota keluarga, baik sebagai ayah, ibu ataupun sebagai anak dalam suasana komunikasi dan interaksi yang harmonis sehingga akan membuat ketahanan keluarga yang lebih baik.

Bupati mengatakan, untuk mewujudkan semua itu diperlukan budaya komunikasi yang baik. Komuniasi tersebut bisa antara keluarga ataupun di lingkungan masyarakat.

“Perlu budaya komunikasi yang lebih terbuka namun tetap santun dan beretika di antara anggota keluarga itu sendiri maupun antarkeluarga dengan masyarakat. Saya percaya, apabila keluarga – keluarga Indonesia tangguh, maka otomatis menjadi bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tangguh,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, bupati menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas dua penghargaan yang diraih Kabupaten Rembang, yakni penghargaan daerah menuju Kabupaten Layak Anak tingkat Madya dan penghargaan upaya pencegahan perkawinan anak. Penghargaan tersebut membuatnya bangga dan semakin termotivasi untuk melindungi hak – hak anak di wilayah yang dipimpinnya.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, sedikitnya ada 23 ribu lebih kasus yang berkaitan dengan anak. Angka tersebut didominasi anak berhadapan dengan kasus hukum, termasuk kasus bullying.

“Berkaitan dengan bullying orang tua harus lebih memperhatikan pola pengasuhan anak. Anak harus didik dengan penuh kasih sayang, etika moral dan ditanamkan nilai- nilai agama sehingga tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Eks Mucikari di Lokalisasi Dorokandang Diberikan Pendampingan

Suasana penutupan lokalisasi di Dorokandang,Kecamatan Lasem oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz beserta forkopimda. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Acara penutupan lokalisasi di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem,  dihadiri Bupati Rembang Abdul Hafidz, Dandim 0720/Rembang, Letkol Inf Darmawan Setiady, Kapolres Rembang AKBP Pungky Bhuana Santoso, Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Lasem dan kepala desa se-Kecamatan Lasem serta 14 mantan mucikari.

Penutupan tempat prostitusi ini juga tak lepas dari peran semua pihak, baik dari jajaran Forum Koordinasi Kecamatan (Forkopimcam), MUI, tokoh ulama dan tokoh masyarakat di dalam melakukan pendekatan persuasif kepada mereka yang terjerumus di jalan yang salah itu, sedikitpun tidak ada tindak kekerasan yang terjadi.

Pendekatan secara kekeluargaan dimulai sejak awal tahun ini, beberapa kali pengajian juga digelar di lokalisasi tersebut sebagai bentuk siraman rohani. Selanjutnya pemkab juga memfasilitasi pelatihan pembuatan tempe bagi para mucikari yang langsung mendatangkan nara sumber eks PSK Dolly Surabaya dan kemudian disusul pelatihan membatik dari pihak pemerintah desa.

Bupati menuturkan, pemkab dalam pembersihan prostitusi ini membantu dalam bentuk pendampingan berupa pelatihan life skill dan permodalan usaha. Harapannya, eks mucikari bisa beralih mata pencaharian yang halal.

“Pemerintah sadar harus bertindak cepat agar mereka bisa cepat bergerak, sehingga sumber perekonomian mereka tidak terputus. Dana stimulan untuk modal usaha akan kita berikan besok (saat upacara Hari Jadi kabupaten Rembang ke-276 tanggal 27 Juli 2017). Nanti kalau tidak cukup, maka kita akan fasilitasi melalui perbankan atau dari CSR perusahaan- perusahaan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, bupati juga menyampaikan apresiasi kepada para eks mucikari yang telah bersedia dengan ikhlas meninggalkan dunia hitam. Menurutnya, manusia yang mulia adalah mereka yang ingin lebih baik dari hari sebelumnya. 

Keberhasilan penanganan penyakit masyarakat di Dorokandang akan dijadikan pintu masuk untuk penertiban segala bentuk penyakit masyarakat di daerah lain. Bupati berharap, Rembang bisa menjadi kabupaten yang kondusif dan bersih dari penyakit masyarakat.

Salah satu eks mucikari, Jasmi mengaku senang bisa berhenti dari pekerjaan haram itu. Ia sekarang sudah memulai usaha warung kopi, dan rencananya jika diberikan bantuan modal dari pemerintah akan digunakan untuk tambahan modal usahanya.

“Kalau dikasih uang nanti ya buat tambahan modal usaha Mas. Kemarin saya tidak ikut pelatihan membatik, tapi saya sudah buka usaha warung kopi,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Kukuh Tolak Kebijakan Lima Hari Sekolah, Bupati Rembang Siap Terima Konsekuensi Apapun

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat halal bihalal bersama keluarga PGRI di Kaliori. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Bupati Rembang  Abdul Hafidz masih bersikukuh dengan pendiriannya yaitu tidak setuju dengan kebijakan lima hari sekolah.

Hal itu disampaikannya di hadapan para guru se-Kecamatan Kaliori saat menghadiri acara halal bihalal keluarga PGRI Kaliori di gedung PGRI Kaliori kemarin.

Bupati mengungkapkan, keberadaan sekolah ini lebih banyak di pedesaan yang dari segi karakteristik dan ekonomi masyarakatnya tidak seperti di kota. Ia menambahkan, ada tiga alasan sehingga dirinya masih tidak setuju dengan kebijakan lima hari sekolah. Tiga alasan itu ditinjau dari sisi sosial, ekonomi, budaya dan agama.

“Saya satu- satunya bupati yang tidak setuju lima hari sekolah. Pertimbangan ekonomi yang semula siswa SMP dan SD dikasih uang saku Rp 2000,bisa menjadi  Rp 10 ribu. Bisa memang, tapi petani yang tanahnya cuma seperempat hektare, kira- kira malah nanti utang. Ini menurut hemat saya sama saja negara memproduksi kemiskinan,” ujarnya.

Lebih lanjut kata bupati, dari pertimbangan sosial banyaknya jumlah buruh di Indonesia menambah dampak negatif, karena dua hari libur yang justru rawan menambah kenakalan remaja. Pasalnya di hari Sabtu, banyak buruh yang masih masuk kerja, sehingga anak rawan tanpa pengawasan orang tua.

Dilihat dari pertimbangan agama, lima hari sekolah juga mengancam keberadaan sekira 1.400 TPQ dan madrasah yang ada di Rembang.

“Jika lima hari sekolah untuk menajamkan pendidikan karakter anak. Ya sudahlah pendidikan di  madrasah  itu juga merupakan penajaman pendidikan karakter. Inilah alasan kuat saya menilai tidak pas kalau sekolah lima hari,” tuturnya.

Ia siap menerima konsekuensi atas sikapnya terkait menolak kebijakan lima hari kerja, hal tersebut ditegaskan bukan bentuk perlawanan kepada menteri. Ia mengaku senang, sekarang sikap penolakan juga ditunjukan Nahdlatul Ulama dan Majelis Ulama Indonesia. Ia hanya ingin memperjuangkan kepentingan rakyatnya, hal tersebut pun langsung mendapat apresiasi dari para guru yang hadir.

Belum lagi dari segi transportasi di wilayah desa, rata- rata anak SMP ke sekolah naik angkutan ataupun numpang . Ketika pulang sore maka menimbulkan permasalahan tambahan, karena angkutan atau tumpangan sudah tidak ada.

Secara terpisah, Mulyadi warga Desa Baturno, Sarang sependapat dengan sikap dari bupatinya. Menurutnya, jika sekolah lima hari justru akan menghilangkan keseimbangan pendidikan pengetahuan formal dan agama.

“Saya tidak setuju lima hari sekolah tingkat SD dan SMP, karena biasanya enam hari sekolah kan sorenya bisa sekolah di madrasah. Lima hari sekolah nanti keseimbangan ilmunya tidak ada, ilmu dunia di sekolah dan ilmu untuk akhirat di  madin. Belum lagi pulangnya sore otomatis uang sakunya bertambah, itu memberatkan orang tua,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Rumah di Eks Lokalisasi Dorokandang Bakal Dijadikan Homestay

Rumah di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem yang merupakan bekas tempat lokalisasi dan rencananya akan dijadikan homestay. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Lokalisasi yang berada di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Rembang, resmi ditutup, Rabu (26/7/2017). Kemudian terkait keberadaan 15 rumah bekas kamar atau tempat tidur para PSK, rencananya bakal dijadikan penginapan (homestay).

Hal tersebut diutarakan Kepala Desa Dorokandang Suwito kepada MuriaNewsCom.”Penutupan ini seharusnya pada 27 Juni setelah Lebaran. Namun berhubung ada beberapa kendala, maka penutupan itu resmi pada Rabu (26/7/2017). Dan bekas kamar atau rumah tersebut akan kita jadikan penginapan atau juga kos-kosan,” kata Suwito.

Ia menilai, difungsikannya rumah bekas PSK tersebut untuk penginapan atau kos, akan bisa membuat pemilik rumah dapat penghasilan tambahan.

“Saat ini rumah bekas PSK itu ada sebanyak 15 unit. Dan itupun satu unitnya pastinya ada beberapa kamar. Nah jika itu dapat dimanfaatkan untuk penginapan, maka akan bisa memberikan penghasilan. Terlebih belasan rumah itu juga miliknya mucikari tersebut,” ungkapnya.

Dari informasi yang dihimpun di lapangan, kini pihak desa sudah melakukan perbandingan harga di wilayah Lasem.”Kita selaku pemdes juga sudah melihat-lihat harga. Baik di wilayah Babagan atau lainnya. Sebab di wilayah Babagan, itu banyak homestay wisatawan. Dan tentunya harganya akan di bawah homestay yang ada di wilayah Lasem,” paparnya.

Sementara itu saat disinggung mengenai penanganan homestay tersebut, kedepannya pihak desa akan selalu memantau.

“Tentunya kita akan selalu memantau. Supaya rumah bekas PSK yang akan dijadikan homestay itu memang benar-benar dijadikan homestay, indekos dan bisa menambah penghasilan yang manfaat, halal,” ucapnya.

Dia menambahkan, untuk saat ini, sekitar 50 PSK sudah pulang. Dan para mucikari ada yang sudah ikut pengusaha batik, membuat usaha rumahan dan lainnya.

Editor : Kholistiono

JPU Tolak Pledoi Terdakwa Kasus Dugaan Kekerasan Terhadap Wartawan

Sidang kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan di Pengadilan Negeri Rembang, beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menolak pledoi atau pembelaan Suryono (30) terdakwa kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan yang telah dibacakan beberapa waktu lalu.

Penolakan tersebut disampaikan oleh JPU Wakhid Adrian, dalam sidang lanjutan dengan agenda tanggapan jaksa atas pembelaan terdakwa, di Pengadilan Negeri Rembang, Selasa (25/7/2017).

Dalam sidang tersebut, Wakhid Adrian membeberkan, terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan yang dapat menghambat serta menghalangi kerja wartawan.

Sedangkan dalam tuntutannya, jaksa telah menuntut terdakwa dengan hukuman 7 bulan penjara.

Sementara itu, dalam pembacaan tanggapan dari jaksa atas pembelaan terdakwa, ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rembang, Antyo Harri Susetyo menyampaikan, sidang akan dilanjutkan hari Kamis, (27/7/ 2017) mendatang dengan agenda penasehat hukum terdakwa menanggapi pendapat jaksa.

Seperti pemberitaan sebelumnya, pada tanggal 18 Agustus 2016 lalu, terjadi kecelakaan kerja di PLTU Sluke, yang mengakibatkan 2 orang meninggal dunia dan 2 korban lainnya menderita luka bakar cukup parah.

Dari insiden kecelakaan kerja tersebut, korban menjalani perawatan di rumah sakit dr. R Soetrasno Rembang. Dalam hal ini ada oknum dari PLTU  melarang wartawan meliput kejadian tersebut.Selain itu juga ada sekumpulan massa menyuarakan kata-kata untuk mengeroyok wartawan.

Sedangkan file foto di dalam HP  hasil liputan wartawan Radar Kudus Jawa Pos, Wisnu Aji dihapus. Selain itu, Wartawan Cakra Semarang TV, Sarman Wibowo yang dikejar – kejar masa, keesokan harinya harus masuk ke rumah sakit di Semarang, untuk memeriksakan kondisi penyakit jantungnya. Terkati hal ini  PWI Kabupaten Rembang memilih menempuh jalur hukum, lantaran mengancam kemerdekaan pers.

Editor : Kholistiono

Cuaca Tak Menentu, Petani Garam di Rembang Gelisah

Salah satu petani garam sedang menggarap lahannya untuk membuat garam.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Meski telah memasuki musim kemarau sejak awal bulan Juni lalu. Namun saat ini  petani garam di Rembang masih belum bisa memanen hasilnya.

Pasalnya, proses produksi garam hingga pertengahan Juli ini belum membuahkan hasil. Hanya ada beberapa petani yang berhasil panen garam, itupun dengan jumlah dan kualitas yang jauh di bawah standar.

Jika cuaca dalam kondisi normal, biasanya petani garam sudah bisa panen sebanyak tiga kali. Namun, lantaran anomali cuaca yang masih belum menentu, sebagian besar petani masih belum bisa memproduksi garam.

Salah satu petani garam, Jasman, warga Desa Waru, Kecamatan Rembang mengaku sejak awal proses penggarapan tambak garam miliknya pada awal bulan Juni lalu, pihaknya baru berhasil memanen garam satu kali. Itupun hanya mampu menghasilkan 20 karung garam atau sekira 1 ton garam dari tiga petak tambak miliknya.

“Harusnya sudah tiga kali panen, tapi kemarin masih saja ada hujan, sehingga harus mengulang lagi dari awal proses penggarapan tambak. Selama 1,5 bulan, baru sekali panen, itupun jumlahnya jauh dari harapan. Selain itu kualitasnya juga tidak sebaik jika kondisi cuaca normal,” ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan Wakijan, warga Desa Banggi,Kecamatan Kaliori. Ia mengeluhkan, meskipun pihaknya telah menggunakan metode plastik dalam produksi garam, namun selama masuk musim kemarau ini selalu gagal dalam produksi.

“Harusnya sudah empat kali panen, tapi selama ini saya selalu gagal karena hujan. Tiap turun hujan, proses penambakan harus mulai kembali dari awal, mulai nylender untuk meratakan tanah sampai tuang air lagi,” ujarnya.

Ia mengaku hampir putus asa terkait kondisi cuaca yang tidak menentu. Kini pihaknya memaksakan untuk menggarap satu petak tambak garam, meskipun airnya masih tercampur dengan air hujan.

Hal ini, ternyata juga berimbas pada kenaikan harga yang cukup signifikan. Dari harga normal rata-rata petani hanya berkisar tak lebih dari Rp 1.000 per kilo, kini melonjak empat kali lipat. Harga berkisar Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per kilogram. 

Editor : Kholistiono

Zumrotul Lutfiah asal Rembang Sabet Juara 1 pada STQ Nasional

Zumrotul Lutfiah dari Kecamatan Sedan berhasil mencatatkan namanya sebagai juara 1  Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat nasional.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Zumrotul Lutfiah dari Kecamatan Sedan berhasil mencatatkan namanya sebagai juara 1  Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat nasional ke-24, di Tarakan , Kalimantan Utara,  pada 13-21 Juli 2017.

Dalam event bergengsi dua tahunan tersebut, Zumrotul tergabung dalam kontingen Provinsi Jawa Tengah. Ia ikut menyumbang satu emas di kategori Tahfidz 20 juz putri.

Sekretaris 1 Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Rembang, Arif Ramadhan mengatakan, Jawa Tengah sendiri menjadi juara umum ketiga dengan dua emas. Satu emas lagi disumbangkan oleh perwakilan dari Kabupaten Pati untuk kategori Tilawah.

Sebelumnya, Zumrotul juga pernah mengikuti ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional di Lombok tahun 2016. Namun dalam ajang tersebut baru mampu meraih juara harapan 1.

“Sistemnya juri membacakan ayat- ayat Alquran, kemudian dia meneruskan. Alhamdulillah kemarin Zumrotul mulus,” ujarnya.

Atas prestasinya tersebut, Bupati Rembang Abdul Hafidz sangat bangga, karena putra daerah bisa mengharumkan nama Kabupaten Rembang. Pemerintah kabupaten rencananya akan memberikan penghargaan kepada Zumrotul saat resepsi HUT Republik Indonesia yang ke-72 tanggal 17 Agustus 2017.

“Kami bangga karena pretasi itu bisa mengangkat harkat dan martabat Kabupaten Rembang. Kami akan memberikan penghargaan berupa uang untuk umroh,” pungkasnya.

Dari hasil STQ ke-24, kontingen DKI Jakarta berhasil menjadi juara umum, disusul Kepulauan Riau di posisi kedua. Sedangkan Provinsi Kalimantan Utara selaku tuan rumah di peringkat ketujuh bersama dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Editor : Kholistiono

Pemkab Rembang Bakal Gandeng Perguruan Tinggi Dalam Pengisian Perangkat Desa

Rapat sosialisasi para kepala desa Kantor  Bupati Rembang, Senin (24/7/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz memiliki gagasan pelaksanaan pengisian perangkat desa dilakukan secara serempak dan dan akan bekerja sama dengan perguruan tinggi.

Hal itu disampaikannya saat kegiatan sosialisasi Peraturan Bupati Rembang Nomor 12 Tahun 2017 tentang SOTK Desa dan Perbup Nomor 16 tahun 2017 tentang Perangkat Desa di lantai 4 Kantor Bupati, Senin (24/7/2017).

Di dalam perbup ada anggaran yang bisa digunakan untuk pihak ketiga dari panitia. Dengan menggandeng pihak ketiga, perekrutan perangkat desa dinilai lebih efisien, transparan, kredibel dan menghasilkan perangkat yang dari sisi kualitas lebih bagus, Kades juga lebih nyaman terhindar dari tuduhan- tuduhan miring. Selain itu juga dapat menjaga kondusifitas desa.

“Dengan pihak ketiga, maka akan meminimalisasi anggapan negatif dari masyarakat. Tidak ada omongan iki wonge petinggi (kades) , iki wonge BPD atau iki wonge panitia, sehingga tidak ada hal yang mengganggu kondusifitas daerah,” ujarnya.

Meskipun pengisian perangkat merupakan domain pemerintah desa, bupati selaku kepala daerah memiliki kewajiban untuk membina, memberikan arahan dan pengawasan. Jika pemerintahan desa memiliki SDM yang memadai dan dari hasil tes dari pihak ketiga, maka pemerintahan tentu menjadi solid dan baik.

“Terkait pihak mana yang akan digandeng, ia menyebut akan melakukan pembahasan lebih lanjut. Kami arahkan perguruan tinggi yang sudah memiliki kualifikasi seperti UNDIP, UNNES, Udinus ataupun UNS,” imbuhnya.

Mendengar keinginan bupati tersebut, para kades pun menyambut positif. Kepala Desa Leran,Kecamatan Lasem, Imron mengaku, sangat setuju jika perekrutan perangkat desa diampu pihak ketiga. Pasalnya perekrutan semacam itu rawan sekali muncul ketidakpercayaan warga kepada kades atas pelaksanaan pengadaan perangkat desa.

“Yang namanya di desa, pasti nanti muncul pro kontra. Jadi kami sangat setuju sekali dengan apa yang disampaikan Pak Bupati tadi,” pungkasnya.

Pemkab mentargetkan sebelum bulan Januari 2018 seluruh posisi perangat desa sudah harus terisi. Sehingga paling lambat perekrutan dilakukan akhir tahun ini. 

Editor : Kholistiono

Rembang Raih 2 Penghargaan Bergengsi Dalam Bidang Perlindungan Anak

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise memberikan penghargaan kepada Bupati Rembang Abdul Hafidz. (Istimewa)

MuriaNewsCom,Rembang – Kabupaten Rembang menerima dua penghargaan. Dua penghargaan tersebut yakni anugerah sebagai Kabupaten Menuju Layak Anak tingkat Madya dan penghargaan dalam upaya pencegahaan perkawinan anak usia dini.

Kedua penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise kepada Bupati Rembang Abdul Hafidz dan istri Hasiroh Hafidz, yang juga menjabat sebagai Ketua Aliansi Yes I Do saat acara peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2017 di SKA Co Ex, Pekanbaru, Riau, Sabtu (22/07/2017) malam.

Atas prestasi tersebut, artinya Rembang  sudah lima kali mendapat penghargaan daerah menuju Kabupaten Layak Anak. Yakni, tingkat Nindya pada 2011 dan tingkat Madya pada 2012, 2013, 2015 dan 2017 ini. Sedangkan penghargaan dalam upaya pencegahaan perkawinan anak usia dini merupakan kali pertama.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan, penghargaan tersebut berkat kerja keras dan kerja sama semua stake holder terkait dalam hal ini diampu oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos-PPKB). Pemkab akan selalu mendukung dan berupaya bagaimana hak- hak anak di Kabupaten Rembang ini bisa terpenuhi.

“Pemkab akan berupaya memenuhi hak -hak anak dengan regulasi dan aksi. Kami di sini tidak hanya membuat regulasi saja, tapi ada aksi. Jadi selain kita membuat perda dan perbup, kita telah membentuk Komisi Perlindungan Anak Desa (KPAD) dan dari anggaran kita juga back up, ” ujarnya.

Ke depan, ada keinginan Rembang bisa mendapat penghargaan KLA kategori Utama. Untuk itu beberapa fasilitas harus disiapkan, di antaranya fasilitas umum yang ada harus ramah untuk kaum disabilitas atau anak berkebutuhan khusus, dan pemkab akan berupaya untuk memenuhi hal itu.

Kemudian terkait penghargaan atas daerah yang mampu melakukan pencegahan perkawinan anak secara masif, bupati juga bangga. Pasalnya, dirinya sadar jika menikah dengan usia muda, maka kemandirian dalam berumah tangga masih diragukan.

“Mandiri dalam hal ini, mereka dari kesehatannya terjaga, kemudian ekonominya juga terjaga dan kemudian pengaturan- pengaturan dalam berumah tangga akan lebih baik. Karena kalau masih anak- anak ini dikhawatirkan kesehatannya bisa terganggu dan dari sisi ekonomi dan pengelolaan rumah tangganya rentan terganggu juga, ” terangnya.

Terkait pencegahan pernikahan anak usia dini, pemkab selalu mendukung dan bersinergi dengan aliansi Yes I Do. Yang belum lama ini juga telah menggelar Gebyar Ramadan dan diikuti oleh anak dan orang tua di beberapa desa dari Kecamatan Sedan dan Kragan untuk mengkampanyekan pencegahan pernikahan anak.

Editor : Kholistiono

BPJS Ketenagakerjaan Cabang Rembang Giat Sosialisasi ke Pekerja Informal

MuriaNewsCom,Rembang –  Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Rembang terus menggiatkan sosialisasi manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan kepada pekerja informal yang ada di Kabupaten Rembang.

“Kami terus lakukan sosialisasi manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan kepada pekerja informal di Rembang, karena masih banyak dari mereka yang belum memiliki jaminan sosial,” kata Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Rembang Budi Hananto.

Pekerja informal kata Budi, mereka yang bekerja secara mandiri dan swadaya.“Karena setiap pekerja wajib memiliki jaminan sosial dari perusahaan atau orang yang memperjakannya. Oleh karena itu pekerja informal yang tidak dipekerjakan oleh orang lain, kami dorong untuk juga memiliki jaminan sosial,” imbuhnya.

Belum lama ini lanjut Budi, pihaknya baru saja melakukan sosialisasi kepada  gabungan kelompok tani (gapoktan) dan kelompok tani (poktan) di daerah itu.

Selain itu, kata Budi, BPJS juga memajukan sosialisasi kepada pedagang, petani, nelayan, serta pekerja informal lainnya yang belum mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan.

Manfaat program ini, menurut Budi, akan terasa saat pekerja mengalami kecelakaan dan kematian.“Manfaatnya akan terasa jika terjadi risiko kecelakaan dan kematian yang disebabkan karena resiko bekerja,” pungkasnya.

 

Editor : Kholistiono

 

Terpidana Korupsi Proyek DPU Rembang Urung Dieksekusi, Ini Alasannya

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Rembang Rizal Ramdhani saat diwawancarai media di kantornya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Sumadi, terpidana kasus korupsi proyek Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Rembang  urung dieksekusi pada hari Kamis (20/7/2017).

Padahal, sebelumnya pihak Kejaksanaan Negeri (Kejari) Kabupaten Rembang menyatakan akan mengeksekusi badan terpidana pada 20 Juli 2017 setelah yang bersangkutan mendapat tiga kali dipanggil, tetapi tidak hadir.

Kepala Seksi Pidana Khusus pada Kejari Kabupaten Rembang Rizal Ramdhani menyatakan, bahwa jaksa pengeksekusi sudah mendatangi rumah Sumadi di Desa Tlogotunggal, Kecamatan Sumber, kemarin pagi.

Namun, jaksa urung mengeksekusinya setelah terpidana 1,5 tahun penjara ini membayar pidana denda sebesar Rp 50 juta. Sebelumnya, Sumadi juga sudah membayar uang pengganti sebesar Rp 360 juta kepada Negara.

Pihaknya menolak disebut lunak dalam hal eksekusi terhadap Sumadi. Penundaan eksekusi badan terpidana tersebut, menurutnya, lebih karena kondisi Sumadi yang sakit dan memiliki itikad baik.

“Eksekusi (badan terhadap terpidana) boleh ditunda, namun harus sesuai dengan aturan. Kalau saksi atau terdakwa yang mangkir dari sidang, memang jaksa boleh jemput paksa. Tapi kalau soal eksekusi tidak ada.

Memang kalau kita paksakan eksekusi bisa-bisa saja, namun yang kita kedepankan adalah sisi kemanusiaan. Karena dia (Sumadi, red.) sakit, sesuai dengan surat keterangan dari dokter, kecuali kalau ternyata keterangan dokternya bohong,” ujarnya.

Ia menekankan, bahwa pesan dari pemerintah terhadap Kejaksaan pada saat ini adalah agar mengedepankan pendekatan secara persuasi, namun hanya berlaku terhadap terpidana khusus.

“Kalau kita masukkan terpidana ke lapas, tapi tidak mau membayar uang pengganti, kan malah Negara yang rugi. Justru dengan teknik persuasi begini, Alhamdulillah terpidana mau bayar denda dan uang pengganti,” pungkasnya.

Menurut ketentuan, jika pidana membayar uang pengganti tidak dibayarkan, maka harta benda terpidana dilelang oleh Negara sehingga mencukupi sebesar uang pengganti yang mesti dibayar atau diganti dengan pidana kurungan jika ternyata tidak cukup.

Soal kapan lagi, Kejari akan mengeksekusi terpidana tersebut, ditargetkan memasuki bulan Agustus mendatang atau bersamaan dengan peringatan ke-57 Hari Ulang Tahun Bhakti Adhyaksa di kantor kejaksaan negeri setempat.

Editor : Kholistiono

Pemkab Rembang Berkomitmen untuk Perhatikan Kesejahteraan Guru

Halal bihalal PGRI Kecamatan Sulang di Gedung Serba Guna Komplek Kecamatan Sulang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang berkomitmen untuk memperhatikan kesejahteraan para guru. Baik itu K2 sampai Guru Tidak Tetap (GTT) mulai PAUD sampai SMA.

Hal itu disampaikan Bupati Rembang Abdul Hafidz saat menghadiri halal bihalal PGRI Kecamatan Sulang di Gedung Serba Guna komplek Kecamatan Sulang, Kamis (20/7/2017).

Berdasarkan data, jumlah guru di Kabupaten Rembang saat ini berlebih. Untuk belanja guru saja hampir Rp 500 miliar dari APBD sebesar Rp 1,6 triliun, belum sertifikasinya Rp 180 miliar lebih.

Bupati telah menetapkan untuk K2 mendapatkan honor Rp 1, 3 juta. Angka tersebut meningkat cukup  signifikan dibanding sebelumnya yang hanya berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu.

“Sementara ini yang sudah kami tetapkan untuk 2018 mulai 1 januari GTT dari PAUD dan TK minimal Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu. Sedangkan yang GTT SD dan SMP mulai Rp 600 ribu sampai Rp 900 ribu, tergantung masa kerjanya,” tuturnya.

Besaran honor atau gaji GTT tersebut dirasa masih belum memadai. Untuk itu diharapkan ada dukungan dari sumber dana lain, seperti BOS dan guru yang sudah sertifikasi.Ke depan harapannya sampai Rp 1,4 juta sesuai Upah Minimal Kabupaten (UMK).

Menurutnya, total dana yang dibutuhkan untuk peningkatan guru GTT tahun 2018 sebanyak Rp 25,6 miliar lebih, meningkat dari sebelumnya yang hanya Rp 4 sampai 5 miliar. Ia memohon doa masyarakat agar upaya pemkab dalam meningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bisa dilancarkan, karena dengan demikian juga bisa digunakan untuk peningkatan kesejahteraan GTT.

Peningkatan kesejahteraan guru GTT tersebut bisa mendukung upaya pemkab untuk mengatasi kekurangan jumlah guru berdasarkan hitungan rombongan belajar (rombel). Yakni memberdayakan GTT yang ada di kabupaten Rembang, dibanding harus dengan cara regrouping sekolah.

Editor : Kholistiono

PPL Diharapkan Tahu Potensi Wilayah Kerjanya

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat memberikan pengarahan dalam kegiatan seminar penyuluh di lantai 4 Kantor Bupati Rembang kemarin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) diminta harus mempunyai data potensi pertanian di wilayahnya masing-masing. Sehingga, nantinya para  penyuluh ini lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan dalam bertugas, dan dapat memberikan masukan kepada para petani di wilayah itu.

Hal itu disampaikan Bupati Rembang Abdul Hafidz saat memberikan sambutan pengarahan dalam kegiatan seminar penyuluh di lantai 4 Kantor Bupati Rembang kemarin. Dalam kesempatan itu, bupati meminta Kepala Dinas Pertanian dan Pangan memberikan tugas PPL untuk membuat data masing-masing wilayah kerjanya.

Dirinya yakin, dengan adanya data base yang valid, maka pengembangan pertanian di Rembang akan semakin baik. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemkab tentu akan lebih tepat sasaran.

”Saya kira satu PPL mengampu dua sampai tiga desa itu tidak berat. Risiko- risiko apa yang ada di wilayah kerjanya harus tahu. Saya kira itu bisa dilakukan, karena PPL memiliki pengetahuan di sana,” ujarnya.

Pemkab Rembang di masa kepemimpinan Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Bayu Andriyanto telah memprioritaskan di sektor pertanian sebagai salah satu unggulan dalam visi misinya. Memaksimalkan potensi pertanian akan membantu terwujudnya kesejahteraan petani dan mengurangi angka kemiskinan di Rembang.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Suratmin menyebut, tujuan digelarnya seminar, untuk meningkatkan kompetensi para penyuluh di Rembang yang berjumlah 136, yang terdiri atas THL 82 dan ASN 54 . Pasalnya, saat ini penyuluh dituntut untuk menguasai semuanya, baik potensi maupun permasalahan yang ada di wilayah kerjanya.

“Tuntutan penyuluh saat ini seperti yang dikatakan Pak Bupati, harus bisa mencari solusi dari permasalahan yang ada. Mungkin di sana irigasinya kurang , nah nanti kita cari bagaimana pemecahan permasalahannya. Mungkin dengan swadaya, atau dengan desa atau diusulkan dengan kabupaten atau mungkin juga lewat APBN. Penyuluh harus tahu permasalahan di masing- masing wilayahnya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Meski Menang Atas Persiba, Namun Stamina Pemain PSIR Dinilai Merosot

Pertandingan PSIR vs Persiba Bantul di Stadion Krida Rembang, Kamis (20/7/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Laga lanjutan Liga 2, PSIR Rembang menjamu tamunya Persiba Bantul di Stadion Krida Rembang, Kamis (20/7/2017). Pada pertandingan sore tadi, PSIR menag 2-0 atas tamunya Persiba.

Gol pertama dicetak oleh Koko Hartanto (9) ketika babak pertama baru saja dimulai. Koko mampu melesakkan gol ke gawang Persiba pada menit ke-4 ketika mendapatkan umpan dari Muslimin (28) dari sisi kiri gawang lawan.

Sedangkan gol kedua dicetak Rudy Santoso (99) pada menit ke 41 dengan memanfaatkan kemelut di depan gawang lawan.

Meski mampu menang telak atas lawannya, namun, Pelatih PSIR Hadi Surento menilai, jika stamina anak asuhnya saat melawan Persiba justru menurun.

“Alhamdulillah bisa mencetak dua gol. Namun sayang, saat ini stamina pemain tengah menurun lantaran hanya jeda waktu 3 hari saja setelah bermain dengan Persis Solo pada Minggu kemarin. Sehingga performa pemain belum maksimal,” paparnya.

Saat ini, katanya, PSIR mengumpulkan poin 15. Sebab, masih ada tanggungan pertandingan dengan Persis Solo yang saat itu dihentikan lantaran ada insiden tawuran. Jika bisa mengantongi hasil dari Persis Solo maka poin PSIR bisa 18.

Sementara, Pelatih Persiba Bantul Sanbudiana mengakui, bahwa anak asuhnya lagi kehilangan konsentrasi.”Kita akui pemain-pemain kita pada babak pertama belum bisa fokus. Namun di saat babak kedua kita bisa fokus dan bisa menciptakan peluang-peluang,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

Polres Rembang Kembali Amankan 5 Sepeda Motor Curian dari Jadik

Beberapa barang bukti sepeda motor yang diamankan Polres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Pihak Kepolisian Resor (Polres) Rembang mengamankan lima lagi sepeda motor dari Jadik, tersangka pencurian yang ditangkap pada Kamis malam 13 Juli 2017, melalui pengembangan penyidikan.

Lima sepeda motor itu berjenis Honda Revo dan Supra Fit. Polisi mengamankannya dari beberapa lokasi di Rembang dan Pati. Sepeda motor kemudian diamankan di Mapolres Rembang untuk barang bukti perkara.

Sebelumnya dari tangan tersangka Jadik, telah diamankan sebuah sepeda motor jenis Yamaha Mio J warna putih yang belakangan diketahui bernomor polisi W 5294 ZJ milik Supriyanti warga Desa Tahunan, Sale.

“Pelaku ini sudah berkali-kali melakukan curanmor, tetapi baru kali ini ketangkap,” kata Kapolres Rembang AKBP Pungky Bhuana Santoso saat sesi jumpa pers di Mapolres setempat pada Kamis (20/7/2017) pagi.

Pelaku, Jadik (56) merupakan warga Dukuh Tunggaktiyang Desa Sendangrejo,Kecamatan Bogorejo,Kabupaten Blora. Dirinya mengaku mencuri enam sepeda motor itu dari wilayah Sale dan Jatirogo.

“Sepeda motor curian saya jual dengan harga Rp 1,5 juta. Tidak ada pemesan sebelumnya. Memang selalu pakai kunci T (sebagai sarana). Biasanya (proses mencuri) butuh waktu kurang lima menit,” ujar Jadik.

Kapolres meminta kepada masyarakat yang petani atau pekebun agar lebih hati-hati dan waspada terhadap pencurian. Jika harus meninggalkan sepeda motor untuk bersawah, agar dilengkapi kunci ganda.

“Kami jerat tersangka ini dengan pelanggaran Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan. Ancaman hukumannya, maksimal tujuh tahun penjara,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pemilik Rumah Makan Ini Senang Sepeda Motornya yang Dibawa Kabur TNI Gadungan Ketemu

Erika Piliang Shaputra (40), pemilik Rumah Makan Padang Salero saat mengambil sepeda motornya di Polres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Erika Piliang Shaputra (40) pemilik Rumah Makan Padang Salero Minang di Jl. Gajah Mada, Desa Banyudono, Kecamatan Kaliori, tampak tersenyum lebar ketika sepeda motor Honda Beat K 2738 BW miliknya yang sempat hilang dibawa seseorang yang mengaku-ngaku sebagai anggota TNI, kini ditemukan kembali.

Sepeda motor tersebut, diberikan secara simbolis oleh Kapolres Rembang AKBP Pungky Buana Santosa saat jumpa pers di Mapolres Rembang, Kamis (20/7/2017). “Berhubung sepeda motornya sudah ketemu, maka bisa diambil dengan menggunakan surat surat kendaraan tentunya,” ujar kapolres.

Erika tampak tak bisa menyembunyikan rasa senangnya di hadapan media. Sebab sepeda motor yang baru ia beli tersebut ketemu lagi.”Dahulunya sih sakitnya di sini (sambil menunjuk dada). Tapi sekarang berkat Pak Polisi bisa mengamankan pelaku dan bisa mengamankan sepeda motor saya,” katanya.

Ia menyampaikan terima kasih kepada pihak kepolisian yang telah menangkap pelaku, yang selama ini telah meresahkan warga, khususnya di Rembang.

Untuk diketahui, pelaku dari penggelapan sepeda motor tersebut adalah Suwarno (60) warga Desa Dukuhseti,Kecamatan Dukuhseti, Pati. Pria yang akrab disapa dengan sapaan Pak Ndut ini ditangkap lantaran membawa kabur sepeda motor beberapa motor warga, di antaranya milik Erika dan milik Sugiarto warga Desa Kerep,Kecamatan Sulang.

Pelaku dalam melancarkan aksinya mengaku-ngaku sebagai anggota TNI Kodim 0720/Rembang. Pelaku juga  tak sendirian dalam melancarkan aksinya.

Editor : Kholistiono

Sumberrejo Resmi jadi Desa Sadar Jaminan Sosial

Penandatanganan MoU tentang Jaminan Ketenagakerjaan oleh BPJS Ketenagakerjaan Rembang dengan Pemerintah Desa Sumberrejo. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Rembang bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat mencanangkan Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan sebagai Desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Kabupaten Rembang. Hal ini merupakan terobosan untuk meningkatkan layanan sosial dengan menyasar desa.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Rembang Budi Hananto menjelaskan, untuk saat ini keikutsertaan BPJS Ketenagakerjaan juga bisa dari kalangan pekerja rumahan, petani maupun yang lainnya yang bekerja di desa sesuai dengan kondisi dan lingkungan desanya.

“Saat ini kita akan menyasar di sekitar  74.000 desa. Dan salah satunya yang kita bidik untuk sadar jaminan ketenagakerjaan secara mandiri yakni Desa Sumberrejo ini,” paparnya.

Menurutnya, untuk keikutsertaan BPJS Ketenagakerjaan ini ada tiga paket.”Untuk BPJS yang besaran iuran Rp 7.603 per orang setiap bulannya, itu bisa untuk para petani, pekebun dan sejenisnya. Paket tersebut ada dua program, di antaranya yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Sedangkan untuk iuran Rp 87.859 per orang setiap bulannya itu dapat digunakan bagi karyawan usaha rumahan yang ada di desa. Paket tersebut ada tiga program. Di antaranya yakni jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan hari tua,” bebernya.

Sementara itu, untuk iuran sebesar Rp 130.099 per orang untuk setiap bulannya di situ ada empat program. Di antaranya yakni kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan pensiun. “Khusus yang mempunyai 4 program tersebut, nantinya akan kita tawarkan kepada perangkat desa maupun kepala desa,” ucapnya.

Dia menilai, iuran BPJS Ketenagakerjaan tersebut sangat penting, apalagi iuran itu juga dapat dijadikan sebagai tabungan bagi para petani, ataupun dapat memproteksi karyawan yang bekerja di perusahaan rumahan yang ada di desa.

Sementara itu, Camat Pamotan Wiyoto menuturkan, hal itu sangat positif sekali. Sehingga nantinya dapat diinformasikan kepada masyarakat.

“Untuk sadar ketenagakerjaan ini nantinya akan kita informasikan kepada warga di setiap desa. Sehingga kepala desa nantinya bisa mengimbau bahwa sadar akan jaminan ketenagakerjaan ini bisa menyasar kepada masyarakat,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Bupati Khawatir Rembang Dikuasai Investor dari Cina

Ilustrasi Peta Rembang/Istimewa

MuriaNewsCom,Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz khawatir wilayah strategis Kabupaten Rembang dikuasi oleh investor asing khususnya dari Cina. Pasalnya ia sempat ditemui oleh orang Cina, yang sudah hafal benar mengenai Rembang

“Memang pada masa Pemerintahan Bupati Moch. Salim, sempat ada rencana pembangunan zona industri yang berada3 titik,” kata Abdul Hafidz.

Dari rencana itu, ketiga titik yang akan dijadikan zona industri yakni Kecamatan Sluke, antara Rembang – Lasem dan jalur Rembang – Blora. Hanya saja, ia belum sepakat, karena masih mempertimbangkan aspek sosial yang ada di masyarakat Kabupaten Rembang.

“Ya saya berfikir bahwa jangan sampai tanah atau wilayah  strategis yang ada di Rembang berubah jadi pabrik – pabrik besar. Menurut saya, ya kasihan masyarakat, kalau dalam jangka panjang lahan kian menyusut karena sudah dimiliki investor Cina,” paparnya.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa pernah ditemui seorang investor dari Cina. Dan ternyata investor tersebut sudah  menguasai data, tentang potensi tanah dan harganya di Rembang. Khususnya di sepanjang jalur pantai utara antara Kecamatan Kaliori sampai dengan Kecamatan Sarang.

“Saya juga heran kenapa sampai komplitnya data yang mereka punya. Di benak saya juga sembari bertanya, apakah Indonesia ini akan dikuasai oleh orang asing,” bebernya.

Sementara itu, mengenai perizinan perindustrian tersebut, ia juga mengutarakan bahwa dirinya sempat disuruh pihak tersebut untuk bersantai-santai saja.

“Mereka bahkan menyampaikan ke saya. Pak Bupati hanya duduk manis saja. Dan yang paling penting yakni izin investasi bisa keluar. Tinggal tanda tangan saja. Namun saya menolak, dengan alasan nasib masyarakat ke depan. Sebab tentu wilayah ini tidak serta merta dihabiskan untuk lokasi industri saja,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Pemkab Rembang Pastikan Tak Buka Lowongan CPNS pada 2017

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz memastikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang tidak akan membuka rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2017 ini.

Hal tersebut disebabkan sejumlah persyaratan yang tidak dapat sepenuhnya diaplikasikan oleh pihak Pemkab Rembang.

Hafidz menjelaskan, salah satu persyaratan kabupaten atau kota pelaksana rekrutmen CPNS yakni perbandingan antara belanja publik dengan belanja pegawai harus seimbang. Sedangkan di Rembang, perbandingan tersebut diakui masih belum seimbang.

“Rembang masih belum bisa mengajukan CPNS. Sebab saat ini masih ada syarat yang tidak terpenuhi. Misalnya saja belanja publik dengan belanja pegawai harus seimbang, sedangkan di Rembang syarat tersebut belum bisa terpenuhi,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, saat ini persentase belanja pegawai di Rembang melebihi angka 50 persen, meskipun pada dasarnya harus seimbang dengan belanja publik. Hal itu disebabkan, lantaran jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkab Rembang masih belum ideal.
 
“Faktanya di Rembang jumlah ASN masih belum ideal yang menyebabkan persentase belanja pegawai lebih tinggi dibandingkan belanja publik,” paparnya.

Sementara itu, ia juga mengimbau kepada warga Rembang supaya bisa memanfaatkan berbagai lapangan pekerjaan yang ada di Rembang.
 
“Warga Rembang bisa memanfaatkan sejumlah lapangan pekerjaan lainnya, baik di badan usaha milik pemerintah, perusahaan swasta, atau justru berwiraswasta, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Era globalisasi menuntut masyarakat agar lebih kreatif dalam bidang pekerjaan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono