Aksi Parkir Serentak, Petani Tebu di Pati Mbengok soal Pajak 10 Persen

Peserta aksi membentangkan spanduk berisi tuntutan di Jalan Wedarijaksa-Tayu, Kamis (24/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani tebu di Kabupaten Pati, menggelar aksi dengan secara serentak memarkirkan truk tebu mereka di kawasan Jalan Wedarijaksa-Tayu, sebelum Polsek Wedarijaksa hingga plasement PG Trangkil, Kamis (24/8/2017).

Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan terkait kebijakan pemerintah dalam mengatur pergulaan nasional.

Selain aksi parkir serentak, mereka memanjatkan doa bersama agar hasil pertanian dan perkebunan seperti komoditas gula pasir masuk barang strategis, sehingga tidak dikenakan pungutan PPN 10 persen.

“Kebijakan PP Nomor 31 Tahun 2007 menjelaskan bahwa komoditas gula pasir tidak masuk barang strategis. Akibatnya, ada pungutan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen. Ini cukup memberatkan,” ujar koordinator aksi, Suharno.

Ada lima hal yang mereka tuntut dalam aksi tersebut. Pertama, menolak PP Nomor 31 Tahun 2007. Kedua, menuntut Presiden RI untuk mengubah kebijakan pemerintah supaya berpihak pada petani tebu dan gula nasional.

Ketiga, hentikan gula impor dan beli gula petani dengan harga Rp 11 ribu per kilogram. Rembesan gula rafinasi juga diharapkan bisa disetop pemerintah.

“Kami juga menuntut kepada Menteri BUMN terkait janji kompensasi dari impor, yakni jaminan rendemen 8,5 persen pada 2016, kompensasi rendemen renndah pada 2017, revitalisasi pabrik gula, dan jangan tutup pabrik gula sebelum mendirikan pabrik gula baru,” tututnya.

Mereka juga menuntut agar Menteri Keuangan untuk melakukan pembebasan gula tani dari PPN. Aksi tersebut mendapatkan pengamanan ketat dari kepolisian. Mereka tampak berjaga-jaga bila ada hal yang tidak diinginkan.

Editor : Ali Muntoha

Haryanto-Arifin Fokus pada Pemberantasan Kemiskinan di Pati

Bupati Pati Haryanto seusai dilantik Gubernur Jateng, Selasa (22/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto selama kepemimpinannya selama lima tahun ke depan akan fokus pada agenda pemberantasan kemiskinan. Selain itu, upaya pengentasan pengangguran juga akan digencarkan.

“Saat ini sampai akhir 2017, kami akan melanjutkan periode kemarin sesuai dengan pembahasan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), nanti akan nyambung,” ujarnya, Rabu (23/8/2017).

Berbagai pelayanan dasar masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan kemiskinan akan menjadi prioritas utama. Hal itu sesuai dengan instruksi dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk mencari formula baru dalam program pengentasan kemiskinan.

“Formula itu tidak hanya pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH), tapi formula lain yang bisa mengangkat kemiskinan di Pati. Karena itu, butuh masukan dari berbagai pihak agar program ini sukses menyejahterakan masyarakat,” tuturnya.

Pati sebelumnya memiliki progres yang baik di bidang pengentasan kemiskinan. Jika angka kemiskinan di Jawa Tengah mencapai 13 persen, angka kemiskinan di Pati hanya 10 persen.

Kendati begitu, Haryanto mengaku kemiskinan menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan. Hanya saja, langkah itu tidak bisa dilakukan secara spontan dalam waktu dekat, tetapi butuh waktu dalam jangka panjang.

“Kita bersama-sama selesaikan berbagai masalah yang ada di Pati. Kami tidak bisa seperti lampu Aladin, tinggal ngomong bim salabim jadi. Mungkin ada yang bilang, baru dilantik kok tidak bisa. Semuanya butuh proses, seperti melalui APBD dan RPMJ,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

10 Perwira Polres Pati Dirotasi, Ini Pejabat Baru yang Mengisinya

Kasat Sabhara Polres Pati yang baru, AKP Sugino berjabat tangan dengan Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak sepuluh perwira polisi mengikuti upacara serah terima jabatan di halaman Mapolres Pati, Rabu (23/8/2017).

Kasat Reskrim Polres Pati awalnya dijabat AKP Galih Wisnu Pradipta diganti oleh AKP Ari Sulistyawan yang sebelumnya menjabat sebagai Kasat Resnarkoba Polres Temanggung. Sementara AKP Galih pindah ke Panit 1 Unit II Subdit 4 Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah.

AKP Amlis Chaniago bertukar posisi dengan AKP Sugino. AKP Amlis saat ini menjabat sebagai Kapolsek Margoyosos, sedangkan AKP Sugino menjagi Kasat Sabhara Polres Pati.

Kapolsek Sukolilo yang baru dijabat oleh Iptu Supriyono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakapolsek Margorejo. Sementara Kapolsek Sukolilo yang lama, AKP Sholihul Hadi menjabat sebagai Kasubbag Dal Ops Bag Ops Polres Rembang.

Kapolsek Kayen yang lama AKP Sutoto dipindahkan sebagai Kapolsek Gabus, sedangkan Kapolsek Kayen yang baru dijabat AKP Sutopo yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Gunungwungkal.

Sementara Kapolsek Gunungwungkal yang baru dijabat oleh AKP Sudarsono. “Ada satu yang pensiun, yaitu Bapak AKP Sudarsono yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Gabus,” ujar Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan.

Dia berharap, perwira yang mendapatkan jabatan baru bisa berkerja maksimal untuk masyarakat. Sebab, keberadaan polisi memang untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

Editor: Supriyadi

Dini Hari Tadi, Ratusan Jemaah Haji Pati Kloter 89 Bertolak ke Tanah Suci

Calon jemaah haji Pati kloter 89 berada di Halaman Kantor Setda Pati, sebelum bertolak ke Tanah Suci, Rabu (23/8/2017) dini hari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 353 calon jemaah haji dari Pati Kloter 89 bertolak ke Tanah Suci dari Halaman Kantor Setda Kabupaten Pati, Rabu (23/8/2017) dini hari.

Mereka berasal dari Kecamatan Tlogowungu, Gabus, Winong, Tambakromo dan Jakenan. Delapan armada bus diterjunkan yang dikawal satu unit ambulans, satu voorijder, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Sejumlah pejabat yang hadir dalam agenda pemberangkatan, antara lain Bupati Pati Haryanto, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Wakapolres Pati Kompol Nyamin, Kepala Kemenag Pati Mundzakir, dan Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh.

“Tahun ini, ada 1.665 warga yang menjadi calon jemaah haji. Mereka dibagi menjadi enam kloter pemberangkatan, kemarin kloter 88 sudah berangkat. Ini kloter 89 yang berangkat,” kata Mundzakir.

Sementara itu, Haryanto dalam sambutannya memberikan pesan kepada calon jemaah untuk disiplin, kompak dan saling kerja sama dalam menjalankan ibadah haji. Sesama jemaah diharapkan bisa saling membantu.

Haryanto yang baru saja dilantik sebagai Bupati Pati juga memohon doa kepada calon jemaah agar Kabupaten Pati selalu diberikan rasa aman, damai, dan kondusif. Sebab, doa para jemaah haji di Tanah Suci sangat mustajab.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Haryanto Konsultasi ke Singapura untuk Pembangunan Pati

Bupati Pati Haryanto (kanan) bersama Wabup Pati Saiful Arifin, seusai dilantik Gubernur Jawa Tengah, Selasa (22/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto mengonsultasikan pengembangan wisata di Kabupaten Pati hingga ke Singapura dan Australia. Hal itu disampaikan Haryanto, usai dilantik sebagai Bupati Pati, Selasa (22/8/2017).

“Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan teman arsitektur dari Singapura dan Australia. Saya minta tolong untuk membantu perencanaan pembangunan di Pati, termasuk wisata,” ujarnya.

Sejumlah tempat wisata yang rencana akan dikembangkan lebih lanjut, antara lain Gunung Rowo, Gua Wareh, Jolong, dan Jrahi. Jauh-jauh hari, beberapa tempat wisata itu direncanakan untuk dibangun dengan tujuan menarik investasi.

Sebab, program pembangunan di Pati lima tahun ke depan tidak hanya fokus pada infrastruktur saja, tetapi juga wisata. Selain mengakomodasi potensi lokal, dunia pariwisata dinilai ikut meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Untuk wisata, saya sudah berkonsultasi kepada arsitektur tersebut. Sejumlah wisata di Pati yang saya sebutkan tadi itu pantasnya dibuat bagaimana biar memiliki daya tarik bagi pengunjung,” kata Haryanto.

Hanya saja, upaya untuk pengembangan wisata masih dalam tahap perencanaan. Ke depan, pembangunan infrastruktur berbasis pengembangan wisata akan dianggarkan sehingga Pati menjadi lebih dikenal dengan pariwisatanya.

“Pengembangan wisata sudah masuk dalam program Noto Projo Mbangun Deso. Doakan agar rencana untuk membangun Pati berjalan lancar dan sukses. Semuanya untuk warga Pati,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Dilantik, Bupati dan Wakil Bupati Pati Haryanto-Saiful Arifin Minta Restu kepada Warga Pati

Bupati dan Wakil Bupati Pati Haryanto dan Saiful Arifin berfoto bersama saat ramah tamah di Pendapa Pati, Selasa (22/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Haryanto dan Saiful Arifin resmi memimpin Kabupaten Pati lima tahun ke depan. Keduanya dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pati oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Selasa (22/8/2017).

Seusai dilantik, keduanya menggelar ramah tamah dengan organisasi perangkat daerah (OPD), kepala desa dan perangkatnya, organisasi masyarakat (ormas), serta tim sukses yang tergabung dalam Laskar Pelangi di Pendapa Kabupaten Pati.

“Tidak ada kata yang patut saya ucapkan, kecuali terima kasih. Dengan setulus hati, kami ucapkan terima kasih kepada semua masyarakat Pati yang ikut mengawal dari pencalonan hingga pelantikan,” ucap Haryanto.

Dia juga meminta restu kepada masyarakat Pati untuk memimpin selama lima tahun ke depan. Waktu lima tahun diakui bukan waktu yang panjang.

Karena itu, Haryanto meminta dukungan kepada masyarakat luas untuk melakukan pembangunan Pati menjadi lebih baik. “Jangan hanya mengantar saya jadi bupati, tapi juga bantu mendukung sampai purnatugas. Masukan, kritik dan saran akan selalu kami nantikan untuk kebaikan bersama,” tambahnya.

Sementara itu, Saiful Arifin lebih menegaskan untuk bersama-sama menyebarkan virus positif untuk Kabupaten Pati. Sebab, kemunduran suatu daerah salah satunya disebabkan budaya negative thinking.

“Kita harus bersatu padu, saling mendukung dan mengisi. Sebagai wakil, saya akan membantu dan mendorong pak bupati agar sukses membuat Pati menjadi daerah maju, setara dengan kota-kota besar yang mengedepankan kemajuan dan tidak meninggalkan budaya, serta kesantunan sebagai wong Pati,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Kejari Pati 6 Kali ‘Ping Pong’ Berkas Kasus CIMB Niaga, Kenapa?

Korban CIMB Niaga melakukan aksi long march menjemput keadilan sepanjang 25 km pada akhir 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati sudah enam kali mengembalikan berkas kasus dugaan tindak pidana perbankan yang dilakukan oknum Bank CIMB Niaga kepada polisi. Hal itu disampaikan kuasa hukum korban, Nimerodi Gulo, Selasa (22/8/2017).

“Terakhir, Kejari Pati meminta polisi membuktikan pemalsuan sertifikat rumah tanah ganda. Yang kami tuntut adalah kejahatan perbankan karena CIMB Niaga lalai, jaksa malah meminta polisi membuktikan pemalsuan sertifikat. Ini di luar tuntutan. Ada apa dengan jaksa,” ungkap Gulo kesal.

Menurut Gulo, kasus tersebut sudah jelas karena CIMB Niaga terbukti lalai dan melanggar pasal 49 ayat 2 huruf b UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Penetapan tersangka kepada oknum CIMB Niaga juga sudah dilakukan polisi.

Bukti-bukti yang disodorkan juga dianggap sudah cukup. Seperti bukti kredit yang dicairkan dan adanya prinsip ketidakhati-hatian dari pihak perbankan. Tim kredit CIMB Niaga diduga sengaja mencairkan kredit dengan membuat surat palsu, kendati Tim Appraisal CIMB Niaga sudah mewanti-wantinya.

“Kasus ini sudah jelas, tapi jaksa sengaja mengaburkan kasus. Dari kacamata hukum, mestinya sudah P 21 (lengkap), karena unsur-unsur pidana perbankan sudah terpenuhi. Anehnya, jaksa sudah memberikan catatan kepada polisi untuk dilengkapi, begitu dilengkapi, dikasih catatan lagi. Begitu terus sampai enam kali. Ini jelas membuktikan Kejari Pati tidak profesional,” tuding Gulo.

Sebelumnya diberitakan, Mashuri Cahyadi membeli sertifikat tanah yang dilelang CIMB Niaga melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Semarang. Namun, dia tidak bisa menguasai tanah yang dibelinya, karena ternyata bersertifikat ganda.

Sertifikat yang dibeli Mashuri dari lelang atas nama Kuswantoro, sedangkan sertifikat lainnya atas nama Sunoto. Meski Tim Appraisal CIMB Niaga disebut sudah memperingatkan masalah tersebut, tetapi Tim Kredit CIMB Niaga diduga nekat membuat surat keterangan yang menyebut Sunoto hanya menyewa.

Setelah dicek laboratorium oleh pihak kepolisian, surat keterangan sewa tersebut adalah palsu. Artinya, Gulo mengganggap Tim Kredit CIMB Niaga sudah melakukan rekayasa agar utang dengan agunan tanah tersebut dicairkan.

“Surat yang ternyata palsu itu dibuat untuk menangkis nasehat dari tim appraisal. Tampak dengan jelas ada kesengajaan untuk mencairkan kredit, meski tim appraisal tahu itu bermasalah karena sertifikatnya ganda. Lagipula, semestinya posisi surat keterangan tidak bisa mengalahkan sertifikat asli Sunoto,” imbuhnya.

Dia berharap, Kejari Pati bisa bekerja secara profesional dan tidak melakukan “ping pong” berkas kasus yang dilimpahkan dari polisi. Sebab, kasus itu sudah bergulir ke polisi sejak 26 Mei 2015 hingga sekarang.

Sementara saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Pati menolak bertemu dengan wartawan. Alasan yang disampaikan petugas keamanan, ia sedang melakukan pemeriksaan.

Editor : Ali Muntoha

Lihat Bentor dengan Kondisi Mengerikan, Begini Reaksi Polisi Pati

Sejumlah bentor yang disita petugas di Satlantas Polres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan becak motor (bentor) yang beroperasi di kawasan jalan utama Pati ditilang dan disita polisi. Hingga pertengahan Agustus 2017, sedikitnya ada 50 bentor yang diamankan di Satlantas Polres Pati.

“Operasi kami lakukan di jalan-jalan utama. Pedesaan belum kita jangkau. Kami akan lakukan secara bertahap, mungkin di pedesaan nanti bisa. Ini sesuai dengan perintah Ditlantas Polda Jawa Tengah,” kata Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari, Selasa (22/8/2017).

Untuk mengambil bentor yang disita petugas sebagai barang bukti, pemilik bentor harus melengkapi surat dan ketentuan teknis. Bukti kepemilikan yang sah seperti BPKB juga harus bisa ditunjukkan kepada petugas.

Selain itu, pemilik harus mengembalikan fungsi asal bentor. Setelah semua syarat dipenuhi dan melalui mekanisme sidang, pemilik bisa mengambilnya di Kantor Satlantas Polres Pati.

“Pengembalian fungsi bentor harus dilakukan di Satlantas, kemudian pemilik membuat surat pernyataan agar tidak dirakit kembali. Beberapa pemilik yang memenuhi syarat sudah ada yang mengambil,” tuturnya.

Dia berharap, penerapan aturan yang tegas sesuai dengan undang-undang membuat para pemilik sadar, karena bentor melanggar ketentuan tertib berlalu lintas. Selain berpotensi menyebabkan kecelakaan, bentor dinilai mengakibatkan kemacetan lalu lintas.

Ia menambahkan, rata-rata bentor yang diamankan merupakan kendaraan tua dengan kondisi yang cukup mengerikan. Rem bentor juga banyak yang tidak layak jalan, sehingga membahayakan penumpang.

Editor : Ali Muntoha

Dokter RSI Pati Kampanyekan Kesehatan dan Gizi Anak pada Guru PAUD

Salah satu dokter di RSI Pati memberikan materi kesehatan dan gizi anak kepada peserta diklat berjenjang tingkat dasar di IPMAFA Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kesehatan dan gizi anak perlu diperhatikan, terutama saat anak masuk dalam masa pertumbuhan. Sementara pertumbuhan yang baik dapat dilihat dari kesehatan dan ketersediaan gizinya.

Kesehatan dan gizi yang diberikan dengan baik akan berdampak pada masa depan anak. Mengingat pentingnya hal tersebut, Panitia Diklat PAUD Berjenjang Tingkat Dasar Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) IPMAFA Pati merasa perlu untuk mamasukkan materi kesehatan dan gizi anak kepada peserta diklat yang diikuti 268 mahasiwa dan guru PAUD.

Dalam kesempatan tersebut, dokter-dokter dari Rumah Sakit Islam (RSI) Pati dan pakar gizi anak didatangkan untuk menjadi narasumber yang dibagi ke dalam empat kelas yang berbeda. Mereka memberikan materi tentang kesehatan dan gizi kepada guru, sebelum diajarkan kepada para murid.

Salah satu narasumber, dr Nur Iffah menuturkan, gizi anak akan berdampak bukan hanya  dalam jangka pendek, tetapi membekas sampai masa depan. Gizi yang kurang maupun buruk akan memengaruhi pertumbuhan fisik jangka panjang seorang anak dalam aspek perkembangan kognitif, kapasitas belajar, prestasi sekolah dan prestasi kerja di masa depan.

“Gizi dan anak perlu diperhatikan sejak dini. Sebab, kebutuhan gizi pada anak dalam masa pertumbuhan sangat menentukan masa depannya dari berbagai aspek. Pengetahuan semacam ini penting diberikan kepada guru PAUD, karena mereka yang mendidik anak,” kata dr Nur Iffah.

Karena itu, kesehatan dan gizi anak sangat penting diperhatikan oleh para orangtua, termasuk guru yang mengajarnya selama di bangku sekolah. Dengan dasar itu pula, memasukkan materi gizi kepada peserta diklat dasar yang diikuti para guru PAUD menjadi sebuah keharusan.

Para peserta pun terlihat antusias mendengarkan penjelasan narasumber. Mereka juga aktif menanyakan berbagai hal tentang kesehatan dan gizi anak. Harapannya, informasi yang didapatkan peserta memiliki dampak nyata untuk keberlangsungan masa depan anak.

Editor: Supriyadi

Pati Bakal Punya 3 Oven Tapioka Berkapasitas 30 Ton Sehari

Seorang pekerja tengah mengeringkan tepung tapioka basah di tempat penjemuran secara manual di Desa Ngemplak, Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati akan memiliki tiga oven berteknologi mutakhir yang digunakan untuk mengeringkan tapioka. Masing-masing oven yang mengusung compressed natural gas (CNG) tersebut memiliki kapasitas hingga 30 ton tapioka kering.

Penggiling tapioka asal Ngemplak, Margoyoso, Khoirul Umam mengatakan, sudah ada tiga investor yang menyatakan kesediannya membangun oven tapioka. Dua orang dari Jawa Timur, satu orang dari Jakarta.

“Sudah ada tiga investor yang menyatakan ketertarikan dan akan menginvestasikan oven pengering di Pati. Rencana ini tentu kita sambut dengan baik, karena nantinya membuat produksi tapioka menjadi stabil dan tidak mengenal cuaca,” ujar Umam, Senin (21/8/2017).

Dia yang sudah berkomunikasi dengan investor menegaskan, mesin pengering yang akan dibangun di Pati mengusung teknologi terbaru dan ramah lingkungan. Dengan demikian, keberadaan oven tapioka di Ngemplak selain akan membantu petani dan penggiling untuk terus berproduksi, juga tidak mengganggu lingkungan.

Hal yang sama disampaikan Cahyadi. Penggiling ketela di kawasan Ngemplak ini menuturkan, keberadaan oven membuat ketersediaan tapioka bagi industri terjamin.

“Keberadaan oven memang penting. Ada jaminan stok tapioka bagi perusahaan dan industri. Petani dan penggiling juga akan hidup, karena masih bisa beroperasi meski musim penghujan,” kata Cahyadi.

Selama ini, industri kecil dan menengah (IKM) tapioka di Pati mendapatkan pasokan ketela dari wilayah Karesidenan Pati, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Dengan tiga oven yang masing-masing berkapasitas 30 ton kering setiap hari, produksi tapioka di Pati bisa mencapai 90 ton per hari secara stabil.

Jika sudah berjalan, roda perekonomian petani dan penggiling ketela di Pati akan berjalan dengan baik tanpa terkendala cuaca. Terlebih, siklus tanam ketela bisa nyambung sehingga tapioka lokal bisa terus berproduksi tanpa mengandalkan impor.

Editor: Supriyadi

 

Gara-gara Obat Nyamuk, Rumah Warga Manjang Pati Dilalap Si Jago Merah

Sejumlah warga tengah memperbaiki atap rumah warga Manjang, Jaken yang terbakar, Senin (21/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah rumah di Desa Manjang RT 2 RW 1, Kecamatan Jaken, Pati dilalap si jago merah, Senin (21/08/2017). Api diduga berasal obat nyamuk yang menyulut kasur.

Beruntung, saat kebakaran terjadi penghuni rumah sedang pergi ke pasar. Penanganan sigap dari warga dan petugas membuat api bisa cepat dipadamkan, sehingga tidak meluas ke pemukiman lain.

“Kebakaran diketahui sekitar jam 09.30 WIB, dan api dapat dipadamkan pada pukul 09. 45 WIB. Diduga api berasal dari obat nyamuk yang menyulut kasur,” ungkap Kapolsek Jaken AKP Teguh Heri Rusianto.

Akibat kebakaran tersebut, pemilik rumah, Karmain (75) mengalami kerugian hingga Rp 25 juta. Hal itu disebabkan api membakar dinding sekat kamar bagian dalam yang terbuat dari triplek, atap rumah atas kamar, dan sejumlah barang berharga lainnya.

“Hanya 30 persen bagian rumah yang terbakar, yakni bagian blandar kayu dan kerangka atap rumah yang terbuat dari kayu,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Manjang, Sunyarto (55) mengatakan, dia mendengar teriakan warga bila ada kebakaran. Mendengar hal itu, dia mengerahkan warga untuk ikut membantu memadamkan api.

“Jarak antara balai desa dan rumah korban sekitar 50 meter. Itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB, kami yang berada di kantor balai desa mendengar teriakan kebakaran,” tuturnya.

Api yang sudah berkobar akhirnya bisa dipadamkan menggunakan sejumlah peralatan seadanya. Salah satunya dengan memanfaatkan pasir dan air sumur, sehingga rumah bisa diselamatkan dan tidak menjalar ke rumah warga di sekitarnya.

Editor : Supriyadi

Soal Rekrutmen Perangkat Desa di Pati, Nimerodi Gulo : Siapa Bayar Besar Dapat Bocoran Soal

Praktisi hukum Nimerodi Gulo menyatakan korupsi di tingkat desa harus diberangus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di tingkat desa harus diberangus bila Indonesia ingin menjadi bangsa yang besar. Hal itu diungkapkan praktisi hukum Nimerodi Gulo dalam sebuah diskusi terbatas di kantornya di kawasan Perumahan Winong, Pati, Sabtu (19/8/2017).

Menurutnya, fenomena pengisian perangkat desa di sejumlah desa di Pati membuktikan bila KKN di tingkat desa cukup parah. Dalam satu kasus, panitia kerap terlibat aksi kolusi dan nepotisme.

Dia memberikan contoh dari sejumlah kasus yang ditangani, panitia menjalin kerja sama dengan kepala desa atau camat untuk menyetting siapa yang akan menjadi perangkat desa. Sementara persyaratan dan tes hanya menjadi sarana formalitas belaka.

“Yang buat soal kan camat. Jadi siapa yang berani bayar besar, dia dikasih bocoran soal sebelum pelaksanaan. Maka jangan heran kalau ada peserta sarjana yang lulus cumlaude, nilainya kalah dengan yang tidak sekolah,” kata Gulo.

Fenomena semacam itu harus diberangus, karena menjadi salah satu kejahatan yang dampaknya besar bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, bila perangkat desa diisi orang-orang yang tidak kompeten dan hanya mengandalkan uang, pelaksanaan pemerintah desa akan terhambat dan tidak akan maju.

Masa depan Indonesia pun tergadaikan. Orang-orang yang punya kualitas dan kapabilitas tidak punya kesempatan untuk maju sebagai perangkat desa, hanya karena tidak punya uang dan akses untuk melakukan KKN.

“Kalau KKN terus terjadi di setiap pengisian perangkat desa, akibatnya desa diurus oleh orang-orang tolol sampai pensiun. Orang yang pintar dan punya kemampuan kalah dengan orang yang bisa KKN. Terlihat kecil memang, tapi dampaknya sangat besar,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Mahasiswa dan Guru PAUD Digembleng Peningkatan Kompetensi di IPMAFA Pati

Kaprodi PIAUD IPMAFA Pati Sumiati memberikan materi kepada peserta diklat berjenjang tingkat dasar, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 268 mahasiswa dan guru mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) berjenjang tingkat dasar yang diadakan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, Sabtu (19/8/2017).

Peserta dilatih berbagai materi PAUD, seperti konsep dasar PAUD, perencanaan pembelajaran PAUD, kesehatan dan gizi, peer teaching, dan berbagai materi yang menunjang proses kompetensi guru PAUD.

Kepala Prodi PIAUD IPMAFA Pati Sumiati mengatakan, diklat berjenjang tingkat dasar sangat dibutuhkan bagi pendidik PAUD. Setelah mengikuti diklat, peserta diharapkan memiliki sertifikat kompetensi yang akan menguatkan mereka di lapangan.

“Kebetulan prodi PIAUD di IPMAFA, lulusannya menjadi guru PAUD. Sebagian besar mahasiswa kita yang akan lulus dan wisuda tahun ini sudah mengajar, sehingga prodi perlu memberikan pembekalan berupa diklat,” ujar Sumiati.

Awalnya, diklat berjenjang tingkat dasar hanya diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat akhir dan alumni IPMAFA. Namun, pihaknya mengakomodasi guru dari umum mengingat permintaan dari luar cukup tinggi.

Hanya saja, kuota dari guru umum tetap dibatasi. Karena itu, kuota yang semestinya hanya 200 orang ditingkatkan menjadi 268 orang.

Setiap peserta wajib mengikuti 48 jam pelajaran yang dibagi selama enam hari, setiap Sabtu dan Minggu. Peserta juga mengikuti pre-test yang kemudian dilakukan penilaian pada post-test, sesudah mendapatkan materi diklat dasar.

“Jadi, nanti ada peringkat nilainya. Kami berharap, para peserta bisa mengerjakan post-test dengan baik, sehingga bisa lulus dan menjadi bekal untuk mengajar di lembaga pendidikan tingkat PAUD,” imbuhnya.

Guru RA AN Nur Tempur, Keling, Jepara, Endang Muati yang mengikuti diklat dasar mengaku senang mendapatkan kesempatan menjadi peserta. Pasalnya, diklat dasar sangat dibutuhkan bagi guru PAUD.

Terlebih, diklat tersebut menyesuaikan kurikulum 2013 yang nantinya menjadi bekal penting bagi para guru agar lebih kompeten. Bagi dia, diksar merupakan inovasi baru untuk membangun kreativitas dan kemampuan guru untuk diajarkan kepada peserta didik.

Editor : Ali Muntoha

Pelaku Industri Tapioka di Pati Minta Harga Produk Lokal Disetarakan Impor

Suasana pengolahan singkong di kawasan Ngemplak, Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kenaikan harga singkong menjadi Rp 1.450 per kilogram tidak lepas dari hukum alam. Ketersediaan singkong yang terbatas dari petani membuat harganya mulai melambung.

Khoirul Umam, pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di Ngemplak, Margoyoso, Pati, menuturkan, petani sempat mogok tidak panen singkong dari kebunnya karena harganya yang tidak layak, dari Rp 400 hingga Rp 700 per kilogram. Kondisi itu membuat ketersediaan singkong cukup langka.

Imbasnya, harga singkong kembali naik dan petani sudah mulai memanen singkong dari kebunnya. “Saya melihat, penyebab singkong naik karena hukum alam. Permintaan dan penawaran memang berlaku,” ujarnya, Sabtu (19/8/2017).

Saat ini, harga impor singkong berkisar di angka Rp 3.700 per kilogram. Selisih harga yang cukup besar dengan harga singkong lokal ditengarai membuat sejumlah perusahaan pengguna tapioka memilih membeli singkong lokal.

Karena itu, dia berharap agar pemerintah ikut membuat kebijakan untuk menyetarakan produk singkong impor dengan lokal. Kalau pun ada selisih, Rp 200 dianggap masih wajar sehingga akan menyejahterakan petani, pekerja dan pengusaha lokal.

“Tidak ada salahnya Pak Wapres Jusuf Kalla membuat edaran ke menteri perdagangan dan perindustrian untuk mengutamakan industri dalam negeri dengan tepung lokal. Sebab, itu akan mengangkat kesejahteraan para petani, pekerja, dan pengusaha kecil,” tuturnya.

Baca juga : Harga Ketela Naik Rp 1.450, Denyut Ekonomi Petani dan Industri Tapioka di Pati Mulai Bergeliat

Kabupaten Pati sendiri dikenal sebagai salah satu daerah dengan IKM penghasil tapioka terbesar di Indonesia. Bagi para petani, naik-turunnya harga tapioka lokal ikut mempengaruhi nasib dan hidupnya yang bergantung pada singkong.

Editor : Ali Muntoha

Harga Ketela Naik Rp 1.450, Denyut Ekonomi Petani dan Industri Tapioka di Pati Mulai Bergeliat

Suasana di industri kecil menengah (IKM) tapioka di Ngemplak, Margoyoso yang kembali bergeliat setelah harga ketela naik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani dan penggiling ketela di Pati sujud syukur setelah komoditas ketela mulai merangkak naik dari Rp 600 per kg menjadi Rp 1.450 per kg. Hal itu disampaikan Khoirul Umam, salah satu penggiling ketela di kawasan Ngemplak, Margoyoso, Pati.

“Kami sujud syukur karena harga ketela mulai naik. Sebagai penggiling, kami tentu akan menaikkan harga beli ketela sesuai dengan harga pokok produksi (HPP), karena harga ketela disesuaikan dengan kenaikan harga tepung tapioka,” ujar Umam, Sabtu (19/8/2017).

Menurutnya, kenaikan harga singkong akan menghidupkan kembali para petani, pekerja, karyawan hingga pengusaha yang bekerja di penggilingan tapioka. Sebab, petani sempat mogok dan tidak mau menjual singkongnya saat harganya anjlok beberapa waktu lalu.

Akibatnya, beberapa mesin penggiling sempat berhenti beroperasi. Karena itu, dia berharap agar permintaan tapioka terus meningkat dengan harga yang layak, sehingga akan menghidupkan kembali mesin-mesin yang berhenti beroperasi.

Saat ini, harga singkong tanpa milih sudah mencapai Rp 1.350 per kilogram. Sementara singkong super yang biasa digunakan untuk ekspor kerupuk udang lebih besar Rp 100, yakni Rp 1.450 per kilogram.

Terkait dengan pemotongan terhadap harga barang atau rafaksi, dia memastikan sudah sesuai kesepakatan dan aturan yang saling menguntungkan. Rafaksi yang dilakukan mengacu pada kotoran yang menempel pada ketela, termasuk berat keranjang yang dibawa.

“Kalau ada yang bilang rafaksi tidak sesuai, itu tidak benar. Karena sudah ada kesepakatan. Rafaksi dihitung dari kotoran yang menempel pada ketela dan berat keranjang. Jadi ada aturan mainnya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Rebutan Cewek, Pelajar di Pati Nyaris Bentrok

Sejumlah pelajar yang nyaris terlibat bentrok diamankan di Mapolsek Pati Kota, Jumat (18/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hari Kemerdekaan RI ke-72 tercoreng dengan adanya sikap sejumlah pelajar di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Pati. Gara-gara cewek, mereka nyaris terlibat saling bentrok.

Keributan itu terjadi di kawasan SMK Muhammadiyah Pati, Jalan Pati-Tayu Km 4, Jumat (18/8/2017) siang. Aksi tidak terpuji yang mereka lakukan sempat memicu reaksi dari masyarakat setempat.

Beruntung, mereka berhasil diamankan masyarakat dan komite sekolah. Petugas kepolisian yang kebetulan tengah berpatroli langsung menciduk lima pelajar dan sepeda motor yang dikendarai.

“Waktu kami patroli, dapat laporan dari masyarakat. Ada pelajar yang sedang ribut. Kami datang ke sana dan kita amankan lima pelajar ke Mapolsek Pati,” ujar Kapolsek Pati Kota Iptu Pujiwati.

Mereka diamankan untuk mendapatkan pembinaan, sekaligus menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti aksi pengeroyokan. Salah satu pemicunya, Iptu Pujiwati menyebut gara-gara cewek.

Dari informasi yang dihimpun, mereka yang nyaris bentrok adalah pelajar SMA Nasional dan SMA Bopkri Pati. Polisi mengimbau kepada para pelajar untuk fokus belajar dan menghindari aksi tawuran.

Editor: Supriyadi

Anggota Polres Pati yang Terlibat Swissindo Diamankan Propam

Tiga sekuriti Bank Mandiri KCP Pati menghadang massa anggota Swissindo, Jumat (18/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan korban penipuan Swissindo yang berkedok voucher human obligation menggelar aksi di Kantor Bank Mandiri KCP Pati, Jalan Diponegoro Pati, Jumat (18/8/2017).

Suprihatin, salah satu anggota Swissindo asal Rendole mengungkapkan, tidak ada biaya yang dibebankan untuk menjadi anggota Swissindo. Dia mengaku sudah mendapatkan pelunasan kredit di BRI sebanyak Rp 25 juta.

“Cuma mengumpulkan KTP dan KK, tidak ada iuran. Saya sempat mendapatkan pelunasan cicilan perumahan, juga hutang di BRI senilai Rp 25 juta. Sisa kredit rumah saya selama tiga tahun sudah dilunasi Swissindo,” ungkap Suprihatin.

Baca Juga : Puluhan Korban Swissindo Geruduk Kantor Bank Mandiri Pati

Berdasarkan pada pengalaman itu, surat kuasa yang diberikan Swissindo dipercaya juga berlaku di Bank Mandiri. Terlebih, salah satu pengurus Swissindo ternyata seorang anggota polisi.

“Menurut saya, Swissindo murni menolong. Wong itu yang punya Bank Dunia. Kalau Anda mau gabung tidak apa-apa. Pengurusnya malah anggota polisi sendiri,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi, pihak Polres Pati membenarkan ada anggotanya yang ikut anggota Swissindo. Namun yang bersangkutan sudah dipanggil Propam untuk disadarkan.

“Ada, namun yang bersangkutan sudah dipanggil propam untuk disadarkan,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Pihak Bank Mandiri sendiri sudah memberikan pengumuman di depan kantor bahwa Swissindo tidak bekerja sama dengannya. Karena itu, pejabat Bank Mandiri tidak mau menemui massa yang menanyakan surat kuasa dari Swissindo dan memberikan edaran dari otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyebut Swissindo merupakan bentuk penipuan.

Editor: Supriyadi

Tabung Elpiji Meledak, Suami-Istri di Ngagel Pati Dilarikan ke Rumah Sakit

Petugas kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi kebakaran, Desa Ngagel, Dukuhseti, Jumat (18/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Ngagel RT 1/RW 4, Kecamatan Dukuhseti, Saripudin (45) dan istrinya, Masuroh (38) mengalami luka bakar dan dilarikan ke rumah sakit, setelah kebakaran terjadi di rumahnya, Jumat (18/8/2017).

Dari informasi yang dihimpun, kebakaran bermula saat korban memindah bensin dari jeriken ke botol untuk dijual. Pemindahan itu menggunakan selang kecil yang disalurkan dari jeriken ke botol.

“Saat pemindahan berlangsung, jeriken ditinggal ke kamar mandi. Setelah keluar dan dicek, muncul percikan api yang diduga dari loberan pengisian bensin. Pemindahan itu berada di dekat kompor gas,” ungkap Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan.

Selang beberapa detik setelah muncul percikan api, tabung gas elpiji meledak. Ledakan membuat api berkobar dan menyambar rumah bagian belakang hingga terbakar.

Sejumlah parabotan rumah tangga yang terbakar, antara lain satu unit sepeda motor Supra 125, mesin cuci, padi sebanyak satu ton, dan tabung gas sebanyak sepuluh buah. Kerugian material akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai Rp 75 juta.

Korban yang awalnya ingin menyelamatkan barang-barang berharga justru ikut tersambar api dan mengalami luka bakar. Saripudin mengalami luka bakar di sekujur tubuh, sedangkan istrinya mengalami luka bakar ringan.

Editor: Supriyadi

Puluhan Korban Swissindo Geruduk Kantor Bank Mandiri Pati

Korban penipuan Swissindo menggeruduk Kantor Bank Mandiri Pati, Jumat (18/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan korban penipuan Swissindo menggeruduk Kantor Bank Mandiri KCP Pati di Jalan Diponegoro Pati, Jumat (18/8/2017).

Mereka ingin mencairkan uang di Bank Mandiri melalui voucher surat kuasa dari Swissindo. Namun, sekuriti Bank Mandiri tidak memperbolehkan mereka masuk kantor.

Pasalnya, pihak Bank Mandiri sudah memberikan pengumuman yang menyatakan bahwa tidak ada kerja sama antara Swissindo dan Bank Mandiri.

“Kami tegaskan, Bank Mandiri tidak ada kerja sama dengan Swissindo,” ujar Mualif, salah satu sekuriti Bank Mandiri.

Baca Juga : Nah lho…Bupati Pati Juga Diduga Kena Tipu Swissindo

Sejumlah korban pun bersikeras untuk bertemu dengan pimpinan Bank Mandiri. Perdebatan sengit sempat terjadi antara sekuriti dan korban Swissindo.

“Kami sudah mendapatkan amanat dari pimpinan untuk menyampaikan bahwa Swissindo tidak bekerja sama dengan Mandiri. Kami juga sudah membuat baner pengumuman di masing-masing kantor,” imbuh Mualif sembari menunjukkan surat edaran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Aksi korban Swissindo tersebut mendapatkan pengawalan ketat dari kepolisian. Sedikitnya tiga peleton anggota Sabhara dikerahkan untuk mengamankan aksi tersebut.

Editor: Supriyadi

Band Narapidana Narkotika Pentaskan Lagu Kemerdekaan saat Pemberian Remisi di Lapas Pati

Narapidana kasus narkotika yang tergabung dalam Mandiri Band membawakan lagu-lagu kemerdekaan saat pemberian remisi, Kamis (17/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Narapidana narkotika di Lapas Kelas II B Pati ternyata memiliki grup band yang cukup mahir memainkan musik. Grup yang diberi nama Mandiri Band itu mementaskan seni musik dengan lagu-lagu kemerdekaan saat upacara penyerahan remisi umum narapidana, Kamis (17/8/2017).

Kepala Lapas Kelas II Pati Irwan Silais menuturkan, para narapidana kasus narkotika sebagian besar punya bakat di bidang seni musik. Karena itu, mereka membentuk grup band untuk meluapkan bakat dan kreativitasnya.

“Biasanya kalau yang kita tahu narkoba itu identik dengan musik, sehingga bakat mereka disalurkan di Lapas Pati. Kebetulan di sini ada wadah dan sarananya, sehingga kita bikin grup band,” kata Irwan.

Salah satu lagu yang dibawakan dan mendapatkan sambutan antusias dari para hadirin, antara lain “Gebyar-gebyar.” Tepuk tangan dari hadirin berulang kali terdengar, setelah mereka membawakan sejumlah lagu-lagu kemerdekaan.

Pelaksana Harian Bupati Pati Suharyono yang menyerahkan remisi kemerdekaan secara simbolik mengaku salut dengan bakat yang mereka miliki. Mereka yang berasal dari tiga kabupaten juga dianggap kompak dalam memainkan musik.

Karena itu, dia memberikan pesan kepada warga Pati untuk tidak terlibat dengan narkotika. Pasalnya, narkotika akan membawa generasi muda berbakat ke lembah jurang kehancuran.

“Bakat mereka sangat luar biasa. Salut juga dengan Lapas Pati yang menyediakan wadah untuk menyalurkan bakat narapidana, sehingga kreativitasnya tidak mati di balik jeruji besi,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Ratusan Narapidana di Lapas Pati Dapat Remisi Hari Kemerdekaan, 3 Orang Dibebaskan

Pelaksana Harian Bupati Pati Suharyono menyerahkan remisi secara simbolik kepada perwakilan narapidana, Kamis (17/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 184 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Pati mendapatkan remisi hari kemerdekaan. Remisi itu diberikan dalam upacara penyerahan remisi umum narapidana, Kamis (17/8/2017).

Kepala Lapas Kelas II Pati Irwan Silais mengatakan, ada 184 narapidana yang mendapatkan remisi umum pertama. Mereka mendapatkan pengurangan masa tahanan sebagian.

Sementara tiga orang mendapatkan remisi umum kedua, sehingga dibebaskan. Untuk remisi tambahan dari donor darah sebanyak 31 orang.

“Remisi donor darah ini setengah dari remisi umum pertama. Jadi, kalau misalnya remisi umum pertama dapat dua bulan, maka yang remisi donor darah ini dapat sebulan,” ujar Irwan.

Dari ratusan narapidana yang mendapatkan remisi hari kemerdekaan, remisi terbanyak mendapat tujuh bulan 15 hari, sedangkan remisi paling rendah satu bulan. Di Lapas Pati, ada dua orang narapidana korupsi dari Rembang.

Kedua narapidana korupsi tersebut tidak mendapatkan remisi hari kemerdekaan. “Kalau narapidana korupsi itu wewenangnya pusat. Beda dengan narapidana umum yang masih wewenang tingkat Jawa Tengah,” imbuhnya.

Saat ini, Lapas Pati dihuni lebih dari 300 narapidana. Tahanan sebanyak 117 orang, narapidana 258 orang, tahanan kasus narkotika 12 orang, narapidana kasus narkotika 61 orang, narapidana kasus korupsi dua orang, dan narapidana kasus terorisme satu orang.

Editor: Supriyadi

Stok Blanko Habis, Pembuatan E-KTP di Pati Tersendat

Sejumlah warga tengah mengurus kependudukan di Kantor Disdukcapil Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Lebih dari 27.000 warga Pati terpaksa belum memiliki E-KTP baru, lantaran stok blanko habis. Mereka harus bersabar menunggu hingga material untuk pembuatan E-KTP tersedia.

Riyanto, seorang warga Kayen yang hendak mengurus E-KTP karena pindah ke kawasan Sukoharjo, Margorejo mengeluhkan kondisi tersebut. Sejak April 2017 mengurus, sampai saat ini belum bisa mendapatkan E-KTP.

“Agustus 2017 ini saya cek lagi ke Kantor Kecamatan Margorejo, diminta untuk menunggu hingga Januari 2018. Itupun kata petugas belum ada kepastian, cuma diminta datang awal 2018,” ungkap Riyanto, Kamis (17/8/2017).

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pati Dadik Sumarji membenarkan adanya ketersendatan pembuatan E-KTP, karena ketersedian blanko terbatas. Saat ini, sudah lebih 27.000 warga yang sudah mengikuti rekam tapi belum dicetak.

Padahal, pihaknya mendapatkan material E-KTP sebanyak 10.000 pada April 2017 dan 26.000 blanko pada Mei 2017. Total blanko sebanyak 36.000 itu sudah digunakan untuk cetak, sehingga ketersediaan sekarang habis.

Pada Juni 2017, dia juga sudah melakukan kunjungan ke Jakarta dan mendapatkan tambahan blanko sebanyak 6.000. Terakhir, Disdukcapil mendapatkan tambahan 2.000 bersamaan dengan penambahan kuota di delapan kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Hanya saja, berbagai penambahan kuota itu ternyata masih belum mencukupi untuk kebutuhan pembuatan E-KTP di Kabupaten Pati. Untuk saat ini, dia memprioritaskan kepada warga yang sama sekali belum punya E-KTP.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya memberikan surat keterangan sementara yang fungsinya sama dengan E-KTP. Namun, kelemahannya, surat sementara yang terbuat dari kertas diakui mudah rusak.

“Warga yang butuh KTP untuk keperluan administrasi, kami buatkan surat keterangan sementara. Meski memang mudah rusak karena terbuat dari kertas biasa, kami meminta harap maklum karena ini kendalanya dari pusat,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Kasi Pemerintahan Kebomoro Pati Dimejahijaukan, Ahli Hukum Sebut Ada Kejanggalan

Suasana penyumpahan saksi pada sidang kasus dugaan pemalsuan surat untuk pengisian perangkat Desa Keboromo, Tayu di PN Pati, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kepala Seksi Pemerintahan Desa Keboromo, Kecamatan Tayu, Moh Rifki menjalani persidangan untuk kali kelima di Pengadilan Negeri (PN) Pati, Rabu (16/8/2017). Terdakwa diduga memalsukan surat keterangan (SK) yang digunakan untuk mendaftar sebagai perangkat desa.

Dalam sidang pemeriksaan saksi jaksa penuntut umum (JPU), JPU Agung mengemukakan, Rifki didakwa memalsukan surat yang bertentangan dengan Pasal 263 ayat 1 dan 2 tentang pemalsuan surat.

Objek perkaranya adalah surat pernyataan terdakwa untuk memenuhi syarat pengisian perangkat desa sebagai anggota lembaga pemberdayaan masyarakat desa (LPMD). Di mata ahli hukum, ada kejanggalan dalam kasus tersebut.

Praktisi hukum yang biasa mengajar di Universitas Janabadra Yogyakarta, Endang Yulianti mengatakan, kasus tersebut sebetulnya masuk dalam ranah administrasi. Sebab, hal itu berkaitan dengan sah atau tidaknya pengangkatan Rifki sebagai perangkat desa.

“Kami yakin, ini sebenarnya harusnya murni ranah PTUN. Kasus ini memang sudah di-PTUN-kan, tapi kasus ini bergulir di ranah pidana ketika kasus ini berjalan di PTUN yang waktu itu belum ada keputusan tetap,” tuturnya.

Menurutnya, pengangkatan Rifki sebagai perangkat desa secara material ada. Persoalan pengangkatan itu tidak sesuai prosedur yang diatur perda, ranahnya bukan pidana tetapi administrasi yang kemudian solusinya dibatalkan.

Namun, Endang yang mengawal kasus tersebut mengaku menghargai proses peradilan. Pasalnya, pengadilan memang tidak boleh menolak perkara dengan menggunakan asas praduga tak bersalah.

“Kami yakin ini ranah administrasi, karena kejahatannya memang tidak ada. PTUN sudah diputuskan dan ini masuk di eksepsi,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan, keanggotaan LPMD di Desa Keboromo semuanya tidak melalui proses dan mekanisme yang ada. Karena itu, dia menegaskan pengadilan harus menggunakan asas persamaan, karena yang lain diperbolehkan, kenapa terdakwa dianggap tidak sah.

Editor : Akrom Hazami

Pemuda di Pati Tewas Terbenam di Sawah Bersama Motornya

Petugas kepolisian melakukan olah TKP di areal persawahan Desa Karangwage, Trangkil, Pati, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pemuda bernama Agus Supartono (17), warga Tanjungrejo RT 20 RW 5, Margoyoso, Pati, ditemukan meninggal dunia di areal persawahan Desa Karangwage, Trangkil, Pati, Rabu (16/8/2017).

Korban ditemukan dalam keadaan telungkup bersama dengan sepeda motornya, Jupiter Z bernopol K 6661 BH. Adapun kepala korban dalam posisi terbenam ke dalam lumpur sawah.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tim medis, korban meninggal dunia delapan jam sejak ditemukan pada pukul 06.30 WIB. Korban mengalami pendarahan pada hidung dengan kondisi lidah menjulur dan tergigit.

“Korban meninggal dunia karena terbenam dalam lumpur dan mengalami afiksasi. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban,” ungkap salah satu tim medis, dr Wahyu Setyawarni.

Pihak kepolisian yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) menyimpulkan, korban mengalami kecelakaan. Saat terjatuh, posisi kepala terendam lumpur sehingga tidak bisa bernapas.

Sejumlah barang milik korban yang ditemukan di TKP, antara lain uang tunai Rp 100 ribu, telepon seluler warna hitam, sepeda motor, dan sandal merek Carvil. Penemuan mayat tersebut sempat menjadi tontonan warga setempat.

Editor : Ali Muntoha

14 Maling Motor di Pati Terjaring Operasi Jaran Candi 2017

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan tengah mengintrogasi sejumlah maling motor yang terjaring dalam Ops Jaran Candi 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 14 maling motor yang beroperasi di kawasan Kabupaten Pati terjaring Operasi Kejahatan Kendaraan (Jaran) Candi 2017. Hal itu diungkapkan Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan, Selasa (15/8/2017).

“Operasi ini mendasari pada analisa dan evaluasi yang dilaksanakan di tingkat Polda. Angka kejahatan curanmor berada di urutan kedua, setelah pencurian dengan pemberatan non-curanmor,” ujar AKBP Maulana.

Dalam Operasi Jaran 2017, pihaknya ditargetkan bisa mengamankan tiga kasus. Namun dalam pelaksanaannya, polisi berhasil membekuk 14 maling dari 17 kasus yang ditangani.

Adapun sejumlah barang bukti yang diamankan, antara lain 16 sepeda motor dan barang lain yang digunakan untuk tindak kejahatan sebanyak enam buah. Para maling sebagian besar menggunakan kunci T untuk melancarkan aksinya.

“Modus yang dilakukan rata-rata dengan cara merusak kunci kendaraan menggunakan kunci T. Modus yang mereka kembangkan semakin berkembang dan cepat. Sasaran utamanya di tempat-tempat parkir yang tidak terjangkau pantauan,” tuturnya.

Dari 14 maling yang diamankan, sebagian besar terlibat dalam sebuah jaringan pencurian sepeda motor. Mereka yang sebagian besar pencuri asal Pati beroperasi di hampir semua kecamatan, dari Tayu, Dukuhseti, Gabus, hingga Wedarijaksa.

“Yang ditangkap ini kebanyakan memiliki jaringan ke penadah juga. Beberapa di antaranya merupakan residivis yang mengulangi aksi lagi setelah keluar dari penjara,” imbuh AKBP Maulana.

Karena itu, dia mengimbau kepada warga Pati untuk berhati-hati saat memarkir kendaraan. Mengingat kemampuan maling yang bisa merusak kunci, pengendara harus memiliki kunci ganda dan menempatkan di lokasi yang terjangkau pandangan.

Editor : Ali Muntoha