DPR RI pun Turun Tangan Atasi Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu

Anggota DPR RI Komisi VI Abdul Wachid (satu dari kanan) terlihat berbincang dengan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi (kiri), terkait menghitamnya sungai Gede Karangrandu, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu menyita perhatian anggota dewan pusat dan Jawa Tengah.

Dalam inspeksi Bupati Jepara ke lokasi tersebut, Anggota DPR RI Komisi VI Abdul Wachid nampak disertai dengan Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jateng Iskandar Zulkarnaen, Sabtu (19/8/2017). 

Abdul Wachid mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Ia berharap pemangku wilayah dalam hal ini Pemkab Jepara duduk bersama dengan pelaku dunia usaha untuk mengatasi hal tersebut. 

“Saya melihat dari siaran televisi kondisi Sungai di Karangrandu kok seperti ini maka dari itu saya sempatkan datang kesini untuk melihat kondisi yang sebenarnya,” ujarnya. 

Dalam kesempatan itu, pihaknya pun sempat berbincang dengan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, didampingi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurrahman. Melihat kondisi tersebut, pihaknya juga mengambil sampel air untuk dilakukan pengujian laboratorium sebagai pembanding.

Sementara itu, Iskandar Zulkarnaen menilai pemerintah kabupaten dan warga perlu hati-hati dalam menyikapi menghitamnya sungai tersebut. Hal itu agar pelaku usaha (pabrik) juga tidak lantas menjadi kambing hitam.

“Perlu penanganan yang komprehensif dalam menangani masalah ini, kita memerlukan standar pembuktian,” katanya. 

Zulkarnaen menyebut, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jratun Seluna, terkait penanganan masalah tersebut. Hal itu mengingat alur sungai Pecangaan merupakan wewenang balai tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Maling di Jepara Ini Hanya Butuh 15 Detik untuk Bobol Kunci Sepeda Motor

Pelaku pencurian sepeda motor saat diamankan Polres Jepara, Sabtu (19/8/2017). Mereka dibekuk dalam Operasi Jaran Candi 2017. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Anda tahu berapa waktu yang dibutuhkan maling sepeda motor membobol kunci kontak ketika sedang beraksi? Ternyata hanya butuh hitungan 15 detik, setelahnya mereka langsung menggelandang kabur. 

Hal itu dikatakan seorang maling spesialis roda dua, saat diinterogasi di Polres Jepara. Adalah Mohammad Ardiyan Laksana alias Kethek yang membeberkan rahasia dapurnya, di depan pewarta, Sabtu (19/8/2017).

Ia terjaring operasi dengan sandi Jaran Candi 2017, yang menyasar pencurian sepeda motor (curanmor), yang dilaksanakan selama 20 hari, dari bulan Juli hingga pertengahan Agustus. Kethek sendiri tertangkap pada Minggu (30/7/2017).

Warga Perumnas Bangsri, Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri, Jepara, itu ketahuan menggondol sebuah motor matic, bermerk Honda Scoopy bernomor K 2718 VQ dengan menggunakan kunci letter T.

“Hanya 15 detik saya bisa melakukan pembobolan kunci, setelah itu saya bawa kabur. Saya melakukan bersama seorang teman saya, saya yang mengawasi dia yang bobol karena dia masih baru,” katanya. 

Dalam melakukan operasinya, ia mengaku terlebih dulu berputar-putar mencari “mangsa”. Ia mengaku mengincar motor yang terparkir didalam rumah namun kondisi lingkungan tengah sepi. 

“Biasanya waktu yang saya gunakan untuk mencuri adalah sehabis maghrib atau diwaktu dhuhur (tengah hari),” ujarnya. 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho mengatakan, tersangka terancam hukuman di atas lima tahun akibat perbuatannya.

Editor : Ali Muntoha

Fadhil Tak Menyangka Motornya yang Digondol Maling Bisa Kembali

Penyerahan secara simbolis kendaraan roda dua oleh Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho kepada pemilik. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Reserse Polres Jepara berhasil menangkap 11 tersangka pencurian motor, selama Operasi Jaran Candi 2017. Operasi yang berlangsung selama 20 hari mulai dari bulan Juli hingga pertengahan Agustus 2017, berhasil mengamankan 12 barang bukti. 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho mengatakan, barang bukti tersebut akan dikembalikan kepada pemiliknya, begitu persidangan rampung. Sebanyak 12 barang bukti berupa motor tersebut, telah diklaim oleh pemiliknya.

“Hal itu dibuktikan dengan kepemilikan surat-surat kendaraan dan laporan polisi atas peristiwa kehilangan sepeda motor,” ujarnya Sabtu (19/8/2017).

Dirinya mengatakan, kejahatan pencurian sepeda motor yang berhasil diungkap pada operasi itu, terjadi di hampir seluruh penjuru wilayah. Mulai dari Nalumsari, Jepara kota, Batealit, Pakis Aji, dan Batealit.

Kasat Reserse Polres Jepara AKP Suharta mengatakan, selain 12 barang bukti yang telah diklaim oleh pemiliknya, masih ada empat sepeda motor yang belum menemukan pemiliknya. Ia mengimbau, bagi yang merasa kehilangan menghubungi kantor polisi terdekat, atau langsung ke Mapolres Jepara.

“Masih ada empat yang belum kita ketemukan pemiliknya. Untuk dapat mengambilnya pemilik cukup membawa bukti kepemilikan berupa BPKB, STNK atau jika masih kredit, ada keterangan dari diler motor. Dan itu tidak dikenakan biaya alias gratis,” tuturnya.

Sementara itu, Mohammad Fadhil mengaku senang motornya berhasil ditemukan lagi. Ia sempat menyangka motornya itu tak bakal kembali.

Warga Kudus itu mengatakan, sepeda motornya itu dicuri saat dipakai anaknya melihat pertunjukan musik di daerah perbatasan Jepara-Kudus. “Alhamdulillah bisa ketemu,’ ucapnya singkat.

Editor : Ali Muntoha

Ini Janji Pemkab Jepara Terhadap Penyebab Sumber Menghitamnya Air Sungai Gede Karangrandu

Air Sungai Gede Karangrandu, Jepara menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara masih menunggu hasil uji laboratorium, terkait Sungai Gede Karangrandu yang menghitam.

“Janji dari Cito (laboratorium swasta) akan ada hasilnya dalam rentang sepekan. Pengambilan sampel dilakukan beberapa hari lalu (Kamis, 10/8/2017- red), jadi kami harap Senin (21/8/2017) sudah ada hasilnya,” kata Kepala DLH Jepara Fatkurrahman, saat mendampingi Bupati Jepara inspeksi di alur sungai Pecangaan, Sabtu (19/8/2017). 

Menurutnya, setelah hasil laboratorium keluar, pihaknya akan memberikan rekomendasi kepada pemkab Jepara, terkait langkah selanjutnya. Adapun pengambilan sampel air dilakukan di alur Sungai Pecangaan pada beberapa titik.

Di antaranya tiga kilometer dari pabrik garmen (Jiale), bendungan Pecangaan, titik pabrik tahu tempe dan di Sungai Gede Karangrandu.

“Nantinya setelah hasil uji laboratorium keluar akan menghasilkan rekomendasi. Misalnya jika sumber pencemar itu dari pabrik (garmen-red) kita kan komunikasikan lalu kalau perlu dilakukan tindakan ya kita lakukan tindakan. Sementara kalau itu dari perajin tahu-tempe kita akan support (beri bantuan) berupa IPAL,” kata dia.

Fatkurrahman menyebut, pihaknya sudah pernah memberikan bantuan IPAL pada perajin tahu-tempe. Hanya saja ketika produksi meningkat, upaya perajin untuk memelihara instalasi pengolahan air limbah bantuan pemkab Jepara dinilai kurang. 

“Dulu kita sudah pernah memberi bantuan namun untuk perawatannya oleh masyarakat masih kurang,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

 

Warga di Sekitar Sungai yang Airnya Menghitam Diberi Bantuan Air Bersih

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara langsung mengambil tindakan, merespon kondisi Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. Bupati Jepara Ahmad Marzuqi lantas mengintruksikan untuk memperlancar aliran sungai dan melakukan droping air bersih, untuk kebutuhan warga. 

“Langkah jangka pendek, kami perintahkan agar bendungan di bendung Karangrandu agar dibuka. Sementara untuk mengatasi kebutuhan air bersih kami menyediakan air yang nantinya akan disuplai dari BPBD dan PDAM Jepara, banyaknya nanti menyesuaikan kebutuhan dari warga,” katanya, saat inspeksi penyebab menghitamnya Sungai Gede Karangrandu, Sabtu (19/8/2017) siang. 

Ia mengatakan, langkah tersebut untuk mengatasi keluhan warga Desa Karangrandu yang airnya menjadi hitam dan berbau, sebulan belakangan.

Terkait anggaran untuk droping air, pihaknya akan menggunakan dana yang telah diposkan untuk penanggulanan krisis air yang ada di BPBD Jepara. 

Direktur PDAM Jepara Prabowo mengatakan, pihaknya siap untuk melaksanakan droping air kepada warga Karangrandu. “Kami siap untuk droping air kepada warga, sudah disiapkan tangkinya, tinggal nanti kalau ada calling (perintah) kita langsung berangkat,” tuturnya. 

Editor : Ali Muntoha

Bupati Jepara Telusuri Alur Sungai  Inspeksi Sebab Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama pejabat terkait meninjau air sungai yang menghitam, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama jajaran pemerintah kabupaten, melakukan inspeksi terkait menghitamnya Sungai Gede Karangrandu, Desa Karangrandu, Sabtu (19/8/2017). 

Memulai inspeksinya, ia bersama Wakil Bupati Dian Kristiandi, Sekretaris Derah Sholih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurrahman, Kabid Pengairan DPU-PR Jepara Ngadimin, Camat Pecangaan Muh Tahsim dan jajaran terkait, menengok bendung Sungai Pecangaan.

Sungai tersebut diketahui satu alur dengan Sungai Gede Karangrandu yang diduga tercemar limbah, dan menjadi hitam. 

Pantauan MuriaNewsCom, kondisi Sungai Pecangaan nampak tidak menghitam. Beberapa biota seperti ikan pun masih nampak berenang. Kemudian, rombongan pun melanjutkan tinjauan ke sentra usaha tahu-tempe yang ada di Pecangaan Wetan.

Di sana rombongan disuguhkan pemandangan dan bau menyengat dari sisa produksi tahu tempe, yang dibuang ke alur sungai, yang juga mengalir ke Karangrandu. Dari tempat itu bupati lantas bertolak ke Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. 

“Hari ini langsung kita ambil tindakan, pintu air (bendungan) yang ada di Karangrandu akan kita buka. Sebelumnya sampah yang ada akan kita bersihkan. Nanti sedimentasi akan kita keruk menggunakan alat berat yang sudah kita bawa. Biar endapan yang ada bisa mengalir lancar,” kata dia. 

Alat berat disiapkan untuk membersihkan Sgai Gede Karangmandu yang menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

 

Ditanya pewarta, Marzuqi enggan menyimpulkan biang pencemar sungai di Karangrandu. Namun ia mengaku akan mengambil tindakan, agar warga Desa Karangrandu bisa kembali menikmati air yang sehat, bebas dari cemaran limbah.

“Pabrik tahu-tempe akan kita buatkan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terlepas apakah pencemarnya dari situ atau bukan. Namun IPAL itu bisa bermanfaat untuk pembuatan biogas,” ujarnya. 

Lebih lanjut Marzuqi mengatakan, pemkab akan menunggu hasil laboratorium terkait biang pencemaran lingkungan. 

Sementara itu, Petinggi (Kades) Karangrandu Syahlan mengatakan, solusi tersebut dinilai dapat menyelesaikan masalah yang dialami warganya. 

“Ya senang diperhatikan oleh pemerintah, semoga solusi ini dapat segera meredakan permasalahan warga,” urainya.

Hingga berita ini diturunkan, alat berat yakni ekskavator dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Jepara tengah melakukan pembersihan di sepanjang bantaran Sungai Gede Karangrandu. Sedimentasi yang ada di sungai pun lantas diangkut menggunakan dua truk besar.

Editor : Ali Muntoha

Jepara Terkena Imbas Pemotongan DAU

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat penandatanganan Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Smentara (KUA-PPAS), di DPRD Jepara, Jumat (18/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara terekena imbas efisiensi Dana Alokasi Umum (DAU) yang dilakkan oleh pemerintah pusat. Dana transfer dari APBN itu dipotong sebanyak Rp 30 miliar.

Hal itu diungkap Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, saat penandatanganan Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Smentara (KUA-PPAS), di DPRD Jepara, Jumat (18/8/2017).

Menurutnya, hal itu membebani anggaran yang dikelola oleh pemerintah daerah. Adapun DAU 2017 untuk Jepara adalah 1.000.373.359.000.

“Kami mendapatkan pemotongan tiga persen atau sebear Rp 30 miliar, dari DAU. Selain itu ada penyesuaaian dengan alokasi bantuan keuangan provinsi Jawa Tengah dan dana bagi hasi dari pusat serta provinsi,” kata Marzuqi. 

Hal itu turut berpengaruh pada penganggaran sejumlah pembiayaan daerah, pada sejumlah kegiatan yang dilakukan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). 

Terkait penyesuaian KUA-PPAS ia mengatakan, sejumlah faktor lain pun turut memengaruhi. Diantaranya pertumbuhan ekonomi Jepara yang ditarget melaju dari 5 hingga 5,5 persen. Hal itu terkait dengan pertumbuhan disektor industri dan investasi yang berkembang di kabupaten ini.

Selain itu, sinkronisasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022, yang mulai dilakukan secara bertahap. Sejumlah pengeluarana pun ditekan untuk melakukan pembiayaan pada kegiatan yang dianggap penting dan mendesak. 

Marzuqi yakin, perubahan KUA-PPAS itu telah sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. 

Editor: Supriyadi

Besok Drama Tari Kidung Nglarung Asal Jepara Akan Dipentaskan di Semarang


Latihan yang dilakukan oleh murid-murid MIN Jepara, menyongsong pertunjukan drama tari Kidung Nglarung yang akan digelar di PRPP Semarang, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Besok pagi drama tari bertajuk Kidung Nglarung  asal Jepara akan dipentaskan di Pusat Rekreasi Promosi dan Pembangunan (PRPP) dalam ajang Jateng Fair 2017. Tari kreasi tersebut, mengisahkan tentang tradisi lomban yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat yang ada di pesisir utara Laut Jawa itu. 

Sekretaris Dewan Kesenian Daerah Jepra Rhobi Shani mengatakan, sebanyak 30 penari anak-anak dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri Jepara dan seniman muda mementaskan tarian tersebut. 

“Tema besar Jateng Fair tahun ini adalah Karimunjawa, oleh sebab itu kami mengangkat tradisi lomban atau larungan,” katanya, Jumat (18/7/2017).

Ia menyebut, penyajian tarian tersebut bertujuan agar tradisi larungan di pesisir Jepara dikenal oleh masyarakat secara luas. Hal itu mengingat, tradisi itu juga menjadi magnet bagi pariwisata Kabupaten Jepara, karena menyedot perhatian banyak masyarakat. 

Rhobi mengatakan, tradisi larungan di Jepara tak hanya satu macam. Hal itu dilihat dari jenis sajian yang dilarung ke tengah laut. 

“Beda-beda yang dilarung, misalnya di Kelurahan Ujungbatu Kecamatan Jepara yang dilarung adalah kepala kerbau. Kalau di Karimunjawa kepala kambing, sedangkan di Desa Bondo, Kecamantan Bangsri yang dilarung adalah gunungan hasil bumi dan laut,” tambahnya. 

Adapun, prosesi larungan atau lomban biasanya digelar seminggu seusai merayakan Idul Fitri. Pada hari tersebut, masyarakat nelayan berbondong-bondong mengikuti ajang larungan. Oleh Pemkab Jepara, prosesi itu pun dibuat sebagai atraksi wisata. Bahkan Bupati dan pejabat di kabupaten tersebut biasanya turut ambil bagian. 

Acara tersebut bertujuan untuk mensyukuri berkat illahi yang telah didapat selama setahun melaut. Dengan larungan, masyarakat nelayan berharap hasil yang diperoleh setahun kedepan makin melimpah. 

“Nelayan di Jepara menyadari laut merupakan sumber kehidupan dan ekonomi, maka anugerah tersebut wajib dijaga dan disyukuri,” pungkas Sutradara pementasan tersebut Heru Susilo. 

Editor: Supriyadi

Tergiur Untung Rp 5 Juta per Pekan, Warga Jepara Ini Pilih Edarkan Sabu

Kasat Narkoba Polres Jepara AKP Hendro Asriyanto menunjukan barang bukti yang disita dari tersangka Tekek dan Papua di Mapolres Jepara, Jumat (18/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Akhmad Julianto (20) alias Tekek pilih berjualan narkoba ketimbang melakoni usaha sebagai perajin monel. Bagaimana tidak, dari bisnis haram yang dijalankan bersama komplotannya Rizki Busro alias Papua, ia bisa mengantongi keuntungan 10 kali lipat, dari penghasilan jual beli monel.

“Saya biasanya sebagai buruh pembuat monel. Biasanya seminggu saya dapat mengumpulkan paling banyak Rp 500 ribu. Namun kalau berjualan sabu-sabu maksimal saya bisa dapat Rp 5 juta seminggu,” ujarnya, didepan pewarta, Jumat (18/8/2017). 

Ia mengaku, bisnis haram tersebut selama tiga bulan terakhir. Namun sebelumnya, Tekek telah menjadi pecandu bubuk kristal tersebut sejak lama. 

“Awalnya saya pakai sabu-sabu dulu. Yang mengenalkan kakak saya yang kini dipenjara di Kedungpane Semarang. Setelah kakak saya ditangkap pada April 2016, kemudian saya menerima perintah dari dia untuk mengedarkan barang tersebut,” tambahnya. 

Baca Juga: Polres Jepara Bekuk Pengedar dan Kurir Sabu

Kepada pewarta MuriaNewsCom, ia mengaku sudah memiliki istri dan seorang anak. Namun, Tekek merahasiakan bisnis haramnya itu kepada famili terdekatnya. 

Diberitakan sebelumya, Tekek ditangkap  Sat res Narkoba, Polres Jepara, pada Jumat (11/8/2017) malam. Penangkapan warga Krasak, Pecangaan itu didahului dengan penangkapan komplotannya Rizki Busro alias Papua (20), yang juga warga Krasak, Pecangaan.

Keduanya terancam pidana kurungan selama 20 tahun penjara karena melanggar Mereka melanggar pasal 114 (1) subsider pasarl 112 (1) UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.  

Editor: Supriyadi

 

 

Polres Jepara Bekuk Pengedar dan Kurir Sabu


Tersangka Tekek menunjukan kepada Kapolres AKBP Yudianto Adi Nugroho bagaimana ia membagi-bagi paket sabu kedalam paket yang lebih kecil. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Akhmad Julianto alias Tekek dan komplotannya Rizki Busro alias Papua ditangkap Satres narkoba Polres Jepara. Mereka dikeler karena terbukti menjadi pengedar dan kurir narkotika jenis sabu-sabu. 

Kepada polisi Tekek mengaku mendapatkan perintah mengedarkan dari kakaknya yang kini meringkuk di lapas Kedungpane, Semarang. “Saya ditelpon kakak saya dari LP Kedungpane, untuk mengambil paket lalu membagi-baginya dan mengantarkan sesuai pesanan,” katanya, Jumat (18/7/2017). 

Setelah membagi-bagi paket yang didapatkan, ia lantas membaginya kedalam paket yang lebih kecil. Tekek mengaku, setiap gramnya ia beli dengan harga Rp 1 juta. Lalu dijualnya lagi denganharga Rp 1,5 juta dalam berat yang sama.

Ia mengatakan, kakaknya itu ditangkap oleh Polda Jateng pada April 2016, karena kasus narkoba. Namun, setelah meringkuk, Tekek mengatakan masih bisa berkoordinasi dengan saudaranya itu lewat telepon. 

Setelah membaginya dalam paket-paket kecil, lalu ia menyuruh Papua untuk mengantarkannya, berdasarkan pesanan lewat telepon genggam. Untuk mengupah kawannya itu, Tekek memberi uang Rp 50 ribu kepada Papua. 

“Kemarin itu sebelum ditangkap membeli 10 gram. Keuntungannya ya sekitar lima juta rupiah,” tambahnya. 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho mengatakan, tersangka Papua ditangkap saat berada di SPBU Sengon, Mayong. Saat  digeledah yang bersangkutan membawa bungkusan kecil sabu.

“Ketika dilakukan pengembangan, ternyata yang bersangkutan mendapatkan sabu-sabu dari Tekek. Kemudian penggeledahan di kediamannya, didapatkan barang bukti yang lebih banyak,” urainya.

Kapolres mengatakan, tersangka terancam hukuman minimal 20 tahun penjara. Mereka melanggar pasal 114 (1) subsider pasarl 112 (1) UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.  

Dari tangan tersangka didapatka bukti berupa paket-paket sabu, timbangan, pipet dan plastik klip, serta sepeda motor. 

Editor: Supriyadi

Roti Bakar 543 Tempat Hangout Baru di Jepara 

Para pengunjung menikmati Roti Bakar 543 yang mulai beroperasi di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara menjadi cabang ke 16 dari Roti Bakar 543. Bertepatan dengan hari kemerdekaan ke-72RI, kedai yang teletak di Jl Dr. Sutomo 17 itu di launching kepada khalayak Bumi Kartini. 

Maria Fransisca sebagai owner Roti Bakar 543 mengatakan, pihaknya tetap mempertahankan ciri khas rasa roti yang dibuat dari bahan-bahan berkualitas. Dengan itu ia menjamin, cita rasa khas yang ada di cabang teranyarnya ini tetap terjaga.

Terkait pemilihan Jepara sebagai cabang ke 16, Mari mengungkapkan kota di pesisir utara Jawa ini sangat berpotensi, karena merupakan kota wisata. 

“Kota Jepara sebagai kota pariwisata dan juga bisnis ekspor kayu yang besar, sehingga kami memfokuskan bukan saja untuk kalangan menengah atas namun juga kalangan menengah bawah. Tentang kualitas rasa, kami menjaganya agar tetap sama, karena kami membuat roti yang berbeda dari pasaran serta berasal dari bahan-bahan yang unggul,” katanya, saat press conference, Kamis (17/8/2017). 

Selain Jepara, kafe yang satu ini juga berencana membuka gerai di beberapa kota di Pulau Jawa. Sehingga kedepan, jumlahnya mencapai 22 cabang. 

Mengusung konsep kekinian, Roti Bakar 543 memiliki konsep kafe dengan berbagai titik yang menarik untuk tempat swafoto. Disamping menyediakan ruang yang luas, wifi gratis, hingga ruangan yang cocok untuk menggelar rapat bersama kolega. 

Editor: Supriyadi

Upacara 17-an Unik di Atas Sungai Jepara Ini Penuh Nuansa Sindiran

Upacara bendera HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Desa Karangrandu dilakukan di jembatan, sebagai bentuk protes air sungai yang menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan-Jepara menggelar upacara kemerdekaan ke-72 RI di atas jembatan Sungai Gede Karangrandu, Kamis (17/8/2017). Hal itu mereka lakukan karena merasa sungai yang mengaliri persawahan di desa itu tercemar limbah, sehingga warnanya menjadi hitam dan berbau busuk.

Di jembatan yang digunakan untuk upacara bendea juga terbentang spanduk bertuliskan ”Karangrandu Lumbung Padi Jepara, Kaliku Ojo Digawe Peceren”.

Ada juga peserta upacara yang membawa tulisan sindiran karena sungai yang tercemar, seperti tulisan ”Racunmu Mateni Kaliku” atau juga ”Ireng buasin ora iso manding”. Beberapa warga juga mengusung poster protes terhadap kondisi cemaran sungai.

Kegiatan itu dimulai sejak pukul 7.30 WIB pagi. Ratusan orang dari murid-murid sekolahan, pemerintah desa dan warga sekitar memadati tanggul dan jembatan.

Layaknya upacara pada umumnya, warga juga dengan khidmat menaikan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Siswa peserta upacara membawa poster sindiran akibat sungai yang tercemar. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Kepala Desa Karangrandu Syahlan menyampaikan, upacara tersebut merupakan bentuk keprihatinan akan kondisi sungai yang tercemar limbah. Padahal menurutnya, air sungai itu digunakan sebagai irigasi sawah dan sebagai air baku masyarakat setempat.

“Upacara ini adalah solidaritas masyarakat dalam memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus. Kami ingin menunjukan bahwa kali (sungai) ini dalam keadaan tercemar, warnanya hitam. Oleh karena itu kami minta pemerintah segera mengambil tindakan atas kondisi ini,” tuturnya. 

Baca juga : Air Sungai Karangrandu Jepara Menghitam

Dirinya mengungkapkan, banyak warganya yang khawatir terhadap dampak tercemarnya sungai Gede Karangrandu. Ia mengklaim, kawasannya sebagai lumbung padi, namun dengan kondisi tersebut, lambat laun akan memengaruhi pertanian desa tersebut.

Sementara itu, koordinator warga Busro Karim menyebut kondisi sungai tersebut lebih mirip comberan. Dirinya menuntut agar pemerintah segera mengambil tindakan menormalisasi kondisi sungai.

“Sungai ini sudah seperti peceren (comberan) kotor dan kumuh, kami minta segera diambil tindakan tegas dan cepat untuk mengantisipasi kondisi ini. Segera normalisasi keadaan sungai ini seperti semula. Disamping kami juga meminta pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap pelaku pencemar sungai itu” tutur dia. 

Baca juga : Petani Jepara Takut Tanaman Padi Mati Tercemar Air Sungai Karangrandu

Perlu diketahui, kondisi menghitamnya sungai karangrandu sudah terjadi sebulan belakangan. Selain menjadi hitam masyarakat juga mengeluhkan bau dari cemaran limbah tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Kisah Hebat Anak Nelayan Karimunjawa jadi Paskibra Jepara 2017

Dua anak nelayan Karimunjawa yang jadi anggota paskibra di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 29 pasukan pengibar bendera (Paskibra) Kabupaten Jepara dikukuhkan, Rabu (16/8/2017) sore. Dua di antaranya adalah anak nelayan dari Pulau Karimunjawa. Adalah Dewi Fatmawati (16) dan Romi Ardyansyah (16), mereka tergabung dalam pasukan delapan, sebagai pembawa baki dan pengibar bendera. 

Mereka mengatakan, tak menyangka bisa menjadi bagian dari Paskibra Jepara 2017. Namun demikian, mereka tetap memanggul tugas tersebut dengan kebanggaan tersendiri. “Saya bangga sekali bisa menjadi pasukan pengibar bendera. Dan ketika diumumkan terpilih sebagai paskibra rasanya kaget,” ujar Romi, siswa SMKN I Karimunjawa itu. 

Sementara itu Slamet ayah Romi, mengakui hal serupa. Ia merasa bangga anak pertamanya itu, bisa menjadi bagian dari paskibra. “Ya bangga sekali, berbunga-bunga bisa melihat anak saya menjadi pasukan pengibar bendera,” kata Slamet yang bekerja sebagai nelayan itu. 

Romi menambahkan, tidak ada halangan berarti selama masa karantina 10 hari sebagai calon Paskibra. Namun demikian, ia mengaku sempat rindu dengan ayahnya.”Siap, saya sempat rindu (dengan ayah) namun tidak bisa berbuat banyak karena tak boleh membawa handphone,” katanya. 

Sementara itu Dewi berkata hal serupa. Menurutnya gemblengan menjadi Paskibra memang berat, namun hal itu dimaknainya sebagai cobaan untuk menggapai cita-citanya sebagai tentara.  “Iya bangga, kaget agak tegang juga sih,” ujarnya. 

Ayah Dewi, Muhammad Ma’ruf berkata capaian anaknya itu merupakan kebanggaan untuknya. “Bangga sekali, kok anak nelayan yang jaraknya jauh dari Jepara bisa terpilih sebagai paskibra. Mungkin ini adalah jembatan bagi cita-cita anak saya yang ingin menjadi tentara,” tuturnya.

Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Jepara Dedi Irawan mengatakan, Paskibra yang kini dikukuhkan dipilih dari 80 sekolah yang ada di Jepara. Mereka dikarantina selama 10 hari, sebelum akhirnya diserahi tugas sebagai pasukan pengibar bendera.

“Ada perbedaan dari tahun lalu, kalau kemarin hanya dikarantina selama 4 hari, maka tahun ini dikarantina selama 10 hari. Tujuannya untuk lebih memantapkan mental dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” urai dia.

Ia menambahkan, sebelumnya Calon Paskibra Jepara berjumlah 30 orang. Namun satu diantaranya mengundurkan diri. “Jadi dalam paskibra, sebelum dikukuhkan mereka adalah calon. Pagi tadi ada yang mengundurkan diri satu orang, karena alasan tidak kuat mental. Namun ya sebenarnya dia kuat. Akan tetapi itu sudah menjadi pilihannya,” tutup Dedi.  

Editor : Akrom Hazami

 

Sempat Heboh Karangan Bunga Pernikahan Konyol di Jepara, Ternyata Ini yang Sebenarnya Terjadi

Sejumlah tamu undangan foto bersama di depan karangan bunga. (Dokumen Keluarga Rindi R)

MuriaNewsCom, Jepara – Masih ingat berita Karangan Bunga Konyol di Pernikahan Sang Mantan di Jepara, yang dimuat Senin (14/8/2017)? Ternyata ini yang sebenarnya terjadi.

Pada karangan bunga pernikahan yang ditemukan di Jepara, itu bertuliskan, “Met nikah Mas Dul. Semoga bahagia dengan kehidupan barumu Mas Jahat. Aku yang pernah seranjang denganmu-Blok F,” begitulah tulisan dalam karangan bunga berukuran raksasa, yang diunggah ke sejumlah media sosial, dan beredar melalui aplikasi WhatsApp (WA).

Percakapan via ponsel tentang karangan bunga. (Dokumen Keluarga Rindi R)

 

Narasumber yang merasa dirugikan itu adalah dr Abdul Rohim dan Rindi Ristiyanti. Kepada MuriaNewsCom, menjelaskan maksud dari tulisan yang tertera di karangan bunga tersebut.

1) MET NIKAH MAS DUL, dimana Mas Dul adalah sebutan untuk suami saya yg nama lengkapnya adalah Abdul Rohim.

2) Semoga Bahagia dg Kehidupan Barumu, dimana dimaksudkan ucapan dan doa yang ditujukan untuk saya dan suami.

3) Mas Jahat!! adalah kata-kata iseng dari sahabat-sahabat suami.

4) Aku Yang Pernah Seranjang Denganmu-BLOK F, adalah sahabat-sahabat kosan suami (berjenis kelamin Laki-laki) dimana sewaktu jaman kuliah mereka tinggal di Blok F Perumahan Genuk Indah Semarang.

Berita ini sekaligus mengklarifikasi dari berita yang beredar sebelumnya. 

Editor : Akrom Hazami

HNSI Jepara Yakin Pencabutan Solar Subsidi untuk Nelayan Tak Bakal Terjadi

Perahu nelayan tengah antre untuk membeli solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan. HSNI Jepara yakin pencabutan solar bersubsidi hanya sekadar wacana. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara tak menganggap serius wacana yang dilontarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti tentang pencabutan solar bagi nelayan.

“Saya pikir itu hanya sekadar wacana, tidak mungkin mencabut bahan bakar minyak (solar) bersubsidi untuk nelayan. Sampai hari ini kami anggap hal itu masih sebagai wacana,” ucap Ketua HNSI Jepara Sudiyatno, Rabu (16/8/2017).

Meski demikian, ia menegaskan bahan bakar bersubsidi bagi nelayan masih sangat dibutuhkan. Dirinya menyebut, organisasinya satu kata dalam urusan tersebut.

Hal tersebut juga akan dibahas pada musyawarah nasional HNSI yang akan digelar pada bulan September 2017.

“Rencananya pada bulan September kita akan menggelar Munas. Di sana akan terbuka (pembahasan isu maupun persoalan nelayan). Tapi prinsipnya, dari DPP HNSI sampai dengan DPC sikapnya sama, nelayan harus diberikan BBM bersubsidi,” ujarnya.

Sudiyatno mengatakan, distribusi solar bagi nelayan di Jepara tidak bermasalah. Dirinya menyebut, dari sekitar empat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBBN) yang ada, sudah mencukupi kebutuhan dan tidak ada kebocoran.

“SPBBN di Ujung Batu, Mlonggo, Donorojo, dan Kedung cukup melayani kebutuhan dan hanya diperuntukan bagi nelayan. Tidak ada kebocoran alias zero persen, karena nelayan kan tahu mana yang nelayan mana yang tidak. Jika harus membeli dari SPBU, pun menggunakan surat keterangan dari dinas terkait dan hal itu lebih disebabkan jika ada ketersendatan bbm,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

Ini Nih Tempat Baru yang Keren Buat Swafoto di Jepara

Puluhan payung melayang warna-warni di Perumahan Griya Jepara Asri yang membuat suasana perumahan semakin syahdu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Beragam cara dilakukan warga Jepara dalam memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI. Satu di antaranya dengan menghias kampung.

Hal itu pula yang dilakukan warga Perumahan Griya Jepara Asri, Kelurahan Mulyoharjo RT/RW 8/4, Kecamatan Jepara. Mereka menghias areal jalan permukiman dengan payung warna-warni melayang.

Suasana semakin syahdu jika malam tiba, puluhan payung tersebut akan berpendar karena di bawahnya telah diletakan bohlam kecil.

Arif Sasongko warga setempat mengungkapkan, ide hiasan payung tersebut muncul secara spontan dari obrolan penduduk perumahan itu. Lantaran di kampung tersebut akan diadakan penilaian lomba antargang, menyambut ulang tahun Indonesia.

“Kemarin hasil ngobrol-ngobrol dengan warga kampung, kami akhirnya sepakat menambah ornamen payung yang diberi penerangan lampu. Jadi kalau malam hari nampak indah,” katanya, Rabu (16/8/2017) pagi.

Menurutnya, setelah obrolan tersebut warga kemudian beriur sesuai kemampuan mereka. Iuran itu dipergunakan untuk membeli payung sejumlah 45 buah secara bertahap dan aksesoris penunjang lain.

Arif mengatakan, dari panjang jalan perumahan sekitar 700 meter, baru lebih kurang 50 meter yang telah diberi payung plus lampu kecil. Sementara sisanya, baru dihias dengan payung melayang saja.

“Rencananya sisa (jalan) nanti akan dipasang payung dan diberi lampu. Untuk sementara baru segini saja,” tuturnya. 

Ia mengungkapkan, setelah penjurian lomba antargang payung-payung itu tak lantas dibredel. “Rencana dipertahankan, kalau ada yang mau foto-foto di gang ini juga silakan,” ujarnya sambil menyungging senyum. 

Editor : Ali Muntoha

Pelaksanaan Retribusi Elektronik di Jepara Terkendala Aplikasi

Warga memperlihatkan kartu E-Retribusi di Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara- Pelaksanaan retribusi elektronik di Kabupaten Jepara masih terkendala belum sempurnanya aplikasi pembayaran. Hal itu menjadi hambatan perluasan sistem tersebut ke pasar-pasar lain.

“Secara umum berjalan lancar, namun masih ada kendala pada aplikasinya,” kata Musthakim, Kabid Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jepara, Selasa (15/8/2017). 

Ia menyebut ketidaksempurnaan sistem tersebut berasal dari pengembang aplikasi. Secara detil Musthakim menyebut, aplikasi yang saat ini dipergunakan belum memisahkan komponen retribusi yang ada di pasar.

“Kalau di pasar, kan ada dua retribusi yakni untuk retribusi tempat berdagang dan retribusi untuk sampah. Nah seharusnya dipisah namun di aplikasi tidak, sehingga bercampur,” tutur dia. 

Ia mengatakan, hal itu akan segera diperbaiki oleh Bank Jateng dan pihak pengembang. Hal itu sesuai dengan hasil pertemuan dengan Asisten 2 Bupati Jepara. Disperindag sebagai instansi teknis memberikan tenggat hingga akhir September 2017, untuk memperbaikinya. 

Hal itu karena, pada awal bulan Oktober pihaknya berencana untuk meluaskan sistem retribusi elektronik di pasar-pasar lain yang ada di Jepara. Untuk saat ini, sistem tersebut baru diterapkan di Pasar Pengkol dengan jumlah 75 pedagang. 

“Rencananya bulan Oktober akan diperluas di Pasar Jepara Satu dan pasar lain di kabupaten ini. Namun hal itu menunggu kesiapan dari Bank Jateng untuk memperbaiki aplikasi tersebut. Nanti takutnya jika sudah diterapkan, namun masih ada masalah justru menambah problem yang ada,” ujarnya. 

Ia mengatakan, untuk perluasan sistem pihaknya siap karena hanya perlu untuk menyerahkan data pedagang kepada Bank Jateng. Dari sisi manfaat, dirinya mengklaim retribusi itu akan menekan kebocoran pendapatan asli daerah dari sektor tersebut. 

Editor : Akrom Hazami

 

Sampah Sisa Karnaval di Jepara Bikin Kotor Alun-alun

Tampak salah satu titik di Alun-alun Jepara yang dipenuhi sampah sisa karnaval. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Karnaval HUT RI Ke 72 di Jepara memang meriah, tapi setelah even rampung sampah sisa dari penonton, selalu bertebaran. Meskipun langsung dibersihkan oleh petugas, namun hal itu mengindikasikan masih rendahnya kesadaran warga akan kebersihan. 

“Pasti sehabis acara ada sampah yang bertebaran. Padahal di sudut-sudut alun-alun sudah disediakan tempat sampah. Namun kenyataannya, sampah lebih banyak berserakan di jalan, dibanding dibuang di tempat yang telah disediakan,” ucap Ahmad Suyudi, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Jepara, Selasa (15/8/2017).

Ia mengatakan, hal itu karena rendahnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya. Hal itu diindikasikan dengan banyaknya sampah umum yang berserakan setelah acara. 

Dalam dua hari pelaksanaan karnaval, sampah yang dikumpulkan diangkut dengan tiga truk pengangkut sampah. Sementara itu, jumlah petugas yang diturunkan mencapai puluhan orang. 

Hal itu dibenarkan oleh mandor pemungutan sampah Mulyono, ia mengatakan di Alun-alun Jepara ada sekitar 40 tong sampah. Namun fasilitas itu ternyata kurang dimanfaatkan oleh warga. 

“Sebenarnya fasilitas itu (tempat sampah) cukup untuk menampung sampah masyarakat. Namun kesadarannya akan kebersihan masih rendah, akhirnya kami dari dinas yang harus turun tangan,” ujarnya. 

Seorang warga Alvin mengakui hal itu. Menurutnya, kesadaran  masyarakat membuang sampah di tempatnya memang masih rendah. “Ya memang kesadarannya masih kurang. Buktinya masih banyak sampah bertebaran sehabis acara seperti ini. Saya sendiri punya usul, jika memang saat punya sampah tapi tak didekat tempat sampah, ya sebaiknya bawa dulu sampai menemukan tong sampah,” ungkapnya. 

Editor : Akrom Hazami

Ingatkan Perjuangan Pahlawan Lewat Karnaval di Jepara

Peserta Karnaval Kebangsaan tampil dengan tema Tangkal Radikalisme dengan Bahasa Bunga di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Karnaval peringatan HUT RI ke 72 kembali digelar, Selasa (15/8/2017). Setelah sehari sebelumnya diikuti anak-anak TK dan Paud, kini pesertanya adalah pelajar tingkat SMP,SMA dan perwakilan dari organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada di lingkungan Pemkab Jepara. 

Diikuti 43 kelompok, karnaval itu menempuh jarak sepanjang 2,5 kilometer. Dimulai dari Alun-alun Jepara, Jalan Veteran, Jalan dr Soetomo, lanjut ke Jalan Ki Mangun Sarkoro, Jala nMH Thamrin memutari Jalan Brigjend Katamso dan berakhir kembali di alun-alun. 

Tidak hanya karnaval biasa, namun acara itu juga melombakan kreasi dari para peserta sesuai dengan tema yang dicanangkan panitia. Hal itu dikatakan oleh Kasi Kesenian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Joko. Ia mengatakan, tiap kelompok diikuti maksimal 300 orang. 

“Temanya mengangkat potensi yang ada di tiap daerah, sama dengan tahun-tahun yang lalu, namun pesertanya yang jauh lebih banyak dan meriah,” katanya. 

Ia mengungkapkan, melalui kegiatan ini pihaknya ingin agar para peserta dan masyarakat Jepara pada umumnya mengingat perjuangan para pahlawan. Di samping itu, pihaknya ingin agar dengan kreativitas yang dimiliki oleh para peserta dapat menjadi modal mengisi alam kemerdekaan. 

Editor : Akrom Hazami

 

Eloknya Bunga Kedamaian dari SMAN I Jepara


Peserta Karnaval Kebangsaan tampil dengan tema Tangkal Radikalisme dengan Bahasa Bunga di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Berbagai penampilan disajikan peserta Karnaval Kebangsaan dalam memperingati HUT ke 72 RI di Jepara. Satu di antaranya performance dari SMAN I Jepara yang menampilkan parade bunga-bunga cantik. 

Mengambil tema “Tangkal Radikalisme dengan Bahasa Bunga” pelajar dari SMA favorit di Jepara itu, membawa busana dan aksesoris berbentuk bunga. Adapula seorang siswi yang menaiki mahkota bunga raksasa, dan menebarkan senyum ramah kepada penonton. 

Di belakangnya nampak dayang-dayang berpayung bunga yang menari koreografi diiringi tembang hits milik Luis Fonsi bersama Daddy Yankee, ‘Despacito’. Di panggung kehormatan, mereka sedikit memamerkan tarian mereka kepada Wakil Bupati Andi Kristiandi. 

“Melalui tema tersebut, kami ingin memberikan pesan kepada warga Jepara. Bahwa radikalisme yang berkembang, hendaknya tidak diselesaikan dengan kekerasan tapi dengan kedamaian. Kami menyimbolkan kedamaian itu dengan bunga,” ujar Agus Riyadi, Wakasek Kesiswaan sekolah tersebut. 

Adapun karnaval tersebut diikuti 43 kelompok karnaval. Mereka terdiri dari 12 kelompok SMP, 7 kelompok SMA/SMK serta 24 kelompok OPD dan Umum.

Editor : Akrom Hazami

 

KMC Express Bahari Berangkatkan 2 Kapal Layani Penyeberang Ke Karimunjawa

Dua KMC Express Bahari disiapkan untuk menampung peningkatan penumpang ke Karimunjawa. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua Kapal Motor Cepat (KMC) Express Bahari disiapkan untuk mengangkut penumpang ke Karimunjawa, di libur panjang hari Kemerdekaan. Dua kapal tersebut adalah KMC Express Bahari 9C dan Express Bahari 2C. 

“Tanggal 18 (Jumat) akan ada dua trip yang dilayani oleh dua kapal (KMC Express Bahari 9C dan 2C). Untuk hari tersebut sudah ada permintaan dari penumpang,” kata Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, sebagai operator Kapal Express Bahari, Selasa (15/8/2017). 

Menurutnya, dua kapal tersebut berkapasitas total 761 tempat duduk. Rinciannya, KMC Express Bahari 9C sebanyak 410 kursi dan 2C ada 351 kursi. Sugeng menyebut, untuk hari tersebut kursi penumpang sudah terpesan.

Ia mengungkapkan, KMC Express Bahari 2C berfungsi sebagai cadangan. Jadi setelah melayani penumpang menyeberang di hari Jumat, kapal tersebut akan siaga di Karimunjawa sampai hari Minggu. Hal itu terkait paket wisata yang telah dipesan oleh penumpang. 

Sementara itu, KMC Express Bahari 9C akan melayani penumpang secara reguler. Terkait harga, dirinya mengatakan tidak ada perubahan.

“Kalau untuk tiket tidak ada perubahan, untuk eksekutif harganya Rp 150 ribu, untuk VIP Rp 175 ribu,” ungkap Sugeng.

Editor : Ali Muntoha

Jelang Libur Panjang Tiga Kapal Disiagakan Angkut Penumpang Ke Karimunjawa

Kapal Express Bahari 2C saat mengikuti even Lomban beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang libur panjang hari kemerdekaan RI ke 72, tiga kapal penyebrangan ke Karimunjawa disiagakan. Selain Kapal Mesin Penumpang (KMP) Siginjai dan Kapal Mesin Cepat (KMC) Express Bahari 2C, adapula KMC Express 9C yang siap melayani jika jumlah penumpang membengkak. 

Hal itu diungkapkan Kasi Pelabuhan Penyeberangan Kartini Supomo, Selasa (15/8/2017). Menurutnya, untuk penambahan trip (keberangkatan) hingga kini belum ada. 

“Sampai saat ini untuk penambahan trip  belum ada. Untuk hari Kamis (17/8/2017) penyeberangan dari Jepara-Karimunjawa off (libur) sebagaimana hari normal. aktivitas normal kembali pada hari Jumat (18/8/2017),” kata dia.

Dirinya menerangkan, pada hari Jumat baik Siginjai maupun Express Bahari telah memliki jadwal pemberangkatan ke Karimunjawa. Namun khusus KMC Express Bahari disiagakan satu kapal lagi, jika antusiasme penumpang ke pulau tropis tersebut meningkat.

“Kapal (KMC Express Bahari 9C) disiagakan di dermaga Jepara. Jika ada permintaan untuk pemberangkatan, maka akan diberangkatkan,” tuturnya.

Hal itu dibenarkan oleh Kabid Perhubungan Laut Dinas Perhubungan Jepara, Suroto.  Menurutnya, kehadiran dua kapal Express Bahari guna mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan. 

“Iya betul, Express Bahari ada dua kapal, yang satu bersifat cadangan, bilamana yang satu rusak, tetap dijalankan,” ungkap Suroto. 

Menurutnya, untuk saat ini memang kapal tersebut sandar di Jepara. Terkait angkutan jelang libur panjang, dirinya mengungkapkan pemberangkatannya akan bersifat kondisional.

“Paling kalau ada kelebihan muatan akan dioperasikan, dua-duanya akan diberangkatkan. Akan tetapi hal itu melihat antusiasme dari penumpang,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

Terima Remisi, 2 Warga Binaan Rutan Jepara Langsung Bebas

Polisi saat mengawasi para warga binaan di Rumah Tahanan Kelas IIB, Kabupaten Jepara, Senin. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Rumah Tahanan Kelas IIB Jepara mengusulkan 56 warga binaannya mendapatkan pengurangan masa tahanan, di Hari Kemerdekaan ke 72 RI. Jika sesuai usulan, maka dua dari jumlah narapidana tersebut akan langsung bebas. 

Hal itu disampaikan oleh Kepala Rutan Kelas IIB Jepara Slamet Wiryono, Senin (14/8/2017). Menurutnya dari total warga binaan yang ada di tempat tersebut, hanya 56 di antaranya yang berhak diajukan untuk mendapatkan Remisi umum HUT Kemerdekaan tahun ini. 

“Kami mengusulkan 56 orang warga binaan mendapatkan remisi. Saat ini kami tinggal menunggu surat keputusan dari kanwil Kemenkumham Jateng. Dua orang yang nantinya langsung bebas juga belum kami sampaikan,” katanya. 

Kepada jurnalis, ia mengungkapkan dua orang napi yang akan bebas tepat di tanggal 17 Agustus adalah Nor Ahmad Zaudiyah dan Saidul Imam. Mereka meringkuk di penjara selama tujuh bulan. 

Ia mengungkapkan, penyerahan surat keputusan remisi akan secara simbolis diserahkan pada upacara hari kemerdekaan di Alun-alun Jepara. Rencananya, sebanyak 20 orang warga binaan akan hadir pada acara tersebut. 

Editor : Akrom Hazami

Lucunya Tingkah Polah Siswa TK-SD di Jepara Berdandan Pahlawan saat Karnaval Kebangsaan

Siswa mengenakan kostum salah satu pahlawan perempuan Jepara Ratu Shima dalam karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Indonesia, ribuan murid TK dan SD mengikuti karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017) siang. Mereka mengenakan berbagai kostum yang menyimbolkan adat dan keberagaman yang ada di republik ini. 

Mereka terlihat lucu, dan beberapa kali tingkah polah anak-anak membuat penonton terpingkal-pingkal.

Seperti yang dikenakan oleh siswa-siswi TK Nurul Iman Desa Senenan, Kecamatan Tahunan-Jepara. Selain memamerkan parade siswa yang mengenakan seragam merah putih, mereka juga menampilkan sosok pahlawan perempuan Jepara yakni, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan RA Kartini.

Selain itu mereka juga mengingatkan mengenai belum tuntasnya perjuangan para pahlawan, melalui sebuah tulisan.  “Kami telah berjuang kini saatnya kalian meneruskan perjuangan kami,” bunyi tulisan yang diusung murid taman kanak-kanak tersebut. 

Dalam daftar panitia, ada 62 sekolah setingkat TK atau Paud yang ikut serta. Mereka berasal dari Kota Jepara dan daerah satelit, seperti Tahunan dan Kedung. Sementara itu pada kategori SD ada 41 sekolahan yang mengikuti karnaval tersebut.

Setelah memamerkan busana dan kebolehannya di depan unsur Muspida Kabupaten Jepara, mereka akan berjalan sesuai rute. Untuk kategori TK dan Paud akan melintasi jalur sepanjang 600 meter, dari alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran dan Jl AR Hakim. Sementara untuk SD menempuh jarak sepanjang satu kilometer, dari Alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran, Jl AR Hakim dan berakhir di Sanggar Pramuka.

Kabid Pemasaran  Wisata Florentina Budi Kurniawati mengatakan kegiatan tersebut bertema mengangkat produk unggulan dan potensi Jepara. Hal itu dimaksudkan agar semua lapisan masyarakat mengetahui segala potensi yang dimiliki oleh kabupaten di pesisir utara pulau Jawa tersebut. 

“Hal itu mengandung maksud, jika masyarakat mengenal potensi yang dimilikinya, maka masyarakat ikut membangun negara, dengan memaksimalkan berbagai macam potensi daerah yang dipunyai. Selain itu, kami juga ingin untuk menggali kreatifitas dan masyarakat secara umum,” ungkap Florentina.

Editor : Ali Muntoha

Warga Bangsri Jepara Urunan Perbaiki Rumah Mbah Temu Yang Hampir Roboh

Warga Desa Bangsri, Jepara, bergotong royong memperbaiki rumah janda tua secara swadaya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tak tega melihat rumah Mbah Temu (74) hampir roboh, warga Rukun Warga 12, Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Jepara, urunan merenovasi rumah janda tua itu. 

Haryanto warga setempat mengungkapkan, kesepakatan tersebut tercapai setelah adanya rembug warga. Dengan iuran secara sukarela, mereka lantas mengumpulkan sumbangan sebagai modal untuk memperbaiki rumah kayu berukuran 5×7 meter itu.

Menurutnya, Mbah Temu merupakan seorang janda tua miskin yang memiliki tiga anak. Dua anaknya yang juga miskin, kini merantau ke luar daerah. Sementara anaknya yang terakhir tinggal bersamanya, hanya saja ia tak pernah mengenyam pendidikan formal.

“Ia (Mbah Temu) rumahnya telah lapuk termakan usia. Lalu kami dari warga sekitar berinisiatif dan beriuran secara swadaya untuk melakukan perbaikan rumahnya,” ujarnya, Senin (14/8/2017). 

Haryanto menyebut, untuk memperbaiki rumah Mbah Temu membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta. Rencananya, rumah berdinding kayu itu akan direnovasi menjadi rumah tembok.

Untuk perbaikannya, warga mengerjakannya secara bergotong royong. “Alhamdulilah banyak warga yang membantu program ini. Warga akan mengerjakan perbaikan secara bahu membahu bersama-sama untuk memperbaiki rumah Mbah Temu,” ucapnya. 

Selain rumah Mbah Temu, rencananya warga akan memperbaiki rumah warga tak mampu lainnya. Haryanto menyebut, ada dua rumah warga yang akan diperbaiki. 

“Kami rencananya akan memperbaiki tiga rumah warga yang akan dibangun. Mereka semua adalah warga tak mampu di lingkungan kami,” tutur dia.

Sementara itu Mbah Temu mengaku hanya bisa terharu atas inisiatif warga memperbaiki rumahnya. “Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah membantu memperbaiki rumah saya. Semoga lebih bermanfaat ketika nanti jadi,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha