Job Fair Pemprov Jateng di Jepara dipadati Ribuan Pencari Kerja

Para pencari kerja memadati Job Fair di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Hari pertama pelaksanaan Job Fair di Alun-alun Jepara dipadati ribuan pencari kerja, Jumat (25/8/2017). Tercatat ada 3.199 yang memasukan lamaran kerja. 

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah Wika Bintang mengatakan, ada 40 perusahaan yang mengikuti ajang Job Fair 2017.

“Jumlah lowongan yang disediakan sejumlah 13.666 dengan 156 jabatan pada perusahaan otomotif, jasa, penjualan distributor, klini dan juga penerimaan petugas kepolisian serta lain sebagainya,” ujarnya. 

Ia mengungkapkan tujuan dari acara tersebut adalah mempertemukan pencari kerja dengan pengguna tenaga kerja. Melalui Job Fair, diharapkan memberi tempat bagi kedua belah pihak dengan mudah, murah dan sesuai kebutuhan.

Berdasarkan catatan statistik per tanggal 7 November 2017 jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah sebanyak 17,31 juta orang. Adapun yang telah bekerja berjumlah 16,51 juta orang. 

Dengan hal itu artinya, ada 800 ribu pengangguran terbuka dan 4,22 juta orang merupakan kelompok yang setengah menganggur. “Angka pengangguran tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama kondisi makro perekonomian,” imbuhnya. 

Dikatakan Wika, banyak kesempatan kerja yang tidak dapat terpenuhi, salah satu penyebabnya adalah tak tersampaikannya informasi lowongan kerja. Hal itu menimbulkan tersedianya kesempatan kerja (lowongan) tidak terpenuhi secara maksimal.

Job Fair 2017 tersebut diadakan berbarengan dengan ajang Pesta Rakyat Jateng. Kegiatan tersebut masih akan berlangsung pada hari Sabtu (26/8/2017) dari pukul 08.00-15.00. Untuk dapat mengikutinya, peserta tidak dipungut biaya alias gratis. 

Editor: Supriyadi

Warga Karangrandu Jepara Kenduri di Atas Sungai yang Tercemar

Sejumlah warga Karangrandu melakukan kenduri di atas sungai gede. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Masih hitamnya Sungai Gede Karangrandu mengundang keprihatinan warga Desa setempat. Kali ini mereka mengadakan kenduri di atas jembatan dan tanggul sungai pada Jumat, (25/8/2017). 

Warga setempat Subhan menyebut acara tersebut sebagai barikan. Ia mengatakan, tradisi tersebut merupakan adat dari warga setempat untuk memohon kepada Tuhan agar kondisi sungai yang mengaliri desa tersebut kembali normal. 

“Tradisi barikan merupakan cara warga mensyukuri nikmat dari Tuhan. Namun karena kondisi sungai tercemar maka kami berdoa agar Tuhan melimpahkan sungai yang bersih,” kata dia. 

Setelah melakukan tradisi barikan, ia mengaku akan membersihkan bantaran sungai yang kotor. 

Kepala Desa Karangrandu Syahlan memaparkan, hingga kini masih menghitam. Oleh karenanya, warga melakukan aksi bersih-bersih masal. 

Editor: Supriyadi

Ganjar Tak Ingin Semua Warga Jepara Hanya Bercita-cita Sebagai PNS

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat membuka Pesta Rakyat Jateng di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ingin warganya menjadi pengusaha, dan tidak melulu berharap jadi PNS. Hal itu disampaikannya disela peluncuran aplikasi  “Sadewa Market” pada gelaran Pesta Rakyat Jateng 2017 di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017). 

“Pengalaman sudah membuktikan, saat krisis ekonomi yang paling bertahan siapa, ya UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).  Hal itu karena bidang tersebut mampu menggerakan sektor perekonomian. Jangan penginnya hanya jadi PNS,” ujarnya. 

Karena itu, pemerintah provinsi Jawa Tengah melalui bank Jateng dan aplikasi Sadewa Market, memberikan ruang bagi sektor UMKM untuk bergerak. Melalui perbankan Ganjar mengatakan telah tersedia fasilitas kredit bagi usaha kecil tanpa agunan. Sedangkan melalui aplikasi Sadewa Market, pihaknya memberikan tempat bagi produsen untuk dapat menjangkau konsumen lebih luas lagi. 

Dalam kesempatan itu, ia melakukan test aplikasi dengan memesan sebuah pakaian batik. “Saya tadi memesan sebuah batik, sekarang sudah datang dan diantar. Tapi saya sengaja rahasiakan bagaimana rupanya,” kata Ganjar berseloroh. 

Aplikasi Sadewa Market bisa diakses dengan membuka laman http://sadewamarket.cyberumkm.com/. Pada laman tersebut, selain tersedia pilihan berbelanja, juga ada rujukan terkait pendampingan UMKM secara jarak jauh. 

Editor: Supriyadi

Kartu Jateng Sejahtera Diharapkan Sampai Ke Pelosok Daerah

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat membuka Pesta Rakyat Jateng di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kartu Jateng Sejahtera (KJS) tahun 2017 diluncurkan bersamaan dengan Pesta Rakyat Jateng di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017).

Dengan program tersebut, diharapkan masyarakat berkategori miskin, lansia, dan berkebutuhan khusus yang belum di-cover layanan kesehatan atau sosial lain dapat terbantu.

“Dengan kartu ini diharapkan bisa membantu terutama mereka yang dalam kondisi tua, dan sebagainya namun belum tercover bantuan apapun, dapat kita bantu,” ujar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. 

Ia menjelaskan, tahun ini program tersebut disokong oleh pemerintah provinsi. Sebelumnya, program tersebut didukung sepenuhnya oleh Bank Jateng. 

Terpisah Founder dan Inisiator Komunitas Sahabat Difabel Noviana Dibyantari berharap program tersebut dapat menyentuh mereka yang berada di pelosok wilayah Jawa Tengah. Karena, secara riil banyak sekali mereka yang membutuhkan akan tetapi tidak mendapatkan haknya. 

“Banyak sekali terutama mereka yang berkategori orang dengan kecacatan berat, di setiap kelurahan banyak yang tidak tercover (bantuan kesehatan atau sosial). Hal itu seringkali disebabkan karena pemerintahan setempat dalam hal ini RT, Lurah ataupun TKSK yang kurang responsif. Sehingga akhirnya mereka tak mendapatkan, padahal mereka berhak,” kata dia. 

Namun demikian, ia menyambut baik upaya pemprov Jateng tersebut. Akan tetapi ia menginginkan agar informasi ini disebar, agar warga didaerah pelosok mengetahui terkait program tersebut. Selain itu, dirinya juga ingin agar program ini dilaksanakan tepat sasaran. 

“Pemerintah sudah melaunching program ini, sekarang tugas kita sebagai warga adalah menyebarkan informasi ini. Agar masyarakat mengetahui dan setelahnya turut berpartisipasi, sehingga mereka mendapatkan haknya,” tuturnya. 

Editor: Supriyadi

Nembang di Pesta Rakyat Jateng, Siswi SMK NU Banat Kudus dapat Laptop dari Gubernur

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kanan) saat mendengarkan tembang dari salah satu peserta Pesta Rakyat Jateng 2017 di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bagi-bagi hadiah berupa sepeda dan laptop, disela pembukaan Pesta Rakyat Jateng 2017 di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017). 

“Ayo siapa siswa atau siswi di sini yang bisa nembang  macapat maju saya kasih hadiah, ayo cepat. Hadiahnya sepeda dan laptop. Satu orang saja, ayo cepat naik panggung,” kata Ganjar melalui pelantang suara.

Tawaran itu mulanya disambut dingin, namun setelah mendengar hadiah disebutkan setidaknya ada tiga orang yang merangsek menuju panggung utama. Peserta pertama kuis tersebut adalah Iko Abdullah, siswa dari SMK Islam Jepara. Namun sayang, rupanya ia tak mendengar tantangan Ganjar secara utuh. 

“Enggak saya gak bisa nyanyi macapat pak,” jawabnya menjawab pertanyaan Ganjar. 

Peserta kedua adalah siswi SMK NU Bannat Kudus Annisa Intan Barokah. Disaksikan Ganjar dan ratusan pengunjung Pesta Jateng 2017 ia menyanyikan sebuah tembang pocung. Namun hal itu tak membuat Gubernur puas. 

“Saya kok belum pernah mendengar pocung yang seperti itu ya, coba nyanyi yang lain,” ujar Ganjar. 

Annisa pun diminta untuk menyanyikan lagu lain. Kemudian siswi kelas XII jurusan fashion itu menyanyikan lagu khas Kudus yang menceritakan tentang perjuangan Sunan Muria dan lagu mars sekolahnya. Setelahnya ia pun disuruh memilih hadiah. 

“Saya mau laptop pak,” kata dia sambil tersenyum. 

Ganjar kemudian meloloskan permintaan siswi berumur 17 tahun itu.  

Editor: Supriyadi

Gubernur Buka Pesta Rakyat Jateng di Alun-alun Jepara, Begini Kemeriahannya

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memukul bedug sebagai tanda Pesta Jateng telah dibuka di Alun-alun Jepara, Jumat  (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pesta Rakyat Jateng 2017 resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017). Secara simbolis dilakukan pemukulan bedug sebanyak 67 buah, sesuai dengan usia provinsi tersebut.

Sebelum pembukaan acara, didahului dengan peluncuran Kartu Jateng Sejahtera (KJS) dan Program E-Commerse “Sadewa Market”.

“Tahun pertama saya dan Pak Heru (Ultah Jateng) diadakan di Semarang, Banyumas dan Magelang. Kini di Jepara tahun depan kelihatannya sudah diminta oleh Pati. Kalau bisa berkeliling harapannya tidak Semarang Centris namun Jawa Tengah Centris. Dengan begitu masyarakat bisa memamerkan potensi dan meningkatkan penghasilan,” kata Ganjar.

Selain itu, ia mengajak peran serta jajaran pemerintahannya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Ganjar meminta layanan kepada masyarakat memangkas ruwetnya birokrasi hingga dapat mencapai pemerintahan yang mudah, murah dan cepat.

Terkait KJS ia mengatakan, program dari Pemprov Jateng itu bertujuan memberi bantuan kepada masyarakat berkebutuhan khusus dan lansia, yang belum tercover bantuan sosial apapun. Ganjar menyebut di Jateng ada sekitar 13 ribu orang yang belum mendapatkan jaminan sosial atau kesehatan.

Pada kesempatan itu, dirinya juga meluncurkan Sadewa Market, yakni sebuah platform E-Commerce yang menampung berbagai produk pengusaha mikro, kecil dan menengah.

Pada acara tersebut juga ditampilkan stan produk UMKM, Job Fair dan beberapa stan lain yang memadati Alun-alun Jepara hingga Minggu (27/8/2017). 

Setelah dibuka secara resmi, Pada Jumat malam nanti, , akan digelar Parade Seni Jateng yang diikuti 35 kontingen seni budaya se-Jateng dengan menampilkan beragam tari dan seni di sepanjang alun-alun.

Editor : Ali Muntoha

BPBD Jepara Tunggu Data Penerima Droping Air Bersih untuk Warga Karangrandu

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara tunggu kesiapan pemdes Karangrandu, terkait droping air di wilayah tersebut. Hal itu terkait wilayah tersebut yang mengalami krisis air bersih, karena cemaran sungai yang memengaruhi sumber air baku warga. 

“Kita intinya siap untuk mengirimkan air, namun untuk hal itu kami perlu koordinasi dengan petinggi Karangrandu dulu,” kata Jamaludin Kasi Rehabilitasi dan Rekondisi BPBD Jepara, Kamis (24/8/2017). 

Ia mengatakan, tidak bisa asal mengirimkan bantuan air tanpa kerjasama dari pemerintah desa setempat. Hal itu lantaran, pihaknya perlu mendeteksi berapa warga yang membutuhkan air bersih dan titik droping air bersih. 

Jamaludin mencontohkan kasus yang terjadi pada wilayah Desa Kalianyar, Kecamatan Kedung yang mengalami krisis air bersih. Sebelum droping air, pihaknya terlebih dahulu menurunkan bantuan tandon air. 

“Yang tahu kebutuhan untuk droping air kan desa. Maka dari itu kami perlu tahu apakah mereka membutuhkan tandon air, atau sudah mempersiapkan tempat tersendiri untuk menampung droping air dari BPBD. Setelah itu rampung baru bisa dilakukan penyaluran air,” urai Jamal. 

Sementara itu petinggi Karangrandu Syahlan mengaku belum menyelesaikan proses pendataan air bersih. Namun demikian, ia memperkirakan ada sekitar 25 kepala keluarga yang memerlukan bantuan air bersih. 

“Sampai sekarang airnya masih hitam. Namun untuk pendataan warga terdampak yang sumber airnya ikut hitam belum kami selesaikan semua,” ujarnya. 

Sebelumnya dikabarkan, Sungai Gede Karangrandu mengalami pencemaran. Pemkab Jepara lantas mengambil solusi untuk mengeringkan bendung Karangrandu untuk mengalirkan air yang tercemar. 

“Kami akan memberikan droping air untuk warga Karangrandu yang air sumurnya tercemar, hal itu untuk memenuhi kebutuhan air minum,” ungkap Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat melakukan peninjauan ke desa tersebut, Sabtu (19/8/2017).

Editor: Supriyadi

Sehari Jelang Pesta Rakyat, Lapak PKL di Kota Jepara Ditertibkan

Jelang Pesta Rakyat Jateng di Jepara petugas Satpol PP menertibkan lapak PKL yang membandel. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sehari jelang Pesta Rakyat Jateng yang diadakan di Bumi Kartini, puluhan lapak pedagang kaki lima di areal Pasar Jepara Satu dan Shoping Centre Jepara ditertibkan petugas Satpol PP. Selain alasan tersebut, penyitaan lapak tersebut dilakukan karena pedagang kecil tersebut membandel, tidak membersihkan tempat berdagang mereka. 

Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Anwar Sadat mengatakan lapak yang disita kebanyakan ditinggalkan oleh pemiliknya. Hal itu lantaran, kebanyakan pedagang beroperasi pada malam hari. Ketika pagi tiba, seharusnya seluruh properti yang dimiliki harusnya telah dibereskan. 

“Hal itu membuat pemandangan terlihat semrawut. Kami menemukan sekitar 15 lapak  (di areal SCJ) yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Saat dilakukan penyitaan, kebanyakan pedagang tidak berada ditempat,” ujarnya, Kamis (24/8/2017). 

Ia menyebut, pemilik lapak bisa mengambil properti miliknya setelah tiga hari disita oleh petugas Satpol PP Jepara. 

Sadat membenarkan, bahwa areal Pasar Jepara satu dan SCJ merupakan venue yang nantinya dilewati, dalam agenda Pesta Rakyat Jateng. Namun demikian, kedepan dua lokasi itu akan menjadi areal yang bersih dari PKL.

“Ke depan akan digalakan bulan bersih Pedagang Kaki Lima di areal tersebut. Begitu ada lapak yang ditinggal oleh pemiliknya, maka akan diangkut oleh petugas kita. Sebab kita sudah sering memperingatkan pedagang di lokasi tersebut,” urai dia. 

Editor: Supriyadi

Dua Kloter Asal Jepara Diberangkatkan Lebih Awal 

Salah satu jemaah haji asal Jepara terpaksa dibopong karena keterbatasan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua kelompok jemaah haji yang tergabung dalam kloter 93 dan 94 diberangkatkan ke Embarkasi Donohudan, Kamis (24/8/2017) siang. Total ada 457 orang yang diberangkatkan ke pemondokan haji, sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci. 

Adapun kloter selanjutnya yang berangkat adalah 95 yang berjumlah 292 orang, akan diberangkatkan pada Jumat dini hari. 

Kasubag Tata Usaha Kantor Kemenag Jepara Lutfiyah mengatakan, dua kloter yakni 94 dan 95 diberangkatkan lebih awal dari jadwal. Rencana awal, dua kelompok terbang itu akan diberangkatkan pada Jumat pagi pada pukul 02.00 dan 06.00.

“Hal itu karena permintaan dari maskapai penerbangan. Mengingat jumlah keberangkatan kini semakin longgar. Selain itu, jemaah dari Jepara digabungkan dengan jemaah dari daerah lain atau sapu jagad,” katanya. 

Ia mengatakan, tergabung dalam kloter sapu jagad jemaah haji asal Jepara akan diberangkatkan dengan kloter lain. Termasuk di antaranya mereka yang sebelumnya sakit dan sebagainya. 

“Jemaah haji asal Jepara akan diberangkatkan dengan mereka yang mungkin masih belum berangkat karena sakit dan sebagainya,” imbuh Lutfiyah. 

Pantauan MuriaNewsCom, beberapa jemaah yang tergabung dalam kloter 94 ada yang mengalami keterbatasan gerak. Lutfiyah mengatakan hal itu tak memengaruhi kegiatan jamaah karena dibantu oleh kursi roda. 

Sementara itu Totok petugas dari Dinkes Jepara mengatakan, pihaknya telah melakukan screening kesehatan sebelum pemberangkatan. Pihaknya mengatakan hal tersebut tidak lantas mengugurkan kesempatan mereka untuk dapat berhaji. 

“Selain di Jepara, pemeriksaan kesehatan juga akan dilakukan di Donohudan. Namun secara garis besar hal itu tidak berpengaruh karena disana mereka menggunakan kursi roda,” jelasnya. 

Adapun, jumlah jemaah haji asal Jepara yang diberangkatkan berhaji tahun ini ada 1.104 orang.

Editor: Supriyadi

Enam Hari Dibendung, Air Sungai Gede Karangrandu Jepara Masih Hitam

Air Sungai Gede Karangrandu, Jepara menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kondisi air Sungai Gede Karangrandu masih hitam. Hal itu dikatakan oleh Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, Kamis (24/8/2017). 

“Keadaan air sekarang masih hitam, padahal sudah enam hari bendung dibuka dan pengerukan (endapan) sungai dilakukan, namum memang baru ada separuh (pengerukannya) belum selesai semua,” katanya. 

Ia mengaku hal itu memengaruhi kualitas air baku yang dipergunakan oleh masyarakat. Sebab kebanyakan sumur warga ikut menghitam, karena sumbernya berdekatan dengan sungai. 

Dirinya berharap agar sumber penyebab dari menghitamnya sungai, segera ditangani agar warganya lekas menikmati air bersih. “Harapannya sumber-sumber pencemar entah itu dari tahu tempe dan sebagainya tidak lagi dialirkan ke sungai, sehingga airnya tidak menghitam,” tuturnya.

Ditanya tentang bantuan air dari Pemkab Jepara, Syahlan mengaku belum menerimanya. Hal itu lebih disebabkan karena proses pendataan warga yang membutuhkannya belum diselesaikan oleh pihak pemerintah desa. 

“Belum mendapatkan droping air, karena kami belum menyelesaikan pendataan warga yang membutuhkan bantuan air bersih. Bau separuh diantaranya yang sudah selesai. Kalau dihitung kira- kira yang membutuhkan droping air ada sekitar 25 kepala keluarga lebih,” urai Syahlan. 

Dirinya menambahkan, masih akan melakukan kerjabakti pembersihan daerah aliran sungai setempat. 

Sebelumnya, pemkab Jepara melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengatakan akan segera mengambil tindakan evaluatif dan melakukan pengawasan. Akan tetapi hal itu disikapi secara bijak. 

“Kita tidak lantas bisa menutup usaha tahu tempe karena tempat itu juga memperkerjakan banyak orang, selain itu golongan usahanya juga UMKM. Untuk pabrik tekstil akan kami lakukan pengawasan dan pemantauan terhadap fasilitas pengolah limbahnya,” ujar Kasi Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan (PDKL) M. Ikhsan, saat konferensi pers, Senin (21/8/2017).

Sementara itu Kepala DLH Jepara Fatkurrahman mengatakan solusi yang diberikan kepada pelaku UMKM tahu tempe adalah dengan memberikan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). 

Perlu diketahui, berdasarkan hasil uji laboratorium, menghitamnya sungai gede karangrandu, karena tercemar limbah. Adapun zat yang memperlihatkan peningkatan tak wajar adalah Fenol yang biasanya digunakan oleh perusahaan tekstil dan unsur BOD-COD ( Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang berasal dari limbah organik seperti limbah tahu tempe atau dari sampah. 

Adapun, disepanjang aliran tersebut terdapat beberapa industri yakni lndustri tekstil dan industri tahu tempe skala rumahan.  

Editor: Supriyadi

Ini yang Digratiskan saat Pemutihan Pajak Kendaraan dan Bebas BBN II

Warga mengisi formulir BBN II di Kantor Samsat Online Jepara, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewaCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali menggulirkan program “pemutihan”, yakni pembebasan denda Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bebas Biaya Balik Nama (BBN II), mulai Senin (21/8/2017). Namun apakah dengan mengikuti program itu, semua gratis? 

“Yang dibebaskan adalah dendanya, namun kalau untuk pokok ketetapan pajaknya masih harus dibayar untuk PKB. Misalnya punya motor namun menunggak tiga tahun, yang dibebaskan adalah dendanya, sementara pokoknya masih harus dibayarkan. Sementara itu untuk BBN II yang dibebaskan adalah bea balik nama, namun untuk balik nama kan harus ganti BPKB, STNK dan Plat nomor,” jelas Endang Susilowati, Kepala Unit Pelayanan Pendapatan Daerah (UPPD) Jepara, Rabu (23/8/2017).

Baca Juga: Hari Pertama Pembebasan Denda PKB dan BBN II, Ratusan Warga Datangi Samsat Jepara

Ia mengatakan, program tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan pendapatan dari sektor pajak kendaraan. Endang menyebut, di Jepara sendiri banyak kendaraan bermotor yang masih menggunakan plat luar derah. Hal itu menurutnya, cukup merepotkan bagi pemilik kendaraan. 

“Dari sisi pendapatan daerah pun kurang ideal, sementara menggunakan kendaraan di wilayah Jepara namun pajaknya membayar untuk daerah lain, atau bahkan luar Jawa Tengah. Jika sudah mendapatkan plat nomor Jepara, pajaknya pun bisa untuk membangun wilayah tercinta ini,” urainya. 

Baca Juga: Kabar Gembira, Sanksi Pajak Bermotor dan Balik Nama Gratis Hingga Desember

Endang mengungkapkan, banyak diantara warga Jepara yang memang masih bangga menggunakan plat luar daerah. Hal itu dilihat dari razia pajak kendaraan yang pernah diadakan oleh UPPD Jepara. 

Dirinya menjelaskan,  dua program tersebut berlangsung cukup panjang. Untuk BBN II berlangsung dari 21 Agustus hingga 30 Desember. Sementara untuk pembebasan denda PKB sampai 30 November 2017.

Editor: Supriyadi

Sapi Betina Produktif Tidak Boleh Dikurbankan

Sejumlah pedagang memajang hewan kurban untuk kebutuhan Idhul Adha di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara mengimbau masyarakat tak mengurbankan hewan betina, pada Hari Raya Idhul Adha tahun ini. Hal itu untuk menjaga kesinambungan produksi sapi, kerbau ataupun kambing. 

“Ibaratnya kalau indukan sapi itu pabriknya dimatikan, kan tidak ada yang menghasilkan pedet (anak sapi),” ujar Prajoga Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, DKPP Jepara, Rabu, (23/8/2017).

Ia mengingatkan, hal itu sesuai dengan arahan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita, beberapa saat lalu ketika melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Donorojo, bulan Juli lalu.

Hal itu juga telah didasarkan pada landasan hukum yakni UU No 18/2009 juncto UU No 41/2014, Perda Kabupaten Jepara No 15/2011 dan Perbub Jepara No 36/2013 tentang peternakan dan kesehatan hewan. 

Menurutnya ada sanksi yang menyertai jika warga nekat menyembelih sapi atau kerbau betina yang tengah produktif. Selain kurungan penjara, adapula denda berupa uang sebesar lebih kurang Rp 50 juta, bagi mereka yang nekat melanggar peraturan. 

“Namun kenyataan di lapangan masih banyak ditemui kenyataan yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah dibuat,” kata dia. 

Prajoga berkata, meskipun sudah ada imbauan pelarangan penyembelihan sapi betina akan tetapi pihaknya masih mengalami kendala. Hal itu berupa insentif untuk tidak menyembelih. 

“Permasalahannya kalau tidak boleh dipotong (sapi betina) belum ada mekanisme penggantian. Misalnya sapi betina yang masih produktif dibeli pemerintah, lalu dipelihara itu belum ada hingga kini,” urainya. 

Dirinya menyebut, sapi betina baru boleh disembelih jika benar-benar tidak produktif. Hal itu juga harus didasarkan pada pemeriksaan medis, dan mendapatkan surat keterangan. 

“Kecuali kalau benar-benar sudah majir (tidak bisa bunting), sudah diperiksa dan memeroleh surat keterangan kesehatan reproduksi baru boleh dipotong. Kalau sapi betina diperjualbelikan sih boleh-boleh saja, asalkan tidak disembelih. Agar populasi sapi meningkat, dan kita bisa mencapai swasembada daging,” tutup Prajoga.

Editor: Supriyadi

Polres Jepara Punya Kabag Ops dan Kasat Lantas Baru, Ini Nama-namanya

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho saat melakukan upacara seremoni di Mapolres Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tiga perwira dilingkungan Polres Jepara dirotasi. Tiga posisi tersebut adalah Kepala Bagian Operasi, Kepala Satuan Lalulintas dan Kepala Kepolisian Sektor Bangsri. 

Prosesi serah terima jabatan itu dipimpin langsung oleh Kepala Kepolisian Resort Jepara Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Yudianto Adi Nugroho.

Jabatan Kabag Ops yang sebelumnya diisi Komisaris Polisi (Kompol) Slamet Riyadi kini dipegang oleh Kompol Jodi Setyo Margono, yang sebelumnya menjabat Waden Gegana Satbrimob Polda Jateng. Adapun Slamet Riyadi kini menduduki posisi baru sebagai Kaur Kermalem Subbidsunluhkum Bidkum Polda Jateng. 

AKP Andika Wiratama yang sebelumnya menjabat Kasatlantas, kini menempati posisi baru sebagai Kasigar Subbdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Jateng. Posisinya di Polres Jepara digantikan oleh AKP I Putu Krisna yang sebelumnya menjabat sebagai Kanit 1 PJR Ditlantas Polda Jateng. 

Sementara itu, posisi Kapolsek Bangsri kini dijabat oleh Inspektur Polisi Satu (Iptu) Basiran, ia menggantikan AKP Timbul Taryono yang memasuki masa pensiun. 

“Pesan saya, cepatlah beradaptasi dan menyesuaikan diri di lingkungan, baik dengan anggota maupun staf yang ada, serta masyarakat di wilayah hukum Polres Jepara,” pesan Kapolres Jepara dalam amanatnya. 

AKBP Yudianto Adi Nugroho juga menyampaikan rasa terimakasihnya kepada perwira yang sempat mengabdikan tenaga dan pikiran di Polres Jepara. Selain itu ia meminta agar segera menyesuaikan dengan tempat baru dan melaksanakan tugas guna meningkatkan kondusifitas keamanan dana ketertiban masyarakat. 

“Kepada perwira baru yang bertugas di Polres Jepara, kami minta langsung bekerja sesuai dengan tupoksinya, segera lakukan koordinasi lintas sektoral dan buat terobosan-terobosan kreatif untuk meningkatkan kondusifitas kamtibmas Apalagi akan ada rangkaian HUT Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan di Jepara. Untuk perwira yang akan pindah keluar Polres saya mengucapkan terimakasih atas kerjasama dan kinerjanya selama mengabdi di Polres Jepara. Semoga ditempat baru akan bekerja lebih baik lagi,” ungkap Yudi panggilan Kapolres Jepara.

Editor: Supriyadi

Hari Pertama Pembebasan Denda PKB dan BBN II, Ratusan Warga Datangi Samsat Jepara

Warga mengisi formulir BBN II di Kantor Samsat Online Jepara, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewaCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Program pembebasan denda Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bebas Bea Balik Nama (BBN) II, disambut antusias oleh warga Jepara. Pada hari pertama pelaksanaan (Senin, 21/8/2017) ratusan orang memadati Samsat Online Jepara untuk mengikuti program itu. 

Hal itu dikatakan oleh Ponidi Kasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Unit Pelayanan Pendapatan Daerah (UPPD) Jepara, Rabu (23/8/2017). “Hari pertama sekitar 300 orang datang ke samsat untuk ikut program tersebut, atau sekedar menanyakan informasi terkait hal itu,” katanya. 

Menurutnya, hal itu masih terbilang normal jika dibandingkan pemberlakuan program tersebut di tahun 2016. Pada tahun lalu, pihaknya hingga harus menyediakan tempat tambahan, untuk menampung antrean warga. 

Ihwal tersebut diamini oleh Kepala UPPD Jepara Endang Susilowati. Menurutnya, antusiasme warga untuk mengikuti program dari Pemprov Jateng itu terkait beberapa faktor. 

“Kalau tahun lalu, periode pelaksanaanya lebih pendek sehingga masyarakat ingin segera memanfaatkannya. Sementara kalau program ini kan cukup panjang, dari Agustus hingga 30 Desember untuk program BBN II. Sementara untuk pembebasan denda PKB sampai 30 November 2017. Selain itu, penyesuaian aturan mengenai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga berpengaruh,” terang Endang. 

Namun demikian, pihaknya tetap menyiapkan langkah antisipasi jika antrean pemohon membludak. Endang mengungkapkan telah memaksimalkan seluruh karyawannya termasuk satpam dan cleaning service untuk dapat memberikan informasi terkait program tersebut. 

“Belajar dari tahun lalu, sebelum program ini dilangsungkan kami mengumpulkan semua karyawan. Harapannya jika antusiasme warga meningkat, satpam dan cleaning service bisa memberikan penjelasan mengenai program pembebasan dendan PKB dan BBN II. Kami juga sudah memberikan contoh formulir yang harus diisi oleh pemohon,” imbuhnya. 

Romi seorang warga pemohon BBN II mengatakan sengaja memanfaatkan program tersebut. “Ya ini balik nama sekalian mau ganti plat nomor,” ucapnya singkat, sambil meneruskan mengisi formulir permohonan.

Editor: Supriyadi

Jelang Idhul Adha, DKKP Siap Pantau Lapak Hewan Kurban di Jepara

Pedagang hewan kurban di Jepara saat menawarkan barang dagangannya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang Hari Raya Idhul Adha Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara akan melakukan pemantauan pada sejumlah lapak penjual hewan kurban. Selain itu, pasar hewan dan rumah warga yang memperjual belikan hewan kurban juga akan dipantau. 

“Mungkin nanti akan dimulai pada hari Kamis, Jumat atau Minggu kami akan melakukan pantauan ke lapak-lapak penjual hewan kurban yang ada di sekitar Kota Jepara,” ucap Prajoga Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, DKPP Jepara, Rabu, (23/8/2017).

Di samping itu ia mengatakan, pengawasan akan di lakukan di pasar-pasar hewan dan rumah yang menawarkan hewan kurban. Diungkapkan Prajoga, di Jepara ada tiga pasar hewan, yakni Mayong, Bangsri dan Keling. Untuk pemantauannya, ia akan memberdayakan petugas kesehatan hewan yang ada di tiap kecamatan. 

“Kami juga akan melakukan pantauan di rumah warga yang menyediakan hewan kurban. Contohnya di Sokolimo Bapangan, kan ada yang warga yang menawarkan hewan kurban tapi lokasinya berada di perumahan, nah disitu juga akan dilakukan pengecekan,” katanya. 

Menurutnya, pengecekan akan menitikberatkan pada kesehatan hewan kurban. Selain itu, petugas juga akan memeriksa kelayakan hewan sesuai syariat hewan yang bisa menjadi kurban. 

“Nanti akan kita lihat secara klinis (kasat mata) kesehatan hewan tersebut, ada atau tidaknya tanda penyakit. Setelahnya hewan yang telah diperiksa diberi penanda, berupa stempel. Selain itu kita juga lihat kelayakan hewan untuk dikurbankan, mulai dari pemeriksaan gigi tetap, dan sebagainya,” ujar dia. 

Selain pantauan kesehatan yang dilakukan pra hari raya, pihak DKPP juga akan mengawasi jalannya prosesi penyembelihan di berbagai masjid atau lingkungan. Hal itu berkaitan dengan pengawasan penyembelihan dan antisipasi adanya penyakit, seperti cacing hati. 

Editor: Supriyadi

HUT ke-67 Jateng Dipusatkan di Jepara

Salah satu kebudayaan Perang Obor di Desa Tegal Sambi Jepara yang kini masih digelar saat acara tertentu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara akan menjadi tempat terselenggaranya ajang bertajuk Pesta rakyat Jawa Tengah 2017. Perhelatan yang digelar mulai Jumat-Minggu (25-27) Agustus itu digelar dalam memperingati HUT Provinsi Jateng ke 67.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku siap menjadi penyelenggara event akbar itu. “Dalam perayaan HUT Jateng Kabupaten Jepara mendapatkan sampur berupa tempat. Namun kita tidak diam diri dalam menyukseskan ajang ini, kita siapkan pengamanan. Juga kami minta masyarakat ikut berpartisipasi dalam ajang ini,” katanya, Selasa (22/8/2017).

Menurutnya, pesta tersebut tidak hanya diikuti oleh kabupaten Jepara saja. Seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah juga turut ambil bagian. Oleh karena itu ia meminta warganya menunjukan keramahan dan senyum khas Jepara. 

Rangkaian acara yang akan ditampilkan di antaranya, parade seni budaya 35 kabupaten dan kota se Jawa Tengah, Ketoprak Kontemporer yang pemainnya adalah pejabat termasuk Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng dan sebagainya.

Adapula penampilan penyanyi nasional Kunto Aji dan Band Shaggydog. Selain itu adapula Job Fair yang menyediakan puluhan lowongan kerja.

Editor: Supriyadi

Dian Kristiandi Tepis Anggapan Pencalonan Marzuqi untuk Memuluskan Jalan Menuju Kursi Bupati Jepara

Wakil Bupati  Jepara Andi Kristiandi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Mendaftarnya Bupati Jepara Ahmad Marzuqi sebagai calon wakil Gubernur Jawa Tengah dari PDI Perjuangan ternyata membuat banyak rumor di kalangan masyarakat. Yang paling santer, pencalonan tersebut dikait-kaitkan dengan wakil bupati Dian Kristiandi.

Politisi PDIP itu dinilai menjadi otak politik supaya ia bisa naik pangkat sebagai bupati. Hanya saja, anggapan tersebut langsung ditepis oleh mantan Ketua DPRD Jepara itu.

“Itu sudah menjadi rahasia umum, namun saya tegaskan hal itu tidak benar,” katanya, Selasa (22/8/2017).

Hingga kini, lanjutnya, pihaknya bahkan masih melakoni tugas sebagai wakil bupati. Ia bahkan selalu mengedepankan komunikasi dan selalu bekerjasama sebelum bergerak.

”Jadi tidak pernah bergerak sendiri-sendiri. Kalau ada perkembangan suatu proyek atau kebijakan saya laporkan ke Bupati,” tegas dia.

Baca Juga : Marzuqi Sempat Galau Sebelum Ambil Formulir Cawagub dari PDIP

Akan tetapi, pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Jepara ini sempat kaget saat mendengar keputusan partner kerjanya nyalon sebagai Cawagub Jawa Tengah. Ia mengaku tak diberitahu ataupun dimintai pertimbangan sebelumnya.

“Saya dengar malah dari orang lain, bahwa Pak Bupati nyalon. Maka saya telpon Pak Marzuqi lalu saya bilang, halo pak wagub. Hanya itu saja,” kata Dian berseloroh.

Sebelumnya, Kamis (10/8/2017) lalu, Marzuqi mengembalikan formulir pendaftaran bakal Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Tengah ke Kantor DPD PDI Perjuangan Jateng, di Panti Marhaen Kota Semarang.

Dalam pengembalian formulir dan berkas-berkas pendaftaran tersebut, Marzuqi ditemani tokoh dari DPC PDIP Jepara, PPP, Fatayat NU, Muslimat, Wanita PPP, KNPI dan sanggar seni budaya, serta alim ulama berikut tokoh masyarakat.

Wakil Bupati Dian Kristiandi juga ikut mendampingi. Total ada sekitar 850 orang yang mendampingi dengan menumpang 17 bus.

Editor: Supriyadi

Krisis Air Landa Tiga Desa di Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air di Jepara mulai meluas. Kini ada tiga desa di dua kecamatan yang telah mengajukan permintaan droping air bersih, yakni Kedung Malang-Kedung, Kalianyar-Kedung, dan Raguklampitan-Batealit.

Kasi Rehabilitasi dan Rekondisi BPBD Jepara Jamaludin mengatakan, pihaknya telah memberikan bantuan air pada tiga desa tersebut. Dirinya menyebut, proses bantuan dilakukan dengan memberikan tandon air di beberapa titik yang kemudian diisi dengan air bantuan dari pemerintah.

“Seperti Desa Kalianyar, kita sudah mengirimkan tandon air kemudian sudah diisi dengan air bantuan. Kami jatah untuk di sana selama dua sampai tiga hari. Namun jika membutuhkan, setiap saat pemerintah desa bisa berkoordinasi dengan kami (BPBD),” ujarnya, Selasa (22/8/2017).

Ia mengatakan, dua dari tiga desa yang kini kekurangan air yakni Kedung Malang dan Kalianyar sejatinya telah tersalur fasilitas PDAM. Hanya saja di musim seperti ini, kondisi sumber air baku penyedia air bersih tersebut tidak maksimal, sehingga tidak mengalir ke dua desa itu. 

“Sementara kalau di Raguklampitan memang belum ada PAM. Kalau ngangsu (mengambil air) pun jauh karena letaknya berada di atas. Sehingga meminta bantuan dari BPBD untuk droping air,” tambahnya.

Menurutnya, hingga medio bulan Agustus 2017 pihaknya belum menerima permintaan droping air dari desa lain

Jamaludin mengatakan, pihaknya telah memetakan beberapa daerah yang rentan kekeringan. Di antaranya, Raguklampitan, Rajekwesi, Tunngul, Pandean, Bate Gede, Kedung Malang, Karangaji, Gerdu, Kaliombo, Sinanggul dan Kepuh. 

Adapun, di tahun ini BPBD Jepara menyiapkan anggaran sebesar Rp 22 juta, guna mengatasi dampak musim kemarau. Dana tersebut digunakan untuk penyaluran air pada daerah yang mengalami kekeringan.

Editor: Supriyadi

Marzuqi Sempat Galau Sebelum Ambil Formulir Cawagub dari PDIP

Bupati Jepara Ahmad Marziqi (kiri) saat menjelaskan terkait pencalonanannya sebagai Cawagub Jateng dari PDIP. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku sempat galau ketika mendapatkan tawaran untuk ikut mencalonkan diri sebagai Bakal Calon Wakil Gubernur  dari jalur PDIP. Selain bukan kader partai banteng bermoncong putih, ia juga mengaku baru saja bangkit untuk menata kembali Kabupaten Jepara.

“Ibarat orang bangun tidur saya itu belum bisa enggel-enggel (mendongakan leher). Ibarat bayi saya belum bisa apa-apa, namun kok saya sudah mendapatkan tawaran untuk ikut penjaringan calon Wakil Gubernur Jawa Tengah melalui PDIP dari seorang pimpinan partai tersebut,” katanya, Selasa (22/8/2017).

Mendapatkan tawaran itu, ia langsung berkomunikasi dengan atasannya di DPW PPP. Mendengar hal itu, Marzuqi justru didorong agar mengikuti pertarungan memperebutkan kursi Wakil Gubernur Jateng.

Baca Juga : Baru Kembali Terpilih jadi Bupati Jepara, Marzuqi Kini Incar Posisi Wakil Gubernur

Mendengar hal itu, Marzuqi mengaku mantap melangkah kemudian mengambil formulir pencalonan di Semarang. 

“Berdasarkan PKPU 9/2016, pejabat yang mencalonkan sebagai calon gubernur atau wakil tidak harus mundur,” imbuh Marzuqi.

Baca Juga: Ini Alasan Marzuqi Idamkan Kursi Wakil Gubernur Jateng

Seperti diketahui, Kamis (10/8/2017) lalu, Marzuqi mengembalikan formulir pendaftaran bakal Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Tengah ke Kantor DPD PDI Perjuangan Jateng, di Panti Marhaen Kota Semarang.

Dalam pengembalian formulir dan berkas-berkas pendaftaran tersebut, Marzuqi ditemani tokoh dari DPC PDIP Jepara, PPP, Fatayat NU, Muslimat, Wanita PPP, KNPI dan sanggar seni budaya, serta alim ulama berikut tokoh masyarakat.

Wakil Bupati Dian Kristiandi juga ikut mendampingi. Total ada sekitar 850 orang yang mendampingi dengan menumpang 17 bus.

Editor: Supriyadi

Positif Tercemar, Begini Langkah Pemkab Jepara Atasi Sungai Karangrandu

Air sungai di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara tak layak konsumsi karena warnanya menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sungai Gede Karangrandu positif tercemar, lalu apa yang akan dilakukan oleh Pemkab Jepara? 

Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi mengatakan akan segera mengambil langkah evaluatif, terhadap hal itu. “Terlepas itu limbah dari industri tahu tempe atau yang lain-lain kami akan memberikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kepada pelaku UMKM (pengusaha tahu-tempe) kami akan kaji betul terkait hal itu, mungkin akan memberikan wadah yang cukup besar,” ucapnya, dalam jumpa pers, Senin (21/8/2017).

Diberitakan sebelumnya, kontribusi pencemar Sungai Gede Karangrandu berasal berbagai sumber. Namun dari 26 parameter, ada dua unsur yang nampak tidak wajar yakni Fenol dan  Bylogical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Perlu diketahui Fenol biasanya diketemukan dalam industri tekstil dan penggunaan pestisida. Sementara BOD-COD dihasilkan dari limbah organik semisal tahu-tempe, sampah dan sebagainya. 

Dalam hasil uji laborarium Cito yang dibacakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, ada kadar Fenol sebesar 300 mg/liter dari ambang baku 1 mg/liter tiga kilometer setelah pabrik garmen di Gemulung. Sementara itu kandungan BOD-COD sebesar 61 mg/l dari ambang baku mutu 50. 

Dititik setelah industri tahu tempe, Fenol tetap bertahan pada kadar 300mg/l, sedangkan BOD-COD meningkat hingga 1.120 mg/l. Lalu pada sampel yang diteliti dari Sungai Gede Karangrandu, kadar Fenol hanya berkurang sedikit menjadi  290 mg/l dan BOD-COD merosot menjadi 58 mg/liter.

Ditanya mengenai kadar fenol yang diduga dihasilkan dari limbah industri tekstil, Wakil Bupati Jepara kemudian menyodorkan mikrofon kepada  Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan DLH Jepara M. Ikhsan. 

“Sesuai dengan kewajiban perusahaan dalam mengolah limbah, hal itu akan dilakukan pantauan nanti kita lihat outletnya (saluran pembuangan limbah pabrik tekstil). Intinya evaluasi akan dilakukan terus menerus dilakukan,” papar Ikhsan.  

Editor: Supriyadi

Sering Macet Simpang Masjid Walisongo dan Pendosawalan Akan Dipasang Lampu Lalulintas

Salah satu ruas jalan di Jepara yang menjadi titik rawan kemacetan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua jalur padat di Simpang Pendosawalan-Kalinyamatan dan Simpang Masjid Besar Walisongo-Pecangaan, akan dipasangi lampu pengatur lalulintas. Hal itu mengingat kondisi ruas tersebut yang kian padat. 

Kepala Bidang Lalulintas Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Soleh Sudarsono mengatakan, pemasangan lampu tersebut untuk mengurai kepadatan yang seringkali terjadi di ruas itu. 

“Faktornya karena jalur tersebut sangat padat. Di Pendosawalan karena ada aktifitas pekerja pabrik, sedangkan kita tahu sendiri di samping Masjid Besar Walisongo sudah begitu padat,” ujarnya, Senin (21/8/2017).

Ia mengatakan, dua lampu pengatur lalulintas tersebut merupakan bekas pakai dari traffic light yang ada di Welahan dan Gotri. “Di ruas yang lama kita pasang baru, sementara yang di Welahan dan Gotri kita geser ke Pecangaan dan Pendosawalan karena kondisinya masih bagus. Dan kedua ruas itu memang cukup padat,” tambahnya. 

Ia menyebut, pemindahan dan penggantian lampu pengatur lalulintas tersebut akan dilaksanakan secepatnya. Soleh mengatakan rencana tersebut sudah diajukan tahun ini, namun kepastiannya menunggu kepastian untuk dimasukan ke rencana kerja anggaran (RKA) terlebih dahulu. 

Adapun, anggaran untuk pelaksanaan kegiatan tersebut telah terpacak dalam Kebijakan Umum APBD dan Plafon serta Prioritas Anggaran Sementara atau KUA-PPAS perubahan 2017.Pada dokumen tersebut, tertera anggaran sebesar Rp 125 juta.

Editor: Supriyadi

Harap Sabar! Jepara Belum Dapat Jatah Blanko KTP Elektronik

ILustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Jepara nampaknya harus bersabar jika mau mencetak KTP Elektronik. Lantaran hingga saat ini, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Jepara belum mendapatkan jatah blanko dari Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri). 

Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Disdukcapil Susetiyo mengatakan menyampaikan hal itu, Senin (21/8/2017). Menurutnya, Jepara belum terjatah blanko KTP Elektronik, meskipun daerah lain di Jawa Tengah memperolehnya.

“Hal itu karena, Provinsi Jawa Tengah hanya mendapatkan sebanyak 6000 keping blanko KTP Elektronik. Sedangkan Jepara bukan termasuk kabupaten yang memeroleh jatah tersebut,” katanya. 

Menurutnya, dari 35 kabupaten atau kota di Jawa Tengah beberapa diantaranya telah dipilih untuk mendapatkan blanko. Namun hal itu tak berlaku bagi semua wilayah karena keterbatasan jumlah dari pemerintah pusat.

“Informasi terakhir yang kami dapatkan Jepara termasuk yang tidak mendapatkan jatah. Sebab droping blanko dilakukan berjenjang, dari kemendagri ke provinsi. Lalu selanjutnya sudah ditentukan (pemerintah provinsi). Kalaupun semua kabupaten atau kota mendapatkan, maka jumlahnya terlalu sedikit karena jumlah yang didroping hanya 6000 buah,” tuturnya. 

Oleh karena itu, ia mengharapkan warga Jepara untuk tetap bersabar karena pihaknya belum bisa melayani pencetakan KTP Elektronik. Namun demikian, untuk layanan kependudukan yang lain, pihaknya mengklaim masih dapat dilaksanakan dengan normal, termasuk pemberian surat keterangan telah rekam data KTP Elektronik.

Sebelum kehabisan blanko pada Rabu (9/8/2017), Disdukcapil Jepara memeroleh 26.000 keping KTP Elektronik, yang turun dalam tiga tahap.

Editor: Supriyadi

Sungai Gede Karangrandu Jepara Tercemar Limbah Fenol dan Chemical Oxygen Demand

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup  (DLH) Jepara telah menerima hasil laboratorium terkait Sungai Gede Karangrandu. Hasilnya, alur sungai tersebut dalam kondisi tercemar ringan.

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Penataan dan Penaatan DLH, dalam konferensi pers, Senin (21/8/2017). Menurutnya, faktor pencemar dihasilkan oleh beberapa faktor. 

“Penyebab (pencemaran) tidak hanya berasal dari satu sumber saja. Dari hulu hingga hilir terdapat kontribusi yang menyebabkan air Sungai di Karangrandu menghitam dan berbau,” paparnya. 

Hal itu dipertegas oleh Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan (PDKL) M. Ikhsan. Menurutnya, pengambilan sampel dilakukan oleh Laboratorium Cito, di tiga titik. 

Adapun titik tersebut adalah, tiga kilometer dari pabrik garmen, sepanjang aliran sungai yang dipergunakan untuk industri tahu-tempe dan di bendung Sungai Gede Karangrandu. Dari 26 indikator, ada tiga zat yang nampak memperlihatkan kondisi tidak wajar.

“Pertama kami temukan adanya Fenol (C6H6O) yang biasa digunakan pada pabrik tekstil, kemudian zat Bylogical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang bisa disebabkan oleh limbah organik, sampah dan sebagainya disepanjang sungai,” tuturnya. 

Lebih lanjut ia mengatakan, disepanjang alur sungai diketemukan zat-zat tersebut. Namun demikian, pada beberapa titik zat tersebut ada yang terurai dan ada yang tetap, namun demikian semua zat tersebut sudah melebihi ambang baku mutu.

“Fenol ambang baku mutunya adalah 1, namun diketemukan di air sungai setelah pabrik (garmen) sejumlah 300. BOD dan COD setelah pabrik garmen sebanyak 61 dari ambang baku mutu 50. Kemudian dari sampel setelah industri tahu-tempe angka fenol tetap, sementara BOD-COD meningkat hingga 1.120. Lalu di sekitar Sungai Gede Karangrandu, kadar Fenol turun menjadi 290, sedangkan kadar BOD-COD menurun menjadi hanya 58,” urainya. 

Menurutnya, zat BOD-COD akan terurai jika mendapatkan cukup air dan arus yang lancar. Ikhsan menambahkan, BOD-COD tidak hanya dihasilkan oleh limbah pabrik tahu, akan tetapi juga oleh limbah lain seperti sampah dan sebagainya. 

“Begitu pula dengan Fenol tidak semata-mata dihasilkan oleh garmen, namun pestisida juga bisa menghasilkan limbah tersebut. Hal itu karena disepanjang alur sungai ada lahan pertanian,” ungkapnya. 

Berdasarkan uji laboratorium tersebut, maka disimpulkan air sungai Gede Karangrandu tercemar, namun ringan.

Editor: Supriyadi

Ini 2 Kunci Motor yang Bikin Maling Ogah Beraksi  Meski di Tempat Sepi

Pelaku pencurian sepeda motor saat diamankan Polres Jepara, Sabtu (19/8/2017). Mereka dibekuk dalam Operasi Jaran Candi 2017. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kita tentu tidak mau kendaraan bermotor yang kita punyai menjadi incaran maling. Lalu apa yang harus kita lakukan agar pencuri tak mendekati motor kesayangan kita?

Setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengamankannya. “Pertama jangan lupa pasang pengaman (magnetic) kunci, lalu pasang kunci cakram,” kata Mohammad Ardiyan alias Kethek pelaku pencurian motor, saat press rilis di Mapolres Jepara beberapa saat lalu. 

Jika ada dua kunci itu, lanjut Kethek, ia ogah beraksi meski motor berada di tempat sepi. Selain waktu yang cukup lama, kemungkinan gagal akan semakin besar.

Hanya saja, jika kedua kunci tersebut tak terpasang, ia cuma butuh waktu 15 detik untuk membobol kunci motor. “Ya kalau ada kunci ganda agak kesulitan kalau begitu pak. Kalau biasa hanya itungan detik,” kata kethek menjawab pertanyaan Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho. 

Residivis kasus pencurian itu menambahkan, motor yang kerapkali menjadi incaran adalah Honda Scoopy, Vario dan Suzuki Satria. Hal itu karena varian tersebut masih laku dipasaran.

“Kalau matic Rp 2,5 juta kalau Satria Rp 3 juta, motor-motor itu memang masih laku di pasaran,” kata Warga Desa Wedelan, Bangsri itu

Kepada polisi ia mengaku sudah beberapa kali melakukan pencurian kendaraan roda dua. Atas perbuatannya itu, ia terancam mendekam di penjara diatas lima tahun. 

Editor: Supriyadi

Pengusaha Tahu Tempe Mengaku Belum Bisa Kurangi Limbah Produksi

Kondisi pipa buangan limbah tahu tempe di Desa Pecangaan Wetan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu disinyalir adanya kontribusi buangan limbah tahu-tempe yang ada di Pecangaan Wetan. Di wilayah itu, ada sekitar 40 perajin tahu dan tempe yang membuang sisa produksinya ke alur sungai Pecangaan, yang juga melewati sungai di Desa Karangrandu. 

Hal itu diperkuat, setelah Bupati Jepara melakukan inspeksi di alur Sungai Pecangaan hingga Karangrandu, yang bermuara di Laut Jawa, Sabtu (19/8/2017). Di antara Sungai Pecangaan dan Sungai Gede Karangrandu berdiri puluhan pabrik tahu-tempe.

Pantauan MuriaNewsCom, pipa pembuangan sisa produksi dialirkan langsung ke alur Sungai. Hal itu juga menimbulkan bau tidak sedap, dari pembuangan hampir mirip yang terjadi di Desa Karangrandu.

Kholid seorang perajin tahu mengatakan, memang pihaknya belum mampu mengatasi limbah buangan ke Sungai. Namun demikian, hal itu sudah dilaporkannya ke Bupati, bersamaan dengan kunjungan tersebut.

“Faktor x limbah itu memang ada, sudah berkali-kali sampaikan belum bisa kurangi limbah. Tadi sudah lapor ke bapake (bupati) minta diberi bantuan tangki, agar limbah bisa disedot dan dibuang ketempat lain,” katanya.

Kholid menyebut, dari 40 perajin, kapasitas usahanya bermacam-macam mulai dari satu ton perhari dan enam kuintal.

Ia berujar, sumur resapan memang telah dibuat untuk mengatasi limbah. Namun karena alasan medan yang datar, hal itu tak bisa maksimal. Terkait rencana bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ia mengaku agak kesulitan mencari lahan.

“Kalau disuplai (dibantu) ya kami minta tangki yang bisa nyedot limbah dari septictank, kemudian nanti bisa dibuang ke laut,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha