Menteri Jonan di Jepara Harapkan Pembangunan PLTU Jawa 4 Libatkan Banyak Pekerja Lokal

Menteri ESDM Ignatius Jonan (berkacamata hitam) sedang melihat proses pembangunan PLTU Jawa 4, yang ada di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang Jepara, Kamis (31/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menteri ESDM Ignatius Jonan meresmikan groundbreaking Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 4 ( unit 5-6 Tanjung Jati B) berkapasitas 2×1000 MW. Dalam sambutannya, ia mewakili Presiden meminta agar dalam pembangunan fasilitas tersebut melibatkan banyak pekerja lokal. 

“Arahan Presiden bahwa setiap pembangunan bisa melibatkan potensi lokal, karena pembangunan fisiknya besar sehingga local employment (pekerja lokal) dapat ditingkatkan,” ujar Jonan saat peresmian proyek yang ada di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang-Jepara, Kamis (31/8/2017). 

Menurutnya, dengan pelibatan pekerja lokal dapat meningkatkan efek yang timbul dari pembangunan PLTU. Di samping itu, Jonan juga mengingatkan untuk menjaga dampak pencemaran lingkungan. Selain itu, ia juga berpesan agar melalui pembangunan fasilitas tersebut, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat umum, dan juga bisa selesai dibangun tepat waktu sesuai rencana.  

“Setiap pembangunan fasilitas kelistrikan, harus dapat memberikan manfaat untuk masyarakat, artinya harga listriknya nantinya bisa dijangkau oleh masyarakat. Kalau di Jawa sebenarnya tidak ada masalah, namun jika di luar Jawa yang jauh dari pusat pemerintahan,  ketika ada tiang listrik di depan rumah namun masyarakat tak mampu membeli listrik, maka kekecewaanlah yang akan dialami oleh masyarakat,” lanjutnya. 

Hal serupa diungkapkan oleh Sri Puryono Sekretaris Daerah Jawa Tengah. Ia berharap jika tenaga pembangun PLTU Jawa 4 dapat diambil dari tenaga lokal. “Tenaga lokal harap diprioritaskan dari Jepara, sesuai dengan tingkat kompetensi masing-masing. Selain itu, dengan adanya proyek nasional ini, diharapkan Jateng semakin seksi untuk industri,” katanya, membacakan sambutan dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang tidak bisa hadir. 

Adapun, pembangunan PLTU Jawa 4 di Jepara dapat memberikan kontribusi penguatan daya listrik sistem interkoneksi Jawa-Bali. Setelah  konstruksinya selesai pada tahun 2021 akan terhubung ke saluran transmisi 500 kV Tanjung Jati-Tx Ungaran. Selain itu, proyek ini merupakan bagian dari program pembangkit listrik 35 ribu MW, yang dibangun PLN bersama swasta (Independent Power Producer) dalam membangun 109 pembangkit. 

Pembangkit PLTU Jawa 4 menempati lahan seluas 77,4 hektar dan menggunakan teknologi terbaru yakni ultra super critical (USC). Teknologi itu diklaim memiliki efisiensi sekitar 8-10 persen dibandingkan dengan pembangkit berbahan batubara yang lain.  Dengan teknologi tersebut penggunaan batubara lebih sedikit, namun menghasilkan daya yang besar. 

Pembangunan fasilitas PLTU Jawa 4 itu juga melengkapi fasilitas sebelumnya, yang telah dibangun di areal yang sama. Adapun total daya yang dihasilkan dari PLTU Tanjung Jati B unit 1-6 nantinya adalah sekitar 4.600 MW, 

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PLN Amir Rosidin mengatakan, dengan pembangunan fasilitas tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi Indoneseia dengan tetap memperhatikan penggunaan teknologi ramah lingkungan. “Pembangunan PLTU Jawa 4 ini akan memenuhi kebutuhan daya listrik yang terus bertambah di Jawa Bali ke depannya. Selain itu pasokan listrik yang dihasilkan nantinya diharapkan bisa mendorong minat investor untuk terus membangun industri terutama Jawa dan Bali, sehingga berdampak pada ekonomi masyarakat di kedua pulau tersebut,” tuturnya. 

Proyek tersebut dikelola oleh konsorsium PT Bhumi Jati Power, yang terdiri dari Sumitomo Corporation, PT United Tractors dan The Kansai Electric Power Co. Inc. Pembangunan fasilitas tersebut menggunakan skema Build operate and transfer dengan jangka 25 tahun sejak commercial operation date itu, menelan biaya investasi sekitar 4,2 miliar dolar Amerika. 

Editor : Akrom Hazami

 

PLN Jamin Pasokan Listrik untuk Sektor Industri di Jepara Aman

Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tanjung Jati B Unit 1-4 yang sedang beroperasi. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Banyak industri yang kini menempatkan pabriknya di Jepara. Tercatat setidaknya ada delapan perusahaan yang berproduksi di Bumi Kartini. Namun pertanyaannya, bagaimana dengan pasokan listrik yang digunakan? 

Kepala Satuan Komunikasi Korporat PT PLN I Made Suprateka menegaskan, saat ini pasokan listrik yang dihasilkan sudah sangat berlebih. Jadi ia mengatakan kepada investor agar tak khawatir.

“Ekpansi pabrik di Jepara aman (dari sektor ketersediaan pasokan listrik),” katanya, disela Ground Breaking perluasan Tanjung Jati B (Jawa-4) berkapasitas 2×1000 MW, di Desa Tubanan Kecamatan Kembang, Kamis (31/8/2017). 

Dirinya menyebut sudah banyak sektor industri yang melakukan akad jual beli energi listrik dengan pihak PLN. Untuk sektor industri sendiri, ia menyebut ada insentif tersendiri.

“Banyak justru harga tarif listrik industri itu lebih kecil daripada rumah tangga, itu untuk insentif industri supaya lebih bersaing harganya harapannya seperti itu,” tuturnya. 

Lebih lanjut ia mengatakan, dengan perluasan PLTU Tanjung Jati B listrik yang dihasilkan tidak hanya bisa dinikmati untuk warga Jepara. Setelah rampung, pasokan listrik yang dihasilkan fasilitas tersebut bisa dinikmati masyarakat se Jawa dan Bali. 

Perlu diketahui, saat ini di Jepara saat ini setidaknya terdapat delapan industri besar di antaranya PT Kanindo Makmur Jaya PT Bomin Permata Abadi,PT Hwa Seung Indonesia, PT Parkland World Indonesia, PT Jiale Indonesia, PT Samwon Busana Indonesia, PT Semarang Autocom Manufacturing Indonesia dan PT Doohwan Design Indonesia.  

Adapun saat ini PT PLN Pembangkitan Tanjung Jati B telah memiliki fasilitas pembangkit bertenaga batubara (unit 1-4) dengan daya yang dihasilkan sebesar 2.600 MW.

Editor: Supriyadi

Libur Panjang, KMC Express Bahari Tambah Trip ke Karimunjawa

Sejumlah wisatawan memadati Pulau Karimunjawa saat liburan, belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Kapal Motor Cepat (KMC) Express Bahari menambah jadwal pemberangkatan selama libur panjang hari raya Idhul Adha. Selain faktor membeludaknya penumpang, absennya Kapal Motor Penumpang (KMP) Siginjai juga memengaruhi penambahan trip tersebut. 

“Penambahan trip ada, sebanyak 2 kali untuk hari Jumat dan nanti kembali ke sini (Jepara) pada hari Minggu juga 2 trip,” kata Sugeng Riyadi, Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur, Kamis (31/8/2017). 

Menurutnya, pihaknya sudah membuka reservasi tiket untuk menyebrang ke Karimunjawa. Ia mengatakan ada sekitar seratus tempat duduk yang tersedia. 

Sugeng menyatakan, penambahan trip itu juga dipengaruhi oleh absennya KMP Siginjai, saat hari raya Idul Adha. “Maka dari itu kita disuruh untuk menambah trip lagi. Nanti hari Sabtu reguler, sedangkan Jumat dan Minggu ada dua trip,” ujarnya.  

Ditanya tentang dominasi penumpang, Sugeng menyebut lebih banyak orang mancanegara yang melancong ke pulau tropis tersebut. Menurutnya, hal itu karena di luar negeri saat ini sedang libur musim panas.

“Ya presentasenya sekitar 60 banding 40 persen. Lebih banyak yang dari luar negeri, seperti Hongkong, Amerika, dan Malaysia. Mereka menghabiskan sisa liburan,” katanya. 

Adapun kapal yang dipersiapkan adalah KMC Express Bahari 2C dan KMC Expres Bahari 9C. Sementara total kapasitas yang ada dari kedua kapal tersebut adalah 761 tempat duduk, terdiri dari 410 kursi pada 9C dan 351 kursi pada 2C. 

Terpisah Kasi Pelabuhan Penyebrangan Jepara Supomo membenarkan bahwa Siginjai absen pada hari Jumat (1/9/2017). Hal itu karena bertepatan dengan hari raya Idul Adha. 

“Ya Jumat nanti memang off (Siginjai) karena bertepatan dengan libur hari raya Idul Adha. Nanti Sabtu sudah mulai reguler lagi,” urainya. 

Editor: Supriyadi

3 Kios di Bugel Jepara Terbakar  

Petugas melakukan pemadaman kebakaran di Bugel, Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kebakaran melanda sebuah kompleks pertokoan di Desa Bugel, RT/RW : 11/3, Kecamatan Kedung, Jepara, Rabu (30/8/2017) sore. Akibatnya, tiga toko yang digunakan sebagai bengkel, studio foto dan pangkas rambut ludes.

Elya Farida warga setempat mengatakan, api kali pertama terlihat dari bengkel yang terletak di sisi utara. Setelah itu si jago merah merembet ke sisi selatan yakni studio foto dan tempat pangkas rambut. 

“Pertama kali api diketahui oleh istri yang punya studio foto. Ketika dia tengah salat, di dalam ruang studio mendengar ada suara, ketika ditengok ternyata api sudah membesar. Lalu ia keluar dan saya berusaha menolong, namun tidak bisa karena takut,” katanya. 

Saat itu, menurut Elya bengkel dan tempat pangkas rambut sudah tutup. Sementara jarum jam menunjuk pukul 15.15 WIB, saat kebakaran terjadi.  “Ada suara ledakan juga, sebanyak tiga kali. Apinya besar sekali, Kemungkinan dari kompresor dan dua komputer yang ada di studio foto,” tutur dia. 

Beruntung kejadian itu tak merembet ke kompleks pertokoan lain, yang berada di selatan lokasi kejadian. Tim pemadam kebakaran menurunkan lima mobil damkar beserta tanki penyuplai air. 

Kabid Pemadam Kebakaran Surana mengatakan, akibat kejadian tersebut kerugian ditaksir Rp 200 juta. Adapun pemilik kios bengkel diketahui bernama Saefurahman, sedangkan studio foto milik Ali Ridho dan kios potong rambut milik Sunarto.

“Untuk penyebabnya diduga karena korsleting listrik dan tidak menimbulkan korban jiwa,” urainya. 

Editor : Akrom Hazami

Penyebrangan ke Karimunjawa Jepara Tak Terpengaruh Tinggi Gelombang Laut

Warga melihat kapal penyeberangan ke Karimunjawa Kabupaten Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebrangan kapal ke Karimunjawa tidak terpengaruh gelombang di Laut bagian utara Jawa Tengah. Praktis layanan hilir mudik ke pulau terluar Kabupaten Jepara itu, tidak mengalami gangguan. 

“Satu sampai dua hari yang lalu memang gelombang kencang bisa mencapai 1,5 meter sampai 2 meter. Namun kapal kita bisa mengatasi tinggi gelombang sampai maksimal 2,5 meter, jadi masih aman,” kata Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, sebagai operator Kapal Express Bahari, Rabu (30/8/2017). 

Ia mengatakan, dengan kondisi tersebut tidak memengaruhi pelayanan penyebrangan pada long weekend  pada libur hari raya Idhul Adha, yang jatuh pada 1-2 September 2017. Menurutnya, pihaknya sudah membuka reservasi untuk keberangkatan pada tanggal-tanggal tersebut. 

Terpisah, Kepala Seksi Pelabuhan Penyebrangan Kartini Supomo menyebut, berdasarkan informasi teranyar yang diperolehnya tinggi gelombang kini sudah menurun.  “Seminggu kemarin memang terjadi peningkatan tinggi gelombang, namun minggu ini sudah menurun sekitar 1 meter 1,25 meter,” katanya. 

Dikutip dari laman BMKG, tinggi gelombang di utara Jawa Tengah per hari ini berkisar di angka 0,5-1,25 meter. Adapun dari segi cuaca, diperkirakan cerah berawan dengan suhu sekitar 25-34 derajat celcius.

Editor : Akrom Hazami

September Krisis Air di Jepara Diprediksi Semakin Parah

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air  bersih di Jepara diperkirakan meluas di bulan September 2017. Hal itu disebutkan oleh Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Rabu (30/8/2017). 

Prediksi tersebut dikatakannya melihat kondisi cuaca yang sangat panas dan mentari yang terik. “Diperkirakan pada bulan September akan banyak desa yang mengajukan bantuan air bersih. Hal itu terutama bagi yang menjadi langganan krisis air bersih,” kata dia. 

Menurutnya, saat ini baru tiga desa yang mengalami krisis air bersih. Yakni Desa Kedung Malang dan Kalianyar yang ada di Kecamatan Kedung dan Raguklampitan di Kecamatan Batealit.

Jamaludin menjelaskan, bantuan air bersih dilakukan dua kali dalam sepekan pada dua desa di Kecamatan Kedung. Sementara itu di Raguklampitan, droping air dilakukan sebanyak tiga kali dalam sepekan.

Untuk mengatasinya, BPBD Jepara telah menyiapkan khusus untuk memberikan bantuan air bersih. Namun demikian, langkah tersebut dilakukan untuk penanggulangan jangka pendek. Untuk langkah lebih lanjut seperti pembuatan sumur pantek, hal itu belum bisa dilakukan. 

Editor : Ali Muntoha 

Tinggal di Dapur dengan Atap Ambrol, Pasangan Jompo di Jepara Ini Girang Dibikinkan Rumah

Relawan Jepara Rescue membangun rumah untuk Sanimun (75) dan Rasmi (70), pasangan jompo di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sanimun (75) dan Rasmi (70) menyungging senyum tipis di bibir mereka, lantaran suami istri asal Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Jepara, itu dibikinkan sebuah rumah baru, Rabu (30/8/2017).

Bukan oleh pemerintah, melainkan dari komunitas relawan Jepara Rescue, yang prihatin melihat rumah mereka yang atapnya ambrol dan sudah reyot termakan usia.

Kepada MuriaNewsCom, pasangan itu berkata rumah berukuran 4×6 itu dulunya adalah sebuah dapur. Sebetulnya mereka memiliki rumah yang lebih kokoh, namun setelah putri keempatnya menikah mereka memilih untuk memberikannya pada keluarga baru tersebut. 

“Kami berdua akhirnya memilih untuk tinggal di bangunan dapur. Sementara rumah kami ditinggali putri saya,” ucap Rasmi, yang memiliki empat orang anak, enam cucu dan satu cicit.

Namun sebulan belakangan, atap bangunan yang kini ditempati Sanimun dan Rasmi atapnya ambrol. Sehingga bila malam tiba, pasangan itu harus tidur di rumah anaknya, yang terletak bersebelahan. 

“Mulanya kayu usuknya rusak, saat mau dibersihkan malah ambrol. Sehingga setiap malam selepas waktu Isya, saya dan suami saya tidur di rumah anak saya,” tambah warga RT/RW : 16/3 Desa Bawu itu.

Pasangan Sanimun (75) dan Rasmi (70). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Rupanya hal itu didengar oleh relawan Jepara Rescue, yang kemudian menginisiasi bantuan berupa pembuatan rumah sederhana. Ahmad Muhlisin, ketua komunitas tersebut mengatakan, rumah sederhana tersebut memiliki rangka besi dengan atap baja ringan.

“Untuk pondasinya berdimensi 4×10 meter. Nantinya akan memuat satu kamar tidur, teras, dapur sementara kamar mandi berada di luar. Untuk biaya bedah rumah sebesar Rp 8-10 juta, sebagian besar diperoleh dari iuran anggota kami sisanya dari perusahaan yang peduli,” kata Ahmad Muhlisin, yang biasa dipanggil Bondan oleh kawan-kawannya. 

Bondan menyebut, Sanimun dan Rasmi tergolong warga miskin. Namun belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, termasuk program rehabilitasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH).

Oleh karena itu, pihaknya berinisiatif membantu, karena kenyataan di lapangan, banyak warga miskin yang belum memeroleh haknya. Hal itu diamini oleh Abud, ketua rukun tetangga setempat.

“Dulu sudah pernah didata untuk mendapatkan bantuan renovasi RTLH dari provinsi, namun hingga sekarang belum ada realisasinya. Bantuan dari pemerintah untuk Mbah Sanimun berupa BLT atau PKH pun belum pernah mengenyam,” terangnya. 

Bila sesuai rencana, rumah baru bagi Sanimun bisa dirampungkan pada ujung hari ini. 

Sanimun mengaku hanya bisa berterimakasih atas usaha yang dilakukan kelompok relawan tersebut. Ia bahkan mengaku kaget, realisasi pembangunan rumah untuknya bisa dilaksanakan dengan cepat.

“Kalau dibilang kaget ya iya. Soalnya orang begitu banyak datang ke rumah dan mau membantu mendirikan saya,” kata Sanimun.

Editor : Ali Muntoha

3 Pantai di Jepara Ramah Difabel 

Wisatawan menikmati suasana liburannya di Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara dikenal dengan destinasi wisata pantainya. Namun pertanyaannya, apakah sudah layak dikunjungi bagi saudara-saudara kita yang mengalami keterbatasan atau difabel?

Founder dan Inisiator Komunitas Sahabat Difabel Noviana Dibyantari menjawab pertanyaan itu. Baginya beberapa pantai di Jepara yang sudah bersahabat bagi difabel.  “Sudah bagus, di antaranya pantai Bandengan, Pantai Kartini dan Pantai Beringin. Kebanyakan sudah bersahabat bagi difabel,” katanya, beberapa saat lalu. 

Ia mengatakan, hal itu sudah dibuktikannya ketika mengunjungi pantai-pantai tersebut. Bahkan ia menaruh apresiasi dengan dibuatnya jalur kursi roda yang ada di Alun-alun Kota Jepara. 

“Ini (jalur kursi roda) saya kira sebuah keberpihakan pemerintah setempat untuk difabel. Bahkan di kota besar seperti Semarang belum tersedia hal seperti ini, saat ada even saja dipasang jalur bantu namun setelahnya sudah digeser,” tuturnya. 

Editor : Akrom Hazami

Panwaskab Jepara Buka Perekrutan Panwascam

Ketua Panwaskab Jepara Arifin (tengah) didampingi komisioner Panwaskab divisi organisasi dan SDM Abdul Kalim (kanan) dan Muntoko Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga (kiri), saat memberikan keterangan kepada pewarta, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Panwaskab Jepara memulai tahapan persiapan Pilgub Jateng 2018. Agenda terdekat yang akan dilaksanakan adalah membentuk Panwascam di 16 kecamatan. 

“Kami komisioner dari Panwaskab Jepara terdiri dari tiga orang baru dilantik pada Jumat (25/8/2017). Namun setelah pelantikan tersebut nyaris tidak ada waktu untuk terlena, agenda terdekat adalah perekrutan Panwascam,” kata Ketua Panwaskab Jepara Arifin, di kantornya, Selasa (29/8/2017).

Ia mengatakan, pendaftaran anggota panwascam akan dimulai pada Rabu-Selasa (6-12/9/2017). Rangkaian perekrutan panitia pengawas kecamatan akan bergulir hingga 21 September 2017. 

“Pengumuman panwascam terpilih akan dilakukan pada tanggal 25 September 2017. Untuk mengetahui terkait informasi tersebut bisa melihat media massa, facebook resmi panwaskab dan langsung menuju kantor kami di Jaln KH Ahmad Fauzan, Saripan-Jepara,” ungkap Arifin. 

Komisioner Panwaskab Divisi Organisasi dan SDM Abdul Kalim mengatakan, pihaknya ingin agar warga Jepara dapat memenuhi persyaratan untuk mengikuti seleksi Panwascam. Ia mengatakan akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Jepara agar calon panwascam dapat difasilitasi surat keterangan sehat dari Puskesmas. 

Sementara itu, Komisioner Panwaskab Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga Muntoko menyebutkan, dalam pemilihan anggota panwascam, memperhatikan pada kualitas calon. Hal itu mengingat, rangkaian pesta demokrasi yang sebelumnya diadakan di Jepara menuai beberapa masalah seperti perhitungan daftar pemilih tetap.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Duta Wisata 2017 Kudus, Pati, Rembang, Blora dan Rembang

Duta Wisata Duta Wisata Kudus adalah Alan Ragil Maulana merupakan pelajar SMA Negeri 1 Kudus, dan Hima Choirun Nisa mahasiswa Unnes Semarang. (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Duta Wisata merupakan sosok yang diharapkan dapat menjadi bagian dalam menggali, memperkenalkan seni, budaya dan pariwisata daerah. Pemilihan duta wisata dilakukan dengan serangkaian tahap dan seleksi. Mereka bersaing menjadi yang terbaik untuk mengemban tugas sebagai Duta Wisata bagi daerahnya masing-masing.

Di wilayah eks Karesidenan Pati, Kabupaten Kudus, Pati, Rembang, dan Blora sudah memiliki Duta Wisata 2017. Sedangkan, Kabupaten Jepara baru akan melakukan pemilihan pada 8 September 2017. Adapun malam grand final Duta Wisata 2017 untuk Kabupaten Grobogan direncanakan berlangsung pada 9 September 2017.

Masa pendaftaran peserta Duta Wisata Grobogan sudah ditutup 25 Agustus lalu. Sampai hari terakhir, total ada 30 pendaftar. Rinciannya, 20 pendaftar adalah wanita dan 10 pria. Para pendaftar ini sebagian besar merupakan pelajar SMA dari beberapa sekolah di Grobogan.

Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat mengatakan, tahun ini, jumlah pendaftar pria memang lebih sedikit. Yakni, hanya 10 orang saja. Kalau pendaftar wanita jumlahnya dua kalinya.

“Jumlah pendaftar tahun ini juga lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 50 orang. Hal ini terjadi karena pihak panitia memang membatasi jumlah peserta maksimal hanya 30 orang saja. Pembatasan itu dilakukan supaya pelaksanaannya bisa cepat waktunya serta lebih efektif dan efisien,” kata Jamiat.

 

Adapun untuk Duta Wisata Kudus adalah Alan Ragil Maulana merupakan pelajar SMA Negeri 1 Kudus, dan Hima Choirun Nisa mahasiswa Unnes Semarang. Di Kabupaten Pati, Duta Wisata yang terpilih pada tahun ini adalah Farizki Bagus Kurniawan, dan Gunita Wahyu Sektyanti.

Di Kabupaten Blora, Duta Wisatanya adalah Frillian Gerry Hutama yang merupakan pelajar SMA Negeri 1 Blora,  dan Septiya Risqi Umami pelajar dari SMA Negeri 1 Blora. Di Kabupaten Rembang, Duta Wisatanya merupakan siswa SMA Negeri 1 Rembang Eza Faisal Meileno Rizqi, dan Intan Sugiarti merupakan mahasiswa kebidanan.

Editor : Akrom Hazami

Ganjar Ingin Satpol PP Jateng Nguwongke Liyan

Wagub Heru Sudjatmoko saat memberikan dukungan kepada personel Satpol PP di Kabupaten Jepara, Selasa. (Diskominfo Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ingin agar personel Satuan Pamong Praja (Satpol PP) di Jateng lebih humanis. Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada Jambore Satpol PP ke VII, di Desa Kelet, Kecamatan Keling-Jepara, Selasa (29/8/2017). 

“Kita ingin Satpol PP lebih humanis, lebih dekat dengan rakyat dan persuasif dalam banyak hal. Ini kapasitas yang harus dipenuhi di tengah tekad dan semangat kita memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat,” ujar Ganjar dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko. 

Di samping itu Ganjar ingin sebagai personel penegak peraturan daerah, tidak bertindak kasar namun tetap tegas. Hal itu karena dalam tugas keseharian, aparat satpol pp selalu bersinggungan dengan masyarakat yang memiliki beragam watak dan kepentingan.

“Di sinilah profesionalitas ditunjukan, tegas itu penting tapi berbeda dengan kasar, tegas itu perlu tapi kasar harus dihindari. Lakukan dengan pendekatan humanis, kultural, sosiologis dan pahami agar terlihat simpatik di masyarakat,” katanya. 

Lebih lanjut, Ganjar mengatakan tugas Satpol PP juga memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat agar mengerti tentang regulasi serta peraturan. Dengan demikian, ia berharap agar pelanggaran terhadap perda dapat ditekan.  “Humanis artinya harus melakukan pelayanan terhadap mayarakat dan nguwongke liyan (menghargai nilai kemanusiaan),” pungkas Gubernur Jawa Tengah. 

Sementara itu Heru Sudjatmoko mengungkapkan, ajang jambore Satpol PP merupakan kesempatan bagi personel untuk meningkatkan kemampuan, kepekaan, kepedulian dan rasa empati atas kondisi masyarakat.  Adapun kegiatan Jambore Satpol PP ke 7 Jawa Tengah digelar selama empat hari sampai Kamis (31/8/2017) dan diikuti 360 orang. 
Editor : Akrom Hazami

Maryanto Ayem, Kambing yang Dijual di Jepara Tinggal 7 Ekor

Pedagang hewan kurban tengah memberi makan kambing yang siap dijual. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Lapak penjual hewan kurban di Kelurahan Demaan-Jepara mulai kebanjiran pembeli. Empat hari jelang Idul Adha, sudah puluhan kambing yang terbeli, Selasa (29/8/2017).

Hal itu diakui oleh seorang pedagang Maryanto. Menurutnya, ia dan rekan-rekannya telah membuka lapak di tanah lapang yang bersebelahan dengan Stadion Kamal Junaedi, sejak Minggu (27/8/2017).

“Sudah dari hari Minggu membuka lapak. Dari 53 kambing yang dibawa, sudah 46 yang terjual ekor sekarang tinggal 7 ekor,” tuturnya.

Ia mengatakan, kebanyakan pembeli berasal dari Kedung Malang, Mlonggo dan areal Kota Jepara. Saat membeli kambing, rata-rata konsumen biasanya menitipkan hewan kurban di lapaknya.

“Ini masih banyak karena titipan, nanti diambilnya pas hari Kamis (31/8/2017), berdekatan dengan hari raya,” katanya. 

Dari sisi harga, kambing kurban jantan dijual dari harga paling rendah Rp 2 juta dan termahal Rp 3,5 juta. 

Sementara itu pedagang lain Sutiyono menyebut hal serupa. Dari 40 kambing jenis Jawa Randu sudah setengahnya yang terjual.

Ia menyebut, akan membuka lapaknya hingga hari raya kurban. Hal itu karena pada hari tersebut biasanya masih ada orang yang mencari hewan sembelihan.

“Namun saya memperkirakan puncak pembeli nanti pada hari Rabu dan Kamis. Kalau yang beli ada yang langganan dari tahun lalu ada yang baru,” ucapnya.

Ditanya tentang kendala, ia menyebut belum ada. Hanya saja, kondisi cuaca yang panas menyebabkan ia harus sering memberi minum kepada kambing-kambingnya.

Editor : Ali Muntoha

Warga Karangrandu Jepara Berinisiatif Tutup Saluran Limbah Tahu-Tempe 

Warga saat melihat limbah Sungai Gede Karangrandu Jepara, Senin (28/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan warga Desa Karangrandu dan Pecangaan Kulon, Jepara,  jengah dengan bau busuk akibat limbah Sungai Gede Karangrandu, Senin (28/8/2017) sore. Terutama mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Mereka menutup saluran pembuangan limbah tahu dan tempe.

Muhammad Subhan warga Desa Karangrandu mengatakan, aksi murni berasal dari inisiatif warga.  “Ya itu berasal dari inisiatif warga Karangrandu dan Pecangaan Kulon, karena bau dan mencemari lingkungan,” katanya.

Menurutnya, penutupan saluran pembuangan sisa produksi tahu-tempe dilakukan dengan menggunakan campuran semen. “Semen lantas dimasukan ke saluran sedalam-dalamnya,” urainya dalam pesan singkat.

Diberitakan sebelumnya, sempat beredar kabar melalui perpesanan dari aplikasi Whats App bahwa Pemdes Karangrandu melakukan penutupan  saluran limbah tahu-tempe. Namun setelah dikonfirmasi, Kepala Desa Karangrandu Syahlan menampiknya. Akan tetapi dirinya mengakui sempat didatangi warga yang ingin menutup saluran limbah.

“Pemdes tidak pernah menyuruh ataupun melarang. Namun warga memang ada yang pernah kesini mengutarakan rencana penutupan saluran tahu-tempe,” tuturnya. 

Terpisah seorang pengusaha Ahmad Maryanto juga pernah mendengar desas-desus tersebut. Namun sampai Senin pagi, ia belum pernah mengetahui rencana tersebut betul-betul dilaksanakan. 

Dirinya juga mengklaim, bahwa tidak lagi membuang limbah tahu tempe ke sungai. Ia lebih memilih membuang sisa produksi dengan membuangnya ke sawah. Hal itu menurutnya lebih aman. 

Editor : Akrom Hazami

Puting Beliung Ancam Keselamatan Warga Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengingatkan warganya untuk waspada terhadap terpaan angin kencang ataupun puting beliung yang belakangan melanda.

Angin kencang berpotensi menyebabkan rumah roboh dan pohon tumbang, yang membahayakan warga.

“Sepekan terakhir di wilayah Jepara memang dilanda angin kencang. Hal itu menyebabkan potensi rumah roboh dan pohon tumbang,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Senin (28/8/2017). 

Menurut catatannya, sudah ada dua kasus rumah roboh yang terjadi di Jepara, akibat hantaman angin kencang. Pujo menyebut, selain faktor alam, robohnya rumah tersebut juga dipengaruhi kondisi rumah yang sudah lapuk.

Adapun laporan rumah ambruk karena diterpa angin kencang terjadi di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat tersebut angin merobohkan rumah milik Sutinah (60). Sementara itu di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, angin menghantam rumah milik Suadah (56) warga RT 11/4. 

“Kami juga menerima informasi terbaru, hari ini ada cabang pohon asam di SDN 1 Desa Pelang, Mayong patah, akibat terpaan angin yang cukup kencang. Hal itu sempat mengganggu arus lalu lintas,” ujar Pujo.

Editor : Ali Muntoha

Air Sungai Menghitam, Maryanto Pilih Buang Limbah Tahu Tempe ke Sawah

Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, mengangkut limbah mereka ke sawah, menggunakan tong plastic. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, kini memilih membuang limbah mereka ke sawah, daripada dialirkan ke alur Sungai Pecangaan yang juga melintasi Sungai Gede Karangrandu.

Selain menghindari dampak cemaran limbah, hal itu juga dilakukan untuk menhindari adanya potensi konflik dengan warga yang berada di sekitar bantaran sungai.

“Saat ini limbah saya bawa ke sawah milik ayah saya, kemudian di buang kesana. Baru beberapa hari ini. Saya angkut menggunakan tong plastik berukuran besar, lalu dinaikan menggunakan truk atau pikap,” kata Ahmad Maryanto, seorang perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan, Senin (28/8/2017). 

Ia mengatakan, langkah yang ditempuhnya saat ini merupakan inisiatif pribadi. Hal itu karena beberapa warga yang tinggal di sekitar bantaran sudah mengeluhkan bau yang ditimbulkan. 

Maryanto mengatakan, pembuangan limbah tahu-tempe di aliran sungai sudah dilakukan beberapa tahun terakhir.

Hal itu sebenarnya tak menjadi masalah kala saat musim hujan, karena air hujan melarutkan limbah. Namun di kala kemarau seperti, debit air yang menurun dan panas yang menerpa menjadikan sisa produksi tahu tempe tak bisa mengalir lancar. Akibatnya, bau pun meruap. 

Dirinya mengatakan, kapasitas produksi tahu tempe perhari mencapai 2 ton. Adapun limbah yang dihasilkan mencapai 15 tong besar. 

“Kalau kemarin diangkut pakai truk 15 ton bisa sekali angkut. Namun karena truknya saat ini sedang di bengkel, maka dari itu saya gunakan pikap, ya sekali angkut paling-paling tujuh tong harus bolak-balik,” terang dia.

Ditanya mengenai efek limbah yang dibuang ke sawah Maryanto meyakinkan bahwa limbah organik tersebut tak berpengaruh pada ekosistem sawah. Hal itu karena, limbah tahu tempe termasuk organik.

“Bahkan Pak Kades Pecangaan Wetan meminta supaya dibuang ke lahan sawah miliknya. Namun untuk saat ini saya buang ke sawah milik ayah saya dulu,” urainya. 

Terakhir ia mengharapkan agar pemerintah dapat membantu perajin tahu dan tempe dalam mengatasi limbah.

“Harapannya dikasih mobil tanki atau tankinya saja juga tidak apa-apa, setelah itu limbahnya tidak lagi dibuang ke sungai, tapi di tempat lain,” pinta Maryanto.

Editor : Ali Muntoha

Beredar Kabar Saluran Limbah Industri Tahu-tempe ke Sungai ‘Hitam’ Jepara Ditutup, Ini Kebenarannya

Kondisi Sungai Karangrandu Jepara yang airnya menghitam akibat pencemaran. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Belum tuntasnya penanganan limbah yang mengalir di alur Sungai Gede Karangrandu, Jepara, yang airnya menghitam menjadi bola liar.

Belakangan muncul pesan melalui aplikasi perpesanan What’s App bahwa Pemerintah Desa Karangrandu menutup saluran pembuangan limbah dari perajin tahu-tempe yang mengarah ke sungai. 

Berita Gembira…!!! Baru saja aku diberitahu bpk maskuri ladu, bhw corongan limbah tahu/tempe sebagian besar sdh disumpal pakai semen oleh tem pemdes Karangrandubersama dengan warga pecangaan kulon yang terkena dampak limbah. Dan selebihnya yang belum akan segera disumpel lagi. Demikian harap maklum. Alhamdulillahi rabbil alamin…Terimakasih Pak petinggi Karangrandu. Terimakasih pak Maskuri dan teamnya…Terimakasih warga Pecangaan kulun yang turut serta mbunteti paralon limbah…!!!, tulis pesan yang dikirimkan oleh akun yang bernama Musyafak pada grup perpesanan WA Jepara Berintegritas, Minggu (27/8/2017) malam.

Menerima informasi tersebut, MuriaNewsCom berusaha mengkroscek pada sumber pengirim dan menghubungi melalui nomor yang tertera. Namun saat dihubungi, nomor tersebut tidak aktif.

Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, menampik keras kabar tersebut. Ia menyebut pihaknya selaku pemerintah desa tak pernah melakukan aksi menutup saluran limbah tahu tempe.

“Hal itu tidak benar, kami pemerintah desa tidak pernah melakukan hal itu. Tidak ada perintah atau seruan menutup saluran limbah, yang mengarah ke sungai, yang juga mengalir ke Sungai Gede Karangrandu,” tegasnya ditemui di ruangan kerjanya, Senin (28/8/2017). 

Namun demikian, ia mengakui pernah ada warga yang sempat mengutarakan berniat menutup saluran limbah tahu tempe. Akan tetapi dirinya hanya mendiamkan, tidak mengiyakan juga tidak melarang.

“Warga dalam keadaan terganggu, karena kondisi sungainya tercemar menjadi hitam dan berbau. Memang pernah ada warga yang bilang mau menutup saluran limbah, namun saya tidak menging (melarang) apalagi ngongkon (menyuruh). Informasinya ada yang di-bunteti enam atau berapa, tapi saya tidak tahu kepastian itu,” imbuh dia. 

Menurutnya, sebagai pemerintah desa ia berusaha tidak memihak. Ia memahami perasaan warganya yang merasa terganggu akan limbah, namun dirinya juga tidak bisa bergerak sendiri, karena Pemkab Jepara sudah turun tangan.

Syahlan memastikan, akan segera memanggil orang yang mengirimkan pesan tersebut. Ia mengaku sudah mengetahui siapa orang yang melakukan hal itu.  “Ini nanti dia akan kami panggil ke sini,” urainya. 

Dirinya berharap kepada Pemkab Jepara  segera ada penuntasan akan permasalahan aliran limbah di Sungai Gede Karangrandu. 

Terpisah seorang perajin tahu tempe Ahmad Maryanto, mengaku belum tahu akan adanya aksi tersebut. “Nek kabarnya begitu, tapi kalau ada atau tidaknya aksi itu (penutupan saluran limbah dengan semen) sejauh pengetahuan saya belum ada,” kata warga Pecangaan Wetan itu. 

Adapun, lokasi perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan memang berdekatan dengan alur sungai. Mereka memang terbiasa membuang limbah tahu ke sungai. Meski demikian, akhir-akhir ini Maryanto mengaku sudah tak membuang limbahnya ke sungai.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Gede Karangrandu menjadi hitam dan berbau sebulan belakangan. Dari hasil laboratorium, sungai tersebut tercemar zat Fenol dan BOD-COD. Langkah sementara telah diambil pemkab Jepara dengan melakukan pembersihan alur sungai. Namun seminggu setelah itu, air sungai tetap menghitam dan bau.

Editor : Ali Muntoha

Indonesia Pusaka Bergema di GBK Usai Laga Persijap vs Persibat

Pemain Persijap berkumpul di tengah lapangan membentuk lingkaran dan suporter menanyikan lagu Indonesia pusaka. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Suporter Persijap (Banaspati, Jetman dan CNS) menyanyikan Indonesia Pusaka dan menyalakan lampu sorot yang ada di handphone.

Hal ini terjadi setelah Laskar Kalinyamat tidak terima akan keputusan kontroversial wasit Supriawan yang menghadiahkan penalti bagi tim tamu pada injury time, saat laga Persijap vs Persibat, Minggu (27/8/2017).

Diberitakan sebelumnya, pertandingan Persijap melawan Persibat Batang pada lanjutan laga Liga 2 Grup 3, berakhir tanpa peluit panjang. Lantaran, tim tuan rumah Laskar Kalinyamat tak terima keputusan wasit yang memberikan hadiah penalti bagi Laskar Alas Roban. 

Sempat protes, akhirnya tim Persijap pun walk out dalam keadaan unggul 2-1. 

Setelah itu, Persijap yang kini menghuni papan bawah dengan mengoleksi 12 poin (sebelum bermain dengan Persibat) berkumpul di tengah lapangan. Mereka membentuk formasi melingkari garis tengah lapangan.

Sementara ratusan fans yakni Barisan Suporter Persijap Sejati (Banaspati), Jepara Tifosi Mania (Jetman) dan Curva Nord Syndicate (CNS) tetap duduk di tribun sambil menyalakan lampu sorot telepon genggam. Sesaat kemudian terdengar lagu Indonesia Pusaka yang diciptakan oleh Ismail Marzuki.

 

Indonesia Tanah Air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap di puja-puja bangsa,” nyanyian tersebut bergema. 

 

Pelatih Persijap Carlos Raul Sciuccati pun sempat menitikan air mata melihat tindakan fans. Ia menyatakan bangga dan terharu akan solidaritas dan perbuatan penggemar yang tidak ricuh.  “Hari ini kita menjadi satu,” ucapnya.

Pantauan MuriaNewsCom, sempat terlihat adanya api namun demikian hal itu dapat segera dikendalikan oleh petugas polisi.

Editor : Ali Muntoha

Persijap Bakal Laporkan Kepemimpinan Wasit Supriawan

Pelatih Persijap Carlos Raul Sciucatti memprotes kebijakan wasit memberi penalti kepada Persibat Batang. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Manajemen Persijap tidak terima dengan keputusan wasit pemimpin pertandingan melawan Persibat, Supriawan yang memberikan hadiah penalti kepada tim tamu.

Pertandingan yang dilangsungkan di Stadion Gelora Bumi Kartini itu Minggu (27/8/2017), berakhir dengan walk outnya Pemain Laskar Kalinyamat pada kedudukan unggul 2-1. 

Adapun tim wasit yang dikepalai oleh Supriawan itu, beranggotakan Nur Wakhid Romdoni dari Batam, Agus Kasiyanto dari Pasuruan, dan Akbar yang bertindak sebagai wasit cadangan. 

Manajer Tim Persijap Esti Puji Lestari mengatakan, pihaknya tidak menerima keputusan yang dilakukan oleh wasit asal Malang tersebut. Menurutnya, keputusan itu sangatlah tidak adil, karena menurutnya pemainnya tidak melakukan pelanggaran di kotak penalti.

“Kinerja wasit dan perangkat pertandingan sangat buruk. Saya tidak terima dan akan saya laporkan. Wasit tugasnya harus jaga keadilan dong,” katanya. 

Ia menyebut, timnya beberapa kali menerima keputusan yang tidak adil, bukan saja dipertandingan tersebut. Esti pun mengaku telah melaporkannya, namun hingga kini pihaknya belum juga menerima keputusan.

Manajer Persijap Esti Puji Lestari sedang berbicara pada pemainnya, setelah permainan melawan Persibat Batang dihentikan pada menit ke 93. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Sementara itu Pelatih Persijap Carlos Raul Sciuccati tak mau mengomentari lebih lanjut akan pertandingan tersebut. Namun ia mengaku seluruh suporter dan penonton mengetahui apa yang terjadi pada saat injury time dimana pemain Persibat jatuh di kotak penalti Persijap. 

“Belum ada keputusan dari wasit. Namun ini luar biasa tanpa mengerjai siapapun kita bisa mendapatkan hasil seperti ini. Tiga penonton (Suporter Persijap, CNS, Banaspati dan Jetman) hari ini menjadi satu, hari ini sangat luar biasa, suporter satu tujuan,” tegasnya, sambil menahan haru.

Baca juga : Geger…Persijab Walk Out Saat Lawan Persibat Meski Sudah Unggul

Terpisah, Pelatih Persibat Daniel Roekito mengaku kecewa akan pertandingan hari ini. Ia menyebut, semua keputusan wasit haruslah dihormati dan dilaksanakan.

“Bingung, keputusan wasit kan jelas. Kalau seperti ini tanya saja Pengawas Pertandingan. Namun apapun itu keputusan wasit harus dieksekusi kalau tidak ya serahkan kepada official. Langkah ke depan kita tunggu saja, kita juga melakukan protes bahwa hal itu (penalti) harus dieksekusi.  Namun tidak dilanjutkan demi keamanan wasit ya selesai sudah. Wong itu jelas pelanggaran pemain saya juga merasa dilanggar sedang menguasai bola,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Geger…Persijap Walk Out Saat Lawan Persibat Meski Sudah Unggul

Petugas keamanan mengungsikan wasit karena pertandingan antara Persijap Jepara vs Persibat Batang semakin ricuh. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pertandingan Persijap vs Persibat di Stadion Gelora Bumi Kartini, Minggu (27/8/2017), berakhir tanpa peluit panjang.

Hal itu karena kontroversi keputusan wasit yang memberikan hadiah penalti di menit akhir pertandingan, dalam kondisi tim tuan rumah unggul 2-1. Tak terima dengan keputusan wasit, Laskar Kalinyamat pun walk out.

Babak pertama Laskar Kalinyamat kebobolan terlebih dahulu di menit 28. Keunggulan sementara bagi Persibat itu dicetak oleh Hapidin, yang menyepak bola dari tendangan sudut. 

Proses gol terjadi saat  Hapidin menendang dari sisi kiri pertahanan Persijap itu, sempat ditepis oleh penjaga gawang Amirul Kurniawan. Namun sayang antisipasi yang dilakukannya, justru membuat si kulit bundar bersarang di gawangnya. 

Sementara Persijap yang berusaha membobol pertahanan tim tamu, tak bisa menceploskan satupun gol. Hingga wasit Supriawan meniup peluit jeda babak pertama, kedudukan unggul bagi tim tamu Persibat. 

Babak kedua dimulai, Persijap Jepara terus berusaha menekan pertahanan Persibat. Hingga menit di 51, Tommy Oropka berhasil membobol gawang Laskar  Alas Roban.

Gol berawal dari kemelut di depan gawang, sesaat setelah sepakan pojok yang dilepaskan oleh Adit Wafa.  Bola yang disambut oleh sundulan kepala Abdul latif Hasim, terdampar di kaki Tommy Oropka. Pemain asal Papua ini lantas mengarahkan tendangan lemah ke sisi kiri gawang Muh Sendri Johansyah, dan gol. Skor imbang. 

Di menit ke 62, Tommy kembali mencatatkan namanya di papan skor. Bola yang ditendang oleh penjaga gawang Persijap Amirul Kurniawan, melambung jauh dan disambut oleh pemain berambut jambul itu. Ia lolos tanpa kawalan ketat dan menceploskan bola. Skor 2-1, Laskar Kalinyamat unggul. 

Petaka bagi Persijap terjadi pada menit-menit akhir pertandingan. Pemain nomor 32 Persibat, Ishak Yustinus Mesak Djober terjatuh di kotak penalti, akibat singgungan dengan pemain Persijap Syarif Wijianto. 

Wasit Supriawan kemudian memberikan kartu kuning, namun belum jelas ditujukan kepada siapa. Saat itulah keadaan lapangan pun ricuh. Tim Persijap mengklaim pemainnya tak melakukan pelanggaran, dan melakukan sapu bersih. Namun wasit bersikukuh.

Baca juga : Persijap Bakal Laporkan Kepemimpinan Wasit Supriawan

Keadaan pun semakin riuh dengan protes yang dilancarkan oleh  tim pelatih Persijap Carlos Raul Sciucatti. Adu argumen pun sempat terjadi, hingga tim tuan rumah memberikan bukti berupa rekaman pertandingan untuk diperlihatkan kepada tim wasit. 

Akan tetapi titik temu tak terjadi. Persijap akhirnya walk out pada menit ke 93. Sedangkan tim Persibat bersama wasit kembali le lapangan dan hendak mengeksekusi penalti.

Namun hal itu dibatalkan, karena keadaan stadion semakin ricuh. Akhirnya petugas keamanan mengungsikan wasit dan dibawa pergi menggunakan kendaraan lapis baja meninggalkan arena pertandingan.

Editor : Ali Muntoha

Bilang Pengen Jadi Hacker, Santri di Jepara Ini Diberi Jam Tangan Spesial dari Ganjar

Fikri Muhammad Yusuf (kiri) menunjukkan jam tangan pemberian Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berfoto bersama orang nomor satu di Jateng itu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Fikri Muhammad Yusuf, santri mahasiswa di Pondok Pesantren Mahat Ali Balekambang, Jepara, Sabtu (26/8/2017) mendapat hadiah spesial dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Spesial karena, hadiah yang diberikan yakni jam tangan koleksi Ganjar yang saat itu dikenakannya. Jadi bukan jam tangan doorprize, melain jam digital bermerk Garmin. Penyebabnya, karena Fikri menyatakan ingin jadi hacker.

Ini terjadi ketika Ganjar melontarkan pertanyaan kepada Yusuf tentang bagaimana seorang santri seperti Yusuf melawan berkembangnya ujaran kebencian dan ajakan radikalisme yang merebak di sosial media.

Jawaban Yusuf justru kocak, dan membuat orang yang hadir di sarasehan pondok pesantren itu tertawa terbahak-bahak.

“Pertama-tama sebelum berbuat saya akan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Kedua saya akan meminta masukan pada para sesepuh dan juga pak Ganjar,” ujarnya yang kembali disambut tawa.

Ganjar pun menimpali. “Lho maksudku kamu, apa yang menurutmu bisa dilakukan,” kata Ganjar.

Beberapa sat Yusup berpikir, dan kemudian berteriak lantang ingin jadi hacker. “Dengan jadi hacker saya akan melawan dan menghancurkan situs dan akun penyebar berita hoax dan radikalisme,” tegasnya.

Berikutnya, Yusuf akan menggalang teman-temannya menjadi pasukan penyebar ujaran baik dan sopan di dunia maya. “Kalau ada yang bertengkar, kami akan menengahi dengan kalimat-kalimat islami dan sopan,” kata dia.

Ganjar mengacungi jempol. Ia meminta Yusuf berjanji benar-benar melakukan apa yang diucapkannya itu. “Yawes ini tak kasih jam, pas nggak bawa hadiah ya sudah ini saja,” kata Ganjar seraya mencopot jam tangan dari lengan kirinya.

Suasana berubah menjadi riuh. Ribuan santri bersorak dan bertepuk tangan. Yusuf senang bukan kepalang. Ia menerima jam digital merk Garmin berwarna hitam itu kemudian langsung mengenakannya di pergelangan tangan kiri. “Terimakasih pak gubernur,” katanya berulang-ulang.

Editor : Ali Muntoha

Persijap Yakin Bisa Rengkuh 3 Poin Di Laga Kandang Terakhir

Suasana latihan Persijap di Stadion GBK jelang laga melawan Persibat Batang. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Persijap Jepara menargetkan tiga angka saat laga terakhir di Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) melawan Persibat Batang, Minggu (27/8/2017) sore. Pelatih Tim Laskar Kalinyamat Carlos Raul Sciucatti optimistis dengan hal itu.

“Kami sangat antusias untuk dapat menang. Saya bilang ke rekan-rekan masih ada harapan dan pertandingan kali ini sangat penting sekali bagi kita,” ucapnya, Sabtu (26/8/2017).

Carlos mengungkapkan, semua anak asuhnya dalam keadaan siap tempur menghadapi tim yang sempat mengalahkan Persijap, 1-0 dikandang Stadion Mohammad Sarengat, Batang. Perlu diketahui, kini Persijap baru mengemas 12 poin. Sementara calon lawannya sudah mengumpulkan 18 poin.

Ditanya kehadiran Fisabillah eks pemain Persijap yang kini membela Persibat, ia mengaku tak khawatir. Hal itu karena pihaknya telah mengetahui gaya bermain dari pemain belakang itu.

“Tidak khawatir, kita ambil positifnya saja, kami sudah tahu kelemahan dan kapasitas dia bermain,” kata dia.

Terkait strategi, ia mengatakanan tak ada yang khusus. Pola permainan yang akan disuguhkannya serupa dengan apa yang diterapkan saat ia mulai menduduki kursi kepelatihan Persijap.

“Kita tidak tertekan, justru sangat termotivasi, ini laga terakhir dan kita bermain di kandang, ya semoga saja kita masih bisa bermain di babak playoff jika memenangkan pertandingan ini,” tutup Carlos.

Editor : Ali Muntoha

Warga Berdesakan Tonton Parade Seni Jawa Tengah di Jepara

Warga melihat parade seni budaya Jawa Tengah 2017 di Kabupaten Jepara, Jumat malam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Jepara antusias menyaksikan parade seni budaya 35 kabupaten/kota di wilayah setempat, Jumat (26/8/2017) malam. Diketahui, perhelatan tersebut merupakan bagian dari peringatan HUT ke 67 Provinsi Jawa Tengah.

Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Jateng Bambang Supriyono menjelaskan parade seni budaya ini merupakan suatu ikhtiar untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan persatuan. Di samping itu, kegiatan juga bertujuan meningkatkan kreatifitas seni dari masing-masing kabupaten dan kota di Jateng. 

“Total seniman yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 2000 orang. Mereka akan menampilkan materi khas, sesuai dari kabupaten atau kota masing-masing. Adapun parade ini akan menempuh jarak sekitar 2,5 meter melintasi Kota Jepara,” kata Bambang. 

Sementara itu, Heru mengatakan, kegiatan merupakan rangkaian HUT Jateng yang dibingkai dalam Pesta Rakyat Jateng. “Kegiatan itu akan digelar secara bergilir dan berpindah-pindah di setiap kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah,” kata Heru.

Pantauan MuriaNewsCom, semakin malam venue kian dipadati oleh penonton menyaksikan parade tersebut. Adapun parade melintasi Alun-alun Jepara, Jalan Ahmad Yani, Jalan Brigjend Katamso, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda sampai Gedung Wanita Jepara. 

Editor : Akrom Hazami

Pesta Rakyat Jateng Digelar di Jepara, Tingkat Hunian Hotel Meningkat

Wisatawan menikmati suasana di salah satu hotel di kawasan Bandengan, Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jepara Dodi Iskandar mengatakan, pihaknya mencatat telah terjadi peningkatan tingkat hunian hotel sejak Kamis-Sabtu (24-26/8/2017).

PHRI berpendapat, kenaikan tingkat hunian hotel karena adanya perhelatan akbar, Pesta Jateng 2017. Tidak heran jika tamu yang datang berasal  dari sejumlah kota dan kabupaten di provinsi ini. Baik itu dari kalangan pemerintahan, maupun dari warga biasa.

Dodi menyontohkan peningkatan okupansi mencapai 100 persen di Hotel D’Season. “Sebanyak 60 persen merupakan wisatawan yang mungkin sengaja berlibur di saat momen pesta rakyat tersebut. Sementara itu sisanya sebanyak 40 persen adalah pemesan kamar dari dinas-dinas di lingkungan Pemprov Jateng,” kata Dodi yang juga manajer hotel tersebut.

Meski terjadi kenaikan tingkat hunian hotel, bukan berarti tidak ada kamar. Dirinya memantau, ada beberapa kamar sejumah hotel yang masih tersedia di wilayah Bandengan. Wisatawan biasanya melakukan reservasi lebih dulu. PHRI memprediksi banyak pengunjung yang datang langsung, atau tanpa reservasi lebih dulu.

Pesta Rakyat Jateng 2017 dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-67 Provinsi Jawa Tengah dimulai pagi ini. Gelaran tersebut akan dibuka langsung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Sekadar informasi, Kabupaten Jepara terpilih sebagai tempat penyelenggaraan hari jadi Jawa Tengah sejak 25-27/8/2017. Penyelenggara telah menyiapkan empat lokasi kegiatan, yaitu Alun-alun Jepara ; Alun-alun Jepara II; Gedung Wanita Jepara; dan Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Ganjar Terperanjat Lihat Ukiran Wajahnya di Sandal Jepit

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menunjukkan sandal ukir bergambar wajahnya yang dibuat pemuda Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo cukup terperanjat mengetahui wajahnya tergambar di sandal jepit. Bahkan orang nomor satu di Jateng itu harus menghentikan langkahnya untuk melihat sandal itu, saat mengunjungi Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat HUT Jateng di Jepara, Sabtu (26/8/2017).

Dan ternyata, Ganjar bukan marah justru sangat girang. Ia bahkan memuji ukiran di sandal karya pemuda Jepara tersebut yang dipamerkan di stan Sandal Carving Jepara (Sacaje) itu. “Ha ha ha apik iki, kreatif. Sandal diukir,” seloroh Ganjar.

Mantan anggota DPR RI itu pun penasaran bagaimana cara membuatnya. Ia pun mendekat bertanya dengan M Nur Fawaid, perajin yang membuat sandal ukir tersebut.

Selain wajah Ganjar, Nur juga mengukir logo Jateng Gayeng. Satu desain lagi yang membuat Ganjar juga tertawa adalah sebuha sandal berukir tulisan “Sandal Gubernur”. Ganjar tertarik dan membeli beberapa pasang sandal tersebut.

“Tuku, tuku, kanggo souvenir,” kata gubernur berambut putih itu. 

Ganjar Pranowo memuji Nur sebagai perajin yang mampu melihat peluang dan berkreativitas tinggi. “Ini perlu didukung, mengerjakan barang yang tak disangka-sangka hingga memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.

Nur mengaku untuk membuat ukiran di sandal tak butuh waktu lama. Untuk ukiran sederhana, hanya dibutuhkan waktu tiga jam saja, sementara jika ukirannya rumit bisa sampai lima jam.

Untuk sepasang sandal, Nur menjual dengan harga Rp 25 ribu. Pembeli bisa memilih sandal yang sudah jadi atau memesan desain dan tulisan sendiri.

Karya Nur bukan saja unik tapi juga menggelitik. Simak misalnya sandal bertuliskan “Bojoku Ketikung”, “Ngopi Ngaji”, atau “Colong Mati”.

Ada juga produk dari beberapa sandal digabung menjadi jam dinding, papan nama, dan lambang klub sepakbola. Untuk jam dan hiasan dinding, Nur membanderol Rp 75 ribu.

“Harga bergantung kesulitan serta kerumitan ukiran. Tentu harga sandal ukir wajah beda dengan ukir tulisan,” terang Nur.

Ia mengaku, ide sandal ukir muncul ketika nyantri di sebuah pondok pesantren. Nur yang jengkel karena sandal jepitnya berkali-kali hilang, kemudian mengukir sandalnya sehingga beda dari milik teman-temannya.

“Awalnya asal bikin, asal beda agar mudah mengingat sandal saya. Pertama kali saya mengukir nama di sandal. Ternyata teman-teman suka dan minta diukirkan juga,” tuturnya.

Ketika permintaan semakin banyak, Nur mulai memasang tarif. Sejak 2013 ia membuka workshop bernama Sacaje.

“Itu setelah saya rasa ukiran sandal tersebut cukup rapi dan layak dijual,” terang warga Jalan Krajan RT 08/02 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara ini.

Editor : Ali Muntoha

Idul Adha Sudah Dekat, Tapi Pasar Pon Bangsri Kok Masih Sepi

Pedagang sapi di Pasar Pon Bangsri Jepara, mengeluhkan sepinya pembeli meski Hari Raya Kurban sudah dekat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Harga sapi dan kambing di Pasar Hewan “Pon” Bangsri sudah mulai merangkak naik. Namun demikian, para pedagang mengaku minat pembeli masih lesu, Sabtu (26/8/2017).

Sutoyo seorang pedagang sapi mengatakan, berdasarkan pengalamannya 20 hari menjelang Idhul Adha biasanya pembeli telah menyerbu dagangannya. Namun kini, hingga sepekan jelang hari raya kurban, ia mengeluh sepinya pembeli. 

“Pembelinya masih belum ada peningkatan. Saya belum tahu apa penyebabnya, mungkin karena kondisi ekonomi,” katanya. 

Ia mengatakan, harga sapi jualannya masih relatif terjangkau. Ia memperkirakan mendekati hari raya harga sapi bisa meningkat di atas Rp 20 juta. Untuk jenis sapi segon yang dipunyainya, dijual dengan harga Rp 19,5 juta.

“Kalau yang lebih kecil lagi ya harganya Rp 17,5 juta. Bergantung besar kecilnya sapi,” tuturnya. 

Hal serupa diungkapkan oleh pedagang Suwono. Menurutnya, harga sapi berada di kisaran 10-20 juta rupiah per ekor. 

Sementara itu harga kambing ditawarkan Rp 2-5 juta per ekor. Harga tersebut diakui oleh seorang pedagang Kasmuri selisih Rp 500 ribu dari hari biasa. 

“Sekarang harganya ya dua sampai lima juta rupiah untuk yang jantan. Kalau dibandingkan hari biasa ya kacek (selisih) Rp 200-500 ribu,” urainya.

Ia mengungkapkan, Kamis adalah hari terakhir pasaran. Kasmuri berharap dagangannya bisa laku dihari tersebut. “Nanti hari terakhir itu Kamis. Ya kalau bisa laku ya laku, kalau tidak ya tidak,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha