Wow…Ternyata Bibit Waluyo Masih Diharapkan jadi Gubernur Jateng

Mantan Gubernur Jateng Bibit Waluyo menunjukkan piala penghargaan saat masih menjabat sebagai gubernur. (dokumen)

MuriaNewsCom, Semarang – Data cukup mengejutkan muncul dari survei yang digelar PDI Perjuangan terkait Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng 2018.

Nama mantan Gubernur Jateng Bibit Waluyo masuk dalam hasil survei dan mendapatkan hasil tertinggi kedua setelah gubernur petahana Ganjar Pranowo.

Meskipun selisih elektabilitas antara Ganjar dengan Bibit Waluyo cukup lebar. Namun ini membuktikan jika ada warga Jateng yang masih menginginkan Bibit Waluyo kembali memimpin provinsi ini sebagai gubernur.

Tingkat elektabilitas tertinggi berdasar survei PDIP yakni Ganjar Pranowo sebesar 46,1 persen. Urutan kedua yakni Bibit Waluyo dengan angka hanya 7 persen.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jateng, Bambang Wuryanto menyebut, meski petahana masih menduduki posisi elektabilitas paling tinggi, tidak menutup kemungkinan calon lain bisa menyalip. Semua tergantung pergerakan mereka di lapangan untuk mengejar elektabilitas.

“Dulu Bibit Waluyo (pada Pilgub Jateng 2013) elektabilitasnya 62 persen saat Ganjar hanya satu digit. Semua bisa dilompati tergantung pergerakan di lapangan,” katanya.

Ia pun mempersilahkan seluruh bakal calon yang mendaftar di PDIP untuk berlomba-lomba meningkatkan elektabilitas. Terlebih masih ada cukup waktu untuk mengenalkan diri kepada masyarakat Jateng.

“Silakan meningkatkan elektabilitasnya. Semuanya masih satu digit (di bawah 10%). Tertinggi ke-dua Bibit Waluyo, itu pun cuma 7 persen,” ujarnya.

Lelaki yang akrab disapa Bambang Pacul tersebut mengaku masih membuka kran komunikasi dengan partai lain untuk berkoalisi.

Baca : Hanya 5 Orang Nyalon Gubernur Lewat PDIP, Takut Sama Ganjar?

Hanya saja, jika parpol lain meminta posisi calon wakil, maka komunikasi harus dialamatkan ke DPP PDIP. Karena menurutnya, seluruh keputusan soal pilgub menjadi kewenangan Ketua Umum Megawati Soekarno Putri.

”Kalau hanya dengan DPD tidak akan membuahkan hasil. Terlebih, rekomendasi yang biasa turun dari PDIP sepaket gubernur serta wakilnya,” terangnya.

Survei tentang elektabilitas ini nantinya yang akan menjadi salah satu dasar DPP PDIP untuk menentukan siapa pasangan yang bakal diusung.

Sementara itu, meski masuk dalam survei PDIP, namun hingga kini belum ada kabar kepastian Bibit Waluyo akan kembali mencalonkan diri.

Pada Pilgub Jateng 2013 lalu, Bibit Waluyo yang berpasangan dengan Sudijono Sastroatmodjo (mantan rektor Unnes) kalah telak oleh pasngan Ganjar-Heru Sudjatmoko dengan perolehan 48,82 persen.

Editor : Ali Muntoha

PKB Bakal Duetkan Dua Mantan Menteri untuk Lawan Ganjar di Pilgub Jateng

Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Marwan Ja’far dan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said.

MuriaNewsCom, Semarang – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memastikan serius untuk memasangkan dua mantan menteri, sebagai jago dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 mendatang. Langkah ini diambil untuk menandingi popularitas gubernur petahana Ganjar Pranowo.

Dua sosok itu yakni mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Marwan Ja’far dan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said. Marwan Ja’far merupakan salah satu kader terbaik PKB, sementara Sudirman Said juga telah rajin mendekati parpol-parpol agar mau mengusungnya dalam pilgub.

Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar memastikan, pihaknya serius untuk memasangkan dua tokoh tersebut. Keinginan ini dikatakannya usai menjadi pembicara kunci pada seminar nasional dengan tema “Penanaman Nilai Ideologi Pancasila” di kampus Universitas Diponegoro Semarang, Rabu (30/8/2017).

“Sementara yang menonjol Marwan dan Pak Sudirman, digabung saja,” kata Cak Imin, panggilan akrab Muhaimin Iskandar.

Menurutnya, PKB sudah berkomunikasi dengan parpol-parpol lain yang akan akan diajak untuk koalisi, tentang kemungkinan duet Marwan Ja’far dan Sudirman Said.

Ia mengakui, popularitas Ganjar Pranowo masih sangat tinggi. Oleh karenanya, PKB ingin menandingi dengan menduetkan dua mantan menteri yang namanya sudah dikenal secara luas tersebut.

Sementara itu, Hartono, Koordinator Tim Pemenangan Sudirman Said menyebut, belum ada kepastian mengenai rencana duet ini. Meski demikian menurut dia, kemungkinan itu bisa saja terjadi.

“Selama semuanya bisa jaga niat baik bersama dan ada kesamaan visi membangun Jateng menjadi lebih baik, kita terbuka dengan setiap kemungkinan,” katanya dikutip dari Antarajateng.com.

Editor : Ali Muntoha

Masih Ada Sejuta Warga Jateng yang Terancam Tak Bisa Nyoblos

Warga melakukan pencoblosan pada salah satu pesta demokrasi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Tingkat partisipasi pemilih dalam pelaksanaan Pilgub Jateng 2018 mendatang dikhawatirkan tak maksimal. Pasalnya, hingga kini masih ada sekitar satu juta warga Jateng yang belum memiliki KTP elektronik (E-KTP).

Padahal E-KTP digunakan sebagai dasar untuk menentukan daftar pemilih dalam pilgub. KPU Jateng memperkirakan jumlah pemilih pada Pilgub Jateng mendatang sebanyak 27.439.361.

Dari jumlah itu baru ada 26 juta calon pemilih yang sudah memiliki E-KTP. Selebihnya, warga sudah merekam namun belum mencetak E-KTP, dan sisanya merupakan warga yang merantau, atau belum memiliki E-KTP.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan, dan Capil Provinsi Jawa Tengah, Sudaryanto, menyebut 1 juta warga yang belum memiliki E-KTP ini merupakan warga yang memiliki hak pilih dalam Pilgub Jateng 2018.

Untuk masalah E-KTP yang belum tercetak, dalam September tahun ini aka nada pendistriobusian blanko E-KTP untuk masyarakat Jateng.

“Informasi yang saya dapatkan dari Pusat, September nanti lelang E-KTP selesai. Setidaknya ada 18,9 juta keping blanko bisa dibagikan ke seluruh Indonesia,” katanya pada wartawan.

Menurutnya, warga yang sudah melakukan perekaman dan belum mendapatkan E-KTP bisa menggunakan surat keterangan yang diberikan Dinas Kependudukan di daerahnya.

Sementara yang belum melakukan perekaman akan kembali dilakukan sosialisasi. Karena E-KTP menjadi syarat wajib masuk dalam DPS.

Hal tersebut tertuang dalam Undang-undang Nomor 10 tahun 2016, serta Peraturan KPU Nomor 4 tahun 2015 yang terakhir diubah menjadi Peraturan KPU Nomor 8 tahun 2016 tentang pemutakhiran data dan daftar pemilih.

“Kami sudah memerintahkan kepada Disduk Capil di kabupaten/kota untuk melakukan jemput bola dalam melakukan perekaman. Kita akan kejar agar semua warga yang sudah wajib memiliki KTP, untuk melakukan perekaman, sehingga hak pilihnya bisa digunakan. Sementara kami terus mendata, supaya dilaporkan kepada Mendagri untuk bisa diteliti dan dijadikan DP4,” tegas Sudaryanto.

Komisioner KPU Provinsi Jateng Bidang Pemutakhiran Data Pemilih, Muslim Aisha mengatakan, data pemilih di Jateng sebanyak 27.439.361 jiwa merupakan data pemilu terakhir yang dihimpun pihaknya.

Namun, jumlah pastinya masih dalam proses pendataan yang akan digelar pada 19 Desember 2017, dan akan disandingkan dan dicocokkan dengan DP4 dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

KPU Provinsi Jateng sendiri menjadwalkan melakukan tahapan pencocokan dan penelitian (coklit) daftar pemilih sementara (DPS) pada 19 Desember 2017.

Editor : Ali Muntoha

Soal Agama Masih Sensitif, Tapi Tak Bakal Laku Dijual di Pilgub Jateng

Foto : Merdeka.com

MuriaNewsCom, Semarang – Pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 dinilai tak akan seperti Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang begitu kuat berhembus dalam Pilkada DKI Jakarta, dinilai tak akan laku dijual di pesta demokrasi warga Jateng.

Pengamat politik dari Undip yang juga Direktur Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) Semarang, M Yulianto menyebut, meski persoalan agama dan keyakinan masih cukup sensitif, namun isu SARA tak bakal begitu mencuat.

Hal ini menurutnya, berdasar dari nama-nama yang muncul dalam kontestasi pilgub. Di mana sebagian besar figur yang muncul ke publik adalah tokoh-tokoh yang mempunyai keyakinan agama yang sama.

“Isu SARA sulit diangkat, terlebih jika melihat nama-nama figur yang kini muncul ke publik, baik untuk bakal calon gubernur maupun wakil gubernur karena memiliki keyakinan yang sama,” katanya.

Dari hasil survei yang dilakukan LPSI mengenai pemetaan perilaku pemilih, 46,6 persen menganggap agama dan keyakinan sebagai landasan memilih calon pemimpin.

Menurut dia, hal tersebut bisa jadi karena efek perilaku politik Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. “Pilkada DKI kemarin itu membunuh moral demokrasi sebab mengesampingkan integritas, kompetensi, seseorang dengan kepercayaan,” ujarnya.

Ia berharap, jika memang para kandidat nantinya tak membawa isu tentang SARA. Semisal, persoalan lingkungan, infrastruktur publik, dan kemiskinan. “Jangan soal keyakinan,” pintanya.

Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jateng Sriyanto Saputro juga mengharapkan hal serupa. Ia meminta semua parpol ikut mendorong agar pesta demokrasi lima tahunan bisa berjalan dengan baik, tanpa ada isu SARA.

“Sebaiknya kita bertarung secara sehat dan `fair` karena pilkada adalah sarana pesta demokrasi. Saya kira gak perlu membawa isu SARA, apalagi masyarakat Jateng juga sudah cerdas, gak bisa dikompor-kompori,” harapnya.

Ganjar Pranowo yang berencana maju kembali sebagai petahana berharap Pilgub Jateng mendatang tidak diwarnai isu SARA.

“Mudah-mudahan sih tidak ada isu SARA, terutama mereka yang trauma dengan di Pilkada Jakarta,” ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Editor : Ali Muntoha

Pilgub Jateng : Sudirman Said Berebut Rekom dengan 2 Pentolan Gerindra

Mantan Menteri ESDM Sudirman Said saat bertemu kepala desa se-Kabupaten Batang beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said berpeluang diusung Partai Gerindra sebagai calon gubernur dalam Pilgub Jateng 2018 mendatang.

Namun Sudirman harus bersaing dengan dua pentolan Partai Gerindra Jateng, untuk mendapatkan rekomendasi. Pasalnya, Ketua DPD Partai Gerindra Jateng, Abdul Wachid dan Wakil Ketua Gerindra Jateng, Ferry Juliantono juga punya ambisi yang sama.

Ketua Desk Pilkada DPD Partai Gerindra Jateng Sriyanto Saputra juga menyebut kandidat yang berpeluang untuk diusung dalam pilgub mengerucut tiga nama tadi.

“Sekarang mengerucut tiga nama. Dua dari internal Abdul Wachid dan eksternal Sudirman Said,” kata anggota DPRD Jateng itu, Senin (28/8/2017).

Sebelumnya menurut dia, ada lima nama yang dijaring Partai Gerindra untuk diusung. Dua nama lain yakni Kukrit Wicaksono (CEO Suara Merdeka) dan Rahayu Saraswati (model yang juga keponakan Prabowo). Namun dua nama tersebut menyatakan tidak tertarik untuk maju pilgub.

”Kami hormati dan menghargai langkah politik itu. Namun kami tak hanya berfokus saja pad atiga nama tadi, tapi juga berkomunikasi dengan parpol lain tentang figur yang akan diusung. Karena Gerindra harus berkoalisi,” terangnya.

Sebelumnya saat Sudirman Said bertandang ke Kantor Gerindra Jateng, Achmad Wahid memperkenalkan mantan menteri itu kepada para kader sebagai calon gubernur.

Menurutnya pertemuan Sudirman Said dengan kader Gerindra Jateng tersebut sudah melalui persetujuan Ketua DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“Ini adalah kesempatan, karena kader sudah banyak yang mendesak dan bertanya siapa yang akan diusung pada Pilgub Jateng. Nanti bisa juga Pak Sudirman bawa baliho atau gambar sehingga lebih mudah memperkenalkan,” katanya, Sabtu (12/8/2017) lalu.

Editor : Ali Muntoha

Pertama Kalinya DPS Pilgub Bakal Diuji Publik, Ini yang Ingin Diraih KPU

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 mendatang terdapat sejumlah hal yang baru. Salah satunya mengenai daftar pemilih sementara (DPS).

DPS ini nantinya tak hanya akan ditempel di tempat-tempat umum, melainkan juga dilakukan uji publik. Tujuannya, daftar pemilih tetap (DPT) pilgub nantinya benar-benar valid. Sehingga tingkat partisipasi dalam pilgub bisa maksimal.

Ketua KPU Jateng, Joko Purnomo mengatakan, dalam uji publik pemutakhiran DPS itu nantinya, warga akan dilibatkan. Seluruh kepala keluarga (KK) di Jateng akan dilibatkan untuk memeriksa DPS pada awal Desember 2017 mendatang.

“Paling tidak, kalau tidak 100 persen ya bisa 90 persen terlibat. Sehingga data lebih valid ketimbang data yang selama ini sering tertukar, karena aplikasi olah data di sistem,” katanya kepada wartawan.

Joko menyatakan, uji DPS ini bukan sekadar online atau dipasang nama pemilih, namun KK itu diundang dalam forum dan tanda tangah hadir sebagai bukti bertanggung jawab bersama atas uji publik DPS.

Selain itu menurut dia, pada Oktober hingga November akan dilaksanakan seleksi Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), dan Panitia Pemungutan Suara (PPS).

Dalam bulan November juga akan dilakukan penerimaan bukti dukungan warga bagi peserta yang maju melalui jalur idependen. Dalam pemetaan Pilgub secara keseluruhan, Joko mendata terdapat 64.171 tempat pemungutan suara (TPS), 573 PPK, dan 8.559 PPS.

“Soal TPS di rumah sakit, kami tidak hadirkan TPS khusus. Namun biaya operasional untuk TPS terdekat rumah sakit akan dilaukan, karena di RS tidak ada data dasar, namun akan diusahakan terenuhi semua hak suara masyarakat. Dulu 10 TPS terdekat di RSUP Kariadi dikerahkan,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Jika Tak Diberi Rekomendasi dari PDIP, Ini yang Bakal Dilakukan Bupati Musthofa

Bupati Kudus Musthofa foto selfie bersama para PKL se-Jateng di tengah kegiatan Gebyar PKL 2017 di kota setempat, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Bupati Kudus Musthofa merasa yakin akan mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan sebagai calon gubernur dalam Pilgub Jateng 2018. Meski demikian, Musthofa menyebut dia tak bakal jadi “kutu loncat” jika rekomendasi tak diberikan kepadanya.

Bupati Kudus dua periode ini memastikan, dia tak akan mengikuti jejak politisi lain yang pindah ke partai lain, karena tak mendapat rekomendasi.

Musthofa memastikan akan tetap berada di partai banteng, karena menurutnya ia adalah petugas partai yang siap menjalankan apapun tugas yang diberikan. “Tidak akan lari ke sana ke mari. Saya patuh pada yang diperintahkan partai,” katanya di Semarang, Kamis (24/8/2017).

Pada Pilgub Jateng 2013 lalu, mantan Bupati Sumedang Don Murdono menyeberang karena tak mendapat rekomendasi. Ia kemudian berpasangan dengan Hadi Prabowo dan diusung sejumlah partai, meski tak berhasil memenangi pilgub.

Jejak ini tak akan diikuti Musthofa. Ia menceritakan, selama ini sudah tiga kali mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan, yakni pertama pada pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kudus pada 2003 meski tidak menjadi pemenang.

Namun, ia tetap setia dengan PDI Perjuangan hingga mendapatkan rekomendasi kedua pada Pilkada Kudus 2008 yang berhasil dimenanginya, dan ketiga pada pilkada 2013 yang membuatnya menjadi Bupati Kudus sampai sekarang.

“Kalau nanti (di Pilgub Jateng 2018) tidak mendapatkan rekomendasi, ya tidak apa-apa. Politik itu bagi saya adalah amanah. Sudah 10 tahun ini jadi Bupati Kudus,” katanya.

Ketua DPC PDIP Kudus itu mengakui, meski pasrah pada keputusan pimpinan partai tentang siapa yang akan diusung dalam Pilgub Jateng mendatang, ia tetap berikhtiar supadaya mendapat rekomendasi.

“Saya siap melaksanakan perintah. Ya, saya tetap ikhtiar bagaimana supaya dapat rekomendasi, namun kalau tidak dapat rekomendasi, ya, enggak apa-apa. Secara struktural ikuti aturan partai,” pungkasnya.

Musthofa menjadi salah satu kepala daerah dari PDIP yang mengikuti penjaringan calon gubernur yang dibuka DPD PDIP Jateng beberapa waktu lalu.

Editor : Ali Muntoha

Anggaran Pilgub Jateng 2018 Nyaris Rp 1 Triliun

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Dana yang akan dikeluarkan Pemprov Jateng untuk menggelar Pemilihan Gubernur (Pilgub) pada 2018 nyaris menembus angka Rp 1 triliun.

Dalam naskah perjanjian hibah daerah (NPHD), dana yang diberikan Pemprov Jateng ke KPU untuk pelaksanaan pilgub sebesar Rp 992 miliar lebih.

Dana tersebut 30 persen lebih besar dari dana yang pelaksanaan Pilgub Jateng 2013 lalu. Peningkatan dana tersebut, karena adanya perubahan aturan, salah satunya tentang kampanye calon gubernur dan wakil gubernur yang menjadi tanggungjawab KPU.

“Jelas naik, ada perubahan undang-undang untuk mengamanatkan alat peraga kampanye dibiayai negara,” kata Diana Ariyanti, Komisioner KPU Jateng Divisi Sosialisasi, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia.

Meski demikian menurut dia, dari dana sebesar itu paling banyak nantinya tersedot untuk pembiayaan di tempat pemungutan suara. Persentasenya mencapai 70 persen, dan 20 persen untuk panitia pemungutan suara (PPS).

Pada Pilgub Jateng 2018 mendatang, jumlah TPS nantinya sebanyak 64.171 TPS yang tersebar di 35 kabupaten/kota, 573 kecamatan, dan 8.559 desa/kelurahan.

Ia menyatakan, KPU akan segera menyosialisasikan tahapan-tahapan Pilgub Jateng dan pilkada serentak di tujuh kabupaten/kota. Sosialisasi akan dimulai dengan peluncuran maskot dan jingle Pilgub Jateng 2018, yang akan dilaksanakan Selasa (29/8/2017) di Lawang Sewu Semarang.

KPU Jateng juga akan segera melakukan pembentukan badan penyelenggara, yakni panitia pemilihan kecamatan (PPK) dan panitia pemungutan suara (PPS) di tingkat desa/kelurahan. Rekrutmen petugas badan penyelenggara dilaksanakan 12 Oktober 2017 hingga 11 November 2017.

Setelah pembentukan badan penyelenggara selesai, KPU Jateng akan memulai tahapan pemutakhiran data pemilih pada 11 Desember 2017 hingga Februari 2018. “Proses pemutakhiran data pemilih itu tahapannya dari data pemilih sementara (DPS) dan DPS hasil perbaikan,” ujarnya.

Diperkirakan jumlah data pemilih tetap (DPT) Pilgub Jateng 2018 sekitar 27 juta orang lebih berdasarkan data dari kabupaten/kota dan pencocokan serta penelitian DPS.

Editor : Ali Muntoha

Begini Cerita di Balik Tokoh Semar yang jadi Maskot Pilgub Jateng 2018

Foto : Merdeka.com

MuriaNewsCom, Semarang – Jika pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2013 lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggunakan tokok Werkudara sebagai maskot, pada Pilgub 2018 mendatang, kembali tokoh pewayangan yang dipilih. Punakawam paling utama, yakni Semar menjadi maskot dalam pilgub kali ini.

Dalam maskot ini, sosok Semar digambarkan memiliki ciri-ciri yang kharismatik, tersenyum, mata berkaca-kaca, rambut kuncung, tubuh gemuk (gendut), memakai sinjang atau jarik lurik Parangkusumaraja, kaki memakai ‘selop’, dan satu tangan menengadah ke atas.

KPU Jateng tak sembarangan memilih tokoh ini sebagai maskot. Ada makna dan filosofi tersendiri sebelum akhirnya dipilih sosok tersebut.

Ketua KPU Jateng Joko Purnomo mengatakan, dengan dipilihnya tokoh Semar atau yang juga disebut ‘Ki Lurah Badranaya’ dengan segala karakternya, diharapkan penyelenggaraan Pilgub Jateng dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat Jawa Tengah.

Kata ’badranaya’ berasal dari kata ‘bebadra’ yang artinya membangun sarana dari dasar dan ‘naya’ artinya nayaka yang berarti utusan.

“Maksudnya, mengemban sifat membangun melaksanakan perintah Tuhan demi kesejahteraan manusia. Semar juga berarti ‘Sang Penunjuk Makna Kehidupan,” katanya.

Secara fisik, tokoh semar tidak laki-laki dan tidak pula perempuan. Ia berkelamin laki-laki tapi juga memiliki payudara seperti perempuan. Ini adalah simbol dari laki-laki dan perempuan. Semar berambut kuncung dan berwarna abu-abu seperti anak muda yang memiliki semangat serta pribadi pelayan.

“Itulah kenapa salah satu tangan Semar menengadah ke atas, menggambarkan pelayanan senantiasa melayani umat tanpa pamrih untuk melaksanakan ibadah sesuai perintah Tuhan,” ujarnya.

Dalam pilgub kali ini KPU memilih tagline ‘Becik Tur Nyenengke’ atau yang berarti baik dan menyenangkan. Harapanya, Pilgub dan Pilkada serentak 2018 menjadi saat yang menggembirakan bagi seluruh masyarakat Jawa Tengah.

“Karena masyarakat telah diberikan wewenang sebagai hakim untuk secara merdeka memilih dan memutuskan Pimpinan Jawa Tengah untuk lima tahun yang akan datang,” jelasnya.

Dia mengatakan pemilihan dan penetapan maskot Pilgub Jateng 2018 itu berdasarkan Keputusan KPU Provinsi Jateng Nomor 3/PP.02.3-Kpt/Prov/VII/2017.

“Dalam penyelenggaraan Pilgub Jateng diperlukan sebuah maskot sebagai media guna mempromosikan, menyemarakkan, dan memberi semangat bagi pelaksanaannya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

PKS Jateng Bidik Pemilih Pemula untuk Menang di Pilgub

Fris Dwi Yulianto, Ketua Gema Keadilan Jateng. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan menggeber mesin politiknya untuk memenangkan calon yang bakal diusung dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018. Terlebih pilkada serentak pada tahun itu juga akan menjadi pemanasan dalam menghadapi pemilihan umum 2019 mendatang.

Salah satu strategi yang digunakan yakni membidik para pemilih pemula dan pemuda, yang jumlahnya cukup banyak.  

Partai ini menyiapkan ruang sebagai rumah bagi para pemuda beraktualisasi dan berkarya. Hal ini ditegaskan Fris Dwi Yulianto, Ketua Gema Keadilan Jateng.

Sebagai organisasi sayap PKS, ia mengaku siap memberikan fasilitas- asilitas sebagai bentuk dorongan kepada pemuda di Jateng untuk berkarya dan mengabdi bagi Indonesia. Beberapa pelatihan penunjang dunia kreativitas, kemandirian dan jiwa sosial pemuda akan diselenggarakan Gema Keadilan Jateng.

“Selain pelatihan, kalau ada teman-teman komunitas yang hendak mengadakan agenda dan butuh ruangan. Silahkan bisa mengadakan di Rumah Khidmat, Insya Allah akan difasilitasi,” katanya dalam siaran pers yang diterima MuriaNewsCom.

Ia menyatakan, Gema Keadilan siap kawal dan amankan calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung PKS. Ia meyakini proses penentuan cagub yang dilakukan Dewan Pengurus Wilayah PKS Jateng telah sesuai dengan arahan PKS Pusat.

Serta telah memalui mekanisme demokrasi didalam dengan menyelenggarakan Pemira dan musyawarah.

Selain itu, Ketua Bidang Kepemudaan DPW PKS Jateng Ali Umar Dhani menerangkan bahwa saat ini proses penentuan cagub dan cawagub dari PKS masih dalam komunikasi serta musyawarah.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Gema Keadilan yang telah berkomitmen untuk membantu PKS, siapapun yang maju. Proses (penentuan cagub) masih berlanjut, mohon doanya,” terangnya.

Beberapa waktu yang lalu DPW PKS Jateng telah menyelenggarakan pemilihan internal Raya (Pemira) oleh kader-kader PKS di seluruh Jateng. Saat ini, telah masuk pada tahapan musyawarah dan komunikasi dengan beberapa tokoh serta DPP untuk nantinya dimajukan sebagai cagub dan cawagub dari PKS.

Editor : Ali Muntoha

Pengen Nyalon Gubernur Tanpa Melalui Parpol? Begini Caranya

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Persiapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2018 sudah ramai dilakukan. Partai-partai politik sudah melakukan penjaringan untuk mencari sosok yang akan dijagokan.

Selama ini partai politik memang jadi kendaraan yang dianggap paling efektif untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Namun selain melalui partai politik, ada juga jalur yangbisa digunakan, yakni melalui jalur independen.

Ketua KPU Jateng Joko Purnomo mengatakan, pendaftaran untuk calon independen akan dimulai pada Januari 2018 mendatang. Menurutnya, sudah ada kelompok masyarakat yang datang ke KPU untuk berkonsultasi mengenai masalah ini.

“Ada kelompok dari Jepara, Tikus Pithi datang cari info dan mau daftar dari calon independen. Jadi sejauh ini yang tanya secara lugas baru satu,” kata Joko kepada wartawan.

Menurutnya, untuk bisa mendaftar sebagai calon independen, calon harus memenuhi persyaratan dukungan sebanyak 1,7 juta KTP. Dukungan ini minimal harus berasal dari 18 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Bukti dukungan ini harus diserahkan sebelum masa pendaftaran dimulai, yakni pada Desember 2017.

Setelah mendaftar dan mengumpulkan bukti dukungan, KPU akan melakukan verifikasi sebelum dinyatakan lolos atau tidak untuk ikut bertarung dalam Pilgub Jateng 2018.

Masa kampanye sendiri akan berlangsung dari 15 Februari hingga 23 Juni 2018. Pencoblosan dilaksanakan Rabu Pon 27 Juni 2018.

Joko menyebut, masa kampanye Pilkada serentak 2018 akan melewati bulan Ramadan dan libur Lebaran. Namun apakah nantinya apakah libur Lebaran nasional akan dilarang berkampanye, pihaknya masih menunggu keputusan dari KPU Pusat. “Kalau saat Lebaran dilarang, ya tidak boleh kampanye,” terangnya.

Saat Ramadan menurutnya, para calon nantinya tetap boleh berkampanya. Hanya saja pihaknya tetap akan membatasi tema kampanye. Dalam waktu dekat pihaknya akan meluncurkan tahapan Pilkada pada 29 Agustus. Termasuk, peluncuran jingle Pilkada dan maskot Pilkada 2018.

Editor : Ali Muntoha

Mantan Menteri ESDM Diberi Mandat untuk Perjuangkan Jateng

Mantan Menteri ESDM Sudirman Said saat berpidato dalam acara Silaturahmi Warga Jateng di Balaiurang Universitas PGRI Semarang, Minggu (20/8/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menerima mandat dari ribuan warga Jawa Tengah untuk memperjuangkan kemajuan provinsi ini menjadi daerah yang bermartabat.

Mereka berharap jika Sudirman Said maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 mendatang dan terpilih, Jawa Tengah bakal bisa maju dan mengentaskan kemiskinan. Ini terjadi dalam acara Silaturahmi Warga Jateng di Balaiurang Universitas PGRI Semarang, Minggu (20/8/2017).

Dalam pandangan Sudirman Said, Jawa Tengah punya alasan penting untuk diperjuangkan. Menurutnya, Jawa Tengah adalah provinsi yang penting. “Tanpa Jawa Tengah Indonesia tidak akan ada,” katanya.

Ia menyatakan, segala kekurangan yang dimiliki Jateng adalah ruang yang besar untuk perbaikan dan pertumbuhan. Itulah salah satu alasan mengapa dirinya mau menerima mandat dari warga Jateng.

Alasan lainnya yakni, dia merasa memiliki utang kepada negara yang harus dibayar. Beasiswa pendidikan yang diterimanya berasal dari negara, sehingga membuatnya dientaskan dari jurang kemiskinan dianggapnya sebagai utang yang harus dibayar.

“Kalau tidak dientaskan negara, saya tidak akan sampai pada titik ini, dan bisa menempati beragam posisi yang strategis di negeri ini,” terang dia.

Alasan berikutnya adalah keinginannya mengembalikan politik seperti pada masa perjuangan dulu. Di mana politisi umumnya adalah orang-orang yang berintegritas, jujur, dan berjuang semata untuk kemajuan bangsa. “Tiga alasan itu yang membuat saya mau menerima amanat ini,” kata Pak Dirman.

Ia menyebut, politik hari ini diisi oleh tokoh politik yang korup. Ini berbeda dengan dahulu yang menurutnya banyak tokoh politik yang jujur.

Dalam acara itu, Sudirman Said juga menegaskan bahwa Jawa Tengah harus dipimpin oleh orang yang baik. “Jika ada yang lebih baik untuk Jawa tengah kita dukung,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Rustriningsih Malu-malu Pengen Kembali Nyalon Gubernur

Mantan Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Mantan Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, tampaknya masih malu-malu menyatakan niatnya merebut kursi gubernur di Pilgub Jateng 2018 mendatang. Meski belum secara tegas menyatakan maju atau tidak, namun Rustri menyebut masih ada cukup waktu untuk memikirkan langkahnya.

Terlebih menurut dia, proses untuk pendaftaran calon gubernur di KPU Jateng masih lama. Sehingga masih ada waktu yang panjang baginya untuk memikirkan hal tersebut.

“Justru proses masih panjang, masih ada waktu untuk berpikir mempersiapkan diri. Dan pada saatnya nanti bisa dilihat arahnya ke sana atau tidak,” kata Rustri usai mengikuti upacara HUT RI di Lapangan Pancasila Simpanglima, Kamis (17/8/2017).

Mantan politisi PDI Perjuangan ini menyebut, langkah untuk mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah harus berasal dari hati nurani, bukan hanya berdasarkan minat semata.

“Kalau saya menggarisbawahi, mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah itu, bukan didasarkan pada minat atau tidak. Tapi ini sebuah panggilan yang dirasakan seseorang untuk ikut berpartispasi dalam proses regenarasi dalam kepemimpinan,” ujarnya.

Terkait kabar adanya parpol yang melamar dirinya untuk diusung sebagai cagub, Rustri menyebut, pihaknya tetap menjaga komunikasi dengan partai-partai politik. Menurutnya, lamaran tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi dirinya.

“Kalau ada yang melamar, itu satu kehormatan besar, karena tidak mudah tentunya untuk bisa dicalonkan oleh partai. Apa lagi saya sebagai orang yang sekarang ada di luar, biasanya (partai) mendahulukan kader,” akunya.

Usai menjadi wakil gubernur Jateng, Rustri juga mengaku hanya sibuk berkegiatan di rumah. Terlebih upayanya untuk maju dalam Pilgub Jateng 2014 lalu gagal, lantaran tak mendapat rekomendasi dari DPP PDIP. Meski demikian, Rustri menyebut, kalau dirinya terus mengikuti perkembangan politik saat ini.

Sementara itu, pengamat politik dari Unwahas Semarang Joko Prihatmoko menyebut, Rustri harus segera menegaskan sikap untuk maju atau tidak dalam Pilgub Jateng 2018. Rustri menurutnya, tak perlu malu-malu.

“Rustri tidak perlu malu. Kalau tampil iya, kalau tidak, tidak. Sikap dia yang selalu ingin bersih justru akan melemahkan dia,” paparnya.

Ia juga menilai, statemen yang menyebut Rustri masih menjalin komunikasi dengan parpol adalah sinyal bahwa mantan bupati Kebumen itu masih mempunyai hasrat untuk menjadi gubernur.

”Bahasa ia mengaku sudah melakukan komunikasi politik dengan parai itu bahasa halusnya ia ada minat untuk mencalonkan diri,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Kades di Batang Anggap Sudirman Said Berani Lawan Koruptor

Mantan menteri ESDM Sudirman Said saat bertemu para kepala desa se-Kabupaten Batang, Selasa (15/8/2017). (Foto : Humas Sudirman Said)

MuriaNewsCom, Semarang – Bakal calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said tak memungkiri jika ia bukanlah satu-satunya sosok terbaik yang patut memimpin Jawa Tengah lima tahun ke depan. Ia pun menyatakan tak segan untuk mendukung dan tokoh terbaik tersebut.

Hal ini ditegaskan mantan Menteri ESDM tersebut saat bertemu kepala desa de-Kabupaten Batang, Monggo Moro, Gringsing, Batang, Selasa (15/8/2017).

“Jika ada yang lebih baik dari saya, mari kita junjung bersama untuk Jawa tengah yang lebih baik,” ujarnya.

Karena menurut dia, untuk membangun Jawa Tengah adalah tugas bersama. Seluruh rakyat mesti turut serta berbuat demi kebaikan provinsi ini.  Sudirman Said mengaku, orang-orang yang baik ini patut untuk diajak kerja bersama.

“Membangun Jawa tengah itu bukan hanya kerja perorangan, tapi kerja bersama untuk rakyat yang lebih baik”, ucapnya Sudirman Said sewaktu berkumpul bersama seluruh kepala desa se Kabupaten Batang, di Monggo Moro, Gringsing, Selasa 15 Agustus 2017.

Dalam kunjungan ini, secara bergantian kepala desa seluruh Kabupaten Batang memberikan sambutan atas kehadiran Sudirman Said. Mereka menyambutnya sebagai seorang yang berani.

Ahmad Rojikin, Ketua Paguyuban Kepala Desa se-Kabupaten Batang mengatakan Sudirman Said sebagai tamu penting dan istimewa.

Alhamdulillah hari ini kita kedatangan tamu terbaik Jateng. Seorang pemberani yang terus meluangkan waktunya untuk berkarya untuk Jateng,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menyebut bahwa tidak banyak orang yangg berani melawan koruptor kecuali Sudirman Said. Keberanian ini adalah hal yang baik bagi Jawa Tengah ke depan. “Kita harus bersama dukung Sudirman Sa’id karena terbukti, pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Hanya 5 Orang Nyalon Gubernur Lewat PDIP, Takut Sama Ganjar?

Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng (petahana) yang tingkat popularitasnya belum bisa ditandingi calon lain. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah telah menutup penjaringan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Jateng untuk Pilkada 2018 mendatang. Ada 25 tokoh yang mendaftarkan diri, baik melamar sebagai calon gubernur maupun wakil gubernur.

Dari jumlah tersebut, hanya lima orang saja yang mendaftar sebagai calon gubernur, termasuk gubernur petahana Ganjar Pranowo. Hal ini berbeda dengan Pilgub 2013 lalu, di mana pendaftar cagub melalui PDIP cukup banyak dan dari berbagai kalangan.

Sebut saja selain Ganjar, ada Rustriningsih yang saat itu menjabat sebagai wakil gubernur. Hadi Prabowo yang waktu itu menjadi Sekda Jateng juga mendaftar. Ada juga mantan Pangdam IV/Diponegoro, Mulhim Asryof, Djoko Besariman (Hanura), Don Murdono (mantan bupati Sumedang), Budi Supriyanto  (Pemuda Pancasila) ataupun Riyanta dari unsur pengusaha.

Banyak pihak yang menyebut, para tokoh lebih memilih mengincar posisi calon wakil gubernur melalui PDIP, karena elektabilitas petahana (Ganjar Pranowo) masih sangat kuat.  Apalagi dalam pilgub lalu, Ganjar yang berpasangan dengan Heru Sudjatmiko berhasil meraih kemenangan dengan perolehan suara 6.962.417 atau 48,82 persen.

Sekretaris DPD PDIP Jateng Agustina Wilujeng kepada wartawan mengatakan, sebenarnya ada enam orang mendaftar untuk posisi calon gubernur. Hanya saja hingga 11 Agustus 2017 lalu, satu calon tak mengembalikan formulir pendaftaran.

“Ke-25 pendaftar itu terdiri dari enam orang mendaftar bakal calon gubernur dan 19 orang mendaftar bakal calon wakil gubernur. Sedangkan yang mengembalikan formulir pendaftaran hanya 19 orang,” katanya dikutip dari Antaranews.com.

Lima tokoh yang memperebutkan rekomendasi sebagai cagub dari PDIP yakni, Sunarna (Bupati Klaten), Wardoyo (Bupati Sukoharjo), Musthofa (Bupati Kudus), Lestariyono Loekito, dan Ganjar Pranowo (petahana).

Dominasi Ganjar Pranowo di Pilgub Jateng 2018 memang masih sangat besar. Hal ini pun diakui bakal calon gubernur Sudirman Said. Meski demikian, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu mengaku tak gentar.

“Di mana-mana incumbent populer, yang masuk belakangan berjuang, ini tantangan kita,” kata Sudirman dikutip dari Tribunjateng.com.

Sudirman mengaku, akan terus mengejar popularitas agar dapat bersaing dengan incumbent. Cara yang diambilnya yakni terjun langsung bertemu masyarakat, serta merangkul unsur partai politik dan tokoh agama.

Editor : Ali Muntoha

Siap Head to Head di Pilgub Jateng, Golkar Tutup Pintu Koalisi dengan PDIP?

Foto : Golkar

MuriaNewsCom, Semarang – Partai Golkar tampaknya sudah sangat percaya diri untuk bertarung dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2018 mendatang. Bahkan Golkar berharap bisa tanding head to head dengan PDI Perjuangan, sebagai pemenang dalam pemilu lalu.

Ketua DPD 1 Partai Golkar Jateng Wisnu Suhardono mengatakan, harapannya dalam Pilgub Jateng 2018 mendatang hanya ada dua pasang calon. Dengan dua pasang calon ini, menurutnya akan lebih menguntungkan untuk melawan calon dari PDI Perjuangan.

“Menurut teori, pengalaman, pengamatan, dan `feeling`, kalau `head to head` siapa pun, termasuk saya dengan PDIP itu menarik, probability-nya untuk menang itu lebih tinggi daripada jika calonnya ada tiga,” kata Wisnu, dikutip dari Antaranews.com, Senin (14/8/2017).

Ia mengakui, jika pasangan calon dalam Pilgub Jateng 2018 mendatang ada tiga calon, maka PDI Perjuangan yang akan diuntungkan. Sementara jika head to head peluang untuk Golkar cukup besar.

“Kalau calonnya tiga, secara teori PDIP diuntungkan walaupun pelaksanaannya tergantung operasi di lapangan. Akan tetapi, kami bicara teori dahulu,” ujarnya.

Dengan harapan ini, kemungkinan Golkar tidak akan berkoalisi dengan PDI Perjuangan, sama seperti Pilgub Jateng 2013 lalu. Saat itu PDI Perjuangan tampil sebagai partai tunggal yang mengusung Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko, sementara Golkar berkoalisi dengan Demokrat mengusung Bibit Waluyo- Sudijono Sastroadmodjo.

Meski demikian, Partai Golkar juga memastikan akan berkoalisi dengan partai politik lain karena jumlah kursi di DPRD Jateng yang tidak memungkinkan untuk mengusung calon sendiri. “Pengalaman kami dengan PPP lebih baik, PPP bersama kita di tiga pilkada lalu, yakni Demak, Batang, dan Banjarnegara,” ujarnya.

Wisnu menyatakan, partainya akan melakukan melakukan survei internal guna menentukan calon yang akan diusung pada Pilgub Jateng 2018. Survei itu akan dilakukan pada sejumlah nama potensial, termasuk Wisnu Suhardono.

“Akhir bulan ini ada survei, termasuk saya (yang ikut disurvei), yang hasilnya jelek enggak usah diusung,” katanya.

Wisnu mendapat dorongan dari internal Golkar untuk maju bertarung dalam Pilgub Jateng 2018 mendatang. Ketua Harian DPD I Partai Golkar Jateng Iqbal Wibisono bahkan menyebut 35 DPD II kabupaten/kota di Jateng dan DPD I Jateng sudah bulat mendukung pencalonan Wisnu SUhardono.

Editor : Ali Muntoha