Populasi Sapi Potong di Grobogan Ditarget Meningkat

sapi

Bupati Grobogan Sri Sumarni melihat bantuan peralatan dan ternak yang akan diserahkan pada kelompok tani. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski saat ini potensi sapi potong merupakan paling banyak kedua di Jateng setelah Blora, namun populasi yang ada harus terus ditingkatkan.

Hal itu diungkapkan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menghadiri peluncuran dan deklarasi Sentra Peternakan Rakyat (SPR) ‘Subur Makmur Sejati’ serta penilaian lomba inseminator dan penyerahan hibah kelompok ternak yang dilangsungkan di Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan, Sabtu (2/7/2016).

“Sejauh ini, populasi sapi mencapai 170 ribu ekor. Ditingkat Jateng, banyaknya sapi di Grobogan ini nomor dua setelah Blora. Dengan adanya SPR ini, populasi sapi harus bisa lebih banyak lagi,” cetusnya.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap daging ini makin meningkat. Tetapi sebagian daging itu terpaksa didatangkan dari luar karena produksi dalam negeri belum mencukupi. Oleh sebab itu, kondisi ini di sisi lain merupakan peluang untuk mengembangkan sapi potong.

Selain dengan SPR, untuk mempertahankan populasi sapi, Sri meminta Disnakkan memaksimalkan program inseminasi buatan. Sebab, melalui upaya ini terbukti bisa menghasilkan sapi yang berkualitas.

Selain itu, upaya lainnya adalah menekan tingkat penyembelihan sapi betina. Khususnya sapi yang masih dalam usia produktif. “Saya minta agar Disnakkan terus mengawasi masalah ini. Pemotongan sapi betina ini harus dicegah agar tidak memotong rantai produksi,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto menambahkan, SPR yang ditempatkan di Desa Boloh, Kecamatan Toroh adalah pusat pertumbuhan komoditas peternakan dalam satu kawasan sebagai media pembangunan peternakan dan kesehatan hewan.

Di dalamnya terdapat populasi ternak tertentu yang dimiliki oleh sebagian besar peternak yang bermukim di satu desa atau lebih.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemkab Jepara Bagi-bagi ’Jimat’ Kepada Ratusan Peternak Sapi di Empat Desa

Beberapa peternak menunjukkan kartu jaminan mandiri peternak yang diberikan Pemkab Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Beberapa peternak menunjukkan kartu jaminan mandiri peternak yang diberikan Pemkab Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa peternak sapi di Kabupaten Jepara diberi “Jimat” oleh Pemkab Jepara. Jimat yang dimaksud adalah Jaminan Mandiri Bantuan Untuk Ternak (Jimat) berupa kartu, sebagai program untuk mengembangkan potensi sektor peternakan sapi di kota ukir.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepar Wasiyanto menjelaskan, mendukung keberadaan dan kemajuan Sentra Peternakan Rakyat (SPR), salah satunya kelompok SPR Mandalika, Pemkab Jepara melalui Dinas Pertanian dan Peternakan juga menyerahkan  kartu Jimat.

”Jimat ini diberikan khusus kepada anggota kelompok peternak sapi Peranakan Orgole (PO) Saja, utamanya di empat desa tersebut. Hal ini merupakan komitmen pemerintah dalam mencukupi kebutuhan daging sapi. Utamanya untuk pengembangan sapi jenis PO yang diyakini punya berbagai keunggulan. Diantaranya tingkat beranak yang tinggi serta tahan kekeringan dengan pakan apapun,” terang Wasiyanto, Rabu (1/6/2016) petang.

Menurutnya, semua program yang dibuat adalah untuk mewujudkan kesejahteraan peternak dan ketahanan pangan, khususnya hal ini adalah daging sapi. Sehingga, pihaknya berharap nantinya program tersebut dapat berjalan lancar dan mampu memberikan perkembangan yang signifikan.

Dia menambahkan, tercatat saat ini ada tiga Desa Populasi Sapi, khususnya jenis sapi PO di wilayah Jepara utara. Meliputi Desa Ujungwatu, Banyumanis dan Blingoh. Selanjutnya ketiga Desa ini ditambah satu lagi Desa Sumanding Kecamatan Kembang dijadikan Sentra Peternakan Sapi.

Selain itu, dia juga mengatakan, di Jepara saat ini baru tersedia sekitar 48.000 ekor sapi/tahun dan untuk kambing tercatat 70.000 ekor/tahun. Sementara tingkat konsumsi daging tingkat kabupaten Jepara baru mencapai 1,8 Kg/Kapita/Tahun. Masih jauh dibawah standar nasional yang mencapai 2,56 Kg/Kapita/tahun.

Editor: Supriyadi

Desa Blingoh Jepara Jadi Kawasan Sumber Bibit Sapi Potong

Sapi asal Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo  siap potong. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sapi asal Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo siap potong. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara akhirnya mendeklarasikan Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo sebagai Kawasan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) dengan nama kelompok SPR Mandalika.

Tak hanya itu, pemkab juga mencanangkan kawasan tersebut sebagai desa sumber bibit sapi potong. Padahal, Desa Blongoh sebelumnya sempat tersingkir dari seleksi sebagai kawasan SPR oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH).

Pencanangan sebagai kawasan SPR dan Sumber Bibit Sapi Potong  itu dilakukan langsung oleh Bupati Jepara Ahmad  Marzuqi. Selain itu  juga dilakukan penandatanganan MoU antara Pemkab yang diwakili Dinas Pertanian dan Peternakan dengan pihak Undip selaku Pendampingan, Rabu (1/6/2016).

Selain dideklarasikan sebagai kawasan sumber bibit sapi potong, juga diserahkan secara simbolis alat pertanian kepada Kelompok Tani. Seperti Combine atau mesin panen padi 20 buah, Conselor 17 unit serta Forcombine alat panen jagung 1 unit dan lainnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara Wasiyanto mengatakan, bantuan ini hanya diberikan kepada kelompok tani yang bisa meningkatkan produktifitas dan intensitas tanaman. Seperti peningkatkan luas atau tambah tanaman, IP, produktifitas serta serapan gabah.

”Sedangkan khusus untuk mendukung kawasan Desa sumber bibit sapi diserahkan bantuan sapi indukan untuk kelompok ternak Sido Mukti Desa Blingoh dari Dinas Kesehatan Hewan dan Ternak Propinsi Jateng,” ujar Wasiyanto.

Dia berharap dengan dukungan tersebut akan segera terwujud Kawasan Desa Sumber Bibit sapi Potong di Jepara. Pihaknya mengaku sengaja menggandeng Undip sebagai pendampingan. Tercatat saat ini ada 3 Desa Populasi Sapi, khususnya jenis sapi PO (Peranakan Orgole) di wilayah Jepara utara. Meliputi Desa Ujungwatu, Banyumanis dan Blingoh. Selanjutnya ketiga Desa ini ditambah satu lagi Desa Sumanding Kecamatan Kembang dijadikan Sentra Peternakan Sapi.

”Khusus untuk wilayah Kabupaten Jepara dan bahkan harapannya bisa berkembang seperti keberadaan Kambing PE di Purworejo,” imbuhnya.

Untuk diketahui bahwa di Jepara saat ini baru tersedia sekitar 48.000 ekor sapi/tahun dan untuk kambing tercatat 70.000 ekor/tahun. Sementara tingkat konsumsi daging tingkat kabupaten Jepara baru mencapai 1,8 Kg/Kapita/Tahun. Masih jauh dibawah standar nasional yang mencapai 2,56 Kg/Kapita/tahun.

Editor: Supriyadi

Populasi Sapi Grobogan Terus Ditingkatkan

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kedatangan tim penilai lomba nasional petugas teknis inseminasi buatan (inseminator) di Desa Simo, Kecamatan Kradenan. (MuriaNewsCom/Grobogan)

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kedatangan tim penilai lomba nasional petugas teknis inseminasi buatan (inseminator) di Desa Simo, Kecamatan Kradenan. (MuriaNewsCom/Grobogan)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Peran petugas teknis inseminasi buatan atau inseminator dinilai cukup penting dalam meningkatkan jumlah populasi sapi. Oleh sebab itu, para inseminator itu diminta sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas dan meningkatkan capaian kebuntingan sapi dengan penggunaan teknologi tersebut.

“Teknologi inseminasi buatan ini sudah terbukti bisa meningkatkan populasi sapi. Untuk itu, peran dari para inseminator ini sangat diandalkan dalam keberhasilan pemakaian teknologi inseminasi buatan atau IB tersebut,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kedatangan tim penilai lomba nasional petugas teknis inseminasi buatan (inseminator) di Desa Simo, Kecamatan Kradenan, Kamis (12/5/2016).

Menurut Sri, penerapan teknologi IB di Grobogan sudah dilakukan sejak tahun 1976. Yakni, di Kecamatan Toroh dan Purwodadi. Saat ini, pemakaian IB sudah menjangkau semua wilayah kecamatan.

“Sekarang ini, kita punya 34 wilayah kerja atau pos IB. Untuk petugas inseminatornya ada 43 orang,” katanya.

Sejauh ini, jumlah populasi sapi di Grobogan mencapai 170 ribu ekor. Banyaknya jumlah sapi di Grobogan ini menempati urutan kedua di Jawa Tengah, setelah Blora.

Meski punya potensi cukup besar namun Sri meminta agar populasi sapi itu harus terus ditingkatkan. Hal ini sebagai salah satu upaya mendukung program pemerintah swasembada daging sapi.

Untuk mempertahankan populasi sapi, Sri meminta dinas terkait lebih memaksimalkan program IB. Sebab, melalui upaya ini bisa menghasilkan sapi yang berkualitas.
Selain itu, upaya lainnya adalah menekan tingkat penyembelihan sapi betina. Khususnya sapi yang masih dalam usia produktif.
“Saya minta agar Disnakkan terus mengawasi masalah ini. Pemotongan sapi betina ini harus dicegah agar tidak memotong rantai produksi,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Lucu, Ibu Bupati Grobogan Belajar Nyuntik Sapi Biar Bunting

 

 

Bupati Grobogan Sri Sumarni belajar nyuntik sapi didampingi petugas inseminator Edy Sugijanto (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni belajar nyuntik sapi didampingi petugas inseminator Edy Sugijanto (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan –  Ada yang aneh saat Bupati Grobogan Sri Sumarni menerima kedatangan tim penilai lomba nasional petugas teknis inseminasi buatan (inseminator) di Desa Simo, Kecamatan Kradenan, Kamis (12/5/2016). Dalam kesempatan itu, Sri sempat belajar jadi petugas inseminator dan menyuntikkan sperma beku pada seekor sapi betina.

“Ternyata cukup susah juga jadi petugas inseminator. Semoga, sapi yang saya suntik ini bisa langsung bunting,” kata Sri yang disambut tawa sejumlah orang yang menyaksikan peristiwa langka itu.

Ada empat tim penilai dari pusat yang datang ke situ. Tim penilai ini dipimpin Kasubdit P3H Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Krisnandana. Terlihat pula dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Riyanto dan Kabag Humas Pemkab Grobogan Ayong Muhtarom.

Kedatangan tim dari pusat itu bertujuan untuk menilai kinerja inseminator Edy Sugijanto yang menjadi duta Jawa Tengah dalam lomba petugas teknis inseminasi buatan tingkat nasional. Majunya petugas IB di wilayah Kecamatan Kradenan III itu ke lomba nasional seiring keberhasilannya meraih juara IB tingkat Jateng tahun 2015 lalu.

“Tahun kemarin, juara IB Jateng diraih petugas kita Edy Sugijanto. Karena jadi juara provinsi maka pada tahun ini yang bersangkutan harus mengikuti lomba tingkat nasional,” kata Riyanto.

Menurutnya, sejauh ini, sudah beberapa kali petugas inseminatornya yang meraih juara tingkat nasional. Dia berharap, agar Edy Sugijanto bisa meraih juara lagi di level nasional seperti yang sudah didapat sebelumnya.

Meski demikian, untuk meraih target itu bukan sesuatu yang mudah dicapai. Sebab banyak aspek yang dijadikan dasar penilaian. Antara lain, capaian kinerja selama ini, keberhasilan kebuntingan sapi yang disuntik, catatan administrasi serta peran dalam kelompok tani ternak di wilayah kerjanya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Harga Pakan Ikan Mahal, Pembudidaya Bisa Coba Pakan Alternatif Ini

Ikan (e)

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tingginya harga pakan ikan masih menjadi kendala bagi petani ikan di Kudus. Untuk mensiasati mahalnya pakan tersebut, ada beberapa alternatif yang layak dicoba bagi pembudidaya ikan.

Kabid Perikanan pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Fajar Nugroho mengatakan, salah satu cara untuk mengatasi tingginya harga pakan yakni, petani ikan bisa menggunakan ikan rucah atau ikan-ikan kecil yang tak layak konsumsi.

Ikan-ikan kecil ini biasanya ikut terjaring, pada saat nelayan mencari ikan di laut. Ikan rucah ini cukup beragam jenisnya, di antaranya tongkol dan tuna.

Meski demikian, menurutnya, bagi petani ikan di Kudus, untuk mendapatkan ikan rucah memang tidaklah mudah. “Ikan rucah ini jumlahnya juga terbatas, apalagi Kudus kan cukup jauh lokasinya dari laut atau TPA,” ujarnya.

Menurutnya, biasanya untuk harga ikan rucah tersebut cukup murah, dan membeli per karung. Harganya juga bervariatif, tergantung musim ikan laut ataukah tidak.

Hanya, ada kelemahan jika menggunakan pakan ikan dengan ikan rucah. Di antaranya, ikan rucah berisiko terkena bakteri dan dikhawatirkan bisa menjadi penyebab ikan justru mati. “Memang ada risikonya. Sebab dikhawatirkan ikan rucah ini ada bakterinya, sehingga tidak aman bagi ikan di kolam,”sebutnya.

Menyikapi persoalan tersebut, dinas membuatkan Unit Pengelolaan Perikanan (UPP). Dengan adanya kelompok itu, diharapkan dapat memecahkan persoalan yang selama ini melanda para pembudidaya ikan.

”UPP sudah terbentuk beberapa waktu lalu, dan anggotanya baru kelompok Ikan pembenihan dan Ikan pembesaran. Jadi, dengan adanyaUPP ini, mereka dapat memberitahukan keluhan petani ikan dan mencari solusi bersama,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Pembagian Vaksin dan Disinfektan Gratis Dinilai Efektif Turunkan Serangan Flu Burung

Petugas Disnakkan Grobogan sedang memberikan vaksinasi pada unggas milik warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas Disnakkan Grobogan sedang memberikan vaksinasi pada unggas milik warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Salah satu faktor menurunnya penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI) di Grobogan adalah berhasilnya program pembagian vaksin dan disinfektan gratis buat masyarakat maupun peternak. Dengan bantuan ini banyak warga dan peternak yang melakukan vaksinasi dan penyemprotan kandang atas kesadaran mereka sendiri.

”Penurunan serangan AI memang banyak faktornya. Namun, saya menilai kalau program pembagian vaksin dan disinfektan gratis ini sangat efektif untuk menekan serangan AI. Dengan catatan, vaksin dan disinfektan itu benar-benar diberikan sesuai petunjuk yang kita berikan,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Riyanto melalui Kabid Keswan Kesmavet Nur Ahmad Wardiyanto.

Menurutnya, progam penanggulangan AI itu sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Dari tahun ke tahun jumlah vaksin dan disinfektan yang disalurkan bertambah. Hal ini seiring naiknya kesadaran warga untuk melindungi unggasnya dari serangan berbagai macam penyakit.

Untuk menekan agar serangan AI tidak meluas, pihaknya melakukan berbagai upaya. Misalnya, sosialisasi masalah AI ini kepada semua elemen masyarakat. Kemudian, pihaknya juga membagikan vaksin dan disinfektan gratis pada masyarakat sebagai langkah pencegahan.

”Kami juga mengimbau agar unggas yang mati akibat AI supaya dimusnahkan atau dibakar. Hal ini, setidaknya bisa mencegah agar penularannya tidak meluas,” imbuhnya.

Ditambahkan, meski masih muncul di wilayahnya, namun tren serangan AI ini mulai berkurang jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 lalu, ada beberapa serangan AI disejumlah lokasi.

Antara lain di Klambu, Tanggungharjo, Purwodadi dan Godong. Adapun jumlah unggas yang mati akibat AI sekitar 500 ekor. Kebanyakan adalah jenis itik. Kemudian, pada tahun 2014 kasus AI muncul di Kedungjati, Purwodadi, Toroh, Grobogan, dan Karangrayung. Jumlah unggas mati akibat AI mencapai 400 ekor. Sebagian besar adalah jenis ayam buras.

Editor : Titis Ayu Winarni

Antisipasi Flu Burung, Disnakkan Grobogan Siagakan Petugas Medis dan Paramedis 

Petugas medis dan paramedis Dinas Pertenakan dan Perikanan Grobogan mengikuti kegiatan bintek untuk mengantisipasi munculnya penyakit pada berbagai jenis hewan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas medis dan paramedis Dinas Pertenakan dan Perikanan Grobogan mengikuti kegiatan bintek untuk mengantisipasi munculnya penyakit pada berbagai jenis hewan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Dinas Pertenakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan saat ini mulai membekali kembali kemampuan petugas medis dan paramedis yang dimiliki. Hal ini berkaitan dengan adanya banyak kasus penyakit pada hewan yang muncul akhir-akhir ini. Terutama, penyakitflu burung atau Avian Influenza (AI) yang mncul dibeberapa daerah.

“Kondisi di Grobogan saat ini, relatif masih aman, utamanya dari serangan flu burung. Meski demikian, kami tetap waspada dengan munculnya beberapa kasus AI di lain daerah,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Riyanto melalui Kabid Keswan Kesmavet Nur Ahmad Wardiyanto, usai membuka acara bintek bagi petugas medis dan paramedis di kantornya, Rabu (30/3/2016).

Menurutnya, meski masih muncul di wilayahnya, namun tren serangan AI ini mulai berkurang jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 lalu, ada beberapa serangan AI disejumlah lokasi.Antara lain di Klambu, Tanggungharjo, Purwodadi dan Godong. Adapun jumlah unggas yang mati akibat AI sekitar 500 ekor. Kebanyakan adalah jenis itik.

Kemudian, pada tahun 2014 kasus AI muncul di Kedungjati, Purwodadi, Toroh, Grobogan, dan Karangrayung. Jumlah unggas mati akibat AI mencapai 400 ekor. Sebagian besar adalah jenis ayam buras.

Untuk tahun 2013, ada laporan kematian unggas secara mendadak sekitar 1.000 ekor dibeberapa lokasi. Namun, setelah dicek hasilnya tidak terkena AI tetapi penyakit biasa yang sering menyerang unggas,” jelasnya.

“Kami juga mengimbau agar unggas yang mati akibat AI supaya dimusnahkan atau dibakar. Hal ini, setidaknya bisa mencegah agar penularannya tidak meluas,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Kondisi Peternakan di Kudus Makin Menguat dengan Dana Cukai

iklan cukai-tyg 11 maret 2016-pukul 16.00 wib

Sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, Pasal 9 Ayat (1) Pemberantasan Barang Kena Cukai Ilegal dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus terus berupaya mengalokasikan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk sektor peternakan. Di antaranya, dengan adanya program bantuan bibit ternak kepada kelompok-kelompok peternak.

Pada 2012, Pemkab Kudus menyalurkan 480 ekor kambing betina dan 48 ekor kambing jantan. Bantuan ini diberikan kepada 48 kelompok peternak kambing di Kudus dengan masing-masing mendapat sepuluh ekor kambing betina dan satu kambing jantan.

Sedangkan pada program bantuan serupa di tahun 2013, jumlah bibit ternak kambing yang disalurkan meningkat menjadi 730 ekor betina dan 146 ekor jantan. Bukan hanya jumlah ternaknya bertambah, jumlah kelompok penerima juga meningkat. Dari 48 kelompok di tahun 2012 menjadi 73 kelompok pada tahun 2013.

Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan menegaskan jika kegiatan ini bertujuan untuk penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau (IHT). Program bantuan hibah ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, Pasal 7 Ayat 1 huruf a dan huruf f. Huruf a : Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di lingkungan IHT. Adapun pada huruf f disebutkan penguatan ekonomi masyarakat dilingkungan IHT dalam rangka pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dilaksanakan antara lain melalui bantuan.

Selain itu, juga berpedoman pada Peraturan Bupati Kudus Nomor 22 Tahun 2010 tentang perubahan atas Peraturan Bupati Kudus Nomor 12 Tahun 2009 tentang pedoman pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus tahun 2010, Lampiran IV.A.3 Pembinaan lingkungan sosial, pada kegiatan b. 4) h) Peningkatan perekonomian masyarakat melalui pemberian bantuan bibit ternak, alat mesin peternakan dan sarana produksi peternakan, pembinaan peternak/pelatihan/penyuluhan di lingkungan IHT.

Kegiatan ini juga sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta dalam rangka mengurangi pengangguran. Pada akhirnya, program ini dapat turut serta mengentaskan kemiskinan di Kudus.

Sebelum mendapat bantuan, kelompok-kelompok tersebut terlebih dahulu menjalani proses seleksi. Sejumlah kriteria harus mereka penuhi, mulai dari aktivitas kelompok, kesiapan kandang, kesiapan teknologi, hingga dukungan dari pemerintah desa. Seleksi ini dilakukan agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran.

Tidak hanya peternak kambing, kelompok-kelompok peternak sapi juga mendapat perhatian dari Pemkab Kudus. Bentuk perhatian ini bisa dilihat dari program bantuan induk sapi yang sudah diberikan sejak 2012 lalu.

Pada tahun 2012, Pemkab Kudus telah memberikan bantuan sapi betina sebanyak 70 ekor. Jumlah tersebut diberikan kepada tujuh kelompok peternak dari berbagai wilayah di Kudus. Sehingga, masing-masing kelompok mendapatkan bantuan sebanyak 10 ekor sapi betina.

Sebenarnya kelompok yang mengajukan bantuan sangat banyak. Namun, dinas melakukan seleksi terlebih dahulu kepada kelompok-kelompok tersebut. Karena dinas ingin bantuan ini benar-benar tepat sasaran. Sehingga, sapi bantuan yang kami berikan bisa dipelihara dan dikembang biakkan dengan baik.

Peternak penerima bantuan tentu diutamakan kelompok yang berasal dan tinggal di lingkungan industri hasil tembakau (IHT). Selain itu, ada juga anggota kelompok yang sebelumnya merupakan buruh di pabrik rokok. Mereka dibimbing menjadi peternak sapi setelah menjadi korban PHK perusahaan rokok yang gulung tikar. (ads)

Potensi Bagus, Tapi Manajemen Pengelolaan Ternak Sapi di Blora Masih Memble

Beberapa sapi yang berada di peternakan milik warga (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Beberapa sapi yang berada di peternakan milik warga (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Kabupaten Blora dinilai memiliki potensi dalam hal peternakan sapi. Bahkan, sapi dari Blora bisa bersaing di pasaran luar daerah. Namun cukup disayangkan, karena hal itu belum diimbangi dengan pengelolaan manajemen yang baik dari pemerintah setempat.

Direktur Utama PD Dharma Jaya Marina Ratna Dwi Kusuma Jati menyatakan, perkembangan peternakan sapi di Blora butuh manajemen yang bagus dari pemerintah, agar potensi yang ada dapat menunjang kemajuan daerah.

“Harus ada pengelolaan atau manajemen yang baik dari pemkab,dan bukan peternak sendiri yang mengelola,” kata Marina Ratna Dwi, Jumat (12/02/2016).

Sementara itu, Tekad, Ketua Kelompok Tani Sumber Barokah Desa Palon, Kecamatan Jepon, mengatakan, keberadaan sapi di Blora cukup melimpah. Untuk di desanya saja, saat ini ada sekitar 1.350 ekor sapi, yang dipelihara peternak.

Selain itu, katanya, ada dua kandang komunal milik kelompok tani yang ia pimpin, mampu menampung sekitar 60 ekor sapi. “Itu baru ada di desa sini saja, belum di wilayah Blora yang lain,” jelas Tekad.

Tekad berharap, kedepannya ada perhatian khusus dari pemkab untuk ikut serta mengembangkan sapi simental yang dibutuhkan pasar, seperti Jakarta. oleh DKI Jakarta dalam bentuk manajemen yang bagus. “Ini peluang bagi peternak di Blora. Harapannya

Editor : Kholistiono

Kampanyekan Makan Ikan Melalui Wayang Gojek

Pementasan Wayang Gojek di Balai Benih Ikan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pementasan Wayang Gojek di Balai Benih Ikan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pemkab Kudus memiliki cara yang unik untuk mensosialisasikan dan mengajak masyarakat agar membiasakan makan ikan, yakni melalui hiburan Wayang Gojek.
Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Fajar Nugroho mengatakan, pementasan wayang dipersembahkan untuk mengajak masyarakat mengkonsumsi ikan dengan cara yang lain.

Sebab, bagi dia, mengajak dan mengkampanyekan makan ikan tidak harus dengan cara serius. Melalui hiburan, seperti pementasan wayang juga dapat dilaksanakan yang dinilai efektif.
“Melalui cara seperti ini, kita harapkan masyarakat dapat meningkatkan konsumsi makan ikan, khususnya ikan air tawar,” ungkapnya.

Giox, Dalang Wayang Gojek menambahkan, pementasan berlangsung dengan singkat. Namun tujuan dari hiburan tersebut adalah mengajak masyarakat mengkonsumsi ikan. Karena, ikan sangat dibutuhkan oleh tubuh,termasuk juga ikan air tawar.

” Wayang Gojek ini mementaskan lakon “Seng Penting Mangan Iwak”. Pementasan itu dalam rangka tasyakuran peternak ikan di Balai Benih Ikan, Jekulo,” imbuhnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Yuk, Biasakan Konsumsi Ikan Air Tawar

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Ikan merupakan salah satu jenis lauk pauk yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat setelah daging dan telur. Ikan merupakan salah satu jenis favorit makanan, yang dapat diolah menjadi berbagai macam hidangan yang tentu saja sangat menggiurkan dan juga menyehatkan, termasuk di antaranya adalah ikan air tawar.

Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Fajar Nugroho mengatakan, ikan air tawar memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Sehingga, dalam hal ini, pihaknya mendorong agar masyarakat terus membiasakan mengkonsumsi ikan.

”Ikan sangat dibutuhkan oleh tubuh, termasuk juga ikan air tawar. Untuk itu, kami mengajak masyarakat untuk giat mengkonsumsi ikan air tawar,” ujarnya di sela-sela tasyakuran peternak ikan air tawar di Balai Benih Ikan (BBI) Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo.
Menurutnya, Pemkab Kudus terus mendorong peningkatan ekonomi warga melalui sektor perternakan ikan air tawar, baik mulai dari pembibitan hingga pegolahan hasil ikan yang dibudidayakan. Bahkan, peningkatan rumah tangga petani ikan di Kudus disebut meningkat setiap tahunnya.

Dia mengungkapkan, saat ini jumlah rumah tangga petani ikan di Kudus mencapai 1.841. Jumlah tersebut sudah hampir tiga kali lipat dibanding tiga tahun lalu.

Dia menambahkan, di Kudus saat ini fokus terhadap pengembangan perikanan air tawar seperti lele, nila, dan gurame. Namun, mulai tahun ini sudah banyak masyarakat Kudus yang mulai mengembangkan ikan hias.

”Fokusnya memang ikan lele. Bahkan untuk benih ikan lele di BBI ini yang dihasilkan hampir 100 ribu benih ikan per bulan belum mencukupi kebutuhan para peternak. Sedangkan untuk ikan hias, sudah banyak masyarakat yang mulai mengembangkan sejumlah jenis ikan hias, seperti Koi, Guppy dan Cupang,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Hai Pria Beristri, Bekatul Bisa jadi Obat Kuat Urusan Ranjang Berjam-jam, Lho!

 Supoyo, warga Kridosono, Tempelan, Blora, pembuat minuman berbahan dasar Bekatul (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Supoyo, warga Kridosono, Tempelan, Blora, pembuat minuman berbahan dasar Bekatul (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Bekatul yang biasanya buat pakan sapi. Ditangan Supoyo, warga Kridosono, Tempelan, Blora bisa diolah menjadi minuman yang memiliki khasiat terhadap peningkatan gairah seks.

Karena banyak yang membuktikan khasiat dari minuman yang terbuat dari bahan baku bekatul itu. “Banyak yang sudah membuktikan. Bahwa ada teman saya yang usia 50 tahun tadinya melemah saat hubungan seks, setelah rutin minum ini terus hasratnya meningkat” ungkap Supoyo.

Setiap hari dianjurkan untuk minum 3 kali. Selain untuk menaikkan gairah seks, juga bisa untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh.

“Biasanya bagi yang minum selama 4 hari langsung merasakan khasiatnya” tutur Supoyo.

Biasanya para pria yang sudah beristri, biasa mengkonsumsi minuman berbahan dasar bekatul ini. “Saya minum setiap hari 3 kali setiap hari. Rasanya nikmat kesehatan saya juga terjaga. Rumah tangga pun jadi lebih harmonis” tutur Sutamto selaku konsumen wedang bekatul. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

50 Persen Warga Desa Margotuhu Pati Geluti Usaha Pembibitan Lele

Jumadi tengah memberikan makan lele yang masih berusia seminggu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jumadi tengah memberikan makan lele yang masih berusia seminggu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Siapa sangka, desa kecil bernama Margotuhu Kidul yang berada di Kecamatan Margoyoso, Pati, menjadi sentra pembibitan lele terbaik kedua di Jawa Tengah.

Padahal, desa tersebut belum lama merintis usaha di bidang budi daya pembibitan lele. Dengan waktu tak lebih dari lima tahun, hampir 50 persen penduduknya menggeluti usaha pembibitan lele.

“Dari 547 KK, ada sekitar 250 KK yang budi daya pembibitan lele. Semua sudah ada bakul yang ngambil dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Tegal bahkan sampai Jawa Timur,” ujar Jumadi, warga setempat kepada MuriaNewsCom, Sabtu (24/10/2015).

Jika kita berkunjung ke Desa Margotuhu Kidul, memang sekilas tidak menemukan kolam pembibitan lele. Begitu melihat belakang rumah, kata dia, hampir semua warga budidaya pembibitan lele.

“Desa ini pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai pemenang kedua Kategori Unit Pembenihan Rakyat. Ke depan, desa ini diajukan untuk maju di tingkat nasional,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Sapi ‘Mistis’ Milik Warga Bageng Ini Pernah Ditawar Hingga Puluhan Juta

Sapi berkantung milik Rifki, warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Pati (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sapi berkantung milik Rifki, warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Pati (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ada yang aneh dari dua sapi peranakan ongole (PO) Jawa milik Rifki, warga Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Pati. Kedua hewan mamalia tersebut memiliki kantong layaknya hewan kanguru yang lazim ditemukan di Australia.

Warga pun tak bosan melihat dua sapi aneh itu. Sebagian orang mengaitkan hal tersebut dengan hal gaib. Kendati begitu, Rifki membantah jika sapinya itu terkait dengan hal mistis.

“Sejak lahir, dua sapi saya itu sudah dalam keadaan berkantung. Saya tidak punya firasat apa pun. Tiba-tiba saja sudah begitu. Saya rawat hingga dewasa dan beranak banyak,” ujar Rifki kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, sebetulnya sapi peliharaannya tersebut sudah banyak ditawar dengan harga mahal hingga Rp 50 juta. Selain tubuhnya sehat dan kekar, keanehan pada sapi milik Rifki menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli.

Namun, tawaran itu ia tolak karena Rifki berniat memelihara sapi itu hingga beranak pinak sampai banyak. “Niatnya saya koleksi saja di kandang. Sangat menarik jika saya nanti punya banyak sapi-sapi unik,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Urine Ikan Lele Bawa Berkah di Kedungbulus Pati

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budi daya lele memang sudah biasa ditemui di berbagai daerah, karena menjadi potensi bisnis yang menjanjikan. Namun, hal itu menjadi luar biasa ketika urine lele beserta dengan limbah dalam kolam dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

Pemanfaatan itulah yang dilakukan Rusmani (43), warga Desa kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati yang mencoba memanfaatkan air kolam lele untuk pupuk organik. Lima tahun menggeluti budi daya lele, ide pemanfaatan air kolam untuk pupuk baru terpikirkan sekarang.

Sontak, Rusmani kemudian menanam berbagai jenis sayuran di pinggiran kolam lele, mulai dari sawi, bayam, seledri, selada, hingga daun bawang. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Bisnis lele jalan, panen sayuran setiap hari pun lancar.

“Iseng-iseng saja. Tidak sengaja, ternyata air kolam lele bisa membuat tanaman subur. Akhirnya, saya buat tanaman sayur di sekitar kolam lele. Semuanya subur. Saya pikir, air kolam lele bisa jadi pupuk cair organik yang baik untuk tanaman,” kata Rusmani. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Di Rembang, Tim Pemantau Kesehatan Temukan Bakteri di Hewan Kurban

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Tim pemantau kesehatan hewan kurban Kabupaten Rembang menemukan bakteri di paru-paru sapi dan kambing yang disembelih untuk kurban di dua lokasi berbeda pada Kamis (24/9/2015). Tim langsung meminta kepada panitia kurban agar paru-paru yang tak higienis itu dimusnahkan dan tidak dibagikan kepada masyarakat.

“Selain bakteri yang ditemukan itu, hewan kurban selebihnya sehat. Sapi dengan temuan bakteri akibat radang paru-paru atau pneumonia kami temukan di SD IT Al Furqon, sedangkan kambing dengan temuan yang sama kami temukan di Perumahan Tireman. Semua sudah diafkir untuk dimusnahkan,” ujar Agus Iwan Haswanto, Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang, Kamis (24/9/2015).

Agus mengaku mengikuti inspeksi dari tim pemantau kesehatan hewan kurban di wilayah Kecamatan Rembang seperti di Polres dan Masjid Agung. Menurutnya, bakteri di paru-paru terjadi karena hewan ternak menderita radang paru-paru atau pneumonia. Selain temuan bakteri paru-paru di wilayah Kecamatan Rembang, empat tim pemantau kesehatan hewan kurban lainnya, belum sampai menemukan penyakit lainnya seperti cacing hati, demam pada ternak, dan penyakit antraks. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Dintanhut Klaim Populasi Sapi dan Kambing di Rembang Tak Terganggu dengan Perayaan Kurban

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang memastikan bahwa populasi Sapi dan Kambing di wilayah setempat tidak terganggu seiring perayaan kurban di Hari Raya Idul Adha tahun ini. Apalagi dari tingkat jumlah hewan kurban yang dipotong pada Kamis (24/9/2015) juga mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

“Berdasarkan catatan perayaan kurban tahun lalu, jumlah sapi yang dipotong sekitar 500 sampai 700 ekor, sedangkan kambing/domba sekitar 3.000 hingga 4.000 ekor. Secara populasi, ada sekitar 120.000 ekor sapi dan 250.000 ekor kambing, sehingga tidak terganggu untuk kepentingan kurban,” ujar Agus Iwan Haswanto, Kepala Bidang Peternakan pada Dintanhut Rembang, Kamis (24/9/2015).

Agus Iwan Haswanto mengatakan, jumlah hewan kurban yang dipotong saat perayaan kurban tahun ini diperkirakan menurun. Namun, terkait berapa angka pastinya dia mengaku belum menerima laporan secara menyeluruh dan terperinci dari tim. “Kami belum tahu berapa angka persisnya, sebab laporan belum masuk. Tapi dari pantauan kami, memang ada sedikit penurunan dari tahun lalu,” kata Agus Iwan Haswanto. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Sapi di TPA Ngembak Purwodadi Harus Dikarantina Sebelum Dikonsumsi

Puluhan sapi yang dipelihara di TPA Desa Ngembak Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan sapi yang dipelihara di TPA Desa Ngembak Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski bisa dikonsumsi, namun sapi yang dipelihara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, harus melalui tahapan karantina terlebih dahulu.

Hal itu disampaikan Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Grobogan Nur Ahmad Wardiyanto saat dimintai komentarnya seputar masalah penggemukan sapi di tempat sampah tersebut.

Menurutnya, secara umum kondisi sapi yang makan sampah itu memang cukup sehat. Meski demikian, jika diperiksa lebih lanjut, dalam daging sapi yang digemukkan di TPA itu bisa mengandung unsur logam yang berbahaya, seperti jenis timbal. Jika daging ini dikonsumsi manusia, maka dalam jangka panjang bisa berdampak pada masalah kesehatan.

Oleh sebab itu, jika sapi di TPA itu akan dikonsumsi atau disembelih, termasuk untuk hewan kurban, maka terlebih dahulu harus dikarantina selama dua bulan.

Selama masa karantina, sapi tersebut diberi pakan normal baik jenis rumput segar (hijauan) atau pakan kering seperti jerami dan tebon serta dikasih minum air yang cukup. Masa karantina ini berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya yang ada dalam tubuh sapi tersebut.

“Kepada para pemilik ternak di TPA serta pedagang sudah kita kasih tahu masalah ini. Selama dua bulan sebelum dijual, sapi mereka harus dikarantina lebih dulu agar kandungan zat berbahaya bisa hilang,” ujarnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Kabupaten Pati Jadi Sasaran Program “Panen Pedhet”

Sapi jenis ongole di Pati yang diperlombakan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sapi jenis ongole di Pati yang diperlombakan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kabupaten Pati yang selama ini menjadi salah satu sentra pengembangan sapi lokal peranakan ongole (PO) diharapkan bisa menjadi daerah yang sukses melaksanakan program panen pedhet atau anak sapi.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah Agus Wariyanto kepada MuriaNewsCom mengatakan, pemerintah ke depan menginginkan ada proyek pengembangan sapi bertajuk “panen pedhet”. Karena itu, ia berharap agar Pati bisa melaksanakan program tersebut.

“Jadi, kita memperbanyak bibit-bibit sapi lokal sebanyak mungkin dan itu bisa ditemukan di daerah-daerah yang berpotensi untuk mengembangkan sapi ongole. Salah satunya, di Pati,” imbuhnya.

Dengan pengembangan kapasitas di bidang peternakan sapi, ia berharap bisa meningkatkan pendapatan daerah yang pada akhirnya bisa memajukan ekonomi bangsa melalui peternakan di daerah-daerah. “Subsidi pakan ternak dan modal akan terus kami upayakan untuk mengembangkan sapi lokal,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Pati Dinilai Berpotensi untuk Pengembangan Sapi Lokal Peranakan Ongol

Bupati Pati Haryanto melihat sapi peranakan ongol (PO) di Pasar Hewan Winong, Kecamatan Winong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto melihat sapi peranakan ongol (PO) di Pasar Hewan Winong, Kecamatan Winong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kabupaten Pati dinilai punya potensi yang besar untuk mengembangkan sapi lokal jenis peranakan ongol (PO). Karena, Pati dinilai memiliki potensi alam yang melimpah dan mendukung pengembangan sapi PO.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah Agus Wariyanto kepada MuriaNewsCom mengatakan, pengembangan sapi di Pati didukung dengan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari ketersedian rumput dan pakan ternak organik lainnya.

Karena itu, ia berharap agar Pemerintah Daerah (Pemda) setempat bisa mendukung untuk pengembangan sapi lokal PO. “Saya lihat, Pati itu tempatnya sapi PO. Jadi, Pemda setempat harus memfasilitasi untuk mengembangkan sapi lokal PO. Itu bisa menjadi salah satu senjata untuk meningkatkan potensi peternakan di Pati,” imbuhnya.

Sementara itu, pihaknya sendiri akan mendukung dengan memberikan sejumlah bantuan. Misalnya, bantuan subsidi pakan, soal teknologi inseminasi buatan. “Dengan bantuan teknologi itu, kami berharap bisa memacu untuk meningkatkan upaya pengembangan bibit sapi lokal PO,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sstt.. Ini Rahasia Besar Cara Nyembelih Hewan Kurban di Grobogan

Kurban-rahasia

Warga tampak melihat binatang kurban di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Menjelang datangnya Idul Adha, perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan tidak sekadar difokuskan pada kesehatan hewan kurban saja.

Namun, masalah teknik penyembelihan dan perlakuan hewan sebelum disembelih juga mendapat perhatian.

Hal ini bisa dilihat dengan digelarnya sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban. Adapun pesertanya adalah panitia kurban dan kaur kesra (modin) di sejumlah desa.

“Melalui kegiatan ini kita harapkan penyembelihan hewan kurban nanti bisa sempurna dari awal hingga selesai. Di sisi lain, adanya kegiatan ini akan menjadikan hewan kurban tidak mengalami penderitaan terlalu lama alias kesejahteraannya juga terjaga,” jelas Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan drh  Nur Ahmad saat menyampaikan pelatihan kesejahteraan hewan (keswan) Kamis (17/9) siang tadi.

Dijelaskan, dalam sosialisasi itu akan diberikan materi mengenai beberapa hal. Yakni, cara perobohan hewan sebelum disembelih, tehnik penyembelihan yang benar, pemotongan daging serta penanganan limbah hewan kurban.

Selain petugas dari Disnakkan yang sudah ahli di bidangnya, kegiatan itu juga melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Grobogan. Dari kemenag akan mengupas dari sisi agama mengenai ibadah kurban serta tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan.

“Setiap tahun ada sekitar 7 ribu ekor hewan yang disembelih untuk kurban. Oleh sebab itu, para petugas perlu kita bekali kemampuan dalam masalah penyembelihan yang benar,” imbuhnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Dinas Peternakan Pati Awasi Penjualan Hewan Kurban di Sejumlah Tempat

Dinas-peternakan

Pasar Hewan Wage mulai diserbu pengunjung untuk berburu hewan kurban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati mulai melakukan pengawasan terhadap hewan kurban jelang Idul Adha yang kurang sepekan lagi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya penjualan hewan kurban yang tidak layak.

”Kami akan membuat tim pemantau hewan kurban yang melakukan pengecekan langsung di lapangan. Dengan adanya tim pemantau, kami berharap hewan kurban yang diperjualbelikan aman dikonsumsi,” ujar Kepala Dispertanak Pati Mochtar Effendi kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, pengawasan terhadap hewan kurban menjadi prioritas utama. Pasalnya, momen Idul Adha dikhawatirkan menjadi kesempatan bagi oknum nakal, untuk membeli atau menjual hewan kurban yang kondisinya sakit dan tidak baik.

”Jangan sampai momen Idul Adha dijadikan kesempatan oknum untuk menjual hewan kurban bermasalah, terutama hewan ternak yang kondisinya tidak sehat. Kami benar-benar akan melakukan antisipasi untuk masalah ini,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

 

Peternak Ikan Juga Keluhkan Sulitnya Pemasaran

ikan-nila

KUDUS – Tidak hanya mahalnya harga pakan yang menjadi persoalan, namun penjualan hasil panen, juga seringkali menjadi keluhan para peternak ikan. Hal itu sudah terjadi selama dalam kurun waktu yang cukup lama.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Budi Santoso mengatakan, selain pakan, kendala dalam bidudaya ikan adalah pada pemasarannya. Katanya, kebanyakan para pembudidaya ikan hanya menjual ke pasar.

“Kadang kalau panen harga bisa anjlok, sehingga hal tersebut dapat merugikan para peternak ikan, dan hal ini membuat peternak lele putus asa, karena harga jual yang murah, sedangkan harga pakan tinggi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menyikapi persoalan tersebut, katanya, dinas membuatkan Unit Pengelolaan Perikanan (UPP). Dengan adanya kelompok itu, diharapkan dapat memecahkan persoalan yang selama ini melanda para pembudidaya ikan.

”UPP sudah terbentuk Rabu (14/1/2015). Anggotanya baru kelompok ikan pembenihan dan ikan pembesaran. Jadi dengan adanya wadah ini, mereka dapat memberitahukan keluhan mereka dan mencari solusi bersama,” ujarnya.

Dia menambahkan, pertemuan rutin antarpeternak akan dilakukan. Kemudian, proyeksi pembentukan UPP sendiri adalah untuk menggandeng perusahaan dalam menyuplai pakan. Sehingga, para pembudidaya dapat harga yang lebih murah. Selain itu juga, pihaknya berharap supaya pakan nantinya dapat dibayar ketika panen. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Usaha Budidaya Ikan Diombang-ambing Mahalnya Harga Pakan

Ilustrasi ikan

Ilustrasi ikan

 

KUDUS – Sebagian peternak ikan kini dalam kondisi yang sulit. Hal ini, karena mahalnya harga pakan ikan di pasaran.Dengan hal ini, sangat berdampak terhadap hasil produksi yang semakin sedikit.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Budi Santoso mengatakan, para pengusaha budidaya ikan kerap mengeluhkan mahalnya harga pakan. Alhasil, para peternak ikan tak jarang harus mengurangi pembelian pakan.

”Selama ini para pembudidaya ikan selalu mengeluh tentang pakan. Sebagian besar mereka mengeluh, karena mengalami kerugian, yang akhirnya mereka mikir-mikir kalau mau melanjutkan usahanya tersebut,” kata Budi, kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, tidak hanya peternak mandiri saja, peternak ikan yang merupakan kelompok binaan dari dinas juga mengalami hal yang sama. Banyak yang mengeluhkan tentang mahalnya harga pakan.

Dia mengatakan, kebanyakan para pembudidaya ikan membeli pakan dalam paket kiloan per karung. Namun harganya terlalu mahal, sehingga jika panen tidak sesuai dengan modal yang sudah dikeluarkan. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)