Lulusan SMP di Jepara Pilih Sekolah di Luar Kota

Jpeg

MuriaNewsCom, Jepara – Selain banyak yang tidak melanjutkan sekolah. Siswa lulusan SMP di Kabupaten Jepara juga ternyata banyak yang memilih melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di luar daerah.

Dari catatan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara, saat ini tercatat 777 siswa lulusan sederaja SMP di Kabupaten Jepara yang memilih melanjutkan sekolah ke daerah lain.

Hal itu seperti yang dikatakan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara Ali Maftuh. Menurutnya,  ada banyak factor yang melatar belakangi banyaknya siswa lulusan SMP yang enggan melanjutkan sekolah di Kabupaten Jepara.

“Faktornya macam-macam kalau mereka memilih melanjutkan ke sekolah di luar daerah. Ada yang karena orang tua yang kerja di luar kota dan ada yang karena memang memilih sekolah yang mereka anggap lebih bagus dibanding di Jepara,” ungkapnya.

Sayangnya, lanjut Ali, sebagian besar siswa-siswa yang memilih melanjutkan sekolah ke luar daerah adalah siswa berprestasi. Itu yang kemudian menjadi kerugian tersendiri bagi Kabupaten Jepara.

“Kalau mereka memiliki prestasi di ajang nasional maupun internasional, yang dibawa pasti nama sekolahnya. Bukan nama kota asal dia. Itu yang menjadi kerugian tersendiri bagi Kabupaten Jepara karena banyak siswa berprestasi yang sekolah di luar daerah,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebaliknya hanya ada sedikit siswa dari luar daerah yang sekolah di Kabupaten Jepara. Rata-rata mereka adalah siswa yang tinggal di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Jepara, seperti Demak dan Pati.

“Kalau siswa luar daerah yang sekolah di Jepara setiap tahunnya rata-rata 200 anak. Yaitu anak-anak dari Kabupaten Demak yang tinggal di daerah perbatasan dengan Jepara,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

3.000 Siswa SMP di Jepara Putus Sekolah

putus sekolah murianews

 

MuriaNewsCom, Jepara – Angka putus sekolah yang ada di Kabupaten Jepara tergolong tinggi. Sekitar tiga ribu siswa tingkat SMP putus sekolah setiap tahun. Hal itu terjadi karena beberapa faktor, dan yang paling mendominasi adalah ekonomi.

Hal itu seperti yang disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara Ali Maftuh. Menurutnya, ribuan siswa SMP memilih tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena faktor ekonomi.

“Sebagian besar siswa lulusan SMP yang tak melanjutkan sekolah lantaran memilih bekerja dan menikah. Mereka bekerja baik membantu orang tua maupun bekerja sendiri,” ujar Ali kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, berdasarkan data yang masuk di Disdikpora, setiap tahun jumlah siswa lulusan SMP yang tak melanjutkan pendidikan bertambah. Tahun 2014 jumlah siswa lulusan SMP tak melanjutkan sekolah sekira 3.200 lebih. Tahun 2015 meningkat menjadi lebih dari 3.600 anak.

“Ada kecenderungan meningkat pada beberapa tahun terakhir ini. Kalau tahun ini angkanya berapa belum tahu, karena baru sebagain sekolah yang memasukan data siswa ke dinas,” terangnya.

Ia juga mengemukakan, berbeda dengan kondisi siswa tingkat SMP. Siswa di tingkat SD masih banyak yang melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, setingkat SMP. Meski begitu, belum 100 persen semua lulusan SD melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Tingkat persentase lulusan SD yang melanjutkan sekolah ke jenjang sederajat SMP mencapai 98 persen. Ya lumayan, hanya segelintir saja yang tidak melanjutkan sekolah,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Perpusda Kudus Tak Punya Pustakawan

perpus 2

Pengunjung perpustakaan Kudus hendak memilih buku. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 
MuriaNewsCom, Kudus – Hingga kini, Perpusda Kudus masih belum memiliki pustakawan. Kondisi sangat berpengaruh dengan kinerja perpustakaan serta kualitasnya.

Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kudus Nanang Usdiarto mengatakan, pihaknya tidak memiliki pustakawan. Padahal, petugas tersebut sangat dibutuhkan untuk mengontrol dan menjalankan.

“Meski hanya satu tidak ada, sedangkan idealnya kami memiliki tiga pustakawan, namun hingga sekarang belum juga terealisasi kapan,”katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, petugas selama ini bukanlah PNS. Sedangkan, untuk kepustakaan, dibutuhkan yang berstatus PNS. Dengan demikian, pihaknya berharap agar pemerintah pusat dapat membuka formasi untuk pustakawan.

Untuk mengembangkan perpustakaan, lanjutnya, dibutuhkan sejumlah pustakawan agar pengelolaannya lebih berkualitas. Diakui, selama ini pengelolaan perpustakaan Kudus diserahkan kepada pegawai yang bukan ahlinya.

Kebutuhan tenaga ahli jelas sangat diperlukan. Upaya pengembangan perpustakaan dengan sarana bangunan yang lebih memadai bisa maksimal. Kemudian golnya adalah bisa meningkatkan minat baca masyarakat Kudus dengan rajin datang ke perpustakaan.

“Apalagi, semua desa di Kabupaten Kudus sudah memiliki perpustakaan, sehingga perlu dukungan pengembangan agar lebih maju. Dan kami juga bertugas untuk membantu mengembangkannya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Demi Buku Novel, Pemuda Kudus Penuhi Perpustakaan 

perpus 1

Pengunjung membaca di Perpusda Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Demi bisa membaca buku novel, banyak pemuda Kudus yang memenuhi perpustakaan daerah (perpusda) setempat.

Dari sekian banyak jenis bacaan yang terdapat di Perpusda Kudus, buku sastra novellah yang ternyata paling banyak diminati.

Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kudus Nanang Usdiarto.

“Kalau paling laris ya novel. Soalnya banyak pembaca dari kalangan pemuda,” katanya kepada MuriaNewsCo, Kamis (4/8/2016).

Meski demikian, bukan berati sedikit yang membaca buku bacaan jenis pelajaran dan lainnya. Sebab semuanya tergantung pada kebutuhan pembaca.

Seperti para mahasiwa misalnya. Mereka banyak mencari literatur untuk tugas. Selain itu, untuk anak sekolah lebih tertarik pada dongeng dan juga buku cerita, termasuk juga novel.

“Kami akan mencukupi kebutuhan pengunjung. Meskipun itu buku bacaan maupun juga novel. Sebab kebutuhan mereka adalah masukan bagi kami,” katanya

Saat ini, jumlah koleksi buku yang ada di Perpustakaan Kudus mencapai 23.000 koleksi dari berbagai disiplin ilmu. Rencananya, kata dia, akan ada penambahan 2.500 buku baru hasil pengadaan tahun APBD Kudus 2016.

Menurutnya, penambahan koleksi buku baru tersebut, selalu melibatkan pembaca yang sering mengunjungi perpustakaan.

Editor : Akrom Hazami

 

“Dosen Pembimbing Harus Mau Di-SMS Mahasiswanya”

umk

Prof DYP Sugiharto memaparkan materi dalam pelatihan AA di UMK.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Koordinator Kopertis Wilayah VI Jateng, Prof Dr DYP Sugiharto M.Pd.Kons, Rabu (3/8/2016), mengatakan, dosen harus memberi manfaat ke mahasiswa.

“Berbagai program yang dirancang perguruan tinggi (PT) adalah upaya meningkatkan kapasitas dosen maupun dukungan. Agar dosen memperoleh gelar akademik strata tertinggi. Pada akhirnya harus memberi manfaat atau kembali kepada mahasiswa,” katanya.

Itulah poin penting yang disampaikannya. Dia mengemukakan hal itu di depan 53 peserta pelatihan Apllied Approach (AA) yang diselenggarakan Universitas Muria Kudus (UMK) dan Kopertis Wilayah VI Jateng, 1-4 Agustus.

“Gong atau output dari PT adalah mahasiswa, melalui pembelajaran. Diraihnya gelar doktor atau profesor oleh akademisi PT, yang merasakan perubahan adalah mahasiswa. Sebuah PT, hebatnya seorang dosen, jangan sampai meninggalkan kelas,” ujarnya.

Koordinator Kopertis VI Jateng itu, secara khusus juga menekankan hal tersebut bagi pimpinan dan segenap dosen UMK. “UMK akan besar. Saya melihat visi-visinya menampakkan indikasi ke arah itu. Tetapi jangan lupa, besarnya adalah untuk mahasiswa,’’ pesannya.

Dia juga menekankan agar para dosen memberikan layanan yang baik dan menghargai mahasiswa, sehingga pada akhirnya akan memberikan kesan yang baik hingga mahasiswa menyelesaikan studi.

“Kesan terakhir (bagi mahasiswa) harus mengesankan, yaitu saat menyusun skripsi. skripsi adalah wilayah individual. Pertanyaannya, apakah jika pembimbing skripsi di SMS mahasiswa bimbingannya, membalas atau tidak,’’ ungkapnya sembari bertanya.

Ditambahkannya, pelayanan seperti itu merupakan bagian dari penghargaan pedagogik.

“Suatu kali anak saya terlihat senang sekali. Ketika saya tanya, katanya baru di sms pembimbing skripsinya, padahal sebelumnya kalau di sms tidak pernah membalas. Pelayanan yang baik akan memunculkan kearifan-kearifan. Harus diakui, anak-anak sekarang lebih kritis, dan di beberapa hal, kita ketinggalan dengan inovasi-inovasi baru,’’ terangnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Kisah KHR Asnawi, Tiap Jumat Pahing Berjalan 36 Km Ajarkan Agama

cak nun

Kegiatan pembacaan Salawat Asnawiyah di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain menjadi tokoh nasional, KHR Asnawi juga dikenal sebagai seorang guru ngaji. Hal itu dapat dilihat, dari keberadaan madrasah Qudsiyyah, yang didirikan olehnya.

Di antaranya, setiap Jumat Pahing, dia berjalan kaki sejauh 36 km demi mengajarkan ngaji kepada masyarakat.

“Tiap Jumat Pahing beliau ke gunung Muria, Masjid Muria. Dengan jalan kaki, beliau kesana demi mengajarkan tentang agama” kata KH Muzammil yang berasal dari Madura, Jatim.

Menurutnya, yang juga Ketua Bahtsul Masail Yogyakarta, apa yang dilakukan KHR Asnawi itu secara rutin hendaknya bisa dilanjutkan oleh generasi generasi selanjutnya.

Dia juga mengatakan kalau salawat merupakan cara doa menjadi mustajabah. Sebab, dengan salawat maka pasti mendapat pahala.

Dia sangat setuju jika Salawat Aswaniyah dibawa cak Nun. Karena Salawat Asnawiyyah jika dibawakan Cak Nun bisa sampai Nasional, bahkan bisa mencapai internasional.

“Sebelum pengajian ini, saya ziarah ke makam Mbah Asnawi,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Inilah Alasan Kenapa Siswa Gambar Menara Kudus

qudsiyyah 2

Siswa menggambar Menara Kudus di Madrasah Qudsiyyah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perlombaan menggambar Menara Kudus, bukanlah tanpa alasan. Melainkan, panitia ingin menunjukkan bahwa Kudus yang memiliki simbol Menara, yang juga sebagai simbol toleransi.

Hal itu disampaikan panitia kegiatan Abdul Jalil. Menurutnya, panitia sengaja memilih bentuk menara untuk menggambar.

Hal itu, sangat berhubungan juga dengan tema kegiatan yang membumikan Gusjigang.

“Jadi harus sesuai. Selain itu, menara juga contoh yang bagus, yang merupakan peninggalan Sunan Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (3/8/2016).

Menurutnya, dalam Gusjigang, bukan hanya dilakukan sebatas ucapan. Namun juga harus dilaksanakan. Dan menara, menjadi simbol yang pas untuk dijadikan gambaran.

Selain menggambar, sebelumnya juga dilakukan perlombaan mewarnai. Dalam lomba mewarnai, juga sama bertemakan Menara Kudus.

Editor : Akrom Hazami

 

Puluhan Siswa SD Sederajat Ramai-Ramai Gambar Menara Kudus

qudisyyah

Siswa mengikuti kegiatan lomba di Madrasah Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah puluhan siswa di Kudus, ramai-ramai menggambar Menara Kudus. Para peserta tersebut, datang memeriahkan kegiatan satu abad madrasah Qudsiyyah di jalan KHR Asnawi, Rabu (3/8/2016).

Panitia kegiatan, Sholihin Huda mengungkapkan, pada kegiatan menggambar kali ini, diikuti 30 peserta. Dalam lomba itu, bebas diikuti oleh para siswa SD/MI sederajat.

“Ada 30 peserta yang datang, baik laki laki maupun perempuan dari SD atau MI. Namun lombanya diberikan tema Menara. Jadi yang digambar hanya Menara saja,” katanya.

Waktu lomba dimulai pukul 13.30 WIB. Dan berakhir hingga pukul 16.00 WIB. Waktu itu merupakan durasi yang siswa menggambar Menara Kudus.

Adelia Indah, seorang peserta lomba asal SD 2 Demaan, Kota, mengaku senang dengan lomba itu. Dia menargetkan menang lomba.

“Tadi baru tahu sekitar jam 10.00 WIB. Saat itu dengan ibu mencari tempat daftar kemudian daftar,” ujarnya.

Meski baru tahu, dia yakin akan menang. Sebab, dia sangat suka menggambar sejak usia satu tahun. Dan hingga kini sudah banyak perlombaan yang diikuti.

Editor : Akrom Hazami

 

Gandeng KPAD, LPAR Blusukan Hingga Pelosok Desa

  LPAR mengadakan rapat koordinasi mengenai perlindungan anak yang ada di Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


LPAR mengadakan rapat koordinasi mengenai perlindungan anak yang ada di Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya perlindungan terhadap anak dari tindak kekerasan dan pelecehan seksual, Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) menggandeng Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD).

Koordinator Jaringan dan Advokasi LPAR Didik Dimyati mengatakan, antara LPAR dan KPAD memiliki misi yang sama, yakni memberikan perlindungan terhadap anak dan membantu pemerintah dalam mewujudkan Rembang sebagai kabupaten layak anak.

“LPAR selalu melakukan koordinasi dengan KPAD untuk bisa sama-sama dalam memberikan edukasi terhadap warga Rembang. Apalagi, KPAD ini kan memang organisasi yang ada di masing-masing desa, sehingga, mereka tahu bagaimana kultur masyarakat setempat. Karena, kita memang blusukan sampai ke desa-desa dalam memberikan edukasi terkait perlindungan anak ini,” katanya.

Ia katakan, dari 287 desa dan 7 kelurahan yang ada di Rembang, baru ada 66 desa dan 7 kelurahan yang sudah mempunyai KPAD. “Pembentukan KPAD itu bukan wilayah kita. Sebab KPAD itu di bawah instansi pemerintah desa dan kelurahan. Dalam hal ini, KPAD juga dibina oleh BPMPKB,” ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk sementara ini, porsinya LPAR hanya sebagai media untuk mendidik warga Rembang supaya bisa melindungi anak anak.”Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga kita saling berkoordinasi dengan pihak terkait. Sehingga pendidikan perlindungan anak bisa selalu disalurkan ke warga Rembang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Sejumlah Pemuda di Rembang Rela Tak Dibayar Demi Selamatkan Anak-anak dari Tindak Kekerasan

 Anggota Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) sedang menggelar rapat koordinasi di Kantor LPAR di Kelurahan Leteh (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Anggota Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) sedang menggelar rapat koordinasi di Kantor LPAR di Kelurahan Leteh (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Meskipun Rembang sudah menyandang gelar sebagai kabupaten layak anak sejak tahun 2011, namun kekerasan terhadap anak masih rentan terjadi. Apalagi jika isu tersebut dianggap tanggungjawab pihak tertentu. Padahal, perlindungan anak merupakan tanggungjawab bersama.

Terkait hal itu, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) menginginkan adanya keselamatan anak-anak dari adanya tindak kekerasan ataupun pelecehan seksual, dan hal lainnya.

Divisi Penguatan Organisasi LPAR Syafi’ul Anam mengatakan, dalam hal ini, anggota yang tergabung dalam LPAR berupaya agar tidak muncul adanya kekerasan-kekerasan ataupun pelecehan terhadap anak di Kabupaten Rembang.

“Caranya dengan memberikan edukasi terhadap anak-anak maupun masyarakat umum. Seperti halnya melarang saling membuli, saling mencemooh atau lainnya. Sebab, hal-hal seperti itu bisa memicu adanya kekerasan,” ujarnya.

Bahkan menurutnya, dalam pergerakannya atau menjalankan kegiatan dalam upaya memberikan perlindungan terhadap anak tersebut, pihaknya rela untuk tak dibayar. “Ini memang sukarela, dan keberadaan kami juga diharapkan bisa memberikan support terhadap pemerintah dalam hal mewujudkan kota layak anak secara maksimal,” katanya.

Dia menambahkan, meskipum lembaga ini tidak ada anggaran dari instansi atau pemerintah, namun anggota LPAR akan selalu ikut membantu pemda dalam penyelengaraan perlindungan anak.”Terlebih, Pemda Rembang juga menginginkan kategori kabupaten layak anak bisa terus terwujud,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

53 Dosen Ramai-Ramai Tingkatkan Kualitas di UMK

umk

Kegiatan peningkatan dosen di kampus UMK.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Universitas Muria Kudus (UMK) bekerja sama dengan Kopertis Wilayah VI Jawa tengah menyelenggarakan pelatihan Applied Approach (AA). Kegiatan dalam rangka meningkatkan kualitas tenaga pendidiknya (dosen),

Pelatihan AA bagi dosen ini dilaksanakan di Ruang Seminar Lantai IV Gedung Rektorat, dan dibuka langsung oleh Rektor Dr. Suparnyo . Acara ini berlangsung selama empat hari, yakni Senin (1 Agustus sampai 4 Agustus.

“Ada 53 peserta dalam pelatihan AA kali ini,’’ ujar Rina Fiati ST MCs, ketua panitia pelatihan dari rilis pers ke MuriaNewsCom.

Dari 53 peserta, katanya, 46 merupakan dosen UMK. ‘’Lainnya dari kampus luar UMK. Satu dari STTR Ronggolawe, Cepu, Blora, satu peserta datang dari Akper Krida Husada Kudus, dan lima peserta lainnya dari Stikes Cendekia Utama Kudus,’’ ungkapnya.

Dia menjelaskan, berbagai materi yang disampaikan dalam pelatihan ini, antara lain mengenai konsep dasar kurikulum, konstruktivisme dalam pembelajaran, dan penulisan buku ajar.

“Untuk pemateri, yaitu Prof. Dr. DYP. Sugiharto M.Pd.Kons, Prof. Dr. Sunandar M.Pd., Prof. Dr. Hardani Widhiastuti MM.Psi., Sugeng Slamet ST. MT., dan Sunardi SS. M.Pd.,’’ lanjutnya.

Suparnyo dalam sambutannya mengatakan, pelatihan AA ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dosen, terlebih dengan telah diberlakukannya pasar bebas ASEAN  (Masyarakat Ekonomi ASEAN/ MEA).

“Semoga setelah mengikuti pelatihan ini para dosen meningkat kemampuannya. Mulai dari keaktifannya dalam proses mengajar, karena ini berhubungan dengan kualitas lulusan, sehingga ke depan baik dosen maupun mahasiswa, juga lulusannya, siap menghadapi MEA,” tegasnya.

Suparnyo berharap, para peserta pelatihan AA 2016 di UMK bisa mengikuti dengan baik, agar bisa meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik (dosen).

“Dengan begitu, diharapkan kompetensinya juga akan meningkat, baik kompetensi profesional, kompetensi sosial, maupun kompetensi kepribadiannya,’’ ungkapnya.

Kepala Bidang (Kabid) Akademik, Kemahasiswaan dan Kelembagaan Kopertis VI, Agung Purwanto yang mewakili kepala Kopertis VI Jawa Tengah, dalam sambutan singkatnya berharap rektor ikut mengawasi peserta pelatihan AA.

“Agar berjalan dengan baik. Sebab, pelatihan ini telah mengalami pemadatan,’’ paparnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Butuh 7 Menit Bagi Siswa Qudsiyyah Kudus Ini untuk Tulis Alquran Satu Halaman

Siswa Qudsiyyah Kudus Ini Bisa Tulis Alquran Satu Halaman 7 Menit

Siswa Madrasah Qudsiyyah Kudus menyelesaikan lombanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 
MuriaNewsCom, Kudus – Bagi para orang awam, seorang yang menulis Alquran membutuhkan waktu yang lama. Namun tidak bagi para santri Qudsiyyah, mereka hanya membutuhkan waktu tujuh menit untuk menulis satu halaman Alquran.

Dia adalah Muhammad Himawan, seorang siswa kelas X itu mampu menyelesaikan tulisannya selama tujuh menit. Hal itu karena dia sudah biasa menulis Arab di sekolahnya.

“Kalau menulis Alquran belum pernah. Namun kalau menulis arab sudah sering di sekolah,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (2/8/2016).

Sedangkan untuk siswa lainnya membutuhkan waktu yang lebih lama, tengok saja Muhammad Rodif Muaffah (16) siswa kelas sembilan di MTs Qudsiyah. Dalam menulis satu halaman, dia membutuhkan waktu hingga satu jam.

“Tadi menulis satu halaman jus 14. Tapi butuh waktu satu jam, karena tidak terbiasa . Selain itu, karena tidak ada alas, makanya susah menulisnya,” ungkapnya.

Para siswa mengaku senang dengan program itu sebab selama ini kebanyakan tidak pernah menulis, terlebih secara bersamaan seperti ini.

Editor : Akrom Hazami

 

Anggota Paskibra Diminta Serius Jalani Latihan

Anggota paskibra saat mengikuti latihan di Alun-alun Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota paskibra saat mengikuti latihan di Alun-alun Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Mendekati pelaksanaan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia, pasukan pengibar bendera (paskibra) Kabupaten Pati terus mengintensifkan latihan.

Pelatih Paskibra, Aiptu Suharto menyampaikan, agar mereka yang tergabung dalam paskibra bisa mengikuti sesi latihan secara serius. Diharapkan, dengan begitu, nantinya mereka dapat tampil di hadapan publik pada 17 Agustus nanti.

Dirinya pun berpesan, agar anggota paskibra yang rata-rata duduk di bangku kelas X tingkat SMA itu nantinya dapat menjadi contoh dan motivator bagi generasi seusia mereka. “Mereka adalah generasi pilihan. Kita harapkan tidak hanya mampu melaksanakan tugas nantinya, tapi juga bisa menjadi contoh bagi generasinya,” tegasnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, nantinya, anggota paskibra juga akan mendapatkan piagam penghargaan, dan nantinya bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Misalkan saja untuk dilampirkan ketika mendaftar ke perguruan tinggi.

Editor : Kholistiono

Ribuan Santri Madrasah Qudsiyyah Kudus Nulis Alquran 30 Juz

qudsiyah

Santri Madrasah Qudsiyyah mengikuti lomba Nulis Alquran. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus –  Sekitar 1000 santri Madrasah Qudsiyyah Kudus melakukan aksi menulis Alquran 30 Juz. Para santri, melakukan aksi menulis Alquran, Selasa (2/8/2016) pada kegiatan 100 tahun Qudsiyah.

Seribu siswa yang menulis, hanya mereka yang duduk di bangku MTs dan MA saja. Sedangkan untuk yang masih di bangku MI, belum diikutkan menulis Alquran.

Abdul Halil, panitia kegiatan mengungkapkan kalau pihaknya ingin para santri berbuat aktif, bukan pasif. Sehingga cara yang dipilih bukanlah membaca, melainkan menulis.

“Kalau membaca sudah umum, dan itu juga pasif. Untuk itulah dilakukan kegiatan menulis, agar siswa menjadi aktif. Sebab kita lakukan tindakan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, seribu santri tersebut menulis lafal Alquran secara serentak. Langkah itu, dipertegas dengan cara mempertegas bahwa santi bisa mandiri.

Karya para santri itu, kata dia, akan menjadi milik madrasah dan menjadi kado bagi madrasah yang berusia 100 tahun. Mushaf tersebut, akan disimpan pihak yayasan.

“Langkah itu, juga sebagai langkah deklarasi santri mandiri. Sebab, kalau yang hanya bicara berupa deklarasi sudah banyak. Yang sedikit itu yang melakukan,” ungkapnya di lokasi Jalan KHR Asnawi.

Dalam menulis, para santri memiliki khas, yaitu menggunakan ikat kepala dan mengenakan baju putih serta memakai sarung.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Paskibra Rembang Digojlok Polisi dan Tentara

 Paskibra sedang mengikuti latihan di Alun-alun Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Paskibra sedang mengikuti latihan di Alun-alun Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pasukan pengibar bendera (paskibra) Kabupaten Rembang terus melakukan latihan secara intensif. Apalagi, pelaksanaan upacara bendera dalam rangka meperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Kemerdekaan Indonesia tinggal dua pekan lagi.

75 siswa-siswi yang tergabung dalam paskibra terus digembleng oleh pelatih dari TNI dan kepolisian. “Latihan kali ini sudah masuk sesi formasi barisan buka dan tutup. Latihan juga sudah dimulai sejak Rabu (27/7/2016),” ujar Perwakilan Tim Pelatih Aiptu Hartono.

Ia katakan, untuk sekarang ini, pihaknya menegaskan jika persiapan sudah hampir 70 persen. Meski demikian, persiapan terus dimatangkan, sehingga pada hari H nanti, anggota paskibra sudah benar-benar siap tampil dalam upacara.”Untuk latihannya, kita mulai dari pukul 07.00 hingga 11.00 WIB. Sehingga nantinya di saat akan menuju hari H, maka anggota paskibraka bisa optimal,” ujarnya.

Dirinya berharap, anggota paskibra benar-benar serius untuk mengikuti latihan, sehingga, nantinya bisa mendapatkan hasil maksimal. “Harapannya, dengan latihan yang serius, nantinya membuahkan hasil maksimal,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Juara Didominasi PTN pada Pelaksanaan Peksimida 2016

Rektor UMK foto bersama peserta yang meraih juara pada lomba tankai puisi (Istimewa)

Rektor UMK foto bersama peserta yang meraih juara pada lomba tankai puisi (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Peserta dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) masih terlihat mendominasi raihan prestasi dalam Pekan Seni Mahasiswa Indonesia Daerah (Peksimida) 2016. Itu nampak pula dalam dalam tangkai lomba baca puisi dan penulisan karya sastra yang digelar di Universitas Muria Kudus (UMK).

Dalam berbagai lomba baca puisi putra, juara I diraih M. Arbi (Unnes), disusul Afif Fakhrudin (STMIK YMI Tegal) sebagai juara II dan juara III disabet Trisna Afriadi Muhammad (Undip). Sedanga baca puisi putri, juara I digondol Arsy Novitasari (Undip), juara II Nifrinas Yulistin Rizky (Unsoed) dan juara III diraih Diaz Muslima Qoirunisa (UNS).

Untuk lomba penulisan puisi, keluar sebagai juara I Farikhatul Ubudiyah (IAIN Purwokerto), juara II Yuliani (Undip), sedang juara III Asa Wajada Rezky Abd. (Unsoed). Untuk penulisan Cerpen, tampil sebagai juara I Bunga Hening Maulidina (UNS), juara II Revita Tri Sulastri (Udinus), dan juara III Hajar Intan Pertiwi (Politeknik Harapan Bersama).

Hanya dalam lomba penulisan lakon, kata Ketua Panitia Peksimida 2016 di UMK Hendy Hendro HS, yang tidak didominasi PTN. ”Untuk lomba penulisan lakon, sebagai juara I Alin Ambarwati (UPS Tegal), juara II Neneng Maisaroh (Politeknik Harapan Bersama), dan diraih juara III Pristi Agung Kurniawan (Unissula),” ujarnya.

Kendati belum ada wakil UMK yang berhasil mengukir prestasi di Peksimida ini, namun Hendy cukup berbangga hati, karena Peksimida di kampusnya  berjalan dengan lancar dan sukses. ‘’Ini berkat kekompakan segenap panitia,’’ ungkapnya.

Selain itu, obyektivitas dalam penyelenggaraan lomba begitu ditekankan dalam penyelenggaraan di UMK. ‘’Obyektivitas itu dengan tidak memasukkan satu dosen sebagai juri dalam berbagai lomba yang digelar,’’ tuturnya.

Sementara itu, Rektor UMK Suparnyo, berharap, agar para mahasiswanya bisa becermin dari Peksimida 2016, yang antara lain diselenggarakan di perguruan tinggi yang dipimpinnya untuk meningkatkan prestasi.

‘’Pengalaman menjadi penyelenggara Peksimida ini, semoga bisa memotivasi mahasiswa untuk bersaing dan mengukir prestasi  dalam berbagai tangkai yang dilombakan. Dan juga bidang-bidang lain di luar Peksimida, prestasi juga mesti dipacu,’’ ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Langit SMAN 1 Jepara Penuh Balon dan Burung Merpati, Ada Apa?

sma 1

Siswa SMAN 1 Jepara merayakan hari jadinya ke-53 dengan meriah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan balon dan merpati dilepas di halaman SMA Negeri 1 Jepara, Senin (1/8/2016). Pelepasan balon dan merpati yang dilihat ratusan siswa itu, dilakukan sebagai tanda perayaan hari ulang tahun ke-53 sekolah tersebut. Sontak, balon dan merpati yang terbang di udara mendapatkan sorotan kamera dari para siswa, dan dijadikan sebagai latar untuk berselfie.

Pelepasan balon dan merpati dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Jepara Udik Agus DW, bersama Wakil Bupati Jepara Subroto serta jajaran pejabat dan guru di sekolah tersebut. Usai balon dan merpati dilepas ke udara, rangkaian kegiatan HUT dimulai seperti jalan sehat dan yang lainnya.

Kepala SMA Negeri 1 Jepara Udik Agus DW mengatakan, jalan sehat yang diikuti seluruh siswa, guru dan karyawan tersebut mengambil start dan finish dari halaman sekolah.

Para peserta menyusuri rute jalan mulai dari SMA Negeri 1 Jepara ke arah utara Tugu Kartini sampai di perempatan PLN Jepara belok kiri jalan Dr Sutomo sampai di perempatan SD Kanisius belok kiri atau selatan di jalan AR Hakim. Hingga tiba Simpang Ruwet belok kiri ke jalan HOS Cokroaminoto dan finish kembali ke SMA Negeri 1 Jepara.

“Jalan sehat kali ini juga dibarengi dengan lomba Beauty Walk Competition (BWC) yang merupakan kegiatan yang melombakan kerapian barisan saat melaksanakan jalan sehat. Setiap kelas akan dinilai saat pelaksanaan jalan sehat. Kriteria penilaian meliputi kerapian, kekompakan, ketertiban, dan kehebohan kelas. Selain jalan sehat, juga diisi berbagai kompetisi, diantaranya lomba Yel-yel dan lomba Estafet,” ujar Udik, Senin (1/8/2016).

Sementara itu, Wakil Bupati Jepara Subroto mengatakan, SMA Negeri 1 Jepara telah turut berkontribusi dalam pembangunan di Jepara. Terutama melalui para alumni yang kini sudah ribuan jumlahnya dan tersebur di seluruh Indonesia. Mereka telah mengabdikan diri melalui berbagai jalur pekerjaaan, baik di lembaga pemerintahan, di sektor swasta, maupun sebagai wiraswasta.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Banyak Kejutan di Peringatan 1 Abad Qudsiyyah Kudus

qudsiyyah 2

Perwakilan panitia Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaksanaan kegiatan puncak satu abad Madrasah Qudsiyyah, Kudus diprediksi akan ramai. Sebab, panitia sudah menyiapkan acara yang tidak biasa, dan banyak kejutan.

Perwakilan panitia kegiatan Abdul Jalil, mengatakan kalau kegiatan akan berjalan mulai 1 hingga 7 Agustus. Dan tiap harinya bakal berlangsung kegiatan yang berbeda.

“Seperti pembukaan 1 Agustus, bakal dihadiri Kepala Litbang Kemenag RI. Kami sudah kontak dengan mereka,” katanya.

Selanjutnya, kegiatan akan dilangsungkan dengan halaqoh santri dan konser budaya santri. Pada Selasa 2 Agustus, ada Mubarok Kids and Friend Show yang dilahirkan dengan deklarasi santri mandiri serta peluncuran album Al Mubarok volume XI

“Kegiatan lain adalah Lomba Mewarnai dan Gambar Menara. Lalu dilanjutkan dengan konser 100 selawat pada Kamis,” imbuhnya.

Kegiatan selanjutnya adalah Menulis Alquran 30 juz. Yang menulis adalah santri yang mencapai 1.000 orang.

Perwakilan Yayasan Qudsiyah, Nadjib Hasan mengatakan, album tersebut sekaligus lagu yang dibuat mencapai 100. “Ini sebuah kebetulan,” kata Nadjib.

Dia mengatakan, dalam kegiatan juga ada peluncuran program IPA. Selama ini hanya terdapat Prodi IPS saja. Hal itu berdasarkan masukan oleh banyak pihak.

“Kegiatan ditutup musik religi, yang berlangsung Ahad mendatang, 7 Agustus,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kegiatan itu merupakan kegiatan dari santri, baik alumni dan siswa di sana. “Kami ingin menyatukan balung pisah. Jadi kami libatkan semuanya,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Mahasiswa Unisnu Jepara Waspadai Perkembangan Internet

kampus

Salah satu narasumber seminar yakni Edi Noersasongko menjelaskan materinya tentang perkembangan media dan teknologi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dewasa ini perkembangan dunia media sangat pesat, seiring dengan perkembangan teknologi informasi, yakni internet. Sayangnya, selain membawa dampak positif, ternyata perkembangan itu juga membawa dampak negatif seperti menyebarnya paham radikal.

Berkaitan dengan itu, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Unisnu dituntut mampu menguasai tulis menulis dan IT agar mampu menangkal radikalisme di media cyber.

Hal itu mengemuka dalam acara senimar nasional yang digelar oleh FDK Unisnu Jepara, di gedung Unisnu lantai tiga, Sabtu (30/7/2016).

Acara itu dihadiri ratusan peserta dari unsur dosen, karyawan, mahasiswa, siswa tingkat SLTA hingga santri. Mereka antusias mengikuti seminar yang menghadirkan narasumber berkompeten dibidangnya, yakni Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang Edi Noersasongko, dan Kaprodi KPI Unisnu Jepara, Abdul Wahab.

Dekan FDK Unisnu, Noor Rohman Fauzan mengatakan, perkembangan dunia digital seperti saat ini menjadi peluang dan tantangan bagi pihak-pihak tertentu yang mampu memanfaatkan media, khususnya media cyber.

Di sisi lain, itu justru menjadi ancaman bagi publik ketika informasi yang diedarkan di media cyber tidak benar dan hanya fitnah belaka, serta hanya berisi provokatif dan paham radikal.

“Peredaran informasi lewat media cyber tidak dapat dibendung. Kondisi ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya bagi para dai, untuk melakukan aktivitas dakwahnya, yakni dakwah yang menyejukkan. Sedangkan bagi masyarakat, harus lebih berhat-hati ketika menerima informasi dari media cyber. Cek dulu kebenarannya, dengan cara membandingkan dengan informasi sejenis dari beberapa media lainnya,” terang Rohman.

Menurutnya, di internal umat Islam sendiri terjadi persaingan di dunia cyber. Tidak sedikit media cyber bernuansa dakwah tetapi radikal, bahkan mereka cenderung mendominasi di dunia internet. Untuk itu, kader-kader dai dari Fakultas Dakwah Unisnu dituntut mampu menguasai tulis menulis dan keahlian dibidang IT.

Sementara itu, salah satu narasumber seminar, Edi Noersasongko mengemukakan, saat ini jumlah pengguna internet di Indonesia lebih dari separuh dari jumlah penduduk di Indonesia. Mereka tidak hanya dari kalangan anak muda, tetapi orang-orang tua.

“Kalau dulu mungkin baru anak muda yang menggunakan internet. Tetapi sekarang sudah rata. Dalam kurun waktu setengah tahun terakhir saja, peningkatan jumlah pengguna internet terus mengalami grafik kenaikan yang sangat tajam,” tandasnya.

Untuk itu, lanjutnya, generasi penerus bangsa saat ini harus pandai memanfaatkan internet, khususnya media cyber untuk hal-hal yang bermanfaat. Ketika ada informasi yang hoax, pelaku media yang baik harus mengimbangi itu dengan informasi yang benar, agar tidak menyesatkan masyarakat atau pembaca.

Editor : Akrom Hazami

 

Cak Nun, Kiai Kanjeng dan Gus Mus Bakal Ramaikan Satu Abad Qudsiyyah Kudus

qudsiyyah

Perwakilan dari Madrasah Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam memperingati satu abad atau 100 tahun Madrasah Qudsiyah Kudus, bakal dimeriahkan Kiai Kanjeng, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Tokoh nasional itu, bakal datang di waktu yang berbeda saat perayaan satu abad.

Hal itu diungkapkan panitia kegiatan, Abdul Jalil. Menurutnya, dalam puncak kegiatan yang berlangsung selama sepekan, akan menghadirkan tokoh tersebut.

Dia mengatakan kegiatan puncak berlangsung selama satu pekan. Dengan tiap hari ada kegiatan, baik malam maupun siang hari. Acara dimulai 1 Agustus hingga 7 Agustus.

“Sesuai dengan jadwal, Cak Nun dan Kiai Kanjeng akan datang pada Rabu, 3 Agustus mendatang. Kedatangan Cak Nun bakal mendaulat shalawat Aswaniyah sebagai shalawat kebangsaan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Cak Nun dan rombongan bakal berada di panggung Expo yang bertempat di sekitar madrasah Qudsiyah. Kegiatan dimulai pukul 19.00 WIB.

Sedangkan Gus Mus, bakal mengisi pengajian umum pada Sabtu, 6 Agustus mendatang pada jam 19.00 WIB. Gus Mus bakal mengisi pengajian dengan tema meneladani kearifan KHR Asnawi.

“Pengajian umum, jadi bagi masyarakat yang hendak datang dipersilakan. Tempat yang disediakan juga luas,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

4 Taruna Akmil Ini Mendadak Bikin Heboh Siswa Smansa Purwodadi

Empat Taruna Akmil Magelang saat menyampaikan sosialisasi pada siswa Smansa Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Empat Taruna Akmil Magelang saat menyampaikan sosialisasi pada siswa Smansa Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Tidak seperti biasanya, ruang kelas XII/MIPA-1, SMAN 1 (Smansa) Purwodadi, mendadak jadi ramai pada Sabtu (30/7/2016). Hal ini menyusul adanya empat Taruna Akademi Militer (Akmil) Magelang yang mendadak masuk ke situ.

Kedatangan para Taruna Akmil itu, dalam rangka memberikan beragam sosialisasi kepada pelajar Smansa mengenai berbagai hal. Antara lain, mereka diminta untuk rajin belajar, aktif dalam organisasi sekolah serta menghindari perilaku negatif.

Para taruna juga memberikan gambaran mengenai keberadaan Akmil dan bagaimana caranya untuk bisa masuk ke lembaga pendidikan di bawah naungan TNI Angkatan Darat tersebut. Para taruna secara bergantian juga menjelaskan berbagai hal yang perlu dipersiapkan jika ingin mendaftar ke Akmil.

“Banyak yang harus dipersiapkan, karena proses seleksi dilakukan sangat ketat. Mulai nilai yang bagus, fisik, mental, niat dan restu orang tua. Jika ada Adik-adik yang mau masuk Akmil, maka persiapkan mulai sekarang mumpung masih ada waktu,”  kata Satria Kukuh Eritama, salah satu taruna.

Para siswa Smansa terlihat cukup senang dengan hadirnya para taruna. Hal ini terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan para siswa. Baik, soal tata cara seleksi, persyaratan hingga pengalaman para taruna selama menempuh pendidikan.

Tiga dari empat taruna tersebut ternyata cukup familiar dengan siswa Smansa. Ternyata ketiganya merupakan alumni SMA negeri satu-satunya di Kecamatan Purwodadi tersebut.

Ketiga taruna ini masing-masing, Satria Kukuh Eritama dan Erzan Faturahman, keduanya alumni Smansa tahun 2013. Kemudian, Wahyu Tri Atmojo alumni Smansa 2014.

Satria yang berasal dari Kampung Majenang, Kelurahan Purwodadi saat ini merupakan taruna tingkat III. Kemudian, Wahyu asal Desa Wandankemiri, Kecamatan Klambu juga taruna tingkat III. Sementara Erzan yang berasal dari Kampung Kauman, Kelurahan Purwodadi merupakan taruna tingkat II.

Satu taruna lagi yang ikut menyampaikan sosialisasi adalah Arif Subekti yang berasal dari Kampung Kuripan, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi. Arif yang sekarang jadi taruna tingkat II merupakan alumni SMAN 1 Grobogan.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat mengaku bangga dengan keberhasilan anak didiknya masuk Akmil. Menurutnya, selama ini, para alumni Smansa yang masuk Akmil memang sering berkunjung ke sekolah untuk menjalin silaturahmi dan memberi motivasi adik-adiknya.

“Saya senang dengan kehadiran para taruna yang bersedia meluangkan waktu untuk berkunjung ke sini. Semoga hal ini bisa memicu semangat adik-adiknya untuk meraih prestasi,” katanya.

Editor : Kholistiono

Puncak Acara 1 Abad Qudsiyyah Kudus Digelar 22 Kegiatan

qudisyyah

Warga melihat publikasi acara peringatan 100 Tahun Madrasah Qudsiyyah.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Acara puncak peringatan satu abad Qudsiyyah Kudus bakal digelar selama sepekan, 1 – 7 Agustus 2016. Bertempat di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 32 Damaran Kota Kudus. Sedikitnya tak kurang dari 22 acara bakal dilaksanakan.

Acara-acara yang bakal menjadi andalan di antaranya, Santri Mandiri & UMKM Expo, pameran  Kitab Ulama Nusantara, Konser Budaya santri, peluncuran album baru Rebana Qudsiyyah “Al-Mubarok”, Bahsul Masail se-Jawa Madura, Lomba Mewarnai Gambar Menara, Caknun & Kia Kanjeng,  Laga Santri & Pelajar se-Jateng serta ditutup dengan Gema Qudsiyyah bersama KH Mustofa Bisri.

Ketua panitia satu abad Qudsiyyah, Ihsan, mengatakan Santri Mandiri & UMKM Expo bakal digelar selama satu pekan untuk mewadai dan memasarkan produk-produk alumni dan masyarakat umum. Sebanyak 30 stan disiapkan panitia untuk mendukung seluruh rangkaian acara satu abad. “Bagi UMKM yang ingin memperluas pasar, silakan segera mendaftar,” kata Ihsan di rilis persnya.

Selain menyiapkan expo, dia menyatakan juga menyiapkan galeri pameran kesenian dan pameran kitab-kitab karya ulama Nusantara. “Ada begitu banyak kitab-kitab karya ulama Nusantara, termasuk karya pendiri Qudsiyyah KHR Asnawi yang akan kita pamerkan,” kata dia.

Pameran ini akan digelar selama tiga hari, yakni pada Senin – Rabu, 1-3 Agustus 2016 yang bertempat di Aula MA Qudsiyyah Kudus.

Agenda lain yang cukup banyak ditunggu-tungu adalah peluncuran album baru “Al-Mubarok” grup Rebana Qudsiyyah. Mereka bakal meluncurkan album kesebelasnya. Total ada seratus 100 lagu yang sudah diproduksi selama ini.  “Sebanyak 15 lagu baru bakal ada dalam DVD terbarunya Al-Mubarok. Lagu ini melengkapi total 100 lagu Al Mubarok. Ini sebagai kado ulangtahun Qudsiyyah ke-100,” papar Ihsan.

Selain itu, pria yang juga menjabat sebagai Ketua FKUB Kudus ini menuturkan, panggung Caknun dan Kiai Kanjeng dari Yogyakarta, yang bakal digelar pada Rabu malam (3/8) mendatang juga menjadi daya tarik masyrakat umum.

“Kita Undang Cak Nun untuk mendaulat Sholawat karya pendiri Qudsiyyah sebagai Sholawat kebangsaan. Selama ini Sholawat Asnawiyyah hanya dikenal di Kudus saja, kita mau sholawat ini dikenal secara nasional karena sholawat ini berisi doa untuk keamanan Indonesia raya,” ungkap dia.

Kegiatan selama satu pekan ini akan ditutup dengan pengajian yang bertajuk “Gema Qudsiyyah” bersama KH Mustofa Bisri pada Sabtu (6/8) mendatang.  “Kita berharap dalam momentum 100 tahun ini, Qudsiyyah semakin maju dan semakin berkah,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Vera Haryanto Ajak Pemuda Pati Berpartisipasi dalam Ekonomi Kreatif

Vera Haryanto mengajak pemuda untuk ikut berpartisipasi dalam ekonomi kreatif di Desa Sirahan, Cluwak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Vera Haryanto mengajak pemuda untuk ikut berpartisipasi dalam ekonomi kreatif di Desa Sirahan, Cluwak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tresya Oktavera Wedyastantri, putri sulung Bupati Pati Haryanto mengajak pemuda di Pati untuk berpartisipasi dalam ekonomi kreatif. Ada banyak produk unggulan di Pati yang bisa disulap secara kreatif menjadi barang dengan ekonomi tinggi.

“Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah tiba. Kita dihadapkan pada era kompetisi yang ketat. Karena itu, butuh kreativitas yang tinggi untuk bisa bersaing dalam kompetisi ekonomi tersebut,” ujar Vera, Jumat (29/7/2016).

Kreativitas yang dimaksud, bisa memanfaatkan barang-barang bekas tak terpakai atau barang dengan harga murah dan disulap menjadi barang mahal. Untuk mengubah barang murah menjadi barang mahal butuh kreativitas. Hal itu yang disebut Vera sebagai ekonomi kreatif.

Salah satu contoh ekonomi kreatif, antara lain bros dari flanel, aneka produk rajut yang saat ini digemari dalam dunia fashion, miniatur dan perabotan dari pemanfaatan barang bekas, dan lain sebagainya. “Di Pati, sudah mulai bermunculan yang bergiat di bidang ekonomi kreatif. Pemuda juga harus mengikuti jejak baik tersebut,” kata Vera.

Dalam dunia ekonomi kreatif, Vera juga menekankan pada aspek manajemen dan pemasaran. Produk bagus hasil dari kreativitas tidak bisa sukses, tanpa dibekali dengan ilmu pemasaran dan manajemen yang baik.

“Bagaimana orang lain bisa membeli produk kita yang bagus, kalau mereka tidak tahu. Ini yang disebut dengan pemasaran atau marketing. Bagaimana bisnis bisa berjalan dengan baik tanpa adanya manajemen yang baik pula,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

 

Mahasiswa Undip Ajarkan e-Commerce di Desa Sirahan Pati

Sejumlah pelaku UMKM di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak mengikuti program pengenalan e-Commerce dari mahasiswa Undip yang sedang KKN. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pelaku UMKM di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak mengikuti program pengenalan e-Commerce dari mahasiswa Undip yang sedang KKN. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Pati mengajarkan tentang e-Commerce. Hal itu diharapkan agar warga semakin tahu tentang seluk beluk perdagangan elektonik.

Saat ini, perdagangan dalam dunia ekonomi mulai diklasifikasikan dalam perdagangan online dan offline. Perdagangan online ini yang disebut dengan e-Commerce, sedangkan perdagangan secara langsung dinamakan offline.

“Ada banyak potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Desa Sirahan. e-Commerce bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan produk UMKM melalui internet. Bahkan, seseorang bisa berinteraksi dengan calon pembeli melalui gadget atau komputer yang pada akhirnya bisa mendongkrak penjualan produk UMKM di Desa Sirahan,” ujar Tresya Oktavera Wedyastantri, mahasiswi Jurusan Manajemen Undip asal Desa Raci, Batangan.

Dalam mensosialisasikan e-Commerse, mereka bekerja sama dengan para pelaku UMKM, pemuda karang taruna, perangkat desa, hingga kelompok tani. Kehadiran mereka diharapkan bisa memadukan antara produk dan e-Commerse.

“Yang dimaksud e-Commerse itu, perdagangan melalui sistem elektronik, terutama internet. Perdagangan itu bisa mulai penyebaran, pembelian, pemasaran hingga penjualan melalui jasa pengiriman barang. Meski terkesan sederhana, tetapi ada pola manajemen yang harus diketahui warga,” kata Vera.

Vera menambahkan, Tim KKN dari Undip yang ditugaskan di Desa Sirahan sengaja memilih e-Commerse sebagai salah satu programnya, karena kesadaran tentang pemasaran yang lebih modern penting dilakukan pelaku UMKM. Dengan e-Commerce, pelaku UMKM diharapkan bisa memasarkan dan menjual aneka produknya melalui online.

Editor : Kholistiono

 

8 SD Negeri di Jepara Dilebur, Ada Apa?

SD

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya delapan sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Jepara dilebur atau digabung oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) setempat. Itu dilakukan karena sekolah tersebut tidam memenuhi persyaratan berdiri sendiri.

Kepala Disdikpora Jepara Khusairi membeberkan, delapan SDN tersebut yakni SDN 4 Tahunan dan SDN 5 Tahunan digabung ahnya menjadi SDN 5 Tahunan, SDN 1 Karangrandu dan SDN 2 Karangrandu digabung menjadi SDN 1 Karangrandu, SDN 1 Pendosawalan dan SDN 3 Pendosawalan menjadi SDN 1 Pendosawalan dan SDN 4 Telukwetan dengan SDN 6 Telukwetan menjadi hanya SDN 4 Telukwetan.

“Beberapa sebab yang menjadikan SD tersebut digabung yakni jumlah siswa yang sedikit, dalam satu lokasi namun peserta didiknya sedikit serta kekurangan guru. Penggabungan ini dilakukan untuk efektivitas pengelolaannya,” kata Khusairi, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, penggabungan sekolah tersebut berdasarkan Surat Keputusan Bupati Jepara Nomor 420319/2016 tertanggal 21 Juni 2016. Pasca dilebur, hal-hal yang berkaitan dengan aset sekolah yang digabungkan, sarana prasarana, kesiswaan, ketenagaan dan administrasi lainnnya menjadi tugas dan tanggungjawab kepala sekolah yang menerima penggabungan di bawah koordinasi Disdikpora.

“Dalam penggabungan ini tidak menemui masalah berarti, lantaran sebagian besar memang tidak memiliki kepala sekolah,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, tahun depan juga sudah ada rencana untuk melakukan penggabungan beberapa sekolah yang tidak memenuhi syarat. Sebab, ada beberapa sekolah yang memang berpotensi tidak mampu berdiri sendiri lagi sehingga harus dilebur.

Editor : Akrom Hazami