Spot Sayap Burung Hantu jadi Daya Tarik Baru Bukit Pandang Durensawit Pati

Salah satu pengunjung berfoto di spot sayap burung hantu, kawasan wisata bukit pandang, Durensawit, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, terus berbenah. Selain penambahan spot-spot baru, pengelola melakukan perluasan kawasan wisata.

Salah satu spot yang menjadi daya tarik wisatawan baru-baru ini adalah sayap burung hantu. Banyak wisatawan yang antre untuk berswafoto di dua spot tersebut.

Satu spot berada di pinggiran jurang bukit, sehingga pemandangannya cukup mengesankan. Satu spot lagi berada di perbukitan yang dilalui wisatawan.

Septi Nursanti (16), pengunjung asal Bumiayu, Wedarijaksa mengatakan, spot sayap burung hantu cukup menarik dan unik. Terlebih, dia belum pernah menemukan kawasan wisata yang dilengkapi spot unik untuk berswafoto tersebut.

“Hasilnya di foto cukup mengejutkan. Kita seolah-olah punya sayap. Kalau fotografinya pinter, kesannya kita melayang di atas pegunungan. Konsepnya mirip dengan wisata yang lagi ngetren di Jogja,” kata Septi, Selasa (15/8/2017).

Krisno, pengelola bukit pandang menuturkan, pemasangan dua spot baru berupa sayap burung hantu tidak lepas dari tuntutan pengunjung. Ada sejumlah pengunjung yang menyarankan pemasangan sayap burung.

Setelah dipertimbangkan dan melakukan uji coba, ternyata cukup menarik. Hasilnya, wisatawan saat ini punya banyak pilihan spot untuk berswafoto dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial.

“Pengunjung masih didominasi dari pengguna Facebook, disusul Instagram. Kebanyakan pengunjung yang datang juga berasal dari rekomendasi teman atau penasaran, karena lagi booming di sosmed waktu fotonya diunggah,” pungkas Krisno.

Editor : Ali Muntoha

Tak Habis Rp 50 Ribu Bisa Puas Piknik di Pantai Karangjahe Rembang

Salah seorang wisatawan Pantai Karangjahe asal Kudus yang menyempatkan menyewa perahu karet seharga Rp 25 ribu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pantai Karangjahe di Desa Punjulharo, Rembang, semakin populer. Saat musim libur Lebaran kali ini, ribuan orang dari berbagai daerah memadati pantai berpasir putih ini setiap harinya.

Pantai ini menjadi jujugan karena tempatnya yang luas dan indah, serta cocok untuk berenang, dan bermain pasir. Tak hanya itu, piknik di tempat ini tak perlu menguras isi dompet, karena dengan hanya membawa uang yang sedikit pun sudah bisa puas menikmati keindahan Pantai Karangjahe.

Bahkan uang tak lebih dari Rp 50 ribu, sudah bisa puas piknik bersama keluarga di Pantai Karangjahe. Ini juga yang dialami Farida Hasanah (34), warga Desa Barongan, Kecamatan Kudus, yang menghabiskan libur Lebaran di pantai tersebut.

“Saya berwisata ke Karangjahe ini seusai bersilatirahmi ke keluarga yang ada di Blora dan Rembang. Dan sebelum pulang ke Kudus, kita wisata dulu ke sini,” kata Farida.

Bersama keluarga ia datang mengendarai sebuah mobil. Untuk masuk ke objek wisata ini, pengelola taka menarik tiket masuk, hanya membebani biaya parkir. Untuk parkir mobil tarifnya sebesar Rp 10 ribu.

“Saat masuk kita hanya dipungut biaya Rp 10 ribu per mobil. Ya murah sekali sih. Sebab biayanya hanya dipungut per mobil dan bukan perorangan,” ujarnya.

Setelah masuk, pengunjung bisa dengan bebas bermain. Entah berenang, bermain pasir, atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati panorama pantai.

Saat itu Farida memutuskan menyewa perahu karet untuk digunakan bermain di pantai. Tarif sewanya sebesar Rp 25 ribu. Tak ada pembatasan waktu untuk sewa perahu karet ini, sehingga bisa digunakan sampai sepuasnya.

Sampai di sini, biaya yang dikeluarkanya baru Rp 35 ribu, dan sudah bisa piknik dengan nyaman. Jika belum puas dengan hanya bermain menggunakan perahu karet, di lokasi pantai juga disediakan penyewaan ATF atau bisa naik perahu berkeliling. Tentu dengan tarif yang berbeda.

“Di sini kondisinya bersih, pasirnya putih. Terlebih lagi wahana alat pemainannya juga sangat terjangkau,” paparnya.

Hanya satu hal yang membuat Farida ada yang kurang. Yakni menu makanan yang dijajakan para pedagang di kompleks pantai. Ia menyebut, menunya hanya sekadarnya saja dan tak banyak pilihan.

“Kalau bisa menu-menu seperti makanan khas Rembang bisa dijajakan. Supaya bisa banyak pilihan. Kalau masalah harga ya setidaknya bisa diseragamkan. Supaya penjual satu dengan lainnya bisa seragam,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Memagut Mentari ke Peraduan di Pantai Bondo

Suasana matahari tenggelam di Pantai Bondo Jepara yang begitu memikat hati. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bila berbicara wisata Jepara, pasti yang terbersit adalah pantai. Tentu saja, Kabupaten di utara Pulau Jawa ini memiliki deretan pantai yang menawan, dengan pasir putih dan ombak yang tenang. 

Oh iya, satu yang tak boleh terlewat adalah momen tenggelamnya matahari atau sunset. Satu tempat yang bisa menjadi pilihan untuk menikmatinya, adalah Pantai Bondo atau pantai Ombak Mati, yang terletak di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri.

Pantai berpasir putih itu, bisa ditempuh dengan berkendara motor atau mobil. Bagi yang belum pernah ke lokasi itu, jangan takut karena sign board telah terpasang. Pantai Bondo sendiri berada di deretan obyek wisata serupa, yakni Pantai Pailus dan Pantai Empurancak.

Sebelum ke obyek wisata, pelancong akan dimanja pemandangan pedesaan, lengkap dengan sawah padi yang menghijau. Ketika hendak memasuki lokasi, pengunjung akan diminta membeli karcis masuk sebesar Rp 2500, per orang.

Saat Lebaran seperti ini, pantai ini tentu saja dipadati pelancong. Namun tenang, banyak spot untuk menatap sunset di ufuk barat. 

Pengunjung Pantai Bondo asyik bermain dan berenang saat matahari mulai tenggelam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Bila mentari belum ke peraduan, pelancong bisa menyewa kano, ban atau menunggang kuda. Untuk tarifnya lumayan terjangkau, sewa ban hanya dengan Rp 5000. Untuk berkano pelancong cukup merogoh Rp 50.000 untuk durasi sejam, sementara untuk 30 menit ditawarkan Rp 30 ribu. 

Bila hendak berkuda, sekali putaran dikenai tarif Rp 30.000. Jika lapar atau haus, namun tak membawa bekal silakan mampir di warung-warung yang tersedia. Tapi ingat, jangan segan untuk bertanya berapa harga jajanan sebelum membeli.

Kalau itu tak cukup, tentu saja pengunjung bisa menceburkan diri di laut. Airnya tak terlalu dalam, namun tentu saja harus berhati-hati. Pengelola tempat telah menetapkan batas aman dengan bendera merah.

Pengunjung bisa menikmati jasa berkuda saat berlibur di Pantai Bondo. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Waktu yang tepat jika ingin ber-sunset adalah sore hari. Lokasi pantai bisa ditempuh sekitar 60 menit hingga 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Jepara, bergantung pada kepadatan lalulintas. 

Catat waktunya, matahari mulai terbenam di Pantai Bondo mulai pukul 17.00. Di waktu tersebut, bolehlah sekadar duduk memandang ke ufuk, atau berswafoto. 

Seperti yang dilakukan oleh Andi, warga Tahunan-Jepara. Sepulang kerja, ia mengaku menyempatkan diri ke lokasi itu. Menenteng sebuah kamera digital, ia banyak mengabadikan foto-foto berlatar matahari yang tenggelam.

“Sengaja menyempatkan waktu datang ke sini setelah bekerja,” katanya, Kamis (29/6//2017) sore.

Di liburan Lebaran seperti ini, pantai tersebut kerap kali menjadi spot yang menarik untuk dikunjungi. Bahkan hingga malam pukul 21.00. 

“Hari pertama Lebaran, sore harinya sudah mulai meningkat kunjungannya. Perkiraannya nanti hingga kupatan pasti akan ramai,” ucap seorang penjaga parkir di lokasi tersebut. 

Yang perlu diingat, ketika mengunjungi pantai tersebut adalah tak menyampah dan tetap mendampingi keselamatan putra-putri yang dibawa.

Editor : Ali Muntoha

 

Libur Lebaran, Bukit Pandang Disesaki Ribuan Wisatawan

Sejumlah pengunjung tengah berfoto selfie di kawasan puncak bukit pandang Pati dengan latar pegunungan Kendeng, Rabu (28/6/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Objek wisata Bukit Pandang Ki Santamulya yang terletak di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen dikunjungi ribuan wisatawan dari berbagai kota pada musim libur Lebaran.

Mereka mulai memadati kawasan wisata bukit pandang sejak Senin (26/6/2017) dan diperkirakan masih ramai dikunjungi wisatawan hingga Minggu (2/7/2017) mendatang. Selama libur Lebaran, sebagian besar pengunjung dari wisatawan yang tengah mudik.

Tantri Tyas Oktaviani (21) adalah satu di antara pengunjung asal luar kota yang tengah mudik di Pati. Mahasiswi asal Tangerang ini mengetahui bukit pandang dari Instagram.

Dia bersama keempat temannya lantas mengunjungi bukit pandang untuk menghabiskan liburannya pada Jumat (30/6/2017), setelah sebelumnya mengunjungi Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Gembong. “Mudik di rumah simbah sambil berlibur di Pati aja,” kata Tyas.

Meski baru pertama kali mengunjungi bukit pandang, Tyas mengaku tidak kebingungan mencari rutenya. Pasalnya, dia mengandalkan aplikasi Google Map untuk sampai di lokasi yang jaraknya sekitar 3 km dari RSUD Kayen tersebut.

Sementara itu, Redita Apriliani (20), pengunjung asal Pati Kota mengaku terkesan dengan panorama keindahan yang ditawarkan bukit pandang. Spot menarik dengan view hamparan Pegunungan Kendeng dan daratan Kabupaten Pati menjadi daya tarik tersendiri bagi Dita.

Dia tidak menyangka bila objek wisata tersebut seramai saat ini. “Mikirnya biasa aja, nggak ramai. Tapi di luar dugaan, sampai-sampai macet juga tadi. Sampai kesulitan parkirnya,” ucap Dita.

Pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, pengunjung bukit pandang mencapai sekitar 7.500 orang setiap harinya selama libur Lebaran. Wisatawan mulai memasuki kawasan bukit pandang dari jam 09.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Jumlah pengunjung tersebut tidak termasuk anak-anak, karena mereka tidak dikenakan tiket masuk. “Jumlah pengunjung dihitung berdasarkan tiket, sedangkan anak-anak gratis dari biaya tiket. Jumlah pengunjung termasuk anak-anak bisa lebih dari 7.500 orang setiap hari selama libur Lebaran,” tuturnya.

Untuk masuk di kawasan wisata bukit pandang, wisatawan dewasa dikenakan biaya Rp 3.000, sedangkan anak-anak gratis. Adapun biaya parkir sepeda motor Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000.

Editor : Ali Muntoha

Destinasi Wisata di Pati yang Bisa Kamu Kunjungi Selama Liburan Lebaran

Seorang pengunjung tengah berjalan di salah satu spot kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santamulya, Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati punya sejumlah destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi selama liburan Lebaran, baik wisata alam, religi maupun buatan.

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Pati Sigit Hartoko mengatakan, tempat wisata di Pati bukan hanya menyuguhkan satu destinasi yang menarik, tetapi juga sangat terjangkau.

Karena itu, dia menyarankan kepada warga Pati maupun perantauan yang tengah pulang ke Pati untuk mengagendakan liburan di Pati. Ada beragam objek wisata yang bisa dinikmati di Pati.

Waduk Gunungrowo
Makan ikan bersama lalapan ditemani es kelapa muda di pinggiran waduk menjadi agenda paling digemari di Waduk Gunungrowo. Dengan view gunung Muria dan danau buatan yang indah membuat Anda takjub.

Pengendara sepeda motor dikenai tiket masuk Rp 2.000, sedangkan pengemudi mobil Rp 5.000. Kawasan ini sudah buka sekitar pukul 07.30 WIB sampai pukul 17.30 WIB.

Waduk Seloromo

Kawasan wisata yang terletak di Desa Gembong ini cocok bagi backpacker yang ingin menikmati indahnya waduk buatan pemerintah Hindia-Belanda.

Selain gratis dan tidak ada tiket masuk, kawasan ini buka kapan saja. Meski demikian, kunjungan pada malam hari tidak direkomendasikan.

Juwana Water Fantasy
Terletak di Jalan Juwana-Rembang Km 7, destinasi wisata yang akrab disebut JWF ini sangat direkomendasikan bagi keluarga yang ingin berwisata dengan sensasi wahaha air di Pati.

Buka dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB, tiket JWF bisa diperoleh dengan harga Rp 25 ribu untuk tiket biasa dan Rp 45 ribu untuk tiket terusan. Ini berlaku untuk hari biasa.

Sementara untuk Sabtu, Minggu dan tanggal merah, Anda harus merogoh kocek Rp 30 ribu untuk tiket biasa dan Rp 50 ribu untuk tiket terusan. Sangat terjangkau, bukan?

Gua Pancur
Ada beragam wahana yang bisa dinikmati pengunjung di Gua Pancur yang terletak di Jimbaran, Kayen ini. Anda bisa menjelajah gua sepanjang hampir satu kilometer di perut bumi dengan biaya Rp 20 ribu per orang.

Pengunjung juga bisa sekadar menikmati indahnya danau mini buatan dengan menyewa jasa bebek kayuh. Keluarga yang ingin outbond sederhana juga ada di kawasan ini.

Anda cukup membayar biaya parkir kendaraan Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 6 ribu untuk mobil. Adapun tiket masuk masih gratis. Berminat berkunjung ke sini? Jam buka sekitar pukul 07.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Bukit Pandang Ki Santamulya

Ada belasan spot menarik yang bisa dinikmati pengunjung di objek wisata yang terletak di Desa Durensawit, Kayen. Saksikan panorama paling indah dari bukit Gunung Kendeng di sini.

Lokasinya sekitar 10 menit sebelah timur RSUD Kayen. Buka mulai pukul 07.00 WIB sampai 17.30 WIB, pengunjung cuma merogoh kocek Rp 3 ribu sebagai tiket masuk untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak.

Sementara biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil. Beragam spot yang bisa dinikmati di sana, antara lain rumah pohon, spot cinta, sarang burung raksasa, jembatan cinta, kupu-kupu, bunga matahari dan beragam spot menarik lainnya.

Kawasan pemancingan Talun
Di Desa Talun, Kayen, ada kawasan pemancingan ikan yang cukup populer. Buka dari pukul 08.00 WIB sampai 17.30 WIB, tempat ini menyuguhkan sensasi berburu kuliner ikan tawar dengan memancing.

Tiket masuk gratis dan pengunjung cukup pesan aneka masakan khas ikan tawar di sini. Bila ingin memancing, ada tarif khusus untuk per kilogram ikan yang didapatkan.

Editor : Kholistiono

Nikmati Liburan Lebaran Kamu dengan Berwisata di Jepara

Pantai Kartini bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Jepara yang bisa menjadi rekomendasi liburan lebaran kamu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Pada Hari Raya Idul Fitri atau lebaran ini, sebagian masyarakat Indonesia, terutama yang merantau pulang kampung alias mudik. Nah, baik yang merantau maupun yang tidak, pasti ingin menikmati libur panjang lebaran dengan berwisata bersama keluarga. Tidak ada salahnya, untuk libur lebaran tahun ini dihabiskan di kota ukir, Jepara, Jawa Tengah.

Di kota yang juga terkenal sebagai Bumi Kartini, Jepara memiliki banyak objek wisata yang menawarkan sejuta keindahan. Tidak hanya wisata pantai yang memesona, tetapi juga wisata pegunungan, wisata buatan, bahkan wisata pendidikan maupun sejarah. Kalian pasti tak akan nyesel kalau bisa ke Jepara dan menyinggahi objek wisata sebanyak-banyaknya di Jepara.

Ketika kamu datang ke Jepara, akan lebih mudah ketika kamu memilih objek wisata pantai. Sebab, letak objek wisata pantai lebih strategis dari jalur transportasi utama. Hanya tinggal masuk di wilayah kota Jepara, maka kamu akan mengetahui beberapa petunjuk jalan yang mengarahkan kamu menuju objek wisata pantai, seperti Bandengan dengan keindahan pasir putihnya dan pantai Kartini dengan tawaran wahana bermain dan pemandangan lautnya.

Kamu tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati indahnya alam di salah satu spot pesisir pantai utara pulau Jawa ini. Jarak yang tak terlalu jauh dari kota tetangga baik Demak, Kudus maupun Pati, tentu tak membutuhkan biaya transportasi yang besar. Selain itu, tiket masuk juga cukup terjangkau.

Di Pantai Bandengan atau yang juga terkenal dengan nama Tirta Samudra misalnya, tiket masuk ketika hari libur termasuk hari lebaran hanya sekitar Rp 7 ribu – Rp 10 ribu saja untuk orang dewasa. Sedangkan untuk anak-anak tentu lebih murah, berkisar antara Rp 3 ribu – Rp 7 ribu saja. Demikian juga dengan di Pantai Kartini, harga tiket sangat terjangkau untuk semua kalangan.

Khusus di pantai Bandengan, kamu bisa menikmati keseruan bermain di air laut banyak fasilitas mainan seperti banana boat, dan yang lainnya. Sedangkan di pantai Kartini, selain banyak wahana bermain yang bisa kamu nikmati. Bahkan, di pantai yang satu ini juga terdapat aquarium yang berbentuk kura-kura raksasa.

Dari kedua pantai ini, kamu bisa menikmati fasilitas naik perahu menuju pulau panjang. Biaya transportasi lautnya juga cukup terjangkau, hanya sekitar Rp 15 ribu saja. Jika kamu masih belum puas dengan masih ada waktu, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat wisata lain. Misalnya, kamu bisa ke beberapa pantai lain seperti pantai Blebak, pantai Empurancak.

 Nah, jika kamu ingin cari sensasi berwisata dengan nuansa selain pantai, maka kamu bisa datang ke Jepara Ocean Park (JOP). Tempat wisata buatan yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah ini menawarkan banyak sekali wahana bermain khususnya air 

Di JOP ini, yang menjadi unggulan di tempat wisata ini nantinya adalah adanya menara center yang tingginya mencapai 26 meter, bisa melihat pemandangan semua wahana bermain dan melihat pemandangan laut Jepara. Tentu saja tidak hanya itu, ada wahana lain yaitu kolam dengan 2 ember tumpah, kolam arus 400 meter, dan replika kapal dengan air mancur. Wahana seru untuk anak-anak ada di titik Kiddy Play antara lain flying elephant, kora-kora, mini train, komedi putar, bianglala, dan bombom car, bahkan arena gokart.

Ada juga dua studio keren yaitu theater 6 dimensi dengan kapasitas 48 orang dan 60 orang. Bagi yang hobi menembak, ada juga arena paint ball yang bisa dinikmati beramai-ramai. Wisatawan juga bisa meluncur dari ketinggian 20 meter dengan fasilitas flying fox. Banyak wahana lain yang bisa dinikmati wisatawan di sana dan mungkin seharian tidak akan cukup untuk menjelajahi semua.

Selain tempat wisata itu, masih ada banyak sekali objek wisata yang bisa kamu nikmati. Misalnya, di Kepulauan Karimunjawa yang menawarkan keindahan tak tertandingi di pulau Jawa. Kemudian benteng portugis yang berada di wilayah utara kota Jepara, serta banyak lagi yang lainnya. Dijamin, kalau kamu menikmati hari libur di kota ukir dan menikmati banyak tempat wisata, tak akan nyesel deh.

Editor : Kholistiono

Romantisme Langit Eropa

Mirabell Palace, Austria (club-europe.co.uk)

MuriaNewsCom – Tak bisa dimungkiri jika Eropa tetap menjadi negara impian untuk melakukan traveling, apalagi berbulan madu. Terkenal dengan negara-negaranya yang romantis, membuat turis asal Indonesia jumlahnya semakin meningkat, ditahun 2014 saja terdapat 8,9 juta turis asal Indonesia yang berkunjung kesana.

Hal ini menjadi peluang bagi Garuda Indonesia untuk bisa mengantarkan para wisatawan menjajaki indahnya negara-negara di Eropa. Memiliki empat musim dan keunikan lanskapnya, ditambah dengan bangunan-bangunan tua nan eksotis menambah daya tarik negara-negara ini. Bahkan, tak jarang kesuksesan seseorang akan semakin diakui jika ia sudah berhasil berfoto di beberapa landmark terkenal di Eropa.

Cinque Terre, Italia (lonelyplanet.com)

Untuk Anda yang merencanakan akan pergi berlibur ke sana, ada beberapa hal yang harus disiapkan. Seperti paspor dan pengajuan visa. Mengajukan Visa schengen pun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah asuransi perjalanan.

Hanya dengan Visa Schengen, Anda sudah bisa mengunjungi negara-negara di Eropa. Maka, jangan sia-siakan kesempatan saat visa Schengen sudah di tangan. Silakan berkeliling Eropa dan manfaatkan kesempatan yang Ada.

Beberapa dokumen yang harus dilengkapi saat Anda mengajukan visa Schengen adalah, sebagai berikut:

  1. Passport
  2. Pas foto berwarna ukuran 3,5 cm x 4,5 cm dengan latar belakang putih dua buah.
  3. Biaya untuk pembuatan Visa, dibayarkan dalam rupiah dan cash. Biaya pembuatannya adalah 60 euro/orang untuk usia 12 tahun keatas, dan 35 euro untuk anak 6-12 tahun. Dan di bawah 6 tahun, tidak dikenakan biaya.
  4. Mendownload formulir dari website resmi kedutaan yang dituju, isi selengkap mungkin dan print out dokumen tersebut lalu bawa saat pendaftaran.
  5. Asuransi perjalanan
  6. Bukti keuangan, berupa rekening Koran selama 3 bulan, dan dana mengendap minimal 34 euro dikalikan lama tinggal di Eropa.
  7. Bukti booking pesawat. Untuk memudahkan, Anda bisa memesan tiket pesawat Garuda Indonesia di Traveloka karena buktinya akan langsung di kirim via email. Klik untuk detil selengkapnya.
  8. Bukti pemesanan penginapan.
  9. Surat keterangan kerja dan itinerary perjalanan selama di Eropa.

Asuransi perjalanan pada dasarnya akan sangat membantu dan perjalanan Anda akan semakin tenang, setiap perusahaan asuransi memiliki benefit-benefit masing-masing. Meski Garuda Indonesia selalu mengutamakan kenyamanan dan keamanan penumpang, namun dengan adanya asuransi perjalanan selain syarat untuk membuat visa namun juga Anda akan lebih merasa nyaman.

Garuda First Class (flightfox.com)

Penerbangan belasan jam dengan menggunakan Garuda Indonesia menyisir setiap jengkal langit menuju Eropa tak akan membuat Anda terlalu lelah, karena banyak fasilitas yang disediakan untuk menemani perjalanan Anda. Terlebih jika Anda menggunakan layanan first class. “The journey begins even before take off “. Anda akan dijemput dari titik penjemputan dan fasilitas ekslusif lainnya, di Bandara, Anda tak perlu melakukan check in. Karena semua diurus oleh assistant pribadi Anda.

Namun, tak hanya first class, di kelas Ekonomi pun Anda akan dimanjakan dengan fasilitas terbaik dari Garuda Indonesia, para awak kabin yang terkenal ramah siap membantu Anda selama di perjalanan. Jarak kursi yang cukup lega dan memungkinkan Anda untuk bisa mengistirahatkan kaki. Fasilitas hiburan selama di atas langitpun tak akan membuat Anda bosan. Dan hal ini telah diakui oleh dunia terbukti dengan diraihnya penghargaan oleh Garuda Indonesia untuk kategori Economy Class offers comfort and convenience like no other dari SkyTrax tahun 2013.

Sudah siap terbang menjelajah langit Eropa dengan Garuda Indonesia?

Editor : Akrom Hazami

Travelers Pati yang Ngabuburit di Sini Dijamin Betah

Seorang pengunjung tengah menikmati suasana Ramadan di rumah pohon Bukit Pandang Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto) 

MuriaNewsCom, Pati – Salah satu tempat ngabuburit di Kabupaten Pati yang paling asyik, antara lain kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santamulya. Terletak di bukit Gunung Kendeng, Desa Durensawit, Kayen, kawasan wisata ini banyak dimanfaatkan untuk ngabuburit.

Tia Sisca Herawati, Duta Wisata Kabupaten Pati 2016 adalah satu di antara pengunjung yang sempat menghabiskan waktu ngabuburit di sana. Dia bersama temannya menghabiskan waktu selama tiga jam untuk mengelilingi dan nongkrong di berbagai spot yang ditawarkan.

Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini berangkat dari rumahnya, Kelurahan Parenggan, Pati Kota sekitar pukul 14.00 WIB. Dengan berkendara sepeda motor, dia menghabiskan waktu sekitar 30 menit dari Pati Kota hingga Bukit Pandang.

Sampai di kawasan wisata pukul 14.30 WIB, dia langsung menjelajah ke berbagai spot yang ditawarkan. “Saya lebih suka rumah pohon bertingkat. Suasananya teduh, pemandangan indah, tempatnya cukup ekstrem karena di bawah merupakan jurang,” ucap Sisca.

Setelah memasuki pukul 17.00 WIB, Sisca memutuskan untuk pulang, setelah sebelumnya salat Ashar di musala setempat yang disediakan pengelola wisata. Menurutnya, kawasan Bukit Pandang menjadi lokasi paling tepat untuk ngabuburit.

Sementara itu, pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, ada penurunan pengunjung yang cukup drastis selama Ramadan. Dari pengunjung yang semula berkisar 500 sampai 700 orang di luar hari libur, saat ini hanya 200 sampai 300 pengunjung.

“Pengunjung reguler rata-rata 200 sampai 300 orang selama Ramadan. Tapi pada hari libur, pengunjung bisa lebih dari seribu selama Ramadan. Waktu paling banyak dikunjungi, antara pukul 13.00 sampai 17.00 WIB,” kata Krisno.

Pengunjung diperkirakan akan membeludak dari H-7 sampai H+7 Lebaran. Karena itu, dia sudah mempersiapkan sejumlah spot baru, seperti jembatan cinta dan penambahan gazebo-gazebo yang dipasang di berbagai titik.

Editor : Kholistiono

Liburan Jelang Ramadan, Bukit Pandang Pati Diserbu Ribuan Pengunjung

Seorang pengunjung tengah naik di puncak bukit untuk mengabadikan momen dengan berfoto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan pengunjung memadati kawasan objek wisata Bukit Pandang Ki Santamulya, Desa Durensawit, Kayen, Kamis (25/5/2017). Pengunjung mulai memadati area wisata sejak pukul 08.30 WIB.

Sebagian besar pengunjung berasal dari pelajar SMP dan SMA, serta keluarga. Mereka terlihat antre untuk naik di puncak bukit, melihat pemandangan alam berupa hamparan pegunungan Kendeng dan dataran Kabupaten Pati, serta mengabadikan momen dengan selfie.

Satu rombongan yang berjumlah enam sampai delapan orang diberikan waktu tiga menit untuk mengambil foto di puncak bukit. Pasalnya, puluhan pengunjung yang berada di bawah terlihat antre.

Riana Yuli Asmara (15), pelajar asal Godo, Winong adalah satu di antara pengunjung yang antre untuk mengambil foto di puncak bukit. Dia sengaja menghabiskan liburan menjelang Ramadan bersama dua temannya di Bukit Pandang Ki Santamulya.

“Baru pertama kali datang ke sini. Tahu lokasi ini dari teman dan Instagram. Sabtu sudah puasa. Mumpung belum puasa dan kebetulan liburan, akhirnya saya pilih tempat ini untuk menghabiskan waktu liburan,” ucap Riana.

Hingga pukul 12.30 WIB, pengunjung sudah mencapai 1.320 orang. Pada hari libur, pengunjung biasanya membeludak memadati kawasan wisata dari pukul 10.30 WIB sampai 15.00 WIB.

“Kalau hari libur, pengunjung saat ini berkisar di angka 2.500 sampai 4.000 pengunjung. Berbeda pada hari biasa, pengunjungnya berkisar 400 sampai 700 orang,” kata pengelola wisata Bukit Pandang, Krisno.

Saat ini, pengelola sudah menerapkan tiket masuk sebesar Rp 3.000 per orang, tidak termasuk anak kecil. Sementara biaya keamanan parkir dikenakan Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil.

Sejumlah spot baru yang ditambahkan, antara lain dua sarang burung Gogik raksasa, bunga matahari, dan spot cinta dengan ajakan “Kapan Kita Nikah”. Pekan ini, pengelola memastikan akan ada wahana baru berupa jembatan goyang.

“Asyik juga di sini. Saat berada di spot cinta, ternyata ada tulisan kapan kita nikah. Mak jleb, sakit. Soalnya masih jomblo,” kata Hilal, pengunjung asal Margorejo, Wedarijaksa.

Editor : Kholistiono

Pengembangan Wisata Waduk Kletek Pati Dikelola BUMDes

Suasana peresmian Waduk Kletek, Pucakwangi sebagai destinasi wisata, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah wacana menunjukkan, objek wisata tidak akan berkembang di tangan pemerintah. Sebaliknya, objek wisata akan maju bila dikelola swasta.

Namun, hal itu tidak berlaku di Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi. Di sana, sebuah waduk yang dibuka sebagai destinasi wisata dikelola oleh pemerintah desa menggunakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Sekretaris Desa Kletek Samuri mengatakan, Waduk Kletek dikelola BUMDes Ngundi Makmur yang dianggarkan pemdes dari dana desa 2016. Pengembangan usaha di bidang pariwisata itu diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendapatan yang dikelola BUMDes.

“Embung ini awalnya sebatas berfungsi sebagai irigasi. Namun, setelah dilihat punya pemandangan yang cukup bagus, kami akhirnya memutuskan untuk mengembangkan sebagai objek wisata,” kata Samuri, Senin (15/5/2017).

Hasil dari pengelolaan wisata akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan memiliki peluang bagus dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka bisa membuka warung di sekitar objek wisata dan mendapatkan penghasilan dari sana.

Manajer BUMDes Ngundi Makmur Rusgianto menambahkan, pengembangan wisata Waduk Kletek didesain supaya bisa dikunjungi semua kalangan, baik anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua. Spot cinta, payung yang menggelantung di pepohonan dan hammock menjadi target pengunjung dari remaja.

Sementara wisata air ditargetkan bisa menyasar semua kalangan. Ke depan, pihaknya juga akan menambah sejumlah fasilitas seperti flying fox dan gembok cinta untuk menjawab kebutuhan pengunjung. Dia berharap, Waduk Kletek bisa meningkatkan dunia pariwisata di Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono

Waduk Kletek jadi Destinasi Wisata Baru di Pati

Pengunjung berfoto selfie di spot cinta Waduk Kletek, Pucakwangi, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah waduk kecil yang terletak di Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi, saat ini menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Pati. Setiap hari, ratusan wisatawan lokal mengunjungi kawasan tersebut.

Kendati berada di sebuah daerah terpencil dari kota, tetapi pesonanya membuat banyak muda-mudi bertandang ke Waduk Kletek. Tak sekadar menyuguhkan pemandangan alam, pengelola menawarkan beragam spot menarik untuk selfie.

Pratiwi (20), pengunjung asal Jaken mengaku penasaran dengan daerah tersebut. Dia tahu Waduk Kletek dibuka sebagai objek wisata melalui cerita dari teman dan media sosial, seperti Facebook dan Instagram.

“Saya tahu dari cerita teman, Facebook dan Instagram. Sebagian besar teman-teman mengunggahnya di Instagram. Penasaran dan akhirnya datang ke sana,” ujar Pratiwi.

Menurutnya, ada sejumlah spot yang menarik. Salah satunya, spot cinta dengan pemandangan danau. Ada pula hammock, payung, dan wahana air yang cocok dikunjungi bagi pasangan muda-mudi maupun keluarga saat menghabiskan waktu libur.

Pengelola Waduk Kletek Rusgianto mengungkapkan, kawasan tersebut dibuka sebagai destinasi wisata karena punya potensi yang bagus. Terbukti, banyak pengunjung yang datang setelah dibuka sebagai objek wisata dengan penambahan fasilitas-fasilitas baru.

Dalam waktu dekat, pengelola berencana akan menambahkan sejumlah fasilitas seperti gembok cinta dan flying fox. Pihaknya juga akan mengupayakan perbaikan infrastruktur jalan supaya akses menuju lokasi mudah dilewati.

Editor : Kholistiono

Wisata Bukit Kendeng Pati Dilengkapi Hammock Warna-warni

Sejumlah pengunjung tengah berfoto di hammock warna-warni, spot baru bukit pandang Ki Santa Mulya, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Satu lagi fasilitas yang ditambahkan di objek wisata perbukitan Gunung Kendeng Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. Yaitu hammock warna-warni yang cocok dijadikan ajang untuk selfie.

Empat hammock dengan warna berbeda disusun dari atas ke bawah, dikaitkan dua pohon jati. Beberapa hari setelah dipasang, fasilitas hammock ramai jadi rebutan pengunjung yang ingin mengabadikan gambar di atas hammock.

Pengelola destinasi Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno, mengungkapkan, penambahan fasilitas hammock warna-warna bermula dari gagasan pengunjung luar daerah. Dirasa cukup bagus, masukan dari pengunjung tersebut direalisasikan.

“Kita selalu terbuka dengan ide, gagasan, saran dan masukan. Kalau memang dirasa cocok, kami akan upayakan. Ini dalam rangka mengembangkan kawasan wisata bukit pandang, ternyata di sini ada semua fasilitas yang lagi digemari traveler muda,” ucap Krisno.

Fasilitas hammock warna-warni di kawasan objek wisata diakui menjadi satu-satunya dan pertama kali ada di Kabupaten Pati. Dia berharap, fasilitas yang lengkap membuat traveler asal Pati tidak perlu jauh-jauh berkunjung ke luar daerah, karena di Pati sendiri sudah ada.

“Awalnya, kami ingin membuat 15 hummock yang tersusun dari bawah ke atas. Namun, atas pertimbangan keselamatan, kami akhirnya memutuskan empat saja cukup. Nggak usah jauh-jauh ke luar daerah, di Pati saja sudah sangat lengkap,” tuturnya.

Tercatat, ada banyak spot yang ditawarkan pengelola bukit pandang. Mulai dari spot kupu-kupu raksasa, sarang burung Gogik, rumah pohon, spot Cinta, hammock, dan gazebo di atas bukit dengan panorama perbukitan Gunung Kendeng yang hijau menghampar begitu luas.

Jumi, salah satu pengunjung asal Jaken mengaku terkesan dengan destinasi wisata tersebut. Kendati masih sederhana, tetapi konsep pengembangan wisatanya disebut sangat bagus karena memadukan kelestarian alam dan spot wisata kekinian.

Terlebih, akses jalan menuju kawasan wisata sangat mudah dengan kondisi jalan yang bagus. “Saya panasaran dengan objek ini, karena tersebar viral di media sosial. Ini kedua kalinya saya berkunjung, ternyata ada penambahan fasilitas-fasilitas baru,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Pengelola Bukit Pandang Pati Suguhkan Pagelaran Wayang Ucul

Pagelaran wayang ucul dipentaskan di kawasan wisata Bukit Pandang Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pengelola objek wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati terus mengembangkan inovasi untuk menyuguhkan satu destinasi wisata yang lengkap tanpa meninggalkan unsur alam dan budaya.

Tak hanya menawarkan sejumlah spot yang menarik untuk selfie, kini pengelola menyuguhkan pagelaran wayang ucul dengan lakon petruk angon laler. Wayang itu diperankan oleh pengelola bukit pandang.

Uniknya, pagelaran wayang ucul mengisahkan sebuah bukit yang ramai dikunjungi pengunjung. Bukit pandang diibaratkan sebagai bangkai ikan. Kendati ikan sudah mati dan menjadi bangkai, tetapi tetap disukai manusia.

“Pengunjung dikiaskan sebagai lalat. Petruk angon laler, artinya Petruk memelihara lalat. Wayang ucul berkisah tentang bagaimana pengelola sebagai petruk bertugas memelihara bukit agar selalu dikunjungi lalat atau wisatawan,” ucap penggagas Bukit Pandang Pati, Krisno, Selasa (18/4/2017).

Menurutnya, pagelaran wayang ucul menjadi salah satu upaya untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa di tengah destinasi wisata alam berkonsep kekinian. Wayang digelar di batu gedek yang lokasinya berada di kawasan bukit pandang.

Saat dilaunching, pementasan wayang ucul melibatkan sejumlah mahasiswa Passa Unissula, IMP Unnes, Kompi yang meliputi Undip, Polines dan Politekes, KMPP UIN Walisongo Semarang, Kommpas Unwahas dan Pampa Upgris. Mereka ikut mendukung upaya pelestarian budaya di tengah destinasi wisata alam di Pegunungan Kendeng.

“Rencananya, pagelaran wayang ucul kami gelar setiap hari. Jadi, pengunjung tidak cuma foto selfie dan menikmati pemandangan alam yang indah di Pegunungan Kendeng, tetapi juga bisa menikmati wayang ucul,” imbuhnya.

Saat ini, kawasan wisata Bukit Pandang tak hanya dikunjungi wisatawan lokal, tetapi juga luar daerah seperti Gresik, Lumajang, Surabaya, Pemalang, hingga Bandung. Pengunjung dari luar kota biasanya mengaku sebagai backpacker, sekadar ingin menyaksikan salah satu pesona alam di Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono

Sarang Burung Raksasa jadi Spot Selfie Baru di Pati

Dua orang pengunjung tengah berfoto di spot sarang burung Gogik di kawasan wisata Bukit Pandang, Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sarang burung raksasa saat ini menjadi salah satu spot menarik untuk selfie di kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. Spot itu baru ditambahkan dan mulai digunakan pada Selasa (18/4/2017).

Pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, sarang burung yang bisa menampung dua hingga tiga orang tersebut dinamakan sarang burung Gogik. Pemberian nama itu tidak lepas dari sebuah legenda keberadaan burung raksasa di Pegunungan Kendeng pada zaman itu.

“Kami akan terus berinovasi untuk mengenalkan eksotisme Pegunungan Kendeng sebagai destinasi wisata. Sarang burung Gogik menjadi salah satu inovasi kami untuk menarik minat pengunjung dari kalangan anak muda,” ujar Krisno, Rabu (19/4/2017).

Sarang burung sendiri dibuat dari ranting kayu yang disusun secara melingkar dengan kerangka dari besi. Ranting-ranting kayu yang diambil dari hutan setempat itu membentuk lingkaran mirip sarang burung, menjadi spot yang paling banyak diburu.

Pengelola menyarankan kepada pengunjung untuk bergantian menggunakan spot baru itu untuk berfoto. Pasalnya, pengunjung wisata bukit pandang saat ini mencapai lebih dari 500 orang setiap harinya, lebih dari 2.000 orang pada Weekend dan hari libur.

Krisno mengaku, spot semacam sarang burung baru pertama kali ada di Pati. Karenanya, dia tidak heran bila spot baru itu menjadi rebutan pengunjung untuk berfoto selfie. “Ini satu-satunya dan baru pertama kali di Pati ada semacam ini,” ucap Krisno.

Wida, salah satu pengunjung asal Pati kota mengaku takjub dengan kawasan wisata tersebut. Dia menyebut pengelola cukup kreatif memanfaatkan potensi pemandangan alam yang indah dengan sesuatu yang kekinian.

“Sarang burung semacam ini sepertinya sudah pernah saya lihat di Instagram. Kalau di Pati ada seperti ini, sangat bagus. Cocok buat selfie dengan latar belakang perbukitan Gunung Kendeng yang hijau,” jelas Wida.
Editor : Kholistiono

River Tubing Seru di Panohan Rembang yang Semakin Diminati Wisatawan

Bupati Rembang Abdul Hafidz (kanan) saat menikmati river rubing di Sungai Panohan beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sejak dibuka secara resmi oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz pada Minggu (2/4/2017) lalu, wisata river tubing di sungai Desa Panohan, Kecamatan Gunem, Rembang, kini semakin diminati wisatawan.

Muhammad Soleh, Ketua Karang Taruna Bina Remaja mengatakan, jika sebelum diresmikan oleh bupati, wisatawan hanya berjumlah belasan orang saja setiap harinya, kini, meningkat sekitar 50 wisatawan per harinya.

“Kini semakin banyak wisatawan yang datang untuk menikmati wisata river tubing di Sungai Panohan ini. Mereka penasaran untuk bisa menikmati keseruan wisata baru yang ada di Remban ini. Mereka tidak hanya datang dari Rembang saja, dari dari luar daerah juga banyak,” ungkapnya.

Meski demikian, katanya, untuk peralatan river tubing, yang tersedia saat ini masih cukup sedikit, yakni 13 unit. Peralatan tersebut, terdiri dari ban, body protector atau rompi, pelampung, pelindung lutut dan helm.

Sedangkan untuk biaya perawatan alat atau lainnya, pihak pengelola, katanya, masih mengandalkan dari pendapatan sewa peralatan dari wisatawan. Sejauh ini, menurutnya pendapatan dari jasa persewaan alat tersebut masih mencukupi untuk melakukan perawatan alat.

Terkait dengan persewaan alat, pengelola saat ini juga menaikkan tarif. Dari yang semula Rp 15 ribu, kini naik menjadi Rp 20 ribu.

Editor : Kholistiono

 

Spot Kupu-kupu Percantik Kawasan Wisata Bukit Pandang Pati

Seorang pengunjung tengah mengambil foto di spot kupu-kupu, kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Durensawit, Kayen, Pati, Senin (27/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati saat ini terus menambahkan sejumlah fasilitas untuk memanjakan pengunjung. Sejumlah spot foto menarik ditambahkan untuk menarik minat pengunjung.

Salah satunya, spot kupu-kupu warna biru yang berada di kawasan puncak, sebelah atas spot I Love U dan rumah pohon. Terbukti, spot kupu-kupu yang baru, ramai dijadikan ajang foto selfie pengunjung.

Pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno mengungkapkan, spot I Love U saat ini kalah popularitas dengan spot kupu-kupu. Namun, kedua spot tersebut diakui paling sering digunakan sebagai tempat untuk berfoto.

“Spot kupu-kupu dibuat agar lebih selaras dengan alam. Kita desain seperti itu, pengunjung yang berfoto di tengah spot seolah-olah seperti kupu-kupu beneran yang punya sayap. Dari pantauan pengelola, spot itu paling banyak digunakan setelah I Love U dan rumah pohon,” ujar Krisno, Senin (27/3/2017).

Selain penambahan spot selfie baru, pengelola juga menambah sejumlah fasilitas seperti rumah pohon baru dengan view hamparan pegunungan Kendeng yang hijau. Satu gazebo juga ditambahkan, mengingat banyaknya pengunjung yang berdatangan setiap hari.

Kini, pengelola sudah membangun dua fasilitas baru yang akan semakin memanjakan pengunjung, yaitu toilet dan kolam renang. “Ini akan menjadi kolam renang yang unik, karena berada di ketinggian perbukitan Gunung Kendeng yang asri dan hijau,” imbuhnya.

Sementara itu, penambahan wahana baru seperti flying fox, jembatan goyang dan outbond sudah direncanakan. Hanya saja, pihaknya butuh waktu untuk mempersiapkan dana yang dihimpun dari tiket masuk dan parkir, termasuk persiapan keterampilan outbond.

Editor : Kholistiono

Menikmati Romantisme Wisata Watu Layar di Lasem

Taman yang dihiasi payung-payung cantik, yang menjadi salah satu spot foto di area wisata Watu Layar Lasem (Istimewa)

MuriaNewsCom,Rembang – Keberadaan objek wisata Watu Layar di Lasem sebenarnya sudah ada cukup lama. Namun demikian, dulunya tempat ini hanya dihiasi sejumlah pohon saja, dan masih kurang menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Tapi kini, Watu Layar sudah disulap menjadi lebih cantik dan bakalan membuat betah bagi wisatawan. Bagi yang suka foto-foto, terdapat beberapa spot yang sangat cocok untuk memuaskan hasil foto kalian. Mulai dari foto di atas jembatan yang eksotis, foto di atas simbol cinta, foto dengan background pemandangan Pantai Binangun dan juga ada spot foto payung yang dijamin kamu ketagihan berfoto di sini.

Sementara itu, buat yang datang bersama pasangan, jangan lupa memasang gembok cinta di tempat ini. Juga ada ayunan, serta tempat duduk yang sengaja diposisikan di bawah pohon yang rindang.

Untuk bisa menjangkau tempat wisata ini, wisatawan tak perlu repot, karena tempatnya dapat dijangkau sangat mudah dari arah mana pun karena di tepi jaluur jalan raya pantura, berdekatan dengan wisata religi Pasujudan Sunan Bonang, atau sekitar 200 meter sebelah selatan dari rest area Pantai Binangun. Dari  arah Rembang atau Jawa Timur, sangat mudah dijangkau dengan kendaraan umum yang beroperasi 24 jam penuh.

Untuk masuk tempat wisata ini, wisatawan dipungut restribusi parkir, untuk kendaraan sepeda motor sebesar Rp 5ribu dan untuk mobil Rp 10ribu.

Di atas jembatan ini juga menjadi salah satu spot foto favorit bagi wisatawan. (Istimewa)

Tarmin, salah satu karyawan KPH Kebonharjo mengatakan, wisata Watu Layar ini sebelumnya sempat tidak aktif selama bertahun-tahun. Namun sekitar setahun terakhir, pihak KPHJ Kebonharjo mulai membenahi seluruh sarana yang ada, termasuk menghias lokasi secantik mungkin.

“Dari uang retribusi karcis yang masuk ini, dipakai untuk menata seluruh sarana yang ada. Sehingga dana yang masuk dan keluar itu berputar,” bebernya.

Akan tetapi, untuk mencapai lokasi ini, para pengunjung  harus bersiap dengan akses jalan yang masih sebagian besar bebatuan. Terlebih saat hujan turun dan membuat jalanan licin.

“Semoga saja kami pihak pengelola bisa segera melengkapi sarana di lokasi, termasuk kamar mandi, lahan parkir pengunjung, juga nanti rencananya agar ada lahan istirahat. Juga nanti akses masuknya akan kami usulkan untuk diperbaiki menggunakan dana karcis,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

Bukit Pandang Gunung Kendeng Pati Bakal Dilengkapi Jembatan Goyang dan Flying Fox

Sejumlah pengunjung tengah berada di spot “I Love U” dan rumah pohon di Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Banyaknya minat wisatawan yang berkunjung di Bukit Pandang Ki Santa Mulya, kawasan Pegunungan Kendeng Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, membuat pengelola akan menambahkan fasilitas baru. Salah satu yang akan ditambahkan, antara lain jembatan goyang, flying fox dan outbond.

“Sejak kita buka 18 Januari 2017 lalu, pengunjung setiap hari makin banyak. Bahkan, kita hampir kewalahan untuk menempatkan parkir sepeda motor dan mobil. Namun, kita akan tetap gunakan sistem membanjar dan mengutamakan keamanan karena ini kerja bareng dengan pemuda karang taruna,” kata pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno, Senin (6//3/2017).

Beberapa pengunjung diakui meminta untuk menambah fasilitas berupa kegiatan wisatawan. Karena itu, Krisno rencananya dalam waktu dekat akan menambah fasilitas outbond, jembatan goyang, dan flying fox yang menghubungkan dua bukit gunung.

Namun, Krisno mengaku masih terkendala dua hal, yaitu dana dan pengetahuan untuk membuka fasilitas flying fox dan jembatan goyang. Soal dana, ia masih menunggu dana dari biaya parkir Rp 2 ribu per sepeda motor dan donasi dari berbagai pihak untuk melengkapi fasilitas baru.

Baca juga : Bukit Pandang di Durensawit Pati Dibanjiri Ribuan Wisatawan

Terkait teknis flying fox dan jembatan goyang, ia akan menyekolahkan pemuda karang taruna agar memiliki bekal untuk mengurus teknis penggunaan flying fox dan jembatan goyang. “Ini memang dana pribadi dan dikelola pemuda karang taruna. Jadi, kalau mau menambah fasilitas, kita andalkan pemasukan dari parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil,” ucap Krisno.

Tak hanya soal penambahan wahana baru, penambahan fasilitas berupa kamar kecil dan musala juga masih terkendala dana. Sementara dari pemerintah daerah, Krisno mengaku masih belum ada perhatian. Padahal, keberadaan bukit pandang dinilai tidak hanya mendongkrak potensi wisata di Kecamatan Kayen, tetapi juga Kabupaten Pati seluruhnya.

Dia berharap, keberadaan bukit pandang tidak hanya mendongkrak potensi pariwisata di Kabupaten Pati, tetapi juga perekonomian masyarakat setempat. Saat ini saja, sudah ada sekitar sepuluh warung yang berjualan di sepanjang jalan setapak menuju puncak bukit pandang.

Editor : Kholistiono

Bukit Pandang di Durensawit Pati Dibanjiri Ribuan Wisatawan

Pengunjung tengah berfoto di spot “I Love U” Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati saat ini memiliki destinasi wisata berupa bukit pandang yang elok dipandang. Adalah Bukit Pandang Ki Santa Mulya di kawasan perbukitan Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati yang saat ini dibanjiri ribuan wisatawan, khususnya di hari libur.

Pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno mengatakan, banyaknya pengunjung yang datang disebabkan adanya penambahan sejumlah fasilitas berupa spot-spot cantik untuk selfie. Salah satunya, spot berbentuk “I Love U” yang terbuat dari bambu dan rumah pohon yang paling sering digunakan untuk selfie.

“Pada saat awal dibuka, memang pengunjungnya baru dari warga sekitar. Setelah ada penambahan fasilitas berupa tempat-tempat yang nyaman untuk menikmati pemandangan hamparan Kabupaten Pati dan pegunungan Kendeng, saat ini dikunjungi rata-rata 500 orang setiap hari. Pada weekend dari Jumat hingga Minggu, pengunjung bisa lebih dari seribu,” ungkap Krisno kepada MuriaNewsCom, Senin (6/3/2017).

Akses jalan untuk menuju kawasan wisata ini sangat mudah. Dari jalan beraspal menuju Desa Durensawit, pengunjung tinggal naik ke kawasan perbukitan Pegunungan Kendeng yang sudah diberikan tangga batu. Butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai ke puncak bukit pandang.

Di sana, wisatawan disuguhkan satu panorama Pegunungan Kendeng yang masih sangat hijau dan hamparan tanah Kabupaten Pati pada bagian bawah, serta cakrawala Laut Utara Jawa. Di puncak bukit, ada sekitar tiga gerdu untuk duduk santai menikmati udara segar, serta beberapa tempat duduk terbuat dari kayu.

Pada bagian bawah puncak, ada tiga spot cantik untuk berfoto, yakni tempat duduk dari kayu, spot “I Love U” dan rumah pohon. Sebagian besar pengunjung berasal dari anak-anak muda, beberapa di antaranya pasangan yang sudah berkeluarga.

Tak tanggung-tanggung, beberapa pengunjung berasal dari luar daerah seperti Kudus, Brebes, Boyolali, Semarang, Yogyakarta, dan Tuban. Beberapa mahasiswa yang datang juga berasal dari Medan. Kendati begitu, sebagian besar pengunjung masih berasal dari Kabupaten Pati.

Shinta Kristiani, misalnya. Pelajar asal Desa Karang Gempol, Kayen ini sudah beberapa kali mengunjungi bukit pandang. Dia selalu memilih hari libur dan weekend untuk mengunjungi bukit pandang. Menurutnya, Bukit Pandang Ki Santa Mulya menjadi satu-satunya spot paling menarik untuk selfie.

Editor : Kholistiono

Air Terjun Grojogan Papringan di Kuwawur Pati Berpotensi Jadi Objek Wisata

Seorang anak tengah bermain air di bawah Air Terjun Grojogan Papringan di Desa Kuwawur, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Air terjun di Desa Kuwawur, Kecamatan Sukolilo, Pati berpotensi menjadi destinasi objek wisata yang cukup menarik. Sebagian penduduk setempat menyebut air terjun tersebut dengan nama “Grojogan Papringan.”

Grojogan diambil dari kata bahasa Jawa yang berarti air yang mengalir secara deras, sedangkan papringan berarti bambu. Nama tersebut dipilih warga, karena air terjun di Desa Kuwawur berada di kawasan hutan bambu.

Pegiat pariwisata Pegunungan Kendeng, Krisno mengatakan, pengunjung harus melewati kawasan hutan bambu sebelum sampai ke lokasi Grojogan Papringan. Meski begitu, akses untuk menuju air terjun sangat mudah karena sudah ada jalan khusus bagi pejalan kaki.

“Pemandangannya cukup menarik. Pengunjung disajikan satu panorama tempo dulu, masih klasik dan asri. Air terjun di Desa Kuwawur menjadi salah satu mutiara terpendam di kawasan Pegunungan Kendeng,” ujar Krisno, Selasa (28/2/2017).

Saat ini, air terjun dengan ketinggian 15 meter tersebut sebatas dikunjungi anak-anak, pemuda dan penduduk sekitar. Sebab, tidak banyak orang yang tahu kawasan tersebut, mengingat belum ada kepedulian dari warga untuk melirik air terjun Grojogan Papringan sebagai potensi wisata.

“Maunya nanti anak-anak karang taruna yang mengelolanya. Tapi, belum ada yang mengarahkan. Padahal, potensi wisatanya cukup bagus. Nuansa masih sangat alami sekali. Air terjun di tengah perkebunan bambu,” tambahnya.

Tidak jauh dari air terjun, terdapat sebuah gua. Keberadaan Gua Patung Jaran dinilai akan menambah nilai wisata di Desa Kuwawur. Krisno berharap, dinas terkait bisa mengembangkannya sebagai salah satu destinasi wisata di wilayah Pati Selatan.

Editor : Kholistiono

Grojogan Kalimancur di Lasem yang Oke Jadi Tujuan Wisatamu

Beberapa wisatawan saat menikmati kesejukan air Grojogan Kalimancur di Rembang.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa wisatawan saat menikmati kesejukan air Grojogan Kalimancur di Rembang.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Rembang, yang terkenal dengan julukan Kota Garam, ternyata juga memiliki potensi wisata alam selain pantai, yang layak menjadi jujugan Anda untuk menghabiskan waktu libur. Salah satunya adalah Air Terjun atau Grojogan Kalimancur.

Kalimancur, merupakan wisata air terjun empat tingkat, yang letaknya di wilayah Dusun Sidorejo, Desa Gowak, Kecamatan Lasem, atau tepatnya berada di kawasan hutan Perhutani KPH Kebonharjo Petak 7 RPH Kajar BKPH Gunung Lasem.

Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang telah disediakan atau di pekarangan rumah warga. Untuk biaya parkir, dikenakan tariff sebesar Rp 3 ribu. Kemudian, pengunjung berjalan kaki sekitar 800 meter dari Desa Gowak untuk menuju Grojogan Kalimancur yang berada di bawah bukit Pegunungan Gowak.

Namun jangan khawatir, dengan berjalan kaki menyusuri hutan lindung selama hampir 20 menit, Anda akan disuguhkan dengan panorama alam berupaka perbukitan dan area persawahan nan hijau yang sangat indah. Begitu sampai, pengunjung akan langsung dibuat kagum dengan air terjun tingkat dua setinggi 20 meter lebih. Kemudian di bawahnya terdapat air terjun tingkat satu yang lebih besar.

Istoyo, salah seorang warga Desa Gowak yang juga mengelola Grojogan Kalimancur mengatakan, jika Grojogan Kalimancur mulai dikenal publik sekitar setahun terakhir. Cukup banyak, wisatawan yang mulai datang untuk menikmati keindahan Grojogan Kalimancur.

“Bahkan, ada juga warga yang kemah di tempat ini. Bukan hanya warga Rembang saja, tapi warga dari Tuban, Jawa Timur, juga pernah berkemah di tempat ini. Kemudian, mereka juga jelajah alam di sini,” ungkapnya.

Menurutnya, dulu, tempat ini cukup sulit untuk diakses, sebab, tidak ada jalan dan masih berupa semak belukar. Setelah ada beberapa warga yang berinisiatif untuk membuatkan jalan setapak, akhirnya, tempat tersebut mulai banyak dikenal, dan kini banyak dikunjungi wisatawan, baik dari Rembang maupun luar Rembang.

Sementara itu, Masudi, salah pengunjung wisatawan Asal Kaliori mengatakan, jika panorama yang terdapat di kawasan Grojogan Kalimancur sangat indah, sehingga, cocok digunakan reefreshing untuk menghilangkan kepenatan kerja.

“Kebetulan ini kan hari libur kerja, jadi kita coba menikmati liburan ke sini. Kita ke sini ramai-ramai, jadi lebih seru. Apalagi melihat Grojogan Kalimancur yang ternyata luar biasa. Ini potensi alam yang harus dikembangkan, biar pengunjung lebih banyak ke sini,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Menikmati Keindahan Waduk Kedung Ombo dari Atas Perahu

 Perahu di Waduk Kedung Ombo sedang bersiap membawa penumpang berkeliling melihat pemandangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Perahu di Waduk Kedung Ombo sedang bersiap membawa penumpang berkeliling melihat pemandangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keindahan objek wisata Waduk Kedung Ombo (WKO) ternyata tidak hanya bisa dilihat dari daratan saja. Tetapi bisa juga dinikmati dari atas perahu mesin yang banyak tersedia di kawasan wisata itu.

Ongkos naik perahu ini boleh dibilang murah. Setiap orang hanya dikenakan Rp 10 ribu saja.  “Dengan biaya sebesar ini, kita antarkan pengunjung berkeliling kawasan waduk selama 30 menit. Dari dermaga sini mengitari pulau-pulau di tengah waduk dan kembali ke dermaga,” kata Yeni Purwanto (21), salah satu tukang perahu di WKO.

Di tengah kawasan WKO memang terlihat ada beberapa pulau. Ada yang ukurannya besar dan kecil. Pada pulau-pulau itu masih terdapat banyak pohon penghijuan dan tanaman hias. 

Dulunya, pulau itu merupakan kawasan pedesaan yang masuk wilayah Boyolali. Seiring dibangunnya waduk untuk keperluan irigasi pertanian, warga di desa-desa itu direlokasi ke tempat lainnya.

Jumlah perahu yang ada di WKO ternyata cukup banyak. Total ada 11 perahu yang hampir semuanya milik warga Bonolayar, Sragen yang letaknya di pinggir timur waduk.

Pemilik perahu ini mencari penumpang bergantian, sesuai antrian. Mirip seperti di pangkalan ojek. Pada hari biasa, tiap perahu hanya dapat muatan satu kali jalan. Tiap muatan, biasanya ada 40 penumpang. Kalau hari Minggu atau hari besar tukang perahu bisa narik dua sampai tiga kali.

“Penumpang perahu paling ramai kalau lebaran. Kalau hari biasa, seperti ini kondisinya,” kata Yeni yang mengaku sudah ikut belajar jadi tukang perahu sejak kelas tiga SD itu.

Beberapa pengunjung yang dimintai komentarnya mengaku cukup senang bisa mengelilingi WKO naik perahu mesin berkapasitas sekitar 50 orang itu. Dengan melihat pemandangan dari perahu bisa membuat pikiran fresh.

“Setiap ke sini sama istri, saya pasti sempatkan naik perahu kalau cuaca tidak hujan. Setelah berkeliling pikiran rasanya jadi segar dan rasa capek bisa hilang. Habis muter-muter naik perahu terus makan ikan bakar jadi tambah semangatnya,” kata Agus Winarno, warga Jajar, Kelurahan Purwodadi.

Editor : Kholistiono

Berwisata di Waduk Kedung Ombo Belum Lengkap Kalau Tidak Bawa Pulang Oleh-oleh Khas yang Satu Ini

Beberapa ikan terlihat sedang dibakar dan siap untuk disajikan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Beberapa ikan terlihat sedang dibakar dan siap untuk disajikan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Hampir di semua lokasi wisata pasti punya oleh-oleh khas yang bisa dibawa pulang pengunjung. Termasuk juga di lokasi wisata Waduk Kedung Ombo (WKO).

Oleh-oleh khas yang ada di sini jenisnya kuliner, tepatnya ikan bakar.“Saya sudah beberapa kali berkunjung ke sini. Setiap pulang, pasti bawa ikan bakar buat oleh-oleh yang di rumah dan tetangga,” kata Rumiyanti, salah satu pengunjung yang mengaku berasal dari Blora itu.

Di sekitar lokasi wisata yang diresmikan Presiden Soeharto tahun 1991 itu memang terdapat banyak warung yang menyediakan menu ikan bakar. Jumlahnya mencapai belasan. 

Sebagian besar, ikan yang tersedia adalah jenis nila. Ada juga jenis ikan mas dan tombro. Terkadang, ada pula yang menyediakan ikan segar hasil tangkapan dari kawasan WKO. Tetapi, jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak selalu ada setiap hari.

“Ikan bakar ini dijamin segar karena diambil langsung dari karamba yang ada di sekitar waduk. Di sekitar waduk, banyak warga yang membudidaya ikan di dalam karamba. Selain di dalam obyek wisata, di luar sana juga banyak warung yang menjual ikan bakar,” kata Mbak Sri, salah satu penjual ikan bakar.

Harga ikan bakar di situ boleh dibilang cukup terjangkau. Harga ikan yang sudah dibakar mulai Rp 7.500 sampai Rp 40.000 per ekor. Harga ini tergantung besar kecilnya ikan.

Bagi yang ingin menikmati ikan bakar di tempat, juga disediakan nasi ditambah sambal dan lalapan. Beberapa pengunjung bahkan ada yang hanya beli ikan plus sambal dan lalapan saja. Sementara bekal nasinya sudah bawa dari rumah. 

Biasanya, mereka ini menggelar tikar di pinggiran waduk dan menyantap makanan sambil melihat pemandangan. Di sekitar obyek wisata, banyak sekali tempat-tempat teduh yang biasa dipakai istirahat dan makan.

Lalu bagaima rasa ikan bakar WKO ini? Jangan salah, meski hanya dikasih bumbu sederhana, cita rasa ikan bakar disitu tidak kalah lezat dengan masakan restoran besar. Terlebih, jika makannya rame-rame, menu ikan bakarnya jadi terasa lebih lezat.

“Menu ikan bakar Kedung Ombo memang top. Saya tadi sudah habis dua ikan bakar ukuran besar,” kata Amali, warga Jepara yang mampir kesitu dalam perjalanan menuju Solo.

 Editor : Kholistiono

Embung Mini di Jrahi Pati Jadi Destinasi Wisata Baru

 Sejumlah pengunjung tengah berwisata di Embung Mini Desa Jrahi, Gunungwungkal, Pati, Sabtu (26/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung tengah berwisata di Embung Mini Desa Jrahi, Gunungwungkal, Pati, Sabtu (26/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah embung mini buatan yang digunakan sebagai cadangan air di Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, saat ini dimanfaatkan sebagai destinasi wisata baru. Setiap akhir pekan, embung mini selalu dipadati pengunjung lokal dari berbagai daerah.

Embung dengan kedalaman empat meter, luas 3.200 meter persegi dengan kapasitas 11.300 meter kubik tersebut dibuat untuk keperluan pengairan. Namun, pengunjung lokal memanfaatkannya untuk wisata.

Empat gazebo cantik yang ditaruh di setiap sudut embung membuat pengunjung semakin betah berlama-lama di sini. Norma Risdan, misalnya. Warga Desa Randukuning, Pati Kota ini rela jauh-jauh datang ke embung mini karena penasaran.

“Saya penasaran dengan embung buatan di Desa Jrahi yang saat ini jadi destinasi wisata. Tempatnya asyik dan bagus dengan pemandangan kolam air, pegunungan Muria, dan Vihara Saddhagiri. Lokasinya juga dekat dengan Air Terjun Grenjengan Sewu,” ujar Norma, Sabtu (26/11/2016).

Sayangnya, embung mini masih belum dikelola dengan baik. Keberadaan embung yang saat ini mulai dimanfaatkan menjadi destinasi wisata, masih sebatas berfungsi sebagai cadangan air dan irigasi.

“Memang banyak muda-mudi yang datang untuk berwisata. Tapi, belum dikelola. Tempat parkirnya juga belum ada. Juga tidak ada tiket masuk. Kami tengah melakukan pembahasan bersama sebelum memutuskan untuk mengelola embung mini sebagai destinasi wisata,” kata Juremi, Sekretaris Desa Jrahi.

Editor : Kholistiono

3 Air Terjun di Jepara Ini Bikin Wisatamu Berkesan Selamanya

Wisatawan menikmati pemandangan di Air Terjun Kedung Ombo Jepara. (Istiemewa)

Wisatawan menikmati pemandangan di Air Terjun Kedung Ombo Jepara. (Istiemewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Objek wisata di Jepara memang tidak ada habisnya dieksplorasi. Di antaranya adalah objek wisata alam seperti halnya air terjun.

Dikutip dari beberapa sumber yang diolah,sSetidaknya ada tiga objek wisata air terjun di Jepara yang bikin wisatawan betah berlama-lama menikmatinya.

 

  1. Air Terjun Songgo Langit
Suasana objek wisata Air Terjun Songgolangit, Jepara. (Istimewa)

Suasana objek wisata Air Terjun Songgolangit, Jepara. (Istimewa)

Objek wisata ini terletak di Desa Bucu, Kecamatan Kembang 30 km sebelah utara dari Kota Jepara. Air terjun ini mempunyai ketinggian 80 meter dan lebar 2 meter.

Panorama alam di sekitar objek wisata ini begitu indah dan udaranya cukup nyaman, sehingga sangat cocok untuk acara santai atau kegiatan rekreasi lainnya.

Di tempat pula banyak dijumpai kupu-kupu yang beraneka ragam jumlahnya dengan warna-warni yang cukup indah. Untuk mencapai objek wisata tersebut dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dengan kondisi jalan beraspal.

 

  1. Air Terjun Gembong
Sejumlah wisatawan asyik menikmati Air Terjun Gembong, Jepara. (istimewa)

Sejumlah wisatawan asyik menikmati Air Terjun Gembong, Jepara. (istimewa)

Objek wisata Air Terjun Gembong terletak di Dukuh Papasan, Bangsri, Jepara.

Dengan luasnya 49.246 Ha, Sebelah utara berbatasan dengan Desa Srikandang, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tanjung, pada sebelah barat berbatasan dengan Desa Kepuk, dan di sebelah timur berbatasan dengan Desa Dudakawu.

Air Terjun Gembong terletak tidak jauh dari Air Terjun Kedung Ombo. Pengunjung bisa berjalan kaki sekitar 30 menit melewati jalan setapak yang telah disediakan. Tidak seperti Kedung Ombo, Air Terjun Gembong dilewati dengan sebuah perjalanan  yang lebih asyik dan menantang. Selain pengunjung tracking, wisatawan juga dapat melakukan olahraga motor trail di area ini karena medannya sangat mendukung dan menantang.

  1. Air Terjun Kedung Ombo
Suasana wisataw di Air Terjun Kedung Ombo, Jepara. (Istimewa)

Suasana wisataw di Air Terjun Kedung Ombo, Jepara. (Istimewa)

Objek  wisata Air Terjun Kedung Ombo terletak di Dukuh Papasan, Bangsri, Jepara.

Terdapat tumpukan bebatuan rapi berbentuk persegi, layaknya buatan manusia. Itu merupakan hasil dari aktivitas alamiah tanpa campur tangan manusia sama sekali.

Jalur trekking menuju Air terjun Kedung Ombo memiliki panjang 2Km dan selama perjalanan akan disuguhkan pemandangan indah yang masih alami. Dengan melewati medan persawahan, hutan dan sungai bebatuan yang masih alami serta udara yang sejuk sehingga membuat perjalanan semakin menyenangkan.

Editor : Akrom Hazami