Sabdo Kusumo, Aliran Sesat Asal Kudus Ternyata Masih Aktif

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani. (MuriaNewsCom)

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Aliran sesat Sabdo Kusumo yang sempat memiliki basis di Desa Kauman, Kecamatan Kota dan Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus ternyata masih aktif bergerak.

Bahkan, para penganut aliran sesat tersebut diduga masih mencari penganut melalui pertemuan-pertemuan terselubung yang dilakukan.

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani mengatakan, organisasi terlarang itu memang baru diketuai masih aktif akhir-akhir ini. Hal itu berdasarkan pengakuan salah satu anggota BPD Desa Klumpit yang bertanya tentang aliran Sabdo Kusumo.

”Awalnya, ia tidak tahu apa itu aliran Sabdo Kusumo. Beberapa warga di sana sering diundang tiap ada pertemuan. Karena itu, ia memberanikan diri bertanya ke MUI,” katanya kepada MuriaNewsCom

Ia menjelaskan, setiap ada pertemuan, anggot BPD tersebut memang selalu diundang untuk hadir. Lantaran diundang, mereka juga datang untuk menghadiri undangan, tanpa maksud lain.

”Jadi ia asal datang karena memenuhi undangan. Awalnya tak ada kecurigaan apapun. Tapi lama kelamaan ia curiga dengan pertemuan yang selalu menyinggung ajaran sabdo kusumo tersebut,” ungkapnya.

Padahal, lanjutnya, aliran Sabdo Kusumo dinyatakan terlarang MUI dalam fatwa pada 2010 lalu. Bukan hanya MUI Kudus, namun fatwa tersebut sampai MUI Jateng.

“Saat itu sangat ramai organisasi Sabdo Kusumo pada 2009 lalu. Lalu MUI mengeluarkan fatwa kalau organisasi jenis itu termasuk organisasi terlarang,” ungkapnya.

Langkah MUI, kini memantau perkembangan aliran tersebut. Pihaknya akan menindak kalau organisasi itu bergerak, dan menyebarkan agamanya.

“Kalau hanya untuk dirinya tidak masalah. Yang bahaya itu kalau digunakan untuk diajarkan ke masyarakat luas,” imbuhnya.

Untuk diketahui, aliran Sabdo Kusumo memang sempat menggegerkan warga Kudus tahun 2009 lalu. Kala itu, pimpinan Sabdo Kusumo Kusmanto Sujono alias Raden Sabda Kusuma alias Eyang Sabdo ditengarai yang mengaku keturunan Sunan Gunung Jati diduga menyebarkan aliran kepercayaannya. Alhasil ia berhasil memiliki beberapa pengikut di Desa Kauman, Kecamatan Kota dan Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Editor: Supriyadi

Bela Negara Dinilai Jadi Kunci Keberlangsungan Berbangsa dan Bernegara

Caption : Bupati Rembang Abdul Hafidz foto bersama pengurus LDII (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Caption : Bupati Rembang Abdul Hafidz foto bersama pengurus LDII (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz menyatakan, akhir-akhir ini banyak ancaman dengan berbagai bentuk yang ingin menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, bupati menyebut, bela negara menjadi sangat penting dan kunci keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara untuk mempertahankan NKRI.

“Para pakar memprediksi bahwa tahun 2054 negara adikuasa hingga negara berkembang resah, karena energi bahan bakar minyak habis. Hal itu bisa saja membuat negara-negara lain terutama negara adikuasa mengancam bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang luar biasa melimpah,” katanya.

Bupati mencontohkan, sebagian negara-negara yang kaya akan sumber daya alam, minyak di Timur Tengah sekarang dilanda pertempuran dan membuat negaranya hancur. Indonesia bisa saja menjadi target negara-negara adikuasa, dengan berbagai cara untuk menguasai sumber daya alam  di Indonesia.

Katanya, saat ini paham-paham yang mengatasnamakan agama Islam dan memicu konflik sangat banyak di Indonesia, termasuk isu Partai Komunis Indonesia. Hal tersebut perlu diwaspadai oleh seluruh kalangan. “Maka bela negara bukan tanggung jawab TNI saja, tetapi rakyat juga harus ikut bertanggungjawab,” imbuhnya.

Bupati mengajak untuk  menata bangsa dan negara bersama-sama sejak sekarang. Baik tentang kultur, budaya maupun peradaban.  “Sekarang ini kalau kita tidak merapatkan barisan, menyatukan visi dan misi yang dilandasi dengan agama, ke depan sangat mengkhawatirkan,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

LDII Rembang Adakan Seminar Bela Negara

Seminar Bela Negara yang diadakan LDII Rembang (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Seminar Bela Negara yang diadakan LDII Rembang (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Rembang mengadakan Seminar Bela Negara. Kegiatan yang diikuti lebih dari 300 orang pengurus LDII di tingkat PAC mapun DPD Rembang tersebut, dilaksanakan pada Sabtu (21/5/2016).

Ketua DPD LDII Rembang Edi Winarno melalui Sekretaris Sugiyanto mengatakan,salah satu tujuan digelarnya kegiatan tersebut adalah untuk memahami dan menggali arti pentingnya nasionalisme bagi masyarakat Indonesia.

“Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan pada akhrinya nanti dapat diimplementasikan pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kemudian, hal itu juga untuk memperkuat rasa persatuan dan persaudaraan sesama warga Indonesia untuk pembangunan nasional,” ungkapnya.

Dirinya juga berharap, semangat nasionalisme harus terus tumbuh. Sebab, bangsa Indonesia akan semakin tumbuh dan berkembang dengan adanya semangat nasionalisme yang tinggi dari masyarakatnya.

Selain itu, semangat nasionalisme juga perlu ditumbuhkan, supaya bangsa Indonesia juga terlepas dari ancaman dan rongrongan dari bangsa lain.

Hadi sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, yakni Dandim Kodim 0720/Rembang Letkol Inf Darmawan Setiadi dan Ketua DPW LDII Provinsi Jawa tengah, Prof Singgih Tri Sulistiyono.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Persijap Ditahan Imbang Persiku di Babak Pertama Laga Uji Coba

Peluang Persijap untuk mencetak gol berhasil digagalkan penjaga gawang Persiku. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Peluang Persijap untuk mencetak gol berhasil digagalkan penjaga gawang Persiku. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Babak pertama laga uji coba antara Persijap Jepara dengan Persiku di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jumat (20/5/2016) berakhir dengan skor kacamata, 0-0. Tim tuan rumah Laskar Kalinyamat belum mampu mencetak gol ke gawang Macan Muria meski peluit panjang babak pertama ditiup..

Kick off babak pertama dimulai, kedua tim menunjukkan tempo yang sedang-sedang saja. Terlihat kedua kesebelasan belum menampilkan serangan yang bertenaga maksimal.

Meskipun pemain Persiku didominasi pemain muda, dan tim besutan coach Yusack Sutanto belum mampu membobol gawang. Laga ini, kesebelasan Persijap juga ada pemain muda yang diturunkan seperti Musa, Rafi dan Rendy.

Ada beberapa pemain senior yang juga diturunkan oleh Yusack dalam laga ujicoba melawan tim yang levelnya dibawah Persijap itu. Terlihat ada pemain seperti Fauzan Jamal, Gipsi, Kornelius, dan Saralim.

CEO Persijap M Sa’id Basalamah mengatakan, pertandingan ini merupakan laga ujicoba untuk memberikan kesempatan bagi pemain yang belum pernah diturunkan pada laga resmi di Indonesia soccer Championship (ISC).

“Ada pemain muda yang diturunkan dalam pertandingan ujicoba ini. Ini untuk dilihat kemampuan mereka agar nanti bisa dijadikan opsi ketika melakoni laga resmi di ISC,” kata Basalamah kepada MuriaNewsCom.

Sementara suasana stadion di SGBK ini, nampak suporter Persijap banyak yang datang. Mereka yang merupakan pendukung fanatik ini tetap bergemuruh melantunkan lagu penyemangat. Sedangkan dari tim lawan nampak pendukungnya sepi bahkan Tribun untuk suporter tamu juga terlihat kosong.

Editor: Supriyadi

Kesbangpol Kudus Wanti-wanti Eks Anggota Gafatar Tak Kembali ke Gafatar

Salah satu narasumber dari Binmas Polres Kudus memberikan sosialisasi bahayanya Gafatar. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu narasumber dari Binmas Polres Kudus memberikan sosialisasi bahayanya Gafatar. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan eks anggota Gafatar Kudus, Kamis (19/5/2016) dikukuhkan Kesbangpol Kudus supaya tak kembali ke Gafatar. Selain banyak negatifnya, organisasi tersebut juga ditetapkan pemerintah sebagai organisasi terlarang.

”Edarannya sudah ada. Karena itu, kami melakukan sosialisasi karena organisasi Gafatar sudah masuk dalam organisasi terlarang,” kata Kepala Kesbangpol Kudus Djati Sholechah kepada MuriaNewsCom usai pertemuan di Balai Desa Rendeng, Kamis (19/5/2016).

Untuk itu, para eks Gafatar dikumpulkan untuk dibekali pemahaman lebih lanjut. Dia berharap para eks Gafatar tidak akan terbujuk rayu untuk bergabung ataupun menyebarkan ajaran Gafatar.

”Karena sudah dilarang, kalau dilanggar pastinya bakal ditindak,” tegasnya.

Apalagi, sebut Djati, anggota Gafatar di Kudus jumlahnya ada 56 anggota. Semuanya terdiri dari 12 KK yang tersebar di berbagai kecamatan di Kudus. Dalam pertemuan itu, anggota eks Gafatar yang diwakili kepala keluarga diharapkan mampu kembali ke masyarakat dan berbaur dengan masyarakat asalnya.

Dalam pertemuan itu, turut hadir pula Polres Kudus yang diwakili Binmas, MUI dan tokoh masyarakat dan pernahkah desa. Selain itu, Kejaksaan Kudus dan Pengadilan Negeri Kudus juga dihadirkan untuk mempertegas kalau Gafatar adalah organisasi terlarang.

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani mengatakan, kondisi eks Gafatar sekarang dinilai sudah membaik. Terlihat dari mereka yang mulai berbaur dengan masyarkat sekitarnya.

”Mereka mau hadir itu sudah hal yang bagus. Namun secara keseluruhan mereka tidak tertekan dan nampaknya tidak.ada persoalan,” ungkapnya.

Sebagai MUI, dia juga bertugas menjaga kerukunan antar ummat muslim dan menjaga agar situasi tetap aman. Termasuk dengan keberadaan Gafatar.

Editor: Supriyadi

Kini Eks Gafatar Asal Ngembalrejo Kudus Bersosialisasi  

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus –  Sekitar 11 mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, akhirnya bisa berbaur dengan warga setempat.

Mereka bisa membuka diri setelah sebelumnya dipulangkan dari Kalimantan beberapa bulan lalu. Para eks-Gafatar itu sudah kembali beraktivitas, seperti saat sebelum mereka bergabung dengan ormas terlarang itu.

Bahkan mereka kini terlihat lebih tekun dan bekerja lebih keras, ketika sudah kembali diterima masyarakat. Hal ini diakui Kepala Desa Ngembalrejo, Moh Zakaria. Menurutnya, pihaknya saat ini sudah cukup lega, karena warganya yang sempat bergabung dengan Gafatar, sudah kembali ke kehidupan normal lagi.

“Saya aku rata-rata eks-Gafatar itu pekerja keras. Saat pulang ke Kudus juga langsung bekerja, meski sederhana, dan yang penting halal,” katanya, Selasa (17/5/2016).

Ia mengakui, warganya yang bergabung dengan Gafatar itu sebelum pergi ke Kalimantan, izin ke pihak desa. Namun saat itu menurut dia, mereka menyatakan pergi ke Kalimantan untuk bekerja, bukan bergabung dengan Gafatar.

Saat ini menurut dia, mereka sudah berkativitas seperti biasa lagi. Mereka berbaur dengan warga dan bekerja, dan ada yang berwirausaha. “Kami selalu memberi perhatian paa mereka. Kami juga akan sering mengikutkan mereka dalam berbagai kegiatan yang ada di desa,” paparnya.

Diketahui, ke 11 Eksgafatar tersebut terbagi dalam dua keluarga yang berbeda. Pihaknya juga berjaji tak akan melakukan diskriminasi, termasuk dalam hal pelayanan maupun hak-hak sebagai warga negara.

“Kalau masalah administrasi atau surat menyurat kami akan mengusahakan memberikan yang terbaik. Seperti halnya permohonan pembuatan administrsi KTP baru, KK,  maupun sejenisnya. Dan saat ini sudah kita urus administrasi tersebut,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya akan tetap melakukan pemantauan dan pengawasan kepada mantan anggota Gafatar itu, agar tak lagi kepincut untuk bergabung dengan organisasi terlarang. Pengawasan itu juga di antaranya dengan memberikan perhatian dan mengikutsertakan mereka dalam program-program yang ada di desa.

“Alhamdulilah sekarang ini mereka bisa ikut bercengkrama, hidup bersama-sama dengan kita secara baik. Kami akan selalu mengajak meraka. Sebab mereka bila ada kegiatan juga rajin, dan bisa menyelesaikan kegiatan dengan baik pula,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Komunisme Mulai Muncul Lagi, Begini Kata Banser Pantura Timur

Penasehat Banser pusat, KH Subakir Thoyyib (kiri) berjabat tangan Provos Banser. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Penasehat Banser pusat, KH Subakir Thoyyib (kiri) berjabat tangan Provos Banser. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Paham komunisne saat ini dipandang oleh Banser Nahdlatul Ulama (NU) mulai dimunculkan kembali. Hal itu terbukti dari maraknya isu komunis di media sosial maupun upaya para komunis untuk meminta pemerintah melakukan permintaan maaf kepada mereka atas peristiwa pembantaian saat G30S PKI.

Hal disampaikan penasehat Banser pusat, KH Subakir Thoyyib. Menurutnya, pihak komunis yang meminta pemerintah untuk meminta maaf ke mereka merupakan kesalahan yang besar. Sebab, yang menjadi korban justru dari pihak pemerintah yakni para jenderal maupun para kiai dan tokoh masyarakat.

”Paham komunisme perlu diwaspadai, apalagi sekarang ini isu-isu komunisme lebih kental dengan paham sosialisme. Jadi harus lebih diwaspadai,” ujar Subakir kepada MuriaNewsCom, di Masjid Nahdlatul Bahri yang ia dirikan di kawasan pantai Empu Rancak, Mlonggo Jepara.

Menurut dia, dalam hal menghadapi komunisme, Banser siap menjadi garda terdepan. Banser yang notabene pasukan pemberani memiliki sikap melawan terhadap paham-paham yang tidak sesuai dengan Pancasila.

”Strategi kami sampai saat ini untuk membentengi masyarakat dari paham yang salah adalah dengan memperkuat paham Pancasila dan Ahlussunnah wal Jamaah,” terangnya.

Dia menambahkan, Pancasila merupakan paham yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, budaya bahkan agama. Sehingga Pancasila harus dijaga agar persatuan Negara Indonesia tetap utuh.

Editor: Supriyadi

Marak Kasus Pernikahan Usia Dini di Rembang

gres e

Salah satu tim penilai dari pusat melakukan penilaian terhadap GRESS (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tidak dapat dipungkiri, sebagian daerah di Kabupaten Rembang masih banyak ditemukan kasus pernikahan usia dini. Hal inilah yang memicu keprihatinan dari sebagian masyarakat dan kemudian membentuk wadah untuk mencari solusi mengenai hal itu.

Seperti halnya Gerakan Remaja Sehat Sanetan (GRESS) yang berada di Desa Sanetan, Kecamatan Sluke, Rembang. GRES menjadi salah satu wadah, untuk memberikan pendidikan dan pengetahuan terhadap masyarakat, khususnya remaja, mengenai pernikahan usia dini.

Ketua GRESS Sanita Rini mengatakan, GRESS mulai terbentuk sejak 2006 lalu. Hal ini berawal ketika di Desa Sanetan ditemukan ada 20 kasus pernikahan dini, yakni berkisar 15-16 tahun. Sehingga, kasus seperti itu dinilai perlu adanya penanganan.

“Kemudian, kami beberapa warga lalu membentuk wadah bernama GRESS. Kami kemudian juga membentuk kepengurusan, yang kemudian juga sudah kami SK kan pada 2010 lalu. Kegiatan yang kami lakukan juga cukup banyak, mulai konseling, pembuatan mading dan kampanye setop pernikahan dini,” ujarnya.

Dirinya juga menyatakan, jika pihaknya juga mengadakan pertemuan rutin yang dilakukan setiap bulan. Hal ini untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan remaja di desa setempat, dan melakukan berbagai kegiatan positif lainnya.

Ia juga mengatakan, selain berperan aktif dalam perlindungan anak dan remaja, GRESS juga aktif pada Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dan sudah berhasil mendapat anggaran untuk kegiatan GRESS.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Ribuan Jamaah Thoriqoh  se Jateng-DIY Banjiri JHK Kudus, Ada Apa?

Ribuang anggota Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyah memadati JHK Kudus, Sabtu (7/5/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ribuang anggota Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyah memadati JHK Kudus, Sabtu (7/5/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 1.082 anggota Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyah se Jawa Tengah dan daerah Istimewa yogyakarta (DIY) memadati Gedung Jam’iyatul Hujaj Kudus (JHK), Sabtu (7/5/2016). Ribuan anggota jamaah tersebut sengaja menggelar silaturahmi sekaligus menggelar pertemuan rutin sesama jamaah thoriqoh yang biasa digelar 6 bulan sekali.

Panitia kegiatan manaqib qubro, Bahtsul Masail dan Istighosah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyah se Jateng-DIY Saifudin mengatakan, kegiatan ini digelar selama 6 bulan sekali secara berkeliling dari kabupaten ke kabupaten.

”Bulan ini kebetulan Kudus yang punya hajat. Jadi kami memilih JHK untuk menampung jamaah,” katanya.

Selain acara silaturahmi, acara kali ini juga akan diagendakan sidang anggota dan istighosah. Hal tersebut diharapkan mampu memberi semangat spiritual bagi setiap anggotanya.

”Dalam sudang anggota, terdapat beberapa komisi. Di antaranya sidang komisi A yang membidangi kegiatan organisasi, sidang komisi B yang membidangi bahtsul masail, dan sidang komisi C yang akan membidangi Muslimat thoriqoh,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, kegiatan yang dihadiri oleh tokoh ulama Kudus KH. Ulinnuha Arwani, KH. Ulil Albab Arwani, SKPD pemerintah Kudus, Ketua NU Kudus, hingga menteri Marwan Jafar diharapkan dapat memberikan rasa saling harmonis di anatara jamaah thoriqoh maupun pihak pejabat.

”Untuk kegiatan ini di Kudus memang baru pertama kali ini. Memang acara semeperti ini diadakan secara bergiliran di kabupaten yang ada di Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Selain itu, sebelum di Kudus, enam bulan yang lalu sudah digelar di kabupaten Purworejo,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Pimpinan Baru GP Ansor Kudus Dilantik

Kegiatan pelantikan GP Ansor Kudus. (MurianewsCom/Edy Sutriyono)

Kegiatan pelantikan GP Ansor Kudus. (MurianewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pimpinan terbaru GP Ansor Kudus periode 2016-2020 resmi dilantik di gedung MA NU Banat Kudus, pada Kamis (5/5/2016). Pelantikan merupakan serangkaian dari hasil konferensi cabang GP Ansor XI Kudus yang sudah dilakukan Minggu (13/3/2016) di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo. Dalam pelantikan tersebut, pimpinan terbaru GP AnsorSarmanto menggantikan pimpinan sebelumnya, Musyafak.

Sementara itu, dalam acara tersebut turut dihadiri oleh Bupati Kudus yang diwakili Sekretariat Daerah Kudus Noor Yasin, jajaran Polres Kudus, jajaran Kodim 0722/Kudus, PCNU Kudus, pimpinan Fatayat NU Kudus, pimpinan Muslimat NU, ISNU Kudus, PMII, IPNU-IPPNU Kudus, LPS Pagar Nusa Kudus.

Dalam pelantikan, Sarmanto menuturkan beberapa hal. Di antaranya soal organisasi GP Ansor itu harus bisa mandiri.”Mandiri dalam hal ideologi, kuat ekonomi, kuat menjaga NKRI, menjaga UUD 1945, dan kuat organisasi guna menjaga negara Indonesia,” paparnya.

Sementara itu dirinya juga berharap adanya kekompakan organisasi untuk selalu mengedepankan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Sehingga organisasi ikut berperan serta dalam pembangunan di negara Indonesia.

“Saya akan berusaha mengembangkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah serta mengedepankan Islam yang santun. Selain itu, Ansor ingin bersama pemerintah dan aparat mengusung NKRI. Terutama mengantisipasi radikal, teroris, komunisme dan sejenisnya” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Dilantik Sebagai Ketua Muhammadiyah Kudus, Hilal Utamakan Pendidikan dan Kesehatan

Muhammadiyah Kudus (e)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Malam ini, Ahmad Hilal Madjdi kembali dilantik menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus untuk periode 2015 – 2020. Menjabat kali kedua, pria yang akrab disapa Hilal itu bakal mengedepankan pendidikan dan kesehatan. “Mudah-mudahan ke depan Muhammadiyah Kudus bisa lebih bagus lagi dalam berbagai bidang,” kata Hilal.

Menurut Hilal, bidang pendidikan menjadi hal yang penting. Lantaran, kemajuan bidang pendidikan menjadi salah satu penentu masa depan bangsa. Pada pertengahan kepemimpinannya periode sebelumnya, berbagai bidang sudah mulai memperlihatkan hasil. Mulai dari bidang pendidikan misalnya, dalam naungan Muhammadiyah, beberapa prestasi membanggakan mampu diraih.
“Pada pertengahan tahun (2015) lalu, ada pertukaran pelajar dari kami yang diwakili SMA Muhammdiyah dengan sekolah di Malaysia. Total siswa yang ada dalam pertukaran pelajar tersebut sejumlah 17 siswa,” imbuhnya
Keberhasilan bidang pendidikan harus terus ditingkatkan. Untuk itu, pada kepemimpinan periode kedua ini juga akan ditingkatkan kembali bidang pendidikan. Hilal menjelaskan, Muhammadiyah sangat terbuka kepada semua pihak. Khususnya, bagi yang kurang tersentuh atau siswa dari kalangan orang tidak mampu.
Di samping bidang pendidikan, bidang kesehatan juga akan mendapat perhatian besar. Dia berharap, pelayanan terhadap masyarakat untuk bidang kesehatan bisa semakin meningkat dan lebih baik lagi. “Kami dari Muhammdiyah adalah pelayan masyarakat. Jadi kami terbuka untuk siapapun,” terangnya.

Editor : Supriyadi

PNS di Kudus Diduga Jadi Pengurus Wilayah Gafatar, Satu Orang Lagi Juga Hilang

gafatar (e)

(Foto: Ilustrasi)

 

KUDUS – Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus saat ini memang tengah meminta setiap camat di masing-masing wilayah, untuk bisa memantau keberadaan warganya. Terutama mereka yang mendadak ”hilang” begitu saja tidak ada kabarnya.

Kepala Kantor Kesbangpol Kudus Djati Solechah mengatakan, jika menemukan warganya yang hilang, camat diharap bisa melaporkan hal tersebut kepada pihaknya. ”Kami khawatir kalau kemudian mereka ikut organisasi terlarang bernama Gafatar. Makanya, kami sudah surati camat untuk melakukan pendataan warganya kembali,” tuturnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/1/2016).

Gafatar sendiri, diakui Djati pernah berulangkali melegalkan organisasi itu di wilayah Kudus ini, dengan cara mendaftarkan diri ke pihaknya. Namun, karena mengetahui jika organisasi itu dilarang, maka Kantor Kesbangpol menolak untuk memberikan Surat Keterangan Terdaftar (SKT).

Salah satu yang juga sedang diselidiki Kesbangpol adalah keterlibatan seorang pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Kudus, yang diduga merupakan pengurus wilayah Gafatar tingkat provinsi. Bahkan, PNS ini menghilang sejak lebih dari sebulan lalu.

”Kalau PNS ini memang PNS yang bekerja di Pemkab Kudus. Namun, domisilinya bukan di Kudus atau bukan orang asli Kudus. Memang dia sudah menghilang lebih dari sebulan lalu. Dan diduga dia pengurus wilayah organisasi ini,” tutur Djati.

Selain PNS, Djati mengatakan jika ada seorang warga lagi yang dinyatakan hilang tanpa pesan. Yakni warga Kecamatan Jati, yang juga mendadak menghilang. Diduga kuat, yang bersangkutan juga ikut terlibat organisasi ini. ”Itu sedang kita selidiki lagi. Kemana perginya satu orang ini,” jelasnya.

Itu sebabnya, Djati menambahkan jika para camat diminta bisa segera mendata warganya yang hilang mendadak. Hasilnya diharapkan bisa selesai pekan depan. ”Sehingga kita bisa segera ambil tindakan untuk mengatasi hal ini,” imbuhnya. (MERIE)

Ternyata, Gafatar Berulangkali Coba Daftarkan Organisasinya ke Kesbangpol Kudus

gafatar (e)

(Foto: Ilustrasi)

 

KUDUS – Hilangnya beberapa orang di sejumlah daerah akhir-akhir ini, memunculkan nama organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Ternyata, lembaga atau organisasi ini sudah berulangkali mendaftarkan diri di Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus.

Kepala Kantor Kesbangpol Kudus Djati Solechah membenarkan bahwa organisasi bernama Gafatar, memang mencoba untuk mendaftarkan diri kepada pihaknya.

”Ini sebagai upaya untuk melegalkan organisasi itu. Jadi, sudah berulangkali mereka mencoba mendaftarkan diri kepada kami,” jelasnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/1/2016).

Namun, menurut Djati, pihaknya tidak bisa mengabulkan permohonan tersebut. Meski sudah melengkapi berbagai dokumen, namun pengajuan itu tetap ditolaknya.

”Kita juga sudah berkoordinasi dengan semua pihak dan lembaga terkait masalah ini. Dan demi kebaikan semua pihak, permohonan mereka supaya bisa menjadi organisasi yang terdaftar, kami tolak,” tuturnya.

Gafatar sendiri adalah organisasi yang sudah dilarang keberadaannya oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Gafatar sendiri bukan organsisasi Islam murni, dan dianggap sebagai aliran sesat.

Organisasi Gafatar inilah yang belakangan disebut-sebut sebagai organisasi yang kemudian berada di balik hilangnya sejumlah orang di beberapa wilayah. Kasus yang cukup mencolok adalah hilangnya seorang dokter perempuan di Yogyakarta, yang kemudian ditemukan aparat kepolisian setelah beberapa pekan menghilang.

”Gafatar memang berusaha melegalkan organisasi. Termasuk di Kudus ini. Namun sampai hari ini, kita belum pernah mengeluarkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) terhadap organisasi itu. Jadi, kita tidak mengakui sama sekali keberadaan mereka,” imbuh Djati. (MERIE)

Laga Persiku VS Persipur Gagal Tanding di Kudus

Persiku latihan rutin di salah satu lapangan di Kudus beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Persiku latihan rutin di salah satu lapangan di Kudus beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Laga persahabatan antara Persiku Kudus melawan Persipur Purwodadi di Stadion Wergu Wetan Kudus harus gagal tanding. Hal itu disebabkan, laga yang direncanakan dilaksanakan hari ini Sabtu (26/12/2015) tidak mengantongi izin keramaian dari pihak kepolisian resor Kudus.

Hal itu disampaikan Ketua KONI Kudus M Rinduwan. Dia mengatakan pihak kepolisian tidak mengeluarkan izin pertandingan, sehingga pertandingan yang sangat dinanti itu tidak dapat dilangsungkan.

”Padahal pertandingan itu sudah sangat ditunggu. Dan kedua tim sudah sangat siap bertanding hari ini. Selain itu juga, dari pihak penyelenggara juga sudah siap secara teknis dan pendanaan pelaksanaan kegiatan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia kecewa dengan gagalnya pertandingan. Sebab laga yang direncanakan matang-matang itu tidak jadi dilaksanakan, karena tidak mendapatkan perizinan dari kepolisian.

Meski kecewa, penyelenggara tetap menghormati dan mematuhi kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak kepolisian. Tersebar kabar, berdasarkan keterangan yang didapatkannya, tidak keluarnya izin dikarenakan ada kisruh pertandingan sepak bola di Sragen belum lama ini.

”Itu kan di sana, dan itu juga dalam sebuah turnamen. Jadi berbeda dengan pertandingan di sini yang sifatnya persahabatan,” ujarnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

PMII Pati Sesalkan Keputusan NU Jadikan PMII sebagai Banom

PMII Cabang Pati dan sejumlah alumni memperingati Harlah PMII ke-55 di Islamic Center Masjid Agung Baitunnur Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PMII Cabang Pati dan sejumlah alumni memperingati Harlah PMII ke-55 di Islamic Center Masjid Agung Baitunnur Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Pati menyesalkan sikap dan keputusan NU yang menjadikan PMII sebagai badan otonom (Banom) NU. Hal ini disampaikan Ketua Bidang Eksternal PMII Pati Abdur Rohman.

Ia mengatakan, NU melalui sidang komisi organisasi dalam Muktamar NU ke-33 sudah menjadikan PMII sebagai Banom secara sepihak. Imbasnya, mahasiswa di luar NU tidak bisa ikut organisasi PMII.

”Kami sesalkan keputusan NU yang menjadikan PMII sebagai badan otonomnya. Keputusan ini sepihak yang bisa berimbas secara jangka panjang, yaitu mahasiswa di luar NU tidak bisa bergabung,” ujar Rohman kepada MuriaNewsCom, Rabu (5/8/2015).

Rohman menuding sidang komisi organisasi sudah bersikap arogan menjadikan PMII sebagai banom NU. ”Kami mewakili PMII Cabang Kabupaten Pati menyesalkan sikap NU yang sudah secara sepihak dan arogan menjadikan PMII sebagai banomnya. Ini pemikiran dan keputusan yang sempit,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

PMII Pati Inginkan Ikut NU Kultural, Bukan Struktural

PMII Cabang Pati dan sejumlah alumni memperingati Harlah PMII ke-55 di Islamic Center Masjid Agung Baitunnur Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PMII Cabang Pati dan sejumlah alumni memperingati Harlah PMII ke-55 di Islamic Center Masjid Agung Baitunnur Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pati secara resmi menyatakan berduka cita atas runtuhnya independensi PMII, usai dijadikan badan otonom (Banom) NU saat sidang komisi organisasi dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang, Selasa (4/8/2015).

”Kami mengakui, sejarah memang berbicara bahwa PMII tidak lepas dari NU. Karena itu, PMII secara kultural memang menjadi bagian dari NU. Tapi, kalau dijadikan banom secara struktural, ini sudah meruntuhkan independensi PMII itu sendiri,” kata Ketua Bidang Eksternal PMII Pati Abdur Rohman kepada MuriaNewsCom, Rabu (5/8/2015).

Ia mengatakan, PMII selama ini sudah menjadikan NU sebagai landasan ideologi, cara berpikir, bahkan landasan seremonial. Hal tersebut, kata dia, sudah cukup dijadikan sebagai dasar bahwa PMII tidak lepas dari NU.

Namun, lanjutnya, sangat disayangkan jika PMII yang sudah secara kultural menjadi bagian dari NU, tetapi justru dijadikan sebagai bagian dari organisasi struktural NU secara formal. ”Tidak penting masuk NU secara struktural, karena PMII secara kultural tetap menggunakan ideologi NU, yaitu Aswaja,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya akan membahas lebih lanjut di tingkat internal Kabupaten Pati untuk menanggapi sikap NU yang menjadikan PMII sebagai banom. ”Kami secara internal melakukan kajian soal itu. Di tingkat pusat, itu akan dibahas dalam Muspimnas dan Kongres PMII,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Pekan Depan, Jabatan Ketua MUI Kudus akan Diproses

www.hidayatullah.com

www.hidayatullah.com

KUDUS – Meninggalnya KH Syafiq Nashan beberapa waktu lalu, membuat jabatan ketua MUI Kudus hingga saat ini masih kosong. Hingga kini Belum ada sosok yang mencuat sebagai pengganti almarhum.

“Kita belum tahu siapa yang meneruskan, sebab beliau (KH Syafiq Nashan) meninggal belum lama,” kata Kepala Kemenag Kudus Hambali, kepada MuriaNewsCom, Jumat (31/7/2015).

Menurutnya, mekanisme pergantian sudah diatur, yakni penunjukan tim khusus. Dan tim tersebut merupakan gabungan dari Kemenag Kudus dan dibantu dari provinsi.

Namun, kata Hambali, hingga kini pembentukan tim juga belum ada. Dan upaya tersebut baru akan dilakukan ketika sudah beberapa hari pemakaman. Sehingga dimungkinkan baru akan dilakukan pekan depan.

“Kami tetap mengupayakan secepatnya. Namun juga harus sesuai mekanisme yang ada. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada dan dapat menjalankan tugas dnegan baik sepeti almarhum,” ujarnya.

KH Syafiq, meninggal beberapa bulan lalu, di usia 56 tahun, di rumah kediamannya. “Beliau merupakan sosok yang baik. Penyayang dan mengayomi banyak kalangan. Terlebih beliau juga giat kampanye halal. Sehingga jasanya sangat besar,” ungkapnya. (FAISOL HADI/SUWOKO)

Dalam Hitungan Menit, Ratusan Takjil Pramuka Ludes

Anggota Pramuka membagikan takjil di depan sanggar Kwarcab 11 15 Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota Pramuka membagikan takjil di depan sanggar Kwarcab 11 15 Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Acara bagi-bagi takjil yang dilakukan anggota pramuka petang tadi di depan sanggar Kwarcab 11 15 Grobogan berlangsung sukses. Hanya dalam hitungan menit, ratusan bungkus takjil yang disiapkan buat buka puasa langsung ludes. Bahkan, saking semangatnya, paket takjil yang sedianya disiapkan buat buka puasa bersama anggota pramuka ikut dibagikan buat warga. Lanjutkan membaca