Misteri Penampakan Kuntilanak di Kawasan Taman Lumpur Kesongo Blora

f-kuntilanak (e)

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan Lumpur Kesongo yang berada di Area Perhutani KPH Randublatung Blora, terletak di Petak 141 RPH Padas BKPH Trembes, tak lepas dari cerita misteri mengenai asal usulnya, yang dikaitkan dengan Joko Linglung yang menjelma sebagai sosok ular ketika bertapa.

Bahkan, hingga sekarang cerita mistis mengenai Lumpur Kesongo masih cukup kental. Tak jarang, kawasan Lumpur Kesongo menjadi tujuan sebagian orang untuk mengambil pesugihan ataupun ritual lain. Sebagai persembahannya adalah kepala kerbau atau kepala sapi, diletakkan di tempat tersebut.

Kawasan yang sebenarnya memiliki potensi wisata seperti Bleduk Kuwu di Grobogan, kini justru terkesan angker dengan cerita-cerita mistis yang beredar di masyarakat. Seperti halnya yang diceritakan Kristiyono, yang tempat tinggalnya berdekatan dengan kawasan Lumpur Kesongo, tepatnya di Dusun Sucen, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Blora.

Kristiyono mengaku mendapatkan cerita ini dari Mbah Amat, Juru Kunci Taman Lumpur Kesongo. Semenjak kawasan tersebut menjadi tempat tujuan oleh beberapa orang yang ingin hajatnya dikabulkan, maka tak jarang penampakan-penampakan makhlus halus muncul di tempat tersebut.

“Mbah Amat sudah seringkali menemui penampakan makluk halus seperti kuntilanak dan pocong. Belum lagi suara keluarnya lumpur kecil yang terus menerus membuat suasana Lumpur Kesongo menjadi makin mencekam,” cerita  Kristiyono.

Ditambah lagi, katanya, sebelah barat kawasan Lumpur Kesongo merupakan tempat penguburan PKI pada tahun 1965 yang membuat penampakan makhluk astral semakin banyak ditemui. Banyak korban PKI yang di kubur di kawasan tersebut.

Menurutnya, warga sekitar yang beraktivitas di sekitar Kawasan Lumpur Kesongo seperti bercocok tanam dan mencari kayu bakar, sering menemui penampakan makluh halus, entah itu di siang hari maupun di malam hari. “Jika malam hari, sering dijumpai pocong dan kuntilanak, sementara kalau siang hari sering di jumpai banaspati dan kepala manusia yang terbang berkeliaran. Warga sekitar menyebutnya pepekan,” imbuhnya.

Perlu diketahui, Lumpur Kesongo ini bermula dari legenda Ki Joko Linglung yang datang di kawasan tersebut untuk melakukan pertapaan. Pada pertapaannya itu, Ki Joko Linglung menjelma menjadi seekor ular yang sangat besar. Pertapaan ini memakan waktu bertahun-tahun lamanya, sehingga tubuh ular penjelmaan Ki Joko Linglung tertutup oleh pepohonan dan  tanaman merambat. Berdasarkan pesan sang guru, selama bertapa Ki Joko Linglung dilarang makan, kecuali ada sesuatu yang masuk kedalam mulutnya. Dalam pertapaannya, ular penjelmaan Ki Joko Linglung membuka mulutnya, sehingga terlihat seperti mulut gua.

 Suatu ketika, datanglah sepuluh anak pengembala mengembalakan sapinya di daerah tempat Ki Joko Linglung bertapa.  Tiba-tiba terjadi hujan lebat sehingga sepuluh pengembala itu mencari tempat berteduh. Secara tidak sengaja, salah satu dari sepuluh pengembala tersebut ada yang menemukan gua. Kemudian dia mengajak teman-temannya untuk berteduh di gua yang ditemukannya. Namun satu dari teman mereka tidak mau masuk ke dalam gua tersebut.

Pada saat berteduh, sembilan pengembala tersebut tidak menyadari kalau gua tempat mereka berteduh merupakan mulut dari ular penjelmaan Ki Joko Linglung yang sedang bertapa. Di dalam gua sembilan anak tesebut memukul-mukulkan goloknya ke dinding gua. Karena terkejut dan kesakitan dengan adanya orang yang masuk ke dalam mulutnya, ular jelmaan Ki Joko Linglung pun menutup mulutnya, dan sembilan pengembala tadi pun tertelan ke dalam perut ular penjelmaan Ki Joko Linglung.

Satu teman mereka yang tidak masuk ke dalam mulut gua tersebut kaget melihat kejadian itu. Dan Ki Joko Linglung yang telah kekenyangan setelah memakan sembilan anak pengembala tersebut mengeluarkan air liur dari mulutnya. Hal itu, karena dia telah berpuasa bertahun-tahun lamanya. Air liur Ki Joko Linglung yang jatuh ke tanah  secara menakjubkan menjadi letupan-letupan sumber lumpur yang ke luar dari perut bumi.

Setelah merasa kenyang, Ki Joko Linglung pun kembali melanjutkan proses pertapaannya dengan masuk ke perut bumi. Sumber lumpur yang ke luar dari perut bumi itu, sampai saat ini terus ke luar dengan lokasi yang berpindah-pindah.Pada saat tertentu terjadi letupan yang besar dan berlangsung seharian. Masyarakat sekitar menyakini lokasi lumpur yang berpindah-pindah itu merupakan tempat pertapaan Ki Joko Linglung

Satu anak pengembala yang selamat itu pun pulang ke desanya. Dia kemudian  menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama teman-temannya. Tempat semburan lumpur tersebut akhirnya dinamakan Kesongo atau Pesongo  yang berasal dari kata apesnya cah songgo (sialnya anak sembilan). Dikarenakan cerita tentang kesaktian Ki Joko Linglung dan tempat pertapaannya tersebut berkembang di masyarakat luas, maka tempat ini pun sampai sekarang merupakan tempat yang banyak dikunjungi orang untuk melakukan ritual permohonan berkah kepada Ki Joko Linglung agar diberi kesuksesan dunia.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom.

Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Kholistiono

 

Selain Pocong, Suara-suara Menyeramkan Juga Terdengar dari Gedung Ngasirah

Gedung Ngasirah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Gedung Ngasirah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain adanya penampakan Pocong, di Gedung Ngasirah juga kerap muncul suara suara yang aneh. Sama halnya penampakan, suara tersebut juga banyak didengar oleh sekitar.

Kusuma, seorang warga Mejobo yang bekerja di sekitar Ngasirah mengatakan, suara-suara aneh tersebut terdengar sangat jelas. Siapapun yang mendengarnya sering penasaran dan ingin melihat langsung ke sumber suara.

”Suara tersebut bunyinya seperti kluk.. kluk.., lalu suara orang menangis dan suara suara lainya,” katanya kepada MuriaNewsCom

Tapi anehnya, katanya, ketika sumber suara dilihat tidak ada apa apa. Hal itu yang sering menjadi pertanyaan warga sekitar.

Gedung tua Ngasirah, hingga kini masih kosong tanpa ada pembenahan. Tak heran, jika hawa yang keluar dari penampilan gedung terkesan angker.

Keangkeran gedung tersebut, banyak dirasakan banyak orang. Bukan hanya malam.hari yang terlihat angker, namun juga pada siang hari juga terkesan mengerikan.

Editor: Supriyadi

3  Pocong Usil Penunggu Gedung Tua Ngasirah Sering Menampakkan Diri

Gedung Ngasirah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Gedung Ngasirah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Percayakah dengan keberadaan hantu Pocong? pernahkan melihatnya secara langsung?. Di tempat itu bukan hanya terdapat satu hantu Pocong saja yang siap menganggu, namun tiga pocong.

Pengalaman tersebut, bukan hanya satu dua orang saja yang merasakan. Melainkan beberapa orang pernah melihat langsung usil dan menyeramkan. Pocong kerap muncul bersamaan di luar gedung tua, Ngasirah.

Satu di antaranya yang pernah melihat adalah Kusuma, seorang warga Mejobo yang merupakan pekerja di sekitar Ngasirah. Dia menjelaskan belum lama ini melihat tiga pocong yang menghantuinya dari dalam gedung. Karena tidak percaya, dia memastikan kalau saat itu dia tidak salah lihat.

“Waktu itu habis maghrib, sekitar dua pekan lalu selesai salat sambil lihat hp. Kemudian tiba tiba saya melihat Ngasirah dari luar, eh malah ada kaya putih putih yang ngambang dari samping gedung,” katanya.

Lantaran tidak percaya, dia memastikan kembali apa yang dilihatnya. Akhirnya, dia melihat dalam waktu yang agak lama. Benar saja, bukan hanya satu pocong, melainkan di depan gedung dan belakang, juga muncul hantu serupa.

Melihat pemandangan yang tidak biasa, katanya, dia memanggil temannya untuk memastikan hal itu. Hanya temannya tidak berani melihat dan tiga hantu pocong sudah tidak lagi nampak.

“Sebenarnya banyak juga yang sudah melihat hantu pocong. Bahkan teman-teman saya juga banyak yang melihatnya,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Mahluk Halus Culik Santri Kudus

ilustrasi

ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – Imam Wahyudi (14) warga Desa Sumber, Kecamatan/ Kabupaten Rembang yang mondok di salah satu Pesantren di Jekulo, Kamis (19/5/2016) malam kemarin mengaku mengalami pengalaman mistis.

Dia diajak tiga orang ‘temannya’ jalan – jalan. Namun temannya ini bukan manusia,tapi mahluk halus. Kini dia ketakutan dan trauma. Saat ditemui di pos Satpol PP Kudus, Jumat (20/5/2016), Imam mengaku semalam sekitar pukul 18.30 WIB saat akan mengambil air wudlu, tiba-tiba didatangi tiga ‘temannya’ dari Rembang.

“Lalu saya diajak jalan – jalan sampai ke arah makam Sunan Muria. Bahkan juga diajak ke makam Kajar oleh ketiga ‘temannya’ itu,” katanya.

Dikatakannya, dia juga sempat dibawa ke rumah ‘temannya ‘ itu, namun dia mengaku menolak dan sempat lari dengan melompati jendela kamar. Bahkan, dia juga mengaku sempat digondeli ketiganya.

Namun Imam tetap bersikukuh melarikan diri. Akhirnya dia sempat dikejar. Tapi dia berhasil lari. Sampai akhirnya dia sampai di Desa Margorejo, Kecamatan Dawe.

Sementara itu, salah satu anggota Satpol PP, Munawaroh, warga Kandangmas, Kecamatan Dawe, yang kebetulan melewati jalan yang dilalui Imam Wahyudi mengatakan, dirinya melihat kondisi Imam di saat itu, dalam keadaan pucat. Karena kasihan, dia lalu membawa Imam ke pos Satpol Pemkab Kudus.

Dijelaskan oleh Munawaroh, saat itu dia menemukan Imam sekitar pukul 06. 00 WIB, berada di pinggir jalan dalam kondisi yang sangat kelelahan. Ketika di pos Satpol PP, dia menanyakan nomor ponsel orang tuanya yang bisa dihubungi.

“Akhirnya dijemput saudaranya, dan akhirnya dikembalikan ke pondok pesantrennya di Jekulo,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Penampakan Hantu di Belik Plenggong Rembang

 

uplod cerita misteri jam 20 awas serem (e)

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tetaplah waspada saat Anda berada di suatu tempat. Seperti yang terjadi di Rembang, kali ini. Yaitu di Belik Plenggong di Desa Suntri, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Bagi Anda, warga Rembang, pasti tidak asing dengan tempat itu.

Informasi yang beredar dari warga di sekitar belik, bahwa banyak misteri yang terjadi. Di antaranya, menakuti mereka pasangan suami istri. Terutama mereka yang sedang bertengkar. Kalau sedang dilanda hal itu, hendaklah tidak melewati kawasan itu.

Sebab, penunggu belik akan mengikuti orang tersebut kemanapun pergi. Tidak hanya itu, hantu dari belik akan terus membisikkan apa saja yang diinginkannya kepada orang tersebut.

Ahli spiritual setempat mengatakan, di sebelah belik ada pohon pule besar di sebelah belik diketahui sering jadi tempat gantung diri. Jadi tidak heran, jika arwah orang yang gantung diri sering menghantui. Bahkan, hantu sering dipercaya mencelakakan pengendara. Kebetulan lokasi itu ada jalan menikung.

Bahkan arwah penasaran juga sering menghantui warga dengan menyerupai saudara. Biasanya, warga yang dihantui akan terlihat bicara sendiri. Padahal dia sedang bicara dengan jelmaan saudaranya.

Beredar kisah misteri dari Belik Plenggong. Salah satunya adalah kisah pencuri kayu yang dipermainkan hantu saat melintasi belik. Ketika itu, pencuri kayu jati dapat pesanan kayu dalam jumlah besar. Saking senangnya, pencuri kayu mengantarkan pesanan meski malam telah larut.

Rumah pemesan kayu melewati belik itu. Pencuri kayu itu beraksi malam hari. Singkatnya, kayu itu berhasil dicuri dan ditaruh di pundak. Kayu diantarnya ke pemesan. Begitu kayu ditaruhnya di rumah pemesan, ternyata pencuri kayu berada di rumahnya sendiri.

Hal itu dilakukannya berulang kali sampai kelelahan. Malam yang kian larut membuatnya tambah lelah. Sampai akhirnya pencuri itu tertidur berbantalkan kayu. Paginya, warga geger karena pencuri itu tertidur di Belik Plenggong. Rupanya, pencuri dikerjai hantu penunggu belik.

Beredar cerita pula, ada seorang dukun bayi yang kena apes. Ketika itu ada warga yang butuh pertolongan. Istrinya hendak melahirkan. Dukun pun membantu istri orang itu melahirkan. Dengan susah payah, akhirnya dukun berhasil membantu proses kelahiran.

Dukun mendapatkan upah uang Rp 10.000. Kemudian, warga itu berpesan agar kalau pulang jangan menoleh ke belakang. Dukun berlalu meninggalkan keluarga yang tak dikenalnya itu. Rupanya, dukun penasaran dengan apa yang dikatakan pemilik rumah.

Dia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Ternyata rumah itu sudah hilang. Padahal baru beberapa langkah ditinggalkannya. Dia baru sadar kalau berada di Belik Plenggong.

Itulah sekilas tentang kisah misteri dari warga. Silakan kirimkan kisah atau pengalaman misterimu ke red.murianews@gmail.com.

Editor : Akrom Hazami

Baruklinting dari Karangturi Ini Bendung Sungai Agar Desa Tak Kebanjiran

banjir menggenangi jalan menuju ke dukuh karangturi, desa setrokalangan, kaliwungu kudus pada Bulan Pebruari 2016 silam. (Istimewa)

banjir menggenangi jalan menuju ke dukuh karangturi, desa setrokalangan, kaliwungu kudus pada Bulan Pebruari 2016 silam. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski akses jalan menuju Dukuh Karangturi Setrokalangan, kecamatan kaliwungu pada bulan Pebruari 2016 kemarin terendam banjir se lutut orang dewasa.

Namun dukuh karangturi yang berpenduduk sekitar 1.200 jiwa tersebut tidak terendam air sedikitpun. Sehingga warga setempat hanya bisa melakukan aktivitas keseharainnya tidak jauh dari pemukiman rumahnya.

Salah satu warga Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan yang bernama Sunari (57) mengatakan, memang bulan Pebruari 2016 kemarin akses jalan menuju dukuh karangturi terendam banjir.”Namun didalam Pedukuhan sendiri tidak apa apa bahkan aktivitas warga biasa biasa saja,” paparnya.

Dia melanjutkan, dukuh ini tidak terendam air itu lantaran ada yang menyebut daerah ini dilindungi ular. Namun ular itu tidak terlihat secara kasat mata.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, ada seorang warga yang melihat sesosok ular yang panjangnya hingga 7 meter membujur ke timur hingga kebarat.

“Pas saya mau ke jalan raya Lingkar Kudus Jepara pada Jumat sore (12/2/2016) disaat menjelang magrib, sempat melihat sesosok ular sekitar 7 meter panjangnya. Namun barang itu tidak mengganggu. Nah anehnya, ular itu malah melintang di sebelah utara jembatan menuju dukuh karangturi ini. Mungkin ular itu membendung jembatan atau tanggul. Sehingga genangan banjir tidak masuk ke pemukiman warga,” ujarnya.

Hal serupa diiyakan oleh seorang warga Garung Kidul yang bernama Suwandi (61). Dia mengatakan, disaat akan menjenguk keluarganya di Dukuh karangturi tersebut, dirinya sempat melihat pusaran air di tengah perjalanan.

“Pas saya akan ke Karangturi menjenguk saudara bernama Manto pada Jumat malam (12/2/2016) seusai Isyak, ditengah perjalanan saya melihat pusaran air. Nah disitu saya kaget. Apakah itu memang pusaran air banjir secara alami atau memang ada sesuatu?. Setelah itu saya cuma berdiam dan tidak berani lari. Sebab disaat itu genangan air itu se paha orang dewasa. Semisal lari, saya juga tidak kuat. Sebab berat bila berlari didalam air,” imbuhnya.

Editor : Merie

Dikira Kru Syuting, Pemeran Branjung Kaget Ternyata Itu Makhluk Halus

Proses pengambilan gambar dilanjutkan di Pendapa Kemiri, setelah dari perkebunan di Selorejo, Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Proses pengambilan gambar dilanjutkan di Pendapa Kemiri, setelah dari perkebunan di Selorejo, Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Adi Rusmanto, pemeran Branjung dalam pembuatan sinematografi Saridin kaget bukan kepalang saat segerombol orang yang berada di belakangnya itu ternyata bukan kru, tetapi mahkluk halus. Peristiwa itu terjadi di sebuah perkebunan Dukuh Selorejo, Desa Gembong, Kecamatan Gembong, sekitar pukul 22.00 WIB.

”Proses pengambilan gambar sudah selesai. Semua kru bergegas pulang. Saya pulang paling akhir karena sepeda motor terhadang diesel,” ujar Adi Rusmanto kepada MuriaNewsCom, Sabtu (26/3/2016).

Namun, ia seperti tidak sadar. Ia merasa santai, karena ada banyak kru yang masih di lokasi pengambilan gambar. Saat ia bergegas pulang, ia baru sadar bila semua kru sudah pulang.
”Saya berpikir, berarti segerombolan orang yang saya kira kru itu siapa? Mereka tampak bergerombol, tapi gelap karena pada malam hari,” akunya.

Seketika, Adi kemudian berdoa sebisanya supaya dihindarkan dari gangguan dari makhluk halus. ”Saya hanya bisa berdoa. Teman-teman kru ternyata sudah pada pulang,” paparnya.

Ia mengatakan, dari sekian lokasi yang dijadikan tempat untuk pengambilan gambar, perkebunan di Selorejo itulah yang dianggap paling mengerikan. ”Bulu kuduk saya merinding. Namun, proses pengambilan gambar terus dilanjutkan meski sejumlah gangguan memang ada,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Keanehan Muncul Saat Pengambilan Adegan Saridin bertemu Sunan Kalijaga di Sungai Silugangga Pati

Proses pengambilan gambar sinematografi Saridin di pendapa Kemiri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Proses pengambilan gambar sinematografi Saridin di pendapa Kemiri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Keanehan terjadi saat pengambilan adegan Saridin bertemu dengan Kanjeng Sunan Kalijaga dalam sebuah syuting yang diambil di Sungai Silugangga, sebelah timur Jembatan Sampang, Pati.

Hal itu diungkapkan Alman Eko Darmo, sutradara Sinematografi Saridin. ”Semuanya tiba-tiba mati dan tidak berfungsi. Sound system mati, padahal genset hidup,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (26/3/2016).

Ia menduga, ada kaitannya dengan hal-hal yang berkaitan dengan dunia gaib. Pasalnya, pertemuan antara Saridin dan Kanjeng Sunan Kalijaga diperkirakan terjadi pada siang hari.

”Sepertinya ada ketidaksesuaian cerita yang nyata dengan pengambilan gambar. Pertemuan itu diperkirakan siang. Tapi, pengambilan gambar ini malah menjelang petang, sehingga tidak sesuai masalah waktu saja. Itu yang membuat proses pengambilan ada sedikit gangguan,” imbuhnya.

Hal itu diamini Adi Rusmanto, pemain kakak ipar Saridin, Branjung. Ia mengatakan, genset itu hidup dan semuanya kabel tersambung dengan baik. Namun, sound system masih saja tidak berfungsi.

Akhirnya, proses pengambilan diambil ulang pada siang hari menyesuaikan dengan cerita yang sesungguhnya. Adegan itu diambil pada saat Saridin bertemu dan mendapatkan tugas dari Kanjeng Sunan Kalijaga untuk mengarungi samudera menggunakan dua buah kelapa.

Editor : Titis Ayu Winarni

Misteri Penampakan Anak Kecil di Jalan Undaan-Pati

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Cukup banyak tempat di Kudus yang menyisakan beragam cerita mistis. Seperti halnya yang diceritakan oleh Beni Dewa, asal Desa Undaan, Kudus.

Kejadian ini, terjadi beberapa bulan lalu. Ketika itu, dirinya melintas di Jalan Kayen, Pati – Undaan, Kudus sekitar pukul 23.00 WIB. Ketika berada di ruas jalan yang cukup sepi, dirinya tiba-tiba dikejutkan oleh sesosok anak kecil yang berlarian di samping sepeda motornya yang sedang melaju.
Anak laki-laki misterius tersebut, kemudian mengikuti dirinya yang berkendara hingga jarak yang cukup jauh.

“Ketika itu, saya kebetulan baru pulang kerja dari pati, dan untuk ke Undaan, biasanya saya memang lewat jalur Kayen, karena cukup dekat. Posisinya, waktu itu saya memang sendirian dan sudah tengah malam,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Namun, yang cukup membuat bulu kuduknya berdiri, anak kecil tersebut tidak hanya berlarian di sampingnya, tapi, juga tertawa terbahak-bahak, seolah mengejek. Bahkan, kendaraannya yang melaju dengan kecepatan sekitar 40 km per jam, mampu di salip bocah misterius.

Secara logika, menurutnya, sangat mustahil ada anak-anak yang bermain pada waktu tengah malam, di kondisi jalan yang sepi. Apalagi, katanya, tiba-tiba anak yang berlarian di samping sepeda motornya itu tiba-tiba menghilang.

“Sejak kejadian itu, saya tak lagi lewat jalan yang saya lalui itu ketika malam. Saya lebih memutar saja, melewati Alun-alun Kudus, ketika dari Pati, meskipun jarak ke Undaan cukuk jauh. Tapi kalau lewat sini kan lebih aman, jalannya ramai,” katanya.

Ia katakan, sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang mengalami kejadian tersebut. Namun, dari cerita yang berkembang, banyak juga orang mengalami hal serupa.

Editor : Kholistiono

Diganggu Suara-Suara Kuntilanak

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pengalaman misteri memang banyak dialami oleh sebagian kalangan. Seperti yang disampaikan salah satu warga di Kudus, Mulyadi. Dia mengalami hal itu tidak di Kudus, tapi di Semarang. Kepada MuriaNewsCom, dia membagi pengalamannya untuk kita semua.

Ini tentang suara hantu yang saya dengar malam hari, beberapa tahun lalu. Ketika itu, saya duduk di ruang tengah rumah sendiri. Sambil santai, saya memikirkan pengalaman seharian. Dari pengalaman sedih, senang, sampai yang tak karuan sekalipun.

Tiba-tiba, suasana malam menjadi berubah. Keheningan berubah. Dingin malam seolah tak lagi saya rasakan. Saya mendengar suara-suara aneh secara sayup-sayup di luar rumah. Sebelumnya, suara burung hantu terdengar lebih dulu. Merinding bulu kuduk saya. Karena suara yang terdengar ini benar-benar tak biasa.

Ya, suara tangisan seorang wanita yang semula sayup-sayup kini sangat jelas terdengar. Suara itu menggema. Suasana hati menjadi tak karuan. Ada apa malam ini kok menjadi aneh? ucapku membatin. Tapi saya coba beranikan diri. Saya usir rasa takut. Saya beranikan diri. Saya nyatakan kalau ingin terus mendengar suara itu.

Suara tangisan itu terus terdengar sampai beberapa menit. Tidak hanya suara tangisan, tapi terdengar pula suara kuntilanak tertawa. Kalau tidak salah, suara-suara aneh itu terdengar hampir lima menit.

Lambat laun, suara-suara itu hilang. Suasana menjadi tenang kembali. Saya beranikan diri untuk beranjak untuk tidur. Keesokan harinya, saya ceritakan pengalaman ini ke saudara saya yang tinggal di sebelah rumah.

Rupanya, saudara saya juga mendengar apa yang saya dengar. Pernah beberapa kali saya tanyakan tentang suasana mistis yang kerap terdengar di sekitar rumah. Ternyata ada yang mengatakan jika rumah saya banyak dihuni beberapa mahluk halus.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami