Tanggapan PDAM Jepara Soal Warga Tagih Hibah

PDAM

 

MuriaNewsCom, Jepara – Warga kurang mampu di Desa Kecapi Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, menagih hibah pemasangan saluran baru air PDAM.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama (Dirut) PDAM Jepara Prabowo menyampaikan, pemasangan saluran baru hibah PDAM dilakukan bertahap. Ia meminta agar warga yang belum menerima hibah dapat bersabar.

“Saat ini sedang proses pemasangan 600 saluran baru. Kami targetkan empat bulan selesai semua pemasangannya,” kata Prabowo, Rabu (13/7/2016).

Menurutnya, jumlah warga penerima hibah saluran baru PDAM sebanyak 2.500 pelanggan. Pemasangan saluran mulai dilakukan Juni kemarin. Sehingga diperkirakan untuk beberapa pekan ke depan belum bisa selesai sepenuhnya lantaran pemasangan saluran baru membutuhkan waktu yang cukup lama untuk jumlah pelanggan yang banyak itu.

“Kami juga berharap dapat segera selesai. Untuk beberapa bulan ke depan ini proses pemasangan terus dilakukan. Bagi pelanggan yang belum, kami harap bisa lebih bersabar,” ungkapnya.

Seperti diberitakan, warga menagih hibah pemasangan saluran air PDAM, setelah mereka didata dan membayar biaya administrasi Rp440 ribu pada Maret lalu, hingga kini belum ada kejelasan kapan pemasangan saluran air akan dilakukan.

Seorang calon penerima hibah Sukinah (56) warga RT 14 RW 2 desa setempat menceritakan, awalnya pada Februari 2016, petugas PDAM melakukan pendataan warga calon penerima hibah. Setelah dinyatakan layak menerima hibah saluran baru PDAM, pada Maret 2016 diminta melunasi biaya administrasi sebesar Rp440 ribu.

“Dulu bayarnya ya, langsung ke kantor PDAM,” ujar Sukinah,

Hal senada juga disampaikan penerima hibah lainnya, Muswati (47). Disampaikan Muswati, Pendataan dilakukan petugas PDAM langsung mendatangi rumah warga. Selain ditanya masalah ekonomi, kondisi rumah calon penerima hibah juga didokumentasikan. “Terus warga lainnya yang menerima bantuan itu disuruh iuran,” kata Muswati.

Namun, setelah ditunggu lebih dari tiga bulan, hingga kini belum ada tanda-tanda saluran baru PDAM akan dipasang di masing-masing rumah penerima hibah.

Sukinah dan Muswati berharap, saluran air PDAM dapat segera dipasang. Pasalnya, hingga kini untuk memenuhi kebutuhan air bersih setiap hari terpaksa meminta air dari sumur tetangga.

Editor : Akrom Hazami

 

Kemarau Basah di Rembang Bisa Picu Longsor

Warga melintas di depan kantor BPBD Kabupaten Rembang (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Warga melintas di depan kantor BPBD Kabupaten Rembang (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Rembang Markus Hendrianto, mengatakan di Rembang sampai saat ini masih terjadi hujan dengan intensitas yang bisa dibilang tinggi.

Hal itu disebabkan suhu air laut yang masih tinggi dibanding suhu di darat. Selain itu, perubahan arah mata angin juga mempengaruhi atas perubahan musim yang tidak bisa ditebak.  “Biasanya sudah kemarau. Sebenarnya perubahannya terjadi secara global,” kata dia.

Ia pun mewanti-wanti masyarakat Rembang agar senantiasa mewaspadai atas gejolak alam yang bakal terjadi. Karena, hal itu bisa menyebabkan bencana alam. Seperti tanah longsor maupun banjir bandang. “Contohnya longsor dan banjir bandang yang terjadi di Sale Rembang dan Tempaling, Pamotan beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Hal itu, kata dia, dikarenakan kontur tanah masih becek, yang seharusnya mengering karena musim kemarau akan tetapi terus diguyur hujan. Maka kondisi tanah menjadi labil. “Itu yang bisa menyebabkan tanah longsor,” katanya.

Fenomena tersebut, katanya, lazim disebut kemarau basah. Ia menjelaskan, sudah waktunya kemarau namun hujan masih saja mengguyur. “Kalau orang Jawa bilang udan salah mongso (hujan salah musim),” ujar dia.

Ia pun mewanti-wanti setiap warga Rembang agar tetap waspada dengan kondisi yang ada saat ini. Karena, menurutnya, bencana bisa terjadi kapan saja dengan kondisi iklim yang sangat susah untuk ditebak.

Editor : Akrom Hazami

Pemilik Lahan Setuju Ganti Rugi, Kawasan TPA Grobogan Bakal Tambah Luas

Pemilik lahan untuk perluasan TPA mendapat penjelasan masalah besarnya ganti rugi yang disampaikan dinas terkait. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pemilik lahan untuk perluasan TPA mendapat penjelasan masalah besarnya ganti rugi yang disampaikan dinas terkait. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya Pemkab Grobogan untuk memperluas lahan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, pada tahun 2016 akhirnya bisa berjalan mulus.

Ini, setelah pemilik lahan di sekitar TPA yang akan dijadikan lokasi perluasan menyetujui besarnya harga ganti rugi.

Kepala Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan (DCTK) Grobogan M Chanif menyatakan, penambahan kawasan TPA tahun ini seluas 2,2 hektare. Lahan yang berada pada 31 bidang tanah ini dimiliki oleh 29 orang. Areal perluasan ini berada disisi utara kawasan TPA.

“Soal lahan untuk perluasan ini sudah tidak ada masalah. Hari Jumat (24/6/2016) kemarin, kita lakukan pertemuan dengan pemilik lahan dan mereka semua sudah sepakat dengan harga yang ditawarkan. Dengan tambahan lahan ini, luasan TPA nanti akan mencapai 9,9 hektar,” ungkap Chanif melalui Kabid Kebersihan Jalan dan Lingkungan Noer Rochman.

Harga ganti rugi lahan yang sudah disepakati besarnya Rp 92.000 per meter persegi. Besarnya harga ini ditentukan oleh pihak ketiga, yakni dari lembaga penilai jual beli.

Selain itu, pemilik tanah juga akan mendapatkan ganti rugi tanaman yang tumbuh dilahan miliknya. Besarnya ganti rugi tanaman tumbuh ini disesuaikan dengan Perbup No 8 tahun 2013 tentang ganti rugi tanaman tumbuh.

Jumlah uang yang diterima 29 pemilik lahan perluasan TPA bervariasi. Paling sedikit berkisar Rp 50 juta dan terbanyak sampai Rp 100 juta.

Dana ganti rugi lahan dan tanaman tumbuh nantinya tidak akan diberikan dalam bentuk tunai. Tetapi akan ditransfer ke rekening bank para pemilik lahan. Untuk pembayaran ganti rugi tersebut, pihak DCTK menggandeng kerja sama dengan Bank Jateng.

“Saat ini, kita masih menyelesaikan urusan administrasi dengan pemilih lahan. Begitu masalah administrasi selesai semua, dana ganti rugi akan langsung kita salurkan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Cuaca Ekstrem, Petinggi di Jepara Diminta Tingkatkan Koordinasi

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno (MuriaNewsCom)

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat dan Petinggi Desa di Kabupaten Jepara diimbau untuk lebih waspada terhadap terjadinya cuaca ekstrem yang juga melanda Kota Ukir, dan melaporkan kondisi di sekitar masing-masing ke petugas. Hal itu, mengingat di sejumlah kabupaten lain terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor hingga memakan korban jiwa.

“Berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, cuaca ekstrem mulai terjadi sejak beberapa hari yang lalu, dan akan terjadi sampai Selasa besok. Masyarakat harus lebih waspada terhadap kondisi alam seperti ini,” ujar Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno, Senin (20/6/2016).

Menurutnya, sejak diinformasikan cuaca ekstrem melanda kawasan pulau Jawa, pihaknya tengah mengintensifkan komunikasi dengan petinggi di semua desa di Jepara. Khususnya di daerah yang rawan bencana alam. Bencana alam maupun musibah yang diantisipasi saat cuaca ekstrem saat ini yakni longsor, banjir dan rumah roboh akibat angin puting beliung.

“Kami juga wajib mewaspadai kondisi ini, agar bisa meminimalisir korban jiwa saat terjadi bencana. Relawan kami siagakan dan kordinasi dengan petinggi kami intensifkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, cuaca buruk yang terjadi beberapa hari terakhir ini belum berdampak di wilayah Jepara. Hal itu terjadi karena hujan terjadi secara merata sehingga beban curah hujan tinggi maupun angin puting beliung di satu wilayah terpecah. Selain itu, sejumlah infrastuktur, khususnya tanggul sungai saat ini sudah cukup kuat karena selesai diperbaiki.

“Kami juga meminta para camat dan petinggi untuk selalu melaporkan kondisi di lapangan, misalnya mendata rumah-rumah warga yang berpotensi bisa roboh saat diterjang angin kencang. Harapannya, jika benar terjadi musibah, bisa langsung tertangani,” terangnya.

Ia menambahkan, dampak dari cuaca buruk dengan intensitas hujan yang tinggi masih sebatas membuat ruas jalan tergenang air dengan kedalaman yang bervariasi dari satu sentimeter hingga 15 sentimeter.

Editor : Kholistiono 

 

Lihat Nih, Sampah di Pasar Kalinyamatan Menggunung dan Timbulkan Bau Busuk

Kondisi sampah di Pasar Kalinyamatan yang menumpuk dan timbulkan bau busuk (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Kondisi sampah di Pasar Kalinyamatan yang menumpuk dan timbulkan bau busuk (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Salah satu sudut di belakang Pasar Kalinyamatan terdapat tumpukan sampah yang menggunung. Banyaknya sampah dari pasar dan sampah rumah tangga yang menjadi satu dan terdiam berlama-lama menimbulkan bau busuk. Hal itu yang dikeluhkan oleh sejumlah pedagang maupun warga sekitar.

 Di belakang pasar tersebut terdapat dua boks berukuran besar yang dijadikan tempat sampah. Selain itu juga ada satu tempat sampah terbuat dari semen. Banyaknya sampah dibuang dikawasan tersebut, sampah tercecer di luar tempat sampah. Bahkan sampah yang tercecer lebih banyak dari sampah di tempatnya. Lokasi penuh sampah di sebelah selatan pasar itu sepanjang 50 meter. Lebarnya sekitar 20 meter dengan ketinggian sampah satu meter lebih.

 Salah satu penyedia jasa potong ayam di dekat pembuangan sampah, Aries mengatakan, sampah-sampah tersebut terdiri dari sampah pasar dan sampah buangan warga Desa Margoyoso, Kalinyamat. Kondisi ini sudah berlagsung sekitar lima tahun. Namun, sejak setahun terakhir kondisinya makin parah.”Tumpukan sampah semakin banyak. Selain melebar juga tambah tinggi tumpukannya,” kata Aries kepada MuriaNewsCom, Sabtu (18/6/2016).

 Menurutnya, dirinya sudah pernah lapor ke pihak pasar. Namun, belum ada kepastian terkait penanganan sampah. Di sekitar tempat itu juga sudah dipasang papan yang berisi larangan untuk membuang sampah, namun terkesan tak dihiraukan.

Dia mengaku dirugikan dengan kondisi sampah itu. Sebab, pelanggannya menjadi berkurang ketika bau busuk dari sampah menyengat.”Setiap pelanggan saya ke sini pasti komplain. Sampai akhir sebagian besar tidak kembali, karena tak tahan bau sampah,” katanya.

 Hal senada juga dikatakan salah satu petugas parkir, Solikin. Menurutnya beberapa orang di pasar sudah pernah menegur warga yang membung sampah di kawasan tersebut. Namun tidak pernah dihiraukan. Bahkan, pada satu ketika, warga justru mau bertengkar karena sempat dilarang. ”Kenapa saya dilarang. Wong ini tempat milik pemerintah,” kata Solikhin menirukan ucapan warga tersebut.

 Ia menambahkan, sampah tersebut bertambah setiap hari. Baik dari sampah pasar maupun buangan warga Margoyoso. Sementara itu, pengangkutan hanya dua kontainer setiap hari. ”Maksimal mobil sampah hanya dua kali kembali. Kadang hanya sekali. Itu juga biasanya hanya ambil sampah yang ada ditempat sampah. Sementara yang tercecer jarang diambil. Paling hanya yang dekat-dekat saja,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

4 Kecamatan di Blora Miliki Bahan Baku Semen yang Melimpah

semen

 

MuriaNewsCom, Blora – Wilayah di Kabupaten Blora ternyata memiliki potensi sumber daya alam berupa bahan baku semen yang cukup melimpah. Melimpahnya bahan baku semen tersebut sudah dilirik beberapa investor, di antaranya perusahaan tambang, PT Artha Parama Indonesia yang sudah melakukan eksplorasi di Blora.

Dari data yang dihimpun, perusahaan tersebut telah melakukan eksplorasi berdasarkan Surat Keputusan Bupati Blora Nomor 660.1/1693.A-2013 tentang  Izin Lingkungan. Dalam surat tersebut,  PT Artha Parama Indonesia diberikan izin kegiatan eksplorasi batu gamping dan batu lempung untuk semen yang lokasinya berada di Kecamatan Tunjungan, Blora, Jepon dan Bogorejo.

“Pengajuan izin sejak 2014 lalu. Perusahaan tersebut sampai saat ini masih melakukan eksplorasi,” ujar Teguh Wiyono, Kepala Bidang Pertambangan dan Migas Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora.

Diketahui, perusahaan tersebut melakukan eksplorasi di empat wilayah kecamatan di Kabupaten Blora dengan luas Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) mencapai 2.154 hektare untuk eksplorasi batu gamping, dan  WIUP sebanyak 743 hektare untuk ekplorasi batu lempung.“Untuk wilayah yang masuk area eksplorasi, merupakan wilayah perbukitan,” jelas Teguh Wiyono. Sampai saat ini, perusahaan tersebut masih melakukan pemboran dengan kedalaman 120 meter. “Lokasi sumur uji tersebar di 4 kecamatan itu,” jelas dia.

 Editor : Kholistiono

 

 

Ja’far Tak Hanya Terpaku Berkreasi pada Limbah Plastik

Mobil-mobilan yang terbuat dari limbah kertas (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Mobil-mobilan yang terbuat dari limbah kertas (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tirem Galery yang berada di Jalan KS Tubun RT 02 RW 6 Desa Sumberejo, Rembang menjadi ruang bagi Ja’far Labib untuk berkreasi mengubah limbah menjadi barang yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.

Tak hanya sebatas berkreasi dengan limbah kantong kresek saja, namun, Ja’far juga mengubah berbagai barang bekas menjadi barang berguna. Di antaranya, limbah kelapa, botol bekas, kertas, kaleng dan lain sebagainya.

Melalui tangan kreatifnya, barang-barang bekas tersebut bisa menjadi barang yang unik. “Mobil-mobilan ini contohnya, bahannya dari kertas. Dengan menggunakan beberapa campuran, kertas kemudian saya olah, dan hasilnya seperti ini, keras seperti kayu. Lampu-lampunya ini juga bisa hidup, dan mobilnya juga bisa berjalan dengan baterai,” ujar Ja’far.

Dirinya mengatakan ingin terus berkreasi dan tak terbatas hanya pada sebuah benda saja. Maka, ketika dirinya melihat sesuatu, apalagi itu barang-barang bekas dan menurutnya hal itu bisa dibuat sesuatu yang berharga, maka,dirinya akan mencobanya.

Baginya, segala sesuatu bisa menjadi hal yang memiliki nilai, jika ada kreativitas, meskipun hal itu adalah barang bekas atau limbah.

“Banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan barang-barang bekas. Karena, barang-barang itu bisa bermanfaat jika kita olah dengan kreatif,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemuda Kreatif Rembang Ini Sulap Limbah Kantong Kresek jadi Rupiah

plastik e

Beberapa kerajinan yang terbuat dari limbah kantong kresek (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Habis manis sepah dibuang, itulah pameo yang selalu berlaku bagi sebuah kantong kresek. Usai dipakai untuk mewadahi sesuatu, nasib lanjutan baginya adalah berkalang sampah di tempat pembuangan.

Sayang, tak banyak yang sadar bahwa ia mempunyai umur yang panjang, ratusan tahun bagi sebuah kantong kresek tak akan membuatnya hancur sempurna.

Ja’far Labib adalah satu dari sedikit orang yang prihatin atas hal itu. Pemuda asal Desa Sumberejo Rembang ini, sejak tiga bulan lalu tergerak memperpanjang masa pakai kantong kresek dengan cara lain.

Usahanya itu bermula dari sebuah keinginan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga sekaligus prihatin atas keadaan semakin banyaknya sampah di Kabupaten Rembang. Dari tangan pemuda bermodal cekak itulah, sebuah usaha ramah lingkungan yang mendatangkan berkah menemui titik awalnya.

Tiga bulan lalu, tangan Ja’far sendirilah yang memasukkan limbah kantong kresek ke dalam karung. Layaknya pemulung, pemuda itu mengitari tempat-tempat pembuangan sampah, khususnya yang berada di dekat tempat tinggalnya.

Ia selalu berpikir dan tak pernah lepas menyimpan keyakinan di hati bahwa kantong kresek memiliki potensi yang besar jika diolah menjadi sesuatu yang lain.

“Selain itu juga dapat menyelamatkan lingkungan, karena limbah plastik sulit dicerna oleh tanah,” katanya.

Otak bisnis dikombinasi dengan pengetahuan yang didapatnya,  membuat Ja’far memiliki ide mengolah kantong kresek menjadi beragam kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Beberapa kerajinan dari limbah kantong kresek yang saya buat di antaranya, ada pot bunga, lukisan, gantungan kunci, bingkai foto, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dari usahanya ini, kini dirnya mampu meraup untuk jutaan rupiah. Apalagi, sejak dirinya cukup intens untuk mempromosikan karyannya tersebut melalui media sosial.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Camat Kembang Jepara Akui Tak Miliki Wewenang Tindak Galian C Ilegal

Salah satu dampak dari aktifitas galian C. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu dampak dari aktifitas galian C. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Meski mengetahui semua tambang galian C di Kecamatan Kembang illegal. Camat Kembang, Muhammad Safii mengaku tak bisa melakukan penindakan lantaran tak memiliki wewenang.

”Semua wewenang untuk aktifitas penambangan sudah berada di ranah Pemprov, dalam hal ini Pemprov Jawa Tengah. Kami tidak memiliki wewenang,” ujar Muhammad Safii.

Menurut dia, sebagai jalan tengah, pihaknya menyerahkannya ke pihak desa agar semua warga tak dirugikan. Itu seperti adanya kesepakatan antara penambang, desa dan warga secara umum soal sanksi jika melanggar kesepakatan tertentu, hingga kontribusi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

”Itu seperti jika ada korban kecelakaan akibat terpeleset lantaran jalan licin yang diakibatkan sisa tanah tanah yang terbawa ke jalan saat musim hujan. Juga misalnya, tambang yang menghasilkan banyak debu saat musim kemarau. Penambang harus menyiramnya. Termasuk juga sungai yang keruh akibat tambang tersebut,” jelasnya.

Dia menambahkan, ada puluhan tambang galian C yang didominasi eksploitasi batu dan pasir di sekitar sungai di beberapa desa di Kecamatan Kembang beroperasi tanpa ijin. Itu terdapat di Desa Kancilan, Pendet, Balong, Cepogo, dan Jenggotan.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA : Camat Kembang Akui Semua Galian C se-Kecamatan Kembang Jepara Ilegal 

Tenyata Penghasilan Pemulung TPA Tanjungrejo Wow? Ini Lho

Lingkungan TPA Tanjungrejo Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Lingkungan TPA Tanjungrejo Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penjaga TPA Tanjungrejo (mandor TPA) Stiyono mengatakan, sebanyak 80 pemulung yang ada di TPA Tanjungrejo ini bisa berpenghasilan puluhan ribu rupiah per hari dengan cara memanfaatkan sampah dan menjualnya.

“Mereka bisa mendapatkan uang belasan ribu rupiah per harinya. Itupun mereka memanfaatkan sampah yanbg dapat dijual kembali. Seperti halnya sampah plastik Rp 800/kg, karton Rp 2 ribu/kg, dan kertas Rp 1.100/Kg,” paparnya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, setiap harinya tempat pembuangan sampah ini kedatangan sampah baru hingga 510 meter kubik.

“Kalau setiap hari sebesar 510 meter kubik, itu setara dengan 127 ton hingga 130 ton sampah per hari. Oleh sebab itu, pemulung tersebut akan selalu memanfaatkan sampah ini. Yakni dengan cara memilah-milah sampah yang dapat didaur ulang atau dijual kembali,” ungkapnya.

Dengan adanya pemanfaatan tersebut, maka akan bisa membuat sampah ini menjadi cepat terurai. Baik yang sampah basah dan sampah kering.

“Kalau sudah diurai atau dipilih oleh pemulung. Maka sampah basah seperti halnya daun, sampah busuk pun bisa terpisahkan. Sehingga proses pemadatan atau pemerataan zona tempat sampah pun bisa cepat. Sehingga zona tempat sampah ini bisa diratakan atau dipadatkan dengan tanah untuk meminimlakn lalat dan ulat,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Jos, Pemanfaatan TPA Tanjungrejo Kudus Disulap jadi Taman

TPA Tanjungrejo Kudus dimanfaatkan menjadi taman. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

TPA Tanjungrejo Kudus dimanfaatkan menjadi taman. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemanfaatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo dilakukan. Yakni dengan mengubahnya dijadikan taman kecil. Sehingga tempat tersebut dapat sebagai lahan penghijauan.

Penjaga TPA Tanjungrejo Stiyono mengatakan, untuk luasan keseluruhan TPA Tanjungrejo ini ada sekitar 5.6 Hektare (Ha). “Yang terdiri dari 6 zona pembuangan. Namun untuk kali ini yang masih aktif dijadikan pembuangan yakni ada sebanyak satu zona saja. Yang kelima lainnya sudah aktif atau penuh,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, dari kelima zona pembuangan sampah yang pasif tersebut, kini sudah ditanami dengan berbagai jenis tanaman penghijaun.

“Memang untuk yang zona sudah pasif tersebut kini ditanami tanaman penghijauan. Baik mulai dari tanaman bunga, palem dan sebagainya. Tentunya dengan adanya penghijauan tersebut akan bisa membuat lebih segar di TPA ini,” ujarnya.

Dia melanjutkan, sebelum ditanami penghijauan, kelima zona TPA yang sudah pasif tersebut dahulunya diuruk terlebih dahulu dengan tanah. Sehingga sisa sampah bisa tercampur tanah dan bisa menyatu dengan tanah.

“Sebelum ditanami, memang dahulunya sampah-sampah yang ada di lima zona ini dipadatkan terlebih dahulu. Setelah itu diuruk dengan tanah. Sehingga saat ditanami penghijauan bisa lebih subur. Terlebih sampah ini juga mengandung kompos juga,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Kotoran Sapi dan Biogas Akan Dikembangkan di Desa Wateshaji Pati

blh 2 e

Petugas Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pati, Tuty Indarningsih menyerahkan bantuan 25 tong dan dua tong komposer untuk memproduksi kompos. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Wateshaji, Kecamatan Pucakwangi, Pati yang sebagian besar memiliki ternak sapi dianggap berpotensi untuk mengembangkan biogas dari kotoran sapi. Hal itu dikatakan Kasubbid Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan dan Bahan Berbahaya pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pati Tuty Indarningsih.

“Kalau desa mau membentuk kelompok atau paguyuban, kami siap mendampingi untuk membuat biogas secara berkelanjutan. Sebab, tanpa adanya kelompok akan sulit untuk dikembangkan,” ujar Tuty, Kamis (19/5/2016).

Menanggapi hal itu, Kepala Desa Wateshaji, Rakimin mengaku akan berupaya untuk membuat kelompok yang bisa melakukan koordinasi terkait dengan pemanfaatan kotoran sapi yang ada di desanya menjadi biogas. Pasalnya, kotoran sapi di desanya selama ini dibuang di belakang rumah dan cenderung minim pemanfaatan.

“Dengan pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas, kami berharap agar masyarakat bisa terbantu yang selama ini membeli gas LPG. Syukur, biogas bisa meningkatkan ekonomi warga setempat,” imbuhnya.

Sementara itu, Joko Widodo, mahasiswa UIN Walisongo yang tengah melaksanakan kegiatan KKN di desa tersebut mengaku siap membantu upaya BLH dalam mendorong warga untuk mengubah kotoran menjadi biogas. “Kami siap membantu. Kotoran yang mestinya sekadar menjadi sampah justru bisa dijadikan warga sebagai penopang ekonomi baru,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Bank Sampah Kalidoro Pati Miliki 130 Nasabah

bank sampah e

Sejumlah pengelola bank sampah menunjukkan barang-barang kerajinan hasil pemanfaatan sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tak sekadar nama, Bank Sampah yang berada di Hutan Kota Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati memiliki konsep manajemen yang mirip perbankan pada umumnya. Ada istilah nasabah hingga tabungan.
Tabungan yang dimaksud bukan berupa uang sebagaimana nasabah menyimpan tabungan di bank. Namun, tabungan dalam konteks ini merupakan sampah yang disetorkan di bank sampah.

Bahkan, nasabah memiliki buku tabungan atau semacam catatan. Buku tabungan itu berisi banyaknya tabungan sampah yang disetorkan ke bank sampah.

“Saat ini, sudah ada sekitar 130 nasabah yang menabung sampah di bank sampah yang kami kelola. Tidak semua bisa menyetorkan sampah sebagai tabungan. Mereka harus mendaftarkan diri dulu sebagai nasabah,” ujar Ketua Ketua Bank Sampah Hutan Kota Kalidoro, Ambar Werdiningrum, Senin (16/5/2016).

Sesuai dengan rapat bersama, hasil tabungan biasanya dibagikan pada saat Lebaran. Namun, pengelola bank sampah saat ini tengah merencanakan bila hasil tabungan bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik atau air PDAM bila nilai tabungannya memenuhi.

Sementara itu, laba dari hasil pengelolaan sampah akan dimanfaatkan untuk perkembangan bank sampah. Pasalnya, belum ada donatur yang berniat membantu mengembangkan bank sampah Hutan Kalidoro.

“Setiap ada yang setor, tentu kita sebagai pengelola ambil keuntungan sedikit untuk pengelolaan bank sampah. Sejauh ini, kami berdikari sendiri karena belum ada donatur yang ikut membantu perkembangan bank sampah,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ciptakan Lingkungan Sehat, Bupati Pati Gencarkan Gerakan Pilah Sampah

Bupati Pati Haryanto menyerahkan secara simbolis penyerahan hadiah sepeda motor  roda tiga untuk mengangkut sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto menyerahkan secara simbolis penyerahan hadiah sepeda motor  roda tiga untuk mengangkut sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sampah yang selama ini dibuang sia-sia, bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, pemanfaatan kompos dari sampah. Bila dikelola dengan baik, sampah juga bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah, sehingga menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Hal itulah yang dikatakan Bupati Pati Haryanto, Senin (16/5/2016).

“Masyarakat harus mulai sadar pemanfaatan sampah. Jangan sampai sampah yang mestinya bisa dimanfaatkan dengan baik, malah dibuang sia-sia. Alih-alih volume sampah bisa dikurangi, sampah sendiri bisa menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi. Saya sudah sampaikan itu pada sosialiasi dan pencanangan gerakan masyarakat pilah sampah di Desa Kutoharjo, Kecamatan Pati beberapa waktu lalu,” ujar Haryanto.

Terlebih, lanjutnya, Kabupaten Pati sudah beberapa kali meraih penghargaan di bidang lingkungan. Misalnya, Adipura Kencana, Adiwiyata, dan Wahana Tata Nugraha. Hal itu diakui tidak lepas dari dukungan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah.

Karena itu, pemkab saat ini juga mengalokasikan anggaran untuk mengolah sampah. Dukungan berupa alokasi anggaran tersebut diharapkan bisa mengurangi limbah sampah rumah tangga, sekaligus mendukung program-program lingkungan seperti bank sampah dan rumah kompos.

“Sampah sudah menjadi persoalan serius bagi masyarakat. Saya berharap, peran kader lingkungan yang bersinergi dengan pemerintah bisa membantu mengatasi persoalan sampah dan kebersihan lingkungan. Tahun 2017 nanti,  ada prioritas anggaran untuk mengolah sampah yang nilainya mencapai Rp 5 miliar,” tuturnya.

Ia menambahkan, hasil sampah yang sudah diolah bank sampah menjadi pupuk kompos bisa dimanfaatkan masyarakat sendiri. Bila ada kelebihan hasil pengolahan sampah, pihaknya meminta Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk membelinya.

Hal itu mendapatkan tanggapan dari Kepala BLH Pati, Purwadi. “Sampah ada dua macam, satu sampah organik dan sampah anorganik. Untuk anorganik, kita sudah banyak kembangkan. Yang terbaru adalah program rumah kompos untuk pengolahan sampah organik. Hasil pengolahannya akan kita beli untuk pemeliharaan taman-taman kota,” kata Purwadi.

Terkait dengan bantuan rumah kompos, dana yang dikeluarkan mencapai Rp 125 juta. Dana itu diberikan kepada desa dengan sumber daya manusia (SDM) yang sudah mendukung. Salah satunya, Desa Kutoharjo. Di sana, masyarakatnya sudah sadar lingkungan, punya kampung organik, terdapat pengolahan briket arang, pembibitan lele, dan kader-kader lingkungannya sudah mumpuni.

Kepala Desa Kutoharjo Hartono mengungkapkan, kesadaran warga RT 1 RW 2 untuk mengolah sampah dan menjaga lingkungan memang tinggi. Tak heran bila bantuan bank sampah tersebut bisa mereka dapatkan.

“Awalnya, kader-kader lingkungan bekerja keras. Mereka antusias mengolah dan memilah sampah yang akhirnya diikuti warga desa. Selain untuk keindahan dan keteduhan, kegiatan tersebut bisa menambah pendapatan warga. Sebab, hasil olahan sampah dijual ke kantor-kantor dinas untuk memupuk tanaman-tanaman di kantor dinas,” ucap Hartono.

Dalam kegiatan tersebut, bupati menyerahkan hadiah secara simbolis kepada Direktur Bank Sampah Desa Muktiharjo Kecamatan Margorejo, Sabilul Muhtadi dengan prestasinya yang berhasil mengolah bank sampah dengan pendapatan tertinggi dibanding desa lainnya. Hadiah itu berupa satu unit sepeda motor roda tiga untuk mengangkut sampah.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Lahan Tak Cukup, Barang Bukti Kecelakaan Satlantas Blora Diparkir di Pinggir Jalan

Kendaraan dengan kondisi ringsek usai kecelakaan menjadi pemandangan yang tak lazim memadati bahu jalan Gunung Sumbing. (MuriaNewsCOm/Riqfi Gozali)

Kendaraan dengan kondisi ringsek usai kecelakaan menjadi pemandangan yang tak lazim memadati bahu jalan Gunung Sumbing. (MuriaNewsCOm/Riqfi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Tidak adanya lahan yang memadahi untuk menampung mobil seusai kecelakaan membuat jajaran Polisi Lalulintas (Polantas) Polres Blora menempatkan kendaraan barang bukti kecelakaan dipinggir jalan Gunung Sumbing.

”Kendaraam ringsek seharusnya tidak ditaruh di pinggir jalan. Hal itu sangat mengganggu keindahan kota,” ujar Supono salah seorang pengendara yang melintasi ruas jalan Gunung Sumbing.

Apalagi, lanjutnya, banyak kendaraan roda empat yang berada dipinggir jalan itu sudah tak lagi normal. Dengan kondisi ringsek, mereka dibiarkan begitu saja. Tentu, hal itu sangat mengganggu pandangan pengendara yang melintasi ruas jalan tersebut.

”Orang yang fobia dengan kecelakaan pasti takut. Kami harap Satlantas Blora bisa lebih bijak,” tegasnya.

Sementara, Kasatlantas Polres Blora, AKP Handoko Suseno mengungkapkan, bahwa keberadaam kendaraan roda empat dengan kondisi ringsek memang sengaja ditaruh dipinggir jalan Gunung Sumbing. Hal itu dikarenakan masih belum adanya lahan untuk menaruh kendaraam setelah mengalami kecelakaan.

”Sementara kita masih belum punya tempat untuk barang bukti kendaraan roda empat,” ujar AKP Handoko kepada MuriaNewsCom (13/5/2016).

Menurutnya, setiap kendaraan yang rusak paska kecelakaan baru akan dikembalikan kepada pemiliknya setelah proses hukum yang dijalani selesai.

Mengingat banyaknya kendaraan yang tidak tertampung karena masih belum adanya lahan, Handoko mengaku bahwa hal itu bisa disiasati dengan kesadaran masyarakat. Keberadaan kendaraan roda empat yang ringsek dipinggir bisa diatasi ketika kesadaran masyarakat meningkat dan saling membantu agar tertib berlalu lintas.

”Kalau dengan seperti itu angka kecelakaan akan bisa menurun,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Bahayakan Pengendara, Pohon di Pinggir Jalan Protokol Jepara Akhirnya Dipangkas

Petugas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan (Ciptaruk) Jepara melakukan pemangkasan di Jalan Protokol Jepara, Kamis (5/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan (Ciptaruk) Jepara melakukan pemangkasan di Jalan Protokol Jepara, Kamis (5/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ratusan pohon yang berada di pinggir jalan protokol sudah terlihat membahayakan pengendara karena berpotensi roboh. Sehingga, beberapa hari terakhir ini nampak pepohonan yang dinilai sudah membahayakan dipangkas oleh petugas.

Hal itu seperti yang terlihat di sejumlah lokasi seperti di kawasan Jalan Sugiono,  Jalan Sutomo, Jalan Hos Cokroaminoto, Jalan kopral Safari, dan kawasan Soping Centre Jepara (SCJ). Selain itu, di sepanjang jalan Kalinyamatan, di kawasan alun-alun Jepara, Jalan Pesajen, jalan Amad Yani dan sejumlah titik yang sudah rawan.

Dari pantauan MuriaNewsCom, sejumlah petugas memotong ranting pohon di sepanjang jalan tersebut. Sebagian besar pemotongan dilakukan dengan cara manual. Yakni menggunakan arit berukuran besar. Namun ada sebagian yang menggunakan mesin gergaji.

Sebagian petugas ada yang naik ke pohon. Sebagian lainnya pemotong rating berukuran besar yang sudah jatuh di jalan. Setiap beberapa saat, kendaraan yang meilitas berhenti.  Mereka menunggu hingga rating yang ditebang petugas jatuh ke jalan. Lalu lalu disingkirkan petugas.

”Pemangkasan pohon ini sudah kami lakukan sejak beberapa hari yang lalu secara bergantian dari satu titik ke titik yang lain, terutama yang ada di jalan protocol,” ujar Pelaksana Teknis Lapangan dari Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan (Ciptaruk) Jepara, Basuki, Kamis (5/5/2016)

Menurutnya, pemangkasan pohon di sepanjang jalan itu demi keamanan pengguna jalan. Mengingat, saat ini masih rawan pohon tumbang. Biasanya dilakukan satu tahun sekali.

”Tujuannya, menjaga keamanan bagi pengguna jalan. Sebab, pohon yang sudah tinggi mudah tumbang di terkena angin. Selain itu, agar tidak menganggu kabel listrik yang kawasan tersebut. Sebab bisa berbahaya,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Hati-hati, Air di Jepara Sudah Tewaskan Belasan Orang, Ini Buktinya

Petugas BPBD bersama relawan mencari korban hanyut di sungai, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas BPBD bersama relawan mencari korban hanyut di sungai, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Air yang selama ini dicari untuk memenuhi kebutuhan, ternyata juga ganas. Di Kabupaten Jepara, sejak Januari hingga saat ini, air mampu menewaskan belasan orang. Hal itu sebagaimana data dari Badan Penanggulangan Bencana Daeah (BPBD) Kabupaten Jepara.

Kepala pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, sejak awal tahun 2016 hingga saat ini pihaknya telah melakukan operasi dan penanganan terhadap 30 kasus. Hampir kesemua kasus tersebut terjadi di air, baik di lautan maupun air di darat.

”Dari 30 kasus tersebut diketahui ada sekitar 15 orang yang meninggal dunia. Hampir semuanya merupakan kasus di air, baik di laut, di Sungai maupun di saluran irigasi,” ujar Lulus, Rabu (4/5/2016).

Rincian tiap bulan untuk korban jiwa, yakni Januari dua kasus, Februari tujuh kasus, Maret lima kasus, April satu kasus. Kasus-kasus tersebut memang didominasi kecelakaan air. Biasanya, untuk kecelakaan di laut terjadi pada nelayan maupun warga yang mencari ikan, kemudian tenggelam maupun ditemukannya mayat yang ada di laut.

”Kalau di sungai, memang biasanya korban main lalu terpeleset dan terbawa arus hingga meninggal dunia. Sama halnya dengan di saluran irigasi, korban masih berusia balita dan terseret arus hingga meninggal dunia,” ungkapnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat terjadinya bencana di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi. Untuk itu, kewaspadaan terhadap terjadinya bencana harus ditingkatkan. Terlebih wilayah Kabupaten Jepara juga banyak yang termasuk wilayah perairan baik laut maupun sungai.

Editor: Supriyadi

Puluhan Nyawa Melayang Akibat Bencana Alam di Jawa Tengah, Ini Buktinya

Kepala Kantor Basarnas SemarangAgus Haryono. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala Kantor Basarnas SemarangAgus Haryono. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Angka bencana alam di Provinsi Jawa Tengah ternyata masih cukup tinggi. Dari 70 kasus bencana alam yang ditangani Basarnas, 40 orang diketahui meninggal dunia.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Kantor Basarnas Semarang, Agus Haryono. Menurutnya, data dari Kantor Basarnas Semarang sejak Januari hingga April 2016 ini, sudah ada sekitar 70 kasus bencana, korban jiwa mencapai 40 orang.

“Kecelakaan air ternyata paling mendominasi dibanding bencana lainnya. Baik yang terjadi di sungai, laut, maupun waduk,” ujar Agus kepada MuriaNewsCom, saat berkunjung di Jepara, Selasa (3/5/2016).

Menurut dia, sampai hari ini, jajarannya masih melakukan pencarian korban tenggelam di tiga lokasi berbeda. Yaitu, pemancing yang tenggelam di waduk Penjalin Kabupaten Brebes, pemancing di waduk Jatibarang Semarang, dan seorang nelayan di Kabupaten Rembang.

”Di Brebes 6 orang pemancing, 2 sudah ditemukan meninggal, di waduk Jatibarang dan nelayan Lasem masih dilakukan pencarian,” kata Agus.

Kecelakaan air juga sering terjadi di Kabupaten Jepara. Baru-baru ini terjadi kecelakaan di sungai yang ada di Kecamatan Donorojo. Seorang bocah berusia tujuh tahun hanyut dan ditemukan sudah tak bernyawa.

Selain kecelakaan di air, wilayah Jawa Tengah, juga potensi terjadi bencana di darat. Itu seperti angin puting beliung dan tanah longsor.

”Potensi bencana alam di Jawa Tengah komplit. Mulai dari air sampai darat. Jawa Tengah juga memiliki gunung berapi. Itu sebabnya Jawa Tengah termasuk daerah rawan bencana di Indonesia,” katanya.

Editor: Supriyadi

Kesadaran Masyarakat di Blora untuk Buang Sampah pada Tempatnya Masih Rendah, Ini Buktinya

 

Tampak banyak sampah yang berada di sungai kawasan Kelurahan Tempelan, Blora(MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Tampak banyak sampah yang berada di sungai kawasan Kelurahan Tempelan, Blora(MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

MuriaNewsCom, Blora – Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya masih cukup rendah. Hal ini terlihat dari banyaknya sampah yang menghiasi sungai yang ada di Kabupaten Blora.

Wahyu Agustin, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Blora mengungkapkan, untuk mengatasi permasalahan sampah tersebut, tidak hanya bisa mengandalkan satu pihak saja. Menurutnya, persoalan sampah merupakan persoalan kompleks yang harus melibatkan banyak pihak.

“Kami berharap masyarakat bisa paham akan bahaya buang sampah sembarangan. Bagi siapapun yang memiliki kepedulian, agar senantiasa menjadi pelopor dalam membuang sampah pada tempatnya,” ujar Wahyu Agustin kepada MuriaNewsCom (27/4/2016).

Dia sangat menyayangkan warga yang masih membuang sampah secara sembarangan di sungai. Karena, menurutnya, dengan tindakan seperti itu, air sungai akan tercemar. Padahal, air sebagai sumber kehidupan dan tidak selayaknya dikotori oleh sampah.

“Air sebagai sumber kehidupan selayaknya kita jaga, bukan malah dikotori dengan sampah. Hal itu sangat kami sayangkan,” imbuhnya.

Untuk menanggulangi banyaknya sampah tersebut, pihaknya pun telah merencanakan program menciptakan lingkungan yang bersih. Beberapa instansi akan diajak menjadi pelopor membuang sampah pada tempatnya.

Selain itu, lanjut Wahyu, pihaknya juga akan melibatkan masyarakat secara langsung. “Kami akan gandeng TNI, Polri, dan PNS untuk ikut serta menjadi pelopor membuang sampah pada tempatnya. Selain itu warga juga akan kami sertakan. Rencananya Jumat depan,” jelas Wahyu.

Editor : Kholistiono

 

Lihat! PKL Ini Cuek Saja Langgar Aturan Kawasan Tertib di Jalan Pemuda Cepu

PKL nekad berjualan di bawah papan penanda bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan tertib  (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

PKL nekad berjualan di bawah papan penanda bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan tertib (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

  MuriaNewsCom, Blora – Jalan Pemuda Cepu, Blora, menjadi salah satu kawasan tertib. Sejak sepekan lalu, instansi terkait telah mensosialisasikan mengenai kawasan tertib ini. Bahkan, di salah satu titik juga sudah dipasang papan peringatan terkait adanya kawasan tertib.

Terlihat jelas, di papan yang terpasang tersebut bertuliskan, “Sepanjang kawasan ini bebas pengemis, gelandangan, pengamen, orang terlantar (PGOT), tertib pedagang kaki lima (PKL) dan reklame.” Namun, seolah papan tersebut bukan menjadi hal yang penting dan harus dipatuhi bagi sebagian orang. Terlihat jelas, persis di bawah papan tersebut sengaja ada PKL yang berjualan.

Untuk diketahui, Jalan Pemuda Cepu ini merupakan percontohan sebagai kawasan tertib bagi kawasan lain yang ada di Cepu. Kawasan tertib tersebut, tidak hanya menyangkut tertib berlalulintas, namun juga tertib dari pedagang kaki lima  maupun pengamen gelandangan dan orang terlantar.

“Tentu itu kalau ada PKL di situ, jelas merupakan pelanggaran, apalagi dilakukan pada jam terlarang,” ungkap Sri Jandoko, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Blora.

Menurutnya, seperti yang tercantum pada papan peringatan, kawasan tersebut merupakan kawasan tertib. Kalaupun ada PKL berjualan, itu harus memenuhi syarat, yakni pada pukul 15.00 hingga 06.00 WIB. “Jika dil uar jam itu, tentu pelanggaran,” katanya.

Dirinya menegaskan, bahwa untuk mengatasi PKL nakal yang mangkal di kawasan itu, akan segera diberikan teguran. Pihaknya akan menginstruksikan Satpol PP Cepu agar segera menindaknya. Dirinya beranggapan, jika tidak ada ketegasan maka hal seperti itu akan memicu pedagang lain untuk melakukan hal yang sama.

Editor : Kholistiono

Yuk Ikutan GAUL! Biar Lingkungan Tetap Asri

Salah satu gerakan aksi untuk lingkungan(MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

Salah satu gerakan aksi untuk lingkungan(MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Masih minimnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya, ternyata cukup sulit untuk mengatasinya. Karena, hal itu seolah sudah menjadi kebiasaan buruk.

Wahyu Agustin, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Blora mengungkapkan, terkait hal itu, pihaknya mendorong warga agar senantiasa bisa menjaga lingkungan mulai dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya.

“Kesadaran warga akan membuang sampah pada tempatnya memang perlu ditingkatkan,” ujarnya kepada MuriaNewsCom (22/4/2016).

Ia pun mengutarakan ide, bahwa dalam menjaga kelestarian lingkungan, dirinya menyarankan, agar masyarakat bisa melakukangerakan aksi untuk lingkungan (GAUL). Yakni, gerakan yang mendorong masyarakat untuk membersihkan lingkungan sekitar, baik lingkungan kerja maupun lingkungan tempat tinggal.“Kami beserta kawan-kawan di BLH telah melakukan hal tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, sudah saatnya bagi siapapun untuk ikut merawat bumi dengan aksi nyata. Ia mencontohkan dengan hal terkecil, yakni dari diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, ia juga menyarankan agar siapapun bisa menanam pohon, baik pohon berbuah maupun pohon peneduh.

“Yang tak kalah penting adalah ikut merawat tanaman dan tidak menebang tanaman secara sembarangan. Karena hal itu bisa memicu kerusakan kelestarian alam. Kemudian, untuk ibu-ibu juga, kalau belanja jangan dibiasakan menggunakan plastik. Lebih bagus membawa tas belanja dari rumah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Sendang Jibing Prawoto Pati Ditanami Seribu Pohon

uplod jam 1030 hijaukan sendang (e)

Sejumlah pemuda menanam pohon di sekitar Sendang Jibing Prawoto untuk melestarikan alam sekaligus sebagai aksi penolakan terhadap hadirnya pabrik semen di Prawoto. (MuriaNewsCom/Lismanto) Lismanto

 

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 300 pemuda yang tergabung dalam Persatuan Pemuda Kasunanan Prawoto (PPKP), fan grup band Superman Is Dead (SID) outsider dan lady rose menggelar aksi tanam seribu pohon di kawasan Sendang Jibing, Desa Prawoto, Sukolilo, Pati.

Ketua PPKP Dipo Lukmanul Akbar saat dihubungi MuriaNewsCom, Senin (4/4/2016) mengatakan, aksi damai penanaman pohon tersebut menjadi upaya untuk melestarikan tanaman, situs peninggalan budaya, sekaligus menolak berdirinya pabrik semen di Prawoto.

“Sendang Jibing merupakan peninggalan Sunan Prawoto yang kemudian dirawat dan menjadi peninggalan Belanda. Supaya lebih hijau, kami melakukan penanaman di sekitar Sendang Jibing. Banyaknya situs dan kelestarian alam ini, jangan sampai ada pabrik semen datang ke sini,” ujar Dipo.

Dari informasi yang dihimpun, investor perusahaan semen dari PT Garuda Tudung Perkasa rencananya akan mendirikan pabrik semen di tiga desa, yaitu Desa Prawoto, Wegil, dan Pakem. Upaya investor untuk memasuki ketiga desa tersebut rupanya dicium masyarakat.

Sontak, mereka keberatan setelah melalui banyak pertimbangan. “Perusahaan semen itu sudah mulai mencoba datang ke sini sekitar lima bulan yang lalu. Terus terang kami keberatan dan menolak keras karena banyak pertimbangan,” imbuh Kapala Desa Prawoto, Ahmad Hyro Fachrus.

Pertimbangan yang dimaksud, mulai kelestarian alam di desa yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Pati, Kudus, dan Grobogan tersebut hingga persoalan keberlanjutan situs-situs peninggalan warisan budaya masa lalu seperti makam raja Demak yang terakhir, Sunan Prawoto. Penolakan itu kemudian dilakukan dengan menandatangani petisi di sebuah kain putih sepanjang 10 meter berisi penolakan semen di desanya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
http://www.murianews.com/2016/04/04/77623/tolak-pabrik-semen-ratusan-warga-prawoto-pati-tandatangani-petisi-dan-tanam-sejuta-pohon.html

Masyarakat Perlu Dilibatkan untuk Mengatasi Kerusakan Lingkungan

Sekretaris Daerah Grobogan Sugiyanto menyampaikan pengarahan dalam Bintek Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sekretaris Daerah Grobogan Sugiyanto menyampaikan pengarahan dalam Bintek Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Peran serta berbagai komponen masyarakat perlu dilibatkan dalam mengatasi kerusakan lingkungan dan ekosistem. Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Grobogan Sugiyanto saat membuka Bintek Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang dilangsungkan di Ruang Riptaloka, Rabu (30/3/2016).

”Seperti kita ketahui, kerusakan lingkungan dan ekosistem ini terus meningkat. Oleh sebab itu, butuh kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam menangani masalah ini,” kata Sugiyanto.

Menurutnya, kerusakan lingkungan itu terjadi akibat kegiatan yang dilakukan beberapa pihak. Seperti dari lingkup domestik yang menghasilkan limbah cair maupun padat. Kemudian, kerusakan lingkungan juga bisa muncul dari dampak adanya kegiatan industri.

”Perilaku buang sampah sembarangan disungai juga bisa menimbulkan dampak yang negatif. Selain itu, ada juga aktivitas penambangan liar yang seringkali menimbulkan bencana bagi banyak orang. Hal-hal ini hendaknya perlu jadi perhatian serius dalam penyusunan KLHS,” jelas mantan Kepala Dinas Pendidikan Grobogan itu.

Ditambahkan, selama ini banyak masyarakat yang merasakan dampak kerusakan lingkungan tersebut. Seperti banjir, tanah longsor, angin lisus yang menyebabkan kerugian material cukup besar.

”Penyusunan KLHS ini merupakan kewajiban dari pemerintah. Untuk itu perlu dilakukan berbagai program yang tepat untuk mengatasi masalah lingkungan ini,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pemecah Batu Ilegal di Rahtawu Disebut Terlalu Berani Menantang Alam

Satpol PP Kudus merazia tempat pemecah batu secara ilegal di Rahtawu Kudus belum lama ini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Satpol PP Kudus merazia tempat pemecah batu secara ilegal di Rahtawu Kudus belum lama ini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Maraknya pemecah batu ilegal yang dilakukan warga Rahtawu, Kecamatan Gebog dinilai pemdes setempat perbuatan itu tidak bertanggung jawab dan berani menantang alam.

Kepala Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Sugiyono mengatakan Desa Rahtawu terkenal dengan tempatnya tokoh pewayangan (ghaib). ”Tapi kenapa kok warga malah berani merusaknya,” paparnya.

Dia menilai, perusakan alam semacam ini, dikhawatirkan membuat kemarahan kepada penunggu desa ini. Dimana desa ini memang terdapat banyak punden atau makam tokoh pewayangan.

Dari informasi yang dihimpu MuriaNewsCom, sungai dan batu yang berukuran besar di kawasan Rahtawu tersebut sering digunakan oleh orang luar desa untuk bersemedi.

”Mudah-mudahan warga sadar akan kebudayaan yang ada. Yakni dapat menghormati perintah tokoh pewayangan yang ada di sini supaya dapat merawat alam. Karena Rahtawu juga sebagai wisata alam di Kudus yang populer,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

MRC Kudus : Pengelolaan Air Harus Ada Aturan yang Tegas

Pertunjukan teater saat acara diskusi air di Auditorium UMK, Kamis (24/3/2016). (MuriaNewsCom/ Edy Sutriyono)

Pertunjukan teater saat acara diskusi air di Auditorium UMK, Kamis (24/3/2016). (MuriaNewsCom/ Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Diskusi “Air Sumber Kehidupan, Tidak Ada Air Tidak Ada Kehidupan” yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMK beserta Muria Research Centre (MRC) dan fakultas pertanian UMK merupakan serangkaian untuk memperingati hari air yang jatuh pada Selasa (22/3/2016). Direktur Muria Research Centre (MRC) Widjanarko mengatakan, seharusnya penggunaan air itu harus ada aturan yang tegas. Sehingga manfaat air bisa digunakan dengan tepat.

”Salah satu contoh yakni, di wilayah Muria pengelolaan air itu harus bisa melalui rembug desa terlebih dahulu. Supaya kedepannya masyarakat bisa sama-sama saling memantau,” paparnya.

Dia menilai, air merupakan barang publik. Sehingga kegunaannya juga harus sesuai kebutuhan publik, yang memang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Semantara itu, bila ada aturan yang tegas, maka pihak wilayah atau desa setempat bisa memberikan sanksi atau teguran kepada warga yang tidak bertanggung jawab. Misal memperjualbelikan air secara sewenang-wenang, atau tidak ada batasannya.

”Bila air itu diperjualbelikan secara bebas tanpa aturan, maka fungsi sosial sebagai barang publik sudah hilang. Dan hanya menguntungkan salah satu pihak. Di sisi lain, masyakarat lainnya mengalami kekurangan air. Dampaknya juga ke lingkungan dan masyarakat luas,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni