Ini Dia 7 Penganan Khas Jepara yang Cocok Kamu Bawa Pulang

Pindang serani salah satu kuliner khas Jepara yang patut untuk dicoba. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Sedang mudik ke Jepara tapi bingung mencari makanan atau oleh-oeh khas Bumi Kartini? Tenang, Jangan patah arang, berikut ada tujuh penganan yang bisa memuaskan hasrat kuliner dan  mengisi koper bekal kembali ke tanah rantau. 

Jepara, sebagai daerah yang ada di tepi pantai tentu saja memengaruhi penganan khas yang diproduksi. Kebanyakan kulinernya menggunakan unsur yang berasal dari laut, baik sebagian atau keseluruhan.

 

1. Pindang Serani

Masakan yang satu ini menggunakan ikan sebagai bahan utamanya. Menggunakan kunyit sebagai satu di antara bumbu pelengkap, makanan ini terlihat berwarna kuning dan memiliki rasa rempah-rempah yang kental. 

Jika ingin mencoba memasak, penganan ini pun cukup simpel. Tumis cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, jahe dan daun salam. Bahan-bahan itu kemudian ditumis, setelah harum, tuangkan air secukupnya, masak hingga mendidih lalu masukan ikan yang telah dibersihkan serta tunggu hingga matang.

 

Adon-adon Coro

2. Adon-adon Coro

Bagi yang belum mengenalnya, adon-adon coro merupakan jenis minuman rempah khas Jepara. Bercitarasa pedas, minuman ini cocok dikonsumsi di kala dingin melanda. 

Bewarna cokelat, minuman ini juga dilengkapi dengan irisan kelapa bakar, yang diiris kotak seperti dadu. Tak lupa ditambah santan yang menjadikan adon-adon coro semakin gurih diminum, menghangatkan seluruh keluarga. 

 

Horog-horog

3. Horog-horog

Ada satu kuliner khas Jepara yang patut dicoba, yakni horog-horog. Apa itu? bagi yang belum pernah menjajalnya, mungkin dari namanya saja terasa aneh. Ya, pengananan itu biasa dimakan sebagai pelengkap bakso, pecel atau makanan berkuah lain. 

Terbuat dari sagu aren, horog-horog memiliki rasa yang cenderung hambar, namun kenyal. Jika di wilayah Timur Indonesia ada papeda, yang berbentuk layaknya bubur, horog-horog memiliki bentuk padat. 

Kini makanan itu boleh dibilang langka, lantaran untuk mendapatkan bahan bakunya harus didatangkan dari luar Jepara. Selain itu, perajinnya pun sudah mulai renta, serta cara pembuatannya yang harus higienis. 

Untuk menemukannya, sebenarnya tak sulit. Cukup pergi ke pasar tradisional yang ada di Jepara. Atau jika ingin bertualang, bisa menyambangi sentra industri rumahan yang berada di Kecamatan Bugel. 

 

Kerupuk tengiri

4. Kerupuk Tengiri

Jika ingin memenuhi koper oleh-oleh, kerupuk tengiri bisa jadi solusi. Terbuat dari ikan hasil laut Jepara, tentu penganan ini layak menjadi pendamping berbagai makanan. Nasi panas dengan sambal pun jadi!

 

Kacang Oven

5. Kacang Oven

Dari namanya mungkin terbayang pembuatannya menggunakan mesin pemanggang. Namun tidak, kacang jenis ini digoreng. Hanya saja dalam penggorengannya tidak memakai minyak, namun pasir. 

Ya, media tersebut dianggap layak sebagai penghantar panas yang tepat untuk menggoreng kacang tanah. Hasilnya, kacang plus kulit ari yang terasa renyah dan tak berminyak.

 

Kerupuk bawang

6. Kerupuk Bawang

Sesuai namanya, kerupuk ini menggunakan bawang sebagai penguat rasa. Hasilnya, kerupuk ini memiliki rasa bawang yang khas dan tentunya gurih sebagai pelengkap makan nasi. 

 

Carang madu

7. Carang Madu

Apa itu? carang madu adalah sejenis kudapan renyah, hampir mirip kerupuk namun ada cita rasa manis karena diolesi dengan gula karamel. Konon penganan ini dibuat oleh warga Tionghoa yang ada di Jepara. 

Terbuat dari bahan-bahan seperti tepung tapioka dan bahan lainnya, Carang Madu diproses melalui tiga tahap. Penggorengan pertama adalah proses mencetak adonan, kemudian digoreng lagi agar renyah serta terakhir diolesi gula karamel. 

Untuk mendapatkannya, cukup pergi ke sentra oleh-oleh yang tersebar di seluruh Jepara atau menyambangi pembuatnya di Welahan atau Batealit.

Editor : Ali Muntoha

Ke Rembang Kurang Lengkap Jika Tak Beli Buah Ini

Buah siwalan hasil panen dari daerah Rembang yang dijual di jalan Rembang-Blora. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Anda yang tengah berkunjung atau hanya sekadar melintas di wilayah Kabupaten Rembang, belum lengkap rasanya jika belum menyicipi buah yang satu ini. Buah yang punya warna bening, bertekstur kenyal, terasa manis ini, menjadi salah satu oleh-oleh khas wilayah pesisir Rembang.

Buah itu adalah siwalan. Buah ini bisa dengan mudah ditemui di berbagai titik di Rembang. Apalagi saat libur Lebaran kali ini, berbarengan dengan musim siwalan, sehingga di sudut-sudut jalan banyak ditemui penjual buah segar ini.

Salah satu tempat yang banyak ditemui penjual siwalan yakni di sepanjang jalan Rembang-Blora.

Selama musim Lebaran ini, penjual juga mengaku kebanjiran pembeli. Hadi misalya, penjual siwalan dari Kecamatan Sulang, Rembang, ini mengaku tiap hari bisa menjual puluhan hingga ratusan bungkus siwalan.

“Banyak yang mencari untuk dijadikan oleh-oleh, atau sekadar camilan di perjalanan. Alhamdulillah selama libur Lebaran ini, minimal 50-an bungkus laku tiap harinya,” katanya.

Untuk setiap bungkus berisi 10 butir siwalan, dan dijual antara Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu, tergantung besar kecilnya siwalan.

Sementara itu, salah seorang pembeli dari Blora Asikin (42) mengatakan, buah ini memang cocok untuk oleh oleh.

“Terlebih saat cuaca panas seperti ini. Seger sekali jika dimakan. Dan sangat cocok untuk oleh-oleh. Harganya juga cukup murah. Yakni kurang dari Rp 10 ribu per bungkusnya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Rasakan Sensasi Lunpia Isi Rumput Laut di Grobogan

Lunpia yang diisi dengan rumput laut di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Makanan lunpia barangkali sudah familiar di berbagai kalangan. Sebab, makanan khas Kota Semarang ini sering disajikan dalam berbagai acara resmi maupun keluarga.

Selama ini, menu isian lunpia berupa irisan bambu muda atau biasa disebut rebung. Namun, ketika isiannya digantikan dengan bahan lainnya, semisal rumput laut barangkali belum begitu familiar.

“Kali ini kita memang sengaja ingin bikin lunpia yang beda dari biasanya. Isiannya kita ganti rumput laut. Menu ini kita namakan Lunpia Goyang Pantura. Penamaan menu mengadopsi daerah sekitar, sehingga cita rasa lokalnya kuat,” kata General Manajer Hotel Front One Purwodadi Bagus Saputro, Jumat (7/4/2017).

Menurutnya, menu kuliner ini sengaja memanfaatkan rumput laut guna mengangkat potensi lokal yang ada di pesisir laut Jawa bagian utara. Varian kuliner tersebut tersedia selama April-Mei.

Selain itu terdapat menu lain yang disiapkan. Yakni Ayam Style Heart (bumbu merah), Ayam Syalala (keju dan susu) dan Ayam Sambel Matah (khas Bali).

“Kami mengambil materi untuk kuliner andalan dari sekitar daerah. Penamaannya mengadopsi daerah sekitar, sehingga cita rasa lokalnya kuat,” ungkapnya. 

Chef Hotel Front One Purwodadi Deni Kustianto menambahkan, penggunaan rumput laut dimaksudkan untuk menunjukkan kesan segar. Karena diisi rumput laut, tekstur lunpia menjadi sedikit lebih tebal, namun tetap renyah. “Sajian lunpia ini dipadukan dengan saos ala Korea,” katanya. 

Editor : Akrom Hazami

Berburu Sate Kambing Legendaris Pak Taman di Gabus Pati yang Dikenal Sejak 1950

Rumisih, pemilik Omah Sate Pak Taman tengah membakar sate. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Wisata di kawasan Pati Selatan tidak lengkap rasanya jika tidak berburu sate kambing Pak Taman yang begitu legendaris, dikenal sejak 1950. Berada di depan Pasar Gabus, Pati, sate kambing Pak Taman kerap menjadi jujugan pemburu kuliner.

Rumisih (60), pemilik Omah Sate Pak Taman mengatakan, Omah Sate yang ia kelola merupakan generasi kedua, setelah Pak Taman yang mulai membuka warung sate pada 1950. Setiap hari, Omah Sate Pak Taman menghabiskan satu ekor kambing muda.

Pada hari-hari tertentu, seperti Ramadan, Lebaran hingga pesanan akikah, resepsi dan catering, Omah Sate bisa menghabiskan dua hingga tiga ekor kambing setiap harinya. Pengunjung pun tak hanya dari wilayah Kecamatan Gabus, tetapi juga Tambakromo, Winong, Kayen, hingga luar daerah seperti Grobogan, Kudus, Surabaya, Jakarta dan Sumatera.

“Saya generasi kedua dari Pak Taman. Sejak masih gadis, usia 17 tahun, saya sudah sering membantu bapak. Waktu itu, Pak Taman jualan sate dan gule kambing. Saat ini, sudah ada inovasi baru seperti tengkleng dan tongseng kambing karena banyaknya permintaan konsumen,” ujar ibu dari empat anak ini kepada MuriaNewsCom, Senin (3/4/2017).

Salah satu keunggulan sate kambing buatannya, antara lain kualitas daging kambing murni yang selalu ia jaga sejak 1950. Bumbu-bumbu rahasia warisan Pak Taman juga menjadi andalannya. Sejumlah standar operasional prosedur (SOP) yang ketat juga diterapkan.

Misalnya, penyembelih kambing dilakukan kiai setempat dan penusukan sate dilakukan menggunakan tangan kanan agar sesuai dengan syariat Islam. Standar pengolahan tersebut dilakukan, lantaran meneruskan dari cara yang dilakukan Pak Taman.

Rasanya yang enak, khas dan berkarakter membuat sejumlah pengusaha ingin berjualan sate Pak Taman di Jakarta dengan konsep franchise. Namun, Rumisih menolaknya karena tidak memiliki tenaga kerja yang dikirim ke Jakarta.

Grup dangdut populer New Pallapa juga selalu datang ke Omah Sate Pak Taman saat pentas di wilayah Pati selatan. “Rahasianya, banyak bumbu dari rempah-rempah tradisional dan berbagai standar yang diajarkan Pak Taman,” ungkap Rumisih.

Slamet (27), penikmat sate asal Cluwak mengaku selalu datang ke Omah Sate Pak Taman bila ingin berburu sate dan ragam menu olahan dari kambing. Menurutnya, cita rasa sate Pak Taman yang khas tidak ditemui di warung sate lainnya. Rasanya yang khas diakui sebanding dengan perjalanan jauh yang ia tempuh dari Cluwak ke Gabus.

Editor : Kholistiono

Kuliner Unik, Makan Bakso Sekalian Mangkuknya, Hanya di Kudus

Bakso mangkuk yang siap disantap dengan lezat di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi para pecinta kuliner,  terutama bakso, harus coba yang satu ini. Namanya Bakso mangkuk. Dalam bakso itu, pembeli tak hanya menyantap baksonya saja yang bulat, tapi juga menyantap mangkuknya.

Seperti dengan namanya, bakso tersebut terbilang unik. Karena jika biasanya mangkuknya dari beling dan tak bisa dimakan, maka Bakso Mangkuk ini beda. Mangkuknya juga berbahan dari bakso.

“Biasanya ada pembeli bakso yang suka “tanduk” (tambah) saat membelinya. Jadi buat inovasi bagaimana caranya pembeli yang cinta bakso puas. Akhirnya coba-coba buat ini bakso mangkuk,” kata M Jaya Akhlis Kusuma, pemilik warung Bakso 57 di depan RSI Kudus.

Jaya memilih jenis bakso mangkuk lantaran dilihatnya sebagai hal yang aneh. Dari namanya saja, sudah banyak mengundang pembeli lantaran penasaran dengan bakso tersebut. Khususnya penggila kuliner bakso.

Sebelumnya, kata dia pernah mau membuat bakso jumbo biasa. Namun dilihat bentuk dan namanya dirasa kurang menjual di masyarakat. Terlebih, beberapa penjual bakso di Kudus juga sudah ada yang menjual bakso jumbo.

“Selain bakso jumbo, di sini juga menjual berbagai jenis bakso lainya. Seperti bakso beranak, bakso gerhana matahari, bakso gerhana bulan, dan lainya,” imbuhnya.

Jaya mengatakan kalau sebenarnya bakso tersebut belum lama dijual. Baru sekitar dua pekan. Hasilnya sangat memuaskan dengan banyak pembeli yang datang.

“Untuk satu porsi bakso mangkuk, saya jual dengan harga Rp 20 ribu. Itu termasuk murah untuk kantong masyarakat Kudus pada umumnya. Selain itu, porsi juga cukup banyak sehingga kenyang,” jelasnya.

Warung bakso miliknya buka mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.  Aida, pembeli asal Pati yang jajan bakso mangkuk sengaja datang jauh-jauh karena penasaran. “Biasanya kan bakso beranak ya, tapi ini bakso mangkuk. Lebih puas malahan makan bakso mangkuk ini. Lebih kenyang juga. Enak,” katanya di lokasi warung itu.

Menurutnya, dia mendengar nama bakso mangkuk dari temanya yang asli Kudus. Berbekal penasaran itulah dia mencoba datang mencicipi. Karena, dia memang seorang yang pecinta kuliner termasuk bakso.

Editor : Akrom Hazami

 

Sensasi Berkuliner di Atas Perahu di Waduk Tempuran Blora, Nyam..Nyam!

Pengunjung menikmati kuliner di atas perahu di Waduk Tempuran, Kecamatan Kota, Kabupaten Blora. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

MuriaNewsCom, Blora –  Waduk Tempuran yang berada di kawasan Pegunungan Kendeng Utara, tepatnya di Desa Tempuran, Kecamatan Kota, Blora, memang sudah lama dikenal sebagai salah satu objek wisata unggulan. Selain sebagai wisata alam, kuliner dan pusat pelatihan dayung, kini ada yang baru di waduk peninggalan Belanda ini.

Yakni sensasi berkuliner di atas perahu. Pengunjung, khususnya para pecinta kuliner bisa menikmati berbagai menu olahan ikan sambil berkeliling naik perahu dengan panorama alam Pegunungan Kendeng yang berbalut hutan jati hijau. Sesekali perahu akan berhenti di tengah waduk dan mempersilakan penikmat kuliner untuk makan sampai berswa foto (selfie).

Sebagai pengamanan, di atas perahu para pengunjung ditemani oleh dua orang petugas. Perahu juga dilengkapi dengan pelampung dan penyeimbang agar tidak mudah goyang saat berada di tengah waduk.

Seperti yang ada pada akhir pekan lalu. Sepasang muda mudi tampak asyik menikmati menu ikan bakar sambil berkeliling waduk dipandu oleh dua orang petugas. Dari kejauhan, mereka tampak asyik berdua sambil  berswa foto membidik pemandangan alam sebagai latar belakang foto.

“Tempuran sekarang lebih menarik dengan adanya fasilitas perahu. Kita bisa makan di atas perahu sambil keliling waduk, sensasinya beda. Apalagi kalau ditemani orang tersayang, cocok untuk kalangan muda,” ucap Nanik Wijaya (27) salah satu penikmat kuliner di atas perahu dikutip dari Facebook Akun Humas Protokol Kabupaten Blora.

Tak hanya makan ikan bakar sambil berkeliling waduk, di kawasan ini para pengunjung juga diberikan fasilitas. Yaitu sebuah dermaga menyerupai kapal yang dibangun menjorok ke tengah waduk. Tempat ini biasa digunakan para pengunjung untuk berburu foto, terutama saat matahari terbenam.

Sulastri (40) pemilik Warung Iwak Kali (WIK) di tepi Waduk Tempuran yang melayani kuliner di atas perahu menyatakan bahwa fasilitas berkeliling waduk sambil makan di atas perahu merupakan paket baru untuk memberikan kesan menarik kepada para pecinta kuliner.

“Ini paket baru yang kita tawarkan kepada para pengunjung. Sehingga mereka datang tidak hanya makan saja, tapi juga bisa menikmati pemandangan alam dengan berkeliling waduk,” ucap Sulastri.

Pengunjung menikmati kuliner di atas perahu di Waduk Tempuran, Kecamatan Kota, Kabupaten Blora. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

 

Menurutnya, untuk pengunjung yang ingin menikmati kuliner di atas perahu harus memesan terlebih dahulu di Warung Iwak Kali miliknya. Sistemnya paketan, di mana pengunjung bisa dilayani kekeling waduk selama 30 menit sambil makan sajian kuliner yang dipesan.

“Berhubung ini fasilitas baru, sehingga jumlah perahu masih terbatas. Jika respons pengunjung bagus, tidak menutup kemungkinan kedepan perahunya akan kami tambah lagi,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Sego Dodok, Kuliner Jepara Merakyat yang Ngehits

Suasana tempat kuliner Sego Dodok di Jalan Ahmad Yani Jepara, saat waktu petang, kemarin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Sekitar 2 tahun silam kuliner “Sego Dodok” di Kota Ukir Jepara berkembang pesat. Khususnya di pusat kota setempat. Kuliner ini berbentuk umumnya Angkringan, dengan menu variatif. Mulai lauk, makanan gorengan, dan nasi bungkus (nasi kucing). Dengan harganya terjangkau.

Sego Dodok dalam Bahasa Indonesia yakni nasi yang dimakan sambil jongkok atau duduk. Warga Jepara menyebutnya dengan sebutan Sego Dodok. Tempat yang banyak dijumpai penjual kuliner ini yakni di sepanjang Jalan Ahmad Yani atau sebelah utara alun-alun setempat, hingga Jalan Syima Jepara. Biasanya, kuliner ini mulai beroperasi sore hingga malam hari.

Salah satu penjual Sego Dodok dari Kelurahan Pengkol Jepara, Erni mengatakan, ia berjualan kuliner Sego Dodok sejak 2, 5 tahun lalu. Sejauh ini, banyak dari warga setempat menjadi langganannya. “Mereka lebih suka makan di Sego Dodok. Harganya terjangkau. Ketimbang makan di rumah makan pinggir jalan,” kata Erni.

Sementara itu, penjual lainnya Budi mengatakan, kondisi Jepara di saat malam hari memang berbeda dengan kota lain. Di pinggir jalan, lebih banyak tempat mebel daripada warung. “Jadi Sego Dodok jadi pilihan utama,” kata Budi.

Biasanya, pembeli berasal dari warga yang baru pulang kerja. Ada yang makan di lokasi warung, ada pula yang membeli makanan untuk dibawa pulang. Harga sebungkus nasi di warung Sego Dodok bervariasi. Mulai dari Rp.1.500 per bungkus hingga Rp 2.500 per bungkus, tergantung lauk di dalamnya.

Sedangkan untuk gorengannya dari Rp 500 hingga Rp 2 ribu.  Adapun harga lauknya sate usus, sate jeroan, sate jengkol mulai dari Rp 1.000 hingga Rp. 2.500 per tusuknya.

Editor : Akrom Hazami

Asyiknya Berburu Kuliner Jawa di Omah Kuno Pati, Ndas Manyung Jadi Andalannya

Tata, salah satu penikmat kuliner tengah berburu pepes bandeng khas Juwana di Rumah Makan Omah Kuno Pati, Sabtu (18/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rumah makan Omah Kuno yang terletak di Jalan Diponegoro Nomor 115 Pati menyajikan beragam menu kuliner menarik khas Jawa-Nusantara. Beberapa menu di antaranya adalah kuliner khas Pati.

Tata, misalnya. Pencinta kuliner asal Desa Ronggo, Kecamatan Jaken ini jauh-jauh datang ke Omah Kuno untuk berburu menu kesukaannya, pepes ikan Bandeng dan Mangut Ndas Manyung. Kedua menu tersebut merupakan khas Bumi Mina Tani.

“Ini sudah beberapa kali saya datang ke sini. Paling suka dengan pepes ikan bandeng khas Juwana. Mangut Ndas Manyung juga menu andalan saya, khas Pati juga,” ujar Tata, Sabtu (18/2/2017).

Soal minuman, Tata lebih suka beras kencur. Minuman tradisional ini diakui cukup sulit dicari di rumah makan atau restoran. Karena itu, dia selalu minum beras kencur saat berkunjung ke Omah Kuno.

Untuk jajanan pasar, Tata selalu pilih putu ayu dan tiwul. Kedua jajan itu hanya ditemui di pasar tradisional, sehingga menarik untuk dimakan dalam suasana rumah makan yang klasik.

“Semuanya tinggal pilih dan bayar. Bisa memilih sesuka hati tanpa harus menunggu. Satu keunikan berburu kuliner di sini. Tempatnya bikin betah dan semua menunya khas Jawa-Nusantara, cocok di lidah,” ucap Tata.

Jackson, pengelola Omah Kuno sengaja menyajikan masakan tradisional khas Nusantara untuk menambah gairah wisata kuliner di Kabupaten Pati. Dalam sehari, menu yang ditawarkan selalu fresh dan berbeda dari pagi, siang dan malam. Dia berharap, penikmat kuliner bisa memberikan saran dan masukan, karena Omah Kuno baru saja dibuka beberapa hari yang lalu.

Editor : Kholistiono

Iwak Kali, Menu Warung Makan di Grobogan yang Lezat dan Cocok Disantap saat Hujan

Mbak Sinyo, pemilik warung makan menu iwak kali sedang mengantarkan pesanan pelanggan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mbak Sinyo, pemilik warung makan menu iwak kali sedang mengantarkan pesanan pelanggan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Cuaca dingin lantaran hujan yang terus mengguyur sepanjang hari membuat sebagian orang pilih-pilih menu makan. Salah satu rekomendasi adalah mengunjungi warung makan Kencar-kencar di depan Koperasi Perhutani KPH Purwodadi, sekitar 25 meter sebelah timur Alun-alun Purwodadi.

Warung ini biasa buka mulai jam 17.00 WIB hingga menjelang dini hari.Warung makan kaki lima ini menu utamanya adalah iwak kali atau sungai. Seperti, udang, wader, kutuk (gabus), welut, badher dan lele.

Di samping itu ada juga jenis ikan hasil budidaya yang tersedia. Antara lain, bawal, gurami, nila, dan patin. Jenis ikan ini ditawarkan dalam tiga macam. Pepes, goreng dan bakar. Jadi, tinggal pilih saja mana yang paling disuka.

Untuk menu pepes dibuat tidak terlalu pedas. Sedangkan menu ikan yang digoreng dan dibakar sudah disediakan sambal serta lalapan tersendiri. “Bagi yang barangkali kurang suka iwak kali, saya juga sediakan menu lainnya. Yakni, garang asem ayam serta ayam goreng,” kata Mbak Sinyo, pemilik warung makan yang sudah menekuni usahanya hampir delapan tahun itu.

Dari beragam jenis iwak kali yang disediakan ada dua yang paling digemari pelanggan. Yakni, iwak kutuk dan wader. Dua jenis iwak ini selalu ludes lebih awal. “Pasokan kutuk dan wader ini tidak bisa dapat banyak tiap harinya. Jadi, selalu habis lebih cepat untuk dua jenis iwak ini,” kata ibu dua anak tersebut.

Harga iwak kali di sini juga terjangkau. Paling mahal adalah menu iwak kutuk seharga Rp 20 ribu. Paling murah, adalah iwak wader dan urang yang dilabeli Rp 7 ribu per porsi.

Selain di dekat alun-alun, Mbak Sinyo juga buka warung makan di rumahnya, di Jalan Wijayakusuma II No 33 Purwodadi. Tempat jualan di rumah ini biasa buka pagi, mulai jam 10.00-16.00 WIB.

“Jualan di rumah ini belum lama, sekitar satu tahunan. Saya bukan di rumah karena menuruti sebagian pelanggan yang terkadang tidak sempat datang ke warung di alun-alun pada sore atau malam. Untuk warung di alun-alun lebih banyak ditangani anak-anak” cetusnya.

Salah seorang pembeli mengaku cocok dengan menu iwak kali. Selain lezat, sambelnya dirasa nendang di lidah. Di samping itu, harganya juga relatif murah.

“Pertama kali coba menu iwak kali sekitar sebulan lalu saat saya baru pindah tugas di Purwodadi. Saat itu, saya diajak kawan ke sini. Setelah itu, saya sudah beberapa kali makan menu iwak kali. Soalnya, lezat sekali, terlebih saat cuaca dingin seperti ini,” kata Zaki, pria asal Jepara itu.

Editor : Kholistiono

Sego Jagung Goreng, Menu Kuliner di Grobogan yang Patut Dicoba

Imam sedang membuatkan menu sego jagung goreng. Jika berminat, Anda bisa mencoba menu ini di warung milik Bu Puji di kawasan lahan segitiga milik PT KAI di depan Hotel Kencana. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Imam sedang membuatkan menu sego jagung goreng. Jika berminat, Anda bisa mencoba menu ini di warung milik Bu Puji di kawasan lahan segitiga milik PT KAI di depan Hotel Kencana. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Satu menu kuliner ini barangkali bisa pilihan bagi Anda yang kebetulan singgah di Kota Purwodadi. Yakni, sego (nasi) jagung goreng.

Dari namanya, sudah bisa dipastikan kalau bahannya berasal dari jagung. Tidak banyak tempat yang jual sego jagung goreng ini. Salah satu yang paling terkenal adalah warung makan Bu Puji.

Sebelumnya, warung makan kaki lima ini berlokasi di trotoar Alun-alun Purwodadi, tepatnya di sebelah utara Kantor POS Purwodadi. Saat ini, lokasinya pindah sementara di kawasan lahan segitiga milik PT KAI di depan Hotel Kencana, sekitar 100 meter di selatan tempat jualan sebelumnya. Warung ini terpaksa pindah karena kawasan alun-alun masih dalam tahap renovasi.

“Saya sudah jualan sego jagung goreng ini cukup lama, sekitar 20 tahunan. Sejak dulu, lokasinya di alun-alun sana. Baru pindah sementara karena alun-alunya diperbaiki,” ujar ibu dua anak tersebut.

Lantaran sudah lama berjualan, warung makan ini sudah punya banyak pelanggan. Termasuk pelanggan dari luar kota, seperti Pati, Kudus, Rembang, Blora dan Semarang yang sering melintas di Purwodadi.

“Pelanggan saya banyak Mas. Bahkan, banyak pula pejabat yang suka mampir ke sini,” kata perempuan yang tinggal di Dusun Mbodo (Sendangsani), Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh itu.

Bahan baku yang dipakai buat menu sego goreng itu berasal dari jagung lokal atau jagung putih. Dipilihnya jagung jenis ini karena dinilai lebih lezat dan empuk jika dibandingkan dengan memakai jagung kuning atau hibrida.

“Jagung kuning juga bisa dibikin nasi tetapi pelanggan lebih suka jagung putih. Rasa nasi jagung putih memang jauh lebih enak,” tambah Imam, anak sulung Bu Puji yang ikut membantu mengelola warung makan tersebut.

Warung makan yang buka mulai pukul 17.00 WIB sampai tengah malam ini selalu ramai. Setiap hari, pemilik warung bisa menjual nasi jagung antara 20 sampai 40 kg.

Harga sego jagung goreng relatif terjangkau. Satu porsi sego jagung goreng hanya Rp 10 ribu. Harga ini sudah termasuk satu telur gorengnya. Mau coba?

Editor : Kholistiono

Ayam Panggang Bledug Kuwu, Kuliner Grobogan yang Lezatnya Khas

Ayam panggang pencok, kuliner khas Grobogan yang memiliki rasa khas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ayam panggang pencok, kuliner khas Grobogan yang memiliki rasa khas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Selama ini, mungkin hampir semua orang mengira bahwa Swikee merupakan satu-satunya makanan khas dari Grobogan. Padahal, masih ada lagi makanan khas lainnya yang tidak kalah nikmatnya dengan swikee. Yakni, ayam panggang Bledug.

Memang sampai saat ini tidak banyak yang tahu mengenai ayam panggang Bledug atau lebih dikenal dengan istilah ayam pencok. Apalagi sampai tahu bagaimana rasanya masakan khas ini. Sebab, keberadaan ataupun asal mula masakan khas ini hanya ada di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan yang berlokasi di sekitar objek wisata Bledug Kuwu. Dulunya, ayam panggang ini digunakan sebagai sesaji di Makam Mbah Iro Dukun, sesepuh warga Kuwu yang berlokasi di dalam kompleks objek wisata itu.

Di Desa Kuwu ini, ada beberapa warung makan yang menyediakan menu ayam panggang Bledug tersebut. Namun, pembuat makanan khas masyarakat setempat yang paling terkenal adalah Saminem.

Perempuan yang saat ini berumur 53 tahun ini adalah keturunan dari pencipta resep ayam panggang pencok tersebut. Sayangnya, tidak setiap saat kita bisa menikmati ayam panggang bikinan Saminen ini. Sebab, ia hanya membuat ayam panggang jika ada pesanan saja.

”Saya sengaja tidak mau buka warung makan ayam pencok ini karena repot ngurusnya dan lagi pula saya takut kalau tidak laku. Sampai saat ini saya hanya bikin ayam panggang kalau ada orang pesan saja. Kalau mau, bisa ke warung makan Jago Muda di dekat perempatan Kuwu selalu ada tiap hari,” ujar ibu empat orang anak yang sudah mahir membuat ayam panggang sejak usia belasan tahun itu.

Menurut Saminem, sebenarnya ayam panggang bikinannya tidak jauh berbeda dengan ayam panggang yang biasa dijual di rumah-rumah makan lainnya. Hanya saja, mungkin proses pembuatannya yang sedikit berbeda.

Untuk memasak satu ekor ayam diperlukan waktu sekitar 2,5 jam. Sebab, untuk memanggang ayam di atas bara api itu tidak boleh menggunakan bantuan kipas. Oleh sebab itu butuh waktu lama untuk mematangkan satu ekor ayam.

Saminem menunjukkan ayam panggang pencok masakannya. Kuliner ini terdapat di kawasan wisata Bledug Kuwu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saminem menunjukkan ayam panggang pencok masakannya. Kuliner ini terdapat di kawasan wisata Bledug Kuwu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

”Saya tidak tahu pasti kenapa tidak diperbolehkan mengipasi bara api saat memanggang ayam ini. Yang jelas, kalau tidak pakai kipas rasa daging ayamnya jauh lebih enak kalau sudah matang,” katanya.

Setelah matang, ayam panggang itu sebenarnya sudah bisa disantap begitu saja. Karena sebelumnya ayam tersebut memang sudah dibumbui. Namun, jika ingin lebih nikmat, ayam panggang itu dicampur dengan urap kelapa (pencok) terlebih dahulu sebelum disantap.

”Yang disebut ayam pencok ini adalah ayam panggang yang dicampur dengan urap kelapa ini. Memang kalau digado atau dimakan begitu saja rasanya sudah enak tetapi kesannya kurang lengkap,” ujar Saminem.

Meski tidak buka warung makan, namun hampir setiap hari Saminen selalu menerima pesanan dari warga sekitar. Pesanan paling banyak diterima biasanya saat datang Hari Raya Idul Fitri. Di mana, saat itu dia bisa menerima pesanan sampai 50 ekor per hari. Adapun harga ayam panggang bikinannya berkisar Rp 85 ribu per ekor lengkap dengan urap kelapanya.

”Harga ayam panggang ini bergantung dengan harga ayam dipasaran. Perlu diketahui, ayam panggang ini berasal dari ayam kampung jadi harganya memang lebih mahal,” katanya.

Editor : Kholistiono

Mencicipi Nikmatnya Rujak Bandeng Tanpa Duri di Pati

Pengunjung tengah mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri, menu andalan warung makan di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pengunjung tengah mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri, menu andalan warung makan di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada menu unik dari warung makan yang terletak di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. Di sini, penikmat kuliner bisa mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri.

Bingung, bukan? Rujak sudah lama dikenal sebagai makanan yang berisi irisan beragam buah dengan sambal pedas dari gula merah. Namun, pemilik warung memiliki ide dan kreativitas untuk menggabungkan antara rujak dan bandeng.

Sugiharto, pemilik warung mengaku memiliki ide tersebut berawal dari pemanfaatan potensi bandeng yang melimpah di bumi mina tani. Warga biasanya mengolahnya menjadi beragam kuliner, termasuk bandeng cabut duri.

Banyaknya industri rumahan pengolah bandeng cabut duri di Pati menginspirasi Sugiharto untuk membuat menu unik dari bandeng tanpa duri. Bila bandeng selama ini diolah dengan cara dibakar, digoreng, krispi atau dibuat pepes bandeng, pemilik warung mencoba untuk membuat bumbu yang berbeda.

“Menu ini cukup banyak dicari penikmat kuliner. Dalam sehari, ada sekitar 30 hingga 50 orang yang memesan menu ini secara khusus. Kami hanya ingin membuat menu yang unik dan berbeda dari bahan bandeng. Ternyata responnya luar biasa,” kata Sugiharto, Sabtu (05/11/2016).

Endang Suci Nartati, salah satu penikmat rujak bandeng bakar tanpa duri mengaku cocok dengan menu tersebut. Selain pedas, rujak bandeng memiliki perpaduan rasa yang bervariasi, yakni gurih, manis, sedap, dan nikmat.

“Bandengnya juga empuk, sudah tidak ada durinya. Jadi, nggak khawatir kalau pas makan takut menelan duri. Rasanya pas, perpaduan pedas, manis, gurih dan sedap,” tandas Suci.

Editor : Kholistiono

Hmm…..Lezatnya Sate Kelinci Alun-alun Purwodadi

Sate Kelinci yang bisa Anda dapatkan ketika ke Purwodadi. Tempatnya berada di sebelah utara Kantor KUA Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sate Kelinci yang bisa Anda dapatkan ketika ke Purwodadi. Tempatnya berada di sebelah utara Kantor KUA Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Buat Anda yang kebetulan ada keperluan atau sekadar melintas wilayah Grobogan, ada baiknya mencoba kuliner yang satu ini. Yakni, sate kelinci “Mbak Tum” yang ada di kawasan Alun-alun Purwodadi.

Sebelum alun-alun ditutup karena tengah diperbaiki, warung kaki lima ini berjualan di ruas trotoar sisi barat. Sejak alun-alun diperbaiki akhir Juli lalu, tempat jualannya pindah di seberang lokasi jualan lama. Menempati lahan kosong di sebelah utara Kantor KUA Purwodadi.

Racikan sate kelinci sama seperti sate kambing. Bedanya, ada pada rasa dan tekstur dagingnya. Daging kelinci rasanya lebih gurih dan empuk dibandingkan daging kambing. “Di antara menu sate, saya paling suka sate kelinci. Lebih empuk dagingnya dan tidak memicu darah tinggi,” kata Yusuf, salah seorang pelanggan sata kelinci.

Keberadaan sate kelinci ini ternyata sudah cukup lama. Kira-kira sudah sekitar 20 tahunan. “Kapan persisnya mulai jualan sudah tidak ingat. Kalau tidak salah sudah 20 tahunan,” kata Heru Santoso, pemilik warung sate kelinci tersebut.

Seorang penjual sate kelinci sedang menyajikan sate untuk pembeli (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seorang penjual sate kelinci sedang menyajikan sate untuk pembeli (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Selain dibuat sate, daging kelinci juga dimasak dengan menu lain. Yakni, tongseng, gulai, dan rica-rica.  Semua menu dari daging kelinci ini sama lezatnya. Setiap hari, warung makan ini bisa menghabiskan 20 ekor kelinci.

Untuk harganya juga tidak mahal. Satu porsinya cuma Rp 20 ribu, kecuali gulai harganya Rp 15 ribu. Sampai saat ini, sate kambing ini sudah jadi menu favorit banyak orang. Tidak hanya dari warga Grobogan saja tetapi banyak juga dari luar kota.”Pelanggan dari luar kota banyak sekali. Biasanya mereka ini adalah orang yang sering bepergian melalui kota Purwodadi,” imbuh Heru.

Editor : Kholistiono

 

 

Ulat Ini jadi Kuliner Unik Ala Blora

ulat

Kuliner ulat atau ungker.

 

MuriaNewsCom, Blora – Di Kabupaten Blora terdapat jenis kuliner yang aneh. Yaitu, ulat atau kepompong. Atau disebut juga enthung/ ungker.

Kepompong berwarna cokelat tua ini berukuran satu hingga dua sentimeter. Biasanya, digoreng  atau dioseng-oseng.

Sekali Anda merasakan, rasanya akan terasa sangat gurih dan renyah. Namun terkadang makanan ini terasa gatal di lidah. Terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Terlebih ketika mengunyah bagian kulitnya. Bagi yang belum pernah mencoba, makanan ini akan terasa sedikit aneh di lidah dan jijik. Tapi silakan dicicipi. Rasanya tidak akan pernah kamu lupakan.

Bagi warga Blora, kepompong ulat jati yang lebih dikenal dengan sebutan ungker merupakan menu yang nikmat. Biasanya, ungker digoreng secara dioseng memakai bumbu irisan bawang, cabe hijau, tomat, daun salam dan daun kedondong.

Ungker biasanya terasa gurih dan kaya protein. Sedangkan bagi warga luar Blora, ungker dikategorikan sebagai kuliner ekstrem.

Salah satu warga Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Par mengatakan biasanya warga memasak ungker sebagai lauk. Yang lauk biasanya dimakan sendiri.   Yang lainnya, dijual ditepi jalan.

Biasanya ungker dengan ukuran gelas, tiap satu gelas dijual seharga 15.000 ribu. “Warga dari Kota Blora maupun Cepu yang biasanya mampir membeli ungker. Tidak perlu jauh-jauh menjualnya ke pasar. Cukup dijual di tepi jalan saja sudah banyak pembeli yang menghampiri,” ujar Par..

Sampai saat ini, jarang ada warung makan yang menjual menu ungker. ini, sehingga kebanyakan harus membeli mentah lalu memasaknya sendiri.

Editor : Akrom Hazami

 

Sate Serepeh, Kuliner Khas Rembang yang Menggoyang Lidah

 Asyrofi, penjual Sate Serepeh "Gandrung Mina" di depan RSUD Dr. Soetrasno Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Asyrofi, penjual Sate Serepeh “Gandrung Mina” di depan RSUD Dr. Soetrasno Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Selain terkenal dengan Lontong Tuyuhan, Rembang ternyata juga memiliki ragam kuliner khas lain yang tak kalah lezatnya dan patut dicoba ketika Anda berkunjung ke Remban. Salah satunya adalah Sate Serepeh.

Sate Srepeh merupakan sate ayam kampung, pembedanya dengan sate ayam lain terletak di bumbunya. Biasanya bumbu sate yang banyak kita jumpai menggunakan bumbu kacang dan kecap manis. Di sini bumbunya berupa kuah santan yang berwarna kemerah-merahan, modelya mirip kuah kare, namun lebih merah warnanya. Rasa bumbunya gurih dan sedikit asin pedas.

Asyrofi, salah seorang penjual Sate Serepeh “Gandrung Mina” yang berada di Jalan Pahlawan atau lebih tepatnya depan RSUD Dr. Soetrasno mengatakan, sate ini memang berbeda dengan sate lainnya.”Sebab di salah satu bahan baku bumbunya terdapat santan. Bila sate lainnya tidak ada santannya,” katanya.

Menurutnya, Sate Serepeh yang memang berbahan dasar ayam kampung ini juga tidak harus dibakar terlebih dahulu sebelum disantap seperti sate pada umumnya.”Sate ini tidak harus dibakar. Sebab sate ini juga sudah direbus dengan campuran bumbu yang disertakan santan tersebut,” ujarnya.

f-sate 2 (e)

Untuk membuat Sate Serepeh, yang perlu disiapkan di antaranya daging ayam yang sudah diiris kecil, bawang merah, bawang putih, gula merah, garam, santan dan air. “Kalau bahan bakunya sudah disiapkan, maka haluskan bawang merah, bawang putih dan tumis dengan minyak goreng. Setelah itu, air, garam gula merah dan santan masukan dalam tumisan bumbu tersebut,” bebernya.

Setelah bumbu itu ditumis, maka rebuslah daging ayam yang sudah ditusuk dengan menggunakan bumbu tersebut hingga meresap dan terasa empuk. “Bila sudah direbus dengan bumbu, maka satenya bisa langsung disajikan. Sementara itu, bila ingin dibakar sebelum disajikan ya boleh. Namum pembakaran itu jangan terlalu lama. Dikhawatirkan bisa gosong. Sebab daging satenya juga sudah direbus atau matang sebelum dibakar,” ungkapanya.

Untuk bisa menikmati Sate Serepeh, Anda tak perlu khawatir untuk merogoh kantong terlalu dalam, sebab, untuk satu porsinya hanya dihargai Rp 13.000. “Untuk harganya, satu tusuk Rp 1.500 dan untuk satu porsi sekitar Rp 13 ribu. Itu sudah termasuk nasi dan minuman,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

 

Dari Jualan Kopi Lelet, Marsinah Bisa Kuliahkan Anaknya

 Marsinah tengah menyangrai biji-biji kopi untuk dijual di warung kopi miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Marsinah tengah menyangrai biji-biji kopi untuk dijual di warung kopi miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Biji-biji kopi bagi Marsinah bisa membawa berkah. Dari biji kopi pilihan yang diperolehnya dari Semarang, Marsinah bisa jualan kopi lelet di warung miliknya di Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa, Pati.

Kendati terlihat begitu sederhana, dari biji kopi itu Marsinah bisa bertahan hidup untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari biji kopi pula, Marsinah bisa menyekolahkan anak pertamanya hingga jenjang perguruan tinggi di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Tak hanya itu, dua anak perempuannya juga bisa sekolah dengan lancar dan baik. Karena itu, biji kopi bagi Marsinah adalah berkah. Namun, biji kopi itu tidak akan bisa membawa berkah tanpa dilandasi dengan usaha, kerja keras, dan doa.

“Alhamdulillah, dari jualan kopi lelet hasil buatan sendiri, saya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. saya bisa menyekolahkan anak-anak hingga anak pertama bisa kuliah di UNNES,” ungkap Marsinah, Senin (1/8/2016).

Dia mengaku, usaha kopi lelet itu dilakukan secara turun temurun dari keluarga suaminya. Karena itu, usaha itu bisa jadi nanti diwariskan kepada keturunannya. Namun, ia tidak memaksa bila anaknya nanti tidak ada yang mau melanjutkan warungnya tersebut.

“Warung kopi ini memang turun temurun. Namun, bila saya nanti harus pensiunan dan istirahat dari jualan, anak-anak bisa memilih pekerjaan terbaiknya, tidak harus berjualan kopi,” tutur Marsinah.

Sidik, salah satu pelanggan asal Trangkil mengaku tidak bisa lari dari kopi bikinan Marsinah. Bahkan, ia mulai langganan dari SMP hingga bekerja. “Saya sudah biasa ngopi di sini. Kopinya lembut dan mantap,” ujar Sidik.

Editor : Kholistiono

 

Jualan Kopi Lelet, Warga Panggungroyom Pati Raup Omzet Jutaan Rupiah

 Marsinah, pemilik warung kopi lelet tengah menyangrai kopi di rumahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Marsinah, pemilik warung kopi lelet tengah menyangrai kopi di rumahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah warung kopi lelet yang berada di Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa tak pernah sepi dari pengunjung. Buka sejak pagi hingga pukul 17.00 WIB, warung ini kembali buka pukul 19.00 WIB sampai 24.00 WIB.

Adalah Marsinah (41), pemilik warung yang sudah lama bergelut usaha kecil-kecilan di bidang kopi. Marsinah mengaku, usahanya itu melanjutkan warung milik mertuanya yang sudah ada sejak 30 tahun yang lalu.

“Warung ini sudah ada ketika suami masih kecil. Jadi, saya tinggal melanjutkan warung kopi ini. Tak hanya melanjutkan, tetapi saya juga mewarisi resep rahasia dari kopi yang dibuat,” ujar Marsinah, Senin (1/8/2016).

Dalam memproduksi kopi lelet, Marsinah tidak membeli bahan jadi. Tapi, ia membeli biji-biji kopi pilihan dari Kota Semarang. Biji kopi itu disangrai langsung di rumahnya untuk dijadikan sebagai bubuk kopi.

Kopi yang disangrai tersebut berasal biji kopi murni tanpa adanya campuran bahan lain. Hal itu yang membuat kopi buatan Marsinah benar-benar asli, original, dan bisa menghasilkan jenis kopi lelet yang benar-benar mantap.

Satu cangkir kopi buatan Marsinah dihargai Rp 2.500. Kendati harganya terbilang terjangkau, tetapi kopi buatan Marsinah laris manis diburu penikmat kopi karena rasanya yang khas.

Dalam sehari, Marsinah sanggup menjual ratusan cangkir kopi dari pelanggan yang tersebar di berbagai daerah. Tak ayal, Marsinah sanggup mengantongi omzet jutaan rupiah setiap bulannya. Bila sehari menjual kopi rata-rata 100 cangkir, Marsinah bisa mengantongi omzet Rp 7,5 juta per bulan.

Editor : Kholistiono

Menikmati Segarnya Legen Asli Rembang

Salah satu pedagang sedang menjajakan buah siwalan dan legen (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu pedagang sedang menjajakan buah siwalan dan legen (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Minuman dan buah yang satu ini cukup sering ditemui ketika Ramadan, karena memang sangat segar ketika dinikmati saat berbuka. Meski di luar bulan tersebut cukup sulit untuk menemukan minuman khas ini, namun jangan khawatir, di Rembang Anda akan cukup mudah untuk mendapatkannya.

Ketika melintas di Jalan Rembang-Blora, Anda akan menemukan buah dan minuman khas ini, yaitu siwalan dan legen. Puluhan pedagang terlihat menjajakan siwalan dan legen di sepanjang jalan ini.

Salah seorang pedagang Siwalan Martini (50) dari Desa Pranti, Sulang menuturkan, meskipun Rembang terkenal dengan pesisir, namun kota ini juga mempunyai hasil perkebunan yang cukup terkenal, yaitu buah siwalan.“Kombinasi buah siwalan dengan campuran legen dijamin sanggup memberi kesegaran luar biasa. Tidak percaya, silahkan dicoba,” katanya.

Dia melanjutkan, selain sebagai oleh-oleh di saat perjalanan jauh, buah siwalan maupun air legen ini juga bisa dinikmati di tempat. Untuk bisa menikmati segarnya legen dan buah siwalan ini, tak perlu khawatir merogoh kocek banyak. Karena, untuk satu bungkus siwalan yang berisi 10 buah siwalan, hanya dihargai Rp 10 ribu. Sedangkan untuk air legen hanya dihargai Rp 5 ribu per botolnya.

“Harganya sendiri Rp 10 ribu untuk satu bungkus siwalan, dan untuk legennya hanya Rp 5 ribu per botolnya. Selain itu, kita juga menjual air legen untuk bisa diminum di sini. Yakni untuk satu gelasnya dengan dicampur es batu hanya Rp 2 ribu,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk hasil bumi siwalan dan legen ini memang rata rata yang berada di wilayah Rembang bagian selatan atau pegunungan.”Buah dan minuman ini bisa sebagai penghilang dahaga saat perjalanan jauh,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Menikmati Enaknya Dumbek, Jajanan Khas Rembang

 Dumbek, kue tradisional khas Rembang yang rasanya legit (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Dumbek, kue tradisional khas Rembang yang rasanya legit (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pernahkah Anda mendengar nama Dumbek? Tentu di antara Anda, mungkin masih banyak yang belum tahu dan mendengar tentang nama itu. Karena Dumbek memang jarang ada di daerah lainnya, selain di Jawa, khususnya Pantura Timur, salah satunya di Rembang.

Dumbek adalah nama kue tradisional yang nikmat dan khas di Rembang. Kue ini terbuat dari bahan-bahan yang sederhana berupa tepung beras, santan kelapa dan gula jawa yang direbus. Kue ini berwarna cokelat yang berasa manis dengan tekstur kenyal.

Salah satu hal yang juga sangat menarik perhatian dari kue ini selain rasanya adalah, kemasan yang sangat unik sekali karena dibungkus oleh daun kelapa yang masih muda atau orang Jawa sering menyebutnya sebagai janur kuning, yang dibentuk seperti terompet atau kerucut.

 Dumbek, kue tradisional khas Rembang yang rasanya legit (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Dumbek, kue tradisional khas Rembang yang rasanya legit (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Maka tidak heran pada masa kejayaannya, kue ini juga sangat disukai oleh anak-anak kecil karena kemasan yang agak mirip seperti mainan tradisional, namun banyak juga orang dewasa yang suka jajanan tersebut.

Salah seorang pembuat jajanan Dumbek dari Lasem Rumiah (55) mengatakan, makanan ini memang terbilang kuno. Namun demikian, jajanan ini tak jarang selalu ada ketika ada acara penting.”Seperti halnya mantu, hajatan, bahkan acara resmi penyambutan bupati atau pejabat,” katanya.

“Rasanya kenyal, legit. Sebab dalam pembuatannya menggunakan bahan alami. Yakni tepung kanji yang dicampur dengan gula aren. Sementara, campuran itu dimasukan ke dalam janur atau daun lontar yang sudah dibentuk menyerupai terompet atau kerucut,” paparnya.

Editor : Kholistiono

 

Seni di Balik Secangkir Kopi Lelet

Kopi Lelet khas Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kopi Lelet khas Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bagi para pecinta kopi sejati belum lengkap rasanya kalau belum merasakan nikmatnya Kopi Lelet.  Kopi Lelet ini mempunyai ciri tersendiri cara menikmatinya, yaitu meleletkan ampas kopi ke batang rokok, bisa rokok kretek maupun rokok putih.

Kopi Lelet adalah kopi tradisional yang digiling menjadi sangat halus yang berasal dari Rembang, dan sudah sangat terkenal terutama bagi pecinta dan penikmat kopi lokal. Karena sangat halusnya, ampas kopi tersebut dapat dileletkan di batang rokok.

Kegiatan membatik di batang rokok merupakan kegiatan yang menyatukan rasa seni dan rasa kopi, sehingga dapat menimbulkan kenikmatan tersendiri.

Jika Anda berkunjung ke Rembang, cukup mudah untuk bisa menikmati Kopi Lelet. Sebab, hampir di setiap warung atau angkringan menyediakan Kopi Lelet. Untuk bisa menikmati kopi ini, Anda juga tak perlu merogoh kocek dalam-dalam, karena harganya berkisar Rp 2-3 ribu per cangkir.

Lebih dari itu, Kopi Lelet ini ternyata juga bisa menjadi media silaturrahmi dan menjalin keakraban. Karena, mengobrol atau membincangkan sesuatu bisa lebih rileks dengan ditemani Kopi Lelet. Apalagi dipadu dengan gorengan, akan semakin nikmat.

“Kalau lagi ngobrol sama temen atau rekan-rekan kerja, bisa lebih asyik kalau ditemani Kopi Lelet. Apalagi yang dari luar daerah, pasti penasaran dengan kopi khas Rembang ini,” Mulyono, warga Tasikagung Rembang.

Selain itu, ngopi bareng juga disebutnya untuk media relaksasi dari rasa capek, karena seharian sibuk dengan pekerjaan. “Bila sudah ngopi, rasa capek, suntuk, jenuh setelah bekerja itu bisa langsung plong, hilang. Sehingga di tubuh juga ada rasa semangat dan bugar,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ini Rahasia di Balik Kenikmatan Wedang Cemue Khas Pati

 

 Tampak irisan kelapa mengambang dalam segelas wedang cemue yang memiliki rasa manis bercampur pedas. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Tampak irisan kelapa mengambang dalam segelas wedang cemue yang memiliki rasa manis bercampur pedas. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Di balik kenikmatan wedang cemue sebagai minuman tradisional khas Pati, selalu ada resep rahasia. Marsono (50), penjual wedang cemue di Jalan Pati-Tayu Km 9 membeberkannya.

“Banyak orang bilang, wedang cemue buatan saya punya rasa yang berbeda dengan wedang cemue lainnya. Memang, ada ramuan khusus dalam wedang buatan saya. Ramuan itu berasal dari rempah-rempah hasil kekayaan Nusantara,” ujar Marsono.

Secara keseluruhan, wedang cemue dibuat dari gula Jawa, santan, irisan kelapa, dan merica. Dalam meramu, komposisi harus tepat, sehingga rasanya bisa pas antara manis dan pedas. Bila terlalu banyak merica, maka rasanya terlalu pedas dan aneh.

Marsono mengaku sudah jualan wedang cemue sejak enam tahun yang lalu. Berhubung wedang cemue masih sedikit yang menjual, ia terpanggil untuk melestarikan minuman wedang cemue sebagai warisan kekayaan kuliner leluhur.

Upaya untuk melestarikan cemue yang dilakukan Marsono mendapatkan perhatian dari Pemkab Pati. Dia mendapatkan bantuan berupa gerobak dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Pati.

Sebagian besar pelanggan minum di tempat dan beberapa di antaranya membungkusnya sebagai oleh-oleh di rumah. Buka dari pukul 17.00 WIB, wedang cemue buatan Marsono biasa habis sekitar pukul 22.00 WIB sampai 23.00 WIB.

Baca juga : Berburu Wedang Cemue di Kawasan Wedarijaksa Pati

 Editor : Kholistiono

 

 

Berburu Wedang Cemue di Kawasan Wedarijaksa Pati

 Seorang pengunjung tengah menikmati sensasi Wedang Cemue di Jalan Pati-Tayu Km 9, Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Seorang pengunjung tengah menikmati sensasi Wedang Cemue di Jalan Pati-Tayu Km 9, Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pati ternyata tak hanya memiliki kuliner Nasi Gandul dan Soto Kemiri yang sudah dikenal sebagai makanan khas Bumi Mina Tani. Di bidang minuman, ada satu jenis minuman tradisional yang banyak ditemui di berbagai daerah di Pati.

Adalah cemue. Minuman ini sudah lama dikenal warga Pati sebagai minuman tradisional yang memiliki rasa manis berpadu pedas. Rasa manis berasal dari gula Jawa, sedangkan sensasi pedas dari merica.

Uniknya, ada irisan kelapa kecil yang bercampur dalam minuman. Bukan kelapa muda yang diserut, melainkan kelapa sedang, tidak tua juga tidak muda, diiris kecil-kecil. Orang Pati menyebutnya irisan cikalan.

Minuman ini jarang ditemukan di restoran. Hanya warung-warung kecil yang menyediakan minuman tradisional warisan leluhur warga Pati ini. Harganya pun sangat murah, sekitar Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu.

Marsono, misalnya. Penjual wedang cemue yang menjajakan di Jalan Pati-Tayu Km 9, Wedarijaksa ini biasa menjual satu gelas Wedang Cemue dengan Rp 2 ribu. Tak ayal, warung Marsono yang menyediakan Wedang Cemue selalu habis.

“Saya hanya berjualan cemue sekitar pukul 17.00 WIB sampai 23.00 WIB. Pembeli ternyata tidak hanya dari Pati saja, tetapi juga luar daerah seperti Jepara dan Kudus yang kebetulan singgah di Pati dan berburu wedang cemue,” tutur Marsono.

Bagi sejumlah pembeli, Wedang Cemue tidak hanya menawarkan sensasi minuman tradisional yang menyegarkan. Lebih dari itu, sebagian orang meyakini Wedang Cemue yang dibuat dari bahan rempah tradisional bisa membuat tubuh sehat.

Ahmad Muharror, pembeli asal Wedarijaksa mengaku sudah sering datang ke warung Marsono. Ia merasa lebih segar setelah minum Wedang Cemue. Selain segar di mulut dan badan, kata Ahmad, Wedang Cemue juga nyaman di kantong.

Editor : Kholistiono

 

Inilah Filosofi Lontong Tuyuhan yang Perlu Kamu Tahu

f-lontong tuyuhan (e)

Lontong Tuyuhan yang bentuknya segitiga (MuriaNewsCom/Edi Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jika berkunjung ke Kabupaten Rembang, belum lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner khasnya. Salah satunya adalah Lontong Tuyuhan. Ya, Kuliner yang berasal dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur ini dipercaya para pecinta kuliner memiliki cita rasa khas jika disantap langsung di tempat asalnya.

Namun, tahukah Anda? Jika bentuk Lontong Tuyuhan memiliki perbedaan dengan lontong yang selama ini dijumpai. Jika pada umumnya lontong dibungkus dengan daun pisang dengan bentuk bulat dan memanjang, namun lain halnya Lontong Tuyuhan yang bentuknya segi tiga.

Di balik bentuk Lontong Tuyuhan yang segi tiga itu, ternyata memiliki makna dan filosofi tersendiri. Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang Edi Winarno mengatakan, bentuk segi tiga pada Lontong Tuyuhan itu menggambarkan unsur terterntu yang saling berhubungan.

Pertama, katanya, memiliki makna Ketuhanan. Yakni, manusia sebagai hamba-Nya harus taat perintah dan menjauhi larangan atau amal makruf nahi munkar. Jika hal itu dijalankan, maka kehidupan manusia, khususnya di Rembang bisa berjalan dengan baik, dengan berpedoman pada agama.

Menurutnya, Jika dikaitkan dengan hal itu, tak heran di Rembang banyak dijumpai ratusan pondok pesantren maupun sekolah agama. Sehingga kehidupan di kota Rembang sangat kental sekali ajaran agamanya.

“Yang kedua yakni, manusia harus taat akan Rasul hingga ulama. Sebab, mereka yang membimbing kehidupan manusia akan sesusai dengan perintah agama. Dan itu nantinya akan bermuara pada makna yang pertama. Yakni taat kepada Tuhan,” paparnya.

Selanjutnya, untuk yang ketiga yaitu, taat pada pemerintah. Hal ini, supaya kehidupan warga bisa tertata dan sejahtera. “Selain itu, Lontong Tuyuhan yang dibungkus daun pisang ini, juga ada tiga lidi yang ditusukkan, yang berfungsi sebagai perekat, sehingga berasnya tidak berceceran. Tiga lidi ini juga memiliki makna tegak lurus, yaitu, ajaran agama harus benar-benar diamalkan, atau tegak lurus jangan tergoyahkan,” ujarnya.

 

Editor : Kholistiono

Hemmm…Nikmatnya Kuliner Lontong Tuyuhan Khas Rembang

Lontong Tuyuhan, kuliner khas Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Lontong Tuyuhan, kuliner khas Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Melintasi Kabupaten Rembang, belum lengkap rasanya jika tidak menikmati salah satu menu khas Kota Garam tersebut, yakni lontong tuyuhan. Kuliner yang berasal dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur ini dipercaya para pecinta kuliner memiliki cita rasa khas jika disantap langsung di tempat asalnya.

Sehingga meskipun sudah banyak makanan serupa beredar di daerah lain, namun masyarakat Rembang meyakini bahwa jika tidak dimasak menggunakan air dari Desa Tuyuhan, rasa lezatnya kian terasa.

Sebutan lontong tuyuhan ini muncul karena masakan itu berasal dari Desa Tuyuhan. Konon, resep lontong ini diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur Desa Tuyuhan. Bahkan lontong tuyuhan ini diyakini sudah ada sejak ratusan tahun silam saat penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Bonang di kawasan Kecamatan Pancur.

Menu yang terdiri dari lontong dipadukan dengan opor ayam kampung, menjadikan makanan khas ini layak untuk dicoba. Sajian lontong dari Desa Tuyuhan ini memang mirip dengan lontong opor ayam seperti pada umumnya. Perbedaannya hanya pada kuah tak terlalu kental dan lebih pedas karena rasanya menonjolkan rempah-rempah dan cabe.

Salah satu penjual Lontong Tuyuhan menunjukkan bentuk lontong yang dibungkus daun pisang  dengan bentuk segitiga (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu penjual Lontong Tuyuhan menunjukkan bentuk lontong yang dibungkus daun pisang dengan bentuk segitiga (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

Tidak sulit mencari menu satu ini, karena hampir di seluruh daerah Rembang terdapat banyak warung yang menyediakan lontong tuyuhan. Namun, cita rasa dan suasananya khas hanya dapat dijumpai di Pusat Kuliner Lontong Tuyuhan yang berlokasi di pinggir Jalan Raya Lasem-Jape, atau tepatnya di Dukuh Karanglo, Desa Tuyuhan.

Salah satu penjual Lontong Tuyuhan Sri Lestari mengungkapkan, bentuk Lontong Tuyuhan berbeda dengan lontong pada umumnya, yang biasa dibungkus daun pisang dengan bentuk bulat lonjong.  “Kalau lontong lainnya itu dibungkus dengan daun pisang dan dibentuk lonjong bulat, sedangkan Lontong Tuyuhan dibungkus daun pisang bentuknya segi tiga,” paparnya.

Untuk bisa menikmati Lontong Tuyuhan, tidak perlu khawatir untuk merogoh kocek yang dalam. Karena, cukup dengan Rp 12 ribu, Anda sudah bisa menyantap makanan khas Rembang ini. “Satu porsi Rp 12 ribu. Lontong Tuyuhan biasanya diberi kuah opor dengan daging ayam kampung,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Ribuan Warga Rembang Nikmati Lontong Tuyuhan dengan Gratis

 Beberapa warga tampak menikmati Lontong Tuyuhan yang telah disediakan secara gratis di Alun-alun Rembang(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Beberapa warga tampak menikmati Lontong Tuyuhan yang telah disediakan secara gratis di Alun-alun Rembang(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ribuan warga yang berada di Alun-alun Rembang, ataupun warga yang kebetulan sedang lewat tempat tersebut pada Rabu (27/7/2016) pagi, bisa mencicipi nikmatnya Lontong Tuyuhan secara gratis.

Setidaknya, ada 10 ribu porsi Lontong Tuyuhan yang disediakan untuk warga. Sajian makanan ini, tak lain dalam rangka memeriahkan pesta rakyat untuk menyambut Hari Jadi ke 275 Kabupaten Rembang.

Dari pantauan MuriaNewsCom, kuliner Lontong Tuyuhan tersebut disediakan di tepi alun-alun atau di berbagai stand yang ada. Warga yang turut merayakan pesta rakyat bahkan para pengguna jalan bisa mampir sejenak untuk bisa makan gratis.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menuturkan, untuk penyediaan Lontong Tuyuhan ini, Pemda Rembang bekerjasama dengan masyarakat. “Setiap desa yang ada di Rembang ikut memberikan sumbangan kuliner khas ini,” ujarnya.

Ia katakan, dalam rangka Hari Jadi Rembang yang disemarakkan dengan pesta rakyat, diharapkan warga memang bisa ikut merasakan kebahagiaan. “Karena ini kan pesta rakyat, jadi kuliner Lontong Tuyuhan ini bisa dinikmati siapa saja secara gratis,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono