Cegah Penyakit, Dinkes Kudus Ajarkan Pengelolaan Limbah Rumah Tangga

BEKAL BINA WARGA: Peserta pertemuan pengelolaan limbah rumah tangga yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus sedang mendengarkan materi dari narasumber. Kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan limbah rumah tangga untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

BEKAL BINA WARGA: Peserta pertemuan pengelolaan limbah rumah tangga yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus sedang mendengarkan materi dari narasumber. Kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan limbah rumah tangga untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penyakit yang timbul di masyarakat tidak serta merta disebabkan faktor lingkungan sekitar yang kurang sehat. Lebih dari itu, perilaku warga dalam mengelola limbah rumah tangga juga memiliki andil besar. Karena itulah, sebelum menjaga kebersihan lingkungan, warga harus terlebih dahulu membersihkan sudut-sudut rumahnya dari berbagai bakteri yang berpotensi menimbulkan penyakit.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus sebagai institusi pemerintah yang bertanggung jawab tentang bidang kesehatan, memiliki kewajiban untuk ikut serta dalam upaya mencegah timbulnya penyakit. Karena itulah, beberapa waktu lalu Dinkes Kudus menggelar Pertemuan Pembinaan Pengelolaan Limbah Rumah Tangga di RM Festival Penyet Kudus.

Pertemuan ini diikuti 15 peserta 15 orang yang berasal dari petugas sanitarian puskesmas di seluruh Kudus. Yakni, sanitarian Puskesmas Kaliwungu, Puskesmas Sidorekso, Puskesmas Gribig, Puskesmas Gondosari, Puskesmas Dawe, dan Puskesmas Rejosari. Selain itu, peserta juga ada yang merupakan utusan  Puskesmas Dersalam, Puskesmas Bae, Puskesmas Ngembal Kulon, Puskesmas Jati, Puskesmas Purwosari, Puskesmas Wergu Wetan, Puskesmas Rendeng, Puskesmas Undaan, serta Puskesmas Ngemplak.

Kepala Dinkes Kudus dr Maryata melalui Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dr F Hikari Widodo MKes menjelaskan,    Peraturan Menteri Kesehatan  Nomor 3 Tahun 2014 tentang  Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan program nasional penanganan masalah sanitasi yang bertumpu pada kemandirian masyarakat. Program ini terdiri dari 5 pilar, sedangkan pilar kelima adalah pengelolaan limbah cair rumah tangga.

”Sasaran pilar kelima  STBM diantaranya memberdayakan masyarakat dalam penanganan Limbah cair domestik yang berasal dari kamar mandi, dapur (mengandung sisa makanan), dan tempat cuci,” kata Hikari.

Limbah cair ini, lanjut Hikari, biasanya menggenang sebelum mengalir. Sehingga tempat di sekitarnya menjadi bau, kotor, sarang kuman, dan kumuh, dan akan banyak lalat dan nyamuk yang bersarang di genangan air kotor yang lama-lama akan menjadikan tempat di sekitarnya berlumut, menghitam, dan bau.

Bau tersebut disebabkan oleh adanya proses dekomposisi zat organik yang memerlukan oksigen terlarut, sehingga dapat menurunkan kandungan oksigen terlarut dalam air limbah, ditandai oleh warna air limbah kehitaman, berbusa, dan berbau busuk. Untuk menghindari dampak buruk akibat pembuangan limbah cair rumah tangga diperlukan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman program pilar kelima STBM bagi petugas terkait, yang selanjutnya akan disebarluaskan kepada masyarakat binaannya.

Melalui STBM, selain Stop BABS, diharapkan perilaku higiene masyarakat meningkat dengan kebiasaan CTPS, mengkonsumsi air dan makanan sehat, mengelola sampah dengan benar serta limbah cair secara aman. ”Untuk itu, mendokumentasikan berbagai pembelajaran melalui pilar pilar STBM dengan pengelolaan pengetahuan menjadi sangat penting dalam rangka percepatan pencapaian desa-desa STBM di tiap kabupaten,” terangnya.

Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Rusiyati SPd, Mkes menambahkan, pada pertemuan ini peserta mendapat materi kelas dan praktik. Ada dua materi kelas, yakni Regulasi Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga dan Sistem Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga. Sementara, untuk praktik display mengambil tempat di rumah salah satu warga Desa Krandon RT 05/ RW I, Kecamatan Kota.

”Kegiatan ini untuk menyamakan persepsi tentang upaya penyelenggaraan pengelolaan limbah cair rumah tangga, meningkatkan komitmen  petugas dalam penyelenggaraan pengelolaan limbah rumah tangga, dan disepakatinya rencana tindak lanjut penyelenggaraan pengelolaan limbah rumah tangga. Selain itu, juga untuk menciptakan sistem pengelolaan limbah rumah tangga untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan,” imbuh Rusiyati.

Editor : Akrom Hazami

 

Gandeng Dinas Pendidikan, Dinkes Kudus Sosialisasikan Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah

 

SOSIALISASI KTR: Sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus di UPT Puskesmas Bae, Kecamatan Gebog. dinkes Kudus memberikan informasi dan pengetahuan tentang dampak asal rokok terhadap kesehatan pada lingkungan pendidikan.

SOSIALISASI KTR: Sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus di UPT Puskesmas Bae, Kecamatan Gebog. dinkes Kudus memberikan informasi dan pengetahuan tentang dampak asal rokok terhadap kesehatan pada lingkungan pendidikan.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Berdasarkan hasil survei Global Adult Tobacco Survey tahun 2011, Indonesia memiliki prevalansi perokok aktif tertinggi. Disebutkan,  67,4 persen pria dewasa dan 4,5 perempuan dewasa atau secara keseluruhan sebanyak 36,1 persen orang dewasa mengkonsumsi tembakau, baik dengan asap yakni merokok maupun tanpa asap. Bahkan kebiasaan merokok di kalangan anak meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir. Dalam rilis yang dikeluarkan Komunitas Pengendali Tembakau, terdapat anak usia 13-15 tahun merupakan perokok aktif.

Dengan kondisi konsumsi rokok di Indonesia yang sudah sangat mengkhawatirkan ini, kampanye bertemakan “Sudah Waktunya Melek Bahaya Rokok” adalah sebagian kecil dari usaha-usaha guna menanggulangi gempuran strategi merketing rokok yang sangat agresif. Tentunya diharapkan kegiatan serupa yang lebih besar dan menyeluruh untuk menaggulangi masalah merokok di Indonesia.

Di Kudus, upaya untuk melindungi masyarakat dari ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok sudah dilakukan. Hal itu bisa dilihat dari keluarkannya Peraturan Bupati Kudus Nomor 18 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok di Kabupaten Kudus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus dr Maryata menjelaskan, KTR merupakan ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan dan atau mempromosikan produk tembakau. ”Sedangkan, tempat khusus untuk merokok adalah ruangan yang diperuntukkan khusus untuk kegiatan merokok yang berada di luar KTR,” kata Maryata.

Dia menjelaskan, penetapan KTR ini merupakan upaya perlindungan untuk masyarakat terhadap risiko dan ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. Adapun tempat-tempat yang termasuk dalam kategori KTR meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, dan angkutan umum.

Baru-baru ini, Dinkes Kabupaten Kudus bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dispora) menggelar sosialisasi informasi dan pengetahuan tentang dampak asap rokok terhadap kesehatan pada lingkungan pendidikan. Acara yang diselenggarakan di UPT Puskesmas masing-masing wilayah tersebut melibatkan UPT Dinas Pendidikan tingkat kecamatan, PPAI Kecamatan, pengelola/pemilik yayasan pendidikan, kepala sekolah SD serta SMP, dan peserta dari lintas sektor terkait. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi KTR di sembilan kecamatan pada tahun 2015 lalu.

Kasi Promosi Kesehatan pada Dinkes Kabupaten Kudus Rofiq Sugiharti menambahkan, pelaksanaan kegiatan ini juga merupakan implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah.

Pada Pasal 4 disebutkan, untuk mendukung kawasan tanpa rokok di lingkungan sekolah, maka pihak sekolah wajib melakukan sejumlah kebijakan. Langkah lainnya, memasukkan larangan terkait rokok dalam aturan tata tertib sekolah, melakukan penolakan terhadap penawaran iklan, promosi, pemberian sponsor, dan/atau kerja sama dalam bentuk apapun yang dilakukan oleh perusahan rokok dan/atau organisasi yang menggunakan merek dagang, logo, semboyan, dan/atau warna yang dapat diasosiasikan sebagai ciri khas perusahan rokok, untuk keperluan kegiatan kurikuler atau ekstra kulikuler yang dilaksanakan di dalam dan di luar sekolah.

”Penetapan KTR di sekolah memiliki banyak manfaat. Antara lain, mewujudkan perilaku hidup bersih dan sehat didukung dengan penciptaan lingkungan yang bebas dari pengaruh rokok,” urainya.

Manfaat lain dari KTR di lingkungan sekolah juga dalam rangka memberikan perlindungan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan dari dampak buruk rokok. Sehingga, dengan adanya sosialiasi ini diharapakan mampu tercipta sekolah sebagai tempat yang sehat dan nyaman tanpa asap rokok dengan menerapkan Kawasan Tanpa Rokok.

Dalam permendikbud tersebut juga diatur bahwa kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan pihak lain dilarang merokok, memproduksi, menjual, mengiklankan, dan atau mempromosikan rokok di lingkungan sekolah.

Dia menambahkan, dari hasil sosialisasi KTR di setiap puskesmas ini, muncul banyak usulan yang menginginkan adanya penyuluhan dampak merokok terhadap kesehatan di setiap sekolah. ”Kepala sekolah dapat memberikan sanksi kepada guru, tenaga kependidikan, dan pihak lain yang terbukti melanggar ketentuan kawasan tanpa rokok di lingkungan sekolah,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Awas! Limbah Medis Puskesmas Berbahaya

Salah satu pelayanan kesehatan. Untuk diketahui limbah kesehatan berbahaya jika tidak diolah dengan baik (MuriaNewsCom)

Salah satu pelayanan kesehatan. Untuk diketahui limbah kesehatan berbahaya jika tidak diolah dengan baik (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Limbah medis dari rumah sakit atau sarana pelayanan kesehatan lainnya, seperti puskesmas, berpotensi menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Untuk itu, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sangat diperlukan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Maryata melalui Kasi Penyehatan Lingkungan Rusiyati mengatakan, keberadaan IPAL sangat diperlukan, agar limbah medis yang dihasilkan sarana pelayanan kesehatan dapat diolah dengan baik, sehingga tidak berbahaya bagi manusia.

“Agar limbah tersebut tidak berdampak buruk terhadap manusia, maka dibutuhkan pengolahan limbah yang baku, sesuai dengan standar yang ditentukan. Agar lingkungan sekitar tidak tercemar dengan adanya limbah medis tersebut,” katanya.

Menurutnya, puskesmas berperan dalam pelayanan kesehatan lingkungan, makanya dibutuhkan sarana dan prasarana yang baik. Dalam hal ini, untuk di Kudus, alat pengolahan limbah sudah diberikan ke masing-masing puskesmas.

“Puskesmas Rejosari sudah ada IPAL, karena sebagai puskesmas paru, sehingga fasilitasnya harus mendukung. Dan, untuk puskesmas lainnya, kini IPAL-nya sedang dalam proses pembuatan, yang dananya diambilkan dari dana APBD Kabupaten Kudus,” ungkapnya.

Kepala Puskesmas Gondosari, Kecamatan Gebog Yudo Sutrisno mengatakan, pembuatan IPAL sudah hampir selesai. Ada tiga lubang di antaranya untuk septic tank, pengolahan limbah dan kolam.”Kalau kolam untuk wadah air hasil pengolahan, nantinya juga akan diberi ikan sebagai penanda air hasil olahan limbah nanti bebas racun atau belum. Dan, pengadaan IPAL ini akan ada sertifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup,”ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Belasan IPAL untuk Puskesmas di Kudus Mulai Dibangun

Salah satu puskesmas di Kudus. Kini, IPAL untuk puskesmas di Kudus mulai dibangun (MuriaNewsCom)

Salah satu puskesmas di Kudus. Kini, IPAL untuk puskesmas di Kudus mulai dibangun (MuriaNewsCom)

     MuriaNewsCom, Kudus – Belasan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk puskesmas yang ada di Kudus, kini mulai dibangun. Dari belasan IPAL yang dibangun tersebut, yakni dengan rincian, untuk 18 puskesmas dan 1 Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kudus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter Maryata melalui Kasi Penyehatan Lingkungan Rusiyati mengatakan, pembuatan IPAL tersebut didasarkan pada Kepmen Lingkungan Hidup (LH) Nomor 58 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Rumah Sakit, yang tercantum kewajiban pengelola dan penanggung jawab sarana pelayanan kesehatan.

“Selain itu juga  berdasarkan Permenkes Nomor 13 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan di Lingkungan Puskesmas. Jadi pembuatan IPAL ini memang sangatlah penting,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Rusi menerangkan, untuk di Kudus, baru satu puskesmas yang memiliki IPAL, yakni Puskesmas Rejosari, Jekulo. Sedangkan yang lainnya masih belum memiliki, sehingga dibutuhkan adanya IPAL tersebut, dan kini sedang dalam proses pembuatan.”Sekarang ini puskesmas sedang melakukan proses pembuatan IPAL yang sesuai dengan standar. Mudah-mudahan segera selesai,” ungkapnya.

Sebelumnya, kata dia, sudah ada pengolahan limbah di puskesmas. Hanya, pengelolaan tersebut masih kurang memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah. Sehingga hal tersebut diperlukan IPAL yang benar-benar sesuai standar.

Editor : Kholistiono

Ingin Kuat Puasa Seharian, Konsumsi Makanan Ini Saat Sahur

f-makanan

  MuriaNewsCom, Kudus – Makanan yang kita konsumsi saat sahur berpengaruh besar dalam hal menjaga stamina tubuh saat sedang berpuasa. Jika makanan yang dikonsumsi tidak memiliki nilai gizi yang baik, maka tubuh Anda akan mudah lemas dan cepat lelah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata mengatakan, puasa yang dilakukan seharian membutuhkan makanan yang tidak mudah dicerna. Hal itu akan membantu perut tetap terasa kenyang, sehinga kuat hingga berbuka.

“Seperti halnya gandum, padi-padian, kacang-kacangan, biji-bijian, nasi merah, serta sayur-sayuran. Jenis makanan itu, tidak dapat langsung dicerna melainkan membutuhkan proses yang agak lama. Makanan tersebut tidak cepat dicerna, dan juga memenuhi asupan gizi untuk kebutuhan tubuh. Makanan jenis itu juga memiliki serat yang cukup tinggi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain makanan yang dapat menunjang agar tetap kuat untuk berpuasa, terdapat pula makanan atau minuman yang sebaiknya dihindari saat sahur. Makanan tersebut, dapat membuat orang yang puasa cepat lapar dan cepat haus.

“Saat sahur usahakan untuk membatasi asupan teh dan kopi. Sebab, dua minuman tersebut membuat metabolisme berjalan cepat. Sehingga cepat mendatangkan rasa haus meski tak dehidrasi,” ungkapnya

Dia menyarankan lebih banyak mengkonsumsi air mineral. Sebab, dapat mengobati haus dan butuh proses yang lumayan lama untuk haus lagi. Sebaliknya, makanan atau minuman manis akan membuat cepat haus.

Editor : Kholistiono

Tips Sehat Menjual Jajanan Sekolah di Kudus

jajan sekolah e

Penjual jajanan sekolah saat melayani pembeli di Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kesehatan Kudus (Dinkes) jengah dengan jajanan sekolah yang dinilai kurang menjaga kesehatan.

Karenanya, mereka akan menggelar sosialisasi tentang menjaga kesehatan dan kebersihan jajanan sekolah.

Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinkes Kudus Rusiyati mengatakan, sosialisasi tentang jajanan sehat akan segera digelar. Dengan pesertanya, kepala dan kantin sekolah.

“Supaya pembeli nantinya juga nyaman saat jajan di kantin sekolah tersebut,” kata Rusiyati.

Rencananya, Dinkes akan menyampaikan materi penting bagi mereka. Antara lain, bagaimana bisa menyimpan makanan dengan baik dan benar.

“Dari arahan itu di antaranya ialah satu, penjual atau pemilik kantin harus bisa menjauhkan tempat sampah dari lingkungan kantin. Supaya lalat, debu, serangga tidak mendekat ke kantin itu,” paparnya.

Kedua, yakni penjual jajanan harus bisa menggunakan penjepit makanan. Terutama saat mengambil jajan atau makanan. “Jangan sampai mengambil makanan dengan tangan telanjang,” tambahnya.

Ketiga ialah para penjual makanan harus bisa mengunakan alat-alat perabot rumah tangga. Jadi, saat melakukan proses membuat makanan, sekali lagi tidak pakai tangan telanjang.

Dalam hal ini ialah mengaduk adonan gorengan, maupun makanan yang lainnya. Keempat adalah makanan harus dikemas dengan barang yang bersih. Misal, jangan menggunakan koran atau yang lainnya.

Yang kelima ialah para penjual makanan jangan menggunakan formalin, pengawet makanan, dan pewarna makanan. Dan yang keenam ialah para penjual makanan dan minuman harus selalu membuat makanan dan minuman menggunakan air matang. “Dan jangan air mentah,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Saat Buka Puasa, Makanan Ini Sangat Baik untuk Dikonsumsi

f-makanan 2

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah seharian berpuasa, tubuh membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk mengembalikan stamina. Terlebih, tak lama setelah berbuka juga akan melangsungkan ibadah salat tarawih. Hal itu membuat makanan yang dikonsumsi saat buka puasa harus diperhatikan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata mengatakan, saat berbuka, perut membutuhkan makanan yang kaya akan gizi. Meski demikian, perut yang seharian tidak diisi juga perlu dipertimbangkan agar tidak kaget.

“Pertama saat awal berbuka puasa, dianjurkan untuk mengonsumsi kurma. Karena kurma mengandung gula, serat, karbohidrat, kalium dan magnesium. Dengan kurma, kebutuhan nutrisi tubuh yang hilang selama puasa perlahan dipenuhi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kemudian, yang kedua adalah mengonsumsi pisang saat berbuka sangat baik bagi tubuh Anda. Sebab, pisang merupakan sumber kalium, magnesium dan karbohidrat. Sehingga pas untuk berbuka.

Ketiga, konsumsi air atau jus buah ketika waktu berbuka puasa dan sebelum tidur. Hal ini bertujuan untuk menyediakan kebutuhan cairan dalam tubuh untuk Anda, agar lancar beraktivitas esok harinya.

Selanjutnya, ketika berbuka, batasi makanan yang digoreng saat berbuka. Karena hal itu dapat meningkatkan sel-sel lemak dalam tubuh. Sebab, seseorang cenderung memiliki keluhan penyakit yang disebabkan lemak, seperti penyakit jantung, koroner dan hipertensi, khususnya yang berusia lanjut.”Seperti halnya bakwan, pisang goreng, tempe dan lain sebagainya, sebaiknya konsumsinya dikurangi. Terlebih mereka yang sudah usia lanjut atau tua,” ujarnya.

Kemudian, hindari terlalu banyak minum es, karena memudahkan Anda kenyang. Di mana, asupan makanan gizi yang lengkap akan menurun karena tak bisa masuk dalam tubuh. “Hal ini juga seperti yang diungkapkan oleh Perhimpunan Ahli Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

Biar Jajanan Sekolah Enggak Bikin Sakit Anak, Ini Rencana Dinkes Kudus  

Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kudus Rusiyati (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kudus Rusiyati (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jajanan sekolah perlu diwaspadai. Mengingat, tidak semua jajanan, terutama makanan, terjaga kondisinya.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus rencananya bakal memberikan sosialisasi tentang Makanan Sehat. Pesertanya adalah kepala sekolah dan pengelola kantin.

Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kudus Rusiyati mengatakan, sosialisasi bakal menyasar kepala sekolah. Baik mulai dari tingkatan SD hingga SMA di Kudus. ”Pemilik kantin juga. Mulai SD sampai SLTA,” katanya.

Dalam sosialiasi ini, peran kepala sekolah atau pimpinan dan pemilik kantin sangat penting. Karenanya, mereka harus diikutkan.

Sosialiasi tersebut tentu akan memberikan arahan, bagaimana harus mengelola kantin dengan baik dan bersih. Nantinya, makanan atau jajan yang dijajakan juga bersih dan higienis.

Adapun untuk pelaksananya direncanakan sekitar Juli atau pascalebaran. Sebab, waktu tersebut merupakan kali pertama tahun pelajaran baru dimulai.

“Biar kenyamanan anak-anak saat membeli makanan bisa selalu terjaga,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Bahaya, Hindari Makanan dengan Ciri-ciri Seperti Ini

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas  DKK Kudus Sukoliyono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas DKK Kudus Sukoliyono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tidak hanya melakukan ujia laboratorium terhadap terasi yang diduga mengandung formalin, namun pihak Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus juga melakukan uji labfor terhadap makanan, yang diduga membahayakan untuk dikonsumsi.

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Sukoliyono mengatakan, sebenarnya untuk mengenali makanan yang berbahaya untuk dikonsumsi cukup mudah untuk dikenali, baik dari rasanya maupun warna.

“Jika warna makanan terlihat cerah dan bagus, pembeli harus hati-hati, karena besar kemungkinan menggunakan pewarna berlebih. Jika pewarna yang digunakan berlebih, bisa menyebabkan berbagai penyakit. Parahnya lagi, jika yang digunakan adalah pewarna tekstil, maka dampaknya akan lebih bahaya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain warna, cara mengetahuinya adalah dengan rasa. Biasanya, pemanis buatan atau penguat rasa dapat dirasakan dengan lidah. Jika setelah makan atau minum terasa manis yang menyengat dan setelah itu terasa pahit, maka bisa jadi, makanan tersebut menggunakan pemanis buatan yang berlebih.

Sedangkan untuk pengawet, sulit diketahui kasat mata, sebab untuk mengetahui harus dilakukan dengan cara uji laboratorium. “Cukup sering itu, biasanya terdapat pada sirup, baik warna, rasa dan kedaluarsa. Jadi, untuk itulah konsumen juga harus jeli sebelum membeli makanan atau minuman,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

 

DKK Kudus Lakukan Uji Laboratorium Terhadap Terasi yang Diduga Mengandung Formalin

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas  DKK Kudus Sukoliyono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas DKK Kudus Sukoliyono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski dipastikan bahwa formalin merupakan bahan yang berbahaya jika digunakan untuk pengawet makanan, namun, hal tersebut terkadang masih saja digunakan sebagian orang, termasuk untuk campuran pengawet terasi.Terkait hal itu, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus melakukan uji laboratorium terhadap terasi yang diduga menggunakan pengawet formalin.

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas  DKK Kudus Sukoliyono mengatakan, pihaknya beberapa waktu yang lalu memborong berbagai jenis terasi untuk dilakukan tes. Tidak semua jenis terasi diambil, namun diambil yang mencurigakan.

“Khususnya yang tidak memiliki tanggal kedaluwarsa atau tidak ada izin PIRT. Meski begitu, yang memiliki tanggal kedaluwarsa, namun waktunya tinggal sedikit lagi, juga kami ambil sampelnya, dan itu perlu diwaspadai juga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, terasi bermerk juga tidak luput untuk diambil sampel. Meski sudah terdaftar, namun hal itu menurutnya juga perlu dicek, untuk memastikan kalau terasi yang dijual benar-benar sudah standar dan aman dikonsumsi.

“Tanggung jawab perusahaan bukan hanya sampai pada barang yang dijual saja, melainkan juga sampai pada tingkat konsumen yang mengkonsusmi produk tersebut. Sekarang ini, barangnya mau dicek di Labkesda Kudus, kemungkinan hasil akan ke luar dua pekan lagi. Tergantung banyak sedikitnya yang dicek,” ujarnya.

Nantinya, jika ada diketahui ada terasi yang dijual tersebut berbahaya, maka akan dilakukan laporan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jateng. Kemudian akan ditindaklanjuti dengan penyelidikan lebih lanjut.

Editor : Kholistiono

 

Ini Strategi yang Dilakukan untuk Memudahkan Pembayaran Iuran BPJS Kesehatan

 Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


MuriaNewsCom, Kudus – Untuk mempermudah pelayanan pembayaran BPJS Kesehatan, rencananya pihak BPJS akan mendekatkan fasilitas pembayaran kepada masyarakat. Dengna hal itu, nantinya tidak ada lagi kendala dalam pembayaran.

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono mengatakan, pihaknya berencana bekerjasama dengan mini market dan pelayanan publik lainnya seperti Kantor Pos Indonesia, pegadaian, dan apotik K 24.”Dalam waktu dekat ini kami bertemu dengan pengelola mini market. Hal itu untuk membahas lebih jauh teknis kerja sama yang akan kami lakukan,” ungkapnya.

Selain minimarket, pihak nya juga berencana menggandeng outlet pembayaran online lainnya. Hal itu akan sangat bagus jika dapat bergabung menjadi mitra.”Selama ini, hal tersebut sebenarnya sudah berjalan, namun, berdasarkan pengamatan masih kurang lancar dan kesannya pasif. Kami akan membenahi dan update data kepesertaan yang melakukan pembayaran melalui mini market tersebut,” ujarnya

Agus menjelaskan, ke depan, layanan pembayaran tidak harus datang ke kantor dan mini market yang dijadikan sasaran yang bekerja sama dengan beberapa bank yang ditunjuk untuk melayani pembayaran, seperti Bank Mandiri, BRI, dan BNI.

“Pembayaran bisa dilakukan melalui ATM, tidak sulit untuk pembayaran iuran. Kecuali kepesertaan dari PBI APBN maupun APBD sudah ada anggarannya tersendiri, dan jika ada keterlambatan bisa dianggarkan ke depannya, itu sudah dipikirkan pemerintah,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

Belasan Penyandang Disabilitas Grobogan Dapat Bantuan Alat Bantu Jalan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Grobogan akan menyalurkan bantuan.  Bentuknya, peralatan pada penyandang disabilitas. Direncanakan ada 12 orang yang akan mendapat bantuan peralatan tersebut.

“Bantuan ini merupakan kerja sama kami dengan Yayasan Sosial Berani Bangsa Jakarta. Untuk sementara baru 12 penyandang disabilitas yang dapat bantuan peralatan,” kata Kepala Dinsosnakertrans Grobogan Andung Sutiyoso melalui Kabid Sosial Kurniawan.

Jenis bantuan peralatan itu ada empat macam. Masing-masing, tujuh unit kursi roda, dua walker, dua kruk dan satu tongkat tuna netra. Bantuan peralatan tersebut baru saja diterima dan dalam waktu dekat akan diserahkan pada penerima.

“Data penerimanya sudah ada. Untuk penyerahannya akan kita lakukan secepatnya karena bantuan peralatannya sudah datang,” ungkapnya.

Sebelumnya, pihaknya juga akan menyalurkan bantuan pada 11 penyandang disabilitas. Wujudnya berupa kaki dan tangan palsu. Rinciannya, delapan orang penerima kaki palsu dan tiga orang penerima tangan palsu.

Bantuan ini merupakan kerjasama antara Dinsosnakertrans dengan Paguyuban Rantau Grobogan (PRG) Korcab Semarang dan Masyarakat Peduli Penyandang Disabilitas (MPPD) Bantul, Yogyakarta. Hanya saja, bantuan kaki dan tangan palsu itu tidak bisa diserahkan dengan cepat.

Sebab, para calon menerima terlebih dahulu harus menjalani proses pengukuran. Setelah itu, barangnya akan dipesankan sesuai ukuran penerima tersebut.

Kasi Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Wahyu Imam Rifai mengatakan, proses pengukuran kaki dan tangan palsu itu sudah dilakukan Selasa (24/5/2016) lalu di Bantul. Perlu diketahui, pembuatan kaki dan tangan palsu tersebut dilakukan di India.

“Oleh sebab itu, penyandang disabilitas baru akan menerima dan bisa menggunakan bantuan itu sekitar tiga bulan ke depan,” kata Imam.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Tekan AKI, Mutu Pelayanan Kesehatan di Pati Diminta Ditingkatkan

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Jateng Djoko Mardijanto menjelaskan soal permasalahan AKI di Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Jateng Djoko Mardijanto menjelaskan soal permasalahan AKI di Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Jawa Tengah Djoko Mardijanto meminta agar mutu pelayanan kesehatan di Kabupaten Pati ditingkatkan. Hal itu untuk menekan angka kematian ibu (AKI) di Pati yang menempati peringkat ke-4 Jawa Tengah tahun lalu.

“Untuk menekan AKI, mutu pelayanan kesehatan di puskesmas, klinik, dan rumah sakit harus ditingkatkan. Tanpa adanya upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, AKI tidak akan dapat diturunkan,” ujar Djoko, Rabu (1/6/2016).

Selain itu, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati juga diminta untuk proaktif meminta kepada petugas kesehatan mengidentifikasi ibu risiko tinggi dengan baik. Identifikasi itu harus dilakukan, data itu kemudian harus sudah ada di rumah sakit rujukan.

“Begitu ada masalah, data sudah lengkap dan petugas medis sudah bisa mengantisipasi karena data-data identifikasi ibu dengan risiko tinggi sudah dikantongi rumah sakit,” tutur Djoko.

Tak hanya itu, rujukan efektif juga dilakukan dengan menerapkan sistem penanganan gawat darurat terpadu (SPGDT). “Kalau langkah-langkah itu dilakukan, maka angka kematian ibu bisa ditekan. Butuh sistem yang baik, tenaga medis yang betul-betul profesional, dan kesadaran warga yang baik,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Angka Kematian Ibu di Pati Harus Diwaspadai

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah Djoko Mardijanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah Djoko Mardijanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pemkab Pati didesak untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) yang cukup tinggi. Di Jawa Tengah, dua orang ibu meninggal dunia setiap harinya. Selama ini, Kabupaten Pati juga ikut menyumbang tingginya AKI di tingkat Jawa Tengah. Bila di Pati bisa diantisipasi bersamaan dengan daerah lainnya, maka AKI di Jawa Tengah bisa ditekan.

“Tahun kemarin, Pati masuk empat besar sebagai daerah dengan AKI yang tinggi di Jawa Tengah. Tahun ini, Pemkab Pati harus bisa menekan AKI agar ibu dan generasi anak bisa diselamatkan,” ujar Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah Djoko Mardijanto kepada MuriaNewsCom, Rabu (1/6/2016).

Dalam banyak kasus, kata dia, pendarahan menjadi kasus menonjol yang menyebabkan kematian ibu. Kasus lainnya, sebagian besar disebabkan hipertensi, gangguan sistem peredaran darah, infeksi, dan lain sebagainya.

“Dari berbagai kasus tersebut, ibu yang meninggal saat nifas sebanyak 58 persen, hamil 25 persen, dan bersalin 17 persen,” imbuh Djoko.

Sementara itu, tempat kejadian meninggal ibu sebagian besar di rumah sakit sebanyak 82 persen, di rumah 10 persen, di jalan 7 persen, dan puskesmas 1 persen. “Untuk menekan AKI yang disebabkan banyak hal, Pemkab Pati harus memperhatikan penyebab kematian, saat apa, dan di mana sehingga ke depan bisa diantisipasi,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

DKK Klaim Sudah Memiliki Data Penyakit Bocah Lumpuh Asal Mejobo Kudus

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Maryata (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Maryata (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) mengklaim sudah memiliki data terkait penyakit yang menyerang Muhanmad Febri Rizki Prayogo, warga Desa Golan Tepus, RT 5 RW 1 Mejobo yang diduga terserang Polio. Ini lantaran sudah ada petugas yang sempat menanganinya.

Hal itu diungkapkan Kepala DKK Kudus Maryata. Menurutnya petugas khusus terkait pengendalian penyakit sudah bertugas dengan baik. Bahkan petugas khusus tersbeut dinilai sangat aktif dan terjun langsung.

”Kami pasti sudah ada, tapi sekarang saya tidak bawa karna dibawa bidang dan petugas yang menangani,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, petugas selalu mendatangi langsung lokasi. Bukan hanya pengidap polio, namun juga penyakit lain yang terdapat di Kudus.

Selain itu, petugas dari Puskesmas juga dinilai aktif kepada masyarakat. Sehingga jika ada kasus semacam Febri, dianggap sudah tahu dan menindaklanjuti kepada dinas yang terkait yakni DKK.

”Apalagi itu sampai umur sembilan tahun, jadi pasti kami sudah mengetahui akan hal tersebut,” ujarnya

Sayangnya,  diusia yang sembilan tahun ini, ia yakin penanganannya akan lebih sulit. Karena itu, ia berharap masyarakat dan desa lainya dapat lebih aktif lagi untuk memberikan penanganan polio.

”Dengan begitu, tidak ada keluhan tentang kesehatan. Kalau jauh dari DKK bisa lapor kepada puskesmas,”imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Dinas Kesehatan Duga Kelumpuhan Bocah 9 Tahun Asal Kudus Karena Polio

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr Maryata. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr Maryata. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menduga kelumpuhan yang menimpa Muhanmad Febri Rizki Prayogo (9), warga Desa Golan Tepus, RT 5 RW 1 Mejobo karena penyakit polio. Ini lantaran, penyakit polio menyerang urat syaraf hingga berakibat kelumpuhan.

Kepala DKK Maryata mengatakan, seseorang yang tidak dapat berjalan, bukan hanya sekedar bawaan lahir saja. Namun, lebih kepada faktor penyakit yang diderita.

”Kemungkinan besar polio, namun untuk memastikan harus dilakukan pengecekan yang lebih serius lagi,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hanya, jika melihat kondisi fisik Febri, ia meyakini kelumpuhannya karena penyakit polio yang sudah akut. Apalagi, kedua kaki korban sudah mengecil. Sehingga tidak dapat dapat menopang tubuhnya saat berjalan.

”Selain itu, penyakit itu juga bukan bawaan kandungan. Kami akan mencoba mengeceknya,” tegasnya.

Meski begitu, ia khawatir, kelumpuhan Febri masuk dalam kategori lumpuh layu. Artinya, penderita dapat menularkan penyakit tersebut kepada orang lain disekitarnya.

Biasanya, tambahnya, penderita lumpuh layu akan bisa diidentifikasi petugas medis. Salah satunya melalui kotoran korban. Hanya, untuk mengetahui itu, sampel kotoran harus di uji lab ke Bandung.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Lumpuh, Bocah 9 Tahun di Kudus Ini Diduga Kena Gizi Buruk

BACA JUGA: Selain Lumpuh, Bocah di Kudus Ini Juga Miliki Riwayat Bibir Sumbing

Selain Lumpuh, Bocah di Kudus Ini Juga Miliki Riwayat Bibir Sumbing

Muhanmad Febri Rizki Prayogo dipangku sang paman karena mengalami kelumpuhan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Muhanmad Febri Rizki Prayogo dipangku sang paman karena mengalami kelumpuhan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Muhanmad Febri Rizki Prayogo, bocah lumpuh warga Desa Golan Tepus, RT 5 RW 1 Mejobo, ternyata memiliki riwayat penyakit bibir sumbang. Meski kini sudah diobati dengan operasi, namun masih membuatnya susah berbicara.

Paman Febri, Deni Novianto (18) mengatakan, operasi bibir sumbing dilakukan di RS Karyadi. Meski operasi sudah lama dilakukan, namun pasca operasi bocah berusia sembilan tersebut masih susah berbicara dan lebih sering menangis.

”Sekarang kondisinya seperti itu, meski sudah baikan dengan bibir sumbang, tapi kondisi fisik masih lemas dan tidak bisa berjalan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Dia menjelaskan, semenjak operasi bibir sumbang, pihak keluarga jarang membawanya untuk terapi. Pihak keluarga hanya beberapa kali membawa Febri berobat ke RSUD Kudus. Itupun beberpa tahun lalu setelah operasi dilakukan.

”Di RSUD tidak ditarik biaya. Sebab keluarga sudah memiliki kartu Jamkesmas yang diberikan pemerintah. Tapi mungkin sudah lama sekali, jadi sudah sulit ditangani,” ungkapnya.

Ia berharap ada perhatian lebih pemerintah. Apalagi, usia keponakan yang terbilang masih anak-anak masih memiliki masa depan panjang.

”Tidak ada petugas pemerintah yang datang kemari, bahkan petugas desa juga tidak ada yang datang untuk melihat kondisi keponakan saya ini. Saya harap pemerintah bisa peduli,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Video – Lumpuh, Bocah 9 Tahun di Kudus Ini Diduga Kena Gizi Buruk 

Video – Lumpuh, Bocah 9 Tahun di Kudus Ini Diduga Kena Gizi Buruk

 

MuriaNewsCom, Kudus – Muhanmad Febri Rizki Prayogo warga Desa Golan Tepus, RT 5 RW 1 Mejobo, harus melewati hari-harinya dengan cara berdiam diri di rumah. Itu lantaran, bocah sembilan tahun tersebut tak bisa berjalan karena lumpuh yang disebabkan gizi buruk sejak kecil.

Deni Novianto (18),  paman Febri membenarkan jika keponakannya tak bisa berjalan senjak kecil. Tak hanya itu, ukuran kakinya juga terbilang kecil dan tidak mengalami pertumbuhan secara normal. Hal itulah yang membuatnya tak bisa menggunakan kedua kakinya.

”Biasanya kalau pagi hari ia tidur. Tapi, kalau malam tidak bisa diajak tidur. Ia selalu rewel hingga subuh, mungkin disebabkan rasanya sakit yang dialami. ,” katanya kepada MuriaNewsCom

Selain lumpuh, Febri juga harus dirawat seperti bayi. Pasalnya pencernaannya tidak kuat menerima makanan yang kasar, termasuk nasi. Akibatnya, setiap kali mau makanan, makanan tersebut harus ditumbuk dan dihaluskan.

Sementara, keuangan keluarga juga sangat terbatas. Sang ibu Yusmawati (32) bahkan harus kerja membanting tulang untuk menafkahi keluarga sejak suaminya meninggal karena penyakit paru-paru.

”Kakak saya kerja sebagai buruh rokok di Kudus, jadi kalau pas kerja yang jaga bergantian,” ujarnya

Deni menyebutkan, Febri juga memiliki seorang adik yang berumur tiga tahun. Hanya, kondisi ekonomi yang minim membuatnya tidak dapat mengenyam pendidikan dan harus di rumah bersama kakaknya.

Namun, berbeda dengan Prayoga yang lumpuh. Adiknya terlihat sehat dan cakap berbicara. Saat dikunjungi MuriaNewsCom, adik prayogo seolah melindungi kakaknya dari awak media, dia seolah takut kalau kakaknya kenapa kenapa. Bahkan, pintu kamar sampai dihadang untuk mencegah masuk.

Kondisi rumahnya memang sangat terbatas. Beralas tanah, dan tembok yang mulai mengelupas. Bahkan, kasur saja di dapat dari bantuan warga luar desa.

Editor: Supriyadi

109 Orang Meninggal Dunia Kena HIV/AIDS di Grobogan

Kasi Pengendalian Penyakit pada Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Gunawan Widiyanto menyampaikan materi dalam Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kegiatan Pengendalian HIV-AIDS. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Pengendalian Penyakit pada Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Gunawan Widiyanto menyampaikan materi dalam Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kegiatan Pengendalian HIV-AIDS. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Perlunya upaya keras untuk menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS di Grobogan nampaknya ada benarnya. Hal ini mengacu dengan sudah banyaknya orang yang terjangkit penyakit yang belum ada obatnya tersebut. Bahkan, sebagian penderitanya sudah dinyatakan meninggal dunia.

Data dari Dinas Kesehatan Grobogan menyebutkan, dalam kurun waktu 2002 hingga April 2016, sudah ada 758 orang yang positif mengidap HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut sudah ada 109 orang penderita yang meninggal dunia.

“Kasus HIV/AIDS di Grobogan memang cukup tinggi. Oleh sebab itu, kita terus berupaya untuk menekan penyebaran penyakit ini dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat,” kata Kasi Pengendalian Penyakit pada Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Grobogoan Gunawan Widiyanto, dalam Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kegiatan Pengendalian HIV-AIDS Semester I di rumah makan Danau Resto Purwodadi, Rabu (25/5/2016) yang juga dihadiri aktor Pong Harjatmo.

Dijelaskan, pengidap HIV/AIDS ini tersebar di 19 kecamatan. Adapun penderitanya berasal dari berbagai kalangan. Antara lain, ibu rumah tangga, buruh, wiraswasta, dan anak-anak.

Menurut Gunawan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka penderita HIV/AIDS tersebut. Mulai dari sosialisasi ke berbagai elemen masyarakat, kampanye dan pembagian kondom di berbagai titik, serta pengecekan kesehatan terhadap para PSK dan lainnya.

Untuk kegiatan tersebut, pihaknya menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) serta berbagai elemen masyarakat. Seperti, LSM, ormas, tokoh agama, sekolah, serta dinas terkait lainnya.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Grobogan Thoha Karim Amrullah menyatakan, salah satu upaya yang cukup efektif untuk bisa terhindar dari penularan HIV / AIDS bisa dilakukan dari masing-masing individu. Caranya, dengan berprilaku hidup sehat dan menjauhi pergaulan bebas.

“Salah satu sarana penularan penyakit ini adalah melalui hubungan seksual dengan banyak pasangan. Untuk itu, hindari perilaku seperti ini jika ingin terhindar dari HIV/AIDS,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Dihadiri Aktor Pong Harjatmo Peserta Evaluasi Penanggulangan HIV/AIDS di Grobogan Kaget

ping e

Aktor senior Pong Harjatmo saat menyampaikan motivasi pada peserta Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kegiatan Pengendalian HIV-AIDS. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Para peserta Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kegiatan Pengendalian HIV-AIDS Semester I yang digelar di rumah makan Danau Resto Purwodadi, Rabu (25/5/2016) sempat bikin kaget para peserta yang berasal dari tenaga medis puskesmas.

Hal ini terkait dengan adanya aktor senior Pong Harjatmo yang tiba-tiba hadir dalam acara tersebut. Aktor berusia 73 tahun itu datang bersama Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Grobogan Thoha Karim Amrullah.

Dalam kesempatan itu, Pong sempat melontarkan kepirhatinannya dengan adanya kasus HIV/AIDS yang ada di Grobogan. Hal itu membuktikan kalau penyebaran penyakit mematikan itu sudah merata.

Tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja. Tetapi juga sudah menjangkau ke kota-kota kecil. Bahkan, sudah ada pula yang menjangkau wilayah kecamatan.

“Ini merupakan persoalan yang sangat serius. Harus dilakukan upaya bersama-sama dari berbagai pihak untuk menekan penyebaran penyakit ini,” cetus aktor yang sudah membintangi puluhan film itu.

Menurut Pong, munculnya penyakit tersebut sudah pasti ada penyebabnya. Seperti banyaknya perilaku tidak sehat sebagian orang atau adanya prostitusi di daerah tersebut.

’’Segala sesuatu pasti ada sebabnya. Tidak mungkin suatu akibat muncul tanpa ada penyebabnya. Sebab-sebab ini harus dicari sehingga bisa ditemukan solusi yang tepat,’’ cetus Pong sambil memotivasi para petugas penanggulangan HIV/AIDS agar selalu bersemangat dalam menjalankan tugasnya.

Sementara itu, Kasi Pengendalian Penyakit pada Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Grobogoan Gunawan Widiyanto menyatakan kegiatan pertemuan tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat. Tujuannya, untuk mencari solusi pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS di Grobogan.

“Acara ini kita gelar dua hari, mulai kemarin dan hari ini. Selain petugas medis puskesmas, kita juga melibatkan berbagai elemen masyarakat. Terkait hadirnya Pak Pong Harjatmo ini tadi bukan kita undang tetapi atas inisiatif pribadi datang kesini karena diajak oleh Ketua FKUB. Kami merasa senang atas kesediaan beliau menghadiri acara ini guna memberikan motivasi,” katanya.
Editor : Akrom Hazami

 

 

Jos, Pemanfaatan TPA Tanjungrejo Kudus Disulap jadi Taman

TPA Tanjungrejo Kudus dimanfaatkan menjadi taman. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

TPA Tanjungrejo Kudus dimanfaatkan menjadi taman. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemanfaatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo dilakukan. Yakni dengan mengubahnya dijadikan taman kecil. Sehingga tempat tersebut dapat sebagai lahan penghijauan.

Penjaga TPA Tanjungrejo Stiyono mengatakan, untuk luasan keseluruhan TPA Tanjungrejo ini ada sekitar 5.6 Hektare (Ha). “Yang terdiri dari 6 zona pembuangan. Namun untuk kali ini yang masih aktif dijadikan pembuangan yakni ada sebanyak satu zona saja. Yang kelima lainnya sudah aktif atau penuh,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, dari kelima zona pembuangan sampah yang pasif tersebut, kini sudah ditanami dengan berbagai jenis tanaman penghijaun.

“Memang untuk yang zona sudah pasif tersebut kini ditanami tanaman penghijauan. Baik mulai dari tanaman bunga, palem dan sebagainya. Tentunya dengan adanya penghijauan tersebut akan bisa membuat lebih segar di TPA ini,” ujarnya.

Dia melanjutkan, sebelum ditanami penghijauan, kelima zona TPA yang sudah pasif tersebut dahulunya diuruk terlebih dahulu dengan tanah. Sehingga sisa sampah bisa tercampur tanah dan bisa menyatu dengan tanah.

“Sebelum ditanami, memang dahulunya sampah-sampah yang ada di lima zona ini dipadatkan terlebih dahulu. Setelah itu diuruk dengan tanah. Sehingga saat ditanami penghijauan bisa lebih subur. Terlebih sampah ini juga mengandung kompos juga,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Begini Cara Orang Tua Kenali Kelainan Pada Bayi, Ibu Wajib Tahu

Ilustrasi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Ilustrasi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi para orang tua baru, ada tugas yang harus dilakukan saat bayi kesayangan berusia tujuh hari. Hal itu untuk mengetahui perkembangan otak dan saraf pada bayi apakah terdapat gangguan ataukah tidak.

Terapis Wiwin Sri Puji mengatakan, bayi usia tujuh hari orang tua harus mengenali gejala-gejala respon. Contohnya, untuk mengetes pendengaran, dua balok ditepukkan dekat telinga. Jika respon bayi kaget, pendengarannnya normal.

”Semua respon tubuh pada bayi itu berpusat dari otak. Orang tua harus tanggap perkembangan anak. Misal, usia tiga bulan yang seharusnya sudah bisa tengkurap tapi bayi tersebut hanya diam saja, segera konsultasikan kepada dokter atau terapis anak,” katanya

Wiwin menambahkan, kebanyakan yang datang untuk terapis usia anaknya sudah diatas dua tahun. Seharusnya, semakin dini diketahui ada kelainan maka untuk proses terapisnya semakin baik.

“Kalau sudah diatas dua tahun tergolong terlambat, sebenarnya bisa diterapi cuma waktunya juga cukup lama. Dan saat menerapi itu berdasarkan tingkat perkembangan anak sesuai usianya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, terapi menggunakan metode Glenn J. Doman ini bisa diterapkan untuk bayi atau anak normal. Tujuannya, perkembangannya biar cepat dan bisa mencerdaskan otak. Yang paling penting, orangtua harus memantau terus prembangan anak.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Kabar Gembira, Cedera Otak Pada Anak Dapat Ditangani, Ini Caranya  

Kabar Gembira, Cedera Otak Pada Anak Dapat Ditangani, Ini Caranya

Terapis Wiwin Sri Puji memberikan terapi melatih keseimbangan pada anak yang mengalami cedera otak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Terapis Wiwin Sri Puji memberikan terapi melatih keseimbangan pada anak yang mengalami cedera otak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kabar menggembirakan datang dari dunia kesehatan. Bagi orang tua yang memiliki anak cedera otak, tidak perlu khawatir karen masih ditangani untuk sembuh.

Terapis Wiwin Sri Puji mengatakan, anak berkebutuhan khusus biasanya disebabkan adanya masalah yang terjadi dalam otak yang dapat berasal dari trauma kepala, radang, perdarahan otak atau mungkin disebabkan karena adanya kelainan kromosom seperti pada Down Syndrome dan cedera otak.

”Setelah lahir dan dewasa, bayi yang mengalami cedera otak ditandai dengan kejang-kejang, kesulitan dalam belajar, gangguan mental, kelumpuhan dan autisme,” katanya

Menurutnya, gejala tersebut bisa dideteksi sejak dini. Bahkan, ada terapi bagi anak yang terkena cedera otak untuk bisa merangsang otak menggunakan metode Glenn J. Doman. Sehingga bayi tersebut bisa merespon dan menggerakkan otot motoriknya.

”Jika terapis terus dilakukan, maka dapat mengoptimalkan pertumbuhan. Khususnya bagi anak yang masih bayi karena masih dalam proses awal,” ujarnya.

Dia menjelaskan, bayi atau anak yang mengalami cedera otak bisa dimaksimalkan perkembangannya. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan diantaranya menstimulasi sensorik, rasa disendi dan sentuhan.

Editor: Supriyadi

Manfaatkan Tumbuhan Herbal, ODHA di Pati Akan Bikin Obat HIV/AIDS

hiv 2 e

Ari Subekti (ketiga dari kanan) menjelaskan kelangkaan obat ARV jenis lamivudine di Pati saat berada di Gudang Farmasi Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Langkanya ketersediaan obat HIV/AIDS jenis lamivudine sediaan tunggal membuat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Pati berpikir keras supaya bisa bertahan hidup. Salah satunya dengan memanfaatkan tumbuhan herbal sebagai obat pengganti alternatif.

Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Rumah Matahari, Ari Subekti, Selasa (17/5/2016) mengatakan, jenis tumbuhan yang bisa dijadikan obat pengganti alternatif di antaranya temulawak, bintangur, kantong semar, anggrek raksasa, dan candan.

“Temulawak bisa meningkatkan nafsu makan dan meningkatkan kekebalan tubuh. Dengan demikian, penyakit tidak mudah datang. Sebab, prinsip obat ARV adalah membantu ODHA agar sistem kekebalan tubuhnya stabil,” kata Ari.

Sementara itu, pohon bintangur selama ini dipercaya bisa menggantikan peran obat ARV untuk ODHA. Ia berharap agar pemerintah juga mengembangkan obat HIV/AIDS dari alam, sehingga ketergantungan pada obat kimia bisa diantisipasi.

“Sebetulnya obat herbal itu bagus. Sayangnya, obat HIV/AIDS dari herbal belum banyak dikembangkan. Terlebih, kebanyakan tanaman itu adanya dari luar Jawa. Namun, kita coba untuk temulawak. Lagi-lagi, kita terkendala upaya produksi dalam jumlah banyak. Kita akan pertimbangkan lebih lanjut,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Kesal dengan Dinkes Pati, ODHA Bakal Gunakan Obat ARV Herbal

hiv e

Endah Sri Wahyuningati, anggota Komisi D DPRD Pati (berbaju putih) menunjukkan ARV jenis lamivudine saat sidak di Gudang Farmasi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Stok obat Anti Retrovival Virus (ARV) jenis lamivudine sediaan tunggal untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tersendat dari Kementerian Kesehatan RI. Akibatnya, sedikitnya 70 ODHA di Pati terancam tidak bisa mengonsumsi lamivudine sediaan tunggal dalam waktu cukup lama.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati rencananya akan membelikan lamivudine, sembari menunggu dropping dari pusat datang ke daerah. Namun, sepekan ditunggu, Dinkes tak kunjung menepati janjinya.

“Kami sudah menggelar rapat dan duduk bersama untuk membahas masalah tersebut. Dalam rapat, Dinkes akan membelikan ARV sembari dropping dari pusat sampai. Tapi, sampai sekarang belum ada,” ujar Wakil Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pati, Pujo Winarno, Selasa (17/5/2016).

Kesal dengan sikap Dinkes, para ODHA di Pati yang biasa mengonsumsi ARV jenis lamivudine akan menggunakan obat herbal dari tumbuh-tumbuhan. Pasalnya, lamivudine sediaan tunggal di apotek mencapai Rp 149 ribu per botol dengan isi 30 butir.

“Sebagian besar ODHA berasal dari kalangan tidak mampu. Kasihan kalau harus membeli obat di apotek dengan harga yang selangit. Padahal, obat itu mestinya disediakan negara secara gratis,” kata Koordinator KDS Rumah Matahari Ari Subekti.

Karena itu, obat ARV dari tumbuh-tumbuhan terpaksa akan menjadi salah satu alternatif sembari menunggu ketersediaan dari pusat turun ke daerah. Dulu, Ari pernah mencoba menggunakan temulawak. Namun, ia terkendala pada produksi dalam jumlah yang banyak.

Editor : Akrom Hazami