Pemkab Kudus Belanjakan Rp 3 Miliar untuk Beli 186 Jenis Obat

puskesmas

Pasien menjalani perawatan di salah satu puskesmas di Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Demi memenuhi ketersediaan obat di Kudus, pemkab  setempat harus rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya dana yang dibutuhkan Rp 3, 250 miliar.

Besaran dana itu dibutuhkan untuk membeli sekitar 186 jenis obat yang dibutuhkan masyarakat.

Hal ini dijelaskan Kepala DKK Kudus dokter Maryata melalui Kabid Sumber Daya Kesehatan Sukoliyono. Menurutnya, DKK Kudus menyiapkan stok obat tahun ini sebanyak 186 item.

Ratusan obat itu terdiri dari obat antibiotik, antiseptik, antipiretik, dan  berbagai obat lainnya.

“Jumlah obat tersebut bisa untuk stok selama 18 bulan ke depan. Untuk saat ini ada beberapa item obat yang sudah habis. Makanya perlu segera dibeli lagi,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (5/8/2016).

Menurutnya, pengadaan obat bersumber dari dana yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat senilai Rp 2,4 miliar, ditambah dana APBD senilai Rp 500 juta dan APBD Perubahan senilai Rp 350 juta.

Obat-obat tersebut merupakan obat dasar yang selalu digunakan puskesmas. Jika obat habis, akan ada obat sejenis yang jadi penggantinya. Jadi tidak akan mengganggu pelayanan kesehatan.

“Banyak merek obat, namun fungsinya sama. Itulah yang digunakan jika stok habis,” ujarnya.

Suko mengaku, sumber beli obat dari APBD Perubahan belum jalan lantaran anggaran belum cair. Namun,  secepatnya pengadaan obat dari dana APBD Perubahan dapat segera direalisasikan.

“Jika sudah ada tambahan dari dana APBD Perubahan, maka stok obat di Kudus hingga pertengahan 2017 masih cukup aman,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Banyak Pelajar Alami Gangguan Penglihatan

 

RS sultan

Dr Nika Bellarinatasari, Sp.M dalam presentasi unit low vision Sultan Agung Center Semarang.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penyandang low vision di kalangan pelajar masih tinggi. Berdasarkan data dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI) yang mengadakan riset pada tahun 2014-2015 , sebanyak 2.905 ditemukan menyandang low vision. Dari jumlah itu 44 persen adalah pelajar atau masih duduk di bangku sekolah.

Sebagaimana diketahui, low vision merupakan keterbatasan pandangan yang dialami oleh seseorang. “Orang yang normal memiliki sudut pandang sekitar 150 derajat. Sementara penyandang low vision hanya sekitar 10 derajat. Jadi kalau melihat objek, orang dengan low vision harus memincingkan mata atau seperti orang mengintip” ujar Dokter Spesialis Mata RSI Sultan Agung, Nika Bellarinatasari di sela-sela peluncuran layanan low vision Sultan Agung Eye Center pada Senin (1/8).

Dari rilis persnya itu diterangkan, beberapa penyebab low vision adalah kelainan refraksi ; kerusakan pada lensa mata karena katarak, dislokasi lensa atau trauma pada mata (terbentur, jatuh dsb)

Nika melanjutkan, dokter yang ada di unit layanan low vision memberikan perhatian khusus bagi pelajar mengingat mereka masih memiliki kewajiban menuntut ilmu. “Bahkan ketika mereka (para pelajar) setelah dilakukan intervensi di unit low vision, mereka mampu melihat tulisan di papan tulis dan mengikuti pelajaran dengan baik sehingga mereka sukses berprestasi” lanjutnya.

Meski begitu, tidak hanya pelajar, fasilitas low vision, juga diperuntukkan siapa saja yang memiliki keterbatasan jarak pandang. “Agar mereka mampu melakukan rutinitas kehidupan sehari-hari tanpa bantuan orang lain” ujarnya.

Selain pemeriksaan rutin, di unit Sultan Agung Eye Center, jelas Nika,  penyandang low vision akan dilakukan rehabilitasi penglihatan, diajarkan penggunaan alat bantu baik optic maupun non optic seperti : telescope, standing book, magnifier, kacamata como baby dsb.

Diharapkan, unit yang baru diluncurkan ini mampu menjadi tempat bagi penyandang low vision untuk tetap dapat melanjutkan rutinitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Gawat, Stok Darah PMI Jepara Menipis

pmi

Petugas memperlihatkan stok darah di kantor PMI Jepara, Senin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Stok darah di Palang merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jepara menipis alias minim. Itu terjadi yang terjadi pada Senin (1/8/2016). Darah yang tersimpan di dalam lemari penyimpanan hanya tinggal menyisakan segelintir saja.

Salah seorang petugas PMI Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Jepara, Laras Safitri membeberkan, jumlah stok darah menipis sejak beberapa hari terakhir. Rinciannya, untuk golongan darah O hanya ada 25 kantong, golongan darah A hanya ada enam kantong, golongan darah B hanya ada 5 kantong dan golongan darah AB hanya ada 10 kantong.

“Stok yang ada memang tinggal ini saja. Ini tergolong sangat sedikit jika dibanding hari-hari biasanya. Sebab, biasanya setiap hari ada ratusan kantong darah, sedangkan hari ini tinggal sedikit, hitungan puluhan saja,” ujar Lasar, kepada MuriaNewsCom, Senin (1/8/2016).

Menurutnya, sedikitnya stok darah kali ini terjadi karena belakangan sangat sedikit yang melakukan donor darah. Itu tidak lepas dari momen libur puasa dan lebaran hingga saat ini libur sekolah. Hari-hari libur itu sangat berpengaruh dengan stok darah yang ada di PMI Jepara.

“Ya karena hari libur, aktivitas donor darah juga menjadi sedikit. Sebab selama ini yang paling banyak melakukan donor darah adalah sektor sekolah dan perusahaan. Ketika hari libur jelas aktivitas donor darah menjadi sedikit,” terangnya.

Lebih lanjut dia mengemukakan,ketika darah yang ada di PMI habis, maka menjadi tanggung jawab keluarga yang membutuhkan darah. Misalnya ketika ada yang melakukan cuci darah, dan darah di PMI habis, maka pihak keluarga harus bersedia mencari pendonor dari unsur keluarga, saudara, teman maupun yang lainnya.

“Yang selama ini berjalan begitu. Jadi kalau kehabisan stok, keluarga pasien yang harus bersedia mencari bantuan donor darah,” ungkapnya.

Dia menambahkan, di PMI Jepara, dalam sehari rata-rata mengeluarkan 50 kantong darah. Pengguna darah yang ada di PMI Jepara mayoritas adalah pasien yang mengalami penyakit anemia dan gagal ginjal maupun cuci darah.

Editor : Akrom Hazami

 

Ribuan Ibu Tes Kanker Serviks di Kudus

 

Sejumlah ibu melakukan tes kanker serviks di gedung PKK Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah ibu melakukan tes kanker serviks di gedung PKK Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ribuan ibu termasuk ibu rumah tangga dan pekerja pabrik rokok melakukan tes kanker serviks. Kegiatan itu dilakukan untuk mengetahui penyakit berbahaya tersebut.

Kepala DKK Kudus dr Maryata mengatakan pihaknya melakukan tes serviks, membutuhkan dua cara. Pertama dengan Iva, dan kedua dengan Pabsmir.

Untuk Iva, yang melakukan tes pada Jumat (29/7/2016) pagi  sekitar 4.050 ibu. Sedangkan Pabsmir ada sekitar 1000. Kebanyakan yang melakukan tes adalah mereka para buruh rokok.

Tes kesehatan tersebut penting guna mengetahui gejala dini kanker. Kerahasiaan sangat terjamin sehingga bagi yang ikut tes tidak usah khawatir jika memiliki masalah soal kanker.

“Jika tahu maka dapat segera diobati sebab gejala kerap kali tidak dirasa. Padahal dampaknya bisa fatal,” ungkapnya.

Untuk dapat di cek dengan lancar, ibu diminta tidak usah tegang. Karena otot yang tegang dapat membuat lubang serviks keras, dan susah dicek.

Riyatun (48) seorang karyawan mengungkapkan senang dengan program itu. “Tidak sakit, biasa saja. Tak kira sakit atau gimana. Tes juga hanya sebentar,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Daftar Layanan Kesehatan yang Ambil Vaksin Asli DKK

vaksin 2

 

MuriaNewsCom, Kudus – Vaksin asal pemerintah yang dimiliki Dinas Kesehatan Kudus (DKK) ternyata banyak digunakan instansi kesehatan. Tidak hanya instansi kesehatan milik pemerintah saja, melainkan juga instansi kesehatan milik swasta.

Hal itu disampaikan Kepala DKK Kudus dokter Maryata. Menurutnya instansi kesehatan negeri atau milik pemerintah semuanya jelas menggunakan vaksin asal DKK. Seperti halnya puskesmas dan RSUD. Sedangkan untuk swasta, sebagian besar sudah mengambil langsung ke DKK maupun lewat puskesmas.

“Seperti misalnya RSI Sunan Kudus, RSI Aisiyah mengambil langsung kepada kami. Sedangkan untuk RS Kumala Siwi, mengambil dari Puskesmas Kaliwungu sehingga vaksin dipastikan asli,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Tak hanya rumah sakit, bidan dan RB juga banyak yang sudah mengambil dari DKK. Seperti RB Miriam, RB Budi Luhur dan RS Ibnu Sina. Semuanya mengambil langsung dari DKK.

Dia menambahkan, kalau vaksin yang berasal dari pemerintah harus diberikan secara gratis. Sehingga jika ada yang menarik biaya dapat dilaporkan kepada DKK.

“Kalau ada yang gratis dan asli kenapa juga harus pilih yang membayar. Kalau bayar untuk obat tidak masalah,” ungkapnya.

Dia berpesan kepada masyarakat,  untuk ditanya dulu dari mana vaksin berasal. Jika bukan dari DKK patut ditanyakan keasliannya apakah sudah diuji atau belum.

Secara umum, dia menjelaskan vaksin asli pasti terdapat dampak pada bayi atau balita. Sebab kandungan virus yang dilemahkan maka dapat membuat tubuh menjadi panas atau demam.

Sedangkan vaksin palsu tidak demikian dan umumnya tidak ada dampak kepada anak selama dua hari, seperti vaksin asli.  Hal itu karena kandungan yang berbeda.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Tak Pakai Vaksin Pemerintah, DKK Kudus Minta RS Mardi Rahayu Uji Lab Vaksinnya

vaksin

 

MuriaNewsCom, Kudus – DKK menjamin vaksin yang diambil dari mereka adalah vaksin asli. Namun faktanya, tidak semua instansi kesehatan mengambil vaksin dari pemerintah.

Seperti halnya di RS Mardi Rahayu. Melihat hal itu, DKK meminta pihak rumah sakit untuk melakukan uji laborat kepada semua jenis vaksin yang dimiliki.

“Jumlah vaksin di bawah 10, semuanya ambil bukan dari pemerintah, makanya harus dilakukan uji lab agar jelas hasilnya,” kata Kepala DKK Dokter Maryata kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jauh sebelum vaksin palsu ramai, DKK sudah melakukan kunjungan ke berbagai rumah sakit. Sepeti halnya ke Mardi Rahayu. Oleh DKK, Mardi Rahayu diberikan masukan untuk membeli lemari pendingin yang buka ke atas untuk menyimpan vaksin. Hanya oleh pihak rumah sakit dinilai tidak setuju lantaran mahalnya biaya.

“Biaya menyimpan vaksin memang mahal. Namun itulah yang benar seharusnya,” ujarnya.

Kini, kata Maryata proses uji vaksin sudah berjalan. Hanya untuk waktunya tidak diketahui lantaran uji dilakukan di Jakarta melalui provinsi. Dia berharap vaksin tersebut asli, sehingga tidak membuat masalah pada belakangan nanti.

Yuniati Bodro M, perwakilan RS Mardi Rahayu saat pertemuan dengan BPJS dan DKK 29 Juni lalu menjelaskan, kalau pihaknya mengambil vaksin dari rekanan. Hanya selama ini belum ada keluhan terkait vaksin yang diberikan.

“Jumlahnya ada banyak, akan kami tes semuanya. Sehingga dapat meyakinkan kalau vaksin tersebut asli,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

PMI Rembang Targetkan 12 Ribu Warga Sadar Donor Darah

Warga sedang mendonorkan darah beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom)

Warga sedang mendonorkan darah beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Rembang terus gencar mensosialisasikan sadar donor darah terhadap warga.  Sosialisasi tersebut dilakukan di berbagai instansi pemerintah maupun swasta.

Bagian Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Rembang Ervin mengatakan, dengan adanya sosialisasi tersebut, diharapkan dapat menambah jumlah pendonor darah sukarela. “Untuk tahun 2015 lalu, setiap bulannya kita hanya mendapatkan sekitar 900-an pendonor. Tahun ini, kita harapkan bisa mencapai seribu pendonor setiap bulannya bahkan bisa lebih,” katanya.

Menurutnya, secara keseluruhan, untuk tahun 2015, pihaknya mendapatkan lebih dari 10 ribu pendonor. Sedangkan di tahun 2016 ini, selama Januari hingga Juni 2016, pihaknya sudah mendapatkan sekitar 7.200 pendonor. Selain itu jenis darah yang didonorkan juga relatif seimbang jumlahnya. Baik itu A, B, maupun O.

Ia juga katakan, untuk darah yang paling banyak dibutuhkan selama ini yakni golongan darah A dan B. “Biasanya golongan darah A dan B ini dibutuhkan orang yang usai melahirkan, operasi, penyakit dalam dan sebagainya,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

 

75 Persen Warga Jepara Ditarget Ikut BPJS Kesehatan

bpjs

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi melakukan penandatanganan kesepakatan dengan BPJS Kesehatan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten Jepara dengan BPJS Kesehatan melakukan penandatanganan kesepakatan bersama tentang optimasiasi peran pemerintah daerah dalam pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional di Kabupaten Jepara. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat I Setda Jepara. Senin (18/7/2016).

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan oleh Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mewakili Pemerintah Kabupaten Jepara dengan Kepala Kantor Cabang Utama BPJS Kesehatan Kudus dr Agus Purwono. Dalam sambutannya, Marzuqi mengatakan, adanya kesepakatan bersama ini selaras dengan upaya untuk mengimplikasikan Perpres Nomor 111 tahun 2013 yang mengamatkan seluruh WNI wajib menjadi peserta JKN-KIS paling lambat 1 Januari 2019.

“Dalam rangka untuk melaksanakan akselerasi pelayanan JKN-KIS di Jepara agar seluruh warga masyarakat Jepara bisa menjadi peserta, baik berasal dari penerima upah maupun penerima bantuan iuran (IPB) baik dari APBN maupun APBD,” kata Marzuqi.

Menurutnya, hingga 30 Juni lalu penduduk Jepara berjumlah 1.145.164 jiwa dan sebanyak 642.352 jiwa atau 56,09 persen sudah terdaftar pada JKN-KIS. Untuk itu perlu upaya ektra agar penduduk Jepara terlindungi program JKN-KIS karena sampai saat ini masih mempunyai sisa tinggal 2,5 tahun sesuai dengan amanat Perpres nomor 111 tahun 2013.

“Terkait hal tersebut saya akan mengintruksikan kepada kecamatandan desa untuk segera membentuk kader JKN, dengan harapan akhir 2016 kepesertaan penduduk Jepara bisa mencapai 75 persen. Sehingga sisa waktu bisa mencapai 100 persen pada 1 Januari 2019,” ungkapnya.

Agar rencana ini berhasil, lanjut Marzuqi, ia minta kepada BPJS Kesehatan dan instansi terkait untuk konsisten dan bersinambungan untuk melakukan sosialisasi termasuk kepada karyawan swasta yang ada di Jepara.

Kepala KCU BPJS Kesehatan Kudus  Agus Purwono mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti dengan kegiatan yang lebih riil, sehingga tujuan cakupan 75 persen bisa tercapai. Karena tujuan ini melibatkan pemegang kebijakan dan banyak yang terlibat tentu membutuhkan koordinasi yang lebih intens.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Dinkes Grobogan Tegaskan Wilayahnya Bebas Vaksin Palsu

ILUSTRASI Vaksin

MuriNewsCom, Grobogan – Maraknya vaksin palsu di beberapa kota besar, tampaknya tidak sampai menjangkau di wilayah Grobogan. Hal ini berdasarkan penegasan yang dilontarkan Kepala Dinas Kesehatan Grobogan Johari Angkasa.“Sejauh ini, kita belum menemukan adanya vaksin palsu di sini. Meski demikian, kita terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyikapi persoalan ini,” katanya.

Menurutnya, semua vaksin yang dimiliki selama ini merupakan dropping dari pusat. Pihaknya, tidak mengadakan vaksin dari pihak lainnya. Dengan demikian, vaksin yang dimiliki bisa terjamin kualitas dan keasliannya.

Direktur RSUD dr R Soedjati Purwodadi Bambang Pudjianto ketika dimintai komentarnya juga menegaskan, jika di instansinya tidak ada vaksin palsu. Menurutnya, selama ini, vaksin yang digunakan merupakan dropping dari Dinkes Grobogan.

Penyataan senada juga disampaikan Direktur RS Permata Bunda Purwodadi Iman Santosa. Selama ini, pihaknya juga mengajukan permintaan vaksin ke Dinkes Grobogan.“Kita selalu minta vaksin ke Dinkes. Itupun baru dilakukan kalau ada permintaan vaksinasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Klinik Indonesia (Asklin) Grobogan Ahmadun Alfaputra juga menegaskan, jika klinik kesehatan yang ada juga bebas dari pemakaian vaksin palsu. Sebab, sama seperti rumah sakit, pihaknya juga meminta vaksin ke dinkes jika memerlukan. “Begitu ada kabar soal vaksin palsu, kita sudah lakukan koordinasi. Anggota Asklin semuanya mendapatkan vaksin dari dinkes, jadi aman,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

Marak Vaksin Palsu, Ini Kata Dinas Kesehatan Kudus

vaksin

Kepala DKK Kudus dokter Maryata saat memberikan keterangan soal vaksin palsu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan vaksin palsu membuat masyarakat khawatir. Karena itulah, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus meminta masyarakat bertanya lebih dulu bila menerima vaksin.

Kepala DKK Kudus dokter Maryata mengatakan, masyarakat hendaknya waspada dengan vaksin palsu. Sejauh ini, belum ditemukan ada vaksin palsu. Biasanya, warga Kudus mendapatkan vaksin dari puskesmas.

Jika vaksin diperoleh dari puskesmas, berarti itu asli. Karena puskesmas mendapatkannya dari DKK.

“Vaksin yang asli, pasti ada dampaknya. Biasanya demam, atau panas selama dua hari. Jika tidak maka perlu dicurigai,” kata Maryata.

Menurutnya, beberapa rumah sakit mengambil vaksin dari DKK. Hanya, masih ada pula yang belum mengambil dari DKK, melainkan memilih dari rekanan.

“Selain itu, vaksin kami juga gratis. Jadi tidak dipungut biaya sama sekali. Baik itu yang puskesmas maupun rumah sakit. Kalaupun ada biaya paling juga pelayanan dan obat,” ungkapnya.

Menurutnya, vaksin asli yang dimaksud, merupakan drop dari Kementerian Kesehatan. Dijamin vaksin yang dibagikan adalah asli.

Dia menjelaskan terdapat 11 jenis vaksin yang terdapat di DKK. Semuanya digratiskan dan dapat terlayani di semua puskesmas di Kudus.

“Sejauh ini masih aman, belum ada hal itu. Namun ada baiknya dapat bertanya lebih dahulu tentang vaksin yang diberikan,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pasien Lansia Penuhi RSUD dr Loekmono Hadi Kudus

 

penyakit rsud e

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi, dokter Aziz Achyar. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus –  Pascalebaran, pasien rawat inap didominasi pasien lanjut usia (lansia). Seperti RSUD dr Loekmono Hadi Kudus.

Di ruangan kelas III khususnya. Di ruangan itu penuh dengan pasien lanjut usia yang mengalami penyakit anemia dan tekanan darah tinggi.

Hal itu disampaikan Direktur RSUD dr Loekmono Hadi, dokter Aziz Achyar. Dia mengatakan, rata-rata per ruangan diisi pasien lansia. Mereka banyak mengeluhkan sakit pinggang dan kepala pusing, serta mual.

“Satu ruangan misal Melati I ada sembilan bangsal, tiap bangsal pasiennya orang tua semua. Seperti janjian, sakitnya mengeluh pada pinggang dan terkena anemia,” katanya

Padahal biasanya, kalau habis Lebaran penyakit yang dikeluhkan diare dan tekanan darah tinggi. Namun hal itu tidak terjadi pada Lebaran tahun ini.

Dia menambahkan, sekarang ini justru banyak penderita anemia kemungkinan mereka kelelahan menerima tamu.

Banyaknya pasien pascalebaran yang terkena anemia bukan tanpa sebab. Melainkan hal itu tergolong wajar.

Anemia ini disebabkan kelelahan dan kurang minum air putih. Aziz mengatakan, orang tua di atas 50 tahun memang rentan terkena penyakit tersebut.

“Meski makanan diatur, kalau kurang istirahat dan minum bisa terkena anemia. Apalagi selama lebaran yang aktivitas cenderung tinggi,” ungkapnya.

Penderita anemia, kata Aziz, pinggang, kaki, punggung terasa nyeri disertai kepala pusing. Jadi, tidak hanya tekanan darah tinggi saja yang mengalami pusing kepala. Berdasarkan data pasien rawat inap, paling banyak pasien kelas III yang mendominasi terkena penyakit anemia.

Dia menerangkan, penyakit anemia obatnya mudah, istirahat yang cukup, perbanyak minum air putih dan makan buah dan sayuran. Penyakit tersebut, tidak terlalu berbahaya, tapi kalau tensi darah sangat rendah dapat jatuh pingsan.

Editor : Akrom Hazami

 

Anda Punya Golongan Darah O? Segera Donorkan Darahmu

Bupati Grobogan Sri Sumarni dan FKPD ikut kegiatan donor darah memperingati Hari Bakti Adhyaksa (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni dan FKPD ikut kegiatan donor darah memperingati Hari Bakti Adhyaksa (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – PMI Grobogan saat ini sangat membutuhkan donor darah, khususnya buat pemilik golongan darah O. Hal ini terjadi menyusul minimnya persediaan darah golongan O yang tersedia di PMI.

Sekretaris PMI Grobogan Jasman ketika dikonfirmasi wartawan mengakui jika persediaan darah golongan O tinggal sedikit. Hal ini terjadi, lantaran menjelang lebaran sampai saat ini tidak banyak pendonor golongan darah O.

Untuk persediaan darah golongan lainnya, termasuk AB dikatakan masih melimpah. Padahal, pada tahun sebelumnya, golongan darah AB tersebut minim didapat. “Kondisi sekarang malah terbalik. Persediaan golongan darah AB melimpah. Sementara golongan darah O malah minim,” kata Jasman saat menghadiri acara donor darah dalam rangka memperingati Hari Bakti Adhyaksa yang dilangsungkan halaman Kantor Kejaksaan Negeri Purwodadi, Kamis (14/7/2016).

Menurut Jasman, minimnya stok darah golongan O tidak hanya terjadi di Grobogan saja. Namun, juga terjadi di daerah lainnya seperti Semarang, Solo, dan Kudus. Beberapa daerah biasanya sering minta persediaan darah golongan O ke Grobogan. Tetapi, karena minim juga, maka permintaan itu terpaksa tidak bisa dipenuhi. Pihaknya berharap masyarakat semakin sadar untuk mendonorkan darahnya.

Selain dapat membantu warga lainnya, donor darah juga menjadi investasi kesehatan.  “Banyak manfaatnya dari donor darah yang kita lakukan. Selain dapat mengetahui kondisi kesehatan secara berkala, donor darah juga dapat mencegah penyakit jantung,” imbuhnya.

Sementara itu, kegiatan donor darah yang dilangsungkan halaman Kantor Kejaksaan Negeri Purwodadi tidak hanya diikuti para pegawai saja. Bupati Grobogan Sri Sumarni, Kajari Purwodadi Abdullah, Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) lainnya juga ikut ambil bagian dalam acara tersebut.“Banyak kegiatan yang kita lakukan dalam memperingati Hari Bakti Adhyaksa tahun ini. Salah satunya adalah bakti sosial donor darah,” kata Kajari Purwodadi Abdullah.

 

Editor : Kholistiono

10 Puskesmas Ternyata Banyak Layani Pasien Diare

kudus-siaga lebaran (e)

Di pospam seperti ini, pegawai medis juga tetap berjaga selama libur Lebaran seperti ini. Ada tenaga medis dan ambulans yang disiagakan. MuriaNewsCom (Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Unit pelayanan kesehatan tetap disiagakan melayani warga saat Lebaran. Ada 10 puskesmas yang ada di Kudus, yang tetap disiagakan.

Puskesmas yang berstatus rawat inap sendiri masuk kategori siaga 24 jam. Dan puskesmas nonrawat inap masih wajib buka, meski hanya pada pagi hari saja.

Hal itu diinstruksikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Maryata. Menurutnya, masing-masing puskesmas harus mengirimkan jadwal by name by contact yang jaga saat Lebaran. Sehingga mudah dilakukan pengecekan.

”Pegawai DKK juga ada yang jaga. Yakni sebagai koordinator yang memantau tenaga medis yang jaga per puskesmas. Jadi semuanya masih harus buka,” katanya, Rabu (6/7/2016).

Puskesmas jaga 24 jam terdiri dari dokter, bidan, dan perawat. Sistem kerjanya stanbay di tempat, tidak lagi on call. Adapun puskesmas yang ditunjuk berjaga 24 jam, jumlahnya 10 unit, yang tersebar di Kudus.

Selain tenaga medis yang dipersiapakan, stok obat juga dipenuhi. Terutama obat diare dan panas. ”Karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pasien yang periksa ke puskesmas keluhannya adalah diare,” katanya.

Maryata mengatakan, 10 puskesmas yang buka 24 jam antara lain Puskesmas Sidorekso, Kaliwungu, Gribig, Undaan Kidul, Jepang, Dawe, Rejosari, Tanjungrejo dan Puskesmas Mejobo.

”Puskesmas memberikan pertolongan pertama. Jika pasien dinyatakan parah, bisa langsung dirujuk ke rumah sakit. Sebab pihak rumah sakit juga masih buka dengan standby 24 jam,” ujarnya.

Ditambahkannya, bagi yang ditugaskan piket wajib berada di tempat. Jika, ada laporan dari pasien yang mengeluhkan pelayanan lambat, pihaknya akan melakukan pemanggilan petugas yang berjaga pada waktu itu.

Editor: Merie

Petugas Kesehatan Terbantu Aplikasi WhatsApp

kudus-wasap dkk (e)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Maryata. MuriaNewsCom (Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kondisi yang serba cepat membutuhkan koordinasi dan tindakan yang cepat pula. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menyadari benar akan pentingnya tindakan cepat terhadap suatu keadaan.

Untuk itu, DKK memberlakukan koordinasi melalui grup WhatsApp, untuk memantau kinerja di masing-masing puskesmas dan pos Lebaran, saat momen Lebaran kali ini.

Kepala DKK Kudus dr Maryata mengatakan, pihaknya membuat grup wasap untuk memantau perkembangan setiap hari. Grup itu pula yang dijadikan sebagai laporan harian, oleh dan dari petugas jaga, baik puskesmas maupun pos.

”Dengan cara itu lebih cepat. Jadi setiap hari akan ada laporan dari masing-masing tempat. Mulai puskemas dan pos. Serta apa saja yang terjadi pada hari itu, harus ada laporan,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (6/7/2016).

Maryata melarang petugas dilarang meninggalkan tempat, meski sudah tidak jam jaga. Kecuali piket selanjutnya sudah datang. ”Hal itu untuk menjaga jikalau ada hal-hal yang tidak diinginkan, dan petugas belum siap. Makanya harus standby,” terangnya.

Untuk pos Lebaran, semua pos terdapat petugas yang siaga 24 jam dengan berlaku shift. Tiap kelompok terdiri dari dokter, perawat dan tenaga paramedis. Termasuk ada persediaan obat, ambulanns, dan lain sebagainya

Sedangkan khusus pos Terminal Induk Jati dan SPBU Klaling, disiapkan rest area, yang dapat digunakan pengguna jalan untuk istirahat. Kedua lokasi dipilih karena tempat yang rawan serta banyak pengguna jalan

”Intinya kami siap. Sehingga kapanpun dibutuhkan bisa datang ke lokasi-lokasi tersebut ,” imbuhnya.

Editor: Merie

Diare Itu Selalu Datang Usai Lebaran pada Anak-anak

kudus-penyakit lebara (e)

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter F Hikari Widodo. MuriaNewsCom (Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Usai datangnya Lebaran, beberapa penyakit biasanya banyak diderita masyarakat. Penyakit tersebut, di antaranya adalah diare.

Banyaknya jenis maknanya yang bebas masuk ke tubuh, membuat metabolisme tubuh terusik. Sehingga menyebabkan saluran pencernaan yang terganggu.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter F Hikari Widodo mengatakan, usai Lebaran ada penyakit yang biasanya memang selalu datang.

”Selain penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, satu lagi penyakit yang juga sering muncul. Yakni penyakit diare,” jelasnya kepada MuriaNewsCom.

Pasien diare cenderung dialami anak-anak. Orang tua harus bisa mengawasi makanan anak saat Lebaran. Makanya disarankan lebih banyak konsumsi sayur mayur, dan hindari minum es yang berlebihan.

”Kalau tidak diare ya, radang tenggorokan. Sudah menjadi siklus rutin tahunan saat Lebaran, penyakit yang disebabkan makanan yang mengandung gula dan santan seperti ini. Meski kesehariannya ada pasien tersebut, tapi jumlahnya yang meningkat,” paparnya.

Hikari mengatakan, tidak bisa mengontrol diri terhadap makanan yang tersedia dan mengandung lemak, bisa menyebabkan jadi rentan terkena penyakit metabolik. Untuk jangka panjang bisa berupa DM, tekanan darah tinggi, peningkatan kolesterol, serangan jantung mendadak, dan gangguan ginjal.

”Diare juga merupakan ancaman penyakit yang biasa diderita orang saat Lebaran. Untuk itu, bisa mengontrol makanan, dan hindari makanan manis dan bersantan. Yang penting ada proteksi diri sendiri kalau ingin sehat,” jelasnya.

Editor: Merie

 

Makanan Lebaran yang Ini Picu Penyakit, lho

kudus-penyakit lebara (e)

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter F Hikari Widodo. MuriaNewsCom (Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Banyaknya makanan yang berlimpah selama Lebaran, ternyata memicu timbulnya banyak penyakit. Khususnya makanan yang berbahan manis dengan banyak gula dan santan.

Makanan jenis itu, menjadi favorit selama Lebaran. Hanya tanpa disadari makanan itu pula yang menjadi sumber penyakit Lebaran yang sering dialami orang. Meningkatnya kolesterol dan tekanan darah tinggi yang disebabkan makanan yang serba manis itu.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter F Hikari Widodo mengatakan, pasien tekanan darah tinggi dan kolesterol tiap tahun mengalami kenaikan sampai 50 persen.

Menurutnya, rata-rata usia usia 40 tahun ke atas bisa dipastikan terkena penyakit itu, karena makanan yang tidak terjaga. ”Khususnya makanan yang dikonsumsi selama Lebaran. Perlu hati-hati bagi orang yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan diabetes militus (DM), agar tetap terkontrol makanannya,” katanya.

Untuk itu, penderita harusnya dapat hindari atau kurangi makanan kue kering yang manis. Jangan  sampai keterusan untuk mengkonsumsi secara terus. Sedangkan untuk minumnya lebih baik air putih, meskipun kebanyakan jamuan di rumah itu adalah minuman manis seperti sirup.

Hikari menambahkan, kesibukan merayakan Lebaran dapat menyebabkan pasien melupakan kewajiban minum obat untuk mengontrol penyakitnya. Sebenarnya masa puasa adalah masa pengontrolan yang baik untuk sebagian besar penderita DM maupun tekanan darah tinggi.

”Namun ketika Lebaran tiba, tubuh dikagetkan dengan banyaknya asupan gula, kolesterol, dan garam. Inilah yang akan memicu kambuhnya penyakit-penyakit lama,” imbuhnya.

Editor: Merie

 

Antisipasi Vaksin Palsu, Ini yang Dilakukan Dinkes Jepara

Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 MuriaNewsCom, Jepara – Mengantisipasi keberadaan vaksin palsu, Dinas Kesehatan (dinkes) Kabupaten Jepara melakukan pantauan lapangan. Untuk di lingkungan pemerintah sendiri, Dinkes menjamin di Jepara tidak ada vaksin palsu.

“Kalau untuk swasta, kami hanya melakukan pemantauan. Sedangkan untuk domain kami sendiri, kami pastikan tidak ada vaksin palsu,” ujar Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati kepada MuriaNewsCom, Jumat (1/6/2016).

Menurutnya, sistem distribusi yang digunakan selama ini dalam satu pintu. Sehingga, tidak mungkin vaksin itu palsu. Karena berasal dari pemerintah pusat yang didistribusikan melalui pemerintah provinsi.“Vaksin itu program pemerintah pusat, jadi pendistribusiannya juga satu pintu. Vaksin juga tidak dijual bebas di apotek,” katanya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, distribusi vaksin di Jepara menggunakan satu pintu. Dinkes Jepara menerima vaksin itu dari provinsi yang diambil dari pusat. Dari Dinkes Jepara kemudian didistribusikan ke puskesmas atau posyandu.”Kami tidak ada hubungan dengan pengadaan. Juga tidak bisa orang lain masuk ke kami,” katanya.

Selain itu, lanjut Susi, setelah beredar informasi terkait vaksin palsu, pihak Dinkes langsung mengadakan pengecekan. Namun, tidak ditemukan vaksin palsu beredar di Jepara. termasuk pengecekan di sejumlah rumah sakit swasta di Jepara. Sebab, secara administratif punya kewenangan sendiri. ”Kami sudah memerintahkan untuk dilakukan pengecekan untuk swasta. Kalau yang milik pemerintah memang kami langsung cek sendiri,” ujarnya.

Susi menambahkan, vaksin yang terima pihaknya terdiri lima jenis. Di antaranya, vaksin campak, polio, DPT (Depateri, Portusis, Tetanus), Kratitis, dan imuniasi dasar. Masing-masing jenis memiliki fungsi yang berbeda.”Vaksin yang palsu akan menyebabkan inveksi. Kami tidak bisa mengomentari terkait vaksin palsu yang beredar saat ini. Karena kami belum tahu sistem pembuatan dan pengemasannya seperti apa,” imbuhnya.

Terungkapnya kasus peredaran vaksin palsu membuat masyarakat yang menggunakan was-was. Mereka khawatir vaksin yang mereka gunakan palsu seiring terbongkarnya sindikat pengedar vaksin palsu tersebut.

Editor : Kholistiono

 

41 Dokter Jaga RSUD Kudus Siaga Selama Libur Lebaran

 Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus dr Aziz Achyar (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus dr Aziz Achyar (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 41 dokter jaga di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Loekmono Hadi Kudus sudah disiagakan selama libur lebaran. Mereka akan siap melayani masyarakat yang berobat ke RSUD Kudus.

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus dr Aziz Achyar mengatakan, 41 dokter tersebut terbagi dalam beberapa kategori, mulai dari spesialis hingga umum. Semuanya siap dan menyanggupi untuk piket selama lebaran.

“Bahkan dokter bedah dan otopedi juga siaga selama libur lebaran. Meraka bahkan ada yang siap berjaga selama 24 jam, jadi sewaktu-waktu dipanggil, mereka akan langsung melaksanakan tugasnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dia sendiri yang sudah memanggil para dokter tersebut. Meski ada yang mengatur jadwal, namun pelayanan dapat dilakukan oleh dokter lainnya. Sehingga, pelayanan di rumah sakit akan tetap berjalan selama libur lebaran.

Selain dokter, perawat juga disiagakan selama 24 jam. Model yang digunakan tetap sama yakni dengan model tiga shift setiap harinya. “Yang pasti, kami siap melakukan tugas selama lebaran,” katanya.

Editor : Kholistiono

Antisipasi Vaksin Palsu, DKK Kudus Imbau Warga Ambil Vaksin Gratis di Puskesmas

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Aziz Achyar (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata  (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Informasi mengenai beredarnya vaksin palsu akhir-akhir ini cukup gencar menghiasi pemberitaan media. Belum lama ini, beberapa pelaku juga berhasil diamankan oleh pihak kepolisian.

Menyikapi peredaran vaksin palsu itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata mengimbau kepada masyarakat agar dapat memberikan vaksin anaknya di puskesmas atau RSUD Kudus saja. Sebab, vaksin yang berada di RSUD atau puskesmas diklaim asli, lantaran sudah diuji.

“Kalau vaksin dari kami itu asli, sehingga yang di drop dari kami seperti puskesmas juga menggunakan vaksin asli. Selain itu, pasti gratis. Jadi kalau ada yang gratis dan asli kenapa tidak,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (29/6/2016).

Menurutnya, vaksin asli yang dimaksud, didrop dari Kementrian Kesehatan, yang bekerja sama dengan Biofarma Bandung. Dan di sana, katanya, vaksin yang dibagikan adalah asli.

Dia menjelaskan terdapat 11 jenis vaksin yang terdapat di DKK. Semuanya digratiskan dan dapat terlayani di semua puskesmas di Kudus. Sedangkan untuk rumah sakit swasta, dia mengimbau agar mengetahui vaksin yang dijual, dan melakukan uji tes, untuk melihat keaslian vaksin yang dijual.”Masyarakat tidak perlu panik terkait vaksin palsu. Sejauh ini di Kudus masih aman, khususnya yang terdapat di puskemas,” ungkapnya.

Yuniati Bodro M, Perwakilan RS Mardi Rahayu menjelaskan, kalau di Mardi Rahayu selama ini belum ada keluhan terkait vaksin yang diberikan. “Jumlahnya ada banyak, dalam waktu dekat ini akan kami tes. Sehingga dapat meyakinkan kalau vaksin tersebut asli,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

RS di Kudus Siap Layani Pemudik Peserta JKN-KIS

Penandatangan kesepakatan oleh BPJS Kesehatan dengan rumah sakit di Kudus dalam hal pelayanan saat lebaran (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penandatangan kesepakatan oleh BPJS Kesehatan dengan rumah sakit di Kudus dalam hal pelayanan saat lebaran (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


MuriaNewsCom, Kudus
– Selama mudik Lebaran, BPJS Kesehatan membebaskan peserta JKN-KIS yang ingin berobat langsung ke rumah sakit. Adanya kebijakan ini, seluruh rumah sakit diharap dapat memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

Menyikapi kebijakan itu, pihak rumah sakit di Kudus, baik itu rumah sakit swasta maupun milik pemerintah siap menampung peserta JKN – KIS. Pihak rumah sakit menyepakati pelayanan yang masih tetap diberikan kepada pemudik mesti tanpa rujukan di tingkat faskes I.

Kesepakatan tersebut oleh pihak rumah sakit, dituangkan dalam penandatanganan saat jumpa pers pagi tadi. Perwakilan rumah sakit yang turut hadir dalam jumpa pers adalah RSUD Loekmono Hadi, RS Mardi Rahayu, RSI Sunan Kudus, RS Aisiyah dan RS Kemala Siwi. Mereka menandatangani kesiapan melayani pemudik peserta JKN-KIS.

Direktur RSI Sunan Kudus dr Farid Nur mengatakan, pihak RSI Sunan Kudus siap melayani pemudik peserta JKN-KIS. Namun agar program ini bisa lebih maksimal, menurutnya dibutuhkan publikasi yang lebih banyak. “Spanduk, baliho dan pamflet harusnya juga disiapkan. Agar para pemudik tahu adanya pelayanan ini,” katanya saat jumpa pers di Kantor BPJS Kesehatan Kompleks Perkantoran Mejobo, Rabu (29/6/2016).

Dia mengatakan, kesipaan juga untuk pelayanan rawat inap. Diyakini saat lebaran nanti banyak rumah sakit yang sepi pasien. Hal itu disebabkan pasien yang meminta pulang terlebih dahulu sebelum lebaran. “Pelayanan sekarang lebih bagus, kalau tahun lalu hanya pasien emergensi saja, namun sekarang pasien non emergensi juga dilibatkan,” ujarnya.

Sayangnya, di RSI Sunan Kudus saat lebaran pertama tidak ada yang piket dokter bedah. Sehingga jika ada kebutuhan untuk bedah tidak dapat terlayani.

Sementara, Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus dr Aziz Achyar menjelaskan, pelayanan tetap buka 24 jam, dan soal kartu BPJS, sebenarnya cukup menggunakan KTP. “Silakan saja datang berobat, KTP dirasa cukup. Dan untuk ruang, memang biasanya cukup longgar, karena mulai banyak yang meminta pulang,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

BPJS Kesehatan Permudah Pelayanan Bagi Pemudik

Konferensi pers yang dilakukan BPJS Kesehatan terkait pelayanan kemudahan bagi pemudik (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Konferensi pers yang dilakukan BPJS Kesehatan terkait pelayanan kemudahan bagi pemudik (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebagai wujud kepedulian terhadap kenyamanan dan kepuasan peserta dalam hal penjamin pelayanan kesehatan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1437 H, BPJS Kesehatan menerapkan kebijakan khusus terkait prosedur pelayanannya.

Para peserta JKN-KIS yang sedang mudik dijamin bisa memperoleh pelayanan kesehatan dengan membawa Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu BPJS Kesehatan, Kartu Askes, dan Kartu Jamkesmas.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kudus Agus Purwono mengatakan, peserta JKN-KIS yang sedang mudik dapat berobat di luar wilayah tanpa harus melapor ke kantor cabang BPJS setempat. Peserta kesehatan dapat langsung mengunjungi IGD rumah sakit terdekat selama mudik berlaku sejak H-7 sampai H+7 lebaran.

“Ini merupakan program nasional, jadi jika pemegang kartu dalam kondisi emergensi maupun non emergensi masih tetap dapat dilayani. Yakni dengan langsung datang ke rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan,” katanya, Rabu (29/6/2016).

Ia katakan, fasilitas kesehatan tidak diperkenankan menarik iuran biaya peserta yang sedang sakit saat mudik. Peserta, menurutunya cukup hanya memperlihatkan kartu aktif. Kartu tersebut, nantinya digunakan untuk mengecek kepesertaan. Jika kartu masih aktif, maka pelayanan akan didapatkan oleh peserta BPJS tanpa terkecuali.”Tema kami adalah “Mudik Nyaman Bersama BPJS Kesehatan.”Jadi harus tetap dilayani,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, sebenarnya hanya menggunakan KTP bisa, tapi KTP baru dapat digunakan jika memang kartu JKN – KIS tidak dibawa karena suatu hal. Sebab,proses akan lebih lama, dikarenakan pihak rumah sakit harus mengacak lagi nomor KTP pada link BPJS Kesehatan.

Editor : Kholistiono

Dinkes Jepara Ngaku Belum Dapat Laporan Terkait Belasan Warga di Welahan yang Terserang DBD

Salah satu anak terkena demam berdarah dan mendapatkan perawatan di rumah sakit (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Salah satu anak terkena demam berdarah dan mendapatkan perawatan di rumah sakit (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus demam berdarah terjadi di Desa Welahan, Kecamatan Welahan, Jepara sejak beberapa pekan terakhir. Namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara mengaku belum mendapatkan laporan tersebut.

Ketika dikonfirmasi MuriaNewsCom, Senin (27/6/2016), Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati melalui Kabid Kesmas Mudrikatun belum mendapatkan laporan, baik dari warga maupun petugas mengenai kasus DB tersebut.“Kalau memang ada, kami akan menindaklanjuti dengan mendatangi lokasi, untuk melakukan pengecekan,” ujar Mudrikatun kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pihaknya akan segera melakukan tindakan penanganan di wilayah tersebut. Untuk tindakan lanjutan apakah diperlukan fogging atau tidak, menunggu hasil survei yang dilakukan.

“Kita tidak bisa serta merta lakukan fogging tiap kali ada kasus DB. Harus survei dulu. Apakah cukup dilakukan PSN secara menyeluruh, pemberian abate atau fogging, harus didasarkan hasil survei,” paparnya.

Ia mengaku sudah melakukan kordinasi dengan pihak Puskesmas setempat untuk mendatangi lokasi untuk melakukan pantauan dan survei.

Editor : Kholistiono

Gawat, Belasan Warga Welahan Jepara Terserang DBD

Salah satu korban DBD sedang menjalani perawatan di rumah sakit (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Salah satu korban DBD sedang menjalani perawatan di rumah sakit (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Belasan warga Desa Welahan, Kecamatan Welahan, Jepara terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD). Di antara mereka kini dirawat intensif di RSI Sunan Kudus.

Salah seorang warga RT 02 RW 04 desa setempat, Gupomo (35) membeberkan, Istrinya Faizah, dan putrinya Safa Wahyu Nofita saat ini menjalani perawatan di RSI Sunan Kudus. Masing-masing mulai masuk ke rumah sakit pada Rabu (22/6/2016) dan Kamis (23/6/2016) malam.

“Ada banyak yang sudah terkena DB, kalau 10 orang lebih. Ada yang dirawat di Puskesmas Welahan, dan di rumah sakit. Putri saya saat ini masih dirawat di ICU. Sebelumnya sudah dirawat Puskesmas Welahan,” ujar Gupomo kepada MuriaNewsCom, Senin (27/6/2016).

Menurutnya, kondisi tersebut sudah terjadi sejak sebulan terakhir. Diyakini, jumlah itu lebih banyak, sebab kemungkinan di RT dan RW lain juga ada yang terkena. Ia berharap, pemerintah segera melakukan tindakan yang seperlunya. Jika diperlukan, maka hendaknya dilakukan pengasapan (fogging).“Saya khawatir dengan informasi yang beredar, bahwa fogging atau tindakan darurat lain baru akan dilakukan jika ada korban jiwa,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebelumnya pernah terjadi fenomena tersebut di sekitaran tempat tinggalnya. Ia menduga, DB yang menyerang sejumlah warga akibat nyamuk yang diketahui banyak muncul belakangan ini.

Editor : Kholistiono

 

Sosialisasi Aturan Baru, BPJS Kesehatan Bakal Gandeng Pemkab Kudus

f-bpjs 2

MuriaNewsCom, Kudus – Aturan baru tersebut terkait bayi yang lahir dari orang tua peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) secara otomatis tercatat sebagai peserta JKN, masih perlu disosialisaikan. Dalam hal ini BPJS Kesehatan bakal menggandeng Pemkab Kudus.

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono mengatakan, untuk informasi terbaru ini akan diagendakan rapat bersama jajaran Pemkab Kudus, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) serta pihak rumah sakit sebagai patner pelaksanaan.

“Aturan ini baru, tapi sudah berjalan. Sehingga, pihak terkait perlu ada sosialisasi agar tidak ada salah komunikasi ke depannya. Apalagi Dinsosnakertrans, sekarang pegang kendali data masyarakat yang kurang mampu,” katanya.

Rencananya, kata dia, tahap berikutnya bakal digelar sosialisasi khusus untuk Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK).“Kemudian, untuk bayi khusus peserta perorangan (mandiri) sebaiknya  daftarkan dahulu ketika sudah diketahui denyut jantungnya atau maksimal masa hamil 7-8 bulan.Dengan demikian dapat membantu dalam proses ke depan dan jika terjadi apapun dapat ditanggung BPJS Kesehatan,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

 

Bayi PBI Otomatis jadi Peserta BPJS Kesehatan

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bayi yang lahir dari orang tua peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) otomatis tercatat sebagai peserta JKN dan bisa langsung didaftarkan sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono mengatakan, aturan itu mengacu pada PP Nomor 76 tahun 2015 tentang perubahan PP Nomor 101 tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan yang belum mencantumkan bahwa bayi yang baru dilahirkan bisa terdaftar secara otomatis.

“Jadi, ibu dari kepesertaan PBI yang melahirkan, maka anaknya akan terkover BPJS Kesehatan secara langsung. Aturan tersebut sedang dalam proses sosialisasi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Untuk selanjutnya, tinggal mengurus administrasi, yakni menyerahkan surat keterangan lahir. Orang tua bayi juga tinggal  mengirimkan nama, maksimal tiga bulan.

Agus menambahkan, PP sebelumnya tidak bisa kalau ingin memasukkan anak yang baru lahir menjadi kepesertaan BPJS Kesehatan, dan harus pindah menjadi kepesertaan mandiri. Namun mulai sekarang tidak perlu, dan sampai anak ketiga masih bisa dikover.

Dia menambahkan, kasus persalinan juga akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan jika pasien sudah terdaftar aktif sebagai peserta, baik itu dalam keadaan darurat ataupun tidak. “Jadi, jika ada bayi yang sakit, orang tua tidak usah bingung. Sebab, dapat ditangani langsung,lantaran sudah masuk sebagai anggota BPJS Kesehatan. Seperti misalnya bayi yang kena kuning, dapat langsung ditangani,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono