Ganjar Ingin Satpol PP Jateng Nguwongke Liyan

Wagub Heru Sudjatmoko saat memberikan dukungan kepada personel Satpol PP di Kabupaten Jepara, Selasa. (Diskominfo Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ingin agar personel Satuan Pamong Praja (Satpol PP) di Jateng lebih humanis. Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada Jambore Satpol PP ke VII, di Desa Kelet, Kecamatan Keling-Jepara, Selasa (29/8/2017). 

“Kita ingin Satpol PP lebih humanis, lebih dekat dengan rakyat dan persuasif dalam banyak hal. Ini kapasitas yang harus dipenuhi di tengah tekad dan semangat kita memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat,” ujar Ganjar dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko. 

Di samping itu Ganjar ingin sebagai personel penegak peraturan daerah, tidak bertindak kasar namun tetap tegas. Hal itu karena dalam tugas keseharian, aparat satpol pp selalu bersinggungan dengan masyarakat yang memiliki beragam watak dan kepentingan.

“Di sinilah profesionalitas ditunjukan, tegas itu penting tapi berbeda dengan kasar, tegas itu perlu tapi kasar harus dihindari. Lakukan dengan pendekatan humanis, kultural, sosiologis dan pahami agar terlihat simpatik di masyarakat,” katanya. 

Lebih lanjut, Ganjar mengatakan tugas Satpol PP juga memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat agar mengerti tentang regulasi serta peraturan. Dengan demikian, ia berharap agar pelanggaran terhadap perda dapat ditekan.  “Humanis artinya harus melakukan pelayanan terhadap mayarakat dan nguwongke liyan (menghargai nilai kemanusiaan),” pungkas Gubernur Jawa Tengah. 

Sementara itu Heru Sudjatmoko mengungkapkan, ajang jambore Satpol PP merupakan kesempatan bagi personel untuk meningkatkan kemampuan, kepekaan, kepedulian dan rasa empati atas kondisi masyarakat.  Adapun kegiatan Jambore Satpol PP ke 7 Jawa Tengah digelar selama empat hari sampai Kamis (31/8/2017) dan diikuti 360 orang. 
Editor : Akrom Hazami

Kiat Perhutani KPH Purwodadi Cegah Kebakaran Hutan

Sejumlah personel Satuan Pengendali Kebakaran (Satdalkar) Hutan KPH Purwodadi berupaya memadamkan api yang membakar kawasan hutan beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah kebakaran di wilayah hutan terutama saat musim kemarau ternyata sudah menjadi perhatian serius dari Perhutani KPH Purwodadi Grobogan.

Untuk mencegah terjadinya bencana kebakaran, beberapa langkah antisipasi sudah dilakukan. Salah satunya meningkatkan kesiagaan personel yang tergabung dalam Satuan Pengendali Kebakaran (Satdalkar) Hutan.

“Ada beberapa posko Satdalkar di wilayah KPH Purwodadi. Tugas utama Satdalkar ini adalah melakukan pemadaman ketika terjadi kebakaran hutan. Anggota Satdalkar selalu apel siaga rutin,” jelas Administratur KPH Purwodadi Dewanto, Selasa (29/8/2017).

Dijelaskan, selain petugas Perhutani, anggota Satdalkar ini juga diisi pihak luar. Antara lain, dari anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Anggota Satdalkar ini sebelumnya sudah mendapat serangkaian pelatihan dasar pemadaman kebakaran berikut penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).

Untuk mendukung tugas pemadaman, lanjut Dewanto, di setiap posko Satdalkar juga dilengkapi peralatan. Yakni, APAR dan alat pemadaman api tradisional. Dengan adanya peralatan maka akan memudahkan petugas untuk menangani jika terjadi kebakaran hutan sewaktu-waktu.

Selain mengatasi kebakaran, fungsi Satdalkar juga memberikan serangkaian sosialisasi pada masyarakat. Yakni, meminta masyarakat agar tidak menyulut api sembarangan di kawasan hutan, karena bisa menyulut kebakaran yang lebih besar.

Masyarakat sekitar hutan juga diminta agar tidak membakar sisa hasil panen tanpa pengawasan.

Menurut Dewanto, pada musim kemarau seperti ini, tingkat kerawanan terjadinya  kebakaran hutan memang sangat tinggi. Sebab, banyak daun dan semak yang mengering sehingga mudah sekali terbakar.

“Selama ini memang sempat terjadi peristiwa kebakaran hutan di wilayah KPH Purwodadi. Tetapi skalanya tidak begitu besar karena cepat ditangani,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Ribuan Warga Pati Padati Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso

Peserta karnaval melambaikan tangan kepada warga di kawasan Alun-alun Pati, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan warga Pati memadati festival pembangunan bertajuk “Noto Projo Mbangun Deso” di sepanjang jalan dari Alun-alun Pati menuju kawasan Stadion Joyokusumo, Selasa (29/8/2017).

Mereka menyaksikan beragam miniatur potensi Kabupaten Pati yang diarak di sepanjang jalan, dari potensi pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, hingga perhotelan. Sejumlah ornamen seni dan budaya juga tak luput dari pandangan.

Tak ketinggalan, Kodim 0718/Pati menampilkan miniatur tank jenis Leopard yang menjadi kebanggaan anggota TNI AD. Kapal, ikan, sapi, hasil bumi, dua kelinci, garuda, dan beragam potensi Pati lainnya mewarnai suasana karnaval.

Begitu juga nuansa kolosal terlihat di beberapa baris, dari gapura, kereta kencana, kereta berkuda, istana, sampai ornamen semacam patung buta atau raksasa. Berbagai simbol kebanggaan Pati seperti Kuluk Kanigara dan Keris Rambut Pinutung juga ikut menghiasi suasana karnaval.

Bendera merah putih berkobar di sepanjang jalan dan lambang Garuda Pancasila sesekali tampak. Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso berhasil menyedot animo warga Pati.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, festival tersebut untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Pati dan HUT ke-72 RI. Festival Pembangunan menjadi simbol untuk membangun dan melejitkan potensi yang ada di Kabupaten Pati.

“Pati punya banyak potensi, dari pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, perhotelan, wisata, dan masih banyak lagi lainnya. Potensi itu yang ingin kami tunjukkan dalam festival pembangunan Noto Projo Mbangun Deso supaya masyarakat tahu,” kata Haryanto.

Sementara itu, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin menambahkan, festival pembangunan menjadi salah satu promosi Pati. Kendati diakui tidak sebesar seperti di Jember dan Banyuwangi, tapi ke depan event serupa akan digeber untuk menarik minat wisatawan asing.

“Ini menjadi ajang promosi Pati. Ke depan, kita akan create untuk promo nasional agar nama Pati dan pembangunan yang ada bisa dilihat masyarakat luas. Ini sudah saatnya Pati maju seperti kota-kota besar lainnya,” pungkas Arifin.

Editor : Ali Muntoha

Lebih Banyak Cewek yang Daftar Duta Wisata Grobogan, Cowoknya ke Mana?

Pemilihan Duta Wisata Grobogan 2016 lalu. Tahun ini jumlah pendaftar antara Mas dan Mbak Grobogan justru tak seimbang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ajang pemilihan Duta Wisata Grobogan 2017 tampaknya bakal sedikit berbeda dari sebelumnya. Karena, pendaftar untuk kategori Mas Grobogan jumlahnya lebih kecil dibandingkan peminat kategori Mbak Grobogan.

Masa pendaftaran peserta Duta Wisata Grobogan sudah ditutup 25 Agustus 2017 lalu. Sampai hari terakhir, total ada 30 pendaftar.

Rinciannya, 20 pendaftar adalah wanita dan 10 pria. Para pendaftar ini sebagian besar merupakan pelajar SMA dari beberapa sekolah di Grobogan.

“Untuk tahun ini, jumlah pendaftar pria memang lebih sedikit. Yakni, hanya 10 orang saja. Kalau pendaftar wanita jumlahnya dua kalinya. Tahun sebelumnya, jumlah pendaftar pria dan wanita ini berimbang,” kata Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat, Selasa (29/8/2017).

Jumlah pendaftar tahun ini juga lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 50 orang. Hal ini terjadi karena pihak panitia memang membatasi jumlah peserta maksimal hanya 30 orang saja.

Pembatasan itu dilakukan supaya pelaksanaannya bisa cepat waktunya serta lebih efektif dan efisien.

“Kalau pesertanya terlalu banyak, acaranya baru selesai hingga lewat tengah malam. Oleh sebab itu, jumlah pesertanya kita batasi hanya 30 orang saja. Untuk grand final pemilihan duta wisata akan dilangsungkan 9 September 2017 di pendapa,” kata Jamiat.

Editor : Ali Muntoha

Maryanto Ayem, Kambing yang Dijual di Jepara Tinggal 7 Ekor

Pedagang hewan kurban tengah memberi makan kambing yang siap dijual. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Lapak penjual hewan kurban di Kelurahan Demaan-Jepara mulai kebanjiran pembeli. Empat hari jelang Idul Adha, sudah puluhan kambing yang terbeli, Selasa (29/8/2017).

Hal itu diakui oleh seorang pedagang Maryanto. Menurutnya, ia dan rekan-rekannya telah membuka lapak di tanah lapang yang bersebelahan dengan Stadion Kamal Junaedi, sejak Minggu (27/8/2017).

“Sudah dari hari Minggu membuka lapak. Dari 53 kambing yang dibawa, sudah 46 yang terjual ekor sekarang tinggal 7 ekor,” tuturnya.

Ia mengatakan, kebanyakan pembeli berasal dari Kedung Malang, Mlonggo dan areal Kota Jepara. Saat membeli kambing, rata-rata konsumen biasanya menitipkan hewan kurban di lapaknya.

“Ini masih banyak karena titipan, nanti diambilnya pas hari Kamis (31/8/2017), berdekatan dengan hari raya,” katanya. 

Dari sisi harga, kambing kurban jantan dijual dari harga paling rendah Rp 2 juta dan termahal Rp 3,5 juta. 

Sementara itu pedagang lain Sutiyono menyebut hal serupa. Dari 40 kambing jenis Jawa Randu sudah setengahnya yang terjual.

Ia menyebut, akan membuka lapaknya hingga hari raya kurban. Hal itu karena pada hari tersebut biasanya masih ada orang yang mencari hewan sembelihan.

“Namun saya memperkirakan puncak pembeli nanti pada hari Rabu dan Kamis. Kalau yang beli ada yang langganan dari tahun lalu ada yang baru,” ucapnya.

Ditanya tentang kendala, ia menyebut belum ada. Hanya saja, kondisi cuaca yang panas menyebabkan ia harus sering memberi minum kepada kambing-kambingnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani Kopi di Pati Incar Pasar Ekspor

Petani kopi asal Sidomulyo Pati, Muttaqin (kiri) bersama Anggota DPR RI Firman Soebagyo menunjukkan kopi kemasan produksi sendiri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani kopi di Pati mengincar pasar ekspor untuk memasarkan produk kopi yang diolah dari lereng Pegunungan Muria. Salah satunya, petani kopi yang tergabung dalam kelompok Tani Mulya Mandiri di Desa Sidomulyo, Gunungwungkal, Pati.

Ketua Poktan Tani Mulya Mandiri Muttaqin mengatakan, pihaknya optimistis bisa menembus pasar ekspor setelah mendapatkan bantuan mesin pengolahan kopi dari pemerintah. Bantuan senilai Rp 650 juta itu diserahkan Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo.

“Bantuan berupa mesin pengolahan kopi ini sangat positif karena bisa meningkatkan produksi kopi yang tidak hanya dijual dalam bentuk basah, tetapi juga kemasan bubuk. Dengan peningkatan produksi dan kualitas kopi, kami ingin membuka pintu ekspor sendiri,” kata Muttaqin kepada MuriaNewsCom, Selasa (29/8/2017).

Menurutnya, produk kopi dari Pati bisa tembus ke pasar ekspor, karena memiliki rasa dan aroma yang cukup istimewa. Terlebih, kopi yang diproduksi dengan brand “Kopi Jowo” itu sudah digemari penikmat kopi mancanegara.

Selama ini, kopi asal Pati secara tidak langsung sebetulnya sudah diekspor oleh perusahaan-perusahaan besar. Kopi yang dihasilkan dari empat kecamatan di Pati disetorkan dalam bentuk gelondong kering dan green been ke sejumlah perusahaan yang selanjutnya diekspor ke luar negeri.

Hal itu disebabkan petani kopi Pati belum mampu memproduksi sendiri, sehingga hasil panen langsung disetorkan ke sejumlah perusahaan besar.

“Petani kita setor ke perusahaan untuk selanjutnya disortir. Grade satu diekspor, sedangkan grade dua dipasok di dalam negeri. Selebihnya, kembali ke Pati lagi dengan kemasan nama dan daerah lain,” ungkap Muttaqin.

Karena itu, dia bersyukur ada anggota DPR RI yang peduli pada petani lokal, sehingga saat ini sudah bisa memproduksi kopi sendiri. Meski saat ini baru bisa memproduksi 10 persen kopi bubuk dalam kemasan yang dipasarkan di kota-kota besar, tapi ke depan akan terus ia kembangkan.

Sementara itu, Firman akan terus memperjuangkan nasib petani lokal untuk bisa meningkatkan kesejahteraannya. Terbukti setelah bantuan mesin pengolahan kopi diberikan, petani lokal mampu menjual kopi dari Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu yang sebelumnya hanya berkisar di angka Rp 22 ribu sampai Rp 30 ribu saja.

“Dari awal, saya terus turun ke lapangan secara langsung untuk melihat potensi pertanian di Pati yang belum tersentuh. Ternyata, Pati juga penghasil kopi yang cukup besar dengan lahan seluas 1.700 hektare, menghampar dari Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal dan Cluwak,” tuturnya.

Sayangnya, potensi kopi yang cukup besar di Pati selama ini kurang begitu dikenal. Karena itu, dia akan melakukan berbagai upaya, termasuk pemberian bantuan mesin pengolahan supaya produk kopi robusta khas Pati dikenal dunia.

Editor : Ali Muntoha

Ekspresi Lucu Bocah-bocah TK Cahaya Nur Kudus saat Diimunisasi Dokter Cantik

Ekspresi anak didik TK Cahaya Nur Kudus ketika disuntik imunisasi measles rubella. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Selalu ada “drama” di tengah-tengah imunisasi yang dilaksanakan di sekolah. Sejak dulu, hingga kini pun imunisasi seolah-olah menjadi momok yang begitu menakutkan.

Beragam cara dilakukan bocah-bocah ini untuk menghindari imunisasi. Mulai dari bersembunyi, pura-pura sakit, bahkan ada yang melawan dan menendang seperti video yang beredar di medsos belakangan terakhir.

Begitu juga dengan anak didik di KB-TK Cahaya Nur Kudus, Selasa (29/8/2017). Lihatlah ekspresi lucu mereka ketika mendapatkan suntikan imunisasi MR (measles rubella). Ada yang biasa saja, ada yang menahan takut, bahkan ada bocah yang sok seolah tegar menahan suntikan, yang membuat orang tuanya terpingkal-pingkal melihatnya.

Untuk membuat anak didiknya mau diimusinasi, sekolah ini memang melakukan langkah edukasi yang cukup panjang.

Apalagi menurut  Sr Anna Damiana PI, Kepala KB TK Cahaya Nur Kudus, tak semua orang tua menerima begitu saja mengenai suntikan imunisasi. Sebagian orang tua justru khawatir jika anaknya harus diimunisasiIMR, terlebih pelaksanaan di sekolah dengan petugas dari Puskesmas.

“Kami pertama memberikan penjelasan lewat surat kepada seluruh orang tua. Jika ada yang mempertanyakan, maka guru akan melaporkan kepada saya untuk saya temui secara langsung yang bersangkutan,” katanya kepada wartawan di sela-sela imunisasi di KB TK Cahaya Nur.

Salah satu anak didik TK Cahaya Nur Kudus menahan sakit sambil mengacungkan jempol saat disuntik imunisasi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Menurut dia, orang tua siswa mempertanyakan apakah ada dokter yang bertugas ataukah tidak. Selain itu, mengenai jarum suntik yang digunakan juga dipertanyakan apakah steril dan sekali pakai ataukah tidak.

Menjawab pertanyaan tersebut, pihak sekolah menjelaskan kalau terdapat dokter yang menangani langsung untuk proses imunisasi. Selain itu, jarum suntik yang digunakan juga sekali pakai, sehingga orang tua tak perlu khawatir.

“Sebenarnya otangtua juga masih ragu dengan petugas dari Puskesmas. Tapi dari kami menejelaskan kalau petugas puskesmas sekarang profesional dan sangat bagus. Apalagi ada dokternya juga,” ujarnya.

Sementara, untuk para siswa yang diimunisasi sejumlah 150 siswa. Untuk memberi pemahaman, selama sepekan penuh materi yang diberikan adalah materi tentang imunisasi dan dampaknya. Bahkan video tentang imunisasi juga diputarkan agar anak memahaminya.

Selain itu, lanjut dia, para pendidik juga memberikan contoh proses imunisasi. Harapnya, para siswa tidak kaget dan siap menjalani proses imunisasi.

“Kami mendukung program pemerintah pusat, makanya kami berusaha agar semua siswa dapat imunisasi,” ungkap dia.

Dalam sekolah tersebut, terdapat beberapa siswa yang tak bisa diimunisasi hari ini. Karena, sebagian sudah diimunisasi dan sebagian lainnya sedang sakit. Untuk itu, sekolah memberi rujukan agar diberikan imunisasi serupa di klinik.

Editor : Ali Muntoha

Warga Karangrandu Jepara Berinisiatif Tutup Saluran Limbah Tahu-Tempe 

Warga saat melihat limbah Sungai Gede Karangrandu Jepara, Senin (28/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan warga Desa Karangrandu dan Pecangaan Kulon, Jepara,  jengah dengan bau busuk akibat limbah Sungai Gede Karangrandu, Senin (28/8/2017) sore. Terutama mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Mereka menutup saluran pembuangan limbah tahu dan tempe.

Muhammad Subhan warga Desa Karangrandu mengatakan, aksi murni berasal dari inisiatif warga.  “Ya itu berasal dari inisiatif warga Karangrandu dan Pecangaan Kulon, karena bau dan mencemari lingkungan,” katanya.

Menurutnya, penutupan saluran pembuangan sisa produksi tahu-tempe dilakukan dengan menggunakan campuran semen. “Semen lantas dimasukan ke saluran sedalam-dalamnya,” urainya dalam pesan singkat.

Diberitakan sebelumnya, sempat beredar kabar melalui perpesanan dari aplikasi Whats App bahwa Pemdes Karangrandu melakukan penutupan  saluran limbah tahu-tempe. Namun setelah dikonfirmasi, Kepala Desa Karangrandu Syahlan menampiknya. Akan tetapi dirinya mengakui sempat didatangi warga yang ingin menutup saluran limbah.

“Pemdes tidak pernah menyuruh ataupun melarang. Namun warga memang ada yang pernah kesini mengutarakan rencana penutupan saluran tahu-tempe,” tuturnya. 

Terpisah seorang pengusaha Ahmad Maryanto juga pernah mendengar desas-desus tersebut. Namun sampai Senin pagi, ia belum pernah mengetahui rencana tersebut betul-betul dilaksanakan. 

Dirinya juga mengklaim, bahwa tidak lagi membuang limbah tahu tempe ke sungai. Ia lebih memilih membuang sisa produksi dengan membuangnya ke sawah. Hal itu menurutnya lebih aman. 

Editor : Akrom Hazami

DPRD Kudus Minta Disdikpora Keluarkan Larangan Bawa Gadget bagi Siswa Sekolah

Ketua Komisi D DPRD Kudus Setia Budi Wibowo.(Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi D DPRD Kudus meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) serius menyikapi dugaan kasus kekerasan yang menimpa AL (8) siswa salah satu sekolah dasar di Kabupaten Kudus, baru-baru ini.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan Disdikpora yaitu menjauhkan pengaruh ponsel pintar (gadget) dari anak, setidaknya di lingkungan sekolah. Ketua Komisi D DPRD Kudus Setia Budi Wibowo mengatakan, sudah banyak penelitian yang menyebutkan dampak negatif penggunaan gadget tanpa kontrol pada anak-anak.

“Komisi D meminta Disdikpora melarang anak sekolah dasar membawa ponsel pintar di sekolah. Sebab tak jarang akses internet pada ponsel pintar disalahgunakan anak untuk mengakses konten yang tidak sesuai dengan umurnya,” katanya.

Tanpa bimbingan orang tua, anak-anak bisa saja leluasa mengakses konten dewasa yang berisi adegan kekerasan maupun seksual. Bowo, panggilan Setia Budi Wibowo menambahkan, jika anak-anak terus terpapar tayangan seperti itu, dikhawatirkan mereka pun meniru dalam pergaulan nyata teman sekolahnya.

Terlebih anak-anak kerap masih sulit membedakan mana konten yang baik dan buruk bagi mereka. Wakil rakyat asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menambahkan, guru maupun kepala sekolah juga diminta tak hanya memikirkan bagaimana meningkatkan kecerdasan akademik anak saja.

Pasalnya, tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter anak. “Pendidikan tidak boleh hanya fokus bagaimana membentuk anak agar pintar saja. Namun karakter dan kepribadian anak juga perlu ditumbuhkan,” katanya.

Kepala Disdikpora Joko Susilo mersepons positif usulan Komisi D tersebut. Pihaknya akan segera mengkoordinasikannya dengan guru maupun kepala sekolah di Kabupaten Kudus. “Anak-anak sekolah dasar memang sebaiknya tidak diberi kebebasan menggunakan ponsel pintar. Apalagi guru tak mungkin mengawasi seluruh murid-muridnya selama jam sekolah berlangsung,” katanya. (NAP)

 

Editor : Akrom Hazami

Kantor Kecamatan Jekulo Kudus Diusulkan Diganti Bangunan Baru

Komisi A DPRD Kudus saat melakukan foto bersama Camat  Jekulo Dwi Yusi Sasepti di tempat pelayanan Kecamatan Jekulo, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, mengusulkan adanya pembangunan gedung baru, tahun ini. Gedung yang mereka pakai saat ini, terlalu kurang tertata, dan menimbulkan kurang enak dilihat.

Camat Jekulo Dwi Yusi Sasepti mengusulkan pembangunan gedung baru kantor Kecamatan Jekulo. Tujuannya, biar gedung  menjadi lebih baik, dan tertata. Pantauan MuriaNewsCom, gedung kantor kecamatan menempati  bangunan cagar budaya. Gedung yang sudah tua, membutuhkan perawatan ekstra. Bahkan, sejumlah sudut eks Kawedanan Jekulot itu terlihat kurang perawatan.

“Rencana pembangunan sudah lengkap. Usulan juga sudah kami sampaikan, tinggal menunggu di APBD 2018 mendatang. Mudah-mudahan dapat,” kata Dwi saat kedatangan DPRD Kudus Komisi A, di kantor Kecamatan Jekulo, Senin (28/8/2017).

Besaran anggaran yang diusulkan Rp 8 miliar. Dana itu akan digunakan untuk menata sejumlah tempat. Mulai pagar depan kantor, pintu keluar dan masuk, serta taman di depan gedung. Bagian kiri dan kanan gedung akan didirikan bangunan yang berfungsi sebagai kantor kecamatan. Sedangkan bagian belakang, jadi tempat santai sekaligus gedung rapat terbuka.

Sedangkan gedung Eks Kawedanan Jekulo dibiarkan. Karena untuk membenahinya butuh waktu lama. Fungsinya akan menjadi gedung serbaguna. Dalam pembangunan tersebut, juga akan meruntuhkan satu gedung milik PDAM Kudus. Untuk pembongkaran gedung, sudah dikomunikasikan dengan Direktur PDAM Kudus Achmadi Safa.

Ketua Komisi A DPRD Kudus Mardijanto mendukung atas usulan pembangunan gedung baru kantor Kecamatan Jekulo. “Kami akan lihat dulu  usulan dari instansi lainya yang masuk. Mana yang benar-benar membutuhkan dan mendesak, akan dianggarkan terlebih dahulu,” kata Mardijanto.

Menurut dia, kantor Kecamatan Jekulo memang membutuhkan penanganan yang serius. Bertempat di gedung cagar budaya, tentu membutuhkan perawatan dan perhatian yang intens.

Editor : Akrom Hazami

Puting Beliung Ancam Keselamatan Warga Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengingatkan warganya untuk waspada terhadap terpaan angin kencang ataupun puting beliung yang belakangan melanda.

Angin kencang berpotensi menyebabkan rumah roboh dan pohon tumbang, yang membahayakan warga.

“Sepekan terakhir di wilayah Jepara memang dilanda angin kencang. Hal itu menyebabkan potensi rumah roboh dan pohon tumbang,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Senin (28/8/2017). 

Menurut catatannya, sudah ada dua kasus rumah roboh yang terjadi di Jepara, akibat hantaman angin kencang. Pujo menyebut, selain faktor alam, robohnya rumah tersebut juga dipengaruhi kondisi rumah yang sudah lapuk.

Adapun laporan rumah ambruk karena diterpa angin kencang terjadi di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat tersebut angin merobohkan rumah milik Sutinah (60). Sementara itu di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, angin menghantam rumah milik Suadah (56) warga RT 11/4. 

“Kami juga menerima informasi terbaru, hari ini ada cabang pohon asam di SDN 1 Desa Pelang, Mayong patah, akibat terpaan angin yang cukup kencang. Hal itu sempat mengganggu arus lalu lintas,” ujar Pujo.

Editor : Ali Muntoha

Putung Rokok Diduga Sebagai Biang Kebakaran Hutan Gundih Grobogan

Kawasan hutan jati di pinggir Jalan Purwodadi-Solo KM 16 yang terbakar tampak menghitam, Senin (28/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Terbakarnya kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, di Grobogan, dimungkinkan dari tindakan sepele.

Yakni, adanya orang yang membuang puntung rokok sembarangan, sehingga mengenai daun-daun kering dan akhirnya menyulut kebakaran pada Minggu (27/8/2017) malam.

“Penyebab kebakaran diduga berasal dari puntung rokok. Kemungkinan, ada pengendara yang membuang puntung rokok secara tak sengaja, hingga terbawa angin dan mengenai daun serta dahan-dahan kering,” jelas Wakil Administratur KPH Gundih Kuspriyadi pada wartawan, Senin (28/8/2017).

Menurutnya, dugaan itu sangat dimungkinan karena lokasi kejadian berada di pinggir jalan raya Purwodadi-Solo km 16. Setiap hari, jalur ini banyak dilewati pengendara lintas kabupaten. Baik motor, mobil atau kendaraan besar.

Kebakaran di kawasan hutan itu terjai puluk 18.15 WIB dan bisa dipadamkan dua jam kemudian. Dari pantauan di lapangan, bekas kebakaran masih terlihat jelas. Banyak pohon jati dan tanah yang menghitam akibat terjilat api.

Tidak jauh dari lokasi kebakaran, terdapat tumpukan sampah. Meski sudah ada plang larangan, namun banyak orang masih membuang sampah di kawasan itu.

Baca : 4 Hektare Hutan Perhutani Gundih Grobogan Terbakar

Administratur KPH Gundih Sudaryana menambahkan, kebakaran tersebut tidak sampai mematikan pohon jati yang ada di petak 103B seluas 4 hektare tersebut. Menurutnya, pohon jati memiliki kelebihan tahan dengan kebakaran.

“Meski kena kebakaran tetapi kondisi pohon masih tetap hidup. Kejadian kebakaran ini sudah jadi perhatian serius saat musim kemarau,” ujarnya.

Dia menyatakan, kerawanan kebakaran di musim kemarau pada hutan jati memang cukup tinggi.

Setelah kebakaran tersebut, pihaknya akan membuat sekat dengan membersihkan dedaunan yang mengering di sekitar hutan, sehingga risiko kebakaran bisa dipersempit. Selain itu, upaya lain adalah memberikan penyuluhan kepada warga.

Editor : Ali Muntoha

Duh Senengnya Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian di Grobogan Ini Diangkat jadi PNS

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan SK pengangkatan CPNS pada Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rona ceria terlihat dari wajah 10 orang yang selama ini bertugas sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) Kementerian Pertanian yang ditempatkan di Grobogan.

Hal ini setelah mereka secara resmi menerima SK pengangkatan calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang diserahkan Bupati Grobogan Sri Sumarni, Senin (28/8/2017).

Acara penyerahan SK yang dilangsungkan di ruang rapat bupati juga dihadiri Sekda Grobogan Moh Sumarsono. Tampak pula, Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Suhadi, Kepala Dinas Pertanian Edhie Sudaryanto dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Dalam kesempatan itu, Sri Sumarni menyatakan, pengangkatan THL-TBPP sebagai CPNS merupakan sebuah program pengecualian. Sebab, saat ini pemerintah sedang melaksanakan moratorium penerimaan CPNS.

Pengecualian itu dilakukan karena keberadaan THL-TBPP termasuk dalam kebutuhan pegawai yang mendesak, guna mendukung program nawacita. Yakni, program di bidang swasembada pangan dan peningkatan hasil pertanian secara menyeluruh.

“Dengan pengangkatan Saudara sekalian menjadi CPNS diharapkan dapat membantu meningkatkan kemajuan bidang pertanian di wilayah Grobogan,” katanya.

Menurut Sri, sampai saat ini masih banyak tenaga di instansi pemerintah yang belum mendapatkan kesempatan untuk diangkat menjadi CPNS.

Oleh sebab itu, ia berpesan pada 10 THL-TBPP yang diangkat CPNS agar senantiasa bersyukur. Dengan diangkat jadi CPNS mereka diharapkan bisa bekerja lebih baik lagi dalam memberikan penyuluhan secara tepat dan bermanfaat kepada para petani.

“Dengan diangkat sebagai CPNS bukan berarti perjuangan telah berakhir. Justru sebaliknya, perjuangan baru dimulai. Dengan status yang baru diharapkan bisa lebih berdedikasi terhadap pekerjaan dan pengabdian sebagai Aparatur Sipil Negara,” tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian Edhie Sudaryanto menambahkan, jumlah THL-TBPP keseluruhan masih ada 49 orang. Dari jumlah itu, hanya ada 10 orang yang diangkat jadi CPNS. Sementara 39 tenaga lainnya belum bisa diangkat CPNS karena usianya melebihi batasan yang ditentukan.

Editor : Ali Muntoha

Anggota DPR RI Minta Pemerintah Batalkan Pajak Gula

Aksi tolak pajak gula yang dilakukan puluhan petani tebu di Pati, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo meminta pemerintah membatalkan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen untuk komoditas gula. Hal itu disampaikan Firman, di Pati, Senin (28/8/2017).

“Pemerintah itu mestinya beri insentif kepada petani dulu. Kalau mereka sudah dapat insentif, berkembang dan maju, mungkin bisa dikenakan pajak. Tapi petani saat ini tengah berjuang dan belum siap dikenakan pajak,” ujar Firman.

Insentif yang dimaksud Firman, salah satunya berupa pemberdayaan, fasilitasi alat pertanian, pemberian bibit, serta berbagai insentif yang bisa meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani lainnya. Selama ini, insentif yang diberikan pemerintah sebatas pada subsidi pupuk.

Itu pun petani kurang bisa menikmati subsidi pupuk dengan maksimal, lantaran masih banyak distributor yang bermain. “Kalau subsidi pupuk itu yang diuntungkan bukan petani, tapi distributor,” kata Firman.

Menurut Firman, petani merupakan pahlawan bangsa yang perlu diperjuangkan dan disejahterakan terlebih dulu. Sebab, mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Karenanya, dia meminta kepada pemerintah supaya ada pengkajian ulang atas kebijakan dalam PP Nomor 31 Tahun 2007 yang menjelaskan perkebunan komoditas gula pasir tidak masuk barang strategis.

Pasalnya, imbas dari peraturan yang menyebut gula tidak masuk barang strategis, petani dikenakan pajak sebesar 10 persen. “Saudara-saudara kita petani tebu di Pati sudah menyuarakan dengan aksi unjuk rasa. Kami akan berupaya agar peraturan itu dibatalkan,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan petani tebu di Pati menggelar aksi unjuk rasa di sepanjang Jalan Wedarijaksa-Tayu untuk menolak PP Nomor 31 Tahun 2007. Mereka menuntut agar Menteri Keuangan membebaskan gula tani dari PPN 10 persen.

Editor : Akrom Hazami

Air Sungai Menghitam, Maryanto Pilih Buang Limbah Tahu Tempe ke Sawah

Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, mengangkut limbah mereka ke sawah, menggunakan tong plastic. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, kini memilih membuang limbah mereka ke sawah, daripada dialirkan ke alur Sungai Pecangaan yang juga melintasi Sungai Gede Karangrandu.

Selain menghindari dampak cemaran limbah, hal itu juga dilakukan untuk menhindari adanya potensi konflik dengan warga yang berada di sekitar bantaran sungai.

“Saat ini limbah saya bawa ke sawah milik ayah saya, kemudian di buang kesana. Baru beberapa hari ini. Saya angkut menggunakan tong plastik berukuran besar, lalu dinaikan menggunakan truk atau pikap,” kata Ahmad Maryanto, seorang perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan, Senin (28/8/2017). 

Ia mengatakan, langkah yang ditempuhnya saat ini merupakan inisiatif pribadi. Hal itu karena beberapa warga yang tinggal di sekitar bantaran sudah mengeluhkan bau yang ditimbulkan. 

Maryanto mengatakan, pembuangan limbah tahu-tempe di aliran sungai sudah dilakukan beberapa tahun terakhir.

Hal itu sebenarnya tak menjadi masalah kala saat musim hujan, karena air hujan melarutkan limbah. Namun di kala kemarau seperti, debit air yang menurun dan panas yang menerpa menjadikan sisa produksi tahu tempe tak bisa mengalir lancar. Akibatnya, bau pun meruap. 

Dirinya mengatakan, kapasitas produksi tahu tempe perhari mencapai 2 ton. Adapun limbah yang dihasilkan mencapai 15 tong besar. 

“Kalau kemarin diangkut pakai truk 15 ton bisa sekali angkut. Namun karena truknya saat ini sedang di bengkel, maka dari itu saya gunakan pikap, ya sekali angkut paling-paling tujuh tong harus bolak-balik,” terang dia.

Ditanya mengenai efek limbah yang dibuang ke sawah Maryanto meyakinkan bahwa limbah organik tersebut tak berpengaruh pada ekosistem sawah. Hal itu karena, limbah tahu tempe termasuk organik.

“Bahkan Pak Kades Pecangaan Wetan meminta supaya dibuang ke lahan sawah miliknya. Namun untuk saat ini saya buang ke sawah milik ayah saya dulu,” urainya. 

Terakhir ia mengharapkan agar pemerintah dapat membantu perajin tahu dan tempe dalam mengatasi limbah.

“Harapannya dikasih mobil tanki atau tankinya saja juga tidak apa-apa, setelah itu limbahnya tidak lagi dibuang ke sungai, tapi di tempat lain,” pinta Maryanto.

Editor : Ali Muntoha

PNS Pati Manipulasi Absen Sidik Jari, Bupati  Akan Tindak Tegas  

Bupati Pati Haryanto mengancam mengindak tegas PNS di Pati yang memanipulasi mesin sidik jari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto ancam tindak tegas pegawai negeri sipil (PNS) memanipulasi mesin absen sidik jari (fingerprint). Hal itu disampaikannya, di Pati, Senin (28/8/2017).

“Modusnya, mereka melakukan scan sidik jari, lantas memesan sejenis stempel yang identik dengan sidik jari asli. Setelah itu, pelaku menitipkan stempel sidik jari pada orang lain,” ungkap Haryanto.

Saat salah seorang PNS bolos, temannya menempelkan stempel sidik jari itu di mesin sidik jari. Mereka secara bergantian memanipulasi mesin sidik jari bila sedang tidak masuk kerja. Hal itu dilakukan, karena absensi berpengaruh pada tunjangan yang diterima PNS. Tak mau masalah itu menghambat kinerja pemerintahan, Haryanto mengancam akan menindak tegas pelaku.

“Itu namanya tidak jujur dan tidak adil pada pegawai lain yang disiplin. Mesin sidik jari dibuat agar mereka disiplin, tapi kalau diakali begini kami akan menindak tegas,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, Haryanto meminta Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Pati untuk melakukan investigasi kepada PNS yang curang tersebut. Mereka yang kedapatan memanipulasi mesin sidik jari akan mendapatkan sanksi yang tegas.

Dia berharap, semua PNS di Pati bisa semangat untuk melayani masyarakat. Pasalnya, banyak masyarakat yang ingin menjadi PNS tapi gagal karena tidak lolos.

Bila sudah menjadi PNS, sudah menjadi kewajiban untuk bekerja dengan baik di pemerintahan. Sebab, pekerjaan PNS bukan semata-mata berorientasi gaji, tetapi juga pengabdian kepada negara dan masyarakat.

Editor : Akrom Hazami

 

Beredar Kabar Saluran Limbah Industri Tahu-tempe ke Sungai ‘Hitam’ Jepara Ditutup, Ini Kebenarannya

Kondisi Sungai Karangrandu Jepara yang airnya menghitam akibat pencemaran. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Belum tuntasnya penanganan limbah yang mengalir di alur Sungai Gede Karangrandu, Jepara, yang airnya menghitam menjadi bola liar.

Belakangan muncul pesan melalui aplikasi perpesanan What’s App bahwa Pemerintah Desa Karangrandu menutup saluran pembuangan limbah dari perajin tahu-tempe yang mengarah ke sungai. 

Berita Gembira…!!! Baru saja aku diberitahu bpk maskuri ladu, bhw corongan limbah tahu/tempe sebagian besar sdh disumpal pakai semen oleh tem pemdes Karangrandubersama dengan warga pecangaan kulon yang terkena dampak limbah. Dan selebihnya yang belum akan segera disumpel lagi. Demikian harap maklum. Alhamdulillahi rabbil alamin…Terimakasih Pak petinggi Karangrandu. Terimakasih pak Maskuri dan teamnya…Terimakasih warga Pecangaan kulun yang turut serta mbunteti paralon limbah…!!!, tulis pesan yang dikirimkan oleh akun yang bernama Musyafak pada grup perpesanan WA Jepara Berintegritas, Minggu (27/8/2017) malam.

Menerima informasi tersebut, MuriaNewsCom berusaha mengkroscek pada sumber pengirim dan menghubungi melalui nomor yang tertera. Namun saat dihubungi, nomor tersebut tidak aktif.

Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, menampik keras kabar tersebut. Ia menyebut pihaknya selaku pemerintah desa tak pernah melakukan aksi menutup saluran limbah tahu tempe.

“Hal itu tidak benar, kami pemerintah desa tidak pernah melakukan hal itu. Tidak ada perintah atau seruan menutup saluran limbah, yang mengarah ke sungai, yang juga mengalir ke Sungai Gede Karangrandu,” tegasnya ditemui di ruangan kerjanya, Senin (28/8/2017). 

Namun demikian, ia mengakui pernah ada warga yang sempat mengutarakan berniat menutup saluran limbah tahu tempe. Akan tetapi dirinya hanya mendiamkan, tidak mengiyakan juga tidak melarang.

“Warga dalam keadaan terganggu, karena kondisi sungainya tercemar menjadi hitam dan berbau. Memang pernah ada warga yang bilang mau menutup saluran limbah, namun saya tidak menging (melarang) apalagi ngongkon (menyuruh). Informasinya ada yang di-bunteti enam atau berapa, tapi saya tidak tahu kepastian itu,” imbuh dia. 

Menurutnya, sebagai pemerintah desa ia berusaha tidak memihak. Ia memahami perasaan warganya yang merasa terganggu akan limbah, namun dirinya juga tidak bisa bergerak sendiri, karena Pemkab Jepara sudah turun tangan.

Syahlan memastikan, akan segera memanggil orang yang mengirimkan pesan tersebut. Ia mengaku sudah mengetahui siapa orang yang melakukan hal itu.  “Ini nanti dia akan kami panggil ke sini,” urainya. 

Dirinya berharap kepada Pemkab Jepara  segera ada penuntasan akan permasalahan aliran limbah di Sungai Gede Karangrandu. 

Terpisah seorang perajin tahu tempe Ahmad Maryanto, mengaku belum tahu akan adanya aksi tersebut. “Nek kabarnya begitu, tapi kalau ada atau tidaknya aksi itu (penutupan saluran limbah dengan semen) sejauh pengetahuan saya belum ada,” kata warga Pecangaan Wetan itu. 

Adapun, lokasi perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan memang berdekatan dengan alur sungai. Mereka memang terbiasa membuang limbah tahu ke sungai. Meski demikian, akhir-akhir ini Maryanto mengaku sudah tak membuang limbahnya ke sungai.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Gede Karangrandu menjadi hitam dan berbau sebulan belakangan. Dari hasil laboratorium, sungai tersebut tercemar zat Fenol dan BOD-COD. Langkah sementara telah diambil pemkab Jepara dengan melakukan pembersihan alur sungai. Namun seminggu setelah itu, air sungai tetap menghitam dan bau.

Editor : Ali Muntoha

Panen Brambang Melimpah, Warga Sidoharjo Pati Nanggap Wayang Kulit

Dalang asal Solo, Ki Bayu Aji Pamungkas saat memainkan wayang di Desa Sukoharjo, Wedarijaksa, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati memanfaatkan momen akhir bulan Apit dalam kalender Jawa untuk mengagendakan bersih desa dengan wayang kulit.

Pagelaran itu sekaligus menjadi wujud rasa syukur petani setempat karena panen bawang merah yang melimpah.

Kepala desa setempat, Bogi Yulistanto mengatakan, komoditas utama yang dihasilkan petani di Desa Sidoharjo adalah bawang merah dan padi. Karena itu, padi dan brambang diikat di atas panggung pada pagelaran wayang kulit agar pertanian warga diberkahi.

“Kondisi bawang merah cukup bagus, tapi harganya yang saat ini masih kurang memuaskan. Di sini, petaninya hampir separuh lebih merupakan anak muda. Mereka suka bertani bawang merah,” ungkap Bogi, Senin (28/8/2017).

Bupati Pati Haryanto yang hadir dalam pagelaran wayang tersebut memberikan apresiasi kepada pemerintah desa yang masih nguri-uri budaya Jawa melalui kesenian. Sebab, kesenian dan budaya tradisional saat ini mulai dilupakan di tengah kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang bisa diambil manfaat saat petani mengungkapkan rasa syukur pada prosesi bersih desa melalui kesenian. Pertama, pembersihan desa dari aspek jasmani, lingkungan maupun spiritual.

Jiwa masyarakatnya dibersihkan agar tidak gampang iri, dengki dan sifat-sifat buruk lainnya. Sebaliknya, bersih desa bisa dimanfaatkan untuk gladi agar manusia punya sifat yang bersih, baik dan bertindak sesuai dengan ajaran agama.

Kedua, kesenian bisa memupuk semangat persatuan dan kesatuan bangsa, karena masyarakat “tumplek blek” menonton bersama tanpa membedakan status sosial. Ketiga, tontotan tradisional bisa meningkatkan tali silaturahmi dan persaudaraan.

Sementara Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menambahkan, potensi pertanian di Kabupaten Pati sangat luar biasa. Bawang merah menjadi salah satu komoditas andalan yang dihasilkan dari bumi Wedarijaksa.

“Setiap tahun, Pati selalu memberikan kontribusi yang baik untuk ketahanan pangan nasional. Hal itu tidak lepas dari perjuangan para petani di Pati. Kami berharap, Pati akan terus menjadi lumbung pertaniannya Indonesia,” tutur Firman.

Pagelaran wayang sendiri mengambil lakon “Pendawa Manunggal”. Lakon itu mengisahkan perjuangan Pandawa dalam merebut tahta kepemimpinan Kurawa yang mendasarkan ego, kepentingan pribadi, dan angkara murka dalam setiap kebijakannya untuk rakyat.

Editor : Ali Muntoha

Kolaborasi Dalang Cilik dan Sinden Bule dari Hungaria Bikin Heboh Warga Tarub Grobogan

Aksi dalang cilik Cannavaro dan sinden dari Hungaria Agnes Serfozo bikin meriah pagelaran wayang kulit di Balaidesa Tarub, Kecamatan Tawangharjo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pagelaran wayang kulit di Balai Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Minggu (27/8/2017) malam hingga Senin (28/8/2017) dini hari berlangsung meriah dan spesial.

Hadirnya dua bintang tamu membuat suasana pagelaran wayang kulit makin heboh dan membikin puas ratusan penonton.

Dua bintang tamu itu adalah larasati atau sinden dari luar negeri. Yakni, Agnes Serfozo yang berasal dari Hungaria.

Meski bukan orang Jawa, namun suara perempuan yang akrab dipanggi Aggy ini tidak kalah dengan tiga sinden lainnya. Bahkan, banyak penonton yang sempat tak percaya jika salah satu pelantun gending atau tembang dalam pagelaran itu adalah orang manca negara.

Penampilan Aggy malam itu memang seperti tiga sinden lainnya. Yakni, memakai jarit dan kebaya biru serta mengenakan konde.

“Saya mengucapkan terima kasih sudah diberikan kesempatan tampil di Desa Tarub. Saya merasa senang karena dapat sambutan hangat dari masyarakat sini,” ungkap Aggy dalam bahasa Jawa yang disampaikan dengan sangat fasih.  

Satu bintang tamu lainnya adalah dalang cilik Ahmad Cannavaro Heriyanto yang usianya baru 8 tahun.

Dalang cilik Cannavaro yang saat ini masih duduk kelas III SDN 02 Bandungsari, Kecamatan Ngaringan, tampil sebagai dalang pembuka pagelaran.

Putra Kades Bandungsari Ledy Heriyanto itu tampil sekitar satu jam, mulai pukul 20.30 WIB. Meski usianya baru 8 tahun, namun penampilannya sempat mengundang decak kagum para penonton.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang utama Ki Supandi Sudarsono itu memainkan lakon ‘Brojodento Mbalelo’. Dalam pagelaran wayang ini, penabuh gamelan dibawakan oleh anggota Karang Taruna Eka Bakti Desa Bandungsari.

Pentas kesenian tradisional itu juga disaksikan oleh dua orang asing. Yakni, Joana Marcao dari Portugal dan Kozumoto dari Jepang. Keduanya sudah berada di Desa Tarub selama sepekan dalam kapasitasnya sebagai sukarelawan lembaga sosial yang peduli dengan masalah HIV/AIDS.

Saat sesi goro-goro atau guyonan, Joana bahkan sempat didaulat untuk menyanyi sebuah lagu Jawa bertitel ‘Suwe Ora Jamu’. Saat menyanyi, logat Joana yang belum begitu fasih berbahasa Jawa itu tak ayal mengundang gelak tawa para penonton.

Kepala Desa Tarub Ali Maskuri mengaku sangat puas dengan jalannya pentas kesenian tradisional tersebut. Menurut Ali, pentas kali ini dirasakan paling meriah dibandingkan acara serupa tahun-tahun sebelumnya.

“Pagelaran wayang kulit ini diadakan dalam rangka memperingati HUT RI. Hadirnya Adik Cannavaro dan Mbak Aggy memang membuat pagelaran wayang malam ini jadi beda dari biasanya,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

4 Hektare Hutan Perhutani Gundih Grobogan Terbakar

Beginilah penampakan kobaran api yang membakar kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, Minggu (27/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran menimpa kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, Minggu (27/8/2017) malam. Meski tidak ada korban jiwa. namun kebakaran ini sempat membuat panik warga dan pengendara yang melintas di jalur Purwodadi-Solo.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa kebakaran diketahui selepas Magrib, sekitar pukul 18.15 WIB. Banyaknya dedaunan dan ranting kering menyebabkan kobaran api cepat membesar.

Beberapa warga yang melihat ada kebakaran di wilayah hutan langsung menghubungi kantor pemadam. Sekitar 30 menit kemudian, tiga mobil damkar sudah tiba di lokasi kejadian.

Aksi pemadaman berlangsung hampir dua jam lamanya. Dalam pemadaman ini, petugas damkar juga mendapat dukungan dari anggota Koramil dan Polsek Geyer serta puluhan warga sekitar kawasan hutan.

“Ada puluhan warga yang ikut membantu memadamkan api. Upaya pemadaman juga didukung dari TNI dan Polisi,” kata Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan Lulun Surono yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari lokasi kebakaran tersebut.

Petugas pemadam kebakaran dibantu warga mencoba menjinakkan api yang membakar hutan Perhutani di Gundih, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saat pemadaman dilakukan, arus lalu lintas dari kedua arah sempat tersendat karena kendaraan harus berjalan pelan dan bergantian.

Sebelum kebakaran dipadamkan, para pengendara sempat terganggu kepulan asap. Hal ini terjadi karena lokasi kebakaran hanya berjarak beberapa meter di sebelah timur jalan Purwodadi-Solo km 16.

Camat Geyer Aries Ponco ketika dimintai komentarnya menyatakan, kebakaran terjadi di petak 103 B yang masuk wilayah Desa/Kecamatan Geyer. Berdasarkan perkiraan sementara, luas areal hutan yang terbakar sekitar 4 hektare.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa itu. Untuk penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Kalau ingin dapat informasi lebih lanjut bisa dikoordinasikan dengan pihak KPH Gundih,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani Tebu di Kudus Ngluruk Istana Negara, Ini yang Mereka Tuntut

Para petani tebu dari Kabupaten Kudus sebelum bertolak ke Jakarta untuk menggelar aksi demo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus –  Puluhan petani tebu dari Kudus, ngluruk ke Jakarta untuk memprotes kebijakan pemerintah mengenai gula, Senin (28/8/2017) hari ini. Mereka bergabung dengan para petani tebu lain dari seluruh Indonesia yang merasa nasibnya tak digubris pemerintah.

Aksi ini digelar lantaran para petani tebu merasa tercekik dengan kebijakan pembelian gula yang sangat murah, dan dibukannya keran impor. Tempat yang bakal menjadi lokasi demo adalah Istana Negara serta kementerian terkait.

Para petani tebu ini bertolak dari Kudus Minggu (27/8/2017) dengan menumpang bus. Mereka mendesak pemerintah agar mengeluarkan kebijakan pembelian gula segarga Rp 11 ribu per kilogram.

Seorang petani yang ikut berangkat, Agus, mengatakan jumlah petani tebu yang ikut aksi asal Kudus sejumlah 49 petani.

“Ada sejumlah tuntutan yang akan kami sampaikan. Seperti halnya meminta pemerintah mengehentikan impor gula ke Indonesia. Khususnya saat musim giling seperti saat ini,” katanya kepada wartawan.

Mereka mendesak pemerintah menghentikan impor gula, lantaran gula produksi petani lokal masih belum terserap.

Ini dikarenakan kebijakan Bulog yang membeli gula jauh di bawah biaya produksi. Agus menyebut, Bulog hanya membeli gula produksi petani seharga Rp 9,7 ribu per kilogram.

Padahal biaya produksi yang mereka keluarkan mencapai Rp 10,600 per kilogram. Apalagi saat ini menurut dia, kondisi petani tebu tengah terpuruk, lantaran curah hujan yang cukup tinggi beberapa waktu lalu, hingga membuat hasil panen tak maksimal.

“Akibat cuaca kami mengalami rugi banyak. Jika biasanya bisa menghasilkan 1.000-1.200 kuintal per hektare, kini turun menjadi 500-600 kuintal per hektarenya. Apalagi tanaman tebu dalam panen membutuhkan 10 bulan,” ungkap dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal DPN APTRI M Nur Khabsyin menambahkan, Bulog membeli gula petani masih di bawah   biaya pokok produksi (BPP) Rp10.600 per kilo. Untuk itu, kini petani menolak menjual gula ke perusahaan milik negara itu.

“Pemerintah harus bertindak dengan menghentikan impor gula. Karena hancurnya harga gula disebabkan impor tersebut,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Geger…Persijap Walk Out Saat Lawan Persibat Meski Sudah Unggul

Petugas keamanan mengungsikan wasit karena pertandingan antara Persijap Jepara vs Persibat Batang semakin ricuh. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pertandingan Persijap vs Persibat di Stadion Gelora Bumi Kartini, Minggu (27/8/2017), berakhir tanpa peluit panjang.

Hal itu karena kontroversi keputusan wasit yang memberikan hadiah penalti di menit akhir pertandingan, dalam kondisi tim tuan rumah unggul 2-1. Tak terima dengan keputusan wasit, Laskar Kalinyamat pun walk out.

Babak pertama Laskar Kalinyamat kebobolan terlebih dahulu di menit 28. Keunggulan sementara bagi Persibat itu dicetak oleh Hapidin, yang menyepak bola dari tendangan sudut. 

Proses gol terjadi saat  Hapidin menendang dari sisi kiri pertahanan Persijap itu, sempat ditepis oleh penjaga gawang Amirul Kurniawan. Namun sayang antisipasi yang dilakukannya, justru membuat si kulit bundar bersarang di gawangnya. 

Sementara Persijap yang berusaha membobol pertahanan tim tamu, tak bisa menceploskan satupun gol. Hingga wasit Supriawan meniup peluit jeda babak pertama, kedudukan unggul bagi tim tamu Persibat. 

Babak kedua dimulai, Persijap Jepara terus berusaha menekan pertahanan Persibat. Hingga menit di 51, Tommy Oropka berhasil membobol gawang Laskar  Alas Roban.

Gol berawal dari kemelut di depan gawang, sesaat setelah sepakan pojok yang dilepaskan oleh Adit Wafa.  Bola yang disambut oleh sundulan kepala Abdul latif Hasim, terdampar di kaki Tommy Oropka. Pemain asal Papua ini lantas mengarahkan tendangan lemah ke sisi kiri gawang Muh Sendri Johansyah, dan gol. Skor imbang. 

Di menit ke 62, Tommy kembali mencatatkan namanya di papan skor. Bola yang ditendang oleh penjaga gawang Persijap Amirul Kurniawan, melambung jauh dan disambut oleh pemain berambut jambul itu. Ia lolos tanpa kawalan ketat dan menceploskan bola. Skor 2-1, Laskar Kalinyamat unggul. 

Petaka bagi Persijap terjadi pada menit-menit akhir pertandingan. Pemain nomor 32 Persibat, Ishak Yustinus Mesak Djober terjatuh di kotak penalti, akibat singgungan dengan pemain Persijap Syarif Wijianto. 

Wasit Supriawan kemudian memberikan kartu kuning, namun belum jelas ditujukan kepada siapa. Saat itulah keadaan lapangan pun ricuh. Tim Persijap mengklaim pemainnya tak melakukan pelanggaran, dan melakukan sapu bersih. Namun wasit bersikukuh.

Baca juga : Persijap Bakal Laporkan Kepemimpinan Wasit Supriawan

Keadaan pun semakin riuh dengan protes yang dilancarkan oleh  tim pelatih Persijap Carlos Raul Sciucatti. Adu argumen pun sempat terjadi, hingga tim tuan rumah memberikan bukti berupa rekaman pertandingan untuk diperlihatkan kepada tim wasit. 

Akan tetapi titik temu tak terjadi. Persijap akhirnya walk out pada menit ke 93. Sedangkan tim Persibat bersama wasit kembali le lapangan dan hendak mengeksekusi penalti.

Namun hal itu dibatalkan, karena keadaan stadion semakin ricuh. Akhirnya petugas keamanan mengungsikan wasit dan dibawa pergi menggunakan kendaraan lapis baja meninggalkan arena pertandingan.

Editor : Ali Muntoha

Terbakar, 4 Rumah Warga Sukorejo Grobogan Hangus Tak Bersisa

Salah satu rumah yang tinggal puing-puing setelah hangus terbakar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tak berapa lama setelah kebakaran terjadi di Desa Kramat, Kecamatan Penawangan, anggota Damkar Grobogan kembali harus menjalankan tugas. Yakni, memadamkan kebakaran di Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu, Sabtu (26/8/2017).

Amuk kebakaran di Desa Sukorejo lebih parah dari peristiwa di Desa Kramat. Dalam peristiwa ini, sedikitnya ada empat rumah warga di Dusun Jetak yang terbakar habis.

Dari empat rumah tersebut, dua bangunan milik Jafar (70), warga yang tinggal di wilayah RT 01, RW 06. Sedangkan dua rumah lainnya milik Mintono (60), dan Aryanto (30). Semua bangunan rumah yang ludes terbakar terbuat dari bahan kayu jati.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa kebakaran diketahui warga sekitar pukul 13.30 WIB. Saat itu, warga yang lewat di jalan sempat melihat ada kobaran api dari rumah Jafar di bagian belakang. Sebelum kejadian, beberapa warga sempat mendengar suara letusan.

Ketika warga hendak memeriksa ke rumah tersebut, kobaran api mendadak sudah membesar karena ada hembusan angin kencang saat itu. Melihat kejadian itu, puluhan warga berupaya melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya.

Meski sudah berupaya keras, namun pemadaman gagal dilakukan. Sebaliknya, kobaran api makin susah dikendalikan dan menyambar dua rumah terdekat.

Sekitar 30 menit kemudian, lima mobil damkar tiba di lokasi. Meski sudah banyak armada yang dikerahkan, namun pemadaman masih sulit dilakukan karena banyak barang mudah terbakar di tiga rumah tersebut. Setelah berjibaku hampir 2 jam, kobaran api akhirnya bisa dikendalikan.

Kapolsek Tegowanu AKP Bambang Uwarno menyatakan, saat kejadian, kondisi rumah Jafar dalam keadaan kosong karena penghuninya sedang ziarah ke Klaten. Menurutnya, berdasarkan pemeriksaan sementara, api diperkirakan berasal dari kompor yang lupa dimatikan hingga mengakibatkan tabung gas meledak.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp 300 juta,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Santri di Pati Diajari Wirausaha Berbasis Teknologi Informasi

Santri, pelajar dan mahasiswa mengikuti workshop technopreneurship di Ponpes Al Falah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan santri, pelajar dan mahasiswa diajari wirausaha berbasis teknologi informasi (IT) dalam workshop technopreneurship bertajuk “Membangun Spirit Technopreneurship Pelajar dan Santri di Era Teknologi Informasi” di Ponpes Al Islah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017).

Kegiatan tersebut diadakan Java Literacy School bekerja sama dengan PC IPNU IPPNU Pati dan Arus Informasi Santri (AIS) Jawa Tengah.

Tiga narasumber yang hadir, antara lain Hasan Chabibie dari Pusat Teknologi dan Komunikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, internet marketer Rifan Heryadi, dan santripreneur IPNU Pati Irham Shodiq.

“Arus teknologi informasi sudah tidak bisa dibendung lagi. Ini tidak bisa dihindari sehingga harus ditangkap dengan baik oleh para santri, pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan usahanya,” kata Hasan.

Lebih dari itu, Hasan menjelaskan, pelaku wirausaha berbasis IT di Indonesia masih sebatas menggunakan karya orang lain, seperti Facebook, Instagram, Twitter dan sejenisnya. Mereka belum memiliki kemampuan untuk memproduksi teknologi untuk pengembangan usaha.

Kendati demikian, sikap melek IT sangat diperlukan agar para santri tidak tertinggal dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan IT sebagai usaha memasarkan produk dianggap sangat penting untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Sementara itu, Rifan menambahkan, warga Indonesia memiliki pengguna media sosial tertinggi se-Asia. Karena itu, kondisi itu harus dimanfaatkan dengan baik untuk memasarkan produk-produk usahanya melalui IT.

“Generasi muda, para santri, pelajar dan mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan bekal keterampilan untuk menyongsong arus teknologi informasi yang semakin tinggi. Terlebih, dunia masa depan akan menggunakan basis teknologi sehingga harus dipersiapkan sejak sekarang,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Bilang Pengen Jadi Hacker, Santri di Jepara Ini Diberi Jam Tangan Spesial dari Ganjar

Fikri Muhammad Yusuf (kiri) menunjukkan jam tangan pemberian Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berfoto bersama orang nomor satu di Jateng itu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Fikri Muhammad Yusuf, santri mahasiswa di Pondok Pesantren Mahat Ali Balekambang, Jepara, Sabtu (26/8/2017) mendapat hadiah spesial dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Spesial karena, hadiah yang diberikan yakni jam tangan koleksi Ganjar yang saat itu dikenakannya. Jadi bukan jam tangan doorprize, melain jam digital bermerk Garmin. Penyebabnya, karena Fikri menyatakan ingin jadi hacker.

Ini terjadi ketika Ganjar melontarkan pertanyaan kepada Yusuf tentang bagaimana seorang santri seperti Yusuf melawan berkembangnya ujaran kebencian dan ajakan radikalisme yang merebak di sosial media.

Jawaban Yusuf justru kocak, dan membuat orang yang hadir di sarasehan pondok pesantren itu tertawa terbahak-bahak.

“Pertama-tama sebelum berbuat saya akan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Kedua saya akan meminta masukan pada para sesepuh dan juga pak Ganjar,” ujarnya yang kembali disambut tawa.

Ganjar pun menimpali. “Lho maksudku kamu, apa yang menurutmu bisa dilakukan,” kata Ganjar.

Beberapa sat Yusup berpikir, dan kemudian berteriak lantang ingin jadi hacker. “Dengan jadi hacker saya akan melawan dan menghancurkan situs dan akun penyebar berita hoax dan radikalisme,” tegasnya.

Berikutnya, Yusuf akan menggalang teman-temannya menjadi pasukan penyebar ujaran baik dan sopan di dunia maya. “Kalau ada yang bertengkar, kami akan menengahi dengan kalimat-kalimat islami dan sopan,” kata dia.

Ganjar mengacungi jempol. Ia meminta Yusuf berjanji benar-benar melakukan apa yang diucapkannya itu. “Yawes ini tak kasih jam, pas nggak bawa hadiah ya sudah ini saja,” kata Ganjar seraya mencopot jam tangan dari lengan kirinya.

Suasana berubah menjadi riuh. Ribuan santri bersorak dan bertepuk tangan. Yusuf senang bukan kepalang. Ia menerima jam digital merk Garmin berwarna hitam itu kemudian langsung mengenakannya di pergelangan tangan kiri. “Terimakasih pak gubernur,” katanya berulang-ulang.

Editor : Ali Muntoha