Alokasi Dana Tambahan Penghasilan Pegawai di Grobogan Turun Drastis

Bupati Grobogan Sri Sumarni dan Ketua DPRD Agus Siswanto menandatangani dokumen KUA-PPAS dalam rapat paripurna di gedung DPRD Grobogan, Senin (31/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Usulan kenaikan tambahan penghasilan pegawai (TPP) yang diusulkan Bupati Grobogan akhirnya mendapat persetujuan dari pihak legislatif. Persetujuan dari wakil rakyat disampaikan dalam Rapat Paripurna DPRD Grobogan, Senin (31/7/2018). Dalam paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto, seluruh anggota menyatakan persetujuannya.

Meski disetujui tetapi kenaikan TPP mulai tahun 2018 itu tidak menjangkau semua golongan pegawai, seperti tahun 2017. Sebab, alokasi dana untuk TPP 2018 hanya sekitar Rp 1 miliar saja. Sementara pada tahun 2017 ini, alokasi kenaikan TPP nilainya berkisar Rp 58 miliar.

Kenaikan TPP pada tahun depan akan diterima guru dan petugas medis di daerah terpencil. Tahun depan TPP pegawai di daerah terpencil ini naik Rp jadi 600 ribu. Sebelumnya TPP yang diterima sama dengan staf, yakni sebesar Rp 450 ribu sampai Rp 500 ribu.

Kemudian, TPP untuk sekretaris kecamatan disamakan nilainya dengan sekretaris dinas atau badan, yakni sebesar Rp 2 juta. Sebelumnya TPP yang didapat Rp 1,7 juta.

Untuk posisi kepala dinas, besaran TPP ada yang naik dan ada yang turun. Sebab, semua TPP untuk kepala dinas ini besarnya disamaratakan, yakni Rp 4,5 juta.

Pada tahun ini, besarnya TPP didasarkan pada tipe dinasnya. Yakni, kepala dinas tipe A Rp 5 juta, tipe B Rp 4,5 juta dan tipe C Rp 3,5 juta per bulan.

Untuk TPP sekda pada 2018 sebesar Rp 10 juta atau tidak naik. Kemudian untuk posisi Asisten Sekda, Inspektur, Kepala Badan, Sekretaris DPRD dan Staf Ahli Bupati juga masih sama, yakni sebesar Rp 6 juta.

“Keputusan kenaikan TPP ini mulai berlaku pada tahun depan. Penganggaran TPP ini sudah dimasukkan dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2018,” ungkap Sekda Grobogan Moh Sumarsono.

Bupati Grobogan Sri Sumarni yang hadir dalam paripurna tersebut menyampaikan terima kasih pada wakil rakyat atas disetujuinya permohonan pemberian tambahan penghasilan bagi PNS. “Kita harapkan, dengan tambahan penghasilan nanti ada peningkatan kinerja. Yakni, memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat,” kata Sri.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Imunisasi Campak-Rubella di Jepara Ditarget Sasar Ratusan Ribu Anak 

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Imunisasi measles-rubella (MR-campak dan rubella) akan dimulai besok, Selasa 91/8/2017). Di Jepara ditargetkan 293.376 anak-anak usia 9 bulan hingga 15 tahun ikut serta dalam program nasional ini. 

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Jepara Dwi Susilowati. Di Bumi Kartini, secara simbolis kegiatan itu akan dipusatkan di SDN 01 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo. 

“Pelaksanaan imunisasi dilaksanakan dua kali. Pertama pada bulan Agustus dan berlanjut pada bulan September. Pada tahap pertama difokuskan pada anak usia sekolah, baik PAUD,SD/MI, SMP atau yang sederajat itu. Sementara untuk bulan September difokuskan untuk anak yang belum bersekolah, contohnya balita atau anak yang tidak lagi bersekolah akan tetapi umurnya di antara itu,” katanya, Senin (31/7/2017).

 

Ia yakin bisa mencapai sasaran yang telah dicanangkan 100 persen. Pada bulan pertama harapannya semua murid sekolah yang dikunjungi tim imunisasi dapat mengikuti program tersebut. Sementara pada September, bagi yang belum mengikuti imunisasi bisa mengunjungi fasilitas kesehatan seperti posyandu ataupun puskesmas.

“Layanan imunisasi MR itu gratis, kalau di luar (dokter) kisaran harganya sekitar Rp 400 ribu. Namun dengan mengikuti program pemerintah, peserta tidak dipungut biaya apapun,” tambahnya. 

Ditanya mengenai efek samping dari imunisasi MR, Dwi mengatakan tak akan berdampak buruk pada kesehatan. “Efeknya ringan sekali, mungkin hanya hanya bengkak sedikit pada bagian yang disuntik namun hari berikutnya pun sudah hilang,” tuturnya. 

Guna menyukseskan bulan imunisasi MR, pihak Dinkes Jepara telah menggandeng dinas terkait seperti Disdikpora, Kemenag dan MUI untuk turut serta melakukan sosialisasi.

Editor : Akrom Hazami

 

IKKP Dukung Pati Jadi Salah Satu Kekuatan Ekonomi Indonesia

Ketua IKKP Firman Soebagyo (dua dari kiri) berfoto bersama dengan warga Pati di depan Gedung DPR RI. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ikatan Keluarga Kabupaten Pati (IKKP) siap mendukung Pati menjadi salah satu daerah yang menopang kekuatan ekonomi Indonesia. Hal itu disampaikan Ketua IKKP Firman Soebagyo, Senin (31/7/2017).

IKKP tidak sekadar wadah bagi tokoh-tokoh dari Kabupaten Pati. Lebih dari itu, IKKP merupakan organisasi masyarakat (ormas) daerah yang berdasarkan Pancasila dan berbadan hukum.

IKKP juga sudah memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) yang taat pada asas. Pasalnya, organisasi yang tidak berbadan hukum dan taat asas dapat dibubarkan pemerintah berdasarkan UU atau Perppu Ormas.

“Kita baru saja menggelar silaturahmi dan halal bihalal di Gedung DPR bersama para tokoh, termasuk Bupati Pati Haryanto dan Wakil Bupati Pati terpilih Saiful Arifin. Tujuannya untuk merajut persatuan keluarga Pati,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Sebagai salah satu ormas daerah, Firman mengaku IKKP siap menjembatani untuk menjadikan Pati sebagai salah satu kekuatan ekonomi nasional. Pasalnya, Pati punya segudang potensi, dari perikanan, pertanian, perkebunan, wisata, hingga sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

Tokoh yang berkiprah di panggung nasional juga sangat banyak. Salah satunya, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso.

“Itu sebabnya, kami ingin menyatukan para tokoh dari Pati untuk memberikan kontribusi yang terbaik buat daerahnya dan nasional. Kami siap mendukung Pati jadi salah satu kekuatan ekonomi nasional,” tuturnya.

Salah satu keberhasilan Pati untuk nasional, antara lain surplus pertanian yang bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional. Sama halnya industri perikanan di Pati yang saat ini meningkat pesat.

Editor : Akrom Hazami

 

Jika Tubuh Tak Kebal Virus Campak-Rubella, Ini Bahayanya Kata Dinkes Jepara

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Bulan Agustus dan September dicanangakan sebagai bulan imunisasi Measles-Rubella (MR-Campak Rubella). Lalu apa bahayanya jika tubuh kita tak kebal dua virus itu?

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, keduanya adalah penyakit infeksi yang menular melalui saluran napas dan disebabkan oleh virus. Jika seseorang terkena campak ia akan mudah terserang penyakit dan menyebabkan komplikasi seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), diare, kebutaan bahkan kematian. 

Sementara itu, jika seorang anak terkena virus rubella biasanya hanya menderita penyakit ringan. Namun jika menulari ibu hamil pada awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang nantinya dilahirkan. 

Kecacatan akibat virus rubella pada ibu hamil disebut sebagai sindroma rubella kongenital. Hal itu menyebabkan kelainan pada jantung, mata, tuli dan perlambatan tumbuh kembang. Untuk penyakit yang disebabkan oleh campak dan rubella tidak dapat diobati, akan tetapi bisa dicegah dengan cara melakukan imunisasi. 

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Jepara . Imunisasi MR sangatlah penting untuk menjaga diri dan orang lain yang ada di sekitar. 

“sebagai contohnya, jika ada orang yang menolak imunisasi rubella berumur 15 tahun. Lalu beberapa tahun kemudian dia menikah dan mempunyai anak, bisa saja ia tertular virus tersebut dan menularkannya. Akibatnya anak dari perkawinan tersebut mengalami kecacatan,” terangnya, Senin (31/7/2017).

Oleh karenanya, ia mengimbau seluruh warga Jepara yang berumur 9 bulan hingga 15 tahun dan belum mengikuti imunisasi MR, memanfaatkan bulan imunisasi MR. Dwi mengatakan kegiatan itu tidak dikenai biaya alias gratis. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Hebat, Grup Band SMKN 1 Purwodadi Berjaya di Ajang Festival Tingkat Kabupaten

Guru kesenian SMKN 1 Purwodadi Tri Kuntarto (tengah) berpose bersama punggawa Smekenda Band usai penyerahan piala. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Dominasi SMA di ajang festival band level Kabupaten Grobogan akhirnya terhenti. Hal ini menyusul keberhasilan Smekensa, grup band dari SMKN 1 Purwodadi menjadi juara dalam ajang festival band antar SMA tingkat kabupaten yang dilangsungkan pekan lalu di alun-alun.

Dalam ajang itu, Smekensa berhasil mengungguli grup band dari SMA yang sebelumnya selalu mendominasi juara.

“Prestasi yang kita raih ini memang membanggakan. Baru kali ini, kita akhirnya bisa juara I di ajang festival band,” ungkap guru kesenian SMKN 1 Purwodadi Tri Kuntarto yang juga bertindak selaku pelatih dan pendamping ketika ditemui di sekolahannya, Senin (31/7/2017).

Grup Band Smekensa diperkuat lima personel. Masing-masing, Rahmadila K Nisa siswa kelas XI jurusan multimedia yang memegang keyboard dan vokalis Rizky Katon Gumintang siswa kelas XII jurusan multimedia. Tiga punggawa lainnya adalah siswa kelas XII jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Yakni, Kurnia Edo (gitaris),

M Ihsan C (drummer) dan Rohmad hariyadi (bass).

Meski even yang diikuti hanya level kabupaten, namun grup band itu melakukan persiapan cukup serius. Sebab, dalam even itu, mereka memang ditargetkan untuk bisa jadi juara.

“Selama persiapan, anak-anak saya motivasi terus bahwa mereka bisa juara dalam even itu. Saya cukup yakin karena kemampuan personilnya kali ini sangat bagus. Dengan motivasi yang diberikan, anak-anak akhirnya terlecut semangatnya dan bisa jadi juara,” tambah Tri.

Rizky Katon Gumintang vokalis grup band Smekensa menambahkan, dalam festival tersebut, semua peserta membawakan lagu wajib berjudul Bendera dari grup band Coklat. Untuk lagu pilihan adalah Zamrud Khatulistiwa milik Chrisye.

Selain jadi juara, dalam even itu grup band Smekensa juga meriah tiga penghargaan perorangan (the best). Yakni, untuk pemain gitar, drum, dan keyboard. (nap)

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Siswa SD di Gondosari Gebog Kudus Dibully Sadis 

Aktivitas di SD 1 Negeri Gondosari Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)li

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus kekerasan (bully) masih saja dialami siswa. Seperti di Kabupaten Kudus. Adalah AL (8) siswa SD 1 Negeri Gondosari, Gebog.
Dari data yang dihimpun, AL saat ini duduk di kelas IV. Korban merupakan warga Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara.

Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA), Senin (31/7/2017), Noor Haniah mengatakan, AL diduga mendapatkan perlakukan keras yang sadis. Di antaranya berupa jotosan, ditindih kursi, serta parahnya lagi adalah kemaluan pelaku ditusuk dengan penggaris besi sampai lecet.

Peristiwa tersebut terjadi saat tidak ada guru. Mengingat saat kejadian, sedang ada rapat sekolah. Dengan pelakunya adalah teman sekelas korban. “Tidak ada kelas. Sedang ada rapat di kantor,” kata Haniah.

Kejadian dipicu karena korban tidak mau menuruti kemauan teman sekelas yang merupakan ketua geng di kelas. Diketahui geng tersebut diketahui oleh seorang anak berinisial F. Geng itu terdiri atas sembilan anak. Mayoritas geng anak itu terdiri dari para siswi.

Hasil penelusuran di lapangan, katanya, diduga kasus kekerasan terjadi sejak korban duduk di kelas III, dan baru diketahui ketika korban duduk kelas IV. Korban sudah meminta pertolongan kepada teman lain. Tapi tak ada yang berani melakukan pertolongan.  “JPPA yang melakukan pendampingan atas kasus tersebut, juga melakukan `assessment` terhadap korban, pelaku serta orang tua pelaku,” terang Haniah.

Dia menyimpulkan, aksi kekerasan ini karena kelalaian guru. Setidaknya saat berhalangan, guru pengampu bisa minta bantuan ke guru lain guna menggantikan sementara.

AKBP Agusman Gurning, Kapolres Kudus mengatakan pihaknya sudah menerima laporan pada Sabtu (29/7/2017) . “Orang tuanya terlebih dahulu sudah kami periksa,” kata Gurning.

Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Kurniawan Daili mengatakan, pihaknya telah meminta keterangan dari orang tua korban. Visum juga telah dilakukan, baik di puskesmas, maupun di rumah sakit. “Visumnya itu bagian luar dan bagian dalam,” kata Kurniawan.

Selanjutnya, polisi juga akan meminta keterangan kepada guru korban. “Kami juga akan koordinasi dengan Bapas (Balai Pemasyarakatan), karena ini menyangkut korban maupun pelaku di bawah umur,” pungkasnya.

Kepala SD 1 Negeri Gondosari Sudiyarto enggan memberi keterangan terkait hal tersebut. Hanya pihaknya mengiyakan atas perkara yang menimpa satu siswanya tersebut, dengan pelaku teman satu kelasnya. “Kejadianya pada Rabu (19/7/217) lalu. Korban teman kelas sendiri,” jawabnya singkat.

Disinggung tentang pengawasan pihak sekolah, dia menjelaskan tak tahu kalau kejadian tersebut terjadi. Karena, saat kejadian tak ada guru yang tahu karena para guru juga sedang rapat di ruang guru.

Editor : Akrom Hazami

Berniat Bakar Daun Tebu, Tubuh Petani Tamansari Pati Terpanggang Hingga Tewas


Warga melihat kondisi korban yang meninggal dunia terpanggang di kebun tebu, Desa Semirejo, Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang petani asal Dukuh Kerep Kulon, Desa Tamansari, Tlogowungu, Sudarwi (60) ditemukan meninggal dunia dalam keadaan terpanggang di lahan tebu miliknya di Desa Semirejo, Gembong, Minggu (30/7/2017).

Kapolsek Gembong AKP Giyanto mengungkapkan, korban bersama dua orang kulinya saat itu membakar daun tebu kering yang sudah ditebang. Sekitar pukul 11.30 WIB, dua orang kulinya mengajaknya pulang.

Namun, korban menolak karena masih ada beberapa bagian daun tebu kering yang belum terbakar. Kedua kulinya pun memutuskan untuk pulang, sedangkan korban masih melanjutkan aktivitasnya.

“Diduga korban jatuh pingsan karena terlalu banyak menghirup asap hasil pembakaran daun tebu kering. Asap mengakibatkan korban mengalami sesak napas, jatuh dan tidak sadarkan diri,” ucap AKP Giyanto, Senin (31/7/2017).

Saat tidak sadarkan diri, tubuh korban terbakar api yang menjalar. Korban meninggal dunia di lokasi kejadian dalam keadaan mengenaskan. Sekujur tubuhnya kaku akibat terpanggang.

Petugas medis yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) menyimpulkan tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban. Hasil visum menunjukkan, korban meninggal dunia murni karena terbakar api.

Giyanto mengimbau kepada para petani untuk berhati-hati saat membakar daun tebu kering dan tidak lupa untuk selalu bersama teman. Dengan demikian, bila ada salah satu yang pingsan akibat terlalu banyak menghirup asap bila diselamatkan.

Editor : Akrom Hazami

 

HAMI Ingatkan Kades di Pati untuk Hati-hati Gunakan Dana Desa


Pengurus HAMI Pati berfoto bersama seusai mengikuti pelantikan di Hotel 21 Pati, Minggu (30/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Kabupaten Pati mengingatkan kepada kepala desa dan pemerintah desa untuk berhati-hati menggunakan dana desa. Sebab, dana desa yang jumlahnya besar dinilai rawan menjadi masalah.

Terutama, bila penggunaan anggaran dana desa tidak sesuai aturan. Karena itu, pemdes disarankan untuk cermat menggunakan dana desa sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan teknis, serta memiliki kemanfaatan pada masyarakat.

“Pemdes sudah semestinya menggunakan anggaran desa sesuai juklak dan juknis. Jangan sampai ada niat buruk seperti korupsi atau mengambil keuntungan pribadi dari dana desa. Pengawasannya saat ini melibatkan semua unsur,” kata Ketua DPC HAMI Pati Bowo Setiadi, usai pelantikan pengurus HAMI di Hotel 21 Pati, Minggu (30/7/2017).

Menurutnya, kehati-hatian pemdes dalam menggunakan dana desa harus dilakukan dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pembuatan. Pasalnya, kesalahan fatal dalam pelaporan, apalagi ada indikasi korupsi, bisa membawa oknum pemdes ke penjara.

Tidak bermaksud menakut-nakuti, tapi Bowo ingin mengingatkan agar pemdes bisa menghindari pelanggaran hukum akibat ketidaktahuan atau unsur ketidaksengajaan. “Jangan sampai niatnya baik, tidak korupsi, tapi malah berurusan dengan hukum karena ketidaktahuan,” imbuhnya.

Pihaknya juga siap memberikan advokasi kepada pemdes bila diperlukan. Bahkan, advokasi yang diberikan HAMI rencananya dilakukan secara gratis, termasuk konsultasi hukum.

Pengurus HAMI sendiri dibentuk untuk menyatukan pada advokat yang ada di Pati. Mereka berharap, HAMI bisa menjadi wadah bagi advokat muda di Pati yang juga konsen pada agenda advokasi dan konsultasi hukum gratis.Editor : Akrom Hazami

MUI Jepara Imbau Warganya Ikuti Program Imunisasi Campak-Rubella

Ketua MUI Jepara Mashudi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Sebagian warga Jepara beranggapan imunisasi merupakan hal yang bertentangan dengan agama, karena vaksin diambil dari bahan yang tidak halal. Namun demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jepara justru menganjurkan warganya untu berbondong-bondong mengikuti kegiatan imunisasi Measles-Rubella (MR-Campak Rubella) karena dinilai nilai manfaatnya lebih besar untuk mencegah timbulnya penyakit. 

Hal itu ditegaskan oleh Ketua MUI Jepara Mashudi. “MUI sudah bersikap, bahkan sudah mengeluarkan tausyiah intinya silakan masyarakat berbondong-bondong mengikuti imunisasi MR. Kami sangat mendukung program tersebut,” kata dia Senin (31/7/2017).

Ia mengatakan, imunisasi merupakan ikhtiar yang dilakukan untuk menjaga kesehatan. Jika sebagian orang mengatakan ada unsur hewan yang diharamkan dalam membuat vaksin, Mashudi mengatakan hal itu bersifat darurat. 

“Hal itu (imunisasi) mengandung kemaslahatan. Jika ada obat yang diduga mengandung babi dan sebagainya itu sifatnya darurat dalam rangka menjaga kesehatan lebih penting daripada mengobati. Jadi kami mendukung pelaksanaan imunisasi baik di bulan Agustus ataupun di bulan September,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan Imunisasi MR. Adapun fatwa tersebut bernomor 4 tahun 2016 yang membolehkan (mubah) tindakan tersebut karena sebagai bentuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah penyakit. 

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Jepara Dwi Susilowati menyebut vaksin MR merupakan produksi Indonesia. Produk tersebut pun sudah melalui pengujian oleh badan kesehatan dunia atau WHO dan dinyatakan aman. 

“Enggaklah (tidak haram) kan yang membikin vaksin orang Indonesia dan sudah diekspor di lebih dari 140 negara. Sudah diteliti oleh World Health Organization dan dinyatakan aman,” kata dia.

Editor : Akrom Hazami

 

Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji Grobogan Kloter 17 Dimajukan 

Ratusan koper jemaah haji Grobogan kloter 17 dikumpulkan di halaman Masjid Jabalul Khoir Simpanglima Purwodadi dan selanjutnya dikirim ke Donohudan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Jemaah haji Grobogan yang tergabung dalam kloter 17 akan diberangkatkan Selasa (1/8/2017) dini hari nanti. Rencananya, jemaah haji akan dilepas menuju asrama Donohudan dari pendapa kabupaten, pukul 02.00 WIB.

Jadwal keberangkatan jemaah haji ini mengalami sedikit perubahan. Yakni, pemberangkatan maju sekitar tiga jam dari jadwal semula.

“Sebelumnya, rencana pemberangkatan dilakukan habis Subuh. Tetapi, ada perubahan sehingga jadwalnya maju jadi pukul 02.00 WIB,” ungkap Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali yang ditemui saat mengecek pengiriman koper jemaah di Masjid Jabalul Khoir Simpanglima Purwodadi, Senin (31/7/2017).

Dijelaskan, majunya jadwal keberangkatan itu dilakukan karena 351 jemaah kloter 17 dijadwalkan sudah harus tiba di Donohudan pukul 05.00 WIB. Supaya bisa tepat waktu tersebut maka pihaknya harus menyesuaikan jadwal keberangkatan jemaah.

Menurut Hambali, untuk kloter 64 akan diberangkatkan pada 15 Agustus. Sementara kloter 65 dan 66 berangkat pada hari yang sama, yakni 16 Agustus.

“Jumlah kloternya ada empat. Yakni, kloter 17, 64, 65 dan 66. Jumlah jemaah keseluruhan ada 977 orang,” katanya.

Ditambahkan, jemaah haji kloter 17 dan 65 diisi sebanyak 355 orang yang seluruhnya dari Grobogan. Kemudian, ada 136 orang masuk kloter 64 dan 221 orang ikut kloter 66. Untuk kloter 64 bergabung dengan jemaah Kabupaten Semarang dan kloter 66 gabung Kota Semarang.

Disinggung soal pengiriman koper jemaah, Hambali menyatakan, semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Koper dikirim lebih awal dari keberangkatan jemaah.

“Koper jemaah haji kloter 17 sudah komplit tidak ada yang ketinggalan. Jumlah koper ada 351,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Miras Bernilai Ratusan Juta Diamankan dari Toko di Kaliwungu Kudus

Petugas Satpol PP saat mengamankan miras dari salah satu toko di Desa Mijen, Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus –  Satpol PP Kudus menyita ribuan botol minuman keras (miras) bernilai ratusan juta dari salah satu toko, di Dukuh Gadon, Desa Mijen, RT 04 RW 5, Kecamatan Kaliwungu, Senin (31/7/2017).

Pemilik toko itu adalah Deni Syaiful Amri (23). Petugas menemukan miras di gudang khusus miliknya. “Ada sekitar 2,7 ribu botol yang kami amankan. Jumlahnya kisaran ratusan juta rupiah. Ada beberapa banderol harga miras yang harganya cukup tinggi,” kata Kasatpol PP Djati Solechah di Kudus.

Djati mengungkapkan, toko yang digerebek itu sudah dipantau sejak lama. Begitu informasi masyarakat diterima Satpol PP, pihaknya langsung bereaksi.

Awalnya, pemilik menyimpan rapat miras. Saat petugas tiba di lokasi, mereka tak mendapati miras. Tokonya cukup besar. Namun petugas curiga dengan isi rumah. Hasilnya, Satpol PP menemukan miras di gudang rumah.

Editor : Akrom Hazami

 

Ribuan Atribut Merah Putih Mulai Menghiasi Kota Purwodadi

Ribuan Atribut Merah Putih berupa bendera dan umbul-umbul sudah terpajang di berbagai lokasi di kota Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemandangan kota Purwodadi terlihat beda dibandingkan hari sebelumnya, Senin (31/7/2017). Hal ini terkait dengan sudah banyaknya atribut sambut HUT RI yang terpasang di beberapa ruas jalan protokol.

Dari pantauan di lapangan, atribut merah putih yang terpasang ini wujudnya berupa bendera dan umbul-umbul. Lokasi yang sudah dipenuhi atribut merah putih ini di antaranya adalah sekeliling bundaran Simpanglima dan Jalan Gajah Mada.

Kemudian, jalan raya di kawasan alun-alun dan sekitar pasar juga sudah marak merah putih. Selain itu berbagai perkampungan, seperti kampung Jetis, Jengglongo, dan Jajar juga sudah banyak terpasang bendera maupun umbul-umbul berbagai ukuran.

“Pemasangan bendera maupun umbul-umbul merah putih sudah kita lakukan sejak Minggu kemarin. Sehari kemarin, kita sudah pasang sekitar 1.000 atribut. Hari ini nanti kita lanjutkan lagi pemasangan di titik lainnya,” kata Lurah Purwodadi Hendro Sutopo.

Menurut Hendro, selain menyambut momen Hari Kemerdekaan RI, pemasangan ribuan atribut merah putuh itu dilakukan untuk menggugah rasa nasionalisme yang dinilai mulai menurun. Salah satu indikasinya adalah banyaknya warga yang tidak memajang bendera merah putih di depan rumah saat momen HUT RI. Bagi sebagian orang khususnya mereka yang mengalami masa penjajahan, kondisi ini dirasa cukup memprihatinkan.

“Dari pengamatan sejauh ini, memang pemasangan bendera merah putih saat Agustusan sudah kurang semarak dalam beberapa tahun belakangan. Terutama, di kawasan kota Purwodadi. Nah, untuk tahun ini, kita bikin kawasan kota jadi lautan merah putih,” cetus mantan Lurah Kalongan, Wirosari, dan Grobogan itu.

Dalam rangka pemasangan atribut merah putih tersebut, pihaknya bersama jajaran Muspika Purwodadi sebelumnya sudah mengumpulkan berbagai komponen yang berada di jalan protokol. Mulai dari warga, pengusaha, pimpinan BUMD / BUMN, kepala kantor pemerintahan dan swasta serta para ketua RW dan ketua RT se-Kelurahan Purwodadi.

Dari pertemuan itu, muncul tanggapan positif dan dukungan dari berbagai komponen masyarakat tersebut. Bahkan, mereka juga siap menyumbangkan bendera maupun umbul-umbul untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan.

“Sekitar 2.000 bendera maupun umbul-umbul nanti yang akan kita siapkan. Selain itu, warga di seluruh RS juga ikut berpartisipasi memasang sendiri di lingkungannya,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Rumah Zakat Salurkan Beasiswa Berprestasi di Desa Sempu Kunduran Blora

Kegiatan penyaluran zakat untuk siswa berprestasi di Kunduran, Blora. (Rumah Zakat)

MuriaNewsCom, Blora  – Puluhan anak sekolah yang berprestasi di Desa Sempu, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, menerima bantuan dari Rumah Zakat.

Tulus Prihadi Relawan Inspirasi Rumah Zakat yang berada di desa tersebut mengatakan bahwa beasiswa diberikan kepada anak berprestasi dari jenjang SD-SMA.

“Semoga dengan penyaluran beasiswa kepada anak-anak berprestasi ini dapat mengurangi beban orang tua dalam membiayai anak-anaknya bersekolah” kata Tulus di Kudus, dalam rilis persnya, Senin (31/7/2017).

Menurut Tulus, penyaluran bantuan ini merupakan bentuk pembinaan yang bertujuan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Karena generasi pelajar yang memiliki wawasan agama dan pengetahuan yang baik akan memberikan manfaat bagi orang lain.

“Pembinaan sepekan sekali atas tindaklanjut dari beasiswa ini dilakukan agar anak-anak dan para orang tua memiliki pengetahuan keagamaan, akhlak yang baik, dan bermanfaat bagi orang lain.” lanjutnya

Semantara itu Supriyanto salah satu orang tua penerima beasiswa mengaku senang atas bantuan dari Rumah Zakat.

“Terima kasih kepada Rumah Zakat. Semoga apa yang diberikan menjadi ladang amal di akhirat nanti. Semoga setiap bantuan yang dkeluarkan, Allah SWT gantikan dengan yang lebih baik, lebih banyak dan membawa keberkahan bagi keluarga dan kehidupan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Fasbuk Gaungkan Semangat Penyair Chairil Anwar

MuriaNewsCom,  Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus akan kembali menggelar lawatan rutin sastra dan budaya.

Kali ini menampilkan pertunjukan musik, puisi, dan diskusi dengan menghadirkan tema “Semangat Muda” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis Bae Kudus, pada Senin, (31/7/2017) pukul 19.30 WIB.

Tema “ Semangat Muda “ melambangkan remaja yang memiliki sifat optimistis, kebijaksanaan dan semangat untuk mencapai kejayaan. Bertepatan dengan bulan kelahiran sosok penyair legendaris yakni Chairil Anwar, Fasbuk edisi bulan Juli 2017 ini mengangkat pertunjukan musik yang akan mengekplorasi karya sastra puisi menjadi sebuah komposisi musik.

Kisah sepak-terjang kepenyairan Chairil Anwar hadir dalam peristiwa-peristiwa penting. Chairil merespons kebhinekaan negeri ini lewat puisi-puisinya. Pada generasi masa kini, karya beliau menjadi pemicu semangat para kreator seni untuk berkarya. Seniman yang akan tampil pada edisi bulan Juli 2017 adalah Berteriak Lantank, salah satu kelompok musik yang sudah berdiri sejak tahun 2011.

Ketua Badan Pekerja Fasbuk Arfin Am mengatakan, banyak lagu dan aransemen musik yang sudah mereka ciptakan, namun pada edisi ini mereka akan menampilkan beberapa puisi Chairil Anwar yang digubah menjadi sebuah pertunjukan musik asyik.

“Selain pertunjukan akan ada diskusi bersama antara penampil dan pengunjung agar pohon kreativitas yang berupa sejumlah puisi dan esai-esainya itu sampai sekarang masih terus berbunga dan berbuah, kita mesti menelusuri ketiga hal yakni sikap hidup, gagasan, dan segala perbuatan dalam masa hidupnya yang pendek itu,” katanya.

Fasbuk adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara kontinue untuk mencipta inovasi serta varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Bangunan Zaman Belanda di Sumber Jatipohon Grobogan Ini Pernah Ditempati Perdana Menteri Indonesia

Inilah kondisi bangunan lama yang dibangun di era penjajahan Belanda yang berada di Desa Sumber Jatipohon, Kecamatan Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sebuah bangunan lama bergaya Eropa yang masih terdapat di Desa Sumber Jatipohon, Kecamatan Grobogan, Grobogan ternyata menyimpan catatan penting.

Bangunan itu pernah ditempati Perdana Menteri Indonesia ke-9 Burhanuddin Harahap bersama keluarganya selama hampir setahun lamanya. Burhanuddin tinggal di tempat itu dalam statusnya sebagai tahanan politik di era Orde Lama.

Kisah ini diketahui banyak diketahui banyak orang sampai saat ini. Salah satu saksi yang masih mengetahui peristiwa itu adalah Mbah Karto Sudirjo alias Rasipin, warga Desa Sumber Jatipohon.

“Burhanuddin Harahap tinggal di rumah itu sekitar tahun 1960 karena masalah politik. Sekitar satu tahun ada di situ dan tidak ada warga yang berani mendekat ke sana,” kata pria yang sudah berusia 91 tahun itu.

Selama ditempati Burhanuddin, sekitar bangunan itu dijaga aparat keamanan. Untuk kebutuhan sehari-hari, ada salah seorang warga setempat bernama Rasmin yang melayani.

Karto sering lewat dekat bangunan tersebut. Tetapi, ketika lewat dia tidak berani menengok ke arah bangunan karena takut ditegur aparat. Ketika melintas, ia sering mendengar suara radio dari dalam bangunan.

Di Desa Sumber Jatipohon pada waktu itu sebenarnya terdapat rumah tahanan negara. Lokasinya ada di pinggir jalan Purwodadi-Pati, samping kiri balai desa. Namun, bekas bangunannya sudah tidak ada lagi saat ini.

“Rumah tahanan waktu itu hanya untuk menampung pelaku kejahatan saja. Kapasitasnya, juga tidak terlalu besar. Saya tahu persis karena bekerja jadi penjaga rumah tahanan itu dari tahun 1953-1982,” kata pria yang memiliki 6 anak, 17 cucu dan 10 cicit itu.

Bangunan lama itu selesai dibangun pada 13 Oktober 1935, sesuai tulisan yang tercetak di tembok depan sisi kiri. Meski dibangun pada era penjajahan, pembuat bangunan itu bukan orang Belanda. Tetapi, pengusaha keturunan Tionghoa dari Purwodadi bernama Tan Liong Pin.

Pengusaha itu membuat bangunan untuk pesanggrahan atau istirahat. Lokasinya memang cocok untuk pesanggrahan karena ada di ketinggian dan di selatan bangunan bisa melihat pemandangan alam hamparan hutan jati.

Pada tahun 1950, bangunan itu dijual pemiliknya pada perusahaan kayu milik negara yang kini bernama Perum Perhutani. Oleh pihak Perhutani, bangunan dengan beberapa kamar yang dinamakan Wana Marto itu dijadikan tempat penginapan dengan label ‘City View Jatipohon’.

Sebelumnya, ada empat bangunan pesanggrahan yang berdiri di sekitar lokasi yang sekarang jadi obyek wisata Bukit Pandang tersebut. Selain milik Tan Liong Pin, ada bangunan milik Bupati Grobogan periode 1933-1944 Raden Adipati Sukarman Martohadinegoro dan pengusaha Tionghoa lainnya bernama Tiong Sam.

Satu bangunan lagi didirikan oleh dokter berkebangsaan Belanda bernama Van Palisen. Sehari-hari dokter itu bertugas di Rumah Sakit Zending yang didirikan pemerintah kolonial Belanda tahun 1924 yang kini menjadi RSUD Dr R Soedjati.

Dari empat bangunan itu, hanya satu yang masih terselamatkan hingga saat ini. Tiga bangunan lainnya sudah roboh belasan tahun lalu karena tidak ada yang merawat.

Editor : Kholistiono

Perempuan Asal Ciamis Jabar Ini Sudah 15 Tahun Jualan Bendera di Grobogan

Bu Yayah, salah satu penjual bendera dan atribut merah putih musiman di Kota Purwodadi sedang merapikan barang dagangannya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Penjual bendera dan atribut merah putih musiman mulai bermunculan di kawasan Kota Purwodadi menjelang momen Agustusan. Di sejumlah ruas jalan protokol, sudah terlihat penjual bendera yang menggelar dagangannya di pinggir jalan di bawah pohon peneduh.

Hampir semua pedagang musiman ini berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Salah satunya adalah Bu Yayah, yang mangkal di pinggir jalan Gajah Mada dengan hutan kota.

“Saya sudah sampai Purwodadi dua hari lalu. Setelah sampai sini langsung jualan,” katanya, Sabtu (29/7/2017).

Yayah mengaku tiap tahun selalu ikut berjualan bendera. Selama 15 tahun pekerjaan itu digeluti tiap mendekati bulan Agustus.

“Tiap tahun saya jualan di sini. Kalau saya hitung sudah 15 kali ini saya ke Purwodadi. Kami jualan ke sini dengan banyak kawan atau rombongan,” jelasnya.

Yayah mengaku senang jualan bendera di Purwodadi. Selain omzetnya selalu bagus, suasana Purwodadi dinilai tidak terlalu bising seperti kota besar lainnya.

Di samping itu, biaya hidup di Purwodadi dinilai cukup murah sehingga bisa menekan pengeluaran.“Saya kerasan jualan disini. Semoga tahun ini dagangan saya laris,” harapnya.

Selain menjual bendera berbagai ukuran, pedagang musiman ini juga menyediakan umbul-umbul dan atribut lainnya. Harga barang yang dijual itu bervariasi, mulai Rp 10-50 ribu.

Editor : Kholistiono

Festival Mata Air Sadarkan Warga Pentingnya Jaga Lingkungan

Warga memperebutkan gunungan sayuran yang usai diarak pada saa Festival Mata Air di Telaga Sejuta Akar, Desa Bondo, Bangsri, Sabtu (29/7/2017). (MuriaNewsCon/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Telaga Sejuta Akar Bondo, Kecamatan Bangsri menjadi tempat diselenggarakannya Festival Mata Air 2017. Acara tersebut merupakan upaya untuk mengingatkan warga menjaga kelestarian sumber air. Telaga Sejuta akar sendiri merupakan sumber mata air yang dinaungi pohon beringin karet dan ingas serta bergat. Sehingga menciptakan lingkungan yang teduh. 

Penggagas acara Hadi Priyanto mengatakan, festival tersebut memiliki dimensi eko-relijius. Selain melestarikan sumber air, kegiatan itu juga bertujuan mengingatkan warga sekitar atas potensi alam yang merupakan titipan Tuhan. 

“Festival mata air bertujuan memberikan inspirasi kepada warga untuk dapat mencintai alam dan melestarikannya. Tidak lantas mengekploitasi untuk kepentingan generasi saat ini, akan tetapi bagaimana upaya kita agar dapat menjaganya untuk diwariskan kepada anak cucu kita,” ucapnya, yang juga Ketua Yayasan Kartini Indonesia. 

Dari sumber mata air itu, bisa digunakan untuk mengairi persawahan seluas 94 hektar. Dirinya juga mengingatkan bahwa pelestarian alam juga bagian dari tanggungjawab pemerintah. 

“Pelestarian alam juga merupakan tanggungjawab dari pemerintah setempat melalui political will,” tambahnya. 

Sekretaris Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNPA) Viktor Sidabutar mendukung gerakan tersebut. Ia berujar, upaya yang digagas oleh warga tersebut merupakan bentuk peran serta menyukseskan gerakan yang telah dimulai sejak tahun 2016 lalu.

“Upaya penyelamatan sumber air tak hanya tanggungjawab pemerintah, ini (festival mata air) merupakan bentuk keikutsertaan warga. GNPA sendiri mengawal bagaimana acara ini tak hanya bersifat seremonial, akan tetapi setelahnya dapat ditindaklanjuti,” tutur dia. 

Ia mengatakan, dengan melestarikan sumber mata air turut menyukseskan program ketahanan pangan nasional. Hal itu karena, sumber alami turut mengaliri sawah-sawah sebagai tempat produksi padi. 

Editor: Supriyadi

Hamil, Calhaj Asal Lasem Gagal Berangkat

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Dari 794 calon haji, satu orang calon jemah haji (Calhaj) asal Kabupaten Rembang gagal berangkat ke Tanah Suci tahun 2017 ini. Calhaj tersebut bernama Umma Farida, warga RT 13 RW 8 Desa Jolotundo, Kecamatan Lasem, Rembang.

Kasi Haji dan Umrah pada Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Rembang Salehudin mengatakan, Umma Farida gagal berangkat pergi berhaji lantaran sedang hamil usia enam pekan. Hal itu diketahui oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang belum lama ini, saat yang bersangkutan menjalani tahapan suntik meningitis.

“Saat itu, ada laporan dari Dinas Kesehatan bahwa pihak Kemenag harus mengundurkan satu orang calon jemaah karena hamil usia enam minggu. Informasinya itu dari Dinkes saat yang bersangkutan saat suntik meningitis belum lama ini,” ungkap Salehudin.

Rencananya, calhaj yang gagal berangkat tahun ini akan dialihkan pada pemberangkatan tahun depan. Itupun jika calhaj tersebut sudah dalam kondisi yang memungkinkan untuk berangkat.

“Kalau tahun depan yang bersangkutan sudah siap berangkat, akan kami ikutkan pada periode pemberangkatan tahun depan. Seandainya hamil lagi, nanti akan diundur lagi,” imbuhnya.

Selain Umma, juga terdapat calon jemaah haji asal Sedan yang nyaris gagal berangkat. Yang bersangkutan mengalami insiden yang menyebabkan kakinya patah sehingga mengharuskan menggunakan kursi roda.

“Setelah kami konsultasi dengan pihak Dinkes, calhaj tersebut ternyata masih bisa ikut berangkat tahun ini dengan menggunakan kursi roda. Konsekuensinya harus ikut mengajak suaminya agar bisa mendampingi selama beribadah haji,” ujarnya.

Total calon jemah haji asal Kabupaten Rembang pada tahun 2017 ini berjumlah 794 jamaah. Berkurang satu orang menjadi 793 jamaah. Dibagi menjadi tiga kelompok terbang (kloter), yaitu kloter 40, kloter 92 dan kloter 93.

Kloter 40 rencananya akan diberangkatkan dari Rembang pada tanggal 8 Agustus 2017 mendatang. Sedangkan kloter 92 dan 93 akan berangkat di hari yang sama, selisih tiga jam, pada tanggal 24 Agustus 2017.

“Seluruh persiapan sudah kami laksanakan, rencananya pada hari Senin besok kami akan kirim surat kepada seluruh calon jamaah haji untuk pemberitahuan tanggal pemberangkatan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Sedekah Bumi, Warga Tanjungrejo Pati Arak Jolen Berharap Harga Ketela Membaik

Warga Tanjungrejo, Margoyoso, Pati mengarak hasil bumi dalam peringatan sedekah bumi, Sabtu (29/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati menggelar sedekah bumi dengan mengarak hasil bumi, Sabtu (29/7/2017). Hasil bumi itu yang disebut dengan jolen.

Penduduk setempat yakin, jolen membawa berkah bagi pertanian. Karena itu, tak sedikit dari mereka yang berebut jolen seusai diarak keliling kampung.

Warga setempat, Budi Hantomo menuturkan, sedekah bumi di desanya menjadi wujud syukur kepada Tuhan dari hasil bumi yang menjadi mata pencaharian sehari-hari. Kendati hasil bumi tahun ini dianggap gagal, tetapi penduduk tetap mengadakan sedekah bumi.

“Warga sekitar banyak yang bekerja sebagai kuli mikul, kuli giling, mengupas ketela, beternak sapi hingga petani ketela. Komoditas ketela makin terpuruk. Kami berharap, sedekah bumi ini akan membawa perubahan yang lebih baik untuk komoditas ketela,” ucap Budi.

Menurutnya, orang Jawa masih bisa bersyukur atas segala berkah yang diberikan Tuhan. Kendati hasil bumi menurun karena harga ketela anjlok, mereka tetap merayakan sedekah bumi.

Padahal, ketela disebut sebagai komoditas terbesar di desanya. Bahkan, hamparan tanah milik penduduk bukanlah sawah, tetapi perkebunan ketela. Hal itu yang membuat warga cukup prihatian dan berharap “jolen” bisa membuat harga ketela membaik.

“Jolen itu berisi hasil bumi penduduk yang sudah didoakan tetua desa. Kami yakin jolen bisa membawa berkah. Semoga komoditas ketela kembali membaik agar petani tidak merugi,” harapnya.

Selain arak-arakan, warga juga memperingati sedekah bumi dengan karnaval dan pagelaran wayang. Tradisi itu diperingati setiap setahun sekali pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa.

Editor : Kholistiono

Penanganan Kerusakan Infrastruktur di Grobogan Ini Mendesak Ditangani

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono mendampingi Anggota Komisi D DPRD Jateng saat mengunjungi areal sawah di Desa Karangsari, Kecamatan Brati yang selalu kebanjiran. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Grobogan Subiyono meminta dukungan dari Anggota Komisi D DPRD Jateng untuk menangani kerusakan infrastruktur yang dinilai mendesak dilakukan. Sebab, kerusakan infrastruktur itu membawa dampak yang cukup besar bagi masyarakat sekitar.

Menurut Subiyono, kerusakan infrastruktur yang jadi skala prioritas utama adalah penanganan amblesnya jalan di pinggir Kali Tirto di Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari. Penanganan ini perlu dilakukan karena amblesnya jalan itu mengancam rumah penduduk.

“Di sekitar lokasi bencana banyak rumah penduduk. Bahkan, beberapa rumah sebelumnya sudah roboh karena tanah di belakangnya ambles,” katanya.

Prioritas berikutnya adalah penanganan longsornya bahu jalan penghubung utama Desa Lebengjumuk dan Desa Lebak di Kecamatan Grobogan. Longsornya bahu jalan ini mengancam terputusnya akses warga kedua desa tersebut.

Kemudian, longsornya bahu jalan di sayap jembatan penghubung Desa Mlowokarangtalun dan Desa Randurejo di Kecamatan Pulokulon juga mendesak ditangani. Sebab, jika dibiarkan maka longsornya bahu jalan itu bisa mengancam robohnya jembatan.

Selain itu, penanganan longsornya bahu jalan penghubung Desa Kenteng, Kecamatan Toroh dengan Desa Bangsri, Kecamatan Geyer sepanjang hampir 100 meter juga butuh penanganan segera. Sebab, sebelum longsoran itu ditangani maka pihaknya tidak bisa memperbaiki ruas jalan di titik longsor tersebut.

Satu prioritas lagi yang mendesak adalah penyodetan Sungai Satrian di Desa Karasangsari, Kecamatan Brati. Selama ini, aliran air dari sungai ini tidak bisa masuk seluruhnya ke Sungai Lusi. Akibatnya, luapan air selalu menggenangi areal sawah dan menyebabkan ratusan petani sering gagal panen dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini adalah lokasi sawah yang selalu kebanjiran dan menyebabkan petani gagal panen. Kami butuh dukungan untuk menangani infrastruktur tersebut karena biaya yang diperlukan sangat besar. Kalau semuanya mengandalkan ABPB kabupaten tidak memungkinkan. Soalnya, buat perbaikan jalan juga butuh dana besar,” jelas Subiyono saat mengantar anggota komisi D DPRD Jateng di Desa Karangsari.

Editor : Kholistiono

Anggota DPRD Jateng Kaget Lihat Kondisi Jalan Hancur di Grobogan

Anggota Komisi D DPRD Jateng mengadakan pertemuan dengan Kepala DPUPR Grobogan Subiyono dan para kepala bidang saat melangsungkan kunjungan kerja ke Grobogan, Sabtu (29/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Anggota Komisi D DPRD Jateng melakukan kunjungan kerja ke Grobogan, Sabtu (29/7/2017). Begitu sampai di Grobogan, rombongan yang dipimpin Wakil Ketua Komisi D Hadi Santoso langsung singgah di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) di jalan Gajah Mada, depan terminal Induk Purwodadi.

Wakil rakyat sebanyak enam orang itu diterima Kepala DPUPR Grobogan Subiyono dan para kepala bidang di ruang rapat. Dalam kesempatan itu, Subiyono sempat memaparkan tentang kondisi infrastruktur jalan dan jembatan yang ada di wilayahnya.

Menurut Subiyono, jalan dengan status milik kabupaten panjang keseluruhan ada 890 km. Dari angka ini, jalan yang kondisinya baik baru 48 persen atau sekitar 400 km.

Pada tahun ini, sudah dialokasikan dana sebesar Rp 392 miliar untuk perbaikan jalan sepanjang 141 km yang terbagi dalam 236 paket pekerjaan. Dana tersebut, sebesar Rp 200 miliar didapat dari pinjaman daerah melalui Bank Jateng.

Dengan alokasi dana sebanyak itu ditargetkan bisa mengurangi ruas jalan rusak sekitar 15,5 persen atau sepanjang 141 km. Sisanya akan diperbaiki bertahap pada tahun anggaran berikutnya dengan menyesuaikan anggaran yang tersedia.

“Kondisi jalan kabupaten di Grobogan sangat panjang. Sebagai gambaran, panjang jalan ini jaraknya dari Purwodadi sampai Jakarta, pulang pergi,” kata mantan Kadinas Pengairan Grobogan itu.

Usai menyampaikan paparan singkat, Subiyono sempat menayangkan slide foto perbaikan jalan yang dilakukan saat ini. Kemudian, ada pula foto mengenai jalan longsor dan kondisi jalan kabupaten yang belum sempat tersentuh perbaikan.

Saat melihat foto-foto ini, wakil rakyat dari Jateng itu sempat kaget. Bahkan, ada yang sampai tidak percaya jika kondisi jalan dengan tekstur tanah itu milik kabupaten.

“Waduh, kondisi jalannya sangat memprihatinkan. Saya piker itu jalan milik desa. Ternyata masih ada jalan milik kabupaten yang kondisinya seperti itu,” cetus Wakil Ketua Komisi D Hadi Santoso.

Terkait dengan kondisi tersebut, Hadi menyatakan, pihaknya akan berupaya untuk membantu Pemkab Grobogan untuk menuntaskan perbaikan jalan dan penanganan bencana. Yakni, dengan meminta pihak Pemprov Jateng untuk memprioritaskan bantuan perbaikan jalan atau jalan longsor yang ada.

Editor : Kholistiono

Pramuka Jepara Tak Terpengaruh Isu Penundaan Pencairan Dana 

Sejumlah siswa memakai seragam pramuka,melintasi Jl Kartini Jepara.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto) 

MuriaNewsCom, Jepara – Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) di Jepara tak terpengaruh adanya isu penundaan pencairan dana bagi Kwartir Nasional Pramuka, oleh Kemenpora. Hingga saat ini kegiatan kepanduan di Bumi Kartini masih kondusif dan berjalan sebagaimana khittahnya. 

Hal itu disampaikan Ketua Harian Gerakan Pramuka Jepara Suliyono, Sabtu (29/7/2017). Menurutnya, terkait berita tersebut sudah diketahuinya dari informasi surat kabar. 

“Kegiatan pramuka di Jepara tak ada pengaruhnya dengan berita tersebut. Dan nuwun sewu kami mendapatkan dana operasional dari APBD (Jepara) untuk menjalankan semua kegiatan pramuka di daerah,” tuturnya. 

Ia menyebut, sokongan dana dari pusat (Kwarnas) tidak secara langsung diberikan untuk operasional semua kegiatan di daerah. Suliyono menyebut, bantuan dari Pramuka pusat baru didapat jika ada kegiatan berskala nasional. 

“Untuk sokongan dana pramuka lebih besar kami dapatkan dari APBD, kalau dari pusat nuwun sewu tidak mendapatkan, kecuali untuk kegiatan skala nasional. Pada tanggal 13 ini (Agustus 2017) akan ada kegiatan Raimuna nasional pertemuan penegak pandega seluruh Indonesia. Nah dari situ mungkin akan diberikan bantuan berupa logistik selama kegiatan berjalan,” tutur dia. 

Disinggung mengenai informasi dugaan keterlibatan Ketua Kwarnas Nasional Adhiyaksa Dault dengan ormas HTI, Suliyono enggan berkomentar lebih lanjut. Namun demikian, hal itu tak ada kaitannya dengan kegiatan pramuka di Jepara. 

Suliyono menegaskan, hal itu tak terkait dengan gerakan yang dilakukan oleh pramuka. 

“Pramuka di Jepara masih wajar-wajar saja, masih menjunjung tinggi Pancasila sebagai pilar negara serta menjaga persatuan dan kesatuan NKRI,” ungkapnya. 

Editor : Kholistiono

Produk Makanan dan Minuman dari Jagung di Grobogan Bakal Dipatenkan

Inilah beragam produk olahan makanan dan minuman dari bahan jagung yang ditampilkan dalam lomba masakan khas Jawa Tengah yang dilangsungkan di Taman Mini Indonesia Indah, akhir pekan lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Produk olahan makanan dan minuman dari bahan jagung di Grobogan rencananya bakal dipatenkan. Hal itu menyusul keberhasilan produk tersebut meraih  peringkat II dalam lomba masakan khas Jawa Tengah yang dilangsungkan di Taman Mini Indonesia Indah, akhir pekan lalu.

Kasi Destinasi Wisata Disporabudpar Grobogan Ruswandi menyatakan, dalam lomba tersebut, ada dua piala dan piagam yang didapat. Yakni, peringkat II untuk kategori kudapan berbahan jagung. Kemudian, peringkat II untuk kategori minuman berbahan jagung.

“Produk makanan dan minuman yang dilombakan harus terbuat dari bahan nonberas. Kita bikin produk dari bahan jagung yang jadi potensi pertanian andalan Grobogan,” jelasnya.

Meski hanya meraih peringkat II, namun produk dari bahan jagung itu dinilai sangat layak disajikan sebagai menu di hotel berbintang. Terkait dengan penilaian ini, pihaknya disarankan oleh panitia lomba untuk mematenkan produk tersebut.

“Ini merupakan peluang untuk memasarkan produk tersebut. Ke depan, upaya untuk mematenkan produk makanan dan minuman akan kita lakukan,” jelasnya.

Ruswandi menyatakan, tujuan utama lomba tersebut memang untuk mengangkat potensi pangan lokal. Seperti singkong, jagung, kedelai, kacang hijau dan hasil pertanian lainnya. Dari cipta menu tersebut diharapkan bisa mengurangi ketergantungan dengan bahan dari terigu.

“Potensi pangan lokal yang kita miliki di luar beras, sangat melimpah. Nah, potensi ini harus bisa dimanfaatkan untuk bahan pangan alternatif tetapi harus ada kreasi dan inovasinya,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Taman di Jepara Tak Representatif

Terlihat di foto, kebersihan taman di areal Stadion GBK tak dijaga, sampah yang baru saja dibersihkan tidak dibuang pada tempatnya, Jumat (28/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jepara masih minus. Padahal warga masyarakat sejatinya mendamba terwujudnya areal publik yang mendukung aktivitas luar ruangan. 

Yunita (19) mengatakan, untuk areal publik berupa taman di Jepara masih jauh dari harapan. Di sana-sini banyak sekali kekurangan yang menuntut pembenahan serius. 

“Fasilitasnya kadang kurang memenuhi, seperti tempat sampah yang penuh tapi belum dibuang,” ujar warga Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan,Jepara, Jumat (28/7/2017). 

Ia juga mengutarakan, taman-taman di Jepara juga kurang nyaman. Hal itu berbanding berbalik dengan anggaran yang dihabiskan untuk membuat fasilitas tersebut. 

“Sejauh pengamatan dan informasi yang saya terima, anggaran untuk membuat taman setahu saya besar namun kok jadinya seperti itu-itu saja. Saya malah penasaran kan ada rencana bangun city walk nanti jadinya seperti apa bagus atau tidak,” kata dia. 

Warga lain Landiana (19) berkata, banyak taman yang jauh dari perawatan. “Di taman kanal itu kan ada tulisan yang dipasangi lampu, tapi ada yang tidak hidup. Adapula taman yang kotor, kalau duduk kita tidak nyaman,” ungkap warga Tegalsambi, Kecamatan Tahunan. 

Dirinya menginginkan taman-taman di Jepara ditambah dengan fasilitas olahraga, seperti jogging track. “Sekarang tidak ada fasilitas buat pull up, jogging track. Kalau ada akan lebih ramai. Kalau sekarang begitu-begitu saja, malah takutnya disalahgunakan hanya buat pacaran saja misalnya,” pinta Landiana. 

Editor : Kholistiono

Ada Peraturan Baru, Penghasilan Anggota DPRD Grobogan Bakal Bertambah

Kegiatan rapat paripurna di DPRD Kabupaten Grobogan, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Penghasilan anggota dan pimpinan DPRD Grobogan direncanakan bakal naik mulai bulan September mendatang. Kenaikan ini merupakan imbas dengan munculnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Sekretaris DPRD Grobogan Pangkat Djoko Widodo mengatakan, besarnya gaji pokok anggota dan pimpinan DPRD nilainya tidak berubah. Tetapi, kenaikan ada pada tunjangan yang didapat.

Saat ini, masih dibahas rancangan peraturan daerah (raperda) untuk menindaklanjuti PP tersebut. Dalam draf raperda tersebut juga ada penghasilan baru. Yakni tunjangan transportasi dan tunjangan reses.

“Kenaikan penghasilan harus dimasukkan ke dalam perda. Landasan kenaikan adalah PP baru. Dijadwalkan, paling lambat bulan Agustus nanti, perda harus sudah selesai,” katanya.

Informasi yang didapat menyebutkan, besarnya tunjangan transportasi direncanakan senilai Rp 300 ribu per hari. Sedangkan tunjangan reses Rp 2,7 juta per bulan. Kebutuhan anggaran untuk dua pos tunjangan ini sekitar Rp 11 juta per bulan tiap orang.

“Sudah ada prediksi mengenai besarnya tunjangan. Namun, nanti masih dilihat dengan kemampuan keuangan daerah dan menunggu peraturan menteri dalam negeri,” kata Pangkat.

 

Editor : Akrom Hazami