Imunisasi Campak-Rubella di Jepara Ditarget Sasar Ratusan Ribu Anak 

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Imunisasi measles-rubella (MR-campak dan rubella) akan dimulai besok, Selasa 91/8/2017). Di Jepara ditargetkan 293.376 anak-anak usia 9 bulan hingga 15 tahun ikut serta dalam program nasional ini. 

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Jepara Dwi Susilowati. Di Bumi Kartini, secara simbolis kegiatan itu akan dipusatkan di SDN 01 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo. 

“Pelaksanaan imunisasi dilaksanakan dua kali. Pertama pada bulan Agustus dan berlanjut pada bulan September. Pada tahap pertama difokuskan pada anak usia sekolah, baik PAUD,SD/MI, SMP atau yang sederajat itu. Sementara untuk bulan September difokuskan untuk anak yang belum bersekolah, contohnya balita atau anak yang tidak lagi bersekolah akan tetapi umurnya di antara itu,” katanya, Senin (31/7/2017).

 

Ia yakin bisa mencapai sasaran yang telah dicanangkan 100 persen. Pada bulan pertama harapannya semua murid sekolah yang dikunjungi tim imunisasi dapat mengikuti program tersebut. Sementara pada September, bagi yang belum mengikuti imunisasi bisa mengunjungi fasilitas kesehatan seperti posyandu ataupun puskesmas.

“Layanan imunisasi MR itu gratis, kalau di luar (dokter) kisaran harganya sekitar Rp 400 ribu. Namun dengan mengikuti program pemerintah, peserta tidak dipungut biaya apapun,” tambahnya. 

Ditanya mengenai efek samping dari imunisasi MR, Dwi mengatakan tak akan berdampak buruk pada kesehatan. “Efeknya ringan sekali, mungkin hanya hanya bengkak sedikit pada bagian yang disuntik namun hari berikutnya pun sudah hilang,” tuturnya. 

Guna menyukseskan bulan imunisasi MR, pihak Dinkes Jepara telah menggandeng dinas terkait seperti Disdikpora, Kemenag dan MUI untuk turut serta melakukan sosialisasi.

Editor : Akrom Hazami

 

Jika Tubuh Tak Kebal Virus Campak-Rubella, Ini Bahayanya Kata Dinkes Jepara

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Bulan Agustus dan September dicanangakan sebagai bulan imunisasi Measles-Rubella (MR-Campak Rubella). Lalu apa bahayanya jika tubuh kita tak kebal dua virus itu?

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, keduanya adalah penyakit infeksi yang menular melalui saluran napas dan disebabkan oleh virus. Jika seseorang terkena campak ia akan mudah terserang penyakit dan menyebabkan komplikasi seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), diare, kebutaan bahkan kematian. 

Sementara itu, jika seorang anak terkena virus rubella biasanya hanya menderita penyakit ringan. Namun jika menulari ibu hamil pada awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang nantinya dilahirkan. 

Kecacatan akibat virus rubella pada ibu hamil disebut sebagai sindroma rubella kongenital. Hal itu menyebabkan kelainan pada jantung, mata, tuli dan perlambatan tumbuh kembang. Untuk penyakit yang disebabkan oleh campak dan rubella tidak dapat diobati, akan tetapi bisa dicegah dengan cara melakukan imunisasi. 

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Jepara . Imunisasi MR sangatlah penting untuk menjaga diri dan orang lain yang ada di sekitar. 

“sebagai contohnya, jika ada orang yang menolak imunisasi rubella berumur 15 tahun. Lalu beberapa tahun kemudian dia menikah dan mempunyai anak, bisa saja ia tertular virus tersebut dan menularkannya. Akibatnya anak dari perkawinan tersebut mengalami kecacatan,” terangnya, Senin (31/7/2017).

Oleh karenanya, ia mengimbau seluruh warga Jepara yang berumur 9 bulan hingga 15 tahun dan belum mengikuti imunisasi MR, memanfaatkan bulan imunisasi MR. Dwi mengatakan kegiatan itu tidak dikenai biaya alias gratis. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

MUI Jepara Imbau Warganya Ikuti Program Imunisasi Campak-Rubella

Ketua MUI Jepara Mashudi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Sebagian warga Jepara beranggapan imunisasi merupakan hal yang bertentangan dengan agama, karena vaksin diambil dari bahan yang tidak halal. Namun demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jepara justru menganjurkan warganya untu berbondong-bondong mengikuti kegiatan imunisasi Measles-Rubella (MR-Campak Rubella) karena dinilai nilai manfaatnya lebih besar untuk mencegah timbulnya penyakit. 

Hal itu ditegaskan oleh Ketua MUI Jepara Mashudi. “MUI sudah bersikap, bahkan sudah mengeluarkan tausyiah intinya silakan masyarakat berbondong-bondong mengikuti imunisasi MR. Kami sangat mendukung program tersebut,” kata dia Senin (31/7/2017).

Ia mengatakan, imunisasi merupakan ikhtiar yang dilakukan untuk menjaga kesehatan. Jika sebagian orang mengatakan ada unsur hewan yang diharamkan dalam membuat vaksin, Mashudi mengatakan hal itu bersifat darurat. 

“Hal itu (imunisasi) mengandung kemaslahatan. Jika ada obat yang diduga mengandung babi dan sebagainya itu sifatnya darurat dalam rangka menjaga kesehatan lebih penting daripada mengobati. Jadi kami mendukung pelaksanaan imunisasi baik di bulan Agustus ataupun di bulan September,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan Imunisasi MR. Adapun fatwa tersebut bernomor 4 tahun 2016 yang membolehkan (mubah) tindakan tersebut karena sebagai bentuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah penyakit. 

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Jepara Dwi Susilowati menyebut vaksin MR merupakan produksi Indonesia. Produk tersebut pun sudah melalui pengujian oleh badan kesehatan dunia atau WHO dan dinyatakan aman. 

“Enggaklah (tidak haram) kan yang membikin vaksin orang Indonesia dan sudah diekspor di lebih dari 140 negara. Sudah diteliti oleh World Health Organization dan dinyatakan aman,” kata dia.

Editor : Akrom Hazami

 

Suporter Persijap : Selamat Datang di Liga 3

Aksi massa dibendung petugas Brimob, seusai pertandingan Persijap melawan Persibas Banyumas, Sabtu (29/7/2017).(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kekalahan enam kali Persijap Jepara merembet keluar lapangan. Suporter Persijap mengadakan aksi unjuk rasa seusai pertandingan.

Yel-yel kekalahan menggema saat pertandingan memasuki menit terakhir dan Persijap kebobolan dua gol. Bukan mendukung timnya untuk lebih semangat, suporter justru menyanyikan lagu ejekan.

“Selamat datang di liga 3, selamat datang di liga 3,” teriak pendukung Persjap dari tribun bagian selatan. 

Tidak cukup di situ, setelah pertandingan usai massa masih berkumpul di luar stadion. Pasukan pengamanan dari Brigade Mobil pun harus membentuk barikade tameng. 

Dalam unjuk rasa itu, mereka berkoar-koar agar manajemen Persijap dalam hal ini CEO Esti Puji Lestari berbenah. Pantauan MuriaNewsCom, aksi itu dilakukan sejumlah pendukung yang semakin banyak menjelang petang pukul 18.00 WIB. 

Massa yang semakin banyak berkumpul di muka pintu stadion, menyebabkan keadaan ricuh. Beberapa pendukung sempat melempar benda keras ke arah petugas hingga mengenai penonton yang berlindung di belakang aparat. 

Hal itu diceritakan oleh Ferdy. Ia mengaku terkena lemparan benda keras di pahanya. Beruntung, kejadian itu tak sampai membuatnya cidera parah.

“Tadi sepertinya ada batu yang dilemparkan, terkena helm petugas lalu memantul ke arah kaki saya dan terkena,” tuturnya. 

Beruntung aparat sigap mengatasi kejadian tersebut. Arogansi massa tak berlanjut. Mereka berhasil dibubarkan. Aksi pun mereda.

Editor : Kholistiono

Festival Mata Air Sadarkan Warga Pentingnya Jaga Lingkungan

Warga memperebutkan gunungan sayuran yang usai diarak pada saa Festival Mata Air di Telaga Sejuta Akar, Desa Bondo, Bangsri, Sabtu (29/7/2017). (MuriaNewsCon/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Telaga Sejuta Akar Bondo, Kecamatan Bangsri menjadi tempat diselenggarakannya Festival Mata Air 2017. Acara tersebut merupakan upaya untuk mengingatkan warga menjaga kelestarian sumber air. Telaga Sejuta akar sendiri merupakan sumber mata air yang dinaungi pohon beringin karet dan ingas serta bergat. Sehingga menciptakan lingkungan yang teduh. 

Penggagas acara Hadi Priyanto mengatakan, festival tersebut memiliki dimensi eko-relijius. Selain melestarikan sumber air, kegiatan itu juga bertujuan mengingatkan warga sekitar atas potensi alam yang merupakan titipan Tuhan. 

“Festival mata air bertujuan memberikan inspirasi kepada warga untuk dapat mencintai alam dan melestarikannya. Tidak lantas mengekploitasi untuk kepentingan generasi saat ini, akan tetapi bagaimana upaya kita agar dapat menjaganya untuk diwariskan kepada anak cucu kita,” ucapnya, yang juga Ketua Yayasan Kartini Indonesia. 

Dari sumber mata air itu, bisa digunakan untuk mengairi persawahan seluas 94 hektar. Dirinya juga mengingatkan bahwa pelestarian alam juga bagian dari tanggungjawab pemerintah. 

“Pelestarian alam juga merupakan tanggungjawab dari pemerintah setempat melalui political will,” tambahnya. 

Sekretaris Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNPA) Viktor Sidabutar mendukung gerakan tersebut. Ia berujar, upaya yang digagas oleh warga tersebut merupakan bentuk peran serta menyukseskan gerakan yang telah dimulai sejak tahun 2016 lalu.

“Upaya penyelamatan sumber air tak hanya tanggungjawab pemerintah, ini (festival mata air) merupakan bentuk keikutsertaan warga. GNPA sendiri mengawal bagaimana acara ini tak hanya bersifat seremonial, akan tetapi setelahnya dapat ditindaklanjuti,” tutur dia. 

Ia mengatakan, dengan melestarikan sumber mata air turut menyukseskan program ketahanan pangan nasional. Hal itu karena, sumber alami turut mengaliri sawah-sawah sebagai tempat produksi padi. 

Editor: Supriyadi

Persibas Permalukan Persijap di Kandang Sendiri

Pemain Persijap berduel dengan pemain Persibas Banyumas. (MurianewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Persijap Jepara dipermalukan di hadapan publik sendiri ketika melawan Persibas Banyumas, dengan skor 0-2 Sabtu (29/7/2017). Dengan kekalahan ini, tercatat Tim Laskar Kalinyamat mengalami enam kali kekalahan, dan terancam degradasi karena menghuni papan bawah Grup 3 Liga 2 Indonesia.

Kekalahan ini sekaligus menuntaskan dendam Persibas atau Laskar Bawor, yang pada putaran pertama dikalahkan oleh Laskar Kalinyamat di Stadion Satria 1-2, Minggu (30/4/2017). 

Pada pertandingan putaran kedua yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bumi Kartini, Persijap sebenarnya unggul di babak pertama. Banyak peluang yang diciptakan anak-anak asuh Fernando Sales. Namun semuanya gagal. 

Petaka bagi pasukan merah-merah justru lahir pada menit kritis menjelang jeda. Pada menit ke 44, sundulan pemain Persibas bernomor 11 Irkham Zahrul Mila membawa tim Banyumas memimpin 0-1. Sundulan sendiri berawal ketika terjadi pelanggaran di depan gawang Amirul Kurniawan, yang kemudian berbuah tendangan bebas. 

Pada babak kedua, peluang bagi Persijap masih berlimpah. Pada menit ke 62, Laskar Kalinyamat telah menyarangkan kulit bundar di gawang yang dikawal Syaiful Amar. Namun gol itu dianulir wasit, karena wasit mengatakan pemain Persijap telah melewati garis pertahanan Persibas.

Di menit ke 74, Persibas justru menggandakan kemenangan. Gol yang kembali diciptakan oleh pemain yang sama Mila. Ia memanfaatkan lowongnya pertahanan Persijp yang melompong, akibat Fisabillah dan Abrian yang mendapatkan perawatan di pinggir lapangan. 

Skor 2-0 bertahan hingga babak akhir, Persibas mengemas 13 poin. Sementara Persijap harus gigit jari dengan hanya mengoleksi 9 poin. 

 Editor : Khostiono

Pramuka Jepara Tak Terpengaruh Isu Penundaan Pencairan Dana 

Sejumlah siswa memakai seragam pramuka,melintasi Jl Kartini Jepara.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto) 

MuriaNewsCom, Jepara – Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) di Jepara tak terpengaruh adanya isu penundaan pencairan dana bagi Kwartir Nasional Pramuka, oleh Kemenpora. Hingga saat ini kegiatan kepanduan di Bumi Kartini masih kondusif dan berjalan sebagaimana khittahnya. 

Hal itu disampaikan Ketua Harian Gerakan Pramuka Jepara Suliyono, Sabtu (29/7/2017). Menurutnya, terkait berita tersebut sudah diketahuinya dari informasi surat kabar. 

“Kegiatan pramuka di Jepara tak ada pengaruhnya dengan berita tersebut. Dan nuwun sewu kami mendapatkan dana operasional dari APBD (Jepara) untuk menjalankan semua kegiatan pramuka di daerah,” tuturnya. 

Ia menyebut, sokongan dana dari pusat (Kwarnas) tidak secara langsung diberikan untuk operasional semua kegiatan di daerah. Suliyono menyebut, bantuan dari Pramuka pusat baru didapat jika ada kegiatan berskala nasional. 

“Untuk sokongan dana pramuka lebih besar kami dapatkan dari APBD, kalau dari pusat nuwun sewu tidak mendapatkan, kecuali untuk kegiatan skala nasional. Pada tanggal 13 ini (Agustus 2017) akan ada kegiatan Raimuna nasional pertemuan penegak pandega seluruh Indonesia. Nah dari situ mungkin akan diberikan bantuan berupa logistik selama kegiatan berjalan,” tutur dia. 

Disinggung mengenai informasi dugaan keterlibatan Ketua Kwarnas Nasional Adhiyaksa Dault dengan ormas HTI, Suliyono enggan berkomentar lebih lanjut. Namun demikian, hal itu tak ada kaitannya dengan kegiatan pramuka di Jepara. 

Suliyono menegaskan, hal itu tak terkait dengan gerakan yang dilakukan oleh pramuka. 

“Pramuka di Jepara masih wajar-wajar saja, masih menjunjung tinggi Pancasila sebagai pilar negara serta menjaga persatuan dan kesatuan NKRI,” ungkapnya. 

Editor : Kholistiono

Taman di Jepara Tak Representatif

Terlihat di foto, kebersihan taman di areal Stadion GBK tak dijaga, sampah yang baru saja dibersihkan tidak dibuang pada tempatnya, Jumat (28/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jepara masih minus. Padahal warga masyarakat sejatinya mendamba terwujudnya areal publik yang mendukung aktivitas luar ruangan. 

Yunita (19) mengatakan, untuk areal publik berupa taman di Jepara masih jauh dari harapan. Di sana-sini banyak sekali kekurangan yang menuntut pembenahan serius. 

“Fasilitasnya kadang kurang memenuhi, seperti tempat sampah yang penuh tapi belum dibuang,” ujar warga Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan,Jepara, Jumat (28/7/2017). 

Ia juga mengutarakan, taman-taman di Jepara juga kurang nyaman. Hal itu berbanding berbalik dengan anggaran yang dihabiskan untuk membuat fasilitas tersebut. 

“Sejauh pengamatan dan informasi yang saya terima, anggaran untuk membuat taman setahu saya besar namun kok jadinya seperti itu-itu saja. Saya malah penasaran kan ada rencana bangun city walk nanti jadinya seperti apa bagus atau tidak,” kata dia. 

Warga lain Landiana (19) berkata, banyak taman yang jauh dari perawatan. “Di taman kanal itu kan ada tulisan yang dipasangi lampu, tapi ada yang tidak hidup. Adapula taman yang kotor, kalau duduk kita tidak nyaman,” ungkap warga Tegalsambi, Kecamatan Tahunan. 

Dirinya menginginkan taman-taman di Jepara ditambah dengan fasilitas olahraga, seperti jogging track. “Sekarang tidak ada fasilitas buat pull up, jogging track. Kalau ada akan lebih ramai. Kalau sekarang begitu-begitu saja, malah takutnya disalahgunakan hanya buat pacaran saja misalnya,” pinta Landiana. 

Editor : Kholistiono

Ruang Publik di Jepara Masih Minim

Seorang warga melewati Taman Revolusi Bumi Kartini yang ada di kompleks Stadion Utama Gelora Bumi Kartini, Jumat (28/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jepara masih didominasi oleh sektor privat atau milik pribadi, sebanyak 20 persen dari luas wilayah kabupaten. Sementara fasilitas RTH publik milik pemerintah baru mencapai 10 persen. 

“Regulasi mengatakan, RTH itu 30 persen dari luasan wilayah kabupaten. Semestinya penyediaan oleh pemerintah lebih banyak daripada kepunyaan privat. Namun kenyataannya tidak begitu, RTH  publik yang disediakan oleh pemerintah baru 10 persen, sedangkan 20 persen kepunyaan pribadi,” tutur Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jepara Fatkhurrahman, Jumat (28/7/2017). 

Saat ini ruang terbuka hijau yang dikelola oleh pemerintah  sebesar 91.550,5 meter persegi. Guna meningkatkan penyediaan RTH oleh Pemkab Jepara, ke depan pihaknya akan memacu pembangunan fasilitas publik di tingkat kecamatan.

Pihaknya mewacanakan untuk membangun fasilitas taman pada dua bekas lokasi pasar. Namun demikian berkait urusan pemindahan pasar bergantung pula pada instansi lain.

“Nantinya kan ada rencana pemindahan Pasar Pecangaan dan Bangsri, nah di lokasi bekas pasar tersebut kita akan bangun taman. Namun terkait kapan pemindahan fasilitas itu, kami tak mengerti karena hal itu bergantung pada dinas yang menangani masalah tersebut,” ujar dia. 

Dalam waktu dekat, DLH merencanakan pembuatan taman baru di bekas asrama Polres di Jl Asrama Polres Jepara. Hal itu rencananya akan direalisasi pada tahun 2018. 

“Akan tetapi rencana tersebut bergantung apakah disetujui atau tidak. Yang pasti sekarang dalam tahap pembersihan,” tambah Fatkhurrahman. 

Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan DLH Isnan Haryoko menyebut, pada tahun ini pihaknya sedang fokus dalam penyempurnaan taman-taman yang telah ada. Ada lima taman yang saat ini dalam pembenahan, yakni Taman Sport Center, Taman Kanal, penambahan Gedung Gardu Pandang, Taman Kembang dan Taman di Welahan.

“Penyempurnaan itu meliputi penambahan pohon dan berbagai fasilitas lain. Adapun nilainya saya tidak hafal betul, namun untuk taman kategori besar ada empat yakni Taman Welahan nilainya sekitar Rp 2,8 miliar, Benteng Portugis Rp 480 juta, Taman Kembang sekitar Rp 400 juta, dan juga Taman Kanal sekitar Rp 400 juta. Untuk keempat taman yang besar itu sudah kami lelang dalam e-procurement,” jelas Isnan. 

Editor : Kholistiono

Pemkab Jepara Seriusi Bidang Pariwisata untuk Genjot PAD

Diskusi santai terkait pengembangan pariwisata seni antara Pemkab Jepara dan pelaku wisata  serta seni di Bumi Kartini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sektor pariwisata akan serius digarap oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara sebagai penggenjot pendapatan daerah. Tahun depan, pemkab berencana menggelontorkan anggaran besar-besaran di bidang tersebut. 

Hal itu disebutkan oleh Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi, Kamis (2/7/2017). Menurutnya, sektor pariwisata merupakan salah satu bidang andalan bagi masyarakat pesisir utara laut Jawa itu. 

“Ketika sektor pariwisata digarap dengan serius, otomatis akan meningkatkan pendapatan dari pajak. Dengan sendirinya, akan meningkatkan pendapatan daerah. Tahun 2019 nanti, pemkab juga akan membebaskan bea retribusi ke objek pariwisata,” ucap dia. 

Untuk mewujudkan hal itu, berbagai langkah ditempuh. Selain memperbaiki infrastruktur menuju objek wisata, pihaknya juga meminta pemerintah desa untuk turut berperan serta. 

Hal itu bisa dilakukan dengan menyisihkan Dana Desa (DD) untuk ikut memperbaiki sarana jalan menuju tempat wisata. Hal itu tentu saja hanya berlaku bagi desa yang memiliki destinasi pariwisata. 

Di samping itu Pemkab Jepara juga terus berupaya membuka ruang terbuka hijau. Hal itu disampaikan oleh Zamroni Lestiaza Kabid Pariwisata Disparbud Jepara. Ia mengatakan, saat ini pihaknya tengah dalam usaha menata kembali ruang publik. 

“Hal itu sesuai dengan nawacita presiden, yakni mengembalikan budaya masyarakat yang guyub,” kata dia.

Editor : Kholistiono 

BKD Jepara Pastikan Tak Ada PNS Berpaham Radikal 

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara  – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jepara pastikan tak ada pegawainya yang terindikasi berpaham radikal. Hal itu disampaikan oleh Kepala badan tersebut Abdul Syukur saat dimintai konfirmasi terkait pengawasan terhadap ormas terlarang layaknya HTI atau Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Di Jepara tidak ada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terlibat paham radikal,” ujarnya Kamis (27/7/2017).

Sejauh ini, lanjut Syukur, dirinya belum menerima adanya laporan tentang anak buahnya yang terafiliasi dengan ormas terlarang. 

Adapun, perintah pengawasan abdi negara yang beraliran paham radikal berasal dari perintah Mendagri dan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara.

Kedua institusi tak segan memberikan peringatan dan sanksi bagi pegawai negeri yang terlibat organisasi terlarang tersebut. 

Editor : Kholistiono

Setiap Kamis, Pamong di Desa Jambu Jepara Berlurik dan Berbahasa Jawa Dalam Melayani Warga 

Layani warga, pamong Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Jepara menggunakan baju lurik dan berbahasa Jawa setiap hari Kamis.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Setiap hari Kamis, suasana di Kantor Petinggi (Kepala Desa) Jambu, Kecamatan Mlonggo, Jepara, selalu berbeda. Khusus hari tersebut, seluruh pamong (petugas) yang bekerja mengenakan busana lurik dan berbahasa Jawa saat melayani warga. 

Ahmad Zaenudin, Staf Tata Usaha (TU) Desa Jambu mengatakan, hal tersebut mengacu pada Surat Edaran Bupati Jepara No. 430/6807 tertanggal 20 Oktober 2014, tentang Penggunaan Bahasa Jawa di Lingkungan Pemkab Jepara. Selain itu, penggunaan bahasa Jawa juga didasarkan atas Perda Provinsi Jateng No 9/2012 tentang Bahasa dan Aksara Jawa.

Wonten edaran saking gubernur Jawa Tengah dinten kamis pelayanan kapurih migunakaken Basa Jawa (Ada edaran dari Gubernur Jawa Tengah supaya hari Kamis pelayanan diimbau menggunakan bahasa Jawa),” tuturnya, Kamis (27/7/2017). 

Dirinya mengatakan, pengaplikasian peraturan tersebut baru dilakukan pada tanggal 8 Juni 2017. Hal itu menurutnya, karena pihaknya memerlukan banyak persiapan. 

Persiapan menika ngatur kebiasaan saking pamong piyambak. Biasanipun kan melayani ngagem Basa Indonesia, sakmenika kedah ngagem Basa Jawa  (Persiapan berasal dari kebiasaan pamong sendiri, biasanya pelayanan kan memakai bahasa Indonesia, kini harus memakai bahasa Jawa),” tambahnya. 

Dirinya mengucapkan, motivasi penerapan bahasa Jawa di lingkungan Pemdes Jambu adalah untuk turut melestarikan budaya. Zaenudin berkata, kalangan anak muda mulai kehilangan antusiasme berbahasa ibu Jawa. Hal itu menurutnya karena sejak di lingkungan keluarga, generasi mereka tidak dibiasakan menggunakan bahasa Jawa. 

Sementara itu, terkait pakaian lurik, semuanya berasal dari inisiatif Pemdes Jambu. Dikatakannya, busana khas Jawa dibeli dari kantong pribadi petinggi desa itu Muhammad Arif. Adapun selama menerapkan peraturan berbahasa Jawa, dirinya mengalami kendala karena tak serta merta dapat menggunakannya untuk semua warga.

Sampun antawis kalih wulan ngagem Basa Jawa saben dinten Kamis, nanging tasih wonten kendala, terkadang basane taksih campur-campur lan ugi mboten sedaya warga saged basa Jawa. Yen pun mekaten nggih ngagem Basa Indonesia. Menawi nglayani tiyang enem ingkang mboten ngertos krama inggil nggih ngagem ngoko (Sudah dua bulan memakai bahasa Jawa setiap hari Kamis tetapi masih ada kendala. Terkadang bahasanya masih campur-campur dan juga tidak semua warga bisa berbahasa Jawa. Kalau sudah begitu ya terpaksa memakai bahasa Indonesia, tidak bisa dipaksakan. Kalau melayani orang muda yang tak bisa berbahasa Jawa halus, ya memakai bahasa ngoko),” terang Zaenudin. 

Seorang warga Wuryanti (40) mengatakan apresasinya terhadap langkah Pemdes Jambu. Namun ia mengaku kaget mengetahui jajaran pamong yang memakai pakaian lurik dan menggunakan bahasa Jawa.

Ya baru tahu juga tentang peraturan ini, biasanya kan tidak pakai pakaian seperti ini,” ujar warga Jambu Barat itu sambil tersenyum.  

Editor : Kholistiono

Warga Gemulung Jepara Minta Pabrik Tekstil Penuhi Hak Desa

Warga saat mendatangi pabrik PT Hwa Seung Indonesia guna menuntut komitmen dari manajemen, Jumat (28/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan, Jepara, menuntut manajemen PT Hwa Seung Indonesia memenuhi hak desa untuk mendapatkan saluran irigasi, gapura pembatas desa dan melanjutkan pembangunan akses jalan usaha tani. Hal itu karena, hingga saat ini manajemen belum merealisasikannya secara maksimal. 

Ahmad Arifin, Pamong Desa Gemulung menyebut, sebelum menjadi milik PT Hwa Seung lahan tersebut dimiliki oleh PT Sengdam Jaya. 

“Lahan milik PT Sengdam Jaya dijual ke PT Hwa Seung Indonesia setahun lalu, namun proses pergantian kepemilikan perusahaan tanpa sepengetahuan pemerintah desa. Dulu sewaktu lahan masih menjadi milik Sengdam, pemerintah desa dan perusahaan membentuk Peraturan Desa No 1/2015. Intinya bila dibangun pabrik, mereka harus memberikan saluran irigasi, batas desa dan pembenahan jalan usaha tani. Namun hingga kini tak terlaksana secara maksimal,” kata dia yang juga Aktifis LSM Masyarakat Peduli Lingkungan, Jumat (28/7/2017). 

Ia menambahkan, luasan pabrik yang kini menduduki wilayah desa memang tak luas. Akan tetapi, bangunan yang berbatasan dengan Desa Banyuputih itu, memerlukan batas desa. Selain itu, saluran irigasi yang belum sempurna menyebabkan air sering menggenangi sawah warga. 

Hal itu diamini oleh Petinggi Gemulung Ahmad Santoso. Ia menyatakan, tak menuntut apapun dari perusahaan milik asing itu. “Namun kami hanya ingin mengembalikan batas desa, karena itu geografis kita, yang saluran irigasi biar saluran, jalan tetap jalan. Tidak tuntut apa-apa. Sesuai perdes itu jalan dan saluran irigasi memang dialihkan namun hingga sekarang tidak maksimal,” terangnya, lewat sambungan telepon. 

Ia menambahkan, untuk mendesak pihak pabrik, pada Jumat pagi belasan warga bersama Pemerintah Desa Gemulung menyambangi pabrik. Hal itu dilakukan guna mengingatkan kembali komitmen yang termaktub dalam Perdes No 1/2015 tentang Pengalihan Fungsi Usaha Tani.

Terpisah, seorang jajaran manajemen PT Hwa Seung Indonesia Anton enggan berkomentar lebih lanjut. Melalui sambungan telepon, dirinya mengatakan, tak memiliki kewenangan untuk berkomentar terkait hal itu. “Saya tak bisa memberikan keterangan lebih lanjut terkait hal itu,” ucapnya singkat.

Editor : Kholistiono

Udang Marguensis Diklaim Lebih Tahan Penyakit

Udang jenis Marguensis diprediksi menggantikan kedudukan udang jenis Vanamae. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Udang jenis Marguensis diprediksi menggantikan kedudukan udang jenis Vanamae, yang selama ini menjadi pilihan petambak di Jepara. Udang lokal ini diklaim lebih tahan akan serangan penyakit dan bercita rasa lezat. 

Hal itu dikatakan oleh Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Sugeng Raharjo. Ia menyebut, udang lokal putih ini berpeluang dibudidayakan di Jepara, dan Indonesia pada umumnya karena banyak ditemukan di wilayah perairan Nusantara. 

“Kami sudah menguji ketahanan udang ini, hasilnya memang lebih tahan ketimbang udang vanamae,” tuturnya Rabu (25/7/2017). 

Dari segi rasa, ia mengatakan udang marguensis dinilai lebih nikmat daripada udang vanamae. Sementara itu dari sisi harga, udang marguensis ukuran 60 dihargai Rp 90 ribu per kilogram. Oleh karenanya, udang jenis ini diharapkan bisa segera dibudidayakan oleh petambak di Jepara. 

Selain itu, dari siklus reproduksi udang jenis tersebut, telah memiliki berat hingga 40 gram pada usia enam bulan. Dengan itu, petani sudah dapat menjadikan udang marguensis  sebagai indukan pada usia setengah tahun. Sementara udang jenis lain setidaknya membutuhkan waktu hingga 18 bulan untuk dapat dijadikan induk. 

Adapun, total luasan tambak di wilayah Jepara adalah 1.065 hektar yang merentang dari Kedung hingga Donorojo. Hal itu diungkapkan oleh Staf Ahli Bupati Jepara Bambang Slamet Raharjo. Ia menyebut, peluang pengembangan budidaya udang masih sangat terbuka. 

“Pasar udang di Jepang dan Amerika masih sangat terbuka luas. Harapannya petani udang di Jepara bisa menjadi produsen udang raksasa,” harap Bambang.

Editor : Kholistiono

MUI Jepara Ajak Warga Baca Doa Qunut Nazilah Sebagai Bentuk Dukungan Kepada Muslim Palestina

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi (dua dari kanan) sedang membaca doa qunut nazilah. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jepara menyerukan warganya untuk membaca doa qunut nazilah setiap salat wajib. Hal ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan dan dukungan terhadap umat Islam di Jazirah Palestina yang mendapatkan tekanan fisik dari militer Israel saat hendak beribadah di Masjid Al-Aqsa. 

“Berangkat dari hal itu, kita melihat telah terjadi pelanggran hak asasi manusia, seperti hak hidup bebas, hak untuk beribadah sesuai dengan keyakinan, hak bermuamalah sesuai dengan tuntutan syariat dan hak untuk hidup dengan keteduhan hati rohani dan jasmani,” kata Ketua MUI Jepara Mashudi (26/7/2017), melalui maklumat yang dibacakan Sekretaris MUI Qutub Izzidin. 

Ia mengatakan, ada dua hal yang bisa dilakukan warga muslim Jepara untuk menunjukan keprihatinan pada saudara seagama di Palestina. Dua hal itu adalah membaca qunut nazilah dan membangun persatuan serta kesatuan. 

“Menyerukan kepada umat Islam di Kabupaten Jepara untuk membaca qunut nazilah dalam setiap salat lima waktu dan doa-doa lain untuk keselamatan serta perlindungan bagi sesama muslim di Palestina dan jazirah timur tengah pada umumnya. Selain itu kami mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia senantiasa bahu membahu memelihara persatuan dan kesatuan bangsa,” tutur dia. 

Sepaham dengan Mashudi, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengingatkan warganya untuk menjaga persatuan dan kesatuan. “Dengan menjaga api semangat persatuan dan kesatuan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemda akan berjalan baik,” ungkapnya. 

Editor : Kholistiono

Ruas Jalan Kartini Jepara Akan Dibangun City Walk

Pemkab Jepara berencana membuat ruas Jl Kartini lebih lebar dan dibuatkan trotoar city walk bak Kota Bandung.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ruas Jl Kartini Jepara akan diperlebar dan dijadikan city walk bak Kota Bandung. Selain itu, fasilitas pejalan kaki juga dilengkapi dengan akses bagi penyandang disabilitas. 

Hal itu disampaikan Budiarto, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jepara, Rabu (26/7/2017). Menurutnya, saat ini dalam proses pengerjaan. 

“Ya akan dilebarkan, trotoar akan kita jadikan jalan aspal, sementara saluran terbuka akan kita tutup dijadikan trotoar. Fasilitas pejalan kaki itu akan dibentuk seperti city walk  di Bandung dari Tugu Kartini sampai didepan Masjid Agung,” ujarnya. 

Rencana awal, pembuatan fasilitas city walk dimulai dari sekitar Gedung DPRD Jepara. Namun mengingat biaya yang besar, rencana awal itu ditangguhkan dan akan dilaksanakan secara bertahap.

Adapun, untuk pembangunan fasilitas tersebut menggunakan anggaran daerah Jepara.

“Itu menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jepara. Nilainya saya tidak hafal betul, namun sekitar tujuh hingga delapan miliar. Rencana awal dibuat dari depan DPRD Jepara, namun anggarannya terlalu besar sekitar Rp 40 miliar. Akhirnya kita dahulukan yang ini,” jelas Budi. 

Disinggung mengenai  nasib pohon yang ada di trotoar, ia mengatakan akan ada penebangan. Namun demikian, Budi berujar akan mempertahankan pohon peneduh jika masih memungkinkan. 

Editor : Kholistiono

Dua Perwira Remaja TNI AL Asal Jepara Diambil Sumpahnya oleh Presiden Jokowi

Letda Laut (E) Novan Arya Wiguna (kiri). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Hari ini dua perwira remaja TNI Angkatan Laut asal Jepara diambil sumpahnya, Selasa (25/7/2017). Mereka mengikuti sumpah perwira (Praspa) TNI/Polri di hadapan Presiden Indonesia Joko Widodo di Jakarta. 

Kedua perwira remaja TNI Angkatan Laut itu adalah Letda Laut (E) Novan Arya Wiguna dan Letda Laut (P/W) Sulistianah. 

Ada cerita unik dari Letda Laut (E) Novan Arya Wiguna, warga Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Jepara itu menyebut sempat ditolak ketika masuk di akademi angkatan laut. “Baru pada pendaftaran yang kedua saya diterima sebagai taruna AAL,” katanya. 

Meskipun tak langsung diterima sebagai taruna pada awalnya, ia mengaku hal itu sebagai ujian bagi cita-citanya. Menurutnya untuk meraih kesuksesan dibutuhkan niat dan semangat yang tinggi. “Maju terus pantang mundur,” kata Novan, yang lulusan SMAN I Pecangaan itu. 

Sementara itu  Letda Laut (P/W) Sulistianah merupakan putri asli Jepara dari pasangan dari Mubasir dan Almarhum Karsipah. Hampir serupa dengan sejawatnya, warga Desa Kendeng Sidialit, Welahan, itu punya pesan bagi pemudi-pemudi Bumi Kartini. 

“Jadilah Kartini masa depan, dengan tetap berkarier dan berkeluarga tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan,” ucap dia. 

Editor : Kholistiono

Satpol PP Jepara Kembali Pergoki Tujuh Pelajar yang Membolos di Kafe Teluk Awur

Tujuh pelajar mendapatkan hukuman dari Satpol PP karena ketahuan membolos di sebuah Kafe di Teluk Awur. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Satpol PP Jepara kembali menemukan siswa yang bolos di Pantai Teluk Awur, Selasa (25/7/2017).  Masih berseragam sekolah, tujuh siswa SMP dan SMA ketahuan sedang nongkrong di sebuah kafe yang ada di pantai tersebut. 

Peristiwa itu bukan kali pertama terjadi. Pada hari Kamis (20/7/2017) lalu ada sembilan pelajar yang sedang asyik indehoi di areal Teluk Awur. Mereka lantas dibawa menuju markas Satpol PP Jepara yang ada di Kompleks Pemkab Jepara, dan dihukum menyanyikan lagu Indonesia Raya dan melafalkan sila Pancasila. 

Kali ini, tujuh pelajar tersebut diamankan dari dua kafe yang ada di Teluk Awur dan Tegal Sambi. Mereka adalah MJ (kelas VII) dan RF (kelas IX), serta dua siswa kelas IX berinisial RF dan AI. Keempatnya merupakan pelajar di salah satu SMP Negeri di Kecamatan Welahan.  Adapun pelajar lain yang terjaring yakni MYT (kelas XII), M (kelas XII) dan MA (XI) yang merupakan pelajar dari salah satu SMK swasta di Kecamatan Jepara Kota. 

Kepada petugas, mereka berdalih terlambat masuk sekolah. Bukannya menyadari perbuatan mereka, ketujuh siswa itu justru memanfaatkan keadaan. “Sekalian saja saya tidak masuk, wong saya terlambat masuk sekolah,” tutur MYT. 

Kepala Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Jepara Trisno Santoso berujar, pelajar itu terjaring saat ada operasi rutin. Namun demikian, banyak laporan yang masuk ke mejanya terkait banyaknya siswa-siswi yang membolos di wilayah tersebut. 

“Kami sering menerima laporan dari masyarakat terkait siswa yang membolos. Ada beberapa tempat yang dijadikan tempat tongkrongan, semisal di Makam Pahlawan. Namun yang paling banyak diketemukan di Pantai Teluk Awur,” tuturnya. 

Dirinya mengatakan, akan memberikan surat peringatan kepada pemilik kafe, agar tak melayani murid yang bolos. Sementara itu, pelajar yang kedapatan membolos tadi, disuruh membuat surat pernyataan agar tak mengulangi perbuatannya. 

Editor : Kholistiono

Ruas Jl Ki Mangun Sarkoro Tersendat, Ini Yang Dilakukan Dishub Jepara

Ruas Jl. Ki Mangun Sarkoro, Kelurahan Panggang,Jepara selalu saja padat, terutama bila jam masuk dan pulang sekolah. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ruas Jl. Ki Mangun Sarkoro, Kelurahan Panggang,Jepara selalu saja padat, terutama bila jam masuk dan pulang sekolah. Selain aktivitas antar jemput, di ruas tersebut pun terdapat perkantoran pemerintah dan beberapa tempat makan yang menjadikan sisi kanan kiri jalan dijadikan tempat parkir darurat. 

Hal itu tentu menimbulkan ketidaknyaman bagi pemakai jalan. Seperti yang dialami oleh Toto, ia mengaku kepadatan arus di ruas tersebut memang kerap terjadi. 

“Ya kalau jam segini (12.30 WIB) selalu padat, sehingga agak tersendat bila melalui arus ini,” tutur dia, Selasa (25/7/2017). 

Perlu diketahui, selain SDN Panggang 01, di sana juga terdapat kompleks perkantoran seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, BPBD Jepara dan instansi lain yang bertugas melayani warga. 

Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Soleh Sudarsono mengungkapkan, pada ruas tersebut memang kerap terjadi kepadatan ketika jam sekolah. Upaya pengendalian pun telah dilakukan, dengan memasang rambu peringatan. 

“Untuk rambu anak sekolah dan marka sudah kami pasang di sana. Di ruas tersebut, kami juga memberlakukan satu arah, untuk kendaraan dari perempatan rumah makan rengkot buyut, tak boleh ke barat,” ujarnya. 

Menanggapi masih banyaknya kendaraan yang nekat melewati jalur tersebut (dari timur ke barat) ia mengaku sudah berkoordinasi dengan polisi. Soleh menyebut sudah ada rapat koordinasi dengan pihak berwenang. 

“Kalau ada pelanggaran rambu, kami minta petugas kepolisian melakukan penindakan. Hal itu agar di masyarakat tercipta budaya tertib,” tambahnya. 

Menurut dia, bukan hanya ruas Jl Ki Mangun Sarkoro yang mendapatkan sorotan. Pada simpang Jl Sutomo dengan Jl Veteran dan Jl A.R. Hakim tepatnya di SD Kanisius Jepara, juga terjadi hal serupa. Guna mengatasi hal tersebut, pihak Dishub Jepara berncana memasang lampu lalulintas. 

“Pada perempatan Kanisius juga dalam taraf pemasangan lampu lalu lintas. Di sana juga saat jam sibuk agak tersendat, namun selepas itu kembali normal. Hal itu menjawab permintaan masyarakat, walaupun sebenarnya pada kondisi tertentu ya lengang-lengang saja disitu,” jelas Soleh.

Disinggung mengenai kemungkinan pemberlakuan jalan searah mengingat kepadatan lalu lintas, Soleh menjelaskan melihat kebutuhan yang ada. Di samping itu, pihaknya akan melihat masukan dari masyarakat. 

Editor : Kholistiono

Catat! Ini Janji yang Akan Dilakukan Anggota Dewan Jepara Setelah Gaji Mereka Naik

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Naiknya gaji anggota DPRD Jepara akan membuahkan konsekuensi tugas yang berat. Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Jepara Junarso.Menurutnya, pihaknya akan lebih fokus menerapkan fungsi kontrol terhadap pemerintah daerah, khususnya di bidang pelayanan. 

“Kita bersyukur akan kenaikan gaji yang akan kita terima. Semoga hal itu dapat meningkatkan kinerja kita. Kita ingin tingkatkan koordinasi dengan pemkab, riilnya pada fungsi kontrol, bukan berarti menomorduakan fungsi lainnya. Namun kita ingin fungsi kontrol yang dilakukan oleh DPRD betul-betul bisa dilaksanakan sebagai sinergitas eksekutif dan legislatif,” ucapnya, Senin (24/7/2017).

Lebih lanjut ia mengataka, fungsi kontrol itu terkait dengan pelayanan pemerintah kepada publik. Menurutnya, ia ingin Pemkab Jepara menerapkan slogan “Jepara Melayani”. 

“Kita ingin mengawal betul supaya pemkab melayani publik, dan bagaimana eksekutif meningkatkan kinerja,” imbuhnya. 

Disinggung mengenai pelayanan masyarakat yang masih kurang maksimal, seperti RSUD Kartini dan Disdukcapil, Junarso tak menampiknya. “Berkaitan dengan kependudukan (Disdukcapil) itu bukan semata kesalahan dari kita, namun ada keterlambatan blangko,” tutur dia. 

Junarso menggarisbawahi beberapa hal yang wajib dilakukan oleh Pemkab Jepara, untuk meningkatkan kinerja pelayanan mereka terhadap publik. “Kami ingin pemerintah harus hadir memberikan kepastian hukum, pemerintah harus selalu hadir dalam permasalahan sosial di Jepara, layanan sosial bukanlah beban tapi tanggung jawab yang harus dipenuhi. Selain itu pasar rakyat harus menjadi skala prioritas, karena itulah wajah rakyat,” pungkas Ketua DPRD Jepara itu. 

Editor : Kholistiono

Tahun Ini Gaji Anggota Dewan Jepara Naik Lho

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Gaji anggota DPRD Jepara dipastikan membengkak tahun ini. Hal itu seiring disetujuinya perda tentang Hak Keuangan dan Administrasi Pimpinan dan Anggota DPRD. Pengesahan Perda tersebut telah dilakukan pada Jumat (21/7/2017).

Ketua DPRD Jepara Junarso mengungkapkan, hal itu sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 tahun 2017. Menurutnya, di dalam peraturan tersebut pemerintah daerah belum bisa memberikan mobil kepada anggota DPRD, maka harus memberikan uang transportasi.

“Kami belum bisa memberikan besaran berapa persen kenaikan gaji yang kita terima. Hal itu nanti mengacu pada peraturan teknis, mengacu ke peraturan daerah sembari menunggu Permendagri,” tutur dia, Senin (24/07/2017). 

Dalam peraturan daerah tersebut, akan diberikan tunjangan berupa uang representasi, tunjangan keluarga, dan tunjangan beras. Juga uang paket, tunjangan jabatan, tunjangan alat kelengkapan, serta tunjangan alat kelengkapan lainnya. Meskipun tidak memberikan data rinci, namun Junarso mengatakan, gaji yang diperoleh anggota DPRD Jepara saat ini sekitar Rp 18 juta.

“Itu sudah semuanya, take home pay sekitar Rp 18 juta per bulan. Untuk rincinya mungkin bisa diketahui lewat sekretariat DPRD Jepara,” papar dia. 

Dirinya mewakili anggota DPRD Jepara mengaku bersyukur atas kenaikan pendapatan itu. Namun demikian, ia mengatakan kenaikan tersebut menimbulkan konsekuensi terhadap kinerja dewan. 

“Terkait penerapan kenaikan pendapatan itu, menunggu permendagri kemudian ditindaklanjuti oleh kepala daerah, karena sudah ditetapkan perdanya,” tutup Junarso, politisi asal PDIP itu. 

Editor : Kholistiono

Fernando Kecewa Penampilan Anak Asuhnya

Pelatih Persijap Fernando Sales.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Setelah mengecap kemenangan 1-0 di kandang, Persijap Jepara kembali menelan kekalahan untuk kelima kalinya. Pada pertandingan tandang, Laskar Kalinyamat ditekuk 3-0 oleh lawan yang dikalahkannya, PSCS Cilacap, Sabtu (22/7/2017) lalu. 

Kepada MuriaNewsCom, Pelatih Kepala Fernando Sales menyampaikan evaluasinya. Ia mengaku kecewa akan pernampilan anak-anak asuhnya yang tak menjalankan instruksinya di lapangan dengan baik. 

“Evaluasi untuk pertandingan terakhir, intinya tim bermain buruk. Kami tak berlatih memainkan bola panjang, tapi pemain melakukannya, kami tak berlatih menjaga individu (individual marks) namun pemain melakukannya. Kami berlatih menekan dengan formasi 4-4-3,5-4-1, tapi pemain tak melakukan apa-apa,” ujarnya, Senin (24/07/2017).

Disinggung mengenai kemungkinan PSCS Cilacap yang telah mempelajari permainan Laskar Kalinyamat, Fernando Sales menampiknya. Pelatih asal Brazil itu mengungkapkan telah menerapkan strategi yang berbeda guna menghadapi tim tersebut. 

Menurutnya, ia telah melakukan segala jenis latihan untuk menghadapi pertandingan kedua melawan Cilacap. Terkait komunikasi, Fernando pun menampiknya, sebab kini di tim Persijap telah kedatangan asisten pelatih anyar Denimar Carlos yang mahir berbahasa Indonesia serta mengerti persepakbolaan Indonesia. 

Menurutnya, pada pertandingan di Stadion Wijaya Kusuma Persijap hanya menguasai bola sekitar 40 persen. Sedangkan Cilacap, di bawah asuhan pelatih Barnowo diklaim oleh Fernando memainkan permainan yang sama seperti saat bermain di Jepara.  Menurutnya, sudah saatnya pemain Persijap juga berbenah diri, dan lebih bertanggung jawab. Menurutnya, bukan lagi strategi, pelatih ataupun manajemen yang menjadi permasalahan.

“Ini bukan lagi tentang komunikasi ataupun liga. Saya pernah berada di liga yang lebih keras dan ini tidak tentang strategi,” ungkap Fernando. 

Lebih lanjut, ia akan mengevaluasi betul permainan anak asuhnya. “Kita tidak bermain menekan, kita melakukan marking individu, dan saya tak menyuruh untuk itu. Namun ya sudahlah, sekarang waktunya untuk bekerja dan memenangkan pertandingan selanjutnya,” pungkas dia.

Editor : Kholistiono

Pembuat Ikan Asin di Jepara Kena Imbas Naiknya Harga Garam   

Salah seorang produsen ikan asin sedang menjemur ikan. Kini, produsen ikan asin di Jepara juga terimbas naiknya harga garam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Produsen ikan asin di Jepara terimbas naiknya harga garam. Meskipun demikian, mereka tak bisa menaikan harga ikan asin secara drastis. 

Ida (50) seorang produsen ikan asin di Kelurahan Jobokuta, Kecamatan/Kabupaten Jepara  berujar, kenaikan harga garam mulai terasa semenjak mendekati Ramadan. Menurutnya, merangkaknya harga bahan baku pembuat ikan asin lebih disebabkan ketiadaan stok.

“Pas mendekati bulan Ramadan kemarin harganya naik mulai Rp 60 ribu, terus naik sampai sekarang mencapai Rp 160 ribu sampai Rp 170 ribu per karung kemasan 45-50 kg,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, harga garam saat ini cukup tinggi. Sebelumnya per karung bisa didapatkan dengan harga Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu.

Selain mahal, ketersediannya garam pun langka. Ida menuturkan, biasanya ia tak kesulitan mendapatkan garam, namun untuk kali ini dari 20 karung yang diminta, kadang dirinya hanya mendapatkan tiga hingga lima karung.  

Hal serupa diungkapkan oleh Subiyanto (41). Dirinya mengatakan, meskipun harga garam naik, namun harga ikan asin tak lantas naik tajam.

“Pembeli tidak mau tahu terkait naiknya harga garam. Akhirnya harga ikan asin produksi kita memang naik tapi sedikit,” paparnya.

Ia mencontohkan, untuk ikan asin jenis layur dijual Rp 50 ribu per kilogram. Sebelumnya, harganya Rp 40 ribu per kilogram. 

Akan tetapi, perajin ikan asin memahami kondisi naiknya harga garam. Hal itu mengingat proses pembuatan garam memang tak mudah.

“Stoknya memang susah. Bayangkan saja semalam saja hujan, kan kasihan mereka (petani garam) harus memulai lagi,” tutup Ida. 

Editor : Kholistiono

Remajakan Pohon, Dinas Lingkungan Hidup Jepara Lakukan Pemangkasan Dahan

Petugas sedang melakukan pemangkasan pohon. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup Jepara memangkas sejumlah dahan pohon yang ada di ruas jalan protokol jantung ibu kota kabupaten. Hal itu dilakukan untuk meremajakan sekaligus persiapan penilaian Adipura. 

Dikatakan Kasi Pertamanan Hermawan Oktavianto, pemangkasan dahan dilakukan pada titik-titik tertentu, seperti di Jl Ki Mangun Sarkoro. Di lokasi tersebut, terdapat pohon yang relatif besar, yang rimbun. 

Pantauan MuriaNewsCom, pemangkasan tidak hanya dilakukan pada pohon besar. Pada Jumat (21/7/2017) siang di sekitar jalan tersebut, dahan pohon berukuran kecil juga dipangkas untuk merapikan tampilannya. 

Hermawan menuturkan, pemangkasan dahan pohon juga akan melibatkan instansi lain seperti perusahaan listrik negara. “Kita berkoordinasi dengan PLN untuk memangkas dahan yang berdekatan dengan jaringan kabel listrik,” ujarnya. 

Dirinya menambahkan, tidak hanya pohon berdahan banyak dan rimbun yang akan disasar, namun pohon berdahan keropos juga akan dipotong. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kejadian dahan patah yang membahayakan pengguna jalan. 

Menurutnya, pemangkasan dahan tak lantas mematikan pohon tersebut. Hermawan berkata, dahan yang telah dipangkas masih mungkin bertumbuh lagi.”Dahan yang telah dipangkas akan kembali rimbun saat nanti ketika ada penilaian Adipura,” imbuhnya. 

Editor : Kholistiono

Usai Dioperasi, Kondisi Bayi Tanpa Anus Asal Jepara Kini Mulai Membaik

Jihan Novitasari, putri pasangan Nor Sholeh (23) dan Risna Listyaningrum (19) yang lahir tanpa memiliki lubang anus. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Perkembangan Jihan Novitasari, bayi tanpa anus asal Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara, yang mendapatkan perawatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang kian menggembirakan. Setelah menjalani operasi pada hari Rabu (19/7/2017) lalu, pada Jumat kemarin, bayi mungil putri dari pasangan Nor Sholeh (23) dan Lisna Listyaningrum (19) itu telah siuman. 

“Alhamdulillah Dek Jihan sudah siuman tadi pagi. Oksigen yang di mulut sudah dipindah di hidung. Nafasnya pun sudah membaik,” ujar sang ayah, yang berprofesi sebagai buruh tenun itu, pada Jumat malam melalui pesan singkat. 

Ia mengatakan, jika perkembangan anaknya semakin membaik maka akan dipindah ke ruangan perawatan. Namun demikian hal itu akan melihat perkembangan kesehatan Jihan. 

“Habis dioperasi pindah ke ruangan NICU, kondisinya mulai membaik, insyaallah akan dipindah ruangan lagi kalau kondisinya normal kembali. Mohon doanya,” tambahnya. 

Diberitakan sebelumnya, Jihan bayi tanpa anus dioperasi untuk membuat saluran pembuangan. Selain itu, operasi yang ditangani oleh empat spesialis itu juga bertujuan menutup daging yang tak tertutup kulit pada sekitar perut. 

Meskipun pembiayaan perawatan Jihan telah ditanggung JKN-KIS, akan tetapi kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tenun, tak memiliki banyak dana. Hal itu karena selama menunggui anaknya, mereka praktis tak bekerja. 

“Otomatis tidak bekerja selama menunggui anak saya. Penghasilan saya maksimal Rp 50 ribu per hari. Sedangkan istri saya memintal benang,” tuturnya. 

Untuk meringankan Nor Sholeh dan Lisna selama di rumah sakit, beberapa donatur telah menyalurkan bantuan langsung kepada mereka, sehari sebelum tindakan operasi.

Editor : Kholistiono