Soal Agama Masih Sensitif, Tapi Tak Bakal Laku Dijual di Pilgub Jateng

Foto : Merdeka.com

MuriaNewsCom, Semarang – Pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 dinilai tak akan seperti Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang begitu kuat berhembus dalam Pilkada DKI Jakarta, dinilai tak akan laku dijual di pesta demokrasi warga Jateng.

Pengamat politik dari Undip yang juga Direktur Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) Semarang, M Yulianto menyebut, meski persoalan agama dan keyakinan masih cukup sensitif, namun isu SARA tak bakal begitu mencuat.

Hal ini menurutnya, berdasar dari nama-nama yang muncul dalam kontestasi pilgub. Di mana sebagian besar figur yang muncul ke publik adalah tokoh-tokoh yang mempunyai keyakinan agama yang sama.

“Isu SARA sulit diangkat, terlebih jika melihat nama-nama figur yang kini muncul ke publik, baik untuk bakal calon gubernur maupun wakil gubernur karena memiliki keyakinan yang sama,” katanya.

Dari hasil survei yang dilakukan LPSI mengenai pemetaan perilaku pemilih, 46,6 persen menganggap agama dan keyakinan sebagai landasan memilih calon pemimpin.

Menurut dia, hal tersebut bisa jadi karena efek perilaku politik Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. “Pilkada DKI kemarin itu membunuh moral demokrasi sebab mengesampingkan integritas, kompetensi, seseorang dengan kepercayaan,” ujarnya.

Ia berharap, jika memang para kandidat nantinya tak membawa isu tentang SARA. Semisal, persoalan lingkungan, infrastruktur publik, dan kemiskinan. “Jangan soal keyakinan,” pintanya.

Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jateng Sriyanto Saputro juga mengharapkan hal serupa. Ia meminta semua parpol ikut mendorong agar pesta demokrasi lima tahunan bisa berjalan dengan baik, tanpa ada isu SARA.

“Sebaiknya kita bertarung secara sehat dan `fair` karena pilkada adalah sarana pesta demokrasi. Saya kira gak perlu membawa isu SARA, apalagi masyarakat Jateng juga sudah cerdas, gak bisa dikompor-kompori,” harapnya.

Ganjar Pranowo yang berencana maju kembali sebagai petahana berharap Pilgub Jateng mendatang tidak diwarnai isu SARA.

“Mudah-mudahan sih tidak ada isu SARA, terutama mereka yang trauma dengan di Pilkada Jakarta,” ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Editor : Ali Muntoha

Ingin Hewan Kurbanmu Cantik? Bawa saja ke Salon Kambing di Wonosobo

Foto Ilustrasi (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Wonosobo – Jelang Hari Raya Idul Adha, jasa salon hewan kurban di Kabupaten Wonosobo, laris manis. Salon kambing ini, diketahui milik Suharman, warga Desa Wonolelo, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo.

Dikutip dari berbagai sumber, salon kambing ini melayani bagian tubuh hewan kurban. Seperti perawatan bulu, tanduk dan kuku kaki. “Salon hanya untuk kambing. Khusus kambing saja,” kata Suharman.

Di salon miliknya tersedia beberapa peralatan, seperti gergaji besi, gunting kebun, kikir dan semir sepatu cair. “Gergaji untuk memotong tanduk, gunting untuk cukur bulu sedangkan kikir untuk merapikan kuku kaki,” ujarnya.

Lokasi salon kambing dekat dengan pusat jual beli pasar hewan. Hal itu juga yang menjadi pemicu salon kambing kian ramai.

Saat jelang Idul Adha seperti sekarang, kambing yang butuh perawatan semakin banyak. Saat jelang Idul Adha 1 September, dia bisa merias kambing hingga 125 ekor per hari. Hari biasa, dia hanya merias sekitar 20 ekor per hari.

Adapun biayanya Rp 20 ribu per ekor. Biaya itu, menurutnya, tak begitu mahal. Mengingat, usai dirias, harga kambing bisa lebih tinggi dari pasaran. Bahkan kenaikannya bisa mencapai Rp 500 ribu per ekor.

Biasanya, mereka yang datang ke salonnya, adalah pemilik kambing yang ingin meningkatkan harga jual kambingnya. “Kalau biasanya cuma ditawar Rp 2 juta, setelah disalon, harga tawar meningkat bisa mencapai Rp2,5 juta,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Nilai-Nilai Perjuangan Bung Karno

Bin Subiyanto M Anggota Dewan Pengupahan  dan pegiat Buruh  Kudus

Bung Karno “hidup kembali” tatkala  Pancasila  dipersoalkan siapa  yang melahirkan. Maka sebaiknya bukan mendiskusikan siapa yang melahirkan Pancasila. Tetapi cukuplah melihat dengan kejujuran bahwa Bung Karno adalah proklamator  yang justru melahirkan Republik Indonesia. Dan oleh karena itu setiap tanggal 21 Juni sejumlah jemaah dan termasuk para kader marhaenis selalu menyelenggarakan khaul memeringati  wafatnya Bung Karno.  Sebagai wujud kesinambungan batin yang tak terputuskan.

Setiap  warga  NKRI semestinya   mengingat sejarah Indonesia. Sekaligus   tidak  melupakan sejarah perjuangan dan peran Bung Karno pada masa prakemerdekaan, kemerdekaaan dan awal menggerakkan roda NKRI. Dengan demikian kita akan memahami Bung Karno dan nilai  yang diperjuangkan. Adapun  filosofi perjuangan Bung Karno tidak lepas dari nilai-nilai.

Pertama: Kebangsaan. Terbukti Bung Karno dengan serta merta mengumandangkan proklamasi  Kemerdekaan Republik Indonesia, setelah  mendengar dan didorong situasi dan  pendapat kawan seperjuangan  juga merasakan kejamnya penjajahan. Kemudian menghadapi kelas pertama 1947 dan kelas kedua 1949. Juga menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika  (KAA). Masihkah  kurang nasionalismenya, jiwa kebangsaannya?.

Bung Karno memahami ke Indonesiaan, yang sekaligus kemajemukannya. Sehingga dengan segala pemikirannya Bung Karno mencanangkan NASAKOM sebagai gambaran bahwa  di Indonesia telah ada berbagai macam pemikiran, agama serta kepercayaan yang sebetulnya bisa dipersatukan. Menurut saya inilah kejujuran dan sikap obyektif Bung Karno dalam melihat pluralism Indonesia.

Nilai kedua yang diperjuangkan Bung Karno adalah  “kerakyatan”, sikap yang komitmen pada nasib rakyat. Khususnya kaum tani dan buruh.  Wong Cilik memang berada di lapisan buruh dan petani , dari dahulu hingga sekarang. Karenanya Bung Karno melahirkan Marhaenisme, aliran pemikiran kerakyatan khas Indonesia.

Sedangkan dalam sikap komitmennya pada  kaum buruh  Saya ingin mengingatkan lagi  pesan Bung Karno agar  para juragan dan pengusaha tidak menelantarkan kaum buruh dengan menyebut ”lima pesannya” yaitu:  Wareg, Waras, Wasis, Wutuh dan Wisma.

WAREG : Pengertianya adalah cukup pangan. WARAS : Maksudnya terjamin kesehatanya. WASIS  : Berarti mendapat  pendidikan dan pelatihan. WUTUH : Cukup sandang dan pakaian. WISMA : Artinya rumah atau tempat tinggal.  Lima pesan Bung Karno tersebut secara implisit juga mengandung maksud agar pengusaha ketika memberi upah pada pekerja jangan hanya berpikir untuk kebutuhan makan, pengetahuan, sehat dan tempat tinggal. Namun juga memikirkan keluarganya : anak dan istrinya.

Nilai ketiga yang diperjuangkan Bung Karno adalah ”Kemandirian”, yang pada hakikatnya adalah Indonesia jangan  bergantung pada asing. Terlebih kepada Amerika (saat itu). Maka relevan ketika Bung Karno menggagas  konsep BERDIKARI (Berdiri di atas Kaki Sendiri).

Sikap jujur dan berani demikian patut diwarisi dan diaktualisasikan  tata kelola  pemerintah. Seperti akhir-akhir ini terbukti oleh bidang perikanan dan kelautan yang pekan lalu tanggal 6 Juni 2017 mendapat apresiasi dari Majelis PBB di New York AS, di dalam Forum “ Transnational Organized Crimes In Fisheries“.

Oleh banyak pembicara dikatakan bahwa Menteri Susi Pudjiastuti terbaik, terutama kemampuan dan keberaniannya memberantas penjahat kapal penangkap ikan asing yang sering mencuri di wilayah perariran Indonesia.

Demikian,nilai-nilai perjuangan Bung Karno yaitu :  Kebangsaan, Kerakyatan dan Kemandirian  yang  telah mulai kembali menjadi dasar penyemangat  Kabinet Jokowi-JK. Dan seyogyanya nilai-nilai perjuangan Bung Karno diajarkan pada generasi muda  yang cinta NKRI. (*)

(Bin Subiyanto M adalah  mantan aktifis Fakultas Biologi Unsoed dan Fakultas Filsafat UGM, kini anggota Dewan Pengupahan dan pegiat buruh Kudus)

Pesta Rakyat Jateng 2017 Mampu Sedot 40 ribu Pengunjung

Pertunjukan dari salah satu kontingen parade seni budaya dalam Pesta Rakyat Jawa Tengah 2017. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Semarang – Rangkaian Pesta Rakyat yang dipusatkan di Kabupaten Jepara, dalam rangka HUT ke-67 Provinsi Jateng, berlangsung sukses. Perhelatan yang dilangsungkan selama tiga hari sejak Jumat (25/8/2017) hingga Minggu (27/8/2017) itu mampu menyedot sekitar 40 ribu pengunjung.

”Pesta Rakyat Jateng dalam rangka mangayubagya ulang tahun ke-67 Provinsi Jateng, animo dan antusias masyarakat Jepara begitu tinggi. Sehingga diperkirakan total partisipasi masyarakat dan pengunjung kurang lebih 40 ribu orang,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sri Puryono.

Penyelenggaraan Pesta Rakyat di Jepara,imbuhnya, menorehkan beberapa catatan istimewa. Antara lain adanya keguyuban dan saling kerja sama di antara masyarakat selama event berlangsung, dan tingginya geliat kewirausahaan yang akan berpengaruh pada peningkatan ekonomi masyarakat.

“Saya berharap penyelenggaraan pesta rakyat dari tahun ke tahun semakin semarak dan lebih utama dapat bermanfaat sebagai ajang promosi potensi wilayah sekaligus ajang sinergitas antarkabupaten/ kota,” ujarnya.

Dalam pesta rakyat itu akan digelar Pameran Produk Kriya Dekranasda, UMKM Food Festival dan Kuliner, Pameran Peningkatan Produk Industri Agro, Pojok Konsultasi Bisnis, Parade Band, Lomba Nyanyi, Lomba Fotografi, Pameran Digital Kreatif Media, Festival Olahraga Rekreasi Daerah.

Pada 25 Agustus malam, juga ada Pertunjukan Seni Budaya Jawa Tengah yang diikuti seluruh kabupaten/ kota.

Ada juga Pesta Obor, Dekranasda Carnival, Gowes Jelajah Jepara, Festival Kupat/ Lepet/ Jajanan Pesisir, Ketoprak Kontemporer, Bumi Kartini Night Run, Penjualan Sembako Murah, Lomba Menggambar dan Mewarnai untuk Disabilitas.

Ada pula band dengan dimeriahkan artis nasional Kunto Aji and Friend. Kemudian festival, job fair, orkes melayu dan lainnya juga bakal menyemarakkan. Serta penampilan dari Shaggydog.

Editor : Ali Muntoha

Underpass Mulai Dibuka, Jatingaleh Semarang Tak Lagi Macet

Underpass Jatingaleh yang sudah mulai dioperasikan mampu mengurai kemacetan. (Foto : Dokumen)

MuriaNewsCom, Semarang – Sejak 25 Agustus 2017 lalu, Underpass Jatingaleh, Kota Semarang, mulai difungsikan. Kemacetan yang terjadi di jalur tersebut saat ini sudah mulai berkurang,

Pemerintah Kota Semarang dalam pekan ini akan melengkapi jalur underpass dengan rambu-rambu lalu-lintas. “Sejauh ini, jalur Jatingaleh memang sudah mulai lancar. Tetapi, masih butuh penyempurnaan agar sesuai dengan ekspektasi masyarakat,” kata Walikota Semarang Hendrar Prihadi.

Ia menyatakan, Dishub telah diperintahkan untuk memasang rambu-rambu agar masyarakat yang melintas tak bingung.

Proyek “Underpass” Jatingaleh dilakukan sebagai upaya untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di simpul kepadatan arus lalu lintas yang merupakan program dari pemerintah pusat.

Setelah sekian lama proses pengerjaan dan sempat pula molor, akhirnya 25 Agustus lalu “Underpass” Jatingaleh resmi difungsikan dan bisa dilalui oleh pengguna jalan dari dua arah.

Bagi pengendara kendaraan bermotor yang akan memutar atau menyeberang bisa melewati jalur bawah “underpass” yang terdapat di dua titik, yakni tanjakan Gombel dan persimpangan Kesatrian.

Sedangkan bagi pejalan kaki juga telah disediakan tempat penyeberangan khusus yang berada di bawah kedua underpass tersebut sehingga diharapkan rekayasa lalu lintas itu bisa mengantisipasi kemacetan.

“Ya, harapan kami jalur Jatingaleh itu bisa disempurnakan dengan rambu biar tidak membuat bingung. Kalau masyarakat pengguna jalannya bingung kan berpotensi menghambat arus lalu lintas,” kata politikus PDI Perjuangan itu.

Kepala Dishub Kota Semarang Muhammad Khadik memastikan dalam pekan ini rambu-rambu lalu lintas sudah terpasang untuk menyempurnakan fungsi “Underpass” Jatingaleh, Semarang.

Setidaknya ada 45 titik pemasangan rambu lalu lintas di jalur Jatingaleh, termasuk rambu larangan berbelok dan berputar arah karena sudah disediakan jalur khusus.

“Kalau rambu-rambu lalu lintas sudah terpasang tentunya akan semakin optimal peran `underpass` ini,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tiket KA Tujuan Jakarta Ludes untuk Libur Idul Adha


Rangkaian Kereta Api yang membawa kereta kelas ekonomi. (PT KAI)

MuriaNewsCom, Purwokerto – Tiket sejumlah kereta api tujuan Jakarta telah habis terjual menjelang libur panjang yang berbarengan dengan Hari Raya Idul Adha, kata Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 5 Purwokerto Ixfan Hendriwintoko.

“Berdasarkan pantauan `rail ticketing system` PT KAI (Persero) hari ini, pukul 10.30 WIB, sebagian besar KA kelas eksekutif lintas selatan tujuan Jakarta dari Daop 5 Purwokerto maupun Daop lain telah habis terjual untuk keberangkatan tanggal 30 Agustus hingga 2 September,” katanya di Purwokerto, Senin (28/8/2017) dikutip dari Antarajateng.com.

Menurut dia, tiket kereta api kelas eksekutif lintas selatan tujuan Jakarta yang masih tersedia meskipun kurang dari 50 persen, yakni KA Bima. Ia mengatakan tiket sebagian besar kereta api ekonomi kelas ekonomi tujuan Jakarta dari wilayah PT KAI Daop 5 Purwokerto maupun Daop lainnya juga telah habis terjual. “Tiket kereta api kelas ekonomi lintas selatan yang masih tersedia di atas 50 persen, yakni KA Gaya Baru Malam Premium relasi Surabayagubeng-Purwokerto-Pasarsenen,” ungkapnya.

Sementara untuk tiket KA Logawa relasi Purwokerto-Surabayagubeng-Jember, kata dia, persediaannya menipis. Dalam hal ini, KA Logawa untuk tanggal keberangkatan 30 Agustus masih menyediakan 40 tempat duduk, sedangkan tanggal 31 Agustus, 2 September, dan 3 September telah habis terjual.

“Tiket KA Logawa masih tersedia cukup banyak, yakni keberangkatan tanggal 1 September karena berdasarkan pantauan RTS PT KAI hari ini (28/8), pukul 10.30 WIB, masih tersedia sebanyak 212 tempat duduk,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ixfan mengimbau calon penumpang untuk membeli tiket yang masih tersisa melalui kanal-kanal penjualan tiket resmi seperti Kantor Pos, Indomaret, Alfamart, aplikasi KAI Access, laman pemesanan tiket milik PT KAI.

Menurut dia, hal itu sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya praktik percaloan yang berujung pada penipuan melalui penjualan tiket palsu. “Jangan sampai tergiur tawaran calo karena bisa jadi tiket itu palsu seperti yang pernah terjadi belum lama ini,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

DPC PPP Temanggung Resmi Buka Penjaringan Bakal Calon Bupati

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Temanggung – Desk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Temanggung membuka pendaftaran bakal calon Bupati dan wakil Bupati Temanggung pada pilkada 2018.

Ketua Desk Pilkada DPC PPP Kabupaten Temanggung, Fatahillah Azzainy di Temanggung, mengatakan pembukaan pendaftaran bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Temanggung untuk Pilkada serentak 2018 dibuka pada 5-10 September 2018.

“Dalam waktu enam hari tersebut kami berharap masyarakat bisa mendaftarkan diri ke kantor DPC PPP Kabupaten Temanggung,” katanya di Temanggung, Senin (28/8/2017) dikutip dari Antarajateng.com.

Ia mengatakan, untuk mendaftarkan diri sebagai balon bupati dan wakil bupati, pihaknya membebani balon dengan membayar uang pendaftaran sebanyak Rp1 juta rupiah, selain itu juga harus memenuhi beberapa persyaratan yang ada.

“Setelah selesai pendaftaran, kami akan melakukan verifikasi secara administrasi pada 11-13 September 2017. Kemudian hasilnya akan kami serahkan ke Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP,” katanya.

Setelah dilakukan verifikasi di tingkat DPW, katanya kemudian nama balon bupati dan wakil bupati akan disampaikan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP.

Ia mengatakan pihak DPP kemudian akan melakukan survei terhadap nama-nama balon bupati dan wakil bupati tersebut. Survei dilakukan oleh tim independen.

“Kami tidak tahu persis siapa yang akan melakukan survei, namun survei pasti akan dilakukan baik kepada interen PPP sendiri maupun kepada masyarakat pada umumnya,” katanya.

Sekretaris DPC PPP Kabupaten Temanggung, Slamet Eko Wantoro mengatakan sampai saat ini sudah ada tiga partai yang melakukan pendekatan dengan partainya, namun pihaknya belum menentukan akan berkoalisi dengan partai mana untuk mengusung balon bupati dan wakil bupati tersebut.

“Baru pembicaraan awal, tetapi kami sudah ketemu dan berbincang dengan ketiga partai tersebut,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Begini Nasib Pencuri Mobil Permaisuri Raja Surakarta

Polisi menunjukkan mobil raja Solo yang dicuri adik permaisuri. (Foto: KBR)

MuriaNewsCom, Solo – Pencuri mobil milik permaisuri Keraton Kasunanan Surakarta berhasil diringkus Kepolisian Resor Kota Surakarta. Pelaku ditangkap di Kecamatan Grogol, Sukoharjo.

Wakil Kepala Polresta Surakarta AKBP Andy Rifai di Solo, Senin, mengatakan pelaku yang mencuri mobil adalah W (45), warga Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo.

“Kami menangkap pelaku yang ternyata masih adik kandung dari korban, di rumahnya Desa Telukan Grogol Sukoharjo, pada Kamis (10/8), sekitar pukul 06.00 WIB,” kata Andy Rifai yang didampingi Kasat Reskim Kompol Agus Puryadi dikutip dari Antarajateng.com.

Selain itu, polisi saat melakukan penggeledahan di rumah pelaku ditemukan sejumlah barang bukti barang-barang yang ada di dalam mobil korban, ternyata disimpan di dalam tas milik tersangka di rumahnya.

Barang bukti yang ditemukan di rumah pelaku antara lain STNK mobil atas nama KRAY. Adipati Pradapaningsih alamat Keraton RT 01/01 Baluwarti Pasar Kliwon Surakarta, plat nomor mobil AD 7220 AH, kunci mobil Pajero, sepasang spion, 12 keping CD, satu bungkus dupa, alat pengukur tekanan ban, plat nomor palsu AD 88 AR, dan lima buah sekring mobil.

“Barang barang ini, ditemukan di rumah pelaku. Padahal, barang-barang itu, sebelumnya tersimpan di dalam kotak dash board mobil milik korban,” katanya.

Menurut Andy, pihaknya mengungkap hilangnya mobil milik permaisuri tersebut berawal dari ada laporan kasus pencurian mobil milik korban saat di parkir Central Parkir Sasono Keraton Surakarta Baluwarti Solo, pada tanggal 3 Juli 2017.

“Kami kemudian melakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi dan monitor CCTV yang dipasang di lokasi kejadian. Namun, alat CCTV ternyata sudah dimatikan oleh pelaku sebelum dia melakukan aksinya sehingga tidak terekam di monitor,” katanya.

Namun, mobil milik korban yang hilang telah ditemukan saat parkir di Jalan Martadinata di Pasar Gede Surakarta, pada tanggal 30 Juli 2017. Polisi langsung melakukan mengembangan dan mengarah ke pelaku.

Polisi setelah melakukan serangkaian penyelidikan berhasil mengungkap pelakunya, ternyata adik kandung  KRAY Adipati Pradapaningsih. Polisi melakukan penangkapan kepada pelaku di rumahnya pada Kamis (10/8), sekitar pukul 06.00 WIB.

“Pelaku sempat mengelak perbuatannya. Namun, polisi berhasil menemukan sejumlah barang bukti yang ditemukan di rumah pelaku, akhirnya mengakui. Pelaku mengaku nekat mengambil mobil kakaknya karena faktor ekonomi,” katanya.

Pelaku mengaku selama mengambil mobil milik korban dengan mengganti plat nomor asli AD 7220AH dengan nomor palsu AD 88 AR untuk mengelabuhi agar tidak diketahui pemiliknya.

Andy mengatakan peristiwa kasus pencurian dalam keluarga tersebut, pihak korban setelah tahu pelakunya adik kandungnya kemudian mencabut perkara ini. Namun, polisi akan melakukan pendalaman kasus itu.

Atas perbuatan pelaku bisa dijerat dengan Pasal 367 KUHP, tentang Kasus Tindak Pidana Pencurian, ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Editor : Akrom Hazami

LBH GP Ansor Desak Polisi Usut Penganiayaan di Sukoharjo

FOTO ILUSTRASI (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Kasus penganiayaan yang terjadi di Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, belum juga tuntas tertangani. Kasus penganiayaan terhadap warga yang merayakan peringatan 17 Agustus itu mengakibatkan sejumlah warga luka.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Pemuda (GP) Ansor mendesak kepolisian melanjutkan penyelidikan kasus. Peristiwa yang terjadi di Desa Siwal, RT 04/RW 03 Kecamatan Baki, Sukoharjo, 19 Agustus 2017 lalu itu, ditangani Kepolisian Resort (Polres) Sukoharjo, namun hingga sepekan kini belum ada perkembangan signifikan pada kasus itu.

Direktur Advokasi dan Litigasi LBH Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Achmad Budi Prayoga, mengatakan, penyerangan dilakukan oleh sekelompok orang bertopeng berjumlah sekitar 30 orang dengan membawa senjata tajam.

“Ini harus mendapatakan perhatian dari semua Instansi Pemerintah, Penegak Hukum maupun Organisasi Masyarakat,” tegasnya, Senin (28/8/2017).

Pada peringatan HUT RI yang awalnya dirayakan dengan suasana damai, gembira, dan suka cita oleh warga Desa Siwal, berubah jadi tragedi yang mengakibatkan jatuhnya korban masyarakat umum serta seorang anak balita yang mengalami luka-luka.

“Peristiwa penyerangan dan penganiayaan tersebut juga merupakan bentuk tindakan premanisme. Patut diduga tindakan tersebut merupakan tindakan yang sudah direncanakan secara terstruktur dan sistematis oleh para pelaku,” tandasnya.

Berdasarkan investigasi tim Litigasi dan Advokasi LBH GP Ansor, ditemukan sejumlah bukti dan fakta di lapangan. Pertama, pelaku berjumlah sekitar 30 orang dengan membawa senjata tajam dan benda tumpul yang telah disiapkan sebelumnya.

Kedua, sebagian besar pelaku telah mempersiapkan diri agar tidak dikenali dengan cara secara seragam menutup muka dan kepala para pelaku. Ketiga, pelaku bergerak dengan komando dari orang yang patut diduga berperan sebagai koordinator. Keempat, pelaku dalam melakukan aksinya terlihat hanya menyasar orang atau sasaran tertentu saja.

Kelima, pelaku saat melakukan tindakan dilakukan secara sistematis.  Pelaku menggunakan sepeda motor dan saling berboncengan, satu orang yang melakukan tindakan dan satu orang tetap di atas sepeda motor sebagai persiapan agar dapat dengan cepat melarikan diri.

Keenam, para pelaku datang kemudian mengancam dengan senjata tajam dan potongan besi serta memukul warga masyarakat dan juga anggota Banser. Kehadiran anggota Banser di acara itu adalah permintaan warga Baki untuk menjaga kemanan acara. Pelaku juga merusak sejumlah kursi.

Ketujuh, pada tanggal 20 Agustus 2017, ketua panitia acara tersebut didampingi oleh anggota banser telah melaporkan dan memberikan keterangan sebagai saksi korban ke Polsek Baki, Sukoharjo, untuk memberikan fakta-fakta peristiwa itu.

Maka, untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa serta untuk menghindari akibat lanjutan terhadap peristiwa berdarah itu, LBH PP GP Ansor meminta polisi mengusut kasus ini dan menindak tegas para pelaku.

 “Karena berdasarkan keterangan saksi di lapangan, sudah ada pelaku yang telah dikenali oleh masyarakat korban, karena yang bersangkutan tidak memakai cadar pada saat penyerangan. Fakta ini telah kami sampaikan kepada jajaran Polsek Baki,” tandasnya. 

Editor : Akrom Hazami

Pilgub Jateng : Sudirman Said Berebut Rekom dengan 2 Pentolan Gerindra

Mantan Menteri ESDM Sudirman Said saat bertemu kepala desa se-Kabupaten Batang beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said berpeluang diusung Partai Gerindra sebagai calon gubernur dalam Pilgub Jateng 2018 mendatang.

Namun Sudirman harus bersaing dengan dua pentolan Partai Gerindra Jateng, untuk mendapatkan rekomendasi. Pasalnya, Ketua DPD Partai Gerindra Jateng, Abdul Wachid dan Wakil Ketua Gerindra Jateng, Ferry Juliantono juga punya ambisi yang sama.

Ketua Desk Pilkada DPD Partai Gerindra Jateng Sriyanto Saputra juga menyebut kandidat yang berpeluang untuk diusung dalam pilgub mengerucut tiga nama tadi.

“Sekarang mengerucut tiga nama. Dua dari internal Abdul Wachid dan eksternal Sudirman Said,” kata anggota DPRD Jateng itu, Senin (28/8/2017).

Sebelumnya menurut dia, ada lima nama yang dijaring Partai Gerindra untuk diusung. Dua nama lain yakni Kukrit Wicaksono (CEO Suara Merdeka) dan Rahayu Saraswati (model yang juga keponakan Prabowo). Namun dua nama tersebut menyatakan tidak tertarik untuk maju pilgub.

”Kami hormati dan menghargai langkah politik itu. Namun kami tak hanya berfokus saja pad atiga nama tadi, tapi juga berkomunikasi dengan parpol lain tentang figur yang akan diusung. Karena Gerindra harus berkoalisi,” terangnya.

Sebelumnya saat Sudirman Said bertandang ke Kantor Gerindra Jateng, Achmad Wahid memperkenalkan mantan menteri itu kepada para kader sebagai calon gubernur.

Menurutnya pertemuan Sudirman Said dengan kader Gerindra Jateng tersebut sudah melalui persetujuan Ketua DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“Ini adalah kesempatan, karena kader sudah banyak yang mendesak dan bertanya siapa yang akan diusung pada Pilgub Jateng. Nanti bisa juga Pak Sudirman bawa baliho atau gambar sehingga lebih mudah memperkenalkan,” katanya, Sabtu (12/8/2017) lalu.

Editor : Ali Muntoha

Kecelakaan Maut di Kebumen, 7 Tewas

Bangkai kendaraan usai tabrakan di Kebumen. (Polres Kebumen)

MuriaNewsCom, Kebumen – Tujuh nyawa melayang menyusul kecelakaan antara mobil Avanza dengan Bus Puji Kurnia di ruas jalan Kebumen – Banyumas tepatnya km 16 termasuk Dukuh Alang-alang Amba, Desa Sidomulyo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Minggu malam (27/8/2017) sekitar pukul 21.45 WIB.

Kapolres Kebumen, AKBP Titi Hastuti melalui Kasat Lantas Polres Kebumen, AKP Suryo Wibowo, menjelaskan identitas para korban, Senin dini hari (28/8/2017). Dia menyampaikan korban di mobil Avanza hitam dengan nopol T-1316-SL merupakan warga Kabupaten Demak.

Korban adalah Herly Yk Wibowo (24), warga Desa Kendal Doyong RT 08 RW 02 Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak merupakan pengemudi Avanza. Adapun enam korban lain, Kosim Abdullah, Untung Raharjo, Ato Suseno, Kenzi, Eni, Sularno. “Semuanya meninggal dunia,” kata Suryo.

Kejadian berawal saat mobil Avanza yang dikemudikan Herly melaju dari arah barat ke timur dengan kecepatan tinggi. Sesampai di lokasi, mobil naas itu mendahului truk diesel masuk lajur kanan dan berusaha kembali ke lajur kiri.

Saat berusaha banting setir ke kiri, Avanza lepas kendali dan masuk ke lajur kanan sebelum akhirnya bertabrakan dengan Bus Kurnia Nomor polisi B-1853-YZ yang melaju dari arah timur ke barat. “Adapun sopir sus, diketahui bernama Suroso (49), warga Desa Wirun RT 02 Rw 05 Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo,” terangnya.

Mobil Avanza berhasil dievakuasi oleh Jajaran Sat Lantas Polres Kebumen sekitar pukul 23.30 WIB dan dibawa ke Pos Lantas Karanganyar. Sementara, para penumpang bus yang selamat ditempatkan di RM Jakarta yang berada tak jauh dari lokasi menunggu bus pengganti.

Editor : Akrom Hazami

Guru Ngaji Cabuli Santrinya di Masjid Jepon Blora

Barang bukti pakaian yang dikenakan korban pencabulan guru ngaji di Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Guru ngaji, MJ (46), warga Desa Blungun Rt 3 Rw 1, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, harus berurusan dengan hukum. MJ mencabuli santrinya berusia 8 tahun di salah satu masjid. Satreskrim Polres Blora kini telah menangkap MJ usai keluarga korban melaporkannya ke polisi.

Kejadian bermula, saat MJ dan korban usai melakukan salat duhur di salah satu masjid di Jepon, Selasa (1/8/2017). Usai salat, MJ memanggil korban, tapi tak dihiraukan. MJ lantas menarik tangan dan menurunkan celana yang dipakai korban.

Korban hendak melarikan diri dan meronta, tapi pelaku memarahinya. Aksi pencabulan itu dilakukan MJ di dalam masjid. Usai dicabuli, MJ mengancam korban agar tidak memberitahukan aksi tersebut. MJ tak lupa memberi uang Rp 2 ribu kepada korban. Uang tersebut diberikan sebagai uang jajan.

Selanjutnya korban pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut ke ibunya. “Aksi tersebut terbongkar setelah korban bercerita kepada orang tuanya dan langsung  melaporkan tindak pencabulan itu ke polisi,” ujar Kapolres Blora AKBP Saptono dikutip dari halaman resmi, Polres Blora, Sabtu (26/8/17).

Polisi menyita pula barang bukti yang diamankan, yaitu baju berwarna merah muda, dan celana kain berwarna kuning. “Kasus ini juga masih dalam pemeriksaan tim penyidik Sat Reskrim Polres Blora,” katanya.

Menurut pengakuan tersangka di depan polisi, dirinya melakukan perbuatan cabul karena tak mampu membendung hawa nafsunya. Pelaku mengaku sudah lama bercerai dengan istrinya, dan belum menikah lagi. “Saya mengaku khilaf melakukan perbuatan itu pak, lantaran hasrat hawa nafsu saya yang menggebu-gebu,” ujar MJ sembari tertunduk.

Saptono mengimbau kepada masyarakat yang memiliki anak perempuan agar menjaga anaknya dengan baik. Termasuk, orang tua juga perlu memantau pergaulan sehari-hari anak.” Jangan mudah  percaya dengan siapapun. Terutama anak yang masih di bawah umur,” imbaunya

Akibat perbuatannya, pelaku diancam Pasal 76E Jo Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak di bawah umur.

Editor : Akrom Hazami

 

Sapi Pemakan Sampah Bisa Dikonsumsi, Tapi Penuhi Dulu Syarat Ini

Puluhan ekor sapi sedang makan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Masyarakat diimbau unutk berhati-hati dalam memilih sapi yang akan digunakan untuk hewan kurban. Terutama jika sapi tersebut digembalakan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, seperti di TPA Jatibarang Semarang, ataupun TPA Desa Ngembak, Purwodadi, Grobogan.

Sapi-sapi pemakan sampah itu dianggap membahayakan jika dagingnya dikonsumsi manusia. Ini disebabkan banyaknya kandungan kimia maupun bakteri yang masuk ke dalam daging sapi.

Di dalam tubuh sapi pemakan sampah terdapat unsure bahan kimia seperti timbal. Selain itu juga terdapat bakteri e-coli dan cacing di dalam organ dalam sapi tersebut.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang memastikan sudah melarang peternak di TPA Jatibarang menjual sapi-sapinya untuk keperluan kurban.

Kepala UPTD TPA Jati Barang, Kota Semarang, Wahyu Heriawan juga menjamin jika ribuan sapi yang setiap harinya memakan sampah tersebut tidak diperjualbelikan sebagai hewan kurban.  Pihaknya telah melakukan edukasi kepada warga pemilik sapi, dan akan melakukan pengawasan secara ketat.

 “Untuk hewan kurban sapi di TPA Jati Barang tidak keluar untuk kurban.Saya jamin sapi tidak untuk keluar (dijual untuk kurban),” katanya.

Menurut dia, sapi-sapi yang mencari makan di TPA bisa dikonsumsi. Hanya saja diperlukan penanganan yang cukup lama. Di antaranya sapi tersebut harus dikarantina terlebih dulu selama tiga bulan, dengan memberikannya dedaunan dan vitamin.

Karantina dilakukan untuk menetralisir partikel-partikel kimia yang ada di dalam tubuh sapi, sehingga aman untuk dikonsumsi.

Ia menyatakan, ke depan pemerintah juga menyiapkan langkah supaya sapi-sapi tersebut layak dikonsumsi.

“Ke depan programnya Pak Walikota melalui Dinas Kebersihan Pertamanan, untuk sapi di TPA Jati barang akan diisolasi dan nanti makannya tidak campur. Namun murni sampah dari pasar karena sampah dari pasar banyak sayur dan buah,” tambahnya.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Kudus Ajak Wartawan Perkuat Kemitraan dengan Pemda

Bupati Kudus Musthofa (tengah) berfoto bareng dengan panitia dan peserta UKW. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Ke-XV berlangsung di Kudus, 25-26 Agustus 2017. Acara yang diselenggarakan PWI Jateng ini disupport oleh Bupati Kudus Musthofa yang hadir membuka acara pada Jumat (25/8/2017).

Bupati Kudus menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya ini menentukan kompetensi sebagai pewarta. Karena begitu besarnya peran dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Kami ini tidak akan bisa dikenal kalau tidak ada pemberitaan dari para wartawan,” kata Bupati yang juga dihadiri jajaran OPD, Polres, dan Kodim ini.

Bupati juga meminta jajaran OPD-nya tidak alergi dengan wartawan. Bahkan bupati dua periode ini meminta para Kepala OPD untuk menjadikan jurnalis sebagai mitra.

“Mari bermitra secara profesional antara jurnalis dengan pemda termasuk seluruh OPD yang ada,” jelasnya pada acara yang dihadiri pengurus PWI Pusat dan PWI Jateng ini.

Bahkan, bupati akan memfasilitasi kegiatan ini bagi seluruh wartawan. Sehingga profesionalisme dalam pemberitaan bisa ditingkatkan.

Sementara itu, Ketua PWI Jateng Amir Machmud mengapresiasi dukungan Bupati Kudus. Karena UKW makin memberikan peningkatan kemampuan teknis dan etika para wartawan. 

“Terima kasih, Pak Bupati. Kudus ini sebagai pelopor kegiatan ini,” kata Amir yang mengatakan saat ini di Jateng ada 480 wartawan yang kompeten.

Sedangkan Pengurus PWI Pusat Hendro Basuki mengatakan bahwa selain teknis dan etika, juga harus paham dengan peraturan perundang-undangan. Sehingga produk yang dihasilkan terkait bisnis ‘kata-kata dan waktu’ ini bisa berkualitas.

Editor: Supriyadi

Ngutil Pakaian di Matahari Kudus, Ibu Muda Ini Terancam 5 Tahun Penjara

Barang bukti pakaian yang dicuri LK diamankan petugas Polsek Jati. (POLRES KUDUS)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang ibu muda berinisial LK (32), warga Kecamatan Jati terpaksa berurusan dengan polisi. Ia terbukti mencuri beberapa pakaian di Matahari Kudus Plaza lantai 2, Kamis (24/8/2017).

Tak tanggung-tanggung, dari tangan pelaku, polisi berhasil mengamankan lima belas potong pakaian berbagai merek di mal yang berlokasi di Jl Lukmono Hadi.

Dikutip dari laman resmi Polres Kudus, aksi tersebut terjadi saat pelaku datang ke Matahari Plaza lantai 2 dan langsung memilih milih baju. Kemudian ia masuk ke kamar pas dan memasukkan baju tersebut ke dalam tas milik yang telah dipersiapkan.

Selanjutnya pelaku berputar – putar lagi mencari baju lainnya dan kemudian berusaha melewati lantai 3 yg tidak ada securitynya.

Namun nahas, saat di depan bioskop pelaku di hampiri security yang merasa curiga. Ia pun kemudian dibawa ke pos satpam. Setelah digeledah, di tas pelaku ditemukan sebanyak 15 pakaian berbagai merk senilai Rp. 3.386.700. Atas barang bukti tersebut, pelaku akhirnya diamankan di Polsek Jati.

Kapolsek Jati AKP Bambang Sutaryo mengatakan, LK tertangkap basah melakukan pencurian. Atas tindakannya itu, ia dijerat pasal 362 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

”Kami sudah mengamankan pelaku dan barang buktinya. Saat ini proses hukum sedang berlangsung,” terangnya.

Editor: Supriyadi

Nelayan Jateng Diserang di Mimika, DPRD : Jangan Melaut Dulu

Ilustrasi kapal nelayan Jateng. DPRD Jateng meminta agar nelayan Jateng sementara tak melaut di Perairan Mimika, Papua. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Bentrok antara nelayan asal Jawa Tengah dan nelayan lokal di Mimika, Papua, 9 Agustus 2017 lalu membuat para nelayan masih mengalami trauma. Sebanyak 126 nelayan dari provinsi ini harus dipulangkan menggunakan pesawat Hercules milik TNI, pascakejadian tersebut.

Kalangan DPRD Jawa Tengah mengaku sangat prihatin. Anggota Komisi B DPRD Jateng Mifta Riza, yang sempat datang ke Mimika untuk memediasi kasus tersebut, meminta nelayan dari Jateng untuk sementara tidak menangkap ikan di perairan sekitar Mimika, Papua, untuk menghindari memanasnya suasana.

“Saya minta mereka tidak kembali lagi ke Mimika untuk sementara waktu sampai situasinya benar benar kondusif,” katanya kepada wartawan, kemarin.

Nelayan Jawa Tengah yang bekerja di Mimika jumlahnya sekitar 400 orang. Mereka berasal dari Kendal, Brebes, Tegal, Pemalang, Demak, maupun Kota Semarang.

Mereka kebanyakan bekerja sebagai ABK kepada pengusaha kapal setempat. Selain itu ada juga nelayan yang membawa kapal sendiri dan menangkap ikan di Mimika.

“Ada satu faktor yang juga menjadi penyebab terjadinya konflik, yaitu masalah kecemburuan sosial. Nelayan asal Jateng rajin-rajin, sehingga ikan hasil tangkapannya banyak dan besar-besar. Sementara nelayan setempat hasilnya tidak sebanyak nelayan kita,” ujarnya.

Hal ini bisa terjadi, lanjut Politisi Gerindra ini, karena etos kerja Nelayan Jateng sangat bagus, mau kerja keras dan juga didukung dengan alat tangkap yang lebih baik dibanding Nelayan setempat.

“Kecemburuan tersebut diperparah dengan adanya provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga terjadi perusakan tempat tinggal nelayan Jateng dan perampasan terhadap harta benda mereka,” jelasnya.

Mifta Reza yang pada waktu itu melakukan mediasi bersama Anggota Komisi B Riyono di Mimika menambahkan, dari mediasi yang dilakukan, nelayan Mimika akhirnya sepakat minta dilakukan transfer teknologi dan pembelajaran cara penangkapan ikan kepada nelayan Jateng.

“Saya minta Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng memfasilitasi transfer teknologi ini dan mengkondisikan agar situasi disana benar benar kondusif dan nelayan yang dipulangkan bisa kembali melaut di Mimika,” terangnya.

Senada dengan Reza, Bupati Kendal Mirna Annisa mengatakan, sebelum kembali ke Mimika lagi, komunikasi dengan pemerintah daerah setempat akan dilakukan guna memastikan situasinya kondusif dan peristiwa serupa tidak terulang lagi. Dari 126 nelayan yang dipulangkan dari Mimika, 87 di antaranya merupakan warga Kendal.

“Komunikasi dengan pemerintah daerah setempat menjadi kewenangan Pemprov Jateng dengan Papua. Saya akan dorong komunikasi tersebut,” katanya dikutip dari Beritajateng.net.

Editor : Ali Muntoha

Pertama Kalinya DPS Pilgub Bakal Diuji Publik, Ini yang Ingin Diraih KPU

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 mendatang terdapat sejumlah hal yang baru. Salah satunya mengenai daftar pemilih sementara (DPS).

DPS ini nantinya tak hanya akan ditempel di tempat-tempat umum, melainkan juga dilakukan uji publik. Tujuannya, daftar pemilih tetap (DPT) pilgub nantinya benar-benar valid. Sehingga tingkat partisipasi dalam pilgub bisa maksimal.

Ketua KPU Jateng, Joko Purnomo mengatakan, dalam uji publik pemutakhiran DPS itu nantinya, warga akan dilibatkan. Seluruh kepala keluarga (KK) di Jateng akan dilibatkan untuk memeriksa DPS pada awal Desember 2017 mendatang.

“Paling tidak, kalau tidak 100 persen ya bisa 90 persen terlibat. Sehingga data lebih valid ketimbang data yang selama ini sering tertukar, karena aplikasi olah data di sistem,” katanya kepada wartawan.

Joko menyatakan, uji DPS ini bukan sekadar online atau dipasang nama pemilih, namun KK itu diundang dalam forum dan tanda tangah hadir sebagai bukti bertanggung jawab bersama atas uji publik DPS.

Selain itu menurut dia, pada Oktober hingga November akan dilaksanakan seleksi Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), dan Panitia Pemungutan Suara (PPS).

Dalam bulan November juga akan dilakukan penerimaan bukti dukungan warga bagi peserta yang maju melalui jalur idependen. Dalam pemetaan Pilgub secara keseluruhan, Joko mendata terdapat 64.171 tempat pemungutan suara (TPS), 573 PPK, dan 8.559 PPS.

“Soal TPS di rumah sakit, kami tidak hadirkan TPS khusus. Namun biaya operasional untuk TPS terdekat rumah sakit akan dilaukan, karena di RS tidak ada data dasar, namun akan diusahakan terenuhi semua hak suara masyarakat. Dulu 10 TPS terdekat di RSUP Kariadi dikerahkan,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Jika Tak Diberi Rekomendasi dari PDIP, Ini yang Bakal Dilakukan Bupati Musthofa

Bupati Kudus Musthofa foto selfie bersama para PKL se-Jateng di tengah kegiatan Gebyar PKL 2017 di kota setempat, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Bupati Kudus Musthofa merasa yakin akan mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan sebagai calon gubernur dalam Pilgub Jateng 2018. Meski demikian, Musthofa menyebut dia tak bakal jadi “kutu loncat” jika rekomendasi tak diberikan kepadanya.

Bupati Kudus dua periode ini memastikan, dia tak akan mengikuti jejak politisi lain yang pindah ke partai lain, karena tak mendapat rekomendasi.

Musthofa memastikan akan tetap berada di partai banteng, karena menurutnya ia adalah petugas partai yang siap menjalankan apapun tugas yang diberikan. “Tidak akan lari ke sana ke mari. Saya patuh pada yang diperintahkan partai,” katanya di Semarang, Kamis (24/8/2017).

Pada Pilgub Jateng 2013 lalu, mantan Bupati Sumedang Don Murdono menyeberang karena tak mendapat rekomendasi. Ia kemudian berpasangan dengan Hadi Prabowo dan diusung sejumlah partai, meski tak berhasil memenangi pilgub.

Jejak ini tak akan diikuti Musthofa. Ia menceritakan, selama ini sudah tiga kali mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan, yakni pertama pada pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kudus pada 2003 meski tidak menjadi pemenang.

Namun, ia tetap setia dengan PDI Perjuangan hingga mendapatkan rekomendasi kedua pada Pilkada Kudus 2008 yang berhasil dimenanginya, dan ketiga pada pilkada 2013 yang membuatnya menjadi Bupati Kudus sampai sekarang.

“Kalau nanti (di Pilgub Jateng 2018) tidak mendapatkan rekomendasi, ya tidak apa-apa. Politik itu bagi saya adalah amanah. Sudah 10 tahun ini jadi Bupati Kudus,” katanya.

Ketua DPC PDIP Kudus itu mengakui, meski pasrah pada keputusan pimpinan partai tentang siapa yang akan diusung dalam Pilgub Jateng mendatang, ia tetap berikhtiar supadaya mendapat rekomendasi.

“Saya siap melaksanakan perintah. Ya, saya tetap ikhtiar bagaimana supaya dapat rekomendasi, namun kalau tidak dapat rekomendasi, ya, enggak apa-apa. Secara struktural ikuti aturan partai,” pungkasnya.

Musthofa menjadi salah satu kepala daerah dari PDIP yang mengikuti penjaringan calon gubernur yang dibuka DPD PDIP Jateng beberapa waktu lalu.

Editor : Ali Muntoha

Ini yang Menarik dari KASKUS Kudus Half Marathon

Bupati Kudus Musthofa saat memberikan penjelasan soal kesiapan Kaskus Kudus Half Marathon (KKHM) di Semarang. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Semarang –  KASKUS Kudus Half Marathon (KKHM) akan digelar di Kabupaten Kudus, pada Minggu (24/9/2017). Kegiatan tersebut dipastikan akan meriah dan menarik. 

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, pihaknya siap menjamin kegiatan KKHM ini berbeda. Di antaranya, para peserta bisa melakukan kegiatan olahraga sambil menikmati keindahan alam. “Ini akan menjadi menarik karena peserta bisa melihat pemandangan alam Kudus, sambil berolahraga,” kata Musthofa saat jumpa pers KKHM di Hotel Crowne Semarang, Kamis (24/8/2017).

Termasuk para peserta nantinya bisa menikmati semua potensi di Kudus. Selain wisata juga ada kuliner yang khas. Ajang KKHM inilah yang akan menjadi pendongkrak promosi wisata dan di Kudus. Baik wisata religi, wisata alam, bahkan wisata entrepreneur.

“Karena Kudus ini beda. Ada filosofi gusjigang, yakni bagus, ngaji, dan dagang,” jelasnya pada lomba dengan total hadiah Rp.84 juta ini.

Sebagai narasumber, Bupati Kudus didampingi Didit dari DnD Production dan Roni Sugiada CMO Kaskus. Selain KKHM, ada rangkaian acara yang lain termasuk acara kultural. Yakni khotmil quran, karnaval budaya hingga wayang kulit.

Pihaknya menjamin kondisi jalan di Kudus juga dalam kondisi baik. Sehingga peserta bisa benar-benar terhibur untuk hadir di Kudus. Yang unik, penginapan Graha Muria digratiskan untuk peserta.

Sementara itu CMO Kaskus Roni Sugiada mengatakan bahwa Kudus adalah salah satu kabupaten yang potensial. Maka, tidak salah apabila Kudus dipilih untuk penyelenggaraan even nasional ini. “Target kami 3.100 peserta dari seluruh Indonesia untuk mengikuti acara ini,” kata Roni.

Perwakilan dari Dnd Production, Didit menjelaskan tentang teknis lomba. Pihaknya meminta juga agar peserta melakukan persiapan secara matang.

Editor : Akrom Hazami

Monyet Liar Ditembak Mati Usai Serang Nenek di Karanggede Boyolali

Warga melihat monyet yang ditangkap warga di Desa Sendang, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali. (Facebook)

MuriaNewsCom, Boyolali – Warga Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali, berang dengan ulah monyet. Sebab, monyet telah menyerang nenek, Wagiyem (7) warga Dukuh Gunungsari, Desa Karangkepoh, Kamis (24/8/2017) pagi. Akibat serangan monyet, Wagiyem mengalami luka di beberapa bagian tubuh. Hal itu membuatnya dilarikan ke RS Karima Utama Kartasura.

Warga pun ramai-ramai memburu monyet tersebut. Warga bersama Polsek Karanggede, Koramil, Perbakin serta komunitas penembak, ikut serta memburu monyet. Setelah beberapa lama melakukan perburuan, monyet pun muncul. Warga melihat monyet di salah satu rumah warga. Aksi kejar monyet pun berlangsung panas.

Para pemburu melihat monyet di kolong tempat tidur salah satu rumah warga. Akhirnya, mereka bisa menangkap monyet setelah sebelumya berhasil menembak monyet. Akibat tembakan itu, monyet langsung mati. Warga, kemudian, membawa monyet dari rumah tersebut. Warga terpaksa menembak monyet karena tak ingin ada warga yang terkena serangan monyet lagi. 

Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 Surakarta, BKSDA Jateng, Titi Sudaryanti, dikonfirmasi membenarkan bahwa seekor monyet yang menyerang warga di Karanggede, sudah tertangkap.

“Iya. Petugas sedang meluncur ke Karanggede. Satu ekor (yang tertangkap), mati,” kata Titi dikutip dari detik.com.

Kepala Desa (Kades) Sendang, Sukimin, mengatakan, warga berhasil tangkap monyet sekitar pukul 14.00 WIB. Monyet ditangkap dalam kondisi mati ditembak. Mereka tidak mau mengambil riosiko jika harus menangkap hidup-hidup, karena monyet itu ganas dan sudah sering menyerang warga. “Monyetnya mati, ditembak menggunakan senapan gas,” jelas dia.

Warga sejumlah desa di Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali sejak beberapa bulan lalu memang telah diresahkan dengan kemunculan monyet liar yang serang menyerang dan melukai warga. Monyet itu telah melukai belasan warga di sejumlah desa, antara lain warga Desa Sendang, Desa Bangkok, Desa Dologan di Kecamatan Karanggede dan beberapa warga Kecamatan Kemusu.

Editor : Akrom Hazami

Setengah Tahun Terakhir 43 Ribu Warga Jateng Tak Lagi Miskin

Warga miskin di Kabupaten Blora. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jateng Sri Puryono menyebut, dalam waktu enam bulan jumlah warga miskin di Jawa Tengah berkurang sebanyak 43,03 ribu jiwa.

Data tersebut berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah. Jika dibandingkan  dengan  jumlah  penduduk  miskin  pada September 2016, selama enam bulan tersebut  terjadi penurunan jumlah  penduduk miskin sebesar 43,03 ribu orang.

“Sementara apabila dibandingkan dengan Maret 2016 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sebanyak 56,17 ribu orang dari total 4,50 juta orang (13,27 persen),” ujarnya.

Saat ini Pemprov Jateng tengah menggenjot perbaikan infrastruktur untuk mempercepat upaya penurunan angka kemiskinan. Sri Puryono menyebut, dengan infrastruktur yang baik, akses perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan lainnya juga semakin baik.

“Dengan begitu diharapkan dapat menjadi salah satu bagian memutus mata rantai kemiskinan,” katanya.

Pemerintah juga terus mendorong kerja sama dengan industri, khususnya industri padat karya dengan mempermudah perizinan. Bahkan, beberapa waktu lalu, di stand PRPP, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah melayani perizinan pabrik gula baru dengan nilai investasi Rp 1,3 triliun dalam waktu tidak lebih dari tiga jam.

”Kerja sama dengan industri juga didorong di SMK-SMK, baik negeri maupun swasta, sehingga dapat menekan angka pengangguran setelah lulus,” terangnya.

Data BPS jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2017 sebesar 4,45 juta orang (13,01 persen).

Editor : Ali Muntoha

Semburan Gas Muncul di Jalur Rel KA di Prembun Kebumen

Tampak semburan lumpur yang muncul akibat pengeboran kekuatan tanah di dekat rel kereta api di Prembun, Kabupaten Kebumen. (Sorot.co)

MuriaNewsCom, Purwokerto – PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 5 Purwokerto mendapatkan informasi terjadi semburan lumpur campur gas di dekat jalur rel kereta api (KA) Desa Kabekelan, RT 06 RW 02, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen, Kamis (24/8/2017).

Informasi yang dihimpun warga, semburan lumpur tersebut terjadi di lubang bekas pengeboran atau sondir tanah sedalam 8 meter, Kamis pagi pukul 08.00 WIB. Pengeboran dilakukan oleh PT Yasa Pola Remaja selaku pelaksana proyek jalur rel ganda Kroya-Kutoarjo.

Hingga kini, semburan lumpur masih terus terjadi meskipun kekuatannya tidak terlalu besar. Pihak terkait telah mendatangi lokasi dengan memasang garis yang mengelilingi lubang tersebut dani tulisan untuk warga dilarang mendekat.

Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 5 Purwokerto Ixfan Hendriwintoko mengatakan pihaknya masih menunggu laporan perkembangan semburan gas tersebut dari petugas di lapangan.

“Informasi yang kami terima dari Manajer Aset, lokasi semburan gas bukan pada jalur pipa BBM (Bahan Bakar Minyak) milik Pertamina,” katanya dikutip dari Antarajateng.com.

Dalam hal ini, kata dia, jalur pipa BBM milik Pertamina berada di sebelah utara jalur rel dengan jarak 12 meter dari as rel. Sementara lokasi semburan berada di sebelah sebelah selatan jalur rel dan berjarak 5 meter dari as rel kereta api.

Berdasarkan informasi masyarakat setempat, lanjut dia, lokasi tersebut memang sering mengeluarkan semburan gas. Kendati demikian, dia mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan institusi terkait di lokasi semburan.

“Yang pasti itu (titik semburan) bukan di jalur pipa Pertamina. Untuk sementara, jalur rel tersebut masih aman dilalui kereta api dan petugas kami di lapangan terus memantau perkembangan yang terjadi,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami 

Gubernur Ganjar Akui Cukup Sulit Wujudkan Provinsi Layak Anak

Keceriaan anak-anak saat foto bersama di Banjarejo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui cukup sulit untuk mewujudkan provinsi layak anak. Penyebabnya, tingkat kekerasan terhadap perempuan maupun anak masih cukup tinggi.

Oleh karenanya, Ganjar menyebut harus melakukan berbagai persiapan strategis, termasuk masalah penganggaran untuk mewujudkan hal ini. Apalagi menurut dia, tahun depan Jateng ditunjuk sebagai pilot project provinsi layak anak.

“Sehingga kita mesti menyiapkan anggaran, program, dan sistemnya agar kemudian minimum layak anak itu bisa tercapai,” kata Ganjar Pranowo, baru-baru ini.

Data dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) atau Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) kabupaten/kota di Provinsi Jateng pada 2011-2015, kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan tren yang fluktuatif.

Pada 2015 tercatat sebanyak 2.466 orang korban kekerasan, dan 1.385 orang di antaranya anak-anak.

Melihat kondisi tersebut, Ganjar mengatakan bahwa prioritas investasi perlindungan anak ditekankan pada pencegahan kekerasan terhadap anak. “Tentunya, perwujudan provinsi layak anak tidak dapat tercapai tanpa dukungan masyarakat, termasuk para aktivis anak,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah kabupaten/kota juga diminta mendukung terwujudnya Jawa Tengah sebagai provinsi layak anak. Salah satunya, bupati wali kota mendorong investasi perlindungan anak agar pencegahan dan penanganan kasus kekerasan anak dapat berjalan optimal.

Ganjar menjelaskan, pembekalan anak mengenai budi pekerti dan tepa selira yang merupakan nilai-nilai kebhinekaan Indonesia, mesti dilakukan baik di keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.

“Dengan begitu, diharapkan dapat mengurangi kejadian kekerasan terhadap anak karena anak sudah dilatih menghormati kepada yang tua, yang muda dan sebaya mereka. Sebaliknya, orang tua pun akan menghargai dan mencintai anak,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Beraksi Pakai Jimat Sakti di KA Purwojaya, Pencuri Ini Malah Tertangkap di Purwokerto

Foto Ilustrasi. Pelaku kejahatan mempertanggungjawabkan perbuatannya. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Purwokerto – Ada-ada saja yang dilakukan warga ini. Dengan berbekal jimat biar tak konangan mencuri, justru malah tertangkap. Hal itu terjadi di KA Purwojaya relasi Gambir-Purwokerto-Cilacap. Adalah Sugeng Subagyo (61), warga Bojong Rangkong, Jakarta Timur. Sugeng mengakui perbuatannya saat dimintai keterangan di Stasiun Purwokerto, Kamis (24/8/2017).

Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 5 Purwokerto Ixfan Hendriwintoko mengatakan, pihaknya berhasil menangkap pencuri dari atas KA Purwojaya. “Penangkapan terhadap pelaku berawal dari kecurigaan personel Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api) yang sedang bertugas mengawal KA Purwojaya, yakni Gus Gigih dan Dika Rimba,” katanya di Purwokerto, dikutip Antara.

Pencuri itu beraksi dengan memegang jimat. Dengan tujuan biar tak tertangkap. Tapi yang terjadi, pencuri itu malah tertangkap petugas KA. Jimat itu berisi sisik penyu, bunga kantil, dan mata uang kuno. “Jimat itu diyakini pelaku sebagai pengasihan dan biar tidak diketahui kalau mencuri,” ujarnya.

Pelaku diketahui mondar-mandir dan melakukan aktivitas mencurigakan di dalam Kereta Eksekutif 3 KA Purwojaya. Pelaku yang pura-pura baru keluar dari toilet segera berjalan kembali ke tempat duduknya, yakni nomor 7B.

Saat berjalan, pelaku dengan cepat mengambil tas bukan miliknya dari rak barang di atas tempat duduk depan tempat duduknya. Petugas Polsuska bersama kondektur segera menangkap pelaku dan menurunkannya di Stasiun Purwokerto.

Saat digeledah, petugas menemukan barang bukti berupa tiga buku ukuran folio yang biasa digunakan pelaku untuk dimasukkan ke dalam tas korban sebagai pengganti laptop yang dia curi.

Selain itu, petugas juga menemukan kartu tanda penduduk (KTP) atas nama Tjandra Washita yang diduga palsu karena foto pada KTP tersebut merupakan wajah pelaku.

Petugas juga menemukan satu lembar surat izin mengemudi (SIM) bukan atas nama pelaku, dua obeng, 10 “Micro SD” yang diduga dari telepon pintar curian karena isinya berbeda-beda, serta. Ditemukan juga satu buah `power bank`, satu unit telepon pintar merek Xiaomi, dan dua buah `buff` atau penutup wajah,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Usai Kontes, Sepeda Motor Kece Ini Ditegur Polisi Magelang 

Polisi menegur pemilik sepeda motor modifikasi di Desa Kalegen, Polsek Bandongan, Kota Magelang. (polresmagelangkota.com)

MuriaNewsCom, Magelang – Polres Magelang terus melakukan penertiban ke seluruh sudut kota setempat. Termasuk juga, mereka melakukannya hingga pedesaan. Tak heran jika polisi kerap menemukan pelanggaran di desa.

Salah satunya adalah, ditemukannya kendaraan sepeda motor modifikasi. Namun, modifikasi yang dilakukan tidak mengindahkan aturan lalu lintas. Dalam hal ini, adalah kelengkapan bagian kendaraan yang diabaikan.

Brigadir Nawa Luki, Bhabinkamtibmas Desa Kalegen Polsek Bandongan Resor Magelang Kota memberikan imbauan dan pesan kamtibmas saat patroli sambang di Dudun Kalegen. Pihaknya menemukan kendaraan tersebut dan menegur pemiliknya.

Madi, warga Kalegen yang asyik mengendarai sepeda motor warna ungu dihentikan polisi. Dalam bincang singkatnya, Brigadir Nawa memberi imbauan kepada Madi untuk melengkapi bagian dari sepeda motornya yang kurang. Seperti halnya, kaca spion dan ban sepeda motor. Seban ban sepeda motor tak standar malah rawan mengancam pengendara.

“Lek Di, minta tolong nanti apa besok, kalau pas senggang, motornya dipasangi spion dan ban juga diganti yang standar demi keselamatan,” kata Nawa dikutip dari web resmi polres setempat.

Dengan senyum malu-malu, Mardi, menyanggupinya. Dalam waktu dekat,dia siap melengkapi kendaraannya biar nyaman dipakai, dan tak mengancam keselamatannya berlalu lintas.

“Iya pak Nawa, mohon maaf, kemarin itu motor saya ikutkan kontes jadi belum saya pasangi kelengkapannya,” kata Mardi dengan senyum malunya.

Editor : Akrom Hazami