TMMD di Kalisegoro, TNI dan Warga Bangun Jembatan Baru

Personel TNI dan warga bahu membahu memperbaiki jalan dalam program TMMD di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Jembatan jalan baru di RT 01 RW II Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati Semarang yang dibangun melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-99 TA 2017 Wilayah Kodim 0733 BS Semarang,  kini dirasa sangat membantu warga masyarakat Kalisegoro.

Jembatan sepanjang 5 meter dengan panjang 2 meter ini kini telah berfungsi dan dapat dilintasi masyarakat, terutama mereka yang melintas dengan sepeda motor.

Prawoto, salah seorang warga mengatakan sebelum ada jembatan tersebut warga masyarakat dari Dukuh Kenteng menuju Sedayu harus berjalan melingkar menembus semak belukar dan nyeberang sungai berbatu. Namun setelah jembatan tersebut jadi  warga bisa bernafas lega.

“Yang paling terbantu adalah anak-anak sekolah. Mereka sekarang bisa langsung melintasi jembatan tersebut”, ujar Prawoto, Senin (31/7/2017).

Pembuatan jembatan baru tersebut menurut Pasiter Kodim 0733 BS Semarang, Kapten Inf Suradi selaku Koordinator Lapangan TMMD Reguler Ke-99, adalah hasil over prestasi. Artinya sebelumnya tidak ada dalam rencana sasaran. Namun karena adanya partisipasi lembaga desa dan masyarakat, pembangunan jembatan itu dilaksanakan karena kebutuhan.

“Jadi semua itu didanai dari swasembada masyarakat, prajurit kami dibantu masyarakat tinggal membangunkan jembatan tersebut”,  ungkap Kapten Inf Suradi. (NAP)

 

Sunani Kaget Rumahnya Jadi Mewah Setelah Dibangun Kodim 0733 Semarang

Sunani (kiri) berbincang dengan personel TNI Kodim 0733 BS Semarang usai rumahnya direhab dalam program TMMD Reguler Ke-99 TA 2017.
(Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Sunani (67) warga Kalisegoro RT 01 RW I tak menyangka rumahnya yang sebelumnya reyot dan tak layak huni, pada Rabu (2/8/2017) sudah berubah menjadi megah setelah direhab dalam Program TNI Manunggal Membangun Desa Reguler Ke-99 TA 2017.

Kodim 0733 BS Semarang selaku pelaksana TMMD Reguler di wilayah Kota Semarang pada kegiatan ini berhasil merehab 20 Rumah Tak Layak Huni (RTLH) warga Kalisegoro. 

Pasiter Kodim 0733 BS Semarang mewakili Dandim 0733 BS Semarang Letkol Inf M Taufiq Zega mengatakan bahwa rehab RTLH termasuk over prestasi. Pasalnya yang sebelumnya bangunan rumah dindingnya setengah bata dan setengah kayu, namun pada pelaksanaannya justru dibuat dinding bata semua.

Selain itu lantainya pun tidak plesteran semen, melainkan pasangan keramik. “Pada masing-masing rumah juga kita buatkan teras dari baja ringan”, ungkap Kapten Inf Suradi.

Sunani yang menerima penyerahan rumah bercat hijau tersebut mengaku kaget dan bahagia, karena rumahnya justru dibuat dengan dinding tembok. padahal sebelumnya merupakan pasangan papan dan sudah banyak yang rapuh.

“Kula nggih sagetipun matur sembah nuwun dateng bapak-bapak tentara. Mugi-mugi Gusti Allah ingkang paring piwales (Saya bisanya bilang terima kasih kepada bapak tentara, semoga Allah yang membalas)”, ungkap Sunani.

 

Permainan Persijap Sudah Dibaca Persibas

Kapten Persijap Fisabillah melancarkan protes kepada hakim garis karena menilai permainan teman-temannya telah melewati batas pertahanan atau offside, sehingga menganulir bola yang telah masuk ke gawang Persibas Banyumas di menit ke 62. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Persijap kalah 0-2 saat melawan Persibas Banyumas, di kandang sendiri Stadion Utama Gelora Bumi Kartini, Sabtu (29/7/2017). Kekalahan anak asuh Fernando Sales, merupakan kejelian pelatih Persibas Nazal Mustofa dalam merendam “pemain kedua”. 

“Waktu Persijap bermain di Banyumas kami kalah, Minggu (30/4/2017). Setelah kekalahan itu kami mempelajari Persijap selalu bermain dengan adanya pemain yang muncul dari second line. Kami coba bendung itu, pada pertandingan kali ini. Kami bermain disiplin, siapapun (pemain Persijap) yang muncul dari belakang kami blok pergerakannya,” kata Mustofa saat konferensi pers. 

Namun demikian, ia menyanjung permainan yang diterapkan oleh pemain-pemain Persijap. Pada pertandingan kali ini, ia tak mematok kemenangan hanya seri. Namun ia mengatakan pada pemainnya untuk disiplin menjaga pergerakan lawan. Selain itu Persibas Banyumas, juga bermain tidak frontal. 

Sementara itu, Pelatih Persijap Fernando Sales mengakui secara gentel kekalahan timnya atas Persibas. Ia mengatakan, seluruh pemainnya bermain maksimal pada pertandingan Sabtu sore. 

“Pada babak pertama kami meraih banyak kesempatan, namun pada menit akhir tim lawan mendapatkan tendangan bebas, dan kami kehilangan konsentrasi. Gol kedua juga demikian, tercipta karena kurangnya kesigapan pemain kami. Tapi itulah permainan.Yang pasti selamat untuk Persibas,” ungkap Fernando. 

Disinggung mengenai kepemimpinan wasit, Fernando tidak mau secara gamblang menanggapi. Namun ia mengakui, faktor tersebut juga membawa imbas bagi timnya. 

“Saya tidak mau membahas tentang itu sebenarnya, itu (kalah dan menang) tanggung jawab saya sebagai pelatih. Namun ya kami merasakan kepemimpinan wasit kurang adil kepada kami. Bukan hanya di pertandingan ini, namun beberapa pertandingan lain,” jelas pria berkepala pelontos itu. 

Editor : Kholistiono

Kodim 0733 BS Semarang Datang, Rumah Warga Gunungpati Tak Lagi Berlumpur

Personel TNI dari Kodim 0733 BS Semarang menyapa warga yang melintas di ruas jalan yang dibangun melalui program TMMD Reguler Ke-99 TA 2017. (Kodim 0733 BS Semarang)

SEMARANG – 190 pekerja terdiri dari 130 prajurit TNI AD Kodim 0733 BS Semarang serta satuan yang ada di Semarang, dibantu 10 anggota Polri, 10 aparatur Pemkot Semarang dan selebihnya masyarakat Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati Semarang, Sabtu (29/7/2017) menyelesaikan pembangunan jalan aspal sepanjang 200 meter dengan lebar 3 meter di desa tersebut.

Jalan aspal yang dibangun melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-99 TA 2017 ini disambut suka cita warga. “Sudah lama warga menginginkan jalan aspal di desa ini, karena bila hujan jalan pasti berubah menjadi lumpur. Dampaknya pasti lantai rumah penduduk jadi kotor. tapi setelah diaspal, kini jalan terlihat halur, rata dan bersih. Anak-anak pun juga bebas bermain dan berlarian di jalan beraspal tersebut”, ujar Gunadi, warga RT 04 RW I Kelurahan Kalisegoro.

Kaur Bhakti Kodim 0733 BS Semarang Kapten Inf Suryanto yang dilokasi memimpin pembangunan sasaran pengaspalan mengungkapkan pengaspalan telah dilakukan dengan volume 436M2. “Hasilnya kini sudah bisa dinikmati warga. Bahkan anak-anak pun banyak yang memanfaatkan untuk bermain dijalan aspal baru”, ungkap kapten Inf Suryanto. (nap)

Kodim Semarang Ajak Masyarakat Hidupkan Pos Kamling

Personel TNI dan warga bahu membahu memperbaiki jalan dalam program TMMD di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Keberadaan Pos Kamling menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga keamanan wilayah. Namun sayang keberadaan pos kamling saat ini sudah banyak yang tidak dimanfaatkan secara optimal untuk menjaga keamanan lingkungan. 

Melalui program TMMD Reguler ke 99 tahun 2017 Kodim 0733 BS Semarang mengajak masyarakat untuk kembali mengaktifkan pos kamling sebagai Poso penjagaan keamanan lingkungan.

Tidak hanya mengajak warga kembali mengaktifkan pos kamling dalam program TMMD tersebut Kodim juga melakukan rehab sejumlah pos kamling. Salah satunya pos kamling dukuh Sekayu RT 04 RW I Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. 

“Keberadaan pos kamling sangat penting, untuk menjaga keamanan lingkungan mengingat kejahatan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja,” kata Koordinator Lapangan TMMD Kapten Inf Suradi, Kamis (27/7/2017) saat meninjau proses rehat pos kamling. 

Salah seorang warga Urip mengakui, sebenarnya warga setiap malam sudah melakukan penjagaan kampung melalui piket ronda. Hanya saja karena kondisi pos kamling yang mengalami kerusakan ronda dilakukan di tempat lain. “Nanti rencananya pos kamling yang sudah diperbaiki akan kembali dihidupkan supaya kampung lebih aman dari kejahatan. Selain untuk pos kamling nanti juga bisa digunakan untjk kegiatan warga yang lain,” ucapnya. (NAP)

TMMD Kodim 0733 Semarang, Mushola Al Ikhlas di Gunungpati Jadi Lebih Nyaman.

Personel TNI dan warga bahu membahu memperbaiki jalan dalam program TMMD di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

Semarang – Jamaah mushola Al Ikhlas RT 01 RW ll Kalisegoro mengapresiasi upaya Kodim 0733 yang telah merehab tempat ibadah mereka.

“Setidaknya saat ini jamaah merasa nyaman lantaran mushola tersenut lebih nyaman dan adem,”ujar Sholikin warga setempat kamis (27/07).

Mushola Al Ikhlas merupakan salah satu target rehab dalam kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di kelurahan kalisegoro, Kecamatan Gunungpati.

Pihaknya berharap agar jamaah mushola semakin banyak lantaran bangunam lebih luas. “Semoga dengan kondisi begini jamaah semakin khusyuk dan semakin banyak,” harap sholikin.

Kordinator lapangan TMMD Kodim 0733 Semarang Kapten Inf Suradi mengaku ikut berbangga dengan apresiasi warga yang mengaku puas dengan kinerja TNI dalam membangun kelurahan Kalisegoro.

“Syukurlah, warga senang dengan kinerja kami. Semoga ini bermanfaat buat Warga,”ujarnya. (NAP)

Tak Mudah Memberlakukan Full Day School

 

Farid Jaelani
Mahasiswa STAIN Kudus, Jurusan Tarbiyah, Prodi Bahasa Arab

TAHUN pelajaran baru 2017-2018 setingkat sekolah dasar dan  menengah  sudah mulai berjalan beberapa hari yang lalu. Hal ini menandakan mata pelajaran yang akan disampaikan kepada  peserta didik  sudah mulai dipersoalkan dan dibahas sesuai dengan kurikulum yang dipakai oleh sekolah tersebut.

Tak hanya segi kurikulum yang dibahas tapi soal metode-metode pengajarannya hingga infrastrukturnya  pun juga ikut dibahas dalam rapat tahunan guru. Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Muhadjir Effendy menggagas dan meluncurkan program full day school (FDS) atau sekolah sehari penuh. Program tersebut digadang-gadang dapat menciptakan karakter seorang siswa yang baru-baru ini dianggap mulai luntur.

Program tersebut memang baik jika diimplementasikan dengan benar dan tepat pada sasarannya. Tapi malah sebaliknya, program tersebut masih menuai pro kontra dari semua lapisan. Pasalnnya program tersebut dirasa terlalu cepat untuk diluncurkan dan diterapkan ke berbagai sekolah atau madrasah.              

FDS yang diluncurkan oleh mendikbud memang secara harfiah pembentukan karakterlah yang diutamakan. Namun , program tersebut cendurung seperti program pengawasan anak dalam sehari. Hal ini menandakan seolah-olah orang tua tidak percaya tentang tanggung jawab yang dimiliki oleh buah hatinya. Di kota misalnya, berbagai masalah yang sering  orang tua lakukan adalah lengahnya pengawasan.

Akibatnya timbul kegiatan negatif, seperti pelecehan seksual, penculikan dan lain-lain. Problem tersebutlah yang menjadi titik permasalahan terbitnya sekolah 5 hari oleh mendikbud. Belajar terus-menerus  memang dibolehkan dan dianjurkan , dan tentunya itu jauh lebih baik  dari pada sepulang sekolah peserta didik tidak punya kegiatan. Parahnya lagi mereka lepas pengawasan dari orang tua.

 Penawaran  FDS memang jauh lebih baik dari pada peserta didik lepas pengawasan dari  orang tuanya. Namun dalam penyelenggaraka program tersebut dalam sekolah atau madrasah tentunya ada penawaran harga yang lebih dibanding dengan penyelenggaraan pembelajaran reguler. Hal itu menandakan hanya siswa beruanglah  yang mampu mengakses program tersebut. Otomotis siswa yang kurang mampu tentunya tetap istiqomah dalam pembelajaran regulernya.

Keadaan Pendidikan di Indonesia                                                                                                           

Pendidikan di Indonesia dirasa masih ketinggalan jauh sama negara tetangga lainnya. Faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah kurikulum pembelajaran serta sarana dan prasarana yang masih minim yang dianggarkan pemerintah. Apalagi yang sekarang digadang – gadang akan meluncurkan sekolah 5 hari yang notabenenya membutuhkan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai.

Berdasarkan data pada Raker Komisi X DPR RI dengan Mendikbud 21 Juli 2016, dari 1.833.323 ruang kelas, hanya  466.180 yang dalam kondisi  baik, sisanya              1.367.143 ruang kelas rusak dengan rincian 930.501 atau 51% rusak ringan, 283.232 atau 15% rusak sedang, 78.974 atau 4 % rusak berat dan 74.436 atau 4 % rusak total.                                                                                                                       

Tak hanya itu, kesiapan dalam menjalankan sekolah  sehari penuh juga harus menggunakan sarana dan prasarana yang layak. Jika disurvei  dari 217.781 sekolah, terdapat 104.081 yang belum memiliki peralatan pendidikan. Dijenjang SD dari 151.586 sekolah, baru 86.058 yang sudah memiliki alat pendidikan, sisanya 65.528 sekolah belum memilikinya. Di SMP dari total 39.787 sekolah, baru 25.559 yang sudah , baru 25.559 yang sudah memilikinya, akan tetapi 14.228 belum memiliki alat pendidikan. Padahal fasilitas adalah alat penunjang keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar.

Sudah sepatutnya pemerintah tidak terburu-buru dalam merubah mekanisme pendidika. Memang benar           pemerintah sigap dalam mengambil keputusan dalam memperbaiki pendidikan negeri ini. Akan tetapi , dilihat dari kesiapan dalam berbagai sekolah masih relatif lemah. Tak hanya fasilitas yang sering dibahas yang notabenya masih kurang lengkap.      

Guru, kata yang sering muncul dalam dunia pendidikan . Jika memang benar  full day school ini akan diterapkan serentak di Indonesia, maka  guru swasta yang kemungkinan  akan terkuras habis tenaga, waktu dan pemikirannya.

Bahkan waktu untuk bekerja sampingan pun akan tersita hanya untuk program FDS ini. Semua orang tahu  bahwa gaji guru swasta itu tidak seberapa, jika dibandingkan dengan guru PNS. Bahkan guru swasta yang mengajar madrasah ibtidaiyyah kadang masih ada yang menerima gaji  Rp 300.000 per bulan. Dan untuk  menambah penghasilan lain, mereka bekerja sampingan setelah mengajar

Menurut  Khofifah Indah Parawansa, menteri sosial, wacana sekolah sehari penuh belum bisa diterapkan di seluruh sekolah atau madrasah di Indonesia. Mengingat, persoalan  di daerah dan metode pembelajaran yang efektif sangat bergantung dengan situasi di daerah masing-masing. Sekolah sehari penuh ini sekiranya mungkin cocok diterapkan di daerah perkotaan yang rata-rata orang  tua mereka sibuk dengan pekerjaannya. Juga sangat cocok,  jika diterapkan di penitipan anak, yang kegiatannya super padat. Dan itupun,  harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai.

Madrasah  Diniyah Terancam                                                                                                    

Madrasah diniyyah merupakan  suatu lembaga pendidikan yang berbasis pada keagamaan yang ranahnya pada jalur luar sekolah dengan meneruskan pendidikan agama Islam. Adapun cara pembelajaraanya memakai sistem klasikal. Lembaga pendidikan tersebut juga mempunyai beberapa tingkatan layaknya seperti sekolah umum lainnya, di antaranya tingkatan awaliyah, wustho , dan ulya.

Sejarah adanya lembaga agama ini memang sudah ada sejak jaman  penjajahan  dulu. Hal ini dibuktikan dengan umur rata-rata madrasah diniyah di Indonesia yang sudah mencapai puluhan tahun, bahkan ada yang mencapai 1 abad. Lembaga inilah yang memberi kontribusi terhadap nilai karakter dengan pendidikan agama  yang dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang berbudi luhur.        

Namun sejak diluncurkannya program sekolah sehari penuh, seolah –olah mengagetkan beberapa pengurus madrasah ini. Hal ini dirasa kurang etis, karena madrasah ini biasanya mulai pembelajarannya pukul 14.00 sampai 16.00 WIB. Secara otomatis madrasah ini akan gulung tikar jika peserta didiknya masih berada di sekolah mengikuti sekolah sehari penuh  ini.                                                                

Lembaga  ini seharusnya diperhatikan karena sudah ikut andil dalam mencerdasakan anak bangsa. Perlu diketahui. Jika memang sekolah sehari penuh memang diterapkan, otomatis pendidikan di Indonesia ini mengkhususkan atau mendominasi mata pelajaran umum saja . Padahal mata pelajaran agamalah yang sering digunakan dalam bersosialisasi tertutama dalam akhlak karimahnya.

Apa jadinya nanti ketika Indonesia lepas tanpa adanya akhlak karimah. Sudah barang tentu kejadian kriminal berpeluang lebih terbuka lebar dilakukan anak-anak. Tawuran mudah terjadi, dan kriminal lainnya.

Tercatat pada tahun 2008, bahwa jumlah madrasah diniyah seluruh Indonesia adalah 37.102 unit. Mereka mendidik santri sebanyak 3.557.713 orang, dengan jumlah guru 270.151 orang. Angka tersebut bukanlah angka sedikit.  Tentunya jumlah guru yang begitu banyak yang ikhlas dalam mengajar, bahkan mereka tidak dapat tunjangan sertifikasi, namun mereka rela demi membentuk karakter seorang anak didik.

Oleh karena itu, sekolah sehari penuh atau full day school ini sebaiknya jangan terburu – buru diluncurkan supaya tidak menimbulkan persoalan –persoalan baru nantinya. Sebab program tersebut tidak hanya membutuhkan waktu belajar, tetapi fasilitas dan tenaga guru yang ekstra pun juga harus dibutuhkan. 

Dalam istilah kaidah ushul fiqih “ dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala  jalibil  mashalih”  yang maksudnya menghindari atau mencegah kerusakan hendaknya didahulukan dibanding melakukan inovasi yang tak teruji.  Wallahu a’lam bishshowwab.

(Farid Jaelani, Warga Undaan, Kabupaten Kudus. Artikel ini dimuat MuriaNewsCom, Rabu 26 Juli 2017)

 

 

 

Maryati Senang, Sekarang Jalan Menuju ke Makam Semakin Dekat

Personel TNI dan warga bergotong-royong membangun jalan dalam program TMMD yang digelar Kodim 0733 Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Pembuatan jalan tembus Makam di RT 1 RW II sepanjang 180 x 3 meter persegi yang merupakan program dari TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) membantu warga sekitar lebih dekat menuju makam umum tersebut. Jika sebelumnya warga harus memutar sedikit jauh, namun saat ini mereka tidak perlu capek untuk menuju makam.

“Mau kemakam si mbah jadi tidak memutar. kemarin ada bapak-baoak Tentara bangun jalur alternatif ke makam, jadi lumayan deket sekarang,” ungkap Maryati (37) warga sekitar, Rabu, (26/07).

Ia menceritakan dengan pembuatan jalan tembus ini warga sekitar sangat terbantu. Apalagi sebelumnya jalan menuju makan hanya ada satu akses. “Alhamudilillah membantu warga RT 1 yg mau ke makam,”imbuhnya.

Kordinator lapangan TMMD Kodim 0733 Semarang Kapten Inf Suradi menuturkan pembuatan jalur tembus menuju makam ini merupakan usulan dari warga sekitar ketika melakukan survei di RW II. “Kami dibantu warga diarahkan. kebetulan warga ingin TMMD juga diarahkan di makam ini dengan jalan tembus,” terang Suradi. (NAP)

Kodim 0733 Semarang Ajak Warga Gunungpati Iku Perangi Masalah Sosial

Warga Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati Semarang diajak memahami mengenai fungsi dan tugas lembaga masyarakat di lingkungan desanya.
(Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Sosialisasi kepada masyarakat tentang tugas pokok dan fungsi atau tupoksi lembaga masyarakat di lingkungan desa menjadi salah satu program yang diusung dalam pelaksanaan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) Kodim 0733 Semarang. Seperti yang dilaksanakan Selasa (25/7) di TMMD Kelurahan Kalisegoro, setidaknya 50 warga mengikuti sosialisasi pengenalan kelembagaan masyarakat yang menitik beratkan pada peran-perannya.

Dijelaskan Kabag Tata Pemerintahan Pemkot Semarang Djaka Sukawijana, ada beberapa lembaga masyarakat seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LPMD/LPMK), Lembaga
Ketahanan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LKMDILKMK) atau sebutan nama lain mempunyai tugas menyusun rencana pembangunan secara partisipatif, menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat, melaksanakan dan mengendalikan pembangunan.

“Ada pula Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW), Tim penggerak PKK yang bermita dalam mengembangkan dan memberdayakan keluarga,”ujarnya.

Selain itu, juga ada karang taruna yang mempunyai tugas menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda. Baik yang bersifat preventif, rehabilitatif, maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.

Dengan pemahaman ini, masyarakat diminta untuk lebih paham dan mengerti fungsi-fungsi dari kelembagaan masyarakat yang ada disetiap ke lurahan. “Penekanan pada gejala sosial anak-anak remaja, biasanya kami (Pemkot Semarang) sering menggandeng karang taruna dalam pendekatannya,”imbuh Djaka.

Kaur Komsos Kapten Infantri Bahrudin berharap, agar masyarakat dapat lebih mengetahui peran dari masing-masing kelembagaan masyarakat. ”Dengan mengetahui pera dari masing-masing kelembagaan masyarakat, maka warga bisa ikut serta mengontrol dan ikut serta dalam pembangunan,” ujarnya. (NAP)

Ketua RT harus “Kepo” dengan Warga Baru

Warga Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang mengikuti sosialisasi tentang Kamtibnas yang dilaksanakan Kodim 0733 Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Penyuluhan/Sosialisasi tentang Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), Selasa (25/7) dilaksanakan Kodim 0733 Kota Semarang di Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ini diikuti 50 warga setempat.

Dalam pemaparannya, Kapolsek Gunungpati Kompol Bagiyo Prayi menyebutkan setiap warga harus saling memiliki sikap peduli terutama terkait kamtibmas. Hal ini sebagai langkah antisipasi merebaknya faham radikal dikalangan masyarakat.

Peran Ketua RT dinilai memiliki peranan penting karena menjadi ujung tombak dalam mengantisipasi merebaknya penyebaran faham radikal dan terorisme. 

“Warga harus saling cari tau atau Kepo ketika ada warga baru tinggal dipemukiman. Ini sangat penting buat diantisipasi,”ujarnya.

Tidak hanya itu, Kapolsek juga meminta warga untuk tetap melaksanakan sistem keamanan lingkungan atau siskampling pada malam hari. 

Selain menjaga keamanan lingkungan, dengan berkumpulnya warga juga dapat menambah keguyuban dari masing-masing warga.

“Kan kalau pagi sampai sore kerja, nah pas malam bisa kumpul sebentar dengan tetangga melalui siskampling. Pokok intinya yakni sesama warga saling memiliki rasa tanggung jawab,”imbuhnya.

Sementara itu, Kaur Komsos Kapten Infantri Bahrudin menambahkan jika mendapati adanya tindakan yang mengancam kamtibmas, masyarakat diminta segera melapor ke pihak berwajib, baik ke polsek maupun ke Bintara pembina desa atau babinsa.

“Ingat, jangan melakukan aksi main hakim sendiri, laporkan saja ke Kami. jika menangkap maling atau sesuatu yang mencurigakan lainnya. kita negara hukum jadi biar hukum yang berproses,”ujar Bahrudin. (NAP)

 

Ada TMMD, Sunardi Tidak Lagi Mencuci Motor Setiap Hari

Personel TNI dan warga bahu membahu memperbaiki jalan dalam program TMMD di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Kegiatan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) Kodim 0733 Semarang baru saja menyelesaikan tugasnya di Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati. Salah satu yang menjadi obyek pembangunan di desa tersebut yakni di RT 1 RW I dengan pengaspalan jalan.

Sebelumnya jalan ini kondisinya jelek dan sering menjatuhkan warga lantaran licin serta kondisi yg tidak rata.

Sunardi (23) warga setempat saat ditemui Kamis (20/07) mengaku pernah mengganti velg kendaraannya lantaran jatuh di dekat rumahnya akibat lubang jalan pada malam hari.Selain itu dengan kondisi jalan yang belum diaspal, menyebabkan cepat kotornya kendaraan yg dimilikinya. Terlebih ketika musim hujan jalan cenderung licin dan berlumpur.

“Sekarang diaspal lumayan jarang nyuci motor. Kan kemarin ada pengaspalan jalan sama pak tentara. Jalannya mulus sekarang jarang nyuci motor,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan warga lainnya, Maimunah (45), yang mengapresiasi perhatian dari TNI yang memberikan jalan mulus bagi warga sekitar.”Terima kasih sudah di buat bagus jalannya. Naik motor jadi nyaman pas pulang kerja,” imbuhnya.

Kordinator lapangan TMMD Kodim 0733 Semarang Kapten Inf Suradi sebelumnya mengatakan tidak hanya pengaspalan jalan, namun dalam pelaksanaan TMMD, pembangunan akan menyentuh semua aspek yang pada intinya membantu masyarakat agar lebih sejahtera.

“Di sini (Kalisegoro) kita tidak hanya pengaspalan saja, tapi ada banyak kegiatan. Seperti Bedah rumah, membuka Jalan akses bagi warga, sampai rehab Mushola. Semoga warga berkenan atas pengabdian kami,” imbuhnya.(nap)

TMMD Kodim 0733 BS Semarang, Bangun Jalan dan Tingkatkan Kesehatan Warga

Warga Kalisegoro, Gunungpati mendapatkan pengobatan gratis yang merupakan bagian dari kegiatan TMMD Ke-99 Tahun 2017 yang dilaksanakan Kodim 0733 Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-99 TA 2017 yang digelar Kodim 0733 BS Semarang di kelurahan Kalisegoro Gunungpati Semarang, Rabu (19/7/2017) digelar Pengobatan Gratis yang melibatkan dokter dan petugas Puskesmas Kecamatan Gunungpati.
Warga se-Kecamatan Gunungpati pun memanfaatkan kegiatan ini dengan pemeriksaan kesehatan serta pengobatan gratis.

Darminto, warga Kalisegoro mendapat pengobatan setelah diperiksa tenaga medis dan kedapatan batuk radang. Bapak berusia hampir 70 tahun ini termasuk perokok berat. Karenanya dokter menyarankan untuk berhenti merokok untuk memperingan radang tenggorokannya.
Sementara Darmini (57) mengalami gatal-gatal di seluruh tangan dan badannya. Oleh dokter juga diberikan obat-obatan berupa penghilang gatal dan vitamin.

Pengobatan gratis disambut antusias oleh masyarakat Kalisegoro. Pasalnya dengan adanya Pengobatan Gratis Program TMMD ini warga merasa terbantu mengatasi dan menangani penyakitnya.”Kami senang ada kegiatan seperti. Terima kasih Pak TNI,” ucapnya.

Mayor Inf Harton, Danramil Semarang Tengah sebagai perwira pendamping kegiatan membenarkan antusiasme warga. Banyak warga yang menghendaki pemeriksaan dan pengobatan gratis diperpanjang. “Namun karena program TMMD ada batas waktunya, maka dijalankan sesuai program,” jelas dia. (NAP)

Anak, Seperti Pohon Jambu dan Pohon Kelapa

Muhammad Itsbatun Najih,
Warga Kudus

KEBERSAMAAN anak dengan kedua orang tua, terutama kepada Ibu, mulai berkurang. Kini, Ibu tidak sedikit yang bekerja hingga menjelang sore. Sementara Ayah, berkewajiban mencari nafkah. Anak, lantas diakrabkan kepada kerabat-tetangga atau nenek untuk asyik bermain bersama. Model pengasuhan ini menggantikan pengasuhan tempo dulu kala Ibu masih mempunyai waktu berlebih menceritakan aneka pengetahuan kepada si anak. Seiring laju modernitas, celah ini lantas ditangkap dengan pertanda menjamurnya penitipan anak. Di tempat yang sudah menjamah pedesaan ini, anak-anak bermain, makan, dan bersenang-senang bersama teman sebaya, sampai nanti orang tua menjemputnya.

 Lepas itu, anak di hadapkan dalam bingkai ajang persekolahan, sekadar main-main untuk lekas belajar agak serius. Membanjirlah tempat dengan sebutan kelompok bermain (KB) dan sekolah PAUD (pendidikan anak usia dini). Di taman kanak-kanak (TK), si anak diharap sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Berdasar hal ini, kebersamaan orang tua dan peranan terutama si ibu sebagai elan vital dan subjek pertama mendidik anak, mulai tertanggalkan.

Gerak modernitas juga menghilirkan banyak lembaga formal pendidikan, seperti PAUD dan TK. Mereka berlomba menarik hati para orang tua. Semisal di TK ini, ditambahkan pengajaran bahasa asing. Dan di TK sebelah, tersedia lengkap fasilitas belajar dan sarana bermain. Dari sini, kiranya sudah dimunculkan benih-benih pemacuan agar si anak menjadi anak hebat dan jagoan; lancar berhitung, membaca, menulis, bernyanyi, berenang, bermusik, dan lainnya. Ada hasrat anak dijadikan orang tua sebagai manifestasi ukuran agar mampu menjawab tantangan zaman dewasa nanti.

Hal ini berlanjut kala mulai sekolah dasar (SD) terpatri sistem pemeringkatan (rangking). Si anak cerdas adalah yang memperoleh nilai/angka paling tinggi di hampir semua mata pelajaran, untuk kemudian menduduki rangking satu. Sebaliknya, anak-anak yang berkecenderungan biasa saja tidak ubahnya kebanyakan orang. Ironisnya, tak sedikit anak yang hanya unggul di satu mata pelajaran/keahlian, akan terpental dari apresiasi karena tak kebagian peringkat kelas. Dari sini, anak lantas dileskan agar ia menjadi andal berhitung. Dengan artian, sekadar agar nilai/angka matematika membaik; padahal ia unggul di ranah kesenian, atau misal pandai menggambar.

Fenomena ini lantas terus berlanjut hingga jenjang sekolah lanjut atas (SMA) dan kemudian si anak masuk ke perguruan tinggi (PT). Basis/pondasi yang kadung dibangun kurang tepat itu disebabkan si anak dan terutama orangtua abai dan alpa memetakan keistimewaan si anak sedari usia dini. Kita sudah sering mendengar bahwa setiap anak mempunyai keunikan dan spesialisasi masing-masing.

Menurut Idad Suhada (2016) dalam Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, harusnya, pemetaan dan pembacaan orang tua terhadap potensi otentik/bakat si anak sudah bisa ditemukan sejak usia balita. Kini, imbasnya kita pun akhirnya maklum dengan fenomena banyak mahasiswa merasa salah masuk jurusan/bekerja tidak sesuai “bakat”, lantaran sedari kecil tidak terlatih menemukan potensi otentik dalam dirinya.

Peran orang tua dalam memperkuat basis pendidikan si anak terlebih dahulu ditekankan perihal pentingnya kesadaran kepada orang tua agar mereka tidak menjadikan si anak sebagai ukuran pembanding terhadap anak lain. Si anak yang lebih berorientasi kepada dunia kesenian, akan tidak optimal manakala orang tua menghendaki untuk kuliah di jurusan arsitektur.  Fenomena jamak terjadi itu sedikit-banyak didasari oleh sekadar urusan sejauh mana keterjaminan finansial si anak di kemudian hari.

Unsur lain, adalah persaingan, menciptakan pemeringakatan di kelas. Anak diperlombakan agar unggul di semua mata pelajaran. Dan di sisi lain, menanggalkan optimalisasi potensi diri/bakat mereka. Manusia adalah makhluk unik yang berdimensi menjadi keberbedaan. Orang tua tidak perlu membandingkan anaknya yang lemah di bidang eksakta namun jago di ilmu sosial dengan anak tetangga yang juara olimpiade Fisika. Menurut kajian Psikologi Anak, kutip Idad Suhada (2016), bakat/potensi otentik diri adalah fitrah.

Seperti halnya ikan tidak akan pernah bisa  memanjat pohon sebagaimana kera tidak bisa berenang. Begitupun tingginya pohon kelapa, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan tingginya pohon jambu. Semua anak mempunyai keistimewaan dan keunikan masing-masing. Yang mana satu dengan yang lainnya tercipta untuk saling melengkapi sebagai basis harmoni dan keselarasan kehidupan.

Dalam konteks sekarang, orang tua yang sibuk, bisa menyisipkan waktu belajar bersama si anak saat malam hari dan di akhir pekan. Dibutuhkan sinergitas dengan stakeholder pendidikan, guru sekolah PAUD, tentang potensi diri si anak untuk kemudian bisa dikembangkan dan dioptimalkan. Sinergitas bisa terlihat kala orang tua mengantarkan ke sekolah si anak untuk kemudian berbincang sesaat –namun kontinu tiap hari- kepada guru. Gelaran pertemuan berkala antara orang tua dan pihak sekolah juga penting. Terutama lagi, pemberian porsi pengajaran terkait moralitas dan tatakrama juga mendesak diberikan, sebagai pendidikan pengembangan mental si anak.

Boleh jadi si anak bakal stres bila tidak disesuaikan dengan minat dan bakatnya. Sudah saatnya meninggalkan anggapan bahwa sukses anak merupakan bukti kesuksesan orang tua. Sayangnya, model pemaksaan orang tua itu kini terwartakan ramai terjadi di Amerika Serikat.

Banyak orang tua sudah mendaftarkan calon anak mereka di sekolah-sekolah bergengsi begitu mereka hamil. Anak bak sudah diprogram dan setelah itu mereka diandaikan bakal lebih mudah masuk ke universitas top Amerika dan bekerja di perusahaan besar. Pun, memaksa si anak untuk lekas berlatih berenang agar cepat-cepat dapat mengikuti Olimpiade (Intisari, Mei 2017).

Kita tentu tidak menginginkan hal itu terjadi di sini; orangtua yang memaksa dan telah memprogram sebegitu rupa kepada si anak. Potensi diri otentik/bakat adalah sesuatu yang unik dan biasanya muncul secara alami. Tugas orang tua sekadar menganalisis bakat si anak dan mengembangkan potensinya di tengah kesibukan mereka yang bekerja dari pagi hingga jelang sore.    (*)

 (Muhammad Itsbatun Najih, Alumnus UIN Yogyakarta. Artikel dimuat MuriaNewsCom, pada Selasa/18/7/2017)

 

Duaar…Polisi Berdarah-darah di Arena CFD Kudus, Ada Apa?

Aparat Polres Kudus mengevakuasi korban bom bunuh diri dalam simulasi penanganan terorisme di arena CFD Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (16/7/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga Kabupaten Kudus yang tengah berada di kawasan Car Free Day (CFD) Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (16/7/2017) dikejutkan dengan suara ledakan yang cukup keras. Tak hanya itu, selang beberapa detik kemudian terlihat beberapa orang termasuk personel polisi bergelimpangan dan berlumuran darah.

Suara ledakan tersebut merupakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan kelompok teror.  Bom bunuh diri diledakan seorang pelaku yang menyeruak masuk di antara warga yang berkerumun.

Usai terjadi ledakan, personel kepolisian langsung bergerak cepat mengamankan lokasi. Termasuk mengevakuasi korban baik dari warga sipil maupun aparat kepolisian.

Namun meski terjadi ledakan dan ada sejumlah warga bergelimpangan, warga justru berkumpul dan dengan atusias menyaksikan kecekatan tim kepolisian melakukan pengamanan dan evakuasi. Beberapa warga juga asyik mengabadikan kejadian tersebut dengan telepon pintarnya.

Maklum saja aksi bom bunuh diri itu hanya sekadar simulasi yang digelar Polres Kudus, dalam rangka peringatan HUT Bhayangkara ke-71.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, selain simulasi penanganan teroris, dalam kegiatan itu juga digelar pameran kepolisian yang diikuti semua satuan. Stan-stan yang ada di antaranya, pameran alat-alat keselamatan, pameran senjata juga diperagakan simulasi penanganan aksi terorisme.

“Simulasi ini untuk menunjukkan pada masyarakat apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan jika ada aksi teror. Sehingga masyarakat tak perlu takut, dan bekerja sama dengan polisi,” katanya.

Ia menyatakan, ada 3 cara yang dapat dilakukan masyarakat ketika menemui aksi teror. Yakni melaporkan keaparat kepolisian, menjauhi tempat kejadian perkara (TKP) dan juga menjauhi benda yang dianggap mencurigakan sampai polisi datang ke lokasi.

Dikatakan, dalam simulasi pihaknya mengerahkan semua tim untuk menanggani aksi teror. Mulai dari tim jihandak, Inafis dan tim resmob.

Khoyin, warga yang berada di kawasan CFD mengaku awalnya cukup kaget saat mendengar suara ledakan. Apalagi setelah itu banyak mobil polisi yang berdatangan. “Saya lagi jualan, ada suara ledakan dan saya lari mendekat. Ternyata ada simulasi,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Outbond Kebangsaan TMMD, Kodim 0733 BS Semarang Ajarkan Anak-anak Cinta Tanah Air

Anak-anak di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang mengikuti acara outbond di sela-sela TMMD yang digelar Kodim 0733 Semarang.
(Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Puluhan anak-anak di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati Semarang, Minggu (16/7/2017) bersuka cita dalam kegiatan Outbond Kebangsaan yang digelar dalam rangkaian kegiatan TNI Manunggal Membangun desa (TMMD) Reguler Ke-99 TA 2017 di wilayah Kodim 0733 BS Semarang, yakni Kalisegoro Gunungpati.

Dandim 0733 BS Semarang Letkol Inf M Taufiq Zega melalui Kaur Bhakti Kapten Inf Suryanto mengatakan bahwa dalam kegiatan outbound tersebut terselip pendidikan mental dan spiritual membentuk generasi yang memiliki kepekaan sosial, kebersamaman dan setia kawan.

“Anak-anak kita ajak bermain dengan materi-materi permainan tim. Kerjasama antar personal dan kelompok kami tenamkan, sehingga mereka mengerti makna persatuan dan kesatuan. Intinya mereka bisa merasakan Berat Sama Dipikul, Ringan sama Dijinjing”, ungkap Kapten Inf Suryanto.

Dandim berharap dengan outbound tersebut anak-anak jiwanya tertanam semangat kebersamaan dan setia kawan yang menjadi dasar dari semangat bela negara dan cinta tanah air. (nap)

Sopir Truk Ditemukan Meninggal di Pinggir Jalan Untung Suropati Purwodadi Grobogan

Sopir truk yang meninggal di pinggir jalan Untung Suropati sedang diperiksa petugas di RSUD Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga di lingkungan Plindungan, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi, dikejutkan dengan adanya orang yang meninggal dunia di pinggiran jalan. Sosok lelaki tersebut ditemukan dalam posisi tengkurap di samping kendaraan truk dengan nomor polisi H 1354 YG yang diparkir di depan rumah Suparjo.

Informasi yang didapat menyebutkan, orang yang meninggal itu kali pertama diketahui oleh Juremi (59) warga setempat. Saat keluar rumah, Juremi melihat ada orang tengkurap di pinggir jalan tanpa ada gerakan. Pria yang tengkurap itu mengenakan kaos lengan pendek warna biru dan celana panjang warna krem.

Selanjutnya, Juremi segera mengabarkan apa yang dlihatnya pada tetangganya Suparjo. Setelah dapat kabar ini, kedua orang itu bersama beberapa warga lainnya segera memeriksa kondisi pria tersebut.

Dari pemeriksaan warga, diduga korban sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Akhirnya, warga segera melaporkan peristiwa itu pada pihak kepolisian.

Kapolsek Purwodadi AKP Sugiyanto ketika dikonfirmasi menyatakan, setelah mendapat laporan, pihaknya segera melakukan pemeriksaan ke lokasi bersama tim dari Polres Grobogan. Selanjutnya, mayat pria itu dibawa ke RSUD Purwodadi untuk diperiksa lebih lanjut.

“Dari pemeriksaan tidak ditemukan tanda penganiayaan. Ada sedikit luka di bagian kepala kemungkinan terjadi saat korban jatuh tengkurap di pinggir jalan. Berdasarkan pemeriksaan medis, korban diduga meninggal karena serangan jantung,” jelasnya.

Adapun identitas korban berhasil diketahui setelah petugas memeriksa dompetnya. Dalam dompet itu terdapat identitas atas nama Triswanto (45), pekerjaan sopir dengan alamat Kelurahan Pudakpayung Rt 04 Rw 02 Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. 

 

Editor : Akrom Hazami

Kodim 0733 Semarang Ajak Warga Gunungpati Peduli Kesehatan

Petugas memeriksa kesehatan warga Kelurahan Kalisegoro Gunungpati di sela-sela pelaksanaan TMMD Reguler ke-99 Tahun 2017. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Puluhan warga yang terdiri dari orang tua dan anak-anak di Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang antusias mengikuti penyuluhan kesehatan, yang merupakan program TMMD Reguler ke-99 tahun 2017, Sabtu (15/7/2017).

Penyuluhan tersebut, dilakukan untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan melalui gerakan hidup sehat. Dalam penyeluhan tersebut Kodim menggandeng Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Masyarakat pun cukup antusias mendengarkan penyuluhan yang diberikan oleh petugas dari Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Salah satu warga Suharni mengaku, selama ini warga memang belum begitu menyadari akan pentingnya kesehatan. Padahal kata dia menjaga pola hidup sehat sebenarnya tidaklah sulit. “Sebenarnya tidak sulit tapi karena mamang belum terbiasa saja,” katanya.

Pasiter Kodim 0733 BS Semarang Kapten Inf Suradi mengatakan, kesehatan sangat penting dan menjadi harta manusia yang paling berharga. Tidak ada kesehatan bisa dikatakan tidak ada kesempatan untuk menikmati kehidupan.

Pola Hidup sehat tidaklah sulit, karena bisa dilakukan di lingkungan sendiri, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola makan yang sehat.

“Oleh karena itu melalui penyuluhan ini diharapkan warga masyarakat semakin meningkatan kesadaran dan bisa menerapkan pola hidup sehar di lingkungan masing-masing,” katanya.

Menurut dia menjaga kesehatan adalah penting mengingat saat ini biaya pengobatan dan perawatan sangat mahal. Bahkan banyak orang yang terpaksa menjual seluruh harta miliknya demi menyembuhkan penyakit.

“Mulai melakukan pola hidup sehat dari sekarang akan menjadi investasi berharga bagi kesehatan kini dan nanti,” imbuhnya. (NAP)

Isi Khotbah Jumat, Anggota TNI Ini Tekankan Bela Negara Bagian dari Iman

Kaur Komsos Kodim 0733 BS Semarang Kapten Inf Bahrodin saat mengisi kotbah di Mushola Al Fatah Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Ustad Kapten Inf Bahrodin saat bertindak sebagai khotib salat Jumat di Mushola Al Fatah Kalisegoro Kecamatan Gunungpati Semarang, Jumat (14/7/2017) menegaskan bahwa Islam juga mengatur hal bela negara sebagai bagian dari iman. Oleh karena itu kemerdekaan bangsa Indonesia, juga tak lepas dari semangat bela negara rakyat semua.
Khotbah Jumat yang disampaikan oleh Kaur Komsos Kodim 0733 BS Semarang ini digelar juga dalam rangka Komsos rangkaian Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-99 TA 2017 di wilayah Kodim 0733 BS Semarang.
Di hadapan jamaahnya, Ustad Bahrodin juga menyampaikan pentingnya semangat kebersamaan didalam menjalin persatuan dan kesatuan yang menjadi dasar bela negara. “Bela negara dilakukan dalam rangka melindungi segenap bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam perbedaan namun terbingkai satu dalam Bhineka Tunggal Ika yang texrdapat dalam Lambang Negara Garuda Pancasila,” ujarnya.
Oleh karena itu semangat toleransi juga perlu dikedepankan dalam koridor kebangsaan demi menjaga keutuhan NKRI. (NAP)

Suparman Minta, Pavingisasi TMMD Tidak Tebang Pilih.

Personel TNI dan warga bahu membahu memperbaiki jalan dalam program TMMD di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Kodim 0733 Semarang dikalisegoro  mendapat apresiasi dari warga sekitar. Hal itu terlihat dari tingkat partisipasi masyakarat yang ikut dalam pembuatan pavingisasi pada Kamis (13/07) di RT 06 RW II kelurahan Kalisegoro.

Salah satu warga RT 3 RW II Anton Ubaidillah menyebutkan program pavingisasi yang dilakukan diakses pemukiman warga ini sangat membantu. Apalagi jika harus menunggu dari pemkot semarang akan lebih lama lagi. “Bagus sih sebenarnya program ini. Tapi jika boleh jangan hanya di RT 06 saja. kan yang perlu diperbaiki tidak hanya ditempat itu,” imbuhnya.

Menurut Dia, jika setiap jalan diperbaiki baik dengan pavingisasi maupun diaspal, maka warga akan terbantu meski bukan jalan umum yang diakses masyarakat luas namun semestinya pembangunan dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Yang butuh perbaikan bukan satu RT saja. Masih banyak jalan yang perlu perhatian. Semoga saja tahun depan dapat terakomodir baik dari TMMD Kodim 0733 maupun dari pemkot,” imbuh Anton.

Mulato, Warga lainnya berujar, sangat mengapresiasi perbaikan jalan yang dilakukan TNI di desa Kalisegoro. apalagi saat ini sudah memasuki musim kemarau sangat tepat untuk pengerjaan jalannya. “Dulu waktu hujan pasti sering “mbletok” (tanah liat) jalannya. sehingga dengan jalan yang telah dipaving diharapkan tidak lagi seperti dulu. warga tidak was-was ketika lewat,”imbuhnya. (NAP)

TMMD, Kodim 0733 Semarang Kampanyekan Program KB

Salah seorang warga Kalisegoro Gunungpati mendapat sosiliasi Program Keluarga Berencana pada TMMD Reguler 99 TA 2017 yang digelar Kodim 0733 Semarang.
(Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Masyarakat Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati Semarang akhirnya menyadari betapa pentingnya program Keluarga Berencana bagi keluarga. Bukan saja untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk, namun juga untuk menjaga kesehatan organ reproduksi serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Sedikitnya ada 100 masyarakat Kalisegoro yang mengikuti Penyuluhan dan 35 orang mendapatkan Pelayanan Pemasangan Alat Kontrasepsi KB Gratis yang dilakukan Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Semarang. Penyuluhan digelar Kamis (13/7/2017) di Balaidesa Kalisegoro dalam rangkaian kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler 99 TA 2017.

Sumarni (32) salah satu peserta KB yang ikut memasang implant mengaku semakin mantab mengikuti KB setelah mendapatkan penyuluhan. “Sebenarnya sudah ingin KB pada tahun lalu, tapi kini semakin mantab karena anak sudah dua. Bayangan saya kalau tidak ikut KB dan nambah anak, nantinya akan semakin berat menanggung beaya kebutuhannya, seperti sekolah dan lainnya”, ungkap Sumarni.

Mayor Caj (K) Opik Hopiah SH, Pasipers Kodim 0733 BS Semarang yang mendampingi pelaksanaan Penyuluhan dan Pemasangan Alat Kontrasepsi KB mengatakan kesadaran masyarakat akan KB semakin tinggi. “Mereka sudah memahami manfaat KB bagi kesehatan maupun keluarga. Umumnya mereka perlu adanya pihak yang bisa mendorong agar lebih yakin dan mantap untuk sesegera mungkin ber-KB”, ujar Mayor Caj (K) Opik Hopiah SH.

Selanjutnya diluar momentum TMMD, Kodim 0733 BS Semarang yang memiliki 351 Bintara Pembina Desa (Babinsa) akan terus mendorong masyarakat agar sadar KB. “Para Babinsa yang juga dibekali kemampuan penyuluhan KB akan dioptimalkan di wilayah masing-masing dalam rangka mendorong kesadaran ber-KB”, ungkap Mayor Caj (K) Opik Hopiah mewakili Dandim 0733 BS Semarang. (nap)

TMMD Kodim 0733 Lakukan Pavingisasi di Kalisegoro Gunungpati.

Personel TNI dan warga bahu membahu memperbaiki jalan dalam program TMMD di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Puluhan TNI dengan baju doreng, Kamis (13/07) bersama warga RT 06 RW II bergotong royong melakukan pavingisasi jalan warga sepanjang 200 M persegi dalam rangka TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) Kodim 0733 Semarang. Kegiatan pavingisasi ini merupakan salah satu dari program TMMD yang dilakukan di Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati Semarang.

Kordinator lapangan TMMD Kodim 0733 Semarang Kapten Inf Suradi menjelaskan pavingisasi akses jalan warga ini lantaran mendapat masukan dari masyakat ketika melakukan survei. Diakuinya kendala akses jalan yang tidak layak dilalui sering dikeluhkan masyarakat sekitar. Rusaknya kondisi jalan mendapat perhatian dari tim TMMD. 

“Belum semua jalan warga mendapat sentuhan dari pemerintah, oleh karena itu kami hadir juga dalam rangka membantu Pemkot Semarang untuk memberikan pelayanan akses jalan yang memadahi. kami lihat juga masih banyak jalan yang tanah liat,” terangnya.

Suradi berharap agar kedepan pemkot dapat segera membenahi akses jalan yang belum terkondisi dengan baik. hal itu lantaran TMMD hanya berlangsung singkat 30 hari saja. “Sehingga sisanya kami berharap kepada pemkot Semarang,”imbuhnya. (nap)

 

Begini Harapan Bupati Musthofa Terhadap Lulusan STAIN Kudus

Bupati Kudus Musthofa dalam penandatangan MoU di bidang pendidikan, pelatihan, dan pengabdian masyarakat (P3M) dengan STAIN Kudus. (Foto : Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa menaruh harapan besar terhadap para lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Diharapkan, para lulusan ini bakal bisa menjadi calon pemimpin yang mempunyai performa kekinian dan berjiwa agamis.

Hal ini disampaikan Musthofa saat penandatanganan MoU antara Pemkab Kudus dengan STAIN Kudus, Kamis (6/7/2017). Kerja sama ini digelar dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan pengabdian masyarakat (P3M).

Dalam sambutanya Musthofa berharap kerja sama ini bisa segera terimplementasi dengan baik. Agar segera bisa memberikan manfaat secara nyata secara luas, termasuk manfaat bagi masyarakat.

Menurut dia, mahasiswa STAIN dengan basic agama, bisa menjadi modal penting bagi keberhasilan dalam segala hal. Dikatakannya, mahasiswa jangan hanya bergantung dari kampus secara normatif. Tetapi ilmu yang didapat sebagai landasan integritas bagi dirinya.

“Saya berharap nantinya jadi lulusan STAIN yang kekinian. Dan harus memiliki performance yang baik,” pesannya.

Musthofa menyebut, sebagai calon pemimpin harus memiliki penampilan yang bagus, hati dan jiwa yang bersih, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta dermawan. Artinya mudah dan ringan tangan untuk membantu apabila ada yang membutuhkan.

“Untuk pengembangan diri, jangan hanya berpikir normatif. Tetapi berpikirlah secara liar untuk memiliki kualitas diri yang lebih,” imbuhnya.

Ketua STAIN Dr Fathul Mufid. Menurutnya potensi mahasiswa yang lebih dari 10.000 orang ini potensi yang luar biasa. Apalagi mamfaat dari integrasi ilmu ini bisa membawa kemajuan umat dan bangsa Indonesia.

Puket Akademik STAIN Kudus Dr Saekhan Muchit menyebut, kerja sama ini akan mendukung harapan lulusan STAIN sebagai insane yang cerdas dan kreatif. Ia pun menyampaikan terima kasih pada Bupati Kudus yang berkomitmen terhadap pendidikan keagamaan. (nap)

Editor : Ali Muntoha

TMMD di Kalisegoro Gunungpati, Kodim 0733 Semarang Terjunkan 150 Personel

Personel TNI dan warga bahu membahu memperbaiki jalan dalam program TMMD di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Kodim 0733 BS Semarang menerjunkan sedikitnya 150 personel TNI untuk melaksanakan program TMMD Reguler ke 99 tahun 2017 di Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Koordinator Lapangan TMMD Kapten Inf Suradi mengatakan, personel yang diterjunkan terdiri dari, bebebagi kesatauan, diantaran Kodim, Arhanudse, Yonkav, Zeni, dan lainnya. “Total kita terjunkan 150 personel,” ujarnya, Rabu (5/7/2017) saat meninjau lokasi TMMD.

Dia menjelaskan, selain personel dari TNI juga dibantu masyarakat sekitar. Hal itu membuktikan kedekatan TNI dengan masyarakat.

Menurut Kapten Inf Suradi, seluruh personel diterjunkan untuk membantu masyarakat untuk melakukan berbabgai kegiatan mulai dari pembangunan fisik dan non fisik. “Sasaran kita adalah rumah tidak layak huni, pembangunan jalan dan jembatan, serta dibidang kesehatan,” ucapnya.

Ia menambahkan, selama berjalannya program TMMD beberapa program di bidang kesehatan yang akan dilakukan, diantaranya adalah pengobatan gratis, sampai penyuluhan di bidang kesehatan.

Sementara itu, untuk program fisik dilakukan program bedah rumah terhadap 20 rumah tidak layak huni milik warga kurang mampu. Selain itu juga ada pembangunan jalan dan jembatan, rehap tempat ibadah serta fasilitas umum.

Dandim mengatakan, program TMMD dalam bentuk pembangunan fisik menjadi bukti kedekatan TNI dangan masyarakat. “Pembangunan infrastruktur dan sarana dan prasarana daerah tertinggal, adalah salah satu tujuan  program TMMD,” terangnya. (NAP)

TMMD Fokus Infrastruktur dan Kesehatan Masyarakat

Personel TNI dan warga bahu membahu memperbaiki jalan dalam program TMMD di Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) yang dilakasanakan Kodim 0733/ BS Semarang di Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang fokus pada pembangunan fisik dan kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, selama TMMD berlangsung yakni mulai Selasa (4/7) sampai Rabu (2/8), TNI akan melakukan berbagai kegiatan.

Komandan Kodim 0733 BS Semarang Kolonel Inf Zaenul Bahar mengatakan, program TMMD TNI ini, sejalan dengan cita-cita pemerintah, membangun desa dan menata kota. Utamanya pembangunan infrastruktur pedesaan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” katanya saat pembukaan TMMD Reguler ke 99 tahun 2017 di Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati, Selasa (4/7).

Ia menjelaskan, beberapa program di bidang kesehatan yang akan dilakukan, diantaranya adalah pengobatan gratis, sampai penyuluhan di bidang kesehatan.

Sementara itu, untuk program fisik dilakukan program bedah rumah terhadap 20 rumah tidak layak huni milik warga kurang mampu. Selain itu juga ada pembangunan jalan dan jembatan, rehap tempat ibadah serta fasilitas umum.

Dandim mengatakan, program TMMD dalam bentuk pembangunan fisik menjadi bukti kedekatan TNI dangan masyarakat. “Pembangunan infrastruktur dan sarana dan prasarana daerah tertinggal, adalah salah satu tujuan  program TMMD,” terangnya. (NAP)

Sajian Kian Lengkap, Bupati Kudus Apresiasi Tradisi Sewu Kupat

Bupati Kudus Musthofa saat melakukan tradisi sewu kupat, Miggu (2/7/2017). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa mengapresiasi tradisi sewu kupat tahun ini. Orang nomor satu di Kota Kretek ini bahkan menyebut tradisi tahunan itu mencapai puncaknya tahun ini.Itu lantaran sajian tradisi sewu kupat tahun ini semakin bagus. Pernyataan tersebut diungkapkan Musthofa pada media saat acara tersbt digelar di Taman Ria Colo, Dawe, Minggu (2/7/2017). 

Musthofa mengatakan, tradisi Parade Sewu Kupat Kangjeng Sunan Muria ini digelar tiap tanggal 8 Syawal. Tujuannya untuk ngalap berkah salah satu walisongo pada tahun ini luar biasa. 

“Kami bersama para penggagas sewu kupat inilah yang memunculkan tradisi ini. Bersama saya, di tangan merekalah kreativitas tradisi ini lahir,” kata Bupati Kudus sebagai penggagas sewu kupat yang namanya tercatat pada sebuah batu prasasti tentang tradisi ini.

Seusai penyerahan piagam bagi penggagas tradisi ini, lebih lanjut bupati mengatakan bahwa tradisi yang sudah sepuluh tahun ada di Colo ini sebagai wujud rasa syukur atas limpahan berkah dari Allah SWT. Kekayaan alam dan budaya tentu butuh kesadaran semua pihak untuk melestarikan dan mengembangkannya.

“Kami ingin, potensi dan budaya yang ada di Kudus/Muria ini dikenal luas. Dari Kudus menuju Indonesia untuk menguasai dunia,” harapnya.

Sebagai wujud pelestarian budaya di Muria ini, Bupati Kudus menyerahkan buku ‘Mitologi Ritual di Kaki Muria’ pada Dinas Dikpora dan berbagai sekolah. Harapannya, anak-anak bisa menghargai budaya sebagai potensi keberkahan dan ritual yang tidak boleh dilupakan dan harus dilestarikan.

“Terima kasih semua pihak. Sewu kupat dengan makna jamak tentang kebersamaan ini harus tetap dilestarikan sampai kapanpun,” pungkasnya yang berharap Muria dan Kudus ini menjadi pusat hadirnya para wisatawan dari berbagai daerah.

Editor: Supriyadi