Inovasi Kudus Diapresiasi Lembaga Administrasi Negara

Bupati Kudus Musthofa saat berbicara di depan publik di Workshop Laboratorium Inovasi Daerah dan Launching Inovasi Kabupaten Kudus Kerja Sama Antara Pemkab Kudus dengan LAN, di gedung Setda Kudus, Rabu (26/7/2017). (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Lembaga Administrasi Negara (LAN) sangat mengapresiasi Kabupaten Kudus sebagai salah satu kota yang tak berhenti berinovasi.

Demikian disampaikan oleh Kepala LAN Ady Suryanto saat acara Workshop Laboratorium Inovasi Daerah dan Launching Inovasi Kabupaten Kudus Kerja Sama Antara Pemkab Kudus dengan LAN, di gedung Setda Kudus, Rabu (26/7/2017).

Bupati Kudus Musthofa hadir bersama Kepala LAN Ady Suryanto, dengan dihadiri asisten sekda dan seluruh kepala OPD, termasuk para lurah. Acara bertujuan agar OPD memunculkan inovasi yang bermanfaat bagi publik.

“Kalau ingin belajar inovasi. Contohlah Kudus. Pak Musthofa ini perlu direplikasi,” kata Ady yang mengatakan salah satu kunci sukses inovasi adalah leadership.

Ady berpesan agar bupati dan OPD mau berbagi inovasi yang ada. Supaya bisa memberikan inspirasi bagi daerah lain, serta bermanfaat secara lebih luas.

Saat ini, ada 39 daerah baru yang akan menyusul melakukan hal serupa Kudus. Tentu ini merupakan hal positif untuk memperbaiki kualitas birokrasi di Indonesia. Diharapakan itu semua akan mampu menyejajarkan diri di tingkat internasional.

Musthofa mengajak jajarannya untuk berpikir liar. Tentunya liar di sini adalah berpikir positif. Yakni keluar dari bingkai normatif yang menghasilkan manfaat nyata.

“Mengapa? Karena di dunia ini tidak ada yang abadi. Kecuali perubahan yang tentunya membutuhkan gagasan-gagasan cerdas,” kata orang nomor satu di Kudus ini.

Bupati terus mendorong jajarannya berinovasi. Bahkan ada beberapa yang sudah membuahkan prestasi. Di antaranya Dinas Dukcapil dan BLUD RSUD dr Loekmono Hadi.

“Jangan takut salah. Teruslah berinovasi, meski berpikir liar, asalkan jangan melanggar aturan,” ujarnya. (nap)

Editor : Akrom Hazami

 

 

1 Bulan, Kudus Raih 4 Penghargaan, HEBAT!

Bupati Kudus Musthofa saat memberikan keterangan soal prestasi yang diraih Kudus. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus meraih empat penghargaan pada satu bulan terakhir ini. Tentu hal itu amat membanggakan bagi Kota Kretek. Mengingat, semua itu berujung pada pelayanan yang baik untuk masyarakat.

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, penghargaan yang diraih sebenarnya bukan untuk dibanggakan. Tapi memang hal itu merupakan kewajiban pelayanan. Pada jumpa pers terkait prestasi ini di pendapa kabupaten setempat, Senin (24/7/2017). Musthofa didampingi kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) penerima penghargaan. Di antaranya Dinas Kesehatan yang menerima Paramesti atas penataan kawasan tanpa rokok.

Penghargaan yang diraih dari Kementerian Kesehatan ini buah dari kebijakan penataan kawasan tanpa rokok. Yang diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) dan segera akan ditindaklanjuti dengan penetapan Peraturan Daerah (Perda).

Tampak pula Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, serta Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Perlindungan Penduduk, dan Keluarga Berencana.

“Dukcapil dapat penghargaan atas inovasi 2 in 1 untuk percepatan pelayanan kependudukan. Yaitu begitu bayi (yang sah) lahir langsung dapat KK dan akte kelahiran,” kata Musthofa.

Penghargaan lain yakni Bakti Koperasi dan UKM dari Kementerian Koperasi dan UKM, serta yang terakhir yakni Kabupaten/ Kota Layak Anak Tahun 2017. Penghargaan kependudukan dan Kabupaten Layak Anak diberikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Dia tidak membatasi Kepala OPD dalam berkreasi. Semuanya diberikan kebebasan berinovasi bagi semua OPD asalkan semuanya bisa memberikan manfaat secara nyata kepada masyarakat.

Mengenai penghargaan tentang bakti koperasi dan UKM, Musthofa menuturkan semua koperasi harus bisa memberikan imbas dan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan. Untuk itu koperasi harus selalu dalam kondisi yang sehat.

“Tidak perlu kuantitas yang banyak. Tetapi bagaimana koperasi yang ada dalam kondisi sehat yang bisa memberikan kesejahteraan pada semua anggota,” imbuhnya.

Terkait Kota Layak Anak, dia menyebut kondisi di Kudus ini bagus untuk perkembangan anak. “Mulai dari fasilitas bermain yang ada, tempat edukasi, hingga fasilitasi dari pemkab,” ujarnya.

Musthofa meminta seluruh OPD menunjukkan kinerja yang terbaik dalam melayani. Ucapan terima kasih diberikan pada semua pihak termasuk media yang telah memberikan informasi secara luas. (nap)

Editor :  Akrom Hazami

 

Anak-anak Ini Yakin Jika Lubang di Stasiun Wergu Bekas Tembakan Belanda

Anak-anak mengamati bagian atas Stasiun Wergu Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Kisah tentang Stasiun Wergu Kudus yang diserang dengan cara ditembaki saat terjadi Agresi Militer I Belanda, memang belum banyak diketahui. Termasuk generasi muda.

Ini yang dialami anak-anak yang tergabung dalam Omah Dongeng Marwah. Mereka mencoba menelusuri bahwa, Stasiun Wergu memang menjadi bagian dari sejarah perjuangan Indonesia.

“Saya juga baru tahu soal itu. Makanya saya penasaran juga ingin tahu. Kayaknya memang keren sekali bahwa Kudus menjadi bagian dari sejarah perjuangan Indonesia,” kata Eka, salah satu siswa SMP Kudus, yang ikut dalam acara observasi dan diskusi mengenai Stasiun Wergu, Jumat (21/7/2017).

Dia bersama-sama dengan rekan, mencoba menghitung lubang yang ada di kaca bekas stasiun tersebut. Satu persatu lubang-lubang tersebut dihitung oleh mereka. Tujuannya mengetahui dengan persis, berapa jumlah lubang yang sebenarnya.

Namun, meski menghitung bersama-sama, jumlah yang didapat ternyata berbeda-beda. Ada yang berjumlah 100 buah, ada yang 120 buah, ada yang jumlahnya kurang dari itu. 

Belanda sendiri, menyerang Stasiun Wergu dengan pesawat Mustangnya, 70 tahun yang lalu. Pesawat sendiri datang dari arah timur, menuju ke barat. Padahal, Stasiun Wergu juga dibangun Belanda dahulunya. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. 

Meski hitungannya berbeda-beda, namun anak-anak itu meyakini jika lubang-lubang itu bekas tembakan. Mereka memiliki analisanya sendiri, kenapa mereka percaya bahwa itu adalah lubang bekas tembakan.

“Kan, lubangnya memiliki ciri khas tersendiri. Lubang itu memiliki retakan yang tersebar. Kayak kalau kita gambar matahari yang mekar di sekelilingnya,” kata Dharma, siswa SMP lainnya, yang ikut dalam kegiatan tersebut. 

Sedangkan pengamat sejarah,Edy Supratno mengatakan, pihaknya juga meyakini jika lubang tersebut adalah bekas tembakan. “Ditambah lagi, stasiun ini belum direnovasi usai peristiwa tersebut. Makanya saya yakin bahwa itu bekas-bekasnya,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

PKL CFD Kudus Halal Bihalal dengan Bupati  

Bupati Kudus Musthofa saat menyampaikan sambutannya di hadapan PKL di pendapa pemkab setempat. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Para PKL Car Free Day (CFD) Kudus mendapatkan kesempatan bertemu dengan Bupati Kudus Musthofa di Pendapa Kabupaten Kudus, Jumat (21/7/2017) sore.

Bupati Kudus Musthofa yang hadir bersama forkopinda dan pejabat pemkab ini mengatakan bahwa para PKL dan para pedagang CFD sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan. Mereka merupakan bentuk kemandirian ekonomi pedagang. “Secara pribadi bersama seluruh pejabat saya mengucapkan maaf atas semua kesalahan. Termasuk dalam melayani seluruh masyarakat,” katanya.

Bupati menambahkan bahwa dirinya berpesan pada seluruh pedagang agar tetap menjaga kebersihan dan ketertiban kota Kudus. Karena pemkab sudah menata kota dengan berbagai taman yang cantik. “Kutitipkan kebersihan kota pada Bapak dan ibu semua. Jangan sampai Kudus menjadi kota sampah,” pesannya.

Di akhir sambutan, Bupati meminta semua pedagang tetap menjaga kekompakan. Tidak mengedepankan ego untuk menang sendiri. Bahkan kalau perlu dibentuk kelompok per area.

Menjawab mengenai tambahan jam CFD, Bupati melalui Dinas Perhubungan menyetujui tambahan satu jam. Namun sebelum batas waktu berakhir, pedagang sudah mengemasi seluruh dagangan.

Ketua paguyuban pedagang CFD Nono Ani Sulastri mengatakan bahwa bupati ini adalah sosok yang peduli pada pedagang termasuk pedagang di CFD. Karena itulah tidak salah apabila disebut sebagai Bapaknya pedagang. “Terima kasih, Pak Musthofa. Atas kesempatan yang diberikan pada kami bisa berjualan di CFD Kudus ini,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

Sam’ani: Pak Bupati Kudus Belum Mengizinkan Saya

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kandidat kuat calon bupati Kudus yang digadang-gadang maju pada pilkada 2018 mendatang, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris punya pengakuan jujur, kenapa dirinya tidak akan mencalonkan diri.

Menurut Sam’ani, sejak awal dirinya memang tidak ingin maju dalam pemilihan kepala daerah tersebut. “Jujur, saya tidak (ingin nyalon),” katanya usai jumpa pers di Green Cafe, Jumat (21/7/2017). 

Pria yang hari ini berulang tahun itu, memang tidak mengatakan banyak hal, terkait dengan tidak majunya dia pada pilkada ini. Hanya menegaskan jika, dirinya masih ingin mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS). “Saya masih 12 tahun lagi pensiun. Jadi, saya laksanakan dulu tugas dan fungsi saya sebagai PNS sebaik-baiknya,” jelasnya.

Alasan masih berstatus PNS itu, menjadi salah satu alasan kenapa dia tidak mencalonkan diri. Selain enam alasan lain seperti, belum mendapat restu orang tua, bukan orang partai, bermodal pas-pasan, atau tidak mempunyai rekomendasi.

Oran tua, menurut Sam’ani, bukan hanya merujuk kepada kedua orang tuanya saja, melainkan juga kepada atasannya. Yakni Bupati Kudus. “Atasan itu juga termasuk orang tua lho, ya. Dan memang pak bupati belum memberikan izin. Makanya menjadi salah satu alasan,” katanya.

Sam’ani sendiri memutuskan bahwa 93% dirinya tidak akan maju sebagai calon bupati. Sedangkan 7%, tergantung kepada rahasia dan keajaiban Allah SWT.

Terkait dengan para pendukungnya yang selama ini menginginkannya maju, Sam’ani mengatakan lebih dini mereka mengetahui keputusannya tidak mencalonkan diri itu, akan lebih baik. “Karena mereka sudah tahu sejak awal. Daripada nanti-nanti, malah membuat mereka makin kecewa. Lebih baik sekarang,” jelasnya.

Namun Sam’ani menegaskan bahwa dirinya sudah memberikan penjelasan kepada pendukungnya, untuk mengerti dan memahami keputusannya itu. “Semua sudah memahaminya,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Bermodal Pas-pasan, Sam’ani Pastikan Tak Nyalon Bupati Kudus

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu kandidat yang digadang-gadang maju sebagai bakal calon bupati Kudus, pun bersuara. Adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris, yang menyatakan dirinya tidak akan maju dalam pesta demokrasi tahun 2018 mendatang.

Dalam jumpa pers yang digelar Jumat (21/7/2017), di Green Cafe, Sam’ani mengatakan bahwa dirinya tidak akan maju sebagai calon bupati. “Keputusan saya ini sudah bulat. Saya 93% tidak akan menyalonkan diri sebagai calon bupati pada pilkada mendatang,” katanya di hadapan sejumlah wartawan.

Sam’ani mengatakan, 93% opsi tidak mencalonkan diri itu, didasari pada beberapa pertimbangan. Setidaknya ada tujuh poin kenapa dirinya memutuskan untuk tidak mencalonkan diri.

Pertimbangan itu adalah belum ada restu orang tua (bapak dan ibu), masih pegawai negeri sipil (PNS) aktif, bukan orang partai, tidak mempunyai rekomendasi, modal pas-pasan, pertimbangan apa mampu jadi bupati, dan mempertimbankan antara manfaat atau mudharatnya.

Sedangkan pertimbangan 3% sisanya adalah soal rahasia dan keajaiban Allah SWT. “Memang begitulah. Saya sudah mempertimbangkannya dengan matang-matang soal ini (untuk tidak maju). Kalau alasan yang tujuh sebelumnya tadi bisa gugur, maka yang 3% juga kemungkinan masih dipertimbangkan lagi (untuk maju),” paparnya.

Namun tidak dipungkiri Sam’ani bahwa aturan soal PNS yang harus mengundurkan diri saat akan nyalon bupati, juga menjadi salah satu pertimbangan penting. 

“Saya masih 12 tahun lagi menjadi PNS. Maka dari itu, saya memutuskan untuk menjalankan tugas dan fungsi saya sebagai PNS dengan sebaik-baiknya saja,” tegasnya.

Sam’ani sendiri, adalah salah satu sosok disebut-sebut menjadi calon kuat jadi Bupati Kudus, dari kalangan birokrat. Selain Sam’ani, nama lainnya adalah Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kudus, Sumiyatun. Bahkan, Sumiyatun mengklaim sudah didukung pengurus anak cabang PDIP Kudus. 

Editor : Akrom Hazami

 

Beri Sinyal Didukung Partai Hijau, MU Masih Simpan Rapat Namanya

Haryanto (tengah), dalam jumpa pers yang digelar untuk mengumumkan Tim Adhoc Pemenangan MU dalam Pilkada Kudus 2018 mendatang, di kediaman MU, Jumat (21/7/2017).
(MuriaNewsCom/ Merie)ca

MuriaNewsCom, Kudus – Umar Ali alias Mas Umar (MU) memantapkan dirinya untuk maju sebagai calon bupati pada Pilkada Kudus 2018. Meski mengklaim bahwa dirinya sudah didukung beberapa partai politik (parpol), namun parpol mana saja itu, masih disimpan rapat.

Koordinator Tim Adhoc Pemenangan MU Haryanto mengatakan, memang pihaknya belum akan mengeluarkan nama-nama parpol yang mendukung pencalonan MU. ”Nanti saja kalau kemudian rekomendasi sudah di tangan, baru kita berani untuk mendeklarasikannya. Tapi sekarang, kami terus melakukan koordinasi,” jelasnya, Jumat (21/7/2017).

Namun Haryanto membenarkan jika memang pihaknya didekati partai-partai ”hijau” yang memiliki kursi di Kudus ini. Namun, soal kepastian rekomendasinya, memang masih menunggu pembicaraan lebih lanjut.

”Kalau partai hijau memang banyak sekali kabarnya. Namun, kita tidak menutup kemungkinan semua parpol untuk bisa mendukung kami. Karenanya, kita gencar melakukan koordinasi. Termasuk saat ini, Mas Umar pergi ke luar kota untuk urusan itu,” tuturnya.

Haryanto juga membenarkan bahwa sudah ada satu parpol yang 90% mendukung MU. Hanya, pihaknya tidak ingin terburu-buru mengumumkan hal tersebut. ”Kami masih melihat dinamika yang berkembang saat ini. Namun yang 90% tadi, memang sudah kami kantongi,” katanya.

Ditegaskan Haryanto, jika MU hanya akan maju sebagai calon bupati. Dan bukan sebagai calon wakil bupati. Hal ini sudah merupakan niat kuat dan tekad dari yang bersangkutan. ”Tetap maju sebagai calon bupati. Tidak yang lain,” tegasnya.

MU juga belum akan berbicara mengenai siapa yang akan mendampinginya nanti dalam pencalonan. Meski begitu, pihaknya membuka semua kalangan untuk bisa menjadi calon pendamping MU. ”Kita akan berbicara mengenai pendampingnya, setelah soal rekomendasi ini selesai. Sehingga itu dulu yang akan kita intensifkan,” katanya.

Selain itu, Haryanto menambahkan jika tugas lain yang juga menjadi prioritas adalah mengenalkan MU hingga ke akar rumput. Sehingga seluruh masyarakat Kudus mengenal yang bersangkutan.

”Kami akui bahwa belum semua warga Kudus mengenal MU. Sehingga tugas kami adalah bagaimana meningkatkan kepopuleran itu terlebih dahulu. Kami juga sudah menggandeng lembaga survei untuk bisa melaksanakan tugas tersebut. Hanya memang itu adalah untuk keperluan internal kami sendiri. Yang jelas, MU sudah melakukan serangkaian pendekatan secara personal dengan berbagai kalangan masyarakat. Dan itu lebih efektif untuk sekarang,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Calon Bupati Kudus Mas Umar Tunjuk Haryanto jadi Ketua Tim Pemenangan

Haryanto (kiri), dalam jumpa pers yang digelar untuk mengumumkan Tim Adhoc Pemenangan MU dalam Pilkada Kudus 2018 mendatang, di kediaman MU, Jumat (21/7/2017). (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Keseriusan Umar Ali atau yang dikenal sebagai Mas Umar (MU) untuk maju sebagai calon bupati Kudus pada Pemilukada 2018 mendatang, semakin tampak dengan ditunjuknya tim yang akan memenangkan pencalonannya.

Secara resmi, MU menunjuk H Haryanto sebagai koordinator Tim Adhoc Pemenangan MU pada pemilukada mendatang. Ini dilakukan sebagai upaya agar seluruh aktivitas dan statement mengenai MU, bisa berasal dari satu pintu.

”Saya memang sudah resmi ditunjuk Mas Umar untuk menjadi koordinator tim pemenangan. Meski memang masih secara adhoc, ya. Nanti kalau misalnya rekomendasi sudah turun, maka akan ada tim resmi lagi yang menangani,” terang Haryanto, dalam jumpa pers di kediaman MU, Jumat (21/7/2017).

Tugas tim ini, menurut Haryanto yang merupakan pengusaha, adalah bagaimana mengkomunikasikan semua yang dibutuhkan MU guna memuluskan langkahnya, maju di pilkada. Termasuk salah satunya berkomunikasi dengan partai-partai yang ada di Kabupaten Kudus, demi dukungan yang dibutuhkan.

Haryanto mengatakan, kebutuhan tim ini sendiri dianggap mendesak. Seiring dengan popularitas MU yang terus naik, maka perlu tim yang tepat untuk menangananinya. ”Artinya, partai atau masyarakat, bisa melewati satu pintu yang terpercaya, jika kemudian berbicara mengenai MU. Dan saya siap untuk itu,” tegasnya.

Dinamika dan konstelasi politik menjelang Pilkada Kudus, sebagaimana dikatakan Haryanto, berlangsung dengan cepat dan masif. Sehingga semua harus bisa disikapi dengan baik. ”Karena memang sampai sekarang, kita masih terus melakukan pendekatan dengan semua elemen masyarakat, untuk mendukung MU maju sebagai calon bupati,” paparnya.

Kemunculan MU, disebut Haryanto ternyata dapat diterima dengan baik masyarakat luas. Indikasinya adalah dengan makin banyaknya dukungan dari berbagai komunitas yang ada di Kudus.

Selain itu, dorongan beberapa stakeholder yang ada, juga menambah bukti bahwa kehadiran MU memang diharapkan. Selain tentu saja, respon partai politik (parpol) yang baik dengan munculnya nama MU. ”Apalagi, progres dukungan masyarakat setiap hari mengalir deras kepada MU. Ini yang membuat kami semakin yakin akan pencalonan MU ini,” katanya.

Ditanya mengenai strategi pemenangan yang akan dilakukan tim terhadap MU, Haryanto mengatakan jika hal itu masih rahasia. Namun, yang akan dilakukan tim dalam waktu dekat, adalah melakukan survei terhadap elektabilitas MU.

”Ya, kami sudah menggandeng salah satu lembaga survei untuk melaksanakan ini. Karena bagaimanapun, survei bagi kami penting, untuk mengetahui dengan tepat, bahwa MU memang layak untuk masyarakat Kudus,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Melon MU Siap Gempur Pasar Timur Tengah

Mas Umar, direktur PT Saka Dwipa Argo, mengecek melon hidroponik yang memasuki panen kelima, di kebun miliknya, Senin (3/7/2017). (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Hasil pertanian atau agrobisnis memang sudah banyak membuat nama Kabupaten Kudus terkenal di berbagai daerah atau negara. Dan kali ini, satu lagi produk pertanian asal Kudus yang siap untuk menggempur pasar Timur Tengah.

Produk itu adalah melon. Namun berbeda dengan melon lainnya, melon hasil budidaya pengusaha atau entrepreuner Umar Ali asal Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, ini, memiliki kualitas di atas rata-rata melon biasanya.

Salah satu pembedanya adalah melon ini dikembangkan dengan cara hidroponik, alias tanpa menggunakan komponen tanah sama sekali. ”Sehingga kualitasnya memang beda. Meski sama-sama berasal dari tipe golden melon, tapi kita memproduksinya dengan hidroponik. Sesuatu yang belum dilakukan di Kudus ini,” jelas Umar Ali, yang biasa disapa Mas Umar (MU) ini.

Direktur PT Saka Dwipa Argo ini mengatakan, dengan sistem hidroponik tersebut, kualitas melon yang dihasilkan memang berbeda. Yakni lebih manis, renyah, namun dengan kandungan air yang sedikit.

”Inilah yang disukai masyarakat di Timur Tengah. Alias Arab sana. Mereka tidak suka dengan melon yang terlalu banyak air, atau yang musk melon asal Jepang yang dagingnya berwarna putih itu. Mereka sukanya yang golden melon ini,” terangnya.

Bukan tanpa alasan jika kemudian nama Timur Tengah disebut MU. Menurutnya, pangsa pasar di sana memang sangat bagus untuk jenis melon yang dihasilkannya. Terbukanya pasar di sana itulah, yang coba dibidik MU.

Apalagi, melon yang dihasilkan lewat sistem hidroponik ini, bisa berbuah sepanjang tahun. Tidak mengenal musim. Sejak memproduksinya pada pertengahan tahun 2016 silam, sudah lima kali lahan pertanian melonnya bisa dipanen.

”Jadi sepanjang tahun, kita bisa makan melon ini. Kita bisa panen. Bayangkan setiap dua bulan, kita panen terus. Ini kan, sesuatu yang menguntungkan. Ditambah pangsa pasar yang masih terbuka luas,” tegasnya.

Potensinya yang masih besar untuk dikembangkan inilah yang membuat MU menanam melon dengan sistem hidroponik. Dirinya juga berkeinginan supaya masyarakat sekitarnya, bisa tertarik untuk ikut serta dalam bertanam melon.

”Kita kan, memang sudah terkenal dengan produksi pertanian. Namun, saya berkeinginan supaya melon ini menjadi produk agrobisnis unggulan. Sehingga masyarakat juga bisa merasakan hasilnya yang berkepanjangan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Serunya Momen saat Rama dan Sinta Pawai Lebaran

Salah satu peserta pawai yang menyita perhatian adalah perwakilan dari salah satu komunitas pemuda yang menampilkan tema lakon pewayangan Rama dan Sinta. (MuriaMewsCom/Merie)

MuriaNewsCom,Jepara – Lebaran memang momen yang menggembirakan. Karenanya patut dirayakan dengan kemeriahan yang berbeda.

Itulah yang terlihat saat warga Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, menggelar pawai malam Lebaran di desa mereka.

Bukan saja iringan musik yang memeriahkan malam Lebaran, namun pawai dengan berbagai tema, juga turut ditampilkan di sana. Suasananya jelas sangat meriah, menambah semarak suasana Lebaran di desa tersebut.

Salah satu peserta pawai yang menyita perhatian adalah perwakilan dari salah satu komunitas pemuda desa tersebut, yang menampilkan tema lakon pewayangan Rama dan Sinta. 

Menjadi menarik karena dua orang yang didapuk menjadi figur Rama dan Sinta, dinaikkan kereta kencana, layaknya raja dan ratu. Mereka lantas diarak keliling desa. Dimulai dari masjid di kawasan tersebut, sampai ke lokasi finish di depan balai desa.

Warga yang melihat kedua figur tersebut, memang memuji mereka. Karena warga melihat bahwa karakter tersebut sangat unik dan berbeda di antara peserta pawai lainnya.

“Unik saja peserta yang satu itu. Karena menampilkan sesuatu yang merupakan seni dan budaya, dipadukan dengan musik yang harmonis. Sangat menghibur juga,” kata Reza Ahmad, salah satu warga setempat.

Selain kedua tokoh tersebut, banyak tema-tema lain yang ditampilkan dalam pawai tersebut. Satu persatu mereka diarak melalui rute yang sudah ditentukan panitia.

Wajar jika kemudian peserta pawai menampilkan tema-tema yang menarik. Pasalnya, atraksi mereka juga dinilai dewan juri, dan akan membuat mereka menjadi juara.

Editor : Kholistiono

Kamu Tahu, Kartini Itu Ternyata Seorang Salesman yang Handal

Peserta diskusi peringatan Hari Kartini dengan tema ”Kartini, Apa Hebatnya”, berfoto bersama usai acara, yang berlangsung di Pendapa Kecamatan Pecangaan, Rabu (19/4/2017).(MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat mengenal Raden Ajeng (RA) Kartini barangkali lebih banyak hanya sebagai pahlawan emansipasi wanita, yang setiap tanggal kelahirannya, yakni 21 April, diperingati secara nasional.

Namun, pernahkan diketahui bahwa seorang Kartini rupanya adalah seorang salesman atau marketing yang handal? Terutama sekali di bidang pemasaran hasil-hasil mebel Jepara.

”Ya, Kartini itu seorang salesman yang handal. Dia memasarkan produk-produk mebel karya pengrajin atau masyarakat Jepara, kepada kenalannya yang kebanyakan adalah warga Belanda. Dan itu, laris sekali,”” jelas sejarawan asal Jepara, Abdi Munif, dalam acara diskusi peringatan Hari Kartini yang mengambil tema ”Kartini, Apa Hebatnya”, di Pendapa Kecamatan Pecangaan, Rabu (19/4/2017).

Dalam acara yang digagas Komunitas 94 (K-94) tersebut, Munif mengatakan bahwa Kartini menawarkan aneka produk kerajinan Jepara, baik meja, kursi, tempat tidur, dan aneka mebeler lainnya, kepada kenalannya yang notabene warga Belanda, yang ada di luar kota.

”Itu berlangsung dengan menggunakan surat sebagai alat korespondensi. Saat orang Belanda di Batavia memesan mebeler, mereka mengirimi Kartini surat, barang apa saja yang diinginkan. Dan kemudian Kartini akan meneruskan pesanan itu ke pengrajin. Setelahnya, Kartini akan membalas suratnya, dengan rincian harga dari mebeler tersebut. Dan Kartini, sama sekali tidak mengambil untung dari sana,” paparnya.

Karena itu, banyak orang Batavia, atau yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, mengenal baik karya mebel orang Jepara. Semangat Kartini inilah, yang menurut Munif, sudah ditiru banyak kaum perempuan di Indonesia. ”Termasuk di Jepara sendiri. Banyak perempuan yang berwirausaha. Dan banyak yang sukses,” katanya.

Inspirasi Kartini sebagai entrepreuner inilah yang kemudian menjadi salah satu hal yang membuat kaum perempuan di Indonesia, menjadi berbeda dulu dan sekarang. Munif mengatakan, sosok Kartini benar-benar seorang inspirator sejati.

”Padahal, Kartini itu kan hanya menginspirasi lewat kata-kata saja. Namun tengok saja apa yang terjadi sekarang. Apa yang disampaikan Kartini hanya lewat surat itu, sampai saat ini menjadi hal yang terus didengungkan kaum perempuan, untuk bisa memperbaiki nasib mereka,” kata pria yang juga aktivis dari Sanggar Berkahe Tiyang Sepuh (BTS) Mayong tersebut.

Munif menambahkan, di Indonesia hanya Kartini yang tanggal kelahirannya diperingati setiap tahunnya. Padahal, di Indonesia, banyak pahlawan perempuan lain yang tidak kalah hebatnya. ”Meski Kartini tidak mengangkat senjata melawan penjajah, namun yang dilakukannya mampu membuat pemikiran banyak orang berubah dalam melihat perempuan. Dan itu masih relevan sampai sekarang dan nanti. Sehingga Kartini itu seorang yang sangat istimewa,” imbuhnya.

Acara diskusi itu sendiri, dihadiri kalangan ibu-ibu penggerak PKK yang ada di Kecamatan Pecangaan, serta siswa-siswa sekolah. Dalam acara itu, peserta juga diminta menuliskan surat cinta untuk Kartini.

Editor: Kholistiono

Limbah RSUD Kudus Dianggap Meresahkan, Ini Tanggapan Direkturnya 

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus –  Direktur RSUD dr Loekmono Hadi, dr Aziz Achyar mengaku pihaknya telah mendapat laporan terkait adanya keluhan warga ihwal limbah rumah sakit yang meresahkan warga.

Tapi hal itu buru-buru ditampiknya. Selama ini, limbah yang dibuang RSUD tidak lagi beracun, dan berbahaya.

”Limbah yang dikeluarkan melalui saluran air tidak berbahaya dan sudah memenuhi ketentuan ambang batas. Limbah tersebut juga bukan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) karena sebelum keluar diuji dulu,” kata Aziz di Kudus, Kamis (9/3/2017).

Kendati demikian, pihaknya tidak mau diam begitu saja. RSUD akan menampung keluhan warga. Dalam waktu dekat, RSUD akan melakukan pertemuan dengan pemerintah Desa Ploso, serta warga.

Sesuai rencana, RSUD akan bertemu warga dan pemdes, Sabtu (11/7/2017). Sedianya, RSUD akan menjelaskan panjang lebar soal limbah yang keluar dari rumah sakit aman bagi lingkungan sekitar.

 

Editor : Akrom Hazami

Limbah RSUD Kudus Bikin Resah

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Limbah RSUD dr Loekmono Hadi Kudus bikin resah warga sekitar. Seperti yang dialami warga Desa Ploso, Kecamatan Jati. Diketahui, limbah mengalir ke permukiman desa itu. Akibatnya, bau tak sedap muncul serta mencemari air sumur dari rumah.

Hal ini diungkapkan Amin, salah seorang warga setempat. Dia memperkirakan air limbah yang mengalir mengarah ke permukiman. Adapun warnanya putih dan berbuih. “Aroma air juga tidak sedap. Sangat mengganggu warga,” kata warga RT II ini di Kudus, Kamis (9/3/2017).

Akibatnya, sumur milik warga menjadi berbau. Seluruh warga yang tinggal di sekitar RSUD tak lagi menggunakan air sumur. Mengingat baunya yang tidak sedap. ”Kami kini terpaksa harus menggunakan air PDAM karena air sumur sudah tidak layak lagi,” ungkap Amin.

Warga berharap RSUD mengecek hal itu. Supaya warga tak terus menerus mengalami persoalan limbah dari RSUD.

Kepala Desa Ploso, Bambang Giyata mengatakan warganya banyak yang mengeluh soal limbah RSUD. Pihaknya telah menyampaikan keluhan ke RSUD. ”Hanya sayangnya, RSUD masih belum memberikan tanggapan memuaskan,” kata Bambang.

Polusi udara yang ditimbulkan RSUD juga mengganggu warga sekitar. Meski pihak RSUD sudah meninggikan tembok pembatas. Tapi nyatanya hal itu tak mengurangi bau tak sedap.

Editor : Akrom Hazami

Fraksi di DPRD Kudus Ramai-Ramai Dukung Hak Angket RSUD Dr Loekmono Hadi

Sejumlah kendaraan parkir di halaman RSUD Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua Komisi D DPRD Kudus Mukhasiron mengatakan, mayoritas fraksi mendukung pengguliran hak angket RSUD dr Loekmono Hadi di Kudus, Senin (6/3/2017).

Tercatat, ada 12 anggota dari enam fraksi di DPRD Kudus telah membubuhkan tanda tangan sebagai pengusul hak angket. Sesuai tata tertib (Tatib) DPRD Kudus, hak angket bisa diusulkan paling sedikit tujuh orang anggota dari minimal dua fraksi. “Sudah ada 12 anggota yang setuju atas usulan hak angket,” kata Mukhasiron.

Banyak anggota DPRD yang menyatakan kesanggupannya mendukung digulirkannya hak angket. Adapun 12 anggota DPRD yang membubuhkan tanda tangan berasal dari Fraksi PKB, PDIP, Golkar, PAN, FHD, dan Nasdem. Fraksi PKS dan PBP.

Mereka akan segera bergabung untuk mendesak pimpinan segera membentuk panitia khusus (pansus). Banyaknya dukungan di internal DPRD Kudus untuk menggulirkan hak angket didasari atas banyaknya kritikan ke RSUD Kudus itu.

“Karena pelayanan rumah sakit menyangkut hajat hidup masyarakat Kabupaten Kudus secara luas, maka kami serius mengawal usulan hak angket ini, hingga nanti terbentuk pansus dan tahap penyelidikan,” katanya.

Terkait pelayanan RSUD yang banyak dikeluhkan, anggota Fraksi PKB Nur Khabsyin berpendapat sudah saatnya jajaran direksi dan manajemen RSUD dr Loekmono Hadi direformasi.

“Selain reformasi manajemen, kami juga menuntut adanya transparansi renumerasi dan perbaikan pelayanan,” katanya.

Sejauh ini, pihaknya telah beberapa kali menyampaikan masukan kepada RSUD soal pelayanan. “Direktur RSU selalu bilang akan menindaklanjuti usulan dan masukan dari DPRD, namun masih saja sering terulang kejadian yang sama,” kata Ketua Komisi A Mardijanto.
Dicontohkannya adalah, pelayanan di poliklinik rawat jalan. “Banyak masyarakat yang antre sejak subuh, namun hingga jam 10.00 WIB dokter belum ada. Banyak keluhan itu,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Buntut RSUD Kudus Rahasiakan Data Pembagian Renumerasi, DPRD : Desak Bentuk Pansus

Ketua DPRD Kudus Masan saat berbincang dengan anggota wakil rakyat lain saat sidak ke RSUD dr Loekmono Hadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – DPRD Kudus masih tak mampu menyembunyikan kekecewaannya kepada RSUD dr Loekmono Hadi. Hal ini akibat RSUD tidak memberikan data soal pembagian renumerasi. Anggota DPRD Kudus mendesak agar pimpinan DPRD segera membentuk panitia khusus (pansus) guna menginvestigasi manajemen rumah sakit.

Ketua Komisi D DPRD Mukhasiron mengatakan desakan pembentukan pansus menguat setelah mereka melakukan sidak ke rumah sakit, Sabtu (4/3/2017). Diketahui, sidak dipimpin Ketua DPRD Kudus Masan. “Pansus terkait layanan RSU Kudus layak digulirkan karena direksi RSU menutup-nutupi informasi yang kami butuhkan,” ujar Mukhasiron di Kudus, Minggu (5/3/2017).

Buruknya pelayanan RSUD sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Pihaknya kerap mendapatkan keluhan masyarakat ihwal pelayanan RSUD. Di antara yang mendapat sorotan adalah buruknya pelayanan terutama terhadap pasien program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

RSUD memberikan pelayanan tak maksimal. Hal itu diduga menurut Mukhasiron, terkait kurang adilnya pembagian renumerasi untuk jajaran direksi hingga staf terbawah.

Informasi yang ditangkapnya, renumerasi atau tambahan penghasilan direktur RSU mencapai Rp 40 juta, ditambah lain-lainnya. Berarti ‘take home pay’ direktur mencapai Rp 70 juta per bulan. Sementara renumerasi untuk perawat dan tenaga medis lainnya di tingkat pelayanan sangat kecil sehingga terjadi kesenjangan.

Pada sidak, DPRD sebenarnya meminta membuka data besaran remunerasi yang diberikan kepada seluruh pegawai di semua tingkatan. Namun, permintaan tersebut ditolak oleh pihak RSUD. “Seharusnya besaran gaji dan tunjangan pejabat publik tidak perlu ditutup-tutupi. Di RSU kami tidak melihat adanya keterbukaan informasi publik terkait hal ini. Alasan inilah yang salah satunya mendorong kami mendesak pimpinan untuk menggulirkan pansus,” ujarnya.

Mukhosiron juga menyoroti sistem rekruitmen tenaga kontrak untuk posisi perawat dan tenaga medis. Dari penelusurannya, RSU Kudus tidak memiliki analisa kebutuhan karyawan yang valid, sehingga proses rekruitmen berpotensi terjadi penyelewengan.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kudus, Edi Kurniawan mengatakan jajaran direksi dan manajemen RSU perlu penyegaran. Sebab Edi melihat adanya ketidakberesan dalam pengelolaan anggaran RSUD. “Setiap tahun, puluhan miliar anggaran diberikan ke RSUD. Sementara, dengan status sebagai BLUD, RSUD tak perlu menyetor pendapatan ke kas daerah dan bebas mengelola anggaran sendiri. Tapi kenyataannya, masih ada diskriminasi dalam pelayanan,” ujarnya.

Direkrut RSU dr Loekmono Hadi dokter Abdul Azis Achyar menanggapi apa yang dikeluhkan DPRD. Azis menampik jika pihaknya dikatakan menutupi data. Termasuk menutup-nutupi pembagian renumerasi. Azis mengatakan, data yang diminta anggota DPRD Kudus sudah disiapkan. Tapi terlebih dulu, pihaknya harus minta izin ke Bupati Kudus.

“Hingga anggota DPRD tiba di RSU, izin dari bupati belum ada sehingga kami tak berani membuka data tersebut,” kata Azis.

Azis mengatakan, pembagian renumerasi yang diambil sebesar 30 persen dari pendapatan RSU sudah sangat proporsional. Pembagian renumerasi juga mengacu pada peraturan bupati (perbup). “Tidak ada kesenjangan seperti yang disampaikan anggota DPRD. Semuanya proporsional,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : DPRD Kudus Kesal dengan  RSUD yang Tak Transparan soal Data

Unik, Balapan Kucing Buat Penonton Tergelak

Caption Peserta lomba balap kucing sedang bersiap di garis start, dalam even cat show dan cat fun yang berlangsung di United Futsal Stadium, Minggu (5/3/2017). (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Kucing rupanya bisa juga jadi “pembalap”. Bahkan bisa membuat semua orang tergelak.

Itu terjadi saat kucing-kucing peserta even cat show dan cat fun di United Futsal Stadium, Minggu (5/3/2017), mengikuti lomba balap lari. Tingkah lucu para kucing, ternyata sanggup membuat pengunjung even tergelak.

Ada kucing yang berlarinya sangat cepat dari mulai start hingga ke garis finish. Namun, ada juga yang ternyata mogok tidak mau lari, bahkan berbalik arah.

Contoh saja Scarlet. Kucing milik Ayik, warga Kabupaten Kudus tersebut, ternyata hanya diam saja, saat juri sudah menyatakan aba-aba lari. Meski sang pemilik dan anak-anaknya sudah memberikan berbagai cara supaya Scarlet berlari ke garis finish, justru malah duduk saja di arena lomba. Tentu saja semua orang menjadi tergelak karenanya.

“Kenapa ya, sama kucing saya. Tadi pas latihan juga begitu. Tidak mau lari. Mungkin karena panas, ya,” kata Ayik, usah lomba.

Ayik mengaku baru kali pertama mengikuti even lomba kucing seperti ini. Sehingga baru mengenal bagaimana trik dan triknya untuk lomba-lomba semacam itu. “Kalau di rumah kucing saya memang aktif lari-larian. Lah, ini kok mogok. Mungkin belum beruntung,” jelasnya.

Namun, rata-rata kucing memang membutuhkan beberapa saat untuk mengenal situasi yang ada. Sehingga tidak langsung lari, usai aba-aba start dibunyikan. 

Selain lomba balap kucing, dalam even yang digelar Komunitas Pecinta Kucing Kudus (Kopek), dan didukung penuh PR Sukun tersebut, juga digelar lomba makan dan berat badan. Dan ternyata ada kucing dengan berat lebih dari 6 kilogram.

Editor: Merie

Dari Meraba, Membelai, dan Memeluk, jadi Cara Juri Nilai Kucing

Salah satu juri  lomba cat show, sedang memeriksa seekor kucing sebelum dinilai, dalam even yang digelar di United Futsal Panjang, Minggu (5/3/2017). (MuriaNewsCom /Merie) 

MuriaNewsCom, Kudus – Juri lomba cat show, ternyata memiliki cara tersendiri saat menilai kucing yang dilombakan. Ada hal-hal khusus yang dilakukan juri, saat menilai seekor kucing.

Dua orang dewan juri yang didatangkan dalam even cat show di United Futsal Stadium, Minggu (5/3/2017), memiliki cara tersendiri dalam menilai. 

Juri akan meraba-raba seluruh badan kucing yang menjadi peserta. Kemudian akan membelai bulu-bulu dari kucing tersebut.

Yang juga dilakukan juri, adalah memeluk si kucing. Cukup lama hal itu dilakukan. Seolah ingin mengetahui detak jantung si kucing. Setelah itu, juri akan mengangkat si kucing setinggi-tingginya. Kucing cukup bereaksi saat diangkat, dengan mengeong atau menggerakkan kakinya.

Dua juri yang hadir dalam even yang diselenggarakan Komunitas Pecinta Kucing Kudus (Kopek) dan didukung penuh PR Sukun ini, adalah drh Slamet Raharjo dan drh Anna Ekawati.

Peserta datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain lomba kucingnya sendiri, juga digelar lomba cat fun. Pesertanya yang tentu saja kucing, akan mengikuti lomba lari, lomba makan, dan lomba-lomba seru-seruan lainnya. Tentu saja bakal semakin menarik.

Editor : Akrom Hazami 

 

BPK Audit 5 Desa di Kudus, Ini Kata Pemkab

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit keuangan kepada lima desa di Kecamatan Dawe. Yaitu Desa Lau, Samirejo, Japan, Piji, dan Cendono.

Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Eko Djumartono mengatakan, BPK memutuskan melakukan audit ke desa. Karena pemdes selama ini juga menerima transfer anggaran dari pemerintah.

Tercatat, total dana transfer ke sebanyak 123 desa di Kabupaten Kudus tahun ini mencapai Rp 219 miliar lebih. “Anggaran itu terdiri atas dana desa dari Pemerintah Pusat sebesar Rp 103 miliar dan alokasi dana desa (ADD) dari APBD Kudus sebesar Rp 106 miliar lebih,” kata Eko.

Pemdes juga menerima bagi hasil retribusi dan pajak masing-masing sebesar Rp 1,95 miliar dan Rp 8,23 miliar. “Kami setiap tahun anggaran juga telah meminta ikhtisar laporan keuangan desa, sebagai bentuk pengawasan penggunaan anggaran di desa,” pungkas Eko.

BPK menemukan sejumlah dugaan pelanggaran administrasi di lima desa tersebut. Pelanggaran itu, kata dia, contohnya yaitu tidak adanya dokumen penyerahan pekerjaan yang didanai dari anggaran desa. 

Pekerjaan fisiknya ada dan sudah selesai dikerjakan. Semua prosedur tahapan pekerjaannya juga sudah benar. Tapi masih ada kekurangan seperti dokumen penyerahan hasil pekerjaan. Praktis itu harus segera dilengkapi.

Editor : Akrom Hazami

5 Desa di Dawe Kudus Diaudit BPK Habis-Habisan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memantau lima desa di Kudus terkait pengelolaan anggaran desa.

Hal itu disampaikan Asisten I Setda Kudus Agus Budi Satriya. Dia mengatakan, BPK melakukan audit di lima desa di Kabupaten Kudus. Audit penggunaan anggaran desa tahun 2016 ini menjadi yang kali pertama dilakukan BPK.

Lima desa yang diaudit yaitu Desa Lau, Samirejo, Japan, Piji, dan Cendono. Kelima desa ada di Kecamatan Dawe. “Baru tahun ini BPK melakukan audit ke pemerintah desa. BPK memilih secara acak desa mana saja yang akan diaudit,” kata Agus, di Kudus, Rabu (1/3/2017).

BPK menemukan sejumlah dugaan pelanggaran administrasi di lima desa tersebut. Pelanggaran itu, kata dia, contohnya yaitu tidak adanya dokumen penyerahan pekerjaan yang didanai dari anggaran desa. 

Pekerjaan fisiknya ada dan sudah selesai dikerjakan. Semua prosedur tahapan pekerjaannya juga sudah benar. Tapi masih ada kekurangan seperti dokumen penyerahan hasil pekerjaan. Praktis itu harus segera dilengkapi.

BPK merekomendasikan agar Pemkab Kudus segera melakukan pendampingan kepada lima desa tersebut. Melalui pemerintah kecamatan dan pendamping desa, Pemkab Kudus langsung melakukan pembinaan. Agar penyelewengan anggaran oleh oknum di pemdes tak terulang.

Editor : Akrom Hazami

Hujan Sebentar Jalanan Kudus Tergenang, Dewan Minta Bupati Tegur Bawahannya

Jalan Kiai Telingsing Kudus tergenang air cukup tinggi saat hujan mengguyur kurang dari satu jam, Minggu (26/2/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan yang mengguyur Kabupaten Kudus, Minggu (26/2/2017) siang membuat sejumlah ruas jalan di daerah ini tergenang. Akibat genangan air ini, banyak pengendara yang akhirnya memutar arah, khawatir kendaraan mereka mogok.

Salah satu ruas jalan yang tergenang yakni di Jalan Kiai Telingsing, Kudus. Genangan air ini sangat dikeluhkan. Banyak yang menuding ada yang tidak beres dengan sistem drainase di tempat ini. Pasalnya jalan tersebut langsung tergenang meski hujan turun tak lebih dari satu jam.

Sorotan ini juga dilontarkan Anggota Fraksi PKB DPRD Kudus, Nur Khabsin. Ia mengaku cukup kesal dan menyayangkan masih ada jalan di Kudus yang tergenang air saat hujan. Khabsin menyebut mengetahui sendiri genangan air di Jalan Kiai Telingsing tersebut.

“Hujan turun sekitar pukul 13.30 WIB. Saat saya mau melintas di Jalan Kiai Telingsing terjadi genangan. Banyak kendaraan balik arah. Kondisi ini sangat memprihatinkan,” katanya pada MuriaNewsCom.

Menurut dia, genangan di jalan ini bukan kali pertama terjadi, dan sudah sangat sering. Seharusnya pihak-pihak terkait segera tanggap melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan.

“Genangan seperti ini harusnya sudah tidak terjadi lagi. Mestinya dari kejadian-jehadian sebelumnya sudah diatasi, tapi ini terulang lagi saat hujan,” ujarnya.

Ia mengaku sangat kecewa dengan kinerja dinas yang menangani masalah ini. Oleh karenanya pihaknya mendesak Bupati Kudus Musthofa untuk menegur bawahanya, terutama Dinas PUPR.

“Saya minta bupati ada perhatian khusus dan menegur bawahannya dalam hal ini Dinas PU PR untuk segera mengatasi genangan di jalan tersevut,” desaknya.

Khabsin menduga ada masalah dengan infrastruktur drainase di jalan itu, sehingga menjadi pemicu banjir. Hal ini terlihat dari ada salah satu titik jalan yang cekung.

“Ada titik jalan yang “ledok”, sementara sebelah utara dan selatan jalannya lebih tinggi. Sehingga agar banjir atau genangan tak kembali terulang dua masalah itu harus segera ditangani,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Komunitas Otomotif Pecinta Avanza-Xenia Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Kudus

Komunitas Otomotif Pecinta Avanza-Xenia menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, Minggu (19/2/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom,Kudus – Beberapa komunitas otomotif pecinta Avanza-Xenia menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Kudus, tepatnya di wilayah Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, pada Minggu (19/2/2017).   

Beberapa komunitas otomotif tersebut, di antaranya Xenia Mania Club Indonesia(XMAN) Chapter Muria Raya, Toyota Mania(TM KUPAT), dan Avanza Xenia Solution Kudus Kota Kretek (AXS Kudus Kota Kretek), AXS PlatK,AXS Bekasi,AXS Semarang Raya, TM Nasional dan XMAN pusat.

Eko Heri, Ketua XMAN Chapter Muria Raya mengatakan, yang bantuan disalurkan untuk korban banjir tersebut, merupakan hasil dari penggalangan dana dari masing-masing anggota komunitas, yang dikoordininir oleh masing-masing ketua.

“Kita bersyukur, temen-temen komunitas yang ikut berpartisipasi untuk kegiatan sosial ini cukup banyak. Penggalangan dana dilakukan oleh masing-masing komunitas tersebut, selanjutnya digabung jadi satu dan dibelanjakan kebutuhan bagi korban bencana banjir,” ungkapnya.

Menurutnya, beberapa bantuan yang diberikan untuk korban banjir di antaranya, alat tulis, susu, sembako, mie instan, pampers balita dan dewasa, pembalut wanita, dan beberapa lainnya.

Bantuan tersebut, diserahkan langsung kepada korban banjir yang didampingi oleh Muspika Kabupaten Kudus.”Dari data yang kami miliki, korban banjir di Desa Jati sebanyak 126 Kepala Keluarga (KK) dan 357 jiwa. Korban banjir berasal dari Dukuh Barisan,Dukuh Gendok,Dukuh Tanggulangin, dan Gang Sengkuyung.Semoga dengan sedikit uluran tangan kami dapat sedikit meringankan beban seluruh korban banjir,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Komisi A DPRD Kudus Nilai Kantor Satpol PP dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Tak Layak

Satpol PP saat menerima kunjungan dari Komisi A DPRD Kudus di kantornya, Kamis (26/1/2017). (ISTIMEWA)

Satpol PP saat menerima kunjungan dari Komisi A DPRD Kudus di kantornya, Kamis (26/1/2017). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua Komisi A DPRD Kudus Mardijanto menilai gedung kantor Satpol PP tidak layak.  Tidak hanya itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa juga mengalami hal serupa. Agar pelayanan kepada masyakat bisa lebih baik, maka pihaknya akan berupaya ikut membantu sesuai peranannya.

“Selain Satpol PP, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa juga mengeluhkan hal serupa,” kata Mardijanto di Kudus, Kamis (26/1/2017).

Wakil rakyat asal Partai Demokrat itu sepakat jika masalah di dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Kudus itu butuh penanganan maksimal. Seperti halnya, OPD tersebut butuh gedung baru untuk menunjang kinerja.

Pihaknya akan mengusulkannya pada APBD Perubahan 2017. Untuk tahap pertama pembangunan gedung Satpol PP, diperkirakan membutuhkan anggaran hingga Rp 3 miliar.

“Di pembahasan APBD Perubahan 2017 akan kami munculkan anggaran perbaikan gedung dua OPD tersebut. Kami berharap kinerja keduanya maksimal dengan fasilitas yang mencukupi,” ujarnya.

Diketahui, dua OPD di Kabupaten Kudus mengeluhkan kondisi kantor pascapenataan ulang OPD baru di lingkungan Pemkab Kudus.  Kepada Komisi A DPRD Kudus, Satpol PP dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa mengusulkan perbaikan dan penambahan fasilitas gedung.

Plt Kepala Satpol PP Abdul Halil mengeluhkan kondisi kantor yang sudah tidak layak. Selain tidak cukup untuk menampung sekitar 60 staf kantor di tiga bidang, atap sejumlah ruang juga bocor.

“Gedung ini lebih baik dibongkar total dan dinaikkan agar lebih tinggi dari jalan. Kami juga butuh sejumlah ruangan baru untuk menunjang kegiatan kami,” kata Halil.

Kantor Satpol PP kini menempati gedung eks Kantor Ketahanan Pangan di Kaliputu. Sebelumnya, Satpol PP menempati areal Pendapa Kabupaten Kudus. Pihaknya membutuhkan tambahan ruangan seperti tempat untuk penampungan sementara pengemis, gelandangan, dan anak jalanan yang terjaring razia.

Apalagi saat ini Raperda tentang pengemis, gelandangan, dan anak jalanan sudah rampung dibahas DPRD dan menunggu pengesahan. “Jika nanti perda itu diundangkan, tentu kami harus melakukan penegakan dan melakukan razia di jalanan. Kami bingung di mana mereka akan kami tempatkan,” ujarnya.

Satpol PP juga membutuhkan ruangan khusus untuk Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan gudang untuk menampung barang sitaan. “Kami berharap Komisi A bisa mengalokasikan anggaran perbaikan total gedung Satpol PP,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Boleh Tahu, Apa Nama Resmi Monumen Tiga Pahlawan Perempuan di Bunderan Ngabul Jepara?

Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie
merqi194@yahoo.com

SUDAH tahu jika ada ikon baru di Kabupaten Jepara, tepatnya di Bunderan Ngabul, Kecamatan Tahunan, berupa patung besar tiga perempuan yang dinilai pantas disebut sebagai pahlawan asal Kota Ukir? Bagi warga Jepara, mereka sudah pasti tahu akan ikon baru ini.

Bahkan, saking antusiasnya warga menyambut kehadiran ikon baru ini, sampai-sampai, landmark yang belum diresmikan itu, dikabarkan sudah retak duluan. Yang lebih mengkhawatirkan, titik di mana patung itu berada, menjadi titik kemacetan setiap sore hari. Selain titik jalur di mana anak-anak Jepara menyambut kehadiran bus telolet yang juga melintas setiap sorenya.

Saya tidak tahu persis, nama landmark baru itu apa. Ada yang menyebutnya patung tiga diva, ada yang menyebutkan patung tiga pahlawan, ada juga yang menyebutnya sebagai tiga patung perempuan, dan aneka rupa sebutan lainnya. Kalau kata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara, nama resminya adalah Monumen Tiga Perempuan Legendaris Jepara. Panjang memang namanya. Karena, pemkab tidak ingin jika landmark itu hanya disebut patung.

Di awal pembangunannya, banyak yang kemudian meragukan fungsi dari patung tersebut. Apalagi yang bentuknya megah dengan ukiran di sekelilingnya yang berwarna emas, menambah kemegahan monumen. Sedangkan patungnya sendiri berwarna hitam legam, sangat kontras dengan ornamen di bawahnya. Tapi, barangkali ketiga patung itu memang tidak usah diperlihatkan dengan jelas, karena banyak yang sudah mengetahui siapa saja sosok ketiganya.

Ketiganya adalah orang-orang yang dianggap berjasa, bukan saja kepada Jepara, namun Indonesia. Ibu RA Kartini, Ratu Kalinyamat, dan Ratu Shima. Meski sosok yang terakhir ini, memang belum jelas diketahui apa dan bagaimana perannya terhadap Jepara itu sendiri. Berbeda dengan RA Kartini dan Ratu Kalinyamat, yang sudah diketahui jelas bagaimana perannya dan kiprahnya semasa mereka hidup, sehingga RA Kartini dinobatkan sebagai pahlawan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sedangkan Ratu Kalinyamat juga sedang diupayakan bisa mendapat gelar pahlawan, meski belum juga kesampaian.

Menurut buku ”Dari Relasi Upeti ke Mitra Strategis 2.000 Perjalanan Hubungan Tiongkok-Indonesia” karya Prof Liang Liji, disebutkan bahwa sebuah negeri bernama He Ling (Kalingga), ada pada masa Dinas Tang (618-907). Negeri itu, terletak di pulau tengah Laut Selatan. Tepatnya berada di Jawa Tengah, di mana di sebelah timurnya disebut Po Li atau Bali, di sebelah baratnya adalah Negeri Duo Bo Deng atau Jawa Barat. Ketiga raja di negeri itu, bahkan sudah sejak lama saling mengirimkan utusan ke Tiongkok, untuk mempersembahkan upeti.

Ratu Shima sendiri, diceritakan dalam buku tersebut, diangkat rakyatnya dengan gelar Xi Mo, yang diangkat pada masa Sang Yuan (674-675). Kaisar dari Dinasti Tang diceritakan sangat memuji orang He Ling (Kalingga) ini, karena memiliki peradaban dan budi pekerti yang tinggi. Terutama Ratu Xi Mo, di mana ketertiban dan perundangan ditegakkan dengan keras sekali. Contohnya bagaimana Ratu Xi Mo tidak pandang bulu dalam menghukum orang-orang yang melanggar aturan. Termasuk putranya sendiri yang harus dipotong jari kakinya hanya karena mengusik barang yang bukan miliknya dengan jari kaki tersebut.

Selain soal pemerintahan yang keras terhadap penegakan hukum, tidak disebutkan dengan rinci bahwa memang He Ling atau Kalingga terletak di Jepara. Ataupun ratunya pernah memerintah di Jepara. Jawa Tengah yang lokasi negaranya berhadapan langsung dengan Laut Jawa, bisa di mana saja. Bisa saja dahulunya, Kerajaan He Ling atau Kalingga ini memang adalah sebuah kerajaan luas dan memanjang, hingga ke bagian yang disebut Jepara tadi. Namun, selain cerita mengenai bagaimana Ratu Shima memerintah rakyatnya dengan keras sesuai aturan yang ada, tidak ada referensi lain yang secara persis menyebutkan bahwa Shima adalah penguasa Jepara.

Memang masih membutuhkan kajian yang sangat mendalam mengenai sosok Ratu Shima ini. Termasuk sejarah secara lebih mendalam dari sosok Ratu Kalinyamat, yang juga harus diterangkan secara gamblang kepada anak cucu kita nanti. Saat ini, yang lebih dihafalkan oleh semua orang adalah sejarah dari Raden Ajeng Kartini itu. Bahkan di tahun 2017 ini, jika tidak salah pada bulan April, sebuah film yang mengangkat sejarah Kartini karya Hanung Bramantyo, akan segera rilis di bioskop.

Ada satu hal yang sangat menarik, di mana ternyata dari dulu, Kabupaten Jepara ternyata identik dengan sosok perempuan. Belum ada sosok lain, termasuk laki-laki, yang mampu menandingi cerita kemasyhuran dari ketiga tokoh perempuan tersebut. Meski beberapa di antaranya hanya tersisa cerita legendanya saja, namun ketangguhan ketiga perempuan tersebut, sangatlah nyata. Tidak pernah ada usaha main-main yang dilakukan ketiganya, dalam upaya mengangkat kejayaan Jepara, terutama kejayaan para perempuannya.

Patung tersebut dibangun dengan dana yang juga tidak sedikit. Nilainya Rp 2,5 miliar sendiri untuk membangun ikon guna mengenang kebesara dari ketiga sosok perempuan tersebut. Namun, apakah perempuan di Jepara sudah mendapatkan porsi sesuai dengan keinginan ketiga pahlawan perempuan tersebut atau belum. Apalagi, jumlah penduduk perempuan di Jepara ternyata lebih banyak dari penduduk laki-laki.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jepara, pada tahun 2015 lalu, penduduk Kabupaten Jepara adalah sejumlah 1.188.289 jiwa. Di mana jumlah Laki-laki 592.482 jiwa, dan perempuannya 595.807 jiwa. Dari jumlah tersebut, terdapat laki-laki dewasa sebanyak 435.130 jiwa, perempuan dewasa 446.022 jiwa, laki-laki anak-anak 157.352 jiwa, dan perempuan anak-anak 149.785.

Jumlah angka kemiskinan di Jepara berdasarkan BPS adalah sebesar 8,55%, atau sebanyak 100.500 orang dikategorikan sebagai penduduk miskin. Tidak bisa dipungkiri bahwa keadaan ini juga membawa pengaruh terhadap catatan angka putus sekolah yang ada di Jepara.

Data pada tahun 2015, anak putus sekolah yang ada di Kabupaten Jepara sebanyak 646 anak, yang terdiri dari 60 siswa SD, 125 siswa SMP, 55 siswa SMU, dan 406 siswa SMK. Dan saya yakin, jumlah perempuan yang menderita putus sekolah, menempati peringkat tertinggi dari jumlah anak-anak yang putus sekolah tadi.

Belum lagi soal kekerasan terhadap perempuan. Kasusnya juga cukup tinggi di Jepara. Di mana pada tahun 2016 lalu, ada 55 kasus kekerasan yang menimpa kalangan perempuan dan anak. Sungguh ironis sekali, karena ternyata perempuan di Jepara belum sepenuhnya bisa sebagaimana yang dicita-citakan ketiga perempuan pahlawan tersebut.

Ini yang lantas menjadi pekerjaan rumah bagi para pemangku kebijakan di Jepara. Bagaimana mengembalikan situasi di mana perempuan bisa seberjaya Ratu Shima, Ratu Kalimanyat, dan Raden Ajeng Kartini, sesuai dengan masa di mana saat ini perempuan hadapi. Yang jelas berbeda dengan masa ketiga pendahulu tersebut.

Yang sedikit mengganjal bagi saya adalah, bagaimana pemilihan lokasi penempatan patung tiga perempuan itu dilakukan. Kenapa harus di tengah-tengah jalan di Bunderan Ngabul. Bukankah jalan di sana hanya butuh pemecah arus biasa saja. Karena jika dibangun patung, apalagi ditambah dengan fasilitas taman di sekelilingnya, yang terjadi adalah kawasan tersebut menjadi kawasan ramai, yang setiap saat didatangi masyarakat. Tidak mengherankan jika kemudian kawasan itu menjadi macet, dan justru membahayakan masyarakat itu sendiri karena arusnya yang padat. Karena masyarakat menganggap bahwa di sana ada lokasi baru yang bisa dijadikan tempat untuk refreshing.

Bandingkan dengan patung RA Kartini di tengah Kota Jepara. Di sana, tidak ada fasilitas lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk refreshing, karena hanya sekedar patung. Sehingga tidak menganggu arus lalu lintas yang memang padat. Alangkah lebih bagusnya jika dahulu di tengah-tengah bundaran itu, hanya dibangun bundaran saja sebagai pemecah arus, sedangkan patung tiga perempuan itu, menempati kawasan pinggirnya. Sehingga masyarakat akan leluasa memanfaatkan kawasan itu sebagai tempat refreshing. Dan yang jelas tidak akan mengganggu arus lalu lintas, dan terutama tidak membahayakan keselamatan mereka yang datang.

Namun karena sudah terlanjur, hendaknya Pemkab Jepara bersiap dengan konsekuensinya. Yakni melakukan penataan terhadap kawasan itu, sehingga masyarakat yang datang, bisa nyaman berada di sana. Terutama penataan kendaraan-kendaraan yang dibawa warga, yang terkadang mengganggu jalan karena diletakkan sembarangan. Ini yang harus dibenahi. Semoga saja, ada perhatian terkait hal ini.

Omong-omong, nama Monumen Tiga Perempuan Legendaris Jepara sepertinya terlalu panjang diucapkan ya. Kalian ada usulan mungkin, apa nama yang mungkin pendek, bermakna luas, gampang diingat, dan diucapkan? Silakan share, ya. (*)

Pasar Piji Kudus  Butuh Banyak Pembenahan

Bangunan Pasar Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, berdiri megah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bangunan Pasar Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, berdiri megah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi B DPRD Kudus berencana menggelar rapat koordinasi dengan SKPD terkait untuk membahas kelanjutan proyek pasar Piji, Kecamatan Dawe.

Tahun ini, DPRD Kudus menyetujui tambahan anggaran sebesar Rp 3,5 miliar. Anggaran sebesar itu rencananya untuk membenahi areal parkir dan menambah sejumlah fasilitas penunjang lainnya.

Wakil Ketua Komisi B Noor Hadi berharap Pasar Piji bisa segera dimanfaatkan. Terlebih saat ini sebanyak 900-an lebih pedagang masih menempati lahan relokasi di lapangan Desa Cendono.

“Kami berharap pasar Piji bisa menjadi percontohan pengelolaan Pasar modern di Kabupaten Kudus. Terlebih tampilan bangunannya sudah bagus dan lebih modern,” ujarnya.

Sementara, Ketua Komisi B DPRD Kudus Muhtamat mengatakan, komisinya menilai hasil proyek Pasar Piji masih butuh banyak pembenahan. Ia memberi sejumlah catatan pada pelaksanaan proyek yang menelan anggaran hingga Rp 22 miliar lebih tersebut. “Hasil proyek yang dikerjakan sudah cukup bagus. Hanya perlu pembenahan di sejumlah titik,” kata Muhtamat.

Saat meninjau hasil proyek bersama Wakil Ketua Komisi B Noor Hadi, Rabu (4/1/2017), Muhtamat menilai bangunan tersebut terlalu banyak bukaan di bagian atas tembok pasar. “Jika musim hujan, dikhawatirkan air hujan tempias dan masuk ke dalam bangunan pasar, sehingga mengganggu kenyamanan pedagang maupun pembeli,” katanya.

Kembatan akses masuk ke pasar Piji juga perlu dilebarkan, lanjut dia, jembatan yang ada saat ini hanya cukup dilintasi satu kendaraan roda empat atau truk. Jika ada kendaraan yang bersimpangan, harus lewat secara bergantian.

Komisi B juga merekomendasikan bangunan kios dan kantor pasar yang berada di depan atau sebelah timur, dibongkar.

Noor Hadi menambahkan, kios dan bangunan kantor sebaiknya dibongkar. Areal lahan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai taman dan areal parkir. “Jika bisa areal parkir di depan pasar atau di sebelah timur sungai saja. Sehingga lantai bawah pasar yang rencananya untuk parkir, ke depan bisa dimanfaatkan untuk tambahan kios atau los,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Nur Khabsyin Desak Polri Tuntaskan Penyidikan Kasus Gula Rafinasi

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – M. Nur Khabsyin, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia ( DPN APTRI ) mendesak Bareskrim Mabes Polri untuk secepatnya menuntaskan kasus perembesan gula rafinasi skala besar yang diduga dilakukan oleh PT Berkah Manis Makmur (PT BMM) melalui PT Lyus Jaya Sentosa dan PT Duta Sugar Internasional (PT DSI).

“Rembesan bukan hanya dilakukan oleh dua perusahan tersebut, namun oleh perusahaan gula rafinasi lainnya. Total kerugian petani dari penyimpangan 11 perusahaan gula rafinasi (termasuk PT BMM dan PT DSI) mencapai 600.000 ton,” kata Khabsyin dalam rilis persnya.

Pria yang juga anggota DPRD Kudus melanjutkan, DPN APTRI memperkirakan rembesan gula rafinasi di musim giling ini mengakibatkan turunnya harga lelang gula tani sebesar Rp 1000/ kg. Total kerugian akibat turunnya harga lelang gula mencapai Rp 700 miliar.

Dari hasil investigasi APTRI diperoleh informasi bahwa dua perusahaan tersebut melakukan melakukan penyelewengan dengan dua modus berbeda. Modus PT Lyus Jaya Sentosa tergolong modus baru, yakni PT Lyus membeli gula rafinasi dari PT PT BMM. Mestinya PT Lyus mengolah menjadi gula halus, namun praktiknya tidak terjadi pengolahan. Namun langsung menjual ke pasar setelah diganti karung yang berlogo PT Lyus. Sementara PT DSI langsung menjual gula rafinasinya ke pasar.

“Kasus penyimpangan gula rafinasi ini kini ditangani oleh Direktorat Tipideksus Bareskrim Mabes Polri,” ujarnya.

Dalam kasus PT Lyus sudah pada tahap penyidikan, sedangkan untuk kasus PT DSI masuk tahap penyelidikan. Kasus tersebut merupakan pengembangan dari pelaporan APTRI tentang gula impor milik Bulog tanpa SNI.

Dalam pengembangannya, Bareskrim Mabes Polri  menemukan dua kasus itu.  Terkait permasalahan tersebut DPN APTRI menyampaikan tuntutan kepada pemerintah agar kasus penyimpangan gula rafinasi terus menerus terjadi bahkan cenderung meningkat.

“Oleh karena itu, kami mendesak Kementerian Perdagangan agar menindak tegas perusahaan gula rafinasi yang terbukti melakukan penyimpangan. Kasus serupa ini sangat menyengsarakan petani dan merugikan perekonomian nasional,” tambahnya.

Menuntut Kementerian Perdagangan membuat mekanisme kontrol baru terhadap industri gula rafinasi, agar kasus perembesan/ penyimpangan gula rafinasi tidak terus menerus terjadi.

Menuntut Kementerian Perdagangan agar kuota izin impor gula rafinasi dikurangi karena ada kelebihan 600 ribu ton. Tidak hanya itu, APTRI mendesak aparat kepolisian dan aparat penegak hukum lainnya untuk bertindak tegas terhadap industri gula rafinasi yang telah lama melakukan kecurangan tersebut.

“Tindakan mereka telah merugikan jutaan petani tebu rakyat termasuk mengacaukan kebijakan pemerintah terkait tata gula nasional,” pungkas Khabsyin.

Editor : Akrom Hazami