Bupati Kudus Motivasi Mahasiswa Unisbank Semarang Biar Lebih Kreatif

Bupati Kudus Musthofa saat menjadi pembicara di kampus Unisbank, Semarang. (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Semarang – Bupati Kudus Musthofa berbagi pengetahuan soal bagaimana menjadi sosok kreatif, supaya mampu bersaing di dunia kerja. Sebab, kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai bidang kehidupan, utamanya bidang industri kreatif.

Hal itu dapat digali melalui potensi yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia. Kreativitas muncul ketika adanya ide-ide baru yang berbeda dengan yang lainnya. Pada akhirnya, kreativitas tersebut akan melahirkan produk dengan nilai jual lebih.

“Kalian jangan hanya normatif, kuliah pulang dan seterusnya. Tetapi cobalah hidup lebih kreatif dan berpikir out of the box,” kata Musthofa saat jadi pembicara sekaligus motivator dalam diskusi panel ‘Membangun Industri Kreatif’ di hadapan 900-an mahasiswa baru Unisbank Semarang, Selasa (29/8/2017).

Musthofa bersama pembicara lain dari Exc. Vice President Telkom Jateng DIY Joko Raharjo, dan Rektor Unisbank Dr Hasan Abdul Rozak.

Pemikiran yang tidak biasa harus diikuti dengan berbagai ide dan semangat untuk terus belajar mengembangkan kualitas diri. Kepercayaan diri dan membangun relasi adalah dua hal pendukung yang harus dibangun untuk meraih sukses. 

Lebih lanjut, Musthofa mencontohkan adanya sekolah animasi. Produk film animasi yang dihasilkan merupakan bukti bahwa siswa SMK pun bisa menghasilkan karya kreatif.

“Termasuk bordir Kudus juga saya kembangkan agar naik kelas dengan menggandeng desainer Ivan Gunawan,” lanjutnya.

Joko mengenalkan pada berbagai kesuksesan pada era digital ini. Sebagai salah satu industri digital, ini merupakan peluang kreativitas yang bisa digali dari siapapun termasuk dari mahasiswa.

 “Kami tidak salah mengundang pak Musthofa sebagai alumni Unisbank dan Pembina Forum UMKM Jateng untuk memberikan motivasi bagi mahasiswa kami,” kata Hasan.

Editor : Akrom Hazami

DPRD Kudus Minta Disdikpora Keluarkan Larangan Bawa Gadget bagi Siswa Sekolah

Ketua Komisi D DPRD Kudus Setia Budi Wibowo.(Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi D DPRD Kudus meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) serius menyikapi dugaan kasus kekerasan yang menimpa AL (8) siswa salah satu sekolah dasar di Kabupaten Kudus, baru-baru ini.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan Disdikpora yaitu menjauhkan pengaruh ponsel pintar (gadget) dari anak, setidaknya di lingkungan sekolah. Ketua Komisi D DPRD Kudus Setia Budi Wibowo mengatakan, sudah banyak penelitian yang menyebutkan dampak negatif penggunaan gadget tanpa kontrol pada anak-anak.

“Komisi D meminta Disdikpora melarang anak sekolah dasar membawa ponsel pintar di sekolah. Sebab tak jarang akses internet pada ponsel pintar disalahgunakan anak untuk mengakses konten yang tidak sesuai dengan umurnya,” katanya.

Tanpa bimbingan orang tua, anak-anak bisa saja leluasa mengakses konten dewasa yang berisi adegan kekerasan maupun seksual. Bowo, panggilan Setia Budi Wibowo menambahkan, jika anak-anak terus terpapar tayangan seperti itu, dikhawatirkan mereka pun meniru dalam pergaulan nyata teman sekolahnya.

Terlebih anak-anak kerap masih sulit membedakan mana konten yang baik dan buruk bagi mereka. Wakil rakyat asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menambahkan, guru maupun kepala sekolah juga diminta tak hanya memikirkan bagaimana meningkatkan kecerdasan akademik anak saja.

Pasalnya, tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter anak. “Pendidikan tidak boleh hanya fokus bagaimana membentuk anak agar pintar saja. Namun karakter dan kepribadian anak juga perlu ditumbuhkan,” katanya.

Kepala Disdikpora Joko Susilo mersepons positif usulan Komisi D tersebut. Pihaknya akan segera mengkoordinasikannya dengan guru maupun kepala sekolah di Kabupaten Kudus. “Anak-anak sekolah dasar memang sebaiknya tidak diberi kebebasan menggunakan ponsel pintar. Apalagi guru tak mungkin mengawasi seluruh murid-muridnya selama jam sekolah berlangsung,” katanya. (NAP)

 

Editor : Akrom Hazami

Ini Hasil Pertemuan DPN APTRI dengan Mendag

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita saat menemui perwakilan DPN APTRI di Jakarta. (Foto DPN APTRI)

MuriaNewsCom, Kudus – Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia ( APTRI) ditemui oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita di Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Sekjen DPN APTRI M Nur Khabsyin kepada MuriaNewsCom, mengatakan, DPN telah mendapatkan informasi dari menteri. Di antaranya, Mendag akan ‘memaksa’ produsen gula rafinasi membeli gula tani.

“Sore ini juga akan mempertemukan dengan perwakilan petani tebu untuk membicarakan harga yang pas dan jumlah gula tani yang tidak laku,” kata Khabsyin.

Selanjutnya, Mendag menginformasikan ada gula beredar di pasaran produksi dari pabrik gula milik BUMN. Tapi memiliki kualitas jelek dan tidak layak dikonsumsi. Sehingga akan dilakukan investigasi dan tindakan hukum. Karena tidak sesuai SNI dan melanggar UU Pangan dan Perdagangan, serta merugikan petani tebu.

Terhadap gula rafinasi yang beredar di pasar, kata anggota DPRD Kudus Fraksi PKB itu, Mendag akan menindak tegas pelakunya, baik dari produsennya, maupun pedagangnya.

Sementara agenda keesokan hari, DPN APTRi dan perwakilan petani tebu akan mendatangi kantor Menteri BUMN, untuk meminta pertanggungjawaban soal rendemen yang rendah dan temuan gula denga nkualitas jelek di pasar.

“Dilanjutkan jam 11 akan bertemu Sekjen Kemenkeu di kantor Kemenkeu di lapangan Banteng untuk menagih janji PMK soal pembebasan gula tani,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

KUDUS HEBAT, Kini Berhasil Raih Penghargaan Adipura Kencana 

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memberikan penghargaan Adipura Kencana kepada Bupati Kudus Musthofa di Jakarta. (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus berhasil meraih penghargaan Adipura Kencana. Penghargaan bergengsi tersebut diterima Bupati Kudus Musthofa di Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Jakarta, Rabu (3/8/2017).

Dengan penyerahannya langsung dilakukan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Diketahui, penghargaan ini merupakan Adipura tertinggi. Di Jawa Tengah, hanya Kudus yang berhasil meraihnya.

Informasi yang dihimpun bahwa kabupaten atau kota yang masuk dalam nominasi peraih Anugerah Adipura Kencana ini diharapkan tidak hanya bisa menyelesaikan berbagai isu lingkungan hidup sekarang. Seperti pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran dan ruang terbuka hijau (RTH).

Diharapkan pula, kota dan kabupaten peraih nominasi berinovasi di bidang pengelolaan sampah dan RTH. Tidak hanya itu, diharapakan mampu pula membuat sistem pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energi baru terbarukan, penurunan ketimpangan ekonomi, dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Kudus meraih penghargaan bergengsi juga tak lepas dari raihan sebelumnya seperti pernah meraih Anugerah Adipura sebelumnya minimal tiga kali berturut-turut.

Bupati Kudus Musthofa tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Dia merasa bangga dengan apa yang diraih kabupaten yang dipimpinnya itu. Penghargaan bukanlah keberhasilan kepala daerah, melainkan hasil kinerja bersama. “Terima kasih seluruh jajaran OPD kami bersama partisipasi seluruh masyarakat,” kata Musthofa.

Dalam sambutannya Presiden RI Jokowi mengingatkan pentingnya menjaga hutan dan lingkungan. Selain memperoleh lingkungan yang sehat, tentu ada manfaat secara ekonomi yang bisa didapat.

“Kalau hutan di negara lain bisa memakmurkan. Tentunya di negara kita seharusnya juga bisa,” kata Jokowi.(nap)

Editor : Akrom Hazami

Ganggu Aliran Air, Komisi C DPRD Kudus Sidak Proyek Lampu PJU Desa Rahtawu

Sekretaris Komisi C Ahmad Fatkhul Azis.(Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi C DPRD Kudus menyayangkan pemasangan proyek lampu penerangan jalan umum di jalan menuju desa wisata Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Pasalnya, sejumlah fondasi lampu didirikan di selokan air di pinggir jalan.

Sekretaris Komisi C Ahmad Fatkhul Azis mengatakan, pemasangan fondasi tiang lampu di selokan tentunya bisa mengganggu aliran air. Jika aliran air tertutup beton fondasi lampu, lanjut Azis, maka air hujan bisa meluber ke jalan.

“Imbasnya jalan bisa cepat rusak dan mengganggu pengendara yang melintas,” katanya saat menggelar sidak pemasangan lampu PJU di Desa Rahtawu, Selasa (1/7/2017).

Atas temuan itu, Komisi C meminta dinas terkait segera memerintahkan pelaksana proyek untuk mencari alternatif tempat lain. Selain dipasang di selokan air, Komisi C juga meminta tiang lampu tidak dipasang terlalu mepet di badan jalan.

Pasalnya jika nanti ada proyek pelebaran jalan, maka keberadaan lampu bisa mengganggu dan harus dipindah terlebih dahulu. “Yang terpenting setelah proyek rampung, pemeliharaan lampu harus diperhatikan. Jangan sampai ada lampu PJU yang padam atau rusak tidak segera diperbaiki,” katanya.

Proyek pemasangan lampu PJU menuju Desa Rahtawu menelan anggaran mencapai Rp 500 juta. Jalur yang selama ini gelap gulita pada malam hari tersebut akan dipasangi sebanyak 34 titik lampu PJU.

Selain menggelar sidak ke Rahtawu, Komisi C kemarin juga meninjau proyek Terminal Wisata Bakalan Krapyak dan pembangunan talut di Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Kedua proyek tersebut, lanjut Azis, sejauh ini cukup bagus.

Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman pada Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus Rasiyono mengatakan, segera menindaklanjuti temuan Komisi C tersebut. Proyek itu ditargetkan rampung akhir Agustus tersebut. (NAP)

 

Editor : Akrom Hazami

Ini 3 Trik Bupati Kudus Lawan Pungli

Bupati Kudus Musthofa hadir membuka acara Sosialisasi Pemberantasan Pungli, di Gedung Setda Kudus (1/8/2017). (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus berupaya keras mencegah adanya pungutan liar (pungli) dalam setiap pelayanan publik. Demi tercapainya pelayanan yang baik, bersih, dan transparan. Sehingga birokrasi dalam pemerintahan bersih bisa terwujud.

Demikian yang mendasari kegiatan Sosialisasi Pemberantasan Pungli, di Gedung Setda Kudus (1/8/2017). Bupati Kudus Musthofa hadir membuka acara dengan didampingi forkopinda dan dihadiri jajaran Pemkab Kudus, instansi vertikal termasuk Rutan, BUMD, sekolah, serta notaris/PPAT.

Menurutnya, pungli tidak semata-mata mengenai materi. Namun semua yang terkait dengan pelayanan pada masyarakat. Terutama pelayanan bidang pendidikan dan kesehatan.

“Kuncinya adalah dari hati. Dengan niat yang baik, ini sudah menjadi modal terbesar kita bekerja dan berihtiar yang terbaik untuk melayani masyarakat,” kata Musthofa.

Menurut kandidat doktor Undip ini, bahwa kinerja pemerintahan saat ini bagai dalam aquascape. Semua warga bisa melihat secara jelas kinerja pelayan publik. Karena itulah, kini diharapkan bisa bekerja secara baik serta maksimal.

Musthofa meminta camat memberikan pemahaman dan edukasi. Mengingat semua pelayan publik sudah seharusnya paham aturan. Biar nanti tidak terjadi persoalan.

“Keberhasilan pemerintah yang clean bukan dari banyaknya kasus yang terungkap. Tetapi dari tumbuhnya kesadaran untuk paham mana yang menjadi hak dan mana yang bukan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Musthofa berpesan tiga hal. Yakni semua harus berniat yang ikhlas, bekerja dengan cerdas, dan bekerja keras. Inilah modal penting untuk bisa memberikan pelayanan publik.

“Di era global sekarang, hidup adalah kompetisi. Berlombalah untuk menunjukkan kinerja terbaik,” pungkasnya. (nap)

Editor : Akrom Hazami

Inovasi Kudus Diapresiasi Lembaga Administrasi Negara

Bupati Kudus Musthofa saat berbicara di depan publik di Workshop Laboratorium Inovasi Daerah dan Launching Inovasi Kabupaten Kudus Kerja Sama Antara Pemkab Kudus dengan LAN, di gedung Setda Kudus, Rabu (26/7/2017). (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Lembaga Administrasi Negara (LAN) sangat mengapresiasi Kabupaten Kudus sebagai salah satu kota yang tak berhenti berinovasi.

Demikian disampaikan oleh Kepala LAN Ady Suryanto saat acara Workshop Laboratorium Inovasi Daerah dan Launching Inovasi Kabupaten Kudus Kerja Sama Antara Pemkab Kudus dengan LAN, di gedung Setda Kudus, Rabu (26/7/2017).

Bupati Kudus Musthofa hadir bersama Kepala LAN Ady Suryanto, dengan dihadiri asisten sekda dan seluruh kepala OPD, termasuk para lurah. Acara bertujuan agar OPD memunculkan inovasi yang bermanfaat bagi publik.

“Kalau ingin belajar inovasi. Contohlah Kudus. Pak Musthofa ini perlu direplikasi,” kata Ady yang mengatakan salah satu kunci sukses inovasi adalah leadership.

Ady berpesan agar bupati dan OPD mau berbagi inovasi yang ada. Supaya bisa memberikan inspirasi bagi daerah lain, serta bermanfaat secara lebih luas.

Saat ini, ada 39 daerah baru yang akan menyusul melakukan hal serupa Kudus. Tentu ini merupakan hal positif untuk memperbaiki kualitas birokrasi di Indonesia. Diharapakan itu semua akan mampu menyejajarkan diri di tingkat internasional.

Musthofa mengajak jajarannya untuk berpikir liar. Tentunya liar di sini adalah berpikir positif. Yakni keluar dari bingkai normatif yang menghasilkan manfaat nyata.

“Mengapa? Karena di dunia ini tidak ada yang abadi. Kecuali perubahan yang tentunya membutuhkan gagasan-gagasan cerdas,” kata orang nomor satu di Kudus ini.

Bupati terus mendorong jajarannya berinovasi. Bahkan ada beberapa yang sudah membuahkan prestasi. Di antaranya Dinas Dukcapil dan BLUD RSUD dr Loekmono Hadi.

“Jangan takut salah. Teruslah berinovasi, meski berpikir liar, asalkan jangan melanggar aturan,” ujarnya. (nap)

Editor : Akrom Hazami

 

 

1 Bulan, Kudus Raih 4 Penghargaan, HEBAT!

Bupati Kudus Musthofa saat memberikan keterangan soal prestasi yang diraih Kudus. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus meraih empat penghargaan pada satu bulan terakhir ini. Tentu hal itu amat membanggakan bagi Kota Kretek. Mengingat, semua itu berujung pada pelayanan yang baik untuk masyarakat.

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, penghargaan yang diraih sebenarnya bukan untuk dibanggakan. Tapi memang hal itu merupakan kewajiban pelayanan. Pada jumpa pers terkait prestasi ini di pendapa kabupaten setempat, Senin (24/7/2017). Musthofa didampingi kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) penerima penghargaan. Di antaranya Dinas Kesehatan yang menerima Paramesti atas penataan kawasan tanpa rokok.

Penghargaan yang diraih dari Kementerian Kesehatan ini buah dari kebijakan penataan kawasan tanpa rokok. Yang diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) dan segera akan ditindaklanjuti dengan penetapan Peraturan Daerah (Perda).

Tampak pula Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, serta Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Perlindungan Penduduk, dan Keluarga Berencana.

“Dukcapil dapat penghargaan atas inovasi 2 in 1 untuk percepatan pelayanan kependudukan. Yaitu begitu bayi (yang sah) lahir langsung dapat KK dan akte kelahiran,” kata Musthofa.

Penghargaan lain yakni Bakti Koperasi dan UKM dari Kementerian Koperasi dan UKM, serta yang terakhir yakni Kabupaten/ Kota Layak Anak Tahun 2017. Penghargaan kependudukan dan Kabupaten Layak Anak diberikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Dia tidak membatasi Kepala OPD dalam berkreasi. Semuanya diberikan kebebasan berinovasi bagi semua OPD asalkan semuanya bisa memberikan manfaat secara nyata kepada masyarakat.

Mengenai penghargaan tentang bakti koperasi dan UKM, Musthofa menuturkan semua koperasi harus bisa memberikan imbas dan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan. Untuk itu koperasi harus selalu dalam kondisi yang sehat.

“Tidak perlu kuantitas yang banyak. Tetapi bagaimana koperasi yang ada dalam kondisi sehat yang bisa memberikan kesejahteraan pada semua anggota,” imbuhnya.

Terkait Kota Layak Anak, dia menyebut kondisi di Kudus ini bagus untuk perkembangan anak. “Mulai dari fasilitas bermain yang ada, tempat edukasi, hingga fasilitasi dari pemkab,” ujarnya.

Musthofa meminta seluruh OPD menunjukkan kinerja yang terbaik dalam melayani. Ucapan terima kasih diberikan pada semua pihak termasuk media yang telah memberikan informasi secara luas. (nap)

Editor :  Akrom Hazami

 

Anak-anak Ini Yakin Jika Lubang di Stasiun Wergu Bekas Tembakan Belanda

Anak-anak mengamati bagian atas Stasiun Wergu Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Kisah tentang Stasiun Wergu Kudus yang diserang dengan cara ditembaki saat terjadi Agresi Militer I Belanda, memang belum banyak diketahui. Termasuk generasi muda.

Ini yang dialami anak-anak yang tergabung dalam Omah Dongeng Marwah. Mereka mencoba menelusuri bahwa, Stasiun Wergu memang menjadi bagian dari sejarah perjuangan Indonesia.

“Saya juga baru tahu soal itu. Makanya saya penasaran juga ingin tahu. Kayaknya memang keren sekali bahwa Kudus menjadi bagian dari sejarah perjuangan Indonesia,” kata Eka, salah satu siswa SMP Kudus, yang ikut dalam acara observasi dan diskusi mengenai Stasiun Wergu, Jumat (21/7/2017).

Dia bersama-sama dengan rekan, mencoba menghitung lubang yang ada di kaca bekas stasiun tersebut. Satu persatu lubang-lubang tersebut dihitung oleh mereka. Tujuannya mengetahui dengan persis, berapa jumlah lubang yang sebenarnya.

Namun, meski menghitung bersama-sama, jumlah yang didapat ternyata berbeda-beda. Ada yang berjumlah 100 buah, ada yang 120 buah, ada yang jumlahnya kurang dari itu. 

Belanda sendiri, menyerang Stasiun Wergu dengan pesawat Mustangnya, 70 tahun yang lalu. Pesawat sendiri datang dari arah timur, menuju ke barat. Padahal, Stasiun Wergu juga dibangun Belanda dahulunya. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. 

Meski hitungannya berbeda-beda, namun anak-anak itu meyakini jika lubang-lubang itu bekas tembakan. Mereka memiliki analisanya sendiri, kenapa mereka percaya bahwa itu adalah lubang bekas tembakan.

“Kan, lubangnya memiliki ciri khas tersendiri. Lubang itu memiliki retakan yang tersebar. Kayak kalau kita gambar matahari yang mekar di sekelilingnya,” kata Dharma, siswa SMP lainnya, yang ikut dalam kegiatan tersebut. 

Sedangkan pengamat sejarah,Edy Supratno mengatakan, pihaknya juga meyakini jika lubang tersebut adalah bekas tembakan. “Ditambah lagi, stasiun ini belum direnovasi usai peristiwa tersebut. Makanya saya yakin bahwa itu bekas-bekasnya,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

PKL CFD Kudus Halal Bihalal dengan Bupati  

Bupati Kudus Musthofa saat menyampaikan sambutannya di hadapan PKL di pendapa pemkab setempat. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Para PKL Car Free Day (CFD) Kudus mendapatkan kesempatan bertemu dengan Bupati Kudus Musthofa di Pendapa Kabupaten Kudus, Jumat (21/7/2017) sore.

Bupati Kudus Musthofa yang hadir bersama forkopinda dan pejabat pemkab ini mengatakan bahwa para PKL dan para pedagang CFD sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan. Mereka merupakan bentuk kemandirian ekonomi pedagang. “Secara pribadi bersama seluruh pejabat saya mengucapkan maaf atas semua kesalahan. Termasuk dalam melayani seluruh masyarakat,” katanya.

Bupati menambahkan bahwa dirinya berpesan pada seluruh pedagang agar tetap menjaga kebersihan dan ketertiban kota Kudus. Karena pemkab sudah menata kota dengan berbagai taman yang cantik. “Kutitipkan kebersihan kota pada Bapak dan ibu semua. Jangan sampai Kudus menjadi kota sampah,” pesannya.

Di akhir sambutan, Bupati meminta semua pedagang tetap menjaga kekompakan. Tidak mengedepankan ego untuk menang sendiri. Bahkan kalau perlu dibentuk kelompok per area.

Menjawab mengenai tambahan jam CFD, Bupati melalui Dinas Perhubungan menyetujui tambahan satu jam. Namun sebelum batas waktu berakhir, pedagang sudah mengemasi seluruh dagangan.

Ketua paguyuban pedagang CFD Nono Ani Sulastri mengatakan bahwa bupati ini adalah sosok yang peduli pada pedagang termasuk pedagang di CFD. Karena itulah tidak salah apabila disebut sebagai Bapaknya pedagang. “Terima kasih, Pak Musthofa. Atas kesempatan yang diberikan pada kami bisa berjualan di CFD Kudus ini,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

Sam’ani: Pak Bupati Kudus Belum Mengizinkan Saya

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kandidat kuat calon bupati Kudus yang digadang-gadang maju pada pilkada 2018 mendatang, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris punya pengakuan jujur, kenapa dirinya tidak akan mencalonkan diri.

Menurut Sam’ani, sejak awal dirinya memang tidak ingin maju dalam pemilihan kepala daerah tersebut. “Jujur, saya tidak (ingin nyalon),” katanya usai jumpa pers di Green Cafe, Jumat (21/7/2017). 

Pria yang hari ini berulang tahun itu, memang tidak mengatakan banyak hal, terkait dengan tidak majunya dia pada pilkada ini. Hanya menegaskan jika, dirinya masih ingin mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS). “Saya masih 12 tahun lagi pensiun. Jadi, saya laksanakan dulu tugas dan fungsi saya sebagai PNS sebaik-baiknya,” jelasnya.

Alasan masih berstatus PNS itu, menjadi salah satu alasan kenapa dia tidak mencalonkan diri. Selain enam alasan lain seperti, belum mendapat restu orang tua, bukan orang partai, bermodal pas-pasan, atau tidak mempunyai rekomendasi.

Oran tua, menurut Sam’ani, bukan hanya merujuk kepada kedua orang tuanya saja, melainkan juga kepada atasannya. Yakni Bupati Kudus. “Atasan itu juga termasuk orang tua lho, ya. Dan memang pak bupati belum memberikan izin. Makanya menjadi salah satu alasan,” katanya.

Sam’ani sendiri memutuskan bahwa 93% dirinya tidak akan maju sebagai calon bupati. Sedangkan 7%, tergantung kepada rahasia dan keajaiban Allah SWT.

Terkait dengan para pendukungnya yang selama ini menginginkannya maju, Sam’ani mengatakan lebih dini mereka mengetahui keputusannya tidak mencalonkan diri itu, akan lebih baik. “Karena mereka sudah tahu sejak awal. Daripada nanti-nanti, malah membuat mereka makin kecewa. Lebih baik sekarang,” jelasnya.

Namun Sam’ani menegaskan bahwa dirinya sudah memberikan penjelasan kepada pendukungnya, untuk mengerti dan memahami keputusannya itu. “Semua sudah memahaminya,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Bermodal Pas-pasan, Sam’ani Pastikan Tak Nyalon Bupati Kudus

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu kandidat yang digadang-gadang maju sebagai bakal calon bupati Kudus, pun bersuara. Adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris, yang menyatakan dirinya tidak akan maju dalam pesta demokrasi tahun 2018 mendatang.

Dalam jumpa pers yang digelar Jumat (21/7/2017), di Green Cafe, Sam’ani mengatakan bahwa dirinya tidak akan maju sebagai calon bupati. “Keputusan saya ini sudah bulat. Saya 93% tidak akan menyalonkan diri sebagai calon bupati pada pilkada mendatang,” katanya di hadapan sejumlah wartawan.

Sam’ani mengatakan, 93% opsi tidak mencalonkan diri itu, didasari pada beberapa pertimbangan. Setidaknya ada tujuh poin kenapa dirinya memutuskan untuk tidak mencalonkan diri.

Pertimbangan itu adalah belum ada restu orang tua (bapak dan ibu), masih pegawai negeri sipil (PNS) aktif, bukan orang partai, tidak mempunyai rekomendasi, modal pas-pasan, pertimbangan apa mampu jadi bupati, dan mempertimbankan antara manfaat atau mudharatnya.

Sedangkan pertimbangan 3% sisanya adalah soal rahasia dan keajaiban Allah SWT. “Memang begitulah. Saya sudah mempertimbangkannya dengan matang-matang soal ini (untuk tidak maju). Kalau alasan yang tujuh sebelumnya tadi bisa gugur, maka yang 3% juga kemungkinan masih dipertimbangkan lagi (untuk maju),” paparnya.

Namun tidak dipungkiri Sam’ani bahwa aturan soal PNS yang harus mengundurkan diri saat akan nyalon bupati, juga menjadi salah satu pertimbangan penting. 

“Saya masih 12 tahun lagi menjadi PNS. Maka dari itu, saya memutuskan untuk menjalankan tugas dan fungsi saya sebagai PNS dengan sebaik-baiknya saja,” tegasnya.

Sam’ani sendiri, adalah salah satu sosok disebut-sebut menjadi calon kuat jadi Bupati Kudus, dari kalangan birokrat. Selain Sam’ani, nama lainnya adalah Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kudus, Sumiyatun. Bahkan, Sumiyatun mengklaim sudah didukung pengurus anak cabang PDIP Kudus. 

Editor : Akrom Hazami

 

Beri Sinyal Didukung Partai Hijau, MU Masih Simpan Rapat Namanya

Haryanto (tengah), dalam jumpa pers yang digelar untuk mengumumkan Tim Adhoc Pemenangan MU dalam Pilkada Kudus 2018 mendatang, di kediaman MU, Jumat (21/7/2017).
(MuriaNewsCom/ Merie)ca

MuriaNewsCom, Kudus – Umar Ali alias Mas Umar (MU) memantapkan dirinya untuk maju sebagai calon bupati pada Pilkada Kudus 2018. Meski mengklaim bahwa dirinya sudah didukung beberapa partai politik (parpol), namun parpol mana saja itu, masih disimpan rapat.

Koordinator Tim Adhoc Pemenangan MU Haryanto mengatakan, memang pihaknya belum akan mengeluarkan nama-nama parpol yang mendukung pencalonan MU. ”Nanti saja kalau kemudian rekomendasi sudah di tangan, baru kita berani untuk mendeklarasikannya. Tapi sekarang, kami terus melakukan koordinasi,” jelasnya, Jumat (21/7/2017).

Namun Haryanto membenarkan jika memang pihaknya didekati partai-partai ”hijau” yang memiliki kursi di Kudus ini. Namun, soal kepastian rekomendasinya, memang masih menunggu pembicaraan lebih lanjut.

”Kalau partai hijau memang banyak sekali kabarnya. Namun, kita tidak menutup kemungkinan semua parpol untuk bisa mendukung kami. Karenanya, kita gencar melakukan koordinasi. Termasuk saat ini, Mas Umar pergi ke luar kota untuk urusan itu,” tuturnya.

Haryanto juga membenarkan bahwa sudah ada satu parpol yang 90% mendukung MU. Hanya, pihaknya tidak ingin terburu-buru mengumumkan hal tersebut. ”Kami masih melihat dinamika yang berkembang saat ini. Namun yang 90% tadi, memang sudah kami kantongi,” katanya.

Ditegaskan Haryanto, jika MU hanya akan maju sebagai calon bupati. Dan bukan sebagai calon wakil bupati. Hal ini sudah merupakan niat kuat dan tekad dari yang bersangkutan. ”Tetap maju sebagai calon bupati. Tidak yang lain,” tegasnya.

MU juga belum akan berbicara mengenai siapa yang akan mendampinginya nanti dalam pencalonan. Meski begitu, pihaknya membuka semua kalangan untuk bisa menjadi calon pendamping MU. ”Kita akan berbicara mengenai pendampingnya, setelah soal rekomendasi ini selesai. Sehingga itu dulu yang akan kita intensifkan,” katanya.

Selain itu, Haryanto menambahkan jika tugas lain yang juga menjadi prioritas adalah mengenalkan MU hingga ke akar rumput. Sehingga seluruh masyarakat Kudus mengenal yang bersangkutan.

”Kami akui bahwa belum semua warga Kudus mengenal MU. Sehingga tugas kami adalah bagaimana meningkatkan kepopuleran itu terlebih dahulu. Kami juga sudah menggandeng lembaga survei untuk bisa melaksanakan tugas tersebut. Hanya memang itu adalah untuk keperluan internal kami sendiri. Yang jelas, MU sudah melakukan serangkaian pendekatan secara personal dengan berbagai kalangan masyarakat. Dan itu lebih efektif untuk sekarang,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Calon Bupati Kudus Mas Umar Tunjuk Haryanto jadi Ketua Tim Pemenangan

Haryanto (kiri), dalam jumpa pers yang digelar untuk mengumumkan Tim Adhoc Pemenangan MU dalam Pilkada Kudus 2018 mendatang, di kediaman MU, Jumat (21/7/2017). (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Keseriusan Umar Ali atau yang dikenal sebagai Mas Umar (MU) untuk maju sebagai calon bupati Kudus pada Pemilukada 2018 mendatang, semakin tampak dengan ditunjuknya tim yang akan memenangkan pencalonannya.

Secara resmi, MU menunjuk H Haryanto sebagai koordinator Tim Adhoc Pemenangan MU pada pemilukada mendatang. Ini dilakukan sebagai upaya agar seluruh aktivitas dan statement mengenai MU, bisa berasal dari satu pintu.

”Saya memang sudah resmi ditunjuk Mas Umar untuk menjadi koordinator tim pemenangan. Meski memang masih secara adhoc, ya. Nanti kalau misalnya rekomendasi sudah turun, maka akan ada tim resmi lagi yang menangani,” terang Haryanto, dalam jumpa pers di kediaman MU, Jumat (21/7/2017).

Tugas tim ini, menurut Haryanto yang merupakan pengusaha, adalah bagaimana mengkomunikasikan semua yang dibutuhkan MU guna memuluskan langkahnya, maju di pilkada. Termasuk salah satunya berkomunikasi dengan partai-partai yang ada di Kabupaten Kudus, demi dukungan yang dibutuhkan.

Haryanto mengatakan, kebutuhan tim ini sendiri dianggap mendesak. Seiring dengan popularitas MU yang terus naik, maka perlu tim yang tepat untuk menangananinya. ”Artinya, partai atau masyarakat, bisa melewati satu pintu yang terpercaya, jika kemudian berbicara mengenai MU. Dan saya siap untuk itu,” tegasnya.

Dinamika dan konstelasi politik menjelang Pilkada Kudus, sebagaimana dikatakan Haryanto, berlangsung dengan cepat dan masif. Sehingga semua harus bisa disikapi dengan baik. ”Karena memang sampai sekarang, kita masih terus melakukan pendekatan dengan semua elemen masyarakat, untuk mendukung MU maju sebagai calon bupati,” paparnya.

Kemunculan MU, disebut Haryanto ternyata dapat diterima dengan baik masyarakat luas. Indikasinya adalah dengan makin banyaknya dukungan dari berbagai komunitas yang ada di Kudus.

Selain itu, dorongan beberapa stakeholder yang ada, juga menambah bukti bahwa kehadiran MU memang diharapkan. Selain tentu saja, respon partai politik (parpol) yang baik dengan munculnya nama MU. ”Apalagi, progres dukungan masyarakat setiap hari mengalir deras kepada MU. Ini yang membuat kami semakin yakin akan pencalonan MU ini,” katanya.

Ditanya mengenai strategi pemenangan yang akan dilakukan tim terhadap MU, Haryanto mengatakan jika hal itu masih rahasia. Namun, yang akan dilakukan tim dalam waktu dekat, adalah melakukan survei terhadap elektabilitas MU.

”Ya, kami sudah menggandeng salah satu lembaga survei untuk melaksanakan ini. Karena bagaimanapun, survei bagi kami penting, untuk mengetahui dengan tepat, bahwa MU memang layak untuk masyarakat Kudus,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Melon MU Siap Gempur Pasar Timur Tengah

Mas Umar, direktur PT Saka Dwipa Argo, mengecek melon hidroponik yang memasuki panen kelima, di kebun miliknya, Senin (3/7/2017). (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Hasil pertanian atau agrobisnis memang sudah banyak membuat nama Kabupaten Kudus terkenal di berbagai daerah atau negara. Dan kali ini, satu lagi produk pertanian asal Kudus yang siap untuk menggempur pasar Timur Tengah.

Produk itu adalah melon. Namun berbeda dengan melon lainnya, melon hasil budidaya pengusaha atau entrepreuner Umar Ali asal Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, ini, memiliki kualitas di atas rata-rata melon biasanya.

Salah satu pembedanya adalah melon ini dikembangkan dengan cara hidroponik, alias tanpa menggunakan komponen tanah sama sekali. ”Sehingga kualitasnya memang beda. Meski sama-sama berasal dari tipe golden melon, tapi kita memproduksinya dengan hidroponik. Sesuatu yang belum dilakukan di Kudus ini,” jelas Umar Ali, yang biasa disapa Mas Umar (MU) ini.

Direktur PT Saka Dwipa Argo ini mengatakan, dengan sistem hidroponik tersebut, kualitas melon yang dihasilkan memang berbeda. Yakni lebih manis, renyah, namun dengan kandungan air yang sedikit.

”Inilah yang disukai masyarakat di Timur Tengah. Alias Arab sana. Mereka tidak suka dengan melon yang terlalu banyak air, atau yang musk melon asal Jepang yang dagingnya berwarna putih itu. Mereka sukanya yang golden melon ini,” terangnya.

Bukan tanpa alasan jika kemudian nama Timur Tengah disebut MU. Menurutnya, pangsa pasar di sana memang sangat bagus untuk jenis melon yang dihasilkannya. Terbukanya pasar di sana itulah, yang coba dibidik MU.

Apalagi, melon yang dihasilkan lewat sistem hidroponik ini, bisa berbuah sepanjang tahun. Tidak mengenal musim. Sejak memproduksinya pada pertengahan tahun 2016 silam, sudah lima kali lahan pertanian melonnya bisa dipanen.

”Jadi sepanjang tahun, kita bisa makan melon ini. Kita bisa panen. Bayangkan setiap dua bulan, kita panen terus. Ini kan, sesuatu yang menguntungkan. Ditambah pangsa pasar yang masih terbuka luas,” tegasnya.

Potensinya yang masih besar untuk dikembangkan inilah yang membuat MU menanam melon dengan sistem hidroponik. Dirinya juga berkeinginan supaya masyarakat sekitarnya, bisa tertarik untuk ikut serta dalam bertanam melon.

”Kita kan, memang sudah terkenal dengan produksi pertanian. Namun, saya berkeinginan supaya melon ini menjadi produk agrobisnis unggulan. Sehingga masyarakat juga bisa merasakan hasilnya yang berkepanjangan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Serunya Momen saat Rama dan Sinta Pawai Lebaran

Salah satu peserta pawai yang menyita perhatian adalah perwakilan dari salah satu komunitas pemuda yang menampilkan tema lakon pewayangan Rama dan Sinta. (MuriaMewsCom/Merie)

MuriaNewsCom,Jepara – Lebaran memang momen yang menggembirakan. Karenanya patut dirayakan dengan kemeriahan yang berbeda.

Itulah yang terlihat saat warga Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, menggelar pawai malam Lebaran di desa mereka.

Bukan saja iringan musik yang memeriahkan malam Lebaran, namun pawai dengan berbagai tema, juga turut ditampilkan di sana. Suasananya jelas sangat meriah, menambah semarak suasana Lebaran di desa tersebut.

Salah satu peserta pawai yang menyita perhatian adalah perwakilan dari salah satu komunitas pemuda desa tersebut, yang menampilkan tema lakon pewayangan Rama dan Sinta. 

Menjadi menarik karena dua orang yang didapuk menjadi figur Rama dan Sinta, dinaikkan kereta kencana, layaknya raja dan ratu. Mereka lantas diarak keliling desa. Dimulai dari masjid di kawasan tersebut, sampai ke lokasi finish di depan balai desa.

Warga yang melihat kedua figur tersebut, memang memuji mereka. Karena warga melihat bahwa karakter tersebut sangat unik dan berbeda di antara peserta pawai lainnya.

“Unik saja peserta yang satu itu. Karena menampilkan sesuatu yang merupakan seni dan budaya, dipadukan dengan musik yang harmonis. Sangat menghibur juga,” kata Reza Ahmad, salah satu warga setempat.

Selain kedua tokoh tersebut, banyak tema-tema lain yang ditampilkan dalam pawai tersebut. Satu persatu mereka diarak melalui rute yang sudah ditentukan panitia.

Wajar jika kemudian peserta pawai menampilkan tema-tema yang menarik. Pasalnya, atraksi mereka juga dinilai dewan juri, dan akan membuat mereka menjadi juara.

Editor : Kholistiono

Kamu Tahu, Kartini Itu Ternyata Seorang Salesman yang Handal

Peserta diskusi peringatan Hari Kartini dengan tema ”Kartini, Apa Hebatnya”, berfoto bersama usai acara, yang berlangsung di Pendapa Kecamatan Pecangaan, Rabu (19/4/2017).(MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat mengenal Raden Ajeng (RA) Kartini barangkali lebih banyak hanya sebagai pahlawan emansipasi wanita, yang setiap tanggal kelahirannya, yakni 21 April, diperingati secara nasional.

Namun, pernahkan diketahui bahwa seorang Kartini rupanya adalah seorang salesman atau marketing yang handal? Terutama sekali di bidang pemasaran hasil-hasil mebel Jepara.

”Ya, Kartini itu seorang salesman yang handal. Dia memasarkan produk-produk mebel karya pengrajin atau masyarakat Jepara, kepada kenalannya yang kebanyakan adalah warga Belanda. Dan itu, laris sekali,”” jelas sejarawan asal Jepara, Abdi Munif, dalam acara diskusi peringatan Hari Kartini yang mengambil tema ”Kartini, Apa Hebatnya”, di Pendapa Kecamatan Pecangaan, Rabu (19/4/2017).

Dalam acara yang digagas Komunitas 94 (K-94) tersebut, Munif mengatakan bahwa Kartini menawarkan aneka produk kerajinan Jepara, baik meja, kursi, tempat tidur, dan aneka mebeler lainnya, kepada kenalannya yang notabene warga Belanda, yang ada di luar kota.

”Itu berlangsung dengan menggunakan surat sebagai alat korespondensi. Saat orang Belanda di Batavia memesan mebeler, mereka mengirimi Kartini surat, barang apa saja yang diinginkan. Dan kemudian Kartini akan meneruskan pesanan itu ke pengrajin. Setelahnya, Kartini akan membalas suratnya, dengan rincian harga dari mebeler tersebut. Dan Kartini, sama sekali tidak mengambil untung dari sana,” paparnya.

Karena itu, banyak orang Batavia, atau yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, mengenal baik karya mebel orang Jepara. Semangat Kartini inilah, yang menurut Munif, sudah ditiru banyak kaum perempuan di Indonesia. ”Termasuk di Jepara sendiri. Banyak perempuan yang berwirausaha. Dan banyak yang sukses,” katanya.

Inspirasi Kartini sebagai entrepreuner inilah yang kemudian menjadi salah satu hal yang membuat kaum perempuan di Indonesia, menjadi berbeda dulu dan sekarang. Munif mengatakan, sosok Kartini benar-benar seorang inspirator sejati.

”Padahal, Kartini itu kan hanya menginspirasi lewat kata-kata saja. Namun tengok saja apa yang terjadi sekarang. Apa yang disampaikan Kartini hanya lewat surat itu, sampai saat ini menjadi hal yang terus didengungkan kaum perempuan, untuk bisa memperbaiki nasib mereka,” kata pria yang juga aktivis dari Sanggar Berkahe Tiyang Sepuh (BTS) Mayong tersebut.

Munif menambahkan, di Indonesia hanya Kartini yang tanggal kelahirannya diperingati setiap tahunnya. Padahal, di Indonesia, banyak pahlawan perempuan lain yang tidak kalah hebatnya. ”Meski Kartini tidak mengangkat senjata melawan penjajah, namun yang dilakukannya mampu membuat pemikiran banyak orang berubah dalam melihat perempuan. Dan itu masih relevan sampai sekarang dan nanti. Sehingga Kartini itu seorang yang sangat istimewa,” imbuhnya.

Acara diskusi itu sendiri, dihadiri kalangan ibu-ibu penggerak PKK yang ada di Kecamatan Pecangaan, serta siswa-siswa sekolah. Dalam acara itu, peserta juga diminta menuliskan surat cinta untuk Kartini.

Editor: Kholistiono

Limbah RSUD Kudus Dianggap Meresahkan, Ini Tanggapan Direkturnya 

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus –  Direktur RSUD dr Loekmono Hadi, dr Aziz Achyar mengaku pihaknya telah mendapat laporan terkait adanya keluhan warga ihwal limbah rumah sakit yang meresahkan warga.

Tapi hal itu buru-buru ditampiknya. Selama ini, limbah yang dibuang RSUD tidak lagi beracun, dan berbahaya.

”Limbah yang dikeluarkan melalui saluran air tidak berbahaya dan sudah memenuhi ketentuan ambang batas. Limbah tersebut juga bukan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) karena sebelum keluar diuji dulu,” kata Aziz di Kudus, Kamis (9/3/2017).

Kendati demikian, pihaknya tidak mau diam begitu saja. RSUD akan menampung keluhan warga. Dalam waktu dekat, RSUD akan melakukan pertemuan dengan pemerintah Desa Ploso, serta warga.

Sesuai rencana, RSUD akan bertemu warga dan pemdes, Sabtu (11/7/2017). Sedianya, RSUD akan menjelaskan panjang lebar soal limbah yang keluar dari rumah sakit aman bagi lingkungan sekitar.

 

Editor : Akrom Hazami

Limbah RSUD Kudus Bikin Resah

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Limbah RSUD dr Loekmono Hadi Kudus bikin resah warga sekitar. Seperti yang dialami warga Desa Ploso, Kecamatan Jati. Diketahui, limbah mengalir ke permukiman desa itu. Akibatnya, bau tak sedap muncul serta mencemari air sumur dari rumah.

Hal ini diungkapkan Amin, salah seorang warga setempat. Dia memperkirakan air limbah yang mengalir mengarah ke permukiman. Adapun warnanya putih dan berbuih. “Aroma air juga tidak sedap. Sangat mengganggu warga,” kata warga RT II ini di Kudus, Kamis (9/3/2017).

Akibatnya, sumur milik warga menjadi berbau. Seluruh warga yang tinggal di sekitar RSUD tak lagi menggunakan air sumur. Mengingat baunya yang tidak sedap. ”Kami kini terpaksa harus menggunakan air PDAM karena air sumur sudah tidak layak lagi,” ungkap Amin.

Warga berharap RSUD mengecek hal itu. Supaya warga tak terus menerus mengalami persoalan limbah dari RSUD.

Kepala Desa Ploso, Bambang Giyata mengatakan warganya banyak yang mengeluh soal limbah RSUD. Pihaknya telah menyampaikan keluhan ke RSUD. ”Hanya sayangnya, RSUD masih belum memberikan tanggapan memuaskan,” kata Bambang.

Polusi udara yang ditimbulkan RSUD juga mengganggu warga sekitar. Meski pihak RSUD sudah meninggikan tembok pembatas. Tapi nyatanya hal itu tak mengurangi bau tak sedap.

Editor : Akrom Hazami

Fraksi di DPRD Kudus Ramai-Ramai Dukung Hak Angket RSUD Dr Loekmono Hadi

Sejumlah kendaraan parkir di halaman RSUD Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua Komisi D DPRD Kudus Mukhasiron mengatakan, mayoritas fraksi mendukung pengguliran hak angket RSUD dr Loekmono Hadi di Kudus, Senin (6/3/2017).

Tercatat, ada 12 anggota dari enam fraksi di DPRD Kudus telah membubuhkan tanda tangan sebagai pengusul hak angket. Sesuai tata tertib (Tatib) DPRD Kudus, hak angket bisa diusulkan paling sedikit tujuh orang anggota dari minimal dua fraksi. “Sudah ada 12 anggota yang setuju atas usulan hak angket,” kata Mukhasiron.

Banyak anggota DPRD yang menyatakan kesanggupannya mendukung digulirkannya hak angket. Adapun 12 anggota DPRD yang membubuhkan tanda tangan berasal dari Fraksi PKB, PDIP, Golkar, PAN, FHD, dan Nasdem. Fraksi PKS dan PBP.

Mereka akan segera bergabung untuk mendesak pimpinan segera membentuk panitia khusus (pansus). Banyaknya dukungan di internal DPRD Kudus untuk menggulirkan hak angket didasari atas banyaknya kritikan ke RSUD Kudus itu.

“Karena pelayanan rumah sakit menyangkut hajat hidup masyarakat Kabupaten Kudus secara luas, maka kami serius mengawal usulan hak angket ini, hingga nanti terbentuk pansus dan tahap penyelidikan,” katanya.

Terkait pelayanan RSUD yang banyak dikeluhkan, anggota Fraksi PKB Nur Khabsyin berpendapat sudah saatnya jajaran direksi dan manajemen RSUD dr Loekmono Hadi direformasi.

“Selain reformasi manajemen, kami juga menuntut adanya transparansi renumerasi dan perbaikan pelayanan,” katanya.

Sejauh ini, pihaknya telah beberapa kali menyampaikan masukan kepada RSUD soal pelayanan. “Direktur RSU selalu bilang akan menindaklanjuti usulan dan masukan dari DPRD, namun masih saja sering terulang kejadian yang sama,” kata Ketua Komisi A Mardijanto.
Dicontohkannya adalah, pelayanan di poliklinik rawat jalan. “Banyak masyarakat yang antre sejak subuh, namun hingga jam 10.00 WIB dokter belum ada. Banyak keluhan itu,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Buntut RSUD Kudus Rahasiakan Data Pembagian Renumerasi, DPRD : Desak Bentuk Pansus

Ketua DPRD Kudus Masan saat berbincang dengan anggota wakil rakyat lain saat sidak ke RSUD dr Loekmono Hadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – DPRD Kudus masih tak mampu menyembunyikan kekecewaannya kepada RSUD dr Loekmono Hadi. Hal ini akibat RSUD tidak memberikan data soal pembagian renumerasi. Anggota DPRD Kudus mendesak agar pimpinan DPRD segera membentuk panitia khusus (pansus) guna menginvestigasi manajemen rumah sakit.

Ketua Komisi D DPRD Mukhasiron mengatakan desakan pembentukan pansus menguat setelah mereka melakukan sidak ke rumah sakit, Sabtu (4/3/2017). Diketahui, sidak dipimpin Ketua DPRD Kudus Masan. “Pansus terkait layanan RSU Kudus layak digulirkan karena direksi RSU menutup-nutupi informasi yang kami butuhkan,” ujar Mukhasiron di Kudus, Minggu (5/3/2017).

Buruknya pelayanan RSUD sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Pihaknya kerap mendapatkan keluhan masyarakat ihwal pelayanan RSUD. Di antara yang mendapat sorotan adalah buruknya pelayanan terutama terhadap pasien program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

RSUD memberikan pelayanan tak maksimal. Hal itu diduga menurut Mukhasiron, terkait kurang adilnya pembagian renumerasi untuk jajaran direksi hingga staf terbawah.

Informasi yang ditangkapnya, renumerasi atau tambahan penghasilan direktur RSU mencapai Rp 40 juta, ditambah lain-lainnya. Berarti ‘take home pay’ direktur mencapai Rp 70 juta per bulan. Sementara renumerasi untuk perawat dan tenaga medis lainnya di tingkat pelayanan sangat kecil sehingga terjadi kesenjangan.

Pada sidak, DPRD sebenarnya meminta membuka data besaran remunerasi yang diberikan kepada seluruh pegawai di semua tingkatan. Namun, permintaan tersebut ditolak oleh pihak RSUD. “Seharusnya besaran gaji dan tunjangan pejabat publik tidak perlu ditutup-tutupi. Di RSU kami tidak melihat adanya keterbukaan informasi publik terkait hal ini. Alasan inilah yang salah satunya mendorong kami mendesak pimpinan untuk menggulirkan pansus,” ujarnya.

Mukhosiron juga menyoroti sistem rekruitmen tenaga kontrak untuk posisi perawat dan tenaga medis. Dari penelusurannya, RSU Kudus tidak memiliki analisa kebutuhan karyawan yang valid, sehingga proses rekruitmen berpotensi terjadi penyelewengan.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kudus, Edi Kurniawan mengatakan jajaran direksi dan manajemen RSU perlu penyegaran. Sebab Edi melihat adanya ketidakberesan dalam pengelolaan anggaran RSUD. “Setiap tahun, puluhan miliar anggaran diberikan ke RSUD. Sementara, dengan status sebagai BLUD, RSUD tak perlu menyetor pendapatan ke kas daerah dan bebas mengelola anggaran sendiri. Tapi kenyataannya, masih ada diskriminasi dalam pelayanan,” ujarnya.

Direkrut RSU dr Loekmono Hadi dokter Abdul Azis Achyar menanggapi apa yang dikeluhkan DPRD. Azis menampik jika pihaknya dikatakan menutupi data. Termasuk menutup-nutupi pembagian renumerasi. Azis mengatakan, data yang diminta anggota DPRD Kudus sudah disiapkan. Tapi terlebih dulu, pihaknya harus minta izin ke Bupati Kudus.

“Hingga anggota DPRD tiba di RSU, izin dari bupati belum ada sehingga kami tak berani membuka data tersebut,” kata Azis.

Azis mengatakan, pembagian renumerasi yang diambil sebesar 30 persen dari pendapatan RSU sudah sangat proporsional. Pembagian renumerasi juga mengacu pada peraturan bupati (perbup). “Tidak ada kesenjangan seperti yang disampaikan anggota DPRD. Semuanya proporsional,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : DPRD Kudus Kesal dengan  RSUD yang Tak Transparan soal Data

Unik, Balapan Kucing Buat Penonton Tergelak

Caption Peserta lomba balap kucing sedang bersiap di garis start, dalam even cat show dan cat fun yang berlangsung di United Futsal Stadium, Minggu (5/3/2017). (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Kucing rupanya bisa juga jadi “pembalap”. Bahkan bisa membuat semua orang tergelak.

Itu terjadi saat kucing-kucing peserta even cat show dan cat fun di United Futsal Stadium, Minggu (5/3/2017), mengikuti lomba balap lari. Tingkah lucu para kucing, ternyata sanggup membuat pengunjung even tergelak.

Ada kucing yang berlarinya sangat cepat dari mulai start hingga ke garis finish. Namun, ada juga yang ternyata mogok tidak mau lari, bahkan berbalik arah.

Contoh saja Scarlet. Kucing milik Ayik, warga Kabupaten Kudus tersebut, ternyata hanya diam saja, saat juri sudah menyatakan aba-aba lari. Meski sang pemilik dan anak-anaknya sudah memberikan berbagai cara supaya Scarlet berlari ke garis finish, justru malah duduk saja di arena lomba. Tentu saja semua orang menjadi tergelak karenanya.

“Kenapa ya, sama kucing saya. Tadi pas latihan juga begitu. Tidak mau lari. Mungkin karena panas, ya,” kata Ayik, usah lomba.

Ayik mengaku baru kali pertama mengikuti even lomba kucing seperti ini. Sehingga baru mengenal bagaimana trik dan triknya untuk lomba-lomba semacam itu. “Kalau di rumah kucing saya memang aktif lari-larian. Lah, ini kok mogok. Mungkin belum beruntung,” jelasnya.

Namun, rata-rata kucing memang membutuhkan beberapa saat untuk mengenal situasi yang ada. Sehingga tidak langsung lari, usai aba-aba start dibunyikan. 

Selain lomba balap kucing, dalam even yang digelar Komunitas Pecinta Kucing Kudus (Kopek), dan didukung penuh PR Sukun tersebut, juga digelar lomba makan dan berat badan. Dan ternyata ada kucing dengan berat lebih dari 6 kilogram.

Editor: Merie

Dari Meraba, Membelai, dan Memeluk, jadi Cara Juri Nilai Kucing

Salah satu juri  lomba cat show, sedang memeriksa seekor kucing sebelum dinilai, dalam even yang digelar di United Futsal Panjang, Minggu (5/3/2017). (MuriaNewsCom /Merie) 

MuriaNewsCom, Kudus – Juri lomba cat show, ternyata memiliki cara tersendiri saat menilai kucing yang dilombakan. Ada hal-hal khusus yang dilakukan juri, saat menilai seekor kucing.

Dua orang dewan juri yang didatangkan dalam even cat show di United Futsal Stadium, Minggu (5/3/2017), memiliki cara tersendiri dalam menilai. 

Juri akan meraba-raba seluruh badan kucing yang menjadi peserta. Kemudian akan membelai bulu-bulu dari kucing tersebut.

Yang juga dilakukan juri, adalah memeluk si kucing. Cukup lama hal itu dilakukan. Seolah ingin mengetahui detak jantung si kucing. Setelah itu, juri akan mengangkat si kucing setinggi-tingginya. Kucing cukup bereaksi saat diangkat, dengan mengeong atau menggerakkan kakinya.

Dua juri yang hadir dalam even yang diselenggarakan Komunitas Pecinta Kucing Kudus (Kopek) dan didukung penuh PR Sukun ini, adalah drh Slamet Raharjo dan drh Anna Ekawati.

Peserta datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain lomba kucingnya sendiri, juga digelar lomba cat fun. Pesertanya yang tentu saja kucing, akan mengikuti lomba lari, lomba makan, dan lomba-lomba seru-seruan lainnya. Tentu saja bakal semakin menarik.

Editor : Akrom Hazami 

 

BPK Audit 5 Desa di Kudus, Ini Kata Pemkab

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit keuangan kepada lima desa di Kecamatan Dawe. Yaitu Desa Lau, Samirejo, Japan, Piji, dan Cendono.

Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Eko Djumartono mengatakan, BPK memutuskan melakukan audit ke desa. Karena pemdes selama ini juga menerima transfer anggaran dari pemerintah.

Tercatat, total dana transfer ke sebanyak 123 desa di Kabupaten Kudus tahun ini mencapai Rp 219 miliar lebih. “Anggaran itu terdiri atas dana desa dari Pemerintah Pusat sebesar Rp 103 miliar dan alokasi dana desa (ADD) dari APBD Kudus sebesar Rp 106 miliar lebih,” kata Eko.

Pemdes juga menerima bagi hasil retribusi dan pajak masing-masing sebesar Rp 1,95 miliar dan Rp 8,23 miliar. “Kami setiap tahun anggaran juga telah meminta ikhtisar laporan keuangan desa, sebagai bentuk pengawasan penggunaan anggaran di desa,” pungkas Eko.

BPK menemukan sejumlah dugaan pelanggaran administrasi di lima desa tersebut. Pelanggaran itu, kata dia, contohnya yaitu tidak adanya dokumen penyerahan pekerjaan yang didanai dari anggaran desa. 

Pekerjaan fisiknya ada dan sudah selesai dikerjakan. Semua prosedur tahapan pekerjaannya juga sudah benar. Tapi masih ada kekurangan seperti dokumen penyerahan hasil pekerjaan. Praktis itu harus segera dilengkapi.

Editor : Akrom Hazami

5 Desa di Dawe Kudus Diaudit BPK Habis-Habisan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memantau lima desa di Kudus terkait pengelolaan anggaran desa.

Hal itu disampaikan Asisten I Setda Kudus Agus Budi Satriya. Dia mengatakan, BPK melakukan audit di lima desa di Kabupaten Kudus. Audit penggunaan anggaran desa tahun 2016 ini menjadi yang kali pertama dilakukan BPK.

Lima desa yang diaudit yaitu Desa Lau, Samirejo, Japan, Piji, dan Cendono. Kelima desa ada di Kecamatan Dawe. “Baru tahun ini BPK melakukan audit ke pemerintah desa. BPK memilih secara acak desa mana saja yang akan diaudit,” kata Agus, di Kudus, Rabu (1/3/2017).

BPK menemukan sejumlah dugaan pelanggaran administrasi di lima desa tersebut. Pelanggaran itu, kata dia, contohnya yaitu tidak adanya dokumen penyerahan pekerjaan yang didanai dari anggaran desa. 

Pekerjaan fisiknya ada dan sudah selesai dikerjakan. Semua prosedur tahapan pekerjaannya juga sudah benar. Tapi masih ada kekurangan seperti dokumen penyerahan hasil pekerjaan. Praktis itu harus segera dilengkapi.

BPK merekomendasikan agar Pemkab Kudus segera melakukan pendampingan kepada lima desa tersebut. Melalui pemerintah kecamatan dan pendamping desa, Pemkab Kudus langsung melakukan pembinaan. Agar penyelewengan anggaran oleh oknum di pemdes tak terulang.

Editor : Akrom Hazami