Urus Sertifikat Tanah 3 Tahun Tak juga Jadi, Warga Suwaduk Pati Bingung 

Arobi, buruh tani asal Suwaduk, Wedarijaksa yang kesulitan mengurus sertifikat tanah di desanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ngatini (62), nenek asal Desa Suwaduk, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, bingung harus mengadu, karena sertifikat tanah yang diurus perangkat desa setempat tak kunjung jadi. 

Padahal, Ngatini mengaku sudah membayarkan uang senilai Rp 8 juta kepada Mantan Kasi Pemerintahan Desa Suwaduk Fahrur Rozi yang saat ini menjabat sebagai sekretaris desa. Uang itu dititipkan ketua RT setempat, Suwoto sekitar tiga tahun yang lalu.

“Saya ini orang bodo, tidak tahu apa-apa. Maunya mengurus sertifikat tanah, karena tidak tahu kapan saya mati. Tapi sampai sekarang, sertifikat tanah belum jadi. Padahal saya sudah urus sekitar tiga tahun yang lalu,” ungkap Ngatini, Kamis (31/8/2017).

Ia menjelaskan, uang Rp 8 juta itu diperoleh dari penjualan hewan ternak sapinya. Dia berharap, tanahnya agar segera bisa dilegalkan secara hukum. Namun, dia harus pasrah menerima realitas karena sertifikat itu tak kunjung jadi.

Ngatini sendiri tidak diberikan kuitansi atau bukti pembayaran saat uang Rp 8 juta itu diserahkan Fahrur Rozi melalui ketua RT setempat. Hanya, saat itu dia ditemani puterinya, Purmiah.
Hal yang sama disampaikan Arobi, warga Suwaduk RT 1 RW 2. Dia mengaku sudah menyetorkan uang Rp 3,75 juta kepada Fahrur Rozi, tetapi sertifikat tanahnya tidak kunjung jadi.

Kesal dengan ulah perangkat desa tersebut, Arobi meminta uangnya kembali. “Sudah saya ambil Rp 3 juta, sedangkan Rp 750 ribu katanya sudah digunakan untuk biaya balik nama,” papar Arobi.

Sebelum uangnya kembali Rp 3 juta, Arobi sempat meminta belas kasihan karena uang yang digunakan untuk mengurus sertifikat tanah diambil dari hutang. Sementara Arobi merupakan pria yang sudah tua dan tidak mampu.

“Saya tanyakan, gimana pak sudah empat tahun. Apa tidak kasihan sama saya? Wong saya orang tidak mampu. Dia bilang, gimana kamu tidak sabar kok. Gimana uangnya mau dikembalikan saja? Saya jawab kembalikan saja daripada lama. Uang itu dulunya saya dapat dari hutang,” tuturnya.

Arobi juga mengaku, sejak uang itu diberikan empat tahun yang lalu, belum ada petugas yang datang untuk mengukur tanah. Kakek yang bekerja sebagai buruh tani itu berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi terhadap masalah tersebut.

Editor : Akrom Hazami

 

Akun Medsos Diretas untuk Penipuan, Anggota DPRD Pati Lapor Polisi

Wakil Ketua III DPRD Pati Joni Kurnianto melapor kepada polisi terkait dengan akun medsos yang diretas, Kamis (31/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Akun media sosial Wakil Ketua III DPRD Pati Joni Kurnianto diretas hacker. Ironisnya, akun BlackBerry Messenger (BBM) dan Facebook tersebut lantas digunakan untuk penipuan.

Modusnya, pelaku mengirim pesan kepada rekan-rekan Joni di akun medsos untuk meminta bantuan uang dengan cara transfer ke rekening. Merasa dirugikan, Joni melaporkan peretasan akun medsos tersebut kepada polisi, Kamis (31/8/2017).

“Saat ini akun itu sudah bisa diambil lagi. Namun, saya tetap menuntut agar pelaku segera ditangkap karena sudah meresahkan dan mencemarkan nama baik,” ungkap Joni.

Salah satu yang menjadi sasaran penipuan tersebut adalah Yusra. Dia diminta untuk mengirim uang ke nomor rekening Bank Mandiri 1520016304665 atas nama Hj Muh Ali senilai Rp 2,5 juta.

Dalam chat tersebut, Yusra sempat akan melakukan transfer dalam waktu 15 menit. Namun, aksi itu berhasil digagalkan setelah Joni melakukan klarifikasi bila akunnya diretas.

Hal yang sama menimpa Anang Kurniawan. Namun, Anang menolaknya karena saldo di rekening habis untuk modal  sehingga belum bisa membantu. Meski begitu, pelaku masih meminta transfer Rp 800 ribu saja.

Joni berharap kepada polisi agar pelaku segera ditangkap untuk diproses secara hukum. Pasalnya, aksi yang dilakukan pelaku merugikan banyak orang.

Editor: Supriyadi

Jadi Mucikari, Pemilik Warung Kuro-kuro di Ngrames Pati Terancam 16 Bulan Penjara

Polisi menggrebek warung kopi di Ngrames, Sukoharjo, Wedarijaksa yang dijadikan tempat prostitusi terselubung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pemilik warung kuro-kuro Dukuh Ngrames, Desa Sukoharjo, Wedarijaksa, Pati berinisial WW (34) alias Dela ditangkap polisi, Rabu (31/8/2017) sore. Pelaku ditetapkan tersangka setelah terbukti menjadi mucikari di tempat prostitusi berkedok warung kopi.

Sebelum membekuk pelaku, polisi melakukan penyelidikan intensif ke warung kopi tersebut. Setelah terbukti menjadi mucikari, polisi langsung melakukan penyergapan.

“Pelaku dikenakan Pasal 296 KUHP dengan ancaman hukuman 1 tahun 4 bulan. Dia terbukti telah mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul. Selain mengamankan barang bukti, ada empat saksi yang sudah kami amankan,” ujar Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum, Kamis (31/8/2017).

Barang bukti yang diamankan, antara lain satu HP Samsung Galaxi J5 milik tersangka, satu unit HP Samsung Core 2 milik saksi, dan uang tunai Rp 250 ribu milik saksi lainnya.

Adapun modus operansi yang dilakukan, pelaku berjualan kopi di rumah kontrakannya sembari menawarkan pelanggan untuk bermain seks di dalam kamar tidur. Ketiga saksi yang diciduk polisi adalah pelanggan yang menggunakan jasa esek-esek.

“Awalnya kami mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa warung kopi itu digunakan untuk praktik prostitusi. Setelah itu, kami menerjunkan intelejen untuk melakukan penyelidikan. Setelah informasi itu benar dan ada barang bukti, kami langsung melakukan penggrebekan dan penangkapan pelaku,” jelas AKP Sulis.

Saat penggrebekan berlangsung, ada dua orang yang berada dalam satu kamar dalam keadaan terkunci. Namun, polisi berhasil membawa pelaku dan saksi-saksi beserta barang bukti ke Mapolsek Wedarijaksa.

Editor: Supriyadi

Jadi Sasaran Sindikat Pengedar Sabu-sabu, Polres Pati Gelar Operasi Narkotika di Kecamatan Dukuhseti

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo menegaskan pemberantasan narkotika di Pati sampai ke akarnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati menggelar operasi khusus narkotika di wilayah Kecamatan Dukuhseti, menyusul kawasan tersebut menjadi sasaran sindikat pengedar sabu-sabu. Sejumlah tim khusus diterjunkan untuk melakukan deteksi kemungkinan adanya jaringan terselubung baru.

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, operasi khusus narkotika itu sebagai respons cepat atas penangkapan sindikat pengedar sabu yang menyasar ke Pati dan sekitarnya. Sabu-sabu tersebut diedarkan di kawasan pedesaan, seperti Puncel, Kedawung, Kembang dan Dukuhseti, termasuk perbatasan Pati-Jepara.

“Tim operasi khusus sudah mulai melakukan penyisiran dan deteksi. Ini sebagai bentuk upaya pencegahan terhadap peredaran narkotika di Pati agar tidak meluas ke daerah-daerah lain,” jelas Kompol Sundoyo, Kamis (31/8/2017).

Pihak kepolisian menegaskan tidak akan berkompromi dengan pelaku tindak kejahatan. Terlebih, Presiden Jokowi menyatakan Indonesia sudah masuk darurat narkotika sehingga peredarannya harus dihentikan.

“Kita akan berantas sampai ke akar-akarnya, tidak peduli apakah dia anggota sendiri, masyarakat atau pejabat. Indonesia sudah darurat narkotika, kita akan tindak tegas, terutama di wilayah Pati,” tegasnya.

Selain menjadi sasaran peredaran narkotika, kawasan Dukuhseti juga terdapat pengedar yang merupakan residivis empat kali keluar masuk penjara. Karena itu, operasi khusus narkotika di Pati akan menyasar kepada pemakai, kurir dan pengedar.

Editor: Supriyadi

Sepenggal Kisah Angling Darma yang Ditampilkan Duta Wisata Pati

Duta Wisata Pati, Farizki Bagus Kurniawan dan Gunita Wahyu Sektyanti saat memerankan Angling Darma dan belibis putih pada Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Krisno, seorang tokoh masyarakat Desa Durensawit, Kecamatan Kayen tidak henti-hentinya mempromosikan Pati sebagai bagian dari Kerajaan Malawapati pada zamannya. Dia yakin, Sang Prabu Angling Darma pernah hidup di kawasan Kendeng yang kini masuk wilayah Kabupaten Pati.

Hal itu yang melatari Krisno mengangkat kisah Angling Darma dalam perhelatan akbar “Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso” pada Selasa (29/8/2017) kemarin. Di tengah kontingen lain mempromosikan potensi ekonomi, dia justru ingin menunjukkan potensi Pati di bidang sejarah dan kearifan lokal.

Duta Wisata Pati terpilih, Farizki Bagus Kurniawan dan Gunita Wahyu Sektyanti ditunjuk sebagai perwakilan dari Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) untuk memerankan sosok Angling Darma dan Belibis Putih.

“Kami, pengelola wisata bukit pandang bekerja sama dengan Dinporapar untuk ikut berpartisipasi dalam festival pembangunan. Kami angkat kisah Angling Darma sebagai bentuk promosi Pati di bidang sejarah, kebudayaan dan kearifan lokal,” kata Krisno saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Kamis (31/8/2017).

Sebelum mengelilingi rute di wilayah Pati Kota, dua duta wisata sempat memeragakan adegan Kisah Angling Darma saat dikutuk menjadi belibis putih oleh ketiga dara resi Widata, Widati dan Widaningsih.

Belibis putih yang mengepakkan sayapnya mendapatkan lambaian tangan dari ribuan warga Pati yang menonton dan memadati jalanan. Peragaan keduanya menggugah ingatan warga bahwa Pati pada masa lampau juga memiliki raja agung yang berwibawa dan dihormati rakyat.

“Ceritanya, aku jadi belibis putih karena dikutuk tiga dara resi. Setelah itu, aku mengembara ke hutan belantara hingga sampai di Kerajaan Bojanegara. Di sana, aku ketemu putri Bojanegara, kembali menjadi Angling Darma dan menikahi sang putri. Saat menjadi Angling Darma itu, peranku digantikan Farizki,” ucap Gunita.

Bagi Gunita, memerankan tokoh legenda Angling Darma dan belibis putih merupakan pengalaman baru. Ia senang bisa ikut mempromosikan Kabupaten Pati sebagai daerah yang penuh dengan potensi, termasuk potensi sejarah dan budaya yang harus dilestarikan.

Karena itu, ia mengajak kepada pemuda di Pati untuk tidak melupakan sejarahnya sendiri. Dari sejarah, orang akan terinspirasi untuk menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan.

Editor : Ali Muntoha

Panen Padi Melimpah, Petani di Mulyoharjo Pati Disarankan Jual ke Bulog

Petani Mulyoharjo tengah memanen padi jenis Inpari 32 yang didampingi babinsa, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Pati berhasil memanen padi dengan hasil yang cukup melimpah. Per hektare, mereka rata-rata bisa menghasilkan lebih dari delapan hingga sebelas ton gabah.

Asri Wibowo, misalnya. Lahan sawah seluas 2 haktare mampu menghasilkan 16 ton. Sementara Hepy dan Mustofa bisa menghasilkan 3,8 ton gabah di lahan seluas sepertiga hektare.

Babinsa Desa Mulyoharjo Serda Herna Bakri yang mendampingi panen raya tersebut menyarankan untuk menjual gabah ke Bulog. Pasalnya, Bulog yang menjadi representasi pemerintah memiliki tugas untuk membeli hasil panen dari petani untuk kembali disalurkan kepada masyarakat.

“Kami sarankan untuk dijual ke Bulog. Dari Bulog, hasil panen petani akan kembali didistribusikan kembali kepada masyarakat. Itu menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan,” kata Serda Herna, Rabu (30/8/2017).

Di Mulyoharjo, lahan pertaniannya diakui cukup luas. Aset berupa lahan sawah yang luas dengan ditopang saluran irigasi air yang baik diharapkan bisa meningkatkan produktivitas petani, sehingga bisa menyejahterakan petani itu sendiri.

Ia juga menyarankan agar petani tidak ragu untuk terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL), mantri tani, babinsa dan kelompok tani. Sebab, mereka saat ini mendapatkan mandat untuk melakukan pendampingan dalam program Upaya Khusus Swasembada Pangan Nasional.

Adapun jenis padi yang dipanen petani Mulyoharjo sebagian besar Inpari 32. Jenis padi tersebut diakui punya kualitas yang baik untuk stok pangan nasional, karena bisa meningkatkan produksi gabah kering panen (GPK) hingga dua kali lipat.

Editor : Ali Muntoha

Kantor BPN Pati Pun Ikut Digeledah Tim Saber Pungli, Apa Hasilnya?

Polisi yang tergabung dalam Tim Saber Pungli memeriksa dokumen di loket pelayanan Kantor BPN Pati, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Pati juga digeledah polisi bersama Tim Saber Pungli Pati, Rabu (30/8/2017). Penggeledahan dilakukan setelah adanya laporan masyarakat yang menyebut ada indikasi pungutan di sana.

“Informasi yang kami terima dari masyarakat, ada pungli di Kantor BPN Pati. Kami langsung mendatangi kantor tersebut dan melakukan penggeledahan di loket-loket pelayanan masyarakat,” kata Ketua Tim Saber Pungli Pati Kompol Sundoyo.

Dari hasil penggeledahan, polisi tidak menemukan adanya indikasi pungli. Pelayanan di BPN Pati diakui sudah berjalan sesuai dengan prosedur dan administrasi.

Tak hanya penggeledahan dokumen, polisi juga bertanya kepada sejumlah pengunjung yang sedang mengurus di BPN Pati. Mereka mengaku tidak ada pungli di sana.

Namun, Kompol Sundoyo melihat papan pengumuman prosedur pengurusan di BPN Pati tidak begitu jelas. Karena itu, ia meminta kepada Kepala BPN Pati untuk memasang agar masyarakat tahu.

Baca juga : Edaan…Makelar di Pelabuhan Juwana Ini Bahkan Punya Kantor Khusus

Menanggapi hal itu, Kepala BPN Pati Yoyok Hadimulyo Anwar akan segera melakukan evaluasi penempatan poster prosedur pengurusan di BPN Pati. “Sebetulnya sudah ada, tapi kami kesulitan mau menempel di mana, nanti akan kami benahi,” kata Yoyok.

Penggeledahan di Kantor BPN Pati sempat membuat banyak pegawai dan pengunjung kaget. Namun, pegawai mempersilakan untuk melakukan pemeriksaan, setelah Kompol Sundoyo mengenalkan diri sebagai Tim Saber Pungli.

Editor : Ali Muntoha

Edan…Makelar di Pelabuhan Juwana Ini Bahkan Punya Kantor Khusus

Tim Saber Pungli mendatangi makelar yang beroperasi di sebelah Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tim Saber Pungli Kabupaten Pati yang dipimpin Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo menemukan makelar yang mangkal di kawasan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana, Rabu (30/8/2017).

Makelar tersebut memiliki kantor yang jaraknya hanya beberapa meter dari Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana. Saat ditanya petugas, dia mengenalkan diri dengan nama Kliwon.

Namun, setelah dicecar petugas, dia baru mengaku bila namanya Karyanto. Di kantor tersebut, Karyanto melayani berbagai macam pengurusan surat.

Salah satu pelayanan yang diberikan, antara lain SIUP, SIPI, surat laut, pengesahan surat ukur internasional, sertifikat garis muat, balik nama gros akte, dan halaman tambahan. Sayangnya, tidak ada pengunjung yang menggunakan jasanya saat Tim Saber Pungli memeriksanya.

Saat ditanya apakah Karyanto menyetor sejumlah uang kepada pegawai Kantor Pelabuhan Juwana untuk memuluskan profesinya sebagai makelar, dia hanya tersenyum dan tidak menjawabnya. Kompol Sundoyo lantas memerintahkan anggota Tim Saber Pungli untuk melakukan investagasi lebih lanjut.

“Kami memerintahkan kepada tim deteksi untuk melakukan investasi lebih lanjut apakah ada jaringan makelar yang melibatkan pegawai kantor pelabuhan. Sebab, kami menemukan adanya prosedur pengurusan surat di kantor pelabuhan yang sengaja tidak transparan,” ungkap Kompol Sundoyo.

Baca juga : Kantor Pelabuhan Juwana Digeledah Tim Saber Pungli

Menurutnya, informasi prosedur pengurusan surat ada indikasi dibuat tidak transparan, agar menggunakan jasa makelar yang sudah bekerja sama dengan pegawai. Hanya saja, pihaknya belum menemukan bukti yang menguatkan indikasi tersebut.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk mengurus surat-surat di kantor pelabuhan secara langsung, tanpa menggunakan jasa perantara. Bila sudah mengurus surat di kantor secara langsung tapi ada pungutan, dia meminta kepada masyarakat untuk tidak segan melaporkan kepada Tim Saber Pungli di Mapolres Pati.

“Pegawai sudah digaji negara. Kalau masih saja melakukan pungutan kepada masyarakat, artinya mereka menghianati negara. Ini harus diberantas sampai akar-akarnya,” tandas Kompol Sundoyo.

Editor : Ali Muntoha

Kantor Pelabuhan Juwana Digeledah Tim Saber Pungli

Tim Saber Pungli mendatangi Kantor Unit UPP Kelas III Juwana untuk pemeriksaan adanya dugaan pungli, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana diperiksa Tim Saber Pungli, Rabu (30/8/2017). Semua ruangan digeledah dan diperiksa.

Ketua Tim Saber Pungli Kabupaten Pati Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, pemeriksaan Kantor UPP Kelas III Juwana tersebut melibatkan semua unsur, dari polisi, TNI, pemkab, propam, dan inspektorat.

“Ada laporan dari masyarakat yang menyebutkan adanya indikasi pungutan liar di sana. Laporan itu kami tindak lanjuti dengan memeriksa seluruh ruangan untuk menemukan barang bukti,” kata Kompol Sundoyo.

Belasan petugas Tim Saber Pungli yang datang, langsung masuk ke berbagai ruangan untuk memeriksa berkas-berkas. Sasaran utama yang diperiksa paling awal adalah ruang pelayanan umum.

Di ruangan itu, Tim Saber Pungli mencium adanya prosedur penerbitan sertifikat kelayakan pada Kantor UPP Juwana yang tidak transparan. Hanya saja, pihaknya tidak menemukan adanya pelanggaran administrasi yang menunjukkan adanya pungli.

“Soal transparansi prosedur pelayanan masyarakat masih kurang. Tapi secara keseluruhan sudah sesuai dengan ketentuan administratif,” tambahnya.

Dia meminta kepada pegawai Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana untuk melengkapi tata cara prosedur pelayanan sesuai dengan aturan.

Dengan demikian, masyarakat bisa paham dengan mudah prosedur pengurusan di UPP Juwana.

Editor : Ali Muntoha

Karnaval di Pati Mengular 2 Kilometer, Jalanan Macet Total


Suasana karnaval pembangunan di Jalan Kolonel Sunandar Pati, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Karnaval pembangunan bertema “Noto Projo Mbangun Deso” yang dihelat di sepanjang jalan di kawasan Pati Kota, Selasa (29/2/2017) menyebabkan macet total. Hal itu disebabkan panjangnya karnaval yang mengular hingga hampir menyentuh 2 kilometer.

Pantauan MuriaNewsCom di kawasan Jalan Kolonel Sunandar Pati, kendaraan roda empat yang terlanjur terjebak jalur karnaval terpaksa berhenti hampir sejam. Pasalnya, ribuan warga yang membanjiri karnaval masuk hingga ke badan jalan.

Mereka membentuk barisan di sepanjang jalan, melambaikan tangan kepada peserta karnaval, hingga mengabadikannya menggunakan telepon seluler. Kegembiraan warga meluap di sepanjang jalur yang dilewati karnaval.

Dyah Cahaya Paramudita (17), pelajar asal Winong Kidul mengaku sengaja menunggu karnaval di kawasan Pasar Puri sejak pukul 14.00 WIB. Dia senang karnaval tiba di Jalan Kolonel Sunandar sekitar pukul 15.00 WIB, setelah mulai berjalan dari Alun-alun sekitar pukul 13.30 WIB. 

“Meriah sekali ya suasananya. Saya datang bersama rombongan teman-teman SMK Tunas Harapan. Ini sudah sangat meriah, karnavalnya nggak selesai-selesai saking panjangnya,” kata Dyah.

Baca jugaRibuan Warga Pati Padati Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso

Untuk menghabiskan rombongan karnaval di satu jalan, waktu yang dibutuhkan hampir dua jam. Sebab, ada sekitar 177 kontingen yang berpartisipasi dalam karnaval.

Mukharom, pengendara roda empat asal Wedarijaksa mengaku hampir dua jam terjebak di kawasan Jalan Kolonel Sunandar. Sebelumnya, dia mengaku sudah mengetahui bila jalur tersebut akan digunakan sebagai jalur karnaval.

Namun, dia berpikir tidak berpapasan dengan rombongan karnaval. Sayangnya, setelah sampai di depan Pasar Puri, rombongan datang dan dia terpaksa mematikan kendaraannya hingga rombongan karnaval selesai.

Editor : Akrom Hazami

 

Ribuan Warga Pati Padati Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso

Peserta karnaval melambaikan tangan kepada warga di kawasan Alun-alun Pati, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan warga Pati memadati festival pembangunan bertajuk “Noto Projo Mbangun Deso” di sepanjang jalan dari Alun-alun Pati menuju kawasan Stadion Joyokusumo, Selasa (29/8/2017).

Mereka menyaksikan beragam miniatur potensi Kabupaten Pati yang diarak di sepanjang jalan, dari potensi pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, hingga perhotelan. Sejumlah ornamen seni dan budaya juga tak luput dari pandangan.

Tak ketinggalan, Kodim 0718/Pati menampilkan miniatur tank jenis Leopard yang menjadi kebanggaan anggota TNI AD. Kapal, ikan, sapi, hasil bumi, dua kelinci, garuda, dan beragam potensi Pati lainnya mewarnai suasana karnaval.

Begitu juga nuansa kolosal terlihat di beberapa baris, dari gapura, kereta kencana, kereta berkuda, istana, sampai ornamen semacam patung buta atau raksasa. Berbagai simbol kebanggaan Pati seperti Kuluk Kanigara dan Keris Rambut Pinutung juga ikut menghiasi suasana karnaval.

Bendera merah putih berkobar di sepanjang jalan dan lambang Garuda Pancasila sesekali tampak. Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso berhasil menyedot animo warga Pati.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, festival tersebut untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Pati dan HUT ke-72 RI. Festival Pembangunan menjadi simbol untuk membangun dan melejitkan potensi yang ada di Kabupaten Pati.

“Pati punya banyak potensi, dari pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, perhotelan, wisata, dan masih banyak lagi lainnya. Potensi itu yang ingin kami tunjukkan dalam festival pembangunan Noto Projo Mbangun Deso supaya masyarakat tahu,” kata Haryanto.

Sementara itu, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin menambahkan, festival pembangunan menjadi salah satu promosi Pati. Kendati diakui tidak sebesar seperti di Jember dan Banyuwangi, tapi ke depan event serupa akan digeber untuk menarik minat wisatawan asing.

“Ini menjadi ajang promosi Pati. Ke depan, kita akan create untuk promo nasional agar nama Pati dan pembangunan yang ada bisa dilihat masyarakat luas. Ini sudah saatnya Pati maju seperti kota-kota besar lainnya,” pungkas Arifin.

Editor : Ali Muntoha

Petani Kopi di Pati Incar Pasar Ekspor

Petani kopi asal Sidomulyo Pati, Muttaqin (kiri) bersama Anggota DPR RI Firman Soebagyo menunjukkan kopi kemasan produksi sendiri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani kopi di Pati mengincar pasar ekspor untuk memasarkan produk kopi yang diolah dari lereng Pegunungan Muria. Salah satunya, petani kopi yang tergabung dalam kelompok Tani Mulya Mandiri di Desa Sidomulyo, Gunungwungkal, Pati.

Ketua Poktan Tani Mulya Mandiri Muttaqin mengatakan, pihaknya optimistis bisa menembus pasar ekspor setelah mendapatkan bantuan mesin pengolahan kopi dari pemerintah. Bantuan senilai Rp 650 juta itu diserahkan Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo.

“Bantuan berupa mesin pengolahan kopi ini sangat positif karena bisa meningkatkan produksi kopi yang tidak hanya dijual dalam bentuk basah, tetapi juga kemasan bubuk. Dengan peningkatan produksi dan kualitas kopi, kami ingin membuka pintu ekspor sendiri,” kata Muttaqin kepada MuriaNewsCom, Selasa (29/8/2017).

Menurutnya, produk kopi dari Pati bisa tembus ke pasar ekspor, karena memiliki rasa dan aroma yang cukup istimewa. Terlebih, kopi yang diproduksi dengan brand “Kopi Jowo” itu sudah digemari penikmat kopi mancanegara.

Selama ini, kopi asal Pati secara tidak langsung sebetulnya sudah diekspor oleh perusahaan-perusahaan besar. Kopi yang dihasilkan dari empat kecamatan di Pati disetorkan dalam bentuk gelondong kering dan green been ke sejumlah perusahaan yang selanjutnya diekspor ke luar negeri.

Hal itu disebabkan petani kopi Pati belum mampu memproduksi sendiri, sehingga hasil panen langsung disetorkan ke sejumlah perusahaan besar.

“Petani kita setor ke perusahaan untuk selanjutnya disortir. Grade satu diekspor, sedangkan grade dua dipasok di dalam negeri. Selebihnya, kembali ke Pati lagi dengan kemasan nama dan daerah lain,” ungkap Muttaqin.

Karena itu, dia bersyukur ada anggota DPR RI yang peduli pada petani lokal, sehingga saat ini sudah bisa memproduksi kopi sendiri. Meski saat ini baru bisa memproduksi 10 persen kopi bubuk dalam kemasan yang dipasarkan di kota-kota besar, tapi ke depan akan terus ia kembangkan.

Sementara itu, Firman akan terus memperjuangkan nasib petani lokal untuk bisa meningkatkan kesejahteraannya. Terbukti setelah bantuan mesin pengolahan kopi diberikan, petani lokal mampu menjual kopi dari Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu yang sebelumnya hanya berkisar di angka Rp 22 ribu sampai Rp 30 ribu saja.

“Dari awal, saya terus turun ke lapangan secara langsung untuk melihat potensi pertanian di Pati yang belum tersentuh. Ternyata, Pati juga penghasil kopi yang cukup besar dengan lahan seluas 1.700 hektare, menghampar dari Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal dan Cluwak,” tuturnya.

Sayangnya, potensi kopi yang cukup besar di Pati selama ini kurang begitu dikenal. Karena itu, dia akan melakukan berbagai upaya, termasuk pemberian bantuan mesin pengolahan supaya produk kopi robusta khas Pati dikenal dunia.

Editor : Ali Muntoha

Anggota DPR RI Minta Pemerintah Batalkan Pajak Gula

Aksi tolak pajak gula yang dilakukan puluhan petani tebu di Pati, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo meminta pemerintah membatalkan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen untuk komoditas gula. Hal itu disampaikan Firman, di Pati, Senin (28/8/2017).

“Pemerintah itu mestinya beri insentif kepada petani dulu. Kalau mereka sudah dapat insentif, berkembang dan maju, mungkin bisa dikenakan pajak. Tapi petani saat ini tengah berjuang dan belum siap dikenakan pajak,” ujar Firman.

Insentif yang dimaksud Firman, salah satunya berupa pemberdayaan, fasilitasi alat pertanian, pemberian bibit, serta berbagai insentif yang bisa meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani lainnya. Selama ini, insentif yang diberikan pemerintah sebatas pada subsidi pupuk.

Itu pun petani kurang bisa menikmati subsidi pupuk dengan maksimal, lantaran masih banyak distributor yang bermain. “Kalau subsidi pupuk itu yang diuntungkan bukan petani, tapi distributor,” kata Firman.

Menurut Firman, petani merupakan pahlawan bangsa yang perlu diperjuangkan dan disejahterakan terlebih dulu. Sebab, mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Karenanya, dia meminta kepada pemerintah supaya ada pengkajian ulang atas kebijakan dalam PP Nomor 31 Tahun 2007 yang menjelaskan perkebunan komoditas gula pasir tidak masuk barang strategis.

Pasalnya, imbas dari peraturan yang menyebut gula tidak masuk barang strategis, petani dikenakan pajak sebesar 10 persen. “Saudara-saudara kita petani tebu di Pati sudah menyuarakan dengan aksi unjuk rasa. Kami akan berupaya agar peraturan itu dibatalkan,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan petani tebu di Pati menggelar aksi unjuk rasa di sepanjang Jalan Wedarijaksa-Tayu untuk menolak PP Nomor 31 Tahun 2007. Mereka menuntut agar Menteri Keuangan membebaskan gula tani dari PPN 10 persen.

Editor : Akrom Hazami

PNS Pati Manipulasi Absen Sidik Jari, Bupati  Akan Tindak Tegas  

Bupati Pati Haryanto mengancam mengindak tegas PNS di Pati yang memanipulasi mesin sidik jari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto ancam tindak tegas pegawai negeri sipil (PNS) memanipulasi mesin absen sidik jari (fingerprint). Hal itu disampaikannya, di Pati, Senin (28/8/2017).

“Modusnya, mereka melakukan scan sidik jari, lantas memesan sejenis stempel yang identik dengan sidik jari asli. Setelah itu, pelaku menitipkan stempel sidik jari pada orang lain,” ungkap Haryanto.

Saat salah seorang PNS bolos, temannya menempelkan stempel sidik jari itu di mesin sidik jari. Mereka secara bergantian memanipulasi mesin sidik jari bila sedang tidak masuk kerja. Hal itu dilakukan, karena absensi berpengaruh pada tunjangan yang diterima PNS. Tak mau masalah itu menghambat kinerja pemerintahan, Haryanto mengancam akan menindak tegas pelaku.

“Itu namanya tidak jujur dan tidak adil pada pegawai lain yang disiplin. Mesin sidik jari dibuat agar mereka disiplin, tapi kalau diakali begini kami akan menindak tegas,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, Haryanto meminta Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Pati untuk melakukan investigasi kepada PNS yang curang tersebut. Mereka yang kedapatan memanipulasi mesin sidik jari akan mendapatkan sanksi yang tegas.

Dia berharap, semua PNS di Pati bisa semangat untuk melayani masyarakat. Pasalnya, banyak masyarakat yang ingin menjadi PNS tapi gagal karena tidak lolos.

Bila sudah menjadi PNS, sudah menjadi kewajiban untuk bekerja dengan baik di pemerintahan. Sebab, pekerjaan PNS bukan semata-mata berorientasi gaji, tetapi juga pengabdian kepada negara dan masyarakat.

Editor : Akrom Hazami

 

Panen Brambang Melimpah, Warga Sidoharjo Pati Nanggap Wayang Kulit

Dalang asal Solo, Ki Bayu Aji Pamungkas saat memainkan wayang di Desa Sukoharjo, Wedarijaksa, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati memanfaatkan momen akhir bulan Apit dalam kalender Jawa untuk mengagendakan bersih desa dengan wayang kulit.

Pagelaran itu sekaligus menjadi wujud rasa syukur petani setempat karena panen bawang merah yang melimpah.

Kepala desa setempat, Bogi Yulistanto mengatakan, komoditas utama yang dihasilkan petani di Desa Sidoharjo adalah bawang merah dan padi. Karena itu, padi dan brambang diikat di atas panggung pada pagelaran wayang kulit agar pertanian warga diberkahi.

“Kondisi bawang merah cukup bagus, tapi harganya yang saat ini masih kurang memuaskan. Di sini, petaninya hampir separuh lebih merupakan anak muda. Mereka suka bertani bawang merah,” ungkap Bogi, Senin (28/8/2017).

Bupati Pati Haryanto yang hadir dalam pagelaran wayang tersebut memberikan apresiasi kepada pemerintah desa yang masih nguri-uri budaya Jawa melalui kesenian. Sebab, kesenian dan budaya tradisional saat ini mulai dilupakan di tengah kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang bisa diambil manfaat saat petani mengungkapkan rasa syukur pada prosesi bersih desa melalui kesenian. Pertama, pembersihan desa dari aspek jasmani, lingkungan maupun spiritual.

Jiwa masyarakatnya dibersihkan agar tidak gampang iri, dengki dan sifat-sifat buruk lainnya. Sebaliknya, bersih desa bisa dimanfaatkan untuk gladi agar manusia punya sifat yang bersih, baik dan bertindak sesuai dengan ajaran agama.

Kedua, kesenian bisa memupuk semangat persatuan dan kesatuan bangsa, karena masyarakat “tumplek blek” menonton bersama tanpa membedakan status sosial. Ketiga, tontotan tradisional bisa meningkatkan tali silaturahmi dan persaudaraan.

Sementara Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menambahkan, potensi pertanian di Kabupaten Pati sangat luar biasa. Bawang merah menjadi salah satu komoditas andalan yang dihasilkan dari bumi Wedarijaksa.

“Setiap tahun, Pati selalu memberikan kontribusi yang baik untuk ketahanan pangan nasional. Hal itu tidak lepas dari perjuangan para petani di Pati. Kami berharap, Pati akan terus menjadi lumbung pertaniannya Indonesia,” tutur Firman.

Pagelaran wayang sendiri mengambil lakon “Pendawa Manunggal”. Lakon itu mengisahkan perjuangan Pandawa dalam merebut tahta kepemimpinan Kurawa yang mendasarkan ego, kepentingan pribadi, dan angkara murka dalam setiap kebijakannya untuk rakyat.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Santri di Pati Diajari Wirausaha Berbasis Teknologi Informasi

Santri, pelajar dan mahasiswa mengikuti workshop technopreneurship di Ponpes Al Falah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan santri, pelajar dan mahasiswa diajari wirausaha berbasis teknologi informasi (IT) dalam workshop technopreneurship bertajuk “Membangun Spirit Technopreneurship Pelajar dan Santri di Era Teknologi Informasi” di Ponpes Al Islah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017).

Kegiatan tersebut diadakan Java Literacy School bekerja sama dengan PC IPNU IPPNU Pati dan Arus Informasi Santri (AIS) Jawa Tengah.

Tiga narasumber yang hadir, antara lain Hasan Chabibie dari Pusat Teknologi dan Komunikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, internet marketer Rifan Heryadi, dan santripreneur IPNU Pati Irham Shodiq.

“Arus teknologi informasi sudah tidak bisa dibendung lagi. Ini tidak bisa dihindari sehingga harus ditangkap dengan baik oleh para santri, pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan usahanya,” kata Hasan.

Lebih dari itu, Hasan menjelaskan, pelaku wirausaha berbasis IT di Indonesia masih sebatas menggunakan karya orang lain, seperti Facebook, Instagram, Twitter dan sejenisnya. Mereka belum memiliki kemampuan untuk memproduksi teknologi untuk pengembangan usaha.

Kendati demikian, sikap melek IT sangat diperlukan agar para santri tidak tertinggal dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan IT sebagai usaha memasarkan produk dianggap sangat penting untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Sementara itu, Rifan menambahkan, warga Indonesia memiliki pengguna media sosial tertinggi se-Asia. Karena itu, kondisi itu harus dimanfaatkan dengan baik untuk memasarkan produk-produk usahanya melalui IT.

“Generasi muda, para santri, pelajar dan mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan bekal keterampilan untuk menyongsong arus teknologi informasi yang semakin tinggi. Terlebih, dunia masa depan akan menggunakan basis teknologi sehingga harus dipersiapkan sejak sekarang,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Siswa SDN 1 Muktiharjo Pati Ikuti Aksi Makan Bergizi Serentak

Siswa SDN 01 Muktiharjo mengikuti program makanan B2SA yang digalakkan Dinas Ketahanan Pangan Jateng, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan siswa SDN 01 Muktiharjo Pati mengikuti aksi makan makanan bergizi secara serentak, Sabtu (26/8/2017). Kegiatan tersebut diadakan di masing-masing kelas.

Mereka nampak lahap memakan menu yang disediakan pihak sekolah bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. Menu yang dimakan terdiri dari karbohidrat, protein, dan mineral.

Viona Bilqis (10), salah satu siswi kelas 5 mengatakan, selama ini dia suka dengan sayur-sayuran seperti yang disarankan dalam aksi makan bergizi serentak. Sementara lauk-pauk yang paling ia gemari adalah ikan.

“Saya suka sayur. Untuk lauk-pauk sukanya ikan. Ini yang kita makan lengkap, ada ikan, telur, tahu, tempe, dan sup sayuran,” kata Viona.

Suhartono, petugas dari Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah yang meninjau lokasi tersebut menuturkan, SDN 01 Muktiharjo menjadi sasaran program makan bergizi bersama, karena jumlah siswanya mencapai lebih dari 250 orang. Selain itu, sekolah tersebut berada di pinggiran kota.

“Kita sasar sekolah yang berada di pinggiran kota, karena sekolah di kota rata-rata sudah mendapatkan pemahaman soal makanan bergizi. Selain itu, SDN 01 Muktiharjo siswanya banyak,” kata Suhartono.

Di Jawa Tengah, ada sebelas sekolah plus satu pesantren di sepuluh kabupaten yang menjadi sasaran program sosialiasi makanan beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA). Pati menjadi salah satu daerah yang menjadi sasaran program.

Sementara itu, Kepala SDN 01 Muktiharjo Kusriah menuturkan, program tersebut akan dilakukan sebanyak sepuluh kali. Lima kali dilakukan pada Agustus, sedangkan lima agenda lainnya akan dilakukan pada September 2017.

“Sekarang makanan empat sehat lima sempurna sudah diganti dengan B2SA. Tidak harus dengan susu, asal ada karbohidrat, protein hewani, nabati, vitamin dan mineral itu sudah sangat cukup untuk kebutuhan gizi anak,” pungkas Kusriah.

Editor : Ali Muntoha

Mantan Intelijen Kodim Pati Ungkap Kondisi Indonesia 10 Tahun Mendatang

Kapten Inf Yahudi saat mamaparkan kondisi Indonesia sekarang dan kemungkinannya yang terjadi pada 10 tahun mendatang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Mantan Perwira Seksi (Pasi) Intel Kodim 0718/Pati yang saat ini menjabat sebagai Danramil Juwana Kapten Inf Yahudi mengungkap kondisi Indonesia pada 10 tahun mendatang. Hal itu disampaikan dalam berbagai forum kebangsaan di sejumlah daerah.

Apa yang disampaikan Kapten Inf Yahudi bukan prediksi, apalagi ramalan. Dia mengungkapkan sesuai dengan analisis intelijen yang didasarkan pada kondisi Indonesia saat ini.

“Penjajahan yang terjadi di Indonesia sekarang ini adalah proxy war, perang tanpa bentuk, tanpa pasukan. Penjajah pasang mata-mata, politik dikacaukan, ekonomi dikacaukan, berbagai aspek dibeli,” katanya.

Semua aspek dikacaukan dengan tujuan agar kondisi Indonesia tidak stabil. Negara-negara lain juga disebut menanamkan pengaruhnya untuk merebut sumber daya alam (SDA) Indonesia yang begitu melimpah.

Berbagai “ranjau” yang ditebar untuk mengacaukan Indonesia itu memiliki ragam bentuk, dari narkoba yang merusak generasi bangsa, konflik politik yang mengguncang stabilitas nasional, terorisme dan kelompok radikal, hingga isu bangkitnya komunisme.

“Indonesia adalah negara equator, negara subur. Sepuluh tahun ke depan, negara yang tidak punya alam akan berbondong-bondong ke negara-negara equator untuk merebut SDA,” terangnya.

Dari data intelijen yang disampaikan, Indonesia akan menentukan nasibnya pada 28 tahun mendatang. Dia akan menjadi negara emas dan berjaya atau negara gagal yang penuh dengan kekacauan.

Karena itu, dia meminta kepada masyarakat untuk ikut bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI, tidak mudah terprovokasi untuk memusuhi saudara sendiri. Serta mengawasi generasi emas bangsa dari budaya asing, narkoba, serta perilaku tawuran antarpelajar.

“Maka, Indonesia saat ini perlu kita perjuangkan kembali. Masalah-masalah yang timbul jangan sampai membuat NKRI terpecah. Ini menyangkut nasib dan masa depan kita bersama,” tandas Kapten Inf Yahudi.

Editor : Ali Muntoha

5 Babinsa Terbaik Dapat Penghargaan dari Bupati Pati, Ini Prestasinya

Bupati Pati Haryanto memberikan piagam penghargaan kepada babinsa berprestasi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak lima bintara pembina desa (babinsa) Kodim 0718/Pati terbaik mendapatkan penghargaan dari Bupati Pati Haryanto. Mereka adalah Serma Mustopa, Serma Rustam, Serda Ribut, Serma Sukarbin, dan Kopka jahari.

“Mereka perlu mendapatkan penghargaan, karena prestasinya dalam kontribusinya ikut membangun masyarakat Pati menjadi lebih baik. Peran mereka sangat dibutuhkan rakyat,” ucap Haryanto, Jumat (25/8/2017).

Serma Mustopa berkontribusi dengan karyanya membuat pupuk organik hasil pemanfaatan dari alam. Dia bersama masyarakat bersama-sama memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk.

Serma Rastam ikut beternak sapi melalui program  Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO). Peternakan terpadu itu bertujuan untuk menciptakan ketahanan pangan, ekonomi, sekaligus pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk.

Serda Ribut berkontribusi dalam pengairan air bersih, sedangkan Serma Sukarbin sukses mengembangkan ternak kambing etawa yang sempat mendapatkan penghargaan tingkat nasional.

Adapun Kopka Jahari sudah banyak membantu masyarakat desa atas perannya sebagai mantri kesehatan desa. Dia menjembatani kesehatan masyarakat Desa Kembang, Dukuhseti yang kesulitan mendapatkan akses kesehatan

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma mengatakan, lima anggotanya yang meraih penghargaan dinilai berhasil mengembangkan potensi yang dimiliki untuk masyarakat. Dia berharap, penghargaan tersebut bisa menginspirasi babinsa lain untuk terus berkarya.

“Mereka berhasil membagi antara tugasnya sebagai anggota TNI AD dan karya yang dimiliki. Yang paling utama, mereka punya kontribusi kepada masyarakat sesuai dengan spirit TNI manunggal dengan rakyat,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Listrik Kerap Byar-Pet, Ini Penjelasan Manajer PLN Pati

Seorang petugas PT PLN Rayon Pati tengah melayani pelanggan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah warga Pati mengeluhkan listrik yang kerap byar-pet dalam dua hari terakhir. Selain mengganggu aktivitas, sebagian warga khawatir akan merusak peranti elektronik.

Manajer PT PLN (Persero) Rayon Pati Irfan Affandi menjelaskan, listrik yang kerap mati disebabkan overload beban yang melebihi batas. Artinya, pelanggan PLN semakin meningkat sehingga kebutuhan akan listri kian tinggi.

“Listrik mati juga disebabkan aktivitas perabasan pohon yang dekat dengan jaringan. Bisa juga overload antara beban yang ada dengan settingan peralatan PLN melebihi batas, jadi tinggal disetting aja,” kata Irfan, Jumat (25/8/2017).

Karena itu, dia meminta kepada masyarakat untuk mengizinkan pegawai PLN yang melakukan perabasan pohon yang berdekatan dengan jaringan. Sebab, satu jalur mati akibat tertimpa pohon bisa menyebabkan listrik mati pada banyak rumah.

Terkait dengan listrik byar-pet yang merusak peranti elektronik, pihaknya memastikan hal itu tidak ada persoalan. Sebab, penyebab peranti elektronik rusak disebabkan tegangan naik-turun yang cukup ekstrem, bukan karena hidup-mati.

“Kalau listrik hidup-mati itu tidak masalah, tidak akan merusak peranti elektronik. Yang akan merusak itu, jika tegangan listrik naik-turun yang cukup ekstrem,” imbuhnya.

Sementara untuk mengatasi persoalan listrik yang sering padam, pihaknya segera melakukan setting ulang karena adanya penambahan pelanggan yang semakin banyak. Dia berharap, masyarakat bisa memaklumi kondisi tersebut.

Editor: Supriyadi

Ribuan Siswa di Pati Diimunisasi Rubella

Salah seorang murid TK Kartika III-43 mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejak digulirkannya program imunisasi gratis, ribuan siswa di Kabupaten Pati mendapatkan umunisasi rubella. Sebanyak 44 siswa di antaranya berasal dari TK Kartika III-43. Mereka baru mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017).

Ketua Cabang Persit Kartika Chandra Kirana Ny Andri Amijaya Kusuma mengatakan, siswa antusias mengikuti imunisasi rubella kendati ada sebagian yang ditunda lantaran kesehatannya kurang fit.

“Kami apresiasi kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas Pati I yang membuat program imunisasi rubella. Program ini sangat bermanfaat agar anak-anak tidak terserang virus Rubella yang berbahaya bagi anak berusia satu hingga sepuluh tahun,” ujar Ny Andri.

Sementara dokter dari Dinkas, dr Luther Selawa menuturkan, imunisasi rubella merupakan bagian dari program pemerintah pusat. Program tersebut menyusul adanya virus berbahaya yang mudah ditularkan.

“Kalau tidak segera kita cegah, dampaknya yang terjadi cukup mengerikan. Anak-anak sebagai penerus bangsa akan mengalami cacat fisik,” ungkapnya.

Karena itu, dia mengimbau kepada orangtua untuk tidak sungkan mengikuti program imunisasi rubella untuk anaknya. Dengan demikian, anak akan menjadi resisten terharap virus yang membahayakan tersebut.

Ia menambahkan, imunisasi rubella juga sudah dilakukan di berbagai sekolah di Kabupaten Pati. Jumlahnya mencapai ribuan siswa. “Setelah diimunisasi, mereka punya resistensi jika sewaktu-waktu virus itu menyerang,” pungkas dr Luther.

Editor: Supriyadi

Kelakar Wabup Pati Soal Rumah Dinas Baru yang Dulu Ditempati Sekda Undang Gelak Tawa

Rumah dinas Wakil Bupati Pati Saiful Arifin di Jalan Diponegoro Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Bupati Pati Saiful Arifin berkelakar soal rumah dinas baru yang dulu ditempati Sekretaris Daerah (Sekda). Kelakar yang ia sampaikan sempat mengundang gelak tawa dari banyak pihak.

Dia menyebut, alasan memilih rumah dinas di Jalan Diponegoro yang dulu ditempati Sekda supaya posisinya terletak di belakang rumah dinas Bupati Pati. Artinya, dia berada di belakang Bupati untuk mendukung berbagai program pemerintahan.

Sementara rumah dinas wakil bupati yang dulu berada di Jalan Panglima Sudirman posisinya berhadap-hadapan, utara-selatan, sehingga menyebabkan bupati dan wakilnya tidak akur.

“Saya lebih suka di rumah dinas yang dulu ditempati Sekda, karena posisinya di belakang bupati, searah menghadap selatan. Maknanya, posisi wakil mendorong dan membantu bupati, bukan berhadap-hadapan,” kata Arifin yang sempat mengundang gelak tawa dari para organisasi perangkat daerah (OPD).

Saat ini, Saiful Arifin menempati rumah dinas yang berada di Jalan Diponegoro, sebelah barat The Safin Hotel miliknya. Sebelumnya, rumah dinas itu diperuntukkan Sekda.

Rumah dinas wakil bupati yang berada di Jalan Panglima Sudirman (sebelah barat Alun-alun), saat ini ditempati Sekda. Kelakar Saiful Arifin selain membuat banyak pihak tertawa, juga menjawab pertanyaan yang selama ini mengganjal, kenapa dia lebih suka tinggal di kawasan Jalan Diponegoro.

Editor: Supriyadi

Banyak Pencurian Listrik, PLN Rayon Pati Rugi Rp 3 Miliar per Bulan

Manajer PLN Rayon Pati Irfan Affandi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pendapatan PT PLN (Persero) Rayon Pati mencapai Rp 30 miliar dalam sebulan. Pendapatan itu belum termasuk kerugian yang mencapai Rp 3 miliar sebulan.

Manajer PLN Rayon Pati Irfan Affandi mengatakan, kerugian tersebut disebabkan faktor teknis dan nonteknis. Kerugian paling besar disebabkan faktor teknis seperti panjang jaringan.

Sementara kerugian nonteknis disebabkan adanya pencurian, termasuk pohon yang menempel pada jaringan sehingga mengalami susut.

“Dalam sebulan, ada susut sekitar 3 juta kWh. Jika diuangkan sekitar Rp 3 miliaran,” kata Irfan kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/8/2017).

Dia menyebut, kasus pencurian paling banyak terjadi di sejumlah daerah di Kecamatan Kayen. Modusnya dengan cara merusak segal kWh meter agar tidak berjalan dengan baik atau diberi alat untuk menahan piringan, sehingga tidak berputar.

Selain itu, pencurian listrik kerap dilakukan oknum untuk keperluan setrum tikus. Kendati sudah diperingatkan melalui sosialisasi dan aksi tegur, beberapa dari mereka masih membandel.

“Bahkan, ada petugas yang menemukan pencurian listrik di salah satu desa di Kecamatan Kayen malah mendapatkan intimidasi dari oknum masyarakat. Kesadaran masyarakat memang masih kurang,” keluhnya.

Menurutnya, pencurian listrik bisa dikenakan denda yang cukup berat atau sanksi pidana. Hanya saja, pihaknya selama ini masih menggunakan jalur persuasif dengan pemerintah desa setempat.

Dia berharap, masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak mencuri listrik. Pasalnya, pencurian listrik menyebabkan kerugian negara yang cukup besar.

Editor: Supriyadi

Bantuan Terpotong Rp 3 Juta, 11 Warga Pati Tolak Bantuan Rumah Tak Layak Huni

Kabid Pemukiman Disperkim Pati Febes Mulyono menjelaskan persoalan bantuan RTLH yang semula bernilai Rp 15 juta menjadi barang material yang nilai Rp 12 juta. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak sebelas warga Pati menolak bantuan rumah tak layak huni (RTLH). Salah satu penyebabnya, bantuan yang mestinya bernilai Rp 15 juta ternyata terpotong Rp 3 juta saat diterimapenerima.

Selain itu, bantuan tersebut, penerima bantuan tidak menerima uang tunai, tetapi berupa material yang akan digunakan untuk membenahi rumah agar menjadi layak huni. Jika dihitung-hitung, material yang diterima nilainya hanya Rp 12 juta.

Kepala Bidang Pemukiman Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Kabupaten Pati Febes Mulyono membenarkan adanya sebelas warga yang mengundurkan diri dari program bantuan RTLH. Mereka beralasan tidak mampu melakukan swadaya untuk membenahi rumah menggunakan material yang diberikan dari program RTLH.

Febes menjelaskan, nilai bantuan RTLH dari APBN memang senilai Rp 15 juta. Namun, bantuan itu harus diberikan kepada penerima bantuan berupa material, sehingga kena pajak dan keuntungan dari pemborong.

“Kenapa bantuan yang nilai Rp 15 juta, material yang disalurkan jadi sekitar Rp 12 juta? Kan ada pajak dan keuntungan pemborong, sehingga barangnya tidak bernilai Rp 15 juta,” ucap Febes kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/8/2017).

Masalah itu, kata Febes, sebetulnya sudah disampaikan dalam sosialisasi kepada masyarakat. Hanya saja, sebagian masyarakat ada yang masih belum memahami sehingga sosialisasi dilakukan hingga dua kali.

Sampai saat ini, masih ada empat warga yang mempertanyakan persoalan tersebut. Keempatnya memutuskan untuk mengambil atau menolak program RTLH, setelah sosialisasi yang dilakukan untuk ketiga kalinya.

Sementara sebelas warga yang sudah menolak program bantuan RTLH, antara lain dua warga di Semampir, empat warga Puri, satu orang di Bajomulyo, dua orang di Bulumanis, satu orang di Margomulyo dan Sambiroto. Dengan demikian, hanya ada 420 warga Pati yang akan menerima bantuan tersebut dari jatah 431 orang.

Editor: Supriyadi

Aksi Parkir Serentak, Petani Tebu di Pati Mbengok soal Pajak 10 Persen

Peserta aksi membentangkan spanduk berisi tuntutan di Jalan Wedarijaksa-Tayu, Kamis (24/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani tebu di Kabupaten Pati, menggelar aksi dengan secara serentak memarkirkan truk tebu mereka di kawasan Jalan Wedarijaksa-Tayu, sebelum Polsek Wedarijaksa hingga plasement PG Trangkil, Kamis (24/8/2017).

Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan terkait kebijakan pemerintah dalam mengatur pergulaan nasional.

Selain aksi parkir serentak, mereka memanjatkan doa bersama agar hasil pertanian dan perkebunan seperti komoditas gula pasir masuk barang strategis, sehingga tidak dikenakan pungutan PPN 10 persen.

“Kebijakan PP Nomor 31 Tahun 2007 menjelaskan bahwa komoditas gula pasir tidak masuk barang strategis. Akibatnya, ada pungutan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen. Ini cukup memberatkan,” ujar koordinator aksi, Suharno.

Ada lima hal yang mereka tuntut dalam aksi tersebut. Pertama, menolak PP Nomor 31 Tahun 2007. Kedua, menuntut Presiden RI untuk mengubah kebijakan pemerintah supaya berpihak pada petani tebu dan gula nasional.

Ketiga, hentikan gula impor dan beli gula petani dengan harga Rp 11 ribu per kilogram. Rembesan gula rafinasi juga diharapkan bisa disetop pemerintah.

“Kami juga menuntut kepada Menteri BUMN terkait janji kompensasi dari impor, yakni jaminan rendemen 8,5 persen pada 2016, kompensasi rendemen renndah pada 2017, revitalisasi pabrik gula, dan jangan tutup pabrik gula sebelum mendirikan pabrik gula baru,” tututnya.

Mereka juga menuntut agar Menteri Keuangan untuk melakukan pembebasan gula tani dari PPN. Aksi tersebut mendapatkan pengamanan ketat dari kepolisian. Mereka tampak berjaga-jaga bila ada hal yang tidak diinginkan.

Editor : Ali Muntoha