Siswa SD di Gondosari Gebog Kudus Dibully Sadis 

Aktivitas di SD 1 Negeri Gondosari Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)li

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus kekerasan (bully) masih saja dialami siswa. Seperti di Kabupaten Kudus. Adalah AL (8) siswa SD 1 Negeri Gondosari, Gebog.
Dari data yang dihimpun, AL saat ini duduk di kelas IV. Korban merupakan warga Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara.

Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA), Senin (31/7/2017), Noor Haniah mengatakan, AL diduga mendapatkan perlakukan keras yang sadis. Di antaranya berupa jotosan, ditindih kursi, serta parahnya lagi adalah kemaluan pelaku ditusuk dengan penggaris besi sampai lecet.

Peristiwa tersebut terjadi saat tidak ada guru. Mengingat saat kejadian, sedang ada rapat sekolah. Dengan pelakunya adalah teman sekelas korban. “Tidak ada kelas. Sedang ada rapat di kantor,” kata Haniah.

Kejadian dipicu karena korban tidak mau menuruti kemauan teman sekelas yang merupakan ketua geng di kelas. Diketahui geng tersebut diketahui oleh seorang anak berinisial F. Geng itu terdiri atas sembilan anak. Mayoritas geng anak itu terdiri dari para siswi.

Hasil penelusuran di lapangan, katanya, diduga kasus kekerasan terjadi sejak korban duduk di kelas III, dan baru diketahui ketika korban duduk kelas IV. Korban sudah meminta pertolongan kepada teman lain. Tapi tak ada yang berani melakukan pertolongan.  “JPPA yang melakukan pendampingan atas kasus tersebut, juga melakukan `assessment` terhadap korban, pelaku serta orang tua pelaku,” terang Haniah.

Dia menyimpulkan, aksi kekerasan ini karena kelalaian guru. Setidaknya saat berhalangan, guru pengampu bisa minta bantuan ke guru lain guna menggantikan sementara.

AKBP Agusman Gurning, Kapolres Kudus mengatakan pihaknya sudah menerima laporan pada Sabtu (29/7/2017) . “Orang tuanya terlebih dahulu sudah kami periksa,” kata Gurning.

Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Kurniawan Daili mengatakan, pihaknya telah meminta keterangan dari orang tua korban. Visum juga telah dilakukan, baik di puskesmas, maupun di rumah sakit. “Visumnya itu bagian luar dan bagian dalam,” kata Kurniawan.

Selanjutnya, polisi juga akan meminta keterangan kepada guru korban. “Kami juga akan koordinasi dengan Bapas (Balai Pemasyarakatan), karena ini menyangkut korban maupun pelaku di bawah umur,” pungkasnya.

Kepala SD 1 Negeri Gondosari Sudiyarto enggan memberi keterangan terkait hal tersebut. Hanya pihaknya mengiyakan atas perkara yang menimpa satu siswanya tersebut, dengan pelaku teman satu kelasnya. “Kejadianya pada Rabu (19/7/217) lalu. Korban teman kelas sendiri,” jawabnya singkat.

Disinggung tentang pengawasan pihak sekolah, dia menjelaskan tak tahu kalau kejadian tersebut terjadi. Karena, saat kejadian tak ada guru yang tahu karena para guru juga sedang rapat di ruang guru.

Editor : Akrom Hazami

Miras Bernilai Ratusan Juta Diamankan dari Toko di Kaliwungu Kudus

Petugas Satpol PP saat mengamankan miras dari salah satu toko di Desa Mijen, Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus –  Satpol PP Kudus menyita ribuan botol minuman keras (miras) bernilai ratusan juta dari salah satu toko, di Dukuh Gadon, Desa Mijen, RT 04 RW 5, Kecamatan Kaliwungu, Senin (31/7/2017).

Pemilik toko itu adalah Deni Syaiful Amri (23). Petugas menemukan miras di gudang khusus miliknya. “Ada sekitar 2,7 ribu botol yang kami amankan. Jumlahnya kisaran ratusan juta rupiah. Ada beberapa banderol harga miras yang harganya cukup tinggi,” kata Kasatpol PP Djati Solechah di Kudus.

Djati mengungkapkan, toko yang digerebek itu sudah dipantau sejak lama. Begitu informasi masyarakat diterima Satpol PP, pihaknya langsung bereaksi.

Awalnya, pemilik menyimpan rapat miras. Saat petugas tiba di lokasi, mereka tak mendapati miras. Tokonya cukup besar. Namun petugas curiga dengan isi rumah. Hasilnya, Satpol PP menemukan miras di gudang rumah.

Editor : Akrom Hazami

 

DPRD Kudus Dorong Pemkab Wujudkan Kota Layak Anak

.

MuriaNewsCom, Kudus – Wakil Ketua Komisi D DPRD Kudus Agus Imakuddin mendorong Pemkab untuk menjadikan Kudus sebagai kota layak anak. Penghargaan kota layak anak yang diterima dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak baru-baru ini, harus menjadi pelecut untuk memberikan ruang untuk anak berkembang.

Udin, panggilan Agus Imakudin mengatakan, anak sebagai potensi bangsa harus dijamin kehidupannya. Anak-anak wajib mendapatkan rasa aman dan nyaman. “Perlu dirumuskan apa saja yang bisa mendukung perkembangan anak secara baik untuk dituangkan dalam regulasi seperti peraturan daerah,” katanya, Jumat (28/7/2017).

Udin mengatakan, Kudus kini terus tumbuh menjadi kota yang semakin padat. Tingkat populasi atau pertumbuhan anak juga beriringan. Mengacu pada Kepres Nomor 39 Tahun 1990 yang diadopsi dari PBB Tahun 1989 menyebutkan bahwa ada 4 hak anak yang menjadi prioritas adalah hak hidup lebih layak, hak tumbuh berkembang dan hak perlindungan serta hak partisipasi.

“Dengan memenuhi hak tersebut, maka akan memunculkan generasi muda yang lebih maju baik dalam kerangka berpikir maupun mentalitas anak. Ini semua bisa terwujud, jika kita mempunyai kota yang layak terhadap anak,” tandasnya.

Melihat kondisi itu, Kudus perlu untuk memiliki regulasi sebagai payung hukum untuk merealisasikan kota yang ramah dan layak anak. “Melalui perda, fasilitasi dan arah kebijakan pemkab harus diarahkan untuk mendukung program kota layak anak,” katanya.

Dengan adanya payung hukum, lanjut Udin, anak-anak di Kudus nanti terlindungi dari perlakuan diskriminasi dan kekerasan. Di sisilain, anak-anak pun mampu mengembangkan diri melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan mereka.

Disebutkan, Kudus sudah memiliki banyak fasilitas publik berupa taman atau fasilitas terbuka lainnya. Namun, hal tersebut belum diimbangi dengan fasilitas untuk mendukung tumbuh kembang anak seperti arena bermain maupun fasilitas lainnya.

“Perlu peran swasta untuk ikut berkomitmen dan memerhatikan kepentingan, kebutuhan, dan hak-hak anak dalam membangun serta mengelola kota. Dukungan ini perlu lantaran mayoritas masyarakat Kudus bekerja di sektor industri,” katanya. (NAP)

 

Editor : Supriyadi

DPRD Kudus Minta Eksploitasi Air Muria Ditertibkan

Demo penolakan eksploitasi air gunung Muria. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi B DPRD Kudus mendesak eksekutor segera menertibkan eksploitasi air permukaan di wilayah pegunungan Muria. Sekretaris Komisi B Aris Suliyono mengatakan, pengambilan air yang tak terkendali selama bertahun-tahun sudah memicu banyak keluhan masyarakat.

Pemkab perlu tegas menerbitkan regulasi serta melakukan penindakan atas semakin maraknya eksploitasi air permukaan di wilayah pegunungan Muria. “Jangan sampai kondisi ini dibiarkan berlarut-larut. Urusan penyediaan air minum sudah diurusi oleh PDAM,” katanya.

Di sisi lain, Pemkab Kudus akan membentuk tim terpadu untuk melakukan penertiban eksploitasi air pegunungan Muria yang saat ini sangat marak terjadi di wilayah Kudus. Tim Penertiban  tersebut akan melibatkan BBWS Pemali Juana, Satpol PP Kudus dan Provinsi Jateng, Perum Perhutani, Dishub Kudus dan Polres Kudus. 

Pembentukan tim terpadu itu disepakati dalam rapat koordinasi penanggulangan eksploitasi air pegunungan Muria yang digelar Pemkab Kudus bersama stakeholder terkait, di gedung setda Kudus.

Rekomendasi

Asisten III Setda Kudus Masud, mengakui kalau saat ini semua usaha eksploitasi air Muria tidak dilengkapi izin. “Sebelumnya terdapat tiga pengusaha air pegunungan yang memiliki izin, namun tidak diperpanjang setelah masa berlakunya habis,” katanya.

Jika ada pengusaha yang memperpanjang izin, maka harus mengurusnya ke Kementerian PUPR. Karena itu jika ada pengusaha yang melanggar, pihak Kementerian PUPR lah yang paling berwenang melakukan penertiban.

Mereka yang mengajukan izin pun harus mengantongi rekomendasi dari BBWS Pemali Juana. Untuk lokasi yang berada di kawasan hutan harus mendapatkan rekomendasi dari Perum Perhutani KPH Pati.

“Karena BBWS Pemali Juana merupakan kepanjangan tangan dari Kementerian PU, maka penertibannya akan melibatkan instansi tersebut karena kebetulan terdapat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS),” katanya.

Perwakilan BBWS Mujari membenarkan jika hanya ada tiga pengusaha air Pegunungan Muria yang berizin. Namun izinnya kini tak diperpanjang. Sementara itu, sebanyak 15 pengusaha lainnya sama sekali tidak memiliki izin alias ilegal. (NAP)

Editor : Supriyadi

DAU Dipangkas, DPRD Minta Pemkab Lakukan Perencanaan Matang Proyek Infrastruktur

Proyek Infrastruktur. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemangkasan anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) oleh Pemerintah Kudus bakal berimbas pada kegiatan infrastruktur di daerah. Wakil Ketua DPRD Kudus Ilwani mengatakan, pemangkasan DAU untuk Kabupaten Kudus, dari hasil konsultasi ke Kementerian Keuangan baru-baru ini, diprediksi sekitar 0,8 persen hingga 1,5 persen.

Dari persentase tersebut, Kabupaten Kudus diperkirakan kehilangan DAU antara Rp 5 miliar hingga Rp 15 miliar. “Imbasnya sejumlah kegiatan yang rencananya akan masuk di APBD Perubahan 2017 batal direalisasikan,” katanya saat menerima kunjungan anggota DPRD Madiun dan Brebes di gedung DPRD Kudus, Kamis (27/7/2017).

Ilwani mengatakan, pemangkasan sebesar itu dinilai tidak terlalu signifikan. Pasalnya kegiatan fisik atau infrastruktur di perubahan anggaran biasanya memang tidak terlalu besar. Wakil Rakyat asal Partai kebangkitan Bangsa (PKB) itu menambahkan, pemkab perlu melakukan perencanaan matang atas seluruh proyek infrastruktur yang akan dikerjakan.

Asas manfaat dan keawetan hasil proyek harus menjadi prioritas pertimbangan. Ia mencontohkan, kebijakan Pemkab Kudus dengan proyek betonisasi jalan dinilai langkah tepat, karena umur jalan beton bisa mencapai 15 tahun.

Ilwani menambahkan, pemerintah daerah harus memikirkan strategi khusus untuk mengantisipasi kemungkinan pemangkasan anggaran dari Pemerintah Pusat di waktu mendatang. Salah satunya dengan menggenjot potensi pendapatan asli daerah (PAD).

Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun ini ditarget sebesar Rp 288,227 miliar. Ilwani yakin target itu bisa terealisasi jika eksekutif bekerja sungguh-sungguh. Terutama dalam mencari terobosan baru dan menekan kemungkinan kebocoran pendapatan.

Terpisah, Kepala Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Eko Djumartono mengatakan, Pemkab Kudus belum menerima surat resmi dari Pemerintah Pusat terkait angka pasti pemangkasan DAU.

Pada APBD 2017, Pemkab Kudus telah memperkirakan adanya penurunan DAU sebesar Rp 37,997 miliar. Penurunan itu antara lain dipengaruhi adanya mutasi pegawai (SMA/SMK) dari Pemkab Kudus ke Pemprov Jateng. “Informasinya memang ada pemotongan DAU antara tiga hingga empat persen. Namun kami masih menunggu angka pastinya dari Pemerintah Pusat,” katanya. (NAP)

Editor : Supriyadi

Ketua DPRD Kudus Masan Ambil Formulir Pendaftaran Cabup Kudus di Kantor DPC PDIP Kudus

Ketua DPRD Kudus Masan mengambil berkas pendaftaran calon Bupati Kudus dari PDIP, di kantor DPC PDIP Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus Masan mengambil formulir pendaftaran cabup PDIP Kudus di kantor DPC partai tersebut, Rabu (26/7/2017). Masan datang sendiri.

Diketahui, pembukaan penjaringan tersebut dilakukan sejak Senin (24/7/2017) hingga Sabtu (29/7/2017). Masan merupakan orang yang pertama mengambil formulir pendaftaran.

“Ini merupakan niat saya untuk menjadi Bupati Kudus. Dan bentuk komitmennya adalah dengan mendaftarkan diri secara langsung, serta memulainya,” kata Masan usai mengambil formulir pendaftaran.

Mengambil formulir sejak awal, menurutnya, merupakan bentuk keseriusannya maju meramaikan bursa calon bupati dari PDIP. “Berkas formulir akan saya kembalikan dalam waktu dekat ini. Secepatnya setelah semua beres, akan saya kembalikan ke partai,” ucapnya. 

Masan juga optimistis jika akan mendapatkan rekomendasi partai. Bahkan, dia mengaku tak gentar jika ada calon lain yang juga akan maju jadi cabup dari PDIP.

Editor : Akrom Hazami

 

Bisa Jadi Tumpuan PAD, DPRD Soroti Pengembangan Pariwisata di Kudus

.

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi B DPRD Kudus meminta Pemkab Kudus segera merampungkan penyusunan rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Daerah (Ripparda).

Sekretaris Komisi B DPRD Kudus Aris Suliyono mengatakan, sektor pariwisata daerah bisa menjadi tumpuan pendapatan asli daerah (PAD) jika dikelola dengan baik. Menurutnya, Ripparda sangat dibutuhkan sebagai pedoman dalam pengembangan sektor pariwisata.

Dalam Ripparda itu diatur strategi pembangunan pariwisata yaitu destinasi, pemasaran, industri dan kelembagaan pariwisata. Pengelolaan pariwisata lebih tertata. “Komisi B mendesak Pemkab Kudus segera merampungkan penyusunan raperda karena ini juga menjadi amanat UU Nomor 10/2009 tentang Kepariwisataan,” katanya.

Sekda Kudus Noor Yasin pada rapat paripurna di gedung DPRD Kudus beberapa waktu lalu mengatakan jika Raperda Ripparda masih dalam tahap proses penyusunan. “Masih dalam penyusunan dan dikonsultasikan ke pemerintah atasan,” jelas dia.

Sementara itu, penerimaan retribusi pariwisata hingga semester pertama 2017 telah mencapai 52, 12 persen. Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Sri Wahjuningsih mengatakan, penerimaan retribusi pariwisata hingga Juni lalu mencapai Rp 1,3 miliar.

Target retribusi pariwisata tahun ini ditetapkan sebesar Rp 2,51 miliar. Masing-masing pengelola objek wisata telah memiliki strategi tersendiri untuk mencapai target penerimaan retribusi.

Sisa waktu sekitar lima bulan mendatang akan dimaksimalkan untuk mencapai target. Apalagi objek wisata milik Pemkab Kudus memiliki fasilitas andalan untuk menarik minat pengunjung. “Kami optimistis target retribusi pariwisata tercapai. Retribusi tersebut diperoleh dari pemakaian kekayaan daerah, parkir wisata, penginapan, serta rekreasi dan olahraga,” ucapnya

Pemasukan retribusi terbesar antara lain diterima dari tempat rekreasi Taman Ria Colo, Museum Kretek, Taman Krida serta objek Wisata Colo. Dari sejumlah objek wisata tersebut, pemasukan terbesar diperoleh dari objek wisata Colo mencapai Rp 689,17 juta dari target setahun sebesar Rp 1,23 miliar. (NAP)

Editor : Supriyadi

DPC PDIP Kudus Buka Penjaringan Calon Bupati

Ketua Penjaringan Cabup DPC PDIP Kudus Aris S menunjukkan syarat pencalonan Bupati Kudus dari partainya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – DPC PDIP Kudus resmi membuka penjaringan calon Bupati Kudus. Pembukaan penjaringan tersebut dilakukan selama enam hari, terhitung Senin (24/7/2017) hingga Sabtu (29/7/2017).

Dalam penjaringan calon bupati, diketuai oleh Aris S. Sedangkan sekretarisnya M Yusuf Roni, yang juga Sekretaris DPC PDIP Kudus. Untuk anggota meliputi Joni Suryono, Hariyani dan Nur Handayani.

“Kami diberikan tugas penjaringan calon. Mulai tahapan penjaringan hingga proses verifikasi dari calon yang mendaftarkan diri,” kata Aris, di kantor DPC PDIP Kudus, Rabu (26/7/2017).

Pada metode penjaringan, akan diberlakukan secara tertutup. Hal itu sesuai dengan Peraturan Partai nomor 24 / 2017 yang baru disahkan 21 Juli lalu, sebagaimana perubahan atas Peraturan Partai nomor 4/ 2015 tentang penjaringan.

Panitia penjaringan sudah mengirimkan surat edaran mengenai penjaringan yang bersifat tertutup ke sejumlah pihak. Di antaranya pihak eksekutif, legislatif dan lainya.

Sekretaris Penjaringan, M Yusuf Roni mengatakan, yang dimaksud dengan model tertutup adalah penyelenggara tidak memasang pengumuman terbuka seperti baliho dan lain-lain. Kemudian, saat pengumuman setelah verifikasi, pihaknya akan mengumumkannya secara tertutup pula. 

“Secepatnya akan diverifikasi setelah selesai pendaftaran. Untuk kemudian diserahkan kepada DPD Jateng,” ungkap dia.

 

Editor : Akrom Hazami

Persiku Kudus Junior Juarai Liga Soeratin Zona Jateng

Tim Persiku saat dinobatkan menjadi juara Liga Soeratin 2017 di Stadion Wergu Wetan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Persiku Kudus berhasil menjadi juara Liga Soeratin 2017. Persiku junior memenangkan pertandingan dalam zona Jateng dengan mengalahkan PSCS Cilacap di Stadion Wergu Wetan Kudus, Selasa (25/7/2017).

Kemenangan Persiku benar-benar mantap. Persiku meraih kemenangan atas PSCS dengan skor 3-0. Dengan demikian, Persiku memastikan akan melaju ke tingkat nasional.

Ketua KONI Kudus M Ridhwan mengatakan, kemenangan Persiku telah diprediksi. Karena melihat tim Persiku tampak kuat dan solid. Sudah sepatutnya Persiku menjadi juara.

“Masih ada pertandingan lainya di tingkat nasional. Kami masih berharap Persiku selalu menang dan mrmbawa Kudus lebih baik dalam hal sepak bola,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selama pertandingan, Persiku memang terlihat mendominasi pertandingan. Meskipun beberapa kali serangan lawan kerap mengancam gawang Persiku, namun berhasil diantisipasi.

Editor : Akrom Hazami

Baju Adat Kudus Terancam Punah, Ini Solusi Penanganannya

Salah satu kegiatan yang memperlihatkan baju adat Kudus, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menuturkan jika baju adat kota setempat terancam punah. Selain akibat berkurangnya perajin baju adat Kudus, juga minat warga yang kurang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasianto mengatakan, jika saat ini baju adat Kudus mulai jarang ditemui.

“Ini mengkhawatirkan, tengok saja perajin tutup kepala adat Kudus yang kini hanya tinggal satu orang saja. Itupun, sudah sangat tua dan tak ada regenerasi lagi,” ujar Yuli mencontohkan, Selasa (25/7/2017).

Menurut Yuli, minimnya perajin baju adat karena minat warga yang rendah. Akhirnya baju adat pun tak laku. Imbasnya, perajin pun berhenti memproduksi.

Ditambah lagi, baju adat Kudus susah dalam perawatan. Termasuk juga, dalam perawatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Pihaknya menyatakan butuh penanganan khusus agar baju adat Kudus tak lagi terancam punah. Di antaranya, penanaganan antara Dinas Pendidikan, dan Dinas Perindustrian.

“Siswa SMK bisa diajak membuatnya, minimal dengan memanfaatkan ekstrakurikuler. Kemudian Dinas Perindustrian bisa membantu mengadakan pelatihan pembuatan baju adat Kudus,” ucapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Bupati Kudus Ambil Formulir Pendaftaran Cagub Jateng di DPD PDIP, Ini Kata Musthofa Sebenarnya

Bupati Kudus Musthofa saat memberikan keterangan kepada wartawan ihwal keseriusannya mencalonkan diri jadi cagub. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPD PDI Perjuangan) Jawa Tengah mulai membuka pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur.

Secara resmi, pendaftaran dibuka mulai 24 Juli 2017 hingga 11 Agustus 2017 di kantor Sekretariat DPD PDIP Jateng Jalan Brigjend Katamso Nomor 24 Semarang.

Bupati Kudus Musthofa pun menyambutnya dengan antusias. Musthofa mengambil formulir pendaftaran sebagai calon Gubernur Jateng melalui PDIP di kantor DPD PDIP Jateng, Senin (24/7/2017). Pengambilan formulir tersebut dikuasakan oleh Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kudus, Achmad Yusuf Roni.

“Ini merupakan bentuk keseriusan dari saya, dengan mengambil formulir. Minta doanya mudah-mudahan rekomendasi didapatkan,” kata Musthofa di Kudus.

Keseriusan itu ditunjukkan oleh Musthofa. Mengenai anggapan yang terlalu dini, Musthofa mengaku jika hal itu merupakan wujud keseriusannya.

Disinggung mengenai nama lain yang ikut meramaikan, kata bupati, itu hal wajar. Sudah menjadi hak bagi kader partai untuk bersaing memperebutkan rekomendasi. Termasuk juga dengan Gubernur Jateng Ganjar atau lainnya.

“Semuanya bebas, bisa jadi nantinya ada wali kota lain, bupati lain yang juga berminat karena itu hak. Tapi bagaimana kinerja saya di Kudus, itu sudah terlihat,” ucapnya.

Terkait dukungan, Musthofa mengklaim jika tidak sedikit warga wilayah Jateng yang mendukungnya. Hanya semuanya tetap mengacu pada aturan dan hasil survei yang diadakan.

Informasi yang dihimpun, pada saat pengambilan formulir pendaftaran, akan diserahkan satu bendel formulir dan buklet tentang pendaftaran bakal calon gubernur serta wakil gubernur.

Verifikasi berkas pendaftar akan dilaksanakan pada 12-19 Agustus 2017. Sementara  batas waktu melengkapi berkas persyaratan pendaftaran adalah 26 Agustus 2017 pukul 16.00 WIB di kantor DPD PDIP Jateng.

Seluruh nama pendaftar bakal calon gubernur dan wakil gubernur akan menjadi bahan rapat pleno DPD PDIP Jateng untuk dilaporkan ke DPP sesuai ketentuan internal partai.

Editor : Akrom Hazami

Gara-gara Kecelakaan di Pati,Jalur Pantura Kudus Macet Panjang

Kendaraan terjebak macet di Jalan Pati-Kudus Km 8, Desa Bumirejo, Margorejo, Pati, Sabtu (22/7/2017) siang.(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kecelakaan terjadi antara mobil Toyota Avanza Veloz bernomor polisi L 179 RO dan truk bermuatan jeruk terjadi di Jalan Pati-Kudus Km 8, Desa Bumirejo, Margorejo, Pati, Sabtu (22/7/2017) siang.

Di antara dampaknya, terjadi kemacetan lalu lintas panjang.Berdasarkan pantauan, sekitar pukul 15.15 WIB kemacetan di pintu masuk Desa Pladen, Kecamatan Jekulo. Kendaraan roda empat terjebak. Sedangkan sepeda motor saling serobot melewati sisi jalan.

Kendaraan dari arah Kudus memang mengalami kemacetan yang parah. Banyak kendaraan besar yang terpaksa berhenti hingga menunggu giliran jalan meski hanya beberapa meter saja. Sementara dari arah berlawanan dari Pati, jalan masih lancar dan aman. Jalan yang longgar beberapa digunakan untuk mendahului kendaraan yang terjebak macet.

Selamet S, salah satu sopir truk penasaran dengan kemacetan yang terjadi hingga di Kudus. Dia berharap kemacetan dapat terurai dan lalu lintas dapat berjalan dengan lancar kembali. “Biasanya ada kecelakaan kalau macet seperti ini. Dan kalau jalan pantura biasanya juga memakan waktu yang cukup lama,” ungkapnya.

Sementara itu, Polres Kudus menyiapkan jalan alternatif yang bisa dilalui pengendara untuk mengurai kemacetan di jalan Kudus-Pati.

Kapolsek Jekulo AKP Subakri menyebutkan, pihaknya sudah menerjunkan petugas untuk memantau kondisi di lapangan. Dibenarkan kalau kemacetan memang mengular, namun belum sampai harus mengunakan jalur alternatif.

“Masih bisa berjalan meski pelan, jadi jalur alternatif belum digunakan atau mengarahkan kendaraan kesana. Yang jelas petugas dari kami masih siaga di lapangan,” katanya.

Menurut dia, lokasi pengalihan jalur yang dimaksud adalah di jalur Jekulo yaitu SPBU Krawang ke utara melewati Desa Tanjungrejo. Jalur di sana cukup luas.

Kasat Lantas Polres Kudus AKP Eko Rubianto mengatakan, kecelakaan yang terjadi di Pati masih dalam penanganan. Mengingat lokasi yang berada di luar Kudus, pihaknya belum bisa menerjunkan petugas untuk membantunya.

“Kami masih melakukan menitoring terkait kemacetan. Jika diperlukan bisa digunakan pengalihan arus,” ujarnya.

 

 

Editor : Akrom Hazami

 

Sampai Semester I, Pendapatan Pariwisata Pemkab Kudus Telah Mencapai Target  

Mobil wisatawan tampak berada di objek wisata Colo, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Disbudpar Kudus bidang pariwisata tahun ini mendapatkan beban target pendapatan sebesar Rp 3,51 miliar. Sampai Juni 2017, pendapatannya baru mencapai sekitar Rp 1,3 miliar.

Kepala Bidang Pariwisata pada Disbudpar Sri Wahyuningsih, mengatakan pada semester pertama, bidang pariwisata sudah mencapai target pendapatan sekitar 52 persen.  Bidang Pariwisata yakin penyerapan pendapatan akan tercapai pada tahun ini.

“Kami yakin hingga akhir tahun nanti, akan mencapai target yang dibebankan,” kata Sri di Kudus, Sabtu (22/7/2017).

Guna mengejar target, pihaknya akan melakukan upaya. Misalnya, mengintensifkan komunikasi dengan antarobjek wisata yang ada di bawah naungan pemkab.

Dari hasil kordinasi yang dilakukan, lanjut Nining, masing-masing pengelola mengaku sudah memiliki sejumlah strategi nyata. Seperti Museum Kretek, yang akan menggelar sejumlah hiburan untuk menarik pengunjung.

Pihaknya mencatat, dari sejumlah objek wisata, pemasukan terbesar diperoleh dari objek wisata Colo yang  mencapai Rp 689,17 juta dari target setahun sebesar Rp1,23 miliar. Sedangkan untuk objek wisata Krida Wisata, kontribusinya sementara sebesar Rp150,8 juta dari target Rp 229,58 juta.

Di Museum Kretek  Rp 133,6 juta dari target Rp 273,64 juta, paling kecil  Taman Ria baru terealisasi Rp5,8 juta dari target Rp14,33 juta.  

“Sejauh ini baru lokasi wisata yang ramai, sedangkan hal lainya seperti penginapan,  dan olahraga masih cukup sedikit,” ungkap dia.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Diajari Cara Pembuatan Pakan Ternak dari Fermentasi Kulit Ketela, Peternak Desa Lau Kudus Takut

mahasiswa KKN asal Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mengajarkan cara membuat pakan ternak alternatif kepada warga, di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah mahasiswa KKN asal Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mengajarkan cara membuat pakan ternak alternatif kepada warga, di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus, Jumat (21/7/2017) sore.

Yakni warga diajarkan membuat pakan ternak dari kulit singkong. Sejumlah peternak belum mau menggunakan kulit singkong atau ketela fermentasi untuk pakan ternak. Mereka takut, jika diberi makan dari kulit ketela difermentasi, binatang ternak akan mati.

Seperti diungkapkan Sumini (60). Warga yang memiliki sejumlah ekor kambing mengaku tak pernah memberikan ternaknya kulit ketela. Dia takut, jika sampai diberikan malah kambingnya mati.

“Kulit ketela bisa membuat hewan ternak mati. Jadi saya tidak berani memberikan kulit ketela. Bisa rugi banyak malah,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Meskipun sudah dibekali dengan cara melakukan fermentasi, warga masih takut mempraktikannya. Mereka masih memilih rerumputan. Sebab di kawasan Lau masih banyak didapati rumput.

Selamet (56) peternak lain juga mengatakan hal yang sama. Dia mengaku belum mau menggunakan kulit ketela. Di kalangan masyarakat meyakini jika kulit ketela akan meracuni hewan. “Itu membuat warga takut untuk memberikannya sebagai bahan ternak,” ucapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Mahasiswa Undip KKN di Kudus Ajarkan Warga Buat Pakan Ternak Berbahan Kulit Singkong

Mahasiswa KKN asal Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mengajarkan cara membuat pakan ternak alternatif kepada warga, di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah mahasiswa KKN asal Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mengajarkan cara membuat pakan ternak alternatif kepada warga, di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus, Jumat (21/7/2017) sore. Jika biasanya pakan ternak dari rerumputan, kini warga diajarkan membuatnya dari kulit singkong.

Aldo Rhamadhan N, perwakilan mahasiswa mengatakan, warga bisa membuatkan pakan ternak menggunakan kulit singkong. Dengan kulit singkong, peternak tak perlu risau dengan ketersediannya. Tak lain karena kulit singkong mudah didapat di Lau.

Biasanya kulit singkong diberikan kepada binatang ternak, namun tanpa difermentasi. Padahal, jika tak difermentasi, jika diberikan dalam jumlah banyak bisa beracun. “Selain itu, pemberian kulit singkong tanpa fermentasi juga memiliki zat anti nutrisi,” kata Aldo di Desa Lau.

Dengan pemberian fermentasi, maka kandungan kulit ketela bisa memiliki zat yang tinggi.  Itu akan membuat ternak semakin gemuk.

“Kulit ketela bisa digunakan untuk pakan ternak. Caranya dengan memfermentasi dengan sejumlah zat yang meliputi EM4 dan limbah kecap,” katanya kepada MuriaNewsCom

Mengenai pembuatan EM4, dapat memanfaatkan sayur-sayuran dan juga buah-buahan dari limbah makanan. Caranya, dengan dicacah kecil-kecil, kemudian sayuran seperti kol, diberi air kelapa dan gula pasir. Setelah dibiarkan selama sepekan dengan kedap udara, bisa disaring dan diambil sarinya.

“Setelah itu tinggal dituangkan sekitar dua tutup botol dicampur air untuk satu ember kulit pisang. Setelah itu dikasih juga cairan limbah kecap dengan jumlah yang lebih banyak dari EM4,” ungkapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

2 SMA di Kudus Terapkan Lima Hari Sekolah

Warga melintas di depan gedung SMA 1 Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dua SMA di Kudus sudah menerapkan progam sekolah full day school (FDS) lima hari. Yakni SMA 1 Kudus dan SMA 2 Kudus.  FDS sudah diterapkan beberapa hari lalu.

Plt Kepala SMA 1 Kudus, Sutarsih, didampingi Waka Kurikulum, Teguh, mengatakan bahwa sesuai dengan surat edaran Gubernur Jawa Tengah yang diterima. SMA/SMK sederajat akan diberlakukan lima hari sekolah. Untuk itu sekolahnya segera menerapkan hal tersebut.

“Ini sudah berjalan semenjak Senin (17/7/2017) lalu. Dan Rencananya akan diberlakukan selama satu semester ini, sesuai dengan pedoman surat edaran gubernur,” kata Sutarsih.

Menurut dia,  penerapan sekolah sehari penuh itu siswa harus masuk pada pukul 06.40 WIB. Kemudian akan pulang pada pulang pukul 15.45 WIB. Sementara khusus Jumat, para siswa akan masuk pada pukul 06.40 WIB dan pulangnya pukul 15. 15 WIB. Dan tiap hari, kegiatan ekstrakurikuler dilakukan mulai pukul 16.00 WIB hingga 17.30 WIB.

“Istirahat pertama  dilakukan pada jam 09.15 WIB sampai jam 09.30 WIB.   Istirahat kedua dari jam 11.45 WIB hingga  12.45 WIB. Pada istirahat kedua digunakan untuk makan siang, dan salat,” terangnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Hujan Sebentar, Jalan di Kawasan Menara Kudus Terendam Air

Pezaiarah tampak berjalan kaki di kawasan Menara Kudus, Kamis sore. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Kawasan Menara Kudus terendam pascahujan yang turun, Kamis (20/7/2017) sore sekitar pukul 17.00 WIB. Bahkan hingga sekitar pukul 18.00 WIB, hujan masih belum reda.

Di kawasan Menara Kudus, air merendam di beberapa sudut. Tentu saja kondisi itu mengganggu aktivitas peziarah yang sedang berlalu lalang.

“Jalannya terendam. Tapi tidak masalah. Yang penting masih tetap bisa berziarah di makam Sunan Kudus,” kata salah seorang peziarah, M Udin.

Ketinggian air di kawasan Menara Kudus mencapai sekitar 5 cm-10 cm. Meski demikian, para peziarah tetap memadati. Hanya saat hujan, peziarah memanfaatkan emperan toko untuk tempat berteduh. Air yang merendam di wilayah itu biasanya cepat surut begitu hujan reda. 

Editor : Akrom Hazami

 

5 Desa di Kudus Belum Cairkan Dana Desa 

Warga melintas di Desa Kedungdowo, Kaliwungu, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. Desa ini menjadi salah satu yang belum mencairkan dana desa. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKD) Kudus,Eko Djumartono mengatakan, ada lima desa yang belum mencairkan dana desa.

“Dari 123 desa, hanya lima desa yang belum sama sekali mencairkan dana desa. Kelimanya adalah Desa Kedungdowo Kecamatan Kaliwungu, Desa Langgardalem dan Kauman di Kecamatan Kota, Desa Tumpang Krasak Kecamatan Jati dan Desa Panjang Kecamatan Bae,” kata Eko kepada MuriaNewsCom di Kudus, Kamis (20/7/2017).

Jumlah dana desa bervariasi, dengan kisaran Rp 400 juta hingga Rp 500 juta.  Pihaknya tak tahu alasan kelima desa belum mencairkan dana desa. Karena, dia hanya bertugas untuk mencairkan saja, dengan persyaratan yang sudah terpenuhi tentunya.

Menurut dia,  pencairan dana desa dibagi menjadi dua tahap. Pada tahap awal dicairkan 60 persen, sedangkan sisanya diberikan pada tahap kedua. Tahap dua dijadwalkan pada semester berikutnya. Seperti Desa Kedungdowo mendapatkan dana desa Rp 923,9 juta. Sekitar 60 persen dari dana desa tersebut dicairkan pada tahap awal.

Sementara, Camat Kaliwungu M Fitriyanto mengatakan, di Kaliwungu hanya satu desa yang belum mencairkan dana desa,  yaitu Kedungdowo. Alasannya, saat ini jabatan kades di Kedungdowo masih belum ada. Dampaknya, dana desa belum bisa dicairkan.

“Ini sedang proses penggantian kades. Tanpa tanda tangan kades, maka dana desa belum bisa dicairkan. Makanya sampai kini dana desa belum cair,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

PCNU Kudus Akan Sampaikan Keberatannya Soal Full Day School ke Presiden di Semarang


Ketua PCNU Kudus Abdul Hadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – PCNU Kudus akan mendatangi undangan halal bihalal dari PWNU Jateng di Kota Semarang, Sabtu (22/7/2017) malam. Mereka akan mendelegasikan 18 orang anggota, guna memenuhi undangan tersebut. Direncanakan, acara akan didatangi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ketua PCNU Kudus Abdul Hadi, menyatakan, pihaknya akan memenuhi undangan tersebut. “Dalam kesempatan itu, kami akan ikut menyampaikan ke pak presiden agar mempertimbangkan Full Day School,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Kamis (20/7/2017).

Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang 5 Hari Sekolah itu memang memunculkan banyak pro-kontra. Pihaknya menuturkan beberapa dampak Full Day School. Pemberlakuan full day school ditinjau dari berbagai sisi lebih banyak mengandung madlarat (bahaya) daripada mashlahatnya (manfaatnya). Dari sisi kultural, mengancam pendidikan karakter yang selama ini diajarkan di dalam madrasah diniyah. Dari sisi sarana dan prasarana masih banyak sekolah, bahkan rata-rata, belum memadai.

Dia membeberkan dampaknya, di antaranya pada kegiatan agama siswa. Seperti kegiatan hari Jumat, yang mana kesulitan dalam​ menjalankan ibadah sholat Jumat, karena lokasi yang terbatas. Tak hanya itu, sekolah diniyah juga akan kacau. Sekolah yang sampai sore, dipastikan mengurangi jumlah siswa di TPQ dan madrasah diniyah. Dan itu akan menggangu mereka dalam memahami agama.

“Kami juga sudah bertemu dengan Disdikpora Kudus. Kepada mereka, kami sampaikan jangan sampai kebijakkan dilaksakan. Jika sampai berjalan, sekolah dasar yang akan kena imbasnya,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pertamini Marak, Pemkab Kudus Layangkan Surat ke Kementerian

Warga membeli bensin di salah satu Pertamini di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pertamini di Kudus kini mulai marak. Bahkan, setiap waktu Pertamini terus menjamur hampir di sebagian besar wilayah Kudus. Hal itu malah membuat pemkab setempat kewalahan. Mengingat Pertamini belum memiliki aturan hukum.

Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus pun memutuskan untuk menyurati pemerintah pusat. Dalam hal ini Kementerian ESDM untuk menentukan aturan yang jelas ihwal Pertamini. Seperti halnya aturan tentang apakah Pertamini diperbolehkan, atau tidak.

“Secepatnya akan kami surati. Kemungkinan pekan depan surat sudah bisa dikirim ke pihak Kementerian dan harapannya bisa segera ditindaklanjuti,” kata Kepala Bidang Fasilitas Perdagangan dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Imam Prayitno.

Dirinya mencatat jumlah Pertamini di Kudus sekitar 25 unit. Kemungkinan besar, usaha tersebut akan terus bertambah. Disebabkan, pemilik tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk membuka usaha Pertamini. Usaha ini kian digandrungi karena pasarnya juga sudah jelas.

Pemkab Kudus kesulitan menindak Pertamini yang dianggap juga merugikan masyarakat.  Di antaranya karena takaran literan yang dijual, juga tak bisa diketahui apakah sesuai atau tidak. Yang jelas, karena tidak ada tera di Pertamini.

“Kalau yang dijual bukanlah barang yang bersubsidi, jadi tak masalah. Tapi bagaimana dengan masyarakat jika mendapatkan barang yang tak sesuai takaran. Untuk itu kami minta adanya aturan yang pas terkait keberadaan Pertamini,” ungkap Imam.

Editor : Akrom Hazami

 

Pelatihan Membatik di BLK Kudus Minim Peminat

Sejumlah warga membatik di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Satu dari sekian banyak progam Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus 2017 adalah pelatihan membatik. Sayangnya, dalam pelatihan itu tak ditunjang dengan besarnya minat masyarakat.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus Sajad mengatakan peminat pelatihan membatik memang kurang sejak sedari awal penyelenggaraan. Akibatnya, kegiatan pelatihan membatik di BLK terpaksa dihentikan sampai peminatnya banyak. m”Kudus memiliki tempat batik yang terbatas karena memang bukan sentra batik. Untuk itulah dalam lahan bekerja juga memiliki batasan. Dampaknya kurang diminati,” katanya.

Peminat batik juga anjlok pada tahun ini. Yang artinya dari dinas tak melaksanakan. Meski demikian, tak menutup kemungkinan tahun berikutnya, pelatihan membatik bisa dilaksanakan jika peminat tinggi. Tak hanya batik, mantan kepala UPT BPL itu  juga menuturkan sejumlah keterampilan lain yang juga sepi peminat. Seperti  menjahit tas, menjahit topi, teknisi HP, dan teknisi komputer. 

Sedangkan jurusan yang paling banyak, lanjutnya, adalah jurusan tata boga, menjahit busana, tata kecantikan kulit, setir mobil, membuat baki lamaran, dan tata kecantikan rambut. “Dengan rata-rata diikuti 200 peserta,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

DPRD Kudus Siap Bantu Lancarkan Pembangunan Mapolres yang Baru

Komisi C DPRD Kudus melakukan kunjungan ke lokasi gedung Mapolres Kudus yang baru, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pembangunan gedung Mapolres Kudus yang baru di jalan Kudus-Pati, Kecamatan Jekulo, butuh biaya Rp 41 miliar. Jumlah tersebut merupakan keseluruhan anggaran pembangunan. Untuk mewujudkan bangunan yang kini sedang dikerjakan, DPRD Komisi C siap membantu melancarkan proses pembangunan hingga rampung. 

Ketua Komisi C DPRD Kudus Ahmad Yusuf mengatakan, pihaknya siap mensukseskan pembangunan gedung Mapolres Kudus baru. “Kami akan membantu menyelesaikan pembangunan gedung Mapolres Kudus baru,” katanya.

Sejauh ini, dari hasil pantauan Komisi C, tidak terjadi hambatan pada proses pembangunan gedung mapolres. Sementara, Wisnu Aragani, Kabid Tata Bangunan dan Drainase Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus mengatakan, total kebutuhan pembangunan secara umum memang Rp 41 miliar

“Gedung mapolres baru memiliki luasan lahan sejumlah 1,5 hektare. Dengan luas itu, maka membutuhkan biaya yang besar untuk membangun gedung,” ujarnya.

Saat ini pembangunan sudah memasuki tahap dua, dengan anggaran sekitar Rp 9,4 miliar. Pada tahap pertama, dilakukan pengurukan tanah dan pembuatan pagar, yang menelan anggaran sekitar Rp 4 miliar. ‎

Disampaikan, pembangunan tahap tiga diperkirakan akan menelan anggaran hingga Rp 28,5 miliar. Dana sebesar itu, rencananya ‎akan diajukan dalam APBD Perubahan 2017 serta APBD Murni 2018 mendatang

Editor : Akrom Hazami

Mirisnya Pengakuan 2 Bocah Pencuri Barang Petani di Kudus

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – 2 bocah yang nekat mencuri barang petani di Desa Honggosoco, Jekulo, Kudus, telah diamankan polisi, Rabu (12/7/2017). Ini pengakuan mereka kepada polisi.

Adalah LS (16) dan BD (14) warga Kecamatan Dawe, Kudus. Mereka berdua adalah tetangga. Keduanya merupakan anak yatim. Mereka tak lagi sekolah dan memilih jadi pencuri.

Di hadapan Kapolsek Jekulo AKP Subakri, mereka mengaku, telah mencuri beberapa kali. Hasil curiannya, dibuat untuk mencukupi kebutuhan. Mereka tak bisa bekerja karena usianya yang terbilang masih anak. Mereka pun jadi pencuri.

“Saat ini masih diperiksa lebih lanjut. Apakah nanti akan diberikan pembinaan secara khusus ataukah dilakuan tipiring, kami masih didalami,” kata Subakri kepada MuriaNewsCom.

Kedua bocah di antaranya telah mencuri sepeda motor milik petani di sawah. Sepeda motor itu telah dijual ke warga seharga Rp 500 ribu. Kini mereka harus berurusan dengan polisi.

Petani di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, benar-benar naik pitam, beberapa waktu terakhir ini. Sebab, mereka kerap jadi korban pencurian barang taninya.

Petani pun mencari cara agar bisa menangkap pencuri. Mereka pun sepakat melakukan kerja sama satu sama lain. Seperti dengan membiarkan alat mesin diesel penyedot air irigasi, di sawah.

Benar, dua orang pencuri berusia belasan tahun datang ke sawah. LS (16) dan BD (14) warga Dawe, berniat mencuri mesin penyedot air itu. Belum sempat mengamankan barang curiannya, sejumlah petani langsung mengejarnya.

Editor : Akrom Hazami

DPRD Pantau Pencairan Dana Bantuan Keuangan Desa di Kudus 

Perangkat Desa Pasuruan Kidul, Kecamatan Jati, Kudus, saat melakukan dialog dengan DPRD setempat di aula balai desa setempat, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – DPRD Kudus ingin memastikan jika bantuan keuangan bagi pemerintah desa (pemdes) telah diterima. Dewan pun mengadakan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah desa, Rabu (12/7/2017).

Diketahui, bantuan keuangan berasal dari APBD Murni 2017.  Masing-masing desa menerima bantuan keuangan dengan jumlah berbeda. Mulai dari kisaran Rp 150 juta-Rp 200 juta.

Komisi A melakukan sidak ke beberapa desa. “Ini merupakan dana dari Pemkab Kudus. Jadi kami ingin memastikan apakah mereka tahu atau tidak. Kalau menerima, apakah mereka tahu pengelolanya,” kata Ketua Komisi A Mardijanto.

Di antara desa yang disidak adalah Desa Gribig, Gebog. Namun di desa itu, DPRD tak menemukan hasil. Sebab, Pemdes Gribig mengaku belum mencairkan bantuan keuangan. Lokasi lain yang mereka sidak adalah Desa Pasuruan Kidul, Kecamatan Jati. Desa tersebut mengaku telah mencairkan dana bantuan keuangan.

Dalam kesempatan itu, DPRD ikut memberikan pengarahan ke pemdes agar bisa mengelola dengan baik bantuan keuangan. “Anggaran untuk bantuan keuangan desa mencapai Rp 4 miliar lebih. Itu diperuntukkan untuk beberapa desa di Kudus,” ungkapnya.

Desa yang telah mencairkan dana bantuan keuangan adalah Pasuruan Kidul, Pasuruan Lor, Loram Wetan, dan Undaan Lor. Sedang desa yang belum mencairkan adalah Gribig, Kaliwungu, Rejosari, Hadipolo, Gondoharum, dan Tanjungrejo.

Ketua DPRD Kudus Mas’an yang juga ikut sidak, menyarankan desa yang belum mencairkan dapat segera melakukannya. Karena itu dapat membantu mewujudkan progam desa.

Editor : Akrom Hazami

 

Aksi 2 Bocah Curi Barang Petani Honggosoco Kudus Berakhir di Sini

Kapolsek Jekulo AKP Subakri. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Petani di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, benar-benar naik pitam, beberapa waktu terakhir ini. Sebab, mereka kerap jadi korban pencurian barang taninya.

Petani pun mencari cara agar bisa menangkap pencuri. Mereka pun sepakat melakukan kerja sama satu sama lain. Seperti dengan membiarkan alat mesin diesel penyedot air irigasi, di sawah.

Benar, dua orang pencuri berusia belasan tahun datang ke sawah. LS (16) dan BD (14) warga Dawe, berniat mencuri mesin penyedot air itu. Belum sempat mengamankan barang curiannya, sejumlah petani langsung mengejarnya.

“Warga yang kebanyakan petani menangkap basah pelaku yang membawa alat tersebut untuk dibawa kabur. Namun petani berhasil menangkapnya dan mengamankan,” kata Kapolsek Jekulo AKP Subakri kepada wartawan di Kudus, Rabu (12/7/2017).

Pihaknya berterima kasih kepada masyarakat yang sudah ikut menangkap pelaku. Termasuk juga, lanjut Subakri, terima kasih karena warga tak melakukan hakim sendiri. “Pelaku benar-benar aman dari amukan warga,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami