Bupati Grobogan Minta Kades Tidak Takut Gunakan Dana Desa untuk Pembangunan

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyampaikan beberapa catatan saat membuka sosialisasi dan evaluasi penggunaan dana desa di pendapa kabupaten, Kamis (24/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta para kepala desa (Kades) agar tidak tidak perlu takut dalam menggunakan dana desa untuk pembangunan atau kepentingan masyarakat lainnya. Hal itu ditegaskan Sri Sumarni saat membuka sosialisasi dan evaluasi penggunaan dana desa di pendapa kabupaten, Kamis (24/8/2017).

”Jangan takut untuk melaksanakan pembangunan dari dana desa. Jika semua pekerjaan sudah dilaksanakan sesuai prosedur maka bisa dipastikan tidak akan terjerat masalah hukum. Terlebih, saat ini sudah ada Tim Pengawal, Pengamanan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) dari aparat penegak hukum yang menjadi mitra dalam pelaksanaan proyek pembangunan,” tegasnya.

Acara sosialisasi juga dihadiri Kajari Grobogan Edi Handojo, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Suwasana, Kepala Inspektorat Puji Raharjo, Kepala Dispermades Sanyoto. Hadir pula sejumlah pejabat terkait dan camat.

Dalam kesempatan itu, Sri juga meminta agar para kepala desa tidak mengalokasikan dana desa sepenuhnya untuk pembangunan fisik saja. Tetapi, juga menyalurkan untuk kegiatan lain, khususnya yang berkaitan dengan masalah pemberdayaan masyarakat.

Menurut Sri, dari evaluasi penggunaan dana desa tahun 2016 dalam skala kabupaten, penggunaan dana desa mayoritas masih digunakan untuk kegiatan pembangunan yang bersifat fisik. Seperti pembangunan jalan, jembatan, talud, gedung TK, dan Paud.

”Alokasi dana desa untuk pembangunan fisik ini prosentasenya diatas 90 persen. Untuk tahun 2017 ini, sebagian dana desa perlu digunakan juga untuk kegiatan yang bersifat pemberdayaan dengan tujuan meningkatkan kapasitas dan kewirausahaan masyarakat,” cetusnya.

Ditambahkan, dalam rakornas prioritas dana desa 2017 beberapa waktu lalu di Jakarta, pihak Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi sudah memberikan arahan supaya memprioritaskan empat kegiatan. Yaitu,pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) atau Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDes Bersama), pembangunan embung untuk peningkatan produksi pertanian, pengembangan produk unggulan desa/kawasan perdesaan dan sarana olahraga desa.

“Program pembangunan dengan dana desa memang masih jadi prioritas utama. Namun, bidang lainnya yang berkaitan dengan peberdayaan juga perlu mendapat perhatian lebih,” katanya.

Sementara itu, Kajari Grobogan Edi Handojo menyatakan, pembentukan TP4D ini salah satu latar belakangnya adalah munculnya ketakutan dan kekhawatiran dari pelaksana atau pengguna anggaran terhadap aparat penegak hukum. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab rendahnya penyerapan anggaran di berbagai daerah.

Tugas TP4D ini dinilai cukup berat karena harus membantu pemerintah daerah dan mencegah adanya kerugian negara dari proyek pembangunan yang dilakukan. Namun, dalam menjalankan tugas, TP4D ini tidak mengintervensi masalah teknis

“Tugas TP4D ini memang membantu mengawasi proyek pembangunan mulai dari proses awal. Dengan adanya TP4D ini kami berupaya untuk mencegah terjadinya penyimpangan, termasuk penggunaan dana desa,” katanya.

Pengunaan dana desa agar tepat sasaran, lanjut Edi merupakan suatu prioritas pengawasan. Oleh sebab itu, pihaknya akan bertindak tegas jika ada oknum yang berani menghalangi penyaluran dana desa untuk kegiatan pembangunan. Dengan catatan, pihak desa dan tim pelaksanan kegiatan sudah menempuh prosedur yang benar.

Editor: Supriyadi

Mantap, Kwarcab Grobogan Raih 3 Penghargaan Tingkat Jawa Tengah

Ketua Kwarcab Grobogan Icek Baskoro saat menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Banyumas, Kamis (24/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Prestasi mengesankan berhasil diraih Kwarcab Grobogan pada tahun 2017 ini. Yakni, mendapat tiga predikat juara atau tergiat tingkat Jawa Tengah.

Ketiga penghargaan yang diterima masing-masing adalah juara III bidang Keuangan, Sarana dan Prasarana. Kemudian Juara I Pramuka Peduli Award. Dua prestasi ini merupakan penilaian kinerja Kwarcab Grobogan yang dilakukan pada tahun 2016 lalu.

Sedangkan satu prestasi lagi adalah Juara 1 Garuda Berprestasi Golongan Siaga Putri. Peraih prestasi ini adalah Sinta Riski Nursafira dari SDN 1 Nambuhan, Kecamatan Purwodadi.

Penghargaan untuk Kwarcab Grobogan diserahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Banyumas, Kamis (24/8/2017). Penyerahan penghargaan dirangkai dengan upacara puncak peringatan HUT ke-56 Pramuka tingkat Jawa Tengah.

Ketua Kwarcab Grobogan Icek Baskoro menyatakan, penghargaan yang diraih dinilai sangat membanggakan. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, Kwarcab Grobogan selalu bisa meraih penghargaan tingkat Jawa Tengah.

”Saya bangga dengan prestasi ini. Apa yang kita dapat adalah hasil kerja dan dukungan banyak pihak. Semoga prestasi yang kita dapat bisa terus meningkat pada tahun-tahun mendatang,” kata Icek.

Icek menyatakan, sesuai pesan dari Gubernur, pramuka merupakan sebuah pendidikan karakter. Dengan demikian, semua anggota Pramuka harus ikut ambil bagian dalam menangkal hal hal yang negative.

”Pramuka harus waspada dan menjadi tameng terhadap ujaran kebencian, dan penangkal radikalisme. Pramuka harus punya semangat yang luar biasa untuk ikut andil membangun negeri dan ikut serta mengatasi persoalan bangsa,” pesannya. 

Editor: Supriyadi

Pejabat dan Pelaku Usaha dari Kalteng Timba Ilmu Budidaya Kedelai ke Grobogan

Kabid Tanaman Pangan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Tengah Sumarli (baju merah) mendapat penjelasan proses pembuatan tempe higienis di RKG. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pengembangan tanaman kedelai lokal yang dilakukan Dinas Pertanian Grobogan dalam beberapa tahun terakhir ternyata mengundang daya tarik dari di sejumlah pihak.

Salah satunya dari pejabat Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan pelaku usaha dari Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang menyempatkan datang ke Grobogan untuk belajar soal kedelai.

Rombongan sebanyak 20 orang belajar kedelai di Rumah Kedelai Grobogan (RKG) di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh. Rombongan dari Kalteng dipimpin Kabid Tanaman Pangan Sumarli.

Kedatangan tamu dari Kalteng diterima Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Grobogan Sunanto. Ikut mendampingi rombongan dari Kalteng, Kasi Pasca Pangan dan Pengolahan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jateng Cisilia Sunarti.

Selama berada di RKG, mereka mendapat banyak penjelasan dari Sunanto mengenai budidaya kedelai lokal varietas Grobogan. Setelah itu, rombongan diajak melihat proses produksi tempe dan tahu higienis serta beragam makanan ringan dari bahan kedelai.

“Selama berada disini, kita bantu semaksimal mungkin apa yang dibutuhkan tamu kita dari Kalteng ini. Terus terang, saya merasa bangga ada rombongan dari jauh yang memilih Grobogan sebagai lokasi belajar budidaya kedelai. Harapan saya, apa yang didapat dari sini bisa secepatnya diaplikasikan di Kalteng,” cetusnya. 

Sementara itu, pimpinan rombongan dari Kalteng Sumarli menyatakan, tujuan utama datang ke Grobogan ingin menimba ilmu masalah kedelai. Namun, pihaknya juga ingin belajar budidaya tanaman pangan lainnya, seperti Jagung dan Padi. Sebab, selama ini Kabupaten Grobogan merupakan salah satu sentra penghasil padi, jagung, dan kedelai 

atau Pajale.

Dijelaskan, salah satu hal yang ingin dikembangkan di Kalteng adalah penanganan produk pasca panen. Seperti membuat aneka makanan dari hasil tanaman pangan. Salah satunya, membuat tempe dari bahan kedelai lokal. Oleh sebab itu, dalam rombongannya ada beberapa pelaku usaha pembuatan makanan dari bahan pangan.

“Apa yang sudah dilakukan Dinas Pertanian Grobogan ini sangat bagus. Jadi, tidak hanya budidaya saja tetapi juga pengembangan hingga pasca panennya. Hal inilah nantinya akan coba kita terapkan, yakni pengembangan komoditas sekaligus terintegrasi dengan pengolahan pasca panen,” terangnya.

Editor: Supriyadi

Satu Rumah Berbahan Kayu Jati di Grobogan Ludes Dilalap Api

Rumah Kamiludin warga Dusun Krajan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan ludes dilalap si jago merah. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tepat tengah hari, warga Dusun Krajan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan digegerkan dengan terjadinya sebuah peristiwa kebakaran rumah, Kamis (24/8/2017. Amuk kebakaran pukul 12.00 WIB itu menimpa rumah milik Kamiludin (36), warga yang tinggal di wilayah RT 01, RW 01.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, namun kebakaran itu mengakibatkan kerugian material sekitar Rp 75 juta. Satu rumah dari kayu jati berukuran 12 x 12 meter berikut barang berharga yang ada di dalamnya tidak berhasil diselamatkan.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum api berkobar, warga sempat mendengar suara letusan. Kemungkinan letusan ini disebabkan hubungan arus pendek listrik.

Beberapa saat setelah terdengar letusan, pemilik rumah terlihat keluar menuju halaman sambil berteriak minta tolong warga. Tidak lama kemudian, dari dalam rumah sudah muncul kobaran api.

“Saat itu, saya ada di rumah adik yang berada persis didepan tempat kebakaran. Saya sempat mendengar suara ledakan dan tidak lama kemudian rumah itu kebakaran,” kata Asih, salah seorang warga setempat.

Melihat ada kebakaran, puluhan warga  berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, upaya pemadaman ini tidak berhasil karena hembusan angin kencang dan tebatasnya persediaan air.

Editor: Supriyadi

Kabar Duka, Satu Jamaah Haji Kloter 17 Asal Grobogan Meninggal di Tanah Suci

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Grobogan – Kabar duka datang dari tanah suci. Satu jamaah haji Grobogan yang tergabung dalam kloter 17 Embarkasi Solo dikabarkan wafat saat berada di Makkah.

Plt Kasi Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Kemenag Grobogan Fahrurrozi menjelaskan, jamaah yang wafat ini seorang pria bernama Sudarto (59). Jamaah ini dari Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh. Jamaah yang wafat tersebut berangkat haji bersama dengan istrinya.

“Satu jamaah kita ini dilaporkan wafat saat menjalani perawatan di RS An Noor Makkah. Jadi, satu jamaah ini meninggalnya disebabkan sakit. Informasi yang kita dapat, jamaah yang wafat sudah dimakamkan di Makkah,” katanya.

Menurut Fahrur, kabar yang diterima dari petugas di Makkah, satu jamaah itu wafat pada hari Rabu (23/8/2017) sekitar pukul 05.30 waktu Makaah. Jamaah yang meninggal merupakan seorang pegawai Kemenag Grobogan yang bertugas sebagai Pengawas Pendidikan Agama SD di Kecamatan Pulokulon.

“Pihak keluarga sudah kita kasih tahu kabar duka ini. Semoga almarhum meninggalnya khusnul khatiman dan keluarganya diberikan ketabahan,” jelasnya.

Fahrur menyatakan, untuk kondisi jamaah lainnya dikabarkan sehat. Sejauh ini, tidak ada laporan mengenai jamaah yang dirawat di rumah sakit. 

Editor: Supriyadi

Jamaah Haji Grobogan Belum Pulang, Jatah Air Zam-zam Sudah Datang

Jatah air zam-zam bagi jamaah haji sudah tersimpan di gudang Masjid Jabalul Khoir Simpang Lima Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Seluruh jamaah haji dari Grobogan saat ini masih ada di Makkah. Meski demikian, jatah air zam-zam yang diperuntukkan bagi para jamaah haji ternyata sudah tiba, beberapa hari lalu.

Kasi Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Kemenang Grobogan Fahrurrozi saat dimintai komentarnya membenarkan jika jatah air zam-zam buat jamaah sudah tiba. Jatah air zam-zam itu dikemas dalam galon ukuran 5 liter.

”Jatah air zam-zam ini jumlahnya sesuai dengan banyaknya jamaah haji kita. Saat ini, jatah air zam-zam kita simpan di gudang Masjid Jabalul Khoir Simpang Lima Purwodadi dan dibagikan pada jamaah saat mereka pulang nanti,” katanya, Rabu (23/8/2017)

Menurutnya, pada beberapa tahun terakhir, jatah air zam-zam itu didistribusikan ke daerah. Sebelumnya, jatah air zam-zam itu dibagikan pada jamaah berada ketika masih ada di embarkasi Donohudan.

Dengan kebijakan baru ini dinilai lebih efektif karena akan mempercepat proses kepulangan jamaah menuju daerah asal. Sebab, jamaah tidak perlu mengantri untuk mengambil jatah air zam-zam di embarkasi.

Editor: Supriyadi

Tak Takut Kotor, Perempuan Cantik di Grobogan Ini Tak Malu Jadi Sopir Traktor

Petugas perempuan dari Dinas Pertanian Grobogan sedang mengoperasikan traktor roda empat di areal sawah di Desa Sumberejosari, Kecamatan Karangrayung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada pemandangan menarik yang terlihat di sebuah areal sawah di Desa Sumberejosari, Kecamatan Karangrayung, Grobogan. Hal ini terkait adanya seorang perempuan berseragam seperti pegawai yang terlihat sedang mengemudikan sebuah traktor roda empat.

Dari kejauhan, perempuan itu terlihat sangat mahir mengemudikan traktor warna biru. Kemahirannya menjalankan alat modern itu tidak kalah dengan dua pria yang juga mengoperasikan traktor tidak jauh dari lokasi itu. Selama hampir 30 menit, perempuan berambut sebahu itu mengarahkan traktor untuk membelah tanah sawah.

Perempuan yang mengenakan setelan celana panjang dan baju lengan panjang warna krem itu ternyata bukan petani. Tetapi seorang Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) Dinas Pertanian Grobogan yang bertugas di Kecamatan Karangrayung.

Petugas bernama Endrowati itu sengaja mengemudikan traktor untuk membantu mempersiapkan lahan yang akan dipakai tanam padi pada musim tanam (MT) labuhan nanti.

“Saya memang lagi belajar untuk bisa mengoperasikan traktor. Dengan begini, saya nantinya bisa mengajari petani bagaimana cara mengoperasikan traktor roda empat,” katanya.

Menurut Endrowati, Traktor yang digunakan untuk mempersiapkan lahan ada 3 unit. Masing-masing, milik Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dari Desa Mojoagung, Klambu, dan Kemloko.

“Poktan Sumber Rejeki 2 selama ini sudah menjalin kerjasama dengan UPJA tersebut. Traktor ini merupakan bantuan dari pemerintah,” jelasnya, Rabu (23/8/2017).

Dijelaskan, persiapan lahan di Desa Sumberejosari untuk tanam padi MT labuhan memang harus dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Sebab, dalam MT labuhan nanti penanaman padi dilakukan dengan cara diulur atau memasukkan benih padi dalam lubang tanam.

“Areal yang dipersiapkan untuk MT Labuhan luasnya 93 hektare. Lahan tersebut berada di bawah naungan Poktan Sumber Rejeki 2 yang ketuanya dipegang Nur Salim.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto ketika dimintai komentarnya menyatakan, apa yang dilakukan petugasnya itu patut mendapat apresiasi. Terlebih petugas lapangannya tersebut adalah seorang perempuan.

“Saya salut dengan kemauan petugas lapangan itu untuk belajar bagaimana bisa mengoperasikan peralatan modern, seperti traktor roda empat. Tindakan itu patut diapresiasi,” katanya.

Edhie menambahkan, pada saat ini, sektor pertanian sudah mengalami perkembangan pesat. Untuk mendukung hasil produksi dan mempercepat pengolahan lahan, sudah tersedia peralatan modern.

“Pertanian saat ini sudah tidak identik dengan caping dan cangkul. Peralatan dengan teknologi modern sudah digunakan di sektor pertanian,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Mau Bersih-bersih, Penjaga MI di Grobogan Kaget Temukan Orang Gantung Diri di Kebun Jati

Sejumlah petugas sedang memeriksa kondisi pelaku gantung diri di Dusun Jetis, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSeorang penjaga Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Dusun Jetis, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari sempat dibikin kaget saat melakukan aktvitas rutin, Rabu (23/8/2017). Saat hendak bersih-bersih di sekitar sekolahan, penjaga dan petugas kebersihan berusia 32 tahun itu melihat ada pemandangan yang membuatnya merinding.

Sebab, ia melihat ada sosok orang yang tergantung di sebuah pohon jati dengan leher terjerat tali plastik. Selanjutnya, Eko segera menghubungi warga untuk mengabarkan apa yang sudah dilihatnya tersebut.

Setelah dapat kabar, sejumlah warga kemudian berdatangan menuju lokasi kebun jati di dekat madrasah tersebut. Beberapa warga, kemudian mencoba mengecek kondisi orang yang gantung diri tersebut. Saat diperiksa, kondisi orang tersebut sudah tidak bernyawa.

Pelaku gantung diri itu diketahui bernama Supir (70), warga setempat. Lokasi gantung diri dilakukan di kebun jati miliknya sendiri. Peristiwa itu selanjutnya dilaporkan warga pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Wirosari AKP Toni Basuki membenarkan adanya peristiwa gantung diri di Desa Tanjungrejo tersebut. Menurutnya, setelah dapat laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa kondisi korban.

Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Panitia Kurban di Grobogan Dibekali Cara Penyembelihan Hewan Kurban 

Puluhan panitia kurban di 19 kecamatan mengikuti sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban yang digelar Disnakkan Grobogan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan tidak sekedar difokuskan pada kesehatan hewan kurban saja.

Namun, perhatian juga ditujukan pada masalah teknik penyembelihan dan perlakuan hewan sebelum disembelih.

Hal ini bisa dilihat dengan digelarnya sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban. Adapun pesertanya sebanyak 50 orang yang merupakan panitia kurban di 19 kecamatan.

“Melalui kegiatan ini kita harapkan penyembelihan hewan kurban nanti bisa sempurna dari awal hingga selesai. Di sisi lain, adanya kegiatan ini akan menjadikan hewan 

kurban tidak mengalami penderitaan terlalu lama alias kesejahteraannya juga terjaga,” jelas Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto, usai membuka pelatihan yang dilangsungkan di Rumah Kedelai Grobogan, Rabu (23/8/2017).

Dijelaskan, dalam sosialisasi itu akan diberikan materi mengenai beberapa hal. Yakni, cara perobohan hewan sebelum disembelih, tehnik penyembelihan yang benar, pemotongan daging serta penanganan limbah hewan kurban.

Selain petugas dari Disnakkan yang sudah ahli dibidangnya, kegiatan itu juga melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Grobogan. Dari kemenag akan mengupas dari sisi agama mengenai ibadah kurban serta tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan.

“Setiap tahun ada sekitar 10 ribu ekor hewan yang disembelih untuk kurban. Oleh sebab itu, para petugas perlu kita bekali kemampuan dalam masalah penyembelihan yang benar,” imbuhnya.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan drh  Nur Ahmad menambahkan, diakhir acara, peserta dibekali pelatihan tata cara merobohkan sapi. Dengan pelatihan model burley itu mereka bisa tahu teknik yang mudah saat merobohkan sapi sebelum dipotong.

Melalui metode ini, untuk merobohkan sapi cukup pakai tambang dan butuh dua sampai tiga orang saja. Selama ini, untuk merobohkan sapi dengan metode tradisional butuh 10-15 orang yang terlibat.

“Dengan model seperti ini, prosesnya jadi lebih cepat dan hewan yang akan dipotong tidak mengalami kesakitan terlalu lama,” katanya.

Editor: Supriyadi

Bupati Grobogan Minta Bayu Aji Pamungkas Tularkan Ilmu pada Dalang Lokal

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan wayang Arjuna pada Ki Bayu Aji Pamungkas sebagai tanda dimulainya pertunjukan wayang kulit di alun-alun Purwodadi, Selasa (22/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Dalang kondang Ki Bayu Aju Pamungkas (putra Ki Anom Suroto) diminta membantu meningkatkan kemampuan dalang lokal yang ada di Grobogan. Permintaan itu dilontarkan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat membuka pertunjukan wayang kulit di Alun-alun Purwodadi, Selasa (22/8/2017) malam.

”Selama ini, Adik Bayu sudah sering tampil di Grobogan. Selain menghibur penggemar wayang kulit, saya berharap juga bisa menularkan ilmu pedalangan pada dalang lokal yang ada disini,” katanya.

Menurut Sri, hingga saat ini potensi dalang yang tergabung daam wadah Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Grobogan masih bisa ditingkatkan. Selama ini, dalang-dalang lokal itu masih mendapatkan kesempatan tampil rutin dalam ajang pentas wayang kulit di pendopo kabupaten yang digelar tiap malam Jumat Kliwon.

”Kemampuan dalang lokal ini sebenarnya cukup bagus. Dengan tambahan ilmu dari dalang kenamaan seperti Bayu Aji, saya optimis kemampuan dalang lokal ini nanti bakal bertambah pesat dan lebih dikenal pecinta wayang kulit,” imbuhnya.

Menanggapi permintaan tersebut, Bayu Aji menyatakan siap membantu menularkan ilmu yang dimiliki pada dalang lokal di Grobogan. Ia menilai, kemampuan beberapa dalang lokal sudah cukup mumpuni. Hanya saja, mereka perlu tambahan inovasi, kreasi dan jam pentas serta ketekunan berlatih. 

Editor: Supriyadi

Putra Ki Anom Suroto Kesengsem Penampilan Dalang Cilik Asal Grobogan

Ki Bayu Aji Pamungkas (kiri baju hitam) menyaksikan pentas dalang cilik Ahmad Cannavaro Heriyanto di alun-alun Purwodadi, Selasa (22/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pagelaran wayang kulit di Alun-alun Purwodadi, Grobogan berlangsung meriah, Selasa (22/8/2017) malam. Hadirnya dalang cilik Ahmad Cannavaro Heriyanto makin menambah semarak pagelaran kesenian tradisional yang digelar dalam rangka menyemarakkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI tersebut.

Dalang cilik Cannavaro, saat ini masih duduk kelas III di SDN 02 Bandungsari, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan. Cannavaro malam itu tampil sebagai dalang pembuka pagelaran. Meski usianya baru 8 tahun, namun penampilannya sempat mengundang decak kagum para penonton.

Malam itu, putra Kades Bandungsari Ledy Heriyanto tampil sekitar satu jam, mulai pukul 20.30 WIB. Dalang cilik itu memainkan wayang dengan lakon Kikis Turunggono. Saat Cannavaro tampil, penabuh gamelan dan larasatinya dibawakan oleh karang taruna Eka Bakti Desa Bandungsari.

“Dalang cilik ini, kemampuannya sudah terlihat cukup bagus. Saya rasa, bocah ini merupakan sosok dalang muda ini cukup potensial di masa depan,” cetus Darmono, salah seorang penggemar wayang kulit yang menyaksikan pentas di Alun-alun itu.

Ki Bayu Aji Pamungkas yang malam itu jadi dalang utama juga terlihat serius menyaksikan penampilan Cannavaro dari awal hingga selesai. Putra dalang kondang Ki Anom Suroto itu menonton dengan duduk lesehan di belakang tumpukan wayang, persis dibelakang Cannavaro pentas.

Saat dimintai komentarnya seputar penampilan dalang cilik itu, Bayu mengaku sangat bangga. Sebab, masih ada generasi berikutnya yang mau bergelut untuk melestarikan kesenian tradisonal warisan leluhur tersebut.

“Saya bangga sekali dengan Adik Cannavaro yang mau berlatih jadi dalang sejak kecil. Apa yang dilakukan patut diapresiasi,” ungkap Bayu.

Menurutnya, penampilan dalang cilik Cannavaro itu dinilai sudah lumayan bagus. Meski begitu, supaya kemampuannya bertambah ada beberapa hal yang harus dilakukan. Yakni, tekun belajar dan berlatih serta butuh jam terbang lebih banyak.

“Selain terus belajar, untuk bisa mengembangkan kemampuannya ndalang butuh kesempatan tampil lebih banyak. Penampilan seperti malam ini ini bisa jadi salah satu sarana untuk menambah jam terbang dan mengasah kemampuan,” katanya.

Pagelaran wayang kulit juga dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni. Hadir pula, Dandim Letkol Jan Piter Gurning, Kajari Edi Handojo, Sekda Moh Sumarsono dan para pejabat lainnya.

Editor: Supriyadi

Nonton Karnaval, Bupati Grobogan Dibikin Kaget dengan Penampilan Kabag Pemdes

Bupati Grobogan Sri Sumarni bangkit dari tempat duduknya saat ada pemeran Presiden RI pertama Soekarno lewat di depan panggung kehormatan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan karnaval hari kedua dalam rangka memeriahkan HUT ke-71 Kemerdekaan RI, berlangsung meriah, Selasa (22/8/2017). Karnaval kali ini, totalnya ada 55 rombongan yang ambil bagian dengan jumlah peserta lebih 5.000 orang.

Pemberangkatan peserta karnaval dilakukan Bupati Grobogan Sri Sumarni dari depan panggung kehormatan yang berada di depan Kantor BPPKAD. Terlihat pula, Ketua DPRD Agus Siswanto, Dandim Letkol Jan Piter Gurning, Kapolres AKBP Agusman Gurning, Kajari Edi Handojo dan pimpinan FKPD lainnya, Sekda Moh Sumarsono serta para pejabat.

Dari pantauan dilapangan, Sri Sumarni dan para pejabat terlihat cukup terhibur dengan acara karnaval itu. Berulangkali, Sri dan pejabat terlihat melambaikan tangan pada rombongan peserta yang melintas didepan panggung kehormatan. Sesekali, para pejabat ini juga tampak tertawa ketika melihat tingkah lucu dari peserta karnaval.

Ditengah acara, Sri Sumarni sempat dikejutkan dengan salah seorang peserta karnaval yang berpenampilan seperti Presiden RI pertama Soekarno. Munculnya ‘proklamator’ RI diatas sebuah mobil jip warna merah hati itu langsung mendapat apresiasi tersendiri dari Sri Sumarni.

Begitu melintas di depan panggung kehormatan, Sri Sumarni langsung berdiri dari tempat duduknya untuk memberikan hormat dan bepekik ‘Merdeka’ pada orang yang memerankan salah satu tokoh idolanya itu. “Hebat. Merdeka,” kata Sri sampil mengepalkan tangan kanannya.

Orang yang berperan sebagai Soekarno itu berada dalam rombongan karnaval pegawai Setda Grobogan. Pemeran Pahlawan Nasional itu ternyata adalah Kabag Pemerintahan Desa (Pemdes) Grobogan Daru Wisakti.

Sehari sebelumnya, juga sudah dilangsungkan acara karnaval untuk lembaga pendidikan tingkat PAUD, TK, SD dan SMP. Pada karnaval hari pertama totalnya ada 86 lembaga pendidikan ambil bagian dengan umlah peserta sekitar 9.000 orang.

Editor: Supriyadi

160 Warga Grobogan Jadi Korban First Travel

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Grobogan – Jumlah warga Grobogan yang jadi korban perusahaan penyelenggara ibadah umroh (PPIU) First Travel ternyata cukup banyak. Jumlah pendaftar umroh yang belum bisa diberangkatkan mencapai 160 orang.

Beberapa hari lalu, korban First Travel ini bahkan sempat mengadu ke kantor Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Jateng di Semarang. Dalam pengaduannya mereka menuntut uangnya dikembalikan atau segera diberangkatkan umrah.

Informasi yang didapat menyebutkan, warga Grobogan yang tersebar di sejumlah kecamatan ini mendaftar lewat seorang koordinator bernama Adroi. Jumlah pendaftarnya sempat mencapai angka 380 orang. Namun, sebanyak 220 orang sudah diberangkatkan bertahap sejak tahun 2015.

Saat dihubungi wartawan, Adroi menyatakan, seluruh pendaftar sudah menyetorkan uang nilainya sekitar Rp 15 juta. Pemberangkatan 160 orang itu semua direncanakan April 2017. Namun, rencana itu akhirnya tertunda sampai sekarang.

Ia mengaku akan bertanggungjawab pada para pendaftar. Sebab, sejak awal memang menjembatani biro tersebut.

Saat ini, dia mengaku mengikuti perkembangan kasus tersebut. Terlebih ada 160 orang pendaftar yang belum berangkat.

“Sebelumnya, saya sempat bolak-balik ke Jakarta untuk menanyakan kepastian pemberangkatan pendaftar. Bulan Juni lalu, saya ke rumah pemilik First Travel Andika Surachman di Jakarta. Tapi rumahnya sudah kosong,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

“Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor: Supriyadi

Kerja Bakti, Warga Grobogan Temukan Puluhan Amunisi Berkarat

Puluhan peluru tajam berkarat yang ditemukan warga di Dusun Kaligawe, Desa Tirem, Kecamatan Brati, Grobogan, telah diamankan petugas kepolisian. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Marmo (58) warga Desa Tirem, Kecamatan Brati, Grobogan menemukan puluhan amunisi berupa peluru senjata tajam, Senin (21/8/2017). Kala itu, ia sedang melakukan kerja bakti menggali tanah untuk pembuatan talud di Dusun Kaligawe bersama belasan warga lainnya.

Saat menggali tanah pada kedalaman satu meter, cangkulnya mengenai benda keras. Ketika digali dengan tanah, benda itu adalah barang berbentuk runcing seukuran jari tangan yang jumlahnya cukup banyak.

“Setelah dapat benda itu, saya serahkan pada pencari barang bekas. Soalnya saya tidak paham benda apa yang ditemukan,” kata Marmo.

Tidak lama setelah menerima barang tersebut, Karnadi kemudian menghubungi keponakannya yang bekerja jadi TNI dan menceritakan mengenai benda yang didapat. Oleh keponakannya, ia diminta menyerahkan pada koramil Brati.

“Atas saran keponakan yang jadi tentara, barang ini kemudian saya antarkan ke Koramil Brati,” kata Karnadi.

Kapolsek Brati AKP Sugianto menambahkan, amunisi tersebut kini berada dalam penguasaan Polres Grobogan, setelah sebelumnya sempat diserahkan ke koramil. Pihaknya telah membawa amunisi yang telah berkarat tersebut untuk diteliti.

“Amunisi ini sudah terpendam lama karena sudah karatan. Kami belum tahu siapa pemiliknya dan masih akan kita teliti,” katanya pada wartawan.

Editor: Supriyadi

Kurang Perawatan, Rumput di Lapangan Alun-alun Purwodadi Terancam Mati

Kondisi rumput di lapangan alun-alun Purwodadi terlihat menguning dan terancam mati akibat kurangnya perawatan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sorotan terhadap proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi yang menelan dana Rp 10,3 miliar kembali muncul. Kali ini yang menjadi sorotan adalah rumput yang ada di lapangan Alun-alun.

Saat ini kondiri rumput sebagian besar mengering dan hanya di beberapa titik saja yang terlihat masih menghijau. Kondisi rumput yang terancam mati itu diduga akibat kurangnya perawatan.

Informasi yang didapat menyebutkan, di dalam lapangan sebenarnya sudah terpasang alat sprinkler yang berfungsi untuk menyiram rumput secara otomatis. Namun, sejak proyek ini selesai akhir tahun 2016, springkler tersebut jarang terlihat menyentorkan air.

Dari pengecekan di lokasi, memang terdapat beberapa alat springkler. Namun melihat sepintas, alat ini tampak jarang difungsikan. Sebab, sebagian tertutup tanah dan rumput.

Wakil Ketua DPRD Grobogan HM Nurwibowo menyatakan, sejak awal, pelaksanaan mega proyek itu memang sudah sering mendapat sorotan. Sebab, pelaksanaannya dinilai kurang profesional.

Termasuk juga masalah rumput yang ditanam di lapangan. Informasi yang sempat diterima, rumput yang ditanam itu jenisnya campuran. Akibatnya, tidak lama setelah proyek selesai, sempat tumbuh banyak rumput liar di dalam lapangan.

“Perawatan rumputnya saya lihat juga tidak maksimal. Hal itu bisa dilihat dengan kondisi rumput saat ini yang menguning meski masih terkena hujan,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Nugroho Agus Prastowo menyatakan, saat ini pihaknya masih melakukan inventarisir lapangan untuk menemukan apa saja yang perlu dibenahi. Hal itu diperlukan karena hasil proyek itu baru saja diserahkan pada DLH dari dinas sebelumnya yang menangani pekerjaan revitalisasi tersebut.

“Penyerahan alun-alun untuk ditangani DLH baru saja dilakukan. Jadi, kami perlu inventarisir dulu kondisi di lapangan,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Nah…Sekarang Mobil Sudah Tak Bisa Lagi Keluyuran di Lapangan Alun-alun Purwodadi

Dua pegawai dari Dinas Lingkungan Hidup Grobogan sedang memperkuat tiang penyangga portal di pintu masuk Alun-alun Purwodadi sisi utara. (MuriaNewsCom/Dhani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan- Sorotan terhadap banyaknya kendaraan bermotor yang masuk ke dalam lapangan Alun-alun Purwodadi langsung disikapi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan.

Guna mencegah masuknya kendaraan, pihak DLH akhirnya membuatkan portal permanen di pintu masuk sebelah utara.

Kendaraan yang masuk ke dalam kawasan alun-alun itu semuanya lewat pintu utara yang ada di seberang kantor DPRD Grobogan. Sebelumnya, di pintu ini sudah ada portal, tetapi posisinya tidak permanen alias bisa digeser.

Pada tiga pintu masuk alun-alun lainnya, kendaraan tidak bisa lewat. Sebab, konstruksi pintu masuknya dibuat seperti anak tangga.

Dari pantauan di lapangan, terlihat masih ada dua orang yang sedang memperkuat tiang penyangga portal dengan semen. Portal yang dipasang terbuat dari pipa besi.

Di atas pipa besi yang posisinya melintang diberi gerigi cukup tajam. Gerigi tajam ini dipasang supaya pipa besi tidak dipakai duduk orang.

Sekretaris DLH Nugroho Agus Prastowo ketika dimintai komentarnya menyatakan, pemasangan portal dilakukan supaya sepeda motor maupun mobil tidak masuk ke dalam alun-alun. Sebab, masuknya kendaraan bermotor atau mobil bisa merusak lantai maupun lapangan.

“Akses masuk ke dalam alun-alun lewatnya pintu utara. Akhirnya, kita pasang portal supaya kendaraan tidak bisa masuk,” jelasnya, Selasa (22/8/2017).

Baca juga : Anggota Dewan Grobogan Geregetan Lihat Mobil Bebas Masuk Lapangan Alun-alun

Sebelumnya, banyaknya kendaraan yang bebas keluar masuk alun-alun sempat mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Grobogan. Anggota dewan meminta agar hal itu segera disikapi dengan tegas, karena semua kendaraan bermotor sudah disiapkan lahan parkir di sekeliling alun-alun.

Editor : Ali Muntoha

Sempat Kerja Serabutan, Satrio Nugroho Akhirnya Meraih Sukses Setelah Tekuni Profesi Inseminator

Satrio Nugroho, salah satu inseminator atau petugas inseminasi buatan (IB) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Melihat sekilas, tidak ada yang istimewa dari sosok Satrio Nugroho, salah satu inseminator atau petugas inseminasi buatan (IB) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan. Namun siapa sangka, dibalik itu ada talenta hebat yang dimiliki pria berusia 39 tahun tersebut.

Sebagai buktinya, beberapa hari lalu, pria yang tinggal di Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan itu baru saja meraih prestasi bergengsi. Yakni, juara I tingkat Jawa Tengah untuk kategori lomba petugas inseminator berprestasi wilayah pengembangan.

Atas prestasinya ini, Satrio tidak hanya dapat penghargaan dari Gubernur Ganjar Pranowo. Tetapi juga dapat hadiah uang pembinaan yang nilainya cukup besar.

“Penghargaan yang saya raih ini sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Prestasi ini bukan hasil kerja saya semata. Tetapi juga berkat dukungan dari banyak pihak terutama Kadinas yang memberikan kesempatan untuk bekerja jadi inseminator,” kata bapak satu anak itu.

Sebelum terjun jadi inseminator, Satrio mengaku hanya bekerja serabutan. Lalu, timbul keinginan untuk bekerja jadi inseminator dan akhirnya diberikan kesempatan.

Satrio Nugroho, salah satu inseminator atau petugas inseminasi buatan (IB) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dunia IB sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi Satrio. Sebab, ayahnya sebelumnya juga pernah bekerja jadi inseminator. Oleh sebab itu, sedikit banyak ia sudah tahu ilmu tentang IB karena sering melihat ayahnya saat menjalankan tugas.

Satrio tercatat dikasih kesempatan jadi petugas IB sekitar tahun 2010 lalu. Oleh pihak dinas, ia dipercaya menangani IB di beberapa desa di wilayah Kecamatan Grobogan. Antara lain, Desa Ngaben, Kelurahan Grobogan, Sumberjatipohon, Rejosari dan Getasrejo.

Satrio berupaya keras untuk memegang kepercayaan yang diberikan. Caranya, dengan melaksanakan tugas sebaik mungkin serta memberikan edukasi pada masyarakat dalam bidang IB dan peternakan secara umum.

Setiap tahun, Satrio bisa mengerjakan kawin suntik rata-rata sampai 1.200 ekor sapi. Adapun tingkat keberhasilan atau kebuntingan sapi yang dikawin suntik bisa diatas 70 persen.

Setelah dinobatkan jadi juara, Satrio mengaku tidak merasa puas. Sebab, keberhasilan itu justru harus dijadikan semangat untuk bisa bekerja lebih hebat lagi. Selain itu, kinerjanya juga akan terus dipantau karena ia akan mewakili Jateng dalam lomba inseminator tingkat nasional.

“Saya akan berupaya untuk selalu meningkatkan kinerja. Mohon doanya agar bisa berhasil dalam lomba nasional,” kata inseminator yang sudah mengantongi predikat asesor nasional itu.

Editor: Supriyadi

Duh, Korban First Travel Ternyata Ada yang Berasal dari Grobogan

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga yang jadi korban Perusahaan Penyelenggara Ibadah Umroh (PPIU) First Travel ternyata tidak hanya berasal dari kota besar saja. Sejumlah warga dari Grobogan dikabarkan juga ikut jadi korbannya, meski jumlahnya tidak signifikan.

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, informasi yang didapat memang ada warga dari Grobogan yang sempat menadaftar ibadah umroh lewat PPIU tersebut. Hanya saja, jumlah pastinya belum diketahui karena belum ada yang laporan resmi ke kantornya.

”Memang ada orang Grobogan yang ikut jadi korban First Travel. Mereka langsung mengurus sendiri ke pusat dan tidak laporan ke sini,” kata Hambali, saat ditemui di kantornya, Senin (21/8/2017).

Hambali berharap, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

”Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor: Supriyadi

Ini Keuntungan Iringasi Sprinkler yang Dibuat Petani Muda Grobogan

Edi sedang menata paralon untuk irigasi sprinkler yang dibangunnya menggunakan dana hingga Rp 80 juta. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sistem irigasi sprinkler yang dibuat petani muda asal Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Edi Sukamto, diklaim mempunyai keunggulan tersendiri. Selain memangkas biaya produksi hingga separuh, ada banyak keuntungan yang lain.

Edi menyebut, keuntungan lain dengan irigasi ini adalah kondisi tanah bisa terjaga dengan baik. Soalnya, tanah tidak menjadi padat, karena sering dinjak-injak banyak orang saat proses penyiraman dan perawatan, seperti saat proses manual.

Meski banyak keuntungan, namun tidak semua petani melengkapi sawahnya dengan irigasi sprinkler. Salah satu kendalanya adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Untuk membangun jaringan irigasi itu, Edi mengaku sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 80 juta buat beli paralon, perlengkapan lainnya dan biaya pemasangan.

Uang sebanyak ini, paling banyak digunakan untuk membeli paralon atau pipa plastik berbagai ukuran. Jumlah paralon yang dipasang sekitar 2.500 batang.

Biaya pembuatan irigasi masih bisa bertambah untuk membeli mesin sedot dan selang plastik. Kebetulan, Edi sudah sebelumnya sudah memiliki peralatan ini, sehingga tidak butuh budjet baru untuk membeli.

“Kalau dilihat sepintas, biaya pembuatan irigasi memang terbilang sangat mahal. Tetapi kalau dikalkulasi sebenarnya malah murah. Soalnya, jaringan irigasi ini bisa digunakan minimal 5 tahun. Yang berat adalah ongkos bikin pertama,” katanya, sebelum mengajak jalan-jalan mengelilingi areal sawahnya.

Baca juga : Petani di Grobogan Ini Rela Habiskan Puluhan Juta untuk Bikin Irigasi Modern, Hasilnya Mengejutkan

Pembuatan irigasi sprinkler itu sudah dilakukan awal tahun 2017 lalu. Saat itu, air yang keluar dari irigasi digunakan untuk menyiram tanaman bawang merah. Setelah panen bawang merah, areal sawah ganti ditanami cabai.

Edi mengaku, selama menggunakan irigasi tersebut, belum menemukan kendala serius. Hanya saja, salah satu hal yang dinilai cukup berat adalah proses pengambilan air baku. Soalnya, air baku harus diambil dari Sungai Serang yang lokasinya berjarak sekitar 2 km dari sawahnya.

Pengambilan air dari sungai dilakukan dengan mesin sedot dan airnya dialirkan lewat selang besar menuju pipa besar yang berfungsi sebagai transmisi. Setelah itu, air dibagi lewat jaringan yang sudah tersedia di lahan sawahnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani di Grobogan Ini Rela Habiskan Puluhan Juta untuk Bikin Irigasi Modern, Hasilnya Mengejutkan

Edi tengah memeriksa jaringan paralon dalam irigasi modern sprinkler di ladangnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemanfaatan teknologi untuk membuat sebuah sistim irigasi mulai dilakukan petani di Grobogan. Salah satu pelakunya adalah Edi Sukamto, petani di Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. Meski harus mengeluarkan puluhan juta rupiah, namun hasil yang didapatkan cukup luar biasa.

Untuk memudahkan budidaya tanamannya, petani berusia 37 tahun itu membangun sistim irigasi yang dikenal dengan nama sprinkler. Irigasi sprinkler merupakan suatu metode irigasi yang fleksibel.

“Irigasi sprinkler tidak hanya digunakan untuk menyiram tanaman saja. Tetapi juga dapat dipakai untuk pemupukan dan pengobatan. Irigasi sprinkler juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban tanah dan mengontrol kondisi iklim sesuai dengan kondisi tanaman,” ujar Edi saat ditemui di lokasi sawahnya yang berada di sebelah selatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Purwodadi itu.

Areal sawah Edi luasnya sekitar 4 hektare. Saat ini, lahan sawahnya dipenuhi tanaman cabai yang berusia sekitar 2 bulan.

Pada areal sawahnya terpasang banyak sekali paralon plastik berbagai ukuran. Selain dipasang menyusuri lahan, banyak juga pipa yang dipasang dengan posisi berdiri dan di atasnya diberi kran khusus.

Fungsi kran ini untuk menyemprotkan air pada tanaman di sekitarnya. Saat proses penyiraman, airnya keluar berputar dari kran dan bentuknya seperti curah hujan.

Baca juga : Ini Keuntungan Iringasi Sprinkler yang Dibuat Petani Muda Grobogan

Selain memudahkan proses penyiraman dan perawatan, dengan irigasi berbasis teknologi ini bisa menghemat biaya dibandingkan menggunakan penyiraman manual. Penghematan biaya dikalkulasi bisa sampai 50 persen, karena tidak butuh banyak tenaga kerja.

“Sebelum pakai irigasi sprinkler saya butuh 30 tenaga kerja khusus untuk menyiram tanaman. Dengan tenaga sebanyak ini, butuh waktu penyiraman sampai 2 hari. Sekarang, tenaga kerjanya hanya beberapa orang saja untuk mengawasi kerja sprinkler saat menyentorkan air dan mengoperasikan mesin sedot,” jelas Edi.

Editor : Ali Muntoha

Duh…Lihat Teman Latihan Nyetir Mobil Malah Ketabrak Hingga Kakinya Patah

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah peristiwa kecelakaan yang tidak sengaja terjadi di lapangan sepakbola Desa Pandanharum, Kecamatan Gabus, Grobogan. Seorang warga tertabrak mobil ketika sedang menyaksikan temannya latihan nyetir di dalam lapangan.

Korban yang tertabrak mobil diketahui bernama Nanang (54), warga Desa Cinta Nagara, Kecamatan Cigedug, Garut. Pria asal Jawa Barat ini merupakan seorang pedagang yang sudah seringkali menawarkan barang dagangan di wilayah Kecamatan Kradenan dan Gabus.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa nahas itu terjadi Jumat (18/8/2017) sekitar pukul 18.30 WIB. Saat itu, Nanang sedang duduk di atas sepeda motor di bawah gawang lapangan sebelah utara. Tidak jauh dari Nanang, ada satu temannya lagi Suwarlan yang juga duduk diatas sepeda motornya.

Sedangkan di tengah lapangan, temannya Sukarno sedang diajari nyetir mobil pikap oleh Winardi. Keduanya merupakan warga Desa Kradenan, Kecamatan Kradenan.

Sebelum praktik, Sukarno sempat dikasih teori mengemudi terlebih dahulu. Setelah paham, baru dilanjutkan praktik nyetir.

Awalnya, praktik nyetir berjalan lancar. Bahkan, Sukarno terlihat sempat nyetir mobil mengitari lapangan sampai beberapa kali. Namun, di tengah latihan mendadak terjadi musibah. Saat dekat dengan gawang di bagian utara, mobil yang dipakai latihan itu tiba-tiba melaju kencang ke arah dua sepeda motor yang diduduki pengendaranya.

Melihat kejadian ini, Suwarlan bergegas melompat dari atas motor dan berusaha lari menghindar. Upaya serupa juga dilakukan Nanang.

Namun, tindakannya menghindar masih kalah cepat dengan datangnya mobil yang melaju kencang tersebut. Akibatnya, Nanang tertabrak mobil tersebut dan mengalami patah kaki serta luka-luka di beberapa bagian tubuhnya.

Melihat kejadian ini, rekan-rekan Nanang langsung melarikannya ke Puskesmas Kradenan untuk mendapatkan pertolongan medis. Beberapa jam setelah dirawat, Nanang akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Kapolsek Gabus AKP Zainuri ketika dimintai komentarnya membenarkan peristiwa orang tertabrak mobil di tengah lapangan sepakbola tersebut. Menurutnya, peristiwa kecelakaan itu baru dilaporkan pada pihak kepolisian hari Sabtu (19/8/2017).

Setelah mendapatkan laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi untuk dimintai keterangan seputar kejadian itu.

“Selain itu, dua barang bukti kendaraan juga diamankan. Yakni, mobil Suzuki futura jenis pikap Nopol R 1624 QD dan motor honda beat Nopol K 2134 YZ. Sedangkan jenazah korban sudah kita serahkan pada pihak keluarganya untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Baliho di Gedung DPRD Grobogan Ini Bikin Orang Mesam-mesem

Seorang warga tengah melihat baliho berisi gambar karikatur pimpinan DPRD Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah baliho besar berukuran sekitar 3 x 4 meter yang ada di depan ruang paripurna DPRD Grobogan sempat jadi perhatian banyak orang.

Perhatian ditunjukan pada gambar karikatur empat orang pimpinan dan sekretaris DPRD dalam baliho berisikan ucapan dirgahayu kemerdekaan itu.

Dalam karikatur tersebut, kelima pejabat itu sama-sama memakai kopiah. Namun, gambarnya hanya dicroping di bagian wajah saja. Sementara, bagian di bawahnya berupa gambar karikatur yang modelnya berlainan.

Penampilan Wakil Ketua DPRD Wasono Nugroho dalam karikatur digambarkan memakai jas panjang warna hijau, seperti yang biasa digunakan Presiden Soekarno dan Jenderal Sudirman.

Di sebelah kirinya adalah karikatur Ketua DPRD Agus Siswanto yang penampilannya memakai jas warna merah dan celana jins hitam. Selanjutnya, adalah karikatur Wakil Ketua DPRD HM Nurwibowo yang berpenampilan layaknya seorang anggota Paskibraka.

Paling lucu adalah karikatur dari Wakil Ketua DPRD Anang Prasetyo. Penampilan politisi Partai Gerindra itu digambarkan layaknya pejuang dengan mengenakan kaos lengan pendek merah putih dan celana pendek putih serta mengenakan sepatu lengkap dengan kaos kaki.

Sebuah pita merah putih diikatkan di kopiahnya dan di balik badannya terselip sebuah bambu runcing.

Karikatur paling ujung kanan adalah Sekretaris DPRD Pangkat Joko Widodo. Penampilan Pangkat mirip seperti anggota defile pembawa bendera merah putih.

Informasi yang didapat menyebutkan, baliho itu sudah dipasang cukup lama. Yakni, sekitar pekan pertama bulan Agustus. Meski banyak yang melihat namun kebanyakan tidak begitu memperhatikan karikatur itu dengan cermat.

“Saya beberapa kali lewat sini dan sempat melirik baliho itu. Tapi baru tahu sekarang kalau ada karikaturnya para pimpinan DPRD. Saya rasa baliho ini cukup kreatif,” kata Arif, salah seorang warga yang ditemui di depan kantor DPRD, Sabtu (19/8/2017).

Editor : Ali Muntoha

Menang di Kandang Persiba, Persipur Jauhi dari Zona Degradasi

Striker andalan Persipur Albebta Dewangga Santosa (29) jadi pahlawan kemenangan Persipur saat bentrok dengan Persiba Bantul, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Target Persipur meraih kemenangan berhasil digapai, Sabtu (19/8/2017). Bertanding di kandang Persiba Bantul, skuad Laskar Petir mampu unggul tipis 1-0 dalam “bentrok” yang dihelat di Stadion Sultan Agung.

Kemenangan yang sudah dinantikan tak ayal disambut gegap gempita oleh pemain dan ofisial Persipur. Bahkan, ratusan suporter Persipur yang ikut nglurug ke Bantul juga larut dalam kegembiraan.

Alhamdulillah, akhirnya menang. Kemenangan ini sangat penting artinya dan makin membuka kesempatan untuk tetap bertahan di liga 2,” kata Aan Koes, tifosi Persipur.

Dalam laga itu, striker Persipur Dewangga layak dinobatkan sebagai man of the match. Sebab, satu-satunya gol kemenangan yang tercipta dalam laga ini dilesakkan pemain bernama lengkap Albebta Dewangga Santosa itu pada menit ke-28.

“Anak-anak tampil luar biasa sore ini. Khususnya, Dewangga layak dapat apresiasi tersendiri. Saya sangat salut dengan kegigihan pemain untuk mendapatkan tiga angka,” kata manajer Persipur Budi Susilo.

Torehan tiga angka dinilai Budi sangat berarti. Dengan kemenangan itu, posisi Persipur di klasmen sementara naik ke peringkat empat dengan poin 14. Sebelumnya, posisi Persipur berada di urutan keenam.

Meski baru saja dapat tiga angka, namun Budi meminta para pemain tidak puas diri. Soalnya, masih ada dua laga sisa yang harus dijalani. Yakni, melawan Sragen United dan Persipon Pontianak.

“Kita masih punya dua laga lagi dan semuanya digelar di Purwodadi. Jadi, masih ada tugas berat yang harus kita jalani,” cetus Budi.

Editor : Ali Muntoha

Pamit Ngarit di Hutan, Perempuan dari Sumberagung Grobogan Ini Berhari-hari Tak Pulang

Sutimah (35), warga Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Grobogan yang dilaporkan hilang setelah sebelumnya pamit mau cari rumput. (Dokumen keluarga)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Grobogan dibikin geger dalam tiga hari terakhir. Hal ini terkait hilangnya Sutimah (35), salah satu warga yang tinggal di Dusun Ngrejah.

Kades Sumberagung Rusno ketika dikonfirmasi membenarkan kalau ada warganya yang dilaporkan hilang. Bahkan, pihak keluarga juga sudah melaporkan hilangnya ibu dua anak itu pada pihak kepolisian.

Tidak hanya itu, upaya untuk mengabarkan hilangnya warga itu juga dilakukan lewat medsos. Yakni, menyampaikan informasi soal hilangnya Sutimah disertai fotonya.

“Sudah kita laporkan dan pencarian jejak lewat medos juga sudah dilakukan. Semoga, keberadaannya bisa segera terlacak,” jelasnya, Sabtu (19/8/2017).

Rusno menjelaskan, hari Kamis (17/8/2017) sekitar pukul 06.00 WIB, Sutimah pamit pada suami dan anaknya untuk pergi mencari rumput atau ngarit di pinggiran hutan di sebelah barat Dusun Ngrenjah.

Aktivitas ngarit di pinggiran hutan yang berbatasan dengan wilayah Todanan, Blora itu sudah biasa dilakukan sejak lama.

Hingga tengah hari, Sutimah belum juga pulang sehingga membuat resah pihak keluarganya. Akhirnya, suami Sutimah dan beberapa kerabatnya mencoba menyusul ke kawasan hutan. Namun setelah menyisir lokasi hingga masuk ke tengah hutan, keberadaan Sutimah tidak juga ditemukan.

“Begitu dapat kabar ada orang hilang, banyak warga ikut melakukan pencarian hingga ke wilayah Blora yang lokasinya memang berbatasan dengan Desa Sumberagung. Namun, hingga tiga hari ini hasilnya masih nihil,” sambung Rusno.

Editor : Ali Muntoha

PMI Mulai Salurakan Bantuan Air Besih ke Daerah Kekeringan di Grobogan

Bantuan air bersih yang disalurkan PMI Grobogan langsung diserbu warga yang terkena kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bantuan air bersih mulai disalurakan ke daerah yang terkena dampak kekeringan. Salah satunya dilakukan PMI Grobogan yang sudah sejak beberapa hari lalu mendistribusikan bantuan air bersih pada masyarakat.

Kasi Pelayanan PMI Grobogan Gesit Kristyawan menyatakan, pasokan air bersih sudah ditujukan ke sejumlah titik kekeringan. Seperti di wilayah Kecamatan Geyer, Toroh, Pulokulon,Karangrayung, Kradenan, Tawangharjo, Purwodadi, dan Gabus.

Distribusi air bersih ini dilakukan dengan menggunakan satu mobil tangki berkapasitas 6.000 liter. Kebutuhan air sebanyak ini diperkirakan bisa mencukupi kebutuhan sekitar 50 KK selama beberapa hari.

Menurut Gesit, setiap harinya PMI hanya mampu mendistribusikan maksimal 3 kali pengiriman. Soalnya, distribusi dilakukan dengan sistem ecer. Yakni, warga langsung mengambil air dari tangki menggunakan jeriken atau ember.

“Dengan sistem ecer begini, butuh waktu agak lama. Beda kalau distribusinya dimasukkan ke dalam sumur, waktunya bisa cepat,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha