Urus Sertifikat Tanah 3 Tahun Tak juga Jadi, Warga Suwaduk Pati BingungĀ 

Arobi, buruh tani asal Suwaduk, Wedarijaksa yang kesulitan mengurus sertifikat tanah di desanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ngatini (62), nenek asal Desa Suwaduk, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, bingung harus mengadu, karena sertifikat tanah yang diurus perangkat desa setempat tak kunjung jadi. 

Padahal, Ngatini mengaku sudah membayarkan uang senilai Rp 8 juta kepada Mantan Kasi Pemerintahan Desa Suwaduk Fahrur Rozi yang saat ini menjabat sebagai sekretaris desa. Uang itu dititipkan ketua RT setempat, Suwoto sekitar tiga tahun yang lalu.

“Saya ini orang bodo, tidak tahu apa-apa. Maunya mengurus sertifikat tanah, karena tidak tahu kapan saya mati. Tapi sampai sekarang, sertifikat tanah belum jadi. Padahal saya sudah urus sekitar tiga tahun yang lalu,” ungkap Ngatini, Kamis (31/8/2017).

Ia menjelaskan, uang Rp 8 juta itu diperoleh dari penjualan hewan ternak sapinya. Dia berharap, tanahnya agar segera bisa dilegalkan secara hukum. Namun, dia harus pasrah menerima realitas karena sertifikat itu tak kunjung jadi.

Ngatini sendiri tidak diberikan kuitansi atau bukti pembayaran saat uang Rp 8 juta itu diserahkan Fahrur Rozi melalui ketua RT setempat. Hanya, saat itu dia ditemani puterinya, Purmiah.
Hal yang sama disampaikan Arobi, warga Suwaduk RT 1 RW 2. Dia mengaku sudah menyetorkan uang Rp 3,75 juta kepada Fahrur Rozi, tetapi sertifikat tanahnya tidak kunjung jadi.

Kesal dengan ulah perangkat desa tersebut, Arobi meminta uangnya kembali. “Sudah saya ambil Rp 3 juta, sedangkan Rp 750 ribu katanya sudah digunakan untuk biaya balik nama,” papar Arobi.

Sebelum uangnya kembali Rp 3 juta, Arobi sempat meminta belas kasihan karena uang yang digunakan untuk mengurus sertifikat tanah diambil dari hutang. Sementara Arobi merupakan pria yang sudah tua dan tidak mampu.

“Saya tanyakan, gimana pak sudah empat tahun. Apa tidak kasihan sama saya? Wong saya orang tidak mampu. Dia bilang, gimana kamu tidak sabar kok. Gimana uangnya mau dikembalikan saja? Saya jawab kembalikan saja daripada lama. Uang itu dulunya saya dapat dari hutang,” tuturnya.

Arobi juga mengaku, sejak uang itu diberikan empat tahun yang lalu, belum ada petugas yang datang untuk mengukur tanah. Kakek yang bekerja sebagai buruh tani itu berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi terhadap masalah tersebut.

Editor : Akrom Hazami