Tinggal di Dapur dengan Atap Ambrol, Pasangan Jompo di Jepara Ini Girang Dibikinkan Rumah

Relawan Jepara Rescue membangun rumah untuk Sanimun (75) dan Rasmi (70), pasangan jompo di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sanimun (75) dan Rasmi (70) menyungging senyum tipis di bibir mereka, lantaran suami istri asal Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Jepara, itu dibikinkan sebuah rumah baru, Rabu (30/8/2017).

Bukan oleh pemerintah, melainkan dari komunitas relawan Jepara Rescue, yang prihatin melihat rumah mereka yang atapnya ambrol dan sudah reyot termakan usia.

Kepada MuriaNewsCom, pasangan itu berkata rumah berukuran 4×6 itu dulunya adalah sebuah dapur. Sebetulnya mereka memiliki rumah yang lebih kokoh, namun setelah putri keempatnya menikah mereka memilih untuk memberikannya pada keluarga baru tersebut. 

“Kami berdua akhirnya memilih untuk tinggal di bangunan dapur. Sementara rumah kami ditinggali putri saya,” ucap Rasmi, yang memiliki empat orang anak, enam cucu dan satu cicit.

Namun sebulan belakangan, atap bangunan yang kini ditempati Sanimun dan Rasmi atapnya ambrol. Sehingga bila malam tiba, pasangan itu harus tidur di rumah anaknya, yang terletak bersebelahan. 

“Mulanya kayu usuknya rusak, saat mau dibersihkan malah ambrol. Sehingga setiap malam selepas waktu Isya, saya dan suami saya tidur di rumah anak saya,” tambah warga RT/RW : 16/3 Desa Bawu itu.

Pasangan Sanimun (75) dan Rasmi (70). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Rupanya hal itu didengar oleh relawan Jepara Rescue, yang kemudian menginisiasi bantuan berupa pembuatan rumah sederhana. Ahmad Muhlisin, ketua komunitas tersebut mengatakan, rumah sederhana tersebut memiliki rangka besi dengan atap baja ringan.

“Untuk pondasinya berdimensi 4×10 meter. Nantinya akan memuat satu kamar tidur, teras, dapur sementara kamar mandi berada di luar. Untuk biaya bedah rumah sebesar Rp 8-10 juta, sebagian besar diperoleh dari iuran anggota kami sisanya dari perusahaan yang peduli,” kata Ahmad Muhlisin, yang biasa dipanggil Bondan oleh kawan-kawannya. 

Bondan menyebut, Sanimun dan Rasmi tergolong warga miskin. Namun belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, termasuk program rehabilitasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH).

Oleh karena itu, pihaknya berinisiatif membantu, karena kenyataan di lapangan, banyak warga miskin yang belum memeroleh haknya. Hal itu diamini oleh Abud, ketua rukun tetangga setempat.

“Dulu sudah pernah didata untuk mendapatkan bantuan renovasi RTLH dari provinsi, namun hingga sekarang belum ada realisasinya. Bantuan dari pemerintah untuk Mbah Sanimun berupa BLT atau PKH pun belum pernah mengenyam,” terangnya. 

Bila sesuai rencana, rumah baru bagi Sanimun bisa dirampungkan pada ujung hari ini. 

Sanimun mengaku hanya bisa berterimakasih atas usaha yang dilakukan kelompok relawan tersebut. Ia bahkan mengaku kaget, realisasi pembangunan rumah untuknya bisa dilaksanakan dengan cepat.

“Kalau dibilang kaget ya iya. Soalnya orang begitu banyak datang ke rumah dan mau membantu mendirikan saya,” kata Sanimun.

Editor : Ali Muntoha