Petani Kopi di Pati Incar Pasar Ekspor

Petani kopi asal Sidomulyo Pati, Muttaqin (kiri) bersama Anggota DPR RI Firman Soebagyo menunjukkan kopi kemasan produksi sendiri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani kopi di Pati mengincar pasar ekspor untuk memasarkan produk kopi yang diolah dari lereng Pegunungan Muria. Salah satunya, petani kopi yang tergabung dalam kelompok Tani Mulya Mandiri di Desa Sidomulyo, Gunungwungkal, Pati.

Ketua Poktan Tani Mulya Mandiri Muttaqin mengatakan, pihaknya optimistis bisa menembus pasar ekspor setelah mendapatkan bantuan mesin pengolahan kopi dari pemerintah. Bantuan senilai Rp 650 juta itu diserahkan Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo.

“Bantuan berupa mesin pengolahan kopi ini sangat positif karena bisa meningkatkan produksi kopi yang tidak hanya dijual dalam bentuk basah, tetapi juga kemasan bubuk. Dengan peningkatan produksi dan kualitas kopi, kami ingin membuka pintu ekspor sendiri,” kata Muttaqin kepada MuriaNewsCom, Selasa (29/8/2017).

Menurutnya, produk kopi dari Pati bisa tembus ke pasar ekspor, karena memiliki rasa dan aroma yang cukup istimewa. Terlebih, kopi yang diproduksi dengan brand “Kopi Jowo” itu sudah digemari penikmat kopi mancanegara.

Selama ini, kopi asal Pati secara tidak langsung sebetulnya sudah diekspor oleh perusahaan-perusahaan besar. Kopi yang dihasilkan dari empat kecamatan di Pati disetorkan dalam bentuk gelondong kering dan green been ke sejumlah perusahaan yang selanjutnya diekspor ke luar negeri.

Hal itu disebabkan petani kopi Pati belum mampu memproduksi sendiri, sehingga hasil panen langsung disetorkan ke sejumlah perusahaan besar.

“Petani kita setor ke perusahaan untuk selanjutnya disortir. Grade satu diekspor, sedangkan grade dua dipasok di dalam negeri. Selebihnya, kembali ke Pati lagi dengan kemasan nama dan daerah lain,” ungkap Muttaqin.

Karena itu, dia bersyukur ada anggota DPR RI yang peduli pada petani lokal, sehingga saat ini sudah bisa memproduksi kopi sendiri. Meski saat ini baru bisa memproduksi 10 persen kopi bubuk dalam kemasan yang dipasarkan di kota-kota besar, tapi ke depan akan terus ia kembangkan.

Sementara itu, Firman akan terus memperjuangkan nasib petani lokal untuk bisa meningkatkan kesejahteraannya. Terbukti setelah bantuan mesin pengolahan kopi diberikan, petani lokal mampu menjual kopi dari Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu yang sebelumnya hanya berkisar di angka Rp 22 ribu sampai Rp 30 ribu saja.

“Dari awal, saya terus turun ke lapangan secara langsung untuk melihat potensi pertanian di Pati yang belum tersentuh. Ternyata, Pati juga penghasil kopi yang cukup besar dengan lahan seluas 1.700 hektare, menghampar dari Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal dan Cluwak,” tuturnya.

Sayangnya, potensi kopi yang cukup besar di Pati selama ini kurang begitu dikenal. Karena itu, dia akan melakukan berbagai upaya, termasuk pemberian bantuan mesin pengolahan supaya produk kopi robusta khas Pati dikenal dunia.

Editor : Ali Muntoha