Pelaku Industri Tapioka di Pati Minta Harga Produk Lokal Disetarakan Impor

Suasana pengolahan singkong di kawasan Ngemplak, Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kenaikan harga singkong menjadi Rp 1.450 per kilogram tidak lepas dari hukum alam. Ketersediaan singkong yang terbatas dari petani membuat harganya mulai melambung.

Khoirul Umam, pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di Ngemplak, Margoyoso, Pati, menuturkan, petani sempat mogok tidak panen singkong dari kebunnya karena harganya yang tidak layak, dari Rp 400 hingga Rp 700 per kilogram. Kondisi itu membuat ketersediaan singkong cukup langka.

Imbasnya, harga singkong kembali naik dan petani sudah mulai memanen singkong dari kebunnya. “Saya melihat, penyebab singkong naik karena hukum alam. Permintaan dan penawaran memang berlaku,” ujarnya, Sabtu (19/8/2017).

Saat ini, harga impor singkong berkisar di angka Rp 3.700 per kilogram. Selisih harga yang cukup besar dengan harga singkong lokal ditengarai membuat sejumlah perusahaan pengguna tapioka memilih membeli singkong lokal.

Karena itu, dia berharap agar pemerintah ikut membuat kebijakan untuk menyetarakan produk singkong impor dengan lokal. Kalau pun ada selisih, Rp 200 dianggap masih wajar sehingga akan menyejahterakan petani, pekerja dan pengusaha lokal.

“Tidak ada salahnya Pak Wapres Jusuf Kalla membuat edaran ke menteri perdagangan dan perindustrian untuk mengutamakan industri dalam negeri dengan tepung lokal. Sebab, itu akan mengangkat kesejahteraan para petani, pekerja, dan pengusaha kecil,” tuturnya.

Baca juga : Harga Ketela Naik Rp 1.450, Denyut Ekonomi Petani dan Industri Tapioka di Pati Mulai Bergeliat

Kabupaten Pati sendiri dikenal sebagai salah satu daerah dengan IKM penghasil tapioka terbesar di Indonesia. Bagi para petani, naik-turunnya harga tapioka lokal ikut mempengaruhi nasib dan hidupnya yang bergantung pada singkong.

Editor : Ali Muntoha