VIRAL, Kondisi Ibu Akibat Anaknya jadi TKI dan 12 Tahun Tak Pernah Ngabari

Sudardi (65) menunjukkan ijazah SD Joko Samuel, putranya yang tidak pernah pulang selama 12 tahun terakhir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pasangan suami istri, Sudardi (65) dan Kasmi (63), warga Desa Mangin, Kecamatan Karangrayung, Grobogan, saat ini sedang dilanda kesedihan. Karena keduanya sudah hilang kontak dengan anaknya Joko Samuel (27) selama hampir 12 tahun lamanya.

Tidak jelas kabar dari sang buah hati bahkan sempat membuat Kasmi jatuh sakit. Diagnosa medis, Ibunda Joko Samuel ini mengalami gejala stroke.

Akibat sakit ini, Kasmi sehari-hari praktis tidak bisa beraktivitas berat. Untuk pergi ke kamar kecil, ia harus dipapah suaminya.

“Istri saya mulai sakit sejak empat bulan lalu. Semenjak sakit saya tidak bisa kerja jauh-jauh. Untuk sementara kerja apa saja dan makan juga seadanya,” kata Sudardi saat dikunjungi di rumahnya, Senin (14/8/2017).

Pasangan yang tinggal di rumah sederhana dari papan dan berlantai tanah ini memiliki dua orang anak. Anak pertama bernama Daryati sudah meninggal dunia sekitar dua tahun lalu pada usia 38 tahun. Meninggalnya Daryati yang sudah memiliki dua orang putra ini makin menambah kesedihan kedua orang tua itu.

Sudardi menceritakan, sekitar tahun 2005, Joko Samuel yang saat itu duduk di bangku kelas III SMP dr Soetomo Karangrayung tidak lulus ujian akhir. Karena merasa malu, Joko tidak mau ketika diminta untuk ikut ujian ulang.

Tidak lama kemudian, ada beberapa teman dan tetangganya yang mengajaknya kerja jadi TKI ke Brunei Darussalam. Sebenarnya, Dardi sempat mencegah karena Joko diminta menamatkan sekolahnya dulu. Namun, karena anaknya punya kemauan kuat, akhirnya ia pun menyetujui rencana tersebut. Bahkan, sebagai bekal untuk bisa kerja jadi TKI, Dardi sempat menjual sepetak sawahnya.

“Waktu itu, sawahnya laku Rp 8 juta. Uangnya buat ongkos Joko kerja ke luar negeri,” kenang Dardi.

Beberapa tahun kemudian, teman Joko yang sebelumnya mengajak kerja ke luar negeri sudah pulang ke kampung. Saat ditanyakan kabar anaknya, mereka menyatakan jika Joko masih ada di Brunei dan mau tetap kerja. Selama di Brunei, Joko dan teman-temanya ternyata tidak bekerja dalam satu tempat. Tetapi berpencar lokasi.

Dardi menceritakan, sekitar tahun 2008, sempat kontak dengan anaknya lewat telepon di rumah salah satu perangkat desanya. Saat itu, samar-samar Dardi sempat mendengar kalau Joko posisinya ada di Pontianak dan hendak diajak kerja ke Malaysia oleh teman perempuannya. “Ceritanya, ketika sampai di Pontianak, Joko dapat kenalan. Katanya, mau kerja nanam pohon di Malaysia,” jelas Dardi.

Kedua orang tua itu hanya berharap agar keberadaan anaknya bisa terlacak. Dengan demikian, mereka bisa merasa tenang.

“Saya berharap, Joko bisa segera pulang. Kami sangat merindukannya,” kata Dardi.

Saat diminta menunjukkan foto anaknya, Dardi mengaku tidak punya. Satu-satunya barang yang ada foto Joko adalah ijazahnya saat lulus SD.

“Foto Joko sudah hilang. Dulu sempat ada beberapa. Sebelum tinggal di sini, saya sempat pindah tempat dua kali. Jadi, waktu pindahan banyak barang yang tercecer,” imbuhnya.

Sementara itu, Kades Mangin Budiono yang menemani kunjungan ke rumah Sudardi menyatakan, pihaknya akan mencoba mencari informasi lebih lanjut dengan teman-teman Joko saat awal pergi ke luar negeri. Dengan cara itu diharapkan, jejak untuk mencari keberadaan Joko akan bisa ditelusuri lagi.

Editor : Akrom Hazami