Sidorekso Mantu, Tradisi Sedekah Bumi Salah Satu Desa di Kudus

Aksi para pemain kethoprak Kancil Arum Joyo dari Pati saat memeriahkan sedekah bumi di Desa Sidorekso, Kaliwungu, Kudus, malam tadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tengah punya gawe, yakni Apitan atau sedekah bumi. Tahun ini, tradisi sedekah bumi ini diangkat dengan tema “Sidorekso Mantu”.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan yang digelar pemerintah desa setempat ini sangat menarik perhatian warga, bahkan hingga warga luar desa. Puncak tradisi Apitan ini digelar Sabtu (5/8/2017) sejak siang hingga Minggu (6/8/2017) dini hari.

Pemerintah desa mendatangkan grup kethoprak Kancil Arum Joyo dari Pati untuk menyemarakkan tradisi ini. Sebelum pertunjukan dimulai, dilakukan terlebih dahulu selamatan dengan tujuh tumpeng.

Mochamad Arifin, Kepala Desa Sidorekso mengatakan kegiatan ini diselenggarakan khusus untuk masyarakat dan berasal dari usulan masyarakat. Sebagai pemimpin desa, pihaknya mengabulkan keinginan warganya dengan membuat kegiatan tersebut. Malahan, kegiatan yang sudah rutin berlangsung tiap tahun itu dikonsep makin ramai.

“Seperti tahun ini yang kegiatan berlangsung mulai siang hingga malam. Semuanya menggunakan dana kas desa, tanpa iuran dari masyarakat. Rencananya, tahun depan bakal ditambah dengan kegiatan kirab,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, kegiatan sedekah bumi yang diselenggarakan tahun ini merupakan wujud dari rasa syukur atas hasil bumi yang diberikan Tuhan. Oleh karenanya, dalam kegiatan itu juga terdapat doa supaya di tahun-tahun mendatang hasil bumi lebih melimpah. Agar kesejahteraan warga juga makin membaik.

Dari pantauan MuriaNewsCom, saat pertunjukan kethoprak berlangsung lapangan SDN 1 Sidorekso penuh dengan warga. Tak hanya warga Sidorekso, tetapi juga warga dari kampung-kampung sekitar.

Apalagi, di kecamatan Kaliwungu kegiatan semacam itu cukup jarang ditemui sehingga menjadi hiburan yang menarik.

“Sebenarnya tiap desa memiliki tradisi ini, tinggal desanya yang mengelolanya saja. Karena tiap desa ada bengkok untuk selamatan atau sedekah bumi, yang di sini dinamai dengan bengkok wayang,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha