Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini
SERBA SERBI RAMADAN

Menelisik Jejak Sunan Ngudung, Ayah Sunan Kudus, di Desa Cingkrong Grobogan



Reporter:    /  @ 04:30:17  /  4 Juni 2017

    Print       Email

Inilah petilasan Sunan Ngudung yang berada di Dusun Widuri, Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Perkembangan agama Islam di wilayah Purwodadi ternyata juga ada andil dari Sunan Ngudung. Hal ini setidaknya bisa dilihat dengan adanya sebuah petilasan dari ayah kandung Jakfar Shadiq alias Sunan Kudus yang berada di Dusun Widuri, Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan.

Petilasan Sunan Ngudung di Desa Cingkrong berada di depan rumah warga bernama Mbah Yahyo yang sekaligus merupakan juru kunci. Di pekarangan depan rumahnya sebelah kiri, terdapat bangunan kecil seperti pos kampling berukuran 2,5 x 2,5 meter. Di sinilah letak petilasan Sunan Ngudung.

Saat pintu bangunan dari bahan tembok ini dibuka, tampak didalamnya ada dua patok atau nisan dari kayu. Sepintas, mirip patok yang ada di pemakaman. Di atas lantai digelar karpet warna hijau.

“Di sinilah petilasan dari Sunan Ngudung. Meski ada patok tetapi ini bukan makam beliau. Patok ini hanya sebagai tanda supaya petilasan mudah dikenali saja,” kata Mbah Yahyo.

Menurutnya, dari cerita yang didengar, nama Sunan Ngudung adalah putra Sunan Gresik yang bernama asli Raden Usman Haji. Sunan Ngudung diangkat sebagai imam masjid Demak sekitar tahun1520. Dalam kurun waktu itu, Sunan Ngudung juga ikut melancarkan dakwah Islam di daerah sekitar Demak.

Sunan Ngudung menikah dengan Nyi Ageng Maloka putri Sunan Ampel. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra bernama Raden Amir Haji atau Jakfar Shadiq alias Sunan Kudus. 

Yahyo tidak tahu persis apa yang ada di bawah patok petilasan tersebut. Ada beberapa versi cerita dari leluhurnya. Ada yang menyatakan jika di dalam tanah di bawah patok terdapat barang Sunan Ngudung yang tertinggal.

“Katanya ada pusaka atau jubahnya yang ketinggalan. Ada yang menyatakan jika di bawah patok, dulunya merupakan tanah yang sempat kena ceceran darah Sunan Ngudung ketika terluka saat berhadapan dengan musuh dari Majapahit. Terlepas apa barangnya,  yang pasti Sunan Ngudung memang pernah sampai ke kampung ini,” jelas pria berusia 60 tahun tersebut.

Petilasan tersebut sudah ada ratusan tahun lalu. Dulunya hanya dikasih pagar keliling dari bambu. Baru pada beberapa tahun lalu ditutup bangunan dari tembok bata.

“Selama ini, sudah banyak orang yang ziarah kesini. Ada yang dari Jawa Timur, Solo, Semarang dan Jogjakarta. Paling ramai kalai malam Jumat Kliwon bulan Muharam atau Suro,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →