Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini
SERBA SERBI RAMADAN

Jejak Masjid Tertua di Pati Peninggalan Wali



Reporter:    /  @ 13:05:16  /  3 Juni 2017

    Print       Email

Sejumlah pegiat sejarah Pati mengunjungi Masjid Baiturrahim di Dukuh Gambiran, Sukoharjo, Margorejo yang ditengarai tertua di Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Siang itu, pada bulan suci Ramadan, sejumlah penduduk Dukuh Gambiran, Desa Sukoharjo, Margorejo melaksanakan ibadah salat dhuhur di Masjid Baiturrohim.

Sebagian ada yang membaca Alquran, beberapa tampak istirahat, seusai salat. Suasana masjid ini terbilang cukup lengang, tak seperti masjid-masjid agung besar lainnya.

Wajar saja, masjid yang terlihat direnovasi dengan warna hijau muda ini terletak di pinggir jalan perkampungan, cukup jauh dari jantung kota Pati. Namun, siapa sangka bila masjid ini ternyata disebut-sebut paling tua di Pati.

MuriaNewsCom mendatangi masjid ini bersama sejumlah pegiat sejarah Pati. Salah satu yang mencoba menjelaskan sejarah menggunakan penanda di pintu masjid adalah Sugiono atau yang akrab disapa Mbah Gik.

Tak semua orang bisa membaca penanda itu, karena menggunakan huruf bahasa Arab pegon. Yakni, huruf Arab yang bila dibaca memiliki bahasa dan makna Jawa. Bahkan, satu-dua kata ditemukan bahasa Belanda.

Dalam penanda itu, Sugiono menemukan bahwa Masjid Baiturrohim dibangun pada sekitar 1446, era Walisongo. Sementara penanda sendiri dibuat oleh penguasa Pati di era Belanda pada abad ke 17.

“Kita juga bisa melihat empat pilar masjid yang dibuat dari kayu jati utuh langsung dari pohon. Kayu jati dibentuk persegi memanjang dengan pahatan sederhana tanpa sentuhan modern. Juga ada mihrab kuno yang usianya sama dengan empat pilar masjid,” ungkap Sugiono.

Seperti cerita tutur yang berkembang di masyarakat, dia meyakini bahwa empat pilar dan kayu-kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berasal dari Kayu Bralit, seorang tokoh terkemuka yang menjadi Bupati Pati pertama pada abad ke-15. Itu diperkuat dengan catatan de Graaf.

Terlebih, Gambiran dulunya merupakan ibukota Kadipaten Pati, sehingga wajar bila ada upaya pembangunan masjid di kawasan kota, beriringan dengan munculnya agama Islam. Sebab, abad ke-15 merupakan peralihan dari sisa-sisa Kerajaan Majapahit dengan latar belakang Hindu-Buddha menuju Kesultanan Demak yang berlatar Islam.

Sugiono menambahkan, pembangunan masjid di Gambiran bersamaan dengan dibangunnnya masjid di tengah-tengah kota Demak. Karena itu, pembangunan masjid Gambiran sempat ditunda, karena Raden Santikusumo atau dikenal Sunan Kalijaga berangkat ke Demak untuk memenuhi tugas-tugasnya.

Pembangunan kemudian dilanjutkan seorang tokoh yang dikenal penduduk setempat sebagai Mbah Cungkruk. “Kayu jati yang digunakan untuk membangun masjid Gambiran sangat istimewa, karena diambil dari hutan di Semenanjung Muria, saat Muria masih terpisah dengan Pulau Jawa,” tuturnya.

Selain empat pilar masjid, mihrab dan pintu, ada pula tempat semacam kolam kuno yang dulu digunakan untuk bersuci sebelum salat. Kolam itu tepat berada di pinggir jalan dan sudah tidak digunakan lagi.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →