Penjual Janur dan Ketupat Mulai Menjamur di Pasar Rembang

Jelang kupatan banyak warga berburu janur untuk digunakan membuat ketupat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Menjelang lebaran ketupat (kupatan), kini sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Rembang mulai dipenuhi para pedagang janur maupun selongsong ketupat musiman.

Selain para pedagang dadakan, penjual sembako di pasar juga memanfaatkan momen ini untuk ikut berburu keuntungan. Mereka juga ikut berjualan janur dan selongsong ketupat.

Salah seorang penjual janur asal Kedungrejo, Rembang Haryati (50) mengaku, sudah tiga Lebaran ini ia menjual janur dan ketupat kosong. “Penghasilannya lumayan. Meskipun hanya musiman saja,” katanya, Jumat (30/6/2017).

Untuk satu ikat berisi 10 lembar janur dijual atara Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu. Sedangkan ketupat kosongan satu ikatnya yang berisi 10 biji dihargai Rp 10an ribu.

Perempuan yang kesehariannya bekerja sebagai petani tersebut sudah menjual janur menjelang Lebaran ketupat sejak Kamis kemarin mulai dari pagi hingga siang.

Alhamdulillah, sejak dua hari ini bisa menjual sebanyak 50an ikat janur dan 17an ikat ketupat. Ya itung-itung buat tambahan penghasilan,” ucapnya.

Sementara itu, saat ditanya mengenai stok janur dan ketupat kosongan tersebut, ia mengaku bahwa bahan baku tersebut ia dapatkan dari wilayah Blora. “Saya beli dari seseorang yang mempunyai pohon kelapa,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Mobil Mewah Range Rover Hajar Honda Beat Hingga Remuk di Pantura Rembang

Kondisi kendaraan Honda Beat yang hancur setelah ditabarak mobil Range Rover di Kragan, Rembang, Jumat (30/6/2017) siang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sebuah mobil mewah Range Rover nomor polisi B 9 PP terlibat kecelakaan dengan sepeda motor Honda Beat nopol K 3496 ZM di jalan pantura Rembang, Jumat (30/6/2017). Akibatnya, baik mobil mewah maupun sepeda motor remuk, dan pengendara sepeda motor juga harus dilarikan ke rumah sakit.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, kecelakaan yang terjadi di jalan yang masuk wilayah Desa Pelawangan, Kecamatan Kragan, Rembang itu, disinyalir akibat kecerobohan pengendara sepeda motor Honda Beat.

Pengendara Honda Beat itu diketahui melaju zigzag di depan Range Rover dan tiba-tiba berbelok ke kanan, saat keduanya melaju dari arah timur (Sarang). Alhasil tabrakan tak terhindarkan.

“Kedua kendaraan itu melaju dari arah yang bersamaan. Hanya saja motor Beat itu melaju zigzag, dan tiba-tiba langsung belok ke kanan. Mungkin sopir tak bisa menghindar, sehingga terjadi tabrakan,” kata Jono, saksi di lokasi kejadian.

Sepeda motor itu langsung tertabrak Range Rover dari belakang, dan terseret hingga beberapa meter. Kedua kendaraan baru berhenti setelah menabrak tiang listrik, hingga mengakibatkan dua kendaraan tersebut ringsek.

Saat kejadian, pengendara sepeda motor terpental dan  mengalami sejumlah luka di bagian kepala. Pengendara motor itu diketahui bernama M Syaiful Anwar (25), warga Desa Karangharjo, Kecamatan Kragan, Rembang.

“Kejadian tersebut sudah ditangani Satlantas Polres Rembang. Korban sudah dibawa ke rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan intensif. Dan sopir mobil juga masih dimintai keterangan,” ujar Kanit Laka Lantas Polres Rembang Ipda MS Karim.

Sopir mobil mewah itu diketahui bernama Jilok (52), warga Kapuk Muara, Jakarta Utara. Hingga saat ini polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut.

Kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan juga langsung diderek dan diamankan di Kantor Satlantas Polres Rembang.

Editor : Ali Muntoha

Napi di Jepara Bisa Pindah Sel Sesuka Hati Hanya dengan Bayar Rp 500 Ribu, Benarkah?

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Polres Jepara mengendus adanya indikasi pungli di Rutan IIB Jepara. Modusnya adalah memberikan sejumlah uang agar napi atau tahanan bisa berpindah sel.

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho mengatakan, sesuai laporan besaran untuk berpindah “kamar” sel adalah Rp 500 ribu.

Kasus bermula ketika AJ meminta sejumlah uang kepada keluarganya, sehingga ia yang berstatus tahanan titipan itu bisa berpindah sel. Dalam pelaksanaannya, uang tersebut tak langsung masuk ke dalam rutan, namun melalui narapidana lain yang bertugas sebagai tukang parkir, yakni SA.

Uang itu kemudian diserahterimakan kepada tamping blok bernama AE. Setelahnya, uang tersebut baru disampaikan kepada AJ lagi.

“Kemarin di lapas (dugaan pungli) sudah kita tindaklanjuti, ada permintaan uang sejumlah Rp 500 ribu, untuk dapat pindah kamar. Namun dalam pelaksanaannya memakai tangan napi,” kata Kapolres Jepara, Jumat (30/6/2017).

Mendengar laporan tersebut, pihaknya lantas melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan ketiga pelaku. Dalam kesaksiannya, baik AJ, SA dan AE menyangkal uang tersebut sebagai mahar berganti kamar sel. Adapun, kejadian itu berlangsung pada Selasa (20/6/2017).

Mereka menyatakan, uang tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan pribadi selama di dalam rutan. Namun polisi tak begitu saja percaya. Dalam pemeriksaan, pihaknya juga mengamankan uang sejumlah Rp 250 ribu.  “Kami masih terus mendalami kasus ini,” ujar AKBP Yudianto. 

Terpisah. Kepala Rutan IIB Jepara Slamet Wiryono menampik adanya praktik pungli dalam fasilitas yang ia pimpin. Meski begitu, ia mengaku berterimakasih, pihak kepolisian membongkar praktik beredarnya uang di rutan.

“Ngomongnya minta uang untuk pindah kamar. Namun bukan, itu atas iuran mereka sendiri, untuk kebersihan kamar. Ya nyuci, ya angkut air dan sebagainya,” kata dia.

Slamet menjelaskan, di setiap kamar rutan terdapat jadwal piket narapidana atau tahanan. Jika seorang pesakitan tak melaksanakan kewajibannya, maka membebankan kepada napi lain. Untuk itu, mereka harus membayar uang pengganti. 

Namun ia mengakui, sebenarnya praktik peredaran uang dalam penjara secara bebas memang tak dibenarkan.

“Kalau uang milik tahanan atau napi harusnya masuk ke register D. Dikelola oleh petugas, untuk kemudian diberikan secara bertahap atau terkontrol kepada warga binaan, yang memiliki uang tersebut,” lanjutnya. 

Ia mengaku terbuka, bila tim saber pungli melakukan penyelidikan. Hal itu dikatakan Slamet, turut membantu tugasnya dalam upayanya bersih-bersih ke jajaran internalnya.

“Kalau semisal ada petugas yang terlibat, malah membantu saya untuk membersihkan. Untuk mengantisipasi kejadian berulang, kami akan sering melakukan razia kepada napi,” tutur Slamet.

Editor : Ali Muntoha

Ini Destinasi Wisata yang Wajib Kamu Kunjungi saat Liburan di Rembang

Pantai Karangjahe Rembang. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Rembang – Rembang memiliki beragam destinasi wisata yang sangat menarik. Jadi, jika Kamu pas mudik Lebaran kali ini, jangan lupa luangkan waktu untuk sejenak merefresh otak untuk keliling tempat wisata di Rembang, yang pastinya nggak bakalan bikin kamu kecewa.

Nih, ada beberapa rekomendasi tempat wisata yang layak kamu jadikan tujuan berlibur. Di antaranya adalah Pantai Karang Jahe yang berada di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang. Pantai yang mempunyai ciri khas pasir putih itu, akan membuat liburan mudik kamu semakin berkesan.

Biasanya, pada momen liburan, jumlah wisatawan yang datang ke Pantai Karang Jahe juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Untuk tiket masuk ke Pantai Karang Jahe, pihak panitia hanya mengenakan biaya per kendaraan, bukan jumlah orang.

Untuk kendaraan sepeda motor, dikenakan retribusi sebesar Rp 5 ribu, mobil pribadi Rp 10 ribu, travel, pikap atau carteran Rp 15 ribu. Sedangkan untuk bus kota atau truk sebesar Rp 25 ribu dan untuk bus besar Rp 50 ribu.

Selain itu, ada juga wisata alam hutan mangrove yang ada di desa Pasarbanggi, Kecamatan Rembang. Wisata ini juga tak jauh dari pantai Karang Jahe. Sebab wilayah itu juga berada di pinggi jalur pantura Rembang Lasem.

Hutan Mangrove di Rembang. (MuriaNewsCom)

Untuk menuju ke wisata hutan mangrove ini sangat mudah. Dari Kota Rembang menuju ke timur arah ke Lasem. Sebelum memasuki Kecamatan Lasem, di kiri jalan dari arah terdapat papan petunjuk arah bertuliskan Hutan Wisata Mangrove.

Sebelum menuju kawasan wisata, para pengunjung bisa menitipkan kendaraannya di Dukuh Kaliuntu. Setelah itu, berjalan sekitar 200 meter melewati tambak garam atau udang.

Setelah sampai di tempat, mereka nantinya akan disuguhi pemandangan yang menarik dan sejuk. Hutan mangrove nan asri tersebut luasnya sekitar 22 hektare dengan panjang 2.900 meter. Selain menikmati pemandangan, di sini, pengunjung juga bisa mengenal beragam jenis mangrove.Di hutan ini, setidaknya terdapat enam jenis pohon mengrove.

Di kawasan hutan mangrove ini, juga tersedia beberapa tempat duduk sederhana yang disediakan pengelola untuk dijadikan tempat istirahat.

Sembari berkeliling hutan, pengunjung juga bisa sambil duduk di angkruk yang disediakan tempat wisata. Selain itu juga banyak yang duduk lesehan di jembatan ini sambil berfoto selfie.

Untuk tarif masuk, pihak panitia manarik tiket masuk ke tempat ini sangat murah. Yakni untuk satu mobil hanya ditarik Rp 10 ribu. Sebab dari informasi yang ada sistem retribusinyanya itu bukan secara perorangan. Namun secara kelompok atau per kendaraan.

Editor : Kholistiono

Memagut Mentari ke Peraduan di Pantai Bondo

Suasana matahari tenggelam di Pantai Bondo Jepara yang begitu memikat hati. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bila berbicara wisata Jepara, pasti yang terbersit adalah pantai. Tentu saja, Kabupaten di utara Pulau Jawa ini memiliki deretan pantai yang menawan, dengan pasir putih dan ombak yang tenang. 

Oh iya, satu yang tak boleh terlewat adalah momen tenggelamnya matahari atau sunset. Satu tempat yang bisa menjadi pilihan untuk menikmatinya, adalah Pantai Bondo atau pantai Ombak Mati, yang terletak di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri.

Pantai berpasir putih itu, bisa ditempuh dengan berkendara motor atau mobil. Bagi yang belum pernah ke lokasi itu, jangan takut karena sign board telah terpasang. Pantai Bondo sendiri berada di deretan obyek wisata serupa, yakni Pantai Pailus dan Pantai Empurancak.

Sebelum ke obyek wisata, pelancong akan dimanja pemandangan pedesaan, lengkap dengan sawah padi yang menghijau. Ketika hendak memasuki lokasi, pengunjung akan diminta membeli karcis masuk sebesar Rp 2500, per orang.

Saat Lebaran seperti ini, pantai ini tentu saja dipadati pelancong. Namun tenang, banyak spot untuk menatap sunset di ufuk barat. 

Pengunjung Pantai Bondo asyik bermain dan berenang saat matahari mulai tenggelam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Bila mentari belum ke peraduan, pelancong bisa menyewa kano, ban atau menunggang kuda. Untuk tarifnya lumayan terjangkau, sewa ban hanya dengan Rp 5000. Untuk berkano pelancong cukup merogoh Rp 50.000 untuk durasi sejam, sementara untuk 30 menit ditawarkan Rp 30 ribu. 

Bila hendak berkuda, sekali putaran dikenai tarif Rp 30.000. Jika lapar atau haus, namun tak membawa bekal silakan mampir di warung-warung yang tersedia. Tapi ingat, jangan segan untuk bertanya berapa harga jajanan sebelum membeli.

Kalau itu tak cukup, tentu saja pengunjung bisa menceburkan diri di laut. Airnya tak terlalu dalam, namun tentu saja harus berhati-hati. Pengelola tempat telah menetapkan batas aman dengan bendera merah.

Pengunjung bisa menikmati jasa berkuda saat berlibur di Pantai Bondo. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Waktu yang tepat jika ingin ber-sunset adalah sore hari. Lokasi pantai bisa ditempuh sekitar 60 menit hingga 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Jepara, bergantung pada kepadatan lalulintas. 

Catat waktunya, matahari mulai terbenam di Pantai Bondo mulai pukul 17.00. Di waktu tersebut, bolehlah sekadar duduk memandang ke ufuk, atau berswafoto. 

Seperti yang dilakukan oleh Andi, warga Tahunan-Jepara. Sepulang kerja, ia mengaku menyempatkan diri ke lokasi itu. Menenteng sebuah kamera digital, ia banyak mengabadikan foto-foto berlatar matahari yang tenggelam.

“Sengaja menyempatkan waktu datang ke sini setelah bekerja,” katanya, Kamis (29/6//2017) sore.

Di liburan Lebaran seperti ini, pantai tersebut kerap kali menjadi spot yang menarik untuk dikunjungi. Bahkan hingga malam pukul 21.00. 

“Hari pertama Lebaran, sore harinya sudah mulai meningkat kunjungannya. Perkiraannya nanti hingga kupatan pasti akan ramai,” ucap seorang penjaga parkir di lokasi tersebut. 

Yang perlu diingat, ketika mengunjungi pantai tersebut adalah tak menyampah dan tetap mendampingi keselamatan putra-putri yang dibawa.

Editor : Ali Muntoha

 

Difasilitasi Pemkab Kudus, Pelaku Usaha Konveksi Terbantu dalam Pasarkan Produk

Eni Zunita, pemilik Jasmine Bordir saat mengikuti salah satu pameran produk unggulan yang diselenggarakan Dinas Perdagangan Kudus. Pelaku usaha konveksi terbantu dengan fasilitas yang diberikan Pemkab Kudus. (Foto : Dinas Perdagangan Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Para pelaku usaha konveksi merasa sangat terbantu dengan program-program yang dijalankan Pemkab Kudus. Salah satunya, program mengikutsertakan pelaku usaha dalam berbagai pameran yang dijalankan Dinas Perdagangan Kudus.

Pameran yang diikuti juga beragam segmen dan pasarnya. Mulai dari pameran dalam skala lokal maupun nasional.

Pemilik Jasmine Bordir Eni Zunita mengatakan, dirinya beberapa kali mengikuti pemeran nasional yang diagendakan Dinas Perdagangan Kudus.

”Kami berterima kasih. Diikutkan dalam sebuah pameran sudah sangat membantu kami dalam memasarkan produk. Pasar kami yang awalnya di level lokal, secara otomatis semakin berkembang ke pasar yang lebih luas,” kata Eni Zunita.

Pihaknya berharap, di tahun-tahun mendatang program tersebut tetap dijalankan dan semakin banyak pelaku usaha konveksi yang dilibatkan. Dengan demikian, akan semakin mudah mengangkat konveksi Kudus ke level nasional atau bahkan internasional.

Dia mencontohkan, even Ramadan Runway yang baru saja berakhir penyelenggaraanya di Jakarta, merupakan momentum tepat untuk mempromosikan bordir Kudus. Sebab, even tersebut memiliki gengsi tersendiri. Banyak desainer-desainer papan atas Tanah Air ambil bagian di dalamnya.

”Kami tentu akan bangga, saat bordir Kudus dilirik para desainer untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih berkualitas. Dan, dengan mengikuti pameran-pameran seperti (Ramadan Runway 2018) ini menjadi salah satu upaya strategis untuk mewujudkannya,” terang pengusaha bordir asal Desa Karangmalang ini.

Pada ajang Ramadan Runway 2018 kemarin, produk konveksi bordir yang dipamerkan Pemkab Kudus sukses menarik perhatian pengunjung. Acara yang berlangsung di Mall Kota Kasablanka Jakarta, pada 1 Juni hingga 2 Juli ini berhasil menumbuhkan gairah pelaku usaha untuk semakin kreatif dalam proses produksi.

Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung yang singgah di stan Dinas Perdagangan Kudus. Mereka tidak hanya melihat-lihat produk yang dipamerkan. Tidak sedikit dari pengunjung yang membeli bordir produksi Kudus.

Banyak yang bertanya mengenai produk bordir dari Kudus. Mereka ada yang langsung membeli. Namun ada yang sekadar bertanya. Bahkan ada juga yang menanyakan destinasi wisata di Kudus.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, Ramadan Runway merupakan even tahunan yang salah satunya bertujuan  untuk memperkenalkan busana lokal.

”Di even ini, kami juga memiliki ikatan kerja sama dengan dengan Rudy Chandra yang merupakan Ketua APPMI DKI Jakarta,” ucap Sudiharti.

Selain arena bazar produk busana, Ramadan Runway 2018 ini juga dimeriahkan sederet desainer papan atas Tanah Air. Sebut saja Ivan Gunawan, Rani Hatta, Nita Seno Adji, Harry Ibrahim, Rudy Chandra, dan Okky Setiana Dewi. Mereka menampilkan koleksi terbaiknya yang bertema Ramadan.

”Kami yakin, dengan mengikuti even-even seperti ini, maka produk-produk lokal Kudus semakin dikenal dan ini juga tentu saja memberikan efek positif dalam peningkatan usahanya. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dicita-citakan Bapak Bupati Musthofa untuk menjadikan warga Kudus semakin sejahtera,” ucapnya. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Grobogan Jadi Rebutan Penjual Janur dari Luar Kota

Aktivitas pedagang janur di Jalan A Yani Purwodadi yang berlangsung hingga dini hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Jika menjelang Lebaran produk pakaian dan makanan yang jadi incaran maka pascahari raya, gantian janur yang diburu orang. Hal ini bisa dilihat dengan ramainya orang yang mencari janur untuk bikin lepet dan ketupat.

Tradisi bikin ketupat maupun lepet sudah jadi ciri khas warga termasuk di Kabupaten Grobogan. Khususnya untuk menyambut Lebaran ketupat atau lebaran kecil yang jatuh pada Minggu (2/7/2017) lusa.

Dari pantauan di lapangan, sejak tiga hari setelah Lebaran, puluhan pedagang janur mulai menjajakan barang dagangannya di sekitar Pasar Induk Purwodadi. Tepatnya, di pinggiran Jalan A Yani.

Sebagian besar, pedagang janur itu berasal dari luar kota, seperti Pati, Boyolali, Blora dan Demak. Banyaknya pohon kelapa di Grobogan yang mati akibat hama wangwung menjadikan daerah ini dianggap sebagai pasar potensial oleh pedagang janur.

Pedagang janur dari luar kota itu yang jualan mulai sore hingga dinihari itu umumnya sudah punya langganan tetap. Yakni, para pedagang janur lokal musiman yang menjual secara eceran. Oleh sebab itu, begitu datang, janur yang mereka bawa langsung diambil para pelanggan.

Harga yang ditawarkan berkisar Rp 500 ribu per ikat yang berisi 1.000 helai janur. Sementara harga blarak atau daun kelapa yang sudah agak tua berkisar Rp 200 ribu per ikat. Sedangkan harga longsongan atau daun kelapa yang sudah dianyam berbentuk ketupat ditawarkan Rp 5 ribu per ikat yang berisi 10 longsongan.

“Harga janur, blarak dan longsongan saat ini boleh dibilang masih cukup murah. Soalnya, lebaran ketupat masih beberapa hari lagi. Bisanya, harga janur mencapai puncak sehari sebelum lebaran ketupat. Makanya, saya pilih beli sekarang,” kata Handayani, salah seorang warga yang membeli janur di pinggir jalan A Yani, Kamis (29/6/2017) malam.

Editor : Ali Muntoha

Dua Rumah di Grobogan Terbakar Saat Momen Lebaran

Warga mencoba memadamkan api yang membakar salah satu rumah di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebarakan merusak kebahagiaan Lebaran di Kabupaten Grobogan. Dua rumah terbakar sejak hari pertama Lebaran, hingga Kamis (29/6/2017) kemarin.

Yang terbaru kebakaran terjadi di Dusun Tanjungan, Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Kamis (29/6/2017). Kebakaran yang berlangsung tengah malam itu menimpa rumah Sujiyo (65), warga di RT 01, RW 06.

Informasi yang didapat menyebutkan, kebakaran ini berhasil dipadamkan warga bersama petugas pemadam kebakaran Grobogan. Meski demikian, satu unit rumah bagian belakang yang berfungsi sebagai kandang sapi ludes terbakar. Sementara sebagian rumah bagian depan terpaksa dirobohkan supaya tidak tersulut api.

Kebakaran ini diperkirakan berasal dari api bediang (api untuk mengusir nyamuk di kandang) yang dinyalakan pemilik rumah beberapa jam sebelumnya. Kemungkinan akibat hembusan angin, api dari bediang itu menjalar ke tumpukan jerami kering di dekatnya.

“Beberapa kali peristiwa kebakaran ini disebabkan keteledoran pemilik rumah. Untuk itu saya imbau warga agar waspada dan ketika menyalakan api,” kata Kasi Damkar Grobogan Sutrisno, Jumat (30/6/2017).

Beberapa hari sebelumnya, musibah kebakaran terjadi di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Minggu (25/6/2017) dini hari. Kebakaran pada malam takbiran ini mengakibatkan satu kios ini ludes dilalap si jago merah.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian mencapai Rp 20 juta. Kemungkinan, kebakaran ini disebabkan korsleting listrik, karena saat kejadian, kios dalam kondisi tutup.

Editor : Ali Muntoha

Ini Dia 7 Penganan Khas Jepara yang Cocok Kamu Bawa Pulang

Pindang serani salah satu kuliner khas Jepara yang patut untuk dicoba. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Sedang mudik ke Jepara tapi bingung mencari makanan atau oleh-oeh khas Bumi Kartini? Tenang, Jangan patah arang, berikut ada tujuh penganan yang bisa memuaskan hasrat kuliner dan  mengisi koper bekal kembali ke tanah rantau. 

Jepara, sebagai daerah yang ada di tepi pantai tentu saja memengaruhi penganan khas yang diproduksi. Kebanyakan kulinernya menggunakan unsur yang berasal dari laut, baik sebagian atau keseluruhan.

 

1. Pindang Serani

Masakan yang satu ini menggunakan ikan sebagai bahan utamanya. Menggunakan kunyit sebagai satu di antara bumbu pelengkap, makanan ini terlihat berwarna kuning dan memiliki rasa rempah-rempah yang kental. 

Jika ingin mencoba memasak, penganan ini pun cukup simpel. Tumis cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, jahe dan daun salam. Bahan-bahan itu kemudian ditumis, setelah harum, tuangkan air secukupnya, masak hingga mendidih lalu masukan ikan yang telah dibersihkan serta tunggu hingga matang.

 

Adon-adon Coro

2. Adon-adon Coro

Bagi yang belum mengenalnya, adon-adon coro merupakan jenis minuman rempah khas Jepara. Bercitarasa pedas, minuman ini cocok dikonsumsi di kala dingin melanda. 

Bewarna cokelat, minuman ini juga dilengkapi dengan irisan kelapa bakar, yang diiris kotak seperti dadu. Tak lupa ditambah santan yang menjadikan adon-adon coro semakin gurih diminum, menghangatkan seluruh keluarga. 

 

Horog-horog

3. Horog-horog

Ada satu kuliner khas Jepara yang patut dicoba, yakni horog-horog. Apa itu? bagi yang belum pernah menjajalnya, mungkin dari namanya saja terasa aneh. Ya, pengananan itu biasa dimakan sebagai pelengkap bakso, pecel atau makanan berkuah lain. 

Terbuat dari sagu aren, horog-horog memiliki rasa yang cenderung hambar, namun kenyal. Jika di wilayah Timur Indonesia ada papeda, yang berbentuk layaknya bubur, horog-horog memiliki bentuk padat. 

Kini makanan itu boleh dibilang langka, lantaran untuk mendapatkan bahan bakunya harus didatangkan dari luar Jepara. Selain itu, perajinnya pun sudah mulai renta, serta cara pembuatannya yang harus higienis. 

Untuk menemukannya, sebenarnya tak sulit. Cukup pergi ke pasar tradisional yang ada di Jepara. Atau jika ingin bertualang, bisa menyambangi sentra industri rumahan yang berada di Kecamatan Bugel. 

 

Kerupuk tengiri

4. Kerupuk Tengiri

Jika ingin memenuhi koper oleh-oleh, kerupuk tengiri bisa jadi solusi. Terbuat dari ikan hasil laut Jepara, tentu penganan ini layak menjadi pendamping berbagai makanan. Nasi panas dengan sambal pun jadi!

 

Kacang Oven

5. Kacang Oven

Dari namanya mungkin terbayang pembuatannya menggunakan mesin pemanggang. Namun tidak, kacang jenis ini digoreng. Hanya saja dalam penggorengannya tidak memakai minyak, namun pasir. 

Ya, media tersebut dianggap layak sebagai penghantar panas yang tepat untuk menggoreng kacang tanah. Hasilnya, kacang plus kulit ari yang terasa renyah dan tak berminyak.

 

Kerupuk bawang

6. Kerupuk Bawang

Sesuai namanya, kerupuk ini menggunakan bawang sebagai penguat rasa. Hasilnya, kerupuk ini memiliki rasa bawang yang khas dan tentunya gurih sebagai pelengkap makan nasi. 

 

Carang madu

7. Carang Madu

Apa itu? carang madu adalah sejenis kudapan renyah, hampir mirip kerupuk namun ada cita rasa manis karena diolesi dengan gula karamel. Konon penganan ini dibuat oleh warga Tionghoa yang ada di Jepara. 

Terbuat dari bahan-bahan seperti tepung tapioka dan bahan lainnya, Carang Madu diproses melalui tiga tahap. Penggorengan pertama adalah proses mencetak adonan, kemudian digoreng lagi agar renyah serta terakhir diolesi gula karamel. 

Untuk mendapatkannya, cukup pergi ke sentra oleh-oleh yang tersebar di seluruh Jepara atau menyambangi pembuatnya di Welahan atau Batealit.

Editor : Ali Muntoha

Ke Rembang Kurang Lengkap Jika Tak Beli Buah Ini

Buah siwalan hasil panen dari daerah Rembang yang dijual di jalan Rembang-Blora. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Anda yang tengah berkunjung atau hanya sekadar melintas di wilayah Kabupaten Rembang, belum lengkap rasanya jika belum menyicipi buah yang satu ini. Buah yang punya warna bening, bertekstur kenyal, terasa manis ini, menjadi salah satu oleh-oleh khas wilayah pesisir Rembang.

Buah itu adalah siwalan. Buah ini bisa dengan mudah ditemui di berbagai titik di Rembang. Apalagi saat libur Lebaran kali ini, berbarengan dengan musim siwalan, sehingga di sudut-sudut jalan banyak ditemui penjual buah segar ini.

Salah satu tempat yang banyak ditemui penjual siwalan yakni di sepanjang jalan Rembang-Blora.

Selama musim Lebaran ini, penjual juga mengaku kebanjiran pembeli. Hadi misalya, penjual siwalan dari Kecamatan Sulang, Rembang, ini mengaku tiap hari bisa menjual puluhan hingga ratusan bungkus siwalan.

“Banyak yang mencari untuk dijadikan oleh-oleh, atau sekadar camilan di perjalanan. Alhamdulillah selama libur Lebaran ini, minimal 50-an bungkus laku tiap harinya,” katanya.

Untuk setiap bungkus berisi 10 butir siwalan, dan dijual antara Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu, tergantung besar kecilnya siwalan.

Sementara itu, salah seorang pembeli dari Blora Asikin (42) mengatakan, buah ini memang cocok untuk oleh oleh.

“Terlebih saat cuaca panas seperti ini. Seger sekali jika dimakan. Dan sangat cocok untuk oleh-oleh. Harganya juga cukup murah. Yakni kurang dari Rp 10 ribu per bungkusnya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Hendri Lamiri Mainkan Lagu ‘Titanic’ di Rumah Fosil Banjarejo Grobogan

Musisi yang juga seorang pemain biola atau violist ternama Hendri Lamiri saat berada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mendapat tamu istimewa pada momen Lebaran tahun ini. Musisi kenamaan yang juga seorang pemain biola atau violist Hendri Lamiri mendatangi desa ini.

Punggawa grup band Arwana ini berkunjung ke Banjarejo, Rabu (29/6/2017) malam. Hendri Lamiri itu penasaran dengan koleksi fosil dan benda bersejarah temuan warga yang disimpan di rumah kepala desa.

 “Kunjungan Mas Hendri Lamiri ke sini hanya sebentar saja.  Kira-kira satu jam saja, dari jam 19.00 WIB,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Kedatangan musisi kelahiran Pontianak di rumah Taufik khusus untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang ditemukan sejak beberapa tahun terakhir. Kebetulan, untuk sementara ini, semua koleksi benda bersejarah disimpan di rumah Taufik.

“Terus terang saya kaget sekali ada tamu istimewa yang datang ke rumah. Untung saja saya tidak pergi waktu dia datang. Jadi bisa nemani ngobrol meski tidak lama,” kata Taufik.

Selain melihat koleksi benda bersejarah Hendri Lamiri juga sempat memainkan biola di Rumah Fosil Banjarejo. Lagu yang dimainkan adalah ‘My Heart Will Go On’ yang jadi sound track film Titanic.

“Waktu ke sini Mas Hendri memang bawa biola. Sebelum pulang, saya minta untuk memainkan biola di sini. Permainan biolanya memang istimewa,” cetus Taufik.

Menurut Taufik, sebenarnya Hendri Lamiri sudah tahu tentang penemuan benda purbakala sejak tahun lalu, dan sudah lama berniat berkunjung. Namun, karena terbentur kesibukan, baru kali ini niatnya kesampaian.

Editor : Ali Muntoha

Libur Lebaran, Bukit Pandang Disesaki Ribuan Wisatawan

Sejumlah pengunjung tengah berfoto selfie di kawasan puncak bukit pandang Pati dengan latar pegunungan Kendeng, Rabu (28/6/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Objek wisata Bukit Pandang Ki Santamulya yang terletak di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen dikunjungi ribuan wisatawan dari berbagai kota pada musim libur Lebaran.

Mereka mulai memadati kawasan wisata bukit pandang sejak Senin (26/6/2017) dan diperkirakan masih ramai dikunjungi wisatawan hingga Minggu (2/7/2017) mendatang. Selama libur Lebaran, sebagian besar pengunjung dari wisatawan yang tengah mudik.

Tantri Tyas Oktaviani (21) adalah satu di antara pengunjung asal luar kota yang tengah mudik di Pati. Mahasiswi asal Tangerang ini mengetahui bukit pandang dari Instagram.

Dia bersama keempat temannya lantas mengunjungi bukit pandang untuk menghabiskan liburannya pada Jumat (30/6/2017), setelah sebelumnya mengunjungi Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Gembong. “Mudik di rumah simbah sambil berlibur di Pati aja,” kata Tyas.

Meski baru pertama kali mengunjungi bukit pandang, Tyas mengaku tidak kebingungan mencari rutenya. Pasalnya, dia mengandalkan aplikasi Google Map untuk sampai di lokasi yang jaraknya sekitar 3 km dari RSUD Kayen tersebut.

Sementara itu, Redita Apriliani (20), pengunjung asal Pati Kota mengaku terkesan dengan panorama keindahan yang ditawarkan bukit pandang. Spot menarik dengan view hamparan Pegunungan Kendeng dan daratan Kabupaten Pati menjadi daya tarik tersendiri bagi Dita.

Dia tidak menyangka bila objek wisata tersebut seramai saat ini. “Mikirnya biasa aja, nggak ramai. Tapi di luar dugaan, sampai-sampai macet juga tadi. Sampai kesulitan parkirnya,” ucap Dita.

Pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, pengunjung bukit pandang mencapai sekitar 7.500 orang setiap harinya selama libur Lebaran. Wisatawan mulai memasuki kawasan bukit pandang dari jam 09.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Jumlah pengunjung tersebut tidak termasuk anak-anak, karena mereka tidak dikenakan tiket masuk. “Jumlah pengunjung dihitung berdasarkan tiket, sedangkan anak-anak gratis dari biaya tiket. Jumlah pengunjung termasuk anak-anak bisa lebih dari 7.500 orang setiap hari selama libur Lebaran,” tuturnya.

Untuk masuk di kawasan wisata bukit pandang, wisatawan dewasa dikenakan biaya Rp 3.000, sedangkan anak-anak gratis. Adapun biaya parkir sepeda motor Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000.

Editor : Ali Muntoha

Lebaran, Rutan Jepara Disesaki Pembesuk

Sejumlah pengunjung rutan memadati Aula Rutan Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Aula Rutan Kelas IIB Jepara disesaki pembesuk, saat Idul Fitri 1438 hijriah. Hingga hari keempat lebaran, sudah ada 1.391 keluarga dari warga binaan datang menjenguk. Hal itu dikatakan oleh Kepala Rutan Kelas IIB Jepara Slamet Wiryono. Ia mengatakan, selama lebaran pihaknya memberikan waktu ekstra bagi para pembesuk. Disamping itu, untuk menampung banyaknya keluarga napi maupun tahanan yang datang, pihaknya memanfaatkan ruang aula yang berkapasitas lebih besar. 

“Animo berkunjungnya sangat luar biasa, oleh karenanya untuk memberikan rasa keadilan bagi pembesuk lain, diberikan waktu antara 10 hingga 15 menit guna menemui saudara mereka yang ada di rutan,” katanya, Kamis (29/6/2017).

Menurutnya, selama lebaran pembesuk diberikan waktu dari pukul 09.00 hingga pukul 15.00 guna menemui famili mereka yang menjadi pesakitan. Sedangkan bila hari normal, jam besuk hanya sampai pukul satu siang. Namun demikian, karena memperhatikan faktor keamanan dan kapasitas ruangan, untuk pendaftaran pembesuk diberikan tenggat khusus. 

Adapun, tambahan waktu besuk akan berlaku hingga tujuh hari selepas lebaran. Setelahnya baru diberlakukan jam normal. 

“Kalau di Jepara, yang masuk karisidenan Pati biasanya waktu tambahan jam besuk sampai tujuh hari setelah lebaran. Di lain tempat (lapas) biasanya hanya sampai tiga hari. Setelah itu berlaku normal,” tambah Slamet.

Dirinya merinci, kunjungan terbanyak ada pada hari ketiga pasca lebaran yakni 748 pembesuk. Sedangkan hari pertama ada 257 orang, hari selanjutnya ada 170. Kemudian di hari keempat ada 180 orang pembesuk. 

Guna menjaga keamanan, pihak rutan bekerjasama dengan kepolisian maupun TNI. Petugas menerjunkan personel untuk ikut membantu pengamanan saat jumlah pembesuk membludak. Dari sisi internal, petugas rutan juga memberlakukan double check kepada pengunjung, dengan menggeledah barang maupun orang, dengan metal detector ataupun secara manual. 

Editor: Supriyadi

Lakukan Pungli, 6 Juru Parkir di Tempat Pariwisata Jepara Dicokok Polisi

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho melakukan interogasi kepada jukir yang lakukan pungli, di Mapolres Jepara, Kamis (29/6/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Diduga melakukan pungutan liar (pungli) parkir, enam juru parkir di obyek wisata pantai Bandengan, Empurancak dan Teluk Awur dicokok polisi. Mereka diketahui memanfaatkan momen libur lebaran, untuk mengeruk keuntungan dari jasa parkir ataupun penitipan kendaraan tanpa seizin resmi pemerintah daerah.Sulistyono (47) seorang operator penitipan mobil di Pantai Teluk Awur mengatakan, untuk momen lebaran, harga tiket parkir sebesar Rp 10 ribu. Sedangkan diwaktu normal, hanya sebesar Rp 5000. 

Kepada pewarta ia mengakui tiket penitipan mobil adalah cetakannya sendiri, bukan berasal dari pemerintah kabupaten ataupun kelurahan. Untuk momen lebaran kali ini, dirinya telah mencetak 10 bendel tiket, yang masing-masing berisi sekitar 100 lembar karcis. 

“Sudah tiga kali lebaran ini. Kalau sebelumnya kan belum seramai sekarang pantainya. Kalau uang dari parkir ini kami setorkan juga ke Kelurahan setiap bulan Rp 150 ribu,” kata dia.

Ia mengatakan, setiap kali masuk ke obyek wisata pantai tersebut, dikenai tiket masuk sebesar 1000 rupiah. Lalu jika membawa mobil, dikenai biaya tambahan sebesar Rp 10 ribu di hari Lebaran. Sementara untuk motor, tidak dikenai biaya parkir. Dengan besaran itu, ia mengaku sempat ada keluhan dari warga juga.

“Ya ada keluhan dari warga, biasanya Rp 5000 untuk penitipan, ini kok sampai Rp 10.000, tetapi tidak banyak. Kalau mobilnya rusak kami ya ikut bertanggungjawab kok, ikut membetulkan,” kilahnya. 

Sementara itu, pengelola parkir liar di Pantai Pasir Putih Bandengan Sukri menyebut, tarif penitipan mobilnya lebih ringan. Hanya saja, untuk momen lebaran, dikenai biaya pergundul.

“Kalau harga Rp 5000 itu per orang. Namun untuk harga tersebut kami juga memberikan kompensasi kepada lingkungan RW setempat,” akunya.

Sementara itu, Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho menyampaikan, keenam orang ini terbukti memungut tanpa izin resmi pemerintah daerah.

“Berdasarkan laporan dari masyarakat, bahwa telah terjadi tindakan pungli di tempat masuk wisata, yang tidak berdasarkan persetujuan pemerintah. Hasilnya pun tak disetorkan kepada pemerintah. Selanjutnya akan kita lakukan pemeriksaan berdasarkan ketentuan yang berlaku,” tegas Kapolres Jepara.

Dirinya juga mengimbau agar warga masyarakat tak enggan melapor, bila merasa menjadi korban pungli. Ia memberikan dua saluran pengaduan yakni lewat hotline dan media sosial.

“Silakan melapor melalui hotline Saber Pungli di 081229739081 atau melalui instagram @humas.resjepara. Silakan laporkan jika ada pungli, bila dimintai uang tanpa kejelasan, ataupun tiket tanpa cap atau dasar nomornya. Bisa direkam ataupun difoto. Tidak hanya terbatas pada tempat wisata, tapi pada saat rekam ktp atau apa saja,” pesan AKBP Yudianto.

Selain meminta keterangan pengelola parkir, polisi juga menyita uang hasil pungli sejumlah Rp 4.026.000, yang berasal dari ketiga obyek wisata tersebut. 

Editor: Supriyadi

Ajang Ramadan Runway 2018 Jadikan Bordir Kudus Lebih Dikenal Luas

Pengunjung tengah mengamati produk bordiran Kudus di stan Dinas Perdagangan Kudus dalam Ramadhan Runway 2018. (Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus )

MuriaNewsCom, Kudus – Even Ramadan Runway 2018 di Mall Kota Kasablanka Jakarta yang saat ini berlangsung menjadikan produk konveksi Kudus, terutama bordir semakin dikenal luas. Tidak hanya di pasar lokal, namun juga pada tataran pasar nasional.

Pada ajang yang diselenggarakan mulai 1 Juni sampai 2 Juli mendatang tersebut, Kabupaten Kudus melalui Dinas Perdagangan ambil bagian dengan menyewa satu stand. Produk-produk konveksi Kudus yang dipamerkan dalam kegiatan ini didominasi bordir.

Mengikuti even Ramadan Runway 2018 juga dinilai strategis untuk memasarkan produk lokal Kudus. Lantaran, di ajang ini menghadirkan sederet desainer papan atas Tanah Air. Sebut saja Ivan Gunawan, Rani Hatta, Nita Seno Adji, Harry Ibrahim, Rudy Chandra, dan Okky Setiana Dewi. Mereka menampilkan koleksi terbaiknya yang bertema Ramadan.

Kehadiran desainer-desainer kondang ini mampu menjadi daya tarik masyarakat untuk datang menyaksikan Ramadan Runway tahun ini. Pengunjung dimanjakan koleksi-koleksi busana muslim yang beragam, baik dari model hingga harga. Mulai dari busana syar`i hingga busana modest muslim. Tidak hanya busana muslim wanita, busana muslim untuk kalangan pria juga dihadirkan dengan berbagai corak, dari yang etnik hingga simpel.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, Ramadan Runway merupakan even tahunan yang salah satunya bertujuan  untuk memperkenalkan busana lokal. ”Di even ini, kami juga memiliki ikatan kerja sama dengan dengan Rudy Chandra yang merupakan Ketua APPMI DKI Jakarta,” ucap Sudiharti.

”Kami yakin, dengan mengikuti even-even seperti ini, maka produk-produk lokal Kudus semakin dikenal dan ini juga tentu saja memberikan efek positif dalam peningkatan usahanya. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dicita-citakan Bapak Bupati Musthofa untuk menjadikan warga Kudus semakin sejahtera,” ucapnya.

Sebelumnya, Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus juga sudah beberapa kali menjalin kerja sama dengan Ivan Gunawan. Bersama 3 desainer APPMI DKI Jakarta, Ivan Gunawan menggelar fashion show sepakat mengusung kekhasan bordir Kudus dalam busana bertemakan ‘Savana Muria’. Ivan Gunawan juga sempat hadir pada beberapa pameran perdagangan Kudus yang berlangsung pada akhir 2016 lalu. (nap)

Editor :  Akrom Hazami

Tempat Wisata di Grobogan yang Bisa Jadi Pilihan Berkumpul Saat Lebaran

Warga tampak berada di Waduk Kedungombo di Desa Rambat, Kecamatan Geyer, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Hari Lebaran sering dijadikan momen untuk bertemu teman sanak saudara. Terutama bagi mereka yang selama ini tinggal atau merantau di luar kota dan jarang pulang kampung karena terkendala berbagai alasan. Nah, saat kumpul inilah biasanya mereka suka memilih tempat yang enak dan santai untuk melepas kangen. Salah satu pilihannya adalah tempat-tempat wisata.

Selama ini, banyak tempat wisata di Grobogan yang ramai dikunjungi orang ketika Lebaran tiba. Antara lain, Bledug Kuwu yang berada di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan. Dari Kota Purwodadi, lokasi wisata unik ini berjarak sekitar 25 km.

“Salah satu obyek wisata yang ramai saat Lebaran memang di Bledug Kuwu. Pada momen Lebaran, pengunjungnya bisa mencapai 1.000 pengunjung per hari,” kata Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Bambang Margono.

Untuk momen Lebaran tahun ini, di kawasan objek wisata ini akan lebih semarak. Sebab, mulai H+1 sampai H+7 diagendakan ada hiburan musik dangdut. Pada hari-hari biasa, harga tiket masuk ke lokasi ini hanya Rp 2.000 per orang. Namun, bisa jadi ada kenaikan harga tiket pada masa Lebaran seiring adanya hiburan di dalam lokasi wisata.

Pemandangan di objek wisata air terjun Widuri di Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Selain di Bledug Kuwu, ada obyek wisata lainnya yang dikelola Pemkab Grobogan. Yakni, Goa Macan dan Goa Lawa di Desa Sedayu, Kecamatan Grobogan. Hanya saja, pengunjung kesana tidak sebanyak di Bledug Kuwu. Sebab, lokasinya cukup jauh dari jalan raya. Beda dengan Bledug Kuwu yang persis di pinggiran Jalan Raya Wirosari-Kradenan.

Disamping itu, masih ada beberapa tempat lainnya yang jadi favorit orang saat Idul Fitri. Yakni, Waduk Kedungombo di Desa Rambat, Kecamatan Geyer. Kemudian, Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong.

Santapan yang dihidangkan dan jadi andalan objek wisata di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Hanya saja, pengelolaan dua lokasi wisata ini tidak di bawah penanganan Pemkab Grobogan. Tetapi sudah jadi ranah Pemprov Jawa Tengah. Tempat wisata menarik lainnya yang juga jadi incaran orang berekreasi adalah dua air terjun di kawasan Pegunungan Kendeng Utara. Yakni, air terjun Widuri di Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo dan air terjun Gulingan di Desa Sedayu, Kecamatan Grobogan. Dua lokasi ini, berjarak sekitar 5 km dari jalan raya dan akses jalannya belum begitu mulus.

“Sebenarnya, banyak banget objek wisata yang ada di wilayah Grobogan. Selain itu, ada pula objek wisata religius. Seperti, makam Ki Ageng Tarub di Desa Tarub dan Ki Ageng Selo di Desa Selo,” imbuh Bambang.

Satu tempat wisata baru bisa juga jadi referensi untuk rekreasi Lebaran. Yakni, museum purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Di tempat ini, banyak tersimpan benda bersejarah peninggalan masa lalu yang jumlahnya mencapai ratusan. Bentuknya berupa fosil hewan purba dan juga barang-barang peninggalan zaman prasejarah hingga awal masuknya peradaban Islam.

Editor : Akrom Hazami

Cari Rumah Makan Enak di Grobogan Saat Lebaran? Tempat Ini Bisa Jadi Pilihan

Warga menikmati hidangan di salah satu rumah makan di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain objek wisata, ada tempat lain yang jadi pilihan untuk kumpul sanak saudara saat Lebaran tiba. Salah satunya, adalah rumah makan. Sayangnya, tidak semua rumah makan favorit ini tetap buka saat momen Lebaran.

Dari informasi yang dihimpun, sebagian besar rumah makan yang ada di Grobogan tutup pada hari H Lebaran. Mulai H+1, beberapa rumah makan mulai buka seperti biasa. Rata-rata, rumah makan di Kota Purwodadi mulai buka dari pukul 09.00-21.00 WIB.

“Saya rencana libur hanya pas hari H. Setelah itu buka lagi seperti biasanya,” ujar Daniyanto Sadewo, pemilik Warung Makan Sedep Yanto Ganjar di Jl Purwodadi-Blora km 1, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan.

Warung makan ini menyediakan menu utama daging kerbau yang diolah jadi beberapa menu. Seperti sate, gulai dan becek daging kerbau. Harganya juga terjangkau, sekitar Rp 20 ribu per porsi.

Tempat makan favorit lainnya adalah Rumah Makan Noroyono ‘Pak Jamin’ di Jalan R Suprapto Purwodadi. Tempat ini biasanya jadi favorit karena menunya dinilai enak. Yakni, ayam kampung bakar maupun goreng. Selain itu ada pula beberapa menu lainnya di situ. Seperti gudeg dan gurami.

Di samping menunya, tempat ini disukai karena lokasinya luas. Lebih dari 300 orang kapasitasnya. Harganya juga terjangkau, sekitar Rp 20 ribu per porsi pada hari biasa.

Pengalaman sebelumnya, rumah makan ini biasanya penuh pembeli saat Lebaran. Sebaiknya pesan tempat terlebih dahulu agar tidak kecele atau harus menunggu terlalu lama buat mendapatkan tempat makan. Terutama, jika makannya bersama rombongan banyak orang.

Tempat makan lainnya adalah Kedai Cangkir di jalan Siswa Purwodadi yang masih satu grup dengan Noroyono. Menu makanan di tempat ini sangat beragam. Tetapi menu andalan adalah soto daging ayam atau sapi.

Satu tempat lainnya yang jadi pilihan, khususnya pemudik adalah rumah makan Swike Asli Purwodadi. Tempatnya di Jalan Kolonel Sugiyono Nomor 11 Purwodadi.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, rumah makan yang sudah berusia lebih dari 100 tahun itu tetap buka di hari lebaran.

Rumah makan ini menyediakan menu yang jadi salah satu makanan khas Grobogan. Yakni, swike kodok atau katak sawah. Selain diolah pakai kuah, ada pula kodok yang digoreng atau dipepes. Harganya swike kuah berkisar Rp 20 ribu per porsi.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Pulang Kampung ke Rembang? Ini Oleh-oleh Khas yang Wajib Dibeli

Sirup Kawista, oleh-oleh khas Rembang yang bisa kamu jadikan buah tangan ketika balik ke perantauan lagi. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Baik kalian yang sedang pulang kampung atau sekedar liburan di Rembang ada banyak pilihan oleh-oleh yang siap kamu bawa. Sudah menjadi tradisi jika mengunjungi suatu daerah pulangnya selalu membeli oleh-oleh khas daerah tersebut. Begitu juga saat mudik ini, pas balik tak ketinggalan membawa oleh-oleh seabreg yang isinya jajanan khas kampung halaman.

Rembang memiliki banyak jajanan khas untuk dijadikan oleh-oleh. Musim libur Lebaran seperti sekarang, banyak dimanfaatkan pemudik untuk berburu oleh-oleh sebelum kembali ke perantauan. Berikut ini bebereapa oleh-oleh khas yang bisa dibeli.

Bagi warga Rembang pastinya tak asing lagi dengan minuman sirup kawis dan juga makanan ringan yang berbahan baku ikan laut, khususnya ikan teri.

Minuman dan makanan ringan tersebut, bisa menjadi oleh-oleh bagi yang mau kembali ke perantuan lagi atau pelancong yang menyinggahi Rembang.

Minuman kawis dan makanan ringan kripik teri ini dijual di toko “Kawista Sejahtera” cap Dewa Burung yang berada di Jalan Diponegoro 45 Rembang.

Toko yang berada di sebelah selatan jalan pantura, Desa Tasikagung Rembang ini menjual berbagai minuman dan makanan ringan khas Rembang yang bisa dijadikan buah tangan.

Di hari biasa, toko tersebut buka mulai jam 08.00 WIB hingga 20.00 WIB. Begitupun di bulan Ramadan. Sedangkan untuk waktu Lebaran pertama, kedua dan ketiga toko tersebut tutup. Lebaran keempat atau pada tanggal 28 Juni 2017 akan buka kembali seperti biasa.

Jangan khawatir, minuman dan makanan khas Rembang yang dijualpun mempunyai daftar harga yang berfariasi sehingga tak akan menguras kantong saku pembeli.

Untuk harga sirup kawis  botol kaca tanggung dijual sebesar Rp 27 ribu, botol plastik isi 2 yang berada di kardus seharga Rp 54 ribu,  rengginang teri 20 ribu per bungkus, kripik pisang Rp 18.500 per bungkus, dodol kawis Rp 20 ribu per bungkus.

Editor : Kholistiono

Traffic Light Portable, ‘Jurus’ Polisi Grobogan Atasi Kemacetan saat Arus Balik Lebaran

Petugas lalu lintas membantu mengamankan arus balik Lebaran di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kesibukan personel keamanan di Grobogan makin meningkat pasca lebaran. Hal ini seiring naiknya kendaraan arus balik yang melewati wilayah tersebut dan berpotensi menyebabkan kemacetan lalu lintas.Guna mengatasi kemacetan, ada upaya lain yang dilakukan jajaran kepolisian disamping menyiagakan personil di lapangan. Yakni, menggunakan traffic light portable.

Alat ini ditempatkan di pertigaan dan perempatan jalur utama yang belum ada traffic light permanen dan berpotensi macet. Khususnya di jalur Purwodadi menuju Semarang yang tingkat kepadatan arusnya cukup tinggi.

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menyatakan, cara kerja alat itu sama dengan traffic light di perempatan jalan. Namun konsepnya dibuat sederhana dengan desain portabel. Tujuannya, agar bisa dipindah-pindah dan mudah penggunaannya.

“Adanya alat ini sangat membantu untuk mengurai kemacetan. Selain mudah dibawa ke mana-mana dan ditempatkan sesuai kebutuhan, alat ini juga tahan terhadap cuaca panas dan hujan. Sebab, program di lampu tersebut mudah di-setting kembali dan lebih awet penggunaannya,” jelasnya, Rabu (28/6/2017).

Cara kerja lampu portable ini persis dengan traffic light permanen. Tiga lampu yang berwarna hijau, kuning dan merah bergantian menyala sesuai durasi waktu tertentu.

Alat ini ukurannya mini. Tingginya sekitar 1,5 meter. Bentuknya masih sederhana. “Alat ini kita pasang di beberapa titik di jalur utama,” imbuh Satria.

Editor: Supriyadi

Bule Australia Asyik Nikmati Liburan di Wana Wisata Jatipohon Grobogan

Bule dari Australia nikmati liburan di Wana Wisata Jatipohon (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Pengunjung tempat wisata di Grobogan saat Lebaran ternyata tidak hanya masyarakat lokal saja. Tetapi ada juga orang dari mancanegara, tepatnya dari Australia. Salah satu tempat wisata yang sempat disinggahi bule Australia ini adalah Wana Wisata Jatipohon di Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan.

Pengunjung dari luar negeri ini merupakan satu keluarga. Terdiri ayah dan ibu serta tiga orang anaknya. Selain menikmati pemandangan dan rimbunnya suasana kawasan hutan, mereka juga asyik mencoba beberapa wahana yang ada di lokasi tersebut. Seperti ayunan dan motor ATV.

“Mereka (orang Australia) itu berada di Wana Wisata Jatipohon tidak lama, sekitar satu jam. Selama berada di sini, saya lihat mereka tampak senang. Kebetulan, pas mereka ke sini saya sedang ada di lokasi wisata,” ujar Administrator Perhutani KPH Purwodadi Dewanto, Selasa (27/6/2017).

Menurut Dewanto, turis itu sebelumnya berada di Grobogan karena mengunjungi saudara angkatnya yang berasal dari Desa Jangkungharjo, Kecamatan Brati. Kemudian, oleh suadara angkatnya tersebut mereka diajak main ke Wana Wisata Jatipohon yang lokasinya tidak begitu jauh dari Desa Jangkungharjo.

“Jadi ceritanya mereka sampai ke sini seperti itu. Sayangnya, saya tidak sempat ngobrol banyak dengan mereka,” jelasnya.

Dewanto menyatakan, meski hanya sebentar namun kunjungan turis asing itu dinilai sangat membanggakan. Soalnya, baru kali ini ada orang satu keluarga yang piknik di Wana Wisata Jatipohon.

“Terus terang, saya sempat kaget waktu ketemu mereka di lokasi wisata. Semoga, kehadiran turis asing bisa membawa dampak positif bagi obyek wisata ini,” imbuhnya.

Ditambahkan, lokasi Wana Wisata saat ini pengelolaannya dilakukan kerja sama dengan pihak Desa Sumberjatipohon. Untuk meningkatkan animo pengunjung, sudah disiapkan beberapa wahana baru.

Editor : Kholistiono

Pemuda Prawoto Pati Tewas Dikeroyok, 4 Orang Ditetapkan Tersangka

 

Empat tersangka tengah disidik petugas kepolisian di Mapolres Pati, Selasa (27/6/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pemuda asal Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Muhammad Riyadi (23) tewas dikeroyok belasan pemuda Desa Wegil dalam sebuah tawuran di gapura pintu masuk Desa Prawoto, Selasa (27/6/2017).

Polisi menetapkan empat tersangka dalam kasus yang terjadi pada Hari Lebaran tersebut. Dari empat tersangka, seorang pemuda berinisial A (19), warga Desa Wegil berperan sebagai pemukul korban hingga menyebabkan kematian.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Galih Wisnu Pradipta mengatakan, kedua desa tersebut memang menyimpan dendam membara hingga menjadi sebuah tradisi bermusuhan. Kendati pada malam takbir dan Lebaran kedua desa tersebut masih aman, ternyata mereka terlibat aksi saling serang satu hari pascaLebaran.

“Korban meninggal dunia karena dihantam botol bir hingga menyebabkan pendarahan. Bagian vital kepala juga mengalami benturan hebat sehingga meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit,” kata AKP Galih.

Empat tersangka yang terlibat dalam penganiayaan dijerat dengan Pasal 351 ayat 3 subsider Pasal 170 ayat 2 tentang penganiayaan yang menyebabkan seseorang meninggal dunia. Para pelaku terancam dengan hukuman pidana penjara 12 tahun.

Editor: Kholistiono

Kepergok Warga, Maling di Rembang Dihajar Massa

MuriaNewsCom,Rembang – Seorang pelaku pencurian dihajar massa setelah  kepergok melakukan aksinya di salah satu rumah warga bernama Turiman, di RT 03 RW 01 Desa Sendangasri, Kecamatan Lasem, Rembang, pada Selasa (27/06/2017) sekitar pukul 09.00 WIB.

Pelaku pencurian adalah Sutardi (46) warga RT 04 RW 02, Desa Jadi, Kecamatan Sumber, Rembang. Pelaku melakukan residivis, yang sempat meringkuk di jeruji besi.

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka mengatakan, dalam aksinya, pelaku seorang diri. Dengan mengendarai sepeda motor, pelaku berhenti di depan rumah korban, karena disangkanya rumah dalam kondisi kosong.

“Pelaku kemudian masuk ke rumah dan menuju kamar korban, lalu membuka lemari dan mengambil dompet warna biru berisi perhiasan kalung seberat 10 gram dan gelang seberat 15 gram serta uang tunai Rp 1 juta,” ujar Kasat Reskrim.

Saat melakukan aksinya itu, ternyata pelaku tak mengetahui jika ternyata ada anak korban yang sedang tidur. Ketika itu pula, anak korban terbangun dan meneriaki pelaku dengan kata maling.

Terkejut, pelaku langsung melarikan diri keluar. Namun, apes teriakan anak korban didengar warga, dan warga langsung mengejar pelaku. Warga yang emosi sempat menghajar pelaku. Beruntung polisi cepat datang ke lokasi dan mengamankan pelaku.

Sementara itu, sepeda motor yang dikendarai pelaku, juga tak luput menjadi pelampiasan warga yang merasa geram dengan ulahnya. Dan saat ini pelaku masih dimintai keterangan dari pihak kepolisian Rembang.

Editor : Kholistiono

Tempat Ini Bisa Dijadikan Rekomendasi Bagi yang Ingin Cicipi Kuliner di Pati

Waroeng Pati Dua Kelinci yang bisa dijadikan tempat bagi pemudik maupun warga untuk berburu kuliner. MuriaNewsCom (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada banyak tempat kuliner di sepanjang jalan di Kabupaten Pati yang bisa disambangi. Mulai dari kuliner biasa hingga kuliner khas Pati.

Pada bagian barat, dekat Kudus, pemudik bisa singgah di Waroeng Pati. Di sana, beragam menu khas Pati bisa dinikmati dengan nuansa bangunan khas Jawa.

Salah satu menu yang bisa dinikmati, antara lain nasi gandul, ikan bandeng, nasi batu, gado-gado kanigoro, soto kemiri, gurami, dan lain sebagainya.

Perjalanan ke timur, sekitar 5 menit, pemudik bisa menemukan Pasar Pragola. Di sana, beragam menu kuliner khas Pati seperti nasi gandul, soto kemiri, sego tewel, dan penyetan siap memanjakan pemudik.

Pasar Pragola menawarkan harga yang lebih terjangkau. Parkir pun lebih luas. Namun, bila Anda melewati Pati saat Hari Lebaran, Anda tidak bisa mampir karena tutup. Merujuk Lebaran tahun lalu, Pasar Pragola buka lagi pada H+3 setelah Lebaran.

Ke arah timur sekitar 100 meter kiri jalan, pemudik juga bisa mampir di RM Sapto Renggo. Sama halnya dengan rumah makan lainnya, RM Sapto Renggo menawarkan beragam menu kuliner, mulai dari ayam goreng, ayam bakar, steak, bandeng tanpa duri, gurami, dan masih banyak lagi lainnya.

Bila sudah sampai di Jalan Diponegoro, juga bisa mampir di RM Mbok Endut. Masakan khas di warung ini adalah nasi liwet Solo, sego kendil, dan sego bancaan.

Ke timur lagi, tak ada salahnya bila mampir di jantung Kota Pati. Di kawasan Alun-alun Pati, ada Salza Kuliner yang siap memanjakan rasa. Tempatnya juga luas, dengan dua lantai pertama maupun lantai atas.

Di lantai atas, pemudik bisa istirahat, makan, sembari menikmati pesona Alun-alun Bumi Mina Tani. Salza Kuliner buka dari pukul 09.00 WIB sampai 01.00 WIB.

Di kawasan jantung Kota Pati, ada juga Lombok Ijo di sebelah timur alun-alun, Spesial Sambal (SS) di bagian selatan alun-alun, Dapoer Emak bagian barat alun-alun, serta ada Omah Cabe, Sultan Fried Chicken, dan RM Suka-suka pada bagian utara. Ada pula Omah Kuno yang berada di sebelah Safin Hotel.

Kalau Anda lebih suka cari kuliner khas Pati, kawasan Pasar Sleko (Terminal Pati) bisa jadi tempat berburu nasi gandul. Untuk berburu soto kemiri, kawasan pinggir jalan pantura Desa Kemiri, Desa Sarirejo bisa rekomendasi bagi pemudik.

Editor : Kholistiono

Sentra Oleh-Oleh Grobogan, Di Sini Tempatnya

Warga melintas di depan sentra oleh-oleh di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyak orang beranggapan kalau berkunjung ke tempat famili terasa kurang lengkap jika tidak membawa oleh-oleh. Terlebih saat berkunjung pada momen Lebaran yang terjadi setahun sekali.

Bagi yang mudik di wilayah Grobogan, ada beberapa tempat yang biasa menyediakan aneka oleh-oleh. Khususnya, oleh-oleh khas dari kabupaten yang punya slogan Bersemi itu. Seperti, sale pisang, sirup kartika, dan kecap.

Minimall Surya Laksana adalah salah satu tempat yang bisa dijadikan pilihan untuk mendapatkanoleh-oleh. Selain menu khas dari Grobogan, banyak oleh-oleh lainnya yang bisa dijadikan pilihan. Lokasi minimall ini ada di Jalan R Suprapto Purwodadi. Namun, pada saat Lebaran pertama dan kedua, minimall ini belum buka.

“Pada momen Lebaran, kita agendakan dua hari untuk libur. Baru mulai H+2 kita buka lagi seperti biasa,” kata Merry, manajer minimall tersebut.

Tempat lainnya yang menyediakan oleh-oleh adalah Toko Viva di Jalan A Yani Purwodadi. Selain makanan khas Grobogan, di toko yang berada sekaitar 100 meter timur Pasar Induk itu juga tersedia anek roti dan camilan lainnya.

Warga melintas di depan sentra oleh-oleh di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Kemudian, Toko Wijaya di Jalan Siswa atau sebelah barat SMPN 1 Purwodadi juga bisa jadi pilihan selanjutnya. Di sini biasanya paling banyak memiliki stok kecap udang karena produksinya dilakukan ditempat tersebut.

Satu tempat lagi yang sehari-hari menyediakan oleh-oleh adalah Toko Dewi di Jalan MT Haryono Purwodadi. Selain makanan khas, ada menu andalan yang tersedia di sini. Yakni, gethuk lindri dan tahu petis.

Ketiga toko ini, biasanya tetap buka saat hari Lebaran. Sebab, pemilik usaha juga tinggal jadi satu dengan toko dan biasanya mereka juga yang melayani pembeli. 

Editor : Akrom Hazami

 

Serunya Momen saat Rama dan Sinta Pawai Lebaran

Salah satu peserta pawai yang menyita perhatian adalah perwakilan dari salah satu komunitas pemuda yang menampilkan tema lakon pewayangan Rama dan Sinta. (MuriaMewsCom/Merie)

MuriaNewsCom,Jepara – Lebaran memang momen yang menggembirakan. Karenanya patut dirayakan dengan kemeriahan yang berbeda.

Itulah yang terlihat saat warga Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, menggelar pawai malam Lebaran di desa mereka.

Bukan saja iringan musik yang memeriahkan malam Lebaran, namun pawai dengan berbagai tema, juga turut ditampilkan di sana. Suasananya jelas sangat meriah, menambah semarak suasana Lebaran di desa tersebut.

Salah satu peserta pawai yang menyita perhatian adalah perwakilan dari salah satu komunitas pemuda desa tersebut, yang menampilkan tema lakon pewayangan Rama dan Sinta. 

Menjadi menarik karena dua orang yang didapuk menjadi figur Rama dan Sinta, dinaikkan kereta kencana, layaknya raja dan ratu. Mereka lantas diarak keliling desa. Dimulai dari masjid di kawasan tersebut, sampai ke lokasi finish di depan balai desa.

Warga yang melihat kedua figur tersebut, memang memuji mereka. Karena warga melihat bahwa karakter tersebut sangat unik dan berbeda di antara peserta pawai lainnya.

“Unik saja peserta yang satu itu. Karena menampilkan sesuatu yang merupakan seni dan budaya, dipadukan dengan musik yang harmonis. Sangat menghibur juga,” kata Reza Ahmad, salah satu warga setempat.

Selain kedua tokoh tersebut, banyak tema-tema lain yang ditampilkan dalam pawai tersebut. Satu persatu mereka diarak melalui rute yang sudah ditentukan panitia.

Wajar jika kemudian peserta pawai menampilkan tema-tema yang menarik. Pasalnya, atraksi mereka juga dinilai dewan juri, dan akan membuat mereka menjadi juara.

Editor : Kholistiono