Pemotor Vario Tewas Tertimpa Gandengan Truk Guling di Rembang

Sepeda motor yang tertimpa gangdengan truk gulin di jalur pantura, Rembang, Minggu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono).

MuriaNewsCom, Rembang – Kecelakaan lalu lintas gulingnya gandengan truk tronton E 9180 AA di jalur pantura Desa Banyu Dono, Kecamatan Kaliori, Rembang, Minggu (30/4/2017) siang berakibat satu orang tewas.

Korban bernama Sukohadi (45) warga Dresikulon RT 1 RW 2 Kaliori, Rembang. Korban tewas tertimpa bak gandengan truk yang guling. Ketika itu korban sedang mengendarai sepeda motor Vario  K 3594 FM.

Info yang dihimpun, kecelakaan bermula truk gandeng dikemudikan Wage Suprapto (30) warga Desa Jatilawang RT 4 Rw 2, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal melintas dari arah Surabaya Jawa Timur ke Tegal.

Begitu truk tiba di lokasi kejadjian di Jalan Gajah Mada, truk gandeng disalip truk lain. Wage rupanya sedikit kehilangan kontrol sehingga truk oleng. Akibatnya gandengan truk guling.

Nahas, saat itu korban sedang melintas di samping bak. Seketika, bak gandengan itu menimpa korban. Tubuh korban tertindih muatan truk berupa kardus berisikan gelas kaca.

Kanit Laka Lantas Satlantas Polres Rembang Iptu MS Karim mengatakan, truk muatan gelas itu oleng saat disalip oleh trailer yang berjalan serah. Sehingga tak bisa menjaga keseimbangan. Lalu bak bagian belakang roboh ke tengah jalan.

“Dalam kejadian itu pengendara motor Vario atas nama Sukohadi (45) warga Dresikulon RT 1 RW 2 Kaliori tertindih ratusan kardus yang berisi gelas. Sehingga meninggal dunia di TKP,” paparnya.

Dia melanjutkan, selaian korban Sukohadi yang tewas, ada juga korban selamat asal kudus. Yakni M. Khaalid Ubaidillah Farisyi (25) atau Faris warga Prambatan Lor Kaliwungu Kudus.

“Saat ini pihak sopir masih dalam pemeriksaan. Namun untuk unsur lainnya juga masih dalam pengembangan petugas,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Laga PSIR Lawan Persipur Berjalan Sama Kuat

Asisten pelatih PSIR Suprapto saat diwawancarai media usai laga berlangsung di Stadion Krida, Kabupaten Rembang, Minggu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Akhirnya jual beli serangan antara PSIR dan Persipur di Stadion Krida Rembang,  Minggu (30/4/2017), membuahkan gol. Lanjutan laga Liga 2 itu berakhir, 1-1.

Pada menit 49 pemain PSIR tak lama-lama memanfaatkan peluang yang ada. Alhasil, pemain nomor punggung 9 Koko Hartanto dapat menjebol gawang Persipur melalui tendangan kerasnya di dalam kotak penalti lantaran kemelut ketat di depan gawang.

Sementara itu, di menit 61, pemain Persipur nomor punggung 29 Albeta Dewangga Santosa  membalas ketertingalannya ke gawang PSIR melalui sundulannya.

Menanggapi hasil seimbang tersebut, Manajer Persipur Budi Susilo mengatakan, hasil itu merupakan dari kekompakan para pemain.

“Sebab membalas ketertinggalan di menit-menit mepet terutama babak kedua itu sangat sulit. Namun, dengan kekompakan dan kerja keras, kita bisa membalas itu. Ya meskipun babak pertama hingga babak kedua di menit awal saling menyerang,” bebernya.

Di sisi lain, Asisten Pelatih PSIR Suprapto mengutarakan, kebobolan  gawangnya merupakan kegagalan komunikasi antarpemain.

“Memang kita babak kedua di menit-menit awal kita bisa menjebol gawang. Justru Persipur dapat menyamakan skor. Sehingga kita menilai di sinilah para pemain gagal berkomunikasi. Dan ke depannya akan kita evaluasi kembali. Terlebih di babak kedua stamina sudah mulai terkuras,” paparnya.

Editor : Akrom Hazami

 

PSIR vs Persipur Imbang di Babak Pertama

Pemain PSIR melayani permainan Persipur di Stadion Krida Rembang, Minggu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono).

MuriaNewsCom, Rembang – PSIR melayani Persipur Grobogan dalam lanjutan Liga 2 di Stadion Krida Rembang Minggu (30/4/2017) sore. Babak pertama, skor kedua tim masih imbang, 0-0.

Pantauan MuriaNewsCom di lokasi laga, jual kedua tim saling jual beli serangan. Ada beberapa kesempatan dari masing-masing tim, namun tak bisa dimaksimalkan.

Kesempatan yang ada di PSIR, misalnya, yakni tendangan dari pemain nomor punggung 9 Koko Hartanto. Namun tendangan hasil umpan tersebut tak dapat dimaksimalkan.

Tak berhenti di situ, pemain PSIR nomor punggung 8 Muhammad Dzikri Afdholi pun ikut serta memanfatkan peluang yang ada. Namun tendangan itu masih bisa dihalau penjaga gawang Persipur.

Sementara itu, untuk pemain nomor punggung 99 Rudy Santoso juga belum bisa memanfaatkan peluang yang ada. Sehingga tendangan kerasnya hanya melenceng di atas mistar gawang.

Editor : Akrom Hazami

Ternyata Ada Pemotor Tertimpa Truk Guling di Rembang

Sepeda motor yang tertimpa gangdengan truk gulin di jalur pantura, Rembang, Minggu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono).

MuriaNewsCom, Rembang –  Sebuah sepeda motor tertimpa gandengan truk yang guling di jalan Gajah Mada Rembang, Minggu (30/4/2017).

Yakni Honda Vario bernomor polisi K 3594 FM. Sejumlah bagian kendaraan mengalami ringsek. Belum diketahui, apakah pengemudinya mengalami luka atau tidak.

Salah satu warga di lokasi, Sunarto (36) mengatakan, kemungkinan pengemudi sepeda motor tertimpa gandengan truk. “Ini motornya sudah diambil warga dari bawah tumpukan kardus dari muatan gandengan truk itu,” kata Sunarto.

Dari informasi yang ada, korban tersebut adalah seorang pria. “Tadi dilarikan ke rumah sakit. Namun apakah dia sudah meninggal atau luka berat kita juga belum tahu,” ucapya.

Kanit Laka Satlantas Polres Rembang Iptu MS Karim membenarkan adanya informasi kecelakaan. “Tadi ada kecelakaan. Untuk identitas korban yang tertimpa kardus gelas dan sopirnya masih kita kumpulkan,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Gandengan Truk Muatan Gelas Kaca Guling di Jalur Pantura Rembang

Gandengan truk yang guling tampak belum dievakuasi dari titik kecelakaan di jalur pantura Desa Banyudono, Kaliori, Rembang, Minggu (30/4/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Gandengan truk bernomor polisi E 9180 AA muatan puluhan ton gelas kaca guling di jalur pantura Rembang, Minggu (30/4/2017) siang. Tepatnya di depan SPBU di jalan Gajah Mada Desa Banyudono, Kaliori.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu. Kerugian material diperkirakan mencapai jutaan rupiah. Dari informasi truk melaju dari Surabaya Jawa Timur menuju Tegal. Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), truk diduga oleng ke kanan dan gandengannya pun terguling.

Totok selaku kernet truk mengatakan, truk ioleng ke kanan dan berakibat gandengan guling. Akibatnya, muatan truk berisikan gelas kaca dalam kardus tumpah. “Kalau satu baknya yang ambruk ini mungkin ada sekitar 15 ton,” kata Totok di lokasi kejadian.

Salah satu pemotor di lokasi, Faris (25) mengaku jika dia, istri Sri Suryoningsih, dan anaknya, hampir saja terkena gandengan truk yang guling. “Saat itu saya baru saja mengisi bensin. Nah, setelah menyebrang dan akan melanjutkan perjalanan ke Cepu, malah berpapasan dengan truk itu. Tiba-tiba gandengan truk miring ke kanan, hingga berujung guling,” ucap pria asal Prambatan, Kudus.

Dia pun banting setang ke arah kiri, agar terhindar dari gandengan yang guling itu. “Misalkan kok saya tidak banting stang motor ke arah kiri, bisa tertimpa ratusan kardus yang berisi gelas kaca ini,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lapangan, atas kejadian tersebut, jalur pantura yang keluar dan memasuki Kota Rembang macet sepanjang 5 kilometer. Sementara ini, pihak kepolisian masih mendalami kejadian kecelakaan tersebut.

Editor : Akrom Hazami  

Fasbuk Gelar Pertunjukan Kolaborasi Musik Tradisi dan Modern

Fasbuk

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus akan kembali menggelar lawatan rutin sastra dan budaya.

Kali ini menampilkan  pertunjukan kolaborasi antara musik tradisi dan modern, serta diskusi dengan menghadirkan tema “Harmonisasi Bunyi” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Bae, Kudus, Minggu (30/4/2017) pukul 19.30 WIB.

Ketua Badan Pekerja Fabuk Arfin AM mengataka edisi bulan ini mengangkat kolaborasi antara musisi seni tradisi Terbang Papat serta gitaris. Terbang Papat merupakan kesenian tradisional dari Kota Kudus. “Musik Terbang Papat terdiri dari alat musik Telon, Kemplong, Lajer dan Salahan serta Jidur yang menghasilkan irama rancak dan komposisi yang sangat khas,” katanya.

Melalui kegiatan ini, kelompok Mushlihul Wildan (salah satu grup Terbang Papat di Kudus) akan tampil membawa misi melestarikan kekayaan budaya bangsa.

Pertunjukan akan semakin menarik dengan hadirnya Budi Kentos, seorang gitaris dari Kota Kudus yang akan berkolaborasi dengan grup Terbang Papat. Di sela-sela pertunjukan akan diadakan ngobrol bersama dengan narasumber Qomarul Adib, salah satu aktivis dan pemerhati budaya.

Fasbuk adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara kontinue untuk mencipta inovasi serta varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi asset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Editor : Akrom Hazami

MUI Gelar Sekolah Islam Kebangsaan di UMK

Sekretaris Dewan Kehormatan MUI Pusat, Dr Noor Ahmad di Universitas Muria Kudus, Sabtu (29/4/2017) (ISTIMEWA).

MuriaNewsCom, Kudus – Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat menggelar Sekolah Islam Kebangsaan bertajuk Merajut Islam Wasathiyah, Memperkuat Pancasila dan NKRI di Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (29/4/2017).

Dalam penyelenggaraannya, MUI menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMK dan Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Kabupaten Kudus. Sekretaris Dewan Kehormatan MUI Pusat, Dr Noor Ahmad MA menyempatkan hadir dalam Sekolah Islam Kebangsaan.

Hadir sebagai narasumber dalam kesempatan ini, Dr. Rozihan pengurus wilayah Muhammadiyah Jateng, Dr Subarkah dosen Fakultas Hukum UMK, dan Joko Tri Haryanto peneliti Balai Litbang Kemenag Semarang. Acara dibuka Rektor UMK, Dr Suparnyo.

Noor Ahmad mengutarakan, Indonesia saat ini diterpa oleh berbagai ideologi, baik dari barat maupun timur. ‘’Namun Indonesia memilih Pancasila sebagai kalimatun sawa’,’’ katanya di depan ratusan peserta yang hadir.

Pancasila sebagai kalimatun sawa’, menurutnya paling sesuai dengan bangsa Indonesia, karena bisa diterima oleh semua kalangan. ‘’Di luar itu, Pancasila juga memperhatikan keberagaman  yang ada,’’ ungkapnya.

Rozihan dalam materinya berjudul Memahami Komunisme mengutarakan, gerakan komunisme saat ini, tidak sama dengan dulu. ‘’Bangkitnya PKI saat ini melalui isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Kalau dulu, melalui gerakan bersenjata dan kekerasan,” katanya.

Sedang ciri-ciri komunisme yang gampang dipahami, yaitu ateis (tidak mengimani adanya Tuhan), kurang menghargai manusia sebagai individu, dan mengajarkan pertentangan kelas. ‘’Selain itu, komunisme menghendaki revolusi terus menerus,’’ terangnya.

Narasumber lain, Subarkah, mengemukakan, Indonesia merupakan negara plural dengan keyakinan yang beragam dianut rakyatnya. Enam agama resmi yang diakui Indonesia, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu-Chu.

‘’Islam sendiri merupakan agama mayoritas di Indonesia. Kendati begitu, ekspresi sosio kultural dan politik kaum muslimin tidak pernah tunggal, tetapi sangat beragam. Indonesia adalah mozaik kepulauan, etnisitas, agama, serta budaya yang indah dan menawan. Keragaman itu terjaga dan terpelihara dengan baik,’’ paparnya.

Sedang Joko Tri Haryanto, pada kesempatan itu mengulas mengenai Islam Wasathiyah: Islam Keindonesiaan dan Tantangannya. Dia mengatakan, Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai oleh Walisongo dengan strategi budaya.

‘’Islam Indonesia adalah Islam wasathiyah, yaitu berakar pada teologi Ahl al-Sunnah wal-Jamaah, menyeimbangkan antara nalar dan teks, tidak ekstrem, menghargai kemajemukan, dan mengutamakan harmoni,’’ jelasnya.

Sementara itu, di tengah-tengah kegiatan Sekolah Islam Kebangsaan itu, diisi pula dengan deklarasi Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Kabupaten Kudus, yang dipimpin oleh Sugiyono.

Ada tiga poin penting yang dibacakan dalam deklarasi itu; MPPI bertekad membentengi dan mengawal Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika; Memperkuat visi Islam yang berkeindonesiaan, penuh rahmat, toleran, berkemajuan dan kerakyatan; dan Siap melanjutkan tugas keulamaan dengan memperkuat komitmen tafaqquh fi al-din.

Editor : Akrom Hazami

Car Free Night (CFN) Kudus Selalu Tertunda Penyelenggaraannya, Sabtu Depan Dipastikan Dimulai

Pengguna jalan melintas di Alun-alun Kudus, Sabtu (29/4/2017). Nantinya Car Free Night (CFN) akan diadakan di Kudus mulai Sabtu (6/5/2017). (MuriaNewsCom/Aditya Cahya Saputra)  

MuriaNewsCom, Kudus – Kudus bersiap menyelenggarakan Car Free Night (CFN) Sabtu depan (6/5/2017) di kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus. Konsep wisata rekreasi malam yang digadang-gadang menyaingi wisata malam Jalan Malioboro Yogyakarta ini mengusung konsep UMKM dan komunitas otomotif.

Sesuai hasil rapat koordinasi terakhir CFN pada Selasa (25/4/2017) yang dipimpin Sekda Kudus, Noor Yasin dan dihadiri beberapa pihak terkait, seperti Dinas Perhubungan, Dinas Perdagangan, Disbudpar, Disdikpora, Polres, dan lain-lain mengkonfirmasi kepastian tanggal tersebut.

“Kita pastikan CFN dimulai tanggal 6 Mei 2017 mendatang. Tiap malam minggu hujan, membuat CFN selalu tertunda selama ini,” terang Noor Yasin.

Nantinya, CFN Kudus akan mengusung konsep UMKM dan komunitas otomotif. Para pedagang akan ditempatkan di sepanjang jalan Alun-Alun Simpang Tujuh melingkar dan ditambah Jalan Sunan Kudus sampai perempatan Kojan. Sedangkan komunitas otomotif motor dan mobil disediakan di Jalan Ahmad Yani.

Diharapkan, CFN menjadi destinasi wisata malam baru bagi keluarga di Kudus. Selanjutnya mampu meningkatkan potensi ekonomi masyarakat melalui UMKM dan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pesan Cak Nun untuk Pengamen Jalanan

Cak Nun mengimbau kepada generasi muda untuk terus berusaha dengan sungguh-sungguh dan ikhlas jika menginginkan hasil terbaik. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun menegaskan agar umat Islam jangan melakukan kejahatan untuk bisa mengetahui kebenaran. Melakukan hal-hal baik, kata Cak Nun, bukan berarti harus melakukan hal-hal buruk terlebih dahulu.

Hal itu dikatakan Cak Nun untuk menanggapi pertanyaan seorang buruh perusahaan rokok yang memiliki sampingan sebagai pengamen jalanan. Si pengamen kebetulan datang dengan berpakaian lusuh apa adanya plus gitar kecil yang sudah butut. ’’Jujur saja saya sering melakukan hal-hal yang buruk,’’ kata si pengamen.

Cak Nun lantas mengatakan bahwa Allah SWT tidak pernah memandang manusia dari apa yang dia kenakan, tapi apa yang sudah dilakukannya. ’’Maka teruslah berbuat baik sebisa kita tanpa perlu melakukan hal-hal yang buruk terlebih dahulu. Tapi kalau sudah terlanjur ya sudah. Minta maaf kepada Allah SWT dan cobalah untuk tidak mengulanginya lagi,’’ kata Cak Nun mengingatkan.

Menurut Cak Nun, Allah SWT memang menciptakan segala sesuatunya berpasangan, termasuk baik dan buruk. Namun demikian, Cak Nun mengingatkan semua yang hadir untuk tetap menjaga diri agar tidak melakukan hal-hal buruk.

’’Seperti kisah pelacur yang dinaikkan ke surga oleh Allah SWT karena keikhlasannya menolong seekor anjing yang kehausan. Kita tidak perlu kemudian menjadi pelacur, kemudian pergi ke tempat panas dan mencari anjing di sana agar kita juga bisa naik ke surga. Tidak perlu seperti itu,’’ ujarnya disambut hujan tawa pengunjung.

Cak Nun kemudian meminta kepada pengamen tersebut untuk tetap bersyukur atas apa yang sudah dikerjakan dan dihasilkannya. Cak Nun juga berpesan kepada pengamen untuk bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam mencari rezeki. ’’Aja mung keplok-keplok tah nyanyi angger-anggeran. Kudu temenanan. (Jangan hanya bertepuk tangan atau menyanyi asal-asalan. Harus sungguh-sungguh, Red),’’ pesan Cak Nun. 

Editor: Kholistiono

Sebelum Lomba, Semua SD di Kecamatan Tanggungharjo Grobogan Dilatih Karawitan

Para siswa SD di Kecamatan Kecamatan Tanggungharjo Grobogan sedang menunjukkan kebolehannya dalam lomba karawitan, Sabtu (29/4/2017) (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan  – Pelaksanaan lomba karawitan antar SD di Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan, ternyata butuh persiapan cukup lama. Sebab, sebelum lomba dilangsungkan, UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Tanggungharjo memberikan pelatihan lebih dulu pada siswa di 27 SD.

“Pelatihan karawitan ini kita lakukan sekitar bulan Oktober 2016. Jadi sekitar enam bulan sebelum lomba kita beri pelatihan ke semua SD,” jelas Kepala UPTD Kecamatan Tanggungharjo Kudloifi Heny, Sabtu (29/4/2017).

Menurut Kudloifi, jumlah SD negeri di Kecamatan Tanggungharjo ada 27 sekolah. Setiap murid kelas III, IV, dan V disasar untuk mengikuti latihan yang dilakukan secara bergiliran.

Latihan karawitan tersebut dilangsungkan di tiga lokasi. Yakni, di Balai Desa Kapung, rumah kosong milik warga Desa Sugihmanik, dan di SDN 04 Desa Ringinpitu. Di masing-masing tempat latihan sudah terdapat seperangkat gamelan yang digunakan untuk berlatih.

“Latihan dilakukan di luar jam sekolah, jadi tidak mengganggu kegiatan belajar. Jadwalnya juga kita gilir karena tempat latihannya hanya ada tiga lokasi saja,” jelasnya.

Adanya latihan seni karawitan untuk siswa SD itu ternyata mendapat respons positif dan dukungan dari berbagai pihak. Contohnya, pihak Desa Ringinpitu membolehkan balai desa dan perangkat gamelannya digunakan latihan. Kemudian, ada juga warga yang menyediakan rumah kosong miliknya untuk berlatih karawitan.

“Selain itu, beberapa seniman di Tanggungharjo juga ikut pula memberikan bimbingan pada anak-anak. Apresiasi masyarakat sangat positif. Ini sangat menggembirakan dan menambah semangat para pelatih, guru dan para siswa,” katanya.

Kudloifi menyatakan, gagasan untuk memberikan latihan karawitan itu awalnya dilontarkan beberapa tokoh masyarakat di Kecamatan Tanggungharjo. Gagasan itu disambut positif dan ditindaklanjuti dengan membuat program serta berbagai persiapan.

“Salah satu tokoh masyarakat yang melontarkan gagasan adalah Bapak HM Nurwibowo (Wakil Ketua DPRD Grobogan) yang tinggal di Desa Sugihmanik. Pelatihan kesenian tradisional ini juga mendapat dukungan dari Kadinas,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Jelang Ramadan, PKL di Jalan Penjawi Pati Bakal Ditertibkan

Salah satu pedagang makanan yang berada di kawasan Jalan Penjawi Pati. Rencananya PKL yang berada di kawasan Jalan Penjawi akan ditertibkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pati.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Jalan Penjawi Pati rencananya akan ditertibkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pati, menjelang Ramadan yang kurang sebulan lagi. Hal itu ditegaskan Kasatpol PP Pati Rubiono, Sabtu (29/4/2017).

Penataan PKL menjelang Ramadan dilakukan, mengingat banyaknya PKL yang berjualan di sebelah kanan Jalan Penjawi. Hal itu dinilai mengganggu pengguna jalan. Selain itu, penertiban diharapkan agar pengunjung nyaman dan tata letak kota tetap indah.

“Akibat PKL yang tidak tertib, beberapa kali ada kecelakaan. Hal itu disebabkan sempitnya jalan akibat PKL banyak yang tidak tertib dan tidak memperhatikan faktor ketertiban jalan sebagai fasilitas umum,” kata Rubiono.

Dalam penataannya, pihaknya mengaku sudah melayangkan peringatan kepada PKL yang beroperasi di jalan sepanjang satu kilometer itu agar tidak berada di timur jalan. Mereka diberi batas waktu hingga 17 April 2017 lalu.

Karenanya, bila peringatan itu tidak diperhatikan, pihaknya akan melakukan langkah penertiban. Terlebih, jelang Ramadan biasanya orang banyak yang berburu takjil sehingga bisa berpotensi mengakibatkan macet, mengganggu kenyamanan dan rawan kecelakaan.

Dia berharap, kawasan Jalan Penjawi bisa menjadi pusat kuliner masyarakat yang mengutamakan ketertiban dan kenyamanan bersama. Satpol PP juga memaklumi para PKL mencari nafkah untuk kebutuhan hidup. Namun, ia menegaskan, jangan sampai PKL melanggar aturan dan mengganggu ketertiban jalan.

Editor : Kholistiono

Ditanya Bagaimana Caranya Mencintai Rasulullah SAW, Begini Jawaban Cak Nun

Banyak cara untuk mengenal Rasulullah, salah satunya dengan membaca banyak sekali literatur mengenai sejarah Kanjeng Nabi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun memberikan doa kepada pengunjung agar dapat mencintai Rasulullah SAW secara khusus. Itu dilakukannya usai pengunjung bertanya tentang cara mencintai Rasulullah.

’’Bagaimana mencintai Rasulullah, sedangkan bertemu saja belum pernah? Saya ingin menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW, sehingga saya bisa ikut gondelan klambine Kanjeng Nabi’’ tanya seorang pengunjung.

Cak Nun kemudian mengatakan, cinta adalah perasaan. Dia menggambarkan kalau Kanjeng Nabi adalah orang yang top. Orang yang istimewa. Tapi untuk itu, warga diminta untuk lebih mengenal Rasulullah SAW.

’’Cara yang paling mudah adalah dengan banyak membaca sejarah beliau. Bisa juga dengan bertanya kepada kiai, ulama, atau juga dengan browsing internet. Saya doakan semoga kamu mendapat berkah dan bisa mencintai Rasulullah SAW. Saya hanya bisa mendoakan saja,’’ beber Cak Nun.

Cak Nun menambahkan, hanya dengan mempelajari sejarah Rasulullah SAW, seseorang diharapkan dapat lebih mengenal sosok Kanjeng Nabi. ’’Bagaimana sikap beliau. Bagaimana tutur kata beliau. Bagaimana perilaku beliau. Jika sudah kenal, pasti akan timbul rasa cinta terhadap Rasulullah SAW. Karena tidak ada manusia yang sesempurna Rasulullah SAW. Makanya Kanjeng Nabi itu sudah yang paling top lah,’’ tambah Cak Nun.

Cak Nun kemudian mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW tidak pernah marah dan menyalahkan orang lain. Ketika dua orang tentara Rasulullah SAW tertangkap musuh dan kemudian salah satunya mati dieksekusi sementara yang lain dibiarkan bebas setelah mengaku kafir, Rasulullah SAW tidak memarahi yang kembali kepadanya dalam keadaan hidup.

’’Kata Kanjeng Nabi, yang mati insha Allah langsung masuk surga karena keteguhan hatinya akan Islam. Sementara yang hidup Kanjeng Nabi memujinya dan mengatakan dia diberi waktu yang panjang oleh Allah SWT untuk masuk surga. Ini hanyalah salah satu contoh saja. Banyak sekali contoh sikap, tutur kata, dan perilaku Kanjeng Nabi yang sungguh terpuji,’’ ujar Cak Nun. 

Editor: Kholistiono

Ratusan Pedagang Pasar Sarang Boyongan

Acara malam boyongan pedagang Pasar Sarang yang berlangsung pada Jumat (28/4/2017) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ratusan pedagang yang telah 10 bulan berjualan di lokasi sementara, tepatnya di lapangan lama Sendangmulyo, Kecamatan Sarang, Rembang, akhirnya menempati Pasar Sarang yang baru selesai direhab.

Sebagai rasa syukur, paguyuban pedagang pasar menyelenggarakan acara malam boyongan atau pindahan yang juga diisi dengan pengajian. Acara ini digelar di halaman pasar, pada Jumat  (278/4/2017) malam.

Di malam boyongan tersebut, dihadiri Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto serta undangan lain. Tak hanya itu, KH Maimoen Zubair juga hadir untuk didaulat memberikan ceramah dan memimpin doa.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan, pembangunan Pasar Sarang merupakan bukti dari komitmen pemkab dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, dengan desain semi modern, banyak masyarakat, baik dari Rembang sampai warga Tuban bisa menjadi pelanggan di Pasar Sarang.

“Pemkab telah membangun Pasar Sarang dengan fasilitas kios,los,lesehan dan los khusus untuk pedagang ikan. Semuanya gratis, kemudian pedagang mengembangkan sendiri dengan menyekat los seperti ruko-ruko kecil ya tidak apa-apa,” ujarnya.

Dengan adanya fasilitas itu, harapannya para pembeli akan merasa nyaman, karena los pedagang ikan disendirikan. Dengan demikian, pembeli kain dan lainnya tidak terganggu oleh bau amis ikan.

“Saya juga meminta masyarakat untuk bersabar dalam hal pembangunan maupun perbaikan jalan. Karena pembangunan tidak bisa serta merta langsung bisa dilaksanakan. Harus bertahap, karena proses maupun keterbatasan anggaran,” ungkapnya.

Sementara itu, Khoirul Soleh salah satu pedagang Pasar Sarang mengaku sangat bersyukur akhirnya bisa menempati pasar baru setelah hampir satu tahun berjualan di lokasi sementara di lapangan lama Desa Sumbermulyo. Terlebih, bangunan pasar sangat bagus dan diperkirakan akan lebih banyak pembeli yang datang.

“Mungkin semua pedagang sangat bersyukur, karena bangunan yang baru ini kelihatan menarik untuk pembeli.Kami punya harapan kedepan jualan kami bisa ramai dan lancar,” tandasnya.

Perlu diketahui, di sektor perdagangan tahun 2016, Pemkab Rembang merehab beberapa pasar tradisional menjadi pasar semi modern. Seperti halnya, Pasar Lasem dengan anggaran Rp 1,9 miliar, Pasar Pandangan dengan biaya Rp 5,33 miliar, Pasar Pamotan dengan dukungan anggaran Rp 2,76 miliar dan rehab total Pasar Sarang menelan anggaran Rp 9,36 miliar.

Editor : Kholistiono

Cak Nun: Jadilah Abdullah, Bukan Insan

Allah SWT tidak menciptakan segala sesuatu dengan percuma, maka Cak Nun mengingatkan agar umat Islam senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun mengajak seluruh umat Islam agar menjadi Abdullah atau abdinya Allah SWT. Sebab, cara yang demikian akan mendatangkan rasa ikhlas, sehingga mendekatkan untuk dicukupi semua yang menjadi kebutuhannya.

Cak Nun mengatakan, orang yang mengerjakan semuanya demi Allah, maka Allah bakal memberikan ridlo-Nya kepada hamba. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya menderita apalagi sampai ditelantarkan. Hal itulah yang selama ini dipraktikkan olehnya selama ini, dengan menjadikan diri sebagai hamba Allah.

’’Misalnya saja kita diminta mengantarkan barang ke Solo dari Kudus. Jika yang memerintahkan adalah bos, maka semuanya akan dicukupi, mulai makan, transportasi bahkan keselamatan juga dijamin. Namun jika mengerjakan sendiri, maka bos tentunya tidak mau nanggung,’’ katanya.

Lebih jauh dikatakan, bahwa selama ini banyak yang kurang pas dalam hal menjalankan ibadah salat dengan niat ingin masuk surga. Padahal, jika melakukan ibadah seperti salat karena Allah, maka Allah menjamin hamba-Nya untuk menjadi penghuni surga. Tanpa adanya niatan masuk surga.

Dia mencontohkan, jika seorang mendapatkan surga namun tidak diperhatikan oleh Allah, itu akan lebih menyakitkan bagi hamba-Nya. Lain halnya jika Allah sendiri yang menaruh hambanya di surga, maka Allah menjamin memperhatikan hambanya tersebut. ’’Karena Allah itu pasti tanggung jawab, jadi tidak usah khawatir,’’ ujarnya.

Dia juga mengatakan, menjalankan ibadah bisa dilakukan sepanjang waktu. Sebab selama 24 jam lamanya, seorang yang hidup adalah sejatinya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Karena statusnya merupakan status hamba, sehingga harus mendekatkan diri kepada Allah setiap waktu.

’’Saat berdoa, sebagai hamba berperilaku manja-manja sedikit tidak apa-apa. Karena sebagai hamba bisanya juga meminta agar diperhatikan,’’ imbuhnya. 

Editor: Kholistiono

Hadi Priyanto : Banyak yang Salah Memaknai Hari Kartini

Hadi Priyanto saat menyerahkan buku Kartini, pada sebuah acara di Bangsri beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom/Kholistiono)

MuriaNewsCom, Jepara – Hadi Priyanto, Ketua Yayasan Kartini mengaku spirit Kartini tak banyak dipahami generasi muda dengan benar. Ia berujar semangat dan pemikiran Kartini justru  “dipersempit” sebagai hanya pahlawan emansipasi semata.

Hadi mencontohkan, kelahiran Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April itu dengan berkebaya. “Padahal banyak hal yang dilakukan oleh Kartini. Namun cita-cita, gagasan dan apa yang telah dilakukan oleh Kartini untuk bangsanya justru dipersempit dengan hanya memaknai sebagai pahlawan emansipasi,” katanya, Sabtu (29/4/2017).

Dirinya menjelaskan, sosok itu pernah menjadi tokoh sentral di tengah pemuda pergerakan mahasiswa Stovia Jakarta. Bahkan di tahun 1903, Kartini dan para pemuda terpelajar telah membentuk organisasi Jong Java.

“Padahal kalau kita belajar dari sejarah, pada tahun 1915 baru berdiri organisasi Tri Koro Dharmo yang kemudian pada tahun 1923 berubah jadi Jong Java,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, pikiran Kartini tentang kebhinekaan juga belum banyak diketahui orang. Kartini, menurut Hadi, memiliki toleransi yang teramat tinggi terhadap pemeluk agama dan suku bangsa lain. Bahkan, beasiswa yang sedianya diperuntukan bagi Kartini dan Rukmini, diserahkan kepada Agus Salim yang berasal dari Sumatera.

Selanjutnya, peran Kartini dalam pengembangan seni ukir, pendidikan, perlawanan terhadap ketidakadilan sayangnya dimaknai pada kulit luar.

“Mestinya, setiap kali kita memperingati hari lahir Kartini, kita harus menggali pokok pikiran dan gaasannya yang masih relevan dalam pembangunan bangsa,” tegas Hadi.

Editor : Kholistiono

Cak Nun: Aja Lali Karo Jowomu!

Nilai-nilai budaya Jawa yang sudah terkenal luhur, menjadi lengkap dengan kedatangan Islam di tanah Jawa yang dibawa Walisanga. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun mengingatkan kepada warga Kudus dan sekitarnya agar senantiasa mengingat jati diri masing-masing. Jika kita lahir di Jawa, kita harus berbangga jadi orang Jawa. Jangan kemudian jadi malu atau minder karenanya.

Menurut Cak Nun, sekarang ini banyak yang salah kaprah tentang cara berpikir dalam berbangsa. ’’Banyak yang karena alasan NKRI kemudian mengatakan Indonesia itu bukanlah Jawa, Aceh, Sumatera, dan lain sebagainya. Ini keliru!’’ sergahnya.

Indonesia, kata Cak Nun, itu ibarat gado-gado. Di dalamnya ada unsur lontong, sayuran, kentang, dan bumbu kacangnya yang khas. ’’Indonesia ini juga ada Jawa, Aceh, Sumatera, dan lain sebagainya,’’ beber Cak Nun.

Bangga menjadi orang Jawa, lanjut Cak Nun, berarti sudah bentuk syukur kepada Allah SWT yang telah membuat seseorang lahir sebagai orang Jawa. ’’Dadi aja lali karo Jowomu, rek!’’ lanjut Cak Nun dengan nadanya yang khas.

Islam memang dilahirkan di tanah Arah. Tapi Cak Nun mengingatkan warga yang hadir bahwa umat Islam tidak perlu berperilaku seperti orang Arab. ’’Kita adalah orang Jawa. Bukan orang Arab. Jadi berperilakulah seperti orang Jawa,’’ katanya lagi.

Cak Nun menambahkan, ora Jawa sejak dahulu kala sebenarnya sudah melakukan hal-hal yang baik secara manusia. Ibarat sebuah botol, orang Jawa itu tinggal membutuhkan tutupnya saja. Jadi ketika Islam masuk ke tanah Jawa, hal itu menjadi pelengkap nilai-nilai budaya Jawa yang sudah terkenal tinggi.

Jawa dan Islam, imbuh Cak Nun, menjadikan keduanya saling melengkapi satu sama lain. Hal-hal baik yang dimiliki orang Jawa, menjadikannya kian sempurna dengan ajaran Islam yang dibawa Walisanga.

Editor: Kholistiono

Habib Anis: Yakinlah Allah Akan Menempatkan Kita di Tempat Terbaik

Habib Anis mengingatkan jika keikhlasan dalam segala hal menjadi kunci bagi manusia untuk mendapatkan ridla dari Allah SWT. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus ­­– Habib Anis Sholeh Ba’asyin dari Pati mengajak semua pihak untuk ikhlas dalam menjalani hidup dan kehidupan. Sebab, manusia tidak akan pernah tahu doa siapakah yang akan dipenuhi oleh Allah SWT.

’’Meski berlian itu berada di sebuah kubangan comberan, yakinlah suatu ketika akan ditemukan orang dan ditempatkan di tempat terbaik. Begitu juga dengan kita. Ikhlas lah dalam hidup ini dan yakinlah bahwa Allah SWT akan menempatkan kita di tempat yang sepantasnya,’’ bebernya.

Habib Anis lantas menceritakan sebuah kisah di tanah Arab tentang seorang pemuda yang selalu bikin onar dan mabuk-mabukan. Tiap malam si pemuda selalu menganggu dan meresahkan warga sekitar. Hingga akhirnya datanglah seorang warga yang meminta bantuan untuk menegur pemuda tersebut.

Singkat cerita, keesokan paginya seorang warga keluar rumah dengan niat untuk menegur pemuda yang meresahkan masyarakat. Hanya tiba-tiba terdengar suara yang berkata kalau jangan menggangu kekasihnya. Lantaran penasaran, dia kemudian memberanikan diri untuk datang dan bertanya kenapa dia disayangi oleh Allah.

’’Namun pemuda yang suka membuat onar tersebut menangis, dan berkata kalau sebelumnya sudah mendapatkan tulisan Allah dalam jalan yang sudah lusuh. Dia kemudian mengambil dan menyimpannya di dalam kopiahnya, dengan setiap hari dikasih minyak wangi. Dia mengira itulah sebabnya,’’ ujarnya.

Selang beberapa waktu, pemuda yang buat onar menghilang. Dan ketika warga tadi pergi ke Mekkah, bertemulah dia dengan pemuda tersebut. Tapi kemudian dikisahkan pemuda itu akhirnya meninggal di Mekkah. ’’Pada akhirnya Allah SWT menempatkannya di tempat terbaik. Ini semua karena keikhlasan si pemuda tadi, meski dia tukang onar dan suka mabuk-mabukan,’’ tambah Habib Anis. 

Editor: Kholistiono

Truk Muat Raskin untuk Desa Banjarejo Grobogan Terguling

Sebuah truk sarat muatan beras raskin yang hendak menuju Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, terguling saat melintasi jalan berlubang yang tertutup genangan air, Sabtu (29/4/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah truk sarat muatan beras raskin yang hendak menuju Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus mengalami kecelakaan, Sabtu (29/4/2017). Saat melintas di jalan rusak yang masuk wilayah Desa Karangrejo, truk tersebut terguling. Akibatnya, ratusan karung raskin tumpah ke pinggir jalan.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik ketika dikonfirmasi membenarkan jika truk pengangkut raskin untuk jatah warganya terguling. Lokasi tergulingnya truk dengan balai desa sebenarnya tinggal sekitar 3 km lagi.

“Hari ini jadwal pengiriman raskin untuk Desa Banjarejo. Tadi saya nunggu lama di balai desa kok gak datang-datang. Ternyata, truknya terguling di Karangrejo. Jatah raskin yang dibawa sekitar 600 karung,” ujarnya.

Setelah terguling, muatannya langsung diamankan di teras rumah warga. Setelah itu, muatan diangkut dengan dua truk engkel menuju Balai Desa Banjarejo.

“Saat ini, posisi beras sudah sampai di balai desa. Tidak ada beras yang tercecer. Cuma banyak yang karungnya kotor kena lumpur,” jelasnya.

Menurut Taufik, tergulingnya truk itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, cuaca hujan sehingga kondisi jalan yang berlubang cukup dalam tertutup air. 

Editor : Akrom Hazami

Marak Penerobos Lampu Merah di Perempatan Jember Kudus

Polisi mengatur arus lalu lintas di perempatan Menara, Kabupaten Kudus, Sabtu sore. (MuriaNewsCom/Aditya Cahya Saputra)

MuriaNewsCom, Kudus – Pengguna jalan marak yang belum taat aturan lalu lintas. Seperti halnya di perempatan Jember, Kabupaten Kudus. Selain pengguna jalan lain, ada juga pelanggar lain dari kalangan penarik becak dan ojek pengantar peziarah.

Mereka biasanya membawa penumpang dari Terminal Bakalan Krapyak ke Menara Kudus, atau sebaliknya. Hal ini tampak terlihat saat MuriaNewsCom melakukan pantauan arus lalu lintas di perempatan Jember, Sabtu (29/4/2017) sore.

Di titik itu, kepadatan arus lalu lintas amat terasa. Akibat marak penerobos lampu merah, arus lalu lintas menjadi tak karuan.  Khususnya lalu lalang becak dan ojek pengangkut para peziarah. Tampak pengemudi becak menara yang bersikeras tetap belok meskipun lampu merah. Kemudian tukang ojek banyak yang membaw peziarah lebih dari kapasitas motor. Hal ini membahayakan pengguna jalan lain.

Diharapkan, dengan adanya personel di lapangan dapat mengurai tingkat kemacetan dan mencegah terjadinya kecelakaan di perempatan

“Kami ajak seluruh pengemudi becak selalu disiplin berlalu lintas di jalan raya. Tidak ugal-ugalan sehingga mengurangi angka kecelakaan,” imbau Kasat Lantas Polres Kudus, AKP Eko Rubiyanto.

Editor : Akrom Hazami

Camat Mejobo: Teruslah Belajar, Belajar, dan Belajar

Cak Nun sependapat dengan Camat Mejobo agar generasi muda di Kudus tidak berputus asa dalam mengejar ilmu dan tidak terbatas pada pendidikan formal saja. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Camat Mejobo Harso Widodo mengatakan, kalau dalam belajar jangan sampai putus di tengah jalan. Karena, tugas belajar itu tidak akan selesai sampai dengan kapanpun juga akan tetap dilaksanakan.

’’Kami meminta semuanya, khususnya masyarakat di Mejobo dapat lebih rajin lagi dalam belajar. Jangan sampai berhenti belajar dengan alasan apapun juga,’’ katanya seraya mengingatkan bahwa Rasulullah SAW sudah memberikan contoh kepada umatnya agar tidak pernah lelah belajar.

Menurutnya, pembelajaran juga dikhususkan pada kalangan pemuda di kawasan Mejobo. Terus belajar sangat penting dilakukan dalam hal apapun, terlebih pendidikan formal. Selain itu, dalam belajar juga bisa dilakukan dengan siapapun.

’’Seperti kepada kiai, guru, atau juga kepada teman sendiri,’’ tambahnya seraya mengatakan, belajar juga bisa dilakukan bukan saja di sekolah, tapi juga di majelis-majelis pengajian seperti kegiatan Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng tersebut.

Dia mengajak Pemuda Mejobo agar tak berhenti belajar. Selain itu, ajakan juga dilakukan untuk menciptakan suasana yang aman dan tertib di lingkungan Mejobo, yang ujungnya memberikan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Sementara Cak Nun mengatakan, belajar bisa di mana saja. Karena, sebenarnya spirit Alquran itu bisa ditemukan di tiga tempat. Pertama di alam, kedua di diri sendiri, dan ketiga di dalam kitab Alquran sendiri. Sehingga sebenarnya setiap manusia sudah memiliki Alquran di dalam dirinya masing-masing. ’’Itulah mengapa dibutuhkan belajar. Namun jika ingin mempelajari Alquran secara utuh, maka dapat dilakukan dengan cara meniru Rasulullah SAW,’’ ungkapnya. 

Editor: Kholistiono

Waduh! Penyerapan Angaran di Grobogan Triwulan I di Bawah Target

Sekda Grobogan Moh Sumarsono saat menyampaikan catatan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Operasional Pembangunan (Rakor POP) triwulan I 2017, di gedung Riptaloka Setda Grobogan, Sabtu (29/4/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bertambahnya dana APBD di Grobogan ternyata tidak diimbangi dengan bagusnya penyerapan anggaran di semua SKPD. Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Operasional Pembangunan (Rakor POP) triwulan I 2017, di gedung Riptaloka Setda Grobogan, Sabtu (29/4/2017).

Dalam rakor yang dipimpin Sekda Grobogan Moh Sumarsono tersebut terungkap, penyerapan keuangan dari dana APBD baru berkisar Rp 53 juta atau 5,06 persen. Angka ini jauh dari target yang ditetapkan sebesar Rp 215 juta atau 20,56 persen.

Kemudian, realisasi fisik pada triwulan I capaiannya hanya 12,72 persen. Padahal target fisik yang ditetapkan sebesar 25 persen.

Besarnya anggaran dalam APBD 2017 untuk pos belanja mencapai Rp 2,4 triliun. Rinciannya, Rp 1,4 triliun untuk belanja tidak langsung dan Rp 1 triliun untuk belanja langsung. Dana sebesar ini, digunakan untuk membiayai 3.150 kegiatan yang tersebar di 49 SKPD

Selain dari APBD, penyerapan anggaran dari DAK senilai Rp 107 miliar untuk 99 kegiatan juga masih minim. Sebab, realisasi fisik dan keuangannya masih 0 persen.

Kemudian, anggaran bantuan keuangan untuk kabupaten senilai Rp 71 miliar dan bantuan keuangan untuk pemerintahan desa sebesar Rp 14,9 miliar dari Provinsi Jateng juga belum terserap pada triwulan I karena masih proses persiapan dan pelelangan pekerjaan.

“Penyerapan anggaran pada triwulan I tahun 2017 memang belum sesuai dengan target yang ditetapkan. Capaian penyerapan yang masih jauh dari target ini perlu  terus dipacu untuk menghindari penyerapan yang terlampau tinggi di akhir tahun,” ungkap Moh Sumarsono.

Ia meminta kepada semua kepala SKPD agar segera melaksanakan program yang sudah direncanakan sehingga serapan anggaran bisa sesuai target. Kemudian, semua kendala yang menjadi penyebab lambatnya penyerapan anggaran agar selalu diidentifikasi dan dicarikan solusinya.

“Kebiasaan menunda pekerjaan hingga menumpuk pada akhir tahun jangan sampai terjadi lagi. Program kerja yang sudah direncanakan agar segera dilaksanakan tepat waktu,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

Cak Nun: Pusat Toleransi Beragama Indonesia Ada di Kudus

Cak Nun mengajak warga Kudus untuk meneladani Sunan Kudus yang berdakwah tanpa kekerasan dan pemaksaan kehendak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus ­– Cak Nun mengakui jika Kudus adalah kota yang menyimbolkan toleransi beragama sejak didirikan oleh Sunan Kudus. Hal tersebut dikatakan Cak Nun untuk menanggapi penggiat Jagong Kamulyan yang juga pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Gus Abdul Jalil terkait dengan temuan prasasti di Masjid Menara Kudus.

Menurut Gus Jalil, Sunan Kudus dalam menjalankan dakwahnya tidak pernah menggunakan cara kekerasan dan pemaksaan kehendak. Justru Sunan Kudus selalu menggunakan cara-cara pendekatan kultural. ’’Pada saat masyarakat Kudus saat itu menyucikan sapi, Sunan Kudus pun kemudian memelihara sapi di depan masjid dan melarang untuk menyembelihnya,’’ ujarnya.

Gus Jalil pun kemudian mengajak seluruh warga untuk meneladani cara berdakwah Sunan Kudus yang dilakukan dengan penuh damai dan toleransi yang tinggi terhadap umat beragama lain. ’’Dan dengan cara damai, justru masyarakat sampai sekarang masih melaksanakan ajaran Kanjeng Sunan Kudus,’’ imbuhnya.

Caknun pun mengamini pernyataan Gus Jalil. Sunan Kudus, kata Cak Nun, menjalankan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. ’’Dan hebatnya, apa yang kemudian diajarkan Sunan Kudus, bertahan sampai sekarang. Padahal Sunan Kudus sudah tidak ada lagi,’’ katanya.

Tidak mengherankan jika Kudus hingga kini terkenal dengan kuliner daging kerbau, bukan daging sapi. Di saat Idul Adha pun, mayoritas warga Kudus hingga kini masih memilih untuk menyembelih kerbau, daripada sapi. Sebuah tradisi yang berawal dari penghormatan Sunan Kudus terhadap masyarakat Kudus yang saat itu memeluk Hindu kuno. 

Editor: Kholistiono

Cara Menangkal Berita Hoax Bagi Cak Nun

Cak Nun mengingatkan masyarakat untuk bisa memfilter informasi dengan cara melihat kembali apakah informasi itu berhubungan dengan dirinya sendiri atau tidak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Belakangan di masyarakat, banyak bermunculan kabar atau berita yang tak semestinya atau hoax. Dan berita tersebut dapat menyesatkan jika terus dikonsumsi oleh masyarakat karena menang tak benar.

Deka Hendratmanto, pendiri MuriaNewsCom mengungkapkan, sekarang ini marak berita hoax. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dari pembaca agar dapat melihat sumber berita yang dapat dipercaya ataukah tidak.

’’Saat ini kita terlalu mudah mendapatkan informasi, khususnya dari internet. Apalagi keberadaan media sosial ternyata memberikan dampak yang luar biasa terhadap penyebaran informasi. Sehingga kita harus bisa memfilternya dengan bijak. Apakah itu bermanfaat untuk kita atau tidak,’’ katanya.

Menanggapi hal tersebut, Cak Nun mengatakan dirinya sudah cara sendiri untuk memfilter informasi yang saat ini sudah beredar cukup cepat. Cak Nun mengaku tidak terlalu aktif mencari informasi melalui internet.

’’Saya hanya buka internet untuk mencari informasi yang saya butuhkan saja. Selain itu tidak. Itu cara saya. Saya tidak tertarik untuk mencari informasi yang tidak saya butuhkan atau tidak ada hubungannya dengan saya,’’ katanya lagi.

Cak Nun juga mengakui dirinya tidak memiliki akun di media massa seperti facebook. ’’Ada sekitar 26 akun facebook yang menggunakan nama Cak Nun. Ya nggak apa-apa. Biarkan saja. Tapi saya tidak punya akun facebook,’’ ujarnya.

Melihat dahsyatnya dampat media sosial dalam membantu penyebaran sebuah informasi, Cak Nun pun mengajak semua warga untuk kembali meneladani Rasulullah SAW. ’’Aja ngurusi urusane wong liya. Direwangi tukaran karo kancane dhewe barang. (Jangan suka ikut campur urusan orang. Sampai harus bertengkar dengan teman, Red),’’ pesannya. 

Editor: Kholistiono

Kebo Landhoh Pati Juarai Press Futsal Tournament 2017 di United Futsal Stadium Kudus

Tim Kebo Landhoh Pati melawan Gagak Rimang Blora, di United Futsal Stadium Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

MuriaNewsCom, Kudus – Tim futsal wartawan Pati, Kebo Landhoh, berhasil menjuarai Press Futsal Tournament (PFT) 2017 di United Futsal Stadium, Kudus, Sabtu (29/4/2017). Tim futsal wartawan dari Bumi Minta Tani itu berhasil membawa piala setelah membenamkan tim futsal wartawan dari Blora, Gagak Rimang dengan skor 2-1.

Perwakilan tim terproduktif Kebo Landhoh Pati Rochmansyah menerima penghargaan dari panitia PFT Saiful Anas dengan 23 gol. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

Pemain Kebo Landhoh yang digawangi Slamet dan kawan-kawan tampak bersusah payah menahan gempuran dari tim Gagak Rimang. Meski Gagak Rimang terus memperkuat pertahanan, Kebo Landhoh berhasil mencuri poin dahulu. Dua gol pun terjadi hingga 2-0 untuk Kebo Landhoh.

Baru pada menit 26, pemain Gagak Rimang gol balasan pun tercipta. Skor pun berubah jadi 2-1. Rupanya, tim Kebo Landhoh ngotot untuk menjaga pertahanan. Hasilnya, mereka pun mampu menjaga skor tersebut. Juara jatuh pada Kebo Landhoh. “Kami senang dengan prestasi ini. Prestasi merupakan hasil jerih-payah tim selama ini,” kata Rochmansyah ditemui usai menerima penghargaan.

Top skor Kebo Landhoh Pati Rochmansyah menerima penghargaan dari panitia PFT Ali Bustomi dengan 17 gol. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

Juara PFT 2017 jatuh ke Pati. Seperti diketahui, dari sembilan kali penyelenggaraan PFT sejak 2010 lalu, tim wartawan Jepara sukses menyabet gelar juara sebanyak empat kali. Capaian Macan Kurung tersebut diraih pada PFT edisi 2010, 2011, 2012, dan 2016.

Ketua Panitia PFT 2017 Siti Merie memberikan penghargaan kepada peringkat 2, Gagak Rimang Blora. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

Sedangkan, Loyo Nglokro Rembang berhasil dua kali menyabet gelar juara, yakni edisi 2014 dan 2015. Adapun prestasi tertinggi tuan rumah Asal Kemon adalah sukses menembus partai final pada PFT edisi pertama tahun 2010.

Perwakilan Panitia PFT 2017 Saiful Anas memberikan penghargaan kepada juara, Kebo Landhoh Pati. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

Kebo Landhoh juga menjadi tim terproduktif dengan 23 gol. Pemain mereka Rochmansyah Setiawan juga menjadi pencetak gol terbanyak 17 gol.

Editor : Kholistiono

Cak Nun Ajak Masyarakat Kembali ke Kanjeng Nabi

Cak Nun mengingatkan masyarakat bahwa hanya Rasulullah SAW yang mampu dan bisa memberikan syafaat kepada seluruh umatnya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Emha Ainun Nadjib atau yang biasa dikenal dengan Cak Nun, mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengingat kembali dan meneladani sikap, ucapan, dan perilaku Nabi Muhammad SAW.

Hal itu disampaikan Cak Nun dalam acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang mengambil tema ’’Gondelan Klambine Kanjeng Nabi’’ di Lapangan Sepak Bola Pancasila Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Jumat (28/4) malam.

Kegiatan yang diprakarsai MuriaNewsCom dengan dukungan sepenuhnya dari PR Sukun itu digelar dalam rangka menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hadir dalam kesempatan tersebut, Deka Hendratmanto (pendiri MuriaNewsCom), Gus Abdul Jalil (penggiat Jagong Kamulyan), Gus Romli (budayawan), dan Habib Anis Sholeh Ba’asyin (Pati). Turut hadir pula Camat Mejobo Harso Widodo, Kapolsek Mejobo AKP Suharyanto, dan Danramil Mejobo Kapten Inf Bambang Sunarto.

Di hadapan ribuan warga, Cak Nun mengingatkan, hanya Rasulullah SAW yang mampu dan bisa memberikan syafaat. ’’Hanya beliau yang bisa ngenyang jumlah rekaat salat dalam sehari kepada Allah SWT,’’ katanya.

Ditegaskan, di dunia ini tak ada yang lain yang bisa menolong manusia kecuali sang Rasul. ’’Makanya kita harus gondelan Kanjeng Nabi. Tidak bisa gondelan yang lainnya. Namun kita juga harus tahu bagaimana sifat-sifat beliau,’’ ujarnya.

Rasulullah, lanjut Cak Nun, tidak tega melihat umatnya menderita. Jadi, dengan mengetahui sifatnya itu, umat bisa meminta pertolongan kepada Rasul dengan sungguh-sungguh agar dimintakan kepada Allah SWT. ’’Karena beliau lah Kholifah,’’ imbuhnya. 

Editor: Kholistiono