Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Kisah Istimewa Bedah Buku Djamhari Penemu Kretek di Kudus



Reporter:    /  @ 13:34:46  /  23 Maret 2017

    Print       Email

Dua orang pembedah buku Djamhari Penemu Kretek, Moh Rosyid, dosen STAIN Kudus dan juga Prayitno, sejarawan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Buku Djamhari Penemu Kretek yang dituliskan oleh Edy Supratno, dibedah di Wedangan Pukwe Kudus, Rabu (23/3/2017) malam.

Pada acara itu, dihadirkan dua orang pembedah buku, Moh Rosyid, dosen STAIN Kudus dan juga Prayitno, sejarawan.

Kegiatan berlangsung meriah. Sejumlah tokoh Kudus hadir. Seperti M Nadjib Hasan Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Rektor UMK Suparnyo, dan lainnya. Ratusan warga hadir dalam kegiatan tersebut.

Pada kesempatan pertama, Rosyid mengatakan sosok penulis Edy merupakan orang yang halus. Terlihat dari tulisannya yang apik dan halus dalam buku setebal 250 tersebut. “Dari tulisannya dapat dilihat bagaimana karakter penulisnya. Dan buku ini bahasanya halus, saya kira seperti orangnya,” kata Rosyid.

Menurutnya, buku tersebut menegaskan kalau Kudus sudah menerapkan prinsip hidup bagus, ngaji, dan dagang (Gusjigang). Terlihat dari sosok Djamhari yang merupakan orang pintar, dan juga berdagang kretek.

Meski dikatakan halus, namun kritikan juga tak luput darinya. Dia melihat masih dalam sebuah buku ada kalimat yang dianggap belum rampung. Seperti kalimat tentang saat dada Djamhuri sesak dan dioleskan cengkih.  Bagi dia, harusnya dapat dijelaskan tentang cerita tersebut agar semakin luas.

Sementara, Prayitno mengungkapkan usai membaca buku itu, dia menggambarkan Djamhari merupakan orang yang sukses berdagang. Dia juga mengkritik tentang foto dalam buku. Bagi dia beberapa foto dianggap kurang pas menjadi ilustrasi. Seperti misalnya foto Menara Kudus yang mengambil dari lomba foto 2006-2007-an lalu, yang mana sebenarnya bisa menggunakan foto lawas menara yang sudah ada. 

Dalam bukunya, juga tak menjelaskan bagaimana Djamhuri memilih pergi dari Kudus ke Sunda. Padahal mbah Asnawi masih anteng saja berada di Kudus. Sehingga muncul pertanyaan apakah Djamhuri pergi atas inisiatif sendiri ataukah dia sudah menjadi agen pemerintah.  “Jika ini dapat dibedah akan menjadi suatu hal yang pastinya sangat menarik,” ungkap dia.

 

Editor :  Akrom Hazami

 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →